FKIP UMM Kukuhkan Dua Guru Besar Baru dan Launching Lima CoE

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berkomitmen dalam memberikan kontribusi keilmuan untuk bangsa. Salah satunya melalui pengukuhan dua guru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Selasa (11/10). Keduanya ialah Prof. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd. pada bidang pendidikan matematika dan Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si. pada bidang biologi reproduksi. Menariknya, nuansa akademik dalam acara itu semakin kental dengan adanya peluncuran lima Center of Excellence (CoE) FKIP UMM. Mulai dari CoE Konsultan Pendidikan dari Prodi PGSD, CoE Media dan Animasi Pendidikan Digital dari Prodi Pendidikan Matematika dan English for Hospitality dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Pun dengan CoE Entrepreneur Perbukuan dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, dan CoE Sekolah Wisata Sejarah Digital dari Prodi PPKn. Dalam kesempatan itu, Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa keduanya guru besar itu merupakan pribadi yang memiliki etos tinggi serta kerja keras yang tak kenal lelah. Maka ia mengapresiasi atas capaian tertinggi dalam bidang akademik yang sudah diraih. “Ini membuktikan bahwa keduanya sangat berdedikasi terkait keilmuan yang digeluti,” ungkapnya. Fauzan, sapaan akrabnya juga berharap dengan bertambahnya profesor yang dimiliki UMM, kontribusi yang diberikan juga makin tinggi. Baik di level nasional, tapi juga pada tingkat global. Pun dengan korelasinya terhadap pengembangan UMM yang tengah berakselerasi dalam program internasionlisasi. Dalam pengukuhan tersebut, masing-masing memaparkan orasi ilmiahnya. Susetyarini menyampaikan orasi mengenai “Beluntas dan Antifertilitas Serta Implementasinya dalam Pembelajaran”. Ia menilai bahwa Indonesia merupakan megadiversitas dengan keanekaragaman tumbuhan yang berbentuk pohon, perdu, dan semak. Salah satu tanaman bentuk perdu yaitu beluntas, bermanfaat sebagai sumber makanan dan obat. Dalam hal ini, obat yang ia kembangkan merupakan antifertilitas yakni suatu zat atau bahan yang menyebabkan tidak terjadinya fertilisasi antara spermatozoa dengan ovum. Di masyarakat, antifertilitas digunakan sebagai program kontrasepsi dengan harapan menjarangkan kelahiran Penelitiannya tentang beluntas sebagai antifertilitas bermula dari fakta bahwa selama ini antiferlititas pada pria belum banyak diterapkan. Adapun saat ini, antifertilitas pria yang tersedia hanya sterilisasi atau suntikan testosterone. Namun menurutnya, perlu adanya pengembangan obat tradisional antifertilitas pria secara oral atau diminum. “Penelitian ini telah melalui uji prekinis ke hewan coba tikus putih jantan yang menunjukan bahwa pemberian bubuk daun beluntas berkhasiat sebagai antifertilitas. Hal tersebut juga ditunjukkan dari hasil screening DNA mitokondria spermatozoa,” tambahnya. Di sisi lain, Priyo menyampaikan orasi terkait “Mengembangkan Pemahaman Relasional Siswa: Mengutamakan Pengetahuan Konseptual atau Prosedural?”. Menurutnya, pemahaman relasional membantu siswa membangun skema untuk menghubungkan ilmu yang sudah mereka ketahui dengan pengetahuan yang baru. Pengembangan ide-ide dalam memecahkan soal matematika juga berangkat dari sana. Pemahaman relasional, lanjutnya, berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan konseptual. Namun, di lapangan, terjadi perdebatan tentang mana yang harus diutamakan antara kedua pengetahuan tersebut. “Padahal, hakikatnya, hubungan antara pengetahuan konseptual dan prosedural bersifat bilateral,” tegasnya. Karena itu, pembelajaran yang menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan konseptual dan prosedural harus disempurnakan sehingga menjadi lebih jelas. Penjelasan yang lebih rinci dapat mengubah pembelajaran tradisional yang umumnya bersifat prosedural menjadi pembelajaran yang juga mengutamakan pengetahuan konseptual. Dalam kesempatan itu, turut memberikan selamat ketua BPH UMM sekaligus Menko PMK RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Ia mendorong dosen-dosen lain untuk segera mengikuti jejak keduanya. Apalagi guru besar merupakan pangkat tertinggi bagi para dosen. “Saya juga ingin agar para profesor UMM dapat mempublikasikan ide-idenya, tidak hanya lewat publikasi ilmiah jurnal, tapi juga publikasi di ruang publik. Maka, upaya itu bisa dilakukan para guru besar dengan masif agar memberikan dampak positif,” tambahnya. Tidak jauh berbeda, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE.,MM. Menurutnya, pengembangan perguruan tinggi merupakan tanggung jawab bersama. Salah satunya bagaimana sivitas akademika terus meningkatkan jabatan fungsional dosen. “Apalagi kini ada sederet kemudahan yang bisa dilakukan oleh para dosen. Maka tak ada alasan lagi untuk terus berupaya menignkatkan jabatan fungsional ini sekaligus meningkatkan reputasi perguruan tinggi,” tuturnya mengakhiri. (wil)
