Terbitkan Artikel Berkualitas, Jurnal FH UMM Sukses Terindeks Scopus

Penelitian dan publikasi menjadi sederet aspek yang selalu dikembangkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya lewat berbagai jurnal yang diterbitkan. Termasuk Legality, jurnal Fakultas Hukum (FH) UMM yang baru saja mendapatkan rekognisi internasional melalui pengindeks Scopus pada awal Maret 2023 ini. Capaian membanggakan tersebut tidak lepas dari berbagai upaya FH dalam meningkatkan kualitas. Editor in Chief Legality, Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. menjelaskan bahwa akreditasi tersebut tidak diraih dalam waktu yang singkat. Pada awal 2019, jurnal tersebut baru mendapatkan indeks Sinta 4. Kemudian membutuhkan dua tahun untuk bisa mencapai Sinta 2 pada 2020. Upaya itu juga diteruskan oleh Fatih dan tim dengan menyiapkan artikel-artikel berkualitas untuk mendapatkan indeks Scopus. Hingga akhirnya mendapatkannya pada awal Maret 2023. “Jurnal Legality FH UMM ini menjadi jurnal pertama yang mendapatkan akreditasi Scopus di kalangan FH kampus swasta se-Indonesia,” tambahnya menegaskan. Dosen asal Gresik ini melanjutkan bahwa ada banyak benefit yang didapatkan jika jurnal yang diterbitkan sudah terindeks secara internasional. Misalnya saja terkait isi artikel yang makin banyak dibaca dan dikunjungi karena berada di dalam database jurnal terindeks Scopus. “Melalui jurnal ini, kami juga ingin mendorong para dosen untuk bisa melahirkan artikel ilmiah yang berkualitas dan mampu menembus jurnal internasional. Hal ini juga sekaligus memberikan jalan bagi mereka untuk bisa mencapai jabatan akademik sebagia guru besar. Apalagi publikasi ini juga menjadi syarat yang seringkali menghalangi para dosen,” katanya. Terakhir, ia berharap capaian ini juga memotivasi pengurus jurnal lain, utamanya yang ada di Kampus Putih UMM. Dengan begitu, akan makin banyak penelitian berkualitas yang dipublikasi dan meramaikan dunia akademik. Kemudian, penelitian itu juga bisa dilanjutkan menjadi sebuah produk atau metode dalam menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di tengah masyarakat. “Ini bukan tujuan akhir, tapi malah dari awal upaya menjaga kualitas penelitian dan menjalankan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi, yakni penelitian,” pungkas Fatih mengakhiri. (*ri/wil)

Gelar Simposium, Upaya Fisioterapi UMM Temukan Solusi Masalah Kesehatan

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih mempercayai bahwa mandi malam dapat menyebabkan rematik. Padahal para ahli kesehatan sudah menyatakan bahwa hal tersebut adalah mitos. Kenyataannya, rematik dapat terjadi karena adanya peradangan sendi yang disebabkan oleh hormonal, genetik maupun traumatik. Hal tersebut dijelaskan oleh ketua prodi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dimas Sondak Irawan, Ph.D. dalam Simposium “Novel Physiotherapy Approaches and Physical Rehabilitation in Community Setting.” Adapun kegiatan tersebut berlangsung pada 13 Maret 2023 lalu dengan sistem blended. Dimas, sapaan akrabnya, juga menjelaskan hal lain terkait mitos dan fakta kesehatan yang berkembang di masyarakat. Mulai dari fakta bahwa tulang yang patah bisa menyambung sendiri hingga mitos membunyikan sendi (clicking) sehingga berbunyi ‘krek’ bisa menyebabkan pengapuran sendi. “Bunyi krek yang disebut dengan popping tidak berbahaya dan bukan penyebab pengapuran sendi. Kecuali, jika terjadi popping terdapat rasa nyeri pada bisa dikatakan terdapat indikasi,” ungkap Dimas. Ia juga memaparkan bahwa traksi dalam dunia kesehatan dapat menambah tinggi badan merupakan sebuah fakta. Dimana saat seseorang melakukan continues lumbal traksi selama 25 menit, bisa meningkatkan 8,60 mm tinggi badan. Namun pertambahan tinggi badan itu hanya bertahan selama sepuluh menit. Terakhir Dimas mengatakan bahwa sering membawa tas berat bisa menyebabkan skoliosis merupakan benar adanya. Namun hal tersebut hanya menyebabkan skoliosis non struktural, bukan skoliosis struktural. “Miskonsepsi terkait permasalahan kesehatan bisa terjadi di masyarakat karena adanya kebiasaan dan juga budaya yag berkembang di Indonesia. Oleh karena itu, para ahli kesehatan dan calon ahli kesehatan harus memberikan edukasi yang jelas dan baik kepada mereka. Sehingga miskonsepsi di masyarakat tidak terus berlanjut,” pungkasnya. Simposium yang diselenggarakan oleh prodi Fisioterapi UMM itu bekerjasama dengan Universitas Teknologi Mara Malaysia. Menariknya, ada banyak pemateri andal yang dihadirkan seperti Prof. Mayda, Dr. Mohd. Haidzir Abd. Manaf, Mr. Mohd. Azlan Bin Mohd. Shapie, hingga Mr. Mohd. Arif. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Dr.Sidik Sunaryo, SH., M.Si, M.Hum. mengapresiasi kegiatan ilmiah tersebut. Menurutnya, acara itu menjadi salah satu cara menemukan solusi beragam persoalan. “Simposium ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan dan juga ide yang konstruktif . Sehingga seluruh masalah terkait kesehatan, khususnya di dunia  fisioterapi, bisa segera diselesaikan. Selain itu, ia juga ingin ada studi visit antar universitas baik itu dari kalnagan mahasiswa maupun dosen,” tegasnya mengakhiri. (*Zak/Wil)

