Konferensi Internasional FEB-FISIP UMM Kaji Isu Lingkungan

Ilmu sosial memiliki beragam peran dalam aspek penanganan isu lingkungan. Hal itu disampaikan Assisten Deputi Kajian Dampak Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Ir. Ary Sudjianto, M.S.E di International Conference on Humanities and Social Science (ICHSoS) pada Sabtu (2/7) lalu. Konferensi internasional itu merupakan kolaborasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ary, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa kebijakan lingkungan yang diambil pemerintah harus didukung oleh banyak pihak. Tidak hanya terbatas oleh para ilmuwan atau proses produksi dari hulur ke hilir saja. Namun juga didukung dengan kepedulian akan lingkungan yang tinggi. Begitupun dengan peran ilmu sosial yang bisa mensupport upaya tersebut. “Implementasi kebijakan lingkungan hidup yang kami usahakan memuat beberapa variabel. Di antaranya Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+), indigenous community, dan pembatasan distribusi kayu. Semua itu kami lakukan dalam rangka menjaga keberlanjutkan ekosistem lingkungan hidup. Saya rasa, ICHSos yang mengangkat tema environmental issues and social inclusion in sustainable era ini bisa memberikan sumbangsih dari para akademisi mumpuni,” ungkap Ary yang mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyebut bahwa selain mengangkat isu lingkungan, ICHSoS juga bertujuan untuk memperluan khazanah penelitian. Di samping itu juga sebagai upaya mnejaga atsmosfer akademik yang ada di kampus. “Semoga konferensi ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang agar mampu memberikan sumbangsih pemikiran serta inovasi solutif untuk permasalahan yang ada,” tegasnya. Konferensi yang dilangsungkan secara luring terbatas dan daring ini dihadiri oleh pembicara dan pakar internasional. Di antaranya dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dan Institut Penelitian Kehutanan Ghana. Turut hadir para akademisi dari dari Malaysia dan Indonesia. Jewel Andoh, Ph.D. yang merupakan peneliti institut kehutanan Ghana memaparkan tentang REDD+ yang diadopsi oleh pemerintah Ghana dalam mengurangi polusi. Adapun REDD+ adalah langkah-langkah yang didesain menggunakan insentif keuangan untuk mengurangi emisi dari gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan. “REDD+ juga mencantumkan peran dari konservasi, manajemen hutan yang berkepanjangan, dan peningkatan stok hutan karbon. Skema ini akan membantu menurunkan tingkat kemiskinan dan mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Proses penerapan REDD+ menitikberatkan pada keterlibatan para pemangku kepentingan. Suara dari masyarakat, penduduk asli dan komunitas tradisional harus dijadikan pertimbangan untuk memastikan hak mereka yang tinggal di dalam dan sekitar hutan,” tambah Jewel. Di sisi lain, pembicara dari UMM Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si membahas tentang bagaimana manajemen aliran sungai terintegrasi bisa mengambil peran dalam menangani isu lingkungan. Berdasarkan hasil riset yang ia lakukan, pemerintah pusat Indonesia mempunyai peran dominan dibandingkan dengan pemerintah daerah di dalam manajemen daerah aliran sungai. Selain itu terdapat kebijakan yang tumpang tindih dari pemerintah pusat dan juga agensi dalam manajemennya. “Dalam membahas isu lingkungan, manajemen daerah aliran sungai yang terintegrasi sangat dibutuhkan. Khususnya untuk ekonomi, sosial, budaya dan konservasi lingkungan. Keberlanjutan sistem sosial ekologi bergantung pada keterlibatan dari pemerintah dan berbagai stakeholder yang terlibat di dalamnya, ” tuturnya. Selanjutnya, R. Alam Surya Putra dari The Asia Foundation (TAF) menyampaikan bahwa skema Ecological Fiscal Transfer (EFT) dinilai cukup berhasil dalam mendorong konservasi lingkungan hidup di Indonesia. Saat ini, beberapa daerah di Indonesia