Gaet Perusahaan Jepang, Training Center UMM Kirim SDM Bertaraf Global ke Jepang

Makin banyak peserta training centre hasil kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang UMM) dan OS Selnajaya diberangkatkan ke Jepang. Sampai saat ini, ada lebih dari 150 peserta yang mengikuti proses pelatihan, perekrutan hingga pemberangkatan kerja ke Negeri Matahari Terbit. Aktivitas terbaru, salah satu perusahaan asal Jepang PT. SMILE berkunjung dan menyampaikan niatnya untuk bekerjasama dan merekrut lulusan training center milik Kampus Putih itu. Di dua batch sebelumnya, total ada 42 orang yang sedang mengikuti setiap proses yang ada di training center UMM-OS Selnajaya. Jumlah ini terus bertambah seiring dengan pembukaan batch-batch selanjutnya. Adapun program pelatihan tersebut berlangsung selama 6-12 bulan yang terbagi menjadi dua skill utama, yakni kemampuan bahasa Jepang dan skill khusus yang telah dipilih. “Jika sudah menguasai keduanya, para peserta akan mengikuti ujian sebagai persyaratan bekerja di Jepang serta ikut dalam proses rekrutmen dari berbagai perusahaan,” jelas Direktur Vokasi UMM Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. Di sisi lain, Kayama perwakilan dari PT. SMILE menilai bahwa sumber daya manusia (SDM) yang ada di training center UMM memiliki skill yang mumpuni. Selama ini, perusahaannya sering menggaet lulusan yang berada di Jakarta saja. Tapi, belakangan ia merasa bahwa peserta di Malang juga punya kemampuan yang bisa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di bawah naungan PT SMILE. “Ada sekitar 22 perawat yang sudah kami rekrut. Biasanya memang kita mengambil mereka yang ada di Jakarta. Tapi saya rasa peserta training center UMM juga bagus-bagus. Kami juga berencana mendatangkan staf dari Jepang untuk menjadi salah satu trainer di training center ini,” tambah Kayama. Pada kunjungan itu pula, rombongan PT SMILE juga berkesempatan untuk melihat fasilitas yang disediakan oleh TC Kampus Putih. Mulai dari asrama, ruang kelas, hingga rumah sakit umum UMM. Terkait bidang training yang disediakan, terhitung ada lima pekerjaan yang bisa dipelajari langsung oleh peserta. Ada kaigo atau caregiver, produksi makanan dan minuman, building cleaning, perikanan dan budidaya serta pertanian. Para peserta training bisa memilih salah satunya selama persyaratan yang diberikan bisa terpenuhi. Menariknya, saat bertemu rombongan PT SMILE, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. membicarakan kemungkinan pembangunan sekolah vokasi hasil kerjasama Kampus Putih dengan sederet perusahaan yang ada di Jepang. Dengan begitu, warga Jepang dan juga Indonesia bisa bersekolah di sana. Saat lulus, mereka diharapkan bisa cepat bekerja karena adanya kolaborasi dengan berbagai perusahaan. Selain itu, Fauzan juga mengenalkan program Center of Excellence yang bisa menjadi jawaban atas permasalahan SDM Jepang. “Jadi lulusan CoE-CoE dapat menjadi opsi untuk menjawab problem sumber daya manusia di sederet bidang yang dibutuhkan. Seperti misalnya bidang ruminansia, ikan koi, rumput laut, essential oil dan lainnya. Kalaupun ada kebutuhan besar di sektor lain, kami juga siap memproyeksikan dengan menyiapkan CoE sekolah keahlian yang sesuai dengan apa yang perusahaan Jepang butuhkan,” tambahnya. (wil)
Tim Mahasiswa UMM Sebut Limbah Udang Bisa Jadi Pengganti Handsanitizer Alkohol

