Akbar, Maba UMM yang Buktikan Keterbatasan Bukan Alasan untuk Tidak Berprestasi

Suara nyanyian yang merdu terdengar dari lokasi Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sumber suara itu ialah Akhmad Ali Akbar, mahasiswa baru (maba) tuna daksa yang bernyanyi mengajak para maba Fapsi lainnya. Meski memiliki keterbatasan, Akbar, sapaan akrabnya tetap percaya diri dan memiliki bakat serta skill mumpuni di bidang musik. Selain menyanyi, Akbar juga mampu memainkan keyboard dan gitar dengan baik. Tak jarang, mahasiswa asal Pasuruan itu tampil di beragam event dan festival di berbagai tempat. Mulai dari tingkat sekolah hingga provinsi. Kesukannya akan musik juga membawanya mendalami keahlian keyboard dan gitar. “Ayah adalah sosok yang mendorong saya untuk bermain musik. Dulu yang membelikan keyboard saat saya SD ya ayah. Pun dengan mendatangkan guru untuk melatih keahlian keyboard saya hingga bangku sekolah menengah. Mungkin dari situ ya kepercayaan diri saya bagus dan tidak mudah rendak diri,” jelas Akbar. Ia mengaku bahwa pilihannya untuk menimba ilmu di Psikologi UMM adalah hal yang tepat. Apalagi Akbar memiliki mimpi untuk menjadi psikolog yang bisa membantu sesama. Didukung dengan akreditasi Fapsi UMm yang sudah Unggul. Meski sempat sedikit ragu, tapi Akbar senang karena fasilitas yang ada di UMM memadai, khususnya bagi individu dengan keterbatasan sepertinya. “Alhamdulillah, fasilitas di UMM cukup ramah bagi saya. Terutama yang ada di lokasi saya berkuliah, GKB 4. Liftnya sudah ada tombol kaki, toiletnya juga mendukung, pun dengan kelasnya. Pesmaba yang dijalani juga seru dan menyenangkan, apalagi flashlight mob-nya yang lebih menarik ketimbang perguruan tinggi lain,” tambahnya. Mahasiswa baru asal Pasuruan itu juga ingin membangun program untuk mendukung orang-orang yang memiliki keterbatasan seperti dirinya. Ia ingin mengajak mereka untuk tetap percaya diri meski keadaan kurang memadai. Ia yakin, bahwa teman-teman tuna daksa pasti memiliki kelebihan yang mampu dimaksimalkan dan ditonjolkan sehingga mampu menggapai mimpi. melalui usaha dan karyanya, Akbar ingin membuktikan bahwa keterbatasan diri bukan menjadi alasan untuk tidak berprestasi. “Orang-orang seperti saya biasanya tidak percaya diri. Maka, saya ingin merubah hal itu dengan membangun program bersama teman-teman. Pun jika saya berkesempatan untuk menjadi pembicara, saya akan terus menyuarakan bahwa tuna daksa juga mampu memberi sumbangsih pada bangsa. Semoga upaya saya berkuliah di UMM bisa membuka jalan untuk perjuangan ini. Apalagi didukung dengan komitmen UMM untuk berbakti bagi Indonesia sebagaimana program Kampus Putih yakni Berbagi untuk Negeri,” pungkas Akbar. (wil)

