Mantan Teroris Selesaikan Studi Doktor di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tempat yang memberikan harapan dan dinilai terbuka untuk siapapun. Hal itu diucapkan oleh Ali Fauzi, mantan narapidana teroris (Napiter) yang berhasil menyelesaikan sidang disertasi di Kampus Putih UMM, 17 Januari lalu. Ia yang mengambil jurusan doktoral pendidikan Islam itu mengkaji terkait Edukasi Moderasi Beragama Bagi Para Mantan Napiter dalam tugas akhirnya. Lebih lanjut, Ali, sapaannya memang berfokus pada subjek eks napiter. Mulai dari proses perekrutan, radikalisasi, hingga aksi berupa penembakan dan pengeboman. Ia menilai bahwa pemahaman Islam mereka pada teks yang tidak sesuai dengan konteks Indonesia telah menenggelamkan ke gerakan radikal fundamental yang berujung pada terorisme. “Namun kini para napiter telah menyadari kesalahan mereka yang telah melakukan tindakan merugikan pihak lain dan mengakhirinya,” katanya. Menurut Ali, moderasi beragama membuat mereka membuka pikiran dan sadar. Terutama akan hak-hak orang lain yang berbeda pemahaman maupun agama di Indonesia. Pemaknaan Islam secara moderat dna humanis menenangkan batin bagi kehidupan mantan napiter. Menariknya, Ali juga memiliki yayasan yang bernama Yayasan Lingkar Perdamaian. Yayasan ini bertujuan untuk membawa pulang mantan napiter ke NKRI, memberikan pembinaan di lapas, serta memberdayakan mereka melalui pelatihan life skill. Bahkan juga memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anaknya dan juga para janda yang ditinggal suaminya. Terkait Kampus Putih, ia menilai bahwa UMM merupakan universitas Islam yang memberikan kesejukan. Hal itu tak lepas dari paham Islam UMM yang berwawasan tamaddun, wasathiyah, dan moderat. Apalagi dengan sederet pendidik yang tidak hanya bagus dari sisi akademik, tapi juga memberikan teladan dan menjadi teman diskusi yang apik. Sementara itu, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. selaku Direktur Program Pascasarjana UMM mengapresiasi disertasi yang disusun oleh Ali Fauzi. Hal itu tak lepas dari pembahasan terkait moderasi beragama. Baginya, kajian tersebut sangat penting untuk dibahas serta dibagikan ke masyarakat. “Dalam beragama, sebisa mungkin kita menjadi orang baik dengan tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan,” terangnya. In’am, menyampaikan bahwa UMM selalu memberi kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik, tak terkecuali mantan teroris seperti Ali Fauzi. Sebab, menurutnya UMM dapat memberi wawasan yang luas dan pengerahuan sesungguhnya dalam beragama. “Seperti kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Pak Haidar Nasir, bahwa kita harus mengambil jalan tengah. Tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan,” Selain Ali, sebelumnya ada mahasiswa non muslim dari Australia yang mengambil S3 di Pendidikan Agama Islam. Hal itu membuktikan tingkat inklusivitas UMM yang tinggi. Itu juga upaya Kampus Putih untuk menyiarkan masyarakat bahwa Islam yang diajarkan meruakan Islam yang menyejukkan. “Sekarang Pak Fauzi bergelut di Muhammadiyah dan dapat aroma parfumnya. Kalau dulu bergelut dengan pandai besi dan kena percikan api, sekarang dapat bau parfum, terutama dari UMM. Jadi, siapapun boleh belajar Islam di sini, selama niatnya adalah berubah menjadi lebih baik. Faktanya, Pak Ali kini memiliki yayasan yang mengedepankan moderasi beragama,” pungkasnya. (ros/wil)
Mahasiswa FPP UMM, Wamil Kilat dengan Pusdik Arhanud

