Dubes Uni Eropa Kini Kolaborasi dengan UMM

Perkembangan pendidikan saat ini tidak lepas dari teknologi yang dapat membantu kerjasama pendidikan antar negara dari berbagai belahan dunia. Hal tersebut diucapkan oleh Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunnei Darussalam H.E. Vincent Piket di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan ini diselenggrakan pada 2 Februari 2023 lalu dan diikuti puluhan dosen dan mahasiswa. Vincent, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa Uni Eropa saat ini sedang gencar dalam menggendeng Global Partnership, terutama dalam bidang pendidikan. Ia juga merasa tertarik dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang dikerjakan oleh Indonesia. Bahkan banyak negara anggota Uni Eropa yang berbondong-bondong mencari informasi mengenai MBKM untuk bekerjasama. Menurutnya, kerjasama di dunia pendidikan ini memberikan kesempatan untuk bertukar budaya, ilmu pengetahuan dan inovasi. Didukung dengan biaya pendidikan di Eropa yang cenderung murah, sehingga membuka peluang bagi pelajar atau mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di sana. Tak lupa, ia juga memuji UMM yang memiliki banyak unit usaha dalam mendukung pengembangan pendidikan di Indonesia ini. “Saya sangat setuju dan kagum dengan sistem MBKM yang ada di Indonesia ini, sehingga para mahasiswa bisa bebas menentukan pilihan pendidkan yang sesuai dengan passionnya. Kami tentu membuka kerjasama selabar-lebarnya dalam program MBKM ini, termasuk untuk UMM” ucapnya. Pria asli Belgia ini memaparkan bahwa Uni Eropa juga tengah membahas penanggulangan kerusakan lingkungan. Ia mengatakan bahwa Uni Eropa berkomitmen dalam pelestarian lingkungan hidup sebaik mungkin. Salah satunya dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan. Ia kembali memuji energi baru terbarukan yang dicetuskan Indonesia. Pun dengan EBT yang ada di UMM berupa pembangkit listrik tenaga mikrohidro. “Uni eropa akan terus berupaya dalam menjaga lingkungan melalui berbagai jalan. Pun dengan kerjasama yang akanterus kami jalin dengan banyak wilayah dan negara,” tegasnya. Sementara itu, Prof. Dr. Syamsul Arifin M.Si selaku Wakil Rektor I UMM mengatakan bahwa pihaknya sudah terbuka dengan berbagai negara eropa di Bidang Pendidikan. Salah satunya adalah Program Erasmus yang telah ada di UMM sejak tahun 2009 hingga saat ini. Dari situ, banyak mahasiswa dan dosen UMM yang berhasil melanjutkan pendidikan di sana. “Harapan saya, dialog ini semakin membuka pintu kerjasama dan kemitraan. Khususnya mengenai pendidikan yang menjadi gerbang mengubah dunia, termaasuk mengatasi krisis iklim,” ucap Syamsul mengakhiri. (haq/wil)

