Luci, Dosen UMM yang Kaji Kesetaraan Gender Islam di Istanbul

Masih banyak kesalahpahaman mengenai konsep kesetaraan gender dalam masnyarakat muslim. Hal tersebut disampaikan oleh Luciana Anggraeni, M.H. Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Konferensi Fourth International Conference on Islamophobia in Muslim Majority Countries : Examining its Cultural and Geopolitical Dimensions. Adapun konferensi yang diselenggarakan oleh Center of Islam and Global Affairs (CIGA) di Istanbul Sabahattin Zaim University (IZU), Istanbul, Turki itu dilaksanakan pada 11-13 Maret 2023. Ia bersama pembicara lainnya mengkaji tentang budaya dan geopolitik islamophobia di negara yang mayoritas muslim. Apalagi melihat fakta, Islamophobia tidak hanya terjadi di negara-negara muslim minoritas. Dalam artikel yang ditulisnya dengan judul Gendered Islamophobia in Indonesia: Forms and Solution, ia menjelaskan bahwa Islam sendiri tidak ada konsep mengenai kesetaraan gender. Namun lebih menekankan pada keadilan gender. “Pria dan wanita memiliki posisi dan peran tersendiri, pembahasan itulah yang perlu lebih ditegaskan dalam kajian mengenai gender. Fokusnya adalah mengenai keadilan, bukan kesetaraan gender,” tegasnya. Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa banyak sekali kesalahpahaman ditengah masyarakat yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang patriarki. Padahal patriarki itu lahir dari budaya masyarakat itu sendiri, bukan dari agama. Menurutnya, perlu adanya upgrading pengetahuan bagi seorang muslim mengenai ilmu-ilmu serta nilai-nilai ajaran agama Islam. Terutama dalam pembahasan seputar gender. “Muslim seharusnya tidak hanya menganggap bahwa beribadah itu menjadi suatu yang bersifat ritual simbolik saja. Namun perlu adanya pemahaman mengenai nilai-nilai dari beribadah itu sendiri,” terangnya. Tak lupa, dia menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatian oleh pria dan wanita dalam menyikapi lawan jenis, termasuk dalam menjalin suatu hubungan yang serius. Mulai dari pemahaman mengenai fitrah, hingga peran yang harus dilakukan dalam kehidupan. Pria dan wanita memiliki fungsi yang saling melengkapi. Misalnya saja pria akan menjadi ayah, sementara wanita akan menjadi ibu. Itu semua konsepnya adalah sebagai pelengkap bukan setara. Terakhir, Luci berpesan kepada generasi muda untuk lebih giat dalam mengembangkan diri. Masa muda adalah kesempatan emas yang harus dimanfaatkan untuk mengeksplorasi bakat yang ada “Dulu kartini berjuang mati-matian untuk mengangkat martabat para wanita. Sekarang juga sudah banyak peluang bagi para perempuan untuk bisa mengembangkan diri. Itu harus lebih dimanfaatkan dengan baik,” pungkasnya. (faq/wil)

