Dosen UMM Ciptakan Produk Pakaian lewat Teknik Ramah Lingkungan

Ecoprint merupakan salah satu jenis teknik mencetak yang dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi kerusakan lingkungan serta ekosistem akibat limbah kimia pabrik tekstil. Teknik itupula yang dilakukan oleh Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ir. Wehandaka Pancapalaga, M.Kes. Ia bersama lima mahasiswa Fakultas Pertanian Pertenakan (FPP) mengembangkan ecoprint dengan memanfaatkan mangrove. Menariknya, mereka bisa menciptakan berbagai produk seperti tas, pakaian, hingga sepatu dari teknik pewarnaan ini. Ide yang muncul pada tahun 2019 itu, yakni saat menguji coba penelitian yang sudah ia lakukan. Mangrove dinilia bisa dijadikan zat pewarna alami untuk ecoprint. Penelitian yang dilakukan sangat rinci, mulai dari pemilihan bahan hingga proses produksi. Hal itu berefek pada produk yang bagus dan bermanfaat bagi masyarakat. Wehandaka, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa hasil dari ekstrak mangrove tidak mudah luntur. Sehingga bagus untuk pewarna. Adapun sistem yang digunakan melalui mesin pengukus atau steam yang yang tingkat panasnya lebih terjamin. Sehingga warna yang dihasilkan juga lebih merata. “Suhu yang kami gunakan ada pada rentang 75 derajat dan dikukus selama dua jam. Apabila suhu yang digunakan terlalu tinggi, kulit yang digunakan untuk ecoprint akan rusak. Sementara kalau suhunya terlalu rendah, warna daun dan bunga tidak akan bsia melekat pada kulit,” jelasnya. Wehandaka mengatakan bahwa pihaknya sangat serius mendalami penelitian. Termasuk mengenai pemilihan jenis mordan. Sudah sudah mencoba berbagai cara, mulai dari mordan tawas, kapur, dan tunjung. Hasilnya, mordan tawas memberikan hasil yang lebih maksimal dan cocok dengan bahan alami yang digunakan. Sementara, kulit yang digunakan untuk teknik ini adalah kulit domba samak jenis crust. Pemilihan ini tak lepas dari kelebihannya yang lebih lentur dan tidak mudah luntur. “Penelitian ecoprint kami ini sedang proses didaftarkan untuk paten sederhana. Namun sembari menunggu, kami juga mengabadikannya dalam beberapa event seperti program matching fund bersama UMKM Bululawang Malang. Hasilnya, masyarakat sangat antusias untuk memproduksi ecoprint tersebut karena di Desa Bululawang banyak pengrajin kulit yang masih monoton menggunakan warna hitam polos,” tandasnya. Wehandaka bersama tim berharap agar penelitian mengenai ecoprint dapat diterima baik oleh masyarakat. Mereka memiliki tujuan untuk membantu pengrajin kulit agar bisa lebih kreatif. Utamanya dalam hal warna, teknik, dan cara yang elbih ramah lingkungan. “Untuk selanjutnya, saya sedang mencoba mengombinasi antara ecoprint dan ukiran agar hasil akhirnya akan seperti daun yang nampak timbul. Sehingga makin terlihat menarik dan bagus,” pungkas Wehandaka. (nia/wil)
UMM Kolaborasi dengan 200 Kampus Tiongkok

Kolaborasi intenasional terus dikembangkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, UMM menggandeng stakeholder dari Tiongkok, salah satunya Wuhan Hyde Cambridge Education Consulting and Service. Agenda Memorandum of Understanding (MoU) itu dilaksanakan pada 3 Jun 2023 lalu. Turut hadir dalam kegiatan itu. Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Tiongkok, Yudil Chatim SKM., M.Ed. Yudil, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia telah menyiapkan sederet kampus terbaik yang bisa diajak kerjasama oleh Kampus Putih. Termasuk kampus-kampus yang tergabung dalam program 211 milik pemerintah Tiongkok. “Program 211 ini merupakan upaya Tiongkok untuk memenangkan abad 21 dan menjadi nomor satu. Ada sekitar 200-an kampus yang ada di program ini. Jadi nanti saya pilihkan beberapa kampus terbaik yang menjadi mercusuar pendidikan di sana,” tegasnya. Selain itu, ia juga berupaya menyiapakan kampus-kampus yang tergabung dalam program 985. Hanya ada 20 kampus Tiongkok yang memang memiliki kredibilitas untuk bisa tergabung. Ada yang fokus pada bidang kedokteran, kimia, teknik dan sederet lainnya. “Jadi, para sivitas akademika bisa turut serta melaksakan berbagai program di Tiongkok. Jadi nanti jika ada yang melanjutkan studi, akan saya carikan kampus dari program 211 dan juga 985,” tegasnya. Ia juga menegaskan bahwa Tiongkok menjadi investor terbesar di Indonesia. Maka, momen ini harus dimanfaatkan dengan menjalin kolaborasi. Bukan hanya university to university, tapi juga university to business serta university to university business. Maka, ia menilai MoU yang UMM lakukan ini sangat strategis. Tidak hanya fokus pada pengembangan sivitas akademika, tapi juga penguatan dan persiapan sumber daya manusia skala global. “Saya siap menjembatani berbagai kolaborasi, utamanya terkait pendidikan. Kemarin saya mengajak perwakilan Wuhan Hyde Cambridge Education Consulting and Service untuk berjalan-jalan di UMM dan menginap di Rayz Hotel UMM. Mereka kagum dan takjub karena UMM bisa mengembangkan pendidikan dengan baik. Apalagi saat mereka mendengar jumlah mahasiswa Kampus Putih mencapai lebih dari 40.000. Hal itu membuat mereka tertarik berkolaborasi,” katanya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa sebelumnya, UMM juga diberi tawaran menarik dari seorang pengusaha asal Makau, Soe To Tie Lin. Yakni memberikan beasiswa bagi 40 orang sivitas akademika Kampus Putih untuk studi di Tiongkok. Maka, kolaborasi yang tertuang dalam MoU kali ini menjadi langkah strategis. Utamanya dalam pengembangan pendidikan dan SDM yang ada. “Ini adalah salah satu upaya UMM untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi intelektual. Apalagi nanti akan dipilihkan berbagai universitas terbaik di sana sebagai tempat menimba studi para dosen dan sivitas akademika. Pun dengan MoU hari ini yang saya rasa memberikan dampak positif bagi banyak pihak,” tegasnya mengakhiri. (Wil)
Warganet Bisa Pengaruhi Putusan Hakim? Begini Kata Dosen UMM

Media sosial seperti Tiktok, Instagram ataupun Twitter merupakan bagian dari kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari. Hal ini membuat masyarakat pengguna media sosial atau yang sering disebut dengan netizen, menjadi lebih mudah mengakses informasi. Tidak terkecuali pada bidang-bidang hukum. Fenomena yang kemudian muncul, netizen, utamanya di Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk ikut “menegakkan keadilan” lewat komen-komen maupun konten yang dibuat. Hal itu menarik perhatian Dwi Ratna Indri Hapsari, SH., MH selaku dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia mengatakan, masyarakat saat ini lebih mudah untuk menyampaikan komentarnya mengenai suatu kasus yang sedang hangat dibicarakan. Hal ini bisa menjadi masukan ataupun bahkan sebaliknya,”mengganggu” proses hukum yang ada yang berjalan. “Misalnya saja, ketika hakim sedang memeriksa suatu perkara seorang public figure ataupun seseorang yang memiliki jabatan tertentu, pasti akan banyak netizen yang mengomentarinya. Komentar-komentar tersebut bisa jadi masukan, tapi bisa juga menjadi gangguan akan proses suatu kasus,” kata Indri mencontohkan. Meski banyak kasus yang terkuak atas bantuan Netizen untuk dapat ditindak lanjuti, namun menurut Indri, campur tangan netizen juga dapat menimbulkan imbas pada hasil keputusan hakim. Komentar-komentar tersebut dapat mempengaruhi hakim dalam membuat pertimbangan saat memeriksa perkara. Meski demikian, pada prinsipnya, seorang hakim harus memiliki independensi. Makanya, ada yang namanya kekuasaan kehakiman di bawah Mahkamah Agung (MA). Indri melanjutkan, dalam memeriksa suatu perkara, hakim akan menggunakan subjektivitasnya. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh pandangan advokat serta netizen melalui media sosial. Subjektivitas juga bisa muncul dari daerah hakim tersebut sedang memeriksa perkara. Karena setiap daerah memiliki kebiasaan serta adat istiadat yang berbeda. “Yang perlu diingat, dalam memeriksa dan memutuskan suatu perkara, hakim tetap harus mengedepankan tujuan hukum yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum,” tambah Indri. Ia menambahkan, komentar netizen dalam kasus-kasus yang ada bukan merupakan tantangan dalam dunia hukum. Sebaliknya, jika dilihat dari sisi yang lain, masyarakat melalui media sosial malah dapat melakukan kontrol akan kasus-kasus yang ada. “Jika ditinjau dari teori serta prinsipnya, ketika putusan dari pengadilan diberikan, maka sebenarnya ada upaya-upaya hukum lain yang bisa diambil. Dalam perkara pidana prosedural misalnya, upaya hukum seperti banding atau kasasi jika tidak puas dengan putusan hakim. Sayangnya, komentar netizen belum bisa menjadi suatu upaya hukum,” jelasnya. Menurutnya, media sosial bisa menjadi wadah bagi masyarakat yang merasa bahwa putusan yang ada melukai keadilan. Maka suara-suara itu bisa menjadi pertimbangan bagi hakim untuk memutuskan perkara. (Dev/Wil)
Penjelasan Dosen UMM yang Harus Kamu Tahu Sebelum Membeli Mobil Listrik

Akhir-akhir ini, kehadiran mobil listrik banyak menarik perhatian masyarakat. Selain desainnya yang futurustik dan ramah lingkungan, mobil listrik juga diklaim lebih hemat. Pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) No 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai juga terus mendorong konversi kendaraan berbasis minyak ke kendaraan listrik. Meski sangat menggiurkan, ada beberapa hal yang perlu diketahui calon pembeli sebelum memutuskan untuk membeli kendaraan listrik. Novendra Setyawan, ST., MT. selaku Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan beberapa penjelasan. Ia menyampaikan, kendaraan listrik digerakkan oleh baterai yang menghasilkan energi listrik. Energi tersebut tentu didapat dari pengecasan daya yang ada di rumah maupun melalui station yang disediakan pemerintah. Pada awalnya, kendaraan listrik masih belum dilirik oleh masyarakat akibat penyimpanan baterai yang dinilai tidak tahan lama. Masyarakat masih harus terus menerus mengganti baterai dan bisa memakan biaya yang hampir setara dengan harga kendaraan tersebut. “Jika ingin membeli mobil listrik, sebaiknya masyarakat perlu menyiapkan rumah pengisian sendiri dengan satu daya minimal 2200 watt. Dengan begitu, mobil bisa diisi daya kurang lebih 2-3 jam. Selain itu, masyarakat juga perlu menyiapkan adaptor yang sesuai karena masih belum ada standar adaptor yang diberlakukan di Indonesia hingga saat ini,” urai Novendra. Selain persiapan tersebut, ia juga mengingatkan perlunya masyarakat menggunakan pengaman tambahan atau Miniature Circuit Breaker (MCB) agar tidak terjadi konsleting saat pengisian catu daya. Pun dengan mengecek serta memperhatikan kondisi baterai agar bisa lebih awet. Meski memiliki banyak kelebihan, kendaraan listrik juga ada kekurangannya. Contohnya, kendaraan listrik akan sangat bergantung pada