Produksi udang di Indonesia sepanjang tahun 2022 mengalami peningkatan yang pesat yakni sebanyak 32,6 ton. Peningkatan produksi ini juga berdampak pada limbah hasil pengolahan udang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) teliti manfaat limbah udang sebagai antibakteri untuk mengobati dermatitis tangan akibat penggunaan alkohol. Pun dengan kemungkinan penggunaan limbah udang sebagai pengganti handsanitizer alkohol. Adapun Penelitian ini juga telah diajukan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan berhasil mendapat pendanaan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) 2022. Salah satu anggota tim, Shafira Rahmania, menjelaskan bahwa selain permasalahan limbah udang, Indonesia juga mengalami peningkatan penyakit dermatitis tangan. Penyakit ini meningkat akibat maraknya penggunaan handsanitizer yang mengandung alkohol. Sebelum Pandemi Covid-19, persentase penyakit dermatitis hanya sebesar 29%. Namun sejak pandemi Covid-19 berlangsung, penyakit ini meningkat sebesar 97% persen. “Alkohol yang terkandung dalam handsanitizer merupakan salah satu senyawa iritan. Penggunaan jangka panjang pada senyawa iritan ini lama kelamaan akan merusak lapisan lipid pada kulit dan menyebabkan penyakit dermatitis,” jelas anak pertama dari dua bersaudara tersebut. Untuk mengatasi dua permasalahan tersebut, Shafira dan tim melakukan penelitian terhadap kandungan limbah udang. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa limbah udang memiliki zat antibakteri bernama kitosan. Zat ini memiliki efektivitas yang baik dalam menghambat bakteri pathogen yang berada pada tangan manusia seperti E.coli, Streptococcus, Staphylococcus dan Salmonella sp. “Kegunaan lain dari zat kitosan adalah sebagai antibakteri penggati alkohol pada handsanitizer. Selain itu kitosan juga dapat dijadikan sebagai bahan dasar formulasi handsanitizer basis gel,” kata mahasiswa asal Bandung itu. Selama tiga bulan penelitian, Shafira di bantu oleh keempat anggota timnya yang merupakan kolaborasi antara jurusan Akuakultur dan Farmasi yaitu Alif Zidane Juni Wananda, Azizal Zilmi Al Afi, Silvia Putri, serta Dimas Putut Tunggorono. Saat ini penelitian telah mencapai tahap final yaitu pengolahan data terkait penelitian seperti Uji MBC dan MIC, uji iritasi pada kelinci dan siput serta penarikan kesimpulan dari penelitian. “Saya tentu berharap penelitian ini dapat membantu masyarakat, utamanya untuk dijadikan penelitian lanjutan sekaligus produksi handsanitizer menggunakan kitosan dari karapas udang. Hal ini juga akan mengurangi limbah udang serta meminimalisir terjadinya dermatitis akibat handsanitizer,” pungkas mahasiswa kelahiran tahun 1999 ini mengakhiri. (*syi/wil)
Berbekal Center for Future of Work, UMM dan Belmawa Wujudkan Kurikulum MBKM

Sejak adanya kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di tahun 2020, perguruan tinggi di Indonesia dituntut memberikan ruang kepada mahasiswa untuk dapat menambah kompetensi tambahan. Baik itu dari aspek softskill maupun hardskill dengan mengikuti program MBKM yang ada. Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator bidang pembelajaran Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Dewi Wulandari pada Bimbingan Teknis Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka Perguruan Tinggi non Vokasi. Acara tersebut diikuti oleh 50 dosen perwakilan dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Wilayah LLDIKTI VII Jawa Timur, pada Sabtu (20/8) lalu, yang bertempat di Aula BAU. Melalui MBKM, mahasiswa di Indonesia dapat mengambil program yang sesuai dengan bakat dan minat mereka. Program tersebut di antaranya adalah kampus mengajar, magang, studi independen, riset dan penelitian, pertukaran mahasiswa merdeka hingga Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA). Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki kewajiban untuk memberikan fasilitas kepada mahasiswanya agar bisa mengikuti pembelajaran MBKM. “Menariknya, kegiatan MBKM tersebut nantinya bisa dikonversikan ke dalam satuan kredit semester (SKS) ataupun diselaraskan ke kurikulum pembelajaran prodi. Sayangnya, ada banyak prodi yang masih kesulitan dan kebingungan melakukannya. Jadi, Belmawa bersama UMM berinisiatif mengadakan Bimbingan Teknis dan pendampingan kepada perguruan tinggi di Indonesia dalam membantu para dosen merancang kurikulum yang disesuaikan dengan program MBKM. Sehingga mahasiswa yang mengikuti program MBKM tidak merasa dirugikan,” jelas Dewi. Dikatakan Dewi, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak program studi, hampir 4.500 program studi tercatat di Dikti. Jadi, pendampingan ini akan dilakukan bertahap. Menurutnya, hasilnya akan kurang maksimal jika langsung diberikan ke ribuan prodi sekaligus. Oleh karenanya, Belmawa membatasi jumlah prodi yang ikut, yakni sebanyak 50 prodi saja. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd, menlai bahwa pendampingann ini dapat memperkuat pengembangan kurikulum. Utamanya yang berorientasi untuk mengantarkan mahasiswa mendapatkan pembelajaran yang sesuai passion. Fauzan juga menjelaskan bahwa UMM kini sedang merancang formula yang memiliki aksesibilitas dan cocok untuk abad ini. “Salah satu upaya kami yakni dengan membuat program Center for Future of Works (CFW) yang mana menjadi pusat pengembangan keterampilan masa depan. Implementasi program ini salah satunya adalah pendirian puluhan Center of Excellence (CoE) di UMM. sejauh ini, produk pendidikan di Indonesia masih memiliki relevansi yang rendah terhadap tuntutan dunia. Oleh sebab itu, UMM berinisiatif membentuk sekolah CoE ini agar lulusan dari Kampus Putih bisa memiliki skill yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasar,” tegas Fauzan. (zak/wil)
Kurikulum CoE Welding Inspector UMM Penuhi Kebutuhan Industri

Kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) akan sumber daya manusia (SDM) yang siap pakai sangat tinggi. Sayangnya, alumni perguruan tinggi dirasa kurang bisa mengikuti kebutuhan itu. Maka, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan terobosan dengan didirikannya beragam Center of Excellence (CoE), salah satunya sekolah keahlian Welding Inspector. Dalma rangka menjembatani kebutuhan industri, Prodi Teknik Mesin UMM mengundang sederet DUDI dalam menyusun dan mengkomunikasikan kurikulum pada pertengahan Agustus lalu. Turut hadir perwakilan dari dari PT. Barata Indonesia, PT. PAL Surabaya, PT. POMI, PT. SPINDO, PT. Dirgantara Indonesia, dan Llyod Register Asia. Mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi juga ikut berdiskusi kurikulum seperti apa yang cocok. “Satu tujuan CoE UMM ini adalah untuk mewujudkan kepastian mandiri dan kepastian kerja. Maka, kurikulum menjadi satu aspek penting agar lulusan memiliki skill yang dibutuhkan oleh industri. Jadi DUDI tidak perlu lagi menyelenggarakan pelatihan karena lulusan CoE Welding inspector sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan mereka,” kata Dr.Ir. Damat, MP. selaku kepala CoE UMM. Damat juga menegaskan bahwa kerjasama yang dijalin memang sudah banyak. Tapi itu belum cukup, ia akan terus mencari dan menggaet DUDI berkualitas agar mampu melahirkan SDM-SDM dan lulusan yang berkualitas pula. Hal serupa disampaikan oleh Nyoman Gede Suryadharma dari PT SPINDO. Selama ini pihaknya cukup kesulitan mendapatkan SDM yang siap pakai. Kebanyakan belum dibekali skill oleh kampus, khususnya skill welding inspection. Maka harapannya, mahasiswa UMM yang ikut CoE Welding Inspector ini bisa memiliki skill itu sehingga pihak industri seperti PT SPINDO bisa dengan mudah mendapatkan SDM yang berkualitas. “Perusahaan kami bergerak di bidang konstruksi dan tentu membutuhkan welding inspection dalam pelaksanaannya. Perusahaan yang bergerak di bidang serupa juga banyak. Maka, saya pikir CoE ini bisa menjadi jalan tengah. Memberikan kemudahan pekerjaan untuk alumni UMM sekaligus memberikan menjawab