Prodi HKI UMM Raih Peringkat 1 Kinerja Publikasi Sinta

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hentinya menorehkan prestasi. Kali ini datang dari prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) yang berhasil meraih peringkat 1 kinerja publikasi Science and Technology Index (Sinta) dari 247 prodi HKI setanah air pada awal tahun ini. Berdasarkan data, prodi HKI UMM memiliki Sinta Score Overall 4.211 dan Sinta Score 3 Yr 2.840. Muhammad Arif Zuhri, Lc. M.HI. selaku ketua prodi HKI UMM mengatakan raihan prestasi ini memperlihatkan bahwa UMM sebagai perguruan tinggi swasta memiliki keunggulan dan mampu bersaing di bidang riset dan publikasi ilmiah. “Alhamdulillah, kami bersyukur atas prestasi ini. Capaian ini bentuk dari ikhtiar prodi HKI untuk memenuhi Catur Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan AlK,” ungkap Arif. Arif menegaskan bahwa tidak ada program khusus yang dilakukan untuk mencapai prestasi ini. Semua berjalan secara natural dan sudah semestinya. Mereka selalu memiliki prinsip untuk segera mengeksekusi apa yang bisa dihasilkan, tidak hanya berhenti di pikiran saja yang ujungnya menjadi beban. Para dosen juga sering bertukar pikiran, ide, dan memberi motivasi serta masukan antara satu dengan yang lain. Dengan begitu akan ada perbaikan dan pengembangan dalam catur dharma perguruan tinggi. “Ini juga hasil dari kedisplinan kami dalam menjalankan berbagai aktivitas ilmiah. Apalagi kami juga memiliki tiga dosen lektor kepala, empat dosen lektor, dan 16 asisten ahli yang memiliki peran dalam pertimbangan perhitungan skor prodi HKI UMM,” tegasnya. Arif menegaskan bahwa prestasi ini bisa menjadi bahan bakar HKI untuk bisa menjadi prodi terkemuka dalam pengembangan ilmu hukum di tahun 2030, utamanya hukum Islam. Pengembangan keilmuan itu tentu berdasarkan nilai-nilai islam yang berwawasan tajdid dan keindonesiaan. “Kami juga berterima kasih kepada UMM yang telah memberi dukungan dalam banyak hal untuk peningkatan mutu prodi maupun dosen,” harap Arif. Terakhir, Arif menjelaskan bahwa skor Sinta tersebut berhasil diperoleh karena pihaknya telah menerbitkan 6 artikel terindeks Scopus Q1, 4 artikel terindeks Scopus Q2, 1 artikel terindeks Scopus Q3, dan 1 artikel terindeks Q4, serta 1 publikasi yang dikategorikan sebagai Scopus Non Artikel. Di samping itu, juga terdapat 25 Scopus Citation, 7 Scopus Document tersitasi, 4 artikel yang berupa Web of Science Document (core) dan 2 artikel Web of Science Document tersitasi. Selain itu juga didapat dari artikel yang terindeks Sinta (Garuda S1 Non Scopus) sejumlah 4 artikel, (Garuda S2) 46 artikel, (Garuda S3) 24 artikel, (Garuda S4) 41 artikel, (Garuda S5) 12 artikel, (Garuda S6) 2 artikel, (Garuda dokumen tidak terakreditasi) 77 artikel. (zak/wil)

