UMM Adakan Sahur Barbeque bareng Tukang Becak hingga Ojol

Sahur on the road (OTR) saat Ramadan dengan membagikan bungkusan makanan sudah biasa. Namun hal unik dilakukan oleh tim Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni sahur dengan memanggang daging dan barbeque pada 1 April 2023 ini di Alun-alun Kota Malang. Ada banyak yang turut duduk, mengobrol, memanggang, dan sahur bersama di lokasi. Mulai dari tukang becak, ojek online, musafir, bahkan mereka yang tidak sengaja lewat. Kepala Humas UMM M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, sahur unik ini diadakan bukan tanpa alasan. Tim Mobil KaCa Kampus Putih ingin memberikan kesempatan bagi kaum marjinal untuk merasakan makanan yang seringkali dianggap mewah. Apalagi selama ini, mereka hanya hanya bisa melihatnya dan mendengarnya dari media sosial atau televisi. “Misalnya saja, ojek online yang sering hanya membelikan dan mengantarkan bahan-bahan barbeque ke customer. Mereka hanya mengantarkannya tanpa bisa menikmati secacara nyata. Maka, di kesempatan Ramadan kali ini, kami berupaya untuk berbagi berkah ke saudara-saudara muslim untuk bisa sahur bersama melalui agenda barbeque,” tambahnya. Tidak hanya masak dan makan saja, sahur OTR dan barbeque ini juga mengajak para masyarakat untuk mengobrol dan berkeluh kesah. Krisna, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ‘sahur bareng’ itu tidak hanya memberi makanan saja. Namun harus ada interaksi sebagai makhluk sosial. Bahkan juga bercanda tawa dan saling mendengarkan satu dengan yang lain. Ia dan tim memang sengaja menyasar para tukang becak, ojek online dan musafir yang seringkali tidak dipedulikan. Maka, momen Ramadan menjadi saat yang tepat untuk bersialturahmi dan saling berbagi. “Di bulan suci ini juga merupakan saat yang tepat untuk mengembalikan sikap kemanusiaan yang hilang karena kesibukan dunia di sebelas bulan lain,” kata Krisna. Adapun Mobil KaCa UMM memang sudah melakukan berbagai kontribusi. Mulai dari menghibur par akorban bencana gempa Malang selatan, datang ke sekolah-sekolah untuk meningkatkan literasi hingga ke pelosok daerah untuk memberikan tayangan edukatif. Bahkan juga mengajak anak-anak untuk menyukai membaca dengan menyediakan bacaan-bacaan menarik. Sementara itu, agenda sahur barbeque disambut baik oleh Slamet, salah satu tukang becak yang turut makan bersama. Menurutnya, baru kali ini ia mendapati sahur bareng dengan membuka peralatan lengkap. Ada meja, kursi, panggangan, dan juga nasi kotak. Di sana, ia juga bisa saling mengobrol dan bercanda tawa sembari menunggu subuh datang. “Kami turut memanggang dan makan bersama. Teman-teman dari UMM juga sangat ramah. Tidak hanya memberikan makanan dan diam saja. Bahkan membagikan topi bagi para tukang becak agar tidak kepanasan saat bekerja nanti siang,” tambahnya. Terakhir, Slamet berharap, agenda berbagi tidak hanya dilakukan saat Ramadan saja. Tapi juga bisa dilaksanakan di bulan-bulan lainnya. “Semoga teman-teman lain juga bisa meniru UMM yang tidak hanya membagi makanan saat sahur, tapi juga membagi rasa kemanusian bersama dengan berinteraksi,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)
Dosen UMM Sebut Jargon FIFA Hanya Omong Kosong

FIFA secara resmi menyatakan Indonesia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 pada 29 Maret 2022 lalu. Keputusan FIFA itu disinyalir terjadi karena penolakan dari sejumlah pihak di Indonesia atas keikutsertaan tim nasional (timnas) Israel. Hal itu juga menjadi polemik dan perbincangan di berbagai media sosial. Hal itu juga mengundang komentar dan pendapat dari Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hafid Adim Pradana, M.A. Ia yang menjadi pemateri di UMMTalks mempertanyakan mengapa penolakan tersebut tidak dilakukan sejak timna Israel dinyatakan lolos kualifikasi. Hafid, sapaan akrabnya, mengatakan batalnya Indonesia menjadi tuan rumah tentu saja memberikan kerugian di berbagai sektor. Secara diplomatik, Indonesia akan memiliki citra yang kurang baik di mata internasional. “Karena nasi sudah menjadi bubur, maka kita harus tetap menghargai dan menghormati keputusan FIFA. Sayangnya, Indonesia akan selalu diingat sebagai negara yang gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20,” ungkap Hafid. Lebih lanjut, sektor ekonomi juga mengalami kerugian berkat batalnya Indonesia menjadi tuan rumah. Apalagi dalam dua tahun terakhir, pemerintah telah menggelontorkan biaya yang tidak sedikit. Baik itu untuk membangun fasilitas baru maupun memperbaiki infrastruktur yang ada. Satu hal penting yang menjadi kerugian terbesar adalah gagalnya tim nasional Indonesia U-20 untuk ikut serta dalam ajang sepak bola bergengsi tersebut. Mengingat kesempatan timnas Indonesia untuk tampil di piala dunia didapat berlat terpilih menjadi tuan rumah. Hafid juga menggarisbawahi pernyataan resmi FIFA di paragraf kedua. Yakni pembatalan Indonesia menjadi tuan rumah secara tidak langsung mengarah pada kejadian kelam sepak bola Indonesia yang terjadi pada oktober tahun lalu. “Saya rasa, meskipun FIFA tidak pernah memberikan statement ke publik, pastinya FIFA tetap mengamati perkembangan hukum dan penanganan kejadian Kanjuruhan. Menurut saya bisa dikatakan negara ini tidak begitu serius menangani persoalan terkait,” katanya. Hal lain yang menjadi pembahasan batalnya Indonesia menjadi tuan rumah adalah adanya penerapan standar ganda yang dilakukan FIFA. Hal tersebut sangat jelas terlihat pada Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar. Di mana pada saat itu Rusia melakukan invasi ke Ukraina, sehingga menjadi polemik dan juga isu global. “Saat itu FIFA memberikan sanksi kepada federasi Rusia dengan mendiskualifikasi timnas Rusia dan tidak memperbolehkan bendera, nama, hingga atribut Rusia terpajang di gelaran itu,” terang Hafid. Menurut Hafid, jika memang FIFA bersikap tegas pada Rusia, seharusnya hal tersebut juga diberlakukan sama kepada Israel karena telah memulai konflik dengan Palestina. Namun sikap itu tidak dilakukan oleh FIFA. Alasan besarnya adalah karena asosiasi FIFA dibentuk dan didirikan oleh negara-negara barat. “Jadi jargon FIFA yang mengatakan sepak bola harus dipisahkan dengan politik itu hanya omong kosong,” tegas Hafid. Terakhir, Hafid menyampaikan bahwa Indonesia harus mengambil pelajaran dari keputusan ini. Hal tersebut juga menjadi sanksi bagi dunia persepakbolaan indonesia. Sudah saatnya pemerintah dan PSSI memiliki komitmen untuk memperbaiki kualitas sepak bola yang ada. “Jangan jadikan sepak bola sebagai ajang berpolitik. Adapun jika nanti kembali ingin menjadi tuan rumah event olahraga besar, ada baiknya untuk melakukan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencapai pemahaman yang sama. Sehingga peristiwa ini tidak terulang,” saran Hafid mengakhiri. (*Zak/Wil)
Safari Ramadan UMM: Ramadan Jadi Proses Akselerasi Kebaikan

Bagi muslim, Ramadan bisa menjadi proses akselerasi menjadi orang baik. Hal itu ditegaskan oleh Dr. Abdul Haris, MA. dalam safari Ramadan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 30 Maret 2023 lalu di rumah sakit umum (RSU) UMM. Adapun itu diikuti ratusan pegawai dan tim kesehatan RSU UMM dan UMM Medical Center sebagai upaya memperbaiki diri dan meningkatkan layanan. Lebih lanjut, Haris menjelaskan bahwa tidak ada ayat di Alquran yang menyebut suatu ibadah bergandengan dengan kata taqwa, kecuali ibadah puasa. Hal itu tak lepas dari puasa yang menuntut kita untuk taat. Tidak makan, tidak minum, tidak marah dan menahan nafsu-nafsu lainnya. “Pada hakikatnya ibadah adalah sebuah model dan membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Ibadah juga bisa mempengaruhi aktivitas dan sikap kita sehari-hari,” tambahnya. Puasa juga dinilai sebagai latihan menjadi orang baik, begitupun dengan salat. Ibadah itu membuat manusia menghindari perbuatan keji dan munkar. Sehingga manusia bisa memiliki akhlak sosial yang baik. Bahkan, mereka yang akhlak sosialnya baik bisa mengalahkan mereka yang memiliki ritual baik. Haris juga sempat bercerita sebuah kisah saat seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah. “Ada seseorang yang rajin salat malam, berpuasa, bersodaqoh, dan beramal saleh. Namun, ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya, kira-kira di mana ia akna berakhir? Kemudian Nabi menjawab bahwa tidak ada kebaikan di orang itu dan termasuk penghuni neraka,” tambah Haris. Terakhir, Haris menegaskan, Ramadan harus bsia melahirkan akhlak sosial yang baik. Termasuk melayani pasien dan keluarga dengan ramah di rumah sakit. Memasukkan kegembiraan di hati orang dan mudah tersenyum. Dengan begitu Ramadan dapat menjelma sebagai proses memperbaiki diri dan akselerasi kebaikan. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga memberikan pengarahan pada safari Ramadan tersebut. Ia menilai bahwa kajian akan menjadi sia-sia jika yang ikut tidak menyiapkan mindset dan cara berpikir untuk berubah menjadi lebih baik. Ramadan juga bisa menjadi kesempatan mengembalikan hakikat kemanusiaan. Satu di antaranya yakni meningkatkan kapasitas sebagai makhluk sosial. Mampu membawa misi kebaikan, baik bagi dirinya maupun orang lain. “Misalnya saja dalam aspek layanan. Jika biasanya tidak bagus dan suka menggerutu, maka di bulan inilah waktu yang tepat untuk mengubahnya. Jika biasanya sudah baik, maka harus terus dipertahankan, bahkan juga ditambah lagi baiknya,” kata Fauzan. Rektor asal Kediri itu juga memberitahu rumus seorang yang selalu berupaya menjadi manusi baik. Yakni keterbukaan akan kritik dan saran dari lingkungannya. Dengan begitu, ia bisa tahu apa kekurangannya selama ini, kemudian memperbaikinya terus menerus. (wil)
Cerita Alumni UMM, Berpuasa di Negeri Seribu Gereja

Bulan suci ramadhan selalu ditunggu kedatangannya oleh umat Islam di seluruh dunia. Terlebih di negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Tradisi membangunkan sahur, berburu takjil ,hingga suara adzan magrib yang saling bersahutan, menjadi hal yang selalu ditunggu. Namun suasana itu tidak dapat dirasakan oleh Wildan Zarief, salah alumni UMM yang sedang menempuh pendidikan magisternya di University of Adelaide, Australia. Wildan, sapaan akrabnya menceritakan suasana Ramadan dan hari biasa di Adelaide, tidak jauh berbeda. Hal tersebut dikarenakan ibu kota di negara bagian Australia selatan itu dikenal dengan sebutan negeri seribu gereja. Dimana penduduknya mayoritas beragama Kristen. “Karena teman-teman yang satu tempat tinggal non muslim semua, jadi saat sahur maupun berbuka saya biasanya sendirian,” ungkap Wildan. Lebih lanjut, anak sulung dari dua bersaudara itu juga bercerita saat menunaikan ibadah sholat tarawih. Ia lebih memilih sendiri karena bukan hanya lokasi masjid yang jauh dari tempat tinggalnya, tapi juga transportasi umum yang tidak beroperasi saat larut malam. “Alhamdulillah, puasa tahun ini sudah masuk musim gugur. Di Adelaide sendiri, puasa dimulai pada pukul 06.00 sampai dengan pukul 19.00. Oleh karena itu, lama puasanya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, sekitar 12-13 jam. Beda lagi ceritanya kalau puasanya di musim panas, umat muslim disini harus menahan lapar dan dahaga selama 16 jam dan waktu buka puasa sendiri di pukul 22.00,” kata Wildan. Pemuda asal Malang itu mengatakan, walaupun puasa tahun ini di musim gugur namun tetap menguras tenaga. Hal itu tak lepas dari jadwalnya yang padat. Apalagi tahun ini adalah tahun pertamanya memulai perkuliahan. “Sepinya Ramadan di sini sedikit terobati dengan adanya komunitas muslim di kampus. Ada banyak kegiatan menarik seperti bagi-bagi takjil maupun kajian sebelum salat,” terangnya. Cerita unik juga dialami Wildan selama puasa di sana. Karena banyak teman-teman kuliahnya yang tidak tahu tentang ibadah puasa, sering kali dirinya ditawari makanan ataupun jajanan. Bahkan tak jarang, di sana mahasiswa mengadakan pesta dan barbeque di siang hari sehingga mengundang nafsu makannya. “Kalau dapat tawaran makanan, biasanya saya tolak dan mengatakan kalau saya sedang puasa. Kebanyakan kaget dan malah balik bertanya balik mengenai puasa dan Islam. Jadi sebagai sarana dakwah tipis-tipis juga,” terangnya. Ramadan tahun ini memberikan kesedihan tersendiri bagi dirinya. Dimana kenikmatan berpuasa bersama keluarga tidak dapat ia rasakan. Namun menurutnya, makna Ramadan paling utama adalah bagaimana bsia menjalin hubungan dengan Allah dan juga manusia. Baik itu mereka yang muslim maupun yang non-muslim. Selain itu sebagai sebagai sarana memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. (zak/wil)
Ramadan Bikin Hemat atau Boros? Ini Kata Dosen Ekonomi UMM

Datangnya bulan Ramadan dengan kewajiban berpuasa bagi umat muslim, ternyata tidak membuat pengeluaran berkurang dan jadi lebih hemat. Sebaliknya, momen Ramadan kerap menjadi ceruk yang membuat masyarakat lebih boros lantaran sering tergoda berbagai kuliner jelang berbuka puasa. Terkait hal itu, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Happy Febrina Hariyani, S.P., M.Si. memberikan sederet tips agar tidak boros saat Ramadan. Menurutnya, saat menjalankan ibadah puasa, biasanya akan muncul banyak godaan untuk membeli berbagai menu yang diinginkan. Hal ini membuat masyrakat kalap dan membeli banyak menu, padahal tidak semuanya dibutuhkan dan dimakan. “Maka perlu ada pengendalian diri dan kesadaran bahwa membeli makanan tidak perlu berlebihan. Belilah makanan dan minuman dengan bijak agar tidak sampai terbuang kalau tidak habis,” urainya. Happy melanjutkan, untuk mengantisipasi hal serupa, umat muslim perlu hendaknya melakukan perencanaan keuangan. Selain menghindari membeli makanan yang tidak perlu, rencana keuangan juga akan menyelamatkan finansial dari keborosan lain. Seperti misalnya membeli minuman yang tidak perlu, barang yang tidak perlu, pakaian, dan lain sebagainya. Apalagi dengan kemudahan untuk membelinya secara daring. Pun dengan pembengkakan anggaran untuk agenda buka bersama. “Dari pada membeli makanan, lebih baik memasak sendiri agar lebih menghemat juga sehat. Menunya juga harus disesuaikan, tidak berlebihan membeli bahan masakan. Sementara untuk agenda buka bersama keluarga maupun rekan, bisa dipilih beberapa saja. Tidak semua acara buka bersama harus dihadiri,” tambahnya. Banyaknya buka bersama yang harus dihadiri membuat pengeluaran juga semakin membengkak. Maka ia berpesan agar memiliki beberapa saja untuk dihadiri. Yakni bukber yang memang penting dan paling nyaman untuk diikuti. Terakhir, Happy juga mendorong masyarakat untuk mengisi waktu Ramadan dengan berbagai aktivitas positif. Seperti olahraga, ikut kajian, membaca Alquran dan lainnya. Selain menyehatkan jiwa dan raga, banyaknya aktivitas juga bisa membuat kita tidak kepikiran untuk berbelanja. Baik itu dalam bentuk makanan, minuman, pakaian, atau barang lainnya. “Saya rasa kegiatan positif bisa menekan angka anggaran yang boros. Karena tidak ada waktu yang kosong dan membuat kita iseng buka market place atau mengunjungi mall dna toko,” pungkasnya. (*Aul/Wil)
Mahasiswa UMM Raih Pendanaan Program Indofood berkat Penelitian Tanah Tercemar

Memulihkan kembali tanah yang tercemar logam dan pestisida bukan perkara mudah. Maka dari itu, mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Mardhotillatil Umroh meneliti hal itu dan menghasilkan inovasi penggunaan vermiwash dan mikoriza untuk mengatasinya. Menariknya, penelitian itu sukses mendapatkan pendanaan program Indofood Riset Nugraha (IRN). Ini adalah program yang diadakan oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) untuk mengajak mahasiswa berinovasi, khususnya dalam diversifikasi pangan lokal. Adapun vermiwash adalah pupuk organik cair dari vermikompos yang di ektrak dari cacing tanah. Sedangkan mikoriza merupakan jamur yang mampu bersimbiosis dengan tumbuhan. Kombinasi yang dilakukan adalah dengan cara memberikan mikoriza saat waktu semai, kemudian selanjutnya disemprot menggunakan vermiwash. Ia melanjutkan, program penelitian tersebut ia lakuka selama enam bulan dan mencobanya di jagung. Dimulai dari persiapan hingga panen jagung. Jenis jagung yang digunakan adalah quality protein maize varietas srikandi putih dari bisi. “Pengembangan dan persiapan vermiwash dan mikorizanya dilakukan di laboratorium bioteknologi UMM. Sementera untuk menanam jagungnya berlokasi di lahan Rusunawa UMM,” tambahnya. Selama penelitian, ia harus mengumpulkan referensi dar berbagai jurnal internasional. Apalagi pemanfaatan vermiwash di Indonesia cukup jarang. Selama ini, pemakaian pupuk bekas kascing atau pupuk organik yang berasal dari kotoran atau feces cacing tanah masih menjadi dominasi utama. “Sudah banyak yang menggunakan kascing, karenanya saya coba inovasi yang lain. Selain itu, vermiwash juga dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, sehingga saya ingin melihat potensi apabila kedua bahan itu (vermiwash dan mikoriza.red) digabungkan. Sejauh mana keefektifannya,” urainya antusias. Saat ini, penelitian yang mendapat pendanaan sebesar 15 juta rupiah dan dimulai sejak Desember 2022 tersebut telah mencapai 45 persen. Gadis yang pantang menyerah ini optimis, terobosannya mampu memberikan kontribusi nyata untuk pengembangan pertanian Indonesia yang ramah lingkungan. “Ini tinggal uji hipovirulensi, tanam di lapang dan pengamatan saja. Setelah itu panen dan melakukan analisis data. Rencana saya setelah selesai penelitian ini, saya akan melanjutkan penyusunan skripsi, menyusun draft jurnal, karena publish jurnal juga salah satu syarat setelah lulus program IRN,” tutupnya. (*Nov/Wil)
Dosen FK UMM Beri Daftar Makanan yang Harus Dihindari saat Berbuka

Berbagai menu makanan berbuka puasa menjadi pilihan menggiurkan. Sayangnya, tidak semua makanan yang bercita rasa nikmat,tepat dikonsumsi saat berbuka. Bahkan beberapa penganan favorit masyarakat Indonesia seperti gorengan menjadi menu yang wajib dihindari. dr. Fatimah Masyhur, dosen Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Muhammadiyah Malang menyampaikan bahwa gorengan dapat menyebabkan gangguan dalam proses pemompaan darah. “Gorengan mengandung banyak tepung dengan kalori tinggi dan minyaknya tidak baik untuk tubuh. Dampak buruknya bagi kesehatan, jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan memengaruhi sistem kerja tubuh kita, seperti kardiovaskuler atau pemompaan darah,” jelasnya. Selain itu, Fatimah juga menekankan pentingnya menghindari makanan yang mengandung gula berlebih, kandungan lemak yang tinggi atau jenuh, serta makanan atau minuman yang mengandung kafein seperti teh dan kopi. Termasuk saat berbuka puasa. Menurutnya, menu yang seimbang dan mengandung cukup protein nabati dan hewani, sayur, buah, serta air putih sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Protein merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, termasuk otot, kulit, dan rambut. Selain itu, protein juga berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, membantu menghasilkan enzim dan hormon, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh. Fatima juga menekankan bahwa kebutuhan protein tiap orang berbeda. Tergantung usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengonsumsi protein dari berbagai jenis sumber, baik hewani maupun nabati dengan proporsi yang baik. Adapun mereka yang memiliki penyakit tertentu harus menghindari makanan-makanan pantangan. Sebagai contoh, penderita asam urat sebaiknya menghindari makanan seperti anggur, udang, nanas, dan kacang-kacangan. Sedangkan untuk orang yang menderita diabetes melitus, makanan yang mengandung glukosa yang tinggi harus dihindari. Demikian pula dengan fast food dan sejenisnya. “Kita juga perlu menghindari makanan modern seperti fast food atau junk food saat berbuka karena mengandung karbohidrat tinggi yang dapat meningkatkan glukosa darah dengan cepat. Maka pilihan tepat untuk berbuka yakni karbohidrat, protein, sayur, dna buah sesuai porsinya. Begitupun dengan citamin serta mineral,” katanya. Pilihan minuman saat berbuka juga harus banyak dipertimbangkan. Fatimah mengimbau agar masyarakat menghindari minuman berkafein seperti teh dan kopi. Kalaupun terpaksa dan tidak ad minuman lain, ia menyarankan untuk mengurangi porsi atau menyesuaikan waktu meminumnya. “Kafein di dalam perut akan menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama bagi penderita asam lambung. Terakhir, bagi orang-orang yang mengkonsumsi obat rutin, jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter mengenai cara mengonsumsi obat selama berpuasa. Meski berpuasa, kesehatan harus tetap diutamakan,” pungkasnya. (rul/wil)
Kajian Ramadan UMM Bahas Langkah Berjihad Ekonomi

Jihad ekonomi merupakan cara untuk mencapai keadilan ekonomi di masyasrakat. Hal itu disampaikan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Dr. Arif Budimanta Sebayang, M.Si. sebagai pemateri pada Kajian Ramadhan 1444 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dihadiri ribuan peserta itu berlangsung pada 25 Maret 2023 dengan menghadirkan sederet pemateri menarik. Lebih lanjut, Arif menjelaskan bahwa tujuan utama akselerasi jihad ekonomi dalam konteks negara yakni meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi warga negara. Untuk mencapai tujuan itu, tentunya diperlukan strategi yang matang seperti mengharuskan adanya distribusi sumber daya ekonomi secara merata. Karena, ketidakadilan ekonomi dapat menyebabkan ketidakstabilan sosial. Maka, diperlukan kerja sama yang progresif untuk mengatur ulang distribusi sumber daya atau kapital secara adil dan merata. Sehingga semua orang memperoleh kesempatan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar hidup ataupun hak-hak sosial masyarakat pada umumnya. Pun dengan upaya memastikan adanya kesempatan kerja yang layak. Disisi lain, Ketua Kamar Dagang Indonesia, M. Arsjad Rasjid PM. menjabarkan bahwa Muhammadiyah memiliki peluang dalam jihad ekonomi. Sekaligus membantu Indonesia mencapai visi indonesia emas 2045 dan keinginan Indonesia menjadi nomor empat ekonomi besar di dunia. Di antara organisasi masyarakat (ormas) yang ada, menurutnya, Muhammadiyah menjadi ormas terdepan yang selalu memberikan inovasi serta memberikan kontribusi ekonomi. Pun dengan kontirbusi aspek sosial yang luar biasa kepada bangsa dan masyarakat Indonesia. “Bisa dikatakan Muhammadiyah memiliki kontribusi yang besar di bidang pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Begitupun dengan aset dan valuasi ekonomi yang luar biasa. Hal ini tentu menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di indonesia. Bahkan banyak orang mengatakan sebagai organisasi Islam terbesar di dunia” ungkap Rasjid. Rasjid yang juga Ketua ASEAN-BAC itu menjelaskan, Muhammadiyah memiliki peluang untuk mendorong pengembangan industri halal di Indonesia. Misalnya saja di bdiang kuliner, fashion, kosmetik, hingga wisata. Bahkan juga keuangan syariah yang bisa dimanfaatkan untuk menggaet konsumen muslim berskala global. “Membangun Muhammadiyah social entrepreneurship hub menjadi solusi yangbisa dicoba untuk mendorong dan mengembangkan kewirausahaan sosial di Indonesia. Bisa juga dengan menjalin kemitraan inklusif closed-loop atau pendampingan melekat perusahaan besar pada UMKM dan petani daerah melalui transfer teknologi, transfer ilmu, akses pembiayaan dan pasar,” terang Rasjid. Senada dengan Rasjid, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. menyampaikan empat modal yang dimiliki muhammadiyah untuk menjalankan jihad ekonomi. Modal yang pertama yaitu modal spiritual teologis. Di mana Islam sebagai agama mendorong umatnya untuk menjadi manusia yang produktif, mandiri dan kreatif. “Kemudian modal yang kedua yaitu modal sosial kultural. Sejak berdiri, muhammadiyah sudah memiliki kewirausahaan di kalangan pribumi dan santri. Pun dengan modal yang ketiga yaitu modal jaringan, seperti yang kita ketahui Muhammadiyah mempunyai jaringan dengan amal usaha di berbagai bidang,” jelas Mu’ti Terakhir yaitu modal politik. Menurutnya, orang-orang muhammadiyah memang harus dekat dengan pemerintah. Banyak kebijakan negara yang bisa dikatakan tidak selalu positif dalam pemberdayaan ekonomi, misalnya ekonomi gap yang terjadi. “Dalam melakukan jihad ekonomi, Muhammadiyah perlu menumbuhkan kembali etos kewirausahaan dan kapitalisasi sosial entrepreneurship dalam filantropi islam. Selain tu, creative capitalism juga perlu kembali ditumbuhkan sehingga dapat mendorong unit usaha sosial menjadi unit usaha yang memiliki nilai ekonomi,” pungkasnya. (*Zak/Wil)
18 Buku Menarik Diluncurkan dalam Kajian Ramadan UMM

Sebanyak 18 buku hasil karya anggota Muhammadiyah diluncurkan pada agenda Kajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah malang (UMM). Adapun buku-buku yang dilaunching pada 25 Maret 2023 tersebut merupakan jerih payah tulisan sederet tokoh, baik di tingkat wilayah maupun daerah. Menariknya tulisan dari daerah berfokus pada sejarah bagaimana Muhammadiyah di sana berdiri dan berkembang. Beberapa judul yang ada di antaranya Trilogi karya Nazaruddin Malik yang terdiri dari tiga buku Connected Leadership and Collaboration, Execution, Collaboration. Ada juga Senyummu Senyumku juga karya Nur Cholis Huda, Jeda Sebuah Rasa karya Arunika, hingga sederet sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah. Salah satu penulis, Nur Cholis Huda menyampaikan bahwa tradisi menulis sangat hidup di PWM Jatim. Hal itu tak lepas dari banyaknya buku yang diluncurkan pada kajian Ramadan setiap tahunnya. Namun, ada yang menarik dan berbeda di tahun ini, yakni tulisan yang berfokus pada sejarah Muhammadiyah di berbagai kota dan kabupaten. “Ada gerakan menulis sejarah lokal Muhammadiyah yang digalakkan di lebih dari 30 daerah. 15 belas diantaranya sudah rampung menulis dan diluncurkan pada hari ini. Mudah-mudahan PDM-PDM lain bisa menyusul untuk segera terbit,” katanya. Adapun dalam bukunya Senyummu Senyumku Juga, Cholis menuliskan berbagai potongan peristiwa singkat yang dilakukan para pemimpin. Mulai dari para Khufaur Rosyidin hingga tokoh-tokoh nasional. Di dalamnya juga berisi tentang inspirasi yang bisa digunakan dan diterapkan dalam kehidupan. Misalnya saja kisah Utsman bin Affan yang amal jariahnya 14 abad lalu berupa sumur tetap mengalirkan pahala dan harta sampai sekarang. Selain itu, trilogi karya Nazaruddin juga menarik untuk dibaca. Salah satunya buku Connected Leadership yang membahas bagaimana connected leadership mempraktikkan disiplin pengetahuan, belajar dan bekerja, serta berpikir kritis sekaligus rasa keingintahuan yang tinggi. Di dalamnya juga berisi apa sebenarnya mitos kepemimpinan, alasan mengapa harus mempelajari kepemimpinan dan lainnya. Buku ini juga dilengkapi oleh dua buku lainnya. Pertama, karya buku berjudul collaboration yang membahas tentang menariknya topik kolaborasi. Bagaimana bisa mencapai tujuan dengan bekerjasama dan lainnya. Sementara buku ketiga yakni executions yang membahas terkait bagaimana mengeksekusi strategi, peningkatan kualiats eksekusi dan lain sebagainya. (*wil)
Khofifah di Kajian Ramadan UMM: Pemprov Siap Sinergi dengan Muhammadiyah

Sinergisitas pemerintah provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Muhammadiyah sangat bisa ditingkatkan, termasuk dalam aspek jihad ekonomi. Hal itu ditegaskan gubernur Jatim Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. pada kajian Ramadan Pimpinan Muhammadiyah Wilayah (PWM) Jatim di Universitas Muhammadiyah Malang. Adapun agenda itu dilangsungkan pada 25 Maret dan mengundang Khofifah untuk memaparkan materi sekaligus menutup. Lebih lanjut, Khofifah menekankan penggalan ayat 41 surat At-Taubah terkait jihad dengan harta dan diri di jalan Allah. Ia juga menilai bahwa Muhammadiyah sudah memberikan kontribusi komprehensi dan senantiasa ditumbuh kembangkan, termasuk aspek ekonomi. Khofifah juga sempat menerangkan bahwa berdasarkan data dari managing diretor International Monetary Fund (IMF), ekonomi dunia pada 2023 akan suram cenderung gelap. Menariknya, hal itu diprediksi tidak terjadi di Indonesia. Namun, pemerintah dan warga Indonesia harus tetap waspada. Maka aspek ekonomi tentu harus terus diperhatikan dan dikembangkan. Ia juga menyinggung mengenai urgensi jaminan produk halal. Indonesia sebagai negara muslim terbesar harus bisa memanfaatkan dan memaksimalkan peluang. Apalagi populasi muslim di 2030 mencapai 2.158 milyar atau 26% dari populasi dunia. Pasar produk halal juga besar, di antaranya 62% di Asia-Pasifik, 15% di Afrika, 20% di timur tengah dan 3% di Eropa-Amerika. Hal itu didukung juga dengan pandangan dunia terhadap produk-produk halal. Misalnya fakta bahwa Tiongkok menjadi pengekspor baju Muslim tertinggi di Timur Tengah. Pun dengan Brazil yang menjadi pemasok daging unggas halal terbesar ke Timur Tengah. Menurut Khofifah, peluang ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, termasuk warga Muhammadiyah. Bagaimana strategi dan cara untuk bisa bersaing di kancah global. Utamanya di aspek produk-produk halal. “Muhammadiyah, khususnya PWM bisa bersinergi dengan pemprov untuk meningkatkan mutu dan kualiats produk halal. Misalnya saja di proses dan penguatan produk halal serta pendampingannya. Pun dengan pengembangan Sistem Informasi Produk Halal (SIPAHALA),” katanya. Khofifah juga menegaskan bahwa hal itu menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Momentum ini harus dimanfaatkan dan Muhammadiyah dinilai bisa membangkitkannya dan menguatkan ekonomi. “Apalagi jika dilakukan di bulan Ramadan, pahalanya berlipat, semangatnya berlipat, dan insyaAllah hasilnya juga akan berlipat,” pungkasnya. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PWM Jatim Dr. dr. Sukadiono, MM. berharap kebangkitan jihad ekonomi Muhammadiyah dapat diawali oleh warga Muhammadiyah di Jatim. Salah satu caranya yakni dengan kolaborasi da sinergi bersama pemprov. “Dengan semangat taawanu alal birri wattaqwa, kerjasama yang baik PWM dan pemprov Jatim tentu akan menghasilkan dan membantu kemajuan masyarakat. Sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan umat,” katanya mengakhiri. (*Wil)