UMM Perkuat Inovasi Bidang Kesehatan dengan UiTM Malaysia

Persalinan kelahiran anak menjadi perhatian penting saat ini. Apalagi melihat risiko dan rasio keselamatan yang memprihatinkan. Maka, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Universiti Teknologi Mara (UiTM) Malaysia mengadakan Simposium International yang mengangkat tema ‘”Advances in Obstetric and Gynaecology”. Keduanya juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk memajukan dunia kesehatan pada 20 Januari 2023 lalu. Prof. Ir. Rasidi Razali selaku Rektor UiTM menjelaskan bahwa kolaborasi ini membuka peluang joint research dan bertukar ilmu. Lebih dari itu juga ada student exchange, pertukaran budaya hingga kegiatan kolaborasi lain. “MoU ini tentu dapat meningkatkan kualitas dua perguruan tinggi di mata internasional. Apalagi dengan berbagai kesempatan yang ada,” tegasnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa kerjasama ini merupakan kunci meraih kesuksesan dalam kontribusi bagi masyarakat. Sementara, simposium yang ada sebagai bentuk penyegaran ilmu pengetahuan, utamanya di aspek kesehatan. “Salah satu hal yang diharapkan adalah mampu memberikan riset yang bisa langsung dirasakan masyarakat. Memberikan inovasi baru yang memudahkan, utamanya di aspek kesehatan,” katanya. Menurutnya, UMM dan UiTM merupakan universitas yang mumpuni. Maka MoU yang dijalin juga mampi meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan kualitas akademik kedua perguruan tinggi. Hal serupa disampaikan olehDr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. selaku Dekan Fikes UMM. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya telah melakukan sederet article collaboration. Kolaborasi ini juga dirasa mampu mempererat tali silaturahim antar kedua negara serumpun, yaitu Indonesia dan Malaysia. Harapannya ada kunjungan langsung Kampus Putih ke UiTM, begitu pun sebaliknya dalam rangka menjalankan MoU kedepannya. “Bukan sekadar MoU dan simposium saja, tapi juga berupaya memberikan perubahan positif untuk dunia kesehatan,” pungkas Yoyok. (haq/wil)

Keren! Mahasiswa UMM Ciptakan Sepeda Listrik Tenaga Surya

Di tengah semangat dunia untuk menggunakan sumber energi ramah lingkungan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak mau ketinggalan. Mengusung ide kendaraan masa depan hemat energi, Brilly Eldon Fachrudin dan sembilan anggota timnya membuat sepeda listrik tenaga surya. Produk karya Brilly mampu menyempurnakan konsep yang diangkat oleh seniornya dan dinilai memuaskan. “Jika angkatan sebelumnya belum berhasil menstabilkan daya yang masuk, Alhamdulillah tim kami berhasil menemukan dan memecahkan permasalahan tersebut,” ujarnya senang. Brilly menjelaskan cara kerja sepeda tenaga surya tersebut. Energi dari cahaya matahari yang masuk ke panel akan langsung ke aki, kemudian ke mesin selanjutnya yaitu controller yang menghubungkan antara dinamo dengan setelan gas. “Dari cahaya matahari disambungkan ke controller untuk menstabilkan arus daya masuknya ke aki, sedangkan dari aki nanti masuk ke mesin lagi di controller. Ini untuk menghubungkan antara dinamo dan setelan gasnya agar arus yang dikeluarkan oleh akinya nanti stabil,” urai Brilly Mereka pun lalu melakukan uji coba pada saat malam hari, di mana tidak ada cahaya matahari atau arus yang masuk. Mereka menggunakan cahaya matahari yang telah terlebih dulu disimpan pada siang hari sebelumnya sampai penuh. Uji coba ini pun berhasil dilakukan dengan perjalanan sekitar 12km, yaitu dari Sawojajar ke Kampus III UMM di Jalan Raya Tlogo Mas. Perjalanan ini menghasibiskan 3 bar daya dari total 5 bar keseluruhan yang tersedia. Listrik yang dihasilkan dari cahaya matahari tidak hanya menghasilkan arus untuk berjalannya sepeda, melainkan juga dapat menyalakan lampu pada sepeda. Selain itu Brilly dan tim juga mengubah peletakan pedal yang awalnya diletakan pada roda belakang, diganti ke depan agar berkerja dengan semestinya. Juga agar mesin tidak mudah rusak. “Manfaatnya adalah untuk menggurangi penggunaan kendaraan bermotor, penghematan listrik, dan pemanfaatan energi matahari. Penggunaan jangka panjang juga lebih efesien, terutama penggunaan jarak tempuh dekat,” tegas Brilly. Ia pun berharap, jika inovasinya dapat menjadi salah satu ikhtiar manusia menjaga bumi dari polusi udara penyebab kendaraan bermotor. Ke depan, Brilly dan timnya ingin inovasi ini dapat digunakan secara universal. Mereka berencana mengembangkan produk agar mesin yang digunakan tersebut dapat diaplikasikan di berbagai sepeda lain. Rahmat Wisnu Wardana selaku Kepala Laboratarium Teknik Industri UMM menyampaikan, ide sepeda listrik yang diangkat kelompok Brilly menarik perhatian dibanding produk lain di Product Development Exhibition 2023. Bukti nyata dari hasil terobosan sepuluh anak muda ini menjadi hal pertama yang mencuri kagumnya. “Mereka bahkan sudah melakukan uji coba dari Sawojajar ke UMM kampus III tanpa menggayuh sama sekali. Itu satu hal yang keren.  Apalagi pada umumnya sepeda listrik beroperasi dengan menggunakan pengecasan yang dilakukan langsung dengan menghubungkan pada daya, sedangkan karya ini menggunakan tenaga surya,” katanya. (bah/wil)

