Ajar Mahasiswa HI, Profesor Portugal Terkesan dengan Mahasiswa UMM yang Kritis

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berupaya menjadi kampus internasional dan level global. Terbaru, melalui kerjasama program Erasmus+ Teaching Mobility, kampus putih UMM kedatangan Prof. Ricardo de Sousa. Profesor yang berasal dari Universidade Autónoma de Lisboa, Portugal itu berkesempatan mengajar langsung para mahasiswa UMM di program studi Hubungan Internasional (HI). Ricardo, sapaannya, mengatakan bahwa ia terkesan dengan kampusnya yang besar serta hijau. Para mahasiswa yang ia ajar juga antusias dan memperlihatkan komitmen belajar tinggi. Terobosan-terobosannya juga inovatif, termasuk program Center of Excellence (CoE). “Selama di UMM, saya mengajar tiga kelas dengan materi stabilitas keamanan di Afrika. Mulai dari praktik neopatrialisme di Afrika, sistem perdamaian di Afrika, hingga mengenai keamanan arsitektur dan intervensi militer di Afrika. Teman-teman mahasiswa cukup kritis dan melontarkan berbagai pertanyaan menarik,” tambahnya. Selain mengajar, ia juga sempat bergabung dengan forum diakusi bersama para dosen. Tema yang dibahas adalah hubungan antara China dan Amerika Serikat atau yang dikenal dengan the Thucydides Trap of China versus America. “Melihat proses pembelajaran yang ada di Indonesia, dalam hal ini di UMM, saya rasa tidak jauh berbeda dengan di Portugal. Saya dapat melihat bahwa para mahasiswa memiliki kebebasan intelektual akademik untuk terlibat secara kritis dengan para dosennya, itu sesuatu yang juga kami praktekkan,” terang Ricardo. Menurutnya, universitas adalah tempat yang bagus untuk mengembangkan kemampuan serta pemikiran kritis. Maka, ia mendorong para mahasiswa untuk berupaya sebaik mungkin untuk bisa menggapai cita-cita yang diimpikan. “Kebetulan saya juga sempat berdiskusi dengan International Relation Office (IRO) UMM untuk mengebangkan program lanjutan. Baik itu student exchange atau teaching mobility seperti yang saya lakukan sekarang,” harap Ricardo. Disisi lain, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP. selaku kepala IRO UMM menegaskan bahwa pihaknya sudah lama bekerjasama dengan Erasmus. Utamanya dalam hal program student exchange, teaching mobility dan staff mobility. Sampai saat ini, UMM mempunyai 13 universitas partner di Eropa. “Jadi kedatangan Prof. Ricardo ini untuk melaksanakan teaching mobility. Yakni mengajar di prodi yang sesuai dengan keahliannya selama delapan jam yang dibagi menjadi tiga kelas. Progam seperti ini juga terus kami kembangkan agar bisa lebih masif,” katanya. Ia juga berharap, kerjasama UMM dengan universitas di negara lain tidak hanya melalui program Erasmus saja. Namun, bisa melalui kolaborasi langsung antar universitas. (zak/wil)
PPG UMM Pamerkan Inovasi Media Pembelajaran hingga Hadirkan Direktur UNESCO

Wawasan kebangsaan dan strategi dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik adalah hal yang krusial. Maka harus ada inovasi dan cara baru dalam mendidik. Hal itu ditegaskan oleh Direktur Eksekutif APCE-UNESCO Prof. Dr. Ignasius D. A. Sutapa, M.Sc. dalam seminar nasional Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM), 27 Mei 2023. Lebih lanjut, Ignasius menegaskan bahwa saat ini peran guru sangat strategis. Utamanya dalam menanamkan makna-makna pancasila. Menurutnya, ada lima dimensi fundamental dalam pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Lima nilai itu harus bisa ditransfer ke peserta didik agar bis amenciptakan SDM yang unggul dan baik. Baca juga: Dekan FH UMM: Ada Banyak Pelajaran di Kasus Ferdy Sambo “Dunia pendidikan tidak lepas dari tantangan globalisasi. Maka, perlu adanya upaya penguatan-penguatan dalam berbagai aspek. Termasuk