Lecturer Series UMM: Multikulturalisme dan Perkembangan Asia

Tidak dapat dipungkiri saat ini hubungan antar negara memiliki dampak yang besar dalam keberlangsungan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Hal tersebut berefek pada terbentuknya masyarakat multikultural yang turut mempengaruhi pertumbuhan Sumber Daya Manusia (SDM) baik itu secara kualitas maupun kuantitas. Kajian mengenai itu dikaji dalam agenda hasil kolaborasi Centre for Asia Studies Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Eurasia Foundation melalui seminar Lecture Series pada awal Oktober ini. Adapun pada seminar yang kedua ini mengangkat tema ‘Multiculturalism for the Human Development in Asian Community’. Dianni Risda, S.Pd., M.Ed. selaku dosen Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini turut diundang sebagai pembicara. Ia menjelaskan konsep multikultural di Jepang terbentuk tanpa sadar karena banyaknya penduduk asing datang ke sana. Sedangkan di Indonesia, secara gamblang sudah terlihat berbagai macam suku, bahasa, dan budaya, tanpa membedakan satu sama lain. Dianni, sapaan akrabnya juga mengkaji hubungan antara Indonesia dan Jepang yang sudah terjalin sejak lama. Hal tersebut dibuktikan dengan Indonesia sebagai penerima Overseas Development Assistant (ODA), terbanyak kedua setelah Cina. Dana investasi ini adalah bentuk nyata Jepang dalam menjalin kerjasama ekonomi dengan Indonesia. “Indonesia menjadi salah satu negara tujuan investasi terbesar Jepang. Mengingat secara SDM Jepang sangat minim, sehingga perlu melakukan ekspansi produksinya ke luar negeri dan Indonesia adalah salah satunya,” ucapnya. Sementara itu, Prof. Dr. Yudi Darma, S.Si., M.Si. selaku pembicara selanjutnya menjelaskan bahwa multikulturalisme masyarakat memiliki dampak positif maupun negatif. Adapun dampak positifnya yakni keterbukaan antar negara yang mempermudahkerja sama dan kolaborasi. Sebaliknya dampak negatif yang dihasilkan ialah hutang negara semakin meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh permintaan masyarakat yang tinggi karena semakin majemuknya masyarakat. Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan bahwa perkembangan teknologi memiliki andil dalam membentuk multikulturalisme. Masyarakat multikultural secara tidak sadar terbentuk melalui media sosial. Hal itu karena mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda bertemu tanpa ada batasan. Hal itu juga menunjukkan tingginya tingkat konsumsi masyarakat dalam berinteraksi di media sosial, terutama Asia. Itu akan berpengaruh pada jumlah penggunaan energi dan cadangan bahan baku pembuatan elektronik yang terus menipis. “Aspek energi dan recycle limbah elektronik jangan dilupakan. Limbah elektronik semakin menumpuk tiap harinya. Oleh karena itu, perlu adanya pengolahan ulang limbah elektronik agar tidak berbahaya untuk kelangsungan hidup manusia di masa depan,” imbuhnya. (haq/wil)
Bedah Buku Titik Nadir Penantian Karya Warga Lapas di NBS UMM

Setelah sukses melaunching buku antologi cerpen berjudul Titik Nadir Penantian pada januari tahun lalu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan warga binaan di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang kembali meluncurkan cetakan kedua dengan versi revisi. Buku antologi cerpen yang merupakan karya dari 32 perempuan warga binaan Lapas Malang itu dicetak dengan tampilan cover yang lebih menarik dengan suguhan isi yang lebih rapi dan mudah dibaca. Terkait buku tersebut, Lembaga Kebudayaan (LK) UMM menggandeng New Book Store UMM dan MNC Publishing menggelar acara Bedah Buku pada Senin (03/10) lalu. Dalam sambutannya, Kepala LK UMM Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si mengatakan lahirnya buku Titik Nadir Penantian merupakan bentuk pengabdian untuk mewadahai cerita dan curahan hati serta perasaan dari warga lapas dalam bentuk tulisan. Kemudia diwujudkan dalam sebuah karya yang apik. Upaya tersebut dilakukan agar stigma masyarakat terhadap warga lapas ketika mereka keluar tidak lagi disepelekan. Apalagi dengan