Kaji Habbatussauda, Mahasiswa FK UMM Rengkuh Kemenangan di Ajang Esai Nasional

Kabar membanggakan datang dari tim mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka adalah Yasmin Zakiyyatuzzahra dan tim, Zulfia Rahmawati Utami serta Jesica Lucky Mar’atus Sholiha yang sukses meraih juara 3 Esai Ilmiah pada ajang 2nd Jember Dentistry Festival, Jember, pada awal November ini. Ketiganya mengangat tema pengobatan herbal dalam perspektif agama. Fokusnya yakni efektivitas pemebrian habbatussauda dalam pengobatan pasien diabetes mellitus tipe 2. Selain itu juga mengkaji pandangan Islam tentang habbatussauda sebagai obat herbal. Adapun habbatussauda merupakan salah satu tanaman herbal paling terkenal di Indonesia. Bahkan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, salah satunya penunjang terapi diabetes mellitus tipe 2. Di Indonesia, diabetes mellitus yang merupakan penyakit tidak menular nomor 3 yang paling banyak diderita dengan jumlah pengidap sebanyak 19,47 juta. Dengan jumlah penduduk sebesar 179,72 juta, berarti prevalensi diabetes di Indonesia sebesar 10,6%. “Maka kami mencoba memberikan inovasi dan meneliti hal yang menunjang untuk terapi penyakit ini, salah satunya yakni melalui tanaman herbal. Di samping itu, diriwayatkan dalam sebuah hadist riwayat Bukhari bahwa habbatussauda dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit sejak zaman Rasulullah,” tambah Yasmin. Ia menjelaskan bahwa mereka sudah bersiap diri dari jauh-jauh hari. Beberapa langkahnya yakni menentukan tema, mencari literatur, kemudian juga menyusun kerangka esai. Pun dengan melatih public speaking dan presentasi. Mereka merasa beruntung karena pihak Kampus UMM selalu mendukung potensi mahasiswanya dengan membentuk LSO maupun unit kegiatan mahasiswa (UKM). Misalnya saja UKM Forum Diskusi Ilmiah yang sering melahirkan mahasiswa berprestasi. Mereka juga bersyukur bisa turut serta dalam ajang tersebut karena bisa mengenal banyak teman. Dengan begitu, banyak ide dan insight baru yang bisa dikembangkan ketika kembali ke kampus. Apalagi ini perlombaan pertama bagi mereka dan bangga dengan hasil yang diraih. “Saya rasa kemenangan kami ini bukan hanya menjadi pelecut bagi saya dan tim, tapi juga harus menjadi motivasi bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk turut berkontr

Kontribusi Bangun Bangsa, UMM Resmikan UKM SDGs

  Tingkat pertumbuhan Ekonomi Indonesia telah mencapai angka 5,7 persen. Namun peningkatan yang baik tersebut tidak diimbangi dengan pemerataan sumber daya manusia (SDM) yang baik pula. Oleh karenanya perlu adanya pemikiran tentang tujuan-tujuan yang berkelanjutan. Kalimat tersebut di sampaikan oleh Setyo Wahyu Sulistyono, S.E., M.E dalam acara launching Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yaitu Sustainable Development Peluncuran tersebut dilangsungkan di Aula BAU UMM pada Senin, 14 November 2022. Lebih lanjut, Setyo menjelaskan bahwa dengan pandangan yang berkelanjutan, manusia dapat mempersiapkan masa depan dengan lebih baik. Konsep pembangunan berkelanjutan ini mencakup berbagai bidang kerja seperti ekonomi, lingkungan, hukum, serta bidang lainnya. Meskipun sustainable development merupakan konsep yang penting, namun penerapannya di Indonesia masih kurang. “Kurangnya penerapan sustainable development tersebut terlihat dari kekurangan di sistem ekonomi Indonesia. Seperti yang kita tahu, dalam dunia ekonomi terdapat tiga kebutuhan manusia yaitu kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Namun celakanya, kadang ketahanan pangan sering diabaikan. Dengan pengembangan  sustainable development kita dapat melihat lebih jelas peluang dan tantangan kedepannya,” ujar dosen jurusan ekonomi pembangunan itu. Dalam kesempatan yang sama, Pembina UKM SDGs Sandi Wahyudiono, ST., MT. mengatakan bahwa pembentukan UKM ini bertujuan untuk menjaga kesejahteraan ekonomi, kualitas lingkungan hidup, serta pembangunan yang inklusif. Dengan peresmian UKM SDGs hari ini, UMM menjadi perguruan tinggi kedua yang memiliki pusat SDGs di kampusnya. “Diharapkan dengan adanya UKM ini, mahasiswa dapat memberikan sumbangsih peningkatan kualitas hidup dari generasi ke generasi seperti slogan SDGs yaitu tiada hidup yang tertinggal,” ungkap Kepala Bagian Umum Bidang II UMM tersebut. Adapun UKM tersebut diharapkan mampu memberikan wawasan bagi mahasiswa mengenai SDGs. Pun dengan aktivitas-aktivitas yang membangun masyarakat sehingga bisa menekan angka ketertinggalan di sebagian masyarakat. UKM SDGs dinilai memiliki banyak sisi positif. Apalagi dengan adanya kolaborasi antara perguruan tinggi dan mahasiswa yang mampu membawa perubahan baik di kehidupan masyarakat. Meski kecil, tapi perubahan yang terus menerus akan mampu menciptakan hal besar dan bermanfaat. Pada kesempatan itu pula dilaksanakan pelantikan pengurus UKM SDGs yang pertama oleh Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni UMM Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si. Diisi oleh para mahasiswa dari berbagai jurusan, SDGs diharapka

