Diskusi FKIP UMM: Gempuran Disrupsi Teknologi, Guru Harus Lihai Pakai Gawai

Berbagai perubahan yang tak terduga menjadi tantangan dalam sistem pendidikan Indonesia. Salah satunya percepatan digitalisasi informasi. Hal tersebut ditegaskan Direktur Eksekutif APCE Unesco C2C Prof. Dr. Ignasius D.A Sutapa, M.Sc. dalam Seminar Nasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). agenda yang berlangusng pada 26 Januari 2023 itu diikuti lebih dari 1.500 peserta. Ignasius mengatakan bahwa di era ini siswa berpeluang besar untuk mendapatkan informasi lebih cepat dari pada guru. Meski demikian, teknologi bukan menjadi sesuatu yang menakutkan. Para insan pendidikan dapat bersinggungan dan menjadikannya sarana pendukung agar proses belajar mengajar berjalan secara optimal. “Masalahnya adalah keandalan dalam menggunakan digital masih belum dicapai oleh tenaga pendidik saat ini. Contohnya saja seperti cara mengirim dan menerima informasi melalui gawai. Ada banyak tenaga pendidik yang kurang piawai dalam melakukan banyak hal menggunakan teknologi,” katanya. Menurutnya, penguasaan teknologi merupakan hal yang strategis dan harus dilakukan. Digitalisasi pendidikan juga menjadi momentum yang tepat untuk beradaptasi dalam membangun iklim produktif dan efektif baik di perguruan tinggi, SMA, SMP maupun SD. Guru dapat mengkolaborasikan berbagai proses edukasi dengan transformasi digital, menyeimbangkan sistem pendidikan agar selaras dengan zaman. “Guru harus mampu menapaki perubahan zaman dan mendidik generasi muda sesuai zamannya. Dengan begitu akan lahir generasi penerus bangsa yang mumpuni, punya kemampuan sesuai zaman, dan bersaing dengan baik. Transformasi digital juga dapat menjadi keniscayaan untuk Indonesia yang lebih maju, mandiri, berdaulat, dan berbudaya dengan nilai-nilai Pancasila,” tegas Ignasius. Hal senada juga disampaikan Dr. Romi Iswanti dari Direktorat Pendidikan Profesi Guru. Ia berpesan agar guru selalu berjuang dan tidak menyerah untuk mencerdaskan bangsa. Guru harus mampu beradaptasi dengan era masa kini agar anak-anka didiknya juga mendapatkan skill yang sesuai dengan zamannya. “Pendidik harus membuka diri terhadap perkembangan teknologi. Pun dengan kemauan untuk meningkatkan literasi dan kapabilitas untuk menjawab tantangan era disrupsi,” tegasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. berharap seminar ini dapat merumuskan transformasi digital dengan baik. Sehingga para pendidik bisa membekali diri dengan berbagai kemampuan yang dibutuhkan untuk mendidik anak bangsa. “Ilmu itu tidak bisa dicapai tanpa adanya enam hal yaitu kecerdasan, semangat yang tinggi, keinginan kuat, rasa haus akan ilmu, menghargai guru dan dijalankan dalam waktu yang lama. Jika smeua hal ini dilakukan dengan tekun, maka ilmu akan didapatkan kemudian dimanfaatkan untuk masyarakat,” tandasnya. (ris/wil)
Sosiolog UMM: Stop Beri Gift Kepada Konten Eksploitasi

Mengemis online semakin marak di berbagai media sosial. Isu tersebut mencuat karena salah satu akun tiktok bernama TM Mud Bath menuai banyak kritik dari netizen karena siaran langsung di TikTok yang berisi mandi lumpur. Dalam konten itu juga melibatkan lansia yang membuat masyarakat iba dan berujung memberikan gift (hadiah). Merespon maraknya konten ngemis daring di media sosial yang mengeksploitasi lansia, Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos,. M.Si. selaku Kepala Prodi Sosiologi UMM menilai jika ngemis online adalah fenomena