Kompor Surya Ciptaan Mahasiswa UMM untuk Dukungan Korban Gempa di Turki

Gempa di Turki membangkitkan rasa kemanusiaan masyarakat dunia. Tak terkecuali mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain doa, mereka juga telah menciptakan kompor surya yang bisa digunakan dalam keadaan darurat. Adapun kompor inovasi ini dikembangkan dalam rentang waktu empat bulan oleh 18 mahasiswa. Hibatullah Al-Mubarok, perwakilan dari tim menjelaskan bahwa ide kompor ini muncul dari diskusi panjang kelompoknya bersama dosen, yakni Ir. Muhammad Lukman, MT. Dari situlah mereka perlahan membuat prototipe hingga akhirnya menjadi kompor surya. Adapun cara kerja kompor itu memanfaatkan pantulan cahaya matahari yang dipusatkan dalam satu titik dengan menggunakan prinsip dna alat. Dalam titik itulah energi panas dikumpulkan dan siap digunakan untuk memasak. “Kompor surya adalah tekonologi yang memanfaatkan energi matahari dalam memasak pada pagi hari hingga siang hari,” imbuhnya. Barok, sapaan akrabnya mengatakan bahwa kompor ini sangat cocok dalam keadaan darurat, seperti misalnya saat bencana melanda. Menurutnya kompor ini dapat menjadi solusi di kondisi bencana gempa bumi Turki. Apalagi mengingat susahnya mencari gas atau bahan bakar untuk memasak. Maka, memanfaatkan energi alam yakni matahari dapat menjadi jalan keluar. Keunggulan lain produk ini adalah penggunaannya yang ramah lingkungan. Berbeda dengan energi gas dan fosil yang secara jangka panjang dapat membahayakan lingkungan. “Saya rasa kompor surya ini sangat cocok digunakan di masa bencana. Baik itu banjir, tsunami, longsor atau bahkan gempa di Turki. Dengan satu alat, problem memasak sudah bisa  diatasi dan mampu memberikan makanan yang cukup. Semoga ada relawan yang mau memanfaatkannya untuk dibawa ke lokasi-lokasi bencana, termasuk lokasi gempa Turki,” tegasnya. Mahasiswa asli Tuban ini berharap kompor ini bisa terus dikembangkan. Salah satunya yakni bentuk yang harus dimodifikasi dan diubah menjadi lebih minimalis. Untuk saat ini, bentuk kompor ini masih tergolong bongsor dan sulit untuk dibawa ke mana-mana. Jika nantinya ada pengembangan bentuk, ia rasa kompor surya buatan mahasiswa UMM bisa digunakan masyarakat luas. Pun dengan tingkat panas yang bisa ditingkatkan lagi sehingga proses memasak bisa lebih mudah dan cepat. “Minimalis dan mampu mengumpulkan panas lebih banyak menjadi tujuan kami selanjutnya. Semoga akan muncul banyak ide yang bisa kami implementasikan di alat ini,” pungkasnya. (haq/wil)

Halal Center UMM Gandeng Lembaga Halal Malaysia

Memiliki komitmen untuk meningkatkan sadar halal secara global, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gaet lembaga halal asal Malaysia. Salah satunya menerima kunjungan tim dari International partnership and Global Event Serunai Commerce Malaysia pada 9 Februari 2023. Kedatangan mereka yakni untuk melakukan kerjasama dengan Halal Center UMM. Intan Suriya Ramly selaku Director of International partnership and Global Event Serunai mengatakan bahwa perusahaannya adalah lembaga yang memang bergerak di bidang halal. Termasuk melakukan sertifikasi halal baik skala kecil, menengah hingga perusahaan besar. Selain itu juga memiliki kompetensi sumber daya manusia dan teknologi dalam upaya menyatukan komunitas pegiat halal di dunia, dimulai dengan ASEAN mini (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand). “Kami juga mempunyai komitmen untuk mempermudah umat Islam terhadap kebutuhan dan informasi produk halal. Yakni melalui pemeriksaan halal, autentikasi halal, publikasi atau sosialisasi yang mendukung banyak pihak. Menurut saya, Halal Center UMM menjadi pihak yang strategis untuk menjalin kerjasama,” terang Intan. Di sisi lain, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP. selaku Kepala PS P3 Halal UMM mengatakan bahwa ada sederet bidang yang bisa dikolaborasikan. Utamanya dala pendampingan halal bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mellaui Halal Center UMM. Pun dengan lembaga pemeriksa halal Muhammadiyah maupun Pemerintah daerah. “Hal itu merupakan upaya untuk memperbanyak  wirausaha muslim yang mempunyai produk bersertifikat halal. Pun dengan standar yang disepakati bersama agar dapat digunakan untuk mempermudah membuat jejaring informasi produk, outlet, hingga toko oleh-oleh yang sudah bersertifikasi halal,” jelas Elfi. Adapun kedua belah pihak saling memberi input untuk memperkuat ekosistem dan industrialisasi halal di dunia, khususnya ASEAN. Kemudian juga merancang kurikulum bersama dalam kegiatan pelatihan dan pendampingan kepada stakeholders yang mana selaras dengan tujuan dan keinginan PS P3 Halal dalam membentuk CoE Halal UMM. “Kami berharap program dan kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan sadar halal bagi produsen, konsumen dan peran kampus dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berwawasan keislaman dan mendunia. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Anbiya’ ayat 107, Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (rahamatan liralamin),” haraf Elfi. Rencana kerja sama itupun juga mendapat tanggapan baik dari Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd . Ia sangat mendukung dengan program dan target internasionalisasi UMM. Utamanya untuk menyiapkan SDM menyongsong Indonesia menjadi pusat halal dunia 2024 dan Indonesia Emas 2045. “Saya kira kerjasama ini bisa direalisasikan ddi berbagai aspek. Misalnya kegiatan ilmiah seperti workshop ataupun seminar hingga pelatihan atau pendampingan, penelitian, dan publikasi bersama. Selain itu juga dapat menjadi kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk pertukaran kegiatan magang sebagai mitra kerja Serunai di negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) lainnya,” harap Fauzan. (zak/wil)

