Sosok Angger, Aremania UMM yang Jadi Korban Tragedi Kanjuruhan

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berduka. Pasalnya salah satu mahasiswa Kampus Putih, Angger Aditya Permana menjadi korban dalam tragedi yang terjadi usai laga Arema melawan Persebaya (1/10). Ia menjadi salah satu dari ratusan korban yang meninggal malam itu. Angger, sapaan akrabnya merupakan mahasiswa jurusan Kehutanan Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP). Ia dikenal sebagai mahasiswa yang rajin dan baik. Sebagai orang Malang, ia sangat mencintai Arema dengan menonton timnya bertanding. Namun ia juga tak pernah meninggalkan kewajibannya untuk belajar sebagai mahasiswa. Mendengar musibah itu, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. datang dan melakukan takziah ke kediaman Angger. Ia menyampaikan belasungkawa yang sangat dalam. “Angger adalah anak kita, pun juga anak kami di UMM. Selama ini, para dosen di Jurusan Kehutanan juga melihat bahwa ia adalah anak yang baik dan taat. Tak ada catatan negatif maupun buruk selama berkuliah di Kampus Putih. Kami tentu berharap, semoga Angger husnul khotimah serta ditempatkan di sisi terbaik-Nya,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Nazar yang datang bersama tim UMM juga memberikan santunan sebagai bentuk kasih sayang. Mengobrol dan menemani keluarga yang masih merasa kehilangan. Pun dengan mengembalikan biaya studi yang sudah orang tua Angger bayarkan selama menimba ilmu di UMM. Ia salut dengan bapak Angger yang masih bersemangat dan terus berupaya menguliahkan anak-anaknya dengan bekerja sebagai ojek online. Selain Angger, kakanya juga sedang menimba ilmu di UMM. ia diterima lewat jalur bidik misi di jurusan Civic Hukum dan akan selesai dalam waktu dekat. “Saya sangat salut akan kerja keras bapak untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Upaya banting tulang bapak tentu mnejadi semnagat tersendiri bagi almarhum Angger dan kakaknya. Semoga keluarga terus diberi kelancaran rezeki serta kesehatan,” harap Nazar mengakhiri. (*)

Kokohkan Predikat Kampus Intenasional, UMM Gabung AUAP dan EURAS

Periode 2022-2026 menjadi sebuah target tinggi yang akan dicapai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam International Accreditation. Hal tersebut dimulai dengan resminya UMM sebagai member dari Association of Universities of Asia and the Pacific (AUAP) dan Eurasian Universities Union (EURAS). Adapun UMM resmi menjadi member AUAP dan EURAS sejak September lalu. Risa Herlianita, S.Kep, Ns., MS. selaku Kepala Bagian Kerjasama di Biro Adminitrasi Kelembagaan, Pengembangan SDM dan Kerjasama (KSK) menjelaskan bahwa AUAP merupakan sosiasi yang mewadahi anggotanya untuk berkolaborasi dan berinteraksi. Utamanya dalam hal budaya, sosial, politik dan ekonomi di kawasan Asia Pasisfik. Sedangkan EURAS merupakan asosiasi internasional nirlaba yang bergerak dalam pertukaran ilmu pengetahuan dan praktek di institusi perguruan tinggi terbaik guna menciptakan kemajuan standar pendidikan global di kawasan Eurasia. Risa, sapaan akrabnya mengatakan ini menjadi langkah awal UMM dalam pengakuan akreditasi internasional. Selain itu juga sebagai upaya melebarkan jaringan internasional dengan tujuan membuka kerjasama baru. Langkah ini menjadi sebuah bentuk implementasi Kampus Putih UMM dalam menggapai capaian atau milestone untuk tahun 2022-2026. “Bergabungnya kami di asosiasi perguruan tinggi ini tentu memberikan banyak keuntungan. Mulai dari bertambahnya link dan kemungkinan kerjasama hingga pandangan dunia akan UMM,” tambahnya. Dosen Ilmu Keperawatan UMM ini mengatakan bahwa bentuk kerjasama bukan hanya konferensi internasional semata. Melainkan juga pertukaran ilmu pengetahuan, praktek, penelitian, hingga pertukaran budaya antar negara. Sehingga melalui forum-forum tersebut, hubungan UMM dengan perguruan tinggi di asosiasi AUAP dan EURAS terjalin dengan baik. “Melalui kegiatan yang diadakan oleh AUAP dan EURAS ini, saya rasa UMM bisa bergabung dalam forum yang ideal dalam berjejaring dengan universitas lain dari seluruh dunia dan memperkuat kerjasama internasional” imbuhnya. Dalam prosesnya, pihaknya harus menunggu waktu selama satu bulan sebelum bisa diresmikan menjadi anggota dua asosiasi tersebut. Pun dengan proses dokumen yang menjadi salah satu poin penting agar Kampus Putih bisa jadi salah satu yang masuk. “UMM memang sudah memiliki ratusan kerjasama baik di tingat nasional maupun internasional. Tapi jumlah itu belum cukup dan harus terus ditingkatkan agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Apalagi melihat target UMM pada empat tahun ke depan yang mneyasar pada rekognisi dan akreditasi internasional,” tam

