Lewat CoE UMM, Anak Muda Pasti Lulus Tepat Waktu dan Pasti Bekerja

Demi memajukan bangsa, beragam terobosan diciptakan oleh Universitas Muhammadiyah malang (UMM). Salah satu yang menarik dan diapresiasi oleh banyak pihak adalah Center of Excellence (CoE). Bukan hanya oleh tokoh lokal, tapi juga dari mereka yang berada di level internasional. Berkat program ini, muncul anak-anak muda yang kreatif dan memiliki kemampuan sesuai dengan kebutuhan pasar yang bisa langsung berkarya di banyak sektor. Salah satunya Ahmad Faturokhim, alumnus Prodi Akuakultur UMM. Berawal dari kecintaannya akan udang dan tambak, ia berinisiatif untuk turut mengikuti CoE Udang yang dibuka oleh Kampus Putih. Apalagi didukung dengan latar belakangnya yang sudah menekuni tambak udang sejak lama. Begitu lulus dari kuliah dan CoE pada 2022 lalu, ia langsung tancap gas menjalankan bisnis tambak udang vaname yang letaknya di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Menariknya, omzet yang berhasil ia dapat bisa mencapai 400 juta pertahun. “Kalau dihitung-hitung omzetnya yang bisa diperoleh sekitar 100 jutaan per tiga bulan. Jadi mungkin bisa dapat 400 jutaan selama satu tahun,” tegas Fatur. Adapula Danny Shevarivo yang sukses direkrut PT. Indotama Seraya Artha sebelum lulus berkat turut serta mengikuti CoE human resource and development (HRD). Menariknya, berkat program ini pula Danny bisa lulus dengan cepat yakni 3,5 tahun. Danny, sapaan akrabnya, menjelaskasn bahwa CoE HRD memberikan pengalaman baru dan skill yang memang dibutuhkan industri. Bahkan, dari program CoE UMM ini ia mendapatkan sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) level staf HRD. “Selain itu, saya juga mendapatkan sepuluh kompetensi unggul dari CoE dan surat pengalaman kerja dari perusahaan terkait. Usai menjalani program CoE, saya juga berhasil direkrut dan langsung bekerja di perusahaan terkait sekalipun saya belum diwisuda,” katanya. Hingga saat ini, ada lebih dari 40 CoE yang sudah berjalan. Ada kelas udang, metaverse, School of Creative Digital Communication, welding inspector, dan sederet lainnya. Sebagian besar sudah bisa langsung direkrut oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Sebagian juga mampu membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Terkait hal ini, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa program unggulan seperti CoE harus terus dimunculkan dan dijalankan secara matang. Menariknya, program ini juga berupaya mengantisipasi perpindahan minat mahasiswa yang berbeda dengan jurusannya. Jadi, mereka yang kuliah hukum dibolehkan untuk ikut CoE lain seperti kelas metaverse, koi, anggrek, dan lainnya. “CoE tidak boleh berdasarkan pada textbook semata. Kalau hanya menggunakan textbook, program ini hanya akan berjalan di tempat tanpa ada perkembangan signifikan. UMM akan menjadikannya program yang fleksibel dan berani menciptakan inovasi,” tegasnya. Fauzan menegaskan, CoE juga turut membantu menyiapkan bangsa untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Apalagi Indonesia sudah mulai memasuki momen bonus demografi yang harus dimanfaatkan dengan maksimal, sehingga impian menjadi negara dengan kekuatan ekonomi kuat bisa tercapai. (wil)

Takjub akan Arsitektur hingga Dicibir Karena Kerudung, Begini Cerita Staf UMM di Polandia

