Langsungkan UTBK, UMM Siapkan Mobil Golf dan Perahu Bebek untuk Wali Camaba

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) laksanakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) gelombang pertama untuk mahasiswa baru Fakultas Kedokteran (FK) dan Farmasi. Berdasarkan data PMB, total peserta calon mahasiswa baru untuk kedua jurusan tersebut di gelombang pertama ini mencapai lebih dari seribu peserta. Adapun ujian ini berlangsung selama tiga hari pada tanggal 4-6 Mei mendatang. Ada yang menarik dalam gelaran UTBK UMM kali ini. Sembari menunggu anaknya melaksankaan tes, para orang tua dan mereka yang mengantar bisa mencoba mobil golf mengitari Kampus Putih. Mereka bisa melihat gedung-gedung, fasilitas, lapangan, dan berbagai hal lainnya. Mereka juga diberi kesempatan untuk mencoba perahu bebek di danau UMM yang viral di media sosial. Terkait ujian, Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM Nurudin mengatakan, ada sebanyak 18 ruangan yang disiapkan untuk seleksi ini. Proses ujian di bagi menjadi dua sesi, yakni pagi dan siang hari yang diikuti calon mahasiswa baru dari seluruh Indonesia. “Pelaksanaan UTBK sudah berlangsung sejak empat tahun lalu. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya joki maupun kecurangan-kecurangan lainnya. Di Setiap ruangan juga terdapat pengawas dan juga bagian teknisi untuk membantu para peserta jika terjadi masalah pada komputer,” jelasnya. Lebih lanjut, Nurudin menambahkan, dalam ujian kali ini pihak panitia melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan metal detector. Pemeriksaan ini berguna untuk menjaring alat-alat elektronik berukuran mini yang mungkin dibawa peserta. Hal itu juga untuk mengantisipasi keccurangan yang mungkin terjadi. Selain itu, UMM juga dibantu dari pihak kepolisian agar proses ujian tetap aman. Terakhir, Nurudin berharap proses seleksi mahasiswa baru ini dapat berjalan dengan lancar dan aman. Karena calon mahasiswa baru ini akan menjadi orang-orang yang sangat diperlukan di bidang kedokteran dan farmasi. “Dari data yang ada, jumlah peserta mirip seperti tahun sebelumnya dan Insyaallah bisa terus bertambah di gelombang berikutnya. Kami tentu berharap mahasiswa baru yang terpilih nantinya bisa menjadi bibit-bibit unggul untuk masa depan,” ujar Nurudin. Di lain sisi, salah satu peserta UTBK Fakultas Kedokteran (FK) UMM, Nauroh Nur Azziyati Siswoyo mengaku optimis bisa lolos seleksi di Kampus Putih. “Alhamdulilah tadi bisa mengerjakan dengan baik karena sudah belajar denga rajin. Insya Allah soalnya bisa terjawab sekitar 70%,” ungkap Ziya. Adapun alasan Ziya memilih kedokteran UMM karena ingin menjadi seperti orang tua yang juga dokter. Selain itu pekerjaan dokter juga merupakan pekerjaan yang mulia yang langsung berinteraksi langsung dengan masyarakat, sehingga bisa mengedukasi di bidang kesehatan. Pun dengan upaya menangani berbagai penyakit yang diderita masyarakat. “Saya kira Kampus UMM juga bagus. Fasilitasnya mumpuni dan memadai. aAkreditasi dan prestasinya juga terus naik. Insyaallah prospek kerja kedepan juga terjamin” pungkas perempuan asal Kediri itu. (Zak/Wil)
Mengajar Mahasiswa Asing hingga Telusuri Kejayaan Islam, Ini Cerita Dosen UMM di Negeri Matador