Beragam Inovasi Alat dan Aplikasi Dipamerkan di Pameran Teknologi Industri UMM

Perkembangan industri mulai mencapai tahap revolusi 5.0 yang akan memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai bidang. Melihat hal itu, mindset pengembangan produk-produk kreatif harus ditanamkan sejak di bangku perkuliahan. Poin tersebut diucapkan oleh Kepala Prodi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Shanty Kusuma Dewi, MT. pada pembukaan Pameran Product Development Exhibition 2023. Adapun kegiatan ini diselenggarakan pada 18 Januari 2023 dengan memamerkan berbagai teknologi yang bermanfaat. Pameran ini berupaya mewadahi kreativitas mahasiswa dalam bidang teknik industri. Mereka dibebeaskan merancang produk dan menampilkan prototipe untuk menarik para pengunjung. Shanty, sapaannya, menjealskan bahwa agenda ini merupakan tindak lanjut dari mata kuliah perancangan pengembangan produk (PPP). “Sebagian membuat alat-alat, sebagian juga membangun aplikasi. Tentu, sederet penemuan ini bisa dikomersialkan serta dipatenkan,” katanya. Sebenarnya, pameran ini sudah dilakukan sejak lama. Namun karena pandemi, sempat terhenti tiga tahun lamanya. Menurut Taufik Prihandoko, S.ST. selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa setiap alat ini bisa diajukan sebagai program kreativitas mahasiswa (PKM) maupun skripsi. hal ini tentu akan memudahkan mahasiswa dalam proses perkuliahan. “Saya melihat banyak produk yang potensial yang bisa dilanjutkan sebagai penelitian skripsi ataupun PKM. Semoga ada beberapa alat yang bisa lolos Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (PIMNAS) pada tahun ini,” harap Taufik. Salah satu alat yang menarik adalah Rain-Proff Clothesline garapan Maulana dan Izzatul. Keduanya merupakan mahasiswa teknik industri smeester tujuh. Adapun alat tersebut dapat membantu saat menjemur pakaian. Ketika panas, ia akan otomatis memperlebar jangkauan sehingga pakaian dapat mendapatkan panas. Sebaliknya, ketika hujan alat tesbeut bisa berteduh dan membuat jemuran aman dari hujan. “Jadi ada sensor yang kami sematkan. Sensor itu sensitif terhadap air, jadi saat hujan ia akan medeteksi dan melindungi pakaian agar tidak basah. Alat ini juga dilengkapi dengan roda sehinga memudahkan untuk berpindah,” kata Maulana. Terkait pameran, ia merasa sangat bangga alat buatannya banyak dikunjungi dan diapresiasi. Menurutnya, anak muda harus punya pikiran yang kreatif dan inovatif sehingga mampu menelurkan hal baru yang bermanfaat. “Ke depannya, kami tentu akna mengembangkannya. Misalnya dengan menambahkan fitur bluetooth atau menggerakkanya secara manual melalui smartphone meski orangnya sedang tidak berada di rumah,” pungkasnya. (haq/wil)