adanya kemampuan menulis dan juga literasi yang sudah mumpuni. “Secara substansi, cetakan pertama dan kedua tidak jauh berbeda. Mungkin yang sangat kentara dari aspke sajian sampul yang lebih cemerlang. Kemudian juga ukuran huruf juga lebih di perbesar untuk memudahkan para pembaca,” terangnya. menghadirkan Perencana Muda Subkor Ekonomi Keuangan, R. Agung Harjaya Buana sebagai pembedah buku. Dalam paparannya, Agung sangat mengapresiasi buku yang ditulis dari warga binaan lapas. Menurutnya, buku tersebut merupakan karya intelektual yang luar biasa karena lahir dari warga binaan lapas yang melampaui apa yang orang-orang pikirkan tentang mereka. “Sebuah kisah antologi kehidupan dari warga lapas dituliskan dalam sebuah buku merupakan karya besar. Jika ini terus berlanjut maka akan menjadi aktivitas ekonomi yang luar biasa karena ada royalti yang nantinya menjadi sebuah penghasilan baru bagi lapas. Bayangkan, sebuah tulisan adalah keabadian, saat kita sudah tiada, tulisan masih akans elalu ada. Apalagi tulisan yang berdasarkan dari pengalaman tentu akan lebih di hargai,” ungkap Agung. Disisi lain, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, Tri Anna Aryati, S.H. ,M.Si. mengucapkan terima kasih kepada pihak sivitas akademika UMM dengan dicetak ulangnya buku tersebut. “Saya harap buku tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat yang membacanya. Dengan membaca buku pengalaman dari warga binaan ini, saya harap kita bisa lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Semoga buku ini bisa jadi pembelajaran bagi kita semua,” harap Anna. (zak/wil)
Mobil Hemat Energi UMM, Siap Berangkat Berlaga Nasional dan Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak henti-hentinya mengharumkan nama kampus. Pada tahun ini, tim mekatronic UMM siap berlomba di tiga ajang kompetisi sekaligus mulai dari tingkat nasional hingga internasional. Adapun perlombaan yang akan diikuti yaitu Shell Eco Marathon Asia Pasifik 2022, Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2022 dan Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2022. Sebelum perlombaan berlangsung UMM resmi melepas keberangkatan tim mekatronic pada hari Rabu (05/10) lalu, di depan gedung Rektorat UMM. Pada agenda pelepasan tersebut Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd sangat mengapresiasi karya-karya mahasiswa UMM yang akan berkompetisi. Ia juga mengatakan bahwa menang maupun kalah adalah sebuah keniscayaan. Hal yang lebih penting dari itu adalah jiwa pemenang tak boleh luntur. “UMM ini memiliki banyak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan saya bangga dengan karya-karya mahasiswa. Walaupun ini dilahirkan dari sebuah Lembaga Semi Otonom (LSO) tetapi karya ini sudah luar biasa. Lewat kreasi tersebut, kalian sudah membangun karakter yang bertanggung jawab, mampu berkompetisi, serta percaya diri. Karya ini adalah sebuah kolaborasi yang baik. Hal ini juga diimbangi dengan skill dan kesabaran yg tinggi oleh pembuatnya. Terima kasih atas karya monumental ini,” ungkap Fauzan. Pada kesempatan yang sama, kepala LSO Mekatronic UMM Drs. Mohammad Jufri,ST., MT. menyampaikan bahwa tim mekatronic sudah sangat siap dalam menghadapi perlombaan. Hal ini terjadi karena tim mekatronic telah memiliki berbagai pengalaman dan juga raihan juara di perlombaan yang sama. Selain itu, tim mekatronic juga sering melakukan latihan untuk mempersiapkan performa sehingga dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan untuk meminimalisir kendala yang akan dihadapi pada saat lomba. “Alhamdulilah kami sudah dimudahkan dalam tahapan persiapan menjelang lomba nanti. Kami juga mengapresiasi para mahasiswa yang sudah bekerja keras selama beberapa minggu bahkan beberapa bulan terakhir. Sebelumnya kami telah memenangkan beberapa perlombaan seperti juara satu KMHE 2018, peringkat enam Shell Eco Marathon Asia Pasifik 2019, dan juara tiga virtual KMHE 2020. Walaupun ini bukan perlombaan pertama yang kami ikuti, namun kami berharap apa yang kami capai di tahun ini bisa melebihi capaian prestasi di tahun sebelumnya,” tutur Jufri. Lebih lanjut, Jufri menjelaskan untuk lomba Shell Eco Marathon di Mandalika, tim mekatronic akan berlomba pada tanggal 11 sampai 15 Oktober 2022 di kategori kendaraan urban listrik. Selain itu, untuk Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) yang akan diselenggarakan di Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Jawa timur nasional pada 30 oktober 2022, UMM akan berlomba di