telah menerapkan EFT yang berhasil meningkatkan tutupan lahan, pengembangan taman hutan raya (Tahura), pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Pun dengan peningkatan ruang terbuka hijau, serta pengelolaan sampah,” paparnya. Kemudian, adapula dua pemateri terakhir yakni Djoko Sigit, Ph.D. dari UMM dan Dr. Nik Hazimah Bt Nik Mat dari Universitas Trengganu Malaysia. Djoko memaparkan terkait inovasi data internet untuk keputusan konsumsi yang lebih baik dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Sementara Hazimah tiga pilar penting dalam keberlanjutan kehidupan yakni ekonomi, lingkungan dan sosial. (Wil)
Dhida, Mahasiswa UMM Juara Gulat Porprov Jatim

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencetak prestasi. Kali ini raihan membanggakan datang dari mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Dhida Wahyu Nusantara yang berhasil membawa pulang medali perak. Capaian itu ia catatkan di cabang gulat kelas 75 kilogram gaya greco pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2022. Adapun kompetisi ini berlangsung pasa 26-29 Juni lalu. Menurut Dhida, sapaan akrabnya, persiapan panjang sudah ia lakukan sejak lama. Tepatnya sejak sembilan bulan lalu, yakni pada November 2021 hingga Juni 2022. Dia yang mewakili Malang, mengatakan latihan rutin ia laksanakan terpusat di basecamp daerah Pakisaji. “Hampir setiap hari saya berlatih bersama dengan tenaga profesional dan atlet provinsi. Mulai dari jam enam sore hingga pukul sepuluh malam,” katanya. Menurutnya, perlombaan kemarin sangat memacu adrenalin. Hal itu dikarenakan beberapa saat sebelum bertanding, ia diharuskan mengikuti ujian di kampus UMM, kemudian langsung bertolak menuju Lumajang untuk bertanding. Meski begitu, ia sangat bersyukur karena ada banyak support dari pihak kampus, dosen, hingga teman-teman yang selalu mendulung kegiatannya. “Alhamdulillah, berkat bantuan dari banyak pihak, saya bisa menyeimbangkan kegiatan kuliah dengan kejuaraan ini,” tambah Dhida. Terkait proses perlombaan, ia mengatakan bahwa persaingannya sangat ketat. Terlelebih ia beberapa kali harus bertanding dengan teman sendiri yang mewakili daerahnya. Ia cukup kesulitan karena masing-masing sudah mengantongi kelemahan yang dimiliki. Ia bercerita bahwa ketertarikannya akan gulat muali tumbuh saat ia duduk di kelas empat SD. Kebetulan ia sering berkunjung ke basecamp latihan para atlet. Dari sana, ia akhirnya ikut dan berlatih dengan sekuat tenaga. Sampai pada akhirny ia berhasil mendapatkan gelar pertamanya saat kelas tiga SMP. Tepatnya di kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA). Kemudian berlanjut pada perlombaan praporprov, kejurda hingga kejurprov. Bahkan ia sukses memenangi event internasional di Thailand Open pada 2018 lalu. Dhida bersyukur ia berada di lingkungan yang sangat mendukug passionnya. Tidak hanya kedua orangtuanya, tapi juga teman-teman, atlet satu basecamp serta UMM yang senantiasa memberikan masukan dan motivasi. Meski ia menyukai gulat, tapi ia berkomitmen untuk menyelesaikan studinya dengan baik. Terakhir, ia berpesan kepada anak muda seusianya untuk lihai mencari peluang dan mampu mengendalikan diri sendiri. “Anak muda harus pintar mencari peluang, pandai megendalikan diri sendiri dan mengenal diri sendiri supaya kelak dapat menggali potensi dan berprestasi,” tegasnya. (Ros/Wil)
Wisudawan Terbaik UMM Ini Aktif Organisasi hingga Program ke Turki

