SDGs UMM Langsungkan Konferensi Khusus Dukung Program Pemerintah

Ada empat pilar utama yang menjadi faktor pembangunan berkelanjutan sebuah negara. Di antaranya yakni sosial, ekonomi, lingkungan dan hukum serta tata kelola. Hal itu ditegaskan oleh Koordinator Tim Ahli SDG’s Nasional, Yanuar Nugroho, P.hD. dalam konferensi yang dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa SDG’s Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara yang dilangsungkan pada 9 Maret 2023 itu dihadiri ratusan mahasiswa dan pemuda dari berbagai daerah dan kampus. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada banyak sekali indikator SDG’s pada 2021 lalu, yakni skeitar 222 indikator. Dari laporan, ada lebih dari 63 persen yang telah dicapau. Sedangkan sisanya masih belum terlaksana dan memerlukan perhatian khusus serta percepatan agar kembali on track. Menurutnya, masalah utama tersendatnya pelaksanaan indikator tersebut ialah kurangnya akselerasi pembangunan. Arah pembangunan sudah benar, tapi dirasa kurang cepat. Utamanya pada aspek pendidikan. “Maka, sebagai anak-anak muda penerus bangsa, kalian jangan hanya menjadi penduudk di atsa pulau. Tapi jadilah masyarakat yang peduli dan berperan aktif,” katanya di depan ratusan mahasiswa. Yanuar, sapaannya, juga menekankan bahwa setiap delegasi harus memiliki perangai ilmiah yang digunakna untuk mencari data dan bukti. Ia juga mendorong agar UMM juga harus menjadi kampus SDG’s. Salah satunya dengan mensosialisasikan tentang SDG’s dan memulai perubahan untuk mendukungnya. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Dr. (HC) Priyo Iswanto, M.H. selaku eks Dubes Indonesia-Kolombia yang memberikan gambaran umum terkait SDG’s. Menurutnya, hal ini adalah awal mula menuju cita-cita yang diinginkan negara serta membuatnya lebih baik. Disampaikan Priyo, SDG’s memiliki 17 tujuan yang terdiri dari 169 target dan 222 indikator yang harus dibedah dalam forum konferensi. Bukan hanya itu, ia juga menekankan bahwa dengan adanya konferensi ini, diharapkan anak-anak muda bisa menghasilkan solusi dan saran. Utamanya dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di tengah masyarakat. “Konferensi SDG’s ini bukan hanya untuk didiskusikan saja, tetapi juga harus dilaksanakan. Kita tidak bisa hanya memberi solusi tanpa turun langsung ke masyarakat. Teman-teman harus berpikiran praktis yang nantinya mampu menghasiulkan ide-ide brilian. Jadi akan cocok dengan tagline SDG’s yaitu no one left behind,” pungkas Priyo. (nel/wil)
Tingkat Penelitian Tinggi, UMM Kembali Masuk Klaster Kampus Mandiri

Kuantitas dan kualitas penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bagus mengantarkannya menjadi kampus yang masuk dalam klaster mandiri se-nasional. Bersama perguruan tinggi negeri dan swasta terbaik lainnya, Kampus Putih membuktikan diri bahwa mereka mampu menjalankan Tridharma perguruan tinggi. Adapun predikat ini diterbitkan oleh Kemendikbud-Ristek pada 8 Maret 2023 lalu. Wakil Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si. bersyukur atas raihan tersebut. Ia menjelaskan ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar bisa mencapai klaster mandiri. Mulai dari jumlah riset dan dana riset selama tiga tahun terakhir, jumlah publikasi jurnal internasional dan nasional, bahkan juga jumlah buku yang disusun oleh para dosen. “Jadi dalam aspek ini UMM memang sudah menjadi klaster mandiri sejak 2013. Ini membuktikan bahwa penelitian dan pengabdian kami dinilai bagus dan mumpuni,” tegasnya. Meski demikian, Vina, sapaannya mengatakan bahwa masa pandemi tiga tahun ke belakang memberikan dampak yang signifikan. Apalagi saat itu para dosen dan peneliti tidak bsia turun langsung unutk riset dan laboratorium ditutup. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat para dosen UMM untuk terus berkarya dan memenuhi syarat untuk menjadi kampus mandiri. Menurutnya, dengan berbagai hasil penelitian ini, sivitas akademika bisa lebih mudah mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru. Predikat mandiri dari Kemendikbud-Ristek ini juga menjadi rekognisi yang baik bagi UMM. Vina juga sempat membeberkan strategi yang dilakukan DPPM UMM untuk bisa mencapai tingkat mandiri. Salah satunya dengan menggabung tim dosen senior dengan dosen junior. Dengan begitu, akan ada banyak timbal balik antara keduanya dalam menghasilkan hasil riset. Selain itu, hal ini dilakukan sebagai langkah regenerasi dosen yang akan purna tugas. “Kami bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) untuk mendampingi dosen yang kesulitan menulis. Bahkan ada beberapa pelatihan dan workshop sehingga mereka bisa lebih familiar dan lancar dalam menghasilkan buku maupun jurnal internasional serta nasional. Kami juga terus bersinergi dengan perguruan tinggi lain agar bisa memaksimalkan potensi masing-masing.,” katanya. Menariknya, UMM juga mengambil kebijakan terkait penelitian para dosen. Satu di antaranya yakni mendorong mereka untuk bekerjasama dengan pihak luar negeri dalam melangsungkna penelitian. Dengan begitu, program ini sejalan dengan visi UMM pada 2023 yakni mengembangkan internasionalisasi kampus. “Semoga klaster yang kita capai sejak 2013 ini bsia terus dipertahankan dan dikembangkan. Dosen muda harus terus bersemangat, pun juga dengan peneliti serta dosen senior yang harus memberikan pengalaman dan contoh. Sinergisitas keduanya akan memberikan hasil yang maksimal,”pungkasnya. (wil)
Pertamina Plumpang Kebakaran, Ini Kata Dosen UMM

Hingga saat ini, 19 orang meninggal, 49 luka-luka dan 1.085 warga mengungsi akibat kebakaran besar yang terjadi di kawasan Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara pada 3 Maret 2023 lalu. Pemukiman penduduk yang diperkirakan berada dalam radius 300 meter dari Depo Pertamina itu juga habis dilalap si jago merah. Dalam kunjungannya ke posko pengungsian pada Minggu (5/3), presiden Joko Widodo memberikan dua opsi solusi terkait permasalahan kebakaran maut itu. Adapun kedua opsi tersebut yaitu relokasi penduduk yang berada di sekitar Depo Pertamina Plumpang atau menggeser Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina Plumpang ke daerah reklamasi. Dari kedua opsi yang diberikan oleh Jokowi, beberapa pakar tata kota yang telah berpendapat memilih untuk melakukan relokasi warga setempat atau melakukan revitalisasi. Pendapat yang sama pun disampaikan oleh Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Amalia Nur Adibah, S.T., M.P.W.K. Amalia, panggilan akrabnya, menyampaikan dari aspek biaya, merelokasi masyarakat menjadi solusi yang jauh lebih murah. Apalagi melihat Depo Pertamina Plumpang sudah terinstalasi dengan fasilitas penunjang yang lengkap, salah satunya yakni telah tertanam pipa sedalam 5 km di kawasan sekitar. “Selain itu, lokasi Depo Pertamina Plumpang sudah sangat strategis karena dekat dengan pelabuhan. Pun dengan aksesnya yang mudah ke jalan tol sehingga memperlancar distribus BBM,” ungkap Amalia. Dosen asal Malang itu menambahkan bahwa lokasi Depo Pertamina Plumpang sudah sesuai karena direncanakan sejak pembangunan induk Jakarta tahun 1960. Memulai pembangunan pada tahun 1972, Depo Pertamina Plumpang sudah ditetapkan di kawasan tanah merah. Dulu, kawasan tersebut jauh dari pemukiman penduduk