Setiap tahun Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengirim sivitas akademikanya untuk mengikuti pertukaran ke berbagai benua, termasuk ke Eropa. Melalui Erasmus+ Programme of Staff Training Mobility, Wahyu Widi Astutik, S.Pd. berkesempatan mendapatkan pelatihan staf selama satu minggu pada penghujung April lalu di Lublin University of Technology, Polandia. Widi, begitu ia kerap disapa, mengatakan bahwa program ini merupakan hasil kerjasama antara uni eropa pada platform Erasmus+ Programme dengan UMM yang sudah terjalin cukup lama. “UMM menjadi satu-satunya kampus di Indonesia yang mendapatkan kesempatan beasiswa program pelatihan ini. Tentunya masih harus mengikuti seleksi kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu dasar untuk berkomunikasi,” ungkap Widi. Lebih lanjut, wanita asal Pasuruan itu juga menceritakan aktivitasnya selama mengikuti pelatihan. Di hari pertama dan kedua, kegiatan dibuka dengan perkenalan dan juga campus tour, mengelilingi gedung kampus, perkantoran dan juga laboratorium. Kemudian di hari berikutnya mengikuti pertemuan dengan bagian manajemen perkantoran dan departemen arsip dari kampus Lublin. “Saya banyak belajar terkait administrasi kantor, keuangan dan tata kelola pengarsipan di universitas tersebut.  Di sana regulasi sangat jelas dan detail, semua diatur sedemikian rinci agar meminimalisir kesalahan pegawai dan mengurangi celah kelalaian dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya,” pungkas Widi. Widi juga mengungkapkan program ini memberikannya pengalaman baru dan juga kesempatan untuk mengunjungi museum, kota tua dan taman di beberapa kota di Polandia. Ia terpesona dengan tatanan kota serta arsitektur Kota Lublin dan Warsaw yang rapi serta bersih. “Di semua bahu jalan, selalu ada taman untuk mengimbangi polusi udara. Fasilitas kendaraan umum juga banyak disediakan sehingga kita tidak perlu khawatir jika bepergian dan tentunya wilayah mereka ramah untuk pejalan kaki. Budaya kerja disana juga sangat humanis, kerja dimulai dari jam 10.00 sampai 14.00. Semua orang bekerja dengan sangat tekun dan disiplin,” terang Widi. Kendati demikian, wanita yang memiliki hobi membaca itu sempat mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari warga lokal karena kerudung yang ia kenakan. Beberapa orang masih berpikir dirinya membawa ancaman islamisasi. Beberapa kali ia diteriaki dan dicibir. “Beberapa kali saya berhadapan dengan orang yang mencibir wanita berjilbab. Pernah ada pengalaman unik juga. Saya bertemu dengan orang yang membawa anjing dan ia menyuruh anjingnya untuk mengecek saya, apakah saya membahayakan atau tidak. Saat anjingnya mendekat saya bilang kalau saya hanya orang biasa tidak perlu dicek dengan anjingnya, lalu mereka pun pergi,” jelas wanita asal Pasuruan itu. Terakhir Widi berharap ada lebih banyak lagi kesempatan bagi para staf UMM untuk bisa mengikuti program seperti ini. “Semoga saya dan segenap sivitas akademika di UMM bisa membangun kolaborasi dan kerjasama lain. Membuka kesempatan agar bisa mengembangkan potensi dan meningkatkan kualitas SDM,” harap Widi mengakhiri. (zak/wil)

