Tekan Emisi Karbon, Mahasiswa UMM Rancang Knalpot Ramah Lingkungan

Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) menjadi salah satu penyebab sederet masalah yang tak menentu di Indonesia. Mengutip pernyataan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), emisi karbon yang dihasilkan pada 2021 di angka 259,1 juta ton dari seluruh penggunaan bahan fosil. Jika hal ini tidak ditangani, maka dikhawatirkan terjadi kerusakan lapisan ozon yang berakibat pada naiknya suhu dan perubahan iklim. Mengambil langkah awal pencegahan, Yuan Rafika, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama timnya merancang inovasi untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Alat tersebut diberi nama Exhaust Carbon Filter. Alat ini berupa knalpot yang dapat menyaring gas karbon dioksida (CO2) kemudian diubah menjadi oksigen. Senyawa yang dihasilkan melalui penyaringan tersebut adalah oksigen dan senyawa organik yang dapat dibuang secara langsung tanpa mencemari lingkungan. “Sistem kerjanya sebenarnya terinspirasi dari sistem fotosintesis pada tumbuhan, di mana CO2 dengan bantuan air dan sinar matahari diubah menjadi glukosa dan oksigen yang dilepas ke alam,” kata Rafika. Dengan mengadopsi sistem fotosintesis terebut, air nanti akan bereaksi dengan CO2 menggunakan bantuan sinar matahari yang digantikan dengan sistem listrik pada aki. Adapun jumlah air yang dapat ditampung pada knalpot yakni berkisar 100 ml untuk jarak tempuh satu hingga dua jam perjalanan. Durasi ini akan terus dikembangkan karena sifat air yang mudah menguap, juga melihat kondisi knalpot yang mudah panas. “Saat ini, fitur yang direncanakan ada pada knalpot tersebut adalah peredam suara sesuai ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan filter gas CO2. Nantinya, kami terus mengembangkan exhaust carbon filter ini dengan menambahkan fitur-fitur baru sesuai standar, agar produk yang dihasilkan semakin unggul dan banyak peminatnya,” tandasnya. Sasaran utama dari produk ini adalah para pemilik kendaraan umum yang ada di Indonesia. Rafika dan timnya berharap, hadirnya terobosan ini menjadi langkah awal untuk perubahan Indonesia menjadi lebih baik Utamanya dalam aspke lingkungan. “Mau tidak mau, Indonesia harus bergerak maju untuk perubahan yang lebih baik. Salah satunya dengan menggunakan knalpot ramah lingkungan ini. Semoga jika sudah rampung, knalpot ini dapat diproduksi masal dan diperjual belikan untuk masyarakat umum,” pungkasnya. (tri/wil)

