Konsolidasi LHKP di UMM, Busyro Sebut Muhammadiyah Tidak Anti Politik

Muhammadiyah tidak anti partai politik karena dalma sejarah tidak ada ideologi yang mempertentangkan keduanya. Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) muhammadiyah, Dr. H. M. Busyro Muqoddas dalam konsolidasi Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) se pulau Jawa. Agenda yang dilaksanakan pada 17 Mei 2023 di Kapal Garden Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menjadi upaya Muhammadiyah dalam menyongsong tahun politik 2024. Adapun tujuan kegiatan itu adalah untuk memperkuat peran strategis LHKP pada ranah politik kebangsaan dan kebijakan publik. Busyro juga menyebut bahwa hubungan Muhammadiyah dan politik jelas termaktub dalam matan dan cita-cita Muhammadiyah. “Sebagai organisasi, Muhammadiyah tidak lepas dari intensitas habluminallah dan habluminannas. Pun dengan kegiatan politik terutama pada bidang politik kreatif, maka kita harus lebih hikmah. Kata hikmah di sini merupakan perpaduan antara kepekaan qolbun salim dan kepekaan akal waras atau akal budi,” ungkap Busyro. Lebih lanjut, ia mengatakan, walaupun Muhammadiyah bukan partai politik, namun memiliki tradisi demokrasi yang baik. Pun dengan proses demokratisasi. “Sebagai salah satu unsur Chief Strategy Officer (CSO), Muhammadiyah tetap akan memasang posisi menjaga jarak. Apalagi melihat politik praktis seperti sekarang. Muhammadiyah akan tetap konsisten untuk memperkuat jati dirinya, menebar kebermanfaatan pada masyarakat karena hal itu adalah amanat Allah dan amanat muktamirin,” tegas Busyro. Adapun konsolidasi tersebut menjadi yang pertama dan akan disusul di lima regional lainnya. Hingga nanti akan berakhir pada rakernas pada Agustus mendatang. Dalam kesempatan itu, LHKP Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim juga meluncurkan platform Maklumat.id. Situs ini merupakan media online yang menjadi corong umat, khususnya yang berkaitan dengan politik. Disisi lain, Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd. mengatakan, yang paling penting dari agenda konsolidasi ini adalah hasil akhir. Dalam hal mempersiapkan kader dari Muhammadiyah, LHKP perlu menggunakan paradigma yang berbeda, agar para kader nantinya bisa diterima dari khalayak manapun. “Seperti halnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang telah banyak melakukan kerjasama dengan banyak pihak. Misalnya saja dengan sederet pemerintah daerah untuk membantu dan berkontribusi langsung di daerah terkait. Memberikan masukan di banyak aspek dan sektor. Terbaru, UMM telah berkolaborasi dengan Pemkab Tabanan mengenai Subak di Bali,” ungkap Fauzan. Oleh karena itu, Fauzan menambahkan, inklusivitas atau cara pandang terbuka harus menjadi nafas dari LKHP. Apalagi jika akhir yang diinginkan lembaga ini adlaah hikmah. Dengan begitu, Muhammadiyah tidak hanya berkembang dari segi biologisnya saja, tetapi berkembang pula sosiologis dan ideologinya. (zak/wil)
FKIP UMM Sukses Cetak Lulusan PPG Terbanyak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi pelaksana Program Pendidikan Guru (PPG) dengan indeks kelulusan paling banyak. Hal itu ditegaskan Sekretaris Menteri Agama (Menag) Muhammad Sidik Sisdiyanto, S.Ag., M.Pd. dalam Pengukuhan dan Pengambilan Sumpah Profesi PPG dalam Jabatan Bagi Guru Madrasah Kementrian Agama, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, 20 Mei lalu. Ada 482 mahasiswa yang berhasil lulus dari berbagai bidang seperti biologi, bahasa Inggris, dan lainnya. Lebih lanjut, Sidik menegaskan bahwa guru merupakan