Cerita Asyik Mahasiswa UMM Studi dan Bertemu Artis K-pop di Korea

Meskipun singkat, proses pertukaran pelajar ke luar negeri akan mengubah hidup dan pemikiran mahasiswa selamanya. Hal itu dikatakan oleh Elrosa Nadia Sukmaningtyas, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengikuti program pertukaran pelajar Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) ke Hanyang University (HYU). Program yang dicetuskan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) ini berlangsung selama lima bulan. Elrosa, sapaannya mengatakan bahwa awalnya ia merasa khawatir akan budaya belajar yang ada di Korea. Berbagai drama dan variety show korea yang ia lihat memperlihatkan pendidikan di negeri ginseng tersebut sangat sulit. Para pelajarnya juga sangat ambisius dalam hal belajar. Namun ternyata hal tersebut tidak terlihat ketika ia menjalani kelas. Bahkan mahasiswa kelahiran 2001 ini sangat terpukau dengan cara dosen mengajar. Ia mengatakan hampir semua sivitas akademika yang ada di Hanyang University sangat terbuka pada para mahasiswa lokal maupun asing. Bahkan di dalam proses pembelajaran, dosen akan menanyai satu persatu mahasiswanya tentang kesulitan yang dialami dan membantunya. Sistem perkuliahannya sendiri juga unik. “Jadi ketika awal semester, setelah memilih kelas akan ada sistem kelas percobaan selama satu minggu. Jadi jika dalam satu minggu tersebut mahasiswa tidak menyukai proses belajarnya, maka ia bisa mengajukan perpindahan kelas,” ujar mahasiswa jurusan manajemen itu. Terkait lingkungan belajar, Elrosa kembali menjelaskan bahwa para mahasiswa di korea tidak terlihat ambisius di dalam kelas. tapi berbeda cerita jika di luar jam kuliah. Perpustakan dan ruang belajar selalu penuh dengan mahasiswa. Apalagi jika mendekati masa ujian, kursi reservasi di kedua tempat tersebut selalu penuh padahal baru beberapa menit jam buka berlangsung. Namun Elrosa mengakui bahwa belajar di perpustakan dan ruang belajar di Korea sangat menyenangkan dan membuatnya fokus. Ia merasa takut akan stres karena pendidikan di Korea yang berbeda, tapi malah sebaliknya. Selain itu ada satu budaya korea yang sangat ia suka yaitu budaya ‘Pali-Pali’ atau budaya bergerak cepat. Budaya ini diterapkan dalam setiap aspek kehidupan seperti mengerjakan tugas, melayani pelanggan, bahkan sampai ke cara berjalan. “Hal ini sangat berkebalikan dengan orang-orang Indonesia yang lebih santai. Namun dengan menerapkan budaya ini di kehidupan sehari-hari saya, hasilnya sangat positif dan mengubah pemikiran saya menjadi lebih produktif serta membuat saya lebih menghargai waktu,” kata Elrosa. Tak hanya suasana belajar yang memberikan pengalaman baru, kesempatan menimba ilmu di Korea ini juga membuatnya dapat bertemu idol-idol K-pop yang ia sukai. Ia bercerita bahwa setiap minggu sekali selama di Korea, ia dan teman-teman internasionalnya berjumpa dengan K-pop idol. Biasanya mereka mengunjungi acara variety show music seperti music bank serta music core. Mereka menunggu di pinggir jalan selama beberapa jam untuk melihat K-pop idol favoritnya lewat setelah tampil. Selain itu, Elrosa juga kerap mengikuti acara ospek kampus lain untuk melihat K-pop idol kesukaannya. “Beberapa kampus di korea memperbolehkan masyarakat umum untuk melihat penampilan artis yang mereka undang. Jadi saya bisa datang ke beberapa kampus untuk melihat penampilan NCT, Twice, ITZY, dan lainnya. Selain itu, saya biasanya jalan-jalan disekitar Seoul Forest. Lokasinya berada di depan gedung salah satu agensi K-pop terkenal di korea yaitu SM Entertainment. Jika beruntung, saya bisa berpapasan dengan beberapa idol K-pop di sana,” ungkapnya antusias. Awalnya Elrosa berencana untuk memilih Inggris sebagai tempat tujuan pendaftaran IISMA. Namun ibunya menyarankan untuk memilih wilayah Asia, terkhusus di Korea karena bidang bisnisnya. Bersaing dengan 900 mahasiswa untuk mendaftar IISMA di Korea merupakan tantangan yang berat. Tapi berkat ketekunan, doa dari orang tuanya, serta dukungan Kampus Putih UMM ia dapat terpilih di IISMA tahun ini. “Saya merasa beruntung karena UMM sangat memudahkan mahasiswa untuk mendapatkan informasi beasiswa. Bahkan membantu di setiap prosesnya,” pungkasnya. (syi/wil)