Alumnus UMM Ceritakan Pengalaman Asyik Jadi Peternak di Australia

Selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha dan selalu ada harapan bagi mereka yang berdoa. Ungkapan tersebut datang dari Luthfin ‘Abidah, salah satu alumnus prodi peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Perempuan yang akrab di panggil Luthfin itu kini sedang berkarir sebagai Calves Management dan Farm Hand di salah satu perusahaan ternak sapi perah Australia, bernama Inionba Pastoral Pty, Ltd. “Saya  bisa berkesempatan bekerja di Australia karena sempat masuk di salah satu media Australia pada Maret 2022 lalu. Dari situ, salah satu perusahaan tertarik dengan saya, kemudian menawarkan kesempatan berkarya. Setelah melalui seleksi wawancara, di tahun itu juga saya berangkat ke Australia,” terang Luthfin. Luthfin juga menambahkan, rekam jejak pengalamannya sebagai mahasiswa peternakan UMM juga menjadi salah satu hal yang membuatnya diterima dan dibiayai perusahaan tersebut. Pun dengan beragam kegiatan internasional yang sempat ia ikuti di Kampus Putih. Selama enam bulan bekerja, banyak pengalaman baru yang ia dapatkan. Ia dan tim harus mengurus 3000 sapi yang ada di peternakan. Mulai dari perawatan, memberi makan, cek kesehatan, hingga memerah sapi. Semua ia lakukan dengan maksimal dan baik. Menurutnya dengan berternak, ia bisa melatih cara berpikir dan bersikap menjadi pribadi yang lebih baik. “Pekerja perempuan dan laki-laki di tempat saya bekerja dan diperlakukan sama tanpa perbedaan. Hal tersebut juga membuat saya  mau tak mau harus meningkatkan kemampuan dalam banyak hal. Menarik sekaligus menegangkan, tapi saya sangat menikmatinya,” ungkap Luthfin. Perempuan asal Ponorogo itu mengatakan UMM sangat berperan dalam kesuksesannya hari ini. ia merasa beruntung bisa mengenyam pendidikan di Kampus Putih. Kampus yang memiliki atmosfer internasional, sehingga mahasiswanya juga memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dengan banyak dunia internasional. “Terhitung, sejak semester tiga saya sudah aktif magang di empat tempat berbeda termasuk di Australia. Hal itu bisa terjadi berkat dukungan dari prodi dan juga kampus,” jelas Luthfin. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa bahasa adalah pintu segala ilmu. Selain itu, kemampuan problem solving ,leadership, speaking dan listening juga harus dimiliki jika ingin berkarir diluar negeri. Ia mendorong anak-anka muda Indonesia untuk tidak bosan banyak belajar dan mencoba kegiatan internasional. Dengan begitu, wawasan akan meluas. Begitupun dengan jaringan yang sebelumnya tidak didapat. “Saat bisa menguasai berbagai bahasa, saat itulah dunia dalam genggaman kita. Sisanya bisa kita raih dengan mencoba pengalaman yang beragam. UMM menyediakan paket lengkap untuk pikiran dan rohani kita. Maksimalkan semampumu, saya tunggu sinarmu,” pesan Luthfin untuk para mahasiswa. (zak/wil)

LPT-KA UMM Tegaskan Pentingnya Pendidikan Seks bagi Anak

Akhir-akhir ini media sosial dan media dibanjiri informasi terkait meningkatnya kabar pelecehan seksual. Bahkan, berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sepanjang tahun 2022 tercatat ada 542 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Nahasnya, angka kekerasan seksual pada anak juga tinggi yakni sebanyak 2.436 atau sekitar 53,8%. Berangkat dari itu, Laboratorium Psikologi Terapan Keluarga dan Tumbuh Kembang Anak (LPT-KA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergegas untuk beraksi yang dikemas berupa psikoedukasi. Adapun kali ini mereka menggaet MI Nurul Huda dan melaksanakannya pada akhir Februari 2023 ini. Salah satu pemateri, Siti Maimunah, S.Psi., M.M., M.A. menjelaskan bahwa pendidikan seksual bukan merupakan hal yang tabu. Menurutnya, orang tua seringkali melihat bahwa edukasi ini mengarah pada hubungan seksual. Padahal tidak demikian. Edukasi tersebut malah memberikan topik yang bermanfaat bagi anak, seperti nilai-nilai harus diterapkan dalam keluarga, penghargaan terhadap diri, dan menekankan batasan diri terhadap orang lain. Maksudnya adalah membatasi area tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain. Edukasi seks juga menekankan identitas gender sesuai fitrahnya, menjaga kebersihan area genital, dan tentang bagaimana anak mengetahui tahapan perkembangan fisik dan psikis masa pubertas sebelum mereka mengalaminya. “Orangtua merupakan garda terdepan untuk memberikan edukasi ini. Dengan memberikan pemahaman sejak dini, maka anak akan erbiasa menjaga area genital yang dimiliki dengan sebaik-baiknya,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa dalam pendidikan itu, harus ada komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak. Semakin sering orangtua mengajak komunikasi, semakin mudah pula anak untuk terbuka dan mengobrolkan banyak hal. Baik yang dialami maupun yang dirasakan. Sementara itu, ketua dari LPT-KA UMM Diana Savitri Hidayati, M.Psi. menyampaikan, psikoedukasi ini bertujuan untuk menekan angka pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia. Ia berharap, orang tua bisa lebih perhatian untuk menjaga dan mendampingi putra-putri mereka. “Sejatinya, sebuah pendidikan memang harus terintegrasi antara orang tua, sekolah dan lingkungan. Maka, kami akan berupaya membangun kerjasama dengan berbagai sekolah lainnya. Kemudian menjelaskan pentingnya edukasi seksualn bagi anak,” tegasnya. Kegiatan tersebut disambut baik oleh pihak sekolah dan wali murid. Kepala Sekolah MI Nurul huda Sholeh, S.Pd. menilai, kedatangan LPT-KA UMM sangat bagus. Pendidikan seks memang seharusnya sudah dikenalkan sejak dini. Hal ini sebagai langkah intervensi meningkatnya angka kekerasan seksual. “Semoga para wali murid juga sadar dan paham akan pentingnya hal ini. Pun dengan upaya untuk menyebarluaskannya ke tetangga maupun masyarakat secara luas,” pungkasnya. (*/wil)