Dosen UMM: Jelang Pemilu, Pemilih Pemula Wajib Waspadai Black Campaign

Pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah akan segera dilaksanakan pada tahun 2024. Ini merupakan salah satu bentuk dari partisipasi politik di masyarakat. Partisipasi politik sendiri memiliki banyak bentuk. Salah satunya adalah voting atau pemungutan suara untuk memilih wakil rakyat. Hal ini dijelaskan oleh Ach. Apriyanto Romadhan, S.Ip., M.Si. selaku Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, dalam memilih wakil rakyat ada tiga tahapan yang dilalui oleh pemilih. Pertama, akses sumber informasi yang berkaitan dengan wakil rakyat bakal calon. Bisa dengan melihat program kerja maupun track recordnya. Kedua, proses di mana pemilih ikut dalam melakukan pemungutan suara. ”Ketiga, pasca dimana pemilih mengawal calon yang terpilih dan melihat apakah mereka berhasil dalam struktur legislatif. Kemudian melihat apakah mereka menjalankan program-program yang telah dijanjikan ketika berkampanye,” lanjutnya. Achmad, sapaannya, juga menekankan bahwa pemilih yang baik adalah mereka yang memiliki orientasi terhadap program kerja dan track record dari calon wakil rakyat. Maka, perlu adanya pendidikan politik yang diberikan oleh partai pengusung calon maupun pihak lainnya. Hal ini dilakukan bukan hanya menjelang pemilu saja, tetapi dilakukan secara periodik dan berkelanjutan. Sehingga dapat meningkatkan stock of knowledge bagi pemilih terkait pemilu maupun politik. Sejalan dengan hal itu, pendidikan politik akan meningkatkan kepercayaan pemilih terhadap kapasitas calon. Selain pendidikan politik, penting juga peran dari media sosial dalam mengkampanyekan berita-berita politik. Baik itu prestasi maupun pribadi calon-calon yang diusung. Selain itu, media sosial nyatanya juga dapat menjadi black campaign dalam memberikan berita-berita bohong informasi calon wakil rakyat tertentu. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus lembaga pendidikan maupun lembaga masyarakat yang memiliki kepedulian dalam pendidikan politik. Dengan meningkatnya pendidikan politik dari stakeholder akan meningkat pula modal intelektual para pemilih pemula. “Fungsi pendidikan ini adalah meningkatkan kemampuan literasi yang tentu akan meningkatkan penjaringan informasi dalam memilih calon atau partai yang akan dipilih,” jelasnya. Untuk melihat track record calon, dapat dilihat dari keanggotan partai politik calon, latar belakang calon melalui akses yang diberikan oleh KPU dan dari berbagai media. Sehingga pemilih dapat membandingkan informasi yang didapat, menyaring informasi sepadat mungkin dan selektif agar tidak mudah terbawa arus black campaign. “Keberhasilan suatu pemilu adalah proses kerja sama antara berbagai kepentingan, baik itu pemerintah, lembaga swasta, masyarakat, maupun organisasi-organisasi lainnya. Ini adalah tugas bersama untuk mencerdaskan pemilih pemula dengan membuka kelas-kelas politik,” tutupnya. (nov/wil)