CoE UMM Terbukti Bantu Sederet Perusahaan

Guna meningkatkan kualitas program Center of Exellence (CoE) Koi dan Udang, Prodi Akuakultur Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) langsungkan diskusi bersama mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Digelar pada 8 Februari lalu, diskusi ini juga membahas mengenai strategi untuk memajukan masing-masing aspek. Turut hadir salah satu perwakilan dari DUDI, Ir. Hery Sudarmono selaku CEO PT. Garin Agro Sejahtera (GAS). Ia menyampaikan rasa syukur karena bisa bekerjasama dengan UMM, terlebih FPP UMM yang memberikan gagasan terbaru. Hal itu nyatanya memberikan efek positif bagi perusahaan, utamanya dalam hal sumber daya manusia. “Sejauh ini kegiatan nyata yang telah kami lakukan adalah saya memberikan fasilitas praktek untuk mahasiswa yang berminat di kelas profesional udang. Dengan begitu mereka juga bisa mendapatkan skill yang sesuai dengan kebutuhan industri. Apalagi dengan durasi yang cukup lama, empat hingga lima bulan,” katanya. Hery menambahkan jika kelas professional udang memberi pemahaman lebih kepada mahasiswa mulai dari proses tebar benih, budidaya hingga masa panen. Para mahasiswa juga punya kesempatan untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depan karena sudah memiliki kemampuan yang mumpuni. “Saya sudah dua periode bekerjasama dengan UMM dan nanti akan memasuki periode ketiga. Total sudah ada puluhan mahasiswa UMM yang pernah magang perusahaan saya. Ke depannya, saya ingin mahasiswa tidak hanya di perusahaan saya yang di jawa, tapi akan saya kirim ke  Sumatera atau Sulawesi,” terangnya. Baginya, CoE UMM adalah gagasan brilian yang dicetuskan oleh UMM dan harus bersifat berkelanjutan. Terlebih ia mengharapkan kalau nanti akan ada bentuk kerjasama yang lebih, sebab teknologi pengembangan udang masih bisa berkembang dan pengusaha butuh masukan dari kampus. Dalam Kesempatan yang sama, Deky Arisandy pemilik dari CV Indo Koi Malang menyampaikan jika CoE UMM, utamanya Kelas Profesional Koi adalah alternatif mahasiswa untuk belajar di luar kelas regular kuliah. Utamanya bagi mereka yang memang tertarik menjadi pengusaha ikan koi. “Saya merasa senang dengan adanya kolaborasi ini karena banyak mahasiswa yang setelah magang, bisa langsung mengerjakan skripsi. Bahkakn juga sudah memulai bisnis ikan koi. Mereka juga bisa membantu kami untuk mengembangkan budidaya ini. Semoga akan ada banyak mahasiswa yang belajar di tempat saya mengenai budidaya ikan koi,” terangnya. Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM menyampaikan jika FPP adalah fakultas paling terdepan dalam menerjemahkan CoE UMM. Tidak hanya berbasis regular, tapi juga mementingkan pelatihan. Terlebih Kelas Profesional karya prodi Akuakultur telah diakui oleh Sukardi Rinakit selaku staf khusus presiden RI. “Ini memang inovasi bagus, tapi jangan berhenti untuk memberikan hal baru yang bermanfaat. Mari sama-sama memberikan perubahan positif untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya. (ros/wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Medical Check Up Mandiri

Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan secara menyeluruh menjadi pemantik bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam merancang alat medical check up dengan sistem self service. Alat ini diberi nama Meckup Machine singkatan dari Medical Check Up Machine. Inovasi ini dirancang oleh lima orang mahasiswa Teknik Industri yaitu Andika Muhammad Zaky, Pandu Satya Wirawan, Muhammad Atsal Fadhil, Reyhani Rahmadita, dan Afif. Andika, salah satu anggota tim, menyampaikan bahwa semua berawal dari obrolan bersama keluarga dan teman dekat terkait pemeriksaan kesehatan. Ternyata, banyak dari mereka yang jarang atau bahkan tidak pernah melakukannya. Maka, iya dan tim akhirnya berinisiatif menciptakan alat tersebut dengan inovasi. Adapun Meckup Machine adalah sebuah mesin yang bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan medical check up. Khususnya bagi mereka yang memiliki ekonomi menengah ke bawah. Ada beberapa cara kerja mesin tersebut. Diawali dengan pembayaran melalui e-money oleh pengguna dengan mengikuti instruksi yang tertera pada layar. Kemudian pengguna diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar riwayat kesehatan terlebih dahulu. Kemudian baru bisa melakukan semua tes kesehatan di mesin itu. Jika sudah, pengguna akan mendapatkan hasil akhir pengecekan berupa struk. Jika pengguna terindikasi memiliki penyakit, pengguna dapat memilih opsi pembelian obat pertolongan pertama. “Pada mesin ini terdapat beberapa pengecekan kesehatan, antara lain pengecekan tinggi badan, mata, tekanan darah, suhu badan, saturasi oksigen, dan swab test. Semua pengecekan ini kami rancang dengan pelayanan self service atau secara mandiri. Mesin ini juga memiliki perlindungan keamanan mesin yang baik dan akan mudah digunakan masyarakat,” jelas Andika. Andika juga menjelaskan bahwa dalam proses merancang Meckup Machine ini dibutuhkan waktu selama 3 bulan. Menariknya, Meckup Machine juga sudah dipamerkan dalam Pameran Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Teknik Industri UMM 2023 dan mendapat juara 3. Pun dengan juara sebagai poster terbaik pada Januari lalu. Rencananya, inovasi ini juga akan diajukan pada Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC). “Saya harap, ke depannya kami bisa terus melanjutkan proyek Meckup Machine dengan menambah berbagai fitur. Sehingga dapat digunakan secara luas oleh masyarakat yang kesulitan melakukan pemeriksaan tubuh secara menyeluruh dengan harga yang realtif murah,” pungkasnya. (sep/wil)

Bertekad Tekan Pengangguran di Mali, Mahasiswa UMM Ini Nekat Belajar di Indonesia

Pernah menjadi buruh dengan upah tak layak membuat Gaoussou Coulibaly, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Republik Mali Afrika Barat bertekad menjadi pengusaha sukses. Berbekal niat dan kesungguhan, ia memututuskan untuk belajar dengan tekun di Program Studi Akutansi UMM. “Menjadi pengusaha sudah menjadi passion dan cita-cita saya sejak kecil, karena di Afrika terutama di Mali, anda harus bekerja. Saat mencari pekerjaan, saya banyak menemui kesulitan. Misalnya saya pernah bekerja 12 jam sehari dan saya tidak dibayar dengan baik di akhir bulan. Bertekad untuk mengembangkan berbagai sektor sebagai lapangan pekerjaan bagi keluarga, teman-teman dan anak muda di Mali,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Kuli tersebut. Tidak main-main, untuk mewujudkan mimpinya Kuli berusaha mendapatkan akses pendidikan terbaik. Ia pun bergabung dalam program Asia Afrika Scholarship Student (AASS) dan mendapatkan kesempatan belajar selama 4 tahun ditambah 1 tahun masa persiapan studi. “Saya memutuskan datang ke Indonesia untuk belajar akuntansi. Saya menilai bahwa di UMM para mahasiswa didorong untuk menjadi versi terbaik. Salah satunya melalui Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang mengajari saya tentang Bahasa Indoensia dan budayanya,” tambahnya. Kuli juga melihat bahwa di UMM ia didorong unntuk bisa mengembangkan potensi sntrepreneurship. Ada banyak kegiatan yang mengarah ke sana. Ia berharap, apa yang ia dapat di Kampus Putih mampu diimplementasikan di Mali. Paling tidak bisa menekan angka pengangguran di sekitar lingkungannya. Sudah tiga bulan tinggal di Indonesia, Kuli mengaku senang belajar di Malang. Ia mendapat banyak pengalaman juga teman-teman baru. Terselebih, para sivitas UMM yang menurutnya sangat terbuka dan mau membantu ketika ia menemukan kesulitan. “Belajar di UMM sangat seru, apalago dosen di sini cukup ramah dan menyennagkan. Orang-orang di sini juga baik sekali. Saya sering mengobrol bersama teman-teman di kos. Mereka tidak membeda-bedakan ras, bahasa dan lainnya. Saya bersyukur bisa belajar di Indonesia, khususnya kota ini,” pungkasnya. (auul/wil)