Kirim Mahasiswa ke Malaysia, Psikologi UMM Bantu Migran Indonesia

Dalam meningkatkan kualitas dan kapabilitas mahasiswanya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus membuka kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di luar negeri. Kali ini, Fakultas Psikologi UMM berangkatkan mahasiswanya untuk mengikuti program Seco Social Support for Migrant Workers di Malaysia. Tiap tim menghabiskan waktu selama dua hingga tiga minggu di negara tetangga dan melaksanakan programnya. Terkait hal itu, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. merasa senang dan mengucapkan selamat kepada Fakultas Psikologi dan para mahasiswa yang berangkat. Menurutnya, program seperti ini mampu meningkatkan kapasitas skill dan juga meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Fauzan berharap program ini diadakan tidak hanya ke Malaysia, namun juga bisa ke negara lain. “Selamat belajar di negara orang, cari sebanyak mungkin pengalaman dan jangan lupa kalian membawa nama UMM disana. Semangat terus dan yang terpenting jangan lupa untuk mengabari serta meminta doa restu kepada orang tua,” pesan Fauzan. Di sisi lain, Muhammad Fath Mashuri, S.Psi., M.A selaku dosen psikologi dan juga pendamping menjelaskan bahwa tujuan dari program ini yaitu untuk memberikan dukungan psikologis kepada pekerja migran Indonesia yang ada di kedutaan. Fath, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi UMM dengan kedutaan Indonesia. Menariknya, mahasiswa yang mengikuti program ini nantinya juga bisa melakukan konversi nilai ke dalam mata kuliah, karena telah mempraktekkan asesmen dan intervensi psikologis. “Adapun 14 mahasiswa yang berangkat dibagi menjadi dua tim. Tim pertama berangkat pada 12 September, selama dua minggu mereka melakukan riset atau asesmen mengenai permasalahan apa saja yang dialami pekerja migran disana. Setelah tim pertama melaporkan asesmennya, tim kedua merancang program yang kemudian berangkat pada 3 Oktober untuk mengaplikasikan rencana yang telah dibuat,” jelas Fath. Sejalan dengan apa yang diharapkan Rektor UMM, Fath juga berharap bisa melebarkan program ini ke berbagai tempat untuk memberikan dukungan psikologis bagi pekerja migran Indonesia. Dengan begitu, manfaat yang diberikan dapat dirasakan banyak pihak. Sementara itu, salah satu mahasiswa psikologi Silbia Opnia Rista mengaku beruntung bisa ikut serta. Apalagi program ini bertaraf internasional sehingga bisa memberikan banyak pengalaman baginya. “Jadi saya tidak hanya belajar ilmunya saja, tpai benar-benar bisa mengaplikasikannya di masyarakat. Semoga apa yang saya lakukan di sana bisa memberikan manfaat bagi para migran Indonesia,” harapanya. (zak/wil)

Usai Bikin Teh Herbal dan Minuman Serbuk Jagung, Tim UMM Latih Warga Sragi Jadi Sociopreneur

Untuk mendukung kemandirian usaha unggulan desa, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pelatihan sociopreneur untuk produk unggulan berbasis rambut jagung. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada awal September lalu di Desa Sragi, Blitar. Beberapa produk yang digunakan adalah teh herbal antioksidan dan juga minuman serbuk dari rambut jagung serta jahe. Kegiatan pengabdian masyarakat dari tim  Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (Himatekpa) ini mengundang seorang wirausahawan pemilik UD. Mazedo Inti Jaya, Taufiq Hidayah Irianti. Taufiq menjelaskan bahwa ada beberapa karakteristik yang membedakan sociopreneur dengan wirausaha pada umumnya. “Perbedaan pertama adalah kegiatan jual belinya yang sekaligus menangani masalah sosial di masyarakat sekitar. Kedua, adalah inovatif dan peka dalam dalam menjalankan bisnisnya. Ketiga yakni bisnis ini memiliki dampak yang besar, tak hanya pada satu daerah saja tetapi juga di beberapa daerah lainnya. Terakhir adalah keterbukaan akan timbal balik yang orang lain berikan dan terus beradaptasi dalam pengembangan usaha,” ungkapnya. Selain memberikan materi mengenai sociopreneur, Taufiq juga menjelaskan bagaimana cara untuk memasarkan produk. Ada beberapa langkah strategis yang harus di lakukan agar pemasaran berjalan lancar. Pertama adalah membagi segmentasi pasar. Hal ini berguna untuk membagi masyarakat ke dalam beberapa kelompok. Setelah membagi segmentasi pasar, langkah selanjutnya adalah menentukan target market. “Langkah berikutnya adalah menentukan market positioning dengan cara membangun brand awareness. Beberapa langkah ini akan bermanfaat untuk mendapatkan konsumen baru serta menciptakan kelompok pelanggan yang loyal,” jelas Taufiq. Lebih lanjut, Taufiq mengatakan bahwa ada beberapa jenis dari pemasaran. Jenis tersebut meliputi branding, iklan, multilevel marketing, internet, dan online. Untuk menjalankan branding, produk harus memiliki target pasar dan juga nama merek untuk dikenal. Jenis ini sangat membantu untuk membuat produk atau layanan menjadi lebih menarik dan juga terkenal. Sementara itu, untuk iklan biasanya menggunakan media radio atau iklan berbayar. Sementara itu, salah satu peserta Gunawan menilai bahwa pelatihan ini bermanfaat. Terutama dalam upaya memasarkan produk teh herbal dan minuman serbuk dari rambut jagung. Setelah berkolaborasi dengan UMM untuk membuat produk terkait, maka sekarang saatnya untuk memasarkannya dengan baik. “Tips dan langkah-langkah yang diberikan pemateri sangat tepat. Kami jadi lebih paham strategi agar produk kita yang unik dan menarik ini bisa diminati oleh masyarakat luas. Termasuk salah satunya melalui media sosial yang banyak digunakan. Semoga ke depan UMM juga bisa berbagi ilmu lain yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, tidak hanya di sini, tapi juga di daerah-daerah lain,” pungkasnya. (syi/wil)