Tragedi Kanjuruhan: UMM Sigap Turunkan Tim Medis dan Pendampingan Psikologis

Tragedi memilukan terjadi pada Sabtu (1/10) di stadion Kanjuruhan. Sebanyak lebih dari 120 korban meninggal karena tragedi tersebut. Korban merupakan supporter Arema dan sederet anggota kepolisian. Selain itu adapula ratusan korban luka-luka yang harus mendapat perawatan. Tragedi ini menyisakan pilu, bukan hanya bagi suporter kedua klub saja, tapi juga penggemar sepak bola seluruh dunia. Terutama para keluarga korban yang tak menyangka hal itu bisa terjadi. Sampai saat ini, pihak UMM terus berupaya mendapimpingi keluarga para korban untuk menenangkan. Sederet tim dari Fakultas Psikologi dan RS UMM diturunkan sebagai bentuk kontribusi bagi masyarakat di tengah tragedi. Selain itu, Kampus Putih juga menurunkan tim medis dari RS UMM untuk membantu penanganan korban sejak malam tadi (1/10). RS UMM juga sudah berkoordinasi dengan sederet fasilitas kesehtan lain serta Dinas Kesehatn Kabupaten Malang. “Kami sudah berkoordinasi dengan banyak pihak dan langsung terjun membantu para korban di Kanjuruhan,” jelas Wakil Direktur RS UMM dr. Thontowi Jauhari, M.Kes. Terkait kondisi tersebut, Psikolog UMM Hudaniah S.Psi. M.Si. juga berkomentar terkait psikologis keluarga yang ditinggalkan korban. Menurutnya, setiap keluarga pasti merasakan kehilangan. Namun tingkatnya akan berbeda tergantung peran korban dalam keluarganya. Ada korban yang merjadi tulang punggung, anak pertama, anak tunggal, suami, anak dan lainnya. “Semakin kuat peran korban di keluarganya, maka semakin tinggi pula tingkat kehilangannya. Jika korban seorang ayah yang menjadi tulang punggung, maka kehilangan akan terasa sangat sakit bagi istri dan anak-anak. Pun dengan peran korban lainnya,” ungkap Hudan menjelaskan. Salah satu cara untuk mengurangi rasa kehilangan tersebut adalah dengan social support. Yakni Bagaimana keluarga, tetangga, atau lembaga pemerintahan terdekat seperti Rukun Tetangga (RT) maupun Rukun Warga (RW) menemani dan menanangkan. Kemudian, jika sudah membaik, keluarga yang ditinggalkan bisa beranjak dan melakukan langkah lain untuk melanjutkan hidup. Para kerabat juga bisa membantu baik dari segi material maupun non-material. Maka, melihat hal itu, UMM sigap menurunkan tim psikolog dari Fakultas Psikologi untuk mendampingi keluarga korban. “Kami berupaya hadir, menemani, dan mendengarkan keluh kesah keluarga yang ditinggalkan. Itu saya rasa bisa membantu. Kami juga berpesan agar jangan sampai para tetangga menanyakan kronologi dan kejadiannya. Karena hal itu malah akan memperburuk keadaan,” kata Hudan. (haq/wil)