Anak UTBK di UMM, Wali Camaba Asyik Naik Bebek Viral

Sepeda Air Bebek Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi incaran para orangtua peserta ujian tertulis berbasis komputer (UTBK) Kampus Putih. Banyak yang mengantre dan ingin merasakan sensasi wisata di tengah kampus. Adapun UTBK yang dilaksanakan 4-6 Mei ini merupakan seleksi untuk calon mahasiswa baru Fakultas Ilmu Kesehatan Jurusan Farmasi dan Fakultas Kedokteran UMM. Salah satu orang tua, Fahrudin Asjhar merasa bahwa UMM menjadi tempat yang sejuk dan menyenangkan untuk belajar. Apalagi ditambah fasilitas unik yang disediakan, seperti perahu bebek. Menurutnya, hal itu menambah kenikmatan sendiri saat berada di lingkungan Kampus Putih. “Apalagi bebek-bebek ini juga sering viral di Instagram maupun TikTok. Beberapa kali lewat di media sosial saya. Fasilitas unik seperti ini juga bisa membantu mahasiswa agar lebih produktif. Misalnya saat suntuk mengerjakan tugas, mereka bisa sesekali bermain untuk melepaskan penat,” tambahnya. Fahrudin, sapaan akrabnya, menilai bahwa sejauh yang ia rasakan, UMM bisa dikatakan menjadi kampus yang menyenangkan. Selain bebek air, para orang tua dan mahasiswa juga disediakan mobil golf untuk mobilitas di dalam kampus. “Apalagi kampus UMM kan luas. Dengan adany mobil golf ini tentu memudahkan kami untuk pergi ke lokasi-lokasi yang diinginkan,” tambahnya. Terkait pilihan untuk menguliahkan sang anak, ia mengatakan bahwa UMM menjadi pilihan tepat. Hal itu mempertimbangkan berbagai hal, termasuk fasilitas, akreditasi, hingga kualitas pengajar. Ditambah lagi UMM yang pernah menyandang Kampus Islam terbaik dunia serta seringkali mendapatkan penghargaan bergengsi. Sementara itu, hal menarik disampaikan salah satu peserta UTBK Fakultas Kedokteran (FK) UMM Faliya Fatmah Azzahra Arifin. Iamenyampaikan bahwa pilihannya pada kampus putih dirasa bisa meningkatkan kualitas dirinya. Selain itu juga bisa menunjukkan jalan baginya untuk menjadi dokter yang bermanfaat bagi sesama. “Saya jatuh hati dengan FK UMM. Di samping karena biaya kuliah yang relatif terjangkau untuk kedokteran, fasilitasnya juga memadai. Jaringan profesi kedokterannya baik dan menunjang  karir setelah lulu,” ungkapnya. Terakhir, Faliya sapaan akrabnya berpesan kepada lulusan sekolah menangah atas untuk tidak ragu mencoba peruntungan di kampus swasta. Menurutnya saat ini swasta maupun megeri tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Tinggal melihat saja, mana yang cocok dan mampu mengantarkan mahasiswanya menuju kesuksesan. (Faq/Wil)

Kebakaran Malang Plaza, Ini Saran Dosen UMM

Baru-baru ini, terjadi kebakaran di Malang Plaza yang disebabkan oleh korsleting listrik pada awal Mei dini hari. Kebakaran itu bahkan mengakibatkan kerugian sebesar 56 Miliar. Gedung yang sudah berusia 50 tahun tersebut memang memiliki potensi besar terjadinya kebakaran, apalagi jika manajemen perawatan gedung tidak berjalan dengan baik. Terutama perawatan elektrifikasi pada bangunan seperti kabel penerangan atau instalasi listrik yang sudah tua yang dapat menyebabkan korsleting. Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Erwin Rommel, M.T. selaku Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia melanjutkan bahwa perawatan kelistrikan, ketersediaan dan berfungsinya alat pendeteksi api dan juga alat pemadam api ringan (APAR) menjadi salah satu Langkah dalam mencegah bencana kebakaran “Kuncinya adalah perawatan rutin secara berkala oleh pengelola gedung terhadap instalasi dan sistem kelistrikan, serta penataan ruang dan material yang rawan terbakar. Juga maintenance pada perangkat sistem proteksi kebakaran yang telah terpasang pada bangunan” tambahnya. Selain memaparkan faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya kebakaran serta langkah pencegahannya, Erwin juga menjelaskan terkait management fire protection system yang baik bagi gedung. 5-10% anggaran keseluruhan konstruksi gedung baiknya digunakan untuk mengadakan fire protection system. “Sayangnya, pihak pengelola gedung sering lupa dalam pengadaan sistem penanganan kebakaran. Paling tidak siapkan 5-10% dari total anggaran pembangunan untuk hal tersebut,” ungkapnya Erwin mengatakan, sistem proteksi tidak cukup hanya dari peralatan yang terpasang di gedung saja, tetapi juga harus disiapkan dari luar bangunan. Misalnya ketersediaan mobil pemadam kebakaran yang bisa mencapai ketinggian bangunan tertentu. Baik dari pemerintah daerah maupun pihak swasta. Menurutnya, bangunan-bangunan publik yang ada di Malang Raya, termasuk gedung pusat perbelanjaan, bioskop, perhotelan, apalagi gedung usianya sudah diatas 10 tahun perlu dilakukan evaluasi secara insentif dan berkala. Utamanya terkait kelayakan dan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Khusus untuk gedung Malang Plaza, selain usia bangunannya yang sudah cukup tua, adanya tambahan pusat pusat kegiatan di dalamnya, mengakibatkan perubahan instalasi kelistrikan. Hal ini yang membuat potensi terjadinya kebakaran semakin besar. Terakhir, Erwin berpesan serta memberikan saran kepada Pemerintah Kota Malang untuk mengevaluasi bangunan-bangunan, terutama bangunan untuk layanan publik secara intensif dan berkala “Sebenarnya regulasi untuk peningkatan kualitas layanan gedung sudah ada yakni sertifikat layak fungsi (SLF). Tetapi sayangnya itu hanya dilakukan saat bangunan itu akan berfungsi. Sedangkan pasca operasional bangunan gedung belum ada regulasinya, termasuk  kerentanan bangunan terhadap kebakaran” pungkasnya. (*faq/wil)