Salah satu pengalaman menarik didapatkan oleh salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Moh. Mirza Nuryadi, M.Sc. Ia berhasil menginjakkan kaki di Spanyol melalui program academic staff exchange. Berkolaborasi dengan Universitad De Murcia Spanyol (ICAN), ia dapat merasakan pengalaman mengajar di sana. “Sebenarnya saya sudah menyiapkan diri sejak 2021 lalu. Namun, sedikit tersendat karena pandemi masih ada, pun dengan pembatasannya. Alhamdulillah, persiapan saya sejak dini nyatanya memberikan jalan tersendiri,” jelasnya. Selain berkesempatan mengajar di sana, Mirza juga sempat mengunjungi fakultas kedokteran dan melakukan diskusi terkait riset yang ia angkat di depan mahasiswa sarjana, master, maupun doktoral di sana. Adapun riset yang ia lakukan mengenai biokimia yang mengarah pada reproduksi. Yakni resistensi nyamuk aedes aegypti pembawa virus yang menyebabkan manusia terjangkit demam berdarah. Dari riset itu pula, ia juga telah meluncurkan beberapa artikel ilmiah di level nasional maupun Internasional. Terkait sistem pengajaran, di sana ia mendapati bahwa ada klasifikasi untuk setiap kelas. salah satunya kelas berbahasa Inggris yang membuat para mahasiswa bisa terus melatih bahasa Inggrisnya. Hal itu bermanfaat saat ada tamu atau pengajar yang menggunakan bahasa yang sama. “Cara belajar mahasiswa juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Hanya saja ada kepercayaan lebih antara oengajar dan mahasiswa sehingga mereka bisa mengeksplor diri namun tetap dalam pengawasan dosen,” tambah alumnus SMA Muhammadiyah 1 Sumenep itu. Ia juga tak menyia-nyiakan waktu selama berada di Spanyol. Saat ada waktu kosong, ia mencoba mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dengan mengunjungi berbagai lokasi dan mencoba berbagai makanan. Ia mencoba berbagai olahan ikan yang dicampur dengan sayur dna kentang. Sayangnya, rasanya tidak cocok dengan lidah Mirza sehingga ia lebih memiliki makanan lain. “Sebenarnya ada makanan yang menurut say acocok, tapi tempatnya jauh di pinggiran kota. Ada kebab dan juga nasi briyaniyang realtif sesuai dengan lidah saya,” tambahnya. Mirza juga mendatangi kota Madrid. Di sana ia sangat kagum dengan keramahan penduduknya. Walapun penduduk sana tidak banyak yang bisa bahasa Inggris, tapi mereka membantu menunjukkan arah saat saya kebingungan dan tersesat. Ia juga menyempatkan datangke tempat bersejarah Islam yang menjadi tempat paling berkesan, yakni Istana Alhambra di Kota Granada, Spanyol. Ia mengaku kagum atas arsitektur bangunan istana tersebut. Ia juga menyempatkan diri mengikuti tur dan belajar tentang sejarah kejayaan Islam di negeri Matador itu. (ri/wil)
Hasilkan Nol Emisi, Mahasiswa UMM Ciptakan Mesin Elektrolisis Hidrogen 1

Berawal dari kegelisahan saat menyadari banyaknya jumlah sungai di Indonesia, Mohammad Amin Abil mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mendesain sebuah mesin bernama EH1 (Elektrolisis Hidrogen 1). Ini adalah alat yang digunakan untuk memecah air sungai menjadi oksigen dan hidrogen industri yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan maupun transportasi. “Indonesia memiliki sangat banyak sungai. Saya berpikir, bagaimana jika sungai-sungai ini dapat dimanfaatkan untuk Indonesia yang lebih maju di masa depan,”ujarnya. Mengajak serta dua temannya, Evita Leninda Fahriza Ayuni dan Shahrul Asy’ari, ia memanfaatkan aliran air sungai yang memutar turbin arcimedes untuk menghasilkan listrik. Listrik ini kemudian digunakan untuk mengelektrolisis, memecah hidrogen dan oksigen, lalu dimasukkan ke dalam gastrap dan kemudian disimpan di storage masing-masing. “Hasilnya, hidrogen dapat digunakan sebagai bahan bakar nol emisi yang sangat ramah lingkungan. Sementara untuk oksigennya bisa digunakan untuk menunjang layanan kesehatan seperti oksigen di rumah sakit,“ ujarnya. Penuh percaya diri, Amin yakin jika inovasi yang berhasil meraih Bronze Medal dalam ajang Thailand Inventor’s Day 2023, Trade and Exhibition Centre (BITEC) Februari lalu ini, dapat menjadi salah satu terobosan