dan masih berbentuk rawa. Namun seiring pertumbuhan penduduk di Jakarta, kawasan disekitar depo mulai padat. “Bisa dikatakan rumah penduduk sangat dekat dengan kawasan tersebut karena posisi tabung minyak dengan tembok pembatas tidak sampai 20 meter. Selain itu, yang membuat kebakaran semakin besar dan susah melakukan evakuasi adalah bangunan penduduk yang saling berhimpitan,” jelas Amalia. Bangunan vital seperti Depo Pertamina Plumpang sebaiknya memiliki jarak aman atau buffer zone 500 meter sampai 1 km. Buffer zone disini sangat penting karena selain untuk mencegah radiasi yang ditimbulkan dari tabung minyak, juga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti peristiwa kebakaran ini. “Berdasarkan peraturan yang ada, jarak aman antar rumah atau pemukiman adalah 70/30. 70% kawasan terbangun dan 30% lahan kosong untuk beraktivitas,” terangnya. Menurut Amalia, pengelolaan tata ruang di sekitar Depo Pertamina Plumpang masih lemah. Dalam hal ini, banyak pihak yang bertanggung jawab. Tidak hanya pihak Pertamina saja, pihak pemerintah juga kurang tegas dalam menyikapi peraturan yang sudah dibuat. “Berdasarkan yang saya baca, rencana tata ruang wilayah kawasan tersebut mengalami perubahan fungsi guna lahan. Di mana awalnya merupakan zona hijau kemudian berubah menjadi kuning atau artinya kawasan pemukiman,” ujarnya. Terakhir Amalia menyampaikan jika relokasi ini berhasil, pihak pertamina dan juga pemerintah harus memperbaiki kembali tata wilayah di kawasan tersebut. Keberhasilan dari penataan Depo Pertamina Plumpang nantinya akan menjadi role model bagi kawasan vital sejenis di Indonesia seperti perusahan penghasil tekstil atau penghasil garam. “Seperti yang diketahui bahwa Depo Pertamina Plumpang ini merupakan salah satu aset strategis nasional yang dilindungi dan diperhatikan khusus oleh pemerintah. Oleh karena itu, baik pemerintah pusat, daerah dan Pertamina harus bekerja sama merelokasi warga ke lokasi baru dengan menyediakan berbagai fasilitas. Pun dengan pertimbangan peraturan yang ada serta solusi yang adil,” pungkas Amalia mengakhiri. (zak/wil)
Dosen UMM: Begini Langkah Ajarkan Bahasa Inggris ke Balita

Dewasa ini, banyak orang tua yang mendorong anaknya untuk belajar bahasa Inggris di usia lima tahun ke bawah atau golden age. Jika bersekolah, anak-anak tersebut akan masuk ke dalam kelas toddlers atau pre-school. Fenomena ini menarik perhatian Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed. Menurutnya, pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak merupakan pilihan dari masing-masing orang tua. Meski demikian, ada beberapa aspek yang tetap perlu diperhatikan. “Pertama, memastikan bahwa anak telah memiliki paling tidak satu bahasa yang dipahami dengan baik. Misalnya saja bahasa Indonesia yang digunakan di berbagai dalam kegiatan pembelajaran atau bahasa resmi di sekolah maupun lingkungan,” jelasnya. Rina melanjutkan, ketika anak sudah memiliki satu bahasa, maka ia akan lebih mudah menghubungkan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Namun ketika anak tersebut tidak mengetahui satu bahasa dengan baik, ia menyarankan untuk tidak memaksakan anak mempelajari bahasa lain. “Kedua, orang tua juga harus mengetahui metode apa yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris tersebut. Pada masa golden age, anak dapat belajar bahasa Inggris dengan berbagai macam aktivitas. Seperti misalnya menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Mereka juga harus belajar dengan senang, bahagia dan dapat menikmati prosesnya,” urainya. Belajar bahasa Inggris, menurut Rina tidak hanya dapat dilakukan dengan