Ubah Anggrek Jadi Pangan, Tim UMM Raih Medali PIMNAS Ke-35

Gelaran PIMNAS selalu ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, utamanya untuk menyalurkan ide kreatif serta ajang meraih prestasi. Hal itu juga yang dilakukan oleh salah satu tim Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) yang berhasil menyabet juara dua poster di kategori PKM-RE (Riset Eksakta) pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Ke-35 pada awal Desember 2022. Mereka adalah Syntiya Inanda Khoidir, Rika Cahyani Irjayanti, Annisa Jihan Purnama dan Nastiar Majidatun Wakhidah yang merupakan mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Ketua tim, Syntiya Inanda Khoidir mengatakan, awalnya tidak terlalu berharap proposal yang diajukan akan lolos pendanaan PIMNAS. Apalagi sudah dua tahun mereka mengajukan proposal, tapi ujungnya belum beruntung. Tapi mereka terkejut ketika proposalnya mampu mendapatkan pendanaan, bahkan lolos sampai PIMNAS dan membawa pulang medali. “Saya merasa takjub dan bersyukur. Akhirnya kerja keras yang kami pikir akan kembali gagal, nyatanya mampu memberikan hasil maksimal,” ungkap Syntiya. Syntiya, sapan akrabnya menjelaskan bahwa penelitian mereka membahas mengenai Potensi Ekstrak Fenolik Bunga Anggrek Cymbidium Golden Boy sebagai Antioksidan pada Pembuatan Flower Leather. Dari hasil penelitian, dapat diketahuin bahwa kadar fenol pada bunga anggrek memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi. Zat ini sangat bermanfaat bermanfaat bagi manusia untuk menangkal radikal bebas. “Alasan memilih bunga anggrek untuk diteliti karena dasarnya memang senang dengan bunga anggrek. Bunga anggrek sendiri juga memiliki rasa yang unik seperti selada. Apalagi melihat belum banyak penelitian yang membahas mengenai tanaman hias yang dijadikan tanaman pangan,” tuturnya. Mahasiswa kelahiran tahun 2001 juga bercerita bahwa penelitian dilakukan selama lima bulan lamanya. Diawali dengan mencari bunga anggrek yang paling segar kemudian dikeringkan untuk diambil ekstrak fenolnya untuk mendapatkan kandungan antioksidan. Kemudian diolah menjadi manisan atau agar-agar. Selama penelitian ada beberapa kendala yang dihadapi seperti teksturnya yang rapuh dan juga warna yang kurang menarik. Namun itu bisa disiasati dengan penambahan asam sitrat untuk membentuk warna dan penambahan hidrokoloid untuk mempertahankan teksturnya. “Beruntung kami berkuliah di UMM yang selalu mendukung segala kreativitas dan inovasi mahasiswanya. Banyak lembaga mahasiswa yang menjadi wadah seperti LSO Hipotesa serta dosen yang selalu siap ditanya ketika kami mengalami kesulitan. Pun dengan dukungan orang tua dan teman yang menjadi bahan bakar kami untuk terus berprestasi,” katanya. Ia dan tim ingin agar penelitian yang mereka lakukan tidak hanya memenangkan medali PIMNAS saja, tapi terus dikembangkan agar bisa mendapatkan formula yang sesuai. Sehingga bisa menjadi salah satu pangan nasional. “Kami juga ingin mendorong adik-adik mahasiswa lain untuk menyemarakkan PIMNAS. Harus ada lebih banyak proposal yang diajukan sehingga bisa meloloskan lebih banyak tim di PIMNAS tahun depan,” harapnya mengakhiri. (zak/wil)
Mahasiswa UMM Juara Cipta Jingle berkat Sinetron