Saat menginjakkan kaki di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berkuliah, Rizky Juda Putra Hidayat tak pernah menyangka langkahnya tersebut akan membawanya ke Eropa. Wisudawan terbaik UMM ke-104 periode dua ini menjelaskan bahwa terpilihnya ia di program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) merupakan suatu pengalaman yang tak akan terlupakan. Beragam prestasi dan pengalaman ia rasakan selama menjadi mahasiswa. Kini, Juda, sapaan akrabnya juga berhasil mendapatkan predikat wisudawan terbaik Kampus Putih UMM. Semua itu sukses diraih berkat usaha kerasnya, dukungan keluarga dan teman, serta bimbingan dari dosen UMM. Terkait pengalaman internasionalnya, Juda menceritakan bahwa proses pendaftaran program IISMA lumayan sulit. Sistem pendaftarannya sendiri terdiri dari dua seleksi. Pertama adalah seleksi dari kampus melalui lembaga International Relation Office (IRO) UMM. Selanjutnya ada seleksi dari Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek). “Seleksinya sendiri mencakup seleksi berkas dan wawancara. Salah satu kesulitan yang saya hadapi adalah Test of Academic English Proficiency (TAEP) yang saya miliki tidak dapat terpakai. Oleh karenanya saya harus tes lagi secara online menggunakan duolingo english test. Selain harus menggunakan dollar untuk pembayaran, tes yang dilakukan secara online ini cukup rumit dan sulit,” tuturnya. Kesulitan lain datang setelah tahap seleksi terlewati. Juda mengatakan bahwa IISMA yang diikutinya ini merupakan angkatan pertama. Oleh karenanya masih terdapat banyak kekurangan utamanya dalam hal pengumuman peserta terpilih. Namun untungnya Juna berhasil lolos mewakili UMM dan pergi ke Middle East Technical University Ankara Turki untuk menempuh pendidikan. “Saya bangga sekali karena bisa mewakili UMM di program ini. Sepulangnya dari Turki, saya juga menjadi mentor bagi teman-teman mahasiswa yang ingin mendapatkan beragam program. Utamanya IISMA ini,” kawa wisudawan kelahiran Tangerang tersebut. Juda menceritakan bahwa banyak pengalaman yang ia lewati selama program IISMA berlangsung. Di antaranya dapat mengetahui dan mengenal kebudayaan negara lain dengan lebih baik. Salah satu kebiasaan asing yang ditemuinya di turki adalah cara pria melakukan perpisahan. Di Indonesia, ketika akan berpisah biasanya hanya melakukan jabat tangan. Namun di Turki biasanya dilakukan dengan menempelkan pipi kanan dan kiri. “Keunikan lain ada di segi makanan, sarapan di Turki menurut saya sangat sedikit karena mereka cukup hanya makan telur, roti, dan teh saja. Meskipun ada beberapa budaya yang tidak umum, saya sangat suka dengan kebudayaan Turki, utamanya ketika memanggil seseorang. Semua orang di kampus akan dipanggil dengan sebutan hocam yang berarti guru. Jadi apapun pekerjaannya baik itu dosen, karyawan, dan mahasiswa akan dianggap sama,” ungkap Juda. Selain aktif di kegiatan internasional, Juda juga aktif di organisasi intra kampus sepeti himpunan mahasiswa jurusan. Pun dengan komunitas yang membahas dan belajar mengenai kepenulisan essai. “Banyak hal yang telah saya lalui selama berkuliah dan saya bangga terhadap apa yang telah saya capai selama ini. Saya berpesan untuk mahasiswa UMM yang lain agar tetap tegar dan semangat dalam menempuh kuliah. Proses yang kita jalani sekarang akan menentukan jadi seperti apa kita di masa depan,” pungkasnya. (syi/wil)
Tiga Mahasiswa Ikom UMM Lulus tanpa Skripsi berkat Film Dokumenter

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melahirkan lulusan dan mahasiswa penuh karya. Mulai dari tingkat regional hingga internasional. Kali ini giliran tiga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi yakni Devano Ramadhan Pratama, Ahmad Ali Mahfud, dan Muhammad Sofwan. Film yang mereka garap berhasil tayang di di Wathcdoc Documentary, pertengahan Juni lalu. Karya tersebut juga sekaligus membuat mereka bisa lulus tanpa skripsi. Devano selaku anggota kelompok menceritakan bahwa ide film ini muncul sejak awal semester dua lalu. Saat itu mereka diajak untuk membuat film yang berlokasi di Gili Ketapang. Setibanya di sana, mereka melihat permasalahan lingkungan yang memprihatinkan. Mulai dari sampah yang menumpuk, pengerukan pasir, dan pengambilan terumbu karang untuk pembangunan rumah. “Jika kebiasaan itu