7500 Mahasiswa Nikmati Keunikan Pesmaba UMM 2022

Rombongan mahasiswa baru menatap kagum ke langit di atas helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terlihat pesawat Cessna milik Biru Flying Club UMM dan empat penerbang paramotor berlalu lalang bendera-bendera UMM untuk membuka Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) 2022. Kegiatan yang dihadiri oleh 7500 mahasiswa baru ini dilaksanakan pada Senin (12/09) lalu. Tak hanya pertunjukan udara, pembukaan Pesmaba 2022 itu juga diisi dengan flasmob dan flaslight mob. Sebanyak 11 formasi flasmob dilakukan para mahasiswa baru, mulai dari logo universitas sampai ucapan selamat muktamar ke 48 dalam empat bahasa yaitu bahasa Mandarin, Inggris, Jawa, dan Indonesia. Dalam sambutannya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. mengatakan bahwa tahun 2045 merupakan momen emas bagi Indonesia. Disitulah puncak produktivitas dan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Namun, jika kesempatan itu tidak digunakan dengan maksimal, maka masa Indonesia emas itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. “Momen Indonesia emas itu berada di tangan kalian. Oleh karenanya para mahasiswa baru harus membekali diri dengan sungguh-sungguh agar peluang tersebut tidak terlewat begitu saja,” ungkap menteri kelahiran Madiun ini. Untuk meraih target itu, Muhadjir, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ada lima kemampuan yang harus diasah oleh mahasiswa baru. Keterampilan tersebut mencakup critical thinking, communication skill, creative innovation, collaboration, serta confident. Dengan lima kemampuan ini, diharapkan generasi muda bisa menjadi manusia yang unggul, baik di level nasional maupun internasional. “Saya juga berharap para mahasiswa baru memiliki pedoman hidup bernama ISOBAR. Pedoman ini merupakan sebuah akronim dari ibadah, sosialisasi, organisasi, belajar, dan rekreasi. Jika kalian sudah mempersiapkan semuanya sejak dini, saya yakin kalian akan menjadi pemimpin unggul di masa depan,” kata Muhadjir. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa Kampus Putih UMM memiliki program bernama UMM Pasti. Program ini dilaksanakan untuk mendorong kelulusan tepat waktu para mahasiswa. Selain itu, UMM Pasti juga dirancang untuk memberikan kemandirian pada para lulusan UMM melalui salah satu programnya yaitu Centre of Excellence (CoE) berbasis Program Studi (Prodi). “CoE ini merupakan gambaran dari masa depan. Program ini pula yang menjadikan UMM sebagai Center for Future of Work (CFW). Melalui terobosan inilah, mahasiswa dapat mengembangkan potensi diri sekaligus menjawab tantangan terkait SDM di masa yang akan datang. Mari bersama-sama memajukan tekad untuk menjadi mahasiswa yang cakap dan unggul sehingga bsia mewujudkan Indonesia emas 2045 nanti,” ujar rektor kelahiran Kediri itu. Terkait pelaksanaan Pesmaba, salah seorang mahasiswa baru Zainal Firdaus Eriza dari Prodi Peternakan mengatakan bahwa ia sangat gembira dengan agenda ini. Apalagi ada banyak inovasi yang UMM laksanakan dalam pembukaannya. Bahkan ia juga takjub dengan flashlight mob yang baru pertama kali ia lihat dan lakukan. “Saya tidak menyangka seorang menteri koordinator bidang PMK akan menyanyi di pembukaan Pesmaba bersama para mahasiswa. Hal itu sangat di luar ekspektasi saya. Meski capek, tapi saya sangat terhidur dan menikmati Pesmaba UMM tahun ini,” pungkas mahasiswa asal Jakarta itu. (syi/wil)