Menulis di Ponsel, Syahrul Menangkan Lomba Essay Nasional

Terkendala oleh waktu dan alat tak membuat semangat Muhammad Syahrullah. Sr untuk mengikuti berbagai perlombaan essay. Berkat usaha gigihnya tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berhasil menyabet juara tiga dalam Pekan Olimpiade Dan Seni Akbar Nasional (POSAN). Perlombaan tersebut diselenggarakan oleh Platform Gudang Prestasi Indonesia akhir bulan lalu. Syahrul, sapaanya menjelaskan bahwa essay yang dibuatnya ini mengangkat tema tentang Pancasila dalam konteks sejarah bangsa Indonesia. Essay itu dibuat hanya dengan memakan waktu satu hari saja, mulai dari penggalian ide, penulisan essay, revisi, hingga submit karya. Mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah tersebut menjelaskan bahwa manajemen waktu merupakan kunci utama dalam menyelesaikan essay tersebut. “Saya mengerjakan essay mulai dari jam sepuluh pagi sampai dengan jam dua belas malam. Dikarenakan tidak memiliki laptop, jadi selama proses pengerjaan saya menggunakan aplikasi microsoft word yang ada di smartphone. Lebih susahnya lagi karena smartphone saya sudah tua, jadi sering mengalami hang. Belum selesai sampai di situ, saya juga terkendala oleh pembuatan daftar pustaka yang membutuhkan mendeley. Jadi saya meminjam laptop teman saya di jam-jam akhir sebelum submit karya,” ungkap mahasiswa angkatan 2022 ini. Terkait motivasi dalam mengikuti lomba, Syahrul mengatakan bahwa ia ingin memanfaat momen liburan semester ini untuk mendulang berbagai prestasi. Selain itu, dengan mengikuti perlombaan literasinya juga akan bertambah, terkhusus di bidang essay. Tema perlombaan ini juga sangat menarik minat Syahrul, yaitu Moderasi dan Pancasila. “Sebagai tema essay kali ini, Pancasila memiliki peranan penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Tak hanya sebatas mengetahui tentang peranan Pancasila dalam pembentukan negara, mempelajari pancasila juga dapat membantu dalam membangun identitas nasional, memelihara stabilitas politik, memajukan pembangunan sosial dan ekonomi. Pun dengan memastikan bahwa hak-hak setiap individu diakui dan dilindungi,” ujar mahasiswa asal Makassar tersebut. Lebih lanjut Syahrul mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak berekspektasi lebih untuk memenangkan perlombaan. Jika pun kalah, Syahrul berkata bahwa ini cukup menjadi pengalaman yang berharga baginya. “Saya berayukur UMM selalu mendorong mahasiswanya untuk berprestasi. Pun dengan penghargaan yang diberikan kepada mereka yang berprestasi. Saya berharap dapat terus menjaga semangat dan dedikasi untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Membuktikan bahwa kemenangan ini merupakan awal dari sebuah perjalanan yang lebih baik,” ungkapnya mengakhiri. (syi/wil)