strategis. Di tengah berbagai isu bahan bakar ramah lingkungan, terobosan yang diusung oleh mahasiswa asal Palu Sulawesi Tengah ini dapat bersaing dengan apik. “Saat ini, berbagai negara maju, mulai dari Eropa hingga tetangga kita Singapura, telah banyak menggunakan kendaraan berbahan bakar hidrogen, baik kereta hingga mobil. Semoga segera, Indonesia juga tidak ketinggalan. Kita harus mulai berpikir maju, bahwa Indonesia bisa jauh lebih baik di masa depan termasuk di sisi teknologi,” ujarnya Panjang. Adapun inovasi Amin dan kawan-kawannya ini juga dibimbing oleh beberapa dosen. Di antarany Dini Kurniawati, ST. MT., Dr. Ir. Achmad Fauzan Soegiharto, MT., dan juga Andinusa Rahmandhika, S.T., M.Eng. Ketiga dosen tersebut memberikan banyak masukan sehingga alat tersebut bisa dibuat dengan maksimal. Sejak proses awal hingga akhir, sistem yang diusung Amin benar-benar ramah lingkungan. Saat ini terdapat Grey Hydrogen dimana produksi hidrogen masih menghasilkan limbah (high carbon emmision) dan juga blue hydrogen (low carbon emmision) yang prosesnya masih menggunakan batu bara. Namun hal berbeda diberikan oleh terobosan Amin dan timnya yang masuk pada tataran green hydrogen (zero emmision). “Semua proses kami alami dan tentunya tidak merusak alam. Bahkan penggunaan turbin arcimedes juga dilakukan dengan keberlangsungan lingkungan sekitar. Ikan bahkan tetap dapat hidup saat melewatinya,” tambah Amin. Di akhir Amin berharap, potensi-potensi anak bangsa Indonesia bisa mendapat perhatian lebih. Dengan demikian, impian untuk melihat Indonesia maju, khususnya dalam bidang teknologi segera terpenuhi. “Indonesia punya sangat banyak anak muda berbakat yang mampu mengantarkan menuju Indonesia maju di era 4.0. Ide-ide bagus ini harus diwadahi dan terus dikembangkan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan,” pesannya. (sil/wil)
Elisa Kusno, Alumnus UMM Bercerita Uniknya Lebaran di Negeri Kangguru

Suasana lebaran masih terasa meski hari raya idul fitri sudah seminggu berlalu. Namun, hal itu tidak dirasakan oleh Elisa Kusno, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini tengah menempuh studi di Melbourne. Ia mengaku, Idul fitri tidak begitu istimewa di sana, bahkan tidak ada hari libur khusus. “Alhamdulillah kemarin bertepatan dengan weekend, jadinya bisa bercengkerama dengan muslim-muslim lain. Soalnya kalau di hari biasa, tidak ada libur khusus. Kalau mau bebas dan agak longgar, mau tidak mau harus izin kerja atau kuliah, jelasnya. Elisa, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa ada satu hal menarik saat Ramadan dan idul fitri di sana. Akan ada lebih banyak mualaf yang masuk Islam. Salah satu alasannya adalah banyaknya masjid yang ada di Melbourne. Jadi orang-orang bisa dengan mudah belajar Islam. Terkait kultur, di sana tidak ada kebiasaan memberikan angpao lebaran. Menariknya, ada beberapa temannya asal Pakistan dan Bangladesh yang memiliki pengalaman unik. Di negara asalnya, mereka tidak biasa dan tidak bisa bagi perempuan untuk salat idul fitri di masjid atau lapangan. Maka, momen idul fitri di Melbourne membuat mereka takjub. Adapun ia salat bersama dengan orang-orang Indonesia lainnya. Tepatnya di salah satu lapangan basket miliki salah satu Sekolah Menengah Pertama di Melbourne. Ia juga senang, karena di sana bisa mendapati berbagai makanan khas Indonesia seperti pecel, bakwan, risoles dan lainnya. “Sebenarnya untuk mencari makanan Indonesia di Melbourne cukup mudah. Hanya saja, rasanya beda jika bisa berkumpul dengan saudara satu bangsa dan negara,” kata mahasiswa yang menempuh studi master of education in digital learning itu. Elisa