kebutuhan yang DUDI inginkan,” tambahnya. Di sisi lain, Kepala Prodi Teknik Mesin UMM Iis Siti Aisyah, S.T., P.hD. menjelaskan kurikulum CoE Welding Inspector akan menekankan pada aspek praktek secara langsung. Namun, sebelum terjun, para peserta akan diberi materi selama dua bulan langsung oleh para ahli dari tiap industri. Kemudian baru ditempatkan di perusahaan-perusahaan bergengsi selama empat bulan lamanya. “Pada zaman ini, unggul secara akademik saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan. Perlu adanya softskill dan hardskill yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Maka, sekolah keahlian Welding Inspector harus memiliki kurikulum yang bagus agar bisa mengakomodir hal terkait,” tambahnya. Iis, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa CoE ini tiak eksklusif untuk mahasiswa UMM saja. Mahasiswa non-UMM, para alumni, bahkan masyarakat yang memiliki minat akan Welding Inspector juga bisa mendaftar. Kemudian mengikuti prosesnya selama enam bulan sehingga bisa terserap ke dunia kerja dengan lebih mudah berkat skill yang diperloleh dari program ini. (haq/wil)
Malang Koi Show, Kontes Koi Nasional Garapan UMM

Ikan hias koi memiliki daya tarik bagi banyak kalangan dan lintas usia. Bahkan seringkali muncul sederet kompetisi ikan koi yang diikuti peserta dari berbagai daerah. Salah satu kontes yang tidak boleh terlewatkan ialah Malang Koi Show 2022 garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ajang nasional ini akan dilangsungkan pada 26-28 Agustus mendatang. Malang Koi Show menyediakan sederet piala bergengsi yang diperebutkan. Mulai dari piala-piala eksklusif seperti piala menteri, piala dirjen, piala bupati hingga piala rektor. Apalagi ada hadiah utama yang menggiurkan yakni sepeda motor dan uang tunai jutaan rupiah. Menariknya, gelaran Malang Koi Show ini sekaligus menjadi agenda launching Center of Excellence (CoE) Sekolah keahlian Koi dari Prodi Akuakultur UMM. Program ini melengkapi puluhan CoE yang sudah berdiri di berbagai jurusan yang ada di Kampus Putih seperti CoE unggas, udang, hingga komunikasi digital. “Kami yakin ini adalah satu-satunya CoE Kelas Profesional di Indonesia yang fokus pada Ikan Koi dan diselenggarakan oleh perguruan tinggi,” tegas salah satu panitia Riza Rahman Hakim, S.Pi., M.Sc. Adapun CoE Sekolah Keahlian Koi ini memiliki tiga program utama. Ada in-class yang mendatangkan para ahli dari industri untuk memberikan pemahaman lebih bagi mahasiswa. Adapula internship (magang di tempat dunia kerja industri di DUDi Koi) dan praktek usaha bisnis koi bagi mahasiswa. “Kalau kita lihat, ikan hias koi ini memang merupakan komoditas ikan yang memiliki nilai jual tinggi. Jadi tidak heran, banyak orang yang mencari dan mengembakbiakkannya,” jelas Lebih lanjut, Riza mengatakan bahwa image juara kontes memang biasanya dari Blitar Raya, Tulungagung, dan Kediri. Tapi, ia yakin akan ada ikan-ikan Koi dari daerah lain yang mampu bersaing dan memberi kejutan. Ia menilai kontes-kontes semacam ini dapat menaikkan nilai jual ikan koi. Apalagi jika lingkupnya sudah nasional dan diikuti oleh ribuan. Pun dengan uapa mengedukasi terkait bagaimana merawat dan mengembangbiakkan ikan koi. Ajang seperti ini juga bisa menjadi wadah silaturahmi para penjual, penghobi dan farm koi se-Indonesia. Koi Show ini nantinya akan memperebutkan lima piala bergengsi. Yakni Piala Menko PMK, Dirjen Perikanan Budidaya KKP RI, Bupati Malang, Rektor UMM, dan Rektor Institut Injil Indonesia. (*/wil)
17.500 Lebih Pendaftar Berebut 8.000 Kursi Mahasiswa UMM