Cerita Asyik Mahasiswa UMM Studi dan Bertemu Artis K-pop di Korea

Meskipun singkat, proses pertukaran pelajar ke luar negeri akan mengubah hidup dan pemikiran mahasiswa selamanya. Hal itu dikatakan oleh Elrosa Nadia Sukmaningtyas, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengikuti program pertukaran pelajar Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) ke Hanyang University (HYU). Program yang dicetuskan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) ini berlangsung selama lima bulan. Elrosa, sapaannya mengatakan bahwa awalnya ia merasa khawatir akan budaya belajar yang ada di Korea. Berbagai drama dan variety show korea yang ia lihat memperlihatkan pendidikan di negeri ginseng tersebut sangat sulit. Para pelajarnya juga sangat ambisius dalam hal belajar. Namun ternyata hal tersebut tidak terlihat ketika ia menjalani kelas. Bahkan mahasiswa kelahiran 2001 ini sangat terpukau dengan cara dosen mengajar. Ia mengatakan hampir semua sivitas akademika yang ada di Hanyang University sangat terbuka pada para mahasiswa lokal maupun asing. Bahkan di dalam proses pembelajaran, dosen akan menanyai satu persatu mahasiswanya tentang kesulitan yang dialami dan membantunya. Sistem perkuliahannya sendiri juga unik. “Jadi ketika awal semester, setelah memilih kelas akan ada sistem kelas percobaan selama satu minggu. Jadi jika dalam satu minggu tersebut mahasiswa tidak menyukai proses belajarnya, maka ia bisa mengajukan perpindahan kelas,” ujar mahasiswa jurusan manajemen itu. Terkait lingkungan belajar, Elrosa kembali menjelaskan bahwa para mahasiswa di korea tidak terlihat ambisius di dalam kelas. tapi berbeda cerita jika di luar jam kuliah. Perpustakan dan ruang belajar selalu penuh dengan mahasiswa. Apalagi jika mendekati masa ujian, kursi reservasi di kedua tempat tersebut selalu penuh padahal baru beberapa menit jam buka berlangsung. Namun Elrosa mengakui bahwa belajar di perpustakan dan ruang belajar di Korea sangat menyenangkan dan membuatnya fokus. Ia merasa takut akan stres karena pendidikan di Korea yang berbeda, tapi malah sebaliknya. Selain itu ada satu budaya korea yang sangat ia suka yaitu budaya ‘Pali-Pali’ atau budaya bergerak cepat. Budaya ini diterapkan dalam setiap aspek kehidupan seperti mengerjakan tugas, melayani pelanggan, bahkan sampai ke cara berjalan. “Hal ini sangat berkebalikan dengan orang-orang Indonesia yang lebih santai. Namun dengan menerapkan budaya ini di kehidupan sehari-hari saya, hasilnya sangat positif dan mengubah pemikiran saya menjadi lebih produktif serta membuat saya lebih menghargai waktu,” kata Elrosa. Tak hanya suasana belajar yang memberikan pengalaman baru, kesempatan menimba ilmu di Korea ini juga membuatnya dapat bertemu idol-idol K-pop yang ia sukai. Ia bercerita bahwa setiap minggu sekali selama di Korea, ia dan teman-teman internasionalnya berjumpa dengan K-pop idol. Biasanya mereka mengunjungi acara variety show music seperti music bank serta music core. Mereka menunggu di pinggir jalan selama beberapa jam untuk melihat K-pop idol favoritnya lewat setelah tampil. Selain itu, Elrosa juga kerap mengikuti acara ospek kampus lain untuk melihat K-pop idol kesukaannya. “Beberapa kampus di korea memperbolehkan masyarakat umum untuk melihat penampilan artis yang mereka undang. Jadi saya bisa datang ke beberapa kampus untuk melihat penampilan NCT, Twice, ITZY, dan lainnya. Selain itu, saya biasanya jalan-jalan disekitar Seoul Forest. Lokasinya berada di depan gedung salah satu agensi K-pop terkenal di korea yaitu SM Entertainment. Jika beruntung, saya bisa berpapasan dengan beberapa idol K-pop di sana,” ungkapnya antusias. Awalnya Elrosa berencana untuk memilih Inggris sebagai tempat tujuan pendaftaran IISMA. Namun ibunya menyarankan untuk memilih wilayah Asia, terkhusus di Korea karena bidang bisnisnya. Bersaing dengan 900 mahasiswa untuk mendaftar IISMA di Korea merupakan tantangan yang berat. Tapi berkat ketekunan, doa dari orang tuanya, serta dukungan Kampus Putih UMM ia dapat terpilih di IISMA tahun ini. “Saya merasa beruntung karena UMM sangat memudahkan mahasiswa untuk mendapatkan informasi beasiswa. Bahkan membantu di setiap prosesnya,” pungkasnya. (syi/wil)

