Peringati Hari Guru, FKIP UMM Nyanyikan Himne Guru Berjamaah

Dalam rangka memperingati Hari Guru, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan apresiasi serta aksi kepada guru-guru se-Indonesia melalui pembacaan puisi, diskusi dan menyanyikan himne guru. Adapun agenda yang dilaksanakan pada 25 November 2022 ini diikuti oleh dosen, karyawan, hingga mahasiswa Kampus Putih yang turut datang dan memeriahkan. Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, MM. mengatakan, pendidikan merupakan faktor penting untuk membangun sebuah negara. Salah satunya dalam membentuk generasi penerus yang bertanggungjawab dan mampu mengatasi tantangan masa depan. “Nelson Mandela pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia,” katanya. Trisakti, sapaan akrabnya melanjutkan, peningkatan pendidikan harus selalu dilakukan. Hal itu dikarenakan zaman yang terus maju dan berubah sehingga sumber daya manusia unggul harus terus dilahirkan sesuai dengan zaman. Ia juga menilai bahwa guru berperan penting dalam pendidikan. Mereka mendidik, mengarahkan, dan memberikan contoh ternaik bagi anak didiknya. Pun dengan upaya memerikan inspirasi agar anak bangsa mampu bermimpi tinggi dan menggapainya di masa depan nanti. Guru juga berjasa membentuk karakter generasi penerus bangsa dan melahirkan pemimpin terbaik untuk Indonesia. “Maka dalam kesempatan ini FKIP UMM berterimakasih kepada seluruh guru yang sudah mewakafkan hidupnya demi mewujudkan pendidikan terbaik. Kami juga akan selalu memotivasi guru dan calon guru untuk terus berjuang di bidang pendidikan untuk mewujudka Indonesia yang lebih baik,” tegasnya. Hal serupa juga disampaikan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UMM, M. Nurudin. Menurutnya, FKIP tidak menuntut mahasiswanya untuk menjadi seorang guru tapi menjadi seorang pendidik. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi agent of change di tengah masyarakat. Tidak perlu muluk-muluk, bisa dimulai di lingkungan yang kecil. Ia melanjutkan, guru merupakan pelita yang menerangi. Sementara mahasiswa adalah bahan bakar bagi guru untuk terus maju. Maka, mahasiswa harus membantu guru dalam mendidik anak bangsa. Memberikan inovasi baru maupun model pengajaran yang lebih fresh. “Dalam peringatan Hari Guru ini kami tidak hanya melangsungkan kegiatan seremonial saja. Tapi juga mengadakan diskusi untuk membahas keresahan dan masalah-masalah yang dihadapi oleh guru. Utamanya mereka pendidik-pendidik anak bangsa,” pungkasnya. (wil)

PIMNAS Siap Dilangsungkan di UMM, Ini Maskot Uniknya

Pekan Ilmiah Mahasiswa nasional (PIMNAS) ke-35 akan segera dilangsungkan di Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tepatnya pada 30 November hingga 4 Desember mendatang. Dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah dan kampus, UMM juga telah menyiapkan berbagai hal agar rangkaian acara bisa berjalan dengan baik. Salah satu yang menarik yaitu maskot dan logo PIMNAS 35 yang diberi nama Si Panji. Adapun Si Panji merupakan gagasan yang dinisiasi oleh Kepala Biro Informasi dan Komunikasi (infokom) UMM, Ir. Suyatno, M.Si. dan tim persiapan. Uniknya, Si Panji memberikan nilai filosofis yang menarik. Dimulai dari helm astronot yang menggambarkan mahasiswa sebagai ilmuwan. Sementara topeng panji menjadi simbol kesenian daerah Malang, yaitu tari topeng Malangan dengan tokoh utama seorang kestaria bernama Panji Asmoro Bangun. “Tokoh ini merupakan kesatria yang ceras, lembut hari, bijaksana, serta tegas dalam mengambil keputusan. Wajahnya yang berwarna hijau menjadi cermin akan sifat-sifat tersebut,” jelas Suyatno. Pria yang juga dosen UMM itu juga sempat menyinggung makna jas dan dasi yang dikenakan. Menurutnya, dua item itu menggambarkan profesionalitas mahasiswa sebagai kaum intelektual dan calon pemimpin masa depan. Selain itu, ada juga pakaian penari topeng malang yang menjadi visualisasi dari Malang Raya. Kemudian yang terakhir adalah sepatu yang merepresentasikan kaum intelektual yang mengedepankan etika, estetika, dan kesantunan. “Kami memilih maskot Si Panji dengan harapan semua mahasiswa peserta PIMNAS yang datang dari penjuru negeri dapat mewarisi kecerdasan dan sifat-sifat baik dari Panji Asmoro Bangun. Selamat berkompetisi dengan sehat, semoga mendapatkan hasil terbaik dari usaha-usaha yang diupyakan,” kata Suyatno berharap. Adapun PIMNAS merupakan ajang resmi tahunan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam bidang penalaran untuk memperlombakan karya ilmiah mahasiswa tingkat nasional. Ajang ini juga menjadi penjabaran dari program menciptakan iklim akademis yang kompetitif di kalangan mahasiswa Indonesia. Selain itu juga sebagai forum pertemuan ilmiah dan komunikasi produk kreasi mahasiswa, diikuti oleh mahasiswa atau kelompok tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) seluruh Indonesia. (wil)