membaca dan menulis. Kedua kegiatan ini justru dapat menyebabkan kebingungan berbahasa bahkan frustasi pada anak. Apalagi anak-anak memiliki tingkat konsentrasi yang tergolong pendek, sehingga guru harus memperhatikan kegiatan-kegiatan apa yang bisa mengakomodir. Rina berharap orang tua sebaiknya tidak memberikan target-target khusus kepada anak, karena fungsi dari pembelajaran bahasa Inggris pada dasarnya hanya untuk pengenalan. Anak-anak juga harus diberi kesempatan untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan nyata, terlepas dari benar atau salahnya. “Namun apabila orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang bilingual, maka orang tua pun harus berperan dalam hal ini. Misalnya, orang tua membuat satu aturan kepada anaknya bahwa ketika anak ingin berbicara dengan ibunya maka ia harus berbahasa Indonesia, namun apabila ia ingin berbicara dengan ayahnya maka ia harus berbahasa Inggris ataupun sebaliknya,” tuturnya. Sebagai seorang yang meneliti pembelajaran bahasa Inggris, Rina menyarankan bahwa anak-anak hendaknya diberikan kesempatan untuk belajar bahasa Inggris secara natural, bukan dalam paksaan. “Jangan sampai anak belajar bahasa Inggris dengan dibebani banyak hal. Tidak ada salahnya mereka belajar bahasa baru sejak dini. Hal itu justru akan memberikan banyak manfaat, seperti misalnya saling menghargai budaya. Ketika mereka belajar bahas Inggris, mereka secara tidak langsung juga turut belajar budaya tersebut,” katanya mengakhiri. (dev/wil)
Ilmu Pemerintahan UMM Kini Resmi Miliki Kelas Profesional Analis Politik

Dalam rangka mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul, Program Studi Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) luncurkan dua Center of Excellence (CoE). Keduanya adalah kelas analis pemerintahan politik dan kelas pemerintahan desa. Pada prosesnya, dua kelas ini akan menggaet berbagai dunia usaha dan dunia industri (DUDI) seperti PT. Sinergi Visi Utama Yogyakarta. Pun dengan sederet pemerintah seperti Desa Tulungrejo, Kota Batu dan lainnya. Adapun program yang diluncurkan pada 7 Maret 2023 lalu ini juga bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Penanggungjawab program, Ali Roziqin, S.AP., MPA. menjelaskan bahwa peserta dari mahasiswa akan terjun selama kurang lebih enam bulan. Selama itu, diharapkan mereka bisa memperkuat praktek dan skill teknis mengenai pemerintahan politik dan desa. Mulai dari administrasi hingga menjalankan program di berbagai desa dan tempat. “Kelas ini juga mendatangkan para praktisi seperti dari lembaga konsultas politik dan pemerintahan. Pun dengan kepala serta perangkat desa yang akan menjelaskan bagaimana keadaan dan menjalankan sebuah pemerintahan. Sejauh ini ada lebih dari 10 desa di Magetan dan Batu serta sederet perusahaan yang sudah digaet,” kata dosen sekaligus kepala laboratorium IP UMM. Kelas ini nantinya akan mendatangkan para praktisi misalnya dari lembaga konsultan politik dan pemerintahan untuk kelas Analis pemerintahan dan politik serta kepala Desa dan perangkat desa untuk kelas Analis pemerintahan desa. “sejuah ini program ini telah bekerjasama dengan berbagai macam konsultan seperti PT. Sinergy Yogyakarta dan 4 Desa di Kota Batu dan 9 desa di Magetan, “terang Ali. Dua CoE ini disambut baik oleh para mitra. Salah satunya Suliono selaku kepala desa Tulungrejo. Ia menilai bahwa sinergisitas seperti ini dapat saling memnguntungkan. Mahasiswa bisa mendapatkan ilmu praktis tentan gpengelolaan desa. Sementara pihaknya bisa mendapatkan bantuan tenaga serta pikiran fresh dari anak-anak muda. “Dengan begitu, kolaborasi ini dapat mengasah