di dalamnya sumber daya manusia (SDM), pemanfaatan teknologi digital, serta melihat tren yang sedang booming di media sebagai alat pembelajaran yang menarik bagi peserta didik,” katanya. Menariknya, kegiatan tersebut juga memamerkan belasan media pembelajaran karya para peserta PPG UMM. Ada yang mengembangkan metode untuk memudahkan pemahaman siswa akan budaya lewat wayang golek. Adapula alat yang menarik minat peserta didik belajar materi ilmu pengetahuan alam, seperti aerob dan anaerob. Salah satu yang menarik adalah pembelajaran untuk menjaga lingkungan. Salah satu anggota, Eci Sugiarti menjelaskan bahwa alat tersebut mencoba memberi pemahaman bagi siswa terkait perubahan lingkungan. Ada yang dikarenakan faktor alam, ada juga faktor manusia yang bisa saja merusak bumi. Ia dan tim membuat alat peraga dari bahan sterofoam, plastik, dan bahan daur ulang lain yang dijadikan sebagai arsitektur gunung, mobil, manusia dan lainnya. Hadir pula dalam kesempatan itu, Kolonel Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Tri Sugiyanto, S.Sos. Ia mengingatkan pentingnya nilai-nilai perjuangan pahlawan Indonesia dalam memerdekakan suatu bangsa. Sehingga anak-anak zaman sekarang bisa menimba ilmu dengan damai. “Perjuangan bukan hanya masalah mengangat senjata, tapi juga bisa dilakukan dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menemukan gagasan-gagasan baru. Dengan begitu, muncul solusi inovatif bagi beragam permasalahan masyarakat,” tegasnya. Sugiyanto juga mendorong para guru untuk bisa menguatkan nilai perjuangan itu secara intensif. Sehingga bisa menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa Indonesia. “Nelson Mandela pernah berkata bahwa untuk menghancurkan sebuah negara, kini tidak perlu dengan memborbardir. Cukup hancurkan dengan cara membuat generasi muda lupa akan sejarah bangsanya. Maka, guru memainkan peran strategis dalam menjaga generasi muda saat ini,” katanya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. mengapresiasi beragam media pembejalaran yang sudah diciptakan dengan sentuhan-sentuhan teknologi dan terbarukan. Menurutnya, pendidikan di era 5.0. memang memerlukan inovasi media yang menarik perhatian para siswa. Hal itu juga menjadi gerakan nyata seorang calon pendidik untuk turut mencerdaskan bangsa. Fauzan juga mendorong guru-guru muda untuk memperluas resonansi dalam pengembangan model pembelajaran. Bukan hanya di tingkat nasional saja, namun juga bisa meraih domain internasional. “Anak muda, termasuk guru muda, harus mampu memberikan sentuhan baru dna menjadi agent of change. Anda adalah pendidik yang akan membentuk generasi masa depan. Di tangan anda mereka akan tumbuh dan mampu memajukan bangsa Indonesia,” pungkasnya mengakhiri. (faq/wil)
Mantan Terpidana Korupsi Bisa Nyaleg, Begini Kata Ahli Hukum UMM

Pemilihan umum (Pemilu) 2024 sebentar lagi tiba. Banyak isu menarik yang bisa dibahas, termasuk dibolehkannya mantan narapidana kasus korupsi untuk mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg). Baik di di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Hal itu menarik perhatian dosen dan ahli hukum tata negara dan hukum administrasi negara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Catur Wido Haruni, S.H., M.Si., M.Hum. Ia menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan aturannya. Menurutnya yang salah adalah mereka yang membuat aturannya. “Tentunya banyak mantan narapidana kasus korupsi yang ingin kembali berkecimpung di dunia politik. Kemudian dengan banyak siasat lahirlah peraturan ini karena kepentingan-kepentingan politik,” ujarnya. Lebih lanjut, para narapidana kasus korupsi ini dapat mendaftar sebagai caleg sebab pada Undang-Undang (UU) No.7 Tahun 2017 Pasal 