Ratusan Pelajar Antusias Ikuti KESI Udang dan Ikan Koi UMM

Sering kali para pelajar kebingungan dalam mengembangkan minat dan kompetensinya. Melihat hal itu, Prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Kompetensi Ekstra Siswa Indonesia (KESI)  yang memperkenalkan Kelas Profesional Udang dan Ikan Koi. Diikuti ratusan pelajar dari 17 sekolah di Jawa Timur, agenda ini dilaksanakan pada 12 November 2022 lalu. Membuka program, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si selaku Wakil Rektor I UMM menjelaskan bahwa KESI bertujuan untuk memberikan kompetensi dan pengenalan bagi pelajar mengenai dunia kerja serta industri. Bukan hanya berbasis teori, tapi peserta juga turun ke laboratorium terapan di masing-masing Center of Excellence (CoE). Sehingga mereka bisa asyik melakukan praktek, mulai dari pembibitan hingga pemasaran hasil air tersebut. “Tentu harapannya teman-teman SMA, MA, dan SMK ini bisa banyak mengambil pengetahuan di UMM. Khususnya melalui KESI Udang dan Ikan Koi. Dengan begitu, adik-adik bisa meningkatkan skill sesuai passion dan aspek yang diminatinya,” ungkap Syamsul Smeentara itu, Kepala Prodi Akuakultur UMM Dr. Hany Handajani, S.Pi, M.Si. menceritakan bahwa program ini awalnya dilaksanakan secara daring karena pandemi. Kemudian berkembang dan diadakan secara luring dengan mengundang ratusan pelajar ke Kampus putih. Menurutnya, para peserta terlihat antusias dalam mengikuti setiap proses dan pemberian materi. Lebih lanjut, tujuan dari KESI yakni menambah kompetensi siswa, utamanya hal-hal yang tidak pernah mereka temukan di bangku sekolah. “Kami juga sudah menyediakan tutor dari teman-teman industri serta dosen. Maka, kami berharap para pelajar tertarik untuk terjun di dunia perikanan. Apalagi Indonesia kan memiliki wilayah laut dan air yang cukup luas,” katanya. Apresiasi ditunjukkan oleh para guru, salah satunya Ilmin Syakir, M.Pd. selaku guru pendamping dari Pondok Pesantren Ar-Rahmah, Kabupaten Malang. Menurutnya, program ini bisa memberikan wawasan baru bagi santri-santrinya, mengajak brainstorming mengenaik dunia perikanan, dan mampu memotivasi. “Kegiatan ini menjadi kompetensi baru bagi santri kami. Pun juga sebagai bekal mereka untuk masuk dan mengembangkan diri di dunia perkuliahan. Bahkan bisa juga menjadi bekal membangun usaha di bidang udang dan ikan koi. Semoga program seperti ini bisa terus dijalankan Kampus Putih UMM agar manfaat yang diberikan juga semakin meluas,” katanya mengakhiri. (haq/wil)