Sejatinya Musik adalah sebuah seni atau ciptaan yang mempersatukan tanpa memandang suku atau bangsa. Hal tersebut diucapkan oleh Muhammad Yusuf Al Qodri, mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berhasil meraih juara terbaik Cipta Jingle pada lomba yang diselenggarakan oleh Kementrian Keuangan (Kemekeu) Republik Indonesia (RI) pada November 2022. Aldo, sapaan akrabnya, bercerita bahwa ketertarikannya akan musik muncul sejak sekolah dasar. Menariknya, ia menyukai musik yang ditampilan di sinetron-sinetron televisi. Apalagi tiap sinetron memiliki lagunya sendiri dan menggambarkan bagaimana cerita sinetron terkait. Itulah titik di mana Aldo mulai belajar secara otodidak bermain musik dan menulis lirik lagu. “Saat itu, saya merasa bahwa sinetron-sinteron itu keren karena memiliki gaya musik dan lagunya sendiri. Untuk menunjang hobi, saya juga sempat ikut sekolah musik di Jogja Audio School selama tiga bulan,” katanya. Mahasiswa asal Lumajang tersebut mengaku butuh sepuluh hari untuk menciptakan jingle. Sempat terkendala inspirasi, ia akhrinya membawa recorder ke mana-mana. Hal itu dilakukan agar ide yang muncul bisa segera direkam dan tidak hilang. Beruntung ia memiliki support system yang baik. Keluarga yang slelau mendukung hobinya dan teman-teman yang senantiasa memberikan masukan. Ia juga bersyukur memilih UMM sebagai tempatnya belajar. Selain kurikulum dan layanan pendidikannya yang apik, ia menilai Kampus Putih senantiasa mendukung potensi yang dimiliki masing-masing mahasiswa. Termasuk musik yang menjadi tempat kreativitas Aldo selama ini. “Saya sering cemas apakah jingle yang saya ciptakan sudah enak didengar atau belum. Apakah musik yang saya menarik bagi banyak khayalak. Tapi berkat dukungan dari berbagai pihak, semua halangan bisa saya lalui,” katanya. Mahasiswa yang mahir bermain piano, gitar, dan saksofon ini berharap prestasi ini menjadi bahan bakarnya untuk kembali mencetak prestasi di masa depan. Ia juga ingin bisa segera merilis album yang ia susun sendiri, targetnya yakni pada Desember.”Musik seringkali menjadi tempat pelarian anak muda. Musik bisa mengobati kekecewaan, menemani suka cita, dan bahkan bisa menjadi motivasi untuk berprestasi,” pungkasnya. (haq/wil)
Lindungi Ide, Dosen UMM Raih Penghargaan di Patent Draft Kemenkumham

Turut mendorong kemandirian paten di tanah air, empat dosen Universitas Muhammadiyah Malang ikut berkontribusi dalam Patent Drafting Camp pada November lalu. Adapun acara yang dilangsungkan di Malang itu diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI. Menariknya, salah satu perwakilan UMM, Dr. Ahmad Wahyudi, M.Kes. berhasil mendapatkan penghargaan sebagai peserta terbaik di bidang bioteknologi. Wahyudi, sapaan akrabnya menilai bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran paten bagi masyarakat, khususnya para peniliti dan sivitas akademika. Apalagi melihat masih banyak ide dan hasil karya yang diklaim begitu saja oleh pihak lain. Maka, kesadaran dan pemahaman akan paten sangat dibutuhkan di era ini. Saat ini, dosen peternakan tersebut telah menyelesaikan dua paten dan satu paten yang masih dalam proses persetujuan. Dalam ajang itu Wahyudi tidak sendiri, ada tiga dosen lain yang turut berupaya meningkatkan skill dalam bidang paten. Mereka adalah Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, Dr.Ir. Ali Ikhwan, M.P. dan Vritta Amroini Wahyudi, S.Si, M.Si. Para peserta di patent drafting diberi materi berupa teori dan praktek penyusunan draft sepsifikasi paten. Draft tersebut disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, sehingga usai agenda para peserta bisa menyusun dokumen paten dengan baik dan mandiri. Harapannya, banyak paten yang diajukan dan disetujui. Selain materi, para peserta juga diberi kesempatan untuk praktek menyusun draft. Selain itu juga dibagi menjadi beberapa bidang ilmu. DI antaranya bidang bioteknologi, bidang kimia, mekanik, serta bidang elektro. Terkait output, Wahyudi menilai bahwa ia dan peserta lain bersyukur mendapat beragam materi yang konkret. Saat ini mereka sudah bisa menyusun patent draft dengan baik dan mandiri. “Tentu apa yang kami dapatkan di sini akan kami ajarkan ke tean-teman lain. Bukan hanya ke sesama sivitas akademika tapi juga ke mereka yang belum mengetahui dan memahami paten. Sehingga ide dan penemuan yang didapat lebih aman,” katanya. (*/wil)