240 (1) huruf G tentang Pemilihan Umum (Pemilu) disebutkan, tidak ada larangan khusus bagi mantan narapidana kasus korupsi untuk mendaftar. Pada poin ini dijelaskan bahwa calon tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih. Kecuali secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan adalah mantan terpidana. “Berarti, walaupun sudah lebih dari lima tahun penjara, jika ia mengatakan secara terbuka bahwa ia merupakan mantan terpidana ataupun koruptor, maka ia tetap memenuhi syarat untuk mendaftar sebagai caleg,” paparnya. Lalu jika melihat UUD 1945 Pasal 28J (1), dikatakan bahwa kita harus menghormati hak asasi orang lain. Namun pada Pasal 28J (2) dijelaskan pula, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang, dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain. “Walaupun semua orang memiliki hak dan kebebasan dalam berpolitik, tapi tidak semua orang masuk ke dalam kriteria tersebut. Jadi memang ada batasannya, termasuk kriteria pendaftar caleg ini,” jelas Catur. Catur mengatakan, pasal 240 ini pernah diuji materi di Mahkamah Konstitusi (MK) karena dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Lalu lahirlah putusan MK yang menyatakan bahwa mantan narapidana korupsi boleh mencalonkan diri dengan syarat, telah melewati jangka waktu lima tahun setelah mantan terpidana selesai menjalani pidana penjara berdasakan putusan pengadilan. Lalu secara jujur atau terbuka, mengumumkan mengenai latar belakang jati dirinya sebagai mantan terpidana dan bukan sebagai pelaku kejahatan yang berulang-ulang. “Tapi semua kembali kepada para pemilihnya atau rakyat, karena kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Maka dari itu, rakyat pun harus cerdas. Jangan memilih hanya karena fanatik terhadap partai. Lihatlah track record dari calon pemimpin yang ingin dipilih. Karena kedaulatan tertinggi ada d itangan rakyat, maka rakyat harusnya bisa memilih pemimpin yang baik dan berintegritas. Jika rakyat cerdas, maka para narapidana korupsi ini tidak akan terpilih,” tegasnya mengakhiri. (dev/wil)
Direktur Perusahaan Jepang Kirim Ratusan Alumni UMM Kerja di Jepang

Tamu menarik dihadirkan di wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 25 Mei 2023 lalu. Ia adalah Direktur PT. OS Selnajaya Indonesia Satoshi Miyajima yang membagikan kiat menghadapi dunia profesional. Ia juga mengapresiasi Kampus Putih UMM yang sudah berkolaborasi dengan pihaknya, khususnya terkait sumber daya manusia (SDM). Satoshi, sapaannya, menjelaskan bahwa UMM dan perusahaannya telah menjalankan desain workshop yang mampu menciptakan SDM unggul dengan kompetensi internasional. Adapun kerjasama keduanya sejak 2020 lalu telah mengantarkan lebih dari 200 alumni untuk berkarya di Jepang. PT OS Selnajaya juga telah memberikan kepercayaan penuh kepada UMM untuk menyiapkan angkatan kerja yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja di level global, termasuk di Negeri Sakura. Baca juga: Begini Kisah Unik Mahasiswa UMM di Polandia Adapun OS Selnajaya merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang sumber daya manusia dengan kemampuan unggul. Perusahaan yang berdiri pada 1995 ini juga menjadi salah satu di antara grup internasional Outsourcing Inc. yang berpusat di Tokyo, Jepang. Sehingga hal ini memudahkan SDM Indonesia untuk mendapat pekerjaan di Negeri Sakura. Lebih lanjut, ia menyampaikan sederet tips yang bisa digunakan wisudawan nantinya. Pertama, selalu memiliki mimpi yang berorientasi pada tujuan yang tinggi. Pun dengan mengalahkan ketakutan akan tantangan dan kegagalan. Karena seringkali keduanya membuat manusia tidak bsia maju dan berada pada posisi yang stagnan. “Jangan lupa untuk bekerja keras dan cerdas dilengkapi dengan