CoE Metaverse dan Koi UMM Bikin Antusias Pengunjung Edufair MBKM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pamerkan dua kelas keahlian yakni Center of Excellence (CoE) Metaverse dan CoE Koi. Dua hal ini menarik antusiasme pengunjung, bahkan ada sederet yang mencoba bagaimana rasanya masuk ke dunia metaverse. Adapun ajang ini merupakan pameran pendidikan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digelar Kemendikbudristek pada 9-10 November lalu. Mahasiswa pendamping, Nuril menjelaskan bahwa metaverse adalah dunia virtual komunitas tak terbatas yang saling terhubung. Teknologi ini merupakan kombinasi dari beberapa elemen teknologi seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan video. Dalam dunia Metaverse, manusia dapat bertemu bahkan berinteraksi seperti layaknya dalam dunia nyata. Bahkan kelak diprediksi mampu melahirkan perubahan besar di dunia, mulai dari sistem pendidikan, pemerintahan, bahkan dunia pariwisata. Ia juga mengatakan bahwa timnya sudah merancang sebuah kota masa depan di Metaverse UMM. Mereka juga memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mencoba menggunakan Oculus Rift, yakni peranti layar ikat kepala untuk menampilkan realitas virtual. “Kami menyediakan dua alat oculus yang memungkinkan peserta ikut merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia buatan,” tambahnya. Hal tersebut diamini oleh Lina, salah satu mahasiswa yang turut berkunjung. Ia mengaku antusias berada di stand UMM. Tidak hanya menyajikan hal-hal berbau teknologi, tapi juga entrepreneurship melalui budidaya ikan koi. Mulai dari pengecekan air, cara merawat hingga bagaimana memasarkannya. “Dua CoE UMM ini sangat menarik. Satunya berfokus pada teknologi dan dunia masa depan, ada juga yang berfokus pada pengembangan ekonomi melalui Koi. Saya akan mencoba mendaftar dan menjadi bagian dari sekolah unggulan ini. Apalagi ada lebih dari 40 CoE yang tersedia,” inginnya. Tak hanya UMM, pada kesempatan tersebut hadir pula puluhan mitra Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) MBKM serta beberapa universitas terpilih. Adapun pameran ini bertujuan untuk memperkenalkan MBKM kepada masyarakat serta mahasiswa semester lima yang akan mendaftar agar bisa mengikuti MBKM di berbagai sektor. Ketua tim pameran UMM Rahmawati Khadijah Maro, M.P.Ed. menyampaikan bahwa Kampus Putih ingin mengenalkan CoE ke masyarakat, DUDI, dan mahasiswa. banyaknya sekolah unggulan ini dirasa bisa mempermudah anak muda memilih sesuai passion dan minatnya. “Program ini terbukti bsia membekali mahasiswa agar bisa diserap dunia kerja dengan cepat. Apalagi materinya sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan industri sehingga melancarkan proses mereka mendapatkan kerja,” pungkas Rahma. (fat/wil)

Gaet Mitra Desa, Tim UMM Bikin The Serbuk Jagung Tinggi Antioksidan

Siapa sangka limbah rambut jagung yang biasanya dibuang begitu saja, nyatanya bisa menjadi minuman seduh berkhasiat. Bersama tim, Vritta Amroini Wahyudi, S.Si, M.Si, dosen Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang  (UMM) berhasil mengubah limbah rambut jagung menjadi minuman teh kaya antioksidan tinggi. Mereka dan pihak Desa Sragi, Blitar bahkan sudah memasarkannya ke berbagai daerah serta sedang membangun rumah produksi. Keberhasilan itu tak luput dari proses panjang yang dilalui Vritta dan tim. Penelitiannya dimulai pada tahun 2019. Kemudian mendapat kesempatan untuk mengabdi dengan berbagi ilmu bersama masyarakat Desa Sragi. Apalagi melihat banyaknya limbah rambut jagung ada di sana. “Mayoritas masyarakat Desa Sragi merupakan petani jagung. Sehingga kita bisa dengan mudah menemukan limbah jagung. Setelah dilakukan screening, ditemukan bahwa rambut jagung atau corn silk memiliki antioksidan yang tinggi. Sehingga dipilihlah produk ini untuk dikembangkan. Adapun antioksidan sangat bermanfaat untuk menguatkan sistem imun dalam tubuh manusia,” ungkapnya. Menariknya, pada 22 Desember mendatang, produk ini akan resmi dilaunching. Apalagi sudah mendapatkan sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dari Dinas Kesehatan. Pun dengan hak cipta merek dari Dirjen HKI yang sudah dikantongi. Terkait proses pembuatan, Vritta menjelaskan bahwa semua diawali dengan proses sortir untuk mencari corn slik terbaik. Kemudian dicuci, dikeringkan di suhu tertentu hingga pencacahan agar bisa berbentuk serbuk. Kemudian serbuk itu dimasukkan ke kemasan yang bentuknya mirip dengan teh celup. “Jadi produk tersebut merupakan hasil dari kolaborasi dari jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP) dan jurusan Agribisnis UMM bersama mitra desa. Bahkan, nantinya dapat menjadi produk functional beverage yang memiliki potensi untuk menjadi tren minuman pasca pandemi,” tegasnya. Selama empat tahun mendampingi masyarakat desa Sragi, Vritta dan tim sudah menghasilkan dua produk minum seduh. Yakni minuman seduh rambuh jagung dan minuman serbuk instan corn silk dan jahe. “saya berharap banyak mitra desa yang mau berkolaborasi dan mendapatkan pendampingan. Sehingga tidak hanya memunculkan produk baru tapi juga bisa membantu perkenomian warga. (zak/wil)

