Lembaga Pelatihan Kerja UMM Selenggrakan Pelatihan Roti Manis dan Roti Sobek

Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) menyelenggarakan pelatihan roti sobek dan yang diikuti oleh 20 peserta. Kelas pertama ini diselenggarakan di UMM bakery serta rekanan DUDI yaitu Rayz Hotel, (06/07/2022). Pelatihan Roti Manis dan Roti Sobek merupakan salah satu produk unggulan LPK Universitas Muhammadiyah Malang (LPK UMM) karena dapat membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memulai usaha roti sendiri. Kursus pelatihan Roti Manis dan Roti Sobek mendukung pengembangan kewirausahaan di masyarakat dan memberikan peluang kreativitas dan peningkatan pendapatan. Selain itu, bisnis pembuatan kue berpotensi menjadi bisnis yang stabil karena permintaan roti cenderung stabil dari waktu ke waktu, meskipun tren pangan berfluktuasi. Hal ini menjadikan baking sebagai salah satu jenis kegiatan yang relatif resisten terhadap perkembangan pasar. Kegiatan kelas pertama ini dibagi menjadi dua kegiatan yaitu kelas teori dan kelas praktek. Mahasiswa peserta kelas ini juga dibekali dengan kegiatan On the Job Learning (OJL) selama 3 hari. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, mahasiswa peserta kelas Pelatihan Roti Manis dan Roti Sobek dapat memiliki keahlian di bidang bakery sehingga dapat membuka peluang pekerjaan. Hal ini juga diharapkan meningkatkan visi kampus yaitu UMM Pasti, Pasti cepat lulus, Pasti Kerja. “Untuk sementara memang target market kami adalah mahasiswa. Kedepannya kami akan menyediakan lebih banyak lagi skema pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan kerja dan masyarakat luas”, ungkap Rahmawati Khadijah Maro, S.Pd., M.P.Ed. selaku Ketua LPK UMM. (sil)
Diskusi Dosen UMM-Poznan Polandia, Kaji Demografi Negara

Jika Indonesia digadang-gadang akan mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045 karena bonus demografi, hal sebaliknya justru terjadi di Polandia. Saat ini, Polandia memiliki indeks demografi yang kian merosot. Hal itu disampaikan Krzysztof Szwarc, dosen dari WSB University of Poznan, Polandia pada Visiting Lecturer Class dan diskusi terpumpun tentang bonus demografi. Adapun agenda ini diselenggarakan Program Studi Akutansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), akhir Juni lalu. “Masyarakat Polandia memiliki kecenderungan berpikir bahwa yang utama adalah bekerja dan mencapai kejayaan. Mereka menjadikan keluarga sebagai pilihan keempat bahkan bisa jadi pilihan terakhir,” ucap Kryz. Ia yang fokus meneliti tentang demografi mengatakan, penurunan tingkat kelahiran di Polandia sangat berbanding terbalik dibandingkan dengan Indonesia. Bahkan semakin tahun grafiknya semakin menukik. “Pada tahun 2016, pemerintah Polandia bahkan membuat program sosial untuk keluarga. Bagi individu yang berkeluarga dan memiliki keturunan, mendapat tunjangan dari pemerintah senilai 50 juta rupiah. Sayangnya, penawaran ini tak membuat masyarakat berubah,” urainya. Hal inilah yang membuat Krzys sendiri tergerak dan mendalami demografi Polandia ini. Ia ingin mengetahui lebih jauh dan rinci, mengapa masyarakat Polandia memilih demikian. “Saya terus mencari tahu kenapa Polandia mengalami krisis demografi. Hal ini bisa saja didasari pola pikir masyarakat yang memandang bahwa memiliki keluarga adalah sesuatu yang ribet. Maka dari itu, melalui acara Lecturer Visiting Class ini saya berharap bisa saling berbagi banyak hal mengenai keadaan demografi masing-masing negara. Semoga juga dapat mempererat hubungan bilateral dan kerjasama,” kata Krzys mengakhiri. Senada dengan Krzys, Ketua Program Studi Akuntansi Dr. Driana Leniwati, MSA., Ak. menyampaikan bahwa pihaknya berharap momen ini menjadi rantai yang mempererat hubungan kerjasama antara kedua kampus. Bahkan juga kedua belah negara. Ada banyak hal yang bisa didiskusikan dan dikolaborasikan. Terkait indeks demografi, ia menilai bahwa banyak faktor yang bisa mempengaruhinya. Kryz juga bisa saling berbagi inormasi tentang penurunan atau kenaikan jumlah penduduk yang ada. “Kami berharap acara ini dapat membuka lebih luas hubungan dan kerjasama dengan Polandia khususnya dengan WSB University of Poznan,” pungkasnya mengakhiri. (Riz/Wil)