Wakili Muhammadiyah, Dosen UMM Kaji Hukum Islam di Filipina

Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pradana Boy ZTF, MA., P.hD, diundang menjadi pembicara di 1st National Summit on Shari’ah di Filipina. Mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia hadir pada 5-6 Maret 2023 pada acara yang diselenggarakan oleh Supreme Counts of the Republic of Philippines. Adapun pertemuan itu dilaksanakan di Mindanao yang menjadi 80% populasi muslim di Filipina. Boy, sapaannya, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan ikhtiar untuk membawa hukum Islam pada konteks yang lebih luas di masyarakat. Selain dari Indonesia, adapula dua pembicara dari Mesir dan Malaysia. “Sebenarnya hukum Islam telah berlaku di Filipina, tetapi institusi hukumnya baru ada di Mindanao. Maka, salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk menjamin keberadaan institusi hukum Islam di seantero Filipina. Terdapat tiga negara yang diundang, yaitu Indonesia, dalam hal ini Muhammadiyah yang diminta, Malaysia dan Mesir. Perwakilan dari Mesir cukup istimewa yakni Duta Besar Mesir untuk Filipina, karena kebetulan ia memang ahli hukum Islam,” katanya. Dalam diskusi itu, eks staf khusus Presiden Indonesia tersebut menjelaskan mengenai penerapan hukum islam di Indonesia. Ia memaparkan pengalaman Indonesia dalam menerapkan syariah dari masa ke masa. Mulai dari sebelum kemerdekaan hingga masa reformasi. “Hal ini tak lepas dari tujuan pertemuan ini yakni mempelajari pengalaman-pengalaman negara lain,” tambahnya. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa penerapan hukum Islam di Indonesia sudah ada sebelum Indonesia Merdeka. Hal tersebut dibuktikan dari pelaksanaan hukum-hukum yang dilakukan oleh kesultanan-kesultanan Islam yang ada di nusantara. Misalnya saja di Jawa yang terdiri dari Demak, Banten, Mataram, Pajang, dan lainnya. Pun dengan Sumatera yang diisi dengan Kesultanan Palembang, Samudera Pasai hingga Kesultanan Aceh. Hal serupa juga terjadi di pulau lain bahkan hingga Kesultanan Bima. Maka menurutnya, hukum Islam sebenarnya telah berlaju di kesultanan-kesultanan dengan aneka variasi dan tingkatan. Namun, terdapat pasang surut dalam pelaksanaannya di Indonesia. Apalagi saat Belanda datang melalui VOC. “Pada saat itu, hukum Islam tetap diberlakukan karena VOC memberikan keleluasaan kepada umat Islam untuk menjalankan hukum Islam. Tetapi setelah keberadaan VOC digantikan oleh Kerajaan Belanda, hukum Islam mengalami dinamika yang pasang surut,” tegasnya. Hukum Islam kemudian berlaku bagi umat Islam secara formal pada masa Orde Baru melalui pengesahan Undang-Undang Perkawinan 1974, lalu pendirian Pengadilan Agama pada tahun 1989. Lalu penyusunan Kompilasi Hukum Islam pada 1991, dan banyak lagi. Sementara pada Era Reformasi, pemberlakuan hukum Islam lebih banyak pada wilayah ekonomi Islam. “Semoga paparann ini sedikit banyak dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan hukum Islam di Filipina. Berangkat dari pengalaman Indonesia dan belajar darinya,” pungkas Boy. (*Faq/Wil)

