Dosen UMM Beri Saran Perbaikan Jalan yang Tepat

Perbaikan dan pembangunan jalan menjadi bahasan di berbagai media sosial. Mulai dari jalanan yang rusak, hingga perbaikan dalam waktu semalam. Banyak yang bertanya, bagaimana membangun sebuah ruas jalan yang cocok dan awet? Begini penjelasan Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir. Alik Ansyori Alamsyah, M.T. Menurutnya, sebelum memperbaiki jalan, pemerintah harus melihat berbagai aspek. Misalnya saja lalu lintas harian rata-rata (LHR), daya dukung tanah, hingga beban repetisi dari jalan tersebut. “Saya ambil contoh Lampung. Seperti yang kita lihat, kendaraan yang melintasi jalan di sana rata-rata adalah kendaraan berat, sehingga saya kira tidak bisa membangun ulang jalan dalam waktu yang cepat,” tegasnya. Dalam prakteknya, perencanaan pembangunan jalan tidak bisa sesederhana itu. Pemerintah harus mengetahui beban repetisi jalan yang akan dibangun sebelum menentukan ketebalan jalan. Adapun beban repetsi adalah hitungan pengulanan beban per-harinya dari sebuah jalan. Menurut Alik, jalan di Lampung tidak begitu cocok menggunakan fleksibel pavement, yaitu pengerasan dengan campuran aspal sebagai lapis permukaan tanah dan bahan berbutir sebagai pelapis bawah. Ia menyarankan agar pembangunan itu menggunakan rigid pavement (kekerasan kaku). “Berbeda dengan fleksibel pavement, rigid pavement menggunakan pelapis semen sebagai bahan pengikatnya dan pelat beton yang diletakkan di bagian bawah sebagai bahan alasnya. Jadi bentuknya seperti cor. Meski demikian, hal ini harus mempertimbangkan ketebalannya, berapa dan data lalu lintas kendaraan perharinya,” jelasnya. Ia juga menyebut bahwa LHR memiliki peran penting untuk usia jalan yang dibangun. Biasanya umur rencana dari rigid pavement bisa bertahan hingga 20 tahun, berbeda dengan fleksibel pavement yang harus dirawat sekitar 3-4 tahun sekali. Meski demikian, tiap pilihan jenis jalan memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dari rigid pavement adalah modal awal yang cukup besar untuk membangun ruas jalan yang sedikit. Sementara itu, fleksibel pavement membutuhkan modal lebih kecil. “Pembangunan dengan jenis rigid pavement juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi lebih awet. Saya rasa 3-4 bulan saja tidak akan selesai karena harus memperbaiki pondasinya. Artinya juga harus tahu daya dukung tanah terkait,” tambahnya. Terakhir, Alik mengatakan bahwa perbaikan jalan trans bukan hanya tanggung jawab daerah, tapi juga ada campur tangan pemerintah pusat. Hal itu tak lepas dari kenyataan bahwa jalan trans adalah miliki negara, sehingga perawatan dan pembangunan juga harus dari negara secara langsung. (tri/wil)