juga bercerita bahwa di sana, ia benar-benar bisa merasakan suasana ‘lakum dinukum waliyadin’. Yakni prinsip agamamu untukmu dan agamaku untukku. Maksudnya adalah, di sana masyarakat saling menghormati agama orang lain. Bahkan saat di kampusnya, Monash University, ada sebuah acara makan siang bersama. Namun karena tahu ada beberapa orang muslim, akhirnya konsepnya diubah dan makanannya dibungkus. “Ini menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Semoga bisa mencerahkan dan memberikan pelajaran yang baik agar bisa menjadi manusia yang sebenar-benarnya,” pungkasnya. (Wil)
Mengupas Makna Kupat di Halal Bihalal UMM

Budaya kupat memiliki nilai filosofis tersendiri di momen berlebaran hari raya. Hal itu dijelaskan oleh Drs. Nur Cholis Huda, M.Si. Dalam halal bihalal kelurga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 29 April lalu. Turut hadir dalam agenda itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM sekaligus Menteri Koordinator Bidang Peembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Lebih lanjut, Huda melanjutkan bahwa kupat terbuat dari daun janur yang memiliki nilai filosofis. Janur artinya ‘sejatine ning nur’ yang berarti cahaya yang benar-benar dari ilahi. Kupat juga memiliki kepanjangan tersendiri yakni laku papat atau empat L. Pertama, yaitu lebar. Artinya waktu untuk berpuasa telah usai. Makanya, Huda mendorong muslimah untuk segera menyelesaikan utang puasa yang ada. Dengan begitu, makna lebar bisa diperoleh dengan penuh. Kedua, yakni lebur yang bermakna meleburnya kesalahan. Saling menghilangkan dan memaafkan. “Kemudian yang ketiga adalah luber yang artinya kebaikan kita harus lebih-lebih. Dengan begitu kita bisa mendapatkan sejatine nur, yakni cahaya dari ilahi. Terakhir yakni labur yang artinya wajah kita harus cerah. Tidak boleh mengeluh dan sambatan,” jelasnya. Sementara itu, Muhadjir mengingatkan akan tradisi Muhammadiyah yakni maju bersama. Membantu mereka yang belum maju untum bisa lebih maju. Ia juga berpesan agar UMM harus bisa lebih sensitif akan perubahan. “Biasanya, lembaga yang sudah besar dan mapan tidak begitu sensitif akan perubahan. Maka, saya minta pimpinan dan juga staf agar tidak merasa sudah maju dan merasa paling depan. Harus terus mengembangkan diri, khsususnya dalam bidang akademik,” tegasnya. Muhadjir juga sempat memorivasi para dosen untuk segera mencapai gelar profesor. Tidak mudah puas dengan apa yang didapat, dan terus berinovasi untuk memajukan negeri. “Jangan lelah membawa UMM ke barisan paling dean, baik di level nasional maupun internasional,” pungkasnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. Mengatakan bahwa semangat Ramadan Kampus Putih luar biasa dan harus terus dinyalakan. Salah satu kegiatan Ramadan UMM yang menarik adalah sahur on the road ke berbagai wilayah bersama para mahasiswa asing. Kegiatan itu menarik banyak perhatian dan dinilai bagus. “Kami selaku pimpinan juga mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga di momen hari raya ini kita bisa saling memaafkan dan mendapat keberkahan,” pungkasnya mengakhiri. (Wil)
Dekan Kedokteran UMM Beri Tips Pilih Makanan Pasca Lebaran