kesabaran yang tinggi. Kalian aharus menghargai waktu dan orang di sekitar. Jika mampu menjalankan smeua tips itu, saya yakin kalian akan berhasil,” tegasnya. Baca juga: Berita Begini Cara Halau Ekstremisme ala Dosen UMM Pria asal Jepang tersebut juga sempat menceritakan pengalamannya saat mahasiswa. Dulu, ia memiliki mimpi untuk menjalankan sebuah bisnis dan mengembangkannya hingga level global. Cita-cita itu ia jaga dan usahakan hingga akhirnya bisa mencapainya saat ini. “Memiliki imajinasi atau mimpi yang tinggi seharusnya bukan hal yang perlu ditakutkan oleh para mahasiswa atau lulusan sarjana. Banyak orang-orang yang sukses berawal dari mimpi yang diupayakan dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. menjelaskan UMM memiliki komitmen penuh dalam menyiapkan SDM unggul untuk memenuhi kebutuhan. Utamanya para dunia usaha dan dunia industri. Salah satu caranya yakni dengan mengandeng perusahaan nasional dan internasional untuk menjadi wadah pembelajaran sebagai bekal mahasiswa dalam menghadapi dunia profesional. “Semua kegiatan itu terwadahi dalam program inovasi UMM yakni Center of Excellence (CoE). Dengan begitu, para alumni akan lebih mudah untuk terserap di dunia kerja maupun membuka usaha mandiri sendiri,” tambahnya. Sampai saat ini, sudaha da 54 CoE yang bisa diikuti oleh para mahasiswa UMM. Bahkan mereka diperbolehkan ikut CoE yang berbeda dengan jurusan yang ditekuni. Misalnya saja mendaftarkan diri pada CoE Unggas, tapi berasal dari jurusan pendidikan bahasa Inggris. “UMM juga optimis bisa mendapatkan rekognisi dari UNESCO berkat berbagai terobosan dan kontribusi di berbagai bidang. Terutama yang berkaitan dengan sustainable development goals. Hal itu tentu membuat jaringan kita lebih luas dan mudah untuk menyiapkan lapangan yang lebih besar lagi untuk alumni,” pungkasnya mengakhiri. (faq/wil)
Begini Cara Halau Ekstremisme ala Dosen UMM

Aksi ekstremisme semakin ke sini kian mewabah. Dalam realita sehari-hari, ujaran kebencian tak hanya dijumpai pada kehidupan nyata namun juga dunia digital. Saling menyudutkan masing-masing ras, suku, budaya dan bahkan yang baru-baru ini ditemui yakni diskriminasi dalam beragama. Menyoroti fenomena tersebut, dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) FAI UMM Nafik Muthohirin, angkat bicara. Menurut Nafik, ekstremisme telah menjadi fenomena yang menyita perhatian global beberapa dekade terakhir. Dalam berbagai konteks, ekstremisme politik, agama, dan ideologi telah menimbulkan ancaman terhadap stabilitas sosial, perdamaian, dan keamanan di berbagai negara. Ekstremisme juga sering mengacu pada keyakinan atau pendekatan yang ekstrem atau radikal. Di mana individu atau kelompok tertentu menganut ideologi yang jauh dari kata mainstream. Mereka juga akan selalu berusaha menggunakan cara-cara yang ekstrem untuk mencapai tujuanya. “Kalau kita lihat, banyak masyarakat saat ini yang melakukan aksi ekstremisme dengan daih atas kebenaran agama. Padahal tidak ada satupun agama yang membenarkan aksi kekerasan dalam bentuk apapun,” tegasnya. Mengutip dari pandangan klasik, Nafik memaparkan kasus esktremisme di tubuh umat Islam sendiri. Tak jarang, kasus ini terjadi akibat penafsiran terhadap ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur’an yang dimaknai secara literal, kaku, dan tertutup. Ditambah lagi dengan faktor-faktor lain yang memulai timbulnya perilaku ekstremisme tersebut. “Maka, upaya untuk memahami akar masalah, mencegah radikalisasi, dan mempromosikan nilai-nilai toleransi dan harmoni menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan ekstremisme ini,” katanya. Ia yang juga menjabat sebagai Direktur Program RBC Institute A. Malik Fadjar tersebut menilai, madrasah atau