berlanjut, tentu akan memberikan dampak buruk bagi pulau ini ke depannya. Apalagi mengingat Gili Ketapang adalah salah satu objek wisata bahari unggulan Jawa Timur,” ucapnya. Mahfud, anggota lainnya menambahkan bahwa film “Menyisir Pesisir Gili Ketapang” ini mengangkat isu lingkungan yang sangat kompleks. Memperlihatkan kebiasaan masyarakat yang ternyata memberikan efek kurang baik bagi lingkungan. Sementara di sisi lain, pemerintah menjalankan program pariwisata tapi tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan yang ada. Selain itu, kondisi pemukiman yang bertambah menjadi 10.000 jiwa berefek pada semakin kurangnya ruang lapang di pulau tersebut. Populasi kambing liar yang ada juga semakin meningkat, padahal lahan terus berkurang. Akhirnya, sampah menjadi makanan bagi para kambing-kambing. Tidak jarang, beberapa kambing mati di pinggir pantai dan dibiarkan hanyut terbawa arus laut. “Kondisi pemukiman yang semakin padat, sampah menumpuk, kebiasaan masyarakat yang susah diubah dan solusi yang tak kunjung datang akan berujung pada hilangnya pulau ini,” imbuh Mahfud. Di sisi lain, Sofwan juga menceritakan isi dari film dokumenter tersebut. Pariwisata Gili Ketapang mulai dikenal banyak orang sejak tahun 2012-2013an, puncaknya pada 2016-2017. Tiap harinya, ada ratusan wisatawan yang datangn untuk menikmati pantai dan snorkeling. Hal ini mengubah sebagian besar pekerjaan warga sekitar. Sebelumnya bekerja sebagai nelayan, kini beralih ke operator wisatawan hingga penjual aksesoris. Sehingga masyarakat setempat tidak lagi bergantung pada hasil laut. “Banyak orang disana merasakan hal positif dari datangnya pariwisata, sehingga mulai dipandang oleh pemerintah dengan pembangunan dermaga selatan. Sayangnya, pertumbuhan pariwisata yang tinggi tidak dibarengi dengan perawatan lingkungan yang mumpuni,” tegas Sofwan. Ketiganya berharap, film ini bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Begitupun dengan pemerintah yang harus segera bergerak dan memberikan solusi kepada warga Gili Ketapang. “Jadi, program tidak hanya menjadi program saja, tapi benar-benar dilaksanakan agar memberikan dampak positif. Semoga film ini dapat mengedukasi masyarkat agar kebiasaannya berubah dan ketahanan pulau terjaga,” ungkap ketiganya. (haq/wil)
Dubes Mesir untuk RI Jelaskan Pentingnya Pendidikan bagi Kemajuan Negara di Wisuda UMM

Pendidikan memiliki peranan penting dalam perkembangan berkelanjutan sebuah negara. Kalimat tersebut disampaikan oleh duta besar (Dubes) Mesir untuk Indonesia H.E. Ashraf Mohamed Moguib Sultan pada pengukuhan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prosesi wisuda tersebut diselenggarakan di Dome UMM, pada Kamis (30/6) lalu. Lebih lanjut, Ashraf menjabarkan bahwa pendidikan memiliki peranan penting untuk membantu perkembangan bidang industri, agrikultur, dan perputaran ekonomi. Pendidikan juga membentuk masyarakat agar mampu berkembang menuju arah yang lebih baik. Namun kini akses untuk mendapatkan pengetahuan yang relevan semakin susah karena perkembangan zaman yang makin cepat. “Untuk mengembangkan pendidikan suatu negara, perlu adanya kolaborasi antara negara satu dengan yang lain. Dengan begitu, tiap negara bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas masyarakat di berbagai bidang. Hal itulah yang sedang dilakukan oleh Indonesia dan Mesir. Kami banyak melakukan pertukaran pelajar antar masing-masing negara sehingga dapat membangun pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik,” katanya. Dalam pengembangan pendidikan di Mesir, Ashraf menjelaskan bahwa pemerintah juga tengah menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan pasar. Hal ini diikuti oleh pengembangan regulasi yang cocok dengan standar modern yang berlaku. Pun dengan peningkatan kualitas universitas serta kapasitas mahasiswa. ”Penting juga bagi kita untuk membentuk