dan menambah skill mahasiswa. Pun dengan pelaksanaan program pembeberdayaan masyarakat dan pembangunan ekonomi desa,” tegasnya. Adapun saat ini, sudah ada puluhan mahasiswa yang lolos seleksi. Mereka merupakan mahasiswa angkatan 2020 yang sudah dibekali dengan berbagai teri dan skill. Kemudian diasah melalui CoE tersebut. Program ini juga diapresiasi oleh Dekan FISIP UMM, Prof. Dr.Muslimin Machmud, M.Si. Ia optimis semua proses CoE akan berlajan dengan baik dan sukses. Menurutnya, adanya teknologi dan perkembangan literasi berdampak pada meanisme pasar kerja. Maka kelas unggulan ini diharapkan bisa menjawab tantangan itu. “Mahasiswa harus memanfaatkan kelas ini untuk memperoleh skill secara praktis agar bisa menjadi generasi peenang dan unggul di tengah ekrasnya persaingan kerja,” pungkasnya. (*/wil)
Bermain dan Belajar Asyik di Edupark FPP UMM

Mengenal flora dan fauna secara langsung menjadi salah satu kegiatan belajar yang mengasyikkan. Tak jarang suara riuh murid taman kanak-kanak hingga sekolah dasar sering kali terdengar saat berkunjung ke Edupark Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hal itu tidak lepas dari banyaknya aspek yang bisa dipelajari di sana. Mulai dari bagaimana merawat sapi, menanam, hingga berinteraksid engan unggas dan lainnya. Manajer Edupark Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc. mengatakan awalnya Edupark UMM merupakan laboratorium FPP. Biasanya digunakan sebagai tempat praktikum para mahasiswa. Namun sejak tahun 2019, Edupark mulai menerima kunjungan dari skeolah-sekolah yang mengadakan outing class. Hal itu menjadi langkah untuk memperluas kebermanfaatan yang direncanakan. “Pihak sekolah atau anak-anak tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Hanya dengan membayar biaya masuk 20.000 per orang, pengunjung yang datang dapat berwisata sambil belajar di empat area yang berbeda. Selain itu, pengunjung juga akan mendapatkan souvenir gratis yang bisa dibawa pulang,” ungkap Riza. Lebih lanjut, Riza menjelaskan keempat area di Edupark UMM terdiri dari area agrofarm, animal farm, fish edupark dan UMM Bakery. Pengunjung atau anak-anak sekolah yang melakukan kunjungan akan diajak belajar tentang budidaya jamur, hidroponik, melihat proses pembuatan nata de coco serta melihat koleksi tanaman hias di green house. Selain itu, pengunjung diajak melihat langsung berbagai hewan ternak dan cara merawatnya. Misalnya seperti domba, sapi, dan kambing. Bahkan juga ayam petelur close house hingga proses pembuatan gas dari kotoran sapi (biogas). “Sedangkan di area fish edupark, kami ajak pengunjung untuk melihat ikan lele, nila, patin, koi, dan bagaimana budidayanya. Jadi selain menyenangkan, anak-anak juga mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru,” katanya. Terakhir, yakni area UMM Bakery. Di sana, pengunjung dapat melihat proses panjang pembuatan roti. Menariknya, proses tersebut dilakukan dengan cara yang lebih modern dan menerapkan ilmu teknologi pangan. Pria asal Bojonegoro itu menyampaikan bahwa UMM menjadi satu-satunya kampus di Malang yang memiliki lab terpadu pertanian, peternakan dan perikanan di satu lokasi yang dijadikan sebagai edupark. Sejauh ini, Edupark UMM banyak diketahui orang melalui mulut ke mulut. Oleh karena itu, banyak pengunjung yang datang dari sekolah-sekolah. Respon para pengunjung juga positif karena anak-anak bisa belajar dengan suasana yang lebih menyenangkan. “Alhamdulillah, banyak sekolah yang terkesan dengan Edupark UMM. Guru-guru merasa sangat terbantu dalam proses belajar-mengajar anak-anak didiknya. Terutama terkait empat area yang disediakan