pesantren khususnya di Indonesia, memiliki peran penting. Mereka perlu menyebarluaskan nilai-nilai keluhuran, perdamaian, dan moderasi beragama. Nafik juga menekankan pemahaman akan pentingnya menghargai keberadaan kelompok lain (agama, suku, ras, atau kelompok) sejak dini. Pendidikan formal maupun informal sangat dianjurkan untuk menekankan nilai-nilai universal seperti kasih sayang, kabaikan, keadilan dan perdamaian. Hal itu tentu membantu peserta didik mamahami makna dari suatu ayat suci. Misalnya saja dengan memberikan contoh konkret atau cerita yang relevan dengan ayat terkait. Sehingga peserta didik dapat memahami penerapan ayat dalam konteks kehidupan nyata. Hal ini akan membantu mereka melihat bagaimana ayat dapat diterapkan dalam tindakan sehari-hari. “Setelah aspek pemahaman diberikan, maka peserta didik perlu diajarkan toleransi aktif dengan mengajak kerjasama atau kolaborasi bersama kelompok berbeda. Dengan begitu kita bisa mewujudkan kehidupan yang lebih harmoni dan damai” pungkasnya. (rev/wil)
Begini Kisah Unik Mahasiswa UMM di Polandia

Salah satu keuntungan berkuliah di luar negeri adalah mendapat kesempatan memaknai arti toleransi lebih dalam. Baik dari perbedaan budaya maupun agama. Hal tersebut dirasakan oleh Avilla Nadhif Firjatullah, mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mendapatkan beasiswa dari Erasmus. Sekarang, ia tengah menjalani pertukaran mahasiswa di WSB University, Polandia hingga beberapa bulan ke depan Villa, sapaan akrabnya menceritakan bagaimana ia belajar toleransi di sana dengan menjadi minoritas. Sejak kecil, ia memang dibesarkan di lingkungan masyarakat mayoritas muslim. Hal itu bertolak belakang dengan apa yang ia alami di Polandia yang memiliki banyak gereja. Beberapa terlihat klasik karena merupakan bangunan bekas peninggalan sejarah. Ia bahkan mendapatkan pengalaman menarik. Pernah suatu ketika ia diajak untuk datang ke gereja, karena temannya tidak pernah melihat Villa pergi ke gereja. Padahal alasan ia tidak ke gereja karena ia adalah seorang muslim. “Saya juga sempat mengobrol dan sesekali bercanda dengan mereka yang beribadah di sana. Menurut saya, kota Poznan adalah kota yang tidak begitu besar. Penduduknya hanya sekitar 500 ribuan. Meksi begitu, saya jatuh cinta dengan Poznan, dengan suasananya dan toleransinya,” kata mahasiswa asal Tuban itu. Saat punya waktu luang, Villa menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa destinasi dan mencoba berbagai makanan lokal. Salah satu yang ia sukai adalah pierogi, makanan khas yang sering dihidangkan untuk menerima tamu atau ada acara adat. “Pierogi di Indonesia itu mirip seperti pastel yang dijual di pasar. Biasanya diisi dengan kentang, daging ayam, dan sayur-sayuran. Kadang juga berisi selai buah-buahan seperti stroberi, prem, lainnya. Alhamdulillah rasanya bisa saya terima di lidah saya,” ujarnya. Selama di Poznan, Villa lebih sering memasak sendiri. Hal itu tidak lepas dari mayoritas penduduk yang menganut agama non-Islam. Sehingga ia sangat berhati-hati dalam memilih makanan. Beruntung, ia cukup mudah mencari bahan yang halal dan sehat di sana. Bahkan beberapa makanan juga diimpor dari negara-negara muslim. Menjalani hari jauh dari rumah juga tidak semenyeramkan yang ia bayangkan sebelumnya. Apalagi saat tahu biaya hidup di sana cukup terjangkau. Ditambah dengan akses, transportasi, dan fasiliyas yang membuatnya hobi menjelajahi kota. Bahkan hingga keluar kota Poznan. Ia juga berpesan ke anak-anak muda untuk berani mencoba hal baru dan tidak takut gagal. Siapa tahu hal yang awalnya dikira gagal, malah membawa ke keberhasilan. “Harus bisa melewati proses dan berani mencoba. Kalau tidak dicoba, kita mana bisa tahu hasilnya akan seperti apa. Bahkan kita mungkin bisa mencapai hal yang sebelumnya dianggap mustahil,” tegasnya mengakhiri. (ril/wil)