Gempa di Cianjur, Ini Kata Dosen UMM tentang Rumah Tahan Gempa

Gempa yang melanda Cianjur pada Senin (21/11) kemarin telah meluluh lantahkan berbagai bangunan dan menelan korban jiwa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan bahwa gempa ini merupakan siklus 20 tahunan yang akan melanda Cianjur. Melihat fenomena tersebut, Ir. Erwin Rommel, M.T., dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan ada beberapa hal yang membuat banyaknya bangunan roboh saat gempa berkekuatan 5.6 magnitudo itu menerjang Cianjur. Beberapa penyebabnya adalah posisi pusat gempa, jenis patahan, kondisi lapisan tanah, serta kondisi bangunan yang ada di Cianjur. Erwin, sapaannya, menjabarkan bahwa pada kejadian gempa di Cianjur, pusat gempa berada pada jalur sesar Cimandiri dengan kedalaman kurang dari sepuluh kilometer yang masuk dalam kategori gempa dangkal. Selain dekat dengan pusat gempa, karakteristik tanah di daerah Cianjur relatif cukup labil. Hal ini terlihat dari topografi tanah di Cianjur yang berupa lereng-lereng bukit dan pegunungan. Kondisi tersebut menyebabkan tanah menjadi rawan longsor jika terjadi gempa. “Sebagian besar bangunan yang berdiri di daerah Cianjur adalah bangunan rendah dan bangunan sederhana yang belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa. Kebanyakan masyarakat awam beranggapan bahwa gempa yang terjadi lebih berdampak signifikan pada bangunan tinggi saja. Nyatanya bencana gempa bisa mengakibatkan kerusakan pada semua bangunan, baik rumah tinggal maupun gedung-gedung bertingkat,” kata dosen asal Medan tersebut. Terkait spesifikasi rumah tahan gempa, Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kamus (BP2K) UMM itu mengatakan bahwa untuk membangun rumah sederhana tahan gempa ada sederet hal yang harus diperhatikan. Pertama, membuat bangunan dengan bentuk sesimetris mungkin. Kedua, cukup tersedianya pengaku pada dinding. Minimal setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis. Ketiga, memberi pengangkuran yang cukup pada setiap sambungan elemen pada bangunan. Misalnya sambungan dari dinding ke balok pondasi, sambungan dinding ke kolom, ataupun sambungan balok ke konstruksi atap. “Ada beberapa model bangunan sederhana tahan gempa sudah dikenalkan kepada masyarakat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Di antaranya rumah sederhana tahan gempa berbahan kayu, bambu, dan beton. Spesifikasi utama yang harus dipenuhi agar rumah tahan gempa yakni adanya integritas bangunan,” katanya. Rumah tahan gempat dapat tercipta jika seluruh elemen-elemen dari bangunan mulai dari pondasi, balok sloof, kolom, dinding, serta balok atap tersambung dengan baik dan benar. Selain itu, perlu adanya penyalur beban dari satu elemen ke elemen lain agar bangunan tidak mudah runtuh dan dapat menahan beban gempa. Dalam realisasinya, pembuatan rumah tahan gempa memang membutuhkan biaya yang lebih mahal dibanding rumah pada umumnya. Namun Erwin mengatakan bahwa hal tersebut bisa disiasati dengan penggunaan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal. Masyarakat bisa menggunakan bambu atau rotan sebagai pengganti tulangan baja. Selain itu, penggunaan kayu juga bisa menjadi alternatif bahan pengganti lainnya. “Intinya, konsep pembangunan rumah tahan gempa adalah membuat bangunan menjadi lebih ringan, lebih daktail, dan adanya penyaluran beban dari setiap elemennya sampai ke pondasi. Jika kita bisa memanfaatkan kekayaan alam sebagai pengganti bahan bangunan, maka rumah tinggal tahan gempa bisa menjadi lebih murah dan terjangkau di masyarakat,” ungkap ketua  Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) wilayah Malang Raya itu. Dalam pembangunan rumah tahan gempa, selain mengikuti regulasi Kementrian PUPR, Erwin juga memberikan beberapa tips lainnya. Salah satunya yakni mengetahui perkembangan kondisi patahan atau sesar yang ada disekitar tempat tinggal. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memahami tingkat kerawanan gempa pada desain bangunan kita agar bisa lebih siap. Selanjutnya adalah pemberian edukasi kepada masyarakat tentang mitigasi dan penyelamatan korban. “Perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang antisipasi dan mitigasi ketika terjadi gempa bumi. Selain itu, Pemerintah Daerah dan Pusat bisa melakukan pemetaan dan relokasi secara menyeluruh terhadap bangunan-bangunan yang telah berdiri. Utamanya terhadap bangunan yang berada didaerah jalur sesar dan juga yang berpotensi untuk menjadi sesar aktif dikemudian hari,” pungkasnya. (syi/wil)