Songsong Indonesia Emas 2045, Mendag RI Sebut CoE UMM Terobosan Apik

Pada tahun 2045 yang bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan, Indonesia diprediksi akan menjadi negara maju. Satu kunci yang harus dipegang dan diusahakan adalah menguasai perekonomian dunia. Hal itu ditegaskan Menteri Perdagangan Republik Indonesia (RI), Dr. (H.C) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 13 Mei 2023 lalu. Talkshow yang bertajuk “Restorasi Sumber Daya Manusia Unggul Untuk Kemandirian Ekonomi” itu diikuti oleh ribuan mahasiswa di Dome Kampus Putih. Lebih lanjut, ia juga mengapresiasi Center of Excellence (CoE) garapan UMM karena kontribusinya mencetak SDM unggul. Hal itu menunjukkan upaya serius UMM untuk berkontribusi mewujudkan Indonesia emas 2045. “Program CoE ini adalah terobosan apik dan dijalanlan oleh kampus yang bagus pula yakni, UMM,” tambahnya. Zulkifli, begitu ia kerap disapa, menjelaskan, pandemi Covid-19 yang mengguncang perkenomian dunia memberikan dampak yang tidak kecil. Beruntung, Indonesia menjadi negara yang masih mampu bertahan. Bahkan memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi yaitu 5,3 %, dengan angka inflasi yang relatif rendah yaitu 5,51 %. Angka ini lebih baik jika dibandingkan negara lain. Hal ini tentu menjadi modal dasar yang kuat bagi perekonomian Indonesia,” ungkapnya. Berdasarkan data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2019, Indonesia menempati peringkat kelima di dunia terkait Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product. Bahkan pada tahun 2022, Indonesia mencatat rekor baru untuk ekspor dan surplus neraca perdagangan yaitu senilai USD 54,53 Miliar. “Pada tahun 2045, dunia benar-benar akan berubah. Kekuatan ekonomi dunia secara berurutan akan diambil alih oleh Tiongkok, India, dan Amerika. Pun jika memang sesuai skema, Indonesia akan bergabung menjadi negara super power dan berada di urutan keempat dunia,” tegasnya. Maka dari itu, pemerintah terus melakukan kerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai negara. Salah satunya dengan United Arab Emirates (UAE). Menurutnya, UAE merupakan negara modern sebagai pusat jasa keuangan syariah. UAE juga menjangkau pasar halal ke 57 negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Dengan begitu, cita-cita Indonesia menjadi negara Halal Lifestyle Global akan semakin mudah terwujud jika berkolaborasi dengan UEA. “Selain itu SDM di Indonesia harus terus dilatih dan dikembangkan agar memiliki daya saing. Indonesia memiliki anak muda dengan segudang talenta yang luar biasa dan harapan besar bangsa ada pada anak muda. Saya kira CoE UMM bisa turut serta menjawab ketersediaan SDM ini,” harap Zulkifli. Hal yang tak jauh berbeda disampaikan Rektor UMM Dr. Fauzan M. Pd. Menurutnya, Indonesia harus bisa memnafaatkan bonus demografi dengan baik hingga nanti 2045 datang. Oleh karena itu, UMM membuat  program CoE sebagai jawaban kegelisahan para lululsan perguruan tinggi. Utamanya dalam upaya menjadi pribadi unggul yang mampu bersaing di dunia kerja. “Ada 54 CoE yang sudah dijalankan UMM. Tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa UMM saja, tapi mahasiswa non UMM dan luar negeri juga bisa bergabung. Sekalipun mereka berasal dari jurusan yang berbeda dengan CoE terkait. CoE adalah solusi nyata unutk menjawab tantangan masa depna,” tegas Rektor asal Kediri itu. Disisi lain, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM, Rifqi Al-Akbar mengatakan, dunia sedang dihadapkan dengan adanya resesi. Namun, anak muda harusnya tidak menganggapnya sebagai halangan, namun sebagai tantangan baru. Utamanya dalam melahirkan berbagai terobosan perkembangan ekonomi Indonesia. “Dan UMM turut berkontribusi nyata untuk membantu anak-anak muda dan mahasiswa. Mulai dari menggagas CoE, membangun Halal Center untuk memperkuat halal style global yang dicanangkan pemerintah, dan lain sebagainya. Tentu anak muda juga menjadi basis besar dalam mewujudkan Indonesia emas 2045,” pungkasnya. (zak/wil)