Pengusaha asal Makau Beri 40 Beasiswa S2 dan S3 bagi Sivitas Akademika UMM

Kerja keras dan tekun adalah kunci menggapai kesuksesan. Hal itu juga yang dirasakan dan diceritakan President Director OBOR Education Foundation, Soe To Tie Lin di depan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun gelaran wisuda tersebut dilaksanakan pada 23 Mei 2023 lalu. John, sapaan akrab Soe To Tie Lin, sehari-hari menjalankan berbagai bisnis dan beraktivitas di Makau, Tiongkok. Ia juga merupakan president commisioner PT. Sunindo Pratama yang bergerak di bidang minyak dan gas. Selain itu, menduduki jabatan president director One Belt One Road (OBOR) Scholarship. Maksud kedatangannya ke UMM adalah untuk memperkenalkan beasiswa OBOR yang memungkinkan sivitas akademika Indonesia untuk melanjutkan studi ke Tiongkok. Bahkan ia juga menyiapkan 40 beasiswa master dan doktoral untuk melanjutkan studi di Tiongkok bagi sivitas akademika Kampus Putih. Lebih lanjut, ia juga bercerita bagaimana proses yang harus dia lakoni hingga bisa mencapai titik sekarang. Menurutnya, para lulusan harus tahu dan mempelajari skill yang jarang dimiliki banyak orang. Sehingga akna banyak pihak yang mencari dan berebut mendapatkan sumber daya manusia yang menguasa skill itu. “Jangan lupa untuk menjadi pribadi yang berintegritas agar dapat mendapatkan reputasi yang baik sepanjang merinstis karir,” tegas pengusaha besar asal kota Makau, Tiongkok, itu. Penguasaan teknologi juga menjadi hal yang semestinya dimiliki oleh wisudawan. Tidak hanya tahu, tapi juga memanfaatkannya dengan baik. Pun dengan keterampilan manajemen dan observasi. Para lulusan juga tidak boleh takut untuk merangkul resiko dan membuat keputusan penting. “Jangan mudah tergoda dengan berbagai hal di dunia ini. Fokus dengan tujuan anda dan pastikan bisa mencapainya,” pesan John. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa kedatangan John ke Kampus Putih memiliki misi khusus. Salah satunya yakni bekerjasama dan mengimplementasikan perusahaannya dengan UMM. Dengan begitu, akan ada berbagai manfaat yang timbul berkat kolaborasi keduanya. Fauzan juga mengatakan, menjadi seorang sarjana merupakan awal dari kehidupan membangun karir di masa depan. Maka dari itu, UMM sudah menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi SDM unggul melalui Center of Excellence (CoE). Program ini didasari oleh satu pemikiran strategis dan futuristik, yakni realita bahwa tahun 2025-2038 Indonesia akan berada di fase bonus demografi. Di mana, penduduk Indonesia dengan angka usia produktif memiliki jumlah yang jauh lebih besar ketimbang non-produktif. Yakni mencapai 73% berbanding kurang dari 24%. “UMM tidak ingin fase bonus demografi yang dimiliki Indonesia malah menjadi malapetaka. Maka CoE hadir untuk membekali mahasiswa, menyiapkan diri untuk bisa bersaing di dunia kerja serta memiliki jiwa yang mandiri,” kata Fauzan. (ri/wil)
Jadi Ojol hingga Buka Bisnis Udang, Ini Kisah Inspiratif Wisudawan Berprestasi UMM

Pernah menjadi driver ojek online (ojol) hingga bercita-cita menjadi pelopor bisnis udang di Bojonegoro. Proses itulah yang sudah dialami oleh salah satu lulusan berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Agill Thevany. Adapun bisnis udangnya merupakan hasil dari penerapan program kelas keahlian Center of Excellence (CoE) budidaya Udang, yang menjadi implementasi nyata program pemerintah yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mahasiswa Prodi Akuakultur itu bahkan berhasil menyelesaikan studi sarjananya dengan Indeks Prestasi Kumulatif sangat memuaskan. Agill, sapaan akrabnya, mengatakan alasannya