penyimpanan energi dari baterai. Pengisian daya membutuhkan waktu 2-3 jam untuk pengisian fast charging. Berbeda dengan kendaraan konvensional yang hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk mengisi bensin lalu dapat melanjutkan perjalanan kembali. “Memang, salah satu kendala kendaraan listrik adalah penyimpanannya yang masih lemah dan tidak awet. Sehingga, perlu adanya maintenance atau penggantian baterai dengan biaya yang hampir 50%,” lanjutnya. Karenanya, Novendra berharap, Indonesia akan memiliki standarisasi metode pengisian maupun maintenance dari kendaraan listrik di kemudian hari. Dengan begitu, mobil listrik bisa lebih bertahan lama dan diminati masyarakat. “Menurut saya, selain mendorong penggunaan mobil listrik, perlu juga ada pengembangan energi baru terbarukan. Kalau di UMM, kami memiliki pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTMH). Saya rasa, keduanya mampu membantu pasokan listrik untuk kendaraan listrik karena dapat diperbarui secara terus menerus,” pungkasnya. (Tri/Wil)
Muncul Isu MK Ubah Sistem Pemilu, Pakar Hukum UMM Sebut MK Tak Berwenang

Beberapa hari ke belakang, muncul isu Mahkamah Konstitusi (MK) membuat keputusan untuk mengubah sistem pemilu 2023 menjadi proporsional tertutup bagi anggota legislatif. Sebelumnya, sistem pemilu Indonesia menganut sistem proprosional terbuka. Adapun informasi tersebut didapat dari potongan video Denny Indrayana, salah satu pakar hukum. Isu itu juga menggugah Pakar Hukum dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Sidik Sunaryo, M.Si. M.Hum. untuk memberikan penjelasan. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45) sudah ditegaskan bahwa sistem pemilihan presiden dilakukan secara langsung. Sementara pemilihan calon legislatif dan kepala daerah dilakukan secara demokratis. Menurutnya, diksi demokratis bisa diartikan langsung maupun tidak langsung, tergantung pembuat UU. “Ketentuan pemilihan presiden sudah diatur secara tegas dan tidak bisa ditafsir. Sedangkan pemilihan legislatif belum diatur dengan jelas, sehingga menjadi wewenang pembentuk undang-undang untuk mengaturnya (open legal policy). Dalam hal ini dewan perwakilan rakyat (DPR), dewan perwakilan daerah (DPD), bersama dengan presiden,” jelasnya. Sidik, sapaannya, menegaskan bahwa ranah sistem pemilu berada di wilayah legislatif. Sehingga jika ada gugatan judisial review terkait sistem pemilu yang awalnya terbuka menjadi tertutup, kemudian MK menerimanya, maka sebenarnya MK tidak punya kewenangan akan hal itu. Menurut UUD 45 kewenangan penentuan sistem pemilu ada di tangan legislatif. Sementara MK merupakan lembaga yudikatif. “Jika MK benar-benar menguji materi dan mengubah sistem pemilu dan dimaknai untuk membuat norma baru dalam UU Kepemiluan, maka MK sebenarnya sudah mengambil alih kewenangan lembaga negara lain yakni legislatif. Kalaupun ingin menguji, seharusnya yang diuji adalah apakah sistem terbuka bertentangan dengan UUD 45 atau tidak? Logikanya harus begitu,” tegasnya. Terkait sistem proporsional terbuka atau tertutup, Wakil Rektor IV UMM itu menilai bahwa keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada proporsional terbuka, calon legislatif tidak ditentukan secara urut. Siapapun boleh mendaftar menjadi caleg lewat partai apapun, sekalipun dia orang baru. Sementara pada proporsional tertutup, partai menentukan daftar caleg yang ada. “Pada sistem proporsional tertutup, misalnya partai A sudah menyiapkan 100 nama caleg. Lalu ternyata suara yang diperoleh hanya cukup untuk 10 orang, maka caleg nomor urut 1-10 berhasil menjadi