yang membuat resah masyarakat. Fenomena tersebut juga dirasa miris karena baisanya meminta belas kasi orang lain secara luring, kini malha muncul di dunia maya. Luluk menjelaskan bahwa yang melatarbelakangi maraknya mengemis online adalah kemajuan teknologi. Terlebih media sosial memberi kebebasan dan kemudahan kepada manusia untuk mengespresikan dirinya untuk tujuan apapun, termasuk mencari uang. Kedua, kemiskinan dan tuntutan yang semakin tinggi yang berakibat mendorong seseorang untuk mencari cara instan mendapatkan keuntungan. “Ngemis online adalah solusi yang tepat menurut mereka karena mendapatkan uang yang berasal dari gift pemberian netizen. Ketiga, karena adanya kesempatan, tidak adanya batasan tegas dari pihak media sosial dalam memilih dan memilah konten mana yang boleh dipublikasi dan tidak,” terangnya. Keempat adalah persepsi masyarakat tentang konten hiburan yang sudah bergeser. Dulu, definisi hiburan adalah menyenangkan dan tidak menyusahkan orang lain, namun sekarang konten menyusahkan orang lain bisa dianggap sebagai hiburan. Kemudian yang kelima adalah belum adanya perlindungan terhadap kelompok rentan sehingga kelompok rentan sering menjadi sasaran eksploitasi. “Semakin lunturnya nilai, etika, adat ketimuran terutama di kalangan generasi mudanya juga emnjadi latar belakang yang kuat. Terakhir, yakni faktor budaya masyarakat Indonesia yang suka menolong dan punya belas kasihan tinggi. Memang tidak salah namun seringkali masih bisa dimainkan oleh kelompok tertentu,” jelasnya. Luluk juga mengatakan bahwa Indonesia pada 21 Oktober 2022 lalu didaulat sebagai negara paling dermawan nomor pertama di dunia dengan jumlah presentase 68 persen oleh World Giving Index (WGI) 2022. Adanya label tersebut menjadi faktor pendukung lain terjadinya fenomena ngemis online. “Siapa yang tidak tahu keramahan, kepedulian dan jiwa sosial orang Indonesia? Bahkan kita tidak asing dengan salah satu desa yang dikenal dengan desa pengemis dan hidup masyarakatnya makmur. Tapi kemakmuran mereka tidak menghentikan aksi. Nah, harusnya masyarakat Indonesia bisa lebih bijak, berpikir rasional dan bertindak dengan tegas,” tegasnya. Baginya, ngemis online yang menjamur di media sosial sebagian besar melakukan ekspoitasi terhadap kelompok rentang, termasuk lansia. Mengemis online adalah konten yang tidak pantas dan memberikan dampak yang tidak baik bagi masyarakat, sebab konten tersebut mengajarkan konteks eksploitasi anak muda terhadap orang tua. “Ngemis online itukan dapat keuntungannya dari gift. Maka kalau kontennya tidak mendidik, kita tidak perlu memberi gift kepada mereka. Kalau kita tahu ada konten yang sifatnya eksploitasi, segera laporkan saja ke pihak yang berewang,” pesanya. (ros/wil)
Seminar Internasional UMM: Perpustakaan Desa Kunci Pengembangan Literasi

Dalam menjalankan perpustakaan di era 4.0, pustakawan harus membuat banyak perubahan dan inovasi. Salah satunya adalah dengan melakukan kolaborasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal itulah yang sedang dijajaki oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan melakukan seminar internasional Bridging Internasional Networking, Library Partnership and the Future of Libraries yang bertempat di Teater Dome UMM. Acara yang digelar pada 21 Januari ini juga mengukuhkan pengurus baru Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) wilayah Jawa Timur (Jatim). Presiden Persatuan Pustakawan Malaysia, Ghazali Mohamed