Ini Pengalaman Unik Dua mahasiswa UMM, Belajar di Dua Kampus dalam Satu Waktu

Pertukaran pelajar antar universitas luar negeri merupakan kesempatan yang sangat diidamkan oleh para mahasiswa. Kesempatan itulah yang datang pada dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Niko Silabest dan Muh. Ridha Agam. Dua mahasiswa jurusan Informatika ini mengikuti program International Credit Transfer (ICT) yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Selama 9 September-28 Januari ini mereka bergelut dan belajar di jurusan Bioinformatika Asia University, Taiwan. Ridha, sapaan akrabnya menceritakan bahwa ia dan Niko harus mengikuti perkuliahan di dua jurusan yang berbeda dan universitas yang berbeda. Uniknya, program ini pertukaran pelajar dilakukan secara daring (online). Meski begitu, kesempatan ini tidak disia-siakan keduanya. Banyak hal baru yang ia rasakan seperti pada aspek aturan dan kruikulum. Di Asia University, para dosen hanya menjelaskan secara umum saja. Hal ini membuat para mahasiswa harus mandiri untuk mendalami materi yang ada. Hal tersebut sempat membuatnya kaget dan kesulitan. “Agak kesulitan sih karena kan kalau di Indonesia biasanya dosne menjelaskan banyak hal,” katanya. Namun, ada hal menyenangkan lain yang tidak bisa ia lupakan. Salah satunya adalah bisa mengikuti kegiatan internasional dengan mudah. Ridha sempat turut serta di beberapa konferensi internasional, berdiskusi dengan beragam mahasiswa dari berbagai negara, dan bertukar pikiran. Senada dengan Ridha, Niko mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu untuk beradaptasi dengan proses pembelajaran di Asia University. Tak hanya soal penjelasan materi, pembagian tugas juga berbeda. Di Asia University, tugas project akan diberikan secara langsung saat menjelang Ujian Tengan Semester (UTS) maupun Ujian Akhir Semester (UAS). Proses belajar melalui TronClass, platform khusus milik Asia University, juga dirasa menyenangkan. Sayangnya, meski banyak hal menarik yang ia dapat, namun interaksi antar mahasiswa kurang. Bahkan jarang sekali ada kerja kelompok dna akhirnya saya tidak punya teman dekat internasional. Terakhir, Ridha dan Niko merasa beruntung bisa mengikuti perkuliahan di dua kampus yang berbeda secara bersamaan. Meski berat, namun ada banyak pengalaman baru dan asyik yang didapatkan. “Alhamdulillah UMM selalu mendukung kami untuk mengembangkan potensi, memberikan kesempatan emas seperti program ini,” pungkas Niko. (bah/syi/wil)