Lindungi Anak dan Remaja, Amcor UMM Ajak Diskusi Grooming Daring

Bukan hanya anak kecil, grooming online juga bisa memakan korban anak-anak muda. Hal itu diungkapkan Ciput Eka Purwianti, Assistant Deputy for Child Protection and Violence Indonesia pada diskusi panel yang diselenggarakan oleh American Corner (Amcor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan pada akhir November 2022 ini juga menggaet The U.S. Embassy’s American Cultural Center Jakarta. Ciput melanjutkan, child grooming adalah sebuah upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja. Sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi dan melecehkan pihak terkait. Pelaku grooming (groomer) bisa dari siapa saja karena mereka menyamarkan identitas ketika mendekati korban. Menurutnya, grooming online semkain meningkat sejak pandemi. Dari hasil survei yang dilakukan tim Ciput dan ECPAT, pengguna media sosial pada anak-anka meningkat sebanyak 80%. Kebanyakan dari mereka menggunakannya sebagai ajang eksistensi, curhat online dan lainnya. A[alagi dengan minimnya literasi penggunaan media sosial sejak dini. “Anak-anak dengan mudahnya membagikan hal-hal pribadi seperti nomor telepon di akun media sosialnya. Padahal hal tersebut membuat groomer dengan mudah mengincar anak-anak ini,” katanya mengingatkan. Sementara itu, Rio Hendra, Head of ECPAT Indonesia’s Advocacy Devision berbagi informasi tentang bahaya child grooming online. Hal itu karena memungkinkan terjadinya kontak seksual terhadap anak. Strategi pencegahan yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah dengan mempelajari sarana komunikasi dan kandungan informasi yang ditawarkan oleh internet. Pun dengan memberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak menanggapi atau menjawab chat dan email dari orang yang tidak dikenal. Orang tua juga bisa menegaskan kepada anak dan remaja untuk tidak gegabah merencanakan pertemuan langsung dengan seseoragn yang baru dikenal melalui platform daring. Di sisi lain, Hanna Tanjung, Kepala Sekolah PAUD Kamila menilai bahwa pembentukan kepribadian anak sangatlah penting. Bisa dilakukan melalui media lagu yang diterapkan di institusi pendidikan. Di samping itu juga bisa menumbuhkan kepedulian atau perhatian dalam memonitoring kegiatan anak-anak. Sementara itu, hadir juga pembicara lainnya, Yulianti Umrah, Executive Director of ALIT Foundation yang melengkapi wawasan tentang perlindungan anak dari child grooming. Kegiatan ini juga dipandu oleh Abigail Saveria, Founder of Girls Can Lead dan Ria Arista Asih, Director at America Corner (UMM) serta dihadiri oleh puluhan mahasiswa UMM. (zak/wil)
Lomba Puisi Bahasa Indonesia UMM, Datangkan Mahasiswa dari Belanda