kategori kendaraan proto etanol dan proto listrik. “Lomba terakhir yang akan kami ikuti adalah Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN). Lomba ini juga diselenggarakan di UPN Jawa Timur pada 11 sampai14 November 2022. Pada perlombaan ini, UMM akan ikut dikategori full engine remote control, electric remote control dan autonomous,” kata Jufri. Di sisi lain, ketua tim yang akan berangkat ke Mandalika, Arista Dwi Setya Budi mengatakan bahwa beberapa bulan ini timnya sering melakukan upgrade kendaraan dari kaki-kaki kendaraan dan juga dari sistem Vehicle Dynamics atau sistem pengendalian dan kontrol perangkat lunak pada kendaraan. Dalam perlombaan tersebut, Aris mengatakan bahwa ada sepuluh mahasiswa dan dua pembina yang akan berangkat ke Mandalika. “Pada intinya, saat ini kami hanya tinggal melakukan finishing body karena kesiapan perlombaan sudah 90%. Kami harap bisa meraih posisi pertama seperti prestasi yang telah kami torehkan di tahun 2018 yang lalu,” ucap Aris mengakhiri. (zak/syi)
Alex, Wisudawan UMM Selesaikan Studi Magister dengan Jualan Air Isi Ulang

Gigih dalam satu hal yang ditekuni dan membuang rasa gengsi adalah kunci untuk meraih keberhasilan. Begitu ucap Alex Tena, wisudawan magister bahasa Inggris pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses lulus kuliah dengan biaya sendiri lewat berjualan air isi ulang galon. Alex, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa awal mula ia berjualan air isi ulang karena sering bergaul dengan seorang pebisnis. Ia beberapa kali berbincang mengenai usahanya dan menarik minatnya untuk belajar. Selain karena ingin membuka usaha, Alex juga mau tidak mau harus mencari tambahan biaya untuk perkuliahannya. Akhirnya muncul ide untuk membuat depo air isi ulang. “Kebetulan semasa kuliah, kos saya dekat dengan tempat isi ulang air. Di sana,saya melihat penjualnya hanya diam di toko saja. Melihat itu, saya mencoba untuk mengembangkkan dengan mengatar ke berbagai lokasi pemesanan,” ungkap pemuda kelahiran Sumbawa Barat itu. Usahannya untuk membuka depo air isi ulang terbilang tidak mudah. Ada usaha yang perlu ia kerjakan untuk bisa mendapatkan modal berjualan. Alex sempat kerja berjualan roti selama tiga bulan untuk bisa membayar uang muka peralatan depo air. Tepat 14 September 2019 adalah awal dia berjualan is ulang air. “Ketika pertama kali jualan tidak mudah, awalnya hanya laku satu hingga enam galon saja. Sampai akhirnya saya merubah metode pemasaran dengan menyebarkan brosur ke tiap mahasiswa dan membuka jasa antar galon secara online. Saya bersyukur strategi tersebut berhasil hingga sekarang penjualan air isi ulang bisa tembus 150 per hari, ” terangnya. Tak mudah memang berkuliah sambil berbisnis. Ia menyadari jika manajemen waktu secara matang adalah salah satu kunci keberhasilannya mengerjakan dua hal tersebut. Ia membagi waktu yaitu pagi hingga sore fokus berjualan dan kuliah, sedangkan malamnya mengerjakan tugas kuliah. “Sebenarnya rasanya capek kalau harus beraktvitas dari pagi hingga malam. Tapi itu semua saya lakukan karena ada derajat yang harus saya angkat dan hinaan yang harus saya buktikan,” tegasnya. Menariknya, hasil jualannya juga bsia membantu teman-temannya yang kesusahan. Pun dengan para mahasiswa yang isi dompetnya agak susah. , Ia bersyukur dengan berjualan air isi ulang bisa sekalian membantu teman-teman mahasiswa yang sedang kesusahan. Akhirnya sesekali ia memberikan diskon, bahkan diberi gratis. “Saya patok harga minimal lima ribu rupiah. Lalu untuk biaya ongkir nambah dua ribu, jadi tujuh ribu. Sedangkan untuk harga non-mahasiswa sepuluh ribu rupiah. Tak jarang saya memberikan harga lima ribu saja untuk mahasiswa ketika ia sulit. Tak sedikit juga yang kadang berutang terlebih dahulu,” tuturnya. Terakhir, ia berpesan ke anak muda untuk menggunakan waktu yang ada dengan hal bermanfaat dan menjalani hidup dengan terencana. “Gunakan waktu dengan perencanaan yang baik. Kapan waktu belajar dan bekerja. Ketika kita menemukan suatu tantangan jangan menyerah, karena tantangan akan membawa kita untuk memiliki wawasan yang luas untuk memperbaiki diri kita sendiri,” pungkasnya. (ros/wil)
Ketua B20 Indonesia Kupas Peranan Generasi Muda di Wisuda UMM