Lebaran menjadi momen berkumpul dengan keluarga. Saat itu juga kita akan menjumpai berbqgai makanan. Bahkan setelah seminggu usai idul fitri, makanan-makanan tersebut masih ada dan menggiurkan. Salah satunya makanan yang penuh lemak dan kolestwrol, seperti rendang daging, opor ayam dan gulai. Hal itu menarik perhatian Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp. PD, FINASIM. Ia menegaskan, mereka yang menderita hipertensi, diabetes, kolesterol, dan asam urat harus lebih berhati-hati ketika memilih makanan. Terutama untuk makanan yang mengandung santan, lemak, dan gula yang tinggi. Walaupun sedang dalam suasana lebaran, tetap harus memperhatikan pola hidup sehat, khususnya mereka para manusi lanjut usia (manula). Manula perlu perhatian khusus dalam pemilihan makanan karena secara fisiologis telah mengalami perubahan fungsi. Salah satunya sistem kekebalan tubuh yang tidak seoptimum usia muda. Manula rentan terhadap penyakit metabolik dan generatif seperti hipertensi, diabetes, kolesterol, asam urat, dan kanker sehingga perlu penanganan khusus. Salah satu faktor yang memengaruhi penyakit tersebut adalah asupan makananan. Meddy, sapaannya, menyebutkan makanan yang sehat dapat dilihat dari jenis atau macamnya. Contohnya dengan memilih makanan dengan indeks glikemik atau kadar gula yang rendah. “Saat lebaran pasti banyak kue-kue manis, makanan dari olahan tepung, dan sirup yang sudah pasti memiliki kadar gula yang tinggi. Hal ini harus disiasati dengan cara memilih makanan dari olahan gandum atau tepung dari ubi-ubian. Makanan tersebut memiliki kadar gula yang lebih rendah,” jelasnya. Selain itu, menghindari banyak gorengan terutama yang menggunakan teknik penggorengan deep frying. Jika berlebihan, makanan itu bisa menyebabkan kolesterol. Hal ini dapat disiasati dengan menggantinya dengan makanan yang dipanggang dan dikukus agar lebih sehat. Ia mengatakan bahwa tidak ada salahnya untuk mengonsumsi buah dan sayur di momen lebaran. Khusunya yang tinggi antioksidan seperti buah delima, buah naga, dan ketela ungu. “Mau tidak mau, kita harus pintar memilah dan memilih apa yang masuk ke dalam tubuh. Apalagi mereka yang sudah manula. Sebisa mungkin hindari makanan ‘jahat’ sekalipun itu sedikit. Karena seringkali yang sedikit juga dapat menyebabkan penyakit,” tanbahnya. Terakhir, Meddy juga mengajak untuk meneruskan pola hidup sehat. Tidak hanya terkaut makanan yang dikonsumsi, tapi juga berolahraga, mengurangi aktivitas berat, dan juga menambah ibadah. “Kalau ditelaah lebih dalam, Salat itu termasuk ilahraga yang sederhana. Niatnya tentu untuk beribadah, tapi juga memberikan manfaat bagu tubuh. Selain itu, beberapa olahraga yang bagus untuk manula adalah jalan kaki di pagi hari,” pungkasnya. (sep/wil)
Wakil Rektor UMM Beri Pandangan Kasus Peneliti BRIN

Momen Idul Fitri 2023 diwarnai dengan sedikit kejadian tidak mengenakkan. Salah satunya komentar oknum Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) AP Hasanuddin tentang perbedaan hari raya yang menyudutkan Muhammadiyah. Bahkan ia mengancam akan membunuh dan menghalalkan darah warga Muhammadiyah. Sederet reaksi ditunjukkan oleh warga Muhammadiyah. Mulai dari mengecam, menyayangkan, hingga melaporkannya ke pihak berwajib. Terkait fenomena itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan beberapa hal. Menurutnya, unggahan tersebut jelas melanggar etika norma sosial dan hukum. Selain itu juga melukai Pancasila yang menjadi rujukan bersama sebagai bangsa Indonesia. “Hal ini tentu dapat dinyatakan sebagai ujaran kebencian. Terlepas apapun motif yang melatarbelakangi yang bersangkutan untuk menuliskannya,” tambah Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu. Lebih lanjut, ia juga menilai bahwa langkah Muhammadiyah untuk melaporkan oknum BRIN ke pihak berwajib sudah tepat. Hal itu tentu akan mencegah tindakan main hakim sendiri dan bisa menjadi teladan bagi masyarakat lainnya agar tidak mudah menghakimi. Apalagi Muhammadiyah merupakan organisasi masyarakat yang taat pada hukum. Nazar, begitu ia kerap disapa, menegaskan bahwa warga Muhammadiyah sudah teruji samgat dewasa