Tips Mahasiswa UMM Sukses Ikuti Double Funding Beasiswa

Laily Khairunnisa, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mampu jalani dua pertukaran pelajar dalam satu waktu. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini berhasil diterima di program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan membuatnya menimba ilmu di Palembang, tepatnya di Universitas Sriwijawaya (Unsri). Menariknya, ia juga sedang menjalani program exchange di Asia University, Taiwan. “Jadi yang MBKM Unsri, saya harus berangkat ke Palembang dan benar-benar belajar di dalam kampus. Sementara di Asia University, saya menjalani virtual exchange yang memungkinkan saya untuk belajar secara daring bersama dengan mahasiswa dari berbagai negara dan diajar oleh dosen kampus terkait,” jelasnya. Selain belajar, ia juga diberi materi mengenai sejarah dan budaya taiwan. Hal itu membuatnya tertarik dan semangat menjalani studi. Pun di Unsri yang mengharuskan dia untuk mengikuti modul nusantara dari MBKM. Ia diharuskan belajar budaya, bahasa, tari, kerajinan dan lainnya. Dengan begitu, ia mendapatkan berbagai perspektif dan pengetahuan baru. Mahasiswa asal NTB itu membeberkan tips agar diterima di exchange di Asia University. Menurutnya, hal yang paling utama adalah kelengkapan dokumen dan keaktifan saat berkuliah. Dengan begitu, dosen akan mengetahui keberadaannya dan merekomendasikannya di program terkait. Keaktifan dalama berorganisasi dan berkuliah juga menjadi kunci penting agar diterima di program MBKM. Pun dengan persiapan jauh-jauh garu sebelum pendaftaram agar tidak tergesa-gesa. Apalagi ia harus bersaing dengan 32.000 mahasiswa pendaftar lainnya. Dari jumlah itu, akan diambil 12.000 mahasiswa yang akan menjalani pertukaran mahasiswa di seluruh nusantara, termasuk dirinya. Selain karena ia rajin dan pandai memanfaatkan peluang, Nisa menilai bahwa UMM menjadi alasam terbesar ia bisa diterima di kedua program tersebut. Apalagi Kampus Putih sudah menyediakan dukungan agar mahasiswa bisa belajar di luar kampus. Baik itu melalui program level nasional atau bahkan internasional. Sehingga Nisa bersyukur telah memilih UMM sebagai almamaternya. Ia bukan tanpa kendala. Beberapa kali jadwal kuliah di dua universitas itu bentrok dan membuatnya harus memutar otak. Kadang ia harus melobi dosen Unsri, kadang ia juga harus berkomunikasi dengan tim pengajar Asia University. “Alhamdulillah sejauh ini bisa saya atur dengan baik. Semoga diterimanya saya di dua program ini membuat saya mendapatkan banyak pengalaman, relasi, dan pelajaran hidup baru. Bahkan mungkin bisa saya bagikan ke teman-teman nanti,” tuturnya. Menurutnya, waktu empat tahun di bangku perkuliahan tidak boleh disia-siakan. Selain harus memahami materi kuliah dengan baik, mahasiswa juga harus mengikuti banyak kegiatan seperti misalnya badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Nisa menceritakan bahwa dirinya sering mengikuti kegiatan BEM UMM dan memenangkan lomba. Hal itulah yang mengantarkannya ke event-event lebih besar. “Keaktifan saya di BEM membawa berkah. Karena itu, saya diberi rekomendasi oleh salah satu dosen untuk bisa mendaftar di virtual exchange di Taiwan. Maka, saya kira hal-hal kecil bisa memberikan hal besar di kemudian hari. Jadi jangan pernah remehkan hal yang menurut kita kecil dan remeh,” tegasnya Nisa. (dev/wil)