Generasi muda saat ini memiliki peranan krusial dalam memegang bangsa ini, sebagai agen perubahan pendidikan dan ekonomi. Peran generasi muda juga menentukan pembangunan nasional yang kuat dan tangguh. Hal tersebut diucapkan oleh Shinta Widjaja Kamdani selaku Ketua B20 Indonesia ini pada Wisuda ke 105 periode III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang dilaksankan pada tanggal (6/10) bertempat di Hall Dome UMM. Coorinator Vice Chairwoman III, Kadin Indonesia ini menjelaskan bahwa B20 akan membentuk Future of Work and Education. Hal ini akan dibawa pada forum G-20, bulan November esok. Adapun B20 ini merumuskan tiga tema utama yaitu penciptaan pekerjaan berkelanjutan, pendidikan dan keterampilan yang sesuai produktivitas dunia kerja, serta keterlibatan dalam pemulihan dan pengembangan industri masa depan. Shinta sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa kaum muda saat ini tiga kali lebih rentan menjadi pengangguran di masa mendatang. Ia pun menegaskan bahwa sudah saatnya generasi muda memegang kendali perubahan bangsa sebagai wirausaha dengan membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Hal tersebut dikarenakan dengan peningkatan pengusaha muda juga akan berbanding lurus dengan peningkatan inovasi dalam industri kreatif. “Sudah saatnya generasi utamanya para muda wisudawan, sedini mungkin menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Hal ini memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi bangsa kedepanya” imbuhnya. Sementara itu, Prof. Muhadjir Effendi, M.A.P selaku ketua Badan Pembina Harian UMM menjelaskan bahwa Indonesia kedepannya akan dibayangi tiga krisis yaitu krisis energi, pangan, dan juga inflasi. Ketiga krisis ini terjadi karena dua faktor yaitu, perang antara Ukraina dan Rusia serta pemanasan global. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa berdasarkan dari laporan International Monetary Fund (IMF) hanya ada dua negara dengan pertumbuhan ekonomi diatas 5% yaitu Arab Saudi dan Indonesia. Diprediksi pula pada akhir tahun 2022 pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap pada angka 5,57%. “Saya berharap para wisudawan di UMM yang kan merubah bangsa ini menjadi lebih baik. diharap pula setiap lulusan UMM dapat memiliki prinsip dan tak kenal lelah untuk belajar” kata Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia (RI) itu. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd, mengatakan bahwa dalam menghadapi Indonesia emas di tahun 2045 mendatang, UMM memiliki program Center of Excellent (CoE). Program ini berguna dalam mengembangkan minat dan bakat dalam membuka lapangan kerja di masa yang akan datang. CoE ini terdiri dari berbagai bidang yang dimiliki oleh masing-masing jurusan. “Saya berharap besar para wisudawan agar bisa dapat bekerja dan mandiri selepasnya dari UMM. Namun bagi para lulusan yang merasa belum cukup belajar bisa kembali ke UMM dan bebas memilih CoE yang kan dikuti,” ungkapnya mengakhiri. (haq/syi)
UMM Terjunkan Tim Trauma Support Mobility dan Pendataan Korban

Universitas Muhammadiyah malang (UMM) tanggap untuk membantu para korban tragedi Kanjuruhan. Sederet tim diterjunkan seperti tim medis dan psikologis yang bertujuan mendampingi, menemani, mendengarkan keluh kesah keluarga korban serta memberikan pelayanan psikologis. Tim itu juga tergabung dalam gerakan trauma support mobility yang telah melaksanakan bantuan dan kordinasi. Salah satunya pada Kamis (6/10) lalu bersama dengan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy M.A.P. di teater Dome UMM. Selain tim UMM, gerakan trauma support mobility juga diisi oleh tim dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kab. Malang, HIMPSI Malang, Save the Children, Maharesigana UMM, MDMC, UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Merdeka, Universitas Brawijaya dan sederet lainnya. Hadir pula perwakilan dari BTS ARMY Help Center Indonesia yang akan mendukung proses trauma support. Muhadjir menilai bahwa tim gabungan ini merupakan upaya yang bagus untuk mengatasi insiden di Kanjuruhan. Berbeda dengan korban fisik yang bisa diukur dan diperkirakan sembuhnya, cedera korban mental lebih sulit untuk dihitung dan diidentifikasi. Bahkan bukan hanya korban saja, tapi juga kerabat dan keluarga yang ditinggalkan. “Kemarin saya sempat menemui bapak dari korban meninggal. Dua anaknya terenggut dalam insiden Kanjuruhan. Tentu, membantu dari sisi psikologis juga penting dan menyasar bukan hanya korban yang menonton, tapi juga para keluarga yang ditinggalkan,” tambahnya. Terkait dana operasional, ia menjelaskan bahwa ada dana siap pakai (DSP) di pemerintah daerah yang bisa dialokasikan. Termasuk salah satunya untuk memberikan santunan kepada keluarga dan kegiatan trauma support ini. Ia