Kucing hingga Kota Pabrik di Pameran Foto UMM

Apresiasi tertinggi seniman adalah ketika karyanya tidak hanya dinikmati oleh diri sendiri, namun juga oleh banyak orang. Itulah hal yang melatarbelakangi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FOCUS (Fotografi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyelenggarakan Gelar Karya. Adapun pameran menampilan berbagai hasil foto di empat kota berbeda dari kegiatan Jalan-Jalan Sambil Motret (Jambret). Mulai dari Greisk, Surabaya, Semarang, hingga Yogyakarta. Beberapa foto yang dipamerkan adalah gedung-gedung perkotaan, kegiatan masyarakat, hingga pemandangan alam. Pun dengan perayaan tahunan yang dilaksanakan oleh warga. Gelar Karya yang dilaksanakan pada April lalu itu mengundang antusias penikmat fotografi. Ketua Umum UKM FOCUS UMM, Nurita Noviandari mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk penghargaan para anggota dan pengurus FOCUS. Selain itu juga menjadi wadah bagi teman-teman untuk menunjukkan hasil potretnya yang terbaik. “Misalnya foto kucing yang ada tengah pintu. Komposisinya sangat bagus dan momennya juga pas. Bahkan foto itu masuk delapan besar kompetisi nasional. Adapula foto yang diambil di Gresik, di mana gambarnya menunjukkan bahwa Gresik memang kota industri. Ada sungai yang mengalir di pinggir bangunan besar pabrik-pabrik,” jelasnya. Foto menarik lain adalah foto human interest yang diambil di Lawang Sewu Semarang. Yakni foto seorang penari di Lawang Sewu bersama karya-karya di dalamnya. Menggambarkan Semarang dan budayanya yang masih dirawat. “Jambret menjadi salah satu jalan bagi kami untuk mengeksplor diri. Jadi para anggota bisa merasakan suasana hunting bersama dan menghasilkan karya terbaik untuk dipamerkan,” tambahnya. Itha, begitu ia kerap disapa, mengatakan bahwa Jambret pada tahun ini diadakan di luar Malang Raya. Ada banyak sekali foto-foto yang diambil oleh teman-teman FOCUS, tapi setelah melalui proses koreksi dan seleksi, akhrinya terpilihlah 20 foto terbaik yang dipamerkan dalam gelar karya. Adapun Jambret juga dinilai memberikan pengalaman baru bagi anggota UKM FOCUS. Mengusung tema “Telusur”, kegiatan ini memberikan sudut pandang baru dari sebuah kehidupan melalui kamera. Menangkap gambar dan menceritakan hal yang mungkin belum diketahui.Ia berharap, Gelar Karya bisa menambah inspirasi baru mahasiswa tentang seni fotografi. Jadi bukan hanya mengambil gambar semata, tapi ada pesan dan nilai filosofis di dalamnya. Sementara itu, salah satu pengunjung Gelar Karya, Muhammad Iqbal mengatakan bahwa hasil foto-foto yang di pamerkan unik. Hal itu juga menambah referensi dan perspektifnya akan seni fotografi. Apalagi ia juga mengaku mendalami hobi fotografi sejak lama. “Saya memang suka memotret sejak lama. Kita bisa mendalami dan mengerti arti sebuah foto lewat diskusi dan juga pameran. Semoga aktivitas semacam ini bisa terus dilanjutkan dan dikembangkan di Kampus Putih UMM,” pungkasnya. (Wil)