Unik, UMM Gelar Seminar Internasional Berbahasa Indonesia

Di era modern digital, negara harus tetap menjaga bahasa dan budaya agar tetap memiliki identitas serta jati diri. Hal tersebut di sampaikan oleh Tokoh NGO Sosio Budaya Malaysia Tan Sri Prof. Datuk Wira Dr.  Abdul Latif Bin Abu Bakar dalam Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) dengan tema Arah Baru Ilmu Sosial, Politik, dan Humaniora dalam Era Masyarakat Digital untuk Pembangunan Berkelanjutan. Adapun agenda ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan diikuti lebih dari 120 peserta pada 23-24 November 2022. Uniknya, meski bertajuk seminar internasional, namun bahasa yang digunakanbukan Inggris, namun Bahasa melayu Indonesia sebagai upaya internasionalisasi bahasa Indonesia di mata dunia. Lebih lanjut, Abdul menyampaikan bahwa negara Indonesia dan Malaysia memiliki nenek moyang yang satu yakni melayu. Pun dengan negara lain yang keturunan melayu dan menggunakan bahasa melayu. Abdul menyebutnya sebagai rumpun nusantara atau rumpun melayu nusantara. Menurutnya, suatu keluarga seharusnya memang tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta tidak mengalami pertikaian. Abdul juga mendorong agar negara-negara senantiasa melestarikan budaya dan bahasa. Sekalipun di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang kian cepat. Menurutnya, orang yang mengerti teknologi tapi tidak mengenal sosial dan budaya akan hancur. Karena hal itu merupakan sebuah identitas. “Maka upaya pelestarian ini harus terus dilakukan. Bukan hanya oleh mereka yang tua, tapi juga para anak muda yang akan melanjutkan tonggak kepemimpinan,” tambahnya. Selain Abdul, adapula pemateri dari sederet negara seperti Myoung Sook Kang, Habib Zarbaliyev, hingga Laurent Metzger dan lainnya. Mereka mengkaji berbagai hal sesuai dengan tema terkait sekaligus memberikan pemahaman baru. Sementara itu, Dekan FISIP UMM Prof. Dr. Muslimin, M.Si mengatakan, tujuan seminar ini yakni sebagai upaya agar bahasa melayu Indonesia bisa menjadi bahasa dunia. Sebab, saat ini ada 59 negara yang sedang mempelajari bahasa melayu Indonesia. Selain itu juga upaya menjadikan bahasa melayu Indonesia sebagai bahasa akademik sehingga seluruh karya ilmiah bisa lebih mudah dipublikasikan. Selain itu juga untuk memberikan kesempatan dalam bertukar pandang dan ide. Pun dengan upaya memperkuat dan mengembangkan keilmuan mellaui diskusi tentang isu terkini. Muslimin juga menegaskan bahwa dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 mengatur tentang keharusan menggunakan bahasa Indonesia. Seperti nama gedung, jalan, apartemen, kantor, merek, lembaga pendidikan dan lainnya. “Informasi tentang barang atau jasa yang diproduksi di dalam negeri atau di luar negeri dan diedarkan di indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia. Sehingga memang bahasa Indonesia harus banyak digunakan di berbagai lokasi dan kondisi,” tegasnya. Hal serupa disampaikan oleh Wakil Rektor I UMMDr. Syamsul Arifin, M.Si. Ia sangat mengapresiasi agenda Seminar Internasional Berbahasa Indonesia (SIBI) ini. Pertama, yakni penggunaan bahasa Indonesia yang jarang dilakukan di seminar internasional. Langkah ini dianggap mampu membuat bahasa Indonesia diguunakan masyarakat dunia. “Kemudian yang kedua adalah topik yang diangkat mengenaik sosial dan juga politik dalam konteks masyarakat digital. Tentu kita harapkan ada ide dan inovasi bagus yang bisa diasimilasikan dalam bentuk artikel maupun platform lainnya,” pungkasnya. (zak/wil)