CoE Anggrek UMM Kaji Peluang Bisnis Anggrek Level Internasional

Undang ratusan pelaku bisnis, peneliti, dosen, dan mahasiswa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Center of Excellence (CoE) Anggrek gelar International Seminar and Business Network. Kegiatan yang diinisiasi oleh jurusan Pendidikan Biologi ini diselenggarakan pada akhir September lalu di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Ketua pelaksana kegiatan Tutut Indria Permana, M.Pd. mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menegaskan peran bisnis anggrek sebagai salah satu penggerak ekonomi Indonesia maupun dunia. Oleh karena, itu seminar ini memilih tema The Contribution of Orchids Agribusiness to National Development. “Selain mengundang 100 pembisnis, peneliti, dosen, dan mahasiswa, kegiatan ini juga turut bekerja sama dengan DPW Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Jawa Timur,” ungkap dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut. Dalam event itu, dijelaskan beragam kondisi bisnis anggrek di berbagai negara. Salah satunya adalah pergerakan bisnis anggrek di Singapura. Selain itu, ada juga paparan materi mengenai konservasi anggrek liar di Malaysia beserta peningkatan kesadaran masyarakat agar anggrek tidak punah. Salah satu pemateri, Sales Manager PT Ekakarya Graha Flora Ir. Joko As’ad juga turut menyampaikan beberapa tips bagi pembisnis anggrek pemula. “Hal yang harus diperhatikan oleh para pemula adalah  aspek pengembangan dan perluasan jaringan. Bisnis anggrek terbuka luas, tidak pernah sepi, berkelas, dan merupakan hal yang menarik. Tren ini perlu disambut baik dan dibaca sebagai peluang bisnis unggulan oleh masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa dalam perjalanannya, UMM akan terus melibatkan diri dalam kerja intelektual. Berupaya menciptakan pebisnis  di bidang anggrek serta mencetak peneliti anggrek skala internasional. “Saya berharap seminar ini dapat menegaskan kepada khalayak umum bahwa UMM mampu membaca selera pasar dan membuka peluang bisnis yang menarik,” pungkas pria kelahiran Kediri tersebut. Di sisi lain, salah satu peserta seminar Retno mengaku sangat terkesan dengan event temu bisnis ini. Apalagi dengan pembahasan peran Indonesia dalam konservasi dan bisnis anggrek. Ia melihat Jurusan Pendidikan Biologi UMM mampu menjadi bagian strategis dan berperan aktif dalam peningkatan bisnis anggrek. “Saya kagum karena Pendidikan Biologi mampu menangkap tren kekinian dan peluang global pertumbuhan bisnis anggrek,” ungkap pengurus DPW PAI tersebut mengakhiri. (Syi/Wil)