sejak lama menghadapi situasi seperti ini. Mereka sudah paham bagaimana menyikapi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. “Jadi saya rasa warga Muhammadiyah bisa mengatur emosi dan menyelesaikannya dengan jalan yang baik,” katanya. Terakhir, Nazar berharap warga Muhammadiyah bisa terus mengawal proses hukum AP Hasanuddin yang sedang berjalan. Apalagi Muhammadiyah juga sudah menegaskan dalam Muktamarnya tentang pentingnya menegakkan etika bermedia sosial, penegakan hukum, serta edukasi terkait itu. “Di berbagai tempat dan kesempatan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah selalu memberi atahan dan ceramah bahwa Muhammadiyah memiliki i’tikad kuat untuk memberantas ujaran kebencian, termasuk melalui media sosial. Dengan begitu, masyarakat juga bisa memahami dan sealu berupaya menggunakan media digital dengan baik,” pungkasnya. (wil)
MuRid UMM Berbagi untuk Negeri, Bantu Warga Terdampak Awan Panas Semeru

Tak pernah berhenti untuk selalu menebar kebaikan, Muhammadiyah University of Malang Riders (MuRid) langsungkan kegiatan bakti sosial. Komunitas motor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menempuh lebih dari 100 kilometer untuk mencapai tiga titik lokasi terdampak awan panas Semeru pada 17 April 2023. Yakni desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro, desa Supiturang dan desa Pronojiwo Kecamatan Pronojiwo. Adapun MuRid yang berangkat dibagi menjadi dua tim. Satu tim mengendarai tunggangan motor, sementara yang tim lainnya menggunakan mobil untuk mengangkut berbagai bantuan sosial. Waktu yang dibutuhkan yakni 3,5 jam dari titik keberangkatan, Kampus Putih UMM. Koordinator klub motor MuRid Zakarija Ahmad mengatakan bahwa baksos menjadi agenda rutin yang dilaksanakan pohaknya. Pada tahun ini, MuRid diberikan amanah oleh Baitul Maal Khatulistiwa untuk menyalurkan 100 bingkisan lebaran ke para warga. Pun dengan membagikan tunjangan hari raya ke guru mengaji yang ada di daerah, teruama mereka yang terdampak bencana awan panas gunung Semeru. “Kami juga menyempatkan memberikan bantuan kepada siswa-siswi Tapak Suci cabang Pronojiwo yang berasal dari keluarga tidak mampu. Semoga apa yang kami berikan bisa memberikan manfaat lebih,” katanya menjelaskan. Hal serupa juga disampaikan salah satu pemotor MuRid. Ia dan teman-teman berharap, bantuan yang ada bisa memberikan sedikit kebahagiaan di suasana lebaran. Meski berada di situasi kurang baik, tapi para warga bisa tersenyum dan menikmati hari raya dengan senang. “Apalagi daat hari raya biasanya kebutuhan warga bertambah. Jadi bingkisan lebaran ini bisa sedikt membantu meringankan,” pungkasnya mengakhiri. (wil)
Ganti Puasa atau Mulai Syawal Ini Kata Dosen UMM

Ramadan baru saja usai. Para muslim juga tengah beruforia dengan datangnya hari idul fitri di bulan Syawal. Bulan yang tepat untuk menjaga ibadah yang sudah diupayakan pada bulan Ramadan, sehingga kualitas sebagai muslim tidak menurun. Salah satunya dengan menjalankan puasa Syawal yang dianjurkan oleh Nabi. Terkait hal itu, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Luciana Anggraeni, M.H. memberikan penjelasannya. Puasa Syawal ialah berpuasa selama enam hari selama bulan itu. Mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, puasa sunnah di bulan syawal memiliki ganjaran yang besar. Puasa Ramadan yang diikuti puasa selama enam hari, dihitung seperti berpuasa penuh satu tahun. Lalu, bagaimana dengan orang yang ingin menjalankan ibadah puasa Syawal namun masih memiliki hutang puasa Ramadan? Mana yang lebih utama dan didahulukan? Menanggapi hal tersebut, Luci menyampaikan bahwasanya ada 3 tiga pandangan