juga mendorong para rektor di perguruan tinggi Malang untuk turut berkontribusi dalam rangkaian pendampingan psikologis tersebut agar lebih masif. “Tak perlu kita melihat siapa yang duluan, siapa yang paling berkontribusi. Ini adalah bencana sosial yang sifatnya non-diskriminasi, maka semua harus ikut memberikan bantuan. Teman-teman juga bisa mengajak organisasi dan pihak lain untuk turut serta membantu dalam tragedi ini,” tegasnya pada perwakilan tim. Selain itu UMM juga berkolaborasi dan terus berkoordinasi dengan Aremania Kampus Putih untuk melakukan pendataan jumlah korban sejak (2/10) lalu. Koordinator tim pendataan sekaligus Aremania Kampus Putih UMM, Muh. Farhannudin Nur Avif menuturkan bahwa sampai saat ini timnya masih terus mencari data yang valid. Apalagi jumlahnya berbeda antara satu sama lain. Ada yang menemukan bahwa korban meninggal 125 orang, adapula yang 183, bahkan ada yang 200an. Maka, pendataan ulang dengan seksama menjadi hal yang penting. Selain itu, ia dan tim juga terus mencari korban luka-luka dalam tragedi malam itu. Jumlahnya tentu lebih banyak ketimbang yang meninggal. Ia mengaku bahwa proses pencariannya juga cukup memakan waktu karena lebih rumit. Farhan, sapaan akrabnya mengatakan bahwa tragedi pilu ini sangat membekas di hatinya. Ia menganggap semua Aremania merupakan saudaranya sendiri. Maka, salah satu upaya yang ia lakukan adalah mencari data valid korban hingga paling akhir. Apalagi banyak anak-anak yang menjadi yatim karena ditinggalkan orangtuanya, padahal niat awal hanya ingin menonton sepak bola. “Saya juga bersyukur pihak Kampus Putih sangat membantu kami dalam proses ini. Bahkan kemarin juga menawarkan untuk mendirikan posko di UMM. Senantiasa mendukung dan menyediakan alat-alat untuk mempermudah validasi data. Tentu kami sangat mengapresiasi hal tersebut. Pun dengan peran UMM untuk menghubungkan kami dengan Menko PMK untuk menyampaikan aspirasi kami ke pejabat lain dan pemerintah. Semoga proses investigasi dan penetapan tersangka bisa segera berjalan dengan cepat dan tepat,” tambah mahasiswa Teknik Sipil UMM itu. (*/wil)
JAC Tangkap CoE Konstruksi UMM

Demi melahirkan lulusan yang siap menghadapi kompetisi kerja, Universitas Muhammadiyah Malang terus melebarkan kerjasama internasionalnya. Terbaru, Vokasi UMM menggaet Japan Association for Construction (JAC) Jepang pada Rabu (10/5) untuk memberikan jalan para lulusan agar bisa bekerja di negeri sakura tersebut. JAC juga tertarik dengan adanya Center for Excellent (CoE) yang dikembangkan oleh Kampus Putih karena dinilai sebagai inovasi yang strategis di aspek sumber daya manusia (SDM). General Manager Project Department JAC Yasuhito Morishima menjelaskan bahwa kedatangannya ke UMM adalah untuk mencari SDM yang siap didatangkan dan berkarya di Jepang. Ia menilai bahwa Kampus Putih dapat menyediakan SDM mumpuni, salah satunya melalui CoE yang ada. Dalam hal ini yakni program-program yang terkait dengan konstruksi. Morishima juga menjelaskan bahwa ada 46 asosiasi yang berada di bawah naungan JAC. Mereka merupakan asosiasi yang terdaftar di sektor infrastruktur, transportasi, concrete pump dan lainnya. Bahkan JAC adalah satu-satunya perusahaan Jepang di bidang konstruksi yang bisa mendatangkan tenaga luar negeri. “Di Jepang, ada 33 sub bidang pekerjaan konstruksi. Kami juga akan terus mencari mitra-mitra yang mampu mencetak lulusan siap kerja. Dan saya rasa, UMM adalah salah satunya. Nanti, para lulusan akan mengikuti proses belajar Jepang terlebih dahulu, kemudian juga keterampilan teknis kontruksi sehingga aspek komunikasi dan skill sama-sama terasah,” tambahnya. Menariknya, UMM dan JAC tidak hanya melatih dan mengasah skill. Ada ribuan lowongan pekerjaan di Jepang yang bisa diisi oleh SDM-SDM Indonesia, pun dengan Kampus Putih. Total ada lebih dari 3800 kursi yang diperebutkan dan disiapkan bagi SDM Indonesia yang penuh talenta. “Saya pikir, etos kerja yang dimiliki orang-orang Indonesia sangat tinggi. Apalagi jika dibarengi dengan kemampuan bahasa Jepang yang baik serta kinerja yang apik. Tentu akan memberikan hasil yang menarik,” tuturnya. Adapun kedatangan perwakilan JAC ke Indonesia memang khusus bertujuan hanya untuk mengunjungi UMM. Hal itu tidak lepas dari keberhasilan training center yang mampu ratusan peserta. Bahkan secara konsisten memberangkatkan SDM ke Jepang yang bekerja di berbagai bidang. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa program kerjasama terkait konstruksi ini sangat relevan dengan CoE yang dimiliki Kampus Putih. CoE bertujuan untuk memastikan mahasiswa memiliki kepakaran dan keahlian spesifik. Maka menurutnya ini akan menjadi kerjasama yang saling mengisi. Satu pihak mampu mencetak lulusan dengan kemampuan yang sesuai, sementara pihak lainnnya beruntung karena mendapatkan SDM bagus untuk perusahaannya. “Kami memiliki lahan seluas lima beas hektar yang kini dikembangkan sebagai pusat CoE. Ada lebihd ari 40 CoE yang sudah berjalan, dirintis, bahkan baru dilaunching. Saya rasa kerjasama kami dengan JAC bisa memberikan hasil yang maksimal dan kemajuan bagi pengembangan CoE,” tambah Rektor asal Kediri tersebut. (*/wil)
