UMM Pertahankan Akreditasi Unggul, Perkuat Kualitas Mahasiswa lewat CoE

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses pertahankan predikat sebagai kampus Unggul. Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan BAN-PT No. 494/SK/BAN-PT/Ak.Ppj/PT/VIII/2022 yang turun pada Selasa (30/8) lalu. Hal ini mengokohkan reputasi Kampus Putih sebagai perguruan tinggi bereputasi nasional dan internasional. Adapun predikat ini adalah puncak tertinggi dari sistem akreditasi perguruan tinggi. Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM menegaskan bahwa akreditasi ini menjadi bentuk keseriusan UMM dalam menjalankan perguruan tinggi. Menurutnya, kehebatan dan kekuatan tidak cukup diungkapkan lewat kata, tapi harus dibuktikan melalui rekognisi, baik akreditasi maupun sertifikasi. Akreditasi juga menggambarkan kredibilitas perguruan tinggi sebagai instansi yang menyelenggarakan tri dharma. Ia bersyukur bahwa UMM senantiasa dipercaya untuk mengemban predikat kampus akreditasi Unggul. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari kerjasama seluruh elemen dan pihak yang ada di Kampus Putih. Meski begitu, Fauzan menilai bahwa akreditasi ini belum cukup. Harus ada upaya mengemban tanggung jawab, salah satunya meyakinkan masyarakat bahwa UMM memang pantas menyandang akreditasi Unggul. Tidak hanya melalui jalur verbal dan audiovisual, tetapi juga harus memastikan output dan alumni UMM mampu menjadi pribadi yang mandiri.   “Maka, puluhan program Center of Excellence (CoE) yang ada di UMM memiliki peran penting untuk mewujudkan tujuan itu. Bagaimana mahasiswa mampu memiliki skill yang sesuai dengan industri sehingga bisa menjadi pribadi yang mandiri. Tidak hanya menjadi pekerja, tapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat luas,” tegasnya. Kampus Putih juga senantiasa berupaya melahirkan alumni-alumni yang mandiri sekaligus diperhitungkan di tengah masyarakat. UMM tidak ingin diakuai secara formal saja, tapi juga juga diakui unggul oleh masyarakat luas berkat kontribusinya. Maka, Program UMM PASTI memiliki andil dalam tujuan ini dengan memastikan mahasiswa lulus tepat waktu, pasti mandiri dan pasti bekerja. Dengan begitu, UMM dapat berkontribusi besar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal serupa juga disampaikan Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I UMM. Menurutnya, UMM merupakan kampus yang excellent. Maka perlu adanya upaya dalam mengapresiasi, merawat serta menjaganya dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan pemerintah dan masyarakat. Salah satu harapannya yakni adanya peningkatan minat masyarakat akan penyelenggaraan pendidikan di Kampus Putih. Begitupun dengan bertambahnya jumlah kerjasama yang diusahakan. Bentuk dari upaya lain UMM yang bisa dilihat adalah beragam sertifikasi internasional dan puluhan CoE berbasis prodi. Menurutnya, hadirnya CoE yang bekerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) memberikan kesempatan, kepastian dan pengalaman bagi mahasiswa. CoE juga dinilai bisa semakin memperkuat capaian-capaian UMM untuk memperoleh akreditasi Unggul, baik berbasis prodi maupun institusi. “Akreditasi Unggul ini adalah salah satu tahap yang harus UMM lalui. Kampus Putih senantiasa bergerak dan melakukan langkah-langkah sistematis dan strategis untuk mendapatkan pengakuan di level lebih tinggi yakni internasional,” pungkasnya. (*wil)