legislatif. Sementara sisanya tidak berhasil,” katanya. Menurutnya, dua sistem tersebut baik selama tidak ada dampak negatif seperti politik uang. Peraturan, dalam hal ini UU harus tegas untuk mencegahnya. Pun dengan peningkatan pendidikan politik bagi masyarakat agar demokrasi bisa berjalan dengan baik. Lebih lanjut, Sidik mengatakan, sistem pemilu harus sesuai dengan nilai-nilai ideologi Pancasila. Harus mengandung nilai Ketuhanan karena pemilu sebagai salah satu sarana demokrasi untuk memilih pemimpin sebagai wujud ibadah kepada Tuhan. Memasukkan nilai kemanusian dengan tidak saling mencela dan menista serta nilai kesatuan dengan menjaga keguyuban. Pun dengan nilai permusyarawatan dan juga keadilan sosial yang harus dipegang teguh. “Moralitas demokrasi harus kembali pada nilai ideologi Pancasila dan sistem demokrasi harus pada nilai dasar konstitusi,” pungkasnya mengakhiri. (Wil)
Suka Makan Lalapan? Ini Bahayanya Menurut Dosen FK UMM

Lalapan atau penyetan menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Termasuk Malang yang menjadi kota dengan ratusan ribu pendatang dan mahasiswa. Lalapan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Namun seberapa besar kandungan gizi yang ada serta efek negatifnya? Menanggapi hal ini, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Pamela Sumarauw menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan lalapan setiap hari dapat menimbulkan dampak yang kurang baik. “Mayoritas menu yang disajikan di lalapan adalah makanan yang diolah dengan proses menggoreng menggunakan minyak. Hal ini akan memunculkan zat atau kandungan yang kurang baik untuk tubuh jika dikonsumsi sehari-hari,” jelas Pamela, sapaan akrabnya. Sebutan lalapan di Malang tak lepas dari sederet sayur yang disajikan bersama dengan lauk utama. Ada ayam, lele, bebek, dan lainnya. Jika dilihat secara sekilas, makanan tersebut sehat-sehat saja. Ada sumber karbohidrat dari nasi, protein dari ikan atau ayam, hingga mineral dan vitamin dari sayuran. Sayangnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya nutrisi gizi. Yakni cara pengolahan, porsi makan, serta kebersihan. “Kita ambil contoh minyak yang digunakan menggoreng berulang kali. Hal itu akan menghasilkan kandungan lemak jenuh atau lemak jahat yang berbahaya bagi tubuh. Pun dengan porsi nasi yang berlebihan akan berkontribusi pada lonjakan kandungan gula. Kebersihan sayuran mentah juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit,” jelasnya. Pamela melanjutkan, makanan yang mengandung tinggi lemak dan tinggi karbohidrat akan meningkatkan kadar kalori serta meningkatkan resiko obesitas. Hal itu juga meningkatkan potensi terjangkit penyakit-penyakit kronis seperti jantung koroner, hipertensi atau darah tinggi, diabetes, hingga kanker. Dengan demikian, Pamela menegaskan bahwa mengonsumsi makanan lalapan setiap hari tidaklah dianjurkan. Alangkah lebih baik jika masyarakat mengurangi porsi dan membatasinya. Pun dengan menambah variasi makanan lain yang dari segi pengolahan lebih sehat seperti direbus, dikukus, atau dibakar. “Sebagai upaya mengimbangi, sebaiknya lakukan olahraga rutin minimal 150 menit dalam satu minggu atau 2-3 kali seminggu. Menjaga pola tidur 7-8 jam sehari dan asupan vitamin serta mineral yang baik bagi tubuh juga dianjurkan,” tutupnya. (Lib/Wil)
Anas, Wisudawan UMM yang Jadi Atlet Balap hingga Berbisnis Kopi