Pendidikan dan riset menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan sebuah negara. Hal itu juga berlaku bagi Indonesi dan Belanda. Hal itu disampaikan oleh Jacklyn Frida Brugge, MA. saat mengisi materi dalam kuliah tamu prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 1 Desember 2022 lalu. Sebelumnya ia juga berkesempatan untuk berkeliling kampus UMM, menaiki bebek viral serta ke candi-candi yang ada. Pun dengan mengunjungi Bromo serta sederet tempar bersejarah di Malang. Adapun kehadiran Jacklyn adalah bagian penting program UMM untuk mendukung internasionalisasi bahasa Indonesia. Apalagi ia merupakan pemenang Lomba Puisi Bahasa Indonesia Internasional khusus mahasiswa asing yang diselenggarakan UMM beberapa waktu lalu. Berkat hal itulah, ia diberi hadiah dan beasiswa dari UMM untuk mengunjungi Indonesia untuk belajar banyak tentang bahasa dan budaya yang ada. “Sebelum datang ke UMM, saya sempat browsing di internet tentang kampus ini. Ternyata banyak hal menarik dan unik. Seperti misalnya UMM yang jadi Kampus Islam terbaik Dunia hingga bebek-bebek viral yang menarik minat saya. Asyiknya lagi saya bisa mencobanya langsung saat hari pertama sampai di Malang,” jelasnya. Dalam kuliah tamu Jacklyn juga sempat memberikan pengetahuan baru tentang hubugan Belanda dan Indonesia. Menurutnya, secara historis Belanda dan Indonesia selalu terhubung satu sama lain. Hubungan diplomatik keduanya juga cukup kuat. Maka menurutnya, tidak salah jika ada banyak orang Indonesia yang belajar di sana. Pun dengan banyaknya beasiswa yang tersedia. Belum lagi komunitas orang Indonesia yang cukup besar serta lingkungan yang multikultural. “Maka, peluang teman-teman untuk belajar di Belanda sangat terbuka, khususnya Leiden University. Apalagi Leiden juga memiliki tradisi panjang terkait kolaborasi dengan Indonesia. Misalnya saja kampus itu menjadi ranking pertama dalam studi Indonesia. Bahkan pada 2022 ini menjadi usia ke 100 bagi perhimpunan pelajar Indonesia di Belanda,” katanya. Sementara itu, moderator yang juga dosen PBI UMM Faizin, M.Pd. mengatakan bahwa kuliah tamu ini memiliki sederet tujuan. Salah satunya memberikan wawasan dan terkait internasionalisasi bahasa Indonesia. Pun dengan peluang kolaborasi penelitian untuk mahasiswa dalam rangka menjadikan literatur mutakhir dalam aspek bahasa dan budaya. “Jadi, nanti saya harap akan ada penelitian mahasiswa yang dilakukan bersama mahasiswa maupun pakar Leiden University. Bahkan mungkin juga dilangsungkan pertuakran mahasiswa maupun upaya melanjutkan studi,” katanya. Dosen asal Madura ini juga memberikan motivasi untuk lebih mencintai bahasa dan budaya. Hal itu sebagai bentuk akselerasi Internasionalisasi bahasa Indonesia serta memunculkan kajian baru dalam pengembangan bahasa kebanggan masyarakat Indonesia. (wil)
PIMNAS 35 UMM Ditutup dengan Megah, Lahirkan Juara Baru

Gelak tawa dan sorai-sorai penuhi penutupan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-35 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penampilan marching band Kampus Putih menambah kemegahan agenda yang ilaksanakan pada 3 Desember 2022 ini. Pun dengan tari daerah nusantara, paduan suara, lagu-lagu dari band, hingga aksi stand up comedy Mal Jupri yang sukses melepaskan tawa peserta dan tamu. Adapun PIMNAS luring pertama setelah pandemi ini melahirkan juara umum baru. Adalah Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berahasil membawa pulang piala bergilir berkat sederet juara yang diperoleh di berbagai kategori program kerativitas mahasiswa (PKM). Menutup PIMNAS di UMM, Dr. Ir. Sri Gunani Partiwi, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdikbudristek menjelaskan bahwa penyelenggaraan PIMNAS merupakan tahapan akhir dari PKM. Rangkaian program ini memang dirancang melatih mahasiswa berfikir kritis, memiliki kemampuan analisis yang tajam, serta memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi. Dari 37.404 