Ini Kiat Bikin Rumah Budget Mepet ala Dosen UMM

Harga rumah dan tanah terus terus melambung dari waktu ke waktu. Tingginya harga properti ini membuat banyak kalangan, utamanya kaum milenial kesusahan untuk memiliki hunian impian. Melihat hal tersebut, dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Moh. Abduh, ST., MT., IPM., ACPE., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa milenial pun bisa memiliki rumah impian dengan budget minimalis. Lebih lanjut, Abduh sapaannya, mengatakan generasi milenial di kisaran umur 20-30 tahun masih sangat memungkinkan untuk memiliki hunian sendiri. Namun dalam proses pembangunannya harus melibatkan ahli agar keamanan dan kenyamanan terjaga. Untuk membuat rumah tinggal yang layak dan nyaman, biaya yang dibutuhkan sangat bervariasi. Namun untuk membangun rumah sederhana para milenial harus menyediakan dana 200 juta ke atas. “Hal utama yang harus diperhatikan ketika akan membangun rumah adalah mempertimbangkan kondisi wilayah di Indonesia. Sebagai negara yang dikelilingi cincin api, Indonesia menjadi rawan terhadap gempa bumi. Hal ini cukup membahayakan, oleh karenanya pembangunan rumah juga harus dibuat tahan akan gempa,” kata dosen asal Lampung itu. Lebih lanjut, Abduh mengatakan bahwa untuk membuat rumah minimalis dengan harga yang minim, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah pemilihan gaya arsitektur rumah. Masing-masing gaya arsitektur memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Namun menurut Abduh rumah dengan gaya arsitektur tropis akan cocok untuk generasi milenial. Hal tersebut dikarenakan gaya arsitektur ini lebih efisien untuk biaya perawatan karena sesuai dengan iklim yang ada di Indonesia. “Hal lain yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menghemat pengeluaran dana rumah adalah menggunakan bahan-bahan alternatif. Bahan pengganti ini sangat banyak ragamnya dan penggunaanya juga kondisional. Misalnya mengganti kusen kayu dengan alumunium ataupun mengganti rangka atap kayu menjadi baja ringan. Namun untuk mengganti bahan-bahan bangunan ini harus dikonsultasikan dengan para ahli, karena jika salah memilih bahan maka biaya pembangunan rumah akan membengkak,” ungkap anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII) tim bidang sertifikasi Jatim tersebut. Terkait bahan pengganti bangunan, Abduh kembali menjelaskan bahwa masing-masing bahan pengganti memiliki sisi positif dan negatifnya tersendiri. Dari sisi positif, penggunaan bahan pengganti ini jelas memiliki sisi yang lebih ramah lingkungan. Sementara untuk sisi negatifnya terkhusus dibagian rangka atap, perlu adanya perawatan ekstra terkait pengecekan skrup atau paku baja ringannya. Hal ini harus dilakukan karena screw atau baut akan mengalami pengenduran akibat waktu, perubahan suhu, serta getaran. “Dalam membangun hunian impian harus diperhatikan keamanan materialnya. Dengan dana awal 200 juta tersebut para milenial sudah bisa membangun rumah tropis dengan spesifikasi dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur simpel, dan juga ruang tamu serta ruang keluarga yang menyatu. Kurang lebih luas bangunan yang didapatkan adalah 36 meter persegi. Jika membangun rumah sendiri, generasi milenial bisa lebih menghemat dana, namun jika ingin lebih efektif maka bisa membeli rumah yang sudah jadi,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Dua Kepala Daerah Alumni UMM Bicara Cara Memberi Manfaat bagi Bangsa