Sering Juara Tari, Wisudawan Terbaik UMM Ini Juga Sukses Capai Nilai Sempurna

Memiliki prestasi di luar bidang akademik tapi tetap menjaga nilai tetap prima bukanlah hal yang mustahil. Hal tersebut disampaikan Tara Narendra Kirana, wisudawan terbaik dari program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain sukses menjaga nilainya tetap prima, ia juga selalu menjalankan aktivitas dan hobinya untuk menari. Tara, sapaan akrabnya mengatakan bahwa sangat rugi jika hanya menjadi mahasiswa tanpa menambah ilmu dan pengalaman lain di luar. Menurutnya, memaksimalka potensi dan bakat adalah pekerjaan yang menyenangkan. Adapun kegiatan tari sudah ia geluti sejak masih duduk di taman kanak.kanak. “Awalnya aku tertarik dengan kostum-kostum beserta aksesoris yang dikenakan para penari. Kemudian mencoba ikut sanggar tari dan mulai belajar hingga saat ini,” tambahnya. Darah penari yang turun dari ibunya juga memiliki peran penting. Meksi begitu, tak ada paksaan dari ibunya untuk ikut sanggar. Menurutnya, ibu menjadi inspirasinya dalam proses menguasai gerakan tarian. Tara mengatakan bahwa tari tradisional mempunyai keunikan sendiri karena memiliki kekhasan dari tiap daerah dan provinsi. Apalagi selalu ada nilai filosofis di setiap gerakan dan lenggokan yang ditampilkan. “Alhamduliah UMM sellau mewadahi saya untuk mengembangkan potensi. Bahkan saya bersama tim sempat memenangkan beberapa perlombaan tari tradisional di tingkat Nasional. Di tahun 2020 saya bersama tim meraih juara 2 membawakan tari Geleng Ro’om asal Madura di Universitas Kanjuruhan Malang. Kemudian pada tahun 2021 berhasil meraih juara 1 membawakan tari Jaripah asal Banyuwangi di Universitas Muhammadiyah Sukabumi,” jelas Tara. Tara menjelaskan dirinya menggunakan sistem skala prioritas agar hobi menarinya tidak mengganggu tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa. Setiap hari ia membuat daftar kegiatan dan tugas yang harus diselesaikan. Dengan begitu, ia bisa memilah mana yang harus didahulukan terlebih dahulu. Dengan begitu, nilai perkuliahannya bisa terjaga hingga mampu mendapat IPK sempurna. Setelah lulus dari perguruan tinggi, ia berniat terus aktif menjadi penari dan berharap bisa mengajak pemuda Indonesia untuk melestarikan budaya. Meski zaman terus maju, tapi budaya harus tetap dijaga. “Kuliah memang nomor satu, tapi jangan hanya jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja,” tegasnya. (zak/wil)

Tiga Mahasiswa UMM Raih Juara Debat Nasional

Usaha tidak mengkhianati hasil, pepatah tersebut seakan cocok dengan tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses meraih juara. Mereka berhasil menyabet tempat kedua dalam National Debate Competition bertajuk Harmoni Cinta Guru Pesta Daring Universitas Negeri Jakarta (UNJ), awal September lalu. Ada lebih dari 20 tim dari berbagai universitas se-Indonesia yang saling bersaing dalam kompetisi itu. Adalah Ferdy Aprizal dan Mohammad Rakan Putra Zazli Agus dari Fakultas Psikologi serta Hamim Faqih dari Hubungan Internasional yang mampu mengharumkan nama kampus. Ferdi, sapaan akrabnya menceritakan bahwa timnya hanya melakukan persiapan selama satu minggu sebelum kompetisi. Selain mental, retorika penyampian dan penguasaan materi juga penting. Mereka selalu berlatih diskusi dan juga melihat video debat yang ada di sosial media. “Persiapan kita dalam perlombaan kali ini lebih menguatkan retorika agar lancar ketika menyampaikan argumentasi dalam kompetisi,” ucapnya. Ia bersyukur pihak UMM selalu memberikan motivasi dan menyediakan organisasi yang mendorong kemampuan debat mereka. Ada LSO di tingkat fakultas, ada pula beragam UKM di tingkat universitas. Jadi, semua mahasiswa bisa ikut sesuai dengan minat dan passionnya. Bahkan mampu mengantarkan menuju puncak prestasi di berbagai lomba. Mahasiswa asal Tarakan ini melanjutkan bahwa pada babak penyisihan, timnya sempat bertengger di posisi akhir. Bukan hanya sekali, tapi saat quarter final, mereka juga duduk peringkat terakhir pula. Namun berkat mental baja, mereka mampu terus naik dan mempersembahkan yang terbaik. Hingga akhirnya masuk final. Menariknya, ia dan tim belum lama memenangkan juara dua lomba debat nasional pada event Festival Retorika Universitas Negeri Malang (UM), bulan Juli lalu. Menurut Ferdi, kuncinya adalah tidak meremehkan lawan sehingga bisa menampilkan upaya yang apik dan menghasilkan hal yang baik. “Kami tidak ingin jadi satu-satunya yang bersemangat meraih prestasi. Sasya mengajak mahasiswa-mahasiswa lain untuk menemukan bakat, potensi dan minat mereka. Kemudian diasah dan dikembangkan sehingga memberikan kelebihan pada diri. Pun dengan upaya mengharumkan nama Kampus Putih UMM di berbagai kancah. Baik lokal, nasional hingga internasional,” harapnya. (haq/wil)