Selesaikan Studi di Jepang, Dosen UMM Beri Cara Hindari Bakteri Salmonella

Dalam rangka mencetak akademisi berkualitas dan berintegritas, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tentu memiliki banyak dosen lulusan luar negeri. Salah satunya Okta Pringga Pakpahan, S.P., M.Agr Sc., seorang dosen yang berhasil menyelesaikan studi sarjana di Saga University dan magister di Hiroshima University. Keberhasilan tersebut ia peroleh berkat kerja kerasnya mendapatkan beasiswa. Oka, sapaan akrabnya bercerita bahwa studi sarjananya didapatkan melalui beasiswa Jasso. Menurutnya, prosesnya cukup panjang meliputi ranking kemampuan bahasa, akademik, serta perencanaan riset yang akan dikerjakan di Jepang. Kendala yang dihadapi ketika di Jepang adalah bahasa. Ia mengaku perlu waktu kurang dari tiga bulan untuk bisa mahir berbahasa jepang dengan mengikuti kursus bahasa jepang. “Alhamdulillah setelah setahun di Jepang, saya coba ikut tes Japanese-Language Proficiency Test (JLPT) untuk bisa mempermudah aktivitas di sana. Saya lulus dengan memperoleh nilai N3 yang bisa dikatakan nilainya cukup memuaskan,” terang dosen prodi Teknologi Pangan itu. Setelah tamat sekolah dari Saga University, ia dikenalkan profesornya ke kolega di Hiroshima University. Dari pertemuan tersebut ia mendapat tawaran untuk ikut tes lanjut master degree di Hiroshima University. Kesempatan tersebut akhirnya diambil dan langkah berikutnya mempersiapan ujian untuk ambil master degree. Waktu melanjutkan studi di Jepang, Oka meneliti keamanan pangan terkait Salmonella Typhimurium yakni bakteri yang mengakibatkan diare pencemaran makanan pada proses pengolahan makanan. “Ketika makanan diolah, ada indikasi beberapa tindakan yang mengakibatkan patogen tersebar lebih banyak. Bakteri patogen inilah yang membuat orang sakit diare,” jelasnya. Ia melihat bahwa di Asia, khususnya Indonesia, aspek sanitasi masih memiliki banyak masalah. Pun dengan pengawasannya yang dirasa kurang ketat. Alhasil, jika makanan tidak diolah dengan baik, maka akan muncul penyakit dan berdampak buruk pada manusia. Salah satu manfaat penelitiannya adalah masyarakat bisa tahu kalau salmonella bisa tetap nhidup pada kondisi beku maupun panas. Adapun jika suhunya mencapai lebih dari 90 derajat celcius, bakteri salmonella akan mati. “Rekomendasi yang bisa saya berikan agar masyarakat terhindar dari bakteri Salmonella Typhimurium yakni dengan mengonsumsi makanan yang lingkungannya bersih. Selain itu juga makanan yang kaya nutrisi, serat, dan vitamin yang cukup. Dua langkah itu dirasa sudah cukup efektif untuk menghindarkan diri dari bakteri ini,” tegasnya. Segudang ilmu yang didapat semasa di jepang tentu membuatnya ingin menerapkan hal baik ke UMM. Salah satunya adalah kebiasaan dari profesornya untuk mengadakan pertemuan bersama mahasiswa tiap minggu. Baik itu mereka yang sedang bimbingan PKL maupun skripsi untuk membahas riset yang telah dikembangan. “Tiap minggu saya bertemu dengan mahasiswa untuk menjalin kontrol biar tidak menghilang. Kadang masalah bukan dari eksternal, tapi internal. Kadang mahasiswa akhir takut rencana setelah lulus kuliah dan berkurangnya rasa percaya diri. Di sinilah saya  memberikan motivasi dan cara pandang,” katanya. Ia bersyukur Kampus Putih selalu mendukung pemikiran-pemikiran dan potensi sivitas akademikanya. Bukan hanya bagi mahasiswa, tapi juga bagi para dosen dan karyawan. Sehingga UMM bisa terus maju dan berkembang. Menariknya, saat ini Oka direkrut menjadi Ph.D student lewat vacancy atau asisten riset professor pada konsorsium riset project (Portugal, Belanda, Spanyol). Penelitian ini dibiayai oleh European Regional Development Fund (ERDF). (ros/wil)