Meriahnya Pesmaba UMM 2022, Aksi Flashlight Mob hingga Pesta Udara

Selalu ada keunikan dan hal baru yang diberikan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM dimeriahkan dengan flashlight mob, flash mob domino, hingga pesta udara. Bahkan ajang yang dilaksanakan sejak Minggu (11/9) lalu ini juga mengajak mahasiswa baru untuk ber-TikTok-ria bersama di Heliped secara serentak. Flashmob pada Pesmaba tahun ini juga lebih menantang karena tingkat kerumitannya tinggi. Apalagi para mahasiswa baru tidak menggunakan alat tambahan seperti kertas untuk membentuk formasi. Cukup menggunakan topi dan almamater UMM. Hal itu menjadi kelebihan dan perbedaan dibandingkan dengan flashmob perguruan tinggi lain. Terhitung ada lebih dari sebelas formasi yang dibuat baik flashmob biasanya maupun flashlight mob. Para mahasiswa diminta untuk menyalakan flash pada smartphone. Kemudian dengan diarahkan dengan kode tertentu untuk membuat formasi dan bentuk yang sudah disiapkan. Mulai dari formasi lambang UMM, ucapan selamat Muktamar Muhammadiyah, Center of Excellence (CoE), UMM Berbagi untuk Negeri dan sederet lainnya. “Tidak hanya menggunakan jas merah dan baju putih secara konvensional, tapi kami juga memanfaatkan lampu flash dari 7500-an gawai mahasiswa. Karena ini pertama kalinya kita memakai banyak perintah dalam satu sticker, maka tentu tantangannya cukup berat. Tapi Alhamdulillah dengan kerjasama tim, semua terlaksana dengan baik,” tutur Koordinator Flashmob UMM Jamroji, M.Comms. Di samping itu, Pesmaba UMM 2022 juga menampilkan pesta udara yang dimeriahkan dengan pesawat Cessna Biru Flying Club UMM bertuliskan CoE dan Pesmaba UMM 2022 yang melewati Kampus Putih. Sementara itu, hal menarik lain dilakukan oleh deretan tim paramotor yang menunjukkan aksi dengan membawa bendera bertuliskan UMM Pasti, UMM Berbagi untuk negeri, dan tulisan Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Pemilihan tulisan CoE tak lain karena UMM ingin berkiprah dan berkontribusi bagi bangsa. Utamanya dalam mencetak sumber daya manusia yang cakap untuk menyongsong Indonesia Emas di 2045 mendatang. Dengan berdirinya lebih dari 40 CoE, Kampus Putih UMM juga mendorong generasi penerus unutk memanfaatkan bonus demografi dengan maksimal. Sehingga target Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi yang kuat bisa tercapai. UMM juga menjamin mahasiswanya untuk dapat lulus tepat waktu, menjadi pribadi yang mandiri, dan pasti bekerja melalui Program UMM Pasti. Itu juga menjadi wujud kiprah Kampus Putih dalam memajukan bangsa sebagaimana tertulis dalam semboyan Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. “Bendera dan formasi UMM ‘Berbagi untuk Negeri’ juga kami tampilkan sebagai bentuk semangat untuk terus berkontribusi bagi bangsa. Baik itu melalui aktivitas kemanusiaan, transfer ilmu, pengabdian, dan berbagai hal lainnya,” jelas M. Isnaini, M.Pd. selaku Kepala Humas UMM. Di sisi lain, salah satu mahasiswa baru UMM Muhammad Faris Kianif mengungkapkan kebahagiaannya menjadi keluarga besar Kampus Putih. Apalagi dengan beragam keunikan dan pertunjukan yang UMM sajikan. Baginya, rentetan acara yang ada sangat menyenangkan dan membuatnya bangga bisa berkuliah di Kampus Putih. “Banyak hal yang tak terduga yang kami dapatkan saat kegiatan. Saya juga yakin akan ada banyak kejutan yang sudah disiapkan UMM untuk kami para mahasiswa baru di rangkaian kegiatan-kegiatan berikutnya,” ungkapnya mengakhiri. (wil)