generasi muda yang berpendidikan dan juga melatih mereka menjadi generasi yang kreatif serta inovatif,” ujar Ashraf. Senada dengan Ashraf, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga menjelaskan pentingnya menguasai pengetahuan akademik dan kemampuan leadership bagi wisudawan. Dua hal ini telah diajarkan UMM melalui kegiatan perkuliahan maupun kegiatan lain seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Semi Otonom (LSO). “Untuk lebih mengasah skill mahasiswa, kami juga akan segera meluncurkan program besar universitas bernama Center Of Excellence (CoE) berbasis Program Studi (Prodi). Program ini dibuat dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar terkini. Bukan hanya untuk mahasiswa UMM, tapi juga unutk alumni dan masyarakat yang ingin mendalami bidang-bidang terkait,” lanjut Fauzan. Tak hanya berfungsi sebagai sarana pengukuhan, gelaran wisuda ini juga memfasilitasi mahasiswa untuk menjajakan produk wirausahanya melalui bazar wisuda. Selain sebagai upaya mendapatkan profit, bazar ini juga menjadi sarana mengenalkan produk-produk karya mahasiswa UMM ke masyarakat luas. “Bazar ini cukup membantu bagi kami yang sedang menunggu keluarga yang diwisuda. Produknya juga bervariasi, mulai dari makanan ringan, minuman, hingga hadiah-hadian untuk para wisudawan seperti buket bunga, buket jajan, dan lilin
UMM-Bea Cukai Kenalkan tentang Cakap Cukai

Pengenaan cukai memiliki keuntungan ganda. Tidak hanya untuk membatasi konsumsi masyarakat, tapi juga bisa menjadi sumber pemasukan negara. Hal itu disampaikan oleh Nirwala Dwi Heryanto selaku Direktur Komunikasi dan Bimbingan Kepatuhan Pengguna Jasa Bea Cukai pada seminar Cakap Cukai pada Rabu (29/6) lalu. Adapun kegiatan itu merupakan hasil kerja sama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Nirwala, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa ia senang sekali bersosialisasi dengan para mahasiswa. Hal itu karena efek yang dihasilkan akan lebih luas. Mahasiswa tentu akan memberikan pemahaman lebih kepada lingkungan di sekitarnya. Menurutnya, aktivitas yang diberi nama Cakap Cukai itu memiliki dua arti. Cakap yang pertama berarti proses berbicara dan mengobrol terkait cukai. Lalu ketika sudah memahami cukai, maka para mahasiswa bisa dianggap sebagai pihak yang cakap. Terkait bea, ia menjelaskan bahwa tugasnya tidak hanya mengurusi ekspor impor. Tapi juga menjalankan fungsinya sebagai industrial assistan dengan mendampingi UKM dan IKM. Pun dengan upaya mempercepat arus barang dan community protection. “Makna community protection sangat luas. Tidak hanya berkutat pada narkoba, tapi juga masalah pornografi, buku ekspor dan impor yang berbau radikalisme serta lainnya,” katanya. Nirwala jug membeberkan beberapa kriteria sebuah barang yang bisa dikenakan cukai. Mulai dari barang yang konsumsi harus dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, hingga penggunannya yang memberikan dampak buruk bagi lingkungan atau manusia. Di samping itu juga sebagai upaya negara dalam menjamin keadilan. “Ini sifatnya alternatif, bukan kumulatif. Tapi untuk menjadi barang yang dikenai cukai harus melalui jalan yang panjang. Pun dengan pelaksanannya yang penuh pertimbangan. Misalnya saja plastik yang sebenarnya sudah dikenakan cukai sejak 2016. Namun pemerintah melihat kondisi masyarakat yang ada, sehingga belum dikenakan dengan maksimal,” tuturnya. Di sisi lain, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, M.T. menilai bahwa era ini menuntut kita untuk mengerti dan melaksanakan sesuatu lebih awal. Termasuk pengetahuan terkait bea dan cukai. Bagaimana mahasiswa bisa mengantisipasi segala perubahan yang mungkin terjadi di masa depan. Selain itu, dalam menghadapi era baru para mahasiswa juga harus melakukan beberapa hal. Diawali dengan kemampuan beradaptasi dan mengantisipasi. Kemudian bergerak denagn cepat serta terus berakselerasi. Namun itu tidak cukup, mahasiswa juga memerlukan partner yang bisa dipercaya. “Manfaatkan kesempatan dan momentum yang baik ini. Cakap Cukai juga bisa dijadikan portofolio saudara-saudara, menjadi bukti bahwa saudara sudah memahami proses di bea cukai. Semoga acara ini bisa menambah dan meningkatkan wawasan serta pemahaman tentang bea cukai,” tegasnya mengakhiri. (wil)