Penanaman jiwa nasionalisme untuk melindungi dan berkontribusi terhadap bangsa Indonesia perlu diperkuat kembali. Hal tersebut diucapkan oleh Komandan Pusat Diklat (Pusdik) Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Brigjen Tentara Nasional Indonesia (TNI) Raden Edi Setiawan, S.H., pada pembukaan Bela Negara Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa ini berlangsung selama enam hari sejak 16 Januari 2023 di Pusdik Arhanud, Kabupaten Malang. Edi, sapaan akrabnya memaparkan bahwa generasi muda saat ini sangat mengikuti zaman, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun teknologi. Sayangnya, tidak diimbangi dengan rasa nasionalisme akan Indonesia. Maka perlu adanya kegiatan yang bisa meningkatkan rasa kecintaan akan tanah air. “Salah satunya dengan aktivitas bela negara yang dilaksanakan FPP UMM ini. Dengan kedisiplinan dan ketekunan saudara, saya yakin saudara mampu menjadi pribadi yang bermanfaat. Bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat luas,” ucapnya. Turut hadir Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Ia menilai bahwa Bela Negara ini dapat melatih kedispilinan mahasiswa. kemudian akan membuahkan sifat ketekunan dan manajemen yang baik dalam diri masing-masing mahasiswa. Menariknya, ia mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi model baru dalam meningkatkan rasa nasionalisme dan bisa diekuivalensi pad amata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganeraan (PPKN). “Kedisiplinan menjadi hal yang perlu dimiliki anak muda. Maka, kerjasama dengan TNI mnejadi hal yang penting dan strategis untuk dilakukan demi mewujudkan generasi muda yang tangguh,” katanya. Di sisi lain, Dr. Ir. Aris Winaya, M.M. M.Si. selaku dekan FPP UMM mengatakan era digital memberikan banyak dampak positif maupun negatif. Banyak budaya luar yang masuk dan mengikis rasa nasionalisme. Bahkan anak muda dirasa lebih mengenanl budaya asing yang kurang sesuai dibanding budaya Indonesia. “Selain jiwa nasionalisme yang tinggi, sebagia warga negara Indonesia, kita juga harus mengedepankan tata susila yang ditunjukkan pada perkataan maupun perbuatan. Bukan hanya kepada mereka yang dekat, tapi juga kepada masyarakat secara luas,” pungkasnya. (Haq/wil)
Melati, Pustakawan UMM yang Jadi Ketua Forum Perpustakaan Jatim

Menjadi seorang pustakawan adalah sebuah pekerjaan yang sangat bermanfaat di sebuah perguruan tinggi. Hal itu karena pustakawan mampu membawa semangat agent of Information literacy. Begitu yang diungkapkan oleh Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur, Melati Purba Bestari, S.Sos. yang merupakan Kepala Promosi Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Perempuan yang kerap disapa Melati ini menjelaskan bahwa semua berawal dari kesukannya akan membaca dan buku. Tiap hari ia selalu membawa buku serta majalah dan membacanya ke mana -mana. Salah satu kesukaannya pada waktu muda adalah majalah Bobo dan juga Majalah Hai. “Dari hobi yang saya suka, akhirnya saya mencari informasi jurusan yang cocok untuk saya. Akhirnya jurusan pustakawan menjadi jalan saya untuk berkarya, terutama hal-hal yang berkaitan dengan buku serta perpustakaan,”jelasnya. Sederet prestasi pernah Melati raih selama berkarya di UMM, seperti mendapatkan sertifikasi di kluster pengembangan koleksi, menjadi trainer hingga dan lainnya. Selain itu, pada tahun 2020 ia bersama tim UMM berhasil memenangkan kompetisi skala nasional yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional. Menariknya, ia juga menilai bahwa menjadi pustakawan harus berjejaring dengan yang lain agar ilmunya terus bertambah. Maka, ia terjun dan aktif di FPPTI. Berkat pengalaman, prestasi, serta keaktifannya, Melati berhasil menapaki tangga menjadi Ketua FPPTI Jawa Timur. “Awal mula saya ikut FPPTI pada tahun 2013. Di tahun tersebut saya menjadi kesekretariatan, kemudian menjadi sekretaris 2 di 2016, hingga akhirnya terpilih menjadi ketua FPPTI Jatim periode 2022 sampai 2025 nanti,” katanya. Meksi terpilih, ia sempat merasa khawatir akna amanh tersebut karena usianya yang tergolong lebih muda ketimbang yang lainnya. Namun, ia bertekad dan percaya bahwa mereka yang muda juga punya keberanian dan kreativitas yang besar. Apalagi dengan dukungan UMM yang mencakup banyak hal. Sehingga ia percaya bisa menjalankan amanah dengan baik. Ia juga ingin menjelaskan bahwa seorang pustakawan bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak orang yang memandang sebelah mata, padahal banyak hal menarik dan rumit. “Saya ingin agar profesi ini bisa diperhitungkan masyarakat karenan memang sangat stretgis dalam penyediaan bacaan maupun artikel ilmiah untuk membangun SDM,” tegasnya. (ros/wil)