FKIP UMM-Kaltim Jalin Kerjasama Tuntaskan Sertifikasi 1.235 Guru

Sebanyak 1.235 guru di Kalimantan Timur (Kaltim) belum menyelesaikan proses sertifikasi guru. Oleh karena itu, tim Kesekretariatan Kalimantan Timur berkunjung ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melakukan kerjasama. Adapun kolaborasi yang dilaksanakan pada Februari lalu itu untuk menuntaskan sertifikasi di Kaltim. Didi Rusdiansyah selaku Staf Ahli Gubernur Bidang dua mengatakan, masalah sertifikasi guru di Kaltim memang mendesak untuk dilakukan percepatan. Pasalnya, pada rentang 2021-2025, ada 912 guru Sekolah Menengah Atas (SMA)  sederajat di Kalimantan Timur yang akan pensiun. “Kami sebelumnya telah berdiskusi dengan Kemendikbud Kaltim dan mendapat arahan untuk mendorong guru-guru kami mengikuti seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG). Guru yang terseleksi, nantinya bisa dipilah untuk dapat didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),” ungkap Didi. Didi berharap FKIP UMM bisa memfasilitasi guru-guru yang ada di Kalimantan Timur untuk mendapatkan sertifikasi PPG. Mulai dari persiapan seleksi, pelaksanaan, hingga persiapan menuju uji kompetensi. Ia juga menargetkan proses percepatan bisa menjadi 6 tahun yang awalnya diperkirakan 12 tahun. Dalam kesempatan itu, Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M. menegaskan bahwa FKIP UMM siap memfasilitasi kebutuhan Kalimantan timur. Utamnaya terkait aspek-aspek pendidikan. Karena hal itu sejalan dengan visi misi fakultas untuk menjadi bagian dari pengembangan profesionalisme guru berkelanjutan. “Kami menyadari sinergisitas antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi sangat penting. Khususnya untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Untuk mengatasi masalah kekurangan guru di Kaltim, program PPG UMM juga menyiapkan skema prajabatan. Bisa juga melalui skema pelaksanaan kuliah di UMM maupun pelaksanaan PPL di sekolah di Kalimantan Timur yang kekurangan guru,” pungkasnya. Ia menambahkan, UMM dan Dinas Pendidikan Kalimantan Timur juga akan menyiapkan skema sertifikasi profesi bagi siswa-siswa SMK di Kalimantan Timur. Sehingga mereka bisa langsung diterjunkan untuk berkarya. Kunjungan itu juga disambut baik oleh Wakil Rektor IV, Dr. Sidik Sunaryo, S.H., M.Si. Menurutnya, FKIP sebagai tonggak awal berdirinya UMM telah memiliki pengalaman panjang terkait peningkatan profesionalisme guru. “Harapannya, kerja sama ini dapat memberikan dampak yang signifikan. Pimpinan kampus pun akan mendukung kerja sama dengan Kesekretariatan Daerah Kaltim dengan FKIP UMM,” terangnya. (*/wil)

