Seru, Ribuan Siswa di Berbagai Kota Coba Metaverse dan Tes Minat Bakat UMM
UMM-PKU-MI Komitmen Cetak Ulama Unggul dan Moderat

Sudah saatnya Indonesia ini kembali melahirkan ulama-ulama milenial masa depan. Tentu dengan spesifikasi ilmu yang mumpuni. Hal tersebut diucapkan oleh Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya selaku Direktur Pendidikan Kader Ulama – Masjid Istiqlal (PKU-MI), dalam Sosialisasi Beasiswa Ulama PKU-MI yang bekerjasama di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara ini diselenggarakan pada 10 Januari 2023 lalu di hadapan ratusan peserta. Ahmad Thib, sapaan akrabnya mengatakan bahwa PKU-MI ini berada dibawah naungan imam besar Masjid Istiqlal. Menariknya, dalam program ini juga ada pendidikan kader ulama perempuan yang menurutnya menjadi yang pertama di Indonesia. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa visi PKU-MI adalah menjadi lembaga pendidikan bertaraf internasional yang mampu melahirkan ulama. Selain itu juga mampu menguasai keilmuan Islam klasik dan kontemporer yang siap menjadi rujukan umat islam lokal hingga internasional. Sedangkan misinya adalah membentuk kader ulama yang menguasai khazanah islam klasik dari berbagai bidang dan juga membetuk kader yang menguasai bahasa asing. Sehingga siap menjadi rujukan masyarakat luas. Bukan hanya itu, tapi juga menjadi ulama yang moderat dan berakhlak mulia sehingga menjadi perekat semua golongan. “Selama perkuliahan, para mahasiswa akan ditempatkan di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ). Sementara pembinaan keulamaannya langsung di bawah masjid istiqlal. Setiap mahasiswa juga akan mendapatkan kesempatan short course di luar negeri. Menariknya, program ini juga didukung dengan beasiswa penuh dari LPDP,” tegasnya. Sementara itu, Dr. H. Agam Bayu Suryanto, MBA selaku Kepala Divisi Kerja Sama dan Pengembangan Layanan Beasiswa mengatakan bahwa program beasiswa pendidikan kader ulama ini akan dibiayai penuh. Mulai dari penelitian hingga short course di luar negeri, yang memiliki dua pilihan yaitu Timur Tengah dan Amerika. Selain itu, mahasiswa bisa melakukan magang di Majelis Ulama Indonesia, Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama. “Adapun beberapa persyaratan bagi calon mahasiswa salah satunya mampu berbahasa Arab dan Inggris, selain itu mampu membaca dan memiliki keilmuan islam klasik,” ucap Agam. Adapun Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menjelaskan bahwa UMM juga memiliki program yang serupa. Yakni Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang berdiri sejak tahun 2003 pada strata sarjana. Ia berharap para sivitas akademika Kampus Putih bisa terus melanjutkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Salah satunya melalui program beasiswa ini. “Beasiswa PKU-MI saya rasa bisa melahirkan ulama yang unggul, mumpuni, serta memiliki spesifikasi ilmlu pengetahuan yang bagus,” ucapnya mengakhiri. (haq/wil)
Rancang Aplikasi untuk Down Syndrome, Tim UMM Menangi LKTI Nasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali toreh prestasi nasional. Kali ini tim UMM berhasil membawa pulang Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di ajang Yofest Universitas Darussalam (Unida) Gontor 2022, Desember lalu. Mereka adalah Muhammad Haddad Richard mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Arab dan Imelda Azaliya Rahma mahasiswa Prodi Teknik Informatika. Haddad, saapan akrabnya, menceritakan bahwa ia memang tergugah untuk turut serta di sebuah kompetisi. Hingga akhirnya ia mendapat informasi terkait lomba yang bertema Resiliensi Guru di Era Disrupsi Pendidikan. Keduanya merancang ide dan menuliskan kara tulis yang mengkaji Perspektif Al-Qur’an terhadap Anak Down Syndrome dengan Alat Ma’unah melalui Pendidikan Agama dalam Membaca Huruf Hijaiyah. Berbekal karya itu, mereka sukses di tahap pertama dan berhasil keluar sebagai juara pertama. Terkati tema yang diambil, Haddad melihat anak down syndrome masih susah dalam membaca huruf hijaiyah dengan baik dan benar. Terlebih lagi, sejauh ini belum ada inovasi alat belajar untuk anak down syndrome. “Maka dari itu kami tercetus membuat aplikasi bernama Ma’unah. Aplikasi Mau’unah ditujukan untuk membantu pendidikan anak down syndrome. Terutama yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam dalam membaca huruf hijaiyah,” ungkap mahasiswa Angkatan 2020 itu. Terakhir, ia ingin agar rancangan aplikasinya dapat bermanfaat bagi teman-teman down syndrome. Utamanya tentang bagaimana membaca Alquran dan huruf hijaiyah. Ia menegaskan bahwa belajar agama Islam bisa dilakukan oleh semua kalangan, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. “Kami tentu akan berusaha keras untuk merampungkan aplikasi Ma’unah. Apalagi ini bisa sangat membantu dan memberikan manfaat kepada mereka yang jarang mendapat perhatian khusus. Kami juga mengajak teman-teman lain untuk bisa berinovasi dan berupaya menjadi problem solver bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (ros/wil)
Laksanakan Program baru, Pendidikan Bahasa Indonesia UMM Capai Unggul

Universitas Muhammadiyah malang (UMM) kembali perkuat kualitas yang dimilikinya. Terbaru, program studi (prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM berhasi meraih akreditasi Unggul. Raihan itu tertuang dalam Surat Keputusan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) Nomor 667/SK/LAMDIK/Ak/S/XI/2022 yang berlaku hingga 2027 mendatang. Saat ditemui, Ketua Prodi PBI UMM Arif Setiawan, M.Pd. menjelaskan bahwa raihan tersebut tak lepas dari penyiapan borang yang baik dan penilaian lapang yang lancar. Capaian ini dinilai mampu memngukuhkan komitmen pihaknya untuk menjadi prodi terdepan dan memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Menurutnya, predikat ini menunjukkan bahwa budaya yang dibangun PBI UMM telah memenuhi sembilan standar kerja yang ditetapkan SN-Dikti. Selain itu juga membuktikan capaian tridarma yang sudah dilaksanakan. Tercatat, 60% dosen telah berkualifikasi doktor, 14% sedang menempuh program doktor, dan sisanya berkualifikasi magister. Prodi PBI juga telah memiliki satu profesor dalam bidang Pendidikan Bahasa Indonesia. “Kami sadar bahwa generasi masa depan yang unggul bisa tercipta jika SDM yang kami miliki juga unggul. Maka kualitas dosen, pengajaran, sarana, dan progam selalu menjadi fokus kami,” tegasnya. Menariknya, di PBI UMM penelitian dan pengabdian diintregasikan dengan pembelajaran yang ada. Sehingga hal itu membuatnya semakin menarik serta memiliki novelty dan relevansi. Alhasil, tak kurang dari 582 karya dosen dan mahasiswa telah dipublikasikan di tingkat nasional maupun internasional. Jumlah sitasinya juga tinggi yakni mencapai 1.748. “HaKI yang kami peroleh juga jauh di atas standar minimal yang ditetapkan. Ada 38 HaKI yang kami peroleh dan didominasi oleh karya mahasiswa maupun dosen sebagai luaran perkuliahan. Upaya kami juga telah mendapat apresiasi dari para asesor pada asesmen lapang kemarin,” tambahnya. Selain strategi integrasi penelitian-pengabdian dengan pembelajaran berbasis luaran, Prodi juga memiliki strategi khusus lain, yakni ekuivalensi skripsi. Mahasiswa bisa melakukan banyak kegiatan untuk bisa lulus tanpa skrips. Salah satunya melalui karya yang menarik. “Meski sudah meraih akreditasi Unggul, kami akan terus berbenah dan bersiap diri utuk mempersiapkan akreditasi internasional FIBAA sehingga masyarakat bisa semakin percaya bahwa PBI UMM memang berkualitas dan melahirkan SDM yang berkualitas pula,” tegasnya. (*/wil)
Meriahnya Festival Budaya Tutup Pertukaran Mahasiswa Merdeka UMM

Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) UMM batch dua ditutup dengan gelaran Festival Budaya. Mengusung tema besar “Merawat Kebhinekaan Abadi Bersama dalam Memori,” acara tersebut dimeriahkan dengan penampilan tari tradisional dan peragaan busana dari berbagai daerah oleh mahasiswa. Euforia festival budaya tersebut berlangsung pada 7 Januari lalu. Ruli Inayah R, M.Si selaku Ketua Panitia PMM UMM menyampaikan festival ini merupakan ide langsung dari para mahasiswa. Dengan adanya gelaran ini, mereka berharap bisa mendapatkan kenangan yang tak terlupakan sehingga memperkuat kebhinekaan mereka. “Tujuan lainnya yakni untuk memperkenalkan dan melestarikan berbagai budaya dari daerah yang ada di Indonesia. Dengan begitu, rasa persatuan dan kecintaan akan Indonesia terus tumbuh di benak anak-anak muda,” ungkap Ruli. Adapun PMM UMM ini diikuti oleh 47 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Menariknya, mereka juga menghasilkan karya berupa empat buku dan 20 hak cipta yang telah ber-ISBN. Karya ini tentu diapresiasi baik oleh Dikti. Buku tersebut menceritakan bagaimana perjalanan mahasiswa modul nusantara inbound di UMM, baik itu menjelajah keindahan Indonesia maupun kuliner. “Saya harap kegiatan belajar selama satu semester pada modul nusantara inbound UMM bisa menjadi pengalaman bisa disalurkan kembali di daerah masing-masing. Kalian sudah menjalani kegiatan untuk saling mengenal keberagaman Indonesia dari teman-teman dan ikut andil dalam gerakan sosial,” ungkap Ruli. Pada kesempatan itu, turut hadir Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang melepas secara simbolik mahasiswa program PMM UMM batch dua. Menurutnya, festival ini mencerminkan keberagaman dan persatuan dari multikulturalisme. “Saya rasa misi dari program ini bisa tercapai dengan baik. Terima kasih telah memilih UMM dalam program pertukaran mahasiswa merdeka. Saya harap pengalaman yang kalian dapat di sini bisa berkesan di hati. Kami dengan senang hati bisa menerima anda kembali di UMM jika ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya,” kata Syamsul. Disisi lain, Muhammad Hanif, Mahasiswa Universitas Bosowa Makassar merasa senang bisa mengikuti PMM di UMM. Ia bahkan terjun ke berbagai acara menarik di Kampus Putih seperti PESMABA dan PIMNAS-35. Selain itu, ia juga sempat turun dalam gerakan sosial pada masyarakat desa Lebakharjo bersama Maharesigana UMM dan MDMC. “Alhamdulillah, kami bisa menikmati berbagai fasilitas UMM selama satu semester. Ada berbagai hal menairk seperti mobil golf untuk transportasi, danau, bebek, sarana yang memadai, hingga dosen yang mumpuni. Menurut saya, UMM bukan hanya kami anggap sebagai rumah tetapi sebagai laboratorium peradaban,” ungkap Hanif. (zak/wil)
Gen Z Marak Investasi Saham, Ini Tanggapan Praktisi Pasar Modal UMM

Menurut Laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), data mencatat bahwa dalam periode 2020 sampai akhir 2022, lonjakan jumlah investor saham dan pasar modal melesat. Dari yang awalnya 3 juta investor menjadi 9,45 juta per Agustus 2022. Antusiasme investor baru ini didominasi oleh generasi Z dan milenial. Hal ini terbukti dari persentase sebesar 60% dari total investor adalah mereka yang berusia dibawah 30 tahun. Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM, Venus Kusumawardhana, S.E, M.M menerangkan bahwa investasi terutama dalam instrumen saham, memiliki prospek yang menjanjikan. Namun perlu adanya perhatian terkait risiko yang mungkin terjadi. “Anak muda generasi Z harus menyikapi secara bijak rencana investasi dan risiko yang pasti ada di setiap keputusan. Apalagi seringkali anak muda memiliki antusiasiasme yang menggebu-gebu akan hal baru,”” jelas Venus Menurutnya, dalam melakukan kegiatan investasi harus tetap mengedepankan rasional. Tingkat risiko dan imbal hasil yang diharapkan harus bisa diukur. Karena pada setiap keuntungan investasi yang sangat besar, pasti memiliki risiko yang besar pula. Sesuai dengan prinsip investasi yakni high risk high return. Sebagai generasi Z yang berada di tengah teknologi digital serba canggih, kini berinvestasi saham sangat mudah untuk diakses oleh siapapun. Hal ini pula yang menjadi salah satu faktor lonjakan kenaikan investor. “Dengan modal HP dan uang mulai dari 100 ribu saja, kini semua orang bisa dengan mudah membeli dan bertransaksi saham secara real time di bursa,” jelas dosen yang juga pernah menjadi praktisi pasar modal di perusahaan pialang ini. Mengenai prospek investasi saham, menurtnya anak muda generasi Z saat ini memiliki kesempatan yang jauh lebih mudah dibandingkan 10-20 tahun yang lalu. Namun, harus memperhatikan banyak hal sebelum memutuskannya. Ia berpesan agar anak muda harus memiliki mindset yang benar dulu sebelum terjun ke dunia investasi. “Generasi Z ini sebagain besar masih memiliki modal yang terbatas. Maka yang harus dilakukan adalah menyisihkan sebagian uang untuk diinvestasikan. Uang yang digunakan juga harus uang yang “menganggur” setelah porsi dana untuk kebutuhan primer terpenuhi,” katanya. Investasi dengan modal terbatas juga sebaiknya dilakukan dengan orientasi jangka panjang. Anak-anak muda juga bisa menggunakannya untuk pendalaman ilmu dan memperbanyak pengalaman. Sehingga nantinya bisa terjung langsung di pasar modal dengan baik. Ia juga memberikan tips bagi anak-anak muda yang ingin berinvestasi. Salah satunya yakni memilih saham eprusahaan dengan track record baik dan memiliki kinerja keuangan yang prima. “Selain itu, menabung saham secara rutin dan berkala juga bisa dilakukan agar bisa mendapat keuntungan jangka panjang,” pungkasnya. (lib/wil)
Dosen UMM Ini Kawinkan AI dan Pengembangan Motif Batik

Pemanfaatan Articial Intelligence (AI) dapat diterapkan dalam berbagai sektor. Mulai dari kesehatan, market place, hingga kebutuhan sehari-hari. Bahkan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini mendesain AI yang khusus digunakan untuk pengembangan motif batik. Inovasi ini dikembangkan Dosen Program Studi Prodi Informatika Agus Eko Minarno, M.Kom. Ia menceritakan latar belakang pengembangan dan riset yakni karena ketertarikanya akan batik, tepatnya sejak 2012 lalu. Dari situ, Agus, sapaan akrabnya konsisten untuk melakukan penelitian motif batik. AI yang sedang kami kembangkan diharapkan mampu memberikan motif baru. Apalagi di dunia batik ada istilah stagnasi, yaitu kebanyakan motif yang digunakan masih sama. Adapun Teknologi generative adversial networks (GANs) bisa mengembangkan dan bahkan mengombinasikan motif-motif yang ada menjadi motif yang baru. Lebih lanjut ia menjelaskan, nantinya program yang ada akan diberi input agar bisa membuat motif yang diinginkan. Misalnya, jika ada motif A dan motif B, AI akan mengombinasikan dan menggabungkannya menjadi batik baru yang menarik. “Dengan GANs, komputer belajar mengidentifikasi motif-motif yang sudah ada dan mengembangkannya menjadi motif yang baru. Ini juga bermanfaat sebagai simulator bagi desainer dalam menggabungkan dan mengkombinasikan motif. Melalui teknologi ini, dalam satu detik dapat menghasilkan sekitar 100 motif baru,” jelasnya. Penelitian Agus telah sampai pada proses mengumpulkan data set yang nantinya dijadikan buku-buku terkait batik dan filosofinya. Sampai saat ini ada lebih dari 202 kain batik yang sudah didigitalisasi. Dalam melaksanakan penelitian, ada lebih dari 35 volunteer yang turut membantu. Pun kerjasama dengan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad, pengrajin, serta dosen-dosen Prodi Informatika UMM, serta para kolektor. Dosen yang sedang melanjutkan studi doktoral ini melanjutkan bahwa tantangan yang ia hadapi adalah mengupulan data set. Hal itu karena banyak batik klasik yang hanya dimiliki oleh sedikit kolektor. Maka, kerjasama dengan PPBI menjadi solusi yang bagus untuk mengumpulkan berbagai hal. “Semoga akan lebih banyak lagi motif batik yang dapat dikumpulkan sehingga batik bisa banyak dikenal dengan mudah. Pun dengan pengembangan AI ini bisa membantu pengusaha dan desainer batik untuk membuat motif-motif baru dan menaikkan angka penjualan,” pungkasnya. (nov/wil)
UMM-Jember Realisasi Mandiri Pangan dan EBT di 6 Lokasi Strategis

Kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memasuki babak baru. Keduanya sudah menetapkan sederet lokasi yang akan dijadikan tempat pengembangan pangan organik dan energi abru terbarukan. Hal itu didiskusikan pada kunjungan Bupati Jember ke UMM pada 9 Januari 2023 lalu. Bupati Jember, Ir. Hendy Siswanto, ST., IPU. Menjelaskan bahwa Jember memiliki program bernama Smart Organic Farming Renewable Energy 100 (SOFRE 100). Dalam menjalankannya, UMM memiliki peran penting, utamanya di bidang pangan dan kemandirian sumber daya energi. Ada empat peran UMM dalam proses SOFRE 100. Di antaranta pendampingan sertifikasi Organik RE 100, pendampingan Smart Organic Farming, pendampingan pemasaran untuk produk Organik RE 100 dan pendampingan pemanfaatan energi Baru terbarukan (EBT). “Untuk sektor pangan rencananya Jember akan mendirikan pabrik pupuk organik di kecamatan Sumbersaru. Kemudian juga melakukan kemandirian pangan di Desa Sukorejo,” ungkapnya. Terkait ketahanan energi, Hendy mengatakan bahwa ada empat wilayah yang akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Keempatya yakni desa Jambearum, Dusun Baban Timur Darungan, Dusun Karang kebun, dan Dusun Sepuran. “Ada beberapa wilayah kami yang belum teraliri listrik karena lokasinya di dalam hutan. Maka, saya rasa UMM bisa memberikan masukand an pendampingan agar Jember bisa memiliki PLTMH maupun PLTS. Semoga ini bisa menjadi solusi strategis bagi masyarakat. Tujuan kedatangan kami adalah untuk melihat bukti nyata kontribusi perguruan tinggi bagi bangsa. Sehingga kami bsia meniru secepatnya,” kata Hendy. Hendy juga mengatakan bahwa, program mandiri energi Jember akan dimulai dari Pondok Pesantren, Sekolah dan Madrasah. Hal tersebut tentu dapat menciptakan kemandirian sekolah dalam hal EBT. Selain itu juga bisa menjadi wahana edukasi baru dan sekaligus praktek bagi para pelajar. Di sisi lain, penanggung jawab bidang mandiri pangan dari UMM Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP. IPU. menyampaikan rencana dan strategi selama lima tahun ke depan. Pada 2023, akan membentuk klaster SOFRE dan industri pendukung hulu hilir. Kemudian 2024 pengembangan industri pendukung dan industri pengolahan berbasis SOFRE 50 dan pemasaran regional. “Tahun 2025 Pengembangan smart corporate farming sebagai industri inti berbasis RE 100 dan pemasaran nasional. Diikuti dengan pengembangan Klaster SOFRE ke 2 serta Inisiasi sertifikasi internasional untuk pasar Ekspor pada 2026. Terakhir yakni ada pengembangan desa wisata berbasis SOFRE 100 dan brand development serta ekspor beras organik di 2027,” katanya. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. berharap ada langkah nyata untuk mengeksekusi rencana kerjasama keduanya. Utamanya dalam memajukan ketahanan pangan dan EBT. Ia menegaskan bahwa akan memberikan akademisi terbaik untuk membantu memajukan Jember dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (ros/wil)
Banat, Alumnus UMM yang Sukses Meniti Karir di Kuwait

Adat muda menanggung rindu, adat tua menanggung ragam. Peribahasa satu ini tepat untuk menggambarkan semangat Banat Farofihoh, salah satu alumni Vokasi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menilai bahwa anak muda memang harus bersabar dalam meraih cita-cita. Demikian juga ia yang kini menagsal ilmu dan pengalamannya berkarya di Royal Hayat Hospital, Kuwait. “Sebenarnya motivasinya bukan bekerja tapi untuk belajar dan menambah pengalaman di manapun tempatnya. Baik itu kesempatan di dalam maupun luar negeri. Harapannya ilmu yang didapat bisa diaplikasikan untuk membangun sistem kesehatan yang optimal di Indonesia,” ujar Banat. Berangkat ke Kuwait pada Oktober 2022 lalu, saat ini ia bertugas sebagai Practice License Nurse. Yakni perawat di bagian home health, semacam homecare yang merawat pasien di rumah. Beberapa layanan yang diberikan yakni berupa baby care dan geriatric care. Perempuan lulusan D3 Keperawatan ini memulai karir awalnya sebagai salah satu volunteer Covid-19 pada program penanggulangan Pandemi hasil kerjasama Dinas Kesehatan Kota Batu dan RSU UMM pada 2021 silam. Sembari mengabdikan diri di tengah wabah, Banat mendaftar pada program kerja internasional di Kuwait. Siapa sangka, akhir 2021 ia mendapat kabar baik tentang keberangkatannya. “Pada tempat saya mendaftar ini berfokus di bidang global, jadi pembagian pekerjaannya ada yang ke Jepang, Arab Saudi, Kuwait dan masih banyak lagi. Kontrak kerjanya kurang lebih 2 tahun. Prosesnya cukup panjang tapi alhamdulillah pihak UMM selalu membantu dan mendukung niat saya. Mulai dari kemudahan mengurus administrasi hingga persiapan keberangkatan”, urai Banat. Pada awal-awal menjalani pekerjaan, Banat merasakan banyak culture shock. Terutama dari segi bahasa dan sistem kerja yang digunakan. Namun, kemudahan-kemudahan lain hadir untuk meringankan langkahnya. “Jam kerja di Kuwait 12 jam, sebanyak 17 hari dalam 1 bulan. Sedangkan di Indonesia hanya 8 jam kerja. Selain itu, rekan kerja yang berasal dari berbagai negara juga jadi tantangan tersendiri. Meski begitu, ada banyak kemudahan yang saya peroleh seperti fasilitas kendaraan dan tempat tinggal lengkap beserta furniturenya yang difasilitasi oleh rumah sakit. Penghasilan juga sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari, yakni berkisar 12-13 juta rupiah perbulan,” katanya. Selain itu, tantangan lainnya yakni saat menghadapi keluarga pasien yang berbeda pednapat. Disini keteguhan dan kesabarannya diuji untuk dapat menyelesaikan tugas dengan sebaik mungkin. “Biasanya pada bagian homecare suka struggle saat dealing dengan keluarga pasien, seperti memberi pemahaman kepada keluarga yang kadang memiliki standar kesehatan yang berbeda,” pungkasnya. (nov/wil)
Sunset Vokasi UMM dan BRI Tekan Risiko Gagal Studi Mahasiswa

Sebanyak 35 mahasiswa vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima beasiswa biaya studi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Malang. Hal tersebut merupakan upaya UMM dan BRI untuk membantu mengembangkan talenta dan menekan risiko gagal studi. Beasiswa tersebut juga merupakan bagian dari program Vokasi UMM yang diberi nama Student Safety Net (Sunset) Adapun serah terima itu berlangsung pada 27 Januari 2023 lalu. Pimpinan BRI Malang, Mohammad Suratin mengatakan bantuan CSR ini merupakan salah satu program BRI Peduli untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perusahaan. Salah satunya dengan memberikan bantuan beasiswa kepada mahasiswa yang kurang mampu dari segi ekonomi. “Apalagi melihat talenta mahasiswa UMM yang luar biasa. Maka, dengan sedikit bantuan ini semoga bisa membantu kelancaran studi mahasiswa UMM. Selain itu, bantuan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai modal usaha bagi mahasiswa agar mereka bisa mandiri secara ekonomi agar tidak terus bergantung pada bantuan yang ada,” ujar Suratin. Ia juga berharap agar pemberina beasiswa ini bisa menjadi pintu gerbang kerjasama BRI dengan Kampus Putih UMM. Ada berbagai bidang yang ia lihat memiliki peluang untuk bisa dikolaborasikan untuk menyebarkan manfaat lebih kepada masyarakat. Di sisi lain, Kepala Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM, Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. menyampaikan bahwa bantuan beasiswa BRI ini sejalan dengan program Sunset yang digagas oleh pihaknya. Program ini ebrtujuan untuk mengatasi risiko gagal studi yang seringkali menjadi penghalang mahasiswa. “Terhitung sejak dua tahun lalu, program ini telah membantu biaya studi hingga biaya hidup mahasiswa. Bahkan juga mmbantu biaya training mahasiswa yang berangkat ke Jepang. Mudah-mudahan bantuan dari BRI kali ini bisa menambah semangat para mahasiswa untuk menjalani studi dengan baik,” ungkap Tulus. Hal tidak jauh berbeda disampaikan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Ia berharap ada peluang bagi UMM dan BRI untuk memperluas kerjasama. Terkait beasiswa, ia mendorong mahasiswa yang menerimanya untuk bisa digunakan dengan tepat dan bermanfaat. Apalagi jika digunakan untuk membangun usaha yang mampu menghidupi dirinya dan membayar uang kuliah. Sehingga tidak bergantung pada bantuan-bantuan lain. Beasiswa Bri tersebut disambut baik oleh Yulia Ayu Firnanda, mahasiswa D3 keperawatan UMM. Ia merasa beruntung bisa mendapatkan bantuan CSR dari BRI karena memang ia sedang mencari beasiswa untuk keperluan studinya. “Selain untuk membiayai kuliah, saya juga berencana mengembangkan usaha agar bisa lebih mandiri. Ada banyak ide dan teman yang bisa diajak untuk merintis bisnis saya ini,” pungkasnya. (zak/wil)