Mahasiswa UMM Rancang Facial Detector

Rumah sakit sebagai garda terdepan fasilitas kesehatan seharusnya memberikan pelayanan yang baik. Namun faktanya, masih banyak rumah sakit yang mengalami kendala dalama proses administrasi. Berawal dari keresahan itu, tim mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merancang dan mengembangkan sebuah alat yang dinamai dengan Patient Facial Detector. Adalah Adam Nur Abrori, Bintang Arifin, Nadya Safa Regina Putri, Nur’aini Isnawati, dan Windy Puspika yang merancangnya. Mereka telah melakukan survey ke masyarakat dan beberapa fasilitas kesehatan terkait lambatnya proses administrasi. “Dari sana, kami mendapatkan ide untuk memaksimalkan teknologi digital untuk memudahkan manusia. Utamanya dalam adiministrasi di rumah sakit,” kata Adam. Adapun alat ini dilengkapi dengan komputer dan webcam untuk mendeteksi wajah. Kemudian diletakkan di bagian depan pendaftaran dan pasien harus scan wajah sebelum melakukan pemeriksaan ke dokter. “Cara kerja alat ini yakni pasien datang dan mengarahkan wajah ke webcam, lalu data diri pasien akan muncul secara otomatis. Data tersebut meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, dan nomor rekam medis pasien pada layar komputer dokter,” urainya. Fitur dari scan wajah sebenarnya sudah banyak dijumpai, namun Patient Facial Detector memiliki keunggulan yang istimewa yakni akan disinkronkan dengan e-KTP. Dengan demikian, data diri akan ditampilkan secara lengkap. “Biasanya media seperti ini hanya dapat untuk melakukan cek suhu saja, namun punya kami berbeda,” tambah Adam. Adam juga menjelaskan bahwa dalam proses merancang Patient Facial Detector ini dibutuhkan waktu selama beberapa minggu. Sekarang, mereka masih mengembangkan program dan inovasinya agar bisa segera digunakan. Meski belum rampung, tapi timnya sudah membuat prototipe yang dipamerkan dalam Pameran Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Teknik Industri UMM 2023 lalu. Inovasi Patient Facial Detector ini juga direncanakan untuk ikut di sederet perlombaan di berbagai kompetisi. “Tentu kami berharap inovasi ini dapat membantu proses dalma mendapatkan layanan kesehatan. Apalagi selama ini lamanya pelayanan kesehatan seringkali diakibatkan adiminstrasi yang rumit. Maka, dengan adanya Patient Facial Detector, proses itu bisa dipersingkat,” pungkasnya. (*Sep/Wil)