Hermawan Kartajaya, Pakar Marketing Internasional Apresiasi CoE UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mampu bergerak mandiri dengan mengembangkan berbagai usaha di berbagai sektor. Mulai dari perhotelan hingga pariwisata. Bahkan menciptakan terobosan bidang sumber daya manusia, Center of Excellence (CoE). Hal itu diungkapkan oleh pakar pemasaran internasional, Hermawan Kartajaya dalam kuliah umum entrepreneural marketing pada 13 Mei 2023 lalu. Ia yang juga founder dan chairman MCorp dan ACSB Indonesia itu, mengapresiasi program CoE yang digarap oleh Kampus Putih UMM. Menurutnya, anak muda bisa belajar banyak dari program itu dan lebih mudah terserap dalam dunia kerja. “UMM ini unik karena tidak hanya fokus pada pendidikan saja, tapi juga berbagai hal. Melakukan manajemen dengan apik serta melahirkan inovasi-inovasi terkait kewirausahaan. Ini menjadi kelebihan dan daya tarik tersendiri,” tambahnya. Hermawan juga sempat menyinggung mengenai perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) di seluruh Indonesia. Menurutnya, PTM-PTM ini bisa lebih fleksibel dalam mengembangkan institusi, utamanya untuk menjawab kebutuhan era 5.0. “Saya rasa PTM, termasuk UMM relatif dapat lebih cepat tanggap dan menyediakan solusi di tengah problem masyarakat,” katanya menegaskan. Kedatangan Hermawan juga menjadi bukti bahwa meskipun UMM adalah kampus dengan nilai-nilai Islam, namun Kampus Putih selalu menjunjung tinggi inklusifitas. Mengundang pembicara yang memiliki background agama berbeda, ras yang berbeda, bahasa yang berbeda dan lainnya. Saling berbagi ilmu dan mampu berkolaborasi demi memajukan negeri. Hal senada juga disampaikan CEO MarkPlusInc. Dr. Jacky Mussry. Ia menjelaskan bahwa kunci kesuksesan berwirausaha itu diawali dengan perencanaan yang baik. Kemudian juga harus bisa melihat potensi pasar, optimalisasi sumber daya hingga pembukuan catatan keuangan yang baik. Semua itu perlu dilakukan agar tidak muncul gambling saat membuka sebuah bisnis. “Hal-hal inilah yang seringkali terlewatkan oleh para pebisnis baru. Hal-hal kecil dan detail yang seharusnya sudah dikuasai dan dijalankan sejak bisnis didirikan,” katanya Menurutnya, bisnis bukanlah suatu hal yang dimulai dari hal-hal yang besar seperti start-up. Namun bisa juga dimulai dari hal-hal kecil seperti jual beli online dan membuka toko sederhana. Pola pikir itulah yang harus ditanamkan di benak para anak muda agar berani dan mampu membuka bisnis. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan, banyak orang yang ingin membuka bisnis, tapi hanya berhenti pada tahap keinginan. Mereka tidak mau dan sukar untuk bergerak mewujudkan keinginannya. “Berkeinginan tidaklah cukup. Harus diiringi dengan keberanian untuk mulai bergerak. Mencari peluang, mencari partner, berkolaborasi, dan lain sebagainya. Anak-anak muda, termasuk mahasiswa UMM harus berani melangkah dan mengambil risiko. Dengan begitu, bisni yang dimuali sejak dini akan memberikan banyak pengalaman agar bisa mengembangkannya di masa depan,” tegasnya mengakhiri. (faq/wil)