Fadzhil, Ph.D. menjelaskan bahwa dalam mengembangkan perpustakaan nasional, hal yang harus menjadi perhatian adalah pembangunan perpustakaan di desa-desa. Hal ini dikarenakan perpustakaan desa merupakan gerbang pertama pengenalan buku kepada anak-anak. Di Malaysia, pembangunan perpustakaan desa ini membentuk pola pikir dan pemahaman anak-anak tentang perpustakaan ketika ia dewasa. “Kalau kita tidak mengenalkan perpustakaan sejak dini, mereka akan tumbuh dengan persepsi yang salah mengenai perpustakaan dan pustakawan. Lebih buruknya, jika anak-anak baru mengenal perpustakaan semasa kuliah, maka perpustakaan hanya sekedar menjadi tempat mengerjakan tugas,” katanya. Adapula sederet tantangan lain dalam mengelola perpustakaan. Salah satunya kualifikasi pustakawan yang minim di sebagian sekolah. Hal itu terjadi karena pustakawan memiliki dua tanggung jawab, yakni sebagai guru dan mengurus perpustakaan. “Permasalahan lain adalah laporan yang hanya terfokus pada angka seperti jumlah pengunjung dan juga jumlah buku. Perlu adanya fokus di kehiatan ekonomi dan sosial. Kalau di Malaysia, kami berhasil membangun komunitas bisnis kuliner hanya dengan mengadakan acara memasak tiap minggunya,” katanya. Di lain sisi, Ketua umum FPPTI Pusat, Mariyah, S.Sos., M.Hum. mengapresiasi kegiatan seminar internasional ini. Hal ini menjadi langkah baik bagi perpustakaan Indonesia untuk berjejaring di ranah Internasional. Terkait pengukuhan pengurus baru FPPTI Jatim, Mariyah mengucapkan selamat dan juga harapan agar pengurus baru bisa lebih memajukan perpustakaan dan pustakawan di Jatim. “FPPTI wilayah Jawa timur merupakan cabang FPPTI yang sangat aktif dalam hal inovasi dan juga daya saing. Semoga hal ini tidak akan menurun dan akan menjadi semakin baik. Semoga dapat menjadi wadah kerja sama perguruan tinggi yang memiliki karakter, unggul, berintegritas, terpercaya, serta memiliki reputasi di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya. Terkait pengembangan perpustakaan, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengatakan bahwa tantangan membangun perpustakaan semakin berat. Hal ini TERJADI karena terbukanya industri 4.0. Dampaknya, berbagai toko buku mulai sepi sehingga omset dan kesejahteraan orang-orang di dalamnya juga menurun. “Oleh karenanya, kemampuan adaptasi dengan melakukan berbagai inovasi sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Tiga prinsip yang harus dipegang untuk membangun kolaborasi yaitu buka hati, buka pikiran dan memiliki kemauan yang terbuka,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)
Dosen UMM: Edukasi Seks Jangan Dianggap Porno dan Cabul

Belakangan, pemberitaan nasional dibuat ramai oleh fenomena kasus ratusan siswi Ponorogo yang hamil di luar nikah. Bahkan, data dari BKKBN Provinsi Jawa Timur menemukan bahwa pada tahun 2022, angka permohonan dispensasi nikah (diska) di Jawa Timur berada di angka 15.212 kasus dan 80 persen disebabkan pihak perempuan yang hamil duluan. Husamah, S.Pd., M.Pd. selaku dosen Prodi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) menuturkan jika fenomena hamil di luar nikah adalah fenomena gunung es yang tak kunjung ditangani serius oleh berbagai pihak. Harusnya, hal seperti ini dijadikan pembelajaran agar seluruh pihak mulai berbenah. “Penting bagi kita untuk menerapkan kurikulum pendidikan seksual di sekolah. Pendidikan seksual harus mulai ada sejak sekolah dasar (SD). Apalagi sekarang anak-anak sudah menggunakan telepon