Atdikbud KBRI Tiongkok Yakini CoE UMM Memikat bagi Industri dan Pendidikan Tiongkok

Pada era 1980-1990an Tiongkok pernah mengahadapi krisis besar-besaran. Dalam menghadapi hal itu, pemerintah Tiongkok mempersiapkan pendidikan sebagai pondasi membangun negeri. Hal tersebut diucapkan oleh Yudil Chatim SKM., M.Ed selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Republik Rakyat Tiongkok di Beijing pada kegiatan Sharing and Inspiring Session Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara ini dilaksanakan pada awal Oktober lalu bertempat di Sky Rooftop Rayz Hotel UMM. Yudil, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Tiongkok bisa semaju sekarang karena meletakkan pendidikan sebagai pondasi. Sekilas sejarah menyatakan pada periode krisis, negeri tirai bambu ini sangat serius dalam bidang pendidikan yang diatur dengan detail dari pendidikan sekolah dasar hingga universitas. Pemerintah juga memberikan beasiswa bagi para generasi penerusnya. Bahkan adapula sebuah sistem jaminan bagi setiap lulusan sarjana. “Setiap lulusan sarjana harus siap ditempatkan oleh univeritas. Kemudian akan ada evaluasi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan yang mengirimkan. Jika kinerjanya kurang oke, akan diadakan pembekalan ulang atau penggantian kinerja,” ucap pria asli Padang ini. Lulusan Huazhong Normal University, Wuhan ini mengatakan bahwa UMM memiliki potensi yang besar untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi yang ada di Tiongkok. Terdapat sebelas universitas yang membuka pogram studi Bahasa Indonesia. Ia melihat Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) UMM ini memiliki potensi yang strategis. Selain itu, program Center of Excellence (CoE) juga memiliki daya tarik tersendiri untuk bsia dikembangkan bersama lembaga pendidikan tinggi di Tiongkok. “Tentunya saya sangat mendukung agar UMM bisa menjlain kolaborasi dengan pihak di Tiongkok. Saya akan siap menyampaikan hal-hal yang bisa dikomunikasikan dengan univesitas dan industri di sana,” ujarnya. Sementara itu dr. Ivan Rovian, M.Kp. selaku Ketua Bagian Umum Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII Jawa Timur mengatakan bahwa UMM memiliki program yang luar biasa yakni CoE. Melalui program ini, UMM benar-benar memperisapkan lulusan yang siap bekerja. Dalam rangka meningkatkan kualitas, menurutnya kerjasama internasional menjadi hal yang utama. Apalagi dengan negara seperti Tiongkok yang banyak memiliki kelebihan. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memaparkan bahwa UMM telah memiliki visi untuk bisa menghadapi dan menyambut Indonesia emas 2045. Salah satunya melalui Center for Future of Work (CFW) yang diimplementasikan secara langsung dengan CoE. Program ini sudah tersedia di setiap jurusan yang ada di Kampus Putih. Selain itu, ada juga BIPA UMM yang siap mensupport pembelajaran Bahas Indoensia di Tiongkok. Ada beberapa aspek yang bisa dikembangkan antara UMM dan Industri di Tiongkok. Seperti misalnya sekolah PLTS yang bisa mengisi SDM dengan kualifikasi mumpuni serta mampu membantu memberikan supply energi. Pun dengan seklah welding inspector yang bisa berkontribusi di dunia industri serta CoE perhiasan dan mineral yang memiliki peluang menjanjikan. Ada lebih dari 40 CoE di UMM yang siap memberikan karya dan kontribusinya. “Harapannya dengan kehadiran Pak Yudil ini, upaya UMM untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi ataupun perusahaan bisa menemukan titik terang baik itu CoE, BIPA, maupun prodi-prodi yang lain. Tujuannya tentu untuk menambah wawasan atapun saling bertukar ilmu,” tegasnya. (haq/wil)
Lebih Terjangkau, Jamu Herbal Cair untuk Ternak Ciptaan Dosen UMM