Lonjakan Drastis Jumlah Mahasiswa yang Banjiri Malang, Ini Kata Pakar UMM

Data mencatat bahwa akan ada 330 ribu mahasiswa yang membanjiri kota Malang pada tahun ajaran baru 2022/2023. 10.000 di antaranya merupakan mahasiswa baru UMM. Sebagian masyarakat merasa bahwa kedatangan para mahasiswa baru ini berdampak negatif berupa peningkatan kemacetan dan peningkatan kepadatan penduduk di Malang. Namun hal berbeda disampaikan oleh Dr. Wahyudi, M.Si, selaku dosen sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, kedatangan ribuan mahasiswa nyatanya juga membawa dampak baik bagi masyarakat Malang. Wahyudi menyampaikan bahwa ada beberapa faktor yang menarik kaum muda untuk merantau ke Malang. Pertama adalah ketersediaan lembaga pendidikan yang kredibel untuk meningkatkan pengetahuan. Kedua adalah sektor pariwisata yang menjamur di Malang maupun Kabupaten Batu. “Datangnya mahasiswa luar Malang juga membuat masyarakat Malang memiliki toleransi yang tinggi terhadap budaya dan nilai baru. Hal tersebut menjadikan kota Malang sebagai sebuah melting pot atau tempat peleburan berbagai nilai dan budaya. Kesiapan warga untuk menerima perantau juga terlihat dari peningkatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada,” ungkap dosen asal Jawa Tengah tersebut. Lebih lanjut, Wahyudi mengatakan bahwa tak bisa di pungkiri dampak negatif seperti kemacetan memang akan meningkat dengan bertambahnya jumlah perantau di Malang. Namun hal itu hanya akan terjadi di jam-jam tertentu saja. Hal positif yang akan mengiringi pertambahan perantau ini adalah pembangunan dan pembaharuan infrastruktur publik menjadi lebih baik. Hal ini akan bermanfaat bagi masyarakat Malang. “Pertambahan penduduk memang selalu membawa dampak negatif maupun positif. Namun masyarakat tidak perlu khawatir karena dampak negatif yang ada lebih kecil daripada efek positif yang diperoleh. Selain itu struktur sosial masyarakat Malang juga telah terbentuk dalam menangani berbagai ancaman yang ada seperti kriminalitas dan penyimpangan sosial,” tandas dosen kelahiran 1964 tersebut. Di sisi lain, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Setyo Wahyu Sulistyono, S.E., M.E, menjabarkan bahwa mobilitas penduduk akan menggerakkan komunitas ekonomi minor di sekitar kampus seperti usaha warung makan, fotokopi, dan kos. Selain itu dampak lain yang akan terjadi adalah peningkatan social entrepreneur di masyarakat. “Tak dapat dipungkiri bahwa industri pendidikan di Malang berpengaruh besar dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Hal ini juga sebagai sarana perbaikan ekonomi pasca pandemi Covid-19 menyerang Indonesia,” kata dosen asal Aceh Timur ini. Meskipun memiliki banyak dampak positif, masih ada dampak negatif dari mobilitas penduduk ini bagi ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah peningkatan harga dasar produk maupun jasa di Malang. Hal ini dapat terjadi karena dengan bertambahnya penduduk, maka permintaan akan barang dan jasa juga makin meningkat, sementara persediaan yang ada di masyarakat terbatas. “Kebiasaan dan budaya para pendatang juga turut mempengaruhi harga yang ada di Malang. Sebagai contoh, masyarakat kota besar yang terbiasa hidup dengan Air Conditioner (AC) akan mencari kos yang memiliki fasilitas tersebut. Penambahan fasilitas  ini akan meningkatkan harga kos yang awalnya berkisar 600.000 perbulan menjadi 1.000.000. Lama kelamaan peningkatan ini akan dianggap sebagai harga standart sebuah kos,” pungkasnya mengakhiri. (*syi/wil)