CoE UMM Terbukti Bantu Sederet Perusahaan

Guna meningkatkan kualitas program Center of Exellence (CoE) Koi dan Udang, Prodi Akuakultur Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) langsungkan diskusi bersama mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Digelar pada 8 Februari lalu, diskusi ini juga membahas mengenai strategi untuk memajukan masing-masing aspek. Turut hadir salah satu perwakilan dari DUDI, Ir. Hery Sudarmono selaku CEO PT. Garin Agro Sejahtera (GAS). Ia menyampaikan rasa syukur karena bisa bekerjasama dengan UMM, terlebih FPP UMM yang memberikan gagasan terbaru. Hal itu nyatanya memberikan efek positif bagi perusahaan, utamanya dalam hal sumber daya manusia. “Sejauh ini kegiatan nyata yang telah kami lakukan adalah saya memberikan fasilitas praktek untuk mahasiswa yang berminat di kelas profesional udang. Dengan begitu mereka juga bisa mendapatkan skill yang sesuai dengan kebutuhan industri. Apalagi dengan durasi yang cukup lama, empat hingga lima bulan,” katanya. Hery menambahkan jika kelas professional udang memberi pemahaman lebih kepada mahasiswa mulai dari proses tebar benih, budidaya hingga masa panen. Para mahasiswa juga punya kesempatan untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depan karena sudah memiliki kemampuan yang mumpuni. “Saya sudah dua periode bekerjasama dengan UMM dan nanti akan memasuki periode ketiga. Total sudah ada puluhan mahasiswa UMM yang pernah magang perusahaan saya. Ke depannya, saya ingin mahasiswa tidak hanya di perusahaan saya yang di jawa, tapi akan saya kirim ke  Sumatera atau Sulawesi,” terangnya. Baginya, CoE UMM adalah gagasan brilian yang dicetuskan oleh UMM dan harus bersifat berkelanjutan. Terlebih ia mengharapkan kalau nanti akan ada bentuk kerjasama yang lebih, sebab teknologi pengembangan udang masih bisa berkembang dan pengusaha butuh masukan dari kampus. Dalam Kesempatan yang sama, Deky Arisandy pemilik dari CV Indo Koi Malang menyampaikan jika CoE UMM, utamanya Kelas Profesional Koi adalah alternatif mahasiswa untuk belajar di luar kelas regular kuliah. Utamanya bagi mereka yang memang tertarik menjadi pengusaha ikan koi. “Saya merasa senang dengan adanya kolaborasi ini karena banyak mahasiswa yang setelah magang, bisa langsung mengerjakan skripsi. Bahkakn juga sudah memulai bisnis ikan koi. Mereka juga bisa membantu kami untuk mengembangkan budidaya ini. Semoga akan ada banyak mahasiswa yang belajar di tempat saya mengenai budidaya ikan koi,” terangnya. Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM menyampaikan jika FPP adalah fakultas paling terdepan dalam menerjemahkan CoE UMM. Tidak hanya berbasis regular, tapi juga mementingkan pelatihan. Terlebih Kelas Profesional karya prodi Akuakultur telah diakui oleh Sukardi Rinakit selaku staf khusus presiden RI. “Ini memang inovasi bagus, tapi jangan berhenti untuk memberikan hal baru yang bermanfaat. Mari sama-sama memberikan perubahan positif untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya. (ros/wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Medical Check Up Mandiri

Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan secara menyeluruh menjadi pemantik bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam merancang alat medical check up dengan sistem self service. Alat ini diberi nama Meckup Machine singkatan dari Medical Check Up Machine. Inovasi ini dirancang oleh lima orang mahasiswa Teknik Industri yaitu Andika Muhammad Zaky, Pandu Satya Wirawan, Muhammad Atsal Fadhil, Reyhani Rahmadita, dan Afif. Andika, salah satu anggota tim, menyampaikan bahwa semua berawal dari obrolan bersama keluarga dan teman dekat terkait pemeriksaan kesehatan. Ternyata, banyak dari mereka yang jarang atau bahkan tidak pernah melakukannya. Maka, iya dan tim akhirnya berinisiatif menciptakan alat tersebut dengan inovasi. Adapun Meckup Machine adalah sebuah mesin yang bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan medical check up. Khususnya bagi mereka yang memiliki ekonomi menengah ke bawah. Ada beberapa cara kerja mesin tersebut. Diawali dengan pembayaran melalui e-money oleh pengguna dengan mengikuti instruksi yang tertera pada layar. Kemudian pengguna diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar riwayat kesehatan terlebih dahulu. Kemudian baru bisa melakukan semua tes kesehatan di mesin itu. Jika sudah, pengguna akan mendapatkan hasil akhir pengecekan berupa struk. Jika pengguna terindikasi memiliki penyakit, pengguna dapat memilih opsi pembelian obat pertolongan pertama. “Pada mesin ini terdapat beberapa pengecekan kesehatan, antara lain pengecekan tinggi badan, mata, tekanan darah, suhu badan, saturasi oksigen, dan swab test. Semua pengecekan ini kami rancang dengan pelayanan self service atau secara mandiri. Mesin ini juga memiliki perlindungan keamanan mesin yang baik dan akan mudah digunakan masyarakat,” jelas Andika. Andika juga menjelaskan bahwa dalam proses merancang Meckup Machine ini dibutuhkan waktu selama 3 bulan. Menariknya, Meckup Machine juga sudah dipamerkan dalam Pameran Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Teknik Industri UMM 2023 dan mendapat juara 3. Pun dengan juara sebagai poster terbaik pada Januari lalu. Rencananya, inovasi ini juga akan diajukan pada Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC). “Saya harap, ke depannya kami bisa terus melanjutkan proyek Meckup Machine dengan menambah berbagai fitur. Sehingga dapat digunakan secara luas oleh masyarakat yang kesulitan melakukan pemeriksaan tubuh secara menyeluruh dengan harga yang realtif murah,” pungkasnya. (sep/wil)

Bertekad Tekan Pengangguran di Mali, Mahasiswa UMM Ini Nekat Belajar di Indonesia

Pernah menjadi buruh dengan upah tak layak membuat Gaoussou Coulibaly, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Republik Mali Afrika Barat bertekad menjadi pengusaha sukses. Berbekal niat dan kesungguhan, ia memututuskan untuk belajar dengan tekun di Program Studi Akutansi UMM. “Menjadi pengusaha sudah menjadi passion dan cita-cita saya sejak kecil, karena di Afrika terutama di Mali, anda harus bekerja. Saat mencari pekerjaan, saya banyak menemui kesulitan. Misalnya saya pernah bekerja 12 jam sehari dan saya tidak dibayar dengan baik di akhir bulan. Bertekad untuk mengembangkan berbagai sektor sebagai lapangan pekerjaan bagi keluarga, teman-teman dan anak muda di Mali,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Kuli tersebut. Tidak main-main, untuk mewujudkan mimpinya Kuli berusaha mendapatkan akses pendidikan terbaik. Ia pun bergabung dalam program Asia Afrika Scholarship Student (AASS) dan mendapatkan kesempatan belajar selama 4 tahun ditambah 1 tahun masa persiapan studi. “Saya memutuskan datang ke Indonesia untuk belajar akuntansi. Saya menilai bahwa di UMM para mahasiswa didorong untuk menjadi versi terbaik. Salah satunya melalui Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang mengajari saya tentang Bahasa Indoensia dan budayanya,” tambahnya. Kuli juga melihat bahwa di UMM ia didorong unntuk bisa mengembangkan potensi sntrepreneurship. Ada banyak kegiatan yang mengarah ke sana. Ia berharap, apa yang ia dapat di Kampus Putih mampu diimplementasikan di Mali. Paling tidak bisa menekan angka pengangguran di sekitar lingkungannya. Sudah tiga bulan tinggal di Indonesia, Kuli mengaku senang belajar di Malang. Ia mendapat banyak pengalaman juga teman-teman baru. Terselebih, para sivitas UMM yang menurutnya sangat terbuka dan mau membantu ketika ia menemukan kesulitan. “Belajar di UMM sangat seru, apalago dosen di sini cukup ramah dan menyennagkan. Orang-orang di sini juga baik sekali. Saya sering mengobrol bersama teman-teman di kos. Mereka tidak membeda-bedakan ras, bahasa dan lainnya. Saya bersyukur bisa belajar di Indonesia, khususnya kota ini,” pungkasnya. (auul/wil)