UMM Bangun C-Junction untuk Menunjang CoE

Dalam menunjang sarana dan prasarana serta kegiatan dari program Center of Excellence (CoE), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siapkan Komplek C-Junction sebagai pusat segala kegiatan CoE. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. dalam rapat yang dilakukan oleh jajaran petinggi UMM bersama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari serta tim kontraktor yang melakukan pembangunan komplek tersebut. Rektor UMM asal Kediri tersebut menyampaikan bahwa ke depan, program CoE tidak hanya diikuti oleh mahasiswa dari UMM saja, namun mahasiswa non-UMM sekaligus mahasiswa asing juga dapat mengikutinya. Hal itu menjadi perwujudan inklusifitas Kampus Putih yang senantiasa melakukan pengabdian bagi bangsa yakni dengan mencetak SDM unggul. Sekaligus menjadi upaya untuk internasionalisasi pendidikan dan kampus. Fauzan, sapaan akrabnya, menegaskan, UMM tidak hanya memikirkan aspek arsitektur gedungnya saja, namun juga memperhatikan kelestarian sumber daya alam di sekitarnya. Salah satunya suasana dan ekosistem yang sehat serta nyaman untuk belajar. “Dengan begitu, proses pelatihan dan transfer ilmu bisa didapat dengan maksimal berkat dukungan situasi di C-Junction,” tambahnya. Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) David Santoso menegaskan komitmen tinggi kepada UMM dalma proyek pembangunan ini. David bersama tim akan memaksimalkan pengerjaan, mulai dari tahap perencanaan hingga akhir. “Saya bersama tim akan berusaha semaksimal mungkin dalam mengembangkan dan melaksankaan proyek pembangunan ini sesuai dengan ekspektasi UMM. Dengan begitu, proses yang ada di C-Junction bisa sesuai harapan dan mampu mencetak SDM Unggul seperti yang direncanakan,” ujarnya. Hal menarik juga disampaikan oleh Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) UMM Ir. Erwin Rommel, M.T. Ia mengatakan, meski program CoE merupakan bentuk dari manifesto internasionalisasi, namun UMM tidak melupakan spirit perjuangan Muhammadiyah. Di C-Junction nantinya ada gedung pusat dakwah serta asrama-asrama bagi mahasiswa mukim dan asing. “Meskipun ini proyek pembangunan CoE yang arahnya ke internasionalisasi, tapi kita tidak lupa bahwa UMM adalah kampus Muhammadiyah. Sehingga sebisa mungkin akan disediakan Islamic Center yang ada di kompleks C-Junction. Dengan begitu, tidak hanya melahirkan SDM yang skillful, tapi juga memiliki akhlak yang mulia,” pungkasnya mengakhiri. (faq/wil)

Bisma, Mahasiswa UMM yang Siap Mengabdi ke Masyarakat usai Pulang dari Turki

Menjadi mahasiswa pertukaran mungkin tidak pernah terpikirkan oleh oleh Bisma Arifudin, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia kini berhasil mendapatkan kesempatan belajar satu semester di Middle East Technical University (METU), Turki, menceritakan sederet kisahnya. Hal pertama yang membuatnya takjub adalah kemudahan transportasim salah satunya kereta bawha tanah. Bahkan kereta tersebut melewati METU, sehingga memudahkannya untuk bepergian ke beberapa lokasi. Baik untuk berbelanja maupun berkunjung. Ia juga dimudahkan dengan penggunaan cashless yang tersedia di mana-mana. Meski begitu, Bisma, sapaanya, merasa nyaman bisa menimba ilmu di Turki. Salah satu alasannya adalah kemudahan fasilitas dan teknologi yang disediakan di sana. Misalnya saja terkait video pmebelajaran yang bisa diakses dengan mudah di platform kampus. Dengan begitu, ia bisa mudah mencari kembali video kelas yang pernah ia ikuti dan mempelajarinya. “Kami juga bisa dengan mudah mengumpulkan tugas di platform kampus. Jadi tidak perlu repot-repot banyak ngeprint dan lebih paperless. Kartu mahasiswa kami juga bsa digunakan sebagai e-money, sehingga memudahkan kami untuk membayar apapun,” tambah mahasiswa asal Singosari itu. Hal menarik lainnya adalah perbedaan kebiasaan belajar antara mahasiswa Turki dan Indonesia. Di sana, para mahasiswa lebih individualis dan belajar sendiri-sendiri. Ia jarang menemui ada yang belajar berkelompok. Hal itu sempat membuatnya sedikit kesulitan menjalin pertemanan antara mahasiswa. “Tapi seiring berjalannya waktu, saya mencoba mendekati mahasiswa asli sana dan bercerita banyak hal. Kami juga sempat belajar bersama sehingga memudahkan adaptasi saya di Turki,” katanya. Mahasiswa manajemen itu juga cukup kaget karena di Turki, para sebagian besar mahasiswa laki-laki lebih ambisius dan berusaha keras mencapai nilai terbaik. Berbeda dengan Indonesia yang lebih didominasi mahasiswa perempuan, utamanya terkait tugas dan berlomba mendapat nilai yang bagus. Satu pengalaman menarik yang ia dapatkan adalah mengunjungi Cappadocia. Di sana ia melihat banyak sekali balon udara yang menghiasai langit. Hal itu membuatnya takjub. Beruntung ia tidak sendiri, Bisma berangkat bersama kawan-kawan internasionalnya. Adapun keberangkatannya merupakan hasil kerjasama bilateral antara Kampus Putih UMM dengan METU, Turki. Bisma juga bersyukur mendaftarkan diri dan menimba ilmu di UMM karena banyak sekali kesempatan student exchange yang bisa diikuti. Ia berharap, mahasiswa lain juga bisa turut aktif mencari informasi dari International Relation Office (IRO) dan mengikuti jejaknya. “Kapan lagi bisa mengunjungi dan merasakan suasana belajar di negara lain. Oh iya, saya juga berencana mengembangkan program pengabdian masyarakat di sekolah-sekolah. Salah satunya terkait penggunaan gawai sebagai sarana pendidikan. Memudahkan siswa dalam memahami materi dna tak perlu membebani mereka dengan membawa seabrek buku,” katanya menjelaskan. (ri/wil)