Ini Terobosan Anyar FH UMM, CoE Sekolah Asisten Advokat

Center of Excellence (CoE) Asisten Advokat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) merupakan terobosan yang strategis. Apalagi dengan kerjasama yang sudah dibangun bersama sederet kantor hukum. Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Advokat Indonesia (DPC Peradi) Malang, Iwan Kuswardi, S.H. dalam launching CoE Sekolah Asisten Advokat, Jumat (16/9) lalu. Iwan, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa pihaknya bangga dan mengapresiasi kerjasama yang dibangun Kampus Putih. Bahkan program ini sudah berjalan sejak minggu lalu dengan pemberian materi oleh para advokat kepada mahasiswa. “Antusiasme teman-teman mahasiswa sangat tinggi, feedback yang diberikan juga bagus. Semoga dari CoE Asisten Advokat ini bisa melahirkan generasi penerus bangsa, utamanya yang berkutat di bidang hukum,” ungkapnya. Adapun para peserta nantinya mengikuti materi yang langsung diberikan oleh praktisi advokat. Berbekal pengetahuan itu, mereka dikirim ke beberapa kantor hukum untuk melakukan magang selama dua semester. Menariknya, mereka juga turut menyusun dokumen-dokumen hukum dan menangani perkara membantu advokat, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Setelah selesai, mahasiswa akan diuji oleh para mitra terkait dan mendapatkan sertifikasi lulus yang bisa digunakan untuk ekuivalensi mata kuliah dan bukti bahwa kemampuannya mumpuni untuk bersaing di dunia kerja. Terkait CoE Asisten Advokat, Dekan FH UMM, Dr. Tongat, S.H., M.Hum. menjelaskan bahwa saat pertama kali menjalin komunikasi, terobosan ini mendapat sambutan yang luar biasa. Baik dari DPC maupun DPN Peradi. Namun, memang harus melewati proses dan pembicaraan yang panjang hingga bisa sampai pada titik ini. “Sekolah ini juga menjadi perwujudan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan UMM PASTI. Kampus Putih juga senantiasa berkomitmen untuk memastikan kelulusan mahasiswa 3,5-4 tahun. Pun dengan kepastian alumni yang mandiri serta pasti bekerja. Semoga kita mampu mengantarkan mahasiswa menjadi penerus advokat yang andal, memberikan spirit dan nilai tambah dalam upaya memperbaiki hukum di Indonesia,” tuturnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memaparkan bahwa kehadiran 40 CoE ini merupakan upaya UMM menjawab tantangan bonus demografi yang akan dimulai pada 2030 mendatang serta menyongsong Indonesia emas 2045. Apalagi Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor lima di dunia. Maka, salah satu yang harus diperhatikan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Namun sayangnya, Fauzan menilai bahwa model pendidikan yang dikembangkan di Indonesia masih menggunakan langgam-langgam lama. Ia bahkan sempat bertanya kepada salah satu pemilik perusahaan mengenai alumni perguruan tinggi mana yang bisa langsung tune in dengan iklim kerja. “Ia menjawab bahwa tak ada satupun lulusan universitas yang bisa langsung kerja. Maka CoE hadir untuk menjawab problem itu. Kini, UMM juga sudah bekerjasama dengan Kawasan Ekonomi Khusus Singhasari untuk mengembangkan Center for Future of Work (CFW) yang menyiapkan SDM cakap digital dan mampu menguasai pekerjaan masa depan,” pungkasnya. (wil)