Pakar Ekonom UMM: BPH Migas Harus Segera Ambil Langkah Soal Kenaikan Harga BBM

Keputusan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu berimbas pada munculnya banyak spekulasi. Salah satunya terkait konsumsi BBM bersubsidi yang kurang tepat sasaran. Melihat hal itu, ahli ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Nazarudin Malik, M.Si. memberikan saran dan komentarnya. Nazar, begitu ia kerap disapa menilai bahwa kebijakan yang diambil pemerintah merupakan keputusan yang sukar diterima oleh masyarakat. Tapi, pilihan itupula yang dirasa masuk akal sebagai jalan tengah untuk menghadapi harga minyak dunia yang meningkat serta memangkas subsidi di sektor tersebut. “Pilihan untuk menaikkan harga BBM memang pilihan yang sulit. Namun, pilihan itu juga menjadi hal yang tepat dan rasional di situasi saat ini,” tambah pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor II UMM yang membidangi Keuangan, SDM, dan pengembangan unit bisnis. Terkait distribusi BBM bersubsidi, Nazar juga memberikan saran agar pemerintah dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) segera mengambil langkah konkrit untuk menyalurkan BBM bersubsidi agar tepat sasaran. Salah satunya dengan melakukan revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak. Hal lain yang bisa dilakukan yakni dengan meningkatkan sinergisitas dan koordiansi antar instansi bersama BPH Migas. Utamanya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta sebagai tindakan preventif pelanggaran konsumsi BBM bersubsidi. Menurutnya, langkah ini tidak hanya mencegah pelanggaran semata, tapi juga mendorong masyarakat untuk menggunakan BBM bersubsidi dengan lebih bijak. Lebih lanjut, ia juga mendorong pemerintah untuk menekan kebocoran anggaran dalam analisis ICOR 3-50 persen. Pun dengan melibatkan secara aktif Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KKPU). Dengan begitu proses pengawasan dan distribusi konsumsi migas bisa dilakukan dengan lebih baik dan bijak. “Pemerintah juga bisa menggaet KKPU untuk menyusun skema terbaik agar BBM bisa menyasar pada masyarakat yang membutuhkan,” tuturnya. Saran terakhir yang Nazar berikan yakni perlunya BPH Migas untuk lebih mengeksplor dan mengeksploitasi lifting 611 ribu barel per hari ketimbang konsumsi yang sudah 1,4 juta barel perhari. “Ada banyak skema yang bisa dilaksanakan. Misalnya saja pembatasan berdasarkan daya kendaraan, klasifikasinya, atau mengkhusunya BBM bersubsidi untuk roda dua saja. Tinggal bagaimana pemerintah menimbang dan melihat keadaan masyarakat agar menemukan solusi yang tepat,” pungkasnya. (wil)