UMM-PP Aisyiyah Kupas Sosok Siti Walidah

Siti Walidah, istri Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah memiliki jasa yang luar biasa. Selain mendirikan Aisyiyah, ia juga berperan dalam meningkatkan harkat dan martabat perempuan. Maka, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan pimpinan pusat (PP) Aisyiyah melangsungkan soft launching dan mengupas buku Menapak Jejak Siti Walidah pada 18 November lalu. Hadir pula sederet tokoh untuk turut berdiskusi dan membedah buku terkait. Salah satunya Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno yang mengatakan bahwa Siti Walidah menjadi panutan bagi kehidupan Chamamah. Apalagi dengan sikap dan tindakan Siti Walidah yang mampu menjawab tuntutan zaman, membuat Chamamah terinspirasi dan meningkatkan kualitas diri. Menurutnya, kepribadian Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan yang baik tersebut berasal dari keluarga yang mengedepankan pendidikan. “Tidak hanya itu, nilai-nilai yang ada dalam keluarga tersebut diamalkan oleh Nyai Ahmad Dahlan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga piawai membesarkan hati orang lain dan menjadi penerang tatkala keadaan tidak memungkinkan,” jelasnya. Hal tak jauh berbeda disampaikan oleh Dr. dr. Siti Fadilah Supari. Ia yang pernah menjabat sebagai menteri kesehatan menuturkan bahwa Nyai Ahmad Dahlan memberikan inspirasi baginya untuk terus berupaya dan berkontribusi bagi bangsa. Utamaya di dunia kesehatan yang digelutinya. Dalam buku tersebut, diceritakan bagaimana kerja keras Siti Fadilah saat dipercaya menjadi menteri kesehatan. Salah satunya perseteruannya dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait flu burung. Ia berkeyakinan bahwa vaksin flu burung tidak perlu dilakukan. Pun dengan penolakannya akan gagasan flu burung yang menular dari manusia ke manusia. Semua itu berdasarkan penelitian ilmiah, bukan pendapatnya semata. Perjuangan Siti Fadilan tidak sia-sia. Flu burung yang begitu mematikan tidak jadi berkembang sebagai pandemi karena ia mampu membuktikan tidak ada penularan dari manusia ke manusia. Hal itu membuat sorot mata dan dukungan mengalir ke dirinya. Turut hadir Dra. Yuli Mumpuni Widarso  yang pernah menduduki duta besar Indonesia di Aljazair dan Spanyol. Ia mengenal Aisyiyah dari sang ibu yang memang berkecimpung di situ. Apalagi ibunya juga merupakan seorang guru di salah satu SMA Muhammadiyah. Yuli melihat bahwa kesederhanaan orang Muhammadiyah memberikan nilai tambah di mata masyarakat. Pun dengan komitmen kuat dalam upaya peningkatakan kualitas pendidikan di Indonesia tanpa pamrih. “Nilai-nilai itulah yang selalu saya peang teguh dan amalkan dalma kehidupan sehari-hari. Pun dengan upaya saya saat memegang amanah sebagi duta besar,” katanya menjelaskan. Adapun Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan juga merupakan pahlawan nasional. Saat Muhammadiyah berdiri pada 1912, ia selalu menyokong perjuangan suaminya. Salah satunya dengan mengusahakan pendidikan kaum wanita di beberapa kampung seperti Kauman, Lempuyangan, Krangkajen dan lainnya, Dalam buku Menapak jejak Siti Walidah juga dipaparkan benang merah perjuangan Siti Walidah dengan potensi-potensi perempuan masa kini. Bagaimana perempuan mengikuti jejaknya dan berkarya di bidangnya masing-masing. (wil)