Ketum Kadin Sebut CoE Program Inovatif dan Visioner

Center of Excellence (CoE) yang digarap Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat perhatian khusus dari Ketua Umum (Ketum) Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) M. Arsjad Rasjid, P.M. Ia menyebut CoE UMM merupakan program yang inovatif dan visioner, utamanya dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal itu disampaikan pada kunjungannya ke Kampus Putih pada 9 November 2022 lalu. Arsjad, sapaan akrabnya, melanjutkan bahwa CoE dinilai sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi. Maka, ia ingin segera melakukan kerjasama konkret bersama Kampus Putih agar bisa mencapai tujuan yang sesua dengan Perpres terkait. Menurutnya, di zaman yang serba cepat ini, perlu adanya terobosan dalam upaya menciptakan SDM unggul. Apalagi dengan adanya digitalisasi di berbagai sektor serta revolusi industri. “Dunia baru yang kita sebut dengan new normal of pandemic ini memang memiliki banyak tantangan, khususnya SDM. Maka, salah satu hal yang bisa kita kerjakan yakni berkolaborasi. Tentu Kadin dan UMM bisa segera melakukan kerjasama konkret di berbagai kegiatan,” tandasnya. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai kehadiran Kadin dalam pelaksanaan CoE tentu bisa memperkuat di banyak aspek. Terutama dengan visi dan gaya yang tidak lagi menggunakan cara lama.  Menurutnya, jka pendidikan Indonesia masih menggunakan cara tradisional, maka bangsa ini akan terus tertinggal. “Mendirikan program studi itu tidak cukup setahun dua tahun, banyak proses dan jalan yang harus dilewati. Maka, UMM hadir dengan cara baru melalui CoE dan Center for future of Work (CFW). Pendiriannya lebih cepat, pelaksanaannya juga tepat,” tuturnya. Rektor asal Kediri itu juga menjelaskan bahwa masyarakat sekarang membutuhkan SDM yang khusus. Misalnya saja jika membutuhkan udang, tidak cukup hanya dengan SDM yang berbasis perikanan. Namun harus ada SDM yang fokus pada udang. Maka, hadirlah lebih dari 40 CoE UMM. Mulai dari sekolah udang, unggas, PLTS, welding inspector, HRD, asisten advokat, anggrek, ikan koi, metaverse, dan sederet lainnya. Adapun CoE yang fokus pada teknologi, UMM sudah membangun kerjasama dengan Kawasan Eknomi Eksklusif (KEK) Singhasari. Bahkan didukung penuh oleh wakil gubernur Jawa Timur serta mengaget mitra dari Inggris, Jepang hingga Asutralia. (wil)