Puluhan Mahasiswa UMM Kembali Dikirim ke Jepang

Universitas Muhammadiyah Malang kembali berangkatkan mahasiswa magang ke Jepang untuk menjalani internship. Kali ini, 21 mahasiswa yang terdiri dari sepuluh mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dan sebelas Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM berangkat secara bergelombang ke negeri Sakura. Sebelum ke Jepang, mereka mendapatkan wejangan dan pelepasan pada 12 Januari 2023 lalu. Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Zulfatman, M.Eng., Ph.D. mengatakan bahwa sebagian sudah berangkat pada akhir November lalu. Kemudian rombongan selanjutnya akan berangkat pada pertengahan januari hingga Februari mendatang. “Durasi magangnya berbeda tiap rombongan. Ada yang tiga bulan, enam bulan, hingga 12 bulan. Mereka juga diharuskna untuk mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 3-4 bulan agar memudahkan magang nantinya. Mereka juga harus mempersiapkan diri sesuai dengan bdiang masing-masing karena memang disyaratkan pihak perusahaan Jepang,” katanya. Zul, sapaannya melanjutkan bahwa mahasiswa teknik akan melakukan program magang di industri plastic molding dan pemeliharaan konstruksi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Mereka yang di plastic molding akan belajar bagaimana memproses plastik hingga membentuknya menjadi sebuah abrang yang berguna. Sementara yang di PLTS, mereka akan langsung terjun memasang, merawat dan menangani kerusakan. Sementara mahasiswa FPP akan ditempatkan di tiga farm yang berbeda. Mereka didorong untuk memberikan inovasi dan belajar hal baru tentang pertanian di Jepang. Salah satunya teknologi yang bisa membantu meningkatkan produksi pertanian. Menariknya, program ini merupakan bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) UMM hasil kerjasama dengan mitra di luar negeri. Sehingga dapat diajukan sebagai kegiatan ekuivalen ke dalam mata kuliah. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. menyampaikan bahwa Jepang menjadi salah satu negara yang paling banyak bekerjasama dengan UMM. Banyak sektor yang bisa dikerjasamakan, termasuk mengenai magang. Seperti misalnya di kesehatan, sipil bahkan juga pertanian. “Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Karena tidak menutup kemungkinan saudara bisa dipanggil kembali untuk bekerja di sana usai menyelesaikan studi. Selalu jaga nama baik almamater dan tinggalkanlah sesuatu yang baik di Jepang,” katanya. Sementara itu, Wirayuda Damar Wicaksono salah satu mahasiswa yang berangkat tidak menyangka bisa terpilih program magang ini. Apalagi dengan sederet seleksi yang ada. “Sejauh ini, kami sudah menyelesaikan pelatihan bahasa dan juga persiapan lain dari pihak jurusan. Semoga saya dan teman-teman bisa mendapatkan banyak skill yang bisa kami pergunakan untuk dunia kerja nantinya,” harap Yuda mengakhiri. (zak/wil)
Archery Club JF UMM, Berdakwah Melalui Olahraga

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah menganjurkan manusia agar berlatih olahraga sunnah yaitu memanah, berenang dan berkuda. Hal itu menjadi dasar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jama’ah AR Fachrudin (JF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membentuk Archery Club. Adapun klub ini telah diadakan sejak bulan Oktober tahun 2021 lalu. Koordinator klub Anggi Ariansyah, mengatakan bahwa klub memanah ini ada di bawah naungan Divisi Olahraga Bidang Minat dan Bakat, JF UMM. Selain untuk melaksanakan sunnah Rasulullah, memanah juga dinilai dapat melatih fokus pengelihatan. Dalam memanah, fokus yang dilatih dirasa mampu dapat mengandalikan emosi dalam tubuh. “Klub ini dibuka untuk umum, jadi siapapun yang berminat bisa ikut berlatih. Kami melaksanakannya rutin satu kali dalma dua minggu. Ke depan tentu akan lebih sering dengan memperhatikan situasi,” katanya. Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (IP) UMM ini menambahkan bahwa klub memanah ini menjadi upaya JF untuk memperlebar sayap dakwah. Menurutnya, dakwah bisa dilakukan lewat berbagai cara. Apalagi di tengah zaman yang terus berubah. Bukan hanya fokus di platform digital dan media sosial, mereka juga mencoba menarik minat mahasiswa dan masyarakat umum dengan kegiatan menarik seperti memanah ini. Beruntung, agenda ini didukung penuh oleh kampus dengan menyediakan sederet busur dan alat panah. Dengan begitu, mereka yang memiliki potensi bisa berlatih, pun dengan mereka yang hanya ingin mencoba. Antusiasme anggota dan khayalak umum juga tinggi. Meski begitu, ia dan tim ingin agar alat-alat yang dimiliki bsia bertambah dan menarik banyak mahasiswa untuk mencoba. “Selain itu, dengan alat-alat yang lebih profesional, kami juga ingin melahirkan atlet yang bisa mengharumkan nama kampus di berbagai kejuaraan. Jadi selain untuk dakwah, latihan ini juga mencoba melatih fokus serta meraih prestasi di lomba-lomba yang ada,” tegas mahasiswa asal kabupaten Ogan Ilir itu. (haq/wil)
Seru, Ribuan Siswa di Berbagai Kota Coba Metaverse dan Tes Minat Bakat UMM
UMM-PKU-MI Komitmen Cetak Ulama Unggul dan Moderat

Sudah saatnya Indonesia ini kembali melahirkan ulama-ulama milenial masa depan. Tentu dengan spesifikasi ilmu yang mumpuni. Hal tersebut diucapkan oleh Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya selaku Direktur Pendidikan Kader Ulama – Masjid Istiqlal (PKU-MI), dalam Sosialisasi Beasiswa Ulama PKU-MI yang bekerjasama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara ini diselenggarakan pada 10 Januari 2023 lalu di hadapan ratusan peserta. Ahmad Thib, sapaan akrabnya mengatakan bahwa PKU-MI ini berada dibawah naungan imam besar Masjid Istiqlal. Menariknya, dalam program ini juga ada pendidikan kader ulama perempuan yang menurutnya menjadi yang pertama di Indonesia. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa visi PKU-MI adalah menjadi lembaga pendidikan bertaraf internasional yang mampu melahirkan ulama. Selain itu juga mampu menguasai keilmuan Islam klasik dan kontemporer yang siap menjadi rujukan umat islam lokal hingga internasional. Sedangkan misinya adalah membentuk kader ulama yang menguasai khazanah islam klasik dari berbagai bidang dan juga membetuk kader yang menguasai bahasa asing. Sehingga siap menjadi rujukan masyarakat luas. Bukan hanya itu, tapi juga menjadi ulama yang moderat dan berakhlak mulia sehingga menjadi perekat semua golongan. “Selama perkuliahan, para mahasiswa akan ditempatkan di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ). Sementara pembinaan keulamaannya langsung di bawah masjid istiqlal. Setiap mahasiswa juga akan mendapatkan kesempatan short course di luar negeri. Menariknya, program ini juga didukung dengan beasiswa penuh dari LPDP,” tegasnya. Sementara itu, Dr. H. Agam Bayu Suryanto, MBA selaku Kepala Divisi Kerja Sama dan Pengembangan Layanan Beasiswa mengatakan bahwa program beasiswa pendidikan kader ulama ini akan dibiayai penuh. Mulai dari penelitian hingga short course di luar negeri, yang memiliki dua pilihan yaitu Timur Tengah dan Amerika. Selain itu, mahasiswa bisa melakukan magang di Majelis Ulama Indonesia, Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama. “Adapun beberapa persyaratan bagi calon mahasiswa salah satunya mampu berbahasa Arab dan Inggris, selain itu mampu membaca dan memiliki keilmuan islam klasik,” ucap Agam. Adapun Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menjelaskan bahwa UMM juga memiliki program yang serupa. Yakni Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang berdiri sejak tahun 2003 pada strata sarjana. Ia berharap para sivitas akademika Kampus Putih bisa terus melanjutkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Salah satunya melalui program beasiswa ini. “Beasiswa PKU-MI saya rasa bisa melahirkan ulama yang unggul, mumpuni, serta memiliki spesifikasi ilmlu pengetahuan yang bagus,” ucapnya mengakhiri. (haq/wil)