Perjuangan untuk Beribadah Mahasiswa UMM di Hungaria

Dipaksa mandiri di negeri orang, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini jalani pertukaran pelajar ke Universitas Szeged, Hongaria. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI) bernama Indah Febriana As’ari Putri ini mengikuti program International Student Mobility Award (IISMA) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek). Program ini berlangsung selama lima bulan dari September 2022 sampai Januari  2023 lalu. Indah sapaannya menceritakan bahwa perjalanannya ke negara eropa ini merupakan kali pertamanya merantau. Hidup jauh dari orang tua membuatnya harus beradaptasi dengan budaya serta lingkungan baru. Hal itu membuatnya tidak nyaman selama dua minggu pertama. Ia bahkan hanya memakan mie instan, nasi, serta telur di hari-hari awal menjalani program pertukaran pelajar ke Hungaria. “Penganut Islam di Hungaria sangat minoritas. Beberapa restoran sebenarnya menjual makanan halal seperti daging ayam, ikan, dan lain sebagainya. Namun di dalam bahan masakan mereka masih menggunakan minyak babi. Oleh karena itu, alternatif satu-satunya adalah memasak. Masalahnya saya tidak pernah memasak, jadi saya hanya makan mie instan selama dua minggu pertama. Setelah itu, saya lambat laun mulai belajar memasak dengan menggunakan resep dari internet,” ujar mahasiswa angkatan 2020 itu. Selain kesusahan mengakses makanan halal, Indah juga mengatakan bahwa akses ke tempat ibadah dan masjid sangat minim. Sebenarnya pihak kampus telah menyediakan musala bagi para mahasiswa, namun hanya dibuka saat waktu-waktu ibadah saja. “Saya harus menyesuaikan jadwal kuliah dengan jadwal salat lima waktu. Kadang jika waktu salat telah lewat dan musala tutup, saya melaksanakan solat di tangga darurat. Saya juga kerap salat di ruang ganti yang ada di mall,” ungkap mahasiswa asal Malang tersebut. Meskipun adaptasinya sangat berat, Indah mengatakan bahwa pengalamannya melakukan pertukaran pelajar ke Universitas Szeged ini memberikan pengalaman yang berharga. Selain memaksanya untuk menjadi mandiri, dengan mengikuti program ini ia juga menjadi lebih tahu mengenai kebudayaan serta adat istiadat dari negara lain. “Salah satu hal yang membuat saya takjub selama di Hongaria adalah Gereja Candlemas. Bangunan gereja ini awalnya merupakan masjid di zaman kesultanan Utsmaniyah lalu dialihfungsikan menjadi gereja pada tahun 1702. Ornamen luarnya masih tampak seperti masjid dengan atap kubahnya, sementara bagian dalamnya bercorak gereja katolik yang kental. Kesempatan mengikuti program IISMA ini merupakan pengalaman yang tak kan terlupakan bagi saya,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Peluncuran PALAWIDJA, Produk dari Limbah Jagung Karya UMM-Desa Sragi