Yuda, Mahasiswa UMM yang Mengabdi di Tiga Negara

Berbekal pengalaman saat mengenyam organisasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),  Wirayuda Damar Wicaksono berhasil mendapat kesempatan mengikuti Garuda Nusa Youth Summit 2022. Adapun program ini memiliki misi untuk melaksanakan konferensi dan pengabdian masyarakat di tiga negara, yakni di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Adapun kegiatan tersebut diadakan pada akhir Oktober lalu. Yuda, sapaan akrabnya, memang telah aktif di berbagai organisasi yang disediakan UMM. Menurutnya, Kampus Putih UMM sangat memberikan kebebasan mahasiswanya untuk mengikuti berbagai organisasi di semua bidang. Bahkan ia sempat menjadi ketua koordinator bina desa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM. Dari pengalaman itulah ia mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam program itu. Apalagi mleihat bahwa Garuda Nusa Youth Summit memiliki fokus di aspek volunteering, pengabdian dan konferensi. “Melihat kesempatan untuk pengabdian di daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan), saya menjadi bersemangat untuk ikut serta untuk menyebar ilmu dan pengalaman saya di bidang pengabdian masyarakat,” ungkap mahasiswa program studi Agroteknologi itu. Pengalaman paling berkesan menurutnya adalah ketika acara konferensi yang membahas permasalahan di perbatasan Indonesia dan Sustainable Development Goals (SDG). Bukan hanya dengan mahasiswa Indonesia, tapi juga bersama mahasiswa serawak dan Staf konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). “Saat di desa pengabdian, saya mengambil bagia di pendidikan lingkungan yakni dengan memberikan arahan terkait pengolahan sampah domestik organis menjadi pupuk kompis organik. Saya memberi penyuluhan dan melakukan praktek bersama warga,” terangnya. Adapun salah satu pengabdian masyarakat yang ia lakukan berlokasi di daerah Entikong, Kecamatan Sanggau, Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia.  Selain penyuluhan, ia juga membuat palang edukasi lingkungan serta edukasi sampah pada anak-anak sekolah dasar (SD). Yuda juga berkesempatan melakukan konferensi bersama pemuda lainnya membahas kondisi wilayah, indeks pembangunan manusia dan juga SDG. Ia juga sempat ikut upacara sumpah pemuda di KJRI Malaysia serta sharing session bersama anak-anak muda dari National University of Singapore (NUS). Ia bahkan mendapatkan penghargaan di konferensi tersebut sebagai divisi terbaik dan delegasi teraktif. “Banyak pengalaman saya di UMM yang saya terapkan di program tersebut, seperti ilmu pembuatan kompos dan manajemen organisasi. Sementara di program ini, saya banyak mendapat pengetahuan berupa sistem konferensi internasional, sustainable development goals, dan indeks pembangunan manusia indonesia. Semuanya tentu akan saya bagikan ke teman-teman mahasiswa UMM,” pungkasnya. (haq/wil)

Hadir di PPG UMM, Dirjen Kemendikbud RI Sebut Sistem Pendidikan Indonesia Kurang Karsa

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Karena sejatinya, pendidikan adalah dasar dalam membentuk benih yang akan memajukan bangsa ini. Hal tersebut diucapkan oleh Dr. Iwan Syahril, P.hD. selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI). Adapun agenda yang mengangkat tema “Kebijakan Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Emas” tersebut dilaksanakan oleh prodi Pendidikan profesi Guru pada 9 November 2022 lalu berlokasi di Dome Theater UMM. Iwan, sapaan akrabnya menjelaskan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha yang memiliki arti bahwa seorang guru otomatis menjadi seorang pemimpin di kelasnya. Pun dengan memberikan suri teladan bagi anak didiknya. Adapun Madya Mangun Karso, maksudnya adalah menjadi seorang pendidik yang senantiasa menguatkan keyakinan dan membangkitakan semangat mencerdaskan bangsa. “Kemudian Tut Wuri Handayani yakni sebagia pendidik harus bisa melesatkan potensi dan proses tumbuh kembang anak didik sehingga kemandirian bisa terbentuk dalam dirinya. Jadi, filosofi Ki Hadjar Dewantara ini berupaya menghasilkan lulusan pendidikan yang mandiri dan merdeka,” tegasnya. Ia juga menilai bahwa pendidikan holistik yang dicanangkan oleh Ki Hadjar Dewantara terbagi menjadi empat aspek yaitu oleh cipta, olah rasa, olah karsa, dan olahraga. Cipta secara makna yakni menajamkan pikiran, rasa memiliki dan menghaluskan perasaan. Sementara Karsa ialah menguatkan kemauan dan keinginan dan olahraga bertujuan untuk menyehatkan jasmani atau fisik. Adapun pada poin cipta, rasa, dan karsa menjadi poin dalam Budi, sedangkan raga masuk dalam poin Pekerti. Pria asli Bandung ini kembali menjelaskan, pendidikan Indonesia saat ini dinilai kurang dalam hal karsa atau kemauan. Pendidikan bangsa ini terlena dengan menajamkan pikiran peserta didik saja, namun lupa akan kemauan dan keinginan para murid di sekolah. Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia menekankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sayangnya lupa akan kemauan yang diinginkan peserta didik. “Pendidikan yang hanya menjamkan pikiran tetapi mengesampingkan kemauan anak didik  adalah pendidikan yang hampa. Justru, pendidikan yang memperhatikan kemauan akan selalu berkembang sekalipun dalma kondisi sulit,” jelasnya. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa guru memiliki kewajiban untuk mendidik dan mengembangkan kualitas anak bangsa. Pun dengan tanggungjawab moral untuk menyiapkan generasi bangsa dalam menghadapi bonus demografi. Salah satunya dengan membekali anak didik dengan skill dan kualitas pendidikan yang baik UMM juga turut berkontribusi menyiapkan SDM mumpuni yang siap menghadapi kompetisi global melalui Center of Excellence (CoE). Saat ini, ada lebih dari 40 sekolah unggulan CoE yang tersebar di berbagai fakultas. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ada lima sekolah unggulan yang sudah dilaksanakan yakni CoE konsultas pendidikan, media dan animasi pendidikan digital, english for hospitality, entrepreneur perbukuan dan sekolah wisata sejarah digital. “Guru harus bisa memahami potensi tiap muridnya. Dari situlah nanti akan muncul bibit-bibit potensi yang mampu memajukan bangsa dan mewujudkan Indonesia emas 2045,” ujarnya. (haq/wil)