proposal yang masuk, hanya 370 proposal yang dipilih untuk maju berkompetisi di sini. “Saya ucapkan selamat pada para mahasiswa yang berdiri di sini. Kalian merupakan satu persen bagian terpilih dari sekian banyak proposal yang masuk. Ke depannya kementerian akan terus berkomitmen untuk menjalankan program ini. Insyaallah, program ini akan kami tingkatkan lagi aksestabilitas maupun kualitasnya,” ujarnya. Lebih lanjut, Sri, panggilannya mengatakan, penyelenggaraan PIMNAS juga bertujuan untuk menjawab tantangan bonus demografi mendatang. Pada saat bonus demografi terjadi, jumlah usia produktif sangat tinggi. Jika sumber daya manusia (SDM) tidak dikelola dengan baik, maka Indonesia emas 25 tahun lagi tidak akan bisa tercapai. “Namun pada kesempatan ini saya merasakan aura yg sangat luar biasa. Para mahasiswa telah menunjukkan prestasi dan semangatnya. Hal ini membuat kita optimis bahwa 25 tahun ke depan akan terwujud Indonesia emas yang kita cita-citakan. Saya juga berharap baik yang menang maupun yang tidak memperoleh juara dapat melanjutkan dan mengembangkan produknya. Semoga apa yang telah kalian rancang ini akan memberikan kontribusi yang baik kepada bangsa dan negara,” ungkap Sri. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa PIMNAS bukanlah rutinitas semata, karena tahun 2022 menjadi titik strategis bagi mahasiswa yang dipersiapkan untuk menjawab Indonesia emas 2045. Menurutnya, problem Indonesia dalam menghadapi bonus demografi dan Indonesia emas berada di aspek sumber daya manusia (SDM). Maka ajang PIMNAS mnejadi salah satu komunitas yang hadir sebagai upaya menciptakan SDM yang baik. “Saat ini saudara adalah mahasiswa dan sedang menyenyam pendidikan, tapi esok saudara akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Dari sinilah sebagian besar pemimpin dilahirkan. Bukan hanya sekadar berkompisi dan anu kompetensi tapi juga membangun karakter yang dibutuhkan bangsa. Saya titip eprsiapkan diri saudara menghadapi awal bonus demografi pada 2030 nanti,” tegasnya mengakhiri. (haq/syi/wil)
Ini Peran Penting Alumni PIMNAS 35 UMM bagi Indonesia Emas 2045

Sudah menjadi keharusan bagi alumni Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) untuk melakukan regenerasi. Mahasiswa juga harus sedini mungkin untuk berkarya dan berprestasi sebagai bekal masa depan. Hal tersebut diucapkan oleh Prof. Dr. Drs. Abdul Hakim, M.Si., selaku salah satu pemateri dalam kuliah umum PIMNAS ke 35 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain Abdul, acara yang dilaksanakan pada 3 Desember 2022 ini juga menghadirkan sederet pemateri menarik lain. Lebih lanjut, pria yang juga Wakil Rektor III Universitas Brawijaya ini menegaskan sederet peran alumni PIMNAS serta kontribusinya. Ada tiga hal peting yang harus dilakukan oleh alumni PIMNAS. Mulai dari regenerasi, pengelolaan program kreativitas mahasiswa (PKM), hingga membantu persiapan menuju ajang bergengsi itu. Hal itu menjadi bentuk kaderisasi untuk mencetak mahasiswa kreatif dan inovatif yang nantinya bisa bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga menjelaskan secara singkat sejarah PIMNAS. Dimulai pada tahun 1988 yang masih memakai nama Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa (LKIM). Kemudian berubah menjadi PIMNAS pada tahun 1990 di Institut Pertanian Bogor. Sementara format juara umum baru digunakan pada tahun 2004. Menurutnya, ajang ini sangat dinamis. Berawal dari lima bidang saja, kini sudah ada smebilam kategori PKM. Di sisi lain, hadir pula Anton Rahmadi, S.TP., M.Sc., Ph.D selaku Kepala