Ajari Warga, Mahasiswa KKN UMM Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin

Seringkali sebagian orang yang berpikir bahwa limbah tidak bisa dimanfaatkan. Tapi tidak dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak di Desa Sumberejo, Kota Batu. Kelompok KKN ini menghadirkan program unggulan berupa pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah rumah tangga. Mereka akan berupaya memberikan dampak selama satu bulan pada Juli hingga Agustus ini. Program ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi yang mudah diterapkan oleh masyarakat. Selaku ketua kelompok, Herdian menjelaskan bahwa ide lilin aromaterapi berangkat dari keprihatinan terhadap kebiasaan warga membuang minyak bekas sembarangan. Ini berpotensi mencemari lingkungan dan menyumbat saluran air. “Daripada dibuang, minyak jelantah bisa dimanfaatkan menjadi lilin aromaterapi. Selain mengurangi limbah, aromaterapi ini juga bermanfaat bagi kesehatan, mengharumkan ruangan, hingga mengurangi sesak napas,” ujarnya. Proses pembuatannya terbilang sederhana karena mereka menggunakan minyak jelantah direndam bersama arang selama 24 jam untuk menghilangkan bau. Kemudian dipanaskan dan dicampur asam stearat sebagai pengeras. Pewarna dan minyak esensial ditambahkan untuk menghasilkan lilin beraroma menenangkan. Dengan modal minim, produk ini dinilai potensial untuk dikembangkan menjadi usaha kreatif warga. Di sisi lain, Kepala Desa Sumberejo, Erianto, mengapresiasi tinggi gagasan mahasiswa tersebut. Ia menilai, program ini bukan hanya kreatif, tetapi juga aplikatif bagi warga desa. Ia menjelaskan pemerintah desa selau terbuka untuk kolaborasi dan siap mendukung setiap inovasi mahasiswa yang memberikan dampak positif bagi warganya. “Semua rumah tangga pasti punya sisa minyak jelantah. Kalau dimanfaatkan seperti ini, nilainya akan jauh lebih bermanfaat dan bisa mengurangi sampah di rumah,” ujarnya. Dukungan dan semangat juga hadir dari Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. selaku wakil rektor V UMM yang turut hadir dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Ia menegaskan bahwa program KKN harus mampu menjadi inspirasi dan meninggalkan jejak positif di masyarakat. Karena menurutnya untuk menghadapi tantangan masa depan, mereka harus memanfaatkan pengalaman di lapangan sebagai bekal nantinya dan siap untuk berkontribusi bagi bangsa, baik melaui pekerjaan, usaha, maupun studi lanjut. “Harapannya, kehadiran mahasiswa dapat meningkatkan literasi, memberdayakan masyarakat, dan memunculkan solusi kreatif seperti lilin aromaterapi ini. Walaupun waktunya hanya satu bulan, karya yang bermanfaat akan selalu diingat warga,” jelasnya. Program lilin aromaterapi ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana yang memanfaatkan potensi lokal mampu memberi manfaat luas. Dengan dukungan pemerintah desa dan universitas, karya mahasiswa KKN UMM di Sumberejo diharapkan dapat terus berkembang, bahkan menjadi produk unggulan desa yang bernilai jual tinggi. (vin/wil)
Mahasiswa UMM Borong Penghargaan di Ajang Wirausaha Nasional

Kebanggaan kembali menyelimuti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) setelah delegasinya mencetak prestasi luar biasa dalam ajang Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI), akhir Juli lalu. Program berskala nasional ini diikuti oleh 30 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. MCEBI mewujudkan tujuannya melalui serangkaian kegiatan strategis, mulai dari pelatihan intensif, klinik bisnis yang mendalam, hingga membuka peluang kerja sama yang luas dengan berbagai lembaga. UMM mengirimkan dua tim terbaiknya ke kompetisi ini, masing-masing dengan fokus subjek yang berbeda namun sama-sama membawa inovasi segar. Tim Quailgreenfarm berfokus pada sektor budidaya, berhasil meraih juara 2 dalam kategori Best Business Plan (Proposal) berkat konsep bisnis yang matang dan prospektif. Tak berhenti di situ, mereka juga mengamankan posisi juara 2 untuk kategori Business Matching (Display Produk), menunjukkan keunggulan dalam inovasi produk, serta meraih juara 1 dalam kategori Best Video. Deni, salah satu perwakilan tim Quailgreenfarm, berbagi insight mengenai keunikan proposal mereka yang menjadi kunci keberhasilan. Mereka mengusung konsep telur puyuh tinggi omega-3. Ini cara mereka menyoroti inovasi pada produk telur puyuh sehat yang dibudidayakan tanpa sentuhan bahan kimia berbahaya. Ia menambahkan bahwa solusi bisnis ini tidak hanya menawarkan telur puyuh omega-3 dengan harga terjangkau, tetapi juga menghadirkan pupuk organik tinggi NPK, membentuk ekosistem bisnis yang berkelanjutan dari hulu ke hilir. Sementara itu, tim RoeLicious yang mengedepankan inovasi di sektor kuliner kemasan, juga tak kalah membanggakan dengan meraih juara 3 untuk kategori Best Business Plan (Proposal). Pencapaian kedua tim ini menegaskan komitmen UMM dalam mengembangkan potensi kewirausahaan mahasiswanya, mendorong mereka untuk berani berkreasi dan menghadirkan solusi bisnis yang relevan dengan dinamika pasar yang ada. Deni juga tak lupa mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan dari pihak UMM. Menurutnya, dukungan penuh dari kampus UMM menjadi kunci dari kesuksesan saat ini. Mulai dari peran vital bimbingan dosen seperti Novi Puji Lestari, M.M., masukan konstruktif terkait display kemasan, serta strategi jitu yang dibagikan oleh mentor-mentor di UMM. Persiapan timnya sendiri melibatkan pematangan ide yang telah ada sejak lama, serta pembentukan tim multidisiplin dari fakultas peternakan, agribisnis, dan ekonomi guna melengkapi keahlian operasional, pemasaran, hingga manajemen keuangan. Lebih dari sekadar raihan gelar juara, keberhasilan di MCEBI ini memberikan pengalaman berharga yang tak ternilai. Jaringan dan koneksi yang terjalin antar peserta, serta penemuan hal-hal baru selama proses kompetisi jadi modal penting dalam pengembangan diri mereka. Prestasi gemilang Quailgreenfarm dan RoeLicious di MCEBI diharapkan menjadi sebuah inspirasi dan pemicu semangat bagi mahasiswa UMM lainnya untuk terus berinovasi dan berani mengejar mimpi di kancah kewirausahaan. (ali/wil)
Tim Mahasiswa UMM Bikin Sirup Sehat Atasi Surplus Gula

Inovasi minuman sehat kembali lahir dari tangan kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sekelompok mahasiswa dari berbagai latar belakang jurusan mengembangkan produk Kokoluks, sirup berbahan dasar Virgin Coconut Oil (VCO) yang dirancang sebagai alternatif sehat dari minuman manis berlebihan. Salah satu anggota tim yang juga ketua kelompok, Azhar Ramadhan Sarita, mahasiswa Fisioterapi UMM, memaparkan proses awal lahirnya produk ini. Ia menjelaskan bahwa ide pengembangan Kokoluks muncul pada akhir tahun 2024 dan mulai diformulasikan secara serius di awal 2025. “Kokoluks ini adalah sirup berbasis VCO, yang memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan energi, membantu program diet, menjaga kadar gula darah, hingga melawan radikal bebas karena kandungan antioksidannya,” ujar Azhar. Gagasan ini tidak muncul begitu saja. Latar belakang Azhar sebagai mahasiswa Fisioterapi turut memengaruhi pilihannya dalam menciptakan produk yang sehat dan fungsional. Ia menyaksikan langsung dampak negatif konsumsi gula berlebih terhadap pasien. Karena itulah, bersama timnya, Azhar berusaha merancang sirup yang tetap lezat namun rendah risiko bagi kesehatan. Mereka mengganti gula berlebih dengan pemanis alami seperti eritritol yang lebih aman dikonsumsi. “VCO mengandung asam laurat yang membantu melawan virus, bakteri, dan jamur. Lemak sehatnya juga cepat diubah menjadi energi, cocok untuk pelaku diet keto maupun clean eating. Selain itu, bisa meningkatkan kolesterol baik, memperlambat penuaan sel, dan membantu mengontrol nafsu makan,” ujarnya. Saat ini, Kokoluks telah memasuki tahap uji coba awal. Produk fisiknya sudah tersedia dan diproduksi dalam skala kecil untuk keperluan penelitian. Namun, proses uji laboratorium masih berlangsung sebagai syarat untuk kelayakan edar. “Formulanya sudah fix. Kami tinggal menunggu hasil uji lab. Kalau sudah lolos, rencananya akan diproduksi massal dan dipasarkan ke masyarakat,” ujarnya. Tidak hanya berhenti pada ide dan formulasi, proses produksi Kokoluks juga mengikuti tahapan yang terstruktur secara ilmiah. Ia menyebutkan bahwa mulai dari sterilisasi alat, pembuatan fase air dan minyak, penggabungan emulsi, hingga pengemasan, semuanya dilakukan secara higienis dan sistematis. Meski begitu, perjalanan pengembangan Kokoluks tidak berjalan tanpa hambatan. Dengan tim yang hanya beranggotakan tiga orang, mereka harus pintar membagi waktu di tengah kesibukan akademik. Kesulitan mereka ada pada manajemen waktu karena mereka tengah banyak mengikuti kegiatan akademik. Meski demikian, Azhar dan tim tetap optimis bahwa produk ini akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Optimisme itu tak lepas dari misi besar yang mereka bawa. Tim PKM ini ingin menjadikan Kokoluks sebagai bagian dari gaya hidup baru yang lebih sehat dan sadar akan pentingnya kandungan dalam makanan maupun minuman. “Kami ingin mendorong masyarakat untuk memilih minuman alami dan tidak lagi tergantung pada produk tinggi gula atau fast food,” ujarnya. Dengan pendekatan ilmiah dan semangat kolaboratif dalam PKM, Kokoluks menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM tidak hanya aktif secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata untuk tantangan kesehatan masyarakat masa kini. (vin/wil)
Mahasiswa KKN UMM Inisiasi Kampung Pengolahan Limbah di Malang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong mahasiswanya untuk jadi generasi berdampak. Termasuk lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak di berbagai wilayah. Salah satunya dengan peresmian Kampung Ecoenzyme di Dusun Mondoroko, Desa Banjararum, Singosari yang dilangsungkan mahasiswa KKN, 6 Agustus 2025. Mereka mengajari cara pembuatan ecoenzyme, penggunaan, hingga penyaluran. Adadapun ecoenzyme adalah cairan serbaguna hasil fermentasi dari sisa organik seperti buah dan sayuran, gula merah, dan air. Cairan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. “Semua berawal dair kesadaran kami bahwa di kampung ini ada banyak limbah organik yang tersedia. Baik itu dari pertanian, peternakan, maupun limbah dari penjual yang banyak cukup banyak. Dari situ, kami memiliki ide untuk memanfatkannya jadi ecoenzyme,” kata Pandu Hiro Zaisan selaku koordinator KKN. Pandu mengatakan ecoenzyme bisa digunakan di berbagai hal. Misalnya bisa menjadi pupuk untuk tanaman dan pertanian, terapi bantal, pengharum ruangan, hingga handsanitizer. Produk ini bahkan bisa dikembangkan menjadi cairan pel dan sabun cuci baju. Dengan begitu, limbah yang dulunya dibuang begitu saja bisa dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat. “Jadi kami mengajari warga tiap RT satu persatu, terutama ibu-ibu. Ke depan, kami berharap ini bisa menjadi sumber pemasukan baru bagi masyarakat,” kata mahasiswa manajemen itu. Di sisi lain, Kepala Dusun Mondoroko Solehudin mengapresiasi upaya dari para mahasiswa, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan. Namun, ia berharap para mahasiswa bisa terus memonitor program sekalipun periode KKN berakhir. Menurutnya, keberlanjutan program ecoenzyme bisa memberikan dampak yang lebih besar. Hal serupa juga disampaikan Wakil Rektor IV M. Salis Yuniardi, P.hD. yang turut mengunjungi KKN berdampak tersebut. Ia menyampaikan, ada beberapa kampus yang sudah menghilangkan program KKN karena target utamanya adalah melahirkan sarjana. Namun tidak dengan UMM yang memang berkomitmen penuh menjalankan KKN Berdampak di berbabagi wilayah. “Kami tidak ingin para sarjana dari UMM hanya siap bekerja, tapi juga harus bisa bermanfaat untuk masyarakat. Maka KKN Berdampak jadi pembelajaran mahasiswa untuk terjun ke masyarakat dan menebar kebermanfaatan. Menjadi problem solver di tengah pelbagai masalah yang ada,” katanya. KKN Berdampak ini juga menjadi cara UMM menjalankan arahan dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Universitas harus mampu memberikan dampak yang baik pada masyarakat. Maka dari itu, kami menugaskan mahasiswa untuk menjalankan program unggulan di masing-masing lokasi KKN. “Jadi harus ada program unggulan. Program yang kalau tidak ada mahasiswa KKN, tidak akan bisa jalan. Bukan hanya megajar mengaji, belajar membaca buku, atau membantu Agustusan. Tapi benar-benar bagus dan unik. Salah satu contohnya Kampung Ecoenzyme ini,” pungkasnya. (wil)
Bantu Tunanetra, Mahasiswa UMM Bikin Kacamata Pintar Deteksi Obat

Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan inovasinya dalam bidang teknologi kesehatan. Lewat proyek bertajuk Vision Medichine, tim mahasiswa berhasil mengembangkan kacamata pintar (smart glasses) berbasis machine learning yang ditujukan untuk membantu penyandang tunanetra dalam mendeteksi jenis obat secara otomatis. Adapun alat ini berhasil mendapat pendanaan dari Kemdiktisaintek RI dalam pengembangannya. Didesain secara khusus dengan pendekatan generative AI dan teknologi voice assistant, Vision Medichine dirancang untuk memberikan informasi obat melalui keluaran suara secara real-time. Inovasi ini berangkat dari keprihatinan sang penggagas atas banyaknya penyandang tunanetra yang mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi obat yang mereka konsumsi. Terlebih ketika berada dalam kondisi mendesak. Tim yang terdiri dari Al Fitra Nur Ramadhani (Informatika), Muhammad Hanif (Informatika), Dwi Sukmawati (Farmasi), Zaki Hanif Izzet (Teknik Elektro) dan Riko Dwi Firmansyah (Teknik Elektro) ini memang memiliki optimisme dan semangat tinggi untuk menciptakan produk kebanggaan ini. Proyek ini bermula dari proses mereka ikut seleksi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang digelar di tingkat universitas. “Awalnya saya dari prodi Informatika, waktu itu memang lagi gencar-gencarnya untuk ikut seleksi PKM dan Alhamdulillah kami yang lolos dan terpilih,” kenang Fitra. Menurutnya, masih banyak berita dan informasi tentang tunanetra yang mengalami kesusahan untuk deteksi obat. Padahal aspek kesehatan merupakan hal yang penting bagi manusia. Dari situ, ia dan tim memutuskan untuk mengambil topik kesehatan ini. Penciptaan Vision Medichine ini terinspirasi dari perangkat virtuality yang selama ini digunakan oleh kalangan disabilitas. Dengan teknologi pemindai (scan) yang terintegrasi, pengguna cukup mengarahkan kacamata ke obat yang akan dikonsumsi, lalu perangkat secara otomatis akan membacakan nama dan informasi dasar mengenai obat tersebut. Tak hanya itu, Vision Medichine juga dilengkapi dengan fitur voice assistant yang memungkinkan pengguna bertanya langsung kepada perangkat. “Alat ini didukung dengan voice assistant, jadi penggunanya atau tunanetranya ini bisa tanya-tanya juga terkait data setempat,” lanjut Fitra. Kelebihan lainnya adalah bentuk alat yang ergonomis dan efisien sehingga memudahkan tunanetra dalam penggunaannya sehari-hari tanpa perlu pelatihan teknis yang rumit sehingga dapat membantu penyandang Tunanetra dalam segi kemandirian. Hingga saat ini, proyek Vision Medichine sudah menunjukkan progres signifikan. “Alhamdulillah kemarin kita juga sudah sempat progres, mungkin kalau dihitung dengan persentase, mesin ini sudah mencapai 30-40 persen. Masih banyak yang harus dilakukan, tapi semua lancar dan aman. Apalagi komponen-komponen yang dibutuhkan sudah datang serta bimbingan dari dosen seperti Pak Galih Wasis Wicaksono yang sangat membantu,” ujarnya. Meski begitu, pengembangan alat ini tidak luput dari tantangan teknis. Beberapa komponen seperti kamera sempat tidak berfungsi dengan baik saat uji coba di lapangan. “Ada beberapa komponen yang kita beli namun tidak berfungsi seperti yang kami harapkan, misalkan kamera ketika kami uji coba di lapangan hasilnya beda dan tidak berfungsi,” jelasnya. Dengan semangat kolaboratif dan dukungan dari berbagai pihak, tim pengembang Vision Medichine berharap bisa melanjutkan proyek ini hingga ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Inovasi ini menjadi bukti nyata komitmen UMM dalam mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga peduli terhadap persoalan sosial dan mampu menciptakan solusi teknologi yang inklusif dan aplikatif. (hud/wil)
UMM Jadi Rujukan Bappenas untuk Inovasi Perguruan Tinggi

Dianggap sebagai kampus inovatif dan berdampak luas bagi masyarakat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima kunjungan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, 1 Agustus 2025 lalu. Agenda Sharing Session itu membahas kontribusi nyata UMM dalam isu-isu strategis nasional, seperti stuting, kesehatan dan gizi masyarakat, pendidikan inklusif, hingga penguatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMM. Diskusi hangat ini menyoroti bagaimana UMM melalui KKN Tematik dan Program LPPM telah menyasar langsung kebutuhan masyarakat, seperti pemenuhan gizi ibu hamil dan balita sebagai upaya konkret penurunan stunting. Lebih lanjut, Hanifa Umi Haryati salah seorang Planner Bappenas menilai bahwa pendekatan UMM sejalan dengan arah Rencana Kerja Pemerinta (RKP) 2026, yang menekankan pembangunan manusia seutuhnya menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan inklusif dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas nasional, dan UMM dinilai telah menunjukkan aksi nyata melalui riset, inovasi teknologi lokal, hingga pemberdayaan desa. Tak hanya itu, peran aktif UMM sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam mengelola program PPG juga menjadi sorotan. “Termasuk di dalamnya, kami ingin lebih mengetahui bagaimana kampus mengembangkan kurikulum, evaluasi pembelajaran, serta menyiapkan guru berkualitas untuk generasi masa depan,” ujar Hanifa melanjutkan. Menjawab hal ini, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU., Direktur Direktorat Saintek UMM menyampaikan bahwa UMM melalui Direktorat Saintek terus mengoptimalkan pemanfaatan hasil riset, khususnya di bidang kesehatan, gizi, dan ketahanan pangan. Direktorat ini telah menghimpun berbagai penelitian, termasuk yang berkaitan dengan stunting, baik dari dosen maupun mahasiswa. Kemudian, melalui program unggulan seperti Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM aktif mengembangkan inovasi. Salah satunya beras analog tinggi zat besi (fe) sebagai solusi nyata di masyarakat. Masih mengenai isu stunting, UMM juga dipercaya turut serta dalam konsorsium perguruan tinggi terkait pengentasan stunting di NTT bersama Kementerian Diktisaintek RI. Ini menjadi salah satu contoh sinergi UMM dengan kementerian dan pemerintah daerah. Selain hasil riset, UMM juga mendorong penguatan literasi gizi, pertanian, dan produktivitas ekonomi masyarakat demi menurunkan stunting dan kemiskinan secara berkelanjutan. “Stunting adalah isu kompleks. Tak hanya soal gizi, tapi juga lingkungan, ekonomi, dan literasi,” ujarnya. Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menegaskan komitmen UMM dalam menyelenggarakan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang unggul dan berstandar internsional. Menariknya, sejak 2007, UMM sudah aktif melaksanakan sertifikasi guru. Hingga saat ini, baik PPG Dalam Jabatan maupun Prajabatan menerapkan sistem pembelajaran blended dan kurikulum khas seperti AIK dan Mata Kuliah Manajemen Produksi Media Pembelajaran Digital sebagai mata kuliah elektif. Tak hanya itu, UMM juga tengah menjalin kerja sama internasional, seperti universitas di Australia, Rusia, Taiwan, Spanyol, dan lainnya. Bahkan, pada Oktober 2025 mendatang, UMM akan terlibat langsung dalam program konsorsium pendidikan Indonesia-Australia di Manado yang didukung Kedutaan Australia. Di sisi lain, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama Bidang VI UMM, menegaskan pentingnya sinergi antara UMM dan kementerian strategis seperti Bappenas dalam mendukung percepatan pembangunan nasional. Menurutnya, UMM telah merancang berbagai program yang berdampak langsung pada masyarakat melalui riset dan pengabdian masyarakat baik dari tingkat mahasiswa, maupun dosen. “Inisiatif ini menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong implementasi di lapangan, utamanya aspek kesehatan gizi dan pendidikan,” katanya. (din/wil)
Dari Aceh hingga Papua, Ribuan Wali Mahasiswa Baru Padati Silaturahmi bersama UMM

Ribuan orang tua dan wali mahasiswa baru dari berbagai penjuru Indonesia memadati Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 2 agustus 2025. Momentum ini menjadi titik awal penting dalam membangun kolaborasi antara kampus dan keluarga dalam mendampingi generasi muda meniti pendidikan tinggi di UMM. Melalui pertemuan ini, UMM mengajak keluarga untuk bersama-sama mendampingi proses pendidikan yang bukan hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan arah masa depan. Pada kesempatan ini, UMM juga memberikan berbagai beasiswa bagi mahasiswa baru yang berprestasi. Mendorong agar para mahasiswa lain juga mampu memaksimalkan potensi untuk meraih prestasi. Dalam momen penuh kehangatan, Prof. Dr. Muhadjir Effendi, Ketua Badan Pembina Harian UMM sekaligus Penasihat Khusus Presiden RI untuk Urusan Haji, mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih kepada para orang tua atas kepercayaan yang diberikan kepada UMM. Ia menekankan bahwa keberhasilan mahasiswa tak hanya lahir dari proses akademik di kampus, melainkan juga hasil kerja sama erat dengan keluarga. “Universitas hanya bisa membantu dan mendukung. Tapi arah dan tanggung jawab masa depan anak tetap berada pada orang tuanya. Maka penting bagi kita untuk bergerak bersama,” ujarnya. Dari sisi kepemimpinan universitas, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. selaku rektor menguraikan tekad UMM untuk menghadirkan pendidikan bermutu dan lingkungan pembelajaran yang berkarakter. Ia menyebut bahwa lebih dari 4.200 mahasiswa baru dari berbagai daerah—mulai dari Aceh, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua—telah resmi bergabung dengan UMM sebagai bagian dari Gen 25. Melalui pertemuan ini, para orang tua diajak mengenal lebih dalam filosofi pendidikan UMM, sistem akademik, serta ekosistem pembinaan yang dibangun untuk membentuk mahasiswa yang cerdas, tangguh, dan berintegritas. Ia menegaskan bahwa peran keluarga tetap krusial, terutama dalam mendorong putra-putri mereka menjauh dari hal-hal yang mengganggu proses studi, seperti kekerasan, obat-obatan terlarang, dan pelanggaran etika kampus lainnya. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga punya karakter kuat dan jiwa kepemimpinan. Kampus ini tidak hanya tempat belajar, tapi juga ruang tumbuh untuk menjadi pribadi utuh,” jelasnya. Namun, ungkapan paling mengesankan justru datang dari para orang tua. Salah satunya adalah Rosalia, yang datang dari Kalimantan Selatan untuk mengantarkan putrinya kuliah di jurusan Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan. Ia menilai pertemuan ini penting karena memberikan pemahaman langsung kepada orang tua mengenai dunia kampus serta membuka ruang komunikasi antara keluarga dan universitas. “Saya sangat senang dan bangga. Ini pertama kali saya ke Malang, dan kampus ini memberi kesan yang sangat nyaman. Harapannya, anak saya bisa betah, belajar dengan baik, dan ilmunya bermanfaat di masa depan,” ungkapnya. Kebersamaan yang terjalin menciptakan keyakinan bahwa masa depan mereka akan lebih baik bila didampingi dengan doa, dukungan, dan kerja sama yang solid antara orang tua dan perguruan tinggi. UMM menegaskan komitmennya untuk terus menjadi rumah yang aman, unggul, dan menginspirasi bagi setiap mahasiswa yang mempercayakan masa depannya di kampus ini. (vin/wil)
Lagi, Humas UMM Jadi Humas Kampus Terbaik se-Jatim

Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menasbihkan diri jadi humas kampus terbaik se-Jawa Timur. Hal itu berkat keberhasilan menjadi terbaik pertama bidang pengelolaan media sosial dan laman dalam kompetisi Anugerah Humas Diktisaintek Jatim akhir Juli ini. Ajang ini dilaksanakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) wilayah VII Jawa Timur. “Dengan hasil ini, kami sekaligus mewakili Jatim di Anugerah Humas tingkat nasional. Prestasi di Jawa Timur memang sudah kami menangkan empat tahun berturut-turut. Di level nasional juga berhasil menjadi humas perguruan tinggi terbaik dalam kategori laman dan media sosial tiap tahunnya,” kata Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. Menurutnya, prestasi ini tak lepas dari kerja keras dan cerdas tim Humas UMM di berbagai aspek. Mulai dari tim riset dan berita, tim media sosial, video dan foto, strategi komunikasi dan lainnya. Kolaborasi dan sistem yang dibangun memungkinkan Humas UMM mampu menghasilkan konten yang memiliki value tinggi, tidak hanya sekadar unggah dan menerbitkan saja. “Media sosial dan laman website jadi dua di antara banyak platform yang menyebarkan kiprah dan inovasi sivitas akademika UMM. Apalagi tema tahun ini adalah kampus berdampak yang memang sudah lama dilakukan UMM. Prestasi ini juga tak lepas dari dukungan penuh rektor UMM Prof Nazaruddin Malik,” katanya. Terkait tema, Krisna, sapaan akrabnya menilai bahwa mahasiswa, tendik, dan dosen UMM memang sudah banyak yang memberikan inovasi. Tidak hanya berhenti pada hasil penelitian saja, tapi juga benar-benar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Mulai dari pupuk organik, pakan ternak bergizi dan terjangkau, robot, aplikasi psikologi, metaverse hukum, bibit unggul, hingga mengubah berbagai kampung jadi kampung wisata. Sehingga tema kampus berdampak bukan hal yang baru bagi UMM karena sudah sejak awal berdiri memberikan dampak dan perubahan positif. Apalagi kini di bawah komando Prof Nazaruddin sebagai rektor, UMM telah mendirikan Direktorat Saintek yang menjadi wadah berbagai riset menarik. Beragam penelitian tersebut terus diuapayakan untuk dihilirisasi dan bisa dimanfaatkan masyarakat. Ini menjadi upaya dalam mendorong kemajuan bangsa Indonesia, termasuk di bidang pangan, teknologi, dan lainnya. “Semoga prestasi sebagai Humas Kampus terbaik Jatim ini bisa mendorong kami melakukan hal yang lebih baik lagi. Selain itu, saya dan tim juga akna berjuang keras untuk kembali berjaya di tingkat nasional seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Krisna menutup. (wil)
Mahasiswa UMM Unjuk Gigi, Sabet Juara 3 Nasional Ajang Cyber Security

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali ukir prestasi di tingkat nasional. Tim dari LSO Kaliber (Organisasi mahasiswa yang berfokus dalam bidang keamanan siber dan jaringan), berhasil meraih Juara 3 dalam ajang ACAD Defence Challenge 2025 yang digelar oleh ACAD CSIRT di Bandung. Kompetisi yang berlangsung pada awal Juli 2025 ini diikuti oleh lebih dari 70 tim dari berbagai instansi akademik di Indonesia. Mereka bersaing dalam kategori umum mulai dari tingkat pelajar, mahasiswa, dan umum. Berbagai tantangan yang dihadapkan pada peserta dalam ajang ini seperti menganalisis serangan, merespon insiden, memburu ancaman dan membedah jejak digital. Tim UMM yang terdiri dari Muhammad Salman Al Farisi, Bimo yudistira Ariel, dan Sutrisno Adit Pratama dari Program Studi Teknik Informatika UMM ini tampil solid dan percaya diri. Berbekal latihan intensif dan semangat tinggi, mereka berhasil menembus posisi tiga besar, mengungguli banyak pesaing lainnya. “Persiapan kami untuk mengikuti perlombaan memang sudah mencoba dari tahun-tahun sebelumnya. Oada tahun ini, alhamdulillah lolos kualifikasi selama 4 minggu dan berhasil menjadi juara dalam kompetisi tersebut” ujar Salman, mewakili tim. ACAD Defence Challenge 2025 merupakan agenda tahunan ACAD CSIRT yang bertujuan mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan dunia maya. Melalui skenario serangan dan pertahanan digital, peserta diajak berpikir kritis, cepat, dan tepat dalam menangani berbagai potensi ancaman siber. Salman dan tim merupakan mahasiswa Teknik Informatika UMMyang aktif dalam organisasi kampus LSO Kaliber. Minatnya pada jaringan dan komputer muncul sejak awal kuliah. Ketika mengetahui adanya organisasi yang sesuai dengan minatnya, ia langsung tertarik bergabung, bahkan sempat diamanahi sebagai Ketua Umum LSO Kaliber. Aktivitasnya dalam LSO tersebut membuatnya lebih fokus dan menekuni bidang yang memnag sesuai dengan jurusannya. “Awal saya mengenal LSO Kaliber ketika Pesmaba dimana waktu itu salah satu pengurusnya memperkenalkan LSO Kaliber kepada mahasiswa baru. Motivasinya karena saya ingin mendalami bidang jaringan komputer dan selaras dengan penjurusan di prodi saya.“ jelas Salman. Capaian ini menambah deretan prestasi mahasiswa UMM dalam bidang teknologi dan digitalisasi. Kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” ini terus mendukung tumbuhnya talenta-talenta muda berprestasi dari berbagai disiplin ilmu. UMM terus mendorong pengembangan diri mahasiswa melalui organisasi intra, kompetisi, hingga kolaborasi industri. Prestasi ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mencoba, belajar, dan berkontribusi lewat keahlian yang mereka miliki. “harapan saya semoga bisa menjadi motivasi bagi anggota LSO yang lain untuk tetap berusaha dan berjuang di organisasi, kemudian untuk LSO semoga kedepannya bisa lebih banyak memperoleh prestasi dan semakin berkembang. harapannya agar kampus lebih mendukung dan mensupport kegiatan-kegiatan mahasiswa.” Pungkasnya. Salman, yang dipercaya sebagai ketua tim, menyampaikan harapannya agar pencapaian ini tidak berhenti sebagai kebanggaan semata, tetapi bisa menjadi pemicu semangat bagi mahasiswa lain, khususnya mereka yang tergabung dalam LSO Kaliber. Terlebih lagi, UMM selalu memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk fasilitas, pendampingan dosen, maupun kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan dan perlombaan. (hud/wil)
Atasi Residu Kimia di Peternakan, Mahasiswa UMM Ciptakan Jamu Kambing dan Sapi

Ketergantungan peternak Indonesia terhadap pakan kimia dan antibiotik sintetis tak hanya berisiko bagi kesehatan hewan, tetapi juga berdampak pada konsumen. Residu kimia dalam produk ternak telah lama menjadi isu tersembunyi dalam sistem pangan nasional. Hal tersebut mendorong sekelompok mahasiswa Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggagas inovasi bernama Nutri Jamu—pakan herbal berbentuk pelet yang menyasar ruminansia seperti sapi dan kambing. Nutri Jamu memanfaatkan bahan lokal seperti temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan daun pepaya (Carica papaya). Keduanya dikenal memiliki sifat antimikroba, antiinflamasi, serta mampu meningkatkan nafsu makan dan kekebalan tubuh ternak. Inovasi ini juga menjadi kritik terhadap dominasi industri pakan besar yang kerap meminggirkan peternak kecil. “Nutri Jamu bukan sekadar formula teknis, tapi juga bentuk keberpihakan. Kami ingin peternak punya alternatif sehat dan murah, tanpa tergantung pada pakan pabrikan yang harganya kian melambung,” ujar Oka Saputra sebagai ketua tim. Dari sisi kandungan, formulasi Nutri Jamu terdiri atas 5–10% temulawak dan 10–15% daun pepaya, dikombinasikan dengan bahan konvensional seperti jagung, dedak, dan konsentrat. Bentuknya yang berupa pelet membuatnya praktis, mudah disimpan, serta tahan lama tanpa pengawet, dengan kadar air maksimal 12%. Proses pembuatannya juga tergolong sederhana dan dapat direplikasi. Bahan-bahan lokal dikeringkan, digiling, dan dicampur sesuai kebutuhan nutrisi ternak. Setelah itu dikukus dan dicetak menggunakan mesin pelletizer. Hasil akhirnya adalah pelet padat dan higienis yang bisa disimpan hingga tiga bulan. “Salah satu keunggulan proses ini adalah kemudahan standarisasi di tingkat peternak. Selama ini peternak kecil kesulitan membuat pakan dengan takaran nutrisi yang pas karena dicampur manual. Nutri Jamu menyederhanakan itu semua,” jelas Oka. Lebih jauh, Nutri Jamu tak hanya fokus pada efisiensi pakan, tapi juga menawarkan solusi terhadap resistensi antibiotik dan kontaminasi residu. Karena konsumen sekarang makin peduli dengan isu keamanan pangan. Jadi penting bagi peternak untuk beralih ke pakan sehat seperti ini. “Saat ini, Nutri Jamu masih dalam tahap uji coba terbatas di peternakan mitra di Jawa Timur. Tim pengembang tengah memvalidasi dampaknya terhadap performa ternak sebelum nantinya dijual secara luas, lengkap dengan pelatihan teknis bagi peternak,” terang Oka. Ia berharap Nutri Jamu bisa jadi model pakan nasional berbasis herbal yang memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia. Sedangkan temulawak dan daun pepaya bisa diolah, jadi tidak harus impor suplemen sintetis dari luar negeri. Inovasi ini membuktikan bahwa solusi atas persoalan sistem pangan tidak harus datang dari industri besar. Dari tangan mahasiswa, gagasan yang berpihak pada lingkungan dan peternak kecil bisa menjadi motor kedaulatan pangan yang lebih adil dan berkelanjutan. (vin/wil)