genggam. Bahkan tak jarang, anak-anak SD juga sudah memasuki masa baligh karena faktor makanan, tontonan dan sebagainya,” terangnya. Menurut dosen yang fokus pada pendidikan karakter dan lingkungan hidup itu, ada banyak pihak yang memiliki bertanggungjawab yakni sekolah, orang tua, pemerintah dan masyarakat. Edukasi seksual juga harus diberikan dengan cara yang sesuai serta tidak boleh dianggap cabul atau porno. Pada hakikatnya, edukasi ini merupakan cara memberi pemahaman terkait gender, alat kelamin dan kesehatan reproduksi yang tepat. “Edukasi seksual bukan hanya seks yang berkaitan dengan berhubungan badan, tetapi bagaimana merawat sistem reproduksi dengan sehat, tepat dan bertanggungjawab. Salah satu cara memberi pemahaman seksual ke anak adalah ketika anaknya bertanya, respon orang tua tidak boleh marah dan cuek, takutnya anak malah bertanya ke sosial media dan berujung ingin coba-coba,” ucapnya. Sayangnya, banyak orang yang menganggap bahwa pendidikan seks adalah hal yang tabu. Ketika anak bertanya, para orang tua tidak menjawab. Pun dengan sebagian guru yang tidak memberikan penjelasan yang jelas. Hal itu mendorong anak-anak untuk mencari secara mandiri di internet. Bahkan mereka tidak jarang ingin mencoba apa yang sudah ia temukan. Ia melanjutkan, hal ini membuat angka kehamilan di luar nikah meningkat. Sebagian remaja bahkan melakukan aborsi liar yang bisa mengancam nyawa. Mulai dari mencabik janin, meminum jamu yang membuat kontraksi dan lainnya. “Dalam kasus di Ponorogo, kita tidak boleh menyalahkan satu pihak saja. Semua elemen harus terlibat untuk menanggulangi dan melakukan gerakan preventif. Mulai dari orang tua, sekolah, pengambil kebijakan dan yang terpenting adalah masyarakat. Masyarakat tidak boleh abai ketika melihat disekitar ada indikasi melakukan seks bebas,” pungkasnya. (ros/wil)
Suka Makanan Berminyak? Ini Bahayanya Menurut Dosen FK UMM

Beberapa waktu lalu, nasi minyak sempat menjadi trending topic di twitter. Kuliner tersebut berupa ayam atau bebek goreng dengan bumbu yang di sajikan dengan kubis goreng dan sambal yang disiram minyak jelantah. Sekilas, menu makanan itu sangat menggugah selera. Hal itu menarik perhatian Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Probo Yudha Pratama Putra. Ia menjelaskan bahwa penggunaan minyak jelantah dalam waktu tertentu pada makanan akan berdampak pada kesehatan. Hal itu diakibatkan oleh deposisi sel lemak yang terjadi di usus halus, pembuluh darah, jantung, dan liver. “Penyakit yang pertama muncul akibat mengkonsumsi minyak jelantah disebut dislipidemia atau bahasa awamnya kolesterol. Mengonsumsi makanan yang dimasak dengan minyak jelantah akan meningkatkan lemak jenuh atau jahat yang sulit dimetabolisme oleh tubuh. Selanjutnya Dislipidemia ini dapat menjadi faktor risiko terhadap munculnya penyakit lain sepertijantung koroner, stroke, fatty liver hingga kanker,” jelas Yudha. Ia menegaskan bahwa jantung koroner menyebabkan angka kematian yang tidak sedikit. hal itu dikarenakan adanya penyumbatan pada pembuluh darah ke jantung. Pun dengan stroke yang membuat lemak menumpuk di pembuluh darah sehingga membuat otak menjadi lumpuh “Sedangkan fatty liver ini diakibatkan oleh akumulasi lemak yang terlalu banyak pada hati sehingga menyebabkan peradangan hati. Akibatnya terjadi hepatitis yang berlanjut ke penyakit sirosis dan berujung pada kematian. Selain itu, minyak jelantah juga mengandung bahan karsinogenik yang dapat