Berangkat ke Estonia, Dosen FH Kaji Partisipasi Politik Anak Muda

Partisipasi politik dari anak muda menjadi bagian terbesar dari porsi pemilih di Indonesia. Hal ini juga sangat penting untuk memperkuat bangunan demokrasi di negeri ini. Hanya saja, partisipasi generasi muda dalam pemilu masih  cenderung rendah. Hal itu mengundang perhatian dan aspirasi dari dosen fakultas Hukum UMM, Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. Salah satunya ia sampaikan dan diskusikan di dalam program Democracy Defenders Accelerator (DDA) Bootcamp, pada 27 Maret 2023 di Estonia. Adapun agenda itu dilaksanakan oleh Non Governmental Organization (NGO) bernama Citizen OS. Fatih sapaan akrabnya mengatakan rendahnya partisipasi anak muda dalam pemilu membuat kemungkinan kecurangan menjadi lebih besar. Karena hak pilih yang seharusnya terisi menjadi kosong (golongan putih). Sehingga bisa dicurangi oleh beberapa pihak. Keresahan Fatih itu, ia diskusikan dengan 30 perwakilan dari berbagai negara di dunia. “Program tersebut masih akan terus berlanjut hingga November tahun ini melalui pertemuan. Tujuan program ini sendiri yaitu mendukung dan memberdayakan lebih banyak orang untuk mengambil tindakan dalam menghadapi persoalan demokrasi yang ada di dunia. Selain itu juga sebagai wadah aktivis muda untuk berbagi cerita terkait persoalan demokrasi di negara masing-masing,” jelas Fatih. Lebih lanjut, Fatih mengungkapkan permasalahan demokrasi yang ada Indonesia justru tidak ditemukan di negara lainnya. Ia justru menemukan bahwa Jerman memiliki permasalahan demokrasi terkait konflik ras di pemerintahanya. Kemudian Belanda dengan masalah digitalisasi demokrasinya dan negara Afganistan yang memiliki persoalan terkait keadilan berpendapat. “Dari hasil diskusi, ditemukan permasalahan utama yang ada di berbagai negara yaitu tentang kurangnya kesadaran anak muda di dunia dalam menggunakan media sosial. Permasalahan itu  kemudian menjadi fokus untuk dikerjakan selama satu tahun ke depan,” terang Fatih. Menariknya, program yang Fatih ikuti dilaksanakan bertepatan dengan puasa Ramadan. Sehingga selama berpuasa di negara bagian Eropa Utara itu, Fatih mengalami beberapa culture shock. Mulai dari makanan halal yang sangat sulit didapatkan hingga menjalani puasa selama 16 jam. “Alhamdulillah melalui program ini banyak hal baru yang didapatkan. Insyaallah bisa saya implementasikan sebagai model pembelajaran di kelas. Kemudian wawasan saya tentang demokrasi juga bertambah,” ungkap Fatih. Terakhir, Fatih berharap akan ada lebih banyak dosen dan juga mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan sejenis. Selain itu, dosen sekaligus staf bagian kerjasama internasional itu juga menyampaikan sedang melakukan penjajakan agar UMM dan NGO Citizen OS bisa bekerja sama. Tidak hanya dengan NGO terkait tapi kedepannya juga bisa melakukan kerja sama dengan beberapa kampus di Estonia. (zak/wil)

Rektor UMM Ajak Warga Lapas Perempuan Malang NgabubuREAD

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkontribusi menebar manfaat. Terbaru, Kampus Putih melaksanakan program UMM Berbagi untuk Negeri dengan memberikan bacaan menarik lewat Mobil Kamis Membaca (KaCa) di Lapas Perempuan Kelas IIA Malang. Ada beragam buku yang disediakan, mulai dari buku masak, novel, biografi hingga self development. Banyak warga binaan yang tertarik dan meminjam buku selama seminggu ke depan. Agenda yang dilaksanakan pada 6 April 2023 itu juga dihadiri oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. yang langsung memberikan kisah inspiratif menjelang berbuka. Fauzan mengatakan bahwa hidup itu seperti fatamorgana. Dari jauh terlihat air berlimpah, tapi saat berjalan mendekati, tidak ada air sama sekali. Maka perlu adanya cara mengatur kehidupan yang harus dikuasai. “Ada dua hal yang seringkali menjadi pertimbangan dalam melakukan sesuatu, yakni nafsu dan akal. Nafsu selalu bersandar pada keinginan yang berujung pada kesenangan. Sementara akal, selalu bersamaan dengan kebaikan,” katanya. Ia juga mengisahkan tentang ulat yang harus melewati fase kepompong sebelum bisa menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Hal itu mirip dengan perjalanan manusia yang jika berbuat buruk akan disingkarkan sebagaimana seekor ulat. Maka, Ramadan adalah jawaban seorang muslim untuk bisa meningkatkan kapasitas dan kualitas diri. “Puasa Ramadan itu ibarat kepompong, di mana ada keharusan untuk menahan diri. Ada ulat yang gagal menjadi kupu-kupu, tapi banyak pula yang berhasil. Sama seperti manusia, apabila berhasil memanfaatkan Ramadan, ia akan menjadi seseorang yang bertaqwa dan lebih baik,” tambah rektor asal Kediri itu. Terakhir, Fauzan juga mengajak warga binaan lapas untuk sama-sama intropeksi diri. Menemukan kesalahan diri dan memperbaikinya sehingga mampu menjadi suci dan fitri di akhir Ramadan. Ia juga memaparkan bahwa kebahagiaan itu ada dalam hati manusia-manusia yang bersyukur. Di sisi lain, Plt Kepala Lapas Perempuan kelas IIA Malang Lilik Sulistyowati, M.Hum. mengapresiasi kegiatan UMM Berbagi untuk Negeri. Sebelumnya, sudah banyak program yang dijalankan di Lapas. Mulai dari pelatihan menulis, pembuatan video klip band warga binaan, kurban sapi, dan lain sebagainya. “Semoga serangkaian agenda tersebut bisa menambah wawasan dan skill para warga binaan. Sehingga mereka bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga, nusa, bangsa dan tentunya agama. Kami juga berharap kerjasama yang baik antara UMM dan Lapas Perempuan bisa terus berjalan dan disinergikan,” pungkas Lilik. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan Eva, salah satu warga binaan Lapas. Menurutnya, buku-buku yang disediakan di Mobil KaCa sangat menarik. Mulai dari novel, buku inspiratif, agama, pengembangan diri dan lainnya. Eva mengatakan bahwa ia dan teman-teman sangat menanti kehadiran Mobil KaCa. “Donasi pakaian wanita yang diberikan juga bermanfaat. Ditambah lagi dengan sharing session bersama pak rektor. Semoga apa yang diupayakan oleh UMM memberikan banyak kebaikan. Bukan hanya bagi kami, tapi juga bagi masyarakat luas,” pungkasnya mengakhiri. (Wil)