Rancang Aplikasi untuk Down Syndrome, Tim UMM Menangi LKTI Nasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali toreh prestasi nasional. Kali ini tim UMM berhasil membawa pulang Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di ajang Yofest Universitas Darussalam (Unida) Gontor 2022, Desember lalu. Mereka adalah Muhammad Haddad Richard mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Arab dan Imelda Azaliya Rahma mahasiswa Prodi Teknik Informatika. Haddad, saapan akrabnya, menceritakan bahwa ia memang tergugah untuk turut serta di sebuah kompetisi. Hingga akhirnya ia mendapat informasi terkait lomba yang bertema Resiliensi Guru di Era Disrupsi Pendidikan. Keduanya merancang ide dan menuliskan kara tulis yang mengkaji Perspektif Al-Qur’an terhadap Anak Down Syndrome dengan Alat Ma’unah melalui Pendidikan Agama dalam Membaca Huruf Hijaiyah. Berbekal karya itu, mereka sukses di tahap pertama dan berhasil keluar sebagai juara pertama. Terkati tema yang diambil, Haddad melihat anak down syndrome masih susah dalam membaca huruf hijaiyah dengan baik dan benar. Terlebih lagi, sejauh ini belum ada inovasi alat belajar untuk anak down syndrome. “Maka dari itu kami tercetus membuat aplikasi bernama Ma’unah. Aplikasi Mau’unah ditujukan untuk membantu pendidikan anak down syndrome. Terutama yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam dalam membaca huruf hijaiyah,” ungkap mahasiswa Angkatan 2020 itu. Terakhir, ia ingin agar rancangan aplikasinya dapat bermanfaat bagi teman-teman down syndrome. Utamanya tentang bagaimana membaca Alquran dan huruf hijaiyah. Ia menegaskan bahwa belajar agama Islam bisa dilakukan oleh semua kalangan, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. “Kami tentu akan berusaha keras untuk merampungkan aplikasi Ma’unah. Apalagi ini bisa sangat membantu dan memberikan manfaat kepada mereka yang jarang mendapat perhatian khusus. Kami juga mengajak teman-teman lain untuk bisa berinovasi dan berupaya menjadi problem solver bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (ros/wil)
Laksanakan Program baru, Pendidikan Bahasa Indonesia UMM Capai Unggul

Universitas Muhammadiyah malang (UMM) kembali perkuat kualitas yang dimilikinya. Terbaru, program studi (prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM berhasi meraih akreditasi Unggul. Raihan itu tertuang dalam Surat Keputusan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) Nomor 667/SK/LAMDIK/Ak/S/XI/2022 yang berlaku hingga 2027 mendatang. Saat ditemui, Ketua Prodi PBI UMM Arif Setiawan, M.Pd. menjelaskan bahwa raihan tersebut tak lepas dari penyiapan borang yang baik dan penilaian lapang yang lancar. Capaian ini dinilai mampu memngukuhkan komitmen pihaknya untuk menjadi prodi terdepan dan memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Menurutnya, predikat ini menunjukkan bahwa budaya yang dibangun PBI UMM telah memenuhi sembilan standar kerja yang ditetapkan SN-Dikti. Selain itu juga membuktikan capaian tridarma yang sudah dilaksanakan. Tercatat, 60% dosen telah berkualifikasi doktor, 14% sedang menempuh program doktor, dan sisanya berkualifikasi magister. Prodi PBI juga telah memiliki satu profesor dalam bidang Pendidikan Bahasa Indonesia. “Kami sadar bahwa generasi masa depan yang unggul bisa tercipta jika SDM yang kami miliki juga unggul. Maka kualitas dosen, pengajaran, sarana, dan progam selalu menjadi fokus kami,” tegasnya. Menariknya, di PBI UMM penelitian dan pengabdian diintregasikan dengan