Langsungkan UTBK, UMM Siapkan Mobil Golf dan Perahu Bebek untuk Wali Camaba

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) laksanakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) gelombang pertama untuk mahasiswa baru Fakultas Kedokteran (FK) dan Farmasi. Berdasarkan data PMB, total peserta calon mahasiswa baru untuk kedua jurusan tersebut di gelombang pertama ini mencapai lebih dari seribu peserta. Adapun ujian ini berlangsung selama tiga hari pada tanggal 4-6 Mei mendatang. Ada yang menarik dalam gelaran UTBK UMM kali ini. Sembari menunggu anaknya melaksankaan tes, para orang tua dan mereka yang mengantar bisa mencoba mobil golf mengitari Kampus Putih. Mereka bisa melihat gedung-gedung, fasilitas, lapangan, dan berbagai hal lainnya. Mereka juga diberi kesempatan untuk mencoba perahu bebek di danau UMM yang viral di media sosial. Terkait ujian, Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM Nurudin mengatakan, ada sebanyak 18 ruangan yang disiapkan untuk seleksi ini. Proses ujian di bagi menjadi dua sesi, yakni pagi dan siang hari yang diikuti calon mahasiswa baru dari seluruh Indonesia. “Pelaksanaan UTBK sudah berlangsung sejak empat tahun lalu. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya joki maupun kecurangan-kecurangan lainnya. Di Setiap ruangan juga terdapat pengawas dan juga bagian teknisi untuk membantu para peserta jika terjadi masalah pada komputer,” jelasnya. Lebih lanjut, Nurudin menambahkan, dalam ujian kali ini pihak panitia melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan metal detector. Pemeriksaan ini berguna untuk menjaring alat-alat elektronik berukuran mini yang mungkin dibawa peserta. Hal itu juga untuk mengantisipasi keccurangan yang mungkin terjadi. Selain itu, UMM juga dibantu dari pihak kepolisian agar proses ujian tetap aman. Terakhir, Nurudin berharap proses seleksi mahasiswa baru ini dapat berjalan dengan lancar dan aman. Karena calon mahasiswa baru ini akan menjadi orang-orang yang sangat diperlukan di bidang kedokteran dan farmasi. “Dari data yang ada, jumlah peserta mirip seperti tahun sebelumnya dan Insyaallah bisa terus bertambah di gelombang berikutnya. Kami tentu berharap mahasiswa baru yang terpilih nantinya bisa menjadi bibit-bibit unggul untuk masa depan,” ujar Nurudin. Di lain sisi, salah satu peserta UTBK Fakultas Kedokteran (FK) UMM, Nauroh Nur Azziyati Siswoyo mengaku optimis bisa lolos seleksi di Kampus Putih. “Alhamdulilah tadi bisa mengerjakan dengan baik karena sudah belajar denga rajin. Insya Allah soalnya bisa terjawab sekitar 70%,” ungkap Ziya. Adapun alasan Ziya memilih kedokteran UMM karena ingin menjadi seperti orang tua yang juga dokter. Selain itu pekerjaan dokter juga merupakan pekerjaan yang mulia yang langsung berinteraksi langsung dengan masyarakat, sehingga bisa mengedukasi di bidang kesehatan. Pun dengan upaya menangani berbagai penyakit yang diderita masyarakat. “Saya kira Kampus UMM juga bagus. Fasilitasnya mumpuni dan memadai. aAkreditasi dan prestasinya juga terus naik. Insyaallah prospek kerja kedepan juga terjamin” pungkas perempuan asal Kediri itu. (Zak/Wil)

Mengajar Mahasiswa Asing hingga Telusuri Kejayaan Islam, Ini Cerita Dosen UMM di Negeri Matador