Adalah Muhammad Anas Asri, wisudawan berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses mengembangkan potensi tanpa mengorbankan nilai akademis. Ia dikenal peoduktif karena sering mengikuti pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Ia juga mengembangkan hobi dan menjadi atlet balap motor serta menguasai Bahasa Mandarin dan Inggris. “Saya memang suka dengan dunia komunikasi dan bahasa adalah salah satu jalan untuk bisa mengambil kesempatan yang ada. Baik pertukaran mahasiswa mauoun lomba-lomba bergengsi,” katanya. Selama berkuliah di UMM, ia mendapat sederet kesempatan menimba ilmu di universitas luar negeri. Misalnya pada tahun 2018, di mana ia turut serta dalam program “World Muslim Student Exchange Program” di University Putra Malaysia dan University Kebangsaan Malaysia. Kemudian juga pada 2021 dan 2022 ia juga ikut student exchange di Polandia. Tepatnya di University of Silesia Katowice dan Maria Curie-Skłodowska University oleh Polish National Agency for Academic Exchange. Meski sibuk dengan banyak hal, ia tidak melupakan hobi dan kegemarannya untuk balapan. Anas dinilai aktif mengikuti kejuaraan balap motor nasional Yamaha Sunday Race dan mendapatkan support dari Yamaha Flagship Shop Bali. Saking suaknya dengan balapan, skripsi Anas juga mengangkat hal yang tidak jauh/jauh dari otomotif. Tidak cukup sampai di situ, ia juga mencoba peruntungan di bidang bisnis, utamanya di aspek makanan dan minuman. Pada 2019, ia sudah membuka kedai kopi The Lawn Coffe and Eatery. Selain untuk mencari tambahan uang, kedai tersebut juga menjadi laboratorium pribadinya untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu komunikasi. “Apalagi di UMM, kami, para mahasiswa, juga diajari cara mengembangkan jiwa-jiwa entrepreneurship. Bagaimana membangun sebuah usaha, strateginya, dan cara menjaganya agar tetap berjalan kontinyu,” katanya. Terakhir, Anas juga berpesan kepada anak-anak muda untuk tidak hanya melihat pada hasil. “Jangan pernah mundur dan menyerah saat di tengah proses. Fokus dan resapi semua nilai yang kamu hadapi. Semoga kita bisa melewatinya dan mendapatkan hasil terbaik dari upaya terbaik,” pungkasnya. (Faq/Wil)
Permudah layanan, Teknik Informatika UMM Gunakan AI dan Chatbot

Artificial Intelligence (AI) sudah menjamur di berbagai bidang. Hal itu pula yang telah diterapkan oleh program studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam menjalankan pelayanan pendidikan, mereka telah menggunakan AI pada sistem administrasi dan chatbot. Ketua program studi Informatika Galih Wasis Wicaksono, S.Kom., M.Cs. menegaskan bahwa penggunaan AI akanmeningkatkan efisiensi pekerjaan para dosen. Apalagi mereka juga harus mengurus proyek bersama, sehingga waktu yang tersedia semakin sedikit. Adapun saat ini, mereka menggunakan aplikasi Notion.So yang dinilai memberikan kemudahan. Galih, sapaannya, mengatakan bahwa aplikasi ini membuat para dosen dan karyawan dapat mengelola proyek, mengatur catatan, hingga bekerja secara kolaboratif. Dengan adanya AI sederhana, aplikasi ini dirasa bisa meningkatkan efektivitas waktu dan manajemen pekerjaan. “Saat ini kami memang masih menggunakan AI pihka ketiga. Tapi kami juga tengah mengembangkan AI serupa dengan berbagai fitur. Sehingga prodi Informatika UMM dapat dikenal sebagai prodi yang menerapkan kecerdasan buatan dengan baik,” katanya. Di samping itu, adapula penggunaan chatbot yang diterapkan pihaknya sejak awal tahun ini. Galih menjelaskan, latar belakang munculnya ide ini adalah semakin membludaknya pendaftar dan peminat Informatika UMM. Sehingga mau tidak mau, mereka harus meningkatkna pelayanan dan chatbot adalah salah satu upaya yang bagus. Adapun chatbot ini sebenarnya sudah digarap sejak tahun lalu, namun masih harus melalui proses