Balai Pembiayaan Pendidikan Tinggi (BPPT) Kemdikbudristek Republik Indonesia (RI). Ia memaparkan bahwa BPPT dibentuk untuk meluaskan dan meratakan beasiswa di seluruh pelosok Indonesia. Bukan hanya pada tingkat magister atau doktoral saja, melainkan juga sarjana. Dosen Universitas Mulawarman Samarinda ini mengatakan, Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) ini memiliki berbabagi macam kategori di dalamnya yang bisa diperoleh anak-anak muda. Termasuk para alumni PIMNAS ke 35 ini. Mulai dari beasiswa bagi arkeolog hingga vokasi. “Tentu seleksi yang dilakukan sangat ketat. Namun saya rasa meraih prestasi di PIMNAS dan Puspresnas bisa menjadi rekomendasi yang bagus untuk bisa meraih beasiswa ini,” katanya. Terkait PIMNAS, Dr. Nur Subeki, ST., MT. selaku Wakil Rektor III UMM mengatakan, peserta saat ini akan menjadi penerus, pelangsung, dan penyempurna bagi masa depan Republik Indonesia (RI) ini. Sejatinya, seluruh generasi muda saat ini harus siap dan dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan. Maka, PIMNAS ini menjadi salah satu ajang yang bagus untuk mencapainya. Saat ini pemuda bukan hanya berbicara tentang tanggungjawab diri sendiri tetapi bagaimana bisa memajukan bangsa RI. Maka sudah selayaknya pemuda disiapkan dan dibentuk sejak dini. Baik itu melalui perkuliahan dan berbagai acara seperti PIMNAS. “Mari bersama-sama berkolaborasi dan bersemangat untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang maju pada 2045. Peserta PIMNAS saat ini sudah berprestasi, tinggal bagaimana mengaplikasikannya untuk membantu bangsa,” ucap Dosen Fakultas Teknik UMM ini. (haq/wil)
Makanan Alternatif Diabetes hingga Alat Deteksi Tanah, UMM Kirim Empat Delegasi di PIMNAS 35

Gelaran Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) telah di mulai sejak 30 November sampai 3 Desember. Sebagai tuan rumah PIMNAS 2022, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan empat delegasi tim untuk berlaga pada perlombaan nasional tersebut. Keempat tim tersebut bersaing di dua bidang yang berbeda yaitu Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karya Cipta (KC) dan Riset (RE). Salah satu delegasi tim UMM Delsi Anjarwati, menjelaskan bahwa di PIMNAS kali ini, timnya melakukan penelitian mengenai manfaat tepung ampas kelapa dan biji alpukat untuk menurunkan indeks glikemik pada roti tawar. Hal ini dilakukan untuk menciptakan pangan alternatif bagi penderita penyakit diabetes di Indonesia. Apalagi dengan angka penderita diabetes yang relatif tinggi. “Latar belakang penelitian ini bermula dari penyakit diabetes. Di dunia, penyakit ini menempati peringkat pertama penyumbang angka kematian tertinggi. Sementara di Indonesia, penyakit ini telah menjangkiti 25,71 juta jiwa pertahun 2021 dengan angka prevalensi sebanyak 9,3%. Dengan banyaknya penderita penyakit tersebut, tim kami mencoba mencari bahan pangan pengganti dengan indeks glikemik rendah yang ramah bagi penderita diabetes,” ujar mahasiswa jurusan Teknologi Pangan tersebut. Lebih lanjut, Delsi sapaannya mengatakan setelah melakukan penelitian, mereka menyimpulkan bahwa percampuran tepung ampas kelapa dan biji alpukat pada roti dapat menurunkan indeks glikemik sebanyak 56,67% dari roti tawar biasa. Hal ini dapat terjadi karena kedua bahan tersebut tinggi akan serat, sehingga secara otomatis mengurangi indeks glikemik. “Terkait terpilihnya penelitian kami untuk maju di PIMNAS 2022, kami sudah optimis sejak awal. Cuma kemarin kita sempat terkedala oleh data yang tidak signifikan dari narasumber. Jadi kami harus melakukan