Perpustakaan UMM Juara Website Terbaik Nasional

Kabar membanggakan datang dari perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berbekal inovasi yang baik, merka sukses meraih juara tiga website terbaik dalam kompetisi yang diadakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (FPPTMA) di tingkat nasional. Perpustakaan UMM menerima langsung penghargaan pada Maret ini di Hotel Lombok Raya, Lombok. Terkait juara tersebut, Direktur Perpustakaan UMM Dr. Asep Nurjaman, M.Si. menjelaskan bahwa kompetisi tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan berbagai perpustakana. Khususnya yang ada di wilayah kampus Muhammadiyah se-Indonesia. Sehingga bisa mencapai internasionalisasi di masa yang akan datang. Adapun perpustakaan UMM sudah mengembangkan websitenya dengan berbagai cara. Salah satunya menggunakan bahasa Inggris dan Arab sebagai sarana internasionalisasi. Pun dengan sederet konten yang bisa menarik masyarakat untuk berkunjung. Berbekal hal itulah, UMM mampu menjuarai lomba perpustakaan. Lebih lanjut, dosen Ilmu Pemerintahan itu juga membeberkan poin penilaian yang dilakukan FPPTMA. Mulai dari performa kecepatan, tampilan website, jumlah konten, hingga kualitas konten. Jenis-jenis konten dan jumlah visitor juga menjadi pertimbangan lain. Perpustakaan UMM saat ini juga tengah berfokus pada konten-konten yang ada di media sosial non website. Menurutnya, hal itu bisa mendorong perkembangan perpustakaan, terutama bagi anak-anak muda. Perpustakaan UMM terus membuat konten di Facebook, Instagram, dan lainnya. “Kami juga tak lupa mengembangkan website tahap demi tahap,” tegasnya. Meski sukses meraih juara, Asep mengaku ada beberapa hal yang menjadi tantangan. Namun semua bisa teratasi berkat usaha keras tim perpustakaan UMM. Sumber daya manusia (SDM) yang ada nyatanya mampu mengatasinya. “Kami juga terus menambah berbagai konten dan bacaan menarik. Tidak hanya websitenya saja yang bagus dan berkualitas, kami juga akan terus menjaga kualitas koleksi buku dan pelayanan yang ada. Adapun website menjadi salah satu gerbang agar anak-anak muda dan masyarakat meningkatkan literasinya. Semoga perpustakaan UMM juga bisa lebih mudah diakses secara nasional maupun global,” pungkasnya berharap. (*Faq/Wil)

Kukuhkan 1.238 Guru, PPG UMM Pastikan Kemajuan Pendidikan

Sebanyak 1.238 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan pada 14 Maret 2023. Mereka yang berasal dari berbagai daerah juga mengucapkan sumpah profesi guru serta mendapatkan bekal dari dua orasi ilmiah para pemateri. Keduanya adalah Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. dan Direktur Eksekutif APCE UNESCO Prof.Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc. Menariknya, para mahasiswa dalam jabatan dan pra-jabatan PPG UMM juga menelurkan beberapa karya. Di antaranya 11 hak kekayaan intelektual dan 17 buku ber-ISBN yang berisi tentang pengalaman kreatif best practice selama ini. Pun dengan berbagai prestasi lain dalam hal mengajar dan pendidikan. Nunur Suryani menilai salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia adalah kurangnya ketersediaan guru di Indonesia. Sebagian besar diakibatkan oleh banyaknya guru yang akan pensiun. “Di tahun 2022, data menunjukkan bahwa kekurangan guru di Indonesia sebanyak 781 ribu. Untuk mengatasi kekosongan atau kekurangan guru itu, caranya yakni dengan melangsungkan seleksi ASN P3K,” katanya. Nunuk, sapaan akrabnya, juga menjelaskan tentang isu strategis pembangunan pendidikan nasional yang harus diselesaikan. Utamanya terkait layanan pendidikan yang belum merata dan kualitas pendidikan yang masih rendah. Menurut data, ada 288 kecamatan di Indonesia yang tidak memiliki SMP dan 681 kecamatan yang tidak memiliki SMA. Sementara, kualitas pendidikan nyatanya dipengaruhi oleh kompetensi guru yang masih rendah dengan sebaran yang belum merata. Serta tidak tersedianya metode penilaian hasil belajar yang ajek. “Ditambah lagi dengan daya saing perguruan tinggi Indonesia yang masih lemah berdasarkan publikasi, inovasi dan juga sitasi. Tapi menariknya, saya lihat UMM tidak demikian. Bahkan UMM menjadi kampus yang memiliki kapasitas tinggi dalam tiga hal tadi,” tambahnya. Maka dari itu, Nunuk menilai Indonesia memerlukan transformasi baru untuk pendidikan Indonesia. Transformasi tersebut bukan hanya untuk calon guru saja. Namun juga untuk membuka mindset para guru yang ada sehingga bisa menjawab target Sustainable Development Goals (SDGs). Pada kesempatan yang sama, Ignasius menjelaskan mengenai peran penting FKIP dalam menyiapkan guru profesional di era digital. Menurutnya, pendidikan era digital ditandai dengan integrasi teknologi informasi dan komunikasi ke dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Para siswa dan mengajar bisa dengan mudah mengakses sumber pengetahuan yang melimpah. Kemudahan ini juga memberikan tantangan tersendiri. Terutama kemampuan daya inovasi dan kolaborasi yang dapat mnejadi modal penting dalam memajukan lembaga pendidikan. Hingga akhirnya bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan dapat bersaing secara global. “Cara pandang lama mengenai literasi dalam dunia pendidikan yaitu membaca, menulis dan menghitung tidak lagi memadai saat ini. Para pendidik dan siswa didik harus memaknai literasi baru di era digital yang mencakup tiga hal yakni literasi data, kemampuan membaca dan menganalisis menggunakan informasi di dunia digital, serta literasi teknologi,” tambah Ignasius. Adapun dalam pengukuhan itu, ada empat mahasiswa berprestasi yang mendapatkan penghargaan. Keempatnya aktif di berbagai bidang seperti olahraga, MC, hingga menelurkan karya buku. Bahkan adapula yang sukses memasukkan penelitiannya di jurnal Sinta 2. Terkait pengukuhan guru, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. berharap ribuan guru yang baru saja dikukuhkan mampu merespon tantangan kebutuhan zaman. Apalagi sudah ad abanyak bekal yang telah diberikan, baik itu materi maupun metodologi yang bisa digunakan saat mendidik nanti. Ia juga berterimakasih kepada Kemendikbud yang telah memberikan kepercayaan pada UMM. Utamanya pada FKIP Kampus Putih dalam upaya menyiapkan pendidik profesional masa depan. Sekaligus juga berkontribusi menyiapkan SDM yang unggul untuk memajukan bangsa Indonesia. Hal serupa juga disampaikan Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. Salah satu permasalahan Indonesia saat ini ialah lemahnya SDM. Maka perlu adanya guru kreatif, kritis, dan inovatif agar bisa melahirkan generasi penerus. Pun dengan skill kolaborasi untuk menghadapi zaman yang tidak pasti. (wil)