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa memberi manfaat kepada orang lain. Hal tersebut ditegaskan Bupati Pasuruan, H. M. Dr. Irsyad Yusuf, S.E., M.MA pada kuliah tamu mahasiswa pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara tersebut diselenggarakan pada 31 januari 2023 lalu di Hotel Kapal Garden Sengkaling. Bupati pasuruan yang lebih akrab disapa Gus Irsyad itu mengungkapkan kesuksesannya menjadi bupati Pasuruan adalah karena kemauannya untuk emenbar manfaat kepada masyarakat, bangsa dan juga negara. “Berkontribusi kepada masyarakat itu bisa dimulai dari mana saja. Tidak harus seperti saya, saudara bisa jadi pengusaha, politikus, tenaga pendidik ataupun yang lainnya. Tapi harus memiliki tujuan yang jelas. Misalnya kalau jadi bupati, harus punya visi dan misi dalam program pembangunan. Dimana, tujuan dari pembangunan itu sendiri adalah untuk menyejahterakan masyarakat,” jelas Irsyad. Alumnus UMM itu juga menjelaskan bahwa dalam membangun, bukan hanya tujuan yang harus jelas, tapi juga harus memiliki sasaran dan target yang tepat. Sehingga program bisa mencapai tujuan yang sudah dicanangkan. “Selain itu, kolaborasi juga menjadi hal penting dalam mempercepat proses pembangunan. Jika ingin mempercepat pembangunan di bidang pendidikan, maka pemerintah harus berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Sehingga pihak kampus nantinya turut membantu untuk memberikan masukan atau ikut membangun berbagai sektor,” kata Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UMM itu. Irsyad juga mendorong mahasiswa untuk percaya pada proses dan terus maju meski banyak halangan. Pun dengan memperluas koneksi dan kolega dalam membangun karir. Ia juga meminta mereka untuk tidak melupakan guru serta dosne yang telah mendidik dan memoles mereka menjadi pribadi yang sukses. Senada dengan yang disampaikan Irsyad, Wakil bupati Malang Drs. H. Didik Gatot Subroto, S.H., M.H. juga mendorong mahasiswa untuk berkontribusi di bidang yang digeluti. Tidak apa-apa jika harus mulai dari bawah, selama bisa mnejadi pusat manfaat bagi sesama. Ia bahkan menceritakan karirnya di politik yang diawali dengan menjadi aktivis kampus. Kemudian setelah lulus diamanahi menjadi kepala desa dan dilanjutkan menjadi anggota DPRD hingga menjadi ketua DPRD. Berkat kepiawaiannya dalam memimpin, ia akhirnya juga diberi amanah untuk menjabat sebagai Wakil Bupati Malang. “Semua itu didapat dari proses belajar dan usaha. Selain itu, istiqomah juga penting dalam pembelajaran, karena diluar sana kalian akan bertemu ribuan orang yang memiliki keinginan atau cita-cita yang sama dengan kalian,” ungkap Didik yang juga alumnus UMM itu. Di sisi lain, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki S.T, M.T. menilai bahwa alumni memiliki peran penting dalam membangun ekosistem perguruan tinggi yang kompetitif. Salah satunya dengan kolaborasi bersama banyak pihak. Di mana banyak peluang yang bisa diraih oleh mahasiswa dan alumni di sektor pemerintahan, perusahaan maupun lembaga lainnya. “Oleh karena itu, ambilah hal-hal baik yang bisa diteladani dari para alumni. Jadikan itu sebagai motivasi dan bangun diri untuk menjadi pribadi yang memberikan dampak positif. Bukan hanya untuk UMM tapi juga untuk bangsa,” tegasnya mengakhiri. (zak/wil)

Alumnus UMM Jelaskan Pentingnya Fisioterapis bagi Atlet

Dalam dunia olahraga, cedera adalah hal yang paling menakutkan bagi atlet. Sebesar apapun bakat atau sekonsisten apapun performa yang ditunjukkan, semua akan lenyap ketika mengalami cedera. Hal itu dikatakan oleh Fisioterapis alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Izzul Mujahidin. Ia mengarakan bahwa jika seorang atlet mengalami cedera parah yang tak kunjung sembuh selama bertahun-tahun, maka akan menghambat karirnya. Bahkna bisa pensiun dini dan harus mengubur mimpinya. Maka kehadiran fisioterapis di dunia olahraga menjadi hal yang penting. “Sebagian besar masyarakat belum mengetahui peran penting fisioterapis, utamanya dalam dunia olahraga. Padahal kami memiliki tugas penting seperti memulihkan maupun memaksimalkan kondisi atlet,” katanya. Izzul, begitu ia kerap disapa, menjelaskan bahwa fisioterapi atau terapi fisik itu merupakan rangkaian prosedur. Mulai dari memeriksa, menangani, hingga mengeveluasi pasien yang mengalami keterbatasan gerak dan fungsi tubuh. Proses fisioterapi juga bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya cedera serta gangguan gerakan di kemudian hari. Adapun ia telah mendirikan klinik yang bernama Society Physioteraphy. Klinik yang baru diresmikan Desember lalu itu memang secara khusus menangani kasus-kasus cedera olahraga dan muskuloskeletal. Ia juga sudah bergabung dengan organisasi-organisasi fisio sport. Menurutnya ada banyak pekerjaan utama seorang fisioterapis dalam dunia olahraga.Mulai dari bertanggung jawab atas program-program latihan untuk atlet, membuat penilaian terhadap resiko cedera-cedera yang terjadi, membuat program latihan spesifik yang sesuai dengan jenis olahraga, atau kadang memberi nasehat mengenai makanan yang dikonsumsi. Selain itu juga memberi masukan kepada pelatih mengenai situasi dan kondisi dari seorang pemain. Apakah pemain bersangkutan siap untuk bermain dalam sebuah pertandingan, apakah dia fit, dan berapa menit kira-kira waktu bermainnya. “Seorang fisioterapis olahraga juga membantu meningkatkan performa fisiknya. Yakni dari kondisi cedera ke kondisi fisik yang sehat dan bugar kembali. Biasanya fisioterapis juga memberi rekomendasi bagaimana seharusnya atlet berlatih dan melakukan pemanasan sebelum bertanding, agar cedera yang pernah kita alami tidak terulang kembali,” jelas alumnus jurusan Fisioterapi UMM 2014 ini. Ia mengaku mendapatkan banyak hal ketika berkuliah di UMM. Bukan hanya ilmu saja, tapi juga koneksi, cara membuka usaha, dan bagaimana memaksimalkan potensi diri. Izzul menilai, perjalanannya sebagai fisioterapis tidak lepas dari pengalamannya di Kampus Putih. (van/wil)

Mahasiswa UMM Gunakan AI untuk Menguji Viabilitas Polen Kelapa Sawit

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan inovasi di berbagai bidang. Inovasi terbaru kali ini di bidang Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Adalah Mohammad Rifqi Nur Faroza, mahasiswa teknik elektro UMM merancang AI untuk menguji viabilitas polen kelapa sawit. Semua berawal dari kesempatan yang ia dapat untuk magang di Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Kota Medan mellaui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Di situ, ia belajar banyak mengenai kelapa sawit, mulai dari pengembangannya hingga tantangannya. Ia juga fokus menggarap bidang Ai Developer untuk meningkatkan kualitas kelapa sawit di sana. Semua bermula pada permasalahan efektivitas pengujian butir polen kelapa sawit di perusahaan tersebut. Faroza dan beberapa mahasiswa MBKM akhirnya memiliki ide untuk membuat sebuah aplikasi yang dapat menguji viabilitas polen atau serbuk sari dari kelapa sawit. Sehingga bisa mengetahui kelayakan dan kualitas dari polennya. Aplikasi tersebut ia beri nama Palm Oil Pollen Detector yang memiliki cara kerja dengan melihat butir polen melalui mikroskop. Kemudian dideteksi melalui aplikasi berbasis AI. Viabilitas polen yang terdeteksi dapat menyatakan keadaan polen yang sudah masak dan siap menyerbuk kepala putik. “Para peneliti sebelumnya menggunakan cara manual dalam menghitung viabilitas suatu polen dan membutuhkan waktu 1-2 jam untuk mendapatkan hasil kualitas polennya. Namun, dengan inovasi AI ini, kita dapat mempercepat proses uji menjadi beberapa detik saja,” jelas Faroza. Dalam pembuatan aplikasi ini, Faroza menjelaskan bahwa butuh waktu kurang lebih 2 bulan dan beberapa kali percobaan untuk menciptakan sebuah kecerdasan buatan yang diinginkan. Inovasi ini tentu sangat bermanfaat bagi perusahaan karena dapat mempercepat produksi kelapa sawit dengan kualitas yang sangat baik. Selain manfaat bagi perusahaan, Faroza dengan bangga menyebutkan bahwa pengembangan inovasi dari AI ini dapat menjadi referensi dari penelitian lainnya. “Semoga kedepannya dapat mengimplementasikan teknologi AI di bidang yang lain, terutama di bidang pertanian agar pertanian di Indonesia semakin maju,” tambahnya. (sep/wil)

Diskusi FKIP UMM: Gempuran Disrupsi Teknologi, Guru Harus Lihai Pakai Gawai

Berbagai perubahan yang tak terduga menjadi tantangan dalam sistem pendidikan Indonesia. Salah satunya percepatan digitalisasi informasi. Hal tersebut ditegaskan Direktur Eksekutif APCE Unesco C2C Prof. Dr. Ignasius D.A Sutapa, M.Sc. dalam Seminar Nasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). agenda yang berlangusng pada 26 Januari 2023 itu diikuti lebih dari 1.500 peserta. Ignasius mengatakan bahwa di era ini siswa berpeluang besar untuk mendapatkan informasi lebih cepat dari pada  guru. Meski demikian, teknologi bukan menjadi sesuatu yang menakutkan. Para insan pendidikan dapat bersinggungan dan menjadikannya sarana pendukung agar proses belajar mengajar berjalan secara optimal. “Masalahnya adalah keandalan dalam menggunakan digital masih belum dicapai oleh tenaga pendidik saat ini. Contohnya saja seperti cara mengirim dan menerima informasi melalui gawai. Ada banyak tenaga pendidik yang kurang piawai dalam melakukan banyak hal menggunakan teknologi,” katanya. Menurutnya, penguasaan teknologi merupakan hal yang strategis dan harus dilakukan. Digitalisasi pendidikan juga menjadi momentum yang tepat untuk beradaptasi dalam membangun iklim produktif dan efektif baik di perguruan tinggi, SMA, SMP maupun SD. Guru dapat mengkolaborasikan berbagai proses edukasi dengan transformasi digital, menyeimbangkan sistem pendidikan agar selaras dengan zaman. “Guru harus mampu menapaki perubahan zaman dan mendidik generasi muda sesuai zamannya. Dengan begitu akan lahir generasi penerus bangsa yang mumpuni, punya kemampuan sesuai zaman, dan bersaing dengan baik. Transformasi digital juga dapat menjadi keniscayaan untuk Indonesia yang lebih maju, mandiri, berdaulat, dan berbudaya dengan nilai-nilai Pancasila,” tegas Ignasius. Hal senada juga disampaikan Dr. Romi Iswanti dari Direktorat Pendidikan Profesi Guru. Ia berpesan agar guru selalu berjuang dan tidak menyerah untuk mencerdaskan bangsa. Guru harus mampu beradaptasi dengan era masa kini agar anak-anka didiknya juga mendapatkan skill yang sesuai dengan zamannya. “Pendidik harus membuka diri terhadap perkembangan teknologi. Pun dengan kemauan untuk meningkatkan literasi dan kapabilitas untuk menjawab tantangan era disrupsi,” tegasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. berharap seminar ini dapat merumuskan transformasi digital dengan baik. Sehingga para pendidik bisa membekali diri dengan berbagai kemampuan yang dibutuhkan untuk mendidik anak bangsa. “Ilmu itu tidak bisa dicapai tanpa adanya enam hal yaitu kecerdasan, semangat yang tinggi, keinginan kuat, rasa haus akan ilmu, menghargai guru dan dijalankan dalam waktu yang lama. Jika smeua hal ini dilakukan dengan tekun, maka ilmu akan didapatkan kemudian dimanfaatkan untuk masyarakat,” tandasnya. (ris/wil)

Sosiolog UMM: Stop Beri Gift Kepada Konten Eksploitasi

Mengemis online semakin marak di berbagai media sosial. Isu tersebut mencuat karena salah satu akun tiktok bernama TM Mud Bath menuai banyak kritik dari netizen karena siaran langsung di TikTok yang berisi mandi lumpur. Dalam konten itu juga melibatkan lansia yang membuat masyarakat iba dan berujung memberikan gift (hadiah). Merespon maraknya konten ngemis daring di media sosial yang mengeksploitasi lansia, Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos,. M.Si. selaku Kepala Prodi Sosiologi UMM menilai jika ngemis online adalah fenomena yang membuat resah masyarakat. Fenomena tersebut juga dirasa miris karena baisanya meminta belas kasi orang lain secara luring, kini malha muncul di dunia maya. Luluk menjelaskan bahwa yang melatarbelakangi maraknya mengemis online adalah kemajuan teknologi. Terlebih media sosial memberi kebebasan dan kemudahan kepada manusia untuk mengespresikan dirinya untuk tujuan apapun, termasuk mencari uang. Kedua, kemiskinan dan tuntutan yang semakin tinggi yang berakibat mendorong seseorang untuk mencari cara instan mendapatkan keuntungan. “Ngemis online adalah solusi yang tepat menurut mereka karena mendapatkan uang yang berasal dari gift pemberian netizen. Ketiga, karena adanya kesempatan, tidak adanya batasan tegas dari pihak media sosial dalam memilih dan memilah konten mana yang boleh dipublikasi dan tidak,” terangnya. Keempat adalah persepsi masyarakat tentang konten hiburan yang sudah bergeser. Dulu, definisi hiburan adalah menyenangkan dan tidak menyusahkan orang lain, namun sekarang konten menyusahkan orang lain bisa dianggap sebagai hiburan. Kemudian yang kelima adalah belum adanya perlindungan terhadap kelompok rentan sehingga kelompok rentan sering menjadi sasaran eksploitasi. “Semakin lunturnya nilai, etika, adat ketimuran terutama di kalangan generasi mudanya juga emnjadi latar belakang yang kuat. Terakhir, yakni faktor budaya masyarakat Indonesia yang suka menolong dan punya belas kasihan tinggi. Memang tidak salah namun seringkali masih bisa dimainkan oleh kelompok tertentu,” jelasnya. Luluk juga mengatakan bahwa Indonesia pada 21 Oktober 2022 lalu didaulat sebagai negara paling dermawan nomor pertama di dunia dengan jumlah presentase 68 persen oleh World Giving Index (WGI) 2022. Adanya label tersebut menjadi faktor pendukung lain terjadinya fenomena ngemis online. “Siapa yang tidak tahu keramahan, kepedulian dan jiwa sosial orang Indonesia? Bahkan kita tidak asing dengan salah satu desa yang dikenal dengan desa pengemis dan hidup masyarakatnya makmur. Tapi kemakmuran mereka tidak menghentikan aksi. Nah, harusnya masyarakat Indonesia bisa lebih bijak, berpikir rasional dan bertindak dengan tegas,” tegasnya. Baginya, ngemis online yang menjamur di media sosial sebagian besar melakukan ekspoitasi terhadap kelompok rentang, termasuk lansia. Mengemis online adalah konten yang tidak pantas dan memberikan dampak yang tidak baik bagi masyarakat, sebab konten tersebut mengajarkan konteks eksploitasi anak muda terhadap orang tua. “Ngemis online itukan dapat keuntungannya dari gift. Maka kalau kontennya tidak mendidik, kita tidak perlu memberi gift kepada mereka. Kalau kita tahu ada konten yang sifatnya eksploitasi, segera laporkan saja ke pihak yang berewang,” pesanya. (ros/wil)

Seminar Internasional UMM: Perpustakaan Desa Kunci Pengembangan Literasi

Dalam menjalankan perpustakaan di era 4.0, pustakawan harus membuat banyak perubahan dan inovasi. Salah satunya adalah dengan melakukan kolaborasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal itulah yang sedang dijajaki oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan melakukan seminar internasional Bridging Internasional Networking, Library Partnership and the Future of Libraries yang bertempat di Teater Dome UMM. Acara yang digelar pada 21 Januari ini juga mengukuhkan pengurus baru Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) wilayah Jawa Timur (Jatim). Presiden Persatuan Pustakawan Malaysia, Ghazali Mohamed Fadzhil, Ph.D. menjelaskan bahwa dalam mengembangkan perpustakaan nasional, hal yang harus menjadi perhatian adalah pembangunan perpustakaan di desa-desa. Hal ini dikarenakan perpustakaan desa merupakan gerbang pertama pengenalan buku kepada anak-anak. Di Malaysia, pembangunan perpustakaan desa ini membentuk pola pikir dan pemahaman anak-anak tentang perpustakaan ketika ia dewasa. “Kalau kita tidak mengenalkan perpustakaan sejak dini, mereka akan tumbuh dengan persepsi yang salah mengenai perpustakaan dan pustakawan. Lebih buruknya, jika anak-anak baru mengenal perpustakaan semasa kuliah, maka perpustakaan hanya sekedar menjadi tempat mengerjakan tugas,” katanya. Adapula sederet tantangan lain dalam mengelola perpustakaan. Salah satunya kualifikasi pustakawan yang minim di sebagian sekolah. Hal itu terjadi karena pustakawan memiliki dua tanggung jawab, yakni sebagai guru dan mengurus perpustakaan. “Permasalahan lain adalah laporan yang hanya terfokus pada angka seperti jumlah pengunjung dan juga jumlah buku. Perlu adanya fokus di kehiatan ekonomi dan sosial. Kalau di Malaysia, kami berhasil membangun komunitas bisnis kuliner hanya dengan mengadakan acara memasak tiap minggunya,” katanya. Di lain sisi, Ketua umum FPPTI Pusat, Mariyah, S.Sos., M.Hum. mengapresiasi kegiatan seminar internasional ini. Hal ini menjadi langkah baik bagi perpustakaan Indonesia untuk berjejaring di ranah Internasional. Terkait pengukuhan pengurus baru FPPTI Jatim, Mariyah mengucapkan selamat dan juga harapan agar pengurus baru bisa lebih memajukan perpustakaan dan pustakawan di Jatim. “FPPTI wilayah Jawa timur merupakan cabang FPPTI yang sangat aktif dalam hal inovasi dan juga daya saing. Semoga hal ini tidak akan menurun dan akan menjadi semakin baik. Semoga dapat menjadi wadah kerja sama perguruan tinggi yang memiliki karakter, unggul, berintegritas, terpercaya, serta memiliki reputasi di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya. Terkait pengembangan perpustakaan, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengatakan bahwa tantangan membangun perpustakaan semakin berat. Hal ini TERJADI karena terbukanya industri 4.0. Dampaknya, berbagai toko buku mulai sepi sehingga omset dan kesejahteraan orang-orang di dalamnya juga menurun. “Oleh karenanya, kemampuan adaptasi dengan melakukan berbagai inovasi sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Tiga prinsip yang harus dipegang untuk membangun kolaborasi yaitu buka hati, buka pikiran dan memiliki kemauan yang terbuka,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Dosen UMM: Edukasi Seks Jangan Dianggap Porno dan Cabul

Belakangan, pemberitaan nasional dibuat ramai oleh fenomena kasus ratusan siswi Ponorogo yang hamil di luar nikah. Bahkan, data dari BKKBN Provinsi Jawa Timur menemukan bahwa pada tahun 2022, angka permohonan dispensasi nikah (diska) di Jawa Timur berada di angka 15.212 kasus dan 80 persen disebabkan pihak perempuan yang hamil duluan. Husamah, S.Pd., M.Pd. selaku dosen Prodi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) menuturkan jika fenomena hamil di luar nikah adalah fenomena gunung es yang tak kunjung ditangani serius oleh berbagai pihak. Harusnya, hal seperti ini dijadikan pembelajaran agar seluruh pihak mulai berbenah. “Penting bagi kita untuk menerapkan kurikulum pendidikan seksual di sekolah. Pendidikan seksual harus mulai ada sejak sekolah dasar (SD). Apalagi sekarang anak-anak sudah menggunakan telepon genggam. Bahkan tak jarang, anak-anak SD juga sudah memasuki masa baligh karena faktor makanan, tontonan dan sebagainya,” terangnya. Menurut dosen yang fokus pada pendidikan karakter dan lingkungan hidup itu, ada banyak pihak yang memiliki bertanggungjawab yakni sekolah, orang tua, pemerintah dan masyarakat. Edukasi seksual juga harus diberikan dengan cara yang sesuai serta tidak boleh dianggap cabul atau porno. Pada hakikatnya, edukasi ini merupakan cara memberi pemahaman terkait gender, alat kelamin dan kesehatan reproduksi yang tepat. “Edukasi seksual bukan hanya seks yang berkaitan dengan berhubungan badan, tetapi bagaimana merawat sistem reproduksi dengan sehat, tepat dan bertanggungjawab. Salah satu cara memberi pemahaman seksual ke anak adalah ketika anaknya bertanya, respon orang tua tidak boleh marah dan cuek, takutnya anak malah bertanya ke sosial media dan berujung ingin coba-coba,” ucapnya. Sayangnya, banyak orang yang menganggap bahwa pendidikan seks adalah hal yang tabu. Ketika anak bertanya, para orang tua tidak menjawab. Pun dengan sebagian guru yang tidak memberikan penjelasan yang jelas. Hal itu mendorong anak-anak untuk mencari secara mandiri di internet. Bahkan mereka tidak jarang ingin mencoba apa yang sudah ia temukan. Ia melanjutkan, hal ini membuat angka kehamilan di luar nikah meningkat. Sebagian remaja bahkan melakukan aborsi liar yang bisa mengancam nyawa. Mulai dari mencabik janin, meminum jamu yang membuat kontraksi dan lainnya. “Dalam kasus di Ponorogo, kita tidak boleh menyalahkan satu pihak saja. Semua elemen harus terlibat untuk menanggulangi dan melakukan gerakan preventif. Mulai dari orang tua, sekolah, pengambil kebijakan dan yang terpenting adalah masyarakat. Masyarakat tidak boleh abai ketika melihat disekitar ada indikasi melakukan seks bebas,” pungkasnya. (ros/wil)

Suka Makanan Berminyak? Ini Bahayanya Menurut Dosen FK UMM

Beberapa waktu lalu, nasi minyak sempat menjadi trending topic di twitter. Kuliner tersebut berupa ayam atau bebek goreng dengan bumbu yang di sajikan dengan kubis goreng dan sambal yang disiram minyak jelantah. Sekilas, menu makanan itu sangat menggugah selera. Hal itu menarik perhatian Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Probo Yudha Pratama Putra. Ia menjelaskan bahwa penggunaan minyak jelantah dalam waktu tertentu pada makanan akan berdampak pada kesehatan. Hal itu diakibatkan oleh deposisi sel lemak yang terjadi di usus halus, pembuluh darah, jantung, dan liver. “Penyakit yang pertama muncul akibat mengkonsumsi minyak jelantah disebut dislipidemia atau bahasa awamnya kolesterol. Mengonsumsi makanan yang dimasak dengan minyak jelantah akan meningkatkan lemak jenuh atau jahat yang sulit dimetabolisme oleh tubuh. Selanjutnya Dislipidemia ini dapat menjadi faktor risiko terhadap munculnya penyakit lain sepertijantung koroner, stroke, fatty liver hingga kanker,” jelas Yudha. Ia menegaskan bahwa jantung koroner menyebabkan angka kematian yang tidak sedikit. hal itu dikarenakan adanya penyumbatan pada pembuluh darah ke jantung. Pun dengan stroke yang membuat lemak menumpuk di pembuluh darah sehingga membuat otak menjadi lumpuh “Sedangkan fatty liver ini diakibatkan oleh akumulasi lemak yang terlalu banyak pada hati sehingga menyebabkan peradangan hati. Akibatnya terjadi hepatitis yang berlanjut ke penyakit sirosis dan berujung pada kematian. Selain itu, minyak jelantah juga mengandung bahan karsinogenik yang dapat menyebabkan penyakit kanker,” terang Yudha. Tidak bisa di pungkiri, mengonsumsi makanan yang berminyak memangmenambah kenikmatan. Namun mnenurutnya, alangkah lebih baik jika memulai hidup yang lebih sehat. Mengonsumsi makanan sehat serta rutin berolahraga. Sesekali mengonsumsi minyak dibolehkan selama dalam batas wajar. Apalagi mereka yang memiliki faktor risiko atau penyakit bawaan. “Dimulai dengan mengganti minyak biasa dengan minyak yang sehat atau dengan penggunaan minyak sekali pakai. Kemudian banyak mengkonsumsi makanan makanan yang dapat mengurai lemak yaitu makanan yang mengandung PUFA (polyunsaturated fatty acid) atau MUFA (monounsaturated fatty acid) seperti alpukat, kacang, canola oil, ikan tuna dan ikan salmon,” katanya. Yudha juga mengimbau masyarakat untuk sering mengecek kadar kolestrol. Sehingga saat terjadi penumpukan atau kadar kolestrol tinggi, dapat segera ditangani. Ia menegaskan bahwa mencegah menjadi upaya yang lebih baik ketimbang mengobati. (zak/wil)