pembelajaran yang ada. Sehingga hal itu membuatnya semakin menarik serta memiliki novelty dan relevansi. Alhasil, tak kurang dari 582 karya dosen dan mahasiswa telah dipublikasikan di tingkat nasional maupun internasional. Jumlah sitasinya juga tinggi yakni mencapai 1.748. “HaKI yang kami peroleh juga jauh di atas standar minimal yang ditetapkan. Ada 38 HaKI yang kami peroleh dan didominasi oleh karya mahasiswa maupun dosen sebagai luaran perkuliahan. Upaya kami juga telah mendapat apresiasi dari para asesor pada asesmen lapang kemarin,” tambahnya. Selain strategi integrasi penelitian-pengabdian dengan pembelajaran berbasis luaran, Prodi juga memiliki strategi khusus lain, yakni ekuivalensi skripsi. Mahasiswa bisa melakukan banyak kegiatan untuk bisa lulus tanpa skrips. Salah satunya melalui karya yang menarik. “Meski sudah meraih akreditasi Unggul, kami akan terus berbenah dan bersiap diri utuk mempersiapkan akreditasi internasional FIBAA sehingga masyarakat bisa semakin percaya bahwa PBI UMM memang berkualitas dan melahirkan SDM yang berkualitas pula,” tegasnya. (*/wil)
Meriahnya Festival Budaya Tutup Pertukaran Mahasiswa Merdeka UMM

Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) UMM batch dua ditutup dengan gelaran Festival Budaya. Mengusung tema besar “Merawat Kebhinekaan Abadi Bersama dalam Memori,” acara tersebut dimeriahkan dengan penampilan tari tradisional dan peragaan busana dari berbagai daerah oleh mahasiswa. Euforia festival budaya tersebut berlangsung pada 7 Januari lalu. Ruli Inayah R, M.Si selaku Ketua Panitia PMM UMM menyampaikan festival ini merupakan ide langsung dari para mahasiswa. Dengan adanya gelaran ini, mereka berharap bisa mendapatkan kenangan yang tak terlupakan sehingga memperkuat kebhinekaan mereka. “Tujuan lainnya yakni untuk memperkenalkan dan melestarikan berbagai budaya dari daerah yang ada di Indonesia. Dengan begitu, rasa persatuan dan kecintaan akan Indonesia terus tumbuh di benak anak-anak muda,” ungkap Ruli. Adapun PMM UMM ini diikuti oleh 47 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Menariknya, mereka juga menghasilkan karya berupa empat buku dan 20 hak cipta yang telah ber-ISBN. Karya ini tentu diapresiasi baik oleh Dikti. Buku tersebut menceritakan bagaimana perjalanan mahasiswa modul nusantara inbound di UMM, baik itu menjelajah keindahan Indonesia maupun kuliner. “Saya harap kegiatan belajar selama satu semester pada modul nusantara inbound UMM bisa menjadi pengalaman bisa disalurkan kembali di daerah masing-masing. Kalian sudah menjalani kegiatan untuk saling mengenal keberagaman Indonesia dari teman-teman dan ikut andil dalam gerakan sosial,” ungkap Ruli. Pada kesempatan itu, turut hadir Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang melepas secara simbolik mahasiswa program PMM UMM batch dua. Menurutnya, festival ini mencerminkan keberagaman dan persatuan dari multikulturalisme. “Saya rasa misi dari program ini bisa tercapai dengan baik. Terima kasih telah memilih UMM dalam program pertukaran mahasiswa merdeka. Saya harap pengalaman yang kalian dapat di sini bisa berkesan di hati. Kami dengan senang hati bisa menerima anda kembali di UMM jika ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya,” kata Syamsul. Disisi lain, Muhammad Hanif, Mahasiswa Universitas Bosowa Makassar merasa senang bisa mengikuti PMM di UMM. Ia bahkan terjun ke berbagai acara menarik di Kampus Putih seperti PESMABA dan PIMNAS-35. Selain itu, ia juga sempat turun dalam gerakan sosial pada masyarakat desa Lebakharjo bersama Maharesigana UMM dan MDMC. “Alhamdulillah, kami bisa menikmati berbagai fasilitas UMM selama satu semester. Ada berbagai hal menairk seperti mobil golf untuk transportasi, danau, bebek, sarana yang memadai, hingga dosen yang mumpuni. Menurut saya, UMM bukan hanya kami anggap sebagai rumah tetapi sebagai laboratorium peradaban,” ungkap Hanif. (zak/wil)