menjadi driver ojol untuk menambah uang saku. Selain itu juga berupaya meringankan beban orang tua dalam membiayai dirinya hidup di Malang. “Jadi ojol itu sebenarnya sudah saya lakoni dari sebelum kuliah. Kebetulan dulu ada waktu luang sembari menunggu hasil pengumuman masuk kuliah. Apalagi beberapa kali saya butuh uang sehingga saya coba mendaftar menjadi ojol. Alhamdulillah diterima dan saya teruskan saat menjadi mahasiswa,” ungkap Agill. Lebih lanjut, pemuda asal Bojonegoro itu juga memiliki ketertarikan mengembangkan budidaya udang di kota asalnya. Apalahi komoditas udang di Bojonegoro sangat jarang, bahkan mungkin tidak ada. Dari situlah ia melihat peluang besar yang bisa ia gali. Apalagi ia sempat diarahkan prodi Akuakultur UMM untuk magang di perusahaan tambak udang yang besar. Menurutnya, selama magang itulah ia bisa tahu banyak hal terkait bisnis udang. Ia diajari proses awal persiapan hingga akhirnya bisa memanen. “Saya jadi tahu banyak jenis udang serta jenis apa saja yang bagus untuk dijual. Dari pengalaman dan ilmu itulah, saya merintis usaha di dekat rumah saya Bojonegoro,” jelasnya. Adapun budidaya udang yang ia tekuni tergolong baru. Ia baru sekali memanen udang yang ia budidaya dan cukup menguntungkan. Apalagi di daerahnya, harga udang di pasar mencapai Rp60.000 untuk satu kilonya. “Saya cukup beruntung karena orang tua selalu mendukung apapun keinginan saya, termasuk untuk usaha budidaya udang ini. Sejauh ini sudah ada empat kolam udang di rumah. Adapun jenis udang yang saya kembangkan adalah vaname, karena memiliki usia budidaya yang lebih rendah, pertumbuhan lebih cepat, dan lebih kuat terhadap penyakit,” terang Agill. Terakhir, pemuda kelahiran 2001 itu berharap ilmu yang didapat di bangku kuliah tidak hanya menjadi angin lalu. Namun mampu mendorongnya untuk bermanfaat bagi sesama. Paling tidak ke orang-orang terdekat di kampungnya. “Semoga usaha udang saya ini semakin maju, sehingga saya bsia membuka lapangan pekerjaan dan membantu sesama. Sarjana tidak harus selalu bekerja di kantor atau gedung tinggi, tapi juga bisa membangun daerahnya menjadi lebih baik. Sekalipun perubahan yang dibuat berada dalam lingkup yang kecil,” pungkasnya. (zak/wil)
Dosen UMM Ciptakan Pakan Koi dengan Harga Terjangkau

Pakan ikan menjadi salah satu komponen biaya tertinggi dalam budidaya koi. Bahkan bisa mencapai sekitar 60% dari total biaya produksi. Harga pakan pun terbilang mahal, karena biaya untuk pakan induk produksi import dapat mencapai Rp250 ribu perkilogram dan pakan pembesaran koi mencapai Rp50 ribu perkilogram. Kondisi tersebut mendorong tim dosen program studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan inovasi dengan memproduksi pakan ikan koi mandiri berbasis bahan baku lokal. Salah satu anggota tim, Ganjar Adhywirawan, S.Pi. MP. menjelaskan, bahan baku lokal yang bahwa bahan baku lokal yang dibuat tak hanya berbiaya lebih terjangkau, namun memiliki kandungan nutrisi yang baik dan sesuai kebutuhan ikan koi. Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah tepung ikan, tepung magot, tepung bekatul, tepung cacing dan spirulina. “Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari inovasi ini, terutama dari aspek pengadaan pakan. Biaya pakan bisa ditekan serta ketersediaan pakan selama proses budidaya dapat terpenuhi. Apalagi bahan baku lokal sangat melimpah,” ucap Ganjar, begitu ia kerap disapa. Tahap pembuatan pakan diawali dengan melakukan penentuan bahan baku lokal. Kemudian penyusunan formulasi pakan yang dilanjutkan proses produksi menggunakan mesin pencetak pakan koi. Lalu melewati proses pengeringan dan terakhir pengemasan. “Rencananya pakan ikan koi ini akan diproduksi massal pada bulan September usai melalui