Renjana Askala, Pagelaran Drama Cerita Anak dari PGSD UMM

Konsep menarik disajikan program studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang. Berupaya menjadi anak muda kreatif dan terampil, para mahasiswa menampilkan berbagai cerita fabel dalam pagelaran pementasan drama bertema “Renjana Askala” pada akhir Juni lalu. Adapun drama ini merupakan realisasi tugas akhir para mahasiswa untuk mata kuliah kajian bahasa Indonesia sekolah dasar yang diampu oleh Innany Mukhlisina, M.Pd dan Delora Jantung Amelia, M.Pd. Keduanya mengaku bahwa anak muda harus menggapai potensi yang dimilikinya,termasuk dalam aspek drama dan kreativitas. “Pagelaran ini bertujuan untuk mewujudkan generasi yang memiliki keterampilan, berjiwa seni, serta mampu mengapresiasi karya-karya yang ada. Bukan hanya drama fabel, para mahasiswa bahkan menampilkan tari-tarian sebagai pelengkap drama,” jelas salah satu pengampu, Innany. Para mahasiswa PGSD UMM membawakan cerita fabel berbeda dari berbagai pulau di Indonesia. Antara lain cerita dari pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Salah satu dongeng fabel yang dibawakan berjudul Cara Cerdik Kancil Menaklukan Harimau. Menceritakan seekor harimau yang dikenal sebagai raja rimba Nusantara. Semua penghuni hutan tidak adaa yang berani denganya, sekalipun si Badak yang berbadan besar. Hanya si kancil yang berani menantangnya berkompetisi berburu. Banyak yang tidak percaya, namun si Kancil berhasil membuktikannya. Di samping itu, setiap mahasiswa juga menciptakan karya berupa cerita anak jenjang sekolah dasar. Nantinya, kumpulan cerita tersebut akan dibukukan dan menjadi salah satu alternatif bacaan bagi anak-anak. “Apalagi saat ini, mereka lebih sering terpapar konten yang tidak sesuai dengan usia anak-anak,” tegas Inany. Pagelaran tersebut disambut baik oleh Kaprodi PGSD, bapak Bustanul Arifin, M.Pd. ia berpesan kepada mahasiswa untuk terus berani mengembangkan kualitas dan kreativitas yang dimiliki. Utamanya yang bisa menunjang kemampuan dalam pembelajaran di kelas nanti. “Aktivitas seperti ini akan membantu mahasiswa dalam mengembangkan drii. Pun dengan proses pembelajaran yang mereka lakukan nantinya saat magang maupun mengajar,” pungkasnya mengakhiri. (Wil)
Tapfirts, Kartu Nama Digital Kaya Fitur Ciptaan Mahasiswa UMM

Kartu nama adalah salah satu hal penting bagi masyarakat, terutama mereka yang ergelut di bidang bisnis. Sayangnya, kartu nama konvensional cukup ribet dibawa, harus dicetak berulang kali, dan biasanya berakhir dibuang begitu saja. Berangkat dari itu, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi yang bernama Tapfirst Digital Smart NFC Card. Menariknya, inovasi ini berhasil menembus tahap pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Kemendikbud-Ristek RI. Ketua tim Ghalib Baharuddin menjelaskan, Tapfrist ini memudahkan para customer karena tidak perlu membawa setumpuk kartu nama. Mereka hanya perlu membawa satu kartu. “Saat sudah membeli, customer akan mendapatkan satu kartu yang mendukung fitur NFC. Mereka juga mendapatkan satu landing page yang berisi kartu nama. Tepatnya di web