Edupark UMM. Bahkan ada beberapa sekolah yang setiap semesternya selalu melakukan kunjungan kembali,” ungkap Riza. Terakhir, ia berharap Edupark FPP UMM ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. Bukan hanya bagi anak-anak sekolah saja, tapi juga bagi mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang pertanian dan peternakan sekaligus pembuatan roti. “Memang belum kami launchign secara resmi, tapi insya Allah dalam waktu dekat. Kami juga akna menambahkan beberapa fasilitas yang memudahkan agar semakin menarik untuk didatangi,” pungkasnya. (zak/wil)
Guru Besar UMM Tanggapi Masuk Sekolah Jam 5 Pagi di NTT

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) menerapkan peraturan siswa SMA sederajat untuk masuk sekolah pukul 05.00 WITA. Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) menyampaikan bahwa peraturan yang ditetapkan sejak akhir Februari itu dinilai mengajarkan banyak hal positif kepada siswa. Hal ini juga menjadi salah satu upaya memperbaiki sumber daya manusia (SDM) di NTT. Hal itu menarik perhatian Prof. H. Akhsanul In’am, Ph.D. selaku dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). ia berpendapat bahwa kebijakan tersebut sudah bagus, akan tetapi tidak tepat. Ia mengatakan bahwa mayoritas masyarakat NTT adalah non-muslim dan beberapa di antaranya tidak terbiasa bangun subuh seperti para muslim. Hal ini merupakan kebiasaan dan akan sulit untuk diubah dalam waktu yang relatif singkat. “Jika hal ini diterapkan pada seorang muslim mungkin tidak menjadi masalah, ya. Tapi di NTT kan banyak non-muslim juga sehingga menurut saya toleransi juga harus dipikirkan,” katanya. In’am menilai kebijakan ini juga dapat membahayakan para siswa. Lantaran keadaan yang masih gelap gulita, kecelakaan tentu akan lebih mungkin terjadi. Pada rentang pukul 05.00 – 05.30 WITA, banyak siswa yang masih kesulitan dalam mendapat transportasi umum ke sekolah sehingga kebijakan ini tidak akna begitu efektif. Idealnya, pelajaran dapat dimulai pada pukul 06.30 pagi karena pada saat itu siswa telah siap menerima pengetahuan baru serta langit sudah terang. Namun jika tetap ingin masuk pukul 05.30 WITA, In’am berpendapat bahwa pemerintah provinsi perlu memberlakukan jam malam. Hal ini agar para siswa tidak keluyuran di kafe dan sejenisnya dan dapat bangun lebih segar di pagi harinya. Selain itu, membangun asrama untuk siswa juga bisa menjadi solusi penting. Sehingga mereka lebih aman, tertib da dapt mengikuti peraturan yang sudah diterapkan. “Jika kebijakan masuk jam 05.30 WITA disandingkan dengan asrama, saya kira akan bisa berjalam lebih efektif dan baik,” tandasnya. Namun, menurutnya ada banyak solusi lain yang bisa ditempuh jika ingin memperbaiki dan mencetak SDM yang berkualitas. Beberapa diantaranya yakni dengan memaksimalkan potensi masing-masing siswa dengan berbagai program, memberikan perhatian lebih, hingga apresiasi tinggi bagi mereka yang berprestasi. Pun dengan pemberian beasiswa maupun fasilitas yang lebih mumpuni sehingga para siswa lebih bersemangat dalam belajar. “Di beberapa negara, para siswa diberikan fasilitas yan gbaik sheingga mampu memaksimalkan potensi. Baik mereka yang baik dalam akademik maupun non akademik. Hal itu tentu memudahkan mereka untuk berkarya dan menumbuhkan semangat belajar,” pungkasnya. (dev/wil)
Beasiswa Talenta Unggul Maba UMM, Potongan Kuliah hingga Lulus