Tertarik Batik, Mahasiswa Asing UMM Ingin Berbisnis saat Kembali ke Afrika Barat

Terpesona dengan kain batik Indonesia, Aminata Yamama Dawo, mahasiswa internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tekuni cara pembuatan batik. Mahasiswa yang lahir dan besar di Sierra Leone, Afrika Barat ini mulai mengenal batik sejak mengikuti salah satu program membatik yang diselenggarakan oleh lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM beberapa bulan lalu. Aminata, sapaan akrabnya mengaku bahwa ia sangat menyukai warna dan corak yang terdapat pada kain batik. Pembuatannya sendiri sangat unik dan menarik. Pada awalnya pembuatan batik terasa susah bagi Aminata. Hal ini terjadi karena proses yang diperlukan untuk membuat kain batik sangat lama. Selain itu langkah-langkah yang harus dilakukan juga terhitung banyak. “Saya mengalami kesulitan ketika menggambar pola dan detail-detail yang kecil. Namun berkat bantuan dari salah satu staf di LPK Batik Soendari, saya bisa melanjutkan pengerjaan batik saya dengan lancar,” ujar mahasiswa pascasarjana manajemen tersebut. Lebih lanjut, Aminata bercerita bahwa meskipun waktu pengerjaan satu kain batik sangat lama, program membatik yang diselenggarakan oleh BIPA UMM terhitung singkat, yaitu satu hari saja. Oleh karenanya, ia ingin belajar lebih dalam tentang cara pembuatan batik di luar dari program BIPA. “Saya ingin terus belajar tentang cara pembuatan batik agar dapat mengenalkan batik ke orang-orang di Sierra Leone ketika kembali. Selain itu saya juga ingin membuat banyak batik dan menjadikannya sebagai pakaian. Kemudian saya akan berbisnis kain maupun pakaian batik ketika sudah kembali ke Sierra Leone,” ungkap mahasiswa kelahiran tahun 1986 itu. Selain belajar batik tulis, Aminata juga turut mempelajari batik cap. Menurutnya, batik jenis ini realtif lebih mudah karena hanya mencap motif batik. Meski begitu, ia harus menyesuakian pola sehingga batik yang dihasilkan terlihat bagus dan indah. Aminata juga berkata bahwa ia juga ingin mengetahui budaya-budaya lain yang ada di Indonesia. salah satu keinginannya adalah bisa memasak makanan tradisional Indonesia seperti rendang, nasi padang, dan juga nasi pecel. “Saya suka belajar tentang budaya baru. Apalagi Indonesia memiliki banyak sekali budaya dan adat istiadat yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui. Saya berharap bisa belajar banyak selama berkuliah di UMM ini,” pungkas Aminata mengakhiri. (syi/wil)

Pertahankan Akreditasi Unggul, UMM Siap Jadi Leader Perguruan Tinggi untuk Raih WCU