ICEdu UMM: Kebangkitan Pendidikan Pasca Pandemi

Merespon isu pendidikan dan spiritualitas di masa pandemi serta pascapandemi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar The International Conference on Education (ICEdu), akhir September lalu. Kegiatan ini mengundang berbagai elemen masyarakat untuk berdiskusi seperti peneliti, pakar, dan praktisi dari akademisi, pemerintah, LSM, lembaga penelitian, dan industri. Membuka konferensi, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar transfer pengetahuan. Dalam konsep tarbiyah, kegiatan pendidikan tidak hanya mencakup hal yang sederhana atau ta’lim, tetapi mencakup kegiatan pendidikan yang lebih mendalam yakni ta’dib. Pendidikan yang mendalam tersebut yakni mengedepankan pengembangan karakter. Namun Konsep ini terkendala untuk dicapai dalam pendidikan di masa pandemi. “Sekarang, situasi sudah berubah. Siswa sudah bisa pergi ke sekolah dan menikmati pengalaman langsung di dalam kelas. Jadi, kita harus berjuang untuk menghidupkan dan merevitalisasi pendidikan yang menekankan pada pentingnya pengembangan karakter yang baik untuk anak-anak didik kita,” ujar Syamsul. Di sisi lain, dalam paparan materinya, Prof. Te-Sheng Chang mengatakan bahwa pengembangan profesionalisme dosen telah lama menjadi komponen penting dalam pendidikan tinggi. Selama empat dekade terakhir, pada rentang tahun 50-an hingga 90-an, pengembangan profesionalisme dosen telah mengalami lima fase. Tahun 50-an dan 60-an adalah era para sarjana yang berfokus pada keterampilan penelitian dan produktivitas. Tahun 70-an adalah era pengajar yang berfokus pada pengembangan keterampilan pengajar. Tahun 80-an adalah era pengembang, yang berfokus pada pengajaran dan penelitian yang bersifat fakultas sentris. “Di tahun 90-an adalah era pelajar, yang berfokus pada perubahan paradigma dari mengajar menjadi belajar. Lalu saat ini kita berada di era kerja sama dan jejaring yang berfokus pada kolaborasi antar fakultas untuk mendorong kajian interdisipliner,” terang Profesor National Dong Hwa University, Taiwan ini. Oleh karena itu, masih menurut Te-Sheng Chang, pembelajaran berbasis masalah yang berorientasi pada proyek penting untuk diterapkan. Pasalnya, desain pembelajaran ini tidak hanya memacu kreativitas mahasiswa, tetapi juga meningkatkan profesionalisme pengajar di universitas. “Untuk itu, kurikulum perlu dikembangkan dengan menggabungkan tiga konsep kunci, yakni desain partisipatif, pemikiran yang visioner, dan komunikasi visual,” terangnya. Di sisi lain, Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti kali ini mengambil angle yang berbeda dalam mengupas tema konferensi. Ia menyoroti bagaimana peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan dalam menyiapkan pendidik profesional abad 21. Menurutnya, ada tiga pilar penting dalam revitalisasi peran Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Pertama, pendidikan berbasis kompetensi menjadi salah satu misi utama perguruan tinggi. Sebagai pendidik, kompetensi yang harus dimiliki meliputi keompetensi pedagogi, professional, kepribadian, dan sosial. “Pilar yang Kedua, membekali peserta didik penguasaan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya pemanfaatan Internet of things (IoT), virtual/augmented reality, dan juga Artifical Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. Terakhir, LPTK berperan untuk membekali guru dalam mengintegrasikan pemanfaatan teknologi, pedagogi, dan pengetahuan substantif keilmuan dalam pembelajaran (TPACK),” tegasnya. Selain Prof. Te-Sheng Chang dan Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti, M.Si., M. Pd, acara ini juga turut mengundang pembicara lain seperti Assoc. Prof. Dennis Alonzo, Ph.D dari University of New South Wales Australia, Prof. Muhammad Ali dari University of California Riverside, Prof. Dr.
