Upacara Kemerdekaan Indonesia di UMM: Ribuan Baju Adat hingga Makanan Daerah

Ribuan baju adat dikenakan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 17 Agustus 2025. Ini menjadi bukti semangat kebangsaan dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Baju adat yang dikenakan sangat beragam, mulai dari Aceh hingga Papua. Bahkan ada yang mengenakan baju profesi, aladin, baju belanda zaman sebelum merdeka, dan lain sebagainya. Momentum bersejarah ini menjadi pengingat atas perjuangan para pahlawan bangsa sekaligus pemicu bagi sivitas akademika UMM untuk memberikan kontribusi nyata dalam memajukan bangsa melalui pendidikan tinggi yang berdampak. UMM juga mendorong UMKM sekitar dengan membeli dan menyediakan ribuan makanan daerah. Mulai dari soto, rawon, dan lainnya yang bisa diambil usai melaksanakan upacara kemerdekaan. Dalam refleksinya, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa aktualisasi semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam bentuk dedikasi dan pengabdian di berbagai bidang, utamanya pendidikan Perguruan Tinggi. “UMM memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi emas yang tak hanya berilmu, tetapi juga berdaya saing tinggi dan berkarakter yang kuat,” katanya. Berdasarkan data BPS tahun 2024, Indonesia tengah berada pada fase bonus demografi dengan 68% penduduk usia produktif dari toral 286 juta jiwa. Angka ini diproyeksikan meningkat hingga 70% pada periode 2030-2045, yang digadang-gadang sebagai puncak bomus demografi RI. Ini merupakan momentum emas untuk melahirkan bangsa yang mandiri, inovatif, serta mampu menghasilkan kemajuan signifikan di berbagai sektor kehidupan Lebih lanjut, Nazar juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai modal utama. Program-program pendidikan harus berfokus pada penguasaan teknologi, inovasi, kreativitas, pelatihan keterampilan, hingga pemebentukan etos kerja yang kokoh. Tak hanya itu, menurutnya pembangunan berkelanjutan dalam bidang kesehatan, lingkungan serta kepemimpinan dan manajerial juga menjadi prasyarat bagi bangsa yang maju. “Jika tekad ini diwujudkan dengan sungguh-sungguh, kita optimistis indeks modal manusia Indonesia dapat meningkat dari 0,56 menjadi 0,73 di masa mendatang. Tantangan terbesar tentu adalah penciptaan lapangan kerja produktif di tengah ketidakpastian ekonomi global,” demikian ujar Nazar melanjutkan. Era disrupsi dan digitalisasi yang menuntut generasi muda untuk lebih adaptif, kreatif, dan inovatif, adalah satu keniscayaan. Hal ini hanya dapat dicapai melalui proses pendidikan tinggi yang berkualitas tinggi dan kolaboratif. Nazar berharap, UMM dapat menjadi pusat lahirnya energi kolektif bangsa untuk menghadapi perubahan zaman. Di sisi lain, UMM juga mengapresiasi penuh pencapaian dan dedikasi sivitas akademika yang telah berbakti pada bangsa melalui tenaga, inovasi, dan jasa. Untuk itu, beragam penghargaan dengan berbagai kategori. Mulai kategori dosen berprestasi tahun 2025, tenaga kependidikan berprestasi, program studi dengan kinerja keuangan terbaik, dan lain sebagainya. Untuk itu, melalui semangat pergerakan Muhammadiyah, UMM berkomitmen mengubah bonus demografi menjadi peluang yang besar. Harapannya, cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan hanya sekedar wacana, melainkan kenyataan yang diraih melalui kerja keras, dedikasi, serta Ridho Allah SWT. (din/wil)
Mahasiswa UMM Hadirkan Turbin Pompa, Atasi Krisis Air Desa

Keterbatasan suplai irigasi selama bertahun-tahun menjadi tantangan utama para petani di Desa Tawangrejo, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar. Wilayah yang sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada sektor pertanian ini kerap kesulitan mendapatkan air untuk menyiram tanaman, terutama saat musim kemarau dan saat pasokan listrik tak stabil. Hal itu mendorong mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berinovasi melalui program pengabdian masyarakat. Yakni dengan mencitpakan teknologi tepat guna berupa turbin angin penggerak pompa. Adapun proyek tersebut sudah dilaksanakan oleh tim mahasiswa UMM sejak awal tahun hingga pertengahan tahun 2025 ini. Mereka sekaligus menyasar permasalahan pengairan lahan pertanian warga dengan pendekatan berbasis energi terbarukan. “Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga keberlanjutan. Kegiatan ini kami rancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan sistem pengairan yang mandiri dan berkelanjutan. Turbin angin ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun desa berbasis energi terbarukan,” kata Abi Mufid Octavio selaku ketua tim pengabdian Lebih lanjut, ia mengatakan turbin angin yang dipasang di lokasi strategis ini bekerja secara mekanik untuk menggerakkan pompa air dari sumber mata air ke lahan pertanian. Dengan memanfaatkan kekuatan angin, sistem ini mampu bekerja secara otomatis tanpa perlu aliran listrik atau bahan bakar. Hasilnya, pasokan air untuk irigasi dapat berjalan lebih lancar, efisien, dan tentunya hemat biaya. Respons masyarakat terhadap inovasi ini sangat positif. Bagi mereka, ini bukan sekadar alat, tetapi harapan baru. Minah, salah satu warga mengapresiasi usaha para mahasiswa UMM. Bahkan ia mengaku tidak paham untuk apa anak-anak muda membangun teknologi ini. “Awalnya saya pikir baling-baling itu cuma buat hiasan, lha kok ternyata bisa nyedot air. Wong wedok kayak saya jadi semangat, gak takut lagi ngurus irigasi,” katanya yang juga seorang petani sayur. Hal serupa juga disampaikan Darto, pemuda setempat yang turut membantu dalam proses pengembangan turbin. Menurutnya, teknologi ini sangat membantu dengan efisiensi yang ditawarkan. “Biasanya irigasi nunggu listrik nyala, kadang sampai malam. Tapi sekarang, kalau angin ada, ya air jalan. Hemat biaya, hemat tenaga,” katanya. Penerapan turbin angin penggerak pompa ini membuka peluang lebih luas bagi pengembangan teknologi desa. Selain menunjang pertanian lokal, sistem ini juga mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional yang tidak ramah lingkungan. Mufid dan tim berharap, teknologi ini tidak berhenti sebagai proyek sesaat, tetapi bisa menjadi prototipe yang direplikasi di desa-desa lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Inovasi seperti ini menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi tidak harus rumit atau mahal. Dengan pendekatan yang tepat dan berorientasi pada kebutuhan lokal, desa-desa di Indonesia mampu mandiri dan berkembang dengan tetap menjaga kelestarian alam. (*/wil)
Mahasiswa UMM Ciptakan MarSafe Atasi Kecelakaan Laut Nelayan

Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan ribuan pulau, menjadikan profesi nelayan sebagai salah satu tulang punggung perekonomian negara. Namun, di balik peran vital tersebut, tersimpan risiko besar. Data mencatat, angka kecelakaan laut yang menimpa nelayan masih tergolong tinggi. Bahkan hingga tahun 2024, puluhan nelayan dilaporkan hilang di perairan Indonesia. Kondisi ini menggugah keprihatinan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menciptakan sebuah inovasi yang dapat menjadi solusi. Dengan mengangkat tema pelestarian lingkungan dan mitigasi Bencana, sekelompok mahasiswa UMM yang dipimpin oleh Putri Nayla Sabri dari Program Studi Informatika bersama empat rekannya menghadirkan sebuah karya bernama MarSafe (Marine Safe System). MarSafe merupakan alat smart tracking berbasis LoRaWAN secara real-time pada nelayan dengan prediksi arah angin menggunakan SARIMA untuk mitigasi nelayan hilang. Putri menjelaskan bahwa MarSafe pada dasarnya adalah sistem pelacakan (tracking) yang dirancang khusus untuk nelayan. “Kami melihat adanya permasalahan banyaknya nelayan hilang di tengah laut. Jadi, kami mempunyai ide untuk membuat alat namanya MarSafe ini untuk memantau posisi nelayan dan juga kondisi yang ada di sekitar laut,” ujar Putri. Sistem ini terdiri dari sebuah kotak kompak berisi sensor yang diletakkan di kapal nelayan secara permanen. Sensor ini berfungsi mengumpulkan berbagai data penting, seperti kecepatan dan arah angin menggunakan anemometer dan wind vane. Tak lupa juga suhu, kelembapan, dan juga tekanan udara melalui sensor BME280. Data yang terkumpul kemudian dikirimkan ke stasiun darat (ground station) secara real-time. Keunikan sistem ini adalah kemampuannya beroperasi tanpa bergantung pada internet. MarSafe memanfaatkan teknologi LoRaWAN, sebuah protokol komunikasi yang dapat mengirimkan data jarak jauh. Cara kerja LoRaWAN memungkinkan sistem ini mengumpulkan data dari banyak kapal sekaligus dan mengirimkannya ke satu gateway yang terpusat. “Kalau pakai LoRaWAN ini bisa memantau banyak kapal, sedangkan kalau pakai LoRa saja itu cuma bisa satu saja,” jelas Putri. Ini menjadi keunggulan utama MarSafe dibandingkan teknologi pelacakan lain yang biasanya berbiaya mahal dan menggunakan satelit. Sistemnya juga sudah dirancang otomatis sehingga nelayan bisa menggunakannya dengan sangat mudah. Salah satu fitur paling inovatif dari MarSafe adalah implementasi algoritma kecerdasan buatan (AI) SARIMA (Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average). Model ini berfungsi untuk memprediksi perubahan arah dan kecepatan angin di masa depan, memberikan peringatan dini kepada nelayan. Ketika kondisi di laut mulai berbahaya, nelayan bisa melihat informasi tersebut di layar LCD yang ada pada perangkat. “Semisal keadaan di laut ini mulai berbahaya bagi nelayan berdasarkan data-data tadi yang akan ditampilkan di LCD, nelayan bisa memencet tombol SOS itu, lalu nanti akan dikirimkan ke ground station. Pengembangan selanjutnya mungkin untuk keluarga juga. Keluarga bisa memantau dari website itu,” kata Putri. Saat ini, MarSafe telah mencapai tahap pengembangan 50%. Pengujian komponen modular telah berhasil dilakukan, meskipun integrasi ke website dan uji coba lapangan masih menunggu finalisasi. Ke depannya, tim UMM ini berharap MarSafe dapat segera terwujud dan diimplementasikan secara luas. Selain itu juga dapat mengurangi angka kecelakaan di laut dan memastikan profesi nelayan tetap lestari. (ali/wil)
Agustusan di UMM, Lomba Bebek Melaju hingga Tumpeng Buah

Ribuan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ramaikan Agustusan dengan turut serta dalam agenda jalan sehat UMM, 16 Agustus 2025. Selain itu, adapula beragam perlombaan unik yang disediakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia. Mulai dari kompetisi Octopus Racing, tumpeng buah, pimpong smash on you hingga bebek melaju. Adapun jalan sehat kemerdekaan UMM dimulai sejak pagi hari. Diawali dengan senam bersama dan pegerangan. Menariknya, para peserta juga berkesempatan memenangkan doorprize, mulai dari kulkas, televisi, sepeda listrik, oven, rice cooker, souvenir, dan lainnya. Bahkan ada hadiah khusus untuk pemenang aksi bersih kampus. Para peserta jalan sehat didorong untuk sekaligus memungut sampah di sepanjang jalan. Semakin banyak sampah yang didapat, semakin besar kemungkinan mendapatkan hadiah. “Rasanya menyenangkan pagi-pagi sudah beraktivitas dengan seru. Apalagi tadi sebelum jalan sehat, ada senam bersama dan banyak ibu-ibu yang aktif berpartisipasi. Ini menjadi pemantik semangat dalam mengisi kemerdekaan Indonesia,” kata Rahmania dari prodi Ilmu Komunikasi. Menurutnya, lomba aksi bersih kampus yang dilaksanakan pada jalan sehat tersebut cukup menarik. Ini menjadi cara yang asyik untuk menjaga lingkungan. Berlomba memungut sampah sembari berlomba mendapat hadiah. Selain itu juga menjadi cerminan bahwa UMM juga merupakan kampus berkelanjutan yang menjaga bumi. Di sisi lain, Reva Abidah, salah satu peserta tumbeng buah menceritakan karyanya. Ia dan tim yang membuat tumpeng buah semangka memberikan presentasi yang unik dan filosofis. Misalnya penggunaan kulit semangka untuk hiasan yang mewakili pentingnya menjaga bumi. Selain itu juga irisan lemon yang sengaja diletakkan di bawah sebelum emncapai bintang di pucur tumpeng yang menjadi simbol bahwa kemenangan hidup harus melewati kepahitan terlebih dahulu. “Kemarin, tim kami juga turut serta dalam perlombaan bebek melaju. Mengendarai perahu bebek dan balapan menjadi yang tercepat di danau UMM. Seru sekali bisa mengikuti lomba ini. Apalagi ada tairah aura farming di masing-masing tim,” pungkas Reva. (wil)
UMM Latih Puluhan Juru Sembelih Halal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal kembali menggelar Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) pada Selasa, 13 Agustus 2025. Bertempat di Laboratorium Peternakan dan Nutrisi UMM, kegiatan ini bukan kali pertama diadakan, melainkan kelanjutan komitmen kampus dalam mendukung pemenuhan standar halal nasional. Lebih dari 35 peserta hadir dari berbagai daerah, meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Ngawi, Blitar dan lainnya. Pelatihan ini dibuka dengan tujuan memperkuat keterampilan penyembelihan hewan sesuai kaidah syariat dan ketentuan higien sanitasi. Hal ini sejalan dengan meningkatnya tuntutan sertifikasi halal, di mana keberadaan juru sembelih bersertifikat menjadi salah satu persyaratan utama. Pemateri pertama, drh. Anton Pramujiono selaku Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Kota Malang, memaparkan bahwa tugas Juleha tidak hanya sebatas proses penyembelihan. Menurutnya, juru sembelih harus memahami pembagian tanggung jawab dengan dokter hewan, paramedik veteriner, dan penyelia halal di setiap unit usaha. “Juru sembelih halal berperan memastikan hewan mati sempurna, saluran pemotongan sesuai syariat, serta produk aman, sehat, utuh, dan halal. Sertifikat kompetensi Juleha kini menjadi syarat penting dalam memperoleh sertifikat halal maupun Nomor Kontrol Veteriner (NKV),” ujarnya. Anton juga mengingatkan bahwa praktik penyembelihan unggas sering menghadapi tantangan, seperti proses yang terburu-buru hingga ayam belum mati sempurna namun sudah masuk tahap perebusan. “Tanggung jawab ini besar. Mungkin sekarang belum terasa, tapi jika dijalankan dengan benar, pahalanya sangat besar,” tambahnya. Sesi berikutnya disampaikan oleh Andik Iswahyudi, Ketua Juleha Malang Raya. Ia mengajak peserta melihat profesi juru sembelih sebagai bagian dari dakwah dan ibadah. Ia menegaskan bahwa apabila seribu ekor ayam disembelih sesuai syariat, maka pahala yang mengalir akan sangat besar, sedangkan jika tidak sesuai, dosa yang timbul pun akan sama besarnya. “Penyembelihan sesuai sabda Rasulullah SAW memiliki tiga prinsip yaitu dilakukan dengan cara ihsan, menggunakan pisau yang tajam, dan menenangkan hewan sebelum disembelih,” ujarnya. Ia juga membagikan contoh kasus di lapangan yang menunjukkan perlunya pengawasan ketat, termasuk pada aspek agama penyembelih, proses memastikan kematian hewan, dan pencegahan stres pada ternak. Ia menegaskan jangan sampai demi mengejar kuantitas, maka keberkahan akan hilang. Apabila nominal bisa besar, tapi jika tidak berkah, manfaatnya juga akan berkurang. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan misi UMM untuk menjadi kampus yang berdampak nyata di masyarakat. Ia menilai bahwa pelatihan Juleha tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kesadaran keagamaan yang berkelanjutan bagi para peserta. Sementara itu, Kepala Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Sa’ati, S.TP., M.P., menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan yang rutin dilakukan. “Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, UMM ingin memastikan tersedianya juru sembelih halal yang profesional dan tersertifikasi, sehingga rantai pangan halal di Indonesia dapat terjaga dengan baik,” ujarnya. Dengan materi teknis dan syariat yang saling melengkapi, pelatihan ini diharapkan menjadi pintu awal peningkatan kompetensi peserta menuju sertifikasi resmi. UMM menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi kegiatan serupa, mengingat peran strategis Juleha dalam menjaga kehalalan produk pangan hewani di Indonesia. (vin/wil)
Tiga Inovasi Jaga Lingkungan antar Enam Mahasiswa UMM Lulus tanpa Skripsi

Enam mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mencatat prestasi gemilang. Melalui proyek inovasi dan pendampingan pengolahan sampah di Desa Kayu Kebek, Pasuruan, mereka resmi dinyatakan lulus tanpa skripsi. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Kabiro Bidang V UMM, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., di hadapan forum pameran inovasi dan penandatanganan kerjasama antara UMM, pihak desa, dan pemerintah Kabupaten Pasuruan, Juli lalu. Program ini adalah hasil dari praktikum mata kuliah Politik Lingkungan praktikum yang kemudian dikolaborasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), DPRD Kabupaten Pasuruan, dan Pemerintah Desa Kayu Kebek. Sebagai Dosen Pengampu mata kuliah, Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si., menyebut kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Ketua DPRD beserta komisi-komisi, pejabat Muspika dan Muspida, serta calon investor. Selama dua hingga tiga bulan, mahasiswa mengembangkan tiga inovasi utama. Pertama, eco-enzyme berbahan limbah buah dan sayuran yang banyak dihasilkan desa setempat, terutama jeruk dan apel. Produk ini diajarkan kepada warga, PKK, dan pemuda, serta direncanakan untuk dikembangkan menjadi berbagai turunan produk. Kedua, lilin aromaterapi dari minyak jelantah yang mengundang minat investor. Varian aroma seperti lavender dan lainnya dikembangkan dengan rencana pembentukan bank jelantah bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk menjamin pasokan bahan baku. Ketiga, smokeless burn barrel, alat pembakaran sampah dengan minim asap dan residu yang hasil arangnya akan diolah menjadi briket. “Inovasi para mahasiswa ini juga dinilai sangat relevan untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah desa yang sebelumnya belum terpecahkan,” kata Ruli melanjutkan. Konsistensi dan keberlanjutan menjadi nilai lebih proyek ini. Desa Kayu Kebek sebelumnya adalah lokasi KKN UMM kelompok mahasiswa tersebut, sehingga ikatan dan kepercayaan warga telah terbangun. Bahkan, setelah kegiatan pengabdian selesai, mereka tetap mendampingi desa dalam program digitalisasi dan pengelolaan sampah. Lebih lanjut, Ia menegaskan bahwa proyek ini merupakan kali pertama Tugas Akhir di Prodi HI diwujudkan dalam bentuk proyek berdampak di masyarakat, menggantikan model tradisional skripsi. Selama ini, Tugas Akhir umumnya berupa publikasi jurnal ilmiah. Mereka adalah Ahmad Ferian Perwira Yudha, Hans Y Nanda, Muhammad Aditya Gus Ismoyo, Nikita Angelina, Dinda Dwi Murhidayah, dan Alfinda Wijaya. Setelah itu, mereka diarahkan untuk membuat proposal laporan Tugas Akhir sebagai bentuk pertanggungjawaban yang harus diselesaikan. Keberhasilan ini mendorong Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk menjadikan Desa Kayu Kebek sebagai percontohan pengelolaan sampah terpadu. DLH juga telah menyiapkan dukungan infrastruktur seperti pos sampah dan rencana pembangunan TPA sebagai tempat pengolahan. Menariknya, Desa tersebut akan diikutsertakan dalam lomba inovasi lingkungan tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional mewakili Kabupaten Pasuruan. Program ini sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Berdampak, dimana mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat. Harapannya, model Tugas Akhir berbasis proyek ini dapat menjadi tradisi baru yang berkelanjutan di Prodi HI UMM, memadukan ilmu, aksi nyata, dan kontribusi global. “Aksi dan inovasi mahasiswa ini membuktikan bahwa isu lingkungan global bisa dijawab melalui aksi lokal yang konsisten dan kolaboratif,” ujar Ruli mengapresiasi. (din/wil)
Empat Dekade Psikologi UMM: Dari Ilmu, Menjadi Arti untuk Kemanusiaan

Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merayakan tonggak bersejarah: 40 tahun kiprah dan dedikasi dalam dunia psikologi dan kemanusiaan, Juli lalu. Dengan mengusung tema “40 Years Dedication of Psychology and Humanity”, perayaan milad tahun ini menjadi momentum reflektif sekaligus inspiratif bagi sivitas akademika maupun masyarakat secara luas. Acara milad ke-40 tahun ini digelar dengan suasana acara yang penuh semangat dan inspiratif. Serangkaian kegiatan yang diadakan untuk merayakan tahun ke 40 Fapsi UMM ini adalah dengan pelatihan manajemen kelas inklusi yang sangat inspiratif, prosesi yudisium Periode II sebagai pembuka rangkaian kegiatan Milad, serta tidak kalah meriah yaitu kegiatan Fun Walk Psikologi yang diikuti seluruh keluarga besar Fakultas Psikologi UMM. Kemeriahan ini tidak hanya sekadar seremoni. Melainkan menjadi sebuah refleksi atas dedikasi panjang Psikologi UMM dalam mencetak insan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dalam momentum Milad ke 40 tahun ini Dekan Fakultas Psikologi UMM, Dr. Rr. Siti Suminarti Fasikhah, M. Si., turut menyampaikan kesan atas perjalanan panjang ini. Ia mengatakan bahwa usia 40 tahun bukan hanya sekedar pencapaian sebuah institusi, melainkan juga tentang bagaimana ilmu psikologi terus memberikan dampak untuk kehidupan banyak orang. “40 tahun Fakultas Psikologi. Dari ilmu untuk kemanusiaan. Terus tumbuh, terus memberi arti. Kami sudah melakukan banyak hal berkontribusi di berbagai lini. Termausk membantu menangani psikis para korban bencana,” ujarnya. Tidak hanya dalam kegiatan, semangat tersebut juga mewujudkan dalam penguatan akademik dan pengembangan institusi. Dari perjalanan yang panjang dan saat ini, Fakultas Psikologi UMM memiliki empat jenjang pendidikan yaitu, Program Sarjana (S1) Psikologi, Program Profesi Psikolog Umum, Program Magister Psikologi (Sains), dan Program Doktoral Psikologi. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Fapsi UMM terus berkembang. Khususnya menjadi institusi yang unggul dalam pengembangan ilmu, praktik psikologi, dan riset, baik dalam tingkat nasional maupun internasional. Lebih lanjut, Dekan Fapsi itu mmengatakan, selama empat dekade, Psikologi UMM juga telah mencetak ribuan alumni yang kini berperan penting di berbagai bidang. Mulai dari klinis, pendidikan, industri, sosial, dan perkembangan. Inovasi dan adaptasi terus dilakukan, termasuk melalui kelas internasional, digitalisasi layanan psikologi, dan jejaring kolaborasi secara global. (*/wil)
Pro dan Kontra Roblox, Begini Kata Pakar UMM

Roblox, platform game online yang semakin populer di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia, menimbulkan perdebatan terkait manfaat dan risiko yang ditimbulkan. Di satu sisi, Roblox dinilai dapat menjadi media edukasi yang menarik, namun di sisi lain ada kekhawatiran akan konten negatif yang mungkin diakses oleh anak-anak. Dr. Arina Restian, dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang, mengungkapkan bahwa Roblox memiliki dua sisi yang perlu diperhatikan. “Menurut saya, Roblox itu memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya terdapat edukasi terkait keilmuan matematika, fokus, dan strategi. Tetapi juga karena adanya oknum-oknum yang memunculkan sisi negatif seperti kekerasan, pornografi, dan lain sebagainya,” jelasnya. Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dan Mendikdasmen sempat menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak negatif Roblox. Seperti dilansir di beberapa media,Mendikbud mengatakan bahwa Roblox berpotensi membahayakan anak-anak jika tidak diawasi dengan baik. Mendikdasmen juga sempat mengingatkan agar orang tua dan sekolah ikut berperan aktif dalam mengawasi interaksi anak-anak di platform tersebut, mengingat risiko seperti aksi bebas, interaksi dengan orang asing, dan cyber bullying. Karena itulah, Arina menilai, pendampingan orang tua dan guru sangat penting agar anak-anak dapat memanfaatkan Roblox dengan aman dan bermanfaat. Selain untuk hiburan, Roblox juga berpotensi sebagai media pembelajaran bagi anak-anak usia sekolah dasar dengan pendekatan project based learning. “Pemanfaatan dalam pembelajaran anak SD itu, mungkin kalau dalam bahasa pembelajaran itu project based learning. Jadi anak-anak bisa merasakan keseruan belajar melalui Roblox, di lain sisi guru juga bisa menyampaikan materi dengan lebih lancar,” tambahnya. Sebagai pendidik, Arina menekankan bahwa semua langkah pengawasan dan pemanfaatan harus sesuai dengan payung hukum yang berlaku, seperti tentang Perlindungan Anak dan tentang Pornografi yang melarang akses konten pornografi bagi anak-anak. “Jadi yang pertama kita harus berpacu pada payung hukum ya, salah satunya UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak kemudian yang kedua UU No. 23 Tahun 2002 tentang Pornografi. Artinya melarang penyediaan akses konten pornografi pada anak,” jelasnya. Untuk melindungi anak dari konten negatif di Roblox, beberapa strategi dapat diterapkan, mulai dari menggunakan fitur kontrol usia yang resmi hingga edukasi literasi digital. Arina melanjutkan, strategi melindungi anak dalam konteks Roblox itu yang pertama adalah menggunakan fitur yang dikontrol secara resmi. Biasanya ada batasan usia sehingga kita menonaktifkan anak-anak yang di luar batas usianya. Kemudian edukasi literasi digital yang mengajarkan tentang batas aman informasi, cara menolak ajakan mencurigakan, dan pentingnya kolaborasi dengan sekolah. Ia juga menyebutkan bahwa pemerintah saat ini tengah memfasilitasi pelatihan coding yang sebenarnya berkaitan dengan pembuatan konten Roblox. Namun, pemantauan secara rutin sangat dibutuhkan, misalnya melalui server privat yang edukatif. “Roblox ini punya potensi bagus di dunia pendidikan jika digunakan dengan baik dan maksimal. Kalau mau main Roblox, anak-anak harus dikontrol oleh sekolah. Misalnya memastikan ada admin dari sekolah dan admin dari orang tua. Dengan begitu, anak-anak bisa merasa senang namun pembelajaran tetap aman dan nyaman,” ujarnya. Lebih lanjut, Arina menyampaikan tiga kata kunci penting yang perlu diperhatikan agar pemanfaatan Roblox bisa berkelanjutan dan aman. Pertama, memastikan agar anak aman secara digital. Kemudian anak-anak juga harus produktif, tidak hanya bermain Roblox sembarangan. Terakhir, membekali anak0-anak dengan literasi digital sehingga mereka tidak mudah tertipu dan terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk itu, verifikasi dan sinergi dari berbagai pihak terkait seperti dunia pendidikan, teknologi informasi, serta lembaga perlindungan anak dan pornografi sangat diperlukan. Rekomendasi terakhir adalah adanya sinergi dengan kebijakan pemerintah agar pemanfaatan game edukasi dapat sesuai dengan undang-undang perlindungan anak, UU IT, dan kebijakan Kominfo. “Adanya sinergi dengan kebijakan pemerintah agar pemanfaatan game edukasi sesuai dengan regulasi yang ada,” pungkas Arina. (hud/wil)
CubeBot, Robot Karya Mahasiswa UMM untuk Atasi Kecanduan Gadget

Ketergantungan terhadap gawai menjadi masalah pelik yang dihadapi generasi muda saat ini, khususnya anak-anak usia sekolah dasar. Alih-alih melarang, tim mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru menawarkan solusi kreatif melalui inovasi robot edukasi bernama CubeBot. Robot ini dirancang khusus untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari gawai dan merangsang perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik mereka secara menyenangkan. Muhamad Reza Pahlawan, salah satu anggota tim pengembang, menjelaskan ide proyek ini. Mereka melihat banyak sekali anak-anak, terutama di kelas 4, 5, dan 6 SD yang kecanduan gadget. Kemudian ia dan tim mencari cara agar anak-anak tidak terlalu kecanduan dengan gawai. Menurutnya, di balik kemudahan teknologi, ada dampak negatif yang perlu disikapi. salah satunya adalah berkurangnya interaksi fisik dan kreativitas anak. Bermodalkan latar belakangnya di Teknik Elektro, Reza bersama dua rekan dari jurusan yang sama, satu mahasiswa Akuntansi, dan satu mahasiswa PGSD, membentuk tim multidisiplin ilmu. Kolaborasi ini sangat penting karena memastikan proyek berjalan lancar dari berbagai aspek yaitu teknis, keuangan, dan pedagogis. Hasilnya adalah robot yang mudah digunakan oleh anak-anak, berkat kombinasi perangkat keras dan lunak yang dirancang dengan cermat. Menariknya, proyek ini tidak hanya sebatas menciptakan robot, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang interaktif. Alih-alih menggunakan metode coding konvensional yang rumit, CubeBot diprogram melalui aplikasi MBlock yang memanfaatkan blok-blok visual yang tinggal ditarik dan ditempel (drag and drop). Dengan cara ini, anak-anak dapat dengan mudah memahami logika dasar pemrograman. “Jadi untuk anak-anak bisa lebih mudah menggunakannya dan memprogram si robot ini. Mereka tidak langsung belajar coding yang rumit, tapi dimulai dengan hal-hal yang menyenangkan melalui CubeBot dan MBlock,” jelas Reza. Saat ini, CubeBot sudah berjalan di beberapa sekolah, termasuk SD Muhammadiyah 8 Malang dan SD Muhammadiyah 4 Malang. Ke depan akan ditawarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah lainnya. Salah satu keunggulan utama dari CubeBot adalah sifatnya yang modular. Kebanyakan robot sejenis hanya melakukan satu mode saja. Tapi CubeBot Ddngan satu set robot, anak-anak bisa merakitnya menjadi tiga model berbeda yaitu line follower (mengikuti garis), transporter (memindahkan barang), dan avoid obstacle (menghindari rintangan). “Satu robot bisa jadi beberapa model, jadi anak-anak bisa belajar lebih banyak. Fitur ini menjadi keunggulan utama CubeBot dibandingkan produk sejenis lainnya. Karena setahu saya yang lain itu satu robot hanya untuk satu model saja,” ungkap Reza. Dengan konsep modular ini, anak-anak tidak cepat bosan dan dapat terus mengeksplorasi berbagai fungsi robot. Melalui interaksi merakit robot secara mandiri dan bekerja sama dalam tim, CubeBot secara langsung melatih berbagai keterampilan. Aspek kognitif anak terasah saat mereka menyusun alur coding yang logis, afektif terstimulasi melalui kerja sama tim, dan psikomotorik berkembang melalui proses saat menggunakan robot ini. Harapan ke depannya, Reza dan timnya ingin CubeBot dapat menjangkau banyak sekolah sebagai ekstrakurikuler, khususnya di Malang dan Jawa Timur. Dengan demikian, inovasi ini dapat berkontribusi signifikan dalam menciptakan generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Lewat CubeBot, mahasiswa UMM membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi alat edukasi yang menyenangkan dan bermanfaat. (ali/wil)
Kongres Amerika Serikat Sambangi UMM untuk Lihat Cara Moderasi Beragama

Berkat penerapan moderasi dalam beragama yang sudah dilakukan sejak lama, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima kunjungan dari staf kongres Amerika Serikat melalui Kementerian Luar Negeri, 8 Agustus ini. Rombongan ini juga sekaligus mengunjungi American Corner yang ada di UMM dan menjadi wadah diskusi moderasi beragama. “Diskusi ini membahas bagaimana moderasi Islam yang ada di UMM serta melihat seperti apa penerapannya ditengah berbagai mahasiswa dan kalangan akademik yang memiliki latar belakang budaya dan agama yang berbeda,” kata M. Salis Yuniardi, P.hD. selaku wakil rektor IV UMM. Adapun moderasi Islam menjadi sorotan dalam upaya memperkuat toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman di masyarakat. Konsep yang mengedepankan keseimbangan, menghindari ekstremisme, dan menghargai perbedaan ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga persatuan. Dalam sambutannya, Salis tak hanya mengenalkan UMM secara umum. Namun juga menjelaskan bahwa UMM tak hanya moderat, tapi juga merupakan kampus Islam yang progresif. Selain itu UMM memberikan contoh hasil dari moderasi Islam yang berhasil dilakukan dalam program deradikalisasi yang terjadi. Termasuk apa yang terjadi pada Ali Fauzi, mantan anggota jaringan terorisme Bom Bali. “UMM tidak hanya sekedar menerapkan moderasi beragama, juga progresif untuk bisa mengatasi berbagai tantangan,” katanya. Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D. selaku pakar penelitian tentang deradikalisasi dan tindakan terorisme, menjelaskan bahwa terorisme tidak hanya terkait ideologi sebagai faktor utama. Namun juga bisa dilatar belakangi faktor kurangnya keilmuan akan Islam, faktor ekonomi, serta faktor lainnya yang lebih kompleks. Terlebih lagi tujuannya bukan untuk menghilangkan nyawa seseorang, namun untuk menyebarluaskan ketakutan di masyarakat. “Selama 13 tahun saya meneliti, banyak sekali latar belakang yang lebih kompleks terkait alasan mereka terjun ke terorisme dan bagaimana pola mereka menyebarkan ketakukan ke masyarakat. Baik itu secara langsung maupun melalui media sosial,” Ujar Gonda. Terakhir, para delegasi kongres Amerika Serikat menyambangi American Corner yang ada di UMM serta Campus Tour. Ini sebagai upaya untuk lebih mendekatkan dengan lingkungan dan suasana akademik yang ada di UMM. (*/wil)