menyebabkan penyakit kanker,” terang Yudha. Tidak bisa di pungkiri, mengonsumsi makanan yang berminyak memangmenambah kenikmatan. Namun mnenurutnya, alangkah lebih baik jika memulai hidup yang lebih sehat. Mengonsumsi makanan sehat serta rutin berolahraga. Sesekali mengonsumsi minyak dibolehkan selama dalam batas wajar. Apalagi mereka yang memiliki faktor risiko atau penyakit bawaan. “Dimulai dengan mengganti minyak biasa dengan minyak yang sehat atau dengan penggunaan minyak sekali pakai. Kemudian banyak mengkonsumsi makanan makanan yang dapat mengurai lemak yaitu makanan yang mengandung PUFA (polyunsaturated fatty acid) atau MUFA (monounsaturated fatty acid) seperti alpukat, kacang, canola oil, ikan tuna dan ikan salmon,” katanya. Yudha juga mengimbau masyarakat untuk sering mengecek kadar kolestrol. Sehingga saat terjadi penumpukan atau kadar kolestrol tinggi, dapat segera ditangani. Ia menegaskan bahwa mencegah menjadi upaya yang lebih baik ketimbang mengobati. (zak/wil)
UMM Perkuat Inovasi Bidang Kesehatan dengan UiTM Malaysia

Persalinan kelahiran anak menjadi perhatian penting saat ini. Apalagi melihat risiko dan rasio keselamatan yang memprihatinkan. Maka, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Universiti Teknologi Mara (UiTM) Malaysia mengadakan Simposium International yang mengangkat tema ‘”Advances in Obstetric and Gynaecology”. Keduanya juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk memajukan dunia kesehatan pada 20 Januari 2023 lalu. Prof. Ir. Rasidi Razali selaku Rektor UiTM menjelaskan bahwa kolaborasi ini membuka peluang joint research dan bertukar ilmu. Lebih dari itu juga ada student exchange, pertukaran budaya hingga kegiatan kolaborasi lain. “MoU ini tentu dapat meningkatkan kualitas dua perguruan tinggi di mata internasional. Apalagi dengan berbagai kesempatan yang ada,” tegasnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa kerjasama ini merupakan kunci meraih kesuksesan dalam kontribusi bagi masyarakat. Sementara, simposium yang ada sebagai bentuk penyegaran ilmu pengetahuan, utamanya di aspek kesehatan. “Salah satu hal yang diharapkan adalah mampu memberikan riset yang bisa langsung dirasakan masyarakat. Memberikan inovasi baru yang memudahkan, utamanya di aspek kesehatan,” katanya. Menurutnya, UMM dan UiTM merupakan universitas yang mumpuni. Maka MoU yang dijalin juga mampi meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan kualitas akademik kedua perguruan tinggi. Hal serupa disampaikan olehDr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. selaku Dekan Fikes UMM. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya telah melakukan sederet article collaboration. Kolaborasi ini juga dirasa mampu mempererat tali silaturahim antar kedua negara serumpun, yaitu Indonesia dan Malaysia. Harapannya ada kunjungan langsung Kampus Putih ke UiTM, begitu pun sebaliknya dalam rangka menjalankan MoU kedepannya. “Bukan sekadar MoU dan simposium saja, tapi juga berupaya memberikan perubahan positif untuk dunia kesehatan,” pungkas Yoyok. (haq/wil)
Keren! Mahasiswa UMM Ciptakan Sepeda Listrik Tenaga Surya