Guna mewujudkan hasil ternak yang memuaskan, Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan produk jamu herbal. Produk ini telah disebarkan ke berbagai Komunitas Pesantren Teknologi Tempat Guna (TTG) dan peternak kecil dan skala sedang serta koperasi. Menurut Wahyu Widodo, salah satu anggota tim mengatakan bahwa produk jamu herbal ini memiliki harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan bubuk. Meski lebih terjangkau, mutu produksinya juga tidak kalah dengan yang lain. Wahyu, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa produk ini sengaja dibuat karena jamu herbal untuk ternak sangat mahal karena adanya pandemi beberapa waktu lalu. “Selain itu, jamu ini juga sangat efektif untuk mengatasi penyakit mulut dan kuku (PMK) hewan ternak. Utamanya dalam proses penyembuhan sapi perah yang nampak gerhasil. Produk bubuk dan jamu herbal siyuna ini bisa digunakan untuk unggas maupun ruminan,” tambahnya. Di sisi lain, menurut Imbang Dwi Rahayu selaku dosen UMM menjelaskan bahwa jamu herbal mengandung antibakteri alami, yaitu senyawa aktif dalam tumbuhan yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Selain itu juga berfungsi untuk merusak membran sel pathogen dan Modifikasi permukaan sel-sel patogen, mempengaruhi sifat hidrofobik, sehingga menurunkan kapasitas keganasan. Pun dengan upaya merangsang sistem kekebalan tubuh, melindungi mukosa usus, serta meningkatkan pertumbuhan bakteri yang menguntungkan. Adapun jamu herbal organic untuk ternak dengan Merek Siyuna ini telah berhasil memberikan harapan baru untuk ternak sehat, baik dalam meningkatkan produktivitas. Utamanya yang berupa telur dan daging serta memberikan kenaikan produksi susu. Menariknya, program PPUPIK ini juga mendorong terbentuknya kerjasama baik penelitian maupun pemasaran dalam bidang telur, daging, hingga sapi perah Beberapa wilayah yang sudah dikenalkan produk jamu herbal Siyuna di antaranya Malang Raya, Kabupaten Blitar, Pandaan, Pasuruan, Probolinggo hingga Daerah Bojonegoro. Selain itu khusus untuk ayam kampung, telah dibentuk outlet-outlet ayam kampung sehat. Inovasi produk cair yang menjadi produk baru dan unggul telah disosialisasikan sejak Oktober ini. Bahkan juga sudah merintis kerjasama dengan Kube Pengembangan Sapi Perah (PSP), CV Maju Mapan Desa Kemiri Kecamatan Jabung, dan sederet lainnya. Hal itu dilakukan untuk melebarkan jangkauan pemasaran dari jamu herbal ini sekaligus menyebarkan manfaat yang dikandungnya. Secara khusus program ini juga melibatkan maahasiswa baik untuk Praktek Usaha Peternakan (PUP), Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta mahasiwa yang berbais Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Adapun tim itu diketuai oleh Adi Sutanto dan diisi oleh Wahyu Widodo sebagai ahli pakan, Imbang Dwi Rahayu, Tri Sakti Handayani, dan Aprilia Devi Anggraeni. (wil)
Lecturer Series UMM: Kaji Teknologi Transportasi hingga Gangguan Jiwa

Dalam menjalankan sebuah perusahaan, Ehime Toyota memiliki misi untuk membahagiakan masyarakat dan orang-orang yang terlibat dalam perusahaannya. Kalimat tersebut di sampaikan oleh Direktur Ehime Toyota, Hidekazu Futagami di seminar Multiculturalism for the Human Development in Asian Community. Kegitan yang digelar oleh Center For Asian Studies Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dilaksanakan pada Rabu (12/10) lalu di Teater Dome UMM. Lebih lanjut, Hidekazu sapaannya menjelaskan bahwa dalam rangka menebar kebahagiaan kepada sesama, Ehime Toyota telah melakukan berbagai upaya sosial. Salah satunya melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Tak terbatas di Jepang saja, CSR ini juga dilakukan di berbagai negara yang bekerja sama dengan Ehime Toyota. Bantuan sosial yang diberikan cukup beragam, hal ini juga disesuaikan dengan kebutuhan daerah yang akan dituju. “Kami telah bekerja sama dengan Indonesia sejak tahun 2008 dan hal ini akan terus berlanjut kedepannya. Dalam perjalanannya, kami telah melakukan berbagai kegiatan sosial di Indonesia. Salah satunya adalah pemberian kendaraan darurat sebanyak 208 unit ke 20 kota madya yang ada di Indonesia. Kendaraan darurat ini meliputi ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Hal ini kami lakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di beberapa kabupaten terpecil di Indonesia,” terangnya. Meskipun sekarang sudah