UMM Launching CoE Koi, Lahirkan SDM Unggul dan Entrepreneur Andal

Pendirian Center of Excellence (CoE) Koi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) dinilai dapat mendorong generasi muda menjadi entrepreneur dengan skill mumpuni. Dengan begitu, lapangan pekerjaan semakin banyak dan mampu mengentaskan kemiskinan. Hal itu disampaikan oleh Direktur Produksi dan Usaha Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI Ir. Arik Wibowo, M.Si. dalam Malang Koi Show di UMM, Minggu (28/8) lalu. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa budidaya ikan hias belakangan semakin meningkat. Maka, dengan adanya CoE Koi UMM, diharapkan muncul pengusaha muda yang fokus di bidang ini. Hingga nantinya bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. “Adapun produksi ikan pada 2021 kemarin mengalami peningkatan dibandingkan 2020 dengan jumlah 1,6 miliar ekor berbanding 1,4 miliar ekor ikan. Berkat peningkatan ini, kita menargetkan agar Indonesia mampu mendapatkan predikat sebagai penghasil ikan hias nomor satu di dunia. Mengalahkan Singapura, Cina, bahkan Jepang,” tegasnya. Arik juga memberikan apresiasi yang besar bagi UMM karena menyediakan sekolah profesional yang fokus pada ikan hias koi. Ia berharap CoE ini bisa memberikan skill baru bagi peserta sehingga mampu memberikan edukasi dan pekerjaan di kemudian hari. Adapun CoE Koi UMM menjadi satu-satunya sekolah profesional Koi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Ada tiga program utama di dalamnya yakni kelas-kelas yang materinya langsung diberikan oleh ahli dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Di kelas tersebut, peserta akan mendapatkan materi yang berbeda ketimbang yang ada di kelas. “Kemudian ada juga program praktek kerja profesional dan praktek bisnis koi yang akan memberikan mahasiswa pengalaman nyata mengelola koi dari hulu sampai hilir. Sehingga mereka bisa tahu dan paham apapun mengenai ikan koi. Apa yang harus dilakukan untuk membuat ikan-ikannya sehat, terhindar penyakit, hingga bagaimana proses bisnis koi akan terus berjalan,” tegas Riza Rahman Hakim, S.Pi., M.Sc. selaku dosen prodi akuakultur UMM. Sampai saat ini, CoE Koi prodi akuakultur UMM sudah menggaet beberapa DUDI seperti CV Indo Koi Malang, Astro Koi Blitar dan Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI). Ke depannya, akan ada banyak mitra yang turut bergabung dan berkontribusi dalam program CoE ini. “Tentu ada berbagai prospek kerja yang bisa dimasuki oleh lulusan sekolah profesional CoE Koi ini. Tidak hanya terbatas menjadi seorang peternak koi, tapi juga pebisnis, peneliti, hingga nantinya bisa memberikan terobosan atau inovasi baru dalam dunia ikan koi,” ungkap Riza mengakhiri. (*wil)

Menko PMK di Malang Koi Show UMM Sebut Bisnis Koi Bisa Kurangi Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang harus dientaskan. Maka, bisnis budidaya koi menjadi salah satu jawaban atas masalah itu. Hal itu ditegaskan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP dalam penutupan Malang Koi Show di UMM, Minggu (28/8). Turut hadir pula Wakil Bupati Malang Drs. Didik Gatot Subroto S.H., M.H. dalam ajang koi itu. Muhadjir melanjutkan pendirian Center of Excellence (CoE) Koi UMM adalah satu upaya strategis dalam pengembangan bisnis koi. Pun juga sebagai usaha mewujudkan cita-cita pemerintah Indonesia untuk menjadi poros perikanan dunia. “Kerjasama yang dibangun UMM dengan mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) adalah sebuah langkah yang bagus. Dengan begitu, kemajuan dan pendidikan akan budidaya koi bisa terlaksana,” tambahnya. Hal tak jauh berbeda disampaikan Didik. Menurutnya, hobi yang dijalankan para peserta bisa dijalankan dengan profesional sehingga menghasilkan kapital. Apalagi dengan dibukanya kelas profesional koi oleh UMM yang diharapkan mampu memberikan edukasi mumpuni. Ia juga mendorong mahasiswa untuk serius ketika menekuni dunia koi karena aktivitas ini nyatanya membantu dunia perikanan Indonesia. “Pak bupati juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dilangsungkannya Malang Koi Show ini. Pun dengan CoE yang diluncurkam oleh UMM. Bahkan nanti Pak bupati juga akan ambil bagian di kelas profesional koi,” katanya. Wabup Malang yang juga alumnus UMM itu berharap langkah-langkah yang sudah dijalankan ini bisa didampingi dengan baik oleh kementerian kelautan dan perikanan. Sehingga dapat memberikan hasil maksimal serta memberikan manfaat lebih luas ke masyarakat. Adapun yang menjadi juara umum dalam ajang Malang Koi Show itu adalah Heru Santoso, peserta asal Magetan. Ikan koinya berhasil mengalahkan peserta lainnya dengan perolehan poin sebanyak 100.350 dari 12 juri yang ada. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa ajang ini menjadi bahan bakar lahirnya CoE Koi dari prodi akuakultur UMM. Dengan begitu, lulusan sekolah profesional ini bisa mengangkat ekonomi masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan atau dengan memberikan edukasi. “Saya yakin merjasama strategis UMM dengan DUDI dapat menjadikan koi sebagai komoditas bagus dan menjadi bagian dari kemajuan ekonomi Indonesia,” harapnya mengakhiri. (*will)

Juri Malang Koi Show di UMM Beberkan Alasan Ikan Koi Mahal

Ikan koi memang dikenal sebagai ikan yang mahal. Harganya tidak hanya mencapai  jutaan, bahkan bisa mencapai milyaran. Salah satunya ikan yang diikutsertakan dalam ajang Malang Koi Show yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (27/8). Santoso selaku satu dari sederet juri Malang Koi Show menjelaskan bahwa harga koi dipengaruhi oleh berbagai aspek. “Jadi, yang mempengaruhi harga koi adalah kualitas, body, warna, serta kemenangan yang didapat diberagam kontes. Semakin banyak kejuaraan yang diraih, semakin naik pula harganya. Pun dengan keunikan warna dan corak. Semakin unik corak yang ada di kulit ikan, semakin mahal juga bandrolnya. Adapun selama ini, ikan termahal yang pernah saya temui yakni seharga 1,4 miliyar rupiah,” jelasnya. Santoso yang sudah menggeluti dunia ikan koi sejak 26 tahun lalu itu mengatakan bahwa ada beberapa aspke yang menjadi poin penilaian dalam ajang tersebut. Badan dan kualitas kulit menjadi dua hal pertama. Ia melihat apakah kulit ikan yang dinilai kusam atau cerah. Kemudian juga tata letak warna atau corak yang dimiliki oleh ikan. Namun, jika ikan yang dinilai berwarna polos, maka yang dilihat adalah kualitas kulit tanpa memasukkan corak ikan. Persentase penilaian ikan koi polos yakni 50% untuk kulit dan 50 persen untuk body. Sementara untuk ikan koi dengan corak ada tiga aspek yang dilai. Terkait pembagian penilaian, ia menyebut bahwa tim juri menilai berdasarkan jenis dan ukuran ikan. Terhitung ada 21 jenis yang dilombakan termasuk kohaku, shiro dan kawari. Kemudian juga dibedakan antara ukuran-ukuran berdasarkan selisih 5 cm. Adapun ikan yang turut serta mencapai lebih dari 1500 ikan. “Saya tentu mengapresiasi UMM karena mau dna mampu mengadakan ajang bergengsi ini. Apalagi dengan peluncuran Center of Excellence Sekolah Koi yang makin meningkatkan komoditas sektor perikanan. Apalagi ikan koi memiliki peluang bisnis yang tinggi,”tambahnya. Adapun pelaksanaan Malang Koi Show juga menjadi langkah UMM dalam mengembangkan CoE Sekolah Profesional Koi. Hal itu dikarenakan Koi dianggap sebagai komoditas yang menjanjikan di masa depan. Apalagi dengan nilai bisnisnya yang stabil dan terus berkembang. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Jawa Timur saja. Salah satunya Yayan Ainul Wahid, pemilik ikan Koi yang berasal dari Bandung. Ia mengaku bahwa ikan-ikan koi peliharaannya selalu diikutkan konten tiap minggu di berbagai kompetisi. Adapun di Malang Koi Show, ia mengikutsertakan ikan koi jenis sankai dan showa di kelas A panjang 75. “Perawatan koi sebenarnya gampang-gampang susah. Hal yang perlu diperhatikan tentu adalah kualitas air dan kadar oksigen. Maka hadirnya CoE Koi di UMM saya rasa menjadi terobosan yang bagus untuk mengembangkan potensi sektor Koi,” ungkapnya. Yayan juga senang akrena aktivitas pencinta koi kembali ramai. Apalagi dua tahun ke belakang banyak kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan karena pandemi. Ia juga berharap muncul koi-koi unik yang akhirnya mampu memenangkan banyak kontes, salah satunya Malang Koi Show yang ada di UMM. (*wil)

Malang Koi Show di UMM Tingkatkan Komoditas Bisnis perikanan

Sebanyak 1700 ekor ikan koi meriahkan Malang Koi Show, ajang hasil kolaborasi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) dengan Malang Koi Club. Digelar pada Sabtu (27/8), kompetisi ikan koi tersebut dibuka langsung secara simbolis oleh Bupati Malang Drs. Sanusi, MM. dan Rektor UMM Dr. Rektor Fauzan, M.Pd. dengan melepaskan ikan koi ke dalam akuarium. Perlombaan tersebut merupakan satu dari tiga rangkaian acara yang tersedia. Dua lainnya adalah temu bisnis koi dan launching Center of Excellence (CoE) Koi milik prodi akuakultur UMM. Ada sederet piala bergengsi yang diperebutkan dalma Malang Koi Show. Mulai dari Piala Menko PMK, Piala Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI, Piala Bupati Malang, Piala Rektor UMM, hingga Piala Rektor Institut Injil Indonesia. Para peserta juga datang dari beragam daerah se-Indonesia untuk memenangkannya. Sanusi menilai bahwa UMM selalu menangkap potensi dan peluang yang bisa dikembangkan. Salah satunya buktinya dengan peluncuran CoE Sekolah keahlian Koi. Dari sisi ekonomi, berbisnis ikan cukup menguntungkan. Disebutkan Sanusi, di lahan seluas setengah hektar di tumpang dapat menghasilakn 350 juta dalam waktu enam bulan. Maka dalam setahun dapat mendapatkan 700 jutaan. “Jika dibandingkan dengan penghasilan petani padi, dalam enam bulan mencapai 40 juta dan setahun 80 juta. Maka bisnis ikan tentu menguntungkan, apalagi dalam usaha ikan Koi. Maka, Malang Koi Show menjadi agenda yang bagus untuk mengembangkan bisnis ikan koi dan sebagai upaya edukasi,” tambahnya. Hal tak jauh berbeda disampaikan Fauzan. Menurutnya, Malang Koi Show menjadi salah satu energi pendorong bagi kelas profesional Koi untuk berkembang. Apalagi sejauh ini, UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang memiliki CoE Koi. Pengembangan puluhan CoE di UMM bukan tanpa alasan. Fauzan menegaskan bahwa 2030 menjadi awal puncak bonus demografi. Maka dengan CoE, diharapkan lahir sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam menyongsong bonus demografi. Pun dengan menyambut era Indonesia emas pada 2045 nanti. Saat ini, lulusan perguruan tinggi belum cukup menjawab permasalahan di masyarakat dan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Sebagian besar harus mengikuti pelatihan selama enam bulan hingga setahun agar bisa menjadi SDM siap pakai yang sesuai dengan kebutuhan industri. “Maka puluhan CoE sekolah profesional dari UMM ini hadir membawa angin segar untuk menjawab itu. Saat masyarakat butuh SDM yang ahli di bidang ikan Koi, UMM bisa menyediakannya. Pun di bidang anggrek, kokoa, udang, unggas, dan lainnya,” ungkap Fauzan mengakhiri. (wil)

UMM Beri Solusi lewat Icon-TINE Bahas Teknologi Transportasi hingga Internet 6G

Seiring berkembangnya teknologi trasnportasi, tidak dipungkiri ruang hidup dalam kota semakin menipis. Menanggagpi permasalahan tersebut, diperjelas oleh Prof. Matthew Bruke, bahwa saat ini 25% ruang dalam kota telah terisi oleh transportasi. Hal itu ia ungkapkan dalam International Conference on Technology, Informatics, and Engineering (Icon-TINE). Acara ini diselenggaran pada Sabtu (23/8) lalu di Ballroom, Rayz Hotel UMM. Kepala Transport Innovation and Research Hub (TIRH) di Griffth University, Queensland Australia ini berpendapat bahwa kepemilikan kendaraan pribadi semakin hari semakin bertambah. Faktor inilah yang mengakibatkan kota semakin padat. Hal tersebut juga berefek pada penggunaan kendaraan umum yang kurang efektif. Terutama Indonesia, yang mana setiap penduduknya menginginkan kendaraan sendiri. Dikatakan oleh Matthew, bahwa 85% rumah tangga di Indonesia setidaknya memiliki satu sepeda motor. Hal tersebut membuat Indonesia masuk peringkat ketiga pengguna kendaraan bermotor di dunia. Meski teknologi motor listrik semakin digalakkan, namun menurutnya hal ini tidak menjawab permasalahan karena kendaraan akan terus bertambah. Apalagi mengingat keinginan masyarakat untuk memiliki terus ada. “Perlu adanya revolusi sistem transportasi dalam mengurangi kepadatan kota di indonesia, terkhusus Jakarta dan Surabaya. Harus ada sistem berupa pemanfaatan transpotasi umum melalui aplikasi dengan sekali bayar di akhir yang memudahkan orang melakukan perjalanan. Selain itu, sistem Car Share juga bisa dicoba yakni program berbagi tumpangan dengan yang orang lain. Harapannya, dua hal itu bisa mengurangi pembeelian atau kepemilikan kendaraan pribadi. Kalau kendaraan terus bertambah, ruang hidup kita juga akan semakin sempit,” jelas Matthew selaku Keynote Speaker dalam acara ICon-TINE. Disisi lain, Prof. Dr. Abdullah Ghani memaparkan tentang ‘Quantum Internet Beyond 6G Technology’. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi networking telah berkembang, mulai dari 1G hingga kini akan memasuki 6G. Adapun Quantun Internet adalah jaringan internet dengan kecepatan 6G yang memudahkan manusia untuk mengakses suara, teks, grafis atau gambar, dan video dengan cepat meski ukuran file cukup besar. Direktur Research Manager Center Universitas Malaysia, Sabah ini mengatakan bahwa meski bagus, quantum internet 6G belum sempurna. Ada sederet probel yang harus diselesaikan. Salah satunya kerumitan struktur jaringan quantum internet sehingga persebaran untuk di beberapa negara masih sukar diterapkan. Tapi, ia yakin bahwa teknologi quantum internet ini akan segera terealisasi sekitar tahun 2026 mengingat teknologi 5G saja belom digunakan di banyak negara. Sementara itu, Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D. memaparkan energi baru terbarukan dan energi hijau. Ia mengatakan bahwa industri berbasis petrokimia dan menipisnya minyak bumi melatar belakangi inisiasi energi baru. Menurutnya, selama ini transportasi masih bergantung pada pelumas yang berbahan baku minyak bumi,. Hal tersebut menjadi faktor menipisnya cadangan minyak bumi. Kepala Prodi Teknik Mesin UMM ini juga menjelaskan gagasannya bahwa ada sebuah solusi pengganti BBM yakni dengan Vegateble Oil sebagai oli pelumas yang ramah lingkungan. Mengingat pelumas memang digunakan untuk melancarkan mesin bagi mesin motor. Sayangnya emisi karbon yang dihasilkan juga tinggi. Bukan hanya cadangan minyak yang berkurang, polusi juga mendegradasi kualitas udara kita. “Vegetable oil ini adalah sebuah solusi sebagai pelumas yang ramah lingkungan. Saya yakin pelumasini bisa bermanfaat dan tidak merusak kualitas udara karena diekstrak dari tumbuhan,” tegasnya. (haq/wil)

Ramai Kasus Ferdy Sambo, Dosen Komunikasi UMM Nilai Langkah Komunikasi Publik Polri Sudah Tepat

Indonesia belakangan dibuat ramai dengan pemberitaan kasus kematian Brigadir J yang diduga dibunuh oleh Jenderal Polisi. Tentu adanya kasus yang melibatkan pembunuhan internal kepolisian membuat citra polisi memburuk. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menuturkan beberapa hari yang lalu bahwa gara-gara kasus tersebut, citra polisi menurun hingga 23% dan menjadi PR besar, utamanya Humas Polri. Jamroji, S.Sos, M.Comms. selaku dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMM menuturkan jika langkah yang diambil oleh humas Polri belakangan sudah tepat. Utamanya dalam memperbaiki citra polisi yang buruk di masyarakat. Kepiawaian Polri dalam menangani kasus ini dinilai sigap untuk mengungkapkan fakta sesungguhnya ke masyarakat, meskipun nanti dampaknya akan  merembet ke banyak orang. “Dari sisi manajemen krisis sudah bagus, karena Kapolri langsung berbicara di depan media. Tentu ini menjadi kesempatan bagi Polri untuk mengubah krisis menjadi sesuatu yang positif. Selesaikan secara objektif dan jangan ada manipulasi informasi kembali,” ujarnya. Jamroji, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa manajemen krisis yang dihadapi oleh humas Polri adalah mengontrol segala arus informasi dari tingkat pusat hingga ke daerah. Dikhawatirkan nanti pusat sudah mengkonstruksi dan memframing secara transparan, tapi di daerah malah sebaliknya. “Hal terpenting adalah Polri harus bisa mengontrol sampai ke bawah. Selama kasus diurus, jangan sampai ada sesuatu yang mencederai rasa keadilan masyarakat,” tegasnya. Ia menekankan kepada Polri untuk dapat sigap menyampaikan informasi secara cepat dan faktual, apalagi di tengah era sosial media saat ini. Dampaknya, masyarakat bisa menerima informasi sangat cepat dan terfragmentasi luar biasa berdasarkan media yang dipilih. “Media center Polri harus punya newsroom mengenai informasi apa saja yang perlu disampaikan dan dieksekusi ke seluruh sosial media,” terang Jamroji. Lebih lanjut, masyarakat saat ini mencari informasi bukan hanya dari media mainstream atau berita, tetapi dari media sosial. Beranjak dari hal tersebut, Polri juga harus menyelami sosial media sebagai sarana menyampaikan informasi secara cepat dan responsif. “Media sosial bukan hanya dijadikan wadah posting pencapaian, tapi juga mengomentari tiap aduan yang ada di sosial media. Jika hanya dijadikan tempat posting lalu tinggal, maka tentu itu seperti telah menghianati ciri medsos yang interaktif,” ungkap Jamroji. Baginya, karena polri adalah lembaga publik, maka sangat berbeda berbeda humas di perusahaan dengan lembaga publik seperti polri. Sebab yang menyoroti polri sangat banyak dan masyarakat berhak memperoleh informasi. “pekerja humas di polri harus memiliki keahlian khusus, yaitu integritas. Karena polri telah krisis indetitas, sehingga orang humas harus punya integritas tinggi. Artinya tidak memihak A atau B, namun memihak yang benar. kalau polisi mempunya integritas dan profesional, maka semua akan mulus. Masih ada oknum polisi yg kurang punya integritas dan profesional dalam menjalankan tugasnya. Masih banyak kita temui video² candid kejadian penyuapan kepada petugas,” kata Jamroji Dosen lulusan dari alumni School Communication and Arts, Edith Cowan University, Western Australia mengingatkan kepada Polri jika yang berkewajiban untuk memiliki integritas bukan hanya humas, tetapi semua anggota polri. Sebab semua anggota polri adalah humas. Baik buruknya citra polisi tergantung dari orangnya. “PR humas sekarang adalah menyadarkan semua anggota polri adalah humas dari polri itu sendiri,” pungkasnya (ros/wil)

PPG UMM: Guru Faktor Utama Songsong Indonesia Emas 2045

Guru menjadi faktor penting dalam upaya menyukseskan Indonesia emas pada tahun 2045 nanti. Ditambah lagi dengan awal puncak bomus demografi yang akan terjadi pada 2030 mendatang. Itu ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. dalam Orientasi Akademik Program pendidikan profesi guru (PPG), Rabu (24/8) lalu. Fauzan mengajak peserta PPG untuk merenungkan siapa yang akan memegang kepemimpinan di 2030 nanti. Jawabanya ialah anak-anak didik yang kini sedang menimba ilmu di sekolah dasar. Maka, para guru dinilai mnejadi ujung tombak dalam upaya melahirkan generasi masa depan. Adapun mahasiswa PPG yang berkuliah di UMM berjumlah 661 mahasiswa. Terdiri dari bidang matematika sebanyak 34 orang, bahasa Indonesia 35 orang, PKN 35 orang, bahasa Inggris 70 orang serta 487 orang di bidang pendidikan guru sekolah dasar. Para peserta PPG juga berasal dari 106 kabupaten dan kota yang berbeda. Lebih lanjut, Fauzan juga ingin agar peserta PPG mampu memproyeksikan hal apa saja yang akan terjadi di masa depan. Salah satunya adalah lingkungan yang serba digital. Pun dengan pola komunikasi yang berbeda pula. Maka, tidak ada jalan lain selain mengupgrade diri agar bisa memberikan pengetahuan dan skill terkini kepada anak-anak didik. Terkait bonus demografi, Rektor asli Kediri tersebut menjelaskan bahwa jumlah usia produktif akan sangat tinggi dibandingkan yang tidak produktif pada 2045 nanti. Bahkan jumlah masyarakat dengan usia produktif akan mencapai 77,7 persen. Jika mampu memanfaatkannya, bukan tidak mungkin Indonesia bisa masuk di jajaran negara dengan perkembangan ekonomi raksasa. Pun sebaliknya, jika tidak bisa memaksimalkan bonus demografi, maka semua mimpi akan sirna dan sia-sia. “Sekali lagi saya tekankan bahwa pendidikan dan guru memiliki peran penting mewujudkan Indonesia emas 2045. Jadi, PPG tidak semata-mata hanya untuk administrasi maupun finansial saja. Namun yang lebih substansial adalah bagaimana guru mampu mendidik dengan baik anak-anak yang menjadi pemegang estafet selanjutnya,” tegasnya. Hal serupa juga ditegaskan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. Menurutnya, para peserta PPG UMM harus bersungguh-sungguh untuk melalui semua proses yang pendidikan. Apalagi ada sebanyak 1,4 juta guru yang masih harus menunggu giliran mengikuti PPG. “Saya yakin, jika saudara-saudara bisa bertahan dan serius melewati program pendidikan ini, maka predikat guru profesional otomatis akan melekat. Jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan baik yang ada di depan mata. Semoga teman-teman bisa lulus dan menjadi guru panutan peserta didik,” harapnya mengakhiri. (wil)

Menko PMK Tegaskan ke Wali Maba UMM Tiga Ujung Tombak Cetak Generasi Emas

Mencetak generasi emas dan lulusan berkompeten bukan perkara mudah. Meski begitu, ada tiga ujung tombak yang memiliki peran dan mampu menentukan arah langkah anak-anak muda agar bisa meraih kesuksesan. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. dalam silaturahmi wali mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang. Agenda rutin yang dilaksanakan pada Kamis (25/8) lalu itu terbagi menjadi tiga gelombang. Muhadjir, begitu ia kerap disapa, menilai bahwa persentase peran perguruan tinggi dalam membentuk generasi muda itu di kisaran 25%. Sementara peran orang tua juga memiliki kadar yang sama di angka 25%. Sementara 50% sisanya tergantung bagaimana mahasiswa atau anak muda itu bisa memaksimalkan potensinya. Mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan serta mampu menyelesaikan studinya dengan baik. “Jadi tiga hal itu harus benar-benar memainkan perannya dengan baik. Percuma jika kampus dan orangtua mengantarkan dan memfasilitasi dengan sangat, tapi nyatanya mahasiswanya tidak punya mimpi dan ambisi meraih kesuksesan,” tegasnya. Terkait prestasi UMM, ia yakin ada banyak penghargaan dan prestasi yang terus menerus diraih UMM. Salah satunya predikat kampus unggul Jawa Timur yang berturut-turut diraih UMM sebanyak 14 kali. Pun dengan raihan sebagai Kampus Islam Terbaik Dunia dan berbagai penghargaan yang silih berganti dicapai. Muhadjir juga mengenai usia produktif yang dimiliki Indonesia. Pada 2021 lalu, tercatat ada 146,1 juta penduduk yang ada di usia produktif. Di antaranya ada 7 juta yang belum mendapatkan pekerjaan sebelum pandemi, kemudian naik menjadi 9 juta saat Covid. Kini menurun menjadi 8 juta jiwa. “Belum lagi jumlah wisudawan yang diluluskan oleh perguruan tinggi mencapai 1,3 juta. Pun dengan lulusan SMA, SMK serta Aliyah yang tak bisa melanjutkan kuliah di angka 1,6 juta. Sehingga paling tidak ada 3 jutaan angkatan kerja yang membutuhkan pekerjaan. Maka saya mendorong perguruan tinggi untuk mencetak wirausaha yang mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat lain,” tambahnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memberikan selamat kepada para wali dan orang tua mahasiswa baru. Apalagi melihat kuota yang diterima hanya 7000 mahasiswa. Padahal jumlah pendaftar mencapai lebih dari 20.000 orang. Maka, ia meminta wali dan orang tua serta mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. “Kami juga memiliki program UMM PASTI, program yang memastikan anak bapak dan ibu bisa lulus tepat waktu 3,5-4tahun. Pun dengan kepribadian yang mandiri serta kepastian mendapatkan kerja usai lulus. Untuk mewujudkannya, kami sudah menyediakan berbagai kegiatan yang bisa mahasiswa ikuti untuk mengembangkan potensi dan minat yang dimilikinya,” tegas Fauzan. Di sisi lain, salah satu wali mahasiswa, Daeng Muhammad Suud menilai bahwa kualitas Kampus Putih UMM tidak perlu diragukan lagi. Apalagi dengan beragam terobosan yang sudah dilakukan, seperti Center of Excellence, UMM Pasti serta aplikasi MyUMM yang memudahkan orang tua untuk memantau perkembangan anak-anaknya. “Saya hadir di silaturahmi ini sebagai wali dari cucu saya yang berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi UMM. Sebelumnya, anak-anak saya juga meninmba ilmu di UMM dan kini sukses di bidangnya masing-masing,” jelas Suud yang berasal dari Pasuruan itu. (wil)