Rektor ITB Ahmad Dahlan dan Akademisi UMY Kupas Buku Connected Leadership

Seorang pemimpin yang baik tak hanya mampu membawa perubahan dan menjadi eksekutor saja, tetapi juga dapat terhubung dengan para anggotanya. Salah satu caranya adalah dengan mendengarkan isi hati para anggota serta membaur. Begitulah kata pembuka dari Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Ahmad Dahlan Dr. Mukhaer Pakkanna, SE., MM. dalam acara bedah buku Connected Leadership. Bedah buku karya Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. ini diselenggarakan pada Sabtu (19/11) di Muktamar Fair De Tjolomadoe. Lebih lanjut, Mukhaer mengatakan bahwa ada beberapa ciri pemimpin yang baik menurut buku Connected Leadership. Di antaranya sanggup mendengarkan anggota dan tidak langsung mendoktrin, mempelajari permasalahan, serta memberikan solusi yang tepat. Hal-hal yang dituliskan dalam buku tersebut juga sesuai dengan bagaimana Rasulullah memimpin seperti penerapan sifat sidik, amanah, tabligh, fatonah, dan juga istiqomah. “Jadi meskipun buku ini mengambil konsep barat, namun masih bisa diterapkan di negara timur seperti Indonesia. Buku ini juga menjelaskan kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang berjejaring, guyup rukun, serta mengutamakan kebersamaan. Menurut saya, buku berhalaman 134 lembar ini mampu menyajikan bagaimana seharusnya seorang pemimpin bertindak. Kalimat yang digunakan sangat komunikatif dan mudah dicerna,” kata Mukhaer. Senada dengan Mukhaer, Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dyah Pikanthi Diwanti SE., MM. mengatakan bahwa dalam kepemimpinan yang tekoneksi, ada beragam jaringan yang terhubung. Masing-masing jaringan juga memiliki ciri khas yang berbeda. Hal itu sesuai dengan kemauan dan kemampuan masing-masing anggota. Menurutnya, buku ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) serta cara memanajemen SDM tersebut. “Pada awal-awal halaman, buku ini menjelaskan tentang beragam fakta yang ada di masyarakat. Penyampaian fakta tersebut juga diiringi dengan penyampaian berbagai mitos tentang kepemimpinan. Uniknya puncak pada buku ini tidak terdapat pada akhir bab namun pada bab sembilan, di mana pada bab ini membahas tentang bagaimana sebuah kepemimpinan dapat membawa perubahan,” ujar dosen Program Studi Ekonomi Syariah itu. Terkait kesannya terhadap buku ini, Dyah menjelaskan bahwa cara penyampaian buku ini sangat sederhana. Meski poin-poinnya disampaikan dengan tegas, namun tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurut Dyah, dalam buku tersebut Nazaruddin ingin menyampaikan tentang bagaimana seharusnya pengembangan kepemimpinan. “Dalam kepemimpnan yang terkoneksi, akan muncul gagasan-gagasan baru dari para anggota. Cara ini juga mampu menumbuhkan kepercayaan dan juga kinerja anggota. Jadi, hubungan pimpinan dan anggota tidak hanya terbatas dalam hubungan formal saja tetapi juga membangun komunikasi dan kolaborasi. Harapannya buku ini tidak berhenti sampai sini saja tetapi terus berlanjut sampai edisi-edisi selanjutnya,” ungkap pembina ruang imajinasi sastra UMY itu mengakhiri. (syi/wil)