Salah satu pengalaman menarik didapatkan oleh salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Moh. Mirza Nuryadi, M.Sc. Ia berhasil menginjakkan kaki di Spanyol melalui program academic staff exchange. Berkolaborasi dengan Universitad De Murcia Spanyol (ICAN), ia dapat merasakan pengalaman mengajar di sana. “Sebenarnya saya sudah menyiapkan diri sejak 2021 lalu. Namun, sedikit tersendat karena pandemi masih ada, pun dengan pembatasannya. Alhamdulillah, persiapan saya sejak dini nyatanya memberikan jalan tersendiri,” jelasnya. Selain berkesempatan mengajar di sana, Mirza juga sempat mengunjungi fakultas kedokteran dan melakukan diskusi terkait riset yang ia angkat di depan mahasiswa sarjana, master, maupun doktoral di sana. Adapun riset yang ia lakukan mengenai biokimia yang mengarah pada reproduksi. Yakni resistensi nyamuk aedes aegypti pembawa virus yang menyebabkan manusia terjangkit demam berdarah. Dari riset itu pula, ia juga telah meluncurkan beberapa artikel ilmiah di level nasional maupun Internasional. Terkait sistem pengajaran, di sana ia mendapati bahwa ada klasifikasi untuk setiap kelas. salah satunya kelas berbahasa Inggris yang membuat para mahasiswa bisa terus melatih bahasa Inggrisnya. Hal itu bermanfaat saat ada tamu atau pengajar yang menggunakan bahasa yang sama. “Cara belajar mahasiswa juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Hanya saja ada kepercayaan lebih antara oengajar dan mahasiswa sehingga mereka bisa mengeksplor diri namun tetap dalam pengawasan dosen,” tambah alumnus SMA Muhammadiyah 1 Sumenep itu. Ia juga tak menyia-nyiakan waktu selama berada di Spanyol. Saat ada waktu kosong, ia mencoba mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dengan mengunjungi berbagai lokasi dan mencoba berbagai makanan. Ia mencoba berbagai olahan ikan yang dicampur dengan sayur dna kentang. Sayangnya, rasanya tidak cocok dengan lidah Mirza sehingga ia lebih memiliki makanan lain. “Sebenarnya ada makanan yang menurut say acocok, tapi tempatnya jauh di pinggiran kota. Ada kebab dan juga nasi briyaniyang realtif sesuai dengan lidah saya,” tambahnya. Mirza juga mendatangi kota Madrid. Di sana ia sangat kagum dengan keramahan penduduknya. Walapun penduduk sana tidak banyak yang bisa bahasa Inggris, tapi mereka membantu menunjukkan arah saat saya kebingungan dan tersesat. Ia juga menyempatkan datangke tempat bersejarah Islam yang menjadi tempat paling berkesan, yakni Istana Alhambra di Kota Granada, Spanyol. Ia mengaku kagum atas arsitektur bangunan istana tersebut. Ia juga menyempatkan diri mengikuti tur dan belajar tentang sejarah kejayaan Islam di negeri Matador itu. (ri/wil)