Milenis, Koran Mahasiswa PBI UMM yang terjual 1.000 Eksemplar

Sudah terjual 1.000 eksemplar koran, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Universitas Muhammadiyah Malang launching koran Milenis. Tak hanya melaunching karya koran mahasiswa, acara ini juga memuat berbagai nominasi penghargaan bagi mahasiswa yang memiliki potensi apik. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada 16 Januari lalu dan dihadiri oleh ratusan tamu serta mahasiswa. Ketua Prodi PBI UMM Arif Setiawan, M.Pd., menjelaskan bahwa mata kuliah Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja nyata di bidang jurnalistik kepada mahasiswa. Terhitung ada puluhan mahasiswa yang turut ikut dalam proses kerja lapang. Tak hanya belajar mengenai kepenulisan berita, mereka juga mendapatkan pengetahuan terkait bagaimana industri koran bekerja. Menariknya, meski belum mahir dan memperoleh materi dasar jurnalis, namun upaya mereka mampu menarik minat pembaca untuk membeli lebih dari 1.000 koran yang diproduksi. “Ini tentu bekal berharga untuk bisa bersaing di dunia kerja nanti. Kalaupun Koran Milenis ini mau diteruskan dan dibikin lebih profesional, mahasiswa bisa menjadikannya badan hukum. Sehingga adanya koran ini tidak hanya bertahan selama satu tahun, tapi juga bisa dilanjutkan di tahun-tahun selanjutnya,” katanya. Raihan ini juga dinilai membuktikan bahwa mahasiswa PBI memiliki kompetensi untuk bersaing di dunia jurnalistik. Hal itu juga dirasakan oleh salah satu mahasiswa PBI peserta kerja lapang, Ahmad Faizinal Akbar Tri Putra. Meski ia memilih PKL karena lokasinya di Malang, namun kini ketertarikan dan kemmapuannya dalam menulis terus meningkat. Bahkan, berkat kerja keras dan ketekunannya, ia mendapat tawaran kerja di salah satu media. “Saya mendapat banyak pemahaman tentang industri koran ,tak hanya tentang kepenulisan berita tetapi juga tentang layout koran, pembuatan rubrik, manajemen perusahaan, serta marketing dan juga cara distribusi koran. Mata kuliah ini sangat berkesan bagi saya dan saya bangga telah membuat koran Milenis ini bersama teman-teman,” kata mahasiswa asal Gresik tersebut. Akbar, sapaan akrabnya juga berharap PKL jurnalistik ini bisa diikuti dengan serius oleh para mahasiswa. Dengan begitu, imu yang ada bis terserap dengan maksimal dan mampu mencetak pemuda yang memiliki kemampuan menulis. “Dengan berbagai materi yang ada, kami jadi bisa lebih paham tentang industri koran maupun media dan bisa langsung mempraktekkanya,” pungkas Akbar. (syi/wil)

Mantan Teroris Selesaikan Studi Doktor di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tempat yang memberikan harapan dan dinilai terbuka untuk siapapun. Hal itu diucapkan oleh Ali Fauzi, mantan narapidana teroris (Napiter) yang berhasil menyelesaikan sidang disertasi di Kampus Putih UMM, 17 Januari lalu. Ia yang mengambil jurusan doktoral pendidikan Islam itu mengkaji terkait Edukasi Moderasi Beragama Bagi Para Mantan Napiter dalam tugas akhirnya. Lebih lanjut, Ali, sapaannya memang berfokus pada subjek eks napiter. Mulai dari proses perekrutan, radikalisasi, hingga aksi berupa penembakan dan pengeboman. Ia menilai bahwa pemahaman Islam mereka pada teks yang tidak sesuai dengan konteks Indonesia telah menenggelamkan ke gerakan radikal fundamental yang berujung pada terorisme. “Namun kini para napiter telah menyadari kesalahan mereka yang telah melakukan tindakan merugikan pihak lain dan mengakhirinya,” katanya. Menurut Ali, moderasi beragama membuat mereka membuka pikiran dan sadar. Terutama akan hak-hak orang lain yang berbeda pemahaman maupun agama di Indonesia. Pemaknaan Islam secara moderat dna humanis menenangkan batin bagi kehidupan mantan napiter. Menariknya, Ali juga memiliki yayasan yang bernama Yayasan Lingkar Perdamaian. Yayasan ini bertujuan untuk membawa pulang mantan napiter ke NKRI, memberikan pembinaan di lapas, serta memberdayakan mereka melalui pelatihan life skill. Bahkan juga memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anaknya dan juga para janda yang ditinggal suaminya. Terkait Kampus Putih, ia menilai bahwa UMM merupakan universitas Islam yang memberikan kesejukan. Hal itu tak lepas dari paham Islam UMM yang berwawasan tamaddun, wasathiyah, dan moderat. Apalagi dengan sederet pendidik yang tidak hanya bagus dari sisi akademik, tapi juga memberikan teladan dan menjadi teman diskusi yang apik. Sementara itu, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. selaku Direktur Program Pascasarjana UMM mengapresiasi disertasi yang disusun oleh Ali Fauzi. Hal itu tak lepas dari pembahasan terkait moderasi beragama. Baginya,  kajian tersebut sangat penting untuk dibahas serta dibagikan ke masyarakat. “Dalam beragama, sebisa mungkin kita menjadi orang baik dengan tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan,” terangnya. In’am, menyampaikan bahwa UMM selalu memberi kesempatan bagi siapapun untuk belajar dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik, tak terkecuali mantan teroris seperti Ali Fauzi. Sebab, menurutnya UMM dapat memberi wawasan yang luas dan pengerahuan sesungguhnya dalam beragama. “Seperti kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Pak Haidar Nasir, bahwa kita harus mengambil jalan tengah. Tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan,” Selain Ali, sebelumnya ada mahasiswa non muslim dari Australia yang mengambil S3 di Pendidikan Agama Islam. Hal itu membuktikan tingkat inklusivitas UMM yang tinggi. Itu juga upaya Kampus Putih untuk menyiarkan masyarakat bahwa Islam yang diajarkan meruakan Islam yang menyejukkan. “Sekarang Pak Fauzi bergelut di Muhammadiyah dan dapat aroma parfumnya. Kalau dulu bergelut dengan pandai besi dan kena percikan api, sekarang dapat bau parfum, terutama dari UMM. Jadi, siapapun boleh belajar Islam di sini, selama niatnya adalah berubah menjadi lebih baik. Faktanya, Pak Ali kini memiliki yayasan yang mengedepankan moderasi beragama,” pungkasnya. (ros/wil)