Akreditasi Unggul yang kembali diraih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu bekal utama untuk memimpin perguruan tinggi lain dalam mencapai predikat World Class University (WCU). Hal itu disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah VII Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. dalam penyerahan sertifikat akreditasi Unggul UMM di Rayz Hotel, Jumat (9/9) lalu. Dyah, sapaan akrabnya yakin bahwa UMM mampu menjadi leader perguruan tinggi untuk mencapai WCU. Namun, perlu ada indikator yang jelas agar masyarakat bisa percaya. Salah satunya yakni akreditasi unggul. Kemudian juga adanya management information system higher education. Sehingga, ada hal yang bisa membuktikan bahwa kualitas perguruan tinggi terkait memang bagus. “Kami tentu mengucapkan selamat dan sukses kepada Kampus Putih UMM. Kami juga berharap, UMM bisa terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi berbasis internasional. Pun dengan jabatan fungsional yang terus meningkat,” tambahnya. Ia juga mengapresiasi berbagai program yang sudah dilakukan UMM, utamanya yang menyasar pada Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Apalagi dengan kehadiran Center of Excellence (CoE) dan Center for Future of Work (CFW) yang diinisiasi UMM. Menurutnya, hal ini menjadi bagian dari upaya untuk mewarnai pendidikan tinggi di Indonesia. “Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa pada dasarnya PTS maupun PTN tidak ada bedanya. Outputnya sama, pun dengan indikator penilaiannya. Yang membedakan hanyalah siapa pendiri dibaliknya, apakah pemerintah atau non-pemerintah. Maka saya yakin perguruan tinggi dan anak-anak kita keren-keren dan mampu bersaing sengan perguruan tinggi lain,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. bersyukur dengan akreditasi Unggul yang sukses diraih. Menurutnya, akreditasi menjadi nafas dan nyawa perguruan tinggi. Maka, bersyukur menjadi hal yang utama untuk menyikapi prestasi ini. “Bersyukur itu ada adabnya, yakni dengan tidak menyertakan rasa kesombongan pada diri. Pun dengan upaya mengambil pelajaran dari apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT,” ungkap rektor asal Kediri itu. Fauzan juga sempat membahas mengenai pentingnya SDM dalam memanfaatkan bonus demografi dan menyongsong Indonesia emas 2045 nanti. Maka dari itu, UMM berusaha memberikan kontribusi, salah satunya melalui CoE untuk mencetak generasi skillfull dan cakap agar mampu menopang Indonesia di masa depan. Pun dengan CFW yang mendorong anak muda untuk menguasai pekerjaan-pekerjaan masa depan. Adapun akreditasi Unggul ini merupakan puncak tertinggi akreditasi sebuah perguruan tinggi di tingkat nasional. Ada beberapa aspek yang dinilai, mulai dari sumber daya manusia yang ada, publikasi ilmiah, penjamin mutu internal dan sederet lainnya. Hanya ada segelintir perguruan tinggi yang mampu meraih arkeditasi ini. Pada periode sebelumnya, UMM juga menyandang akreditasi A dan dikonversi menjadi Unggul pada tahun lalu. Pada tahun ini, Kampus Putih berhasil mempertahankannya berkat kinerja yang baik di berbagai aspek. (wil)

MDMC di UMM: Inklusivitas Muhammadiyah Lewat Kemanusiaan

Gerakan kemanusiaan harus dilakukan tanpa memandang agama maupun keyakinan. Hal ini merupakan perwujudan dari Islam wasathiyah yang ingin diterapkan oleh Muhammadiyah. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Rahmawati Husein, MCP, Ph.D. pada gelaran Konsolidasi Kebangsaan Angkatan Muda Muhammadiyah. Kegiatan tersebut diselenggarakan secara luring bertempat di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (5/9) lalu. Lebih lanjut, Rahmawati, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ada empat prinsip kemanusiaan yang sejalan dengan Islam wasathiyah. Prinsip yang pertama adalah kemanusiaan yang mengutamakan penyelamatan hidup dan meringankan penderitaan. Kedua adalah melakukan tindakan berbasis kebutuhan tanpa membedakan golongan-golongan yang ada di masyarakat. “Prinsip yang ketiga adalah tidak memihak satu golongan ketika terjadi konflik ataupun perselisihan. Terakhir ada prinsip kemandirian yang tidak goyah oleh tujuan politik, ekonomi, militer, maupun tujuan lainnya,” ungkapnya menjelaskan. Salah satunya yang dilakukan UMM melalui Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana). Bagaimana Kampus Putih mendorong mahasiswa untuk menyalurkan kemanusiaan dengan berbagi kemanfaatan bagi sesama. Mulai dari membantu bencana gempa hingga penanggunalan Covid-19. Lebih lanjut, terkait implementasinya di tubuh Muhammadiyah, Rahmawati mengatakan bahwa dalam menangani berbagai bencana di Indonesia, MDMC telah bekerja sama dengan dengan berbagai organisasi. Beberapa organisasi tersebut seperti Karitas, World Vision International (WVI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), dan YAKKUM Emergency Unit (YEU). Di tingkat internasional, muhammadiyah juga turut menandatangai kesepakat global Faith Based Organization (FBO) yang diselengarakan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). “Selain itu MDMC juga inisiator pendirian Humanitarian Forum Indonesia (HFI) dan aktif ditingat internasional. Kami juga sedang mengusahakan qualified dari World Health Organization (WHO) untuk dapat membantu lebih banyak orang lagi. Dengan berbagai hal yang telah dilakukan, dapat kita simpulkan bahwa kerja sama lintas agama merupakan suatu keharusan,”  ujar Rahmawati. Meskipun telah melakukan berbagai upaya yang inklusif, Rahmawati mengatakan masih ada orang yang mempertanyakannya. Beberapa memandang untuk mendahulukan mereka yang sepaham. Bahkan ada yang melarang MDMC untum bekerjasama dengan organisasi berbeda keyakinan. “Untuk memahamkan mereka, forum-forum seperti ini sangat penting sebagai sarana pendidikan dan penyadaran tentang gerakan Islam wasatiah. Bagaimana kita memabantu tanpa memandang bulu. Saya juga ingin menyampaikan bahwa pengadaan pelatihan mengenai prinsip-prinsip wasathiyah juga perlu dilakukan untuk memahamkan warga Muhammadiyah maupun luar Muhammadiyah akan pentingnya hal ini,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Meriahnya Ajang Peksimida Solo Pop di Sengkaling UMM