UMM Bekali Wisudawan Dua Jurus Kesuksesan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membekali para wisudawannya dengan dua jurus agar bisa mencapai kesuksesan. Hal itu disampaikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam prosesi wisuda pada Selasa (28/6) lalu. Adapun dua jurus itu adalah kompetensi keilmuan dan kompetensi leadership yang selalu disalurkan melalui beragam kegiatan. “Pertama, mahasiswa selalu dibekali dengan ilmu dan teknologi agar bisa menjadi orang bermanfaat. Kemudian jurus kedua yakni UMM bertekad meningkatkan kompetensi leadership para generasi muda dengan berbagai kegiatan yang ada. Sekarang, saudara bisa menggunakan dua jurus itu agar bisa menjadi manusia yang diperhitungkan,” tegasnya. Fauzan berharap segala ilmu, prestasi, dan pengalaman yang sudah didapat dari Kampus Putih UMM bisa diejawantahkan di dunia nyata. Menurutnya, masyarakat sudah menunggu sumbangsih dan kontribusi dari para sarjana baru, utamanya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Aprianto Prabudi, alumnus UMM yang kini menjadi senior talent acquisition head manager for DP Program PT. Berau Coal Energy (Sinar Mas Group). Menurutnya, para wisudawan ini adalah seorang petarung karena sudah melalui beragam tantangan saat berkuliah. Kini, waktunya untuk naik level dan menjadi petarung dalam persaingan kerja. Ada tiga faktor untuk menjadi petarung hebat di dunia kerja, yaitu mindset, attitude dan kompetensi. Menurutnya, untuk bisa masuk ke dunia profesional, diperlukan mindset yang profesional pula. Begitupun dengan attitude yang mana harus dimiliki oleh para wisudawan agar bisa bertahan di lingkungan kerja masing-masing. Kemudian dilengkapi dengan kompetensi mumpuni agar mampu memberikan yang terbaik serta inovasi terbaru. Aprianto, sapaan akrabnya menilai bahwa mindset akan terefleksikan dalam perilaku. Ia mencontohkan pada proses wawancara kerja dan berada di fase penentuan salary. Cara menjawab fresh graduate akan mewakili mindset yang dimiliki. Biasanya, mereka akan menjawab sesuai kebutuhan, padahal gaji di dunia kerja dilihat dari harga pasar. “Hal serupa juga terjadi pada faktor kedua dan ketiga. Terkait kompetensi, ada empat hal yang harus saudara-saudara kuasai, mulai dari kompetensi teknis, administrasi atau IT, komunikasi dan yang terakhir yakni kompetensi kolaborasi,” tambahnya. Ia juga sempat menjelaskan pentingnya kolaborasi dan teamwork, utamanya di era digitalisasi saat ini. Ia berharap para sarjana baru ini bisa terus melatih dan mengasah tiga faktor utama tadi. Dengan begitu, skill mereka bisa tumbuh dan akhrinya bisa menjadi petarung yang hebat di dunia kerja. Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. mengingatkan jika tantangan nyata ketika lulus akan semakin banyak. Maka, para wisudawan tidak boleh hanya diam dan puas dengan bekal yang ada, melainkan harus berubah sesuai kebutuhan zaman sehingga bisa bertahan. Lebih lanjut, disampaikan Muhadjir, berdasarkan dara 2020 hingga 2021 ada sejumlah 146 juta angkatan kerja. Tujuh juta di antaranya belum bekerja, sehingga persaingan untuk mendapatkan posiis strategis akan semakin sulit. “Namun, karena anda lahir dari rahim UMM maka saudara harus bisa berada di depan untuk bisa mnejadi yang terdepan. Tidak hanya untuk bekerja, tapi juga bisa menjadi wirausahawan dan entrepreneur. Bukan hanya mencari, tapi membuat lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat luas. Apalagi saudara sudah memiliki bekal untuk bermain data. Saya doakan suadara bisa menjadi orang yang sukses dan tidak melupakan almamater,” pungkasnya. (ros/wil)