terealisasikan dengan baik, namun Hidekazu mengatakan bahwa program ini pada awalnya memiliki banyak masalah. Satu di antaranya adalah masyarakat tidak dapat menggunakan kendaraan darurat dengan baik. Kasus lain yang sangat menyedihkan adalah meninggalnya salah satu teman Hidekazu di Bantaeng Sulawesi Selatan akibat kendaraan yang tidak terawat dengan baik. “Jujur pada awalnya saya ingin menyerah, namun saya percaya masyarakat Indonesia dapat berkembang. Oleh karenanya kami melakukan pelatihan penggunaan kendaraan darurat kepada masyarakat. Selain itu kami juga mengasah kemampuan mekanik masyarakat untuk merawat kendaraan darurat kedepannya. Berkat sistem kesehatan darurat ini, kesejahteraan masyarakat di kota madya meningkat,” ujarnya. Dalam menghadapi masalah yang besar seperti itu, Hidekazu menjelaskan bahwa para mahasiswa harus menerapkan prinsip Kaisen. Prinsip ini memuat empat cara yaitu Plan, Do, Cek, dan Action (PDCA). Jadi dalam penerapannya, dalam menghadapi sebuah masalah para mahasiswa dituntut untuk berpikir, menyampaikan pendapat, mengambil tindakan, dan melakukan evaluasi. “Hal ini harus dilatih secara berulang agar kita dapat menghadapi masalah dengan lebih baik lagi,” kata Hidekazu. Sementara itu, paparan menarik juga disampaikan oleh pemateri lain yakni Muhamad Salis Yuniardi, Ph.D. ia menjelaskan mengenai persepsi gangguan jiwa di berbagai negara, penyebab, serta cara penanganannya. Adapun persepsi orang normal di berbagai negara sangat berbeda. Tergantung pada aturan dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat sekitar. “Orang yang dianggap normal adalah mereka yang tidak menyimpang tetapi juga tidak berlebihan atau fanatik dalam menaati ketentuan masyarakat,” tambahnya. Kalau berdasarkan jumlah IQ, orang yang tidak normal biasanya di bawah IQ 90 atau di atas IQ 120. Namun hal ini bisa jadi sebuah masalah jika dipakai sebagai satu-satunya pengukuran. Kriteria kedua yakni disability atau disfusi yaitu ketidakmampuan untuk bekerja karena alkohol, depresi dan gangguan seksual. Adapula yang ketiga yakni jika orang tersebut melanggar norma seperti antisosial personality seperti psikopat atau pedofil. Salis, sapaan akrabnya juga mengatakan bahwa gangguan mental di suatu tempat bisa jadi bukan gangguan mental di tempat lainnya. Tergantung bagaimana masyarakat mendefinisikan gangguan mental. Pun dengan standar bahagia di masing-masing negara yang memiliki tolak ukur berbeda. Terkait alasan bagaimana seseorang bisa mengalami gangguan jiwa, Dekan Fakultas Psikologi UMM itu menegaskan bahwa tiap negara memiliki alasan berbeda. Misalnya di Amerika yang memandang gangguan jiwa berasal dari diri sendiri. Sementara di Cina, orang menganggap bahwa gangguan itu karena Ying dan Yang yang tak seimbang atau orang India yang melihat bahwa itu merupakan karma masa lalu. “Kalau di Indonesia, hal yang paling mempengaruhi yakni kecemasan sosial dan kekhawatiran akan pandangan serta gunjingan orang lain. Untuk mengatasinya, perlu penanganan profesional seperti psikiater yang ahli. Bukan malah ke orang pintar,” tuturnya mengakhiri. (syi/wil)
Beri Tiga Cara Atasi Pelecehan Seksual, Mahasiswa UMM Juara Esai Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)telurkan tiga cara untuk mengurangi perilaku pelecehan. Ide cemerlang ini berhasil mengantar tiga mahasiswa fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UMM itu meraih juara esai tingkat internasional dalam International Scientific Competition Hilarius 2022 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Keperawatan Universitas Gajah Mada (UGM) September lalu. Adalah Ino Ardiansyah, Matsna Wilda Muqorona dan Fariskha Yulfa Nurahma yang saling bahu membahu untuk mengharumkan nama kampus. Mereka mengusung esai berjudul “Strategy to Management Sexual Harassment among Adolescence”. Fino, selaku ketua tim menyampaikan bahwa pemikiran dalam mengatasi pelecehan seksual ini berdasarkan sederet pelecehan seksual teman sebaya semakin lazim. Baik itu kontak maupun non-kontak