Meriah, Bulan Sutena Sukses Tutup Pesmaba UMM 2022

Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergemuruh saat Bulan Sutena naik dan bernyanyi di atas panggung untuk menutup Pesmaba UMM 2022, Kamis (15/9) lalu. Sebanyak 7500 mahasiswa baru dari berbagai fakultas turut bernyanyi dan meramaikan hingga akhir. Terhitung ada sepuluh judul lagu yang dibawakan Bulan. Termasuk salah satunya lagu UMM PASTI yang menjadi semboyan UMM untuk memastikan kelulusan mahasiswa tepat 3,5-4 tahun. Pun dengan kepastian menjadi pribadi yang mandiri serta pasti mendapatkan pekerjaan dalma waktu yang singkat. Usai manggung, Bulan mengaku bahwa atsmosfer di Dome UMM sangat seru. Para mahasiswa terlihat bersemangat dan siap menghadapi perkuliahan di Kampus Putih UMM. Ia mengaku bahwa Pesmaba UMM menjadi pengalaman pertama kali baginya untuk perform di depan ribuan penonton. “Menyenangkan bisa mengunjungi dan manggung di sini. Buat kakak-kakak mahasiswa baru UMM, terus semangat belajar, rajin kuliah, dan kurangi bolos. Semoga bisa mencapai cita-cita yang diimpikan,” ucap Bulan. Di sisi lain, Kepala Humas Kampus Putih UMM M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan bahwa Bulan Sutena sengaja dihadirkan dalam Pesmaba ini. Menurutnya, sosok musisi seperti bulan Sutena mampu memberikan motivasi positif bagi mahasiswa generasi Z UMM. Apalagi ia merupakan salah satu ikon TikTok yang banyak digandrungi anak-anak muda saat ini. Menariknya, Krisna, sapaan akrabnya mengaku bahwa akan ada kejutan lain yang disiapkan untuk mahasiswa baru. “Tentu ada event-event lain yang menyambut kedatangan para mahasiswa baru agar siap menimba ilmu di Kampus Putih dengan baik. Nantikan saja, kejutan yang kami siapkan tidak akan lama lagi,” ungkap dosen asal Lombok itu. Wajah sumringah juga terpancar dari mahasiswa baru UMM. Salah satunya Meri Fadlianti. Ia merasa bangga bsia berkuliah di UMM, apalagi dengan sambutan yang begitu meriah. Menurutnya, setiap rangkaian Pesmaba menyenangkan. Meskipun harus berangkat pagi setiap hari, namun melalui agenda ini ia bisa mengenal banyak teman baru dan senior-senior yang akan membantu dalam perkuliahannya nanti. “Guest star yang diundang juga keren-keren. Saya sangat mengagumi Rhenald Kasali beserta inovasi dan karyanya. Apalagi di akhir tadi ada Bulan Sutena yang menghibur dengan sederet lagu yang ditampilkan,” ungkap mahasiswa jurusan manajemen ini mengakhiri. (wil)