pengujian ulang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Harapannya, penelitian dan produk ini tidak hanya berhenti sampai di PIMNAS saja tetapi dapat dihilirisasi ke masyarakat luas. Utamanya bagi orang-orang penderita penyakit diabetes,” kata mahasiswa kelahiran NTB itu. Di sisi lain, salah seorang tim perwakilan UMM, Muhammad Iqbaludin Zaky mengaku terkejut bahwa timnya dapat lolos mewakili UMM di PIMNAS 2022. Pada gelaran PIMNAS ini, ia dan tim membuat alat bernama MONIKEL. Alat berkonsep Internet of Things (IoT) berfungsi untuk memonitoring kelembapan tanah dengan menggunakan chatbot telegram yang akan membantu para petani bawang merah. Selain sebagai monitor kelembapan tanah, alat ini juga berfungsi sebagai alat penyiram tanaman otomatis. “Progresnya sendiri dari tahap pendanaan sampai ke PIMNAS ini cukup signifikan. Di tahap pendanaan, prototipe yang kami buat masih sangat mentah. Namun di PIMNAS ini prototipenya sudah matang, baik dari segi fitur telegram maupun alatnya,” kata mahasiswa Informatika ini. Terkait persiapan untuk PIMNAS 2022, anak kedua dari tiga bersaudara ini menjelaskan bahwa selain menyiapkan prototipe, ia dan tim juga harus menyiapkan mental dan mengasah disiplin waktu. Harapannya tak hanya dapat memonitoring kelembapan tanah dan mengatur air di lahan, alat ini kedepannya juga dapat dikembangkan lagi sebagai alat penyiram pestisida. “Persiapan tersebut sangat penting, utamanya disiplin waktu ya. Hal ini penting karena dari sana bisa tahu performa tim kita bagaimana. Kalau dari hal-hal kecil saja sudah disepelekan, nantinya hasil akhir tidak akan maksimal,” pungkasnya mengakhiri. (zak/wil)
Bikin Website hingga Branding, Dosen UMM Ajari Penjual Jamu Manfaatkan Digitalisasi

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa melakukan Tri Dharma perguruan tinggi. Salah satunya yang dilakukan oleh tim dosen Kampus Putih yang diketuai oleh Bapak Wildan Suharso, M.Kom. mereka membantu kelompok usaha jamu berskala kecil di wilayah Sidodadi, Lawang melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Adapun pengabdian ini dilaksanakan dalam jangka waktu satu tahun pada 2022 ini. Wildan, sapaan akrabnya, menyebut aktivitas tersebut dengan pengabdian digitalisasi penjualan jamu instan berbasis media sosial dan website. Para dosen memberikan pelatihan dan pengarahan agar penjualan jamu bisa meluas melalui media sosial, website maupun alat digital lain. “Pada awalnya, kami mengunjungi dan melakukan observasi awal. Setelah mendapatkan data yang cukup, kami kemudian melaksanakan pelatihan produksi dan pengemasan, branding bahkan juga pembangunan website bagi kelompok jamu. Kami juga mengajari para penjual bagaimana memaksimalkan website dan media sosial untuk bisnis mereka,” tuturnya. Di sisi lain, ketua kelompok usaha jamu D’lima Titik Wahyuno menilai bahwa kegiatan tersebut sangat membantunya dan anggotanya. Mereka bersyukur bisa mendapatkan skill-skill baru untuk meningkatkan pendapatan. Kualitas produksi dan jumlah penjual juga dirasa meningkat berkat pelatihan yang dilakukan UMM. “Saya rasa, program seperti ini dibutuhkan oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh produsen dan penjaul jamu saja, tapi juga bisa menyasar sektor-sektor lain agar pendapatan dan ekonominya juga makin meningkat. Terimasih kami sampaikan kepada tim UMM yang sudah bersusah payah dan membagi ilmunya kepada kami,” tambahnya. Adapapun kelompok usaha jamu instan tersebut diberi nama D’lima karena awalnya hanya lima orang yang bergabung saat pertama kali ada. Meski beberapa kali mengalami perubahan nama, namun Titik Wahyuni tetap dipercaya untuk menjadi ketua kelompok. Hal itu tidak lepas dari semangatnya untuk memproduksi jamu dan tetap mengurus kelompok usaha jamu. (*/wil)