Hasilkan Nol Emisi, Mahasiswa UMM Ciptakan Mesin Elektrolisis Hidrogen 1

Berawal dari kegelisahan saat menyadari banyaknya jumlah sungai di Indonesia, Mohammad Amin Abil mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mendesain sebuah mesin bernama EH1 (Elektrolisis Hidrogen 1). Ini adalah alat yang digunakan untuk memecah air sungai menjadi oksigen dan hidrogen industri yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan maupun transportasi. “Indonesia memiliki sangat banyak sungai. Saya berpikir, bagaimana jika sungai-sungai ini dapat dimanfaatkan untuk Indonesia yang lebih maju di masa depan,”ujarnya. Mengajak serta dua temannya, Evita Leninda Fahriza Ayuni dan Shahrul Asy’ari, ia memanfaatkan aliran air sungai yang memutar turbin arcimedes untuk menghasilkan listrik. Listrik ini kemudian digunakan untuk mengelektrolisis, memecah hidrogen dan oksigen, lalu dimasukkan ke dalam gastrap dan kemudian disimpan di storage masing-masing. “Hasilnya, hidrogen dapat digunakan sebagai bahan bakar nol emisi yang sangat ramah lingkungan. Sementara untuk oksigennya bisa digunakan untuk menunjang layanan kesehatan seperti oksigen di rumah sakit,“ ujarnya. Penuh percaya diri, Amin yakin jika inovasi yang berhasil meraih Bronze Medal dalam ajang Thailand Inventor’s Day 2023, Trade and Exhibition Centre (BITEC) Februari lalu ini, dapat menjadi salah satu terobosan strategis. Di tengah berbagai isu bahan bakar ramah lingkungan, terobosan yang diusung oleh mahasiswa asal Palu Sulawesi Tengah ini dapat bersaing dengan apik. “Saat ini, berbagai negara maju, mulai dari Eropa hingga tetangga kita Singapura, telah banyak menggunakan kendaraan berbahan bakar hidrogen, baik kereta hingga mobil. Semoga segera, Indonesia juga tidak ketinggalan. Kita harus mulai berpikir maju, bahwa Indonesia bisa jauh lebih baik di masa depan termasuk di sisi teknologi,” ujarnya Panjang. Adapun inovasi Amin dan kawan-kawannya ini juga dibimbing oleh beberapa dosen. Di antarany Dini Kurniawati, ST. MT., Dr. Ir. Achmad Fauzan Soegiharto, MT., dan juga Andinusa Rahmandhika, S.T., M.Eng. Ketiga dosen tersebut memberikan banyak masukan sehingga alat tersebut bisa dibuat dengan maksimal. Sejak proses awal hingga akhir, sistem yang diusung Amin benar-benar ramah lingkungan. Saat ini terdapat Grey Hydrogen dimana produksi hidrogen masih menghasilkan limbah (high carbon emmision) dan juga blue hydrogen (low carbon emmision) yang prosesnya masih menggunakan batu bara. Namun hal berbeda diberikan oleh terobosan Amin dan timnya yang masuk pada tataran green hydrogen (zero emmision). “Semua proses kami alami dan tentunya tidak merusak alam. Bahkan penggunaan turbin arcimedes juga dilakukan dengan keberlangsungan lingkungan sekitar. Ikan bahkan tetap dapat hidup saat melewatinya,” tambah Amin. Di akhir Amin berharap, potensi-potensi anak bangsa Indonesia bisa mendapat perhatian lebih. Dengan demikian, impian untuk melihat Indonesia maju, khususnya dalam bidang teknologi segera terpenuhi. “Indonesia punya sangat banyak anak muda berbakat yang mampu mengantarkan menuju Indonesia maju di era 4.0. Ide-ide bagus ini harus diwadahi dan terus dikembangkan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan,” pesannya. (sil/wil)