Di tengah semangat dunia untuk menggunakan sumber energi ramah lingkungan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak mau ketinggalan. Mengusung ide kendaraan masa depan hemat energi, Brilly Eldon Fachrudin dan sembilan anggota timnya membuat sepeda listrik tenaga surya. Produk karya Brilly mampu menyempurnakan konsep yang diangkat oleh seniornya dan dinilai memuaskan. “Jika angkatan sebelumnya belum berhasil menstabilkan daya yang masuk, Alhamdulillah tim kami berhasil menemukan dan memecahkan permasalahan tersebut,” ujarnya senang. Brilly menjelaskan cara kerja sepeda tenaga surya tersebut. Energi dari cahaya matahari yang masuk ke panel akan langsung ke aki, kemudian ke mesin selanjutnya yaitu controller yang menghubungkan antara dinamo dengan setelan gas. “Dari cahaya matahari disambungkan ke controller untuk menstabilkan arus daya masuknya ke aki, sedangkan dari aki nanti masuk ke mesin lagi di controller. Ini untuk menghubungkan antara dinamo dan setelan gasnya agar arus yang dikeluarkan oleh akinya nanti stabil,” urai Brilly Mereka pun lalu melakukan uji coba pada saat malam hari, di mana tidak ada cahaya matahari atau arus yang masuk. Mereka menggunakan cahaya matahari yang telah terlebih dulu disimpan pada siang hari sebelumnya sampai penuh. Uji coba ini pun berhasil dilakukan dengan perjalanan sekitar 12km, yaitu dari Sawojajar ke Kampus III UMM di Jalan Raya Tlogo Mas. Perjalanan ini menghasibiskan 3 bar daya dari total 5 bar keseluruhan yang tersedia. Listrik yang dihasilkan dari cahaya matahari tidak hanya menghasilkan arus untuk berjalannya sepeda, melainkan juga dapat menyalakan lampu pada sepeda. Selain itu Brilly dan tim juga mengubah peletakan pedal yang awalnya diletakan pada roda belakang, diganti ke depan agar berkerja dengan semestinya. Juga agar mesin tidak mudah rusak. “Manfaatnya adalah untuk menggurangi penggunaan kendaraan bermotor, penghematan listrik, dan pemanfaatan energi matahari. Penggunaan jangka panjang juga lebih efesien, terutama penggunaan jarak tempuh dekat,” tegas Brilly. Ia pun berharap, jika inovasinya dapat menjadi salah satu ikhtiar manusia menjaga bumi dari polusi udara penyebab kendaraan bermotor. Ke depan, Brilly dan timnya ingin inovasi ini dapat digunakan secara universal. Mereka berencana mengembangkan produk agar mesin yang digunakan tersebut dapat diaplikasikan di berbagai sepeda lain. Rahmat Wisnu Wardana selaku Kepala Laboratarium Teknik Industri UMM menyampaikan, ide sepeda listrik yang diangkat kelompok Brilly menarik perhatian dibanding produk lain di Product Development Exhibition 2023. Bukti nyata dari hasil terobosan sepuluh anak muda ini menjadi hal pertama yang mencuri kagumnya. “Mereka bahkan sudah melakukan uji coba dari Sawojajar ke UMM kampus III tanpa menggayuh sama sekali. Itu satu hal yang keren. Apalagi pada umumnya sepeda listrik beroperasi dengan menggunakan pengecasan yang dilakukan langsung dengan menghubungkan pada daya, sedangkan karya ini menggunakan tenaga surya,” katanya. (bah/wil)
Beragam Inovasi Alat dan Aplikasi Dipamerkan di Pameran Teknologi Industri UMM

Perkembangan industri mulai mencapai tahap revolusi 5.0 yang akan memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai bidang. Melihat hal itu, mindset pengembangan produk-produk kreatif harus ditanamkan sejak di bangku perkuliahan. Poin tersebut diucapkan oleh Kepala Prodi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Shanty Kusuma Dewi, MT. pada pembukaan Pameran Product Development Exhibition 2023. Adapun kegiatan ini diselenggarakan pada 18 Januari 2023 dengan memamerkan berbagai teknologi yang bermanfaat. Pameran ini berupaya mewadahi kreativitas mahasiswa dalam bidang teknik industri. Mereka dibebeaskan merancang produk dan menampilkan prototipe untuk menarik para