PIMNAS 2022 di UMM Jadi Gelaran Paling Menyenangkan

Menjadi tuan rumah ajang nasional setelah pandemi bukan perkara mudah. Namun Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses melaksanakan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-35 dengan baik dan cepat. Hal itu disampaikan oleh Ketua Juri PIMNAS 2022, Prof. Ahmad Fauzy, M.Si., Ph.D. usai agenda penjurian mahasiswa-mahasiswa peserta. Guru besar statistika UII itu menilai bahwa kemampuan UMM untuk menyelenggarakan acara nasional dan internasional tak perlu diragukan lagi. “Kampus Putih juga menjadi tuan rumah secara luring pertama semenjak pandemi menyerang. Maka dari itu, ada hal-hal baru yang disediakan UMM untuk melancarkan acara. Mulai dari tim kesehatan yang siap siaga, penggunaan masker yang ketat, bahkan juga paperless yang diupayakan di sepanjang kompetisi ini,” tambahnya. Fauzy, begitu ia kerap disapa, melanjutkan, bahwa biasanya ada sebanyak 4000 peserta yang turut hadir di PIMNAS. Namun karena Covid masih rawan, maka pada gelaram kali ini dibatasi sebanyak 1523 peserta yang dibagi menjadi 17 kelas. Menurutnya, jumlah itu cukup ideal di kondisi seperti ini. Apalagi ada banyak standar yang di harus dipenuhi oleh tuan rumah. Pun dengan syarat-syarat venue dan kelas agar lomba dapat berjalan lebih efektif, objektif, transparan serta akuntabel. Adapun ada 53 juri yang memberikan nilai di PIMNAS ke-35 itu. Ketua dan sekretaris juri sebagai koordinator, sementara 51 lainnya disebar di masing-masing kelas presentasi. “Semoga dari smebilan kategori PKM ini muncul intelektual muda yang kreatif, inovatif, dan solutif bagi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat,” harap Fauzy. Kampus Putih juga telah menyediakan berbagai fasilitas tambahan seperti bazar yang menyediakan makanan dan pakaian. Pun dengan tempat bersantai sebelum maupun sesudah presentasi seperti Container Café, Taman Rekreasi Sengkaling dan lainnya. Peserta dan tamu juga dapat memilih satu dari tiga penginapan yang dimiliki UMM untuk menginap dan beristirahat. Ada Rayz Hotel UMM, Kapal Garden dan MyDormy. Suasana hijau dan asri juga membuat kompetisi semakin menarik. Hal serupa disampaikan oleh Ilham Choiri selaku mahasiswa dari Universitas Jambi. Ia menilai PIMNAS ke-35 di UMM meriah dan kompetitif. Para panitia juga tanggap dan sigap ketika peserta kesulitan dan butuh bantuan. “Misalnya saja pembukaannya yang wah karena acara besar dan dilaksanakan di Dome UMM. Penampilan yang diberikan juga menarik minta dan fokus kami seperti tari-tarian, penampilan band, hingga pemencatan tombol di dunia metaverse,” katanya. Ilham, sapaan akrabnya, juga bersyukur PIMNAS ke-35 diadakan di Malang karena iklimnya yang sejuk. Ditambah lagi dengan gedung kampus yang modern, fasilitas mumpuni, danau dan banyak pohon rindang. Teman-teman yang disabilitas juga merasa mudah karaena fasilitasnya ramah bagi mereka yang kekurangan. Ia berharap PKM yang disusun timnya bisa mendapatkan juara di ajang PIMNAS ini. Apalagi melihat usaha yang sudah dilakukannya selama berbulan-bulan. “Tentu saja target kami juara karena kami sudah berusaha maksimal dan melakukan penelitian yang cukup panjang. Semoga PIMNAS di UMM ini memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran untuk menjadi pribadi yang berprestasi,” ucapnya mengakhiri. (zak/wil)