Tri Dharma Perguruan Tinggi senantiasa diamalkan oleh Universitas Muhammdiyah Malang (UMM). Kali ini upaya itu dilakukan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) berkolaborasi dengan Desa Sragi, Blitar yang berhasil memperkenalkan produk bernama PALAWIDJA. Adapun produk itu dikenalkan dan dilaunching pada 5 Februari 2023 lalu lewat jalan sehat serta dihadiri oleh Anggota DPR RI Komisi 3, Nurhadi. Menariknya, ada ribuan warga yang turut serta memeriahkan peluncuran produk inovatif itu. Vritta Amroini Wahyudi, S.Si, M.Si. selaku ketua peneliti mengatakan bahwa sudah ada banyak penelitian yang digarap untuk mengembangkna produk ini. Tepatnya sejak 2019 lalu. ia juga senang bisa mendapatkan kesempatan untuk mengabdi dan berbagi ilmu bersama masyarakat Desa Sragi. Lebih lanjut, Vritta menjelaskan bahwa Jawa Timur menempati posisi pertama di Indonesia sbeagai provinsi penghasil jagung tertinggi. Sementara Blitar berada di lima besar sebagai daerah produsen jagung di Jatim. Maka, ia dan tim ingin memaksimalkan nilai guna dari jagung, termasuk limbah jagung yang dapat dimanfaatkan sebagai minuman serbuk teh. “PALAWIDJA merupakan produk teh dengan kadungungan antioksida tinggi yang berasal dari limbah rambut jagung. Kami ingin hal-hal yang dulunya dinilai tidak memiliki nilai, sekarang bisa digunakan sebagai produk peningkatan ekonomi warga,” ungkap Dosen Ilmu Teknologi Pangan (ITP) itu. Terkait penelitian, ia dan tim telah melakukan penelitian saat covid-19 menyerang. Penelitian itu menghasilkan temuan bahwa rambut jagung merupakan pangan yang sifatnya fungsional. Bila dikonsumsi dengan benar, dapat mencegah kanker, tumor, menghambat penuaan, mempercepat penyembuhan dan mempermudah regenerasi sel sehingga awet muda. Pengabdian tersebut disambut baik oleh pihak desa dan warga. Salh satunya dari Leni, kepala Desa Sragi. Ia menilai bahwa terobosan yang dilakukan UMM sangat baik. Rambut jagung yang dulunya dianggap sebagai limbah dan dibuang, kini malah dapat dijadikan produk bernilai tinggi. Dalam kesempatan yang sama, Dekan FPP UMM Dr. Ir. Aris Winaya, M.M., M.Si. IPU. mendukung penuh upaya sivitas akademika Kampus Putih dalam melaksanakan penelitian dan pengabdian. Utamanya untuk mendorong ekonomi mandiri masyarakat. Terlebih produk minuman teh rambut jagung adalah minuman fungsional yang tergolong sederhana dari segi teknologi. Pihaknya sengaja memilih teknologi yang secara teknis mudah diterapkan di masyarakat, namun dari segi saintifik punya nilai lebih tinggi. Terlebih masyarakat di Desa Srigi juga telah dibekali cara membuat minuman instan serbuk dengan tambahan jahe dan lemon. “Langkah berikutnya, kami akan mendaftarkan produk ini ke Pangan Industri Rumah Tangga  (PIRT). Selian itu kami suga sedang memproses agar produk dan merk tersebut memiliki klaim paten Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Saya juga tidak menyangka apresiasi besar diberikan oleh anggota DPR RI Komisi 9 Pak Nurhadi yang turun ke lapangan, ” pungkasnya. (ros/wil)