Sebanyak 17.500 pendaftar dari berbagai daerah harus bersaing untuk mendapatkan kursi sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Total, ada 8.000 kursi yang diperebutkan melalui serangkaian tes. Adapun jumlah pendaftar Kampus Putih UMM di 2022 mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu, yakni dari kisaran 14.500 yang naik menjadi 17.500. “Iya, kami memang hanya menerima 7000 hingga 8000 mahasiswa tahun ini. Jadi para calon mahasiswa mau tidak mau harus bersaing dengan ketat agar bisa diterima di UMM. Adapun jumlah pendaftar tahun ini meningkat sekitar 3000-an orang. Angka itu bahkan bisa terus naik karena kami masih membuka pendaftaran hingga awal September nanti,” tambah Kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM, Nurudin. Menurutnya, ada sederet fakultas yang mengalami kenaikan pendaftar. Salah satunya Fakultas Teknik yang sebelumnya berada di angka hampir 2000, kini sudah hampir mencapai 3000. Jumlah itu didominasi oleh prodi Teknik Informatika dan Teknik Mesin. “Salah satu faktor kenaikan ini adalah kebutuhan di dunia industri. Dengan adanya perubahan dan perkembangan teknologi, sumber daya manusia yang menguasai TI tentu sangat dibutuhkan. Apalagi makin ke sini banyak sektor yang mau tidak mau harus menggunakan aspek digital. Hal ini mendorong calon mahasiswa untuk mengambil prodi yang akan memudahkan jalannya menjadi seorang ahli TI,” tambah dosen Ilmu Komunikasi tersebut. Selain karena tren, Nurudin mengatakan bahwa puluhan Center of Excellence (CoE) yang dimiliki UMM juga menarik perhatian. Apalagi dengan program-program yang menggaet Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) sebagai tutor. Pun dengan kemungkinan peluang pekerjaan yang bisa didapat, bahkan sebelum lulus dari UMM. CoE juga memberikan kesempatan para mahasiswa untuk mendapatkan ilmu yang tidak diperoleh di bangku perkuliahan. Salah satunya melalui magang yang nantinya bisa mengganti sitem kredit semester (SKS) mahasiswa hingga 20 SKS. Menariknya, para peserta CoE juga bisa mendapatkan equivalensi skripsi, sehingga mereka bisa lulus dengan karya yang menggantikan skripsi. “Terobosan menarik ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon mahasiswa. Apalagi dengan ribuan kerjasama yang dimiliki UMM, baik di level nasional dan internasional. Sehingga para mahasiswa dipastikan bisa lulus tepat waktu dan menjadi pribadi yang mandiri,” tambahnya. Dalam menyikapi kenaikan ini, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa Kampus Putih tentu terus meningkatkan pelayan dan manajemen. Sehingga jumlah mahasiswa yang banyak ini bisa dimaksimalkan. Selain itu, proses transfer ilmu dan skill bisa terlaksana dengan baik. Hal itu sesuai dengan program yang ada di UMM, yakni UMM PASTI. Maksudnya adalah, mahasiswa dipastikan lulus tepat waktu dan pasti bekerja dan mandiri. “Jika berjalan dengan baik, lulusan-lulusan yang UMM cetak tentu akan mengambil peran strategis dalam mewujudkan Indonesia emas 2045. Maka kuantitas harus diikuti dengan kualitas yang baik pula. Saya yakin UMM memiliki kualitas itu dan mampu mencetak generasi emas masa depan,” tegas Fauzan mengakhiri. (*wil)
UniRank Kembali Rilis Pemeringkatan, UMM Pertahankan Predikat Universitas Bereputasi Internasional

University Ranking (UniRank) kembali merilis hasil pemeringkatannya yang terbaru, yakni edisi Juli 2022. Dalam hasil tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mempertahankan reputasi internasional dengan berbagai upaya yang dilakukan dalam pengembangan SDM berskala internasional. Sebelumnya, pada 2021 lalu Kampus Putih UMM juga berhasil menjadi Kampus Islam Terbaik nomor satu dunia. Selama ini, UMM juga sukses mendapatkan berbagai pengakuan internasional dari beragam lembaga seperti AUN-QA, IABEE, Asean Eneergy Awards, QS Stars, dan lainnya. Pun dengan ribuan kerjasama bertaraf nasional dan internasional. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa seluruh rekognisi baik di level regional dan internasional sangatlah penting untuk diraih bagi sebuah perguruan tinggi. Apalagi ada banyak aspek yang dinilai dan diakui bagus oleh lembaga pemeringkatan. “Raihan ini juga menjadi sebuah kepercayaan masyarakat atas instititusi, dalam hal ini Kampus Putih UMM,” tambahnya. Meski begitu, menurutnya rekognisi tidaklah cukup bagi perguruan tinggi. Hal lain yang perlu diupayakan adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemandirian dan skill mumpuni. “Maka perguruan tinggi tidak boleh lengah. Tidak hanya sekadar menyandarkan pada rekognisi semata, tapi juga harus senantiasa berupaya meningkatkan SDM menuju bangsa Indonesia yang lebih maju,” tegas Fauzan. Wujud upaya UMM dalam meningkatkan SDM sekaligus menerjemahkan konsep Kampus Merdeka yakni dengan membuka sekolah-sekolah keahlian serta Center of Excellence (CoE). Ini juga menjadi jawaban atas kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang selama ini masih kurang. Upaya tersebut sekaligus menyiapkan generasi Indonesia emas 2045 yang sejalan dengan program CoE UMM. Kampus Putih juga berkomitmen untuk menjamin mahasiswa lulus tepat waktu dengan jaminan peluang kerja dan kemandirian bagi lulusannya. Pada edisi kali ini Kampus Putih UMM yang terletak di Malang itu juga berhasil menduduki nomor enam kampus swasta terbaik se-Indonesia versi UniRank. UMM juga sukses bertengger di posisi di ke-23 dalma jajaran perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia. Sementara itu, Asisten Rektor Bidang Akreditasi Internasional dan Pemeringkatan UMM Drs. Suparto, M.Pd. menilai bahwa peringkat Kampus Putih UMM pada edisi ini meningkat dibandingkan dengan sebelumnya. Hal itu tidak lepas dari peningkatan di berbagai sektor, utamanya website kampus. Lebih rinci, Parto, sapaan akrabnya menjabarkan lima tools yang digunakan UniRank dalam melakukan penilaian. Indikator pertama yakni Moz Domain Authority, yakni penilaian domain pencarian. Kemudian yang kedua yakni mengukur sejauh mana performa situs kampus-kampus berdasarkan visitornya menggunakan Alexa Global Rank. Ini menjadi salah satu fokus utama dalam pemeringkatan yang dilakukan UniRank. Ketiga, yakni spesifik menilai situs apa saja yang masih memiliki relasi dengan website terkait, dalam hal ini adalah website perguruan tinggi. UniRank menggunakan tools SimilarWeb Global Rank. Keempat, yakni menggunakan Majesting Referring Domains yang mengukur kualitas backlink, baik itu berupa URL, webpages, maupun penilaian kuantitas link. “Tools terakhir yakni Majestic Trust Flow. Penggunaan layanan ini dapat mengukur perbandingan antar website. Menurut UniRank, komponen ini dipakai dalam menentukan ambang batas kepercayaan publik yang bisa diukur dari domain website. Pun dengan pengembangan web melalui topik yang relevan,” imbuhnya. Parto menambahkan bahwa raihan ini bukanlah sebuah akhir. Perlu adanya pembenahan di sektor-sektor yang masih kurang. Dengan begitu, UMM bisa terus naik dan menjadi universitas dengan reputasi internasional yang mumpuni. Tidak hanya di versi UniRank, tapi juga di versi pemeringkatan perguruan tinggi lain. (*wil)
Bioling UMM Meriahkan Malam Bancaan Agustusan Warga

Mobil Bioskop Keliling (Bioling) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal pada Selasa (16/8) lalu. Kali ini rombongan Bioling hadir menghibur dan membakar spirit warga Karangploso dengan tayangan menarik. Selain itu juga mengajak anak-anak serta warga untuk bermain games dan menyediakan hadiah menarik. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program UMM Berbagi untuk Negeri. Koordinator Mobil Bioling UMM Rino Anugerawan menjelaskan bahwa pihaknya sengaja datang di momen 17-an. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan semangat dalam menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77. Menurutnya, menanamkan rasa nasionalisme bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memberikan tontontan mendidik dan berisi konten menarik. Utamanya bagi generasi muda yang nantinya melanjutkan estafet kepemimpinan. “Kamu juga mengajak mereka untuk bermain games dan menjawab pertanyaan-pertanyaan wawasan kebangsaan. Sederet hadiah juga disiapkan sebagai apresiasi agar anak-anak bisa senang sekaligus belajar hal baru. Ini juga cara kami untuk berkontribusi bagi masyarakat,” tambah pria asli Malang itu. Kedatangan Mobil Bioling nyatanya mendapatkan antusiasme tinggi. Salah satu penonton yang hadir ialah Syifa Dzahabiyyah. Ia menilai bahwa agenda seperti ini bisa dilanjutkan di berbagai tempat. Apalagi dengan tontonan yang apik, ia yakin mobil ini akan menarik banyak pihak. Masyarakat juga merasa senang karena acara syukuran kemerdekaan RI dan Agustusan yang diadakam semakin meriah karena Bioling. Syifa, begitu ia kerap disapa, menambahkan bahwa anak-anak yang hadir turut meramaikan aktivitas ini. Bahkan duduk manis hingga film selesai. “Film yang disajikan sangat menarik dan menggugah penonton untuk mencintai negerinya, Republik Indonesia. Dengan begitu, mereka akan tumbuh dengan rasa cinta tanah air dan akan memberikan sumbangsihnya dalam pembangunan Indonesia di masa depan,” harapnya mengakhiri. (wil)
BIPA UMM Kenalkan Indonesia lewat Batik

Pengenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa asing di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak hanya terbatas pada bahasa saja. Melalui lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), UMM kenalkan kain batik serta cara pembuatannya kepada para mahasiswa asing. Program ini dilaksanakan selama satu hari bertempat di LPK Batik Soendari pada Jumat (12/08) lalu. Kepala BIPA UMM, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si., menjelaskan bahwa untuk memperlancar proses belajar para mahasiswa asing di UMM, pengenalan budaya merupakan salah satu hal yang penting. Menurut peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), para mahasiswa asing harus belajar tentang budaya dan bahasa Indonesia selama satu tahun sebelum memulai proses perkuliahan. “Jadi untuk belajar di Indonesia, mahasiswa asing akan diberikan pelajaran bahasa di kelas, namun di sisi lain juga ada pembelajaran budaya maupun aktivitas seperti mengunjungi wisata-wisata lokal. Pada kesempatan kali ini, mereka diajari untuk membuat kreasi kain batiknya sendiri,” jelas dosen Jurusan Bahasa Indonesia tersebut. Terkait program membatik tersebut, salah satu staf BIPA UMM Sri Ayu Ramadhani, S.Psi., M.Si, menjelaskan bahwa para mahasiswa dikenalkan pada dua tipe batik, yaitubatik cap dan batik tulis. Cara pembuatan batik cap hanya dengan menempelkan pola yang telah ada ke kain. Sementara batik tulis cara pembuatannya adalah dengan menggambarkan pola pada kain menggunakan canting dan malam. “Pada batik cap disediakan dua pola yaitu apel dan topeng yang khas dengan budaya Malang. Lalu untuk batik tulisnya ada tulisan dirgahayu Indonesia yang disediakan dalam dua gaya tulisan yang berbeda. Hasil dari kelas membatik ini nantinya akan dikirim ke mahasiswa asing setelah melalui proses pengeringan,” ungkapnya. Sementara itu, salah satu mahasiswa asing Aminata Dao mengatakan bahwa program membatik ini sangat menyenangkan. Ia juga berkata bahwa akan mempelajari cara membatik lebih dalam di luar kelas yang telah disediakan. “Meskipun sempat mengalami kendala karena harus menggambar pola yang datail dan kecil, namun secara keseluruhan proses belajar membatik ini sangat seru. Sayangnya waktu yang kita dapat untuk belajar hanya beberapa jam. Menurut saya, waktu tersebut sangat