Marching Band UMM Borong Piala di Kompetisi Jatim

Kabar gembira kembali datang dari Marching Band Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka sukses menyumbang berbagai prestasi di delapan cabang perlombaan. Mulai dari cabang IC Commander hingga IC Colour Senior. Adapun kompetisi regional Jawa Timur yang dilaksanakan pertengahan Maret itu merupakan bagian dari Kediri Marching Competition 2023. Terkait kemenangan itu, Nurma Khusnul Daryasari menilai semua berkat kerja keras dan latihan rutin yang mereka lakukan. Pun dengan gaya bermain yang dirasa memiliki kekhasan tersendiri. Mulai dari gerakan tiap anggota serta intonasi musik yang menarik agar terdengar indah. “Dalam memainkan marching band memang diperlukan kerjasama yang baik. Hal itu pula yang kami lakukan dalam setiap penampilan,” tegasnya. Hebatnya, tim marching band Kampus Putih hanya memiliki waktu yang realtif singkat untuk persiapan sebelum berlaga di kompetisi, yakni sekitar satu bulan saja. mereka berlatih dengan membawakan berbagai lagu. Pilihan lagu dan musik nyatanya juga masuk dalam penilaian. “Musik yang sulit tentu akan mendapatkan nilai lebih jika dibawakan dengan baik. Begitupun dengan cerita dalam penampilan serta ketukan gitapati yang menentukan irama semua instrumen. Jika aspek penilaian tersebut bisa dicapai, maka kemenangan bisa diraih,” jelas perempuan yang kerap disapa Nurma itu. Adapun tema yang tim Marching Band UMM cukup menarik. Misalnya saja bagian colour guard yang membawakan tema identity dan dimensi siluet , tim snare yang membawakan tema exerevno, dan field commander yang menampilkan tema the adventure of tintin. Sementara tim brass membawakan tema classical serta mayoret dengan final countdown-nya. Usai memenangkan kompetisi, Nurma mengaku marching band UMM masih terus berlatih. Selain untuk memperbaiki beberapa kekurangan, latihan juga dilakukan karena mereka akan beraksi pada bulan Desember nanti pada kompetisi nasional di Jakarta. Mereka juga menargetkan berbagai piala dan medali dalam kejuaraan bergengsi itu. “Alhamdulillah pihak kampus sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan kami. Meski unit kegiatan mahasiswa marching band baru berdiri beberapa tahun lalu, namun support yang kami terima luar biasa. Bahkan sering tampil di event-event nasional. Hal itu pula yang menjadi salah satu bahan bakar untuk berprestasi dan mengharumkan nama kampus di berbagai level,” pungkasnya. Adapun pada Kediri Marching Competition 2023, tim UMM berhasil mendapatkan delapan piala. Di antaranya juara I field commander senior, juara I mayor senior, juara I snare drum senior, dan juga jaura II field commander senior. Selain itu juga juara III snare drum senir, brass senioor dan color guard senior. Dielngkapi dengan juara harapan III color guard senior. (Ri/Wil)