Pita Hitam UMM di 40 Hari Tragedi Kanjuruhan dan Hari Pahlawan

Meski tragedi Kanjuruhan terjadi sebulan yang lalu, namun duka dan kesedihannya masih terasa. Bukan hanya bagi keluarga korban tapi juga seluruh warga Malang, termasuk sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya melalui pengenaan pita hitam oleh mahasiswa, dosen dan pegawai UMM pada 9-10 November 2022. Pun dengan bendera setengah tiang yang hingga sekarang masih terpasang di berbagai area kampus UMM. Selain itu juga bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional yang diperingati 10 November ini. Wakil Rektor II UMM, Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan tragedi kanjuruhan hendaklah dijadikan titik untuk koreksi diri dan mawas diri. Apalagi sebagai bangsa besar, seharusnya peristiwa semacam tersebut tidak boleh terjadi di Indonesia. Bahkan menurutnya, tragedi tersebut tidak akan pernah ditolerir karena menunjukkan tingkat peradaban kemanusiaan bangsa Indonesia. Nazar, sapaan akrabnya menegaskan, Muhammadiyah melekat dengan jiwa pengorbanan untuk membangun kemajuan peradaban. Pun dengan Kampus Putih UMM yang senantiasa berupaya untuk berperan dalam membangun berbagai aspek kehidupan bangsa. Sehingga mampu mencapai peradaban yang maju. “Kita semua tentu berduka di hari Pahlawan tahun ini karena hilangnya nyawa ratusan nyawa Aremania. Maka tragedi ini harus diusut tuntas hingga menemukan titik terang dan dijadikan sebagai pelajaran untuk berbenah bagi seluruh elemen bangsa,” ucapnya. Nazar, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa UMM secara kultural sangat dekat dengan Aremania. Hal itu tidak lepas dari adanya koordinator wilayah (Korwil) Aremnia Kampus Putih yang mnejadi ikon pembangunan budaya dan peradaban Malang raya. Sementara itu, mahasiswa Teknik Sipil UMM Kaniala Intan, menilai peristiwa Kanjuruhan merupakan hal yang membuat masyarakat sedih dan pilu. Terlalu banyak korban yang jatuh hanya karena ingin menonton pertandingan sepak bola. “Banyak kerugian yang diakibatkan baik secara materail maupun moral. Saya juga yakin para keluarga korban masih merasakan duka mendalam karena kehilangan. Meski terus berjalan, namun proses peradilan kurang maksimal, bahkan ada beberapa oknum yang melindungi,” ungkapnya. Terkait hari pahlawan, Intan berterimakasih kepada para pahlawan yang telah mengupayakan kemerdekaan. Berkat tumpah darah mereka, masyarakat Indonesia bisa hidup dengan damai tanpa penjajahan. “Maka, kita memang seharusnya mampu menjadi pahlawan pada masa kini. Salah satunya yakni menjadi orang yang berani mengutarakan sesuatu yang salah dna melenceng dari kebenaran. Kemudian saling bahu-membahu membenarkan dan memperbaikinya,” tegasnya mengakhiri. (wil)