Fitness dan Gym Tanpa Personal Trainer? Begini Kata Dosen UMM

Olahraga fitness dan gym menjadi primadona belakangan ini. Selain bermanfaat untuk kesehatan, olahraga satu ini banyak diminati karena memberikan hasil yang siginifikan dalam membentuk tubuh. Bagi pemula, biasanya akan direkomendasikan menggunakan Personal Trainer (PT) untuk awal latihan. Sayangnya, harga pendampingan PT yang mahal membuat banyak orang akhirnya memilih untuk melakukan fitness sendiri. Kaprodi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis., Ph,D. meyampaikan bahwa hal ini tidak disarankan. Fitness dan gym memang memerlukan trainer untuk mengurangi kemungkinan cedera. Adapun fitness dan gym berbeda. Gym merupakan latihan menggunakan beban, sementara fitness lebih pada kebugaran yang dapat dilakukan tanpa beban. Walau ada perbedaan signifikan antara keduanya, namun tetap saja fitness membutuhkan PT terutama bagi pemula. “Personal trainer disini dapat membantu untuk memberikan pemahaman mengenai manfaat dan tujuan, pemberian dosis latihan dan resiko cedera yang kemungkinan terjadi. Pun dengan penanganan awal jika sewaktu-waktu terkena cedera,” jelasnya. Salah satu resiko cedera yang terjadi bagi pemula fitness dan gym tanpa PT adalah delayed onset muscle soreness (DOMS). Yaitu munculnya rasa nyeri setelah melakukan latihan. Ini biasanya terjadi 12-24 jam setelah berolahraga. Resiko cedera tersebut rentan terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai repetisi dan beban sesuai batas kemampuan. Apalagi biasanya pemula tidak sabar untuk bisa segera mendapatkan tubuh yang ideal hingga akhirnya memaksakan diri. “Fitness sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun dengan rentan usia berapapun. Bahkan lebih baik sudah dilakukan sejak masih kanak-kanak.  Seperti yang kita ketahui, anak-anak sekarang lekat  dengan teknologi yang membuat aktivitas fisiknya berkurang drastis,” tutur Dimas. Hal yang sama juga terjadi pada orang dewasa. Banyak masyarakat yang merasa telah cukup berolahraga lantaran aktivitas fisiknya tinggi. Sayangnya, persepsi tersebut tidak benar karena tubuh manusia membutuhkan maintenance yang jelas dan fitness memberikannya dengan baik. “Sedikit pesan untuk tenaga kesehatan maupun mahasiswa kesehatan. Tugas kita adalah memberikan edukasi ke masyarakat terkait hal mana yang salah dan mana yang benar dalam kesehatan. Sehingga kesalahpahaman tidak terjadi dan mereka sadar untuk menjaga kebugaran tubuhnya,” pungkasnya. (nia/wil)