ulama untuk melakukan puasa sunnah ini. Pertama, yakni mengganti puasa Ramadan dulu, kemudian puasa syawal. Adapula yang membolehkan puasa syawal terlebih dahulu. Bahkan adapula gang menggabungkan niat keduanya. “Akan tetapi alangkah baiknya membayar utang puasa Ramadan terlebih dahulu, karena hukumnya yang wajib. Lagipula amalan sunnah tidak akan diterima jika yang wajib saja belum ditunaikkan,” sarannya. Jadi mengganti puasa Ramadan harus diutamakan karena sifatnya yang wajib. Apalagi, membayar uutang puasa Ramadan memang dianjurkan secepatnya. Karena jika terlalu lama menunda, dikhawatirkan yang bersangkutan akan lupa akan kewajiban tersebut hingga datang Ramadan berikutnya. “Meskipun puasa syawal ini hukumnya sunnah, namun sangat dianjurkan oleh Nabi. Bagi orang orang yang tidak berhalangan, alangkah baiknya melakukan puasa syawal selama enam hari,” tandasnya. (wil)
Tanggapi Perbedaan Hari Raya, Dosen FAI UMM Akhlak Harus Diatas Fiqih

Ketetapan tentang jatuhnya Hari Raya Idul Fitri di Indonesia beberapa kali tidak sama antara satu organisasi atau golongan. Perbedaan metode yang digunakan menjadi alasan kenapa terjadi perbedaan hari. Tidak jarang hal itu memicu pertengkaran dan perselisihan. Fenomena itu menarik perhatian Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Pradana Boy Zulian, S.Ag, M.A. Ia menyampaikan, warga muslim perlu diingatkan kembali perihal pentingnya menumbuhkan akhlak untuk sesama, terutama terkait perbedaan mazhab. Dengan demikian, dalam diri akan tertanam sikap untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan mazhab yang diyakini. “Akhlak itu harus di atas fiqih. Jangan merasa bahwa prinsip kita paling benar dan punya lain seratus persen salah,” kata pria asal Lamongan tersebut. Menurutnya, menjalankan perintah agama itu haruslah membawa kemaslahatan. Adapun hukum-hukum yang ada di Alquran dan Hadis tidak akan berubah. Namun, pemikiran dan interpretasi manusia bisa jadi berubah. “Hal inilah yang dinamakan fiqih yang merupakan hasil pemahaman dan interpretasi para ahli atas peristiwa yang hukumnya tidak ditemukan dalam Alauran dan Hadits,” tandasnya. Meskipun banyak perbedaan, pada akhirnya tujuan yang ingin dicapai umat muslim tentu sama yaitu mendapatkan pahala dari Allah. Lagipula menurutnya, tidak mungkin para ulama sengaja menyesatkan jutaan umat dari berbagai golongan. Maka, Boy menyarankan agar setiap orang turut aktif mengikuti organisasi, asalkan organisasi tersebut cocok dengan syariah Islam. “Ikut organisasi itu poinnya bukan karena fanatik, tapi sebagai cara memiliki jaminan. Meskipun memang belum tentu jaminan itu benar. Para ulama-ulama besar di dalamnya juga tidak mungkin menjerumuskan dan berlomba memproduksi kesalahan,” tegasnya. Selain itu, Boy juga sempat menceritakan kisah sahabat nabi yaitu Mu’adz bin Jabal yang dijadikan acuan untuk berijtihad. Keahlian Mu’adz dalam fiqih dan ilmu pengetahuan, membuatnya seringkali mendapat punian dari Rasulullah SAW. Beliau mengatakan bahwa jika pedoman yang paling utama dalam mengadili adalah kitab Alquran beserta sunnah-sunnahnya. Akan tetapi, jika Mu’adz tidak menemuainya, maka ia akan menggunakan akalnya untuk berijtihad. “Adanya perbedaan itu bisa disebut sebagai cara kita untuk menghargai karunia dan ciptaan Tuhan, yaitu akal. Maka perbedaan itu justru menunjukkan bahwa akal manusia itu bekerja. Karena tidak mungkin semua orang itu sama.m, maka memiliki perbedaan hari raya atau menjalankan puasa itu bukanlah suatu masalah yang harus dibesar-besarkan. Yang penting kita menjalani ibadah syariah puasanya itu dengan ikhlas dan sungguh-sungguh,” imbuhnya. (*nel/wil)