Begini Cerita Alumnus Vokasi UMM Berpuasa di Jepang

Sudah lebih dari satu bulan Ardianeswari Putri Salifani, alumnus Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berangkat dan berkarya di Negeri Sakura. Ia yang sukses menyelesaikan pelatihan specified skilled worker kaiko di training center Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kini telah mendapat kontrak kerja selama tiga tahun Hokkaido, Jepang. Ia juga sedang menjalani puasa di sana dan ingin berbagi cerita menarik. Dina, sapaan akrabnya, menuturkan, ada banyak hal unik yang ia dapati selama Ramadan. Meski Jepang bukan negara mayoritas bergama islam, namun stasiun televisi di sana sering menayangkan berita-berita seputar bulan Ramadhan. Misalnya saja terkait mengapa muslim berpuasa, apa yang harus dilakukan selama puasa, hingga larangan yang harus ditaati selama terbiat fajar hingga tenggelamnya matahari. Ada satu hal yang ia rindukan dari Indonesia saat Ramadan, yakni suara azan yang menggema di setiap sudut kota. Di sana, azan kurang begitu terdengar, bahkan mungkin tidak ada. Hal itu menyulitkannya untuk mengetahuai kapan waktu sahur dan berbuka. “Beruntung kita sudah hidup di era teknologi yang maju. Saya biasanya cek aplikasi jadwal imsakiyah waktu setempat atau juga browsing di internet terkait waktu-waktu salat,” katanya melanjutkan. Waktu menunggu berbuka adalah momen favoritnya. Setiap sore, Dina sering berburu bahan makanan ke toko dan supermarket terdekat. Sesekali juga menmbah stok jajan untuk dikonsumsi malam hari. Apalagi ia memang menyukai makanan Jepang seperti mochi, dango, dan juga onigiri. Tidak lupa, dia juga membagikan tips bagi warga muslim Indonesia yang ingin menyortir makanan halal selama di Jepang. Pertama, Dina menyarankan untuk menghindari makakan junkfood. Kedua, yakni mempelajari huruf-huruf kanji yang berkaitan dengan arti babi karena akan sangat berguna untuk memilah makanan. Terakhir, yakni mencari tahu di internet makanan atau toko apa saja yang sudah halal. “Ini adalah momen pertama saya berpuasa jauh dari tanah air. Ada sedihnya dan juga senangnya. Untuk teman-teman yang sedang di luar negeri, jangan sedih tidak bisa berpuasa di rumah bersama keluarga. Saya yakin ada banyak pengalaman dan pelajaran baru yang bisa diperoleh di negara masing-masing. Selalu jaga kesehatan dan jaga pola makan. Semoga puasa kita bermanfaat,” pungkasnya. (faq/wil)

Dosen UMM Jelaskan Pengaruh Puasa terhadap Psikologis Manusia

Puasa di bulan Ramadan memiliki segudang manfaat. Tidak hanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tetapi juga menambah ketahanan mental dan psikologi manusia. Hal itu ditegaskan oleh Ahmad Sulaiman, S.Psi., M.Ed. selaku Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Menurutnya, Ramadan dapat mempengaruhi psikologis manusia karena saat puasa kita menahan diri, mengurangi asupan kalori dan menunda waktu makan yang biasanya dapat dilakukan sewaktu-waktu. Salah satu dampak psikologisnya yakni menjadi lebih disiplin. “Selain itu, karena mengurangi asupan energi yang masuk, seseorang harus menghemat energi dan melakukan aktivitas yang efisien. Hal itu juga berefek pada kegiatan sehari-hari,” tambah dosen yang akrab dipanggil Mada tersebut. Ia menyampaikan,  puasa yang mengharuskan diri untuk menahan segala jenis hasrat dan nafsu, dapat berguna untuk meningkatkan kontrol diri serta kepekaan sosial. Puasa juga memandu seorang individu untuk mengekspresikan emosi negatif dengan cara yang lebih sehat. Secara tidak secara langsung, manusia dituntut untuk mengelola emosi agar tidak bereaksi terlalu berlebihan. tidak mudah marah ataupun larut dalam kesedihan. “Ibadah puasa juga dapat melatih empati kita terhadap sesama. Ini adalah dampak psikologis yang diharapkan dalam Islam. Rasa empati yang tumbuh ini diharapkan mendorong kita melakukan hal-lain yang sifatnya altruistik atau memiliki keinginan untuk beramal dan membantu sesama. Kita jadi lebih sering infak dan sodaqoh, suka memberi dan saling berbagi,” tandasnya. Agar manfaat puasa dari segi psikologis dapat dirasakan dengan optimal, Mada menilai perlu adanya perencanaan aktivitas di bulan puasa. Pun dengan menyusun target yang jelas. Misalnya ikut dalam suatu majelis, beritikaf, dan mendengarkan kajian. Selain itu juga melihat bagaimana cara menghabiskanw aktu pagi. “Apakah kita melanjutkan untuk beribadah, membaca alquran dan berzikir, atau memilih untuk istirahat dan tidur. Semuanya harus memiliki target yang jelas,” arahnya. Di akhir, Mada menyampaikan bahwa setelah menjalani puasa, kebiasaan-kebiasaan baik harus tetap dipertahankan meskipun Ramadan telah usai. Apalagi biasanya konsistensi yang sudah dibangun saat puasa seringkali runtuh dan hilang di bulan-bulan berikutnya. “Salah satu mempertahankan kebiasaan tersebut yakni dengan memulai dari hal sederhana. Kemudian dilanjutkan secara bertingkat. Seperti membaca Alquran bisa diawali dengan beberapa ayat saja. kemudian setelah dirasa nyaman, kita bisa menambah beberapa ayat bahkan juga menjadi beberapa halama,” tutup Mada. (sep/wil)