Mahasiswa Kesos UMM Berdayakan Janda Desa Pandansari lewat Program PHP

Mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jalankan program Perempuan Hebat Pandansari (PHP) di Desa Pandansari. Mereka menggaet para perempuan rawan sosial dan ekonomi (PRSE) dan janda di sana selama satu bulan sejak awal Maret 2023 lalu. Salah satu pelatihannya yakni terkait pembuatan kue mochi. Terhitung ada puluhan peserta dari tujuh dusun yang berpartisipasi aktif. Koordinator tim Enggar Hikmatul menjelaskan bahwa sebagian besar PRSE di Desa Pandansari adalah mereka yang ditinggal suaminya. Timnya mencoba memberikan pelatihan skill agar para janda ini bisa lebih mandiri melalui pengolahan mochi. “Mochi dipilih karena melihat salah satu potensi Desa Pandansari, yakni susu sapi dan durian. Susu adalah bahan utama dalam pembuatan mochi, makanya kami menilai bahwa mochi akan sangat cocok dikembangkan di sini. Ditambah dengan durian yang bisa dijadikan isiannya,” jelasnya. Tidak hanya pengolahan, para janda juga diajari terkait branding produk. Hal itu agar mereka bisa sekaligus mencari dan mengembangkan pasar mochi yang sedang digeluti. Menurut Enggar, upaya timnya tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan bagi para janda saja, tapi juga menggerakkan masyarakat untuk mengembangkan potensi yang ada. Jika berlangsung dengan baik, usaha pembuatan mochi ini akan mampu mencapai pasar yang luas. Kegiatan PHP ini disambut baik oleh pemerintah desa. Salah satunya Kepala Desa Pandansari, bambang Riyanto. Ia sangat mengapresiasi dan antusias akan program tersebut. Apalagi sangat jarang ada program yang memberdayakan perempuan untuk berkarya. “Ini adalah kegiatan yang kreatif. Selain mendorong dan memacu para janda untuk terus berkarya dan menghidupi keluarga, aktivitas ini juga membuat mereka mendapatkan skill baru yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya,” tambahnya. Bambang, begitu ia kerap disapamenilai, jika produk ini bisa dikembangkan dan dilakukan secara kontinyu, ia yakin mochi buatan Desa Pandansari dapat dikenal oleh masyarakat luas. “Semoga dengan diadakannya pelatihan ini, dapat menggugah inovasi para masyarakat. Khususnya ibu-ibu muda dan PRSE,” ujarnya. Nanik, salah satu peserta, juga senang bisa turut aktif dalam pelatihan pembuatan produk mochi. Ada banyak pengetahuan yang ia dapat, baik itu proses pembuatan mochi maupun cara memasarkannya. Ia berencana untuk mendalami pengembangan mochi dan akan membuka usaha sendiri. Dengan begitu ia juga turut membuka lapangan kerja bagi warga desa. “Sebenarnya, pembuatan kue mochi ini sangat mudah dan tidak ribet. Bahannya juga mudah didapatkan di toko-toko terdekat,” ungkapnya mengakhiri. (*/wil)