Putra Lombok, Mahasiswa UMM ini Sukses Raih Beasiswa ke Inggris

Salah satu pengalaman menarik ketika kuliah ke luar negeri adalah luasnya relasi pertemanan dari berbagai negara yang kelak bisa dimanfaatkan. Baik untuk kolaborasi pendidikan, bisnis atau yang lain. Hal tersebut disampaikan oleh Lalu Dhiya Ditria, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih beasiswa program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Berkat ketekunannya dalam belajar dan mudahnya akses infromasi beasiswa dari UMM, Ditria sapaan akrabnya berhasil menimba ilmu selama satu semester di University of Sussex, Kota Brighton, Inggirs. Impiannya untuk merasakan cuaca dingin di negeri orang sukses digapai.  Sedari kecil ia memang menyukai bahasa, terutam bahasa Inggris. Sudah tak terhitung berapa lembaga les bahasa yang sudah ia ikuti dari kecil. Hal itu juga yang menginspirasinya untuk berupaya belejar di negeri orang, terutama Britania Raya. Selama di sana, ia mengaku berada di lingkungan yang sangat supportif. Mulai dari informasi dan peluang mendapatkan pekerjaan, memperoleh bimbingan konseling, materi menulis artikel yang benar dan sesuai standar dan teman-teman yang asyik diajak berdiskusi. “Apalagi University of Sussex merupakan kampus yang bergengsi di Inggris dan tingkat kompetisinya sangat tinggi. Saya juga senang bisa mendapatkan akses belajar di English Language Center untuk membantu saya dalam menulis, membuat tugas dan medium yang sesuai standar kampus,” terangnya. Satu hal yang menurutnya menarik adalah pembelajaran menggunakan kasus terbaru. Para mahasiswa diajak untuk menganalisis berdasarkan kasus yang sedang hangat dan relevan. Hal itu menurutnya membuat mahasiswa lebih tertarik ikut berdiskusi. Kebetulan ia juga memiliki waktu luang yang digunakna untuk mengeksplor kampus. Mulai dari taman yang seringkali jadi tempat mahasiswa lain berkumpul hingga gedung-gedungnya yang memiliki arsitektur menarik. Satu tempat yang selalu ia sukai adalah perpustakaannya yang nyaman dan mendukung untuk belajar. “Di sana, selain belajar dan jalan-jalan, saya juga melakukan pekerjaan part-time. Hal itu diakrenakan di University of Sussex mahasiswanya didorong untuk lebih work-oriented. Jadi, kami tidak hanya fokus belajar, tapi juga mampu memanajemen keuangan dan kemampuan,” katanya. Perbedaan lain yang ia dapakan selama kuliah adalah komunikasi antar mahasiswa. Baginya, mahasiswa di sana lebih individualis. Terutama saat mengerjakan kerja kelompok. Mereka terkesan diam tapi pada akhirnya mampu selesai dengan baik. “Kalau saya perhatikan, mahasiswa di sana lebih komunikatif dalam mengerjakan tugas. Kerja kelompok juga berjalan efisien karena saat bertemu kami membahas poin-poin penting saja. Mereka juga jarang mengadakan komunikasi via online karena kesibukan,” pungkasnya. (ros/wil)

Tekan Angka Kecelakaan, Mahasiswa UMM Ciptakan Smart Helm

Angka kecelakaan lalu lintas semakin meningkat setiap tahunnya. Melalui data Kominfo, setidaknya ada tiga orang yang meninggal setiap jamnya akibat kecelakaan saat berkendara. Terlebih lagi saat malam hari, banyak insiden laka lantas yang menimpa para pengguna motor. Hal ini disebabkan karena kurangnya penerangan dan tingkat kewaspadaan pengendara. Bagus Dwi Bagaskara, Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga merasakan hal yang sama. Ia hampir mengalami kecelakaan saat berkendara malam karena kurangnya penerangan. Berangkat dari pengalaman tersebut, Bagus mencetuskan ide untuk membuat smart helm yang bisa meningkatan keamanan berkendara. Dibantu oleh 9 teman lainnya, ia mulai menggarap smart helm ini. Smart helm ini pada awalnya memiliki banyak fitur penunjang, namun karena alasan berat dan fleksibilitas, fitur yang disematkan dalam smart helm ini lebih disederhanakan. Setidaknya ada empat fitur utama dalam karya ini. Yakni sistem lampu wireless atau lampu hazard, sistem anti maling, anti embun, dan pengecasan dengan panel surya. “Jika dikembangkan dengan banyak fitur, dikhawatirkan akan menambah berat dari helm itu sendiri, dan merusak citra dari penggunaan helm itu sendiri,” katanya. Fitur utama smart helm ini adalah sistem lampu wireless ymg disematkan pada bagian samping helm sebagai lampu hazard. Lampu ini mendapatkan energi dari panel surya dan dapat digunakan dalam jangka waktu 8 jam. Ia menambahkan, panel surya yang tersemat sengaja dipasang fleksibel agar tidak meninggalkan kesan berat. Pun sebagai upaya memperhatikan tampilan dari helm itu sendiri. Adapun panel surya bertenaga 5 volt ini nanti akan mengisi daya dari lampu wireless. Fitur menarik lainnya adalah anti embun yang disematkan di visor bagian dalam dari kaca depan helm. Fitur ini akan membantu pengguna agar tidak terjadi pengembunan saat hujan turun. “Fitur ini sebenarnya sudah banyak digunakan untuk mobil, namun belum banyak masyarakat yang tahu. Untuk itu saya sematkan juga fitur ini untuk membantu pengendara motor saat hujan turun,” tambahnya. Banyaknya fitur nyatanya tidak membuat mereka abai akan berat helm yang sesui dengan standar nasional. Helm buatan mereka ini masih terbilang ringan yakni 1,5 kg saja. 0,1 kg lebih ringan ketimbang bataa maksimalnya. Terakhir, Bagus berharap karya ini dapat memberi kotnribusi dan mampu menekan angka kecelakaan. Pun juga sebagai motivasi anak muda untuk terus mengembangkan karya “Saya juga bercita-cita kelak produk kami ini dapat diproduksi massal dan digunakan oleh pengendara,” pungkasnya. (tri/wil)  