tapfirst.id,” katanya. Ghalib, begitu ia kerap disapa, mengatakan bahwa kartu nama konvensional memiliki banyak kekurangan. Misalnya saja harus dibawa ke mana-mana dengan jumlah banyak hingga susah untuk mengubah data yang sudah tertulis. Kartu nama konvensional juga menyulitkan ketika ingin memindah data tulisan ke dalam ponsel. “Memasukkan nomor dari kartu ke ponsel seringkali membuat ribet. Namun hal itu tidak terjadi jika menggunakan produk kami, Tapfirst. Dengan teknologi NFC, kita bisa dengan memudah tap di ponsel kita masing-masing. Kemudian membawa kita pada website yang menampilkan data-data, seperti nomor handphone, perusahaan di mana kita bekerja, email, dan lainnya,” kata mahasiswa asal Yogyakarta itu. Ketika customer ingin mengubah data atau desain, mereka bisa dengan mudah menkustomisasinya di website tapfirst.id. Ghalib mengatakan mengubah data yang ada di produknya semudah mengganti foto profil atau status di media sosial. Adapun inovasi tersebut sukses menembus P2MW kategori bertumbuh, yakni kategori berisikan bisnis-bisnis mahasiswa yang sudah berjalan. Menariknya, Tapfirst sudah Ghalib kembangkan sejak lama. Namun kurang begitu maksimal karena belum ada modal yang signifikan. Berkat suntikan program ini, ia dan tim kini tengah sibuk mengembangkan dan menambah fitur-fitur baru. Sampai saat ini, sudah ada lebih dari 50-an customer yang bergabung. “Harga satu akun dan satu kartu berada di kisaran Rp89.000. Namun kami sering mengadakan diskon dan promo sehingga kadang bisa jadi Rp79.000 atau bahkan Rp75.000,” katanya menambahkan. Mahasiswa manajemen UMM itu tidak sendiri dalma mengembangkan Tapfirst. Ia ditemani dua anggota lainnya, yakni Muhammad Farrel Yusuf Reyhan dari produ Manajemen dan Miftahul Andiko Putra dari prodi Teknik Informatika. Mereka berharap, produk tersebut membantu masyarakat, entrepreneur dan pebisnis dalma mengembangkan jaringan. Utamanya yang memerlukan kartu nama. (Wil)
Apa Hukum Takbiran dengan Sound System? Ini Penjelasan Dosen UMM

Malam jelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak takbir, kapanpun dan dimanapun. Momen ini biasanya dilakukan dengan banyak cara, mulai dari mengumandangkan takbir di rumah, mushola, dan masjid. Bahkan seringkali kita temui takbiran di jalan-jalan dengan menggunakan pengeras suara yang dipasang menjulang di mobil-mobil sambil berkeliling. Hal itu menarik perhatian Muhammad Arif Zuhri, Lc, M.H.I. selaku Kaprodi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menjelaskan bahwa secara umum takbir keliling ini hukumnya mubah atau boleh dilakukan. Kegiatan itu merupakan bagian dari muamalah duniawiyah dan mengandung syiar-syiar yang menjadi sarana berdakwah. “Dahulu, ketika Ibnu Umar sahabat Nabi Muhammad SAW berangkat dari rumah menuju tempat sholat Idul Fitri ataupun Idul Adha, ia selalu mengeraskan bacaan takbir di jalan,” jelas Arif, sapaan akrabnya. Namun kemubahannya tergantung pada tata cara pelaksanaan, kondisi dan situasi daerah setempat. Jika seandainya takbir keliling menggunakan pengeras suara dirasa mengganggu lingkungan dan membahayakan orang lain, maka hal itu tidak diperbolehkan. “Contohnya di kampung halaman saya, takbir keliling ini sudah menjadi tradisi dan bahkan diperlombakan antar masjid. Kegiatan perlombaan ini dilakukan oleh pemerintah setempat serta telah dijaga oleh pihak-pihak keamanan. Bahkan masyarakat pun terlihat antusias dan ikut menonton lomba takbir keliling ini,” katanya. Kegiatan seperti ini tentu saja harus memiliki teknis pelaksanaan yang jelas agar acara berjalan dengan terstruktur dan kondusif. Jangan sampai momen baik ini memakan korban. Takbiran dengan pengeras suara