yang tidak diinginkan. “Rata-rata korban kekerasan seksual umumnya perempuan dan pelaku kekerasan seksual kebanyakan laki-laki. Namun persepsi tersebut mengakibatkan korban kekerasan seksual hanya pada perempuan. Padahal kenyataannya pelecehan ini tidak hanya terjadi perempuan, namun juga terjadi pada laki-laki,” ungkapnya Ia menjabarkan terkait tiga strategi yang perlu dilakukan dalam mengurangi fenomena itu. Di antaranya, pencegahan, edukasi dan intervensi perilaku penyimpangan. Semua itu bisa diterapkan di pembelajaran perguruan tinggi maupun sekolah. Bahkan juga bisa dimasukkan dalam kurikulum untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik. “Strategi tersebut perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan agar dapat diimplementasikan,” terangnya. Dalam mengerjakan esai, mereka bukan tanpa tantangan. Apalagi lomba ini berada di level internasional. Mereka harus benar-benar serius untuk mengasah bahasa inggris, salah satunya saat proses diskusid an memahami berbagai literatur. Namun ia mengartikan tantangan tersebut sebagai proses pembelajaran agar kelak bisa menjadi manusia yang berkualitas. Bukan kali pertama Fino mengikuti lomba. Sebelumnya ia pernah mendapatkan medali perunggu di ajang ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair dan medali emas di Youth International Science Fair 2022. Ia bersyukur kuliah di UMM karena segudang prestasi yang ia raih. Utamanya Lembaga Semi Otonom (LSO) KIM HIPOTALAMUS yang ia ikuti sejak menjadi mahasiswa baru. “Dari KIM HIPOTALAMUS UMM, saya merasa minat dan potensi saya terwadahi. Apalagi di sana juga diajari bagaimana belajar cara menulis materi karya tulis ilmiah, riset secara komprehensif dan belajar public speaking untuk mempresentasikan hasil tulisan atau riset yang telah dilaksanakan,” tuturnya. Terakhir, ia sangat berharap ide dari esai yang telah dibuat bisa diaplikasikan oleh pemerintah maupun pihak terkait agar Indonesia bisa terbebas dari pelecehan seksual. Ap
Buka Posko, Psikologi UMM Terjunkan 74 Relawan Atasi Trauma Korban Kanjuruhan

Tragedi yang menimpa para supporter arema di Stadion Kanjurhan meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat. Tak hanya menorehkan luka dan merenggut nyawa, kejadian ini juga meninggalkan trauma. Tergerak atas dasar kemanusiaan, Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beri dukungan psikososial bagi para korban tragedi Kanjuruhan. Layanan ini telah diberikan sejak minggu (02/10) sampai akhir bulan Oktober nanti. Dekan Fakultas Psikologi, M. Salis Yuniardi, Ph.D., menjelaskan bahwa layanan psikososial ini langsung dibuka sehari setelah kejadian. Layanan ini di buka secara hotline dengan menyebar flyer melalui sosial media. Dengan gerakan awal ini, Fapsi UMM dapat menjangkau korban yang membutuhkan pertolongan psikologi. “Di hari-hari awal setelah kejadian, layanan psikososial susah untuk masuk ke masyarakat. Hal ini terjadi karena berbagai elemen masyarakat masih sibuk untuk mengidentifikasi jenazah dan mengobati korban yang luka-luka. Pendirian posko psikososial di Rumah Sakit (RS) juga tidak memungkinkan karena akan menambah kepadatan. Melihat hal tersebut, kami berusaha menjangkau korban menggunakan layanan hotline,” kata dosen asal Madiun tersebut. Untuk menjangkau para korban lain, Salis, sapaannya menjelaskan bahwa kampus telah menyiapkan beberapa langkah lanjutan. Setelah melakukan layanan hotline, Fapsi bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan berbagai elemen lainnya untuk mendirikan posko psikososial di beberapa titik. Posko ini memberikan layanan asesmen awal dan tindakan Psychological First Aid (PFA) kepada para korban. “Langkah ketiga yang kami lakukan adalah dengan menerjunkan para relawan ke rumah-rumah korban untuk pendampingan psikososial. Hal ini dilakukan untuk menjangkau korban lain yang tidak dapat tergapai oleh hotline dan posko. selain itu, kami juga berkerja sama dengan Koordinator Wilayah Aremania untuk mengumpulkan para korban yang membutuhkan,” ujar ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Malang itu. Lebih lanjut, Salis mengatakan dalam penanganan psikososial, fakultas telah menerjunkan 32 relawan mahasiswa dan 42 dosen psikologi. Kedepannya, para relawan ini akan terus ditambah. Melalui hotline yang telah di buka, Salis berkata bahwa layanan psikososial ini telah menangani lebih dari 130 korban. “Kami membagi korban menjadi dua tipe. Tipe yang pertama adalah korban yang mengalami langsung kejadian tersebut. Rata-rata para korban tipe pertama ini mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) pasca insiden. Tipe kedua adalah korban yang mengalami kedukaan akibat kehilangan anggota keluarga. Gejala yang dialami cukup bervariasi seperti kesulitan tidur, ingatan traumatis, dan lainnya,” jelasnya. Terakhir, Salis mengatakan bahwa selain berdasar rasa kemanusiaan, hal ini juga merupakan penerapan visi UMM yaitu dari muhammadiyah untuk bangsa. Ia berharap dengan adanya bantuan psikososial ini bisa sedikit meringankan beban para korban. “Terkait dukungan psikososial, rencananya kami akan membuka layanan ini sampai akhir bulan. Namun jika nanti diperlukan lagi kami akan memperpanjang masa layanannya. Semoga kedepannya tragedi seperti ini tak akan terulang kembali,” pungkasnya. (syi/wil)
Belajar sambil Bermain, Kampus Mengajar dan Mobil Kaca UMM Ajak Siswa Jadi Kreator

Indonesia berada di urutan ke 62 dari 70 negara dalam aspek literasi. Melihat akan hal itu, Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir di tengah siswa-siswi dalam meningkatkan literasi dan antusiasme membaca. Tidak sendiri, tim Mobil KaCa juga berkolaborasi dengan tim Kampus Mengajar UMM untuk berkunjung ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) PGRI 1 Tajinan, Kabupaten Malang pada Kamis (13/10) lalu. Adapun Kampus Mengajar merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digaungkan Kemendikbud-Ristek RI. Ratusan siswa menyambut baik dan senang dengan kedatangan dua tim ini. Bukan hanya siswa SMP saja, tapi adapula anak-anak Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sumbersuko yang turut menimba pengetahuan. Rahmawati Khadijah Maro, M.P.Ed. selaku koordinator Kampus Mengajar UMM mengatakan bahwa kehadiran program ini merupakan bentuk pemerataan pendidikan yang dilakukan oleh universitas. Baik itu melalui kegiatan belajar mengajar, permainan edukatif, hingga mendatangkan mobil KaCa. “Harapannya, program ini bisa membantu meningkatkan motivasi siswa dalam bersekolah dan belajar. Sehingga ada rasa rindu dan senang ketika menimba ilmu di sekolah. Bukan malah terpaksa dan malas-malasan. Pun dengan para mahasiswa yang diharapkan bsia menjalankan Kampus Mengajar MBKM dengan baik dan sepenuh hati,” imbuh dosen Prodi Bahasa Inggris UMM ini. Rangkaian acara itu diisi dengan sederet permainan, kelas membaca, serta materi tambahan yang menyenangkan. Bahkan anak-anak diajak dan diajari membuat konten edukatif dan menjadi seorang content creator. Adalah Dinda Nur Aisyah yang memberikan materi serta membuat anak-anak antusias. Aica, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa setiap hobi atau ide bisa diturunkan menjadi sebuah konten. Baik itu yang bisa diunggah di media sosial maupun Youtube. Ia yang juga tergabung dalam digital tim UMM juga mengajak siswa untuk tidak hanya menjadi konsumen konten, tapi juga harus menjadi kreatornya. Di sisi lain, Dra. Hartini selaku kepala sekolah SMP PGRI 1 Tajinan mengaku senang dengan adanya kunjungan kampus mengajar dan mobil KaCa ini. Sejak adanya program ini, para siswa semakin semangat dan antusias dalam belajar. Pun dengan minat membaca yang terus bertambah berkat ratusan buku yang disediakan. “Ini tentu kegiatan yang sangat bermanfaat ya. Apalagi anak-anak sekarang kurang begitu suka membaca dan melakukan kegiatan edukatif. Saya harap di bulan-bulan depan, program seperti ini bisa diadakan kembali,” tambahnya berharap. Sementara itu, salah satu tim Kampus mengajar UMM Zildan Afif Muhidin menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah bergulir sejak Agustus lalu dan ebrakhir pada Desember mendatang. Ia tidak sendiri karena ditemani para mahasiswa kampus lain yang saling bahu membahu dalam menciptakan program menarik. “Beruntung kali ini kami ditemani Mobil KaCa yang membuat anak-anak semakin tertarik untuk ikut program ini. Semoga apa yang kami lakukan mampu bermanfaat bagi anak-anak dan memberi semangat mereka agar terus termotivasi dalam belajar,” tuturnya. (haq/wil)