Qatar Tuan Rumah Piala Dunia 2022, Begini Kata Dosen Ekonomi UMM

Dari segi ekonomi tidak ada hal yang menarik dengan terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Hal tersebut diungkapkan oleh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, SE., M.Sc. Menurutnya, tanpa adanya gelaran Piala Dunia 2022, Qatar sudah menjadi pelaku ekonomi besar di wilayah Timur Tengah. Dimana Qatar merupakan salah satu negara terkaya sebagai produsen minyak dunia. Selain itu Qatar juga memiliki pertumbuhan ekonomi 6,3 % dan Gross Domestic Product (GDP) mencapai 176 miliar dollar AS. Yunan kembali menjelaskan jika dilihat secara teori pembangunan, keputusan Qatar sebagi tuan rumah perhelatan sepak bola yang diadakan setiap empat tahun sekali ini disebut teori terbalik. Jika dahulu negara besar yang mendominasi perekonomi dunia seperti Amerika Serikat dan Eropa, tapi hari ini ada tren atau kecendrungan bahwa negara-negara yang tidak diperhitungkan bisa menjadi pemain. “Pada dasarnya setiap negara yang menjadi tuan rumah dalam Piala dunia, akan mengalami pola yang sama dari sektor ekonomi. Di antaranya seperti peningkatan pendapatan di industri travelling baik dari transportasi maupun perhotelan. Pun dengan potensi terbukanya pasar baru di bidang merch atau brand global seperti Adidas, Nike, Puma dan lainnya,” ungkap Yunan. Faktanya, Qatar menjadi negara yang menggelontorkan dana paling besar sepanjang sejarah Piala Dunia, yakni senilai 200 Miliar dollar AS. Biaya yang fantastis itu merupakan bentuk harga diri bagi Qatar sebagai bentuk eksistensi  negara penetrasi ekonomi. Selain itu juga sebagai pembuktian antitesa teori-teori pembangunan yang telah dibahas sebelumnya, bahwa negara-negara yang dianggap kecil juga bisa ikut andil dalam ekonomi dunia. “Jika dilihat dari teori rasionalitas eknomi, banyaknya dana yang dikeluarkan Qatar di Piala Dunia itu berdasarkan pada ego dan kepentingan. Dalam hal ini, Qatar sebagai pelaku ekonomi tidak hanya memiliki tujuan di aspek ekonomi saja, tapi juga beriringan dengan kepentingan-keptingan lain seperti politik,” terang Yunan. Menurut Yunan, ajang ini menjadi kesempatan bagi negara-negara untuk membktikan kekuatannya, termasuk negara-negara yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Apalagi melihat ada sederet negara besar yang gagal melaju ke putaran final Piala Dunia. Hal itu dikarenakan munculnya kejutan dari negara yang tidak memiliki tradisi sepakbola. “Ini bisa mnejadi peluang bagi mereka untuk menunjukkan bahwa setiap negara memiliki potensi dan aktor,” katanya mengakhiri. (zak/wil)