Elisa Kusno, Alumnus UMM Bercerita Uniknya Lebaran di Negeri Kangguru

Suasana lebaran masih terasa meski hari raya idul fitri sudah seminggu berlalu. Namun, hal itu tidak dirasakan oleh Elisa Kusno, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini tengah menempuh studi di Melbourne. Ia mengaku, Idul fitri tidak begitu istimewa di sana, bahkan tidak ada hari libur khusus. “Alhamdulillah kemarin bertepatan dengan weekend, jadinya bisa bercengkerama dengan muslim-muslim lain. Soalnya kalau di hari biasa, tidak ada libur khusus. Kalau mau bebas dan agak longgar, mau tidak mau harus izin kerja atau kuliah, jelasnya. Elisa, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa ada satu hal menarik saat Ramadan dan idul fitri di sana. Akan ada lebih banyak mualaf yang masuk Islam. Salah satu alasannya adalah banyaknya masjid yang ada di Melbourne. Jadi orang-orang bisa dengan mudah belajar Islam. Terkait kultur, di sana tidak ada kebiasaan memberikan angpao lebaran. Menariknya, ada beberapa temannya asal Pakistan dan Bangladesh yang memiliki pengalaman unik. Di negara asalnya, mereka tidak biasa dan tidak bisa bagi perempuan untuk salat idul fitri di masjid atau lapangan. Maka, momen idul fitri di Melbourne membuat mereka takjub. Adapun ia salat bersama dengan orang-orang Indonesia lainnya. Tepatnya di salah satu lapangan basket miliki salah satu Sekolah Menengah Pertama di Melbourne. Ia juga senang, karena di sana bisa mendapati berbagai makanan khas Indonesia seperti pecel, bakwan, risoles dan lainnya. “Sebenarnya untuk mencari makanan Indonesia di Melbourne cukup mudah. Hanya saja, rasanya beda jika bisa berkumpul dengan saudara satu bangsa dan negara,” kata mahasiswa yang menempuh studi master of education in digital learning itu. Elisa juga bercerita bahwa di sana, ia benar-benar bisa merasakan suasana ‘lakum dinukum waliyadin’. Yakni prinsip agamamu untukmu dan agamaku untukku. Maksudnya adalah, di sana masyarakat saling menghormati agama orang lain. Bahkan saat di kampusnya, Monash University, ada sebuah acara makan siang bersama. Namun karena tahu ada beberapa orang muslim, akhirnya konsepnya diubah dan makanannya dibungkus. “Ini menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Semoga bisa mencerahkan dan memberikan pelajaran yang baik agar bisa menjadi manusia yang sebenar-benarnya,” pungkasnya. (Wil)

Mengupas Makna Kupat di Halal Bihalal UMM

Budaya kupat memiliki nilai filosofis tersendiri di momen berlebaran hari raya. Hal itu dijelaskan oleh Drs. Nur Cholis Huda, M.Si. Dalam halal bihalal kelurga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 29 April lalu. Turut hadir dalam agenda itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM sekaligus Menteri Koordinator Bidang Peembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Lebih lanjut, Huda melanjutkan bahwa kupat terbuat dari daun janur yang memiliki nilai filosofis. Janur artinya ‘sejatine ning nur’ yang berarti cahaya yang benar-benar dari ilahi. Kupat juga memiliki kepanjangan tersendiri yakni laku papat atau empat L. Pertama, yaitu lebar. Artinya waktu untuk berpuasa telah usai. Makanya, Huda mendorong muslimah untuk segera menyelesaikan utang puasa yang ada. Dengan begitu, makna lebar bisa diperoleh dengan penuh. Kedua, yakni lebur yang bermakna meleburnya kesalahan. Saling menghilangkan dan memaafkan. “Kemudian yang ketiga adalah luber yang artinya kebaikan kita harus lebih-lebih. Dengan begitu kita bisa mendapatkan sejatine nur, yakni cahaya dari ilahi. Terakhir yakni labur yang artinya wajah kita harus cerah. Tidak boleh mengeluh dan sambatan,” jelasnya. Sementara itu, Muhadjir mengingatkan akan tradisi Muhammadiyah yakni maju bersama. Membantu mereka yang belum maju untum bisa lebih maju. Ia juga berpesan agar UMM harus bisa lebih sensitif akan perubahan. “Biasanya, lembaga yang sudah besar dan mapan tidak begitu sensitif akan perubahan. Maka, saya minta pimpinan dan juga staf agar tidak merasa sudah maju dan merasa paling depan. Harus terus mengembangkan diri, khsususnya dalam bidang akademik,” tegasnya. Muhadjir juga sempat memorivasi para dosen untuk segera mencapai gelar profesor. Tidak mudah puas dengan apa yang didapat, dan terus berinovasi untuk memajukan negeri. “Jangan lelah membawa UMM ke barisan paling dean, baik di level nasional maupun internasional,” pungkasnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. Mengatakan bahwa semangat Ramadan Kampus Putih luar biasa dan harus terus dinyalakan. Salah satu kegiatan Ramadan UMM yang menarik adalah sahur on the road ke berbagai wilayah bersama para mahasiswa asing. Kegiatan itu menarik banyak perhatian dan dinilai bagus. “Kami selaku pimpinan juga mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga di momen hari raya ini kita bisa saling memaafkan dan mendapat keberkahan,” pungkasnya mengakhiri. (Wil)