garda terdepan dalam pendidikan. Bukan hanya melakukan transfer ilmu saja, namun juga harus menjadi contoh bagi para anak didik. Mengingat teknologi saat ini tidak dapat memberikan pendidikan akhlak secara komprehensif layaknya seorang guru. “Saat menemui masalah atau pertanyaan sulit, anak-anak sekarang cenderung lansgugn mencarinya di Google. Namun kecanggihan itu belum bisa memberikan pembelajaran akhlak. Di sinilah peran strategis guru yang harus selalu membimbing mereka,” ungkapnya. Sidik juga mengingatkan, guru memang harus mampu membawa nilai-nilai profetik dalam mendidik anak-anak. Apalagi Nabi Muhammad merupakan teladan bagi umat Islam. Ia juga memberikan sederet pesan yang dikutip dari K.H. Ahmad Dahlan. Salah satu kriteria guru yang kompeten adalah mereka yang mampu menguasai proses belajar dan mengajar dengan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan optimal. Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Sekretaris Panitia Nasional PPG Kemenag RI Dr. Mustofa Fahmi, M.Ed. ia menjelaskan bahwa ada sekitar 831 ribu guru aktif di madrasah. Sayangnya, masih ada 49 persen atau 431 ribuan guru yang belum tersertifikasi. Maka, peserta PPG yang sudah menyelesaikan program patut bersyukur bisa masuk dan mengikuti PPG di UMM. Ia juga menjelaskan menjelaskan, saat ini ada empat fokus utama yang dikembangkan dalam upaya meningkatkan kompetensi guru. Yakni peningkatan kompetensi, peningkatan kualifikasi, dan peningkatan karir. Pun dengan peningkatan di aspek kesejahteraan guru. Fahmi juga berpesan agar lulusan PPG tetap mengedepankan misi kebaikan serta mengoptimalkan ilmu yang didapat selama menjalani program. “Saya ucapkan selamat dan sukses. Kalau sebelum PPG siswa-siswa beristighfar saat bapak dan ibu masuk kelas, maka sekarang insyaallah mereka akan mengucap alhamdulillah karena bapak ibu merupakan guru-guru terbaik dan profesional,” katanya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa bonus demografi Indonesia diprediksi akan berakhir pada 2038. Maka, perlu adanya upaya masif untuk memanfaatkan momen tersebut dan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia. “Saat berbicara mengenai SDM, sudah barang tentu larinya akan ke pendidikan dan guru. Sehingga bapak dan ibu memiliki tanggungjawab mengembangkan SDM yang memiliki cerdan dan berkompeten melalui didikan yang baik dan benar,” tegasnya. Hal serupa juga dikatakan dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayano, M.M. Ia mengatakan bahwa artificial intelligence (AI) sudah meluas. Banyak sektor yang memanfaatkan AI dan bahkan manusia mulai tergantikan. Termasuk di dalamnya bidang pendidikan dan pengajaran. “Apakah peran guru akan tergilas? Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan bermintra, merangkul, serta memanfaatkan teknologi untuk mengatasi problem pendidikan yang sedang kita hadapi,” pungkas Trisakti. (Faq/Wil)
Upacara Hari Kebangkitan Keluarga Besar UMM

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkiprah dengan semangat kebangkitan. Berbagai upaya itu bahkan mendapat mendapat apresiasi dari The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), khususnya di bidang pendidikan dan sosial. Hal itu disampaikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam amanatnya pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2023 lalu. Lebih lanjut, Fauzan menilai, respon UNESCO menjadi hal yang strategis karena dapat meningkatkan kepercayaan dunia terhadap Kampus Putih UMM. Raihan itu tentu berkat sivitas akademika yang berpikir dan bertindak berdasarkan