Belajar Langsung di Dunia Profesi: Tiga Mahasiswa FH UMM Jalani Magang di Kantor Notaris & PPAT Suprapto Subowo, S.H,

Suara Time, Malang – Program magang menjadi salah satu sarana penting bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan praktik hukum yang sesungguhnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami secara langsung dinamika dunia kerja sekaligus mengembangkan keterampilan profesional yang dibutuhkan setelah lulus. Program magang memang dirancang untuk memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa agar lebih siap menghadapi dunia profesi hukum. Sebagai bagian dari pelaksanaan program magang mandiri Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), tiga mahasiswa yaitu Muhammad Syauqi Albani, Muhammad Irfan Adinata, dan Pangestu Faril Ardyansyah melaksanakan kegiatan magang di Kantor Notaris & PPAT Suprapto Subowo, S.H., yang beralamat di Villa Sengkaling C-20, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Selama menjalani magang, ketiga mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai aspek praktik kenotariatan dan pertanahan secara langsung. Mereka tidak hanya mengamati proses kerja yang berlangsung di kantor, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan administratif dan hukum yang menjadi bagian dari tugas sehari-hari seorang notaris dan PPAT. Muhammad Syauqi Albani mengungkapkan bahwa pengalaman magang ini memberikan banyak wawasan baru yang tidak sepenuhnya diperoleh di dalam kelas. Menurutnya, berbagai materi yang selama ini dipelajari secara teoritis dapat dipahami lebih mendalam ketika diterapkan dalam praktik nyata. “Melalui kegiatan magang ini kami dapat memahami bagaimana proses pelayanan hukum dilakukan secara langsung kepada masyarakat. Kami juga belajar mengenai ketelitian dalam memeriksa dokumen, penyusunan berkas, serta pentingnya profesionalisme dalam menjalankan pekerjaan,” ujarnya. Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa mempelajari berbagai jenis dokumen hukum, proses penyusunan dan pengarsipan akta, prosedur administrasi pertanahan, hingga mekanisme pelayanan kepada klien. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai tanggung jawab seorang notaris dan PPAT dalam menjamin kepastian hukum bagi masyarakat. Pembelajaran semacam ini menjadi salah satu tujuan utama program magang di lingkungan kenotariatan. Muhammad Irfan Adinata menilai bahwa lingkungan kerja yang profesional sekaligus edukatif membuat proses pembelajaran menjadi lebih optimal. Ia mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru mengenai prosedur hukum yang sebelumnya hanya dipahami melalui literatur perkuliahan. “Kami mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana dokumen hukum diproses hingga siap digunakan. Pengalaman ini tentu sangat berharga sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja nantinya,” jelasnya. Sementara itu, Pangestu Faril Ardyansyah menyampaikan bahwa kegiatan magang juga mengajarkan pentingnya etika profesi dalam bidang hukum. Menurutnya, selain kemampuan teknis, seorang calon praktisi hukum harus memiliki integritas, kedisiplinan, dan kemampuan berkomunikasi yang baik. “Kami belajar bahwa profesi hukum tidak hanya membutuhkan pemahaman peraturan perundang-undangan, tetapi juga tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,mungkapnya. Selain memperoleh pengalaman teknis, ketiga mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai sistem administrasi kantor, pengelolaan dokumen, serta tata cara pelayanan klien yang profesional. Aspek-aspek tersebut merupakan bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas notaris dan PPAT secara efektif. Program magang ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi Muhammad Syauqi Albani, Muhammad Irfan Adinata, dan Pangestu Faril Ardyansyah dalam mengembangkan kompetensi akademik maupun profesional. Melalui pengalaman langsung di dunia kerja, mahasiswa dapat meningkatkan kesiapan mereka untuk menghadapi tantangan profesi hukum di masa depan. Dengan adanya kegiatan magang di Kantor Notaris & PPAT Suprapto Subowo, S.H., mahasiswa FH UMM tidak hanya memperoleh pengalaman praktis, tetapi juga kesempatan untuk memahami nilai-nilai profesionalisme, integritas, dan tanggung jawab yang menjadi fondasi utama dalam dunia hukum. Pengalaman tersebut diharapkan mampu membentuk lulusan yang kompeten, beretika, dan siap berkontribusi bagi masyarakat serta dunia profesi hukum Indonesia.
UMM Cetak Sejarah, Prof. Lailis Syafaah Dikukuhkan sebagai Guru Besar Rekayasa Biomedik Pertama

News – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan sejarah penting dalam perjalanan akademiknya. Pada 11 Juni 2026, UMM resmi mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Lailis Syafaah, M.T. sebagai Guru Besar di bidang Rekayasa Biomedik. Pengukuhan ini menjadi momen istimewa karena Prof. Lailis merupakan Guru Besar Rekayasa Biomedik pertama yang dimiliki UMM. Kehadirannya menandai semakin kuatnya kontribusi kampus tersebut dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menghubungkan dunia teknik dan kesehatan. Rekayasa biomedik merupakan bidang keilmuan yang relatif baru, namun memiliki peran besar dalam masa depan layanan kesehatan. Disiplin ini menggabungkan ilmu teknik, teknologi informasi, kecerdasan buatan, dan ilmu kedokteran untuk menciptakan berbagai inovasi kesehatan. Mulai dari alat diagnostik, sistem pemantauan pasien, robot medis, hingga pengembangan organ buatan dan teknologi rehabilitasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kebutuhan akan ahli rekayasa biomedik terus meningkat di seluruh dunia. Pengukuhan Prof. Lailis menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya fokus menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan ilmuwan yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Selama ini, Prof. Lailis dikenal sebagai akademisi yang aktif meneliti penerapan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam bidang kesehatan. Fokus keilmuan tersebut menjadikannya salah satu akademisi yang berada di garis depan dalam pengembangan teknologi kesehatan berbasis data dan machine learning di Indonesia. Advertisement Salah satu inovasi yang mendapat perhatian luas adalah pengembangan aplikasi deteksi anemia non-invasif berbasis AI. Melalui aplikasi ini, masyarakat tidak perlu lagi menjalani prosedur pengambilan darah untuk melakukan pemeriksaan awal kadar hemoglobin. Cukup menggunakan kamera smartphone, sistem akan menganalisis citra konjungtiva mata dan mengestimasi kondisi anemia pengguna. Teknologi tersebut memanfaatkan kecerdasan buatan yang telah dilatih dengan basis data khusus untuk membaca karakteristik visual yang berkaitan dengan kadar hemoglobin dalam darah. Penyampaian Orasi Ilmiah Oleh Prof. Lailis Syafaah Saat Pengukuhan Guru Besar (Bhekti Setyowibowo/INDOZONE) Inovasi tersebut lahir dari perjalanan riset yang panjang. Berawal dari studi doktoralnya di bidang kedokteran, Prof. Lailis mengembangkan pemodelan kesehatan berbasis citra digital yang kemudian dipadukan dengan teknologi machine learning. Hasilnya adalah sistem deteksi dini yang lebih praktis, mudah diakses, dan berpotensi membantu masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara mandiri. Bahkan, tingkat akurasi sistem yang dikembangkan telah mencapai sekitar 80 persen dan terus disempurnakan melalui pengembangan data dan algoritma. Advertisement Kehadiran Guru Besar Rekayasa Biomedik pertama di UMM juga menjadi simbol transformasi pendidikan tinggi yang semakin adaptif terhadap kebutuhan zaman. Dunia kesehatan saat ini tidak lagi hanya mengandalkan tenaga medis, tetapi juga membutuhkan kolaborasi erat dengan para insinyur, ilmuwan data, dan pengembang teknologi. Kolaborasi lintas disiplin inilah yang menjadi fondasi utama rekayasa biomedik. Bagi UMM, pengukuhan Prof. Lailis bukan sekadar penambahan jumlah profesor. Lebih dari itu, ini merupakan pengakuan atas konsistensi kampus dalam membangun ekosistem riset yang menghasilkan inovasi bermanfaat bagi masyarakat. Dari ruang laboratorium hingga aplikasi yang dapat digunakan melalui telepon genggam, karya-karya yang lahir menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi sumber solusi atas berbagai tantangan kesehatan masa depan. Momentum pengukuhan ini sekaligus menjadi kebanggaan bagi sivitas akademika UMM dan masyarakat Malang. Di tengah era digital yang terus berkembang, lahirnya Guru Besar Rekayasa Biomedik pertama menjadi penanda bahwa inovasi kesehatan berbasis teknologi tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi kenyataan yang tumbuh dan berkembang dari kampus di Kota Malang.
Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Siap Pasok Kebutuhan Medis Nasional

Malang, panjimas – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategis dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Peletakan batu pertama (ground breaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis kemarin (11/6). Dihadiri sejumlah tokoh penting, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM Prof Dr Fauzan Mpd, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA. Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan. Baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menegaskan, pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corpo ration. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan, organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara. ”Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Proyek yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Dalam pemaparannya, agama disebut tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Senada, Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA menjelaskan, kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM. ”Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” katanya. Misinya, selain mendukung layanan kesehatan, kawasan tersebut juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri. Sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan
UMM Luncurkan GKB 5: Green Building 11 Lantai Setinggi 45 Meter

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini, diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si pada Kamis (11/2026). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban. Haedar sapaan akrabnya memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih karena dinilai tak pernah lelah berinovasi dan sukses menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegasnya. Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya.
Benarkah Indonesia Menuju Krisis Ekonomi?

Tagar.co – Layar perdagangan saham berwarna merah. Angka-angka bergerak turun. Berita tentang merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 20 persen sejak awal 2026 hingga pekan lalu membuat banyak orang mulai bertanya-tanya Apakah Indonesia sedang menuju krisis ekonomi? Pertanyaan itu wajar muncul. Pengalaman krisis 1998 maupun gejolak ekonomi global beberapa tahun terakhir masih membekas di benak masyarakat. Saat pasar saham turun tajam dan nilai tukar rupiah melemah. Kekhawatiran biasanya datang lebih cepat daripada data dan penjelasan ekonomi yang sesungguhnya. Kepanikan Investor Memicu ISHG Memerah Menurut Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Novi Puji Lestari, kondisi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda rapuhnya fundamental ekonomi nasional. Ia menilai gejolak yang terjadi lebih banyak mempengaruhi faktor psikologis pasar daripada kondisi ekonomi riil. “Turunnya IHSG saat ini lebih banyak memicu panic selling dari investor yang merasa khawatir secara berlebihan. Pasar sering kali bergerak lebih cepat merespons ketakutan dibandingkan kondisi ekonomi yang sebenarnya,” ujarnya dalam siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Rabu 910/6/26). Baca Juga: Kesalehan dan Istikamah, Ujian Usai Ramadan Fenomena panic selling bukan hal baru dalam dunia investasi. Ketika sebagian investor mulai menjual saham karena takut rugi, investor lain sering mengikuti langkah yang sama. Akibatnya, tekanan jual semakin besar dan harga saham terus menurun. Situasi tersebut menciptakan lingkaran kepanikan yang membuat pasar tampak lebih buruk daripada kondisi sesungguhnya. Di tengah kondisi tersebut, muncul persepsi bahwa penurunan IHSG menjadi indikator pasti memburuknya ekonomi nasional. Padahal, pasar saham hanya salah satu instrumen yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk sentimen, ekspektasi, dan psikologi pelaku pasar. Pelemahan Rupiah dan Sentimen Global Tekan Pasar Saham Novi menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama kekhawatiran investor berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ketika rupiah mengalami tekanan, investor asing cenderung menilai aset di negara berkembang memiliki risiko yang lebih tinggi. Bagi investor global, stabilitas fiskal menjadi faktor penting sebelum menanamkan modal. Karena itu, perubahan kecil dalam persepsi terhadap kondisi ekonomi dapat memicu perpindahan dana dalam jumlah besar. “Investor asing sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah melemah, mereka merasa aset yang dimiliki menjadi lebih berisiko sehingga muncul kecenderungan menarik dana dari pasar,” jelasnya. Baca Juga: Silaturahmi II Ambulans Muhammadiyah Jatim: Perkuat Layanan, Bangun Branding Berbasis Data Meski demikian, pelemahan rupiah tidak selalu berarti ekonomi dalam kondisi buruk. Dalam banyak kasus, nilai tukar dipengaruhi faktor eksternal yang berada di luar kendali pemerintah maupun pelaku usaha domestik. Kondisi global saat ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketidakpastian. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kembali memanas serta konflik geopolitik di Timur Tengah menciptakan sentimen negatif di berbagai pasar keuangan dunia. Arus globalisasi membuat peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia dapat memengaruhi keputusan investor dalam hitungan jam. Informasi bergerak sangat cepat. Respons pasar bahkan sering kali lebih cepat dibandingkan perkembangan peristiwa itu sendiri. Novi Puji Lestari, SE, MM, Dosen Manajemen UMM Menurut Novi, sekat ekonomi antarnegara semakin tipis. Dampak konflik global tidak lagi terbatas pada negara yang terlibat secara langsung. “Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dapat menciptakan sentimen negatif yang memengaruhi psikologis pasar domestik,” katanya. Di sisi lain, pemerintah berulang kali menegaskan bahwa berbagai indikator makroekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif terjaga. Aktivitas ekonomi tetap berjalan, sektor riil masih bergerak, dan konsumsi masyarakat belum menunjukkan kontraksi yang mengkhawatirkan. Baca Juga: Gebyar Ramadan Lazismu Sidoarjo Hadirkan Taman Lansia, Padukan Kajian dan Edukasi Kesehatan Saat IHSG Memerah, Masyarakat Perlu Tetap Rasional Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara gejolak pasar keuangan dan kondisi ekonomi sehari-hari. Penurunan harga saham memang dapat memengaruhi persepsi publik, tetapi tidak selalu berarti seluruh aktivitas ekonomi sedang mengalami krisis. Bagi investor pemula, situasi seperti sekarang justru menjadi ujian penting dalam mengambil keputusan keuangan. Ketika pasar dipenuhi sentimen negatif, banyak orang tergoda menjual aset secara tergesa-gesa hanya karena mengikuti arus. Padahal, keputusan investasi yang baik harusnya memberikan dasar pada analisis dan tujuan jangka panjang, bukan pada ketakutan sesaat. Kepanikan sering kali menjadi penyebab kerugian yang lebih besar yang tidak sebanding penurunan pasar itu sendiri. Masyarakat juga perlu memahami bahwa fluktuasi merupakan bagian alami dari pasar modal. Tidak ada pasar yang selalu naik, sebagaimana tidak ada pasar yang terus turun tanpa henti. Dalam sejarahnya, berbagai bursa dunia pernah mengalami koreksi tajam sebelum akhirnya kembali pulih.
GKB 5 Resmi Beroperasi, UMM Bersiap Jadi Episentrum Medis Nasional

Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM, Dau, Kota Malang. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Kamis (11/6/2026). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan. Terutama bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban, terutama dunia medis. Haedar, sapaan akrabnya, memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih. Apresiasi ini dinilai layak karena Ia menilai UMM tidak pernah berhenti berinovasi. Selain itu, UMM juga mampu menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. Baca Juga: Haedar Nashir: Pendidikan Jangan Hanya Mengejar Nilai, tetapi Membangun Akal Budi “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat. Juga menanamkan tradisi besar bagi seluruh civitas academica (masyarakat akademik, ed.) untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan. Menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegas Haedar. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. menandatangani prasasti peresmian Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM, Kamis (11/6/2026) (Tagar.co/Humas UMM) Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia. Semuanya itu sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, Rumah Sakit UMM, dan seluruh ekosistem Kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju. Bukti Islam yang berkemajuan dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Dibangun dengan Swadaya-Swakelola Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola. Termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang, beserta beberapa konsultan,” urai Nazaruddin. Baca Juga: Akar Sosial Radikalisme Diungkap dalam Disertasi Ini Gedung yang berdiri di atas lahan seluas dua hektar memiliki konstruksi tahan gempa. Selain itu, gedung tersebut mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi. Lebih dari itu, juga memaksimalkan pencahayaan alami dan memastikan sirkulasi udara sehat. Nazaruddin melanjutkan, gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional dan sarana olahraga. Termasuk juga memiliki sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh. Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM. Utamanya, untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus. Memberi kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkas Nazaruddin. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Baca Juga: Dari Malang untuk Indonesia: FEB UMM Tawarkan Solusi Atasi Ketimpangan Ekonomi Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima. Mereka yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan.
GKB 5 Resmi Beroperasi, UMM Bersiap Jadi Episentrum Medis Nasional

Agroredaksi.com-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si pada Kamis (11/6). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban. Haedar sapaan akrabnya memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih karena dinilai tak pernah lelah berinovasi dan sukses menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegasnya. Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” urainya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektar, struktur tahan gempa ini mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, dan memastikan sirkulasi udara sehat. Gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh. Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan.
GKB 5 UMM Resmi Beroperasi, Perkuat Ambisi Jadi Pusat Pendidikan Medis Berkelas Nasional

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan langkah strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi bidang kesehatan. Kampus Putih resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berdiri megah di kawasan Rumah Sakit UMM, Kamis (11/6). Gedung setinggi 45 meter dengan 11 lantai tersebut diproyeksikan menjadi pusat pendidikan medis modern bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Penandatanganan prasasti oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.(Djoko W) Peresmian dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang menyebut kehadiran GKB 5 sebagai bukti nyata konsistensi UMM dalam membangun tradisi kemajuan dan inovasi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Menurut Haedar, UMM telah menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu kampus yang menjadi rujukan kemajuan bagi PTMA di Indonesia. Berbagai capaian yang diraih UMM dinilai lahir dari budaya akademik yang mendorong sivitas akademika untuk terus berpikir visioner, berinovasi, dan berorientasi pada masa depan. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” ujarnya. Lebih lanjut, Haedar menilai GKB 5 bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol komitmen UMM dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul di sektor kesehatan. Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga medis profesional, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, karakter, dan akhlak yang kuat. Ia menegaskan, keberadaan GKB 5 yang terintegrasi dengan Rumah Sakit UMM akan semakin memperkuat ekosistem pendidikan kesehatan yang mampu melahirkan tenaga medis berkompeten sekaligus berjiwa kemanusiaan. “Gedung GKB 5, Rumah Sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” tambahnya. Sambutan Rektor UMM, Nazaruddin Malik.(Ist) Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menjelaskan bahwa pembangunan GKB 5 memiliki nilai strategis karena dikerjakan secara mandiri oleh sumber daya internal kampus. Proyek yang mulai dirintis sejak 2023 tersebut merupakan hasil kolaborasi para ahli dan tenaga profesional UMM, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” jelasnya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektare, GKB 5 dirancang dengan konsep green building yang mengedepankan efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan. Bangunan tahan gempa tersebut memaksimalkan pencahayaan alami, memiliki sistem sirkulasi udara yang sehat, serta dilengkapi teknologi pengelolaan limbah yang terpisah sesuai standar fasilitas pendidikan kesehatan modern. Tak hanya itu, gedung ini juga menghadirkan puluhan laboratorium berstandar internasional, ruang pembelajaran berbasis teknologi, fasilitas olahraga, hingga auditorium representatif yang mendukung kegiatan akademik maupun pengembangan kompetensi mahasiswa. Bagi UMM, investasi besar pada infrastruktur pendidikan kesehatan merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjawab tantangan dunia medis yang semakin kompleks. Integrasi antara pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan melalui keberadaan Rumah Sakit UMM diyakini akan memperkuat kualitas lulusan sekaligus meningkatkan kontribusi kampus terhadap pembangunan kesehatan nasional. Nazaruddin berharap peresmian GKB 5 menjadi momentum baru bagi UMM untuk terus memperluas kontribusi bagi bangsa melalui pendidikan yang unggul dan berdaya saing global. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Hadirnya GKB 5 menandai babak baru pengembangan pendidikan kesehatan di UMM. Lebih dari sekadar gedung perkuliahan, fasilitas ini menjadi representasi visi besar kampus dalam membangun pusat pendidikan medis modern yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi kesehatan, riset, serta nilai-nilai keislaman. Dengan langkah tersebut, UMM semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama dalam mencetak tenaga kesehatan unggul yang siap menjawab tantangan nasional maupun global.
UMM Bangun Pabrik Infus, Bukti Nyata Kemandirian Kesehatan Tak Bisa Ditunda

BatasMedia99.com,- MALANG. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategisnya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis (11/6/2026). Peresmian proyek ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, diantaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Lebih lanjut, Haedar memaparkan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang, langkah ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Tanah Air. Sementara itu Wakil Bupati (Wabup) Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, menghadiri Groundbreaking Pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia yang akan berdiri di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6) pagi. Ia menyambut baik hadirnya investasi industri kesehatan tersebut karena menurutnya pembangunan pabrik infus tersebut tidak hanya akan memperkuat sektor kesehatan nasional. Wakil Bupati (Wabup) Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib saat turut memimpin acara Groundbreaking Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia di Karangploso Tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daeraH. Peletakan batu pertama di lokasi pabrik yang akan dibangun di Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6).elalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan pengembangan potensi kawasan industri di Kabupaten Malang. “Pemerintah Kabupaten Malang menyambut baik dan mengapresiasi pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia ini,” katanya dalam sambutan. Ia mengatakan kehadiran industri kesehatan sebagai inisiasi Muhammadiyah merupakan langkah nyata mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional sekaligus memperkuat ketahanan industri farmasi dalam negeri. “Kami berharap investasi ini tak hanya mampu memenuhi kebutuhan produk kesehatan secara mandiri, tetapi juga memberikan dampak positif perekonomian daerah lewat penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tumbuhnya ekosistem industri yang berdaya saing di Kabupaten Malang,” ujar Lathifah. Turut hadir pula Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Direktur Utama BPJS Kesehatan, jajaran pimpinan Muhammadiyah,unsur Forkopimda, serta sejumlah tamu undangan dari kalangan akademisi, dunia usaha,dan sektor kesehatan. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa.
Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Dibangun, Siap Pasok Kebutuhan Medis Nasional

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama PT Suryavena Farma Indonesia memulai pembangunan pabrik infus di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Proyek yang berdiri di atas lahan milik UMM tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 guna memperkuat rantai pasok alat kesehatan nasional, khususnya kebutuhan infus bagi rumah sakit Muhammadiyah dan masyarakat luas. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. UMM menyediakan sekitar tiga hektare lahan dari total 14 hektare aset kampus di kawasan tersebut untuk mendukung pengembangan kawasan industri terpadu berbasis kesehatan. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebut pembangunan pabrik infus ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem socio-religious corporation Muhammadiyah. Menurutnya, organisasi keagamaan juga memiliki peran strategis dalam membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan nasional melalui bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik. “Ini bukan untuk Muhammadiyah semata, tetapi untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan bagaimana manfaatnya kembali kepada masyarakat luas,” tegas Haedar. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Ia menjelaskan, ajaran agama tidak hanya berkaitan dengan ibadah dan akidah, tetapi juga mencakup aspek muamalah atau kehidupan sosial-ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis dinilai sebagai bentuk pengabdian yang mengedepankan nilai kemanusiaan, keberlanjutan, dan akuntabilitas. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda mengatakan pembangunan pabrik infus ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional di bidang kesehatan. Menurutnya, kawasan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mengintegrasikan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia dengan praktik industri. “Selain mendukung layanan kesehatan nasional, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi inovasi, pendidikan, dan industri. Harapannya dapat melahirkan SDM yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Keberadaan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia diharapkan menjadi tonggak baru penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Indonesia. Kolaborasi antara Muhammadiyah, perguruan tinggi, dan industri ini dinilai mampu mendorong kemandirian ekonomi sekaligus meningkatkan pelayanan publik yang lebih inklusif.