UMM Siapkan CoE Keamanan Digital dan Jadi Kampus Pertama Terdaftar di CSIRT BSSN

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berkomitmen menjadi kampus berkualitas dan memberi pelayanan terbaik. Komitmen tersebut dibuktikan dengan terdaftarnya Computer Security Incident Response Team (CSIRT) milik UMM ke dalam Nasional CSIRT di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pada Senin (12/10) lalu. Kedatangan BSSN ini juga untuk mendukung pengembangan Center of Excellence (CoE) UMM, utamanya di bidang keamanan digital. Giyanto Awan Sularso selaku Direktur Kamsibersan Pembangunan Manusia menyampaiakan apresiasi karena CSIRT UMM telah terdaftar di nasional CSIRT di BSSN. Ia menggambarakan betapa pedulinya UMM terhadap keamanan siber. Selain itu, Kampus Putih juga merupakan perguruan tinggi pertama yang terdaftar di nasional CSIRT. “Dengan adanya kerjasama semacam ini, tentu akan meningkatkan riset keamanan siber dari pihak pemerintah dan lembaga pendidikan. Saya yakin UMM memiliki keunggulan sumber daya manusia. Pun dengan insfrastruktur yang dirasa baik dan sangat mendukung keamanan siber. Apalagi dengan adanya program CoE. Tentu kami akan mendukung pengembangan inovasi ini” tegasnya. Giyanto, sapaan akrabnya berharap kerjasama dengan UMM ini bisa menjadi awal langkah untuk menggaet perguruan tinggi lainnya. Sebab keamanan siber di sektor pendidikan sangat rawan, terutama data strategis. Selain itu, ia berharap riset dari perguruan tinggi bisa menghasilkan teknologi keamanan yang lebih baik dan mumpuni. “Mudah-mudahan dengan adannya nasional CSIRT bisa memberikan ekosistem keamanan siber lebih baik, terutama pada sektor pendidikan. Alhamdulillah hal baik tersebut sudah diinisiasi oleh UMM,” ungkapnya. Di sisi lain, Syaifuddin, M.Kom selaku kepala CSIRT UMM memaparkan bahwa keamanan siber UMM tentu tak luput dari serangan. Baik itu serangan internal maupun eksternal. “Kami juga sedang menyiapkan CoE terkait kemanan digital. Apalagi melihat besarnya peluang yang bisa dikerjakan seperti kasus-kasus pencurian data. Hal ini tentu selaras dengan pesatnya perkembangan dunia cyber dan digital,” terangnya. Salah satu upaya yang sudah dilakukan UMM untuk terkait mencegah kebocoran sistem adalah dengan mengadakan kolaborasi antara mahasiswa dan lembaga. Kolaborasi tersebut bertujuan agar mahasiswa bisa memberikan informasi terkait kendala sistem. “Jadi, para mahasiswa yang turut berkolaborasi dengan kami pasti diberi reward larena sudah memberitahu kelemahan yang mungkin luput. Selain itu, kami juga melaksanakan sharing dengan kampus-kampus lain agar menambah wawasan terkait perbaikan sistem,” tambahnya. Dijelaskan Syaifuddin, ada lima langkah yang akan dilakukan CSIRT UMM dan dua diantaranya telah usai dikerjakan. Yakni melakukan next gen firewall serta membuat red team dan blue team. “Langkah ke depan yang akan dilaksanakan oleh CSIRT UMM adalah mengembangkan data center yang bisa dimanfaatkan. Berikutnya yakni mengembangkan security analyst dan ISO 27001,” pungkasnya. (ros/wil)
Bahas Food Waste, Mahasiswa Psikologi UMM Juara Esai Internasional