Berbagai beasiswa menarik diberikan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya beasiswa talenta unggul yang memungkinkan mahasiswa baru mendapatkan potongan SPP sampai lulus semester delapan. Selain itu, skema ini juga memberikan kesempatan bagi penerimanya untuk ikut di berbagai kegiatan kepemimpinan dan peningkatan skill selama berkuliah di UMM. Nurudin, Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM mengatakan bahwa semua calon mahasiswa baru punya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa talenta unggul. Adapun calon mahasiswa Fakultas Kedokteran akan diberlakukan aturan tersendiri yang sudah disiapkan. Nantinya, penerima beasiswa akan mendapatkan potongan SPP dari awal kuliah sampai nanti semester delapan. Potongannya juga bervariasi yakni 25-75% tiap semesternya. Meski begitu, mereka juga diharuskan untuk memiliki indek prestasi (IP) yang stabil, yakni di atas 3,80 tiap semester. Hal itu dimaksudkan agar para mahasiswa yang menerima punya tanggungjawab dan usaha keras untuk mempertahankan nilai. Selain itu, mereka juga akan mendapatkan bebas biaya program Center of Excellence (CoE) yang melahirkan SDM yang siap bekerja. Pun dengan program kepemimpinan yang bisa mereka ikuti secara gratis, bahkan juga untuk kursus bahasa. “Adapun beasiswa ini terbagi menjadi dua skema, yakni lewat jalur akademik dan non akademik. Untuk akademik, calon mahasiswa mendaftar menggunakan rata rata nilai raport 80. Sementara untuk non akademik, para pendaftar bisa menggunakan sertifikat atau bukti lain yang memperlihatkan keaktifan di olahraga, organisasi, kepemimpinan, sosial dan lainnya. Misalnya saja sertifikat hafiz sepuluh juz atau juara kompetisi pencak silat,” kata Nurudin. Menariknya, jalur non akademik juga bisa dicoba oleh para content creator. Adapun untuk youtuber harus memiliki subscriber sebanyak 5.000, sementara mereka yang aktif di Instagram minimal memiliki 10.000 follower. Nurudin mengatakan bahwa hal ini menjadi upaya UMM untuk memberikan pengakuan bagi mereka yang punya karya. “Terutama bagi mereka yang aktif dalam membuat konten kreatif, edukatif, dan positif. Adapun pendaftaran jalur prestasi ini akan dibuka hingga 8 Juni 2023 mendatang. Tiap awal bulan akan langsung diumumkan siapa saja yang lolos beasiswa dan jalur ini. Tahun lalu ada 3.709 pendaftar yang terdiri dari 3.273 jalur akademik dan 432 non akademik,” tambahnya. Selain beasiswa talenta unggul, UMM juga membuka beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa yatim hingga potongan untuk alumni sekolah Muhammadiyah. Pun dengan beasiswa ulama yakni Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT), beasiswa saudara kandung, dan lain sebagainya. (wil)
Prodi Bahasa Inggris UMM Kini Punya Kelas Profesional Perhotelan

Demi mendukung Indonesia emas 2045, berbagai Center of Excellence (CoE) sudah dihadirkan oleh Universiats Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satu yang menarik adalah CoE English for Hospitality garapan Prodi Bahasa Inggris yang kini menggaet sederet hotel bertaraf nasional dan internasional. Beberapa di antaranya Hotel Aston Inn Batu, Hotel Samara Batu, Hotel Onsen Batu dan lainnya. Adapun program ini sudah dibuka sejak Februari 2023 ini. Menariknya, pembukaan program CoE itu juga diramaikan dengan kuliah perdana yang diisi oleh Rocky, general manager Hotel Aston Inn Batu. Di hadapan para peserta CoE, ia menceritakan kisa perjuangannya. Mulai dari kisah perantauannya ke Dubai, hingga sekarang menempati posisi sebgaai general manager. “Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Cobalah hal baru agar mengerti banyak hal. Akan ada banyak sekali pengalaman yang sayang jika dilewatkan,” tegasnya. Hadirnya CoE English for Hospitality juga menjadi bukti nyata keseriusan prodi Bahasa Inggris untuk mencetak generasi unggul yang memahami dunia