juga harus memperhatikan lingkungan sekitar. Melihat apakah sudah baik atau malah mengganggu warga lain. Tentu semarak idul adha dan idul fitri memang harus diramailam tapi tetap memperhatikan norma-norma yang berlaku. “Jika dilakukan secara tertib, memperhatikan waktu pelaksanaan, lingkungan dan teknis pelaksanaan, maka sah-sah saja untuk dilaksanakan. Untuk patokan waktu takbir Idul Fitri, dimulai dari awal masuk Idul Fitri yaitu waktu maghrib, hingga sholat Idul Fitri dilakukan. Sehingga selepas sholat Idul Fitri dilakukan, tidak perlu lagi dilakukan takbir berjamaah di tiap masjid,” pungkasnya menjelaskan. (dev/wil)
Stunting Free Zone Jadi Cara Mahasiswa UMM Atasi Stunting

Stunting masih menjadi salah satu masalah yang dihadapi masyarakat. Melihat fenomena itu, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinovasi dalam penggunaan beras artifisial dan menu inovatif sehingga angka stunting bisa ditekan. Menariknya, ide ini berhasil masuk pendanaan program kreativitas mahasiswa (PKM) Kemdikbud-Ristek 2023. Salah satu anggota tim, Nisrina Nabila Nasywa, mengatakan bahwa PKM ini berfokus untuk mencapai sustainable development goals (SDG’s) butir kedua, yakni mengurangi stunting. Menurut data yang mereka peroleh, ada lebih dari 3.601 balita di Kota Malang yang terindikasi stunting. Hal itulah yang mendorong mereka untuk menyusun inovasi Stunting Free Zone with Gen Z. “Secara garis besar, kami menggunakan beras artificial yang terbuat dari bahan alami, yakni tepung dari kacang-kacangan lokal seperti kacang tunggak, kacang koro, kacang merah, dan lain-lain. Harapannya gizi anak-anak bisa terpenuhi dengan baik,” kata mahasiswa yang biasa disapa Riri tersebut. Selain itu, ia dan tim juga mencanangkan pelatihan pembuatan menu inovatif, utamanya di wilayah Tlogomas. Masyarakat diajari membuat nugget dari tahu hingga mengubah sayur dan tempe menjadi makanan yang menarik bagi anak. “Kombinasi beras artificial dan menu unovatif menjadi senjata kami untuk menekan angka stunting. Makanan yang dimakan menjadi lebih bergizi dan bernutrisi utuh. Pemilihan Tlogomas sebagai lokasi juga mempertimbangkan belum adanya pelatihan serupa selama ini. Sehingga kami berharap pengetahuan ibu-ibu bertambah terkait makanan dan gizi bagi anak-anaknya,” kata mahasiswa asal Bali tersebut. Beberapa hal yang sudah dilakukan Riri dan tim adalah melakukan survey dari kelurahan ke kelurahan serta Posyandu. Sampai saat ini, mereka juga berhasil mendapatkan 21 mitra dan 7 Posyandu di daerah Tlogomas, Kota Malang. Timnya juga akan menggaet para dosen yang berkompetwn untuk turut membantu memberikan khazanah ilmu baru, termasuk dosen Psikologi dan Teknologi Pangan. Terakhir, mahasiswa yang baru menginjak semester dua tersebut berharap inovasi yang dilakukan timnya bisa menjadi jalan untuk mengurangi angka stunting. Ia menegaskan bahwa program ini tidak akan berhenti meskipun sudah mendapatkan pengakuan melalui pendanaan Kemendikbud-ristek. Timnya berencana mengembangkan program ini ke berbagai daerah dan lokasi lain. (wil)
Mengolah Daging Kurban yang Sehat Ala Dosen Fikes UMM

Idul adha merupakan momen yang banyak ditunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Pada momen itu, banyak muslim yang berkumpul dengan keluarga sembari menikmati olahan daging. Sayangnya, Sebagian masyarakat mengonsumsi daging berlebihan dan membahayakan Kesehatan. Terutama yang sudah berada pada usia rentan dan penyintas penyakit tertentu. Melihat fenomena tersebut Edi Purwanto, S.Kep., Ns. MNg. selaku Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) memberikan berbagai tips bagaimana membuat olahan daging yang sehat saat