Mengangkat fenomena permasalahan food waste, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) raih juara esai tingkat internasional. Ketiga mahasiswa UMM tersebut adalah Sayla Salsabila, Ismail Ramadhani dan Audilia Safira dari Fakultas Psikologi yang berhasil meraih juara tiga pada lomba Internasional Scientific Essay Competition 2022. Lomba tersebut diselenggarakan secara daring oleh Universitas Lampung awal Oktober lalu. Adapun tema besar dari lomba tersebut adalah Optimizing the Utilization of Technology to Development Goals dengan tiga kategori didalamnya. Mulai dari bidang education, economic and social culture, bidang food and agriculture dan bidang health and environment. Dari tiga kategori yang disebutkan, tim dari UMM memilih kategori di bidang food and agriculture dengan judul Nutretor: Food Nutrition Detection Technology as Food Waste Global Issues Solution in Realizing SDGs 2030. Sayla sebagai ketua tim mengatakan alasan mengangkat judul tersebut karena fenomena food waste adalah permasalahan yang cukup kompleks. Meski sudah tersedia beberapa solusi, tapi mereka menilai upaya itu belum efektif dalma mengatasinya. “Untuk itu, kami berusaha mencari solusi yang dapat mengatasi permasalahan mendasar dari food waste ini, salah satunya tentang stigma buruk terhadap makanan sisa. Sebetulnya, makanan itu masih sangat layak untuk dikonsumsi. Dengan demikian, kami berharap ide kami mampu mengurangi potensi makanan agar tidak menjadi food waste,” jelas Sayla. Lebih lanjut, mahasiswa kelahiran tahun 2002 itu menjelaskan proses pembuatan esai diawali dengan riset. Kemudian merumuskan ide berdasarkan dasar riset tersebut hingga akhirnya tertuang dalam bentuk tulisan. Selama pembuatan esai, ia merasa proses yang cukup menghambat adalah riset. Apalagi hanya ada segelintir pembahasan mengenai kelayakan makanan. “Meski begitu, sedikitnya literatur ini justru menjadi tantangan bagi kami untuk menelurkan ide yang apik. Kompetisi ini juga levelnya internasional, jadi semua proses lomba dari awal hingga akhir menggunakan bahasa Inggris. Makanya, kami sangat tertantang dengan hal itu mengingart kami juga dari kelas interansional psikologi UMM,” terang mahasiswa asal Nganjuk itu. Mereka bersyukur berada dalam naungan UMM. Apalagi dengan banyaknya unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang meningkatkan potensi tiap mahasiswa. Salah satunya UKM Forum Diskusi Ilmiah (FDI) yang mampu melahirkan para periset dan penulis unggul. Banyak dari anggotanya yang sukses merengkuh kemenangan di berbagai kompetisi. “Semoga prestasi ini dapat menjadi pemantik untuk kami dan teman-teman lain agar bisa mencetak prestasi dan mengharumkan nama Kampus Putih. Kami juga ingin menunjukkan bahwa mahasiswa kampus swasta juga bisa berprestasi dan mengalahkan universitas-
Pelatihan Psikososial UMM Cetak Relawan Unggul

Pada pertengahan tahun 2022, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 1.945 bencana alam di Indonesia. Sayangnya, dalam melakukan penanggulangan, masih ada relawan yang kebingungan menentukan keputusan dan juga memberikan dukungan psikososial. Hal tersebut diucapkan oleh Rindya Fery Indrawan, S.Pi., M.P. dalam kegiatan Training of Facilitator (TOF) Psikososial. Adapun pelatihan ini merupakan kolaborasi Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) Kabupaten Malang pada awal Oktober lalu. Fery, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ada lebih dari 40 peserta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang turtu serta. Mereka dilatih dengan berbagai materi dan kiat seperti pemahaman tenatng manajemen bencana, basic skill, teknik fasilitasi, psychological first Aid dan lainnya. “Salah satu yang harus dikuasai oleh relawan yakni terakit psikososial. Mereka diharapkan mampu menjadi relawan yang sigap dan memberikan layanan yang prima,” jelasnya. Fery yang juga menjabat sebagai Ketua Maharesigana UMM ini menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas relawan dukungan psikososial. Para relawan diharapkan bisa membuat program sesuai dengan identifikasi kondisi psikologis pada masayarakat terdampak bencana. Sehingga tidak lagi kebingungan memutuskan tindakan. “Semoga dengan adanya TOF Psikososial ini dapat menjawab banyak pertanyaan para relawan dan meningkatkan skill serta pengetahuan para peserta,” tegasnya. Di sisi lain, apresiasi diberikan oleh salah seorang peserta, Wiwik Sulistyaningsih dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA Jakarta. Ia menilai bahwa klaster psikososial menjadi hal yang peting, maka kegiatan seperti ini merupakan acara yang menarik. Apalagi ia ingin meningkatkan sikap kerelawanan serta ilmu psikososial. “Saya kira Maharesigana cukup baik dalam memfasilitasi para relawan dalam menambah keterampilan. Relawan memang dituntut untuk bisa memahami keadaan dan menimbang segala kemungkinan agar bisa bertindak dengan tepat,” ungkapnya. Selain Wiwik, adapula Aprilia Kristanti, peserta dari TAGANA Dinas Sosial Kabupaten Blitar . Menurutnya, relawan harus terus menambah pengetahuan dan skill psikososial agar tidak sembrono dalam mengahdapi keadaan bencana. Meski alat-alat adalah hal penting, namun pemahaman penggunanya jauh lebih penting. “Pengalaman yang diperoleh di lapangan perlu diimbangi dengan proses pembelajaran, seperti mengikuti pelatihan. Tentu berbagai pengalaman di sini akan saya bagikan ke teman-teman TAGANA lainnya,” pungkas Aprilia. (haq/wil)
HSIC Fikes UMM: Indonesia Bisa Terapkan Artificial Intelegent dalam Kesehatan

Peranan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sangat membantu Rumah Sakit (RS) dalam meningkatkan kualitas perawatan pasien. Hal tersebut disampaikan oleh dosen Taipei Medical University, Fu-Chih Lai dalam agenda Health Science International Conference. Seminar Internasional yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut diselenggarakan secara daring melalui zoom dan youtube, Rabu (05/10) lalu. Konferensi tersebut diikuti 138 peneliti dan 53 pembicara. Lebih lanjut, Fu-Chih Lai menjelaskan bahwa AI dan perawatan kesehatan di Taiwan telah terintegrasi sejak lama. Alasan utama pengembangan AI kesehatan di Taiwan adalah faktor keamanan dan peningkatan kualitas perawatan di RS. Hal ini juga di dukung oleh program asuransi nasional. Sebanyak 99,9% populasi di Taiwan tergabung dalam asuransi tersebut. Oleh karenanya penggunaan AI akan menyambungkan elemen yang satu dengan elemen yang lain. “Kami menggunakan sebuah sistem kesehatan bernama Electronic Health Record (HER). Ada beberapa keunggulan dari penggunaan sistem HER yaitu dapat menampilkan grafik pasien secara cepat dan akurat, bahkan jika data tersebut telah berusia tahunan. Selain itu, dokter juga dapat memantau pasien tanpa harus berkunjung langsung ke ruang inap. Terakhir HER juga dapat menampilkan tindakan yang harus di lakukan kepada pasien dengan resiko yang kecil,” ungkap Associate Professor, Post-Baccalaureate Program in Nursing tersebut. Terkait pengembangan HER di Taiwan, Fu-Chih Lai menilai bahwa Indonesia juga dapat menerapkan hal yang sama. Penggunaan HER, big data, dan AI telah terbukti efektif dalam peningkatan perawatan dan keselamatan pasien di RS. Tak harus melakukan secara serentak, Indonesia dapat melakukannya setahap demi setahap. “Pengoptimalan AI dalam dunia kesehatan telah kami lakukan sejak bangku perkuliahan dengan mengadakan kelas program AI di universitas kedokteran. Kedepannya, tantangan pengembangan AI tetap akan ada. Oleh karenanya saya berharap Indonesia dapat menghadapi tantangan pengembangan AI kesehatan secara bersama-sama,” kata lulusan Kent State University itu. Di sisi lain, A’liyatur Rosyidah, M.Si. salah satu pemateri menjelaskan tentang teknologi antibiotik terbaru. Seperti yang telah diketahui, antibiotik telah berperan penting untuk mengatasi berbagai penyakit yang berkaitan dengan bakteri. Ragam dan jenis antibiotik juga bermacam-macam sesuai kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Namun kasus terbaru menunjukan adanya sebuah resistensi antibiotik. “Hal ini menyebabkan bakteri tetap berkembang dan menular ke individu lain. Ada beberapa penyebab dari resistensi tersebut yaitu, penyalahgunaan antibiotik dan penggunaan antibiotik yang terlalu sering. WHO dan CDC juga telah menyatakan kekhawatirannya terhadap isu ini. Oleh karenanya pengembangan antimikroba terbaru sedang di lakukan,” ujar Staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut mengakhiri. (syi/wil)