KESI UMM: Jangan Sepelekan Peran Hukum di Dunia Maya

Untuk meningkatkan pemahaman hukum generasi muda, Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiya Malang gelar Kompetensi Ekstra Siswa Indonesia (KESI). Kegiatan yang dilaksankana pada 2 Februari 2023 itu diikuti sebanyak 200 siswa dan siswi dari sepuluh SMA/SMK sederajat se-kota Malang. Menariknya, ada juga short course mengenai pentingnya hukum bagi para influencer generasi Z. Sebagai pemateri, Isdian Anggraeny, S.H., M.Kn mengatakan bahwa manusia akan selalu berkaitan dengan hukum, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Pun dengan mereka yang berkarya sebagai content creator dan influencer. Mereka perlu mengerti hukum agar tidak terperosok dalam kasus maupun menjadi korban kejahatan. “Setiap karya foto, video ataupun karya lainnya yang telah diunggah oleh seseorang memiliki hak cipta. Secara hukum, hak cipta merupakan bagian dari hak kekayaan intelektual (HKI) dan penciptanya memiliki hak kekayaan individu dari karya tersebut,” terang Isdian. Lebih lanjut, berdasarkan pasal 1 Nomor 28 tahun 2014 bahwa hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis, berdasarkan prinsip deklaratif, yang tidak memerlukan pendaftaran suatu karya pada dirjen kekayaan intelektual, untuk mendapatkan lisensi bukti ciptaan agar mendapat perlindungan hukum. “Jadi, setiap orang yang menggunakan karya orang lain dan digunakan secara komersial tanpa izin penciptanya dapat dikenakan pelanggaran hak cipta yang telah diatur dalam UU 28 tahun 2014. Sebagai pencipta yang mendapatkan hak eksklusif, penciptanya juga berhak meminta royalti dan membawanya ke ranah hukum ” tegas Isdian. Isdian juga menjelaskan bahwa setiap karya memiliki masa perlindungan hukumnya. Berdasarkan Pasal 40 UU 28 tahun 2014, untuk karya tulis dan lagu memiliki perlindungan hukum seumur hidup ditambah 70 tahun setelah penciptanya meninggal dunia. Sedangkan untuk karya foto yang diambil sendiri memiliki perlindungan hukum selama 50 tahun sejak karya tersebut diumumkan atau diunggah. Beberapa tips yang dapat dilakukan agar terhindar dari pelanggaran hak cipta milik orang lain yaitu pertama tidak melakukan penyalinan, share atau bagikan, mengubah karya tanpa seizin dari pencipta. Kedua, melakukan pengidentifikasian pencipta dari karya. Ketiga, jika mendistribusian karya orang lain, maka lakukan perjanjian dengan pencipta terlebih dahulu, agar konten mengenai ciptaan tersebut sesuai dan memiliki keuntungan bagi seluruh pihak. “Kemudian yang keempat, lakukan rincian lisensi dari karya yang diperoleh dari web. Kelima, menggunakan gambar bebas lisensi dan terakhir jangan lupa untuk selalu mencantumkan sumber karya,” jelas Isdian. Sementara itu, Wakil Dekan I FH UMM, Bayu Dwiwiddy Jatmiko, S.H., M.Hum. berharap kegiatan ini bisa memberikan pelajaran baru di dalam kehidupan generasi muda. Apalagi melihat zaman sekarang yang sarat dengan kemajuan teknologi. Banyak aspek kehidupan yang mengalami perubahan. Oleh karena itu, kita perlu mencari cara agar tidak terbawa arus perkembangan zaman, salah satunya pada media sosial. “Seperti yang kita tahu bahwa media sosial memiliki dampak yang positif namun ada kalanya dunia maya itu bisa menimbulkan perpecahan. Tanpa kita sadari, saat kita mengunggah sesuatu yang kita anggap baik, ternyata mendapat tanggapan yang negatif dari beberapa orang. Oleh sebab itu, ada baiknya kita bijak dalam menggunakan sosial media dan mengerti secara hukum tentang undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) agar aman dari jeratan hukum,” pungkas Bayu. (zak/wil)

Mahasiswa UMM Ceritakan Susah Senang Belajar di Liverpool

Salah satu manfaat kuliah di luar negeri adalah lebih memahami makna toleransi dan menerima hal yang berbeda. Bukan hanya bertukar ilmu, tapi juga bertukar budaya. Hal tersebut disampaikan oleh Fasha Tiara Meilena, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih beasiswa program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Feya, sapaan akrabnya, beberapa waltu lalu terbang ke Inggris untuk menjalani perkuliahan selama satu semester di University of Liverpool. Semua berawal dari rasa penasarannya untuk menimba ilmu di negeri orang. Apalagi dengan kemudahan dan akses infromasi program beasiswa yang diberi oleh kampus UMM. “Saat awal kuliah, aku sempat mampir ke International Relation Office (IRO) dan bertanya mengenai kesempatan beasiswa. Alhamdulillah IRO UMM menjelaskan banyak hal. Salah satunya IISMA yang merupakan program dari Kemendikbud,” katanya. Feya berangkat ke Liverpool untuk memulai perkuliahan pada September hingga Januari lalu. Di sana ia mengikuti sistem perkuliahan dengan modul. Adapun modul yang diambil adalah Media Self Society, Music in Context: Why Music Matters dan Deviance Youth and Culture. Feya menceritakan perbedaan yang ia alami selama di Inggris. Pertama adalah kurikulum perkuliahan. Jika di Indonesia lebih mengedepankan praktek, maka di sana lebih memberikan porsi pada teori. Tiap minggu ia mau tidak mau harus membaca dua jurnal dengan rata-rata 50 lembar. Sementara penilaiannya melalui kualitas essay, bacaan jurnal dan buku. “Di sana semua harus baca jurnal. Setiap minggu diberi bacaan wajib oleh dosen. Itu yang bikin aku agak kesulitan. Mau tidak mau harus fokus baca tiap minggu,” ungkap perempuan asal Probolinggo. Mengenai makanan, ia menilai jika makanan di Inggris kebanyakan lebih hambar, sekalipun di restoran Asia. Untuk mengakali hal tersebut, Feya lebih memilih masak sendiri dibandingkan beli di luar, sebab dia juga membawa bumbu khas Indonesia selama di Inggris. “Cuaca juga jadi masalah sendiri bagi saya. Saya sering kedinginan dan harus memakai berlapis-lapis pakaian. Tapi alhamdulillah, semua lancar dan saya mendapat banyak pengalaman dan pelajaran selama di Liverpool,” katanya. Ada satu pengalaman menarik selama di sana, yakni mengadakan pengenalan budaya dari masing-masing negara bersama teman-teman internasional lain. Ia juga mengenalkan budaya Indonesia, salah satunya tari kecak. “Beruntung, UMM sangat terbuka dan mendorong mahasiswanya untuk berkontribusi dan mendapat banyak ilmu. Tidak hanya di tempat lokal, tapi juga di lokasi internasonal seperti di kesempatan ke Inggris ini. Semoga akan ada banyak anak muda yang berkesempatan belajar di luar negeri, dan membagikan kesan positifnya ketika kembali ke tanai air,” pungkasnya. (ros/wil)