nilai-nilai kebangkitan. Sehingga muncul inovasi dan kreativitas yang solutif seperti pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) hingga solusi akan aspek pangan. Upacara tersebut juga dimaksudkan untuk mengenang kembali serta momen munasabah untuk membangkitkan nilai-nilai pantang menyerah yang dimiliki tokoh pejuang. “Peringatan hari kebangkitan nasional tentu saja mengingatkan kita kepada para tokoh perjuangan seperti dr. Soetomo bersama rekan seperjuangannya melalui organisasi yang didirikannya Budi Utomo. Melalui organisasi itu, rakyat Indonesia bersatu padu membangun kesadaran akan arti rasa nasionalisme untuk menjadi bangsa yang merdeka,” terang Fauzan. Menurut Fauzan, peradaban suatu negara dapat terus kokoh karena masyarakatnya yang terdidik. Melalui pendidikan, bangsa Indonesia mampu jadi bangsa yang merdeka dan tidak mudah dijajah oleh bangsa lain. Peran tersebut juga harus diambil oleh UMM dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia (SDM) terbaik yang mampu memajukan bangsa. “Peringatan ini juga menjadi semangat dan nafas warga UMM dalam mengerjakan amanah dan tanggung jawabnya. Mengerjakan dengan memasukkan unsur kreatif, inovatif, dan solutif. Tidak boleh lelah untuk bergerak maju menyongsong Indonesia yang lebih baik,” tegas Fauzan. Dalam kesempatan itu pula, Kampus Putih UMM memberikan sederet penghargaan bagi sivitas akademika yang memiliki prestasi. Di antaranya para dosen yang memberikan terobosan serta penelitian baru, karyawan dengan kedisiplinan tinggi, hingga mereka yang sudah mengabdi pada UMM selama lebih dari 25 tahun. Begitupun dengan para humas tingkat fakultas dan program studi yang dinilai mampu menyebarkan informasi yang baik pada masyarakat. Mereka mendapatkan penghargaan atas kinerja dan upayanya dalma berkiprah. Terakhir, yakni kepada para empat mahasiswa berprestasi yang sukses memaksimalkan potensi dan meraih beragam kejuaraan. (Zak/Wil)
Viral Penyakit Rabies, Begini Penjelasan Dosen FK UMM

Beberapa waktu lalu, viral sebuah video di media sosial di mana seorang anak menderita rabies berkat gigitan anjing. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami penyakit ini. Hal itu mendorong Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr. Gerry Permadi, Sp.PD. untuk menjelaskannya. Penyakit Rabies atau yang sering disebut sebagai penyakit ‘anjing gila’ adalah salah satu penyakit yang fatal apabila berhasil menjangkiti manusia. Bahkan angka kematian apabila orang yang tertular tidak ditangani dengan tepat hampir mencapai 100%. Oleh karena itu, penting untuk difahami apa penyebab dan bagaimana cara agar terhindar dari penyakit rabies tersebut. Adapun penyakit ini ditularkan melalui virus yang berada di tubuh hewan terkena rabies seperti anjing, kera, dan kucing. “Rabies biasanya ditularkan melalui gigitan terbuka atau kontak air liur dari hewan yang telah terkena virus rabies. Persentasenya sekitar 98% dari gigitan anjing dan hanya 2% sisanya yang berasal dari kera ataupun kucing,” jelasnya. Lebih lanjut, virus rabies akan menyerang susunan saraf pusat pada manusia dan dapat menimbulkan dampak yang sangat fatal. Gejala awal yang bersifat ringan dan sering ditimbulkan adalah demam dan nyeri di sekitar area gigitan. Sedangkan pada gejala berat, orang yang terjangkit akan mengalami halusinasi, mudah cemas, hingga ciri yang khas adalah sering mengeluarkan air liur berlebihan (hipersaliva). “Pada tahap yang sangat berat, orang yang terjangkit akan sampai pade fase paralisis, yakni tubuh tidak bisa bergerak layaknya stroke. Bukan hanya setengah yang lumpuh, melainkan keseluruhan badan hingga menyebabkan kematian,” jelas dokter Gerry, sapaan akarabnya. Mengenai tindakan penanganan, dr. Gerry menjelaskan bahwa langkah awal setelah terkena gigitan adalah mencuci area gigitan dengan air mengalir dan sabun selama 10 hingga 15 menit. Setelah itu, segera menuju ke rumah sakit terdekat untuk diberikan vaksin anti rabies atau yang sering dikenal dengan VAR. Apabila luka gigitan sangat serius dan mendekati kepala, maka akan ditambahkan serum anti rabies atau yang sering disebut dengan SAR. Di lain sisi, langkah preventif atau pencegahan bisa dilakukan karena lebih baik menghindari resiko. Di Indonesia, masih terdapat 26 provinsi yang menjadi wilayah endemis rabies. Hanya terdapat 7 provinsi yang telah dinyatakan bebas rabies. Adapun ciri-ciri hewan yang terjangkit rabies dapat dilihat lewat tingkah lakunya yang aneh, seperti mengeluarkan air liur berlebihan dan menggigit sembarangan. “Tips agar terhindar dari rabies adalah sering membersihkan kandang hewan peliharaan, melakukan vaksinasi apabila berpergian atau hendak beraktivitas di area yang liar. Termasuk saat berkunjung ke wilayah endemis rabies. Pun dengan menjaga hewan peliharaan agar tidak terkontaminasi dengan lingkungan liar,” pungkasnya mengakhiri. (lib/wil)
Hari Buku Nasional, RBC Beberkan Sejarah Hari Buku

Sebagian masyarakat ada yang tidak tahu bahwa 17 Mei merupakan tanggal diperingatinya Hari Buku Nasional. Peringatan ini juga menunjukkan betapa pentingnya buku dalam perkembangan sebuah negara. Hal itu ditegaskan oleh Direktur Riset Rumah Baca Cerdas (RBC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Faizin, M.Pd. Adapun hari buku berawal dari gagasan Abdul Malik Fadjar, menteri yang menjabat pada masa pasca orde baru. Peringatan yang ditetapkan pertama kali pada 17 Mei 2002 ini menjadi bentuk keprihatinan Malik Fadjar atas rendahnya minat baca dan literasi masyarakat Indonesia. Apalagi minat baca menjadi salah satu faktor untuk menambah pengetahuan dan perkembangan dunia. Lebih lanjut, Faizin menegaskan bahwa buku juga memiliki peran strategis dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sayangnya, hadirnya modernisasi berdampak pada menurunnya minat baca. Maka, perlu adanya kesadaran kolektif akan keterbukaan wawasan. Utamanya dalam upaya melahirkan penerus bangsa yang unggul. Banyak hal yang sudah dilakukan oleh RBC UMM selama ini. Faizin menjelaskan bahwa semangat Pak Malik dalam rangka meningkatkan literasi masyarakat terus dikobarkan RBC melalui berbagai aktivitas. Misalnya dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan akses buku berkualitas. “Kami juga mengirimkan mobil perpustakaan keliling seperti Mobil Kamis Membaca (KaCa) dan Mobil Terbang setiap minggu. Sehingga mereka yang di daerah-daerah dan pelosok juga bisa mendapatkan akses bacaan yang bagus,” tambah pria yang juga Dosen Pendidikan Bahasa itu. Di samping itu, RBC juga memiliki komunitas bernama Teman Baca yang memiliki ketertarikan dengan buku. Khususnya ribuan buku yang disediakan di gedung RBC UMM. Teman Baca juga terus mengembangkan jaringannya dan mengajak masyarakat untuk datang ke lokasi. Menariknya, di RBC juga menyediakan café yang bisa didatangi. Sehingga pengunjung bisa menikmati kopi sembari membaca koleksi buku yang ada. “Semoga berbagai aktivitas dan program yang kami lakukan sedikit banyak berpengaruh akan kualitas dan kuantitas minat baca di Indonesia, khususnya Malang. Saya juga mendorong anak-anak muda untuk mencintai buku danmengaplikasikan apa yang sudah dibacanya. Anak muda adalah penerus bangsa, jika tidak mencintai buku dan isinya, bagaimana mereka bsia memimpin Indonesia di masa depan?” katanya mengakhiri. (wil)
Komitmen Internasionalisasi, Fisioterapi Gandeng Universitas Mahidol Thailand

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan aktivitas internasionalnya. Kali ini datang dari jurusan Fisioterapi yang bekersama dengan Universitas Mahidol (MU) Thailand. Salah satu kolaborasinya adalah student exchange, bukan hanya mahasiswa UMM yang ke Thailand, tapi juga sebaliknya. Terhitung ada dua mahasiswa Thailand yang datang dan belajar di UMM, dan beberapa dari Kampus Putih yang berangkat ke Negeri Gajah Putih. Menariknya, program ini tidak hanya meningkatkan skill dan wawasanterkait fisioterapi bagi mahasiswa. Tapi juga membekali mahasiswa untuk menciptakan komunitas-komunitas fisioterapi yang mampu mengedukasi masyarakat umum. Termasuk pengetahuan dasar seputar fisioterapi. Hal itu ditegaskan Siti Ainun Ma’rufa, S.Ft., M.Sc. selaku penanggungjawab dari program internasional tersebut. “Jadi manfaatnya tidak hanya didapat oleh mahasiswa yang berangkat ke Thailand atau mereka yang ke Indonesia. Tetapi juga berbagi ilmu ke para pekerja yang bekerja dengan posisi stagnan serta jarang bergerak. Misalnya saja seperti pembatik atau pengrajin. Jadi mereka bisa tahu bagaimana cara meregangkan otot, posisi yang baik, dan lainnya,” tambahnya. Ainun, sapaan akrabnya, menilai, masih banyak masyarakat yang mendapatkan ilmu dassar fisioterapi untuk kesehatan badan. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga Thailand. Seperti misalnya banyak yang merasakan nyeri di sendi, otot, dan lainnya. Maka, para praktisi dan mahasiswa bisa masuk ke ranah tersebut. Terkait kegiatan selama pertukaran pelajar, ia menjelaskan ada beberapa aktivitas yang harus diikuti mahasiswa. Mulai dari perkuliahan di kelas hingga observasi dan praktek lapangan di klinik-klinik kedua negara. “Mereka juga diarahkan untuk memberikan penyuluhan ke berbagai lapisan masyarakat sebagia latihan terjun ke masyarakat. Memang akan ada kesulitan terkait bahasa, tapi tentu banyak solusi yang dapat dilakukan,” tambahnya. Terakhir, dia berpesan kepada para akademisi serta praktisi fisioterapi untuk gencar melakukan edukasi kepada masyarakat. Mengingat bahwa edukasi terkait dengan ilmu-ilmu fisioterapi masih sangat jarang ada di masyarakat umum. “Dengan begitu, mereka bisa tahu posisi yang baik untuk bekerja, pentingnya stretching, dan lain sebagainya,” pungkas Ainun. (faq/wil)
Apakah Mie Instan Benar-benar Berbahaya? Ini Kata Dosen UMM

Sebagian besar masyarakat Indonesia menggemari mie instan. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menyukainya. Namun ada pendapat yang menili bahwa konsumsi mie instan kurang begitu baik bagi tubuh, bahkan membahayakan diri. Melihat fenomena itu, Dosen Ilmu Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Devi Dwi Siskawardani, S.TP., M.Sc. memberikan penjelasannya. Ia mengingatkan ada beberapa hal yang harus diwaspadai saat mengonsumsi penganan mie instan. “Banyak orang Indonesia yang mengkonsumsi mie dengan dicampur dengan nasi. Padahal cara itu membahayakan kesehatan karena bahan baku mie instan tinggi akan karbohidrat dan gula. Mengonsumsinya terali banyak akan meningkatkan resiko beberapa penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, sakit kepala, gangguan hati, bahkan obesitas,” tambahnya. Selain itu, pada bagian bumbu mie instan juga terdapat kandungan monosodium glutamat (MSG) yang tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, tentunya akan menyebabkan penyakit pada tubuh. Maka dari itu, ia menyarankan agar masyarakat tidak menuang semua bumbunya. Hanya sebagian saja, kemudian menambahkan bumbu-bumbu alami. “Misalnya dengan menambah bawang-bawangan. Kita juga bisa menambahkan sayuran serta daging agar dapat memenuhi kebutuhan gizi,” tambahnya. Devi pun menyarankan saat mengolah mie instan, air rebusan pertama sebaiknya dibuang. Utamanya untuk mie rebus. Ia melarang untuk mencampurkan air rebusan langsung dengan bumbu. “Tentu ada alasan kenapa saya mengimbau hal ini. Yakni agar kandungan bahan kimia pada mie instan tidak masuk ke dalam tubuh, tapi dibuang. Instensitas konsumsi mie juga tidak boleh terlalu sering. Maksimal dua kali dalam seminggu,” tambahnya. Devi juga menyebut beberapa inovasi makanan, termasuk mie instan yang lebih sehat. Yakni denagn mengurangi kadar dari bahan kimia tertentu. Misalnya jumlah kalorinya yang lebih rendah, tidak memakai MSG hingga menggunakan pewarna alami dengan memanfaatkan sayuran ataupun buah-buahan. Walaupun diklaim sehat, konsumsinya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. “Saat ini Inovasi pembuatan mie instan sangat beragam. Ada yang dibuat dari umbi-umbian, tahu, dan lain sebagainya. Adapula mie isntand berbahan baku daun kelor yang bertujuan menghasilkan antioksidan,” paparnya mengakhiri. (nov/wil)
Pakar Sepak Bola UMM Beberkan Faktor Kesuksesan Timnas Juara SEA Games 2023

Keberhasilan Indonesia mengalahkan Thailand di final sepakbola SEA games 2023 Kamboja disambut euforia meriah masyarakat. Apalagi raihan tersebut menjadi pelepas dahaga untuk sepakbola Indonesia yang terakhir kali mendapatkan emas pada 32 tahun lalu. Banyak yang menilai bahwa kesuksesan itu tak lepas dari mentalitas dan kolektivitas para pemain. Hal serupa juga disampaikan pengamat sepak bola Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah. Menurutnya, mentalitas garuda muda patut diakui jempol. Meski kemenangan yang di depan mata buyar berkat gol menit akhir Thailand, tapi mereka masih terus berjuang hingga memastikan kemenangan di babak tambahan waktu dengan skor 5-2. Menurutnya, final tersebut bukan hanya pertandingan tentang sepakbola, tapi juga soal harga diri. Siapa yang bisa konsisten dan konsekuen akan memetik hasil terbaiknya. Penentuan kemenangan juga seringkali terjadi di menit krusial. Yakni berkat gol-gol di 15 menit awal maupun akhir. Terbukti dengan banyaknya gol yang tercipta di menit-menit tersebut. Terkait para pemain yang sempat dipanggil ke timnas senior, Yunan mengatakan bahwa itu merupakan sebuah kelebihan. Namun faktor utama yang menentukan kemenangan adalah kolektivitas para pemain. Timnas juga tidak bergantung pada satu atau dua pemain saja, seperti Marselino atau Witan. “Coba liat permainan Haykal, Taufany, dan Ananda Raehan. Mereka memang bukan berasal dari tim besar atau starter di klubnya. Namun ketenangan dan kerjasama yang apik bisa mereka lakukan di lapangan. Kombinasi mereka dengan Marselino, Sananta, atau bahkan Rizky Ridho patut diacungi jempol,” kata penulis Buku Filosofi Bola itu. Yunan, sapaannya, juga menilai bahwa pertumbuhan sepakbola Indonesia di tiga tahun terakhir dinilai terlalu cepat. Bahkan di luar ekspektasi negara-negara lain. Terutama dalam hal teknologi, cara bermain, makanan, dan lainnya. “Beberapa tahun terakhir, Vietnam dan Thailand lah yang seringkali dianggap sebagai yang terkuat di Asia Tenggara. Namun sayang, kini pertumbuhannya melambat bahkan bisa saya bilang stagnan. Malah Timor Leste dan Kamboja yang terlihat pesat,” tambahnya. Meski demikian, Yunan menilai bahwa pertumbuhan ini bukan mutlak karena sosok tertentu seperti Shin Tae Yong (STY) maupun Indra Syafri. Namun dengan hadirnya STY, pengelolaan sepakbola sedikit demi sedikit berubah. Jika dulu pola pikir sepakbola Indonesia adalah hasil, namun kini bergeser ke pemahaman bahwa sepakbola adalah proses. Proses panjang yang dimulai dari dasar seperti gizi, makanan, pemanasan, cara bermain, teknik dan lainnya. Pengamat sepakbola yang juga dosen UMM itu sempat membahas mengenai potensi pemain yang hilang saat kembali ke klub. Bagaimana pemain yang bermain bagus di timnas diharapkan bisa moncer di klub masing-masing. Namun karena kurangnya jam terbang, mereka akhirnya tenggelam oleh pemain senior lain. Apalagi klub-klub di Liga 1 Indonesia pragmatis dan fokusnya hanya juara. Menurut Yunan, banyak posisi strategis klub yang diisi oleh pemain-pemain asing sehingga menekan potensi pemain lokal untuk bersinar. Padahal seharusnya, klub memberikan porsi kepada pemain muda agar bisa berkembang dan mampu melahirkan pemain berkualitas untuk timnas. “Coba kita lihat, ada banyak posisi striker yang diisi pemain asing. Pemain tengah dan winger bagus juga jarang kita liat di Liga 1. Mungkin, posisi yang masih aman untuk pemain lokal saat ini hanyalah kiper. Terbukti dengan melimpahnya stok kiper kita di berbagai kategori umur dan tim senior,” katanya mengakhiri. (wil)
Merekonstruksi Subak Bali, Pemkab Tabanan Gandeng UMM

Demi menjaga kelestarian warisan budaya Subak di Bali, Pemerintah Kabupaten Tabanan menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengembangkannya. Bahkan Kampus Putih UMM telah mengirimkan tim survei penguatan pengelolaan Subak berkelanjutan pada 7-13 Mei lalu ke Tabanan. Adapun Subak dikenal sebagai organisasi wadah bermusyawarah para petani untuk mengatur sistem tata kelola pengairan pertanian di Bali. Masyarakat Bali meyakini, tanpa campur tangan Subak, sistem pembibitan dan produk pertanian tidak akan maksimal. Menariknya, Subak yang ada sejak abad ke 9 Masehi itu telah diakui oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), tepatnya pada 29 Juni 2021 lalu. Sayangnya, peran Subak terus berkurang akibat pengaruh global. Sehingga tatakelola pertanian dan irigasi seringkali kurang mendapat perhatian. “Maka, UMM dan Pemkab Tabanan bekerjasama untuk merekonstruksi Subak yang ada. Apalagi pertanian merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Tabanan, Bali,” jelas Bupati Tabanan I Komang Sanjaya. Ia juga merasa senang dan mengapresiasi adanya diskusi dengan para ahli UMM. Bahkan pihaknya siap membuka kerjasama-kerjasama lain. Tidak hanya di sektor pertanian tapi juga sektor strategis lainnya. Selama ini, UMM melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) telah banyak bekerja sama dengan sederet Kepala Daerah. Utamanya untuk berkontribusi nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan Pemkab Bondowoso misalnya, Tim UMM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP, telah berhasil mendampingi kelompok tani padi tradisional yang kini beralih ke pertanian organik. Hingga saat ini, ada lebih dari 164 hektar sawah yang telah bersertifikat pertanian organik. Di samping itu, ada dua sektor yang dikembangkan bersama Pemkab Jember. Yakni mandiri pangan melalui program budidaya pertanian organik dan mandiri energi yang berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hal serupa juga sudah dilakukan di banyak daerah, baik kabupaten maupun kota. Ditemui secara terpisah, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa UMM harus menjadi lembaga problem solver atas persoalan yang terjadi di masyarakat. Hal itu tak lepas dari realitas bahwa UMM merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem masyarakat. “Fardu ain hukumnya bagi UMM untuk memberikan solusi atas persoalan masyarakat. Tidak ada alasan bagi UMM untuk tidak berkotnribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tukasnya. Lebih jauh, Fauzan mengungkapkan bahwa di era yang serba cepat, perlu kemampuan berpikir cepat dan ebrtindak antisipatif. Maka dari itu, UMM juga telah menjalankan program Center of Excellence (CoE) yang menjawab persoalan pengangguran di Indonesia. Termasuk di dalamnya sektor-sektor riil seperti pangan, energi, pendidikan, sosial dan lainnya. Kampus Putih juga memiliki progra P3M yang terdiri dari para dosen dengan berbagai keahlian yang mumpuni. (Wil)
Ini kata Dosen Psikologi UMM Soal Hilangnya Semangat Gara-gara Putus Cinta

Saat mengalami putus cinta, seseorang biasanya merasa malas melakukan berbagai hal. Termasuk bekerja maupun belajar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ibnu Sutoko, S.Psi., M.Psi memberikan penjelasannya. Menurutnya, cinta merupakan salah satu kebutuhan psikologis manusia. Maka dari itu, banyak tokoh psikologi yang mengatakan bahwa cinta dan kasih sayang merupakan suatu kebutuhan yang harus terpenuhi. Ketika seseorang kehilangan suatu kebutuhan di dalam dirinya, maka ini dapat menyebabkan seseorang menjadi malas. Keadaan tidak bersemangat ini berhubungan dengan kebutuhan afeksi. Jika tidak segera diatasi dengan benar, maka hal ini akan berdampak serius. Seperti munculnya stres yang menyebabkan banyak pikiran, susah tidur hingga tidak berselera makan. “Ketika fenomena itu tidak ditangani dengan baik, maka akan berubah menjadi sebuah depresi. Mood seseorang juga akan cenderung menjadi negatif, sering menangis, dan keinginan untuk bersosial menurun. Hal ini tentu dapat berdampak buruk pada kehidupan sehari-hari,” tambahnya. Ibnu, begitu ia kerap disapa, menyampaikan bahwa orang yang patah hati harus segera mengidentifikasi emosi yang dirasakan and mengukur kesedihan. Biasanya, mereka yang larut dalam kesedihan adalah mereka yang tidak mampu mengeluarkan emosi atau salah memilih solusi dalam permasalahannya. “Karenanya, jika ada masalah, coba untuk bercerita pada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang tepat untuk mengeluarkan emosi kita. Setelah menyalurkan emosi yang dipendam secara verbal, langkah selanjutnya adalah melakukan hal-hal yang positif sebagai pengalihan atas emosi negatif yang dialami ketika putus cinta. Kemudian perlahan emosi negatif akan menghilang. Namun, perlu dicatat bahwa upaya ini harus dibarengi dengan penyelesaian masalah,” katanya. Ibnu juga mengeaskan bahwa melupakan kenangan yang sudah terjadi akan sangat sulit. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menerika kesedihan coba untuk menerima kesedihan tersebut. Dengan demikian, diri akan merasa lebih lega dengan keadaan. “Kemudian cobalah untuk kembali memulai kehidupan nyata. Menjalani hari agar kehidupan bisa kembali ke jalur yang tepat. Misalnya dengan kembali menikmait hobi atau mencoba mencapai target,” katanya. Ia juga mewanti-wanti agar mereka yang putus cinta tidak melakukan hal negatif saat sedih. Kalaupun segala upaya sudah dilakukan, namun belum ada perubahan, ia menyarankan agar mereka mendatangi tenaga profesional seperti psikolog untuk membantu. (Fat/Wil)