Dosen Komunikasi UMM: Ini Langkah Jadi Content Creator Sukses

Saat ini, pekerjaan kreator konten sedang berkembang dengan pesat di Indonesia. Bisa dilihat banyaknya akun yang memiliki pengikut puluhan dan ratusan ribu, hingga jutaan. Konten yang disajikan juga uni dan menarik serta ditayangkan dalam bentuk video, gambar, maupun teks. Hal ini tentu membuat banyak anak muda ingin menjadi seorang kreator konten. Hal itu menarik perhatian dosen Ilmu Komunkasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si. Menurutnya, mereka yang sudah membuat konten patut diapresiasi. Bahkan ia memberikan jempol bagi mereka yang berani untuk ebrkarya dan membuat konten. Novin, sapaannya menilai bahwa potensi contetn creator Indonesia sangat besar. Peluangnya juga cukup besar untuk menjadi salah satunya.  “Sekarang ini adalah eranya industri kreatif. Jadi tidak kaget kalau banyak content creator yang bermunculan. Hal itu bagus untuk mendorong kreativitas dan banyak aspek lainnya,” jelasnya. Peluang yang besar ini akan sangat bagus untuk mereka yang mampu menggunakan otaknya. Yakni dengan menciptakan hal inovatis dan kreatif. Apalagi perkembangan media sosial saat ini sangat pesat, sehingga memberikan banyak kesempatan untuk siapapun. “Kalau dulu mungkin masih didominasi orang-orang ilmu komunikasi dan jurnalistik, ya. Tapi kalau sekarang, sudah banyak yang bisa pakai kameran, bisa menulis narasi dan melahirkan sebuah karya,” imbuhnya. Dosen yang fokus di studi perfilman dan pertelevisian ini mengatakan jika riset adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang kreator konten. Tidak melulu membahas mengenai hal yang sedang tren, tapi minimal tahu persis apa yang sedang diinformasikan atau dibagikan. “Kreator konten itu kan memberikan informasi. Jadi ketika menyampaikannya, paling tidak ada isi yang menarik. Hal itu hanya bisa didapat dari riset yang baik dan mendalam, ” terangnya. Selain kemampuan riset, konsistensi juga penting untuk menjadi seorang content creator. Konsistensi yang dimaksud utamanya menyangkut tema atau konsep konten yang di buat. Pun dengan cara yang menjadi ciri khas, serta jadwal untuk mempublikasikan konten tersebut harus sesuai. Ini penting agar mudah dikenal bahkan dioptimalisasi oleh platform publikasi. “Jangan berpikir konten kita jelek. Berproses dulu. Habiskan masa jelek itu hingga kalian bisa bagus dan terus berkembang sehingga selanjutnya bisa survive,” tutup dosen yang juga seorang produser itu. (van/wil)