hosptality. Di sisi lain, Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. menegaskan bahwa CoE ini bertujuan mempersiapkan mahasiswa untuk bersaing di kompetisi kerja. Dengan begitu, ketika mereka lulus, akan ada banyak pekerjaan strategis yang bisa dimasuki. Apalagi dengan berbagai soft skill dan hardskill yang didapat selama proses CoE. “Bidang perhotelan adalah bdiang yang strategis. Jika mampu memanfaatkan kesempatan itu, saya yakin mahasiswa mampu memiliki karir yang moncer. Apalagi ditunjang dengan kemampuan ahasa inggris yang sudah dipelajari di perkualiahan,” katanya. Lebih lanjut, program ini juga mendukung pencanangan program kelulusan tepat waktu (KTW) UMM. Yakni memepersingkat studi mahasiswa dengan kebijakan konversi nilai mata kuliah. Hal itu membuat tingginya mahasiswa yang mendaftar program ini. Namun, hanya ada 30-40an mahasiswa yang diterima karena berbagai pertimbangan. Salah satu peserta yang diterima adalah Bella Thalita. Ia bersyukur bisa terpilih dan tidak sabar untuk mengikuti berbagai rangkaiannya. Apalagi dengan sederet praktek yang bsia dilakukan, sehingga ia tidak hanya mendapatkan toeri semata. “Dengan bekal ini, saya yakin bsia bersaing di dunia kerja nanti. Pun dengan ketepatan dalam hal kelulusan kuliah,” pungkasnya. (wil)
Ini Kata Dosen UMM tentang Pro Kontra Childfree

Istilah childfree akhir-akhir ini banyak dibicarakan oleh masyarakat. Adapun childfree merupakan keputusan pasangan untuk tidak mempunyai anak atau keturunan. Hal itu dijelaskan oleh Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si selaku Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dilihat dari konsep modern, menurutnya, childfree biasanya selaras dengan kebijakan negara. Misalnya kebijakan negara di mana keluarga hanya boleh memiliki satu anak. Pun dengan negara yang memiliki harga kebutuhan yang tinggi tentu akan mempengaruhi keputusan pasangan. “Pasangan yang memilih untuk childfree berpikiran bahwa anak akan membebani secara ekonomi. Mengurus anak juga akan membebani secara waktu, apalagi jika kedua pasangan sama-sama bekerja di luar rumah. Kika hal ini diadopsi oleh negara-negara yang punya muslim yang banyak, tentu akan bertentangan dari konsep Islam. Kedudukan anak di dalam Islam adalah sebagai amanah yang diberikan Allah kepada hambaNya,” urainya. Vina, sapaannya, mengungkapkan bahwa anak juga dinilai sebagai sebuah anugerah. Sehingga orangtua harus merawat dan membesarkannya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa anak juga dapat menjadi ujian bagi orang tua. Hal ini sebenarnya tergantung bagaimana orang tua mampu merawat dan menyelesaikan ujian-ujian itu. Anak juga merupakan penerus generasi, karenanya idealisme childfree jika terus berkembang dapat mempengaruhi kuantitas generasi di masa yang akan datang. “Misalnya saja, ada 125 juta pasangan. Satu pasangan berpikir bahwa hanya dia dan pasangannya saja yang memilih untuk childfree, namun ternyata banyak pasangan lain yang berpikiran hal yang sama. Maka jumlah pasangan childfree makin banyak dan menyebabkan penerus generasi berkurang,” paparnya. Di Indonesia sendiri, mayoritas pasangan masih banyak yang ingin memiliki keluarga dan mempunyai anak. Tetapi di sisi lain, menurut Vina, sebagai makhluk yang berelasi, manusia harus saling menghargai keputusan orang lain. “Dalam kehidupan sehari-sehari kita harus menghargai keputusan mereka, namun kita juga bisa kembali kepada konsep Islam. Jika memang bisa punya anak, kenapa tidak memilikinya. Karena Allah menjanjikan pahala dan anugerah yang berlimpah bagi orang tua dan itu harus dipercaya,” tutupnya. (nov/wil)