uji coba terlebih dahulu pada bulan Juli mendatang,” lanjut Ganjar menjelaskan. Adapun inovasi dan penelitian pakan koi ini dimulai sejak 2022 lalu dan direalisasikan pada 2023 melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dalam bentuk kerjasama. Yakni kolaborasi antara Prodi Akuakultur dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan mitra dunia usaha dunia industri (DUDI), CV. Indokoi Malang. Pengembangan pakan ini juga tak lepas dari adanya Center of Excellence Koi yang didirikan oleh prodi akuakultur. Pakan ikan ini juga menjadi bukti bahwa CoE mampu memberikan inovasi dan terobosan baru untuk membantu para peternak koi. Jadi tidak hanya mencetak sumber daya manusia yang mumpuni, tapi juga menebar manfaat ke sesama. Ganjar juga menambahkan bahwa inovasi pembuatan pakan ikan koi merupakan hasil riset awal dari Dr. Hany Handajani, S.Pi, M.Si bersama tim dosen program studi akuakultur. Keefektivan penggunaan bahan lokal tersebut diharapkan memberi keuntungan lebih besar pada budidaya ikan koi. Sehingga tidak perlu mengkhawatirkan pengeluaran yang tinggi. “Keunggulan dari pakan produk kami tentunya biaya produksi yang lebih terjangkau. Harga jual juga murah serta penggunaan bahan baku berbasis lokal, bukan bahan import,” pungkasnya. (nia/wil)
Dubes Indonesia untuk Spanyol di AIK UMM: Sudah Waktunya Muhammadiyah Lebarkan Sayap ke Spanyol

Muhammadiyah miliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan lembaga Pendidikan Islam di Eropa, khususnya di Spanyol. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Spanyol, Dr. Muhammad Najib, M.Sc. dalam agenda Penyegaran Wawasan Keislaman dan Kemuhamamdiyahan dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam agenda yang dilaksanakan pada 17 Mei itu, ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar di dunia dan terkoordinasi dengan baik. Hal itu bisa menjadi modal awal dalam menarik masyarakat muslim di Spanyol. Apalagi antusiasme mereka akan Islam cukup tinggi. “Muhammadiyah ini sangat besar, visinya juga sangat jelas. Sudah saatnya untuk melebarkan sayap persyarikatan ke tanah Eropa, khususnya Spanyol,” kata Najib. Menurutnya, Spanyol menjadi tempat yang ideal bagi Muhammadiyah untuk melebarkan sayap. Hal itu tak lepas dari banyaknya kelompok sarjana yang mendalami sejarah Islam di sana. Apalagi melihat sejarah di mana Islam pernah berada di fase kejayaan saat menduudki Spanyol, tepatnya di Andalusia pada zaman Bani Abbasiyah abad ketujuh hingga sepuluh masehi. Pada masa itu pula, Islam mampu melahirkan banyak sekali tokoh yang menciptakan karya. Baik itu dari ilmu filsafat, astronomi, matematika, bahkan kedokteran. Alasan lainnya yakni ada banyak warga negara Indonesia (WNI) muslim yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Seringkali mereka membutuhkan wadah pendidikan agama Islam untuk anak-anaknya. Apalagi di Spanyol, hanya ada segelintir pendidikan Islam yang tersedia. “Maka, menurut saya, Muhammadiyah punya kemampuan untuk menjawab kebutuhan saudara muslim kita. Dengan sumber daya manusia dan amal usaha yang melimpah, saya rasa Muhammadiyah bisa melakukannya dengan baik,” tambah Najib. Terakhir, ia juga berpesan kepada mahasiswa serta dosen yang ada di Indonesia, termasuk UMM, untuk tidak bosan mengkaji secara mendalam ilmu agama islam. Pun dengan semangat untuk melanjutkan studi di luar negeri karena dapat membuka wawasan serta pengalaman menjadi minoritas. “Mahasiswa dan dosen Indonesia memang harus punya mimpi menimba ilmu di negeri orang. Dengan begitu, kita bisa tahu pandangan mereka dan bagaimana rasanya menjadi seorang minoritas. Bahkan mungkin kita juga bisa melihat bagaimana Islam dipelajari di negara-negara lain,” pungkasnya. (faq/wil)