singkat, oleh karenanya saya ingin belajar lebih dalam lagi tentang membatik di luar program kelas ini,” kata mahasiswa asal Sierra Leone, Afrika Barat itu. Lebih lanjut, Aminata menceritakan berbagai pengalaman belajarnya selama enam bulan di Indonesia. Selain belajar bahasa di kelas, ia juga di ajak untuk mengenal budaya dan sejarah Indonesia di luar kampus. Hal ini juga membantunya untuk mengasah kemampuan berbahasa Indonesia dengan masyarakat luar. “Belajar di BIPA UMM sangat menyenangkan karena kita jadi lebih mengerti akan kebudayaan dan bahasa Indonesia. Saya sangat menantikan program-program dari BIPA selanjutnya,” ujarnya. (syi/wil)
CP Prima Siap Rekrut Alumni UMM dan Sekolah Udang

Sumber daya manusia (SDM) untuk Industri tambak udang saat ini masih sangat kurang. Oleh karena itu peluang pekerjaan di bidang ini sangat menjanjikan. Utamanya bagi lulusan sarjana yang memiliki pengetahuan dan juga pengalaman di industri ini. Hal tersebut disampaikan kepala sekolah program Professional Aquaculture Training (PACT) Ir. Firmansyah, M.Sc. pada kegiatan Open Rekrutmen hasil kerja sama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan PACT PT. Proteina Prima (CP Prima) Tbk. Adapun seleksi yang dilaksanakan pada Senin (15/8) ini diperuntukkan bagi calon wisudawan dan lulusan dari kelas profesional udang program studi akuakultur UMM. Sejak penandatangan kerjasama antara keduanya pada April lalu, UMM dan CP Prima terus melangsungkan kegiatan. Salah satunya open rekrutmen yang sudah memasukin batch kedua ini. Firman mnenjelaslkan bahwa terdapat dua tahapan seleksi berupa pelatihan yang akan dilalui para pelamar. Pertama, pelamar akan masuk pada program in class training (ICT) selama dua minggu dan akan belajar mengenai teori budidaya tambak udang yang terdiri dari 22 silabus. Kemudian dilanjutkan dengan program on job training (OJT) selama enam bulan untuk turun lapang menjadi calon teknisi yang setiap harinya akan dimonitor. “Biaya proses pelatihan bagi semua pelamar akan ditanggung oleh perusahaan dan mereka juga akan menerima uang saku. Selain itu, pelamar yang dinyatakan lulus akan langsung melakukan tanda tangan kontrak dengan perusahaan dan diterima sebagai teknisi untuk langsung bekerja,” ungkap Firman. Lebih lanjut, Firman menjelaskan pada rekrutmen kali ini, perusahaan hanya menerima 25 pelamar yang mendaftar dari seluruh universitas yang telah bekerja sama dengan perusahaan. Namun dari perusahaan sendiri tidak membatasi jumlah pelamar dan yang akan diterima dari setiap universitas. Jadi bukan tidak mungkin, jika nantinya banyak pelamar dari kampus putih bisa lolos dan diterima di perusahan PT. CP Prima. “Saya harap lulusan dari UMM bisa banyak diterima dan memiliki komitmen yang tinggi. Karena pada program ini yang kami cari adalah orang-orang yang memiliki passion, jujur, disiplin, bertanggung jawab dan kesungguhan bekerja dalam industri ini,” tegas Firman. Terakhir, Firman mengucapkan terima kasih kepada Kampus Putih UMM karena sudah menyiapkan lulusan-lulusan yang punya nilai lebih. Apalagi dengan adanya sekolah udang yang memberikan banyak hal positif bagi mahasiswa. Ia berharap, kerjasama dan kepercayaan antara keduanya bisa berlanjut dan memberikan manfaat pada masing-masing pihak. Disisi lain, Kepala Center of Excellence UMM Dr. Ir. Damat, M.P juga mengucapkan banyak terima kepada tim rekrutmen PT. PC Prima karena mau merekrut tenaga baru dari alumni UMM. Ia juga berpesan kepada para pelamar untuk mengambil kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. “Perlu diingat juga, ketika nantinya diterima, kalian tidak hanya membawa nama baik sendiri tetapi juga membawa nama baik almamater. Jagalah amanah dan juga kepercayaan ini dengan baik,” pesan Damat. (zak/wil)