Tim FH UMM Raih Juara Tiga Debat Nasional

Kabar membanggakan kembali datang dari Univesitas Muhammadiyah malang (UMM). Kali ini giliran mahasiwa Fakultas Hukum UMM yang sukses meraih juara tiga dalam kompetisi debat konstitusional tingkat nasional. Adapun kemenangan ini diraih pada pertengahn Februari lalu di Uiversitas Negeri Gorontalo. Salah satu anggota tim, Saiful Risky menilai prestasi ini tak lepas dari dukungan kampus UMM. Para dosen dan seniornya memberikan banyak masukan dan evaluasi. Sehingga mereka akhirnya bisa tahu kekurangan dan memperbaiki dengan cepat. Apalagi ketiganya juga tergabung dalam LSO Komunitas Riset dan Debat FH UMM. “Support dari UMM sangat banyak dan kami bersyukur akan hal itu. Ini juga bukan jalan yang mudah. Sebelum turut serta bersaing di kompetisi nasional, kami harus bersaing di tingkat FH UMM. Mencari siapa yang paling cocok dan memiliki skill agar bisa mengharumkan nama UMM di kancah tersebut,” katanya. Ada sederet topik yang dihadirkan kompetisi debat tersebut. Mulai dari pembahasan terkait jabatan ketua umum partai politik dua periode, pelegalan pernikahan satu kantor, dan teman menarik lainnya. Mau tidak mau, ia dan tim harus banyak membaca dan menganalisis masalah-masalah yang disajikan. “Topiknya menarik untuk dibahas dan didebatkan. Mau tak mau kami harus menyiapkan dasar hukum dan argumen yang jelas. Alhamdulillah bisa berada di posisi ketigia,” katanya. Ia mengatakan, meski harus melewati banyak kesulitan, namun mereka bersyukur bisa ikut bersaing di lomba debat itu. Apalagi ada banyak kenalan baru, ilmu baru, wawasan dan pengalaman baru. Dengan begitu, mereka bisa meningkatkan kualitas diri. Menurutnya, kompetisi debat bisa dijadikan tolak ukur kapasitas dan kapabilitas mahasiswa. Pun dengan proses mengasah ilmu serta tingkat pemahamannya. Kemudian bisa membandingkannya dengan keilmuan mahasiswa atau pemuda dari berbagai kampus se-nusantara. Risky tidak sendiri, piala juara ketiga diraih bersama dengan dua sahabatnya yakni Cintya Mei Puspitasari dan Moh. Riski Fadjar Romadhani. Ia juga mengajak anak muda lain utuk berani berkompetisi. Menuruntya, hal-hal besar terjadi pada mereka yang tidak berhenti percaya, berusaha, belajar, dan bersyukur. Orang yang jatuh dan bangkit lebih kuat dari orang yang tidak pernah mencoba. “Tak perlu malu untuk mencoba. Mahasiswa harus berani maju agar bsia mengetahui seberapa jauh kapabilitasnya. Kalaupun bagus dan berhasil menjadi juara, itu adalah bonus yang luar biasa,” tegasnya mengakhiri. (wil)