Mahasiswa FPP UMM, Wamil Kilat dengan Pusdik Arhanud

Penanaman jiwa nasionalisme untuk melindungi dan berkontribusi terhadap bangsa Indonesia perlu diperkuat kembali. Hal tersebut diucapkan oleh Komandan Pusat Diklat (Pusdik) Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Brigjen Tentara Nasional Indonesia (TNI) Raden Edi Setiawan, S.H., pada pembukaan Bela Negara Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa ini berlangsung selama enam hari sejak 16 Januari 2023 di Pusdik Arhanud, Kabupaten Malang. Edi, sapaan akrabnya memaparkan bahwa generasi muda saat ini sangat mengikuti zaman, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun teknologi. Sayangnya, tidak diimbangi dengan rasa nasionalisme akan Indonesia. Maka perlu adanya kegiatan yang bisa meningkatkan rasa kecintaan akan tanah air. “Salah satunya dengan aktivitas bela negara yang dilaksanakan FPP UMM ini. Dengan kedisiplinan dan ketekunan saudara, saya yakin saudara mampu menjadi pribadi yang bermanfaat. Bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat luas,” ucapnya. Turut hadir Wakil Rektor I  UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Ia menilai bahwa Bela Negara ini dapat melatih kedispilinan mahasiswa. kemudian akan membuahkan sifat ketekunan dan manajemen yang baik dalam diri masing-masing mahasiswa. Menariknya, ia mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi model baru dalam meningkatkan rasa nasionalisme dan bisa diekuivalensi pad amata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganeraan (PPKN). “Kedisiplinan menjadi hal yang perlu dimiliki anak muda. Maka, kerjasama dengan TNI mnejadi hal yang penting dan strategis untuk dilakukan demi mewujudkan generasi muda yang tangguh,” katanya. Di sisi lain, Dr. Ir. Aris Winaya, M.M. M.Si. selaku dekan FPP UMM mengatakan era digital memberikan banyak dampak positif maupun negatif. Banyak budaya luar yang masuk dan mengikis rasa nasionalisme. Bahkan anak muda dirasa lebih mengenanl budaya asing yang kurang sesuai dibanding budaya Indonesia. “Selain jiwa nasionalisme yang tinggi, sebagia warga negara Indonesia, kita juga harus mengedepankan tata susila yang ditunjukkan pada perkataan maupun perbuatan. Bukan hanya kepada mereka yang dekat, tapi juga kepada masyarakat secara luas,” pungkasnya. (Haq/wil)