PBA UMM Semarakkan Pembelajaran Bahasa Arab lewat Alepo

Festival mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini hadir lebih menarik. Menjadi tahun ke enam diadakan, Al-arabiya Festival Expo (Alepo) dilangsungkan pada 6-9 Maret 2023 dan diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua Pelaksana, Muhammad Zarfan Yamin menilai bahwa festival ini bukan hanya menyelenggarakan lomba, tapi juga menghadirkan sederet pembicara. Sehingga diharapkan Alepo mampu menjadi wadah kolaborasi untuk mendalami Bahasa Arab. Pun dengan meningkatkan semangat serta minat dalam pengembangan bahasa terkait. “Nama Alepo terinspirasi dari sebuah kota yang bernama serupa di Suriah. Kota ini memiliki sejarah tinggi dan kecemerlangan yang bisa dijadikan inspirasi. Apalagi dulu, kota ini juga telah mencapai kemaayhuran dan kemakmuran dalam bidang seni, ilmu pengetahuan dan sejarah Arab. Maka digarpakan festival ini juga menghasilkan hal yang sama,” tegasnya. Sederet acara yang ada di Alepo di antaranya talkshow, lomba tingkat pelajar hingga kompetisi antar mahasiswa di berbagai cabang lomba. Para peserta bersaing di beberapa cabang menarik seperti lomba debat bahasa arab, olimpiade bahasa arab, puisi, pidato, menyanyi hingga komentator yang suanya berlangaung dalam bahasa Arab. Lebih dari 270-an peserta memperebutkan juara. Adalun festival tahun ini mengambil tema visual yng lebih trendi. Yakni dengan menerapkan tema classic retro yang naik turun. Diharapkan, visual ini bisa lebih menyemarakkan lomba dan festival terkait. Menarikny, ada juga bazar yang menyediakan berbagai makanan karya anak-anak mahasiswa. Sehingga mereka bisa belajar berwirausaha dan mengembangkan jualannya. Meski menggunakan istilah festival dan kompetisi, panitia juga mengalokasikan waktu untuk hiburan. Seperti menghadirkan stand up comedian, Fajar Mukti dan Wawan Saktiawan dalam comedy show di akhir kegiatan. “Semoga Alepo dapat mengubah mindset belajar bahasa Arab yang seringkali dianggap sulit. Padahal belajar bahasa arab itu asyik, kekinian, dan bermanfaat. Kami juga berharap festival tahunan ini bisa mengharumkan nama besar PBA di kancah nasional, bahkan juga internasional,” pungkasnya. (*zak/wil)

Sukses Lewati Ujian Bahasa Inggris, Ribuan Mahasiswa Lulus FLSP UMM

Ribuan mahasiswa memadati Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengikuti gelar kelulusan (GK) Foreign Language for Specific Purpose (FLSP). Berbeda dengan wisuda, agenda yang dilaksanakan pada 8 Maret 2023  ini merupakan keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan proses belajar bahasa Inggris di UMM. Menariknya, tidak hanya penyerahan ijazah saja, mahasiswa juga dihibur dengan beragam penampilan dan sederet lomba. Mulai dari band, lomba menyanyi bahasa Inggris, menyanyi bahasa Mandarin, hingga story telling. Agenda itu juga diramaikan dengan hadirnya bazar yang terdiri dari unit bisnismaupun usaha para mahasiswa. Uniknya, para penjual dan pembeli diwajibkan menggunakan bahasa Inggris dalam proses jual-beli yang dilakukan. Hal itu menjadi kesempatan yang bagus untuk mempraktekkan bahasa Inggris para mahasiswa. GK FLSP tahun ini bertema ‘Grasp the Culture, Avoid Language Stutter’. Menurut ketua pelaksana, Roykhanan, tema ini dibuat untuk mendorong anak muda agar bisa berkomunikasi dengan baik. Utamanya melalui bahasa. Berbekal bahasa yang baik, komunikasi antar manusia akan lebih mudah =, meskipun berasal dari negara maupun wilayah yang berbeda. “Tidak hanya bahasa, mahasiswa UMM juga didorong untuk mempelajari budaya-budaya lain. Sehingga mereka juga bisa belajar toleransi dan memahami orang lain,” tambahnya. Turut hadir Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. untuk memberikan penghargaan bagi mereka yang mendapat nilai terbaik tingkat universitas. Syamsul, sapaannya, menegaskan bahwa Bahasa Inggris sangat penting karena merupakan bahasa Internasional. Tanpanya, mahasiswa akan mendapatkan kesulitaan, terlebih jika akan meneruskan atau mendapat beasiswa ke luar negeri. Adapun gelar kelulusan ini diikuti oleh mahasiswa angkatan 2021 UMM. Khusus untuk Fakultas Agama Islam, mereka adalah mahasiswa angkatan 2020. Para mahasiswanya ini sudah mengikuti satu tahun FLSP dan dinyatakan berhasil serta lulus. Sebelumnya, mereka juga diharuskan untuk mengikuti post test sebagai evaluasi dan melihat seberapa besar peningkatan yang dicapai. Terakhir, Wakil Rektor III Dr. Nur Subeki, M.T. juga mendorong mahasiswa Kampus Putih untuk menguasai bahasa Inggris. Apalagi di era yang penuh dengan kolaborasi. “Kalau kita tidak bsia berbahasa Inggris, tentu kolaborasi dengan pihak luar negeri akan tersendat atau bahkan tidak pernah terjalin. Maka, untuk menjembatani komunikasi di dunia internasional, bahas inggris memiliki peran yang penting,” katanya. (*/will)