Suka Makanan Pedas? Ini Bahaya dan Cara Mengatasinya ala Dosen UMM

Masyarakat Indonesia banyak yang menyukai makanan pedas, terutama kalangan milenial dan gen Z. Bahkan ada anggapan bahwa makananan akan terasa kurang jika tak ada sambal. Kini, ada banyak makanan pedas yang diolah dengan beragam cara, baik yang mengandung unsur cabai atau merica hingga zat capsaicin yang juga menimbulkan rasa pedas. Fenomena itu menarik perhatian Henik Tri Rahayu, S.Kep. Ns.MS. Ph.D selaku Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan pedas atau cabai sebenarnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun  jika dikonsumsi secara berlebihan akan menimbulkan kerugian bagi tubuh. Apabila dikonsumsi dengan takaran yang sesuai, cabai memiliki manfaat sebagai anti inflamasi dan menjadi salah satu sumber vitamin C tertinggi. Sayangnya manfaat cabai tidak bisa diterima oleh semua manusia karena perbedaan kebiasaan makan pedas. “Banyak contoh makanan pedas kekinian yang sering kita temui, misalnya macaroni dengan berbagai macam level. Apabila zat pedas dari makanan ini masuk secara berlebihan ke dalam saluran pencernaan, maka tentu saja bisa merusak pencernaan itu sendiri,” ucap Henik. Lebih lanjut, jika lambung seseorang tidak terbiasa mengonsumsi makanan pedas, akna timbul iritasi yang diawali dengan gejala diare. Kemudian jika iritasi terus menerus berlangsung dan berlebihan, akan menimbulkan ulkus atau luka pada dinding lambung. Bahkan sesekali juga memunculkan sensasi mual hingga muntah. “Zat capsaicin yang ada pada makanan pedas akkan tetap ada di lambung, meskipun makanan sudah menuju ke organ tubuh lainnya. Jadi, apabila zat ini terus menerus menumpuk, maka kemungkinan  bisa merusak pencernaan,” tegasnya. Henik juga memberikan beberapa cara untuk mengurangi kebiasaan mengonsumsi makanan pedas. Salah satunya dengan mengganti makanan pedas olahan ke cabai yang segar. Ia menjelaskan bahwa cabai segar lebih pedas ketimbang cabai yang sudah dikeringkan. Sehingga tubuh akan lebih cepat merasa cukup dan tidak erus menerus memakannya. “Sementara itu, apabila merasakan pedas yang berlebihan, cara paling efektif untuk meredakannya dengan meminum minuman hangat. Hal itu dikarenakan rasa panas harus dilawan juga dengan panas. Air hangat dinilai lebih cepat menetralisir dibandingkan minuman dingin, sekalipun sudah ditambah dengan gula atau rasa,” katanya. Ia juga berpesan untuk mengurangi konsumsi makanan pedas. Apalagi saat ini makanan-makanan tersebut sudah diolah dengan beragam cara yang campurannya tidak diketahui dan jelas. “Segera kurangi kebiasaan makan makanan pedas demi menjaga kesehatan tubuh kita,” pungkasnya. (nia/wil)

Vokasi UMM Siap Kirim SDM Bidang Konstruksi ke Jepang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin melebarkan kerjasama dengan perusahaan Jepang OS Selnajaya. Hal tersebut terbukti dari penandatanganan kerjasama pada “Seminar Peluang Berkarir di Jepang di Bidang Konstruksi,” yang diadakan oleh Vokasi UMM pada 25 Februari 2023 lalu. Kegiatan yang diadakan secara hybrid tersebut dihadiri oleh ratusan peserta baik dosen, mahasiswa hingga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dalam kesempatan itu, Project Leader Japan Association for Human Resources, Shikano Naoya mnejelaskan tentang sistem spesified skill worker (SSW) di Jepang. ia menjelaskan bahwa per juni 2022 total penduduk Indonesia di Jepang sebanyak 83,169 orang. Dimana 47% atau 39.177 orang Indonesia di Jepang merupakan pegawai magang dan 11% atau 9.481 orang sebagai SSW. “Sebenarnya, sistem ini dibuat guna membantu permasalahan kekurangan sumber daya manusia (SDM) di Jepang. Yakni dengan menargetkan pekerja yang memiliki kemampuan, pengalaman serta pengetahuan yang cukup di bidangnya masing-masing. Adapun pekerja sebagai SSW memiliki status kependudukannya sendiri,” jelas Shikano. Lebih lanjut Shikano menjelaskan bahwa sejak April 2019, SSW terbag menjadi dua status kependudukan, 1 dan 2. Perbedannya adalah, kependudukan nomor 2 ialah pekerja yang memiliki kemampuan lebih baik ketimbang nomor 1. Mereka juga bisa memperpanjang periode tinggal serta dapat membawa keluarganya ke Jepang. “Adapun SSW di bidang konstruksi terbagi menjadi tiga jenis pekerjaan yaitu teknik sipil, arsitektur, utilitas dan fasilitas. Gaji yang didapat SSW rata-rata sekitar 230.000 yen atau setara dengan 26 juta rupiah per bulan. Namun untuk menjadi SSW, pekerja diwajibkan lulus ujian  bahasa Jepang (Japan Foundation Test) JFT level A2 dan ujian SSW nomor 1,” terang Shikano. Menariknya, turut hadir perwakilan lainnya dari asosiasi konstruksi Jepang sebagai pemateri di seminar tersebut. Mereka adalah Takaishi Tsune yang menjelaskan mengenai bekisting pada konstruksi, Nakamura Shinya yang menjelaskan mengenai besi tulangan, dan Kitaguchi Nobuo yang menjelaskan mengenai pengelasan pada konstruksi dengan tekanan gas. Pada kesempatan itu turut hadir President Director OS Selnajaya Jakarta, Satoshi Miyajiama yang mengatakan bahwa tujuan seminar ini untuk memperbanyak peluang kerjasama di Indonesia, khususnya dengan UMM. Dalam hal ini, Japan Association  Construction for Human Resource (JAC) mempercayakan UMM sebagai mitra dalam proses training dan seleksi untuk SSW. “Saya harap kedatangan JAC ini bisa menambah peluang pekerja Indonesia untuk berkarya di Jepang. Sehingga tujuan utama dari SSW bisa tercapai dengan maksimal,” harap Satoshi. Disisi lain, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM Dr. Tulus Winarsunu, M.Si  menilai bahwa kerjasama ini merupakan pengembangan dari skema yang sudah ada sebelumnya. Sejauh ini, sudah ada 29 perusahan Jepang yang telah berkolaborasi dengan vokasi UMM. “Melalui kerjasama ini, vokasi UMM ingin merubah pandangan orang Indonesia tentang bekerja di luar negeri. Mereka bisa bersaing dengan SDM lainnya selama punya tekad kuat dan belajar dengan baik. Sehingga mampu menjadi profesional yang resmi dan legal,” ungkap Tulus. (zak/wil) Shared:

Dekan FH UMM: Ada Banyak Pelajaran di Kasus Ferdy Sambo

Setelah terkuaknya kasus Kematian Brigadir Joshua, Ferdy Sambo ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Hasil tersebut bukan berasal dari proses yang singkat, apalagi ada banyak fakta mengenai kejanggalan yang terjadi. Terkait kasus pembunuhan itu, Dekan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Tongat SH., M.Hum. turut angkat bicara. Ia menilai bahwa kasus ini belum memasuki babak akhir, justru malah memasuki babak awal. Menurutnya, Ferdy Sambo bisa saja menempuh berbagai upaya hukum untuk meringankan hukuman dan putusan dari hakim. Banyak kesempatan yang bisa ia lakukan. seperti pengajuan banding ke pengadilan tinggi, hak asasi, hingga melakukan peninjauan ulang. Bahkan jika upaya tersebut ditolak, ia masih bisa mengajukan grasi kepada presiden secara langsung. “Memang ada peluang baginya untuk mengajukan banding, namun peluangnya tentu tipis. Hal itu dikarenakan prosesnya yang harus melalui indeks fakti. Sehingga tidak ada cela yang bisa dimasuki lagi,” tegasnya. Tongat, sapaannya, juga membahas beragam faktor yang mempengaruhi hukuman dari pihak pengadilan. Salah satu faktor utamanya adalah ikutnya masyarakat menyaksikan proses persidangan. Pun dengan tidak adanya i’tikad baik dari tersangka untuk membongkar dan menyingkap kebenaran kasus. Terkait hukuman mati, ia juga menjelaskan bahwa dalam sistem pidana, eksekusi mati baru bisa dilakukan jika pengajuan grasi sudah ditolak. Namun Ferdy Sambo bisa saja mengajukan upaya penundaan penegakan keadilan. Hal itu sesuai dan tertuang pada pasal 100 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai penundaan jatuhan hukuman mati selama sepuluh tahun. Namun, untuk menggunakan pasal tersebut harus dituang secara eksplisit saat persidangan. Ia juga menilai ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kasus Sambo. Satu di antaranya adalah adanya transparansi proses persidangan dan hakim. Hal ini sekaligus bisa menghapus stigma buruk yang beredar di masyarakat. Putusan hakim memberikan harapan baru bagi masyarakat tentang keadilan yang harus ditegakkan. “Tak akan ada lagi paradigma bahwa hukum itu tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Melalui kasus ini pula, muncul titik balik bahwa equality before the law masih bisa diperjuangkan. Tentu dengan catatan bisa dilanjutkan, dilakukan dengan serius serta pengawalan dari masyarakat. Jadikan momen ini sebagai bahan untuk intropeksi diri, khususnya bagi institusi kepolisian agar bisa mengembalikan citra baik di masyarakat,” pungkasnya. (tri/wil)

Dosen Ekos UMM: Biaya Haji Naik, Masyarakat Perlu Sosialisasi dan Transparansi

Kenaikan biaya haji pada awal tahun 2023 ini menyita perhatian sebagian besar masyarakat. Kini biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) yang awalnya Rp39,8 juta, naik menjadi Rp49,8 juta per jemaah. Sementara biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) berada di kisaran Rp90,05 juta per jamaah. Tidak sedikit masyarakat yang protes dan kecewa atas kebijakan ini. Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi (Kaprodi) Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang Dr. Rahmad Hakim, S.HI., M.MA. mengatakan bahwa setiap negara memiliki ketentuan yang berbeda-beda dalam penetapan biaya haji. Dalam Biaya Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH) disebutkan jika sistem lama diberlakukan, dikhawatirkan jemaah tidak bisa memperoleh nilai manfaat yang semestinya di tahun-tahun yang akan datang. “Biaya haji ini naik karena subsidinya diturunkan, karena porsinya keliru. Dulu 70 persen dibiayai pemerintah, sementara 30 persen dibebankan pada orang yang akan berhaji. Nah sekarang bengkak karena ditukar, 60 persen bagi orang yang akan haji, sedangkan subsidi pemerintah di angka 40 persen. Ini membuat masyarakat menganggap haji ini menakutkan. Pertama, karena biayanya mahal, lalu waktu tunggunya juga jauh dan lama. Selain itu sisi ketidakpastiannya juga jadi lebih tinggi,” ujar Rahmad. Menurutnya, kebijakan tersebut sah-sah saja karena terkait dengan kebijakan publik. Tetapi yang patut untuk dikritisi adalah pengumumannya yang terkesan mendadak dan spontan. Harusnya ada sosialisasi berkelanjutan karena momentum yang ada kurang tepat. Hal itu tidak lepas dari kondisi pasca Covid-19. Apalagi banyak yang mengalami pemutusan hubungan kerja serta banyaknya harga bahan-bahan pokok yang naik. Selain itu, Rahmad menegaskan bahwa harus ada transparansi dana, karena beberapa waktu lalu muncul wacana bahwa ongkos hadi di Saudi turun sebesar 30%. Untuk mengantisipasi kecurigaan, perlu adanya penjelasan rinci terkait biaya haji. Sehingga masyarakat juga bisa tahu nilai manfaat yang akan diterima serta kepastiannya. Tentu kebiijakan ini memunculkan banyak kekecewaan dari masyarakat. Namun, Rahmad mengingatkan kembali lagi ukuran kemampuan untuk berhaji. Haji hanya dilaksanakan oleh orang-orang dalam kondisi memiliki bekal secara finansial, baik untuk biaya perjalanan maupun biaya keluarga yang ditinggalkan. Pun harus menguasai pengetahuan manasik haji, hati yang ikhlas, sabar, syukur, tawakkal dan rendah hati, serta harus sehat mental dan fisik. “Banyak masyarakat yang merasa keberatan dengan kebijakan tersebut. Tapi jangan khawatir, jika sudah benar-benar dipanggil, maka Allah akan menunjukkan dan memudahkan jalannya,” pungkas Rahmad. (nel/wil)