Viral Kecelakaan Bus Masuk Jurang, Begini Kata Pakar UMM

Beberapa hari lalu, jagat media sosial sempat dihebohkan dengan peristiwa jatuhnya bus ke dalam jurang sedalam 15 meter. Bus yang semula berada pada posisi terparkir, meluncur ke jalanan menurun hingga akhirnya jatuh tanpa adanya pengemudi. Sontak kejadian tersebut menjadi viral. Bus yang membawa rombongan peziarah itu jatuh di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada Minggu 7 Mei 2023 lalu. Peristiwa tersebut diduga karena terjadi kegagalan fungsi hand rem pada bus. Peristiwa itu pun mendapat perhatian dari salah satu dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang, Iis Siti Aisyah, ST. MT. PhD. IPM. Iis, begitu ia kerap disapa, mengatakan bahwa seharusnya sopir bus tidak meninggalkan bus dalam keadaan menyala walaupun sudah di handrem. Apalagi di kondisi jalan yang curam atau adanya kemiringan. “Dalam keadaan parkir, seharusnya mesin mobil dimatikan. Meskipun tidak ada aturan yang melarang hal ini di Indonesia, meninggalkan kendaraan terlalu lama dalam keadaan parkir akan sangat membahayakan. Mesin kendaraan sangat panas dan selalu ada di buku petunjuk untuk tidak memanaskan kendaraan terlalu lama. Jika terlalu lama, hal itu bisa menyebabkan terbakarnya kendaraan. Karena kendaraan berhenti, proses pendinginan yang biasa didapat dari aliran udara yang mengalir (bergerak) tidak tersedia. Sehingga mesin dan saluran buang cenderung lebih cepat panas,” jelasnya. Lebih lanjut, ia mengatakan, hand rem tidaklah sekuat rem utama sehingga ada batas maksimum berat muatan dan kemiringan yang bisa diatasi olehnya. Jika tidak diawaki, maka kejadian-kejadian diluar kebiasaan bisa menyebabkan terjadinya kendaraan bergerak. “Handrem itu tidak pernah pakem. Karena dia sistemnya mekanik dan dibagi keempat roda tarikannya. Sebagai ilustrasi, Kalau rem tangan (handrem) terpasang dan kendaraan digas, maka rem tidak cukup kuat untuk mengatasi daya mesin,” tegas Iis. Ketua Prodi Teknik Mesin UMM itu menambahkan, posisi jalanan menurun tentu menambah gaya gravitasi, apalagi dengan kapasitas penumpang yang terisi penuh. Sehingga beban yg ditanggung tidak mampu ditahan oleh handrem. Kemiringan akan membuat gaya resultan bergeser. Berbeda jika kendaraan parkir di permukaan rata. Gaya resultan akibat berat kendaraan akan tegak lurus dengan sumbu sejajar kendaraan. “Jika parkir di permukaan miring, maka resultan gayanya menjadi tidak tegak lurus tetapi membentuk sudut sesuai kemiringan. Semakin besar kemiringan, semakin besar pula sudut resultannya. Hal itu memberikan tarikan akibat resultan gaya dikarenakan berat kendaraan ke depan atau belakang kendaraan (tergantung posisi kemiringan kendaraan dan posisi titik beratnya),” kata Iis. Terakhir, dosen asal Sukoharjo, Jawa Tengah itu menyampaikan, perlu adanya pengetahuan khusus bagi pengemudi atau sopir kendaraan-kendaraan besar. Selain itu, regulasi juga perlu diperketat karena kecelakaan seringkali terjadi berkat kelalaian pengemudi dan kondisi kendaraan yang tidak sesuai. (zak/wil)