Melati, Pustakawan UMM yang Jadi Ketua Forum Perpustakaan Jatim

Menjadi seorang pustakawan adalah sebuah pekerjaan yang sangat bermanfaat di sebuah perguruan tinggi. Hal itu karena pustakawan mampu membawa semangat agent of Information literacy. Begitu yang diungkapkan oleh Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur,  Melati Purba Bestari, S.Sos. yang merupakan Kepala Promosi Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Perempuan yang kerap disapa Melati ini menjelaskan bahwa semua berawal dari kesukannya akan membaca dan buku. Tiap hari ia selalu membawa buku serta majalah dan membacanya ke mana -mana. Salah satu kesukaannya pada waktu muda adalah majalah Bobo dan juga Majalah Hai. “Dari hobi yang saya suka, akhirnya saya mencari informasi jurusan yang cocok untuk saya. Akhirnya jurusan pustakawan menjadi jalan saya untuk berkarya, terutama hal-hal yang berkaitan dengan buku serta perpustakaan,”jelasnya. Sederet prestasi pernah Melati raih selama berkarya di UMM, seperti mendapatkan sertifikasi di kluster pengembangan koleksi, menjadi trainer hingga dan lainnya. Selain itu, pada tahun 2020 ia bersama tim UMM berhasil memenangkan kompetisi skala nasional yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional. Menariknya, ia juga menilai bahwa menjadi pustakawan harus berjejaring dengan yang lain agar ilmunya terus bertambah. Maka, ia terjun dan aktif di FPPTI. Berkat pengalaman, prestasi, serta keaktifannya, Melati berhasil menapaki tangga menjadi Ketua FPPTI Jawa Timur. “Awal mula saya ikut FPPTI pada tahun 2013. Di tahun tersebut saya menjadi kesekretariatan, kemudian menjadi sekretaris 2 di 2016, hingga akhirnya terpilih menjadi ketua FPPTI Jatim periode 2022 sampai 2025 nanti,” katanya. Meksi terpilih, ia sempat merasa khawatir akna amanh tersebut karena usianya yang tergolong lebih muda ketimbang yang lainnya. Namun, ia bertekad dan percaya bahwa mereka yang muda juga punya keberanian dan kreativitas yang besar. Apalagi dengan dukungan UMM yang mencakup banyak hal. Sehingga ia percaya bisa menjalankan amanah dengan baik. Ia juga ingin menjelaskan bahwa seorang pustakawan bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak orang yang memandang sebelah mata, padahal banyak hal menarik dan rumit. “Saya ingin agar profesi ini bisa diperhitungkan masyarakat karenan memang sangat stretgis dalam penyediaan bacaan maupun artikel ilmiah untuk membangun SDM,” tegasnya. (ros/wil)