Pita Hitam di Wisuda UMM: Bentuk Kemanusiaan dan Keprihatinan Terhadap Korban Tragedi Kanjuruhan

Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang pada 1 Oktober 2022 telah membawa duka yang amat dalam bagi masyarakat indonesia. Tak terkecuali pada perhelatan wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke 105 periode ke III tahun 2022, Selasa (4/10) lalu. Para wisudawan beserta orang tua mengenakan pita hitam sebagai tanda rasa duka atas kepergian para korban. Tak hanya itu, penggalangan dana juga diadakan dalam wisdua tersebut sebagai bentuk saling mengasihi dan rasa kemanusiaan. Wisuda itu juga diawali dengan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Rektor UMM. Hadir dalam wisuda itu Direktur Utama PT INKA (Persero) Budi Noviantoro. Ia memberikan selamat bagi wisudawan yang telah melaksanakan amanah dengan baik. Baginya, menjadi lulusan yang tetap eksis di masa mendatang diperlukan tiga hal. Pertama yakni bermula dari akhir dan berakhir di awal. “Contohnya ketika saya membuat bus listrik. Saya tes terlebih dahulu, setelah itu baru menarik teori berdasarkan percobaan itu. Jika saya buat dari awal dulu, tentu tidak akan jadi apa-apa,” ungkapnya. Kedua, kalau sudah membuat, maka akan bisa memperbaiki. Ia mengaku beberapa kali menegur masyarakat yang suka membeli, tetapi tidak menghargai produk sendiri. Oleh karena itu, ia menghimbau untuk mencintai produk dalam negeri seperti yang telah dikatakan oleh presiden. Tidak ada salahnya membeli produk lokal untuk kemajuan bangsa. “Ketiga, inovasi forever. Kalau tidak memiliki jiwa inovasi, maka akan terlambat dalam bergerak,” tegasnya. Ia juga berharap UMM mampu melakukan riset-riset yang mengarah pada teknologi hidrogen yang ramah lingkungan. Menurutnya, teknologi hidrogen ini bisa menjadi kendaraan masa depan. “Indonesia adalah gudangnya material untuk hidrogen. Saya titip ke wisudawan agar bisa berpikir visoner. Apalagi di UMM sudah ada Center of Excellence (CoE) yang bisa menjadi wadah. Maka maksimalkan wadah ini untuk melakukan riset-riset bermanfaat,” terangnya. Pada kesempatan yang sama, hadir Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Ia mengucapkan turut berbelasungkawa, khususnya untuk Aremania dan keluarga yang telah menjadi korban tragedi di Kanjuruhan. “Mari kita berdoa semoga mereka yang meninggalkan kita dapat ditempatkan di sisi terbaikNya. Begitupun dengan mereka yang luka agar cetat membaik dan sembuh,” harap Muhadjir. Selain itu, ia mengingatkan kepada wisudawan untuk siap menghadapi Indonesia emas 2045. Jika tidak siap, maka akan ditinggal dan kalah dengan orang lain. Sebaliknya, jika lulusan UMM siap dan berada di barisan terdepan, tentu akan sangat membanggakan untuk diri sendiri, orang tua dan Kampus Putih. “Sebab selama di kampus ini, wisudawan telah dibentuk untuk menjadi orang profesional agar saudara bisa memberi peran di puncak Indonesia emas,” tegasnya. Ia juga berpesan kepada wisudawan UMM untuk merubah cara pandang dan berpikir berpikir. Salah satunya terkait kehidupan yang bersih, hijau dan mengurangi efek rumah kaca. Baginya, dunia berada dalam suasana global warming yang memerlukan tindakan konkret untuk menekan hal itu. “Saya ingin alumni UMM yang diwisuda untuk tidak kenal berhenti dan tetap semangat. Manfaatkan potensi dan otak saudara untuk memberikan solusi atas permasalahan masyarakat,” tuturnya. (ros/wil)