Ini Tanggapan Dosen UMM tentang Seleksi Masuk SD tanpa Calistung

Tahun ajaran baru sebentar lagi tiba. Para orang tua juga sibuk mempersiapkan sekolah terbaik untuk putra-putrinya. Menariknya, muncul isu penghapusan tes baca tulis hitung (calistung) sebagai syarat masuk sekolah dasar. Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim menegaskan bahwa seleksi calon peserta didik baru kelas 1 SD tidak boleh dilakukan berdasarkan tes membaca, menulis, dan atau berhitung. Melihat fenomena tersebut, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dyah Worowirastri Ekowati S.Pd., M.Pd. ikut angkat bicara. Ia menilai, penghapusan tes calistung pada calon siswa SD merupakan hal yang baik. Hal itu engingat hakikat sekolah adalah tempat bermain yang berasal dari bahasa Yunani, “skhole”, yang memiliki arti waktu sengggang untuk bersenang senang. “Jika tes calistung dijadikan salah satu seleksi masuk sekolah dasar, tentu akan memberikan batasan pada calon siswa untuk mahir dan pintar dalam bidangnya. Ini juga berpotensi membebani anak yang sebenarnya memiliki potensi dan keahlian di bidang lain. Selain itu, dapat menggeser fitrah anak di usia PAUD dan TK yang seharusnya datang ke sekolah untuk bermain dan bernenang-senang,” ujar Dyah. Lebih lanjut, pemberian materi calistung tidak perlu masuk kurikulum wajib, melainkan cukup di tataran aktivitas alamiyah. Calistung juga bukan sebuah tuntutan formal dan menjadi syarat naik atau tidak naik kelas. Meski demikian, meninggalkan calistung juga bukan sesuatu yang tepat. Ini bahkan dapat menjadi berbahaya dan mengancam masa depan anak jika mereka sama sekali tidak dikenalkan. Maka perlu adanya metode khusus yang diberikan ke anak usia dini. Metode yang tidak menimbulkan tuntutan besar bagi anak. “Adanya tes saat awal masuk sekolah itu bertujuan untuk mengenal potensi dan kemampuan anak. Sehingga nantinya proses dan metode belajar yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang anak senangi dan minati,” tambahnya. Di akhir, Dyah menyampaikan, pendidikan karakter akan jauh lebih penting dan bermakna bagi anka usia dini dibandingkan dengan pendidikan kognitif. Budi pekerti dan akhlak yang baik akan menjadi kebiasaan yang bagus jika dilakukan sejak kecil. Misalnya saja latihan tertib mengantre, meminta maaf ketika salah, mengucapkan terima kasih saat mendapatkan bantuan dari orang lain, dan lainnya. “Yang penting, jangan biarkan beban mendidik anak itu hanya pada lembaga formal sekolah saja. Perlu adanya penyeimbang dan dukungan dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat. Segala strategi dan sistem yang direncanakan pemerintah adalah untuk kemajuan bangsa dibidang pendidikan. Ini akan sia sia jika tidak dilakukan secara masif dan berbarengan oleh seluruh elemen,” pungkasnya. (rin/Wil)