Puluhan Mahasiswa UMM Kembali Dikirim ke Jepang

Universitas Muhammadiyah Malang kembali berangkatkan mahasiswa magang ke Jepang untuk menjalani internship. Kali ini, 21 mahasiswa yang terdiri dari sepuluh mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dan sebelas Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM berangkat secara bergelombang ke negeri Sakura. Sebelum ke Jepang, mereka mendapatkan wejangan dan pelepasan pada 12 Januari 2023 lalu. Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Zulfatman, M.Eng., Ph.D.  mengatakan bahwa sebagian sudah berangkat pada akhir November lalu. Kemudian rombongan selanjutnya akan berangkat pada pertengahan januari hingga Februari mendatang. “Durasi magangnya berbeda tiap rombongan. Ada yang tiga bulan, enam bulan, hingga 12 bulan. Mereka juga diharuskna untuk mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 3-4 bulan agar memudahkan magang nantinya. Mereka juga harus mempersiapkan diri sesuai dengan bdiang masing-masing karena memang disyaratkan pihak perusahaan Jepang,” katanya. Zul, sapaannya melanjutkan bahwa mahasiswa teknik akan melakukan program magang di industri plastic molding dan pemeliharaan konstruksi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Mereka yang di plastic molding akan belajar bagaimana memproses plastik hingga membentuknya menjadi sebuah abrang yang berguna. Sementara yang di PLTS, mereka akan langsung terjun memasang, merawat dan menangani kerusakan. Sementara mahasiswa FPP akan ditempatkan di tiga farm yang berbeda. Mereka didorong untuk memberikan inovasi dan belajar hal baru tentang pertanian di Jepang. Salah satunya teknologi yang bisa membantu meningkatkan produksi pertanian. Menariknya, program ini merupakan bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) UMM hasil kerjasama dengan mitra di luar negeri. Sehingga dapat diajukan sebagai kegiatan ekuivalen ke dalam mata kuliah. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. menyampaikan bahwa Jepang menjadi salah satu negara yang paling banyak bekerjasama dengan UMM. Banyak sektor yang bisa dikerjasamakan, termasuk mengenai magang. Seperti misalnya di kesehatan, sipil bahkan juga pertanian. “Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Karena tidak menutup kemungkinan saudara bisa dipanggil kembali untuk bekerja di sana usai menyelesaikan studi. Selalu jaga nama baik almamater dan tinggalkanlah sesuatu yang baik di Jepang,” katanya. Sementara itu, Wirayuda Damar Wicaksono salah satu mahasiswa yang berangkat tidak menyangka bisa terpilih program magang ini. Apalagi dengan sederet seleksi yang ada. “Sejauh ini, kami sudah menyelesaikan pelatihan bahasa dan juga persiapan lain dari pihak jurusan. Semoga saya dan teman-teman bisa mendapatkan banyak skill yang bisa kami pergunakan untuk dunia kerja nantinya,” harap Yuda mengakhiri. (zak/wil)

Archery Club JF UMM, Berdakwah Melalui Olahraga

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah menganjurkan manusia agar berlatih olahraga sunnah yaitu memanah, berenang dan berkuda. Hal itu menjadi dasar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jama’ah AR Fachrudin (JF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membentuk Archery Club. Adapun klub ini telah diadakan sejak bulan Oktober tahun 2021 lalu. Koordinator klub Anggi Ariansyah, mengatakan bahwa klub memanah ini ada di bawah naungan Divisi Olahraga Bidang Minat dan Bakat, JF UMM. Selain untuk melaksanakan sunnah Rasulullah, memanah juga dinilai dapat melatih fokus pengelihatan. Dalam memanah, fokus yang dilatih dirasa mampu dapat mengandalikan emosi dalam tubuh. “Klub ini dibuka untuk umum, jadi siapapun yang berminat bisa ikut berlatih. Kami melaksanakannya rutin satu kali dalma dua minggu. Ke depan tentu akan lebih sering dengan memperhatikan situasi,” katanya. Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (IP) UMM ini menambahkan bahwa klub memanah ini menjadi upaya JF untuk memperlebar sayap dakwah. Menurutnya, dakwah bisa dilakukan lewat berbagai cara. Apalagi di tengah zaman yang terus berubah. Bukan hanya fokus di platform digital dan media sosial, mereka juga mencoba menarik minat mahasiswa dan masyarakat umum dengan kegiatan menarik seperti memanah ini. Beruntung, agenda ini didukung penuh oleh kampus dengan menyediakan sederet busur dan alat panah. Dengan begitu, mereka yang memiliki potensi bisa berlatih, pun dengan mereka yang hanya ingin mencoba. Antusiasme anggota dan khayalak umum juga tinggi. Meski begitu, ia dan tim ingin agar alat-alat yang dimiliki bsia bertambah dan menarik banyak mahasiswa untuk mencoba. “Selain itu, dengan alat-alat yang lebih profesional, kami juga ingin melahirkan atlet yang bisa mengharumkan nama kampus di berbagai kejuaraan. Jadi selain untuk dakwah, latihan ini juga mencoba melatih fokus serta meraih prestasi di lomba-lomba yang ada,” tegas mahasiswa asal kabupaten Ogan Ilir itu. (haq/wil)