Perjuangan untuk Beribadah Mahasiswa UMM di Hungaria

Dipaksa mandiri di negeri orang, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini jalani pertukaran pelajar ke Universitas Szeged, Hongaria. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI) bernama Indah Febriana As’ari Putri ini mengikuti program International Student Mobility Award (IISMA) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek). Program ini berlangsung selama lima bulan dari September 2022 sampai Januari  2023 lalu. Indah sapaannya menceritakan bahwa perjalanannya ke negara eropa ini merupakan kali pertamanya merantau. Hidup jauh dari orang tua membuatnya harus beradaptasi dengan budaya serta lingkungan baru. Hal itu membuatnya tidak nyaman selama dua minggu pertama. Ia bahkan hanya memakan mie instan, nasi, serta telur di hari-hari awal menjalani program pertukaran pelajar ke Hungaria. “Penganut Islam di Hungaria sangat minoritas. Beberapa restoran sebenarnya menjual makanan halal seperti daging ayam, ikan, dan lain sebagainya. Namun di dalam bahan masakan mereka masih menggunakan minyak babi. Oleh karena itu, alternatif satu-satunya adalah memasak. Masalahnya saya tidak pernah memasak, jadi saya hanya makan mie instan selama dua minggu pertama. Setelah itu, saya lambat laun mulai belajar memasak dengan menggunakan resep dari internet,” ujar mahasiswa angkatan 2020 itu. Selain kesusahan mengakses makanan halal, Indah juga mengatakan bahwa akses ke tempat ibadah dan masjid sangat minim. Sebenarnya pihak kampus telah menyediakan musala bagi para mahasiswa, namun hanya dibuka saat waktu-waktu ibadah saja. “Saya harus menyesuaikan jadwal kuliah dengan jadwal salat lima waktu. Kadang jika waktu salat telah lewat dan musala tutup, saya melaksanakan solat di tangga darurat. Saya juga kerap salat di ruang ganti yang ada di mall,” ungkap mahasiswa asal Malang tersebut. Meskipun adaptasinya sangat berat, Indah mengatakan bahwa pengalamannya melakukan pertukaran pelajar ke Universitas Szeged ini memberikan pengalaman yang berharga. Selain memaksanya untuk menjadi mandiri, dengan mengikuti program ini ia juga menjadi lebih tahu mengenai kebudayaan serta adat istiadat dari negara lain. “Salah satu hal yang membuat saya takjub selama di Hongaria adalah Gereja Candlemas. Bangunan gereja ini awalnya merupakan masjid di zaman kesultanan Utsmaniyah lalu dialihfungsikan menjadi gereja pada tahun 1702. Ornamen luarnya masih tampak seperti masjid dengan atap kubahnya, sementara bagian dalamnya bercorak gereja katolik yang kental. Kesempatan mengikuti program IISMA ini merupakan pengalaman yang tak kan terlupakan bagi saya,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)