hari raya. Di Indonesia, hewan yang biasanya disembelih adalah sapi dan kambing. Keduanya memiliki nutrisi yang baik bagi tubuh. Banyak mitos yang beredar bahwa daging kambing jauh lebih tidak sehat dibandingkan daging sapi. Namun Edi membantah hal itu. Menurutnya, kedua daging tersebut sama sama memiliki kandungan nutrisi hewani yang baik dan dibutuhkan oleh tubuh. “Daging sapi dan kambing itu bagus untuk kesehatan, namun akan sangat berbahaya jika dikonsumsi berlebihan apalagi saat momen Idul Adha,” ujarnya mengawali pembicaraan. Kebanyakan masyarakat Indonesia mengolah daging kurban dengan disate. Selain rasanya yang enak, memasak sate juga menumbuhkan kedekatan antar keluarga. Edi menilai bahwa tidak ada batasan usia bagi yang ingin menikmati olahan sate tersebut. Namun yang perlu diperhatikan adalah riwayat penyakit yang diderita seseorang. Apalagi saat ini, penyakit penyakit seperti jantung, tekanan darah rendah bahkan hipertensi bisa menyerang siapa saja. Bukan hanya mereka yang berusia lanjut. “Di era sekarang, penyakit tidak lagi memandang usia tua atau muda. Namun berdasarkan pada kebiasaan dan pola hidup. Oleh karena itu, biasakan hidup sehat sedini mungkin,” pesannya. Menariknya, Edi juga memberikan beberapa tips memasak sate agar lebih sehat. Salah satunya yakni dengan memastikan potongan daging tidak terlalu tebal dan tipis, agar menjamin kematangan dalam dan luar daging. Daging yang belum matang akan menimbulkan efek buruk, karena mengandung bakteri. Daging yang terlalu gosong juga tidak baik bagi kesehatan karena zat karsinogenetik (zat yang dihasilkan dari arang) bisa menyebabkan penyakit kanker. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), angka maksimal konsumsi zat karsinogenetik yakni di angka 5mL/1 Kg daging. Jika ingin menambahkan penyedap rasa, ia menyarankan untuk menggunakan penyedap yang alami seperti bawang-bawangan. “Selain itu, jangan lupa mengombinasikan daging dengan memakan sayur dan buah. Terakhir, tetap memiliki kesadaran dan kontrol atas kesehatan diri sendiri, karena isu kesehatan ini banyak tidak dipedulikan. Padahal akan sangat berdampak bagi keberlangsungan hidup seseorang,” pungkasnya. (lib/wil)
Inovasi Brilian, Tim UMM Manfaatkan Limbah Udang Jadi Penyedap Rasa

Selama ini, limbah udang dibuang begitu saja oleh masyarakat. Bahkan malah mencemari lingkungan sekitar. Berangkat dari fenomena itu, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat terobosan dengan memanfaatkan limbah udang menjadi penyedap rasa. Menariknya, inovasi ini berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Diktiristek. Adapun tim tersebtu terdiri dari para mahasiswa Ekonomi Pembangunan UMM. Ketua tim Rezatullah menjelaskan bahwa inovasi in menjadi upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Tidak hanya itu, tapi juga menambah nilai limbah karena diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat. “Jadi limbahnya diubah menjadi shrimp flavour atau penyedap rasa. Limbah udang itu diperoleh dari proses industri udang. Meliputi bagian-bagian tubuh udang yang tak terpakai seperti kepala, kulit, dan ekor. Tiga bagian ini biasanya dibuang begitu saja oleh pihak industri,” tambahnya. Tidak jarang, limbah udang ini mencemari lingkungan, minimal polusi udara karena seringkali menimbulkan bau yang tidak sedap. Hal itu membuat Rezatullah dan tim semakin bersemangat menghasilkan solusi yang tepat dan akurat. Terkait proses pembuatan, tim Kampus Putih harus melakukan beberapa Langkah. Dimulai dengan mengumpulkan limbah udang terlebih dahulu. Kemudian limbah yang terdiri dari kulit, kepala, dan ekor udang itu dihaluskan dengan menggunakan mesin. Kemudian