pengunjung. Shanty, sapaannya, menjealskan bahwa agenda ini merupakan tindak lanjut dari mata kuliah perancangan pengembangan produk (PPP). “Sebagian membuat alat-alat, sebagian juga membangun aplikasi. Tentu, sederet penemuan ini bisa dikomersialkan serta dipatenkan,” katanya. Sebenarnya, pameran ini sudah dilakukan sejak lama. Namun karena pandemi, sempat terhenti tiga tahun lamanya. Menurut Taufik Prihandoko, S.ST. selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa setiap alat ini bisa diajukan sebagai program kreativitas mahasiswa (PKM) maupun skripsi. hal ini tentu akan memudahkan mahasiswa dalam proses perkuliahan. “Saya melihat banyak produk yang potensial yang bisa dilanjutkan sebagai penelitian skripsi ataupun PKM. Semoga ada beberapa alat yang bisa lolos Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (PIMNAS) pada tahun ini,” harap Taufik. Salah satu alat yang menarik adalah Rain-Proff Clothesline garapan Maulana dan Izzatul. Keduanya merupakan mahasiswa teknik industri smeester tujuh. Adapun alat tersebut dapat membantu saat menjemur pakaian. Ketika panas, ia akan otomatis memperlebar jangkauan sehingga pakaian dapat mendapatkan panas. Sebaliknya, ketika hujan alat tesbeut bisa berteduh dan membuat jemuran aman dari hujan. “Jadi ada sensor yang kami sematkan. Sensor itu sensitif terhadap air, jadi saat hujan ia akan medeteksi dan melindungi pakaian agar tidak basah. Alat ini juga dilengkapi dengan roda sehinga memudahkan untuk berpindah,” kata Maulana. Terkait pameran, ia merasa sangat bangga alat buatannya banyak dikunjungi dan diapresiasi. Menurutnya, anak muda harus punya pikiran yang kreatif dan inovatif sehingga mampu menelurkan hal baru yang bermanfaat. “Ke depannya, kami tentu akna mengembangkannya. Misalnya dengan menambahkan fitur bluetooth atau menggerakkanya secara manual melalui smartphone meski orangnya sedang tidak berada di rumah,” pungkasnya. (haq/wil)
Ini Pengalaman Unik Dua mahasiswa UMM, Belajar di Dua Kampus dalam Satu Waktu

Pertukaran pelajar antar universitas luar negeri merupakan kesempatan yang sangat diidamkan oleh para mahasiswa. Kesempatan itulah yang datang pada dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Niko Silabest dan Muh. Ridha Agam. Dua mahasiswa jurusan Informatika ini mengikuti program International Credit Transfer (ICT) yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Selama 9 September-28 Januari ini mereka bergelut dan belajar di jurusan Bioinformatika Asia University, Taiwan. Ridha, sapaan akrabnya menceritakan bahwa ia dan Niko harus mengikuti perkuliahan di dua jurusan yang berbeda dan universitas yang berbeda. Uniknya, program ini pertukaran pelajar dilakukan secara daring (online). Meski begitu, kesempatan ini tidak disia-siakan keduanya. Banyak hal baru yang ia rasakan seperti pada aspek aturan dan kruikulum. Di Asia University, para dosen hanya menjelaskan secara umum saja. Hal ini membuat para mahasiswa harus mandiri untuk mendalami materi yang ada. Hal tersebut sempat membuatnya kaget dan kesulitan. “Agak kesulitan sih karena kan kalau di Indonesia biasanya dosne menjelaskan banyak hal,” katanya. Namun, ada hal menyenangkan lain yang tidak bisa ia lupakan. Salah satunya adalah bisa mengikuti kegiatan internasional dengan mudah. Ridha sempat turut serta di beberapa konferensi internasional, berdiskusi dengan beragam mahasiswa dari berbagai negara, dan bertukar pikiran. Senada dengan Ridha, Niko mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu untuk beradaptasi dengan proses pembelajaran di Asia University. Tak hanya soal penjelasan materi, pembagian tugas juga berbeda. Di Asia University, tugas project akan diberikan secara langsung saat menjelang Ujian Tengan Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester (UAS). Proses belajar melalui TronClass, platform khusus milik Asia University, juga dirasa menyenangkan. Sayangnya, meski banyak hal menarik yang ia dapat, namun interaksi antar mahasiswa kurang. Bahkan jarang sekali ada kerja kelompok dna akhirnya saya tidak punya teman dekat internasional. Terakhir, Ridha dan Niko merasa beruntung bisa mengikuti perkuliahan di dua kampus yang berbeda secara bersamaan. Meski berat, namun ada banyak pengalaman baru dan asyik yang didapatkan. “Alhamdulillah UMM selalu mendukung kami untuk mengembangkan potensi, memberikan kesempatan emas seperti program ini,” pungkas Niko. (bah/syi/wil)
Milenis, Koran Mahasiswa PBI UMM yang terjual 1.000 Eksemplar

Sudah terjual 1.000 eksemplar koran, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Universitas Muhammadiyah Malang launching koran Milenis. Tak hanya melaunching karya koran mahasiswa, acara ini juga memuat berbagai nominasi penghargaan bagi mahasiswa yang memiliki potensi apik. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada 16 Januari lalu dan dihadiri oleh ratusan tamu serta mahasiswa. Ketua Prodi PBI UMM Arif Setiawan, M.Pd., menjelaskan bahwa mata kuliah Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja nyata di bidang jurnalistik kepada mahasiswa. Terhitung ada puluhan mahasiswa yang turut ikut dalam proses kerja lapang. Tak hanya belajar mengenai kepenulisan berita, mereka juga mendapatkan pengetahuan terkait bagaimana industri koran bekerja. Menariknya, meski belum mahir dan memperoleh materi dasar jurnalis, namun upaya mereka mampu menarik minat pembaca untuk membeli lebih dari 1.000 koran yang diproduksi. “Ini tentu bekal berharga untuk bisa bersaing di dunia kerja nanti. Kalaupun Koran Milenis ini mau diteruskan dan dibikin lebih profesional, mahasiswa bisa menjadikannya badan hukum. Sehingga adanya koran ini tidak hanya bertahan selama satu tahun, tapi juga bisa dilanjutkan di tahun-tahun selanjutnya,” katanya. Raihan ini juga dinilai membuktikan bahwa mahasiswa PBI memiliki kompetensi untuk bersaing di dunia jurnalistik. Hal itu juga dirasakan oleh salah satu mahasiswa PBI peserta kerja lapang, Ahmad Faizinal Akbar Tri Putra. Meski ia memilih PKL karena lokasinya di Malang, namun kini ketertarikan dan kemmapuannya dalam menulis terus meningkat. Bahkan, berkat kerja keras dan ketekunannya, ia mendapat tawaran kerja di salah satu media. “Saya mendapat banyak pemahaman tentang industri koran ,tak hanya tentang kepenulisan berita tetapi juga tentang layout koran, pembuatan rubrik, manajemen perusahaan, serta marketing dan juga cara distribusi koran. Mata kuliah ini sangat berkesan bagi saya dan saya bangga telah membuat koran Milenis ini bersama teman-teman,” kata mahasiswa asal Gresik tersebut. Akbar, sapaan akrabnya juga berharap PKL jurnalistik ini bisa diikuti dengan serius oleh para mahasiswa. Dengan begitu, imu yang ada bis terserap dengan maksimal dan mampu mencetak pemuda yang memiliki kemampuan menulis. “Dengan berbagai materi yang ada, kami jadi bisa lebih paham tentang industri koran maupun media dan bisa langsung mempraktekkanya,” pungkas Akbar. (syi/wil)