Dosen UMM: Indonesia Diprediksi Peringkat Enam Diabetes Terbanyak 2030

Mudahnya layanan pesan antar aneka makanan dan juga paket diskon dari restoran memudahkan masyarakat untuk menikmati makanan yang diinginkan. Misalnya saja aneka makanan dan minuman kekinian seperti boba, kopi susu, makanan cepat saji, roti manis, hingga kue kekinian. Fenomena itu pula yang menarik perhatian Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB. Menurutnya, makanan dan minuman manis yang turin dikonsumsi dalam jangka panjang bisa memicu obesitas. Kemudian berujung pada penyakit diabetes. Adapun diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas tidak dapat menghasilkan atau menggunakan hormon insulin secara efisien. Padahal hormon sangat penting karena berfungsi mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Peluang menderita diabetes meningkat karena minuman berglukosa tinggi meningkatkan radikal bebas dalam tubuh. Selain itu juga menyebabkan toxic glukosa yang dapat merusak sel beta pankreas. Sementara sel ini memiliki tugas penting untuk mengeluarkan insulin. “Selain diabet, makanan atau minuman yang tinggi gula juga dapat merusak endotel pembuluh darah yangg dapat mengakibatkan aterosklerosis atau penyumbatan pembuluh darah,” kata perawat spesialis medikal bedah UMM itu. Zaqi, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa potensi penyakit diabetes kini semakin meningkat. Bahkan menurut penelitian dari dari International Diabetes Federation, diprediksi pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi peringkat 6 negara dengan penderita diabetes terbanyak. Menurutnya, kebiasaan jajan minuman kekinian tersebut kian tak sehat apabila ditunjang pola makan tinggi kalori. Di antaranya nasi goreng, mi goreng, nasi uduk, nasi padang, makanan cepat saji, dan makanan berpengawet lainnya. Pun dengan kebiasaan menambah rasa dan toping pada makanan dan minuman. “Tak cuma kopi dan boba, aneka minuman kemasan, termasuk jus dan minuman berkarbonasi lainnya juga mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Bahkan melebihi dari kebutuhan harian maksimal orang dewasa,” tegasnya. Meski demikian, ini tak berarti masyarakat tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan atau minuman favorit. Selama tidak rutin dan bsia membatasi, Zaqi mengatakan bahwa mencoba dan mencicipi makanan kekinian diperbolehkan asal sesuai takaran. Ia juga mengajak masyarakat untuk memahami kandungan yang ada di dalam berbagai makanan. Salah satu caranya dengan membaca kandungan nilai gizi yang tertera di kemasan. Dengan begitu, mereka bisa mengatur makanan apa saja yang bisa dimakan secara rutin dan makanan mana saja yang harus dibatasi. “Sebaiknya masyarakat memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Pun dengan minuman yang mengandung 0 kalori seperti air putih, kopi, serta teh tanpa gula,” pungkasnya. (sep/wil)

Kerjasama Prodi Informatika UMM dan Perusahaan IT Belanda Lahirkan Ngaji.AI

Perkembangan sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin canggih dan berkembang pesat. Tak mau ketinggalan dengan perkembangan teknologi mutakhir itu, Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM tengah mengembangkan aplikasi belajar mengaji berbasis AI. Menariknya, pengembangan ini juga menggaet perusahaan IT asal Belanda, NOVO. Ketua tim pengembangan, Aminudin, S. Kom., M.Cs. menjelaskan, aplikasi Ngaji.AI ini sudah dibuat oleh NOVO dan sudah dirilis di Google Playstore oleh cabang NOVO Indonesia Belajar. Sayangnya, deteksi ketepatan pelafalan baca Alquran hanya memiliki akurasi yang terbatas. Oleh karenanya, NOVO menggaet Kampus Putih UMM sebagai mitra untuk mengembangkannya menjadi lebih baik. “Bisa dikatakan aplikasi Ngaji.AI masih dalam tahap pembelajaran dasar Alquran. Namun masih terus dikembangkan dengan mengumpulkan berbagai dataset. Insyaallah akan ada banyak improvisasi hingga tingkat tahsin dan tahfiz,” kata dosen informatika UMM itu. Lebih lanjut, aplikasi tersebut dikembangkan menggunakan teknik Automatic Speech Recognition (ASR). Teknologi ini memungkinkan suatu perangkat untuk mengenali dan memahami kata-kata yang diucapkan dengan cara digitalisasi kata dan mencocokkan sinyal digital tersebut dengan suatu pola tertentu yang tersimpan dalam suatu perangkat. “Mengumpulkan dataset dari beberapa rekaman guru mengaji membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal tersebut jadi tantangan dalam pengembangan aplikasi ini. Belum lagi jumlah metode pembelajaran membaca Alquran yang ada juga cukup banyak. Selain itu, aplikasi ini juga dikembangkan agar adaptif untuk segala usia. Kami juga melakukan rekaman dengan bacaan anak-anak,” jelas Aminudin. Dosen sekaligus Kepala Divisi Sistem Informasi Biro Infokom UMM itu menyampaikan alasan besar dikembangkannya aplikasi. Menurutnya Ngaji.AI bertujuan untuk membantu orang-orang yang merasa dirinya telat belajar Alquran dan ingin belajar secara mandiri. Utamanya melalui pelafalan suara. Bersadarkan survey yang timnya dna NOVO lakukan, lebih dari 90% populasi muslim di Indonesia memiliki inisiatif untuk belajar mengaji. “Aplikasi ini dikembangkan agar mampu mendeteksi cara membaca Alquran dari berbagai logat dengan kemampuan AI yang ada. Agar mendapatkan hasil aplikasi yang sesuai standar, kami juga berkolaborasi dengan beberapa dosen dari Fakultas Agama Islam (FAI) UMM,” katanya. Terakhir, Aminudin berharap agar aplikasi ini nantinya bisa bermanfaat bagi orang tua yang ingin mengajarkan Alquran pada anaknya. Pun bagi mereka yang ingin mendalami dan belajar membaca Alquran secara mandiri. (zak/wil)

Ini Cerita Puasa Dosen UMM di Negeri Paman Sam

Menjalani bulan Ramadan di negara dengan muslim minoritas menjadi tantangan tersendiri. Hal itu pula yang dirasakan oleh Bayu Dharmala, sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini tengah menempuh studi lanjut di University of Arizona. Adapun tahun ini menjadi tahun keduanya berpuasa di negeri Paman Sam. Bayu, sapaannya, menilai bahwa tahun ini ia sudah bisa menikmati Ramadan dengan cukup baik di Amerika. Apalagi kini ia tergabung dalam komunitas Muslim tidak jauh dari tempat tinggal, yakni di Tucson. Menurutnya, komunitas itu seoerti obat yang manjut baginya untuk mengobati rasa rindu akan tanah air. “Salah satu yang menarik adalah makanannya. Ada berbagai jajanan dan kuliner yang berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski tidak seramai di rumah, tapi alhamdulillah saya bsia menikmati makanan khas seperti bakso, soto, bahkan juga sate,” katanya. Bayu mengatakan, banyak dampak positif yang ia dapat selama tergabung bersama komunitas muslim tersebut. Ada banyak kegiatan keagamaan seperti membaca Alquran bersama hingga kajian-kajian yang cocok ia dengarkan. Apalagi banyak warga negara lain yang berkunjung dan saling menyapa. Selain berbuka puasa bersama komunitas muslim yang ada di Kota Tucson, Bayu juga sering berkunjung ke Islamic Center of Tucson (ICT). Hal itu tak lepas dari mudahnya akses untuk bisa sampai di ICT. Biasanya ia menggunaka bus kota sebagai transportasi. “Saya juga sering membeli bahan-bahan makanan ke toko. Misalnya seperti daging ayam, daging sapi, hingga bumbu-bumbu lain. Paling tidak bisa dijadikan stok untuk sahur maupun berbuka bersama teman-teman lain,” katanya. Menurutnya, keputusannya untuk memasak adalah hal yang tepat. Dengan begitu, Bayu bisa memastikan kehalalannya, utamanya dalam hal bahan dan bumbu. Tapi, jika tak sempat, laki-laki asal Pasuruan itu juga berbuka di restoran atau tempat makan dengan bertanya terlebih dahulu kehalalan makanan terkait ke penjual. Bayu juga merasa bahwa Ramadan kali ini sangat membantunya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bahkan juga dirasa mendorong dirinya untuk belajar lebih giat dan bisa segera lulus dari proses studi yan sedang ditempuh. “Puasa dan Ramadan itu bukan hanya untuk beribadah saja, tapi juga unutk memperbaiki hubungan dengan manusia. Ketika keduanya mampu dilaksanakan, rasanya apa yang kita smeogakan dan inginkan makin dilancarkan oleh Allah SWT. Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk tidak produktif,” pungkasnya mengakhiri. (ri/wil)

Fisioterapi UMM Kirim Sederet Mahasiswa Magang dan Pertukaran Pelajar ke Negeri Jiran

Dalam rangka meningkatkan kualitas mahasiswa, Prodi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya untuk magang sekaligus pertukaran pelajar di Malaysia. Adapun dalam pelaksanaanya, program ini bekerjasama dengan Universiti Teknologi Mara (UTM) Malaysia. Para mahasiswa berada di negeri Jiran selama satu bulan, yakni dari Maret hingga April 2023. Dalam program itu, ada sederet mahasiswa yang sukses berangkat. Salah satinya adalah Gendhis Endtrinasari Almira Dewanty. Ia menjelaskan beberapa kegiatan yang dilakukan selama berada di Malaysia. Mulai dari mengikuti kelas klinik, observasi, hingga datang langsung ke rumah sakit untuk melihat penanganan fisioterapi. “Kami mendapatkan banyak informasi menarik yang bisa digunakan nantinya saat membuka klinik atau menjadi fisioterapis. Pun dengan penjelasan para praktisi yang memudahkan kami. Apalagi bahasa yang digunakan juga mirip dengan Indonesia,” jelasnya. Mengingat program tersebut dilaksanakan pada bulan suci Ramadan, Gendhis juga bercerita pengalaman unik selama berpuasa di sana, tepatnya di Bandar Puncak Alam, Distrik Selangor. Salah satunya bazar Ramadan. Uniknya, di sana para penjualnya bukan hanya dari etnis melayu tapi ada juga dari Palestina, India, Thailand, dan lain sebagainya. Hal itu membuat makanan yang disediakan juga beragam. “Ada banyak kegiatan yang saya lakukan sambil menunggu waktu berbuka. Kebetulan di sini kelasnya selesai jam empat sore, sementara waktu berbuka masuh jam setengah delapan. Jadi, kami biasanya jalan-jalan melihat sekitar sambil mencari camilan,” katanya. Mencari makanan halal juga bukan perkara sulit. Pasalnya Malaysia memang memiliki komunitas muslim yang besaar dan menjadi mayoritas. Begitupun dengan salat tarawih maupun suara adzan yang mudah didapat, sekalipun dari tempat tinggal. Terakhir, ia berharap keberangkatannya untuk mengikuti magang dan pertukaran pelajar di Malaysia bisa menginspirasi banyak pemuda lain. Dengan begitu, mereka mampu memiliki keinginan untuk belajar di negeri orang. Baik itu di Eropa, Amerika, Asia Tenggara, Afrika, Asia dan negara-negara lainnya. “Anak muda harus berani bermimpi. Semakin tinggi mimpi, semakin banyak pula usaha yang harus diupayakan. Mari bersama wujudkan cita-cita mumpun usia masih muda,” pungkasnya. (faq/wil)