uji coba dan lainnya. Chatbot ini diberi nama Sarana Layanan Komunikasi Mahasiswa Prodi Informatika (SAM PRI). “Kata SAM sebenarnya merujuk pada panggilan lokal Malang yakni MAS, artinya kakak laki-laki. Adapun pengembangan chatbot ini diinisiasioleh Hardianto Wibowo, S.Kom, MT. Selaku Sekprodi Teknik Informatika,” terang Galih. Menariknya, SAM PRI tidak hanya diperuntukkan bagi para calon mahasiswa atau calon wali, namun juga bagi para mahasiswa. Mereka bisa bertanya banyak hal terkait apapun yang tentang jurusan teknik infomratika. Misalnya saja mengenai jadwal ujian tengah semester atau akhir semester. Begitupun juga dengan info-info lain. “Tentu ini akan membantu efisensi dalma pelayanan. Karyawan kami tidak lagi repot membalas satu-satu pertanyaan. Para mahasiswa atau calon mahasiswa juga bsia mendapatkan informasi dengan lebih cepat. Semoga dua chatbot dan AI ini bisa terus kami kembangkan sehingga lebih felksibel serta memudahkan pelayanan dan proses pendidikan di UMM,” pungkasnya. (Tri/Wil)
Wisudawan UMM Dapat Undangan Studi Lanjut dari Dubes Spanyol

Menyelesaikan studi di Universitas bukanlah sebuah akhir, namun sebuah awal untuk kehidupan yang baru. Hal itu ditegaskan Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, HE. Mr. Fransisco De Asis Aguilera Aranda dalam sambutannya di wisuda ke-108 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam agenda yang dilaksanakan pada 30 Mei 2023 itu, ia juga mengajak para wisudawan untuk bisa melanjutkan studi di negeri matador. Menurutnya, anak muda tidak perlu takut untuk menghadapi masa depan. Kepercayaan diri jadi kunci agar semua rintangan bisa diatasi. Itu juga yang akan dihadapi para lulusan setelah prosesi wisuda. Mereka harus bisa menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. “Jika memang ingin menimba ilmu kembali dan ingin mendapat pengalaman profesional, sebagai duta besar, saya menyarankan anda untuk datang ke Spanyol. Spanyol merupakan negara yang kaya akan budaya. Bahkan terkenal dengan pemain sepak bolanya. Spanyol juga merupakan negara yang nyaman untuk tinggal dan bagus untuk dikunjungi. Selain itu masyarakatnya juga memiliki toleransi dengan berbagai keberagaman yang ada ,” ungkapnya. Fransisco juga senang dengan kedatangannya ke Kampus Putih. Menurutnya, UMM memiliki potensi besar untuk melebarkan sayap kerjasamanya ke Spanyol. Apalagi dengan berbagai inovasi, ide, dan program yang dilaksanakan. Ia bahkan juga sudah banyak berdiskusi dengan jajaran rektorat UMM untuk menindaklanjuti kemungkinan kolaborasi di masa depan. Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. menjelaskan bahwa para wisudawan saat ini akan menjadi generasi emas tahun 2045. Yakni saat usia bangsa Indonesia menginjak 100 tahun. “Siapkanlah diri dengan sebaik-baiknya. Jangan berhenti dalam belajar dan terus mengasah kemampuan yang dimiliki. Ingat bahwa ada jutaan wisudawan dari perguruan tinggi lain yang punya tujuan yang sama dengan kalian. Gunakan berbagai ilmu dan pengalaman yang anda dapat di UMM untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah bangsa,” jelas Muhadjir. Lebih lanjut, Muhadjir mengatakan bahwa memilih UMM sebagai tempat menimba ilmu adalah pilihan tepat. Mahasiswa dan wisudawan pasti memiliki bekal cukup. Apalagi dengan hadirnya Center of Excellence (CoE) sejak beberapa tahun belakang. Program tersebut mendorong mahasiswa untuk memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan industri di era sekarang. “Siapa tahu keahlian penting dari program yang sediakan oleh UMM bisa menjadi sebuah lapangan kerja baru. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk membantu masyarakat sekitar dan cara memajukan Indonesia. Manfaatkanlah peluang dengan baik dan jangan lupa bekerja keras,” pesan Muhadjir. Sejalan dengan yang disampaikan Muhadjir, Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan M.Pd. menyampaikan, indonesia akan menghadapi tantangan bonus demografi. Oleh karena itu, sejak tahun 2019 UMM meluncurkan program yang disebut dengan Center of Excellence (CoE). Dimana program tersebut merupakan upaya UMM untuk berkontribusi dalam kemajuan bangsa Indonesia. “Sampai saat ini, sudah ada lebih dari 54 CoE yang bisa diikuti oleh mahasiswa UMM. Bahkan program tersebut juga dapat diikuti oleh para alumni dan anak muda dari perguruan tinggi lain. Mereka yang ikut CoE juga diperbolehkan dari jurusan yang berbeda. Hal tersebut karena UMM memiliki tekad penuh dalam menyiapkan SDM unggul untuk memenuhi kebutuhan zaman, ” terang Fauzan. (zak/wil)
Sederet Anak Muda Inovatif di SINATION UMM Wujudkan SDGs 2030

Anak muda memegang peran penting dalam menemukan ide-ide dan solusi bagi permasalahan di masyarakat. Maka dari itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang gelar Final Scientific Idea Competion (SINATION) 2023 pada Mei ini sebagai wadah pengembangan inovasi. Terhitung, kompetisi nasional ini diikuti 198 tim dari berbagai daerah se-Indonesia dan terbagi menjadi dua kategori, mahasiswa dan siswa. SINATION dinilai menjadi langkah mengoptimalkan potensi generasi muda dalam mengeksplorasi diri. Utamanya dalam sektor agrokompleks sebagai kontirbusi mewujudkan sustainable development goals (SDG’s) 2023. Begitu juga yang diharapkan oleh Dekan FPP UMM Dr. Ir. Aris Winaya, M.M. M.Si. Menurutnya, kompetisi mampu mendorong embrio lahirnya berbagai ide besar dari anak-anak muda Indonesia. “Mewujudkan SDG’s memang menjadi salah satu alasan kami menyelenggarakan ini. Melalui ajang ini, kami ingin anak muda, mahasiswa dan siswa, untuk berkontribusi aktif melahirkan ide-ide brilian yang bisa diimplementasikan,” tegasnya. Salah satu ide menarik datang dari perwakilan Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Mereka membuat inovasi berupa formulasi fleur de sel (bunga garam) dan vitamin B kompleks lorjuk sebagai imunostimulan intramuscular. Formulasi itu menjadi upaya pencegahan wabah penyakit mulut dan kuku dan LSD pada sapi di Madura. Inovasi ini berhasil menjadi juara pertama kategori mahasiswa. Ketua tim UTM, Ika Masruroh bersyukur atas kemenangan timnya di ajang tersebut. Ia mengaku sangat terpacu untuk bisa menghadapi dan memenangkan persaingan dengan peserta lain yang notabene berasal dari kampus-kampus terbaik. “Kami berusaha terus optimis hingga babak akhir. Kuncinya adalah mepresentasikan apa yang sudah kami pelajari tanpa ragu,” tambahnya. Sementara itu, di kategori siswa ada tim dari SMAN 1 Lamongan yang sukses menjadi juara pertama. Muhammad Kevin selaku ketua tim sangat bersyukur karena ini menjadi ajang pertama tim tersebut. “Persaingannya ketat sekali, jurinya juga mumpuni sehingga membuat kami terpacu untuk bisa memberikan yang terbaik. Alhamdulillah kami memenangkan juara pertama,” katanya. Harapan besar juga datang dari ketua pelaksana SINATION, Dyas. Menurutnya, generasi muda harus berani melakukan banyak hal dengan kretivitasnya. Karena tak jarang, akan muncul inovasi unik yang bisa menyelesaikan masalah di masyarakat. “Jangan mudah terjebak di zona nyaman. Jika sudah terjebak, saya yakin kita tidak akan mau berusaha menemukan hal menarik dalam hidup,” pungkasnya. (Rul/Wil)