FK UMM Beri Edukasi Anatomi lewat Amygdala

Dalam rangka meningkatkan minat dan pengetahuan terkait anatomi, Departemen Laboratorium Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan Amygdala pada 25-30 Oktober lalu. Adapun ini merupakan olimpiade tingkat nasional bidang anatomi yang diikuti oleh 78 tim dari 31 universitas. Adapula 18 tim yang berkompetisi di kategori SMA. Ketua pelaksana Imanullah Akbar merasa bangga karena kompetisi ini semakin tahun semakin meluas. Beberapa tahun lalu hanya ada segelintir peserta, tapi tahun ini timnya membludak dan membuat lomba ini makin seru. Termasuk di dalamnya Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menegaskan bahwa ajang ini juga menjadi cara pihaknya untuk meningkatkan pengetahuan terkait anatomi. Khusus untuk tahun ini mengambil tema sistem cerebro panca indera. “Untuk tahun depan, kami menargetkan Amygdala bisa dilangsungkan secara internasional dengan mengundang perguruan tinggi negeri untuk turut ikut serta dan bersaing. Dengan begitu, para peserta juga akan terpacu untuk menampilkan yang terbaik,” jelas Akbar optimis. Semua tim mengikuti babak penyisihan secara online. Kemudian terpilihlah 20 tim yang akan beradu di perempat final untuk memperebutkan tempat di semifinal. Hingga akhirnya terpilhlah tim dari Universitas Lambung Mangkurat yang merebut juara satu dan dua. Sementara juara tiga diraih tim dari UGM. Sementara di kategori SMA dimenangkan oleh SMAN 2 Tangerang Selatan. Menariknya, ajang Amygdala tidak hanya menyediakan lomba saja,a tapi juga ada seminar. Ada Dr. Yoyok Subagio, Sp.BS dan Dr. Aryani Vindhya, Sp.M. yang menjelaskan mengenai pendekatan terhadap klinis berupa aneurisma dan glaukoma. Ada lebih dari 115 peserta luring, dan lebih dari 390 peserta daring. Terkait Amygdala, Yafi, salah satu peserta mengaku antusias. Apalagi program tersebut dikemas dengan menarik dan interaktif. Banyak pengetahuan dan teman baru yang bisa didapatkan. “Sangat mengedukasi, kompetisinya juga fair, serta ilmunya memberikan pemahaman yang lengkap. Dokter yang menjadi pemateri juga lucu dan menarik sehingga kami tidak bosan mengikutinya,” kata Yafi mengakhiri. (fat/wil)
Ini Keaktifan Amcor UMM, Beberkan Cara Belajar di US hingga Program Inovatif

Setelah sukses menggelar info session dan exibition Education USA, Kali ini, American Corner (AmCor) Universitas Muhammadiyah malang (UMM) menyelenggarakan “Info Session on The U.S. Exchange Programs” pada Jumat ( 21/10) lalu. Agenda hasil kolaborasi dengan U.S. Consulate General Surabaya ini menghadiran sederet pembicara yang memotivasi mahasiswa untuk mengecar cita-cita ke luar negeri. Salah satunya adalah Cultural Affairs Assistant US Consulate General Surabaya Puguh Budi Susetyo. Ia menyampaikan ada banyak program yang bisa diikuti anak muda, salah satunya Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI). Melalui YSEALI Academic Fellows Program, mahasiswa mendapatkan rangkaian agenda akademik intensif, leadership development, study tour, serta pengalaman mengikuti kegiatan community service. “Tujuan program ini yaitu untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan dan meningkatkan pemahaman pemuda di ASEAN terhadap Amerika Serikat. Program tersebut akan memberikan banyak pengetahuan dan juga hal baru bagi peserta yang mengikutinya. Ada banyak project berbasis anak muda yang bisa mendorong peserta menjadi pemimpin,” jelas Puguh. YSEALI tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa, tapi juga untuk tenaga kependidikan atau dosen dari negara-negara ASEAN. Dengan begitu, para peserta bisa bertukar pikiran dan ide. Kemudian mengimplementasikannya di negara masing-masing. Turut hadir Director of Public Affairs U.S. Embassy Surabaya Joshua Shen yang memantau perkembangan American Corner UMM serta merekatkan hubungan dengan para volunteer dan anggota. Menariknya, Joshua juga menegaskan akan melakukan extend partnership dengan International Relation Office (IRO) UMM. Sehingga ada lebih banyak program yang bisa dilaksanakan dan diikuti oleh mahasiswa. “Saya sudah banyak mendengar bahwa AmCor UMM menjadi AmCor yang sangat aktif. Selain dari program-program yang di adakan sendiri, saya lihat Amcor UMM juga banyak melakukan partnership dengan pihak lain yang memilki tujuan sama dengan misi American Spaces. Seperti misalnya Let’s Play dan iLitterless. Oleh karena itu, kami juga akan melakukan extend partnership,” Ungkap Joshua. Disisi lain, salah satu peserta Eginuari Ilhani berharap Amcor bisa memberikan agenda menarik secara rutin. Selain bisa memotivasi mahasiswa untuk menuntut ilmu, menurutnya ajang seperti ini bsia memberikan hal baru yang menarik. Utamanya bagi mereka yang ingin atau sedang mempersiapkan diri untuk program pertukaran ke luar negeri. “Acaranya seru sekali dan saya tertarik untuk mengikuti program tersebut, apalagi ke Amerika Serikat. Siapa yang tidak mau ke Amerika Serikat kan, semoga kedepannya lebih banyak program seru lagi,” ungkap Egi mengakhirinya. (zak/wil)
Aziz, Mahasiswa UMM yang Berkontribusi di Ajang V20

Sebagai tuan rumah Group of Twenty (G20) tahun ini, Indonesia memiliki peranan penting bagi terlaksananya forum berskala internasional itu. Sebelum digelar forum G20, terlebih dahulu diadakan konferensi Values 20 (V20). Melalui undangan dari V20, Haziz Hidayat mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) jurusan Ekonomi Syariah berhasil terpilih menjadi salah satu delegasi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai perwakilan Indonesia. Adapun konferensi V20 yang diikuti oleh perwakilan dari 20 negara ini dilaksanakan pada akhir Oktober lalu di Ubud Bali. V20 merupakan komunitas global yang mendukung G20 dalam inisiasi, pembangunan, serta penguatan kembali nilai-nilai individu, institusi, nasional dan global. Aziz, sapaan akrabnya mengaku sangat senang bisa terpilih menjadi delegasi di konferensi V20. Mahasiswa yang memang tertarik dengan isu-isu global itu mengatakan, ia dan delegasi dari negara lainnya banyak membahas terkait goals dan target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Menurutnya, pembahasan isu-isu terkait sangat menarik karena skalanya luas. Pun dengan aspek pengkajian serta tujuan-tujuannya yang banyak. Mulai dari sosial, ekonomi, lingkungan, hukum, dan lainnya. Mereka juga saling bantu untuk memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dan akan terjadi. “Kebetulan saya mendapatkan projek di bidang lingkungan terkait penanggulangan food waste. Saya memberikan solusi yakni dengan menggunakan sistem pirolisis yaitu sebuah cara yang bisa berdampak dalam penanggulangan sampah. Sistem ini bahkan bsia menampung hampir 18 ton sampah yang kemudian diolah menjadi BBM, aspal, serta baja,” terangnya. Mahasiswa kelahiran tahun 1999 itu mengatakan, dirinya memang sering ikut dan berkontribusi dalam banyak konferensi internasional. Sebelumnya ia juga turut serta dalam Konferensi Sidang PBB tahun 2020 di Jakarta. Dari Pengalaman yang ia dapatkan, Aziz bersama teman-temannya di kampus mulai membangun SDGs Center di UMM. Berungtungnya, semua potensi yang dimiliki mahasiswa didukung penuh oleh Kampus Putih UMM. Sehingga ia dan teman-temannya tidak kesulitan dalam meningkatkan kualitas diri. Ia juga menekankan bahwa SDGs 2030 itu bukan tanggung jawab perorangan, pemerintah, ataupun kelompok tertentu. Namun semua orang memiliki tanggungjawab untuk mewujudkannya. Maka kerjasama antar lini sangat diperlukan. “Sebagai perwakilan dari UMM dan Indonesia, banyak sekali pengalaman dan manfaat yang didapat lewat V20 ini. Semoga solusi-solusi yang kami berikan bisa ditindaklanjuti dan dikembangkan. Paling tidak nanti akan saya jalankan di lingkup kampus. Saya juga ingin mengajak mahasiswa lain untuk pro aktif dengan isu-isu global yang ada, sehingga UMM juga mempunyai peran penting. Bukan hanya di level Indonesia tapi juga dunia,” harap Aziz mengakhiri. (zak/wil)
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga Dukung Trauma Center UMM

Sudah sebulan sejak Tragedi Kanjuruhan Malang terjadi. Peristiwa tersebut menyisakan pilu bagi keluarga korban, termasuk kondisi psikologis korban anak-anak. Baik yang terdampak langsung ataupun yang menjadi saksi dalam targedi kanjuruhan. Oleh sebab itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang diwakili oleh Asisten Deputi Perlindungan Anak Kondisi Khusus Elvi Hendrani memantau langsung. Salah satunya dengan datang ke Posko Pelayanan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada akhir Oktober 2022 lalu. Elvi mengatakan tujuan kedatangannya bersama tim yaitu untuk memastikan bahwa anak-korban kanjuruan mendapatkan perlindungan penuh, termasuk layanan-layanan yang seharusnya mereka dapatkan. Selain itu, Elvi juga banyak bertanya kepada tim relawan UMM bagaimana tantangan di lapangan serta proses pendataaan para korban yang terdampak. Ia menilai koordinasi yang dibangun sangat baik. Pun dengan jumlah relawan yang banyak, terutama di bidang psikologi. Menurutnya, tim relawan tanggap dan sigap ketika ada korban yang ingin meminta bantuan. “Meski begitu ada pekerjaan rumah yang bisa dilakukan yakni penanganan korban di luar Kabupaten Malang. Ada banyak korban yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur,” kata Elvi. Tidak hanya datang memantau, Elvi mengeaskan bahwa pihak PPPA akan membantu di aspek anggaran, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya pelaksanaan community building di sekolah-sekolah. Ia berharap semua anak-anak yang terdampak dapat terdampingi dengan baik, utamanya dari segi psikologis. “Saya khawatir terhadap efek jangka panjangnya bagi mereka. Taka da pendampingan, tak ada upaya untuk membantu mereka melewati trauma. Jadi untuk mencegahnya, kami akan tetap mengawal para korban hingga tahun depan,” tuturnya. Di sisi lain, salah satu relawan UMM Ferdyn Divanico Fawwaz Muhammad mengatakan, kedatangan pihak PPPA merupakan bentuk kepedulian langsung yang ditunjukkan. Selalu mendukung dan memberikan masukan kepada relawan di UMM dalam Peristiwa Kanjuruhan. Hal itu membuat tim UMM dapat melihat progres kinerja dan mengevaluasi aktivitas yang dilakukan selama ini. “Mewakili dari teman-teman relawan, semoga kunjungan ini bisa menambah semangat kami dalam menjalankan tugas. Terutama teman-teman relawan yang akan terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk melaksanakan dukungan psikososial bagi penyintas peristiwa kanjuruhan. Saya kira ini juga menjadi motivasi buat kami untuk dalam bidang kemanusian,” harap Ferdyn mengakhiri. (zak/wil)
Tuntut Ilmu di Jepang, Dosen UMM Ini Teliti Limbah Tahu Jadi Listrik

Sudah menjadi keharusan bagi pemuda pemudi Indonesia untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya bahkan ke luar negeri sekalipun. Hal tersebut diucapkan oleh Mochammad Wachid, STP. MSc., selaku dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia kini sedang menempuh studi doktoral dan menimba ilmu di negeri Sakura, Jepang. Wachid, sapaan akrabnya, saat ini tengah melanjutkan studi doktoral di University of Miyazaki. Ia bercerita, semua berawal dari eprkenalannya dengan salah satu dosen di universitasnya sekarang. Apalagi sistem di Jepang yang mendorong dosen untuk mengenal dan mengetahui calon mahasiswanya. Menariknya, dosen atau sensei langsung menyeleksi calon mahasiswa sendiri. “Di sini, mereka yang ingin melanjutkan pendidikan doktoral maupun magister harus kenal dan tahu dosennya. Tidak harus kenal langsung, bisa juga lewat konferensi. Saya beruntung karena sensei saya ini sangat tertarik dengan penelitian yang saya lakukan,” katanya. Adapun penelitiannya membahas tentang pemanfaatan limbah tahu untuk diubah menjadi listrik dengan microbial fuel cell. Metode fermentasi dari pengolahan limbah tahu ini akan menghasilkan listrik. Ia menjelaskan bahwa ada perbedaan pembuatan tahu di Indonesia dengan di Jepang. Di Indonesia biasanya memakai asam untuk penggumpalan sedangkan di Jepang menggunakan garam yang tidak asin. Untuk saat ini, ia tengah melakukan penelitian dengan dua sampel limbah dari Indonesia dan Jepan dengan metode pengolahan limbah yang menghasilkan energi. Ayah dari tiga anak ini bercerita bahwa ia mengalami culture shock saat pertama kali ke Jepang bersama kelaurganya. Salah satunya suhu dan cuaca yang berbeda. Ia datang pada bulan Desember 2020 yakni saat musim dingin. Pun dengan kegiatan masak memasak yang sering mereka lakukan unutk menghemat biaya dan menghindari makanan beralkohol serta babi. “Alhamudlillah setelah melewati bebrapa bulan, kami bisa berapadtasi. Tapi ada satu kekurangan yang masih saya miliki yakni kendala bahasa. Meski sudah berusaha belajar bahasa Jepang, tapi saya masih cukup kesulitan. Apalagi tidak semua orang Jepang bisa bahasa Inggris. Jadi saya harus membawa gawai untuk menerjemahkan,” ucapnya. Wachid menjelaskan ada beberapa aspek yang membedakan pendidikan Indonesia dan Jepang. Di Jepang, pendidikan karakter sudah ditanamkan sejak dini. Sehingga moral dan kejujuran slelau diutamakan. Ia juga sangat jarang menemukan diskirimasi terhadap orang luar, begitupun dengan peundungan di sekolah. “Pendidikan karakter yang diberikan sejak dini itulah yang membedakan Jepang dan Indonesia. Sehingga kasus perundungan cukup jarang terjadi, bahkan anak saya juga baik-baik saja bersekolah di sini,”ujarnya. Pria asli Lumajang ini juga berharap para sarjana atau magister di Indonesia tetap bersemangat melanjutkan pendidikan tinggi. Karena menurutnya, ketika menimba ilmu di negara orang, tidak hanya ilmu yang didapat, tapi juga pengalaman mendapatkan budaya baru, bahasa baru, bertemu orang baru dan lainnya. “Jangan lupa juga untuk kembali ke Indonesia dan membangun bangsa dengan berbagai cara,” harapnya. (haq/wil)
Kolaborasi UMM-Konjen RI Jeddah Bantu Anak Migran Berkuliah

Menempati urutan pertama sebagai kampus Islam terbaik di dunia tak membuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhenti membantu peradaban manusia. Terbaru, Kampus Putih UMM kedatangan Konsulat Jenderal RI Jeddah ke Kampus Putih UMM untuk berkolaborasi pada 25 Oktober 2022. Khususnya untuk mewadahi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang ada di Jeddah dan Mekkah, Arab Saudi. Eko Hartono selaku Konsulat Jenderal RI Jeddah menyampaikan ingin mengajak kerjasama dengan UMM melalui traning center di vokasi. Menurutnya, banyak anak-anak dari migran Indonesia yang ingin melanjutkan studinya ke UMM. Terlebih mereka telah mempersiapkan diri untuk memenuhi persyaratan yang tersedia. “Mereka tentu memiliki keinginan, kemampuan dan kualifikasi yang telah disiapkan. Ini menjadi suatu modal untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Bagi mereka yang tidak ingin melanjutkan strata satu, maka vokasi bisa menjadi pertimbangan. Apalagi vokasi UMM juga sangat bagus,” terangnya. Eko, sapaan akrabnya menjelaskan, nantinya kerjasama ini juga bisa menggaet universitas di Jeddah dan kemudian menjajaki kolaborasi. Baik itu untuk pertukaran mahasiswa, riset bersama, maupun aktivitas internasional lainnya. “Kami memohon kesediaan pimpinan untuk bisa membantu masa depan depan anak-anak migran ini agar bisa menempuh pendidikan ke perguruan tinggi. Terlebih saya melihat bahwa UMM sebagai kampus Islam terbaik dunia yang bisa mengembangkan sumber daya manusia berkualitas,” ungkapnya. Dalam kesempatan yang sama, Sutikno selaku Kepala Sekolah Indonesia di Jeddah mengatakan jika banyak anak-anak PMI yang ingin melanjutkan studi, tapi terhalang oleh biaya. Sebab, penghasilan orang tuanya yang cukup rendah dan malah menjadi beban keluarga. “Oleh sebab itu kami ingin bekerjasama dengan UMM untuk bisa menitipkan anak-anak PMI. Agar mereka bisa berkuliah di UMM dan bisa lanjut kerja. Paling tidak, para orangtua tidak khawatir melepas anak-anaknya karena kultur di Malang tidak jauh berbeda dengan mereka,” katanya. Ia juga sempat menjelaskan permasalah yang seringkali dihadapi pihaknya di sana. salah satunya perundungan dan senioritas yang begitu kental. Dua hal itu diakuinya belum bisa diatasi dengan maksimal karena kurangnya guru BK. “Saya juga berharap UMM bisa memberikan pelatihan bagi guru-guru kami agar bisa mendampingi anak didik dengan baik. Pun dengan sederet riset yang dapat mendukung proses belajar mengajar,” tuturnya. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd menyambut baik kerjasama ini. Menurutnya, kerjasama semacam ini bsia menambah menambah amunisi kebermanfaatan Kampus Putih UMM. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri. Sebelumnya, UMM juga sudah mengirimkan banyak tenaga kerja ke Jepang, Kuwait dan Abu Dhabi. Terlebih UMM kini memiliki program Center of Excellence (CoE) yang dapat menebar kebermanfaatan lebih tinggi. “Anak-anak PMI bisa masuk vokasi agar bisa segera mendapatkan praktek. Di UMM juga ada CoE yang bsia mengasah skill mahasiswa. Program ini juga sangat fleksibel sehingga mereka bisa bebas memilih kelas unggulannya,” ucap Fauzan. (ros/wil)
Dua Dosen Farmasi UMM Jelaskan Kasus Keracunan Obat Sirup

Beberapa waktu terakhir publik dihebohkan dengan kasus gagal ginjal yang menyerang anak-anak akibat konsumsi obat sirup. Menanggapi hal tersebut, dosen Program Studi (Prodi) Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dian Ermawati, S.Farm., Apt., M.Farm. menjelaskan bahwa kasus gagal ginjal atau dalam istilah medisnya Acute Kidney Injury (AKI) tersebut berasal dari zat tambahan obat sirup. Adapun ia dan Aghnia membahas kasus keracunan sirup dalam agenda UMMTalks, 24 Oktober 2022 lalu. lebih lanjut, Dian sapaan akrabnya menjabarkan bahwa untuk mempertahankan dan menstabilkan obat selama dua tahun, industri farmasi memasukan beberapa zat aktif dalam obat sirup. Selain mengandung parasetamol, obat sirup juga mengandung bahan aktif lainnya yaitu zat pelarut. Fungsinya adalah untuk melarutkan air dengan bahan aktif lainnya. “Ada empat zat pelarut yang diperbolehkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yaitu propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin atau gliserol. Diluar itu ada pula bahan pelarut yang dilarang oleh BPOM yakni etilen glikol dan dietilen glikol,” kata dosen teknologi farmasi tersebut. Dalam kasus obat sirup penyebab AKI, Dian menjelaskan bahwa ditemukan adanya pencemaran etilen glikol dan dietilen glikol didalam zat pelarut yang aman. Pencemaran tersebut melebihi batas ambang yang diperbolehkan sehingga menyebabkan gangguan ginjal pada penggunanya. Akibat terjadinya pencemaran pada zat pelarut tersebut, BPOM melarang penggunaan semua obat sirup baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. “Semua obat sirup baik untuk dewasa maupun untuk anak-anak memiliki komposisi bahan yang sama. Hal yang membedakan keduanya hanya terletak di kadar zat aktif yang kandung. Oleh karenanya, sampai pemeriksaan secara menyeluruh yang dilakukan oleh BPOM, masyarakat diharapkan untuk tidak menggunakan obat sirup,” ujar Dian. Di sisi lain, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Aghnia Fuadatul Inayah, M.Farm.Klin., Apt. mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang kesulitan akibat adanya pembatasan obat sirup ini. Banyak orang baik dewasa maupun anak-anak yang tidak bisa menelan obat dengan baik. Bahkan ada beberapa orang yang menghancurkan obatnya lalu meminumnya bersama air agar mudah ditelan. “Saya memahami kesulitan masyarakat. Apalagi anak kecil memang selalu rewel ketika akan diberi obat berbentuk pil atau kapsul. Namun saya tidak menyarankan untuk menghancurkan pil secara mandiri di rumah. Kepada orang-orang yang tidak bisa menelan obat pil sebaiknya meminta pertolongan apoteker untuk menghancurkannya menjadi bubuk agar takarannya tetap pas,” kata dosen farmasi klinis UMM itu. Selain itu untuk menghindari gejala keracunan atau efek samping AKI pada obat lainnya, Aghnia sapaannya menyarankan beberapa cara antisipasi. Pertama adalah berkonsultasi dengan dokter terkait penggunaan obat. Kedua adalah membeli obat dari fasilitas kesehatan yang terdaftar seperti apotek. Ketiga, gunakan obat sesuai aturan. Terakhir adalah buang terpisah obat dan kemasan jika tidak digunakan. “Beberapa obat yang ada di warung tidak memiliki izin edar. Ada juga yang tidak mencantumkan aturan pakai yang sesuai. Oleh karenanya, saya menyarankan agar masyarakat membeli obat di apotek ataupun klinik terdekat. Cara pembuangan obat juga harus diperhatikan agar tidak disalahgunakan oleh seorang oknum,” ujarnya mengakhiri. (syi/wil)
Satu Lagi Pengembangan Unit Bisnis UMM

Seiring meredanya pandemi, banyak orang yang kembali berolahraga guna menjaga kebugarannya. Salah satu tempat yang bisa dikunjungi dan mendukung kesehatan adalah Container Gym Sengkaling milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berlokasi di dalam Taman Rekreasi Sengkaling, pusat gym ini menyediakan beragai fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Yeni Dwi Kurniawati, Koordinator Marketing Sengkaling UMM mengatakan, Container Gym selalu siap membantu siapapun yang ingin meningkatkan kebugaran tubuhnya. Pun dengan upaya menjaga bentuk tubuh dan membakar lemak berlebih. Adapun gym ini dilengkapi dengan alat-alat fitness lengkap disertai dengan mentor yang siap membantu. “Jadi memang ada mentor yang disiapkan untuk membimbing pengunjung dalam menggunakan berbagai alat. Hal itu tentu bentuk upaya kami untuk mencegah terjadinya cedera yang tidak diinginkan. Para mentor juga bsia mengarahkan berbagai gerakan sesuai dengan tujuan pengunjung,” ucapnya. Yeni sapaan akrabnya menambahkan, ada juga senam aerobik yang dilaksanakan secara rutin. Menurutnya, senam ini bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung dan stamina. Pun dengan mencegah kolesterol jahat pada tubuh. Menariknya, para member juga bisa menikmati fasilitas sauna untuk merilekskan otot serta menghindarkan dari nyeri dan memulihkan otot. Semua fasilitas itu dilengkapi dengan zumba serta renang. Untuk mendapatkannya, pengunjung hanya perlu menjadi member dengan merogoh kocek sebesar Rp150.000 untuk masyarakat umum dan Rp115.000 untuk warga UMM. Kemudian, biaya perbulannya sebesar Rp100.000. Kalaupun hanya ingin melakukan workout untuk satu hari, hanya Rp25.000 per harinya. Meski sempat ditutup selama dua bulan karena pandemi, Gym Sengkaling kembali hadir dengan protokol kesehatan ekstra. Alat-alatnya juga senantiasa diberi disinfektan sehingga lebih aman dan higienis bagi pelanggan. Bahkan sudah menjadi SOP yang memberikan dampak positif. “Menjaga kesehatan menjadi keharusan bagi tiap orang. Karena kalau tidak sehat, kita tidak bisa menjalani hari dengan baik. Maka hadirnya Container Gym Sengkaling ini menjadi hal yang bagus. Apalagi dengan fasilitas yang mumpuni,” tegasnya. (haq/wil)
Ketum PP Muhammadiyah di Sumpah Pemuda UMM: Rajut Persatuan untuk Indonesia Berkemajuan

Indonesia saat ini meniscayakan daya-rekat yang kuat untuk merajut persatuan. Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. dalam orasinya untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2022. Acara itu diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan turut diikuti oleh ribuan sivitas akademika dan para tamu. Lebih lanjut, Haedar mengatakan bahwa di tubuh bangsa Indonesia saat ini muncul virus pembelahan yang mengarah pada perpecahan karena perbedaan pilihan politik yang kontradiktif. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan perbedaan pilihan politik. Sebaliknya, keberagaman politik pertanda hidupnya demokrasi dan kebhinnekaan dalam berbangsa dan bernegara. “Perbedaan politik menjadi masalah jika disertai dengan sikap zero sum game atau pemutlakan menang-kalah. Sehingga lahir sikap politik yang keras dan ekstrem. Pemenang merasa digdaya, sementara yang kalah menyimpan dendam membara. Pada titik inilah politik menjadi virus pemecah dan bukan pemersatu bangsa,” tegasnya. Ia menjelaskan, jika persatuan Indonesia ingin tetap terajut di tengah segala dinamika kebangsaan, maka perlu adanya sikap moderat dan moderasi dalam bernegara. Bukan hanya oleh satu pihak saja, tapi juga oleh seluruh warga dan golongan. Politik harus menjadi pilar persatuan, bukan malah menjadi faktor pemecah belah. “Soekarno dalam pidato 1 Juni 2045 menegaskan negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang atau golongan. Tetapi Indonesia adalah negara semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu. Maka bangunan Bhinneka Tunggal Ika harus kita rawat bersama. Bangunan dasar Indonesia harus dikonstruksi dengan jiwa dan pandangan yang moderat. Jauhi pandangan radikal ekstrem yang memecah. Pun dengan pemilu 2024 yang harus menjadi komitmen bersama menyatukan bangsa dan mengakhiri pembelahan politik kebangsaan,” ucapnya. Haedar juga mendorong generasi muda dan milenial untuk menjadi aktor persatuan dan kemajuan bangsa. Salah satunya melalui media sosial dan ruang publik yang digunakan sebagai arena persaudaraan sebangsa. Berupaya menumbuhkan pola pikir, sikap dan tindakan bahwa meskipun memiliki latar belakang berbeda namun bersaudara. Sehingga mampu hidup bersama secara harmoni, damai, toleran, dan berkemajuan. Ia menegaskan, berbekal persatuan yang kokoh dan autentik maka Indonesia akan mampu menjadi negara dan bangsa berkemajuan. Ini juga menjadi tonggak utama untuk hidup setara dengan bangsa lain di panggung dunia. Haedar juga optimis bahwa potensi Indonesia untuk bersatu sangatlah besar ketimbang virus perpecahan. Hal itu tak lepas dari masih hidupnya akal sehat, moral, dan kesadaran bersama untuk bersatu. “Tumbuhkan keteladanan dan kenegarawan pada setiap elit dan warga bangsa. Tempatkan kepentingan Indonesia di atas legasi diri, kroni, dinasti golongan, serta kehendak diri sendiri. Jadikan Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa sebagai basis utama dalam merajut persatuan, menuju Indonesia berkemajuan,” pungkas Haedar. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan, persatuan bangsa akan membawa indonesia menuju zaman keemasan di tahun 2045. Namun untuk mendapatkan hasil terbaik, perlu adanya usaha-usaha yang dikembangkan sejak dini. Harus ada reformasi mental di masyarakat seperti cara berpikir, bertutur kata yang baik, serta mengembangkan sifat inklusifitas. “Melalui hari peringatan Sumpah Pemuda ini, kita harus mengembangkan sifat bertutur kata yang positif, produktif, dan berkemajuan. Hentikan pembicaraan negatif dan membawa perpecahan. Mari kita bersatu menuju Indonesia yang berkemajuan,” ucapnya. Turut menyampaikan orasi dua mahasiswa UMM, Muthia Maharani dan Rezatullah dalam agenda itu. Muthia yang berasal dari Maluku mengajak pemuda untuk berkontribusi, terlibat dalam proses pembangunan di berbagai aspek. Berkomitmen menjadi teladan kejujuran, keadilan, kecerdasan, keanggunan moral, serta generasi yang gemilang. Sementara Reza menegaskan jika dulu pahlawan berjuang untuk kemerdekaan, maka sekarang pemuda harus bangkit membangun peradaban. Jika Sumpah Pemuda dideklarasikan karena perluanya persatuan, maka pemuda hari ini harus mengisinya dengan kegotongroyongan, perdamaian, dan keadilan. Menariknya, pada peringatan Sumpah Pemuda di UMM itu menampilkan Marching Band. Meski unit kegiatan mahasiswa (UKM) itu baru diresmikan, namun mereka juga akan tampil dan memeriahkan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo pada pertengahan November 2022 mendatang. (wil)
Fakultas Psikologi UMM Luncurkan CoE Pembimbing Individu Berkebutuhan Khusus

Dalam rangka membentuk dunia yang inklusif, Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meluncurkan pusat unggulan Pembimbing Individu Berkebutuhan Khusus (IBK). Agenda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 2022 ini turu mengundang berbagai sekolah dan pusat terapi IBK untuk menandatangani kerjasama. Adapun Center of Excellence yang melengkapi lebih dari 40 CoE UMM tersebut resmi diluncurkan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Menariknya, pada agenda itu ada penampilan dari siswa-siswi berkebutuhan khusus berupa tari dan pembacaan puisi. Dekan Fapsi UMM, Muhammad Salis yuniardi, Ph.D. menjelaskan ada tiga hal yang dilakukan pihaknya untuk menciptakan dunia yang inklusif. Utamanya bagi IBK yang seharusnya mendapatkan hak dan kesempatan yang sama, serta penyesuaian kebutuhan. Hal pertama yang Fapsi UMM upayakan adalah komitmen menjadi fakultas yang terbuka bagi siapapun. “Sejak 2007 kami sudah berkomitmen dalam pendidikna inklusif. Maka, kami siap menerima mahasiswa yang berkebutuhan khusus. Tahun ini ada dua yang Autism Spectrum Disorder dan dua mahasiswa tuna daksa. Untuk tahun depan, kami akan memprioritaskan IBK agar bisa masuk dan diterima di fakultas kami,” tambahnya. Kemudian yang kedua adalah mengupayakan pembimbing IBK yang baik. Salah satunya melalui pengajuan sertifikasi ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) terkait pembimbing IBK yang ssudah disetujui. Hal ini juga berefek pada hal yang ketiga yakni pendirian CoE pembimbing IBK. Dalam program ini, mahasiswa dan alumni tidak hanya diberikan skill untuk mendampingi IBK tapi juga merancang dan mengatur program bagi IBK. Pun dengan kemampuan mendirikan pusat terapi. Salah satu mitra, Kepala SDN 1 Junrejo Sri Winarti menilai program ini merupakan inovasi yang bagus. Terutama bagi teman-teman yang memiliki kebutuhan khusus. Dengan adanya CoE tersebut, akan muncul banyak sumber daya manusia (SDM) skillful yang bisa membantu menciptakan dunia yang inklusif. Apalagi SDM untuk mendampingi IBK akan bertahan. Tidak akan tergerus zaman dan digantikan oleh robot maupun teknologi. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan mengapresiasi CoE kedua yang sukses diluncurkan Fapsi UMM. ia menjelaskan, program ini memang dirancang untuk mendekatkan mahasiswa maupun alumni dengan kebutuhan di masyarakat dan industri. Apalagi melihat kenyataan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menyiapkan SDM yang mumpuni. “Tentu saya berharap Fakultas Psikologi mampu menjadi motor penggerak bagi CoE-CoE lain yang tersebar di amsing-masing prodi UMM. Dengan begitu, akan lahir banyak pemuda penerus bangsa yang siap menghadapi beragam masalah dan tantangan di masyarakat serta masa depan,” pungkasnya. (wil)