Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus, Siap Suplai Kebutuhan Medis RSMA

Times MALANG – Pimpinan pusat Muhammadiyah melakukan groundbreaking pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Pembangunan ini berada di kawasan lahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan luas sekitar tiga hektare. Peresmian proyek strategis ini diresmikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., yang didampingi oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Prof. Haedar menjelaskan bahwa pendirian pabrik infus ini merupakan manifestasi dari ekosistem umat dan bangsa. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. Jajaran petinggi Muhammadiyah dalam kegiatan groundbreaking pembangunan pabrik infus. (FOTO: Humas UMM for TI) “Ini bukan hanya untuk Muhammadiyah, tetapi bangsa. Bisnis yang kami bangun adalah untuk manfaat umat,” ujarnya. Pemkab Dorong Pabrik Infus Muhammadiyah di Kabupaten Malang Serap Tenaga Lokal Ia menambahkan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, tetapi juga muamalah dalam tata kehidupan sosial. Maka dari itu, keterlibatan Muhammadiyah diniatkan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Pabrik ini ditargetkan akan beroperasi mulai tahun 2027. Prof. Haedar menambahkan, ini adalah salah satu bentuk dukungan dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Ia pun menegaskan bahwa potensi ekonomi Indonesia jangan sampai direbut oleh pihak lain. Advertisement “Muhammadiyah selalu di jalur seperti ini, oleh karenanya saya yakin akan selalu bertemu dengan spirit pemerintahan yang sekarang,” imbuhnya. Melansir dari web resmi muhammadiyah, Prof. Haedar menjelaskan bahwa pembangunan pabrik ini sebagai langkah Muhammadiyah untuk membangun sirkulasi ekonomi yang dapat menyuplai kebutuhan medis bagi 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah (RSMA). “Melalui pabrik infus ini, kami dapat menyuplai infus bagi rumah sakit di bawah naungan Muhammadiyah,” pungkasnya.
Perkuat Ekosistem Ekonomi dan Kesehatan, Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang

Malang (Suaraislam.id) – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melaksanakan peletakan batu pertama (groundbreaking) Pabrik Suryavena Farma Indonesia pada Kamis (11/06/2026). Fasilitas produksi ini dibangun di atas lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan seremonial tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama jajaran Ketua PP Muhammadiyah, yaitu Muhadjir Effendy, Saad Ibrahim, dan Agus Taufiqurrahman. Turut hadir pula Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Fauzan serta Ketua PWM Jatim Sukadiono. Haedar menjelaskan bahwa pembangunan pabrik skala industri besar ini merupakan ikhtiar nyata Muhammadiyah untuk naik kelas. Langkah strategis tersebut diambil dengan semangat tinggi untuk memperbaiki sekaligus memperkuat perekonomian umat dan bangsa. Kendati merambah industri besar, persyarikatan dipastikan tidak akan meninggalkan pendampingan terhadap kelompok ekonomi mikro, kecil, dan menengah. Upaya baru ini justru diharapkan mampu memperkuat pilar-pilar ekonomi di sektor lainnya. “Semangat Muhammadiyah adalah untuk membangun ekosistem ekonomi umat dan bangsa, atau rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah ke atas,” ungkapnya. Pembangunan pabrik ini menjadi bukti autentik dari kekuatan kapital sosial serta kemandirian ekonomi yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Melalui proyek ini, organisasi keagamaan membuktikan kapabilitasnya dalam mengelola sektor bisnis di level menengah ke atas. Ikhtiar ini juga memiliki keterkaitan erat dengan visi besar menyongsong Indonesia Emas pada tahun 2045 kelak. Kemandirian nasional di bidang ekonomi lantas ditekankan sebagai salah satu fondasi utama untuk mencapai target tersebut. Haedar mengingatkan agar seluruh kekuatan dan potensi ekonomi domestik tidak jatuh serta dikuasai oleh pihak asing. Semangat berdikari yang diusung Muhammadiyah ini dinilai sangat selaras dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. “Muhammadiyah berada di jalur itu, maka dengan cara seperti itu saya yakin akan bertemu dengan spirit pemerintah sekarang. Tapi juga dengan kepentingan bangsa yang lebih luas,” ungkapnya. Proyek PT Suryavena Farma Indonesia ini diinisiasi oleh Majelis Ekonomi Bisnis (MEB) bersama Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah. Pada tahap awal operasionalnya, pabrik modern tersebut difokuskan untuk memproduksi cairan infus. Langkah ini diambil sebagai strategi jitu membangun ekonomi sirkular di dalam internal organisasi. Pasokan infus dari pabrik ini nantinya diplot untuk memenuhi kebutuhan harian 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Haedar sangat berharap seluruh jaringan RSMA berkomitmen penuh menggunakan produk infus asli buatan PT Suryavena Farma Indonesia ini. Jika ekosistem internal ini berjalan optimal, kemandirian ekonomi organisasi niscaya akan terwujud lebih cepat. “Dengan pabrik infus ini kita memulai dengan sesuatu yang paling bisa kita lakukan di ekosistem bisnis di rumah sakit,” imbuhnya. Dalam rencana jangka panjang, PT Suryavena Farma Indonesia tidak hanya membatasi produksinya pada cairan infus saja. Perusahaan ini diproyeksikan segera memproduksi obat-obatan serta jarum suntik demi menyuplai kebutuhan medis RSMA di seluruh Indonesia.
Guru Besar Baru UMM Tawarkan Solusi Energi hingga Deteksi Anemia

Energika MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan empat Guru Besar baru UMM di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III pada Kamis, 11 Juni 2026. Pengukuhan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin. Pengukuhan guru besar baru UMM ini sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil riset mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Ia menyampaikan, metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian sebuah negara. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan sebuah terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik. Ia menjelaskan, inovasi mutakhir tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien. Yang langsung dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tutur Lailis. Sementara itu Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng. menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri. Ia memaparkan, ketergantungan yang terlampau tinggi terhadap pasokan energi fosil konvensional akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam kesetabilan ekonomi makro nasional. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun. Juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Selanjutnya, Prof. Ir. Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM. dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya beralih ke sistem pengendalian hayati, sehingga memulihkan kerusakan tanah tropis akibat paparan zat kimia pertanian yang berlebihan. Ia memperingatkan, ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit). Sehingga perlu seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kami yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik. Sementara Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan, penambahan guru besar baru UMM ini memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak peradaban. “Keempat orasi ilmiah guru besar ini mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Rektor Nazar. Pengukuhan guru besar baru UMM ini mengharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial akademik tahunan di lingkungan kampus. Kehadiran para guru besar baru UMM harus menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi.
GKB 5 UMM Resmi Beroperasi, Siapkan Pusat Pendidikan Medis Masa Depan

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengoperasikan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 di kawasan Rumah Sakit UMM, Kamis (11/6/2026). Gedung setinggi 45 meter dengan 11 lantai tersebut diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., sebagai pusat pendidikan medis modern bagi Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM. Peresmian GKB 5 menjadi langkah strategis UMM dalam memperkuat kualitas pendidikan kesehatan dan kedokteran di Indonesia. Gedung ini dibangun dengan konsep green building dan dilengkapi fasilitas penunjang pembelajaran berstandar internasional. Haedar Nashir mengapresiasi konsistensi UMM dalam menghadirkan inovasi di bidang pendidikan tinggi, khususnya sektor kesehatan. Menurutnya, Kampus Putih berhasil membangun ekosistem pendidikan medis yang berkembang pesat dan menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” ujar Haedar. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. meninjau sejumlah ruangan di GKB 5 UMM Ia menilai kehadiran GKB 5 menjadi simbol kemajuan Muhammadiyah dalam membangun pendidikan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, lulusan UMM tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan akhlak dalam melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, Rumah Sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” tambahnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa pembangunan GKB 5 dilakukan secara swadaya dan swakelola oleh tim internal kampus bersama sejumlah konsultan. Proyek tersebut mulai dirintis sejak 2023. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, mulai dari desain perencanaan hingga pelaksanaan oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang bersama beberapa konsultan,” jelas Nazaruddin. GKB 5 berdiri di atas lahan seluas dua hektare dengan struktur bangunan tahan gempa. Konsep ramah lingkungan diterapkan melalui optimalisasi pencahayaan alami, pengurangan polusi, dan sistem sirkulasi udara sehat. Fasilitas yang tersedia meliputi puluhan laboratorium modern, auditorium, sarana olahraga, hingga sistem pengolahan limbah terpisah untuk mendukung aktivitas pendidikan kesehatan yang aman dan berkelanjutan. Menurut Nazaruddin, pembangunan GKB 5 merupakan bagian dari visi jangka panjang UMM dalam mencetak tenaga medis yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan kesehatan global. Ia berharap keberadaan gedung baru tersebut dapat memperkuat kontribusi UMM bagi bangsa, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan. “Mudah-mudahan peresmian ini menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk terus maju memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Kehadiran GKB 5 sekaligus menandai babak baru pengembangan pendidikan medis di UMM. Integrasi fasilitas modern, teknologi pembelajaran, dan nilai keislaman diharapkan mampu melahirkan generasi tenaga kesehatan yang profesional dan berdaya saing global.
Perkuat Kompetensi Calon Sarjana Hukum, FH UMM Tutup Program Magang Bersama Maha Patih Law Office

MalangHits.com – Program Magang Mandiri yang digagas oleh Laboratorium Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bareng berbagai instansi hukum mulai dari kantor advokat, kejaksaan, kepolisian, hingga pengadilan resmi berakhir pada Jumat, 12 Juni 2026. Penutupannya ditandai dengan momen penjemputan mahasiswa yang sudah menyelesaikan masa magang. Salah satu mitra setia yang terus mendukung program ini adalah Maha Patih Law Office. Hari itu, sebanyak lima mahasiswa Fakultas Hukum semester 6 dijemput langsung oleh dosen pembimbing mereka. Mereka adalah Ainur Rozi, Afril Putra Dewandan, Dimas Satrio Wicaksono, Zulfa Mareta Pancawati, dan Kifayah Insani Kamilia. Penjemputan dilakukan oleh Fadjar Ramadhani, S.H., M.H., dan disambut hangat oleh tim pengurus kantor hukum tersebut. Bagi Fadjar yang juga dosen di FH UMM, momen ini bukan sekadar seremonial biasa. “Ini jadi cara silaturahmi sekaligus evaluasi akhir. Kami pastikan semua target pembelajaran sudah tercapai.
GKB 5 Resmi Beroperasi, UMM Bersiap Jadi Episentrum Medis Nasional

www.majelistabligh.id –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si pada Kamis (11/6/2026). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Peresmian beroperasinya GKB 5 UMM oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (dok) Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban. Haedar sapaan akrabnya memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih karena dinilai tak pernah lelah berinovasi dan sukses menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegasnya. Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” urainya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektar, struktur tahan gempa ini mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, dan memastikan sirkulasi udara sehat. Gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh. Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan.
Musim Bediding Tingkatkan Risiko Gangguan Pernapasan, Masyarakat Diminta Lebih Waspada

news.immigration.gov.tw-Sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengalami penurunan suhu udara yang cukup terasa dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena musiman yang dikenal sebagai bediding menghadirkan udara yang lebih dingin dan kering, sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan saluran pernapasan masyarakat. Pakar keperawatan dari Universitas Muhammadiyah Malang, Titik Agustiyaningsih, menjelaskan bahwa kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) maupun influenza umumnya meningkat ketika suhu udara menurun atau saat musim hujan berlangsung. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor lingkungan, keberadaan patogen, serta respons biologis tubuh manusia. Menurutnya, udara yang lebih dingin dan kering memungkinkan virus maupun bakteri bertahan lebih lama di lingkungan luar sehingga peluang penyebarannya melalui udara menjadi lebih besar. Fenomena bediding diperkirakan berlangsung hingga September dengan puncak suhu terendah terjadi pada Agustus. Ia menjelaskan bahwa saluran pernapasan manusia sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Saat menghirup udara dingin, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran napas dan meningkatkan produksi lendir. Pada saat yang sama, kinerja silia di rongga hidung yang berfungsi menyaring partikel asing dapat menurun. Penurunan suhu juga dapat memengaruhi sistem pertahanan lokal di hidung sehingga kemampuan tubuh dalam menangkap dan menahan virus menjadi berkurang. Kondisi tersebut membuat patogen lebih mudah berkembang di saluran pernapasan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rhinovirus, salah satu penyebab utama flu, dapat berkembang lebih efektif pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia. Karena itu, masyarakat dianjurkan menjaga kondisi tubuh, menggunakan pakaian yang cukup hangat, serta menerapkan pola hidup sehat selama musim bediding berlangsung.
Muhadjir Effendy: Pabrik Infus Jadi Langkah Strategis Muhammadiyah Masuk Industri Kesehatan

TVMU.TV – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menargetkan pabrik infus yang dibangun melalui PT Suryavena Farma Indonesia mulai beroperasi dan memproduksi infus pada awal 2027. Kehadiran pabrik tersebut menjadi langkah strategis Muhammadiyah untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan sekaligus mengokohkan pilar ekonomi Persyarikatan. Komitmen itu disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat menghadiri acara groundbreaking Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6/2026). Muhadjir menjelaskan, Muhammadiyah memilih memproduksi infus karena produk tersebut merupakan kebutuhan dasar yang digunakan secara luas oleh rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan. “Infus ini sangat generik, berbeda dengan obat. Karena obat ini sangat tergantung pada dokter, oleh karena itu kita belum berani masuk ke produksi obat,” ujar Muhadjir. Menurutnya, hampir seluruh rumah sakit membutuhkan infus tanpa bergantung pada preferensi atau resep dokter tertentu. Kondisi tersebut menjadikan industri infus memiliki pasar yang stabil sekaligus risiko bisnis yang lebih terukur dibandingkan industri farmasi berbasis obat. Karena itu, Muhammadiyah memandang investasi pada industri infus memiliki prospek yang menjanjikan, baik dari sisi kebutuhan pasar maupun keberlanjutan usaha. “Karena itu saya berharap dukungan dari perbankan untuk mempercepat pembangunan pabrik infus ini,” katanya. Muhadjir optimistis pembangunan pabrik dapat diselesaikan sesuai jadwal sehingga proses produksi dapat dimulai pada awal 2027. Kehadiran pabrik tersebut juga diharapkan mendukung kebutuhan alat kesehatan bagi jaringan rumah sakit Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Lebih jauh, Muhadjir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus bukan semata-mata langkah bisnis, melainkan bagian dari strategi Muhammadiyah memperkuat pilar ekonomi setelah memiliki fondasi kuat di bidang pendidikan dan kesehatan. “Dengan penguatan pilar ekonomi, Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai lembaga filantropi, tapi juga menjadi social corporate,” ungkapnya. Ia menjelaskan konsep social corporate yang dikembangkan Muhammadiyah berbeda dengan perusahaan konvensional. Keuntungan yang diperoleh tidak dinikmati individu atau pengurus, melainkan dikembalikan untuk kepentingan umat dan masyarakat melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. “Semua keuntungan Muhammadiyah akan diputar kembali, dilimpahkan kembali, bukan menjadi milik pribadi pengurus Muhammadiyah, tapi dikembalikan kepada kepentingan masyarakat,” tegasnya. Karena itu, Muhadjir mengingatkan jajaran direksi dan pengelola perusahaan agar menjadikan semangat pengabdian sebagai orientasi utama dalam menjalankan usaha. Menurutnya, prinsip tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menempatkan ekonomi sebagai sarana mewujudkan kesejahteraan bersama. Melalui PT Suryavena Farma Indonesia, Muhammadiyah berharap dapat menjadi pelopor pengembangan model social corporate di Indonesia, yakni perusahaan yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang luas bagi masyarakat. Muhadjir menilai semakin banyak perusahaan yang mengusung prinsip ekonomi berbasis kemaslahatan, semakin besar pula peluang terciptanya pemerataan kesejahteraan dan penguatan ekonomi nasional yang berkeadilan. “Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dapat dikelola berdasarkan asas kekeluargaan dan ditujukan sebesar-besarnya untuk kepentingan bersama,” pungkasnya.

Times MALANG – Pimpinan pusat Muhammadiyah melakukan groundbreaking pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Pembangunan ini berada di kawasan lahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan luas sekitar tiga hektare. Peresmian proyek strategis ini diresmikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., yang didampingi oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Prof. Haedar menjelaskan bahwa pendirian pabrik infus ini merupakan manifestasi dari ekosistem umat dan bangsa. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan hanya untuk Muhammadiyah, tetapi bangsa. Bisnis yang kami bangun adalah untuk manfaat umat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, tetapi juga muamalah dalam tata kehidupan sosial. Maka dari itu, keterlibatan Muhammadiyah diniatkan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Pabrik ini ditargetkan akan beroperasi mulai tahun 2027. Prof. Haedar menambahkan, ini adalah salah satu bentuk dukungan dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Ia pun menegaskan bahwa potensi ekonomi Indonesia jangan sampai direbut oleh pihak lain. “Muhammadiyah selalu di jalur seperti ini, oleh karenanya saya yakin akan selalu bertemu dengan spirit pemerintahan yang sekarang,” imbuhnya. Melansir dari web resmi muhammadiyah, Prof. Haedar menjelaskan bahwa pembangunan pabrik ini sebagai langkah Muhammadiyah untuk membangun sirkulasi ekonomi yang dapat menyuplai kebutuhan medis bagi 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah (RSMA). “Melalui pabrik infus ini, kami dapat menyuplai infus bagi rumah sakit di bawah naungan Muhammadiyah,” pungkasnya.
Dulu Tempat Buang Jin, Kini UMM Malang Pelopor Kemajuan Kampus Muhammadiyah se-Indonesia

SISIISLAM.COM, MALANG – Dulu angker tempat buang jin, kini UMM Malang jadi pelopor kemajuan 164 PTMA. Haedar Nashir resmikan GKB 5 dan pabrik infus. Simak kabar berita selengkapnya di laman Sisi Islam Media di bawah ini. ]Siapa sangka, lahan yang dulu dianggap angker dan disebut sebagai tempat “buang jin” kini bertransformasi menjadi ikon kemajuan perguruan tinggi Muhammadiyah. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan diri sebagai pelopor kemajuan PTMA di seluruh Indonesia. Haedar Nashir: UMM Eksemplar bagi Kampus Muhammadiyah Lain Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, melakukan groundbreaking pabrik infus Suryavena sekaligus meresmikan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM Malang pada Kamis (11/6). Dalam sambutannya, Haedar memberikan apresiasi tinggi terhadap megahnya GKB 5 yang memiliki 11 lantai. “Selalu ada tonggak baru yang dikembangkan UMM dan menjadi eksemplar contoh bagi yang lain. Saya tidak sedang berbasa-basi, karena memberi kesaksian yang objektif,” ujar Haedar. Dari Tempat Angker Menjadi Barometer Kemajuan Haedar menceritakan sejarah unik di balik berdirinya kampus I UMM. Dahulu, kawasan ini dikenal angker dan konon menjadi lokasi tempat buang jin. Namun berkat ketelatenan para pendahulu Muhammadiyah, daerah tersebut kini maju dan serba ada. Baca Juga: Bank Aladin Syariah Gandeng Muhammadiyah Salurkan Hewan Kurban ke Daerah Pelosok pada Idul Adha 1447 H “Sini yang dulu tidak ada yang melirik untuk punya kampus, yang konon katanya tempatnya jin. Tapi para tokoh Muhammadiyah bersahabat dengan jin, sehingga kita bisa membangun dan jin pun ikut berdoa,” kelakar Haedar. Saat ini, UMM sebagai pelopor kemajuan telah menjadi barometer bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Bahkan, kampus ini melahirkan menteri-menteri negara, seperti Malik Fadjar, Muhadjir Effendy, hingga Fauzan. Pesan Haedar: Jaga Karakter Dasar Haedar berpesan agar UMM Malang tetap menjaga karakter dasarnya sebagai kampus Muhammadiyah. Hal ini penting untuk terus melahirkan tokoh-tokoh yang kuat pada prinsip, menjaga akhlak, integritas, amanah, sekaligus profesional. “Karena itu bagi para mahasiswa harus dibangun istilahnya the greatest tradition, tradisi besar. Jadi UMM sudah meletakkan dasar kemajuan yang unggul dan bersama,” imbuhnya. GKB 5 UMM: Dibangun Swakelola, Sudah Dipakai Sejak 2025 Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, melaporkan bahwa GKB 5 UMM dibangun secara swasembada dan swakelola. Mulai dari desain perencanaan hingga pelaksanaan sepenuhnya dikerjakan oleh tim UMM dan sejumlah konsultan. “Alhamdulillah kita sudah mulai memanfaatkan gedung ini sejak tahun 2025 lalu sambil terus melakukan penyesuaian,” katanya. Nazaruddin menambahkan, GKB 5 UMM juga mencatat sejarah sebagai gedung pertama yang diresmikan langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah. Sebuah pencapaian istimewa yang menegaskan posisi UMM sebagai kampus Muhammadiyah terdepan di Indonesia.