Kaji Big Data, FISIP UMM Buka Kelas B-Sospol

Dalam menghadapi arus dan perkembangan zaman yang cepat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka kelas khusus Center Of Excellence (CoE). Kali ini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM menyelenggarakan kelas khusus Big Data School of Social Politics (B-Sospol). Diikuti oleh puluhan peserta, kelas B-Sospol ini dilangsungkan sejak Senin (27/6) lalu hingga hari ini. Direktur Pengembangan Program dan Riset B-Sospol Dr. Salahudin, S.IP, M.Si, MPA mengatakan bahwa tujuan dari kelas ini adalah untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Utamanya dalam menghadapi era digital serta mampu mewujudkan program UMM Pasti Lulus Tepat Waktu, Pasti Profesional (PASTI). “Hadirnya kelas ini juga berupaya untuk membantu dunia industri untuk mengembangkan organisasi berbasis big data dan Artificial Intelegent (AI). Kelas B-Sospol ini akan terus berlanjut dengan memberikan inovasi-inovasi sehingga mampu mencetak profesional. Dengan begitu mereka bisa menjadi rujukan dunia industri sebagai pusat pengembangan SDM unggul dalam bidang data science,” ungkap Wakil Dekan I FISIP UMM itu. Hal serupa juga disampaikan oleh Dekan FISIP UMM, Prof. Dr. Muslimin, M.Si. Menurutnya kelas-kelas CoE yang telah disediakan memang ditujukan bagi para mahasiswa maupun praktisi. Salah satunya kelas B-Sospol yang berusaha memberikan pemahaman lebih dalam tentang big data dan AI. Ia juga menyinggung tentang paradigma dan literasi baru yang tidak lagi berbasis sekadar menghitung, membaca dan menulis. Melainkan juga mengharuskan manusia untuk memahami literasi data serta menganalisisnya. “Data tentu akan berkaitan erat dengan teknologi. Maka kita harus segera berbenah dan belajar teknologi dengan lebih baik. Bukan hanya perangkat kerasnya saja, tapi juga cara menggunakan dan memaksimalkannya,” jelasnya melanjutkan. Muslimin, sapaan akrabnya, tidak lupa mengingatkan bahwa skill lain yang perlu dimiliki adalah pikiran yang kritis serta kreatif. Tanpa keduanya teknologi yang maju, tidak kan ada artinya. Begitupun dengan kolaborasi, inovasi, dan komunikasi dengan baik. Sejalan dengan hal itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menilai bahwa saat ini sudah banyak pekerjaan-pekerjaan baru yang bermunculan. Satu di antaranya adalah data science. Tidak hanya di dunia industri, kemampuan big data analysis juga dibutuhkan oleh bidang akademik di sekolah maupun kampus. Maka menurutnya, kelas ini menjadi hal yang penting untuk diikuti agar bisa memahami big data dengan baik. “Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari mahasiswa sospol saja, tapi ada juga mereka yang basicnya di luar itu bahkan juga dari luar UMM,” tambahnya. (zak/wil)
FEB UMM Launching Tiga CoE Baru

Melihat kebutuhan pasar akan sektor usaha mikro kecil dan menengah serta pariwisata, Fakultas Ekonomi dan Bisnis kembali luncurkan tiga kelas profesional Center of Excellence (CoE). Kelas-kelas tersebut ialah kelas Tourism and Hospitality, Supply Chain Management dan Acconting For SME’s. Adapun launching tiga kelas tersebut dilaksanakan pada Sabtu (25/6) lalu. Dekan FEB UMM Dr. Idah Zuhroh, M.M menyampaikan bahwa kelas manajemen untuk pariwisata dan keramahtamahan diluncurkan berdasarkan kondisi pariwisata yang sudah mulai membaik. Dimana dua tahun sebelumnya, situasi yang ada tidak memungkinkan bagi sektor ini untuk berkembang karena pandemi. Di samping itu, kebutuhan tersier dan sekunder masyarakat untuk berwisata juga menjadi kebutuhan yang diperlukan saat ini. “Ekowisata akan menumbuhkan distribusi pertumbuhan yang cepat menyebar karena banyak sektor yang berkaitan. Pun denagn rantai pasok yang tentