Kirim 40 Relawan, Maharesigana UMM Sigap bantu Korban Banjir Malang Selatan

Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak sigap dan cepat bantu korban banjir Malang Selatan. Melalui mahasiswa relawan siaga bencana (Maharesigana), UMM memberikan kontribusi pada Rabu (19/10) ke berbagai titik. Mulai dari Lebakharjo hingga daerah Bajul Mati. Ketua Maharesigana UMM, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP. mengatakan bahwa wilayah yang terdampak banjir cukup luas. Bukan hanya daerah Ampelgading, tapi juga merambah ke wilayah Pagak. Tingginya pun bervariasi sehingga menyulitkan kegiatan warga. Di lokasi banjir, Indra, sapaan akrabnya dan tim membantu membersihkan lumpur dan sisa-sisa banjir. Selain itu juga membagikan logistik berupa sembako, bahan mentah, serta beberapa peralatan. Indra mengungkapkan bahwa beberapa hal yang diperlukan oleh warga adalah pakaian, alas tidur, dan obat-obatan. “Pada prinsipnya sebagian besar warga dalam keadaan baik-baik saja. Namun mereka membutuhkan bantuan untuk membersihkan sisa-sisa banjir dan longsor. Pun dengan sembako serta bahan-bahan mentah,” terangnya. Indra yang juga dosen Perikanan UMM ini juga menilai bahwa obat-obatan menjadi hal penting dalam beberapa hari ke depan. Biasanya, usai banjir seperti ini akan diikuti oleh beberapa penyakit penyerta seperti gatal-gatal dan diare. Adapun Maharesigana sejauh ini sudah mengirimkan tiga tim yang dikirim ke tiga titik yakni Lebakharjo, Sitiarjo, dan pagak. Masing-masing terdiri dari lima relawan. Nantinya, Maharesigana akan terus mengirimkan tim untuk membantu para korban serta melakukan assesment. Indra menuturkan bahwa ini merupakan bagian dari aksi kemanusian. Selain itu juga menjadi salah satu agenda UMM berbagi untuk negeri. Tidak sendiri, Maharesigana juga turut bekerjasama dengan pihak lain seperti Muhammadiyah Disaster Management Center Kabupaten Malang dan Lazismu. Mereka telah mendirikan posko bantuan untuk memudahkan warga yang merasa kesulitan. “Maharesigana akan turun untuk merespon bencana, baik itu di wilayah Malang, luar daerah, bahkan juga luar pulau. Untuk banjir ini, kami tengah menyiapkan 40 relawan yang akan terus mendampingi warga untuk mengatasi banjir,” tegasnya. Ia berpesan agar para relawan bisa menjaga kesehatan karena setiap kali turun ke lokasi disertai dengan hujan. Pun dengan kewaspadaan akan terjadinya longsor susulan. Ia juga berharap apa yang sudah Maharesigana dan tim relawan lain usahakan bisa memberikan dampak positif. Utamanya bagi warga terdampak banjir dan longsor di Malang selatan. (wil)

Berbekal CoE, UMM Jadi Satu dari Sedikit Kampus di Ajang G20

Kontribusi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya terbatas di level nasional, tapi juga internasional. Terbaru, Kampus Putih UMM diundang untuk hadir dalam ajang Group of Twenty (G20) yang berlangsung di Bali pada Kamis (20/10) lalu. Hanya ada 14 perguruan tinggi swasta dan negeri yang diundang. Pun dengan semua kementerian Republik Indonesia serta perwakilan dari berbagai negara besar yang tergabung dalam G20. Pada agenda itu, ada sederet isu penting yang dibahas. Mulai dari bidang perdagangan, kesehatan, hingga transformasi digital. Selain itu juga terkait energi, keamanan, nett zero SDGS dan lainnya. Adapun kampus yang terpilih sudah melalui penilaian dari pihak G20 dan dianggap layak untuk membahas isu-isu terkait. Hadir mewakil Kampus Putih, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa pertemuan itu mirip dengan summit declaration. Nazar, sapaan akrabnya mengatakan bahwa lembaga pendidikan memiliki peran penting di G20. Sederet kampus akan turut aktif berkontribusi dalam impementasi berbagai deklarasi yang dihasilkan di forum internasional itu. Kemudian dijadikan isu pendidikan internasional. Ia juga menilai bahwa ada peluang untuk menawarkan program Center of Excellence (CoE) yang UMM kembangkan ke forum. Misalnya saja di bidang digital transformation yang ada dalam pelaksanan Digital HUB CoE UMM. Pun dengan pengembangan metaverse serta sederet sekolah profesional yang mendukung terjadinya transformasi digital. Menariknya, dalam ajang itu, pengembangan talnet hub langsung diberi arahan dan masukan melalui diskusi dengan Ilham Habibie. Salah satu hal penting dalam program transformasi digital adalah identifikasi masalah di Indonesia sehingga talent hub bisa menjadi solusi tepat. “Utamanya Digital Hub UMM yang sudah berakselerasi untuk menjadi solusi bagi kebutuhan SDM digital Indonesia,” tegas Nazar. Adapula peluang di aspek energi terbarukan karena UMM memiliki pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang sering jadi rujukan pengembangan energi oleh banyak pihak. PLTMH ini juga menjadi bagian dari UMM Berbagi untuk Negeri yang bertujuan untuk mengembangkan pembangunan 1000 PLTMH di berbagai wilayah. “Terutama dalam mendukung ekonomi masyarakat. UMM tentu ingin memberikan kontribusi maksimal di G20. Apalagi pada kesempatan ini, Indonesia menjadi tuan rumahnya,” tutur Nazar. Adapun G20 atau Group of Twenty adalah forum utama kerja sama ekonomi di level internasional. Para anggotanya merupakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia. Total ada 19 negara dan 1 lembaga uni eropa yang tergabung di dalamnya. G20 juga menjadi representasi lebih dari 60% populasi dunia, 75% perdagangan global, serta 80% PDB dunia. Sedert anggota forum ini di antaranya Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa. (wil)

Rakornas MPK Muhammadiyah di UMM: Penghargaan Tiga Kader Muhammadiyah yang Mendunia

Seminar dan Rapat koordinasi nasional (Rakornas) Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya menyajikan beberapa pemateri menarik. Tapi juga memberikan penghargaan bagi tiga sosok Muhammadiyah yang memberikan sumbangsih dalam aspek perkaderan pada Selasa (18/10). Ketiganya adalah Drs. Mohammad Djazman Al-Kindi, Prof. Dr. A. Malik Fadjar, M.Sc. dan Ir. Dasron Hamid, M.Sc. Selain itu adapula penghargaan untuk enam lembaga yang sukses menghasilkan kader terbaik. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. menilai bahwa ketiganya memiliki perean penting dan strategis dalam perkaderan. Bagaimana mereka berkhidmat, dan mencintai Muhammadiyah serta visinya untuk memajukan bangsa. Jazman yang memprakarsai lahirnya Diktilitbang serta menjadi rektor, Malik Fadjar dengan gagasan visionernya membangun UMM hingga diamanahi sebagai menteri agama dan menteri pendidikan RI, serta Dasron yang membangun UMY dari nol hingga seperti sekarang. “Ini merupakan penghargaan yang tidak seberapa dibandingkan peran dan kehidmatan yang sudah dilakukan ketiga tokoh ini seperti tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya. Semoga ini bisa memberikan isnpirasi bagi para kader-kader untuk berkontribusi demi memajukan Muhammadiyah dan bangsa,” tambahnya. Tiga tokoh Muhammadiya tersebut merupakakan sosok yang tak kenal lelah berjuang untuk mencetak kader berkualitas. Djazman merupakan ketua pertama Badan Pendidikan Kader sementara Dasron juga menjadi Ketua Badan Pendidikan Kader dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah. Pun dengan Malik Fadjar yang telah menginisiasi dan mencetuskan Ideopolitor. Adapun penyerahan itu diberikan kepada perwakilan keluarga dari ketiga tokoh. Salah satunya adalah Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. yang mewakili untuk menerima penghargaan Prof. Malik Fadjar. Menurut Nazar, sapaan akrabnya, meski ayahnya sudah tiada, namun ghirah dan semangat perkaderan yang ia sebarkan masih menyala. Terlihat dari bagaimana kader-kader Muhammadiyah saat ini yang senantiasa berupaya menciptakan inovasi dan karya. Utamanya untuk mencerahkan bangsa. “Mudah-mudahan apa yang beliau kontribusikan dan yang diimpikan bisa kita wujudkan bersama sebagai kekuatan untuk perjuangan ke depan. Termasuk dalam memperbaiki d

Pasca Tragedi Kanjuruhan: Giliran Wartawan Dapat Layanan di Posko Psikososial UMM

Tragedi stadion Kanjuruhan yang terjadi pada awal bulan lalu masih menorehkan luka. Tak hanya luka fisik tetapi juga luka batin. Hal itu menggerakkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melakukan pelayanan psikososial berupa trauma healing bagi para korban maupun keluarga, bahkan juga para wartawan yang berada di lokasi. Apalagi mereka telah melakukan liputan baik itu pra, saat dan pasca tragedi. Layanan ini bertempat di Aula Masjid lantai satu UMM dan dibuka mulai dari jam sembilan pagi sampai tiga sore. Salah seorang relawan, Ahmad Sulaiman, S.Psi., M.Ed, menjelaskan bahwa pos layanan psikososial UMM memberikan dua jenis pelayanan pada para korban, termasuk wartawan. Pelayanan pertama adalah Psychological First Aid (PFA) yang merupakan rangkaian tindakan penguatan mental. Tahapan awal ini juga berguna untuk melihat kondisi terkini dari klien. Setelahnya, jika korban mengalami kondisi yang berat maka akan dilakukan konseling bersama psikolong. Selain itu, para relawan juga turun ke rumah-rumah korban untuk melakukan pendampingan psikologis. Total ada 40 relawan dari mahasiswa dan 10 psikolog dari para alumni UMM. “Sejak dibuka pada senin minggu lalu, tercatat sudah ada ratusan orang yang ke UMM dan 30 korban yang sudah kami kunjungi rumahnya. Banyak diantara mereka yang masih terkenang pengalaman menyakitkan di lokasi kejadian seperti korban yang bejatuhan, perasaan terhimpit, dan saat-saat dipukuli aparat. Selain itu banyak korban yang mengalami trauma sehingga takut untuk keluar rumah. Biasanya mereka trauma ketika melihat warna biru yang merupakan lambang arema dan juga ambulan. Hal tak jauh berbeda juga dirasakan para wartawan yang datang hari ini,” ujar dosen Fakultas Psikologi tersebut. Lebih lanjut, Mada sapaan akrabnya mejelaskan bahwa kondisi-kondisi tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari para korban. Setelah meninjau kondisi korban, para relawan akan memberikan konseling dan treatmen sesuai dengan tingkat keparahan korban. Konsultasi bahkan bisa dilakukan lebih dari tiga kali untuk memastikan para penyitas dapat beraktivitas secara normal kembali. “Rencana awalnya program layanan ini akan kami lakukan sampai akhir bulan. Namun melihat kondisi beberapa korban, mungkin layanan ini akan di perpanjang dengan seleksi relawan yang lebih ketat. Harapan kami pos layanan psikososial ini dapat meringankan luka batin yang dialami para korban dan keluarga yang ditinggalkan,” ungkap Mada. Di sisi lain, salah seorang korban yaitu wartawan dari RRI Malang Feri Ardiansyah menceritakan bahwa ia berada di tempat saat kericuhan terjadi. Awalnya ia dan teman-teman sedang menunggu konferensi pers usai pertandingan. Namun selang beberapa menit stadion menjadi ricuh dan terjadilah tragedi tersebut. Pasca kejadian, Feri sapaannya mengatakan bahwa ia mengalami kelelahan fisik dan mental akibat kurangya waktu tidur. “Saya tahu layanan ini dari teman-teman media lainnya dan disarankan untuk ke sini. Salah satu perubahan yang saya alami pasca tragedi kanjuruhan adalah kesulitan untuk tidur. Biasanya saya bisa tidur di jam sembilan atau sepuluh malam, namun setelah tragedi itu saya baru bisa tidur jam dua pagi. Padahal saya harus bangun jam setengah lima pagi di tiap harinya,” ungkapnya. Ferdi mengapresiasi dan berterimakasih atas upaya UMM dalam memberikan layanan konsultasi psikologi. Melalui layanan tersebut, ia diberikan keyakinan untuk mampu melupakan kejad

Rakornas Perkaderan di UMM: Kader Muhammadiyah Harus jadi Hamba dan Pemimpin yang Baik

Kader Muhammadiyah harus menjadi hamba yang baik nan bersih serta mampu menjadi khalifah di bumi. Hal itu ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. dalam Seminar Nasional dan Rapat Koordinasi Nasional ke-5 Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah. Adapun rangkaian acara itu dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah malang (UMM) pada Selasa (18/10) lalu. Menariknya, adapula penyerahan award kepada tiga kader mendunia yang sudah memberikan kontribusi besar untuk perkaderan. Ketiganya adalah Drs. Mohammad Djazman Al-Kindi, Prof. Dr. A. Malik Fadjar, M.Sc. dan Ir. Dasron Hamid, M.Sc. Selain itu juga penghargaan untuk enam lembaga yang sukses menghasilkan kader terbaik. Satu di antaranya dari Garut yang mampu melahirkan Ustad Adi Hidayat. Lebih lanjut, Haedar, sapaan akrabnya menilai bahwa rekonstuksi akder merupakan langkah penting. Karena menurutnya, kunci keberlangsungan Muhammadiyah, Islam, bahkan bangsa tergantung pada manusianya. Maka, dalam Muhammadiyah, kader memiliki peran penting, manusia terpilih dan disebut dengan anak panah Muhammadiyah. Peran kader terpilih juga tertuang dalan konstruksi Islam dalam risalahnya. Dijelaskan Haedar, Allah memberikan peran dua figur pada manusia. Pertama, yakni sebagai abdullah atau hamba Allah yakni manusia baik yang selalu taat pada tuhan tanpa syarat. Kemudian yang kedua adalah sebagia khalifah di bumi yang diragukan oleh malaikat karena memiliki potensi kontroversi. “Meski begitu, figur khalifah juga memiliki kelebihan untuk memakmurkan semesta dan bumi. Khalifah juga dinamis dan progresif meski sesekali melakukan kesalahan,” terangnya melanjutkan. Menurutnya, seorang muslim tidak hanya harus baik tapi juga bisa berguna bagi masyrakat, bangsa dan negara. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits sebagai manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat. Maka, Haedar menegaskan bahwa paradigma ini yang harus dipahami. Bagaimana Muhammadiyah merekonstruksi dan mengubah mindset kita tentang kader. Bagaimana seorang kader bisa mencerminkan dan memadukan figur abdullah dan khalifah fil ardh di berbagai macam identifikasi duniawi. Salah satunya yakni dalam dunia pendidikan. “Maka, dalam agenda inilah saat yang tepat untuk memformulasikan sistem perkaderan untuk menciptakan manusia yang tidak hanya baik dan bersih sebagai hamba, tapi juga manusia yang memahami potensi dan bermanfaat,” ungkap Haedar. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd.  menilai bahwa Rakornas ini bukan menjadi agenda rutin semata. Karena menurutnya, hal yang rutin bisa membuat terlena dan akhirnya lupa diri. Meski memang ini menajdi ritual organisasi, tapi Fauzan menekankan bahwa para peserta memaknainya sebagai sesuatu yang tidak biasa-biasa saja. “Harapan besarnya yakni mampu melakukan perubahan mindset dalam mendesain dan mengembangkan sistem perkaderan Muhammadiyah sesuai dengan apa yang dibutuhkan di masa depan,” tegas rektor asal Kediri itu. (wil)

Atdikbud KBRI Tiongkok Yakini CoE UMM Memikat bagi Industri dan Pendidikan Tiongkok

Pada era 1980-1990an Tiongkok pernah mengahadapi krisis besar-besaran. Dalam menghadapi hal itu, pemerintah Tiongkok mempersiapkan pendidikan sebagai pondasi membangun negeri. Hal tersebut diucapkan oleh Yudil Chatim SKM., M.Ed selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Republik Rakyat Tiongkok di Beijing pada kegiatan Sharing and Inspiring Session Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara ini dilaksanakan pada awal Oktober lalu bertempat di Sky Rooftop Rayz Hotel UMM. Yudil, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Tiongkok bisa semaju sekarang karena meletakkan pendidikan sebagai pondasi. Sekilas sejarah menyatakan pada periode krisis, negeri tirai bambu  ini sangat serius dalam bidang pendidikan yang diatur dengan detail dari pendidikan sekolah dasar hingga universitas. Pemerintah juga memberikan beasiswa bagi para generasi penerusnya. Bahkan adapula sebuah sistem jaminan bagi setiap lulusan sarjana. “Setiap lulusan sarjana harus siap ditempatkan oleh univeritas. Kemudian akan ada evaluasi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan yang mengirimkan. Jika kinerjanya kurang oke, akan diadakan pembekalan ulang atau penggantian kinerja,” ucap pria asli Padang ini. Lulusan Huazhong Normal University, Wuhan ini mengatakan bahwa UMM memiliki potensi yang besar untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi yang ada di Tiongkok. Terdapat sebelas universitas yang membuka pogram studi Bahasa Indonesia. Ia melihat Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) UMM ini memiliki potensi yang strategis. Selain itu, program Center of Excellence (CoE) juga memiliki daya tarik tersendiri untuk bsia dikembangkan bersama lembaga pendidikan tinggi di Tiongkok. “Tentunya saya sangat mendukung agar UMM bisa menjlain kolaborasi dengan pihak di Tiongkok. Saya akan siap menyampaikan hal-hal yang bisa dikomunikasikan dengan univesitas dan industri di sana,” ujarnya. Sementara itu dr. Ivan Rovian, M.Kp. selaku Ketua Bagian Umum Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII Jawa Timur mengatakan bahwa UMM memiliki program yang luar biasa yakni CoE. Melalui program ini, UMM benar-benar memperisapkan lulusan yang siap bekerja. Dalam rangka meningkatkan kualitas, menurutnya kerjasama internasional menjadi hal yang utama. Apalagi dengan negara seperti Tiongkok yang banyak memiliki kelebihan. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memaparkan bahwa UMM telah memiliki visi untuk bisa menghadapi dan menyambut Indonesia emas 2045. Salah satunya melalui Center for Future of Work (CFW) yang diimplementasikan secara langsung dengan CoE. Program ini sudah tersedia di setiap jurusan yang ada di Kampus Putih. Selain itu, ada juga BIPA UMM yang siap mensupport pembelajaran Bahas Indoensia di Tiongkok. Ada beberapa aspek yang bisa dikembangkan antara UMM dan Industri di Tiongkok. Seperti misalnya sekolah PLTS yang bisa mengisi SDM dengan kualifikasi mumpuni serta mampu membantu memberikan supply energi. Pun dengan seklah welding inspector yang bisa berkontribusi di dunia industri serta CoE perhiasan dan mineral yang memiliki peluang menjanjikan. Ada lebih dari 40 CoE di UMM yang siap memberikan karya dan kontribusinya. “Harapannya dengan kehadiran Pak Yudil ini, upaya UMM untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi ataupun perusahaan bisa menemukan titik terang baik itu CoE, BIPA, maupun prodi-prodi yang lain. Tujuannya tentu untuk menambah wawasan atapun saling bertukar ilmu,” tegasnya. (haq/wil)

Lebih Terjangkau, Jamu Herbal Cair untuk Ternak Ciptaan Dosen UMM

Guna  mewujudkan hasil ternak yang memuaskan, Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan produk jamu herbal. Produk ini telah disebarkan ke berbagai Komunitas Pesantren Teknologi Tempat Guna (TTG) dan peternak kecil dan skala sedang serta koperasi. Menurut Wahyu Widodo, salah satu anggota tim mengatakan bahwa produk jamu herbal ini memiliki harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan bubuk. Meski lebih terjangkau, mutu produksinya juga tidak kalah dengan yang lain. Wahyu, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa produk ini sengaja dibuat karena jamu herbal untuk ternak sangat mahal karena adanya pandemi beberapa waktu lalu. “Selain itu, jamu ini juga sangat efektif untuk mengatasi penyakit mulut dan kuku (PMK) hewan ternak. Utamanya dalam proses penyembuhan sapi perah yang nampak gerhasil. Produk bubuk dan jamu herbal siyuna ini bisa digunakan untuk unggas maupun ruminan,” tambahnya. Di sisi lain, menurut Imbang Dwi Rahayu selaku dosen UMM menjelaskan bahwa jamu herbal mengandung antibakteri alami, yaitu senyawa aktif dalam tumbuhan yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Selain itu juga berfungsi untuk merusak membran sel pathogen dan Modifikasi permukaan sel-sel patogen, mempengaruhi sifat hidrofobik, sehingga menurunkan kapasitas keganasan. Pun dengan upaya merangsang sistem kekebalan tubuh, melindungi mukosa usus, serta meningkatkan pertumbuhan bakteri yang menguntungkan. Adapun jamu herbal organic untuk ternak dengan Merek Siyuna ini telah berhasil memberikan harapan baru untuk ternak sehat, baik dalam meningkatkan produktivitas. Utamanya yang berupa telur dan daging serta memberikan kenaikan produksi susu. Menariknya, program PPUPIK ini juga mendorong terbentuknya kerjasama baik penelitian maupun pemasaran dalam bidang telur, daging, hingga sapi perah Beberapa wilayah yang sudah dikenalkan produk jamu herbal Siyuna di antaranya Malang Raya, Kabupaten Blitar, Pandaan, Pasuruan, Probolinggo hingga Daerah Bojonegoro. Selain itu khusus untuk ayam kampung, telah dibentuk outlet-outlet ayam kampung sehat. Inovasi produk cair yang menjadi produk baru dan unggul telah disosialisasikan sejak Oktober ini. Bahkan juga sudah merintis kerjasama dengan Kube Pengembangan Sapi Perah (PSP), CV Maju Mapan Desa Kemiri Kecamatan Jabung, dan sederet lainnya. Hal itu dilakukan untuk melebarkan jangkauan pemasaran dari jamu herbal ini sekaligus menyebarkan manfaat yang dikandungnya. Secara khusus program ini juga melibatkan maahasiswa baik untuk Praktek Usaha Peternakan (PUP), Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta mahasiwa yang berbais Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Adapun tim itu diketuai oleh Adi Sutanto dan diisi oleh Wahyu Widodo sebagai ahli pakan, Imbang Dwi Rahayu, Tri Sakti Handayani, dan Aprilia Devi Anggraeni.  (wil)

Lecturer Series UMM: Kaji Teknologi Transportasi hingga Gangguan Jiwa

Dalam menjalankan sebuah perusahaan, Ehime Toyota memiliki misi untuk membahagiakan masyarakat dan orang-orang yang terlibat dalam perusahaannya. Kalimat tersebut di sampaikan oleh Direktur Ehime Toyota, Hidekazu Futagami di seminar Multiculturalism for the Human Development in Asian Community. Kegitan yang digelar oleh Center For Asian Studies Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dilaksanakan pada Rabu (12/10) lalu di Teater Dome UMM. Lebih lanjut, Hidekazu sapaannya menjelaskan bahwa dalam rangka menebar kebahagiaan kepada sesama, Ehime Toyota telah melakukan berbagai upaya sosial. Salah satunya melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Tak terbatas di Jepang saja, CSR ini juga dilakukan di berbagai negara yang bekerja sama dengan Ehime Toyota. Bantuan sosial yang diberikan cukup beragam, hal ini juga disesuaikan dengan kebutuhan daerah yang akan dituju. “Kami telah bekerja sama dengan Indonesia sejak tahun 2008 dan hal ini akan terus berlanjut kedepannya. Dalam perjalanannya, kami telah melakukan berbagai kegiatan sosial di Indonesia. Salah satunya adalah pemberian kendaraan darurat  sebanyak 208 unit  ke 20 kota madya yang ada di Indonesia. Kendaraan darurat ini meliputi ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Hal ini kami lakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di beberapa kabupaten terpecil di Indonesia,” terangnya. Meskipun sekarang sudah terealisasikan dengan baik, namun Hidekazu mengatakan bahwa program ini pada awalnya memiliki banyak masalah. Satu di antaranya adalah masyarakat tidak dapat menggunakan kendaraan darurat dengan baik. Kasus lain yang sangat menyedihkan adalah meninggalnya salah satu teman Hidekazu di Bantaeng Sulawesi Selatan akibat kendaraan yang tidak terawat dengan baik. “Jujur pada awalnya saya ingin menyerah, namun saya percaya masyarakat Indonesia dapat berkembang. Oleh karenanya kami melakukan pelatihan penggunaan kendaraan darurat kepada masyarakat. Selain itu kami juga mengasah kemampuan mekanik masyarakat untuk merawat kendaraan darurat kedepannya. Berkat sistem kesehatan darurat ini, kesejahteraan masyarakat di kota madya meningkat,” ujarnya. Dalam menghadapi masalah yang besar seperti itu, Hidekazu menjelaskan bahwa para mahasiswa harus menerapkan prinsip Kaisen. Prinsip ini memuat empat cara yaitu Plan, Do, Cek, dan Action (PDCA). Jadi dalam penerapannya, dalam menghadapi sebuah masalah para mahasiswa dituntut untuk berpikir, menyampaikan pendapat, mengambil tindakan, dan melakukan evaluasi. “Hal ini harus dilatih secara berulang agar kita dapat menghadapi masalah dengan lebih baik lagi,” kata Hidekazu. Sementara itu, paparan menarik juga disampaikan oleh pemateri lain yakni Muhamad Salis Yuniardi, Ph.D. ia menjelaskan mengenai persepsi gangguan jiwa di berbagai negara, penyebab, serta cara penanganannya. Adapun persepsi orang normal di berbagai negara sangat berbeda. Tergantung pada aturan dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat sekitar. “Orang yang dianggap normal adalah mereka yang tidak menyimpang tetapi juga tidak berlebihan atau fanatik dalam menaati ketentuan masyarakat,” tambahnya. Kalau berdasarkan jumlah IQ, orang yang tidak normal biasanya di bawah IQ 90 atau di atas IQ 120. Namun hal ini bisa jadi sebuah masalah jika dipakai sebagai satu-satunya pengukuran. Kriteria kedua yakni disability atau disfusi yaitu ketidakmampuan untuk bekerja karena alkohol, depresi dan gangguan seksual. Adapula yang ketiga yakni jika orang tersebut melanggar norma seperti antisosial personality seperti psikopat atau pedofil. Salis, sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa gangguan mental di suatu tempat bisa jadi bukan gangguan mental di tempat lainnya. Tergantung bagaimana masyarakat mendefinisikan gangguan mental. Pun dengan standar bahagia di masing-masing negara yang memiliki tolak ukur berbeda. Terkait alasan bagaimana seseorang bisa mengalami gangguan jiwa, Dekan Fakultas Psikologi UMM itu menegaskan bahwa tiap negara memiliki alasan berbeda. Misalnya di Amerika yang memandang gangguan jiwa berasal dari diri sendiri. Sementara di Cina, orang menganggap bahwa gangguan itu karena Ying dan Yang yang tak seimbang atau orang India yang melihat bahwa itu merupakan karma masa lalu. “Kalau di Indonesia, hal yang paling mempengaruhi yakni kecemasan sosial dan kekhawatiran akan pandangan serta gunjingan orang lain. Untuk mengatasinya, perlu penanganan profesional seperti psikiater yang ahli. Bukan malah ke orang pintar,” tuturnya mengakhiri. (syi/wil)

Beri Tiga Cara Atasi Pelecehan Seksual, Mahasiswa UMM Juara Esai Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)telurkan tiga cara untuk mengurangi perilaku pelecehan. Ide cemerlang ini berhasil mengantar tiga mahasiswa fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UMM itu meraih juara esai tingkat internasional dalam International Scientific Competition Hilarius 2022 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Keperawatan Universitas Gajah Mada (UGM) September lalu. Adalah Ino Ardiansyah, Matsna Wilda Muqorona dan Fariskha Yulfa Nurahma yang saling bahu membahu untuk mengharumkan nama kampus. Mereka mengusung esai berjudul “Strategy to Management Sexual Harassment among Adolescence”. Fino, selaku ketua tim menyampaikan  bahwa pemikiran dalam mengatasi pelecehan seksual ini berdasarkan sederet pelecehan seksual teman sebaya semakin lazim. Baik itu kontak maupun non-kontak yang tidak diinginkan. “Rata-rata korban kekerasan seksual umumnya perempuan dan pelaku kekerasan seksual kebanyakan laki-laki. Namun persepsi tersebut mengakibatkan korban kekerasan seksual hanya pada perempuan. Padahal kenyataannya pelecehan ini tidak hanya terjadi perempuan, namun juga terjadi pada laki-laki,” ungkapnya Ia menjabarkan terkait tiga strategi yang perlu dilakukan dalam mengurangi fenomena itu. Di antaranya, pencegahan, edukasi dan intervensi perilaku penyimpangan. Semua itu bisa diterapkan di pembelajaran perguruan tinggi maupun sekolah. Bahkan juga bisa dimasukkan dalam kurikulum untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik. “Strategi tersebut perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan agar dapat diimplementasikan,” terangnya. Dalam mengerjakan esai, mereka bukan tanpa tantangan. Apalagi lomba ini berada di level internasional. Mereka harus benar-benar serius untuk mengasah bahasa inggris, salah satunya saat proses diskusid an memahami berbagai literatur. Namun ia mengartikan tantangan tersebut sebagai proses pembelajaran agar kelak bisa menjadi manusia yang berkualitas. Bukan kali pertama Fino mengikuti lomba. Sebelumnya ia pernah mendapatkan medali perunggu di ajang ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair dan medali emas di Youth International Science Fair 2022. Ia bersyukur kuliah di UMM karena segudang prestasi yang ia raih. Utamanya Lembaga Semi Otonom (LSO) KIM HIPOTALAMUS yang ia ikuti sejak menjadi mahasiswa baru. “Dari KIM HIPOTALAMUS UMM, saya merasa minat dan potensi saya terwadahi. Apalagi di sana juga diajari bagaimana belajar cara menulis materi karya tulis ilmiah, riset secara komprehensif dan belajar public speaking untuk mempresentasikan hasil tulisan atau riset yang telah dilaksanakan,” tuturnya. Terakhir, ia sangat berharap ide dari esai yang telah dibuat bisa diaplikasikan oleh pemerintah maupun pihak terkait agar Indonesia bisa terbebas dari pelecehan seksual. Ap

Buka Posko, Psikologi UMM Terjunkan 74 Relawan Atasi Trauma Korban Kanjuruhan

Tragedi yang menimpa para supporter arema di Stadion Kanjurhan meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat. Tak hanya menorehkan luka dan merenggut nyawa, kejadian ini juga meninggalkan trauma. Tergerak atas dasar kemanusiaan, Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beri dukungan psikososial bagi para korban tragedi Kanjuruhan. Layanan ini telah diberikan sejak minggu (02/10) sampai akhir bulan Oktober nanti. Dekan Fakultas Psikologi, M. Salis Yuniardi, Ph.D., menjelaskan bahwa layanan psikososial ini langsung dibuka sehari setelah kejadian. Layanan ini di buka secara hotline dengan menyebar flyer melalui sosial media. Dengan gerakan awal ini, Fapsi UMM dapat menjangkau korban yang membutuhkan pertolongan psikologi. “Di hari-hari awal setelah kejadian, layanan psikososial susah untuk masuk ke masyarakat. Hal ini terjadi karena berbagai elemen masyarakat masih sibuk untuk mengidentifikasi jenazah dan mengobati korban yang luka-luka. Pendirian posko psikososial di Rumah Sakit (RS) juga tidak memungkinkan karena akan menambah kepadatan. Melihat hal tersebut, kami berusaha menjangkau korban menggunakan layanan hotline,” kata dosen asal Madiun tersebut. Untuk menjangkau para korban lain, Salis, sapaannya menjelaskan bahwa kampus telah menyiapkan beberapa langkah lanjutan. Setelah melakukan layanan hotline, Fapsi bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan berbagai elemen lainnya untuk mendirikan posko psikososial di beberapa titik. Posko ini memberikan layanan asesmen awal dan tindakan Psychological First Aid (PFA) kepada para korban. “Langkah ketiga yang kami lakukan adalah dengan menerjunkan para relawan ke rumah-rumah korban untuk pendampingan psikososial. Hal ini dilakukan untuk menjangkau korban lain yang tidak dapat tergapai oleh hotline dan posko. selain itu, kami juga berkerja sama dengan Koordinator Wilayah Aremania untuk mengumpulkan para korban yang membutuhkan,” ujar ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Malang itu. Lebih lanjut, Salis mengatakan dalam penanganan psikososial, fakultas telah menerjunkan 32 relawan mahasiswa dan 42 dosen psikologi. Kedepannya, para relawan ini akan terus ditambah. Melalui hotline yang telah di buka, Salis berkata bahwa layanan psikososial ini  telah menangani lebih dari 130 korban. “Kami membagi korban menjadi dua tipe. Tipe yang pertama adalah korban yang mengalami langsung kejadian tersebut. Rata-rata para korban tipe pertama ini mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) pasca insiden. Tipe kedua adalah korban yang mengalami kedukaan akibat kehilangan anggota keluarga. Gejala yang dialami cukup bervariasi seperti kesulitan tidur, ingatan traumatis, dan lainnya,” jelasnya. Terakhir, Salis mengatakan bahwa selain berdasar rasa kemanusiaan, hal ini juga merupakan penerapan visi UMM yaitu dari muhammadiyah untuk bangsa. Ia berharap dengan adanya bantuan psikososial ini bisa sedikit meringankan beban para korban. “Terkait dukungan psikososial, rencananya kami akan membuka layanan ini sampai akhir bulan. Namun jika nanti diperlukan lagi kami akan memperpanjang masa layanannya. Semoga kedepannya tragedi seperti ini tak akan terulang kembali,” pungkasnya. (syi/wil)