menghasilkan serbuk halus. “Setelah itu, serbuk tersebut dicampur dengan bumbu dapur dna rempah-rempah. Lalu campuran bahan tersebut dikeringkan dan pada akhirnya dikemas dalam bentuk yang kondisional dan siap digunakan. Kami saat in juga tengah merinstis usaha ini agar bisa digunakan masyarakat luas,” jelasnya lebih lanjut. Keberhasilan itu tidak Reza capaia sendiri. Melainkan berkat kolaborasi dan Kerjasama tim yang terdiri dari Mina Syalafi Mufah, Risda Yanti Fatikasari, Tutut Solikah. Selain itu juga mendapatkan bimbingan, dampingan, dan masukan dari salah satu dosen yakni Mereka dalam menjalankan program ini didampingi dosen pembimbing yakni Setyo Wahyu S, SE, ME. (wil)
Jaga Lingkungan Tetap Aman, UMM Selenggarakan Kurban dengan Green dan Halal

Dalam rangka menjaga lingkungan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan kurban dengan konsep Green and Halal Kurban. Hal ini menjadi upaya Kampus Putih untuk tetap berbagi daging kurban dan tidak mengorbankan aspek kebersihan dan lingkungan. Misalnya saja dengan tidak menggunakan plastik untuk pengemasan, melainkan memakai daun jati, daun pisang dan besek. Adapun jumlah hewan ternak di UMM yang dikurbankan mencapai 59 ekor, terdiri dari 17 ekor sapi, 34 ekor kambing, dan 8 ekor domba. Sebagian dikirim ke titik-titik daerah di Malang Raya dan sebagian disembelih di Kampus pada 28-29 Juni. Dosen Peternakan UMM, Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt. menjelaskan bahwa green dan halal di sini tidak hanya dilaksanakan pada saat penyembelihan saja. Ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan jauh sebelum Idul Adha. Diawali dengan pemilihan tempat pembelian ternak yang sudah memenuhi standar kesejahteraan hewan atau animal welfare. “Dengan begitu, kita bisa mendapatkan hewan yang tidak stress. Sehingga tidak mudah memberontak dan lepas yang mana pada akhirnya memudahkan kami untuk menyembelih. Daging yang diperoleh juga minim memar, merah segar, dan lebih bagus,” katanya. Hal lain yang perlu diperhatikan dari Green dan Halal Kurban adalah pemilihan hewan ternak yang sudah divaksin, baik vaksin LSD maupun penyakit mulut dan kaki. Pun dengan pengecekan secara fisiologis yakni memilih yang berdaging, gemuk dan cukup umur. Semua proses tersebut dilakukan langsung oleh sederet dokter hewan yang dimiliki UMM, salah satunya Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, MS. Ali, begitu ia kerap disapa, juga menekankan terkait tempat pemotongan dan juga lubang untuk darah. Dalam pelaksanaan green kurban, darah dan kotoran harus dipendam ke dalam tanah dan tidak boleh dibuang melalui sungai karena akan mencemari. “Jika dibuang di sungai, takutnya nanti ternyata ada histori penyakit dari sapi, kemudina menyebar ke tempat lain seperti kebun rumput. Pada akhirnya akan menulari dan menginfeksi hewna ternak lainnya. Selain itu juga dikhawatirkan air yang mengalir di sungai digunakan untuk mencuci maupun minum oleh masyarakat yang ada di hilir,” jelas Ali yang juga menjadi tim kurban UMM. Pengemasan daging dan alat pelindung diri (APD) juga menjadi pertimbangan dalam green kurban. Daging yang sudah dipilih dan dikuliti dikemas menggunakan bungkus ramah lingkungan. Tim kurban UMM menggunakan besek, daun jati, dan bahan alami lainnya. Bahkan kali ini, Kampus Putih tidak menggunakan plastik sama sekali sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan. Berbeda dengan bungkus bahan organik, jika plastik dibuang di tempat sampah, plastik cenderung mengeluarkan bau yang tidak sedap dan dikerubungi oleh lalat. Hingga pada akhirnya muncul belatung yang mengganggu lingkungan. “APD dan jenis pisau juga penting