RBC UMM Kaji Respons Muhammadiyah di Tahun Politik 2024

Dalam rangka menyongsong tahun politik pada 2024, Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong Muhammadiyah mengedepankan politik gagasan. Dengan demikian, Muhammadiyah sebagai bagian dari rekan kritis pemerintah perlu membicarakan isu-isu strategis. Direktur Eksekutif RBC UMM, Subhan Setowara menilai bahwa Muhammadiyah harus memerankan fungsinya sebagai penengah antara penguasa dan rakyat. Hal itu tidak lepas dari kerja yang selama diupayakan Muhammadiyah yakni kerja pembangunan peradaban manusia. “Kerja inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Karena itu, Muhammadiyah turut serta menjawab masalah-masalah kekinian, seperti resesi global, krisis pangan, dan ikhtiar memajukan ekonomi rakyat. Itulah politik yang sebenarnya bagi Muhammadiyah,” tegasnya. Di sisi lainnya, Neni Nur Hayati, Direktur Eksekutif Democracy and Electoral Empowerment Partnership menyatakan bahwa pemilu serentak 2024 harus dijadikan tonggak perbaikan secara substansial. Tidak sekadar menjadi ajang demokrasi prosedural yang konstelatif. “Ini harus menjadi momentum transformasi demokrasi untuk membangun politik yang semakin beretika, beradab, dan bermoral, tuturnya. Menurutnya, Muhammadiyah perlu tetap konsisten menjaga moral bangsa melalui peran-peran kenegarawanan. Peran Muhammadiyah bisa dijalankan melalui upaya mendorong kader-kader terbaik Muhammadiyah untuk ikut terlibat aktif dalam politik. Sebab, hal itu merupakan bagian dari misi amar ma’ruf nahi munkar. Distribusi kader-kader Muhammadiyah yang unggul dan memiliki passion politik diharapkan bisa menjadi penyeimbang dari gerakan-gerakan negatif. Utamanya di tahun-tahun politik. “Tahun politik pada 2024 diprediksi sarat masalah seperti politik uang, korupsi politik, politik identitas, hoaks, dan berbagai persoalan lainnya,” terangnya. Kendati demikian, untuk bisa mendistribusikan kader-kader terbaik Muhammadiyah harus bekerja keras. Muhammadiyah perlu mempersiapkan kader terbaiknya termasuk juga kader perempuanyang memiliki kapasitas, kapabilitas dan kualitas yang mumpuni untuk dihibahkan kepada bangsa melalui partai politik atau maju sebagai calon perseorangan. Hal yang sama juga diutarakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiah (PPNA), Diyah Puspitasari pada sesi diskus. Posisi Muhammadiyah yang non-partisan harusnya bukan menjadi garis demarkasi yang timpang dengan politik. Perlu ada penyesuaian yang adaptif dan solutif dengan kondisi untuk mempersiapkan kader terbaik Muhammadiyah menjadi kader bangsa. (wil)

Baru Diresmikan, Marching Band UMM Ramaikan Manahan

Selain Sky Show, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga menampilkan marching band untuk menghibur para peserta dan penggembira di Pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke-48. Berlangsung pada 20 November 2022, tim UMM membawakan beberapa lagu dengan instrumen serta formasi yang menarik di Stadion Manahan, Solo. Tidak sendiri, penampilan ini juga berkolaborasi dengan dua universitas Muhammadiyah lain. Salah satu anggota marching band UMM Navisha Narenda mengatakan bahwa mereka sering melakukan latihan gabungan. Terhitung ada tiga latihan gabungan yang dilaksanakan di Solo dan Yogyakarta. Hal itu untuk meningkatkan kekompakan, apalagi penampilan ini merupakan hasil kolaborasi. “Saya sangat bangga bisa tampil di panggung besar dan disaksikan Presiden Indonesia, Ketua PP Muhammadiyah, Aisyiyah, warga warga Muhammadiyah di seluruh dunia. Meski sempat grogi, tapi alhamdulillah karena dukungan banyak pihak, penampilan kami memuaskan,” kata perempuan yang menjadi field commander UMM tersebut. Navisha, sapaan akrabnya juga bersyukur pilihannya untuk menimba ilmu di UMM tidak sia-sia. Selain kurikulum dan perkuliahannya berkualitas, Kampus Putih juga menyediakan kegiatan mahasiswa untuk mewadahi potensi-potensi mahasiswanya. Salah satunya dia dan bakatnya di marchng band. Di sisi lain, Frendy Aru Fantiro, M.Pd. selaku pembina UKM marching band UMM mengungkapkan kebanggaannya terkait keikutsertaan UMM dalam pembukaan Muktamar ke 48. Ia bersyukur karena mahasiswa-mahasiswanya diberi kepercayan dan kesempatan tampil di hadapan jutaan warga Muhammadiyah. “Meski UKM ini baru diresmikan, namun kualitas dan upaya yang dilakukan begitu baik. Teman-teman mahasiswa sangat serius dalam mempersiapkan segalanya. Dibentuk pada 2018, marchign UMM sempat vakum dua tahun karena pandemi dna akhirnya diresmikan pada 2022 ini,” jelas dosen asal Malang itu. Lebih lanjut, Frendy sapaannya berharap penampilan timnya di Muktamar makin mengenalkan UKM marching band di mata masyarakat. Bahkan ia juga mendorong mahasiswa binaannya untuk lebih berprestasi. Baik itu dengan tampi di ajang bergengsi atau memenangkan kompetisi. “Ini merupakan suatu awal yang bagus. Kedepannya UKM marching band siap untuk mendulang berbagai prestasi, mulai dari tingkat nasional hingga internasional,” pungkasnya. (syi/wil)