Ada yang berbeda dari Sengkaling Kuliner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada awal september lalu. terdapat puluhan penyanyi dari berbagai kampus yang hadir untuk mengikuti lomba Pekan Seni Daerah (Peksimida) Jawa Timur. UMM menjadi salah satu kampus yang dipercayai oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) untuk menyelenggarakan lomba solo pop. Adapun ajang ini bertujuan sebagai pembinaan prestasi minat bakat mahasiswa, terutama di bidang seni dan budaya. Ima Wahyu Putri Utami, S.Pd., M.Pd selaku Ketua Pelaksana Peksimida menuturkan jika UMM dinilai memiliki fasilitas yang baik. BPSMI juga melihat Kampus Putih UMM sebagai kampus yang besar dengan berbagai macam prestasinya. “UMM menyambut kegiatan tersebut dengan tangan terbuka dan sangat mendukung kegiatan ini, baik secara material maupun non material. Apalagi sengkaling kuliner juga menjadi pilihan tepat karena memiliki daya tarik tersendiri dengan venue yang apik,” ujar dosen PGSD itu. Total ada tujuh kampus di Jawa Timur yang menjadi tuan rumah. Sementara Kampus putih UMM mendapat kesempatan menangani lomba solo pop. Peserta yang turut berkompetisi juga terhitung lebih banyak ketimbang cabang lain. Ada 48 peserta yang saling bersaing mendapatkan kemenangan. “Kami tentu berharap Peksimida di UMM ini bukan hanya menjadi ajang persaingan, tapi juga wadah silaturahmi antar perguruan tinggi di Jatim. Memperkenalkan UMM dan unit bisnisnya seperti Sengkaling, Rayz Hotel, RSU UMM dan sederet lainnya. Apalagi banyak pula penonton yang hadir untuk mendukung dan memeriahkan acara tersebut, “ jelasnya menambahkan. Di sisi lain, salah satu peserta lomba cabang Penyanyi Pop Putri, Salma Arshanty Rezanuardine  merasa senang bisa mengikuti perlombaan Peksimida di UMM. Sebelumnya, ia juga pernah mengikuti lomba menyanyi, namun baginya perlombaan kali ini memili vibes yang berbeda. Hal itu tidak lepas dari tanggung jawab yang ia terima, terutama ketika menjadi tuan rumah. “Meski sudah beberapa kali mengikuti lomba menyanyi, tapi Peksimida kali ini bikin saya deg-degan. Apalagi dihadiri oleh wakil rektor yang mendukung saya secara langsung,” ujar mahasiswa angkatan 2021 itu. Adapun mahasiswi yang kerap disapa Salma ini berhasil mengalahkan peserta lain dan mendapatkan juara 2 kategori pop solo putri. Ia berharap bsia terus melangkah dan meraih mimpinya. Salah satunya melalui jalan Peksimida ini. “Semoga ketika ada perlombaan seperti ini lagi, saya bisa mewakili UMM, membanggakan UMM dan bisa menjadi penyanyi sesuai cita-cita saya,” pungkasnya. (ros/wil)