Rhenald Kasali di Penutupan Pesmaba UMM: Jangan Jadi Generasi Toxic

Semakin ke sini semakin banyak anak muda yang memiliki skill mumpuni namun tidak tahan banting dan mudah menyerah. Hal itu ditegaskan Prof. Dr. Rhenald Kasali, P.hD. saat memberikan motivasi pada 7.500 mahasiswa dalam Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (15/9) lalu. Ia juga mendorong anak-anak muda untuk tidak menjadi pribadi yang toxic dan mampu memanfaatkan kemajuan zaman. Rhenald, sapaan akrabnya, memulai dengan menjelaskan terkait situasi yang sedang terjadi di dunia saat ini. Bumi yang ditinggali manusia semakin padat, bahkan pada November 2022 mendatang jumlah manusia bertambah dari 7,9 miliar menjadi 8 miliar. Cina, yang sebelumnya menjadi negara dengan penduduk terbanyak akan disalip oleh India. “Pusat teknologi juga akan bergeser ke India. Saat ini mereka telah memiliki satelit sendiri hingga meluncurkan roket ke orbit Mars untuk melakukan misi. Kenapa? Karena dengan jumlah manusia yang semakin banyak, suhu bumi akan naik dan mencairkan salju sehingga menenggelamkan banyak pulau. Maka untuk mengakomodir manusia yang semakin banyak, negara-negara melakukan dua proyek besar yakni escape ke metaverse dan escape ke Mars,” tuturnya. Menurut Rhenald, dalam menghadapi dunia metaverse dan artificial yang semakin maju, sumber daya manusia yang cakap diperlukan. Terutama yang menguasai bidang-bidang masa depan. Maka, ia sangat mengapresiasi program Center for Future of Work (CFW) yang digagas dan dijalankan oleh UMM. “Banyak orang yang berpikirnya terbatas pada current (saat ini) saja, tapi hanya segelintir yang melihat masa depan. Dan UMM menjadi salah satu yang melahirkan generasi dengan skill masa depan,” tambah guru besar bidang manajemen tersebut. Penulis buku ‘Change’ itu juga mendorong mahasiswa untuk tidak menjadi generasi strawberry yang toxic. Generasi yang meski punya kecakapan tapi mentalnya rapuh. Ia bahkan menyebutkan sepuluh kata toxic yang seringkali digunakan anak-anak muda sebagai alasan. Ada kata cuan, passion, insecurity, quarter life crisis, hustle culture, hingga toxic work place. Pun dengan passive income, financial freedom, smart work serta priviledge. “Sepuluh kata itu kadang menjadi permasalahan di kalangan anak muda. Di usia belasan dan dua puluhan, saya rasa belum waktunya untuk financial freedom atau passive income. Pun dengan passion yang seringkali malah menjadi penghalang. Tak perlu insecure karena jalan saudara masih panjang. Selama saudara bekerja keras dan berani mengambil tantangan, maka saya yakin saudara akan menjadi manusia yang sukses dan berhasil di masa depan,” pesannya. Hadir secara daring dalam kesempatan yang sama Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si untuk menutup Pesmaba 2022 UMM. Ia menilai Pesmaba merupakan suatu titik awal bagi mahasiswa baru untuk secara resmi bergabung dengan keluarga besar UMM. Ia juga berpesan untuk menguatkan tekad dan niat selama menimba ilmu di Kampus Putih. “Dua hal itu adalah modal awal saudara untuk sukses di bangku perkuliahan. Kemudian jadikanlah kampus ini sebagai tempat kalian menjadi insan cendikia. Saudara juga harus memiliki tradisi besar layaknya orang-orang yang bermartabat. Terakhir, jadikanlah UMM sebagai tempat belajar Islam berkemajuan agar menjadi seorang muslim yang moderat,” tegas Haedar. Ia juga mendorong maba UMM agar mampu menjadi aktor-aktor pembangunan di manapun berada. “Jadilah insan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Insyaallah UMM akan menjadi taman pendidikan yang tepat untuk mengembangkan ilmu peradaban,” ungkapnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang baik, UMM selalu mengundang tokoh-tokoh ternama. Pada kesempatan kali ini Prof. Rhenal Kasali, Ph.D dihadirkan di tengah-tengah mahasiswa baru dengan tekad dan semangat dalam mengusung pemikiran masa depan. Diharapkan dengan kedatangannya dapat membawa manfaat pada mahasiswa Kampus Putih. “Pemikiran dan tekad yang dibawa Rhenal Kasali sama seperti misi yang sedang dikembangkan UMM. Dengan membangun Center for Future of Work (CFW), UMM mencoba untuk menjawab problematika dan permasalahan SDM di masa depan. Semoga apa yang kita kerjakan ini dapat memberikan semangat dan manfaat kepada bangsa,” pungkasnya. (syi/wil)

Maba UMM Ini Patahkan Anggapan Beatbox hanya untuk Kaum Adam

Sebagai salah satu bentuk seni suara, beatbox sangat identik dengan kaum adam. Namun hal tersebut dipatahkan oleh Elly Rahmawati, salah satu mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mahasiswi asal Malang ini bahkan telah memenangkan perlombaan nasional hingga berpartisipasi dalam beatbox internasional. Elly, sapaan akrabnya, bercerita bahwa ia mulai terjun di dunia beatbox sejak kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu beatbox sangat populer di kalangan siswa sekolahnya. Keinginannya untuk belajar beatbox timbul setelah melihat kakak kelasnya melakukan dengan keren. Sejak saat itu ia mulai melihat berbagai tutorial di Youtube dan mempelajarinya secara otodidak. “Kepopuleran beatbox membuat teman-teman saya juga mempelajarinya. Saat itu ada satu teman yang lebih pandai beatbox dibanding saya. Saya tidak mau kalah dan belajar lebih tekun serta mengikuti komunitas-komunitas beatbox yang ada di Malang,” kata anak pertama dari dua bersaudara tersebut. Pada awalnya, kedua orang Elly tidak setuju dengan hobi barunya tersebut. Menurut mereka, beatbox merupakan hal yang tidak jelas. Selain itu bidang ini lebih banyak ditekuni oleh laki-laki, sehingga cukup aneh ketika ada perempuan yang menekuninya. Meskipun begitu, mahasiswa Fakultas Hukum ini tetap mempelajari beatbox dengan tekun. “Pemikiran orang tua saya mulai berubah ketika saya dimintai Swissbeatbox untuk mengirimkan video beatbox yang dimasukan ke konten Youtube mereka. Setelah itu, orang tua mulai mendukung hobi saya ini. Selain mengikuti beatbox di ajang internasional, saya juga sering mengikuti perlombaan beatbox nasional. Saya memenangkan beberapa kejuaraan seperti Juara 1 Equinox Female Beatbox Battle 2020 dan Juara 1 Beat da Plague Female Exhibition,” katanya. Untuk sampai di tahap ini, Elly telah melalui berbagai hal. Salah satu kesulitan yang ia alami adalah belajar teknik yang rumit. Apalagi tidak ada guru atau mentor, ia murni belajar sendiri. Selain itu, pada awalnya ia juga sempat merasa rendah diri ketika mengikuti kompetisi beatbox. “Kompetisi beatbox, apalagi yang kategorinya umum biasanya diikuti oleh lelaki. Hal itu juga terjadi ketika saya mengikuti kompetisi offline untuk pertama kalinya di Probolinggo. Saat itu saya menjadi satu-satunya peserta perempuan. Seketika, nyali saya ciut dan melupakan beat yang telah saya hafalkan. Untungnya saya dapat mengatasi krisis itu dengan baik,” jelasnya. Hal yang membuat Elly bertahan di beatbox adalah kegiatannya yang seru dan dapat bertemu dengan berbagai macam orang dari banyak daerah. “Sebenarnya di Indonesia sangat banyak perempuan yang bisa melakukan beatbox. Namun hanya sedikit yang berani menunjukkannya. Hal ini terjadi karena mereka malu dan tidak percaya diri untuk bisa mengalahkan para peserta laki-laki di kompetisi,” kata Elly. Ia bersyukur bisa menjadi mahasiswa UMM. Hal itu tidak lepas dari banyaknya unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang disiapkan bagi para mahasiswa. Salah satu yang pasti ia ikuti adalah Ikatan Aktivitas Band Mahasiswa (Ikabama) yang tentunya akan mewadahi bakat dan talentanya selama berada di Kampus Putih. Apalagi ada banyak teman seperjuangan yang menyukai musik di UKM tersebut. Elly berharap semoga kedepannya para perempuan ini dapat lebih percaya diri untuk unjuk gigi di event-event nasional. Selain mengasah rasa percaya diri, hal itu juga akan meningkatkan kemampuan perempuan di bidang beatbox. Ia juga berharap beatbox akan lebih dikenal masyarakat umum dan tidak dipandang sebelah mata. “Untuk langkah selanjutnya saya sedang mempersiapkan video untuk masuk ke ajang internasional lagi. Selain itu, saya memiliki impian untuk dapat menjuarai kompetisi di kategori umum. Karena selama ini, saya juaranya di kategori perempun. Kalaupun ikut yang umum, capaian paling tinggi saya hanya bisa masuk emapt besar,” pungkasnya. (syi/wil)