untuk melindungi diri. Di UMM, pisau yang digunakan berbeda-beda tergantung untuk apa. Ada pisau khusus untuk menyembelih hingga pisau untuk boning. Para pnyembelih juga sudah dilatih terlebih dahulu melalui pelatihan juru sembelih halal (Juleha) dari Halal Center UMM beberapa hari lalu,” terang Ali. Terakhir, Ketua Prodi Vokasi Agribisnis Unggas UMM itu berharap konsep green and halal kurban UMM ini bisa menjadi contoh bagi banyak pihak. Sehingga masyarakat ikut melakukan hal yang sama, berkurban dengan memperhatikan kelangsungan lingkungan. Dengan begitu, ibadah Idul Adha tetap jalan, lingkungan juga tetap aman dan nyaman. (Wil)
Ribuan Masyarakat Laksanakan Salat Idul Adha di UMM

Umat muslim harus memahami dengan mendalam nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Hal tersebut ditegaskan Dewan Syariah Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat (PP) Muhamadiyah Dr. H. Ari Anshori, M.Ag. dalam khutbah Idul Adha di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun salat tersebut dilaksanakan pada 28 Juni 2023 dan dihadiri oleh ribuan jamaah. Menurut Anshori, momentum Idul Adha harus dijadikan tempat untuk meningkatkan rasa keikhlasan, saling berbagi dan kebersamaan antar masyarakat. Banyak orang yang tidak sadar bahwa secara tidak langsung hal-hal itu hadir saat momen kurban. “Masyarakat yang sebelumnya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan pribadi seperti bekerja, kini bersatu padu, berkumpul, dan saling gotong royong saat salat id, penyembelihan, hingga proses distribusi daging. Nilai tersirat ini dampak yang besar bagi kondisi sosial masyarakat,” jelasnya. Ia melanjutkan, Idul Adha merupakan hari yang sangat monumental. Mengingatkan umat muslim tentang bagaimana kesediaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail demi ketaatanya akan perintah Allah. Beberapa poin-poin keteladanan yang bisa diambil adalah ketaatan kepada perintah Allah, tabah terhadap takdir Allah, tawakal serta yakin akan ketetapan Allah. Selain itu, sebagai khotib, ia berpesan kepada seluruh jamaah untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Saling merefleksikan diri berdasarkan surat Al-Asr yang menekankan pada pentingnya mengelola waktu. Hal tersebut berdampak kepada hasil yang terlihat, baik di dunia maupun di akhirat kelak. “Allah sudah bersumpah demi waktu dalam surat Al-Asr. Sumpah tersebut bukan hal yang remeh, waktu selalu berjalan dan tidak pernah akan beputar ke belakang. Waktu yang dimaksud juga bukan serta merta waktu di dunia saja, namun juga waktu kelak di akhirat. Mari mengoptimalkannya dengan beribadah kepada Allah,” pesannya. Atas nama pimpinan, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. juga memberikan pengantar. Ia menyampaikan bahwa UMM tidak hanya mengadakan penyembelihan hewan kurban di lingkungan kampus. Tapi juga mendistribusikannya kepada masyarakat luas. Misalnya saja dengan mengirim puluhan hewan ternak ke desa-desa di sekitar Malang Raya. Hal itu menjadi salah satu bentuk dari pengabdian langsung Kampung Putih kepada masyarakat. Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Panitia Idul Kurban UMM, Ary Bachtiar SP., M.Si. Ia menjelaskan bahwa sasaran distribusi hewan ternak tidak terbatas untuk kalangan Muhammadiyah saja, tapi juga masyarakat secara luas. Misalnya saja dengan mengirimkan masing-masing satu sapi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang dan Lapas Kelas I Malang. “Sambutan dari masyarakat juga baik dan mereka bersyukur mendapat perhatian lebih. Tentu salah satu tujuan kami adalah untuk membantu serta menjadi syiar dakwah kami ke masyarakat,” tegasnya mengakhiri. (Faq/Wil)