Nasi Dimasak Magic Com Berbahaya? Ini Kata Dosen Fikes UMM

Beberapa waktu lalu, beredar kabar bahwa nasi yang dimasak menggunakan magic com memiliki unsur berbahaya, ketimbang yang dimasak dengan cara tradisional.  Hal ini dibantah Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, Ns. Henny Dwi Susanti., MKep. Sp.Kep. Mat., PhD. Menurutnya, isu tersebut tidak benar. Tidak ada perbedaan kandungan dari hasil memasak nasi menggunakan magic com maupun secara tradsional. “Itu tidak benar. Nasi baru akan menjadi cukup berbahaya apabila didiamkan terlalu lama dalam magic com. Hal itu dikarenakan adanya proses gelatinisasi dapat terjadi. Ini membuat perubahan nilai indeks glikemik pada nasi. Makanan yang mengandung kadar indeks glikemik yang tinggi dapat memicu penyakit seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung dan kanker,” jelasnya. Henny, sapaan akrabnya, menambahkan, untuk menikmati nasi dengan kualitas terbaik dan aman, masyarakat hendaknya langsung mengonsumsinya tepat setelah matang. Tidak dianjurkan membiarkan nasi terlalu lama di magic com, apalagi dihangatkan berkali-kali. “Tidak ada batasan maksimum untuk mendiamkan nasi dalam magic com. Tapi lebih baik segera dikonsumsi dengan catatan menunggu nasi sampai dingin terlebih dahulu. Nasi yang dingin, mengandung kadar gula yang lebih rendah dari nasi yang masih panas sehingga lebih aman untuk dikonsumsi tubuh,” tambahnya. Selain memiliki nilai indeks glikemik yang cukup tinggi, nasi juga mengandung kurang lebih 90% karbohidrat, 8% protein dan 2% lemak. Namun, nasi termasuk salah satu makanan yang rendah serat dan memiliki kandungan asam omega 6. “Karbohidrat dalam nasi terdiri dari pati dan gula. Dua unsur itu yang menjadi salah satu alasan mengapa penderita diabetes disarankan untuk menghindari nasi putih”, katanya. Dosen Ilmu Keperawatan ini juga berpesan untuk mengurangi konsumsi makanan yang tinggi karbohidrat seperti nasi dan roti. Mengingat adanya bahaya penyakit yang mengancam di masa depan. Menurutnya, Mengonsumsi makanan alami tanpa olahan bahan kimia adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan. “Perbanyak konsumsi buah dan sayur. Selain memiliki banyak vitamin, keduanya juga memiliki serat. Sehingga bisa menjadi salah satu pilihan agar kita tidak bergarung pada karbohidrat saja,” pungkasnya mengakhiri. (wil)

Dilaksanakan di UMM, DPP IMM Buka Program Djazman English Scholarship

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah menjadi garda terdepan perkaderan mahasiswa di Persyarikatan Muhammadiyah. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. pada pembukaan Djazman English Scholarship & Seminar Internasional. Adapun agenda itu digelar di UMM pada 08 Mei 2023 lalu Dalam acara yang bertajuk “Internasionalisasi Gerakan Inklusif Berkemajuan” itu, Rektor UMM menegaskan bahwa IMM dengan cepat mampu menjawab salah satu tujuan dari Muktamar Muhammadiyah ke-48. Yakni Internasionalisasi Muhammadiyah. “IMM sangat cepat, belum genap satu tahun pasca Muktamar Muhammadiyah ke-48, IMM sudah menjawabnya dengan kegiatan pengkaderan internasionalisasi ini,” tegasnya. Adapun program Djazman English Scholarship akan dilaksanakan selama tiga bulan di UMM. Ada 30 peserta yang sudah lolos seleksi dari ribuan pendaftar yang berasal dari kader IMM se-Indonesia. Fauzan juga menaruh harapan bedar kepada seuruh peserta agar bisa mengembangkan kemampuan bahasa Inggris dengan baik. “Kalian semua adalah kader pilihan. Maksimalkan potensi kalian lewat program ini sebagai wadah meningkatkan intelektualitas, mengingat kalian merupakan regenerator persyarikatan,” katanya. Di sisi lain, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Irwan Aqib, M.Pd. mengungkapkan bahwa ada filosofi kenapa program itu dinamai dengan Djazman. Nama itu berasal dari nama seorang tokoh Muhammadiyah Djazman Al-Kindi, pendiri IMM yang memiliki spirit perkaderan dan intelektualitas yang tinggi. “Pemilihan nama Djazman Al-Kindi ini tentu memiliki alasan. Salah satunya berkat pemikirannya yang kosmopolit,” ungkapnya. Dia juga menegaskan, perkaderan menjadi kunci berlangsungnya suatu gerakan yang ada. Tanpa adanya perkaderan, tidak ada orang-orang yang mampu m melanjutkan perjuangan. Perkaderan ibarat lingkaran proses. Pasti ada masa di mana digantikan dengan yang lebih kuat dan baik. Hal tak jauh berbeda disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Abdul Musawir Yahya, M.H. Ia menyampaikan bahwa IMM memiliki komitmen besar kepada peryarikatan Muhammadiyah untuk meningkatkan kaderisasi di lingkungan mahasiswa. Termasuk di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). “Komitmen IMM merupakan wahana kaderisasi pertama yang ada di ranah mahasiswa. IMM siap untuk mewadahi kader-kader yang ingin mengembangkan berbagai potensinya,” ungkapnya. Terakhir, Abdul berpesan kepada seluruh kader IMM se-Indonesia untuk turut andil dalam memajukan Muhammadiyah dan Bangsa Indonesia. Bisa dimulai dari niat sungguh-sungguh menuntut ilmu. Pun dengan memberikan solusi serta gagasan-gagasan berkemajuan. “Jangan pernah merasa bosan dengan berproses. Lontarkan setiap gagasan serta kritik berkemajuan untuk pembangunan persyarikatan dan bangsa” ujarnya. (faq/wil)

UMM Terima Penghargaan Kampus dengan Kontribusi Teraktif Bidang Keinsinyuran

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak henti-hentinya meraih prestasi. Teranyar, UMM menerima penghargaan sebagai perguruan tinggi yang berkontribusi aktif pada Pengembangan Keinsinyuran. Penghargaan itu diterima dalam gelaran pembukaan Musyawarah Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur 2023 pada 5 Mei 2023 lalu di Surabaya. Adapun penghargaan diberikan langsung oleh Ketua Pimpinan Wilayah PII Jawa Timur, Prof. Dr Ir. HM. Bisri, MS kepada Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd. Fauzan, sapaan akrabnya, mengatakan sangat mengapresiasi raihan tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa Kampus Putih merupakan universitas mumpuni, termasuk dalam bidang keinsinyuran. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus berpacu memberikan yang terbaik dalam pengembangan keilmuan. “Semoga dengan penghargaan ini, UMM bisa terus maju dan bisa selalu berkontribusi di dunia rekayasa (engineering). Raihan ini juga menjadi penegasan bahwa kami adalah institusi pendidikan yang menjadi tempat berproses dan mengemban ilmu bagi calon-calon insinyur masa depan,” ungkap Fauzan. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa UMM telah banyak melahirkan prestasi di bidang engineering. Salah satunya adalah sederet piala yang berhasil dimenangkan oleh mahasiswa UMM di berbagai kompetisi. Tidak terbatas pada tingkat nasional semata, tapi juga berhasil mengharumkan nama kampus di level dunia. “Inovasi-inovasi juga senantiasa ditelurkan oleh mahasiswa dan dosen. Hal itu menjadi satu dari sekian solusi di tengah banyaknya problem masyarakat. Pun dengan pendirian lebih dari 54 Center of Excellence (CoE) yang menjadi cara kami berkontribusi bagi negeri. Anak-anak muda di dalamnya akan dibekali dengan skill yang sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga bisa langsung terserap di dunia kerja dan bahkan membuka usaha sendiri,” katanya. Rektor asal Kediri itu juga menegaskan penghargaan dari PII ini menjadi salah satu bahan bakar agar UMM lebih atkif bergerak dan berkontribusi dalam program yang bersifat nyata. Tidak hanya pada tataran teori saja. Namun benar-benar memberikan efek positif, termasuk dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Selain kategori perguruan tinggi, ada beberapa kategori yang disediakan oleh PII. Salah satunya yang diberikan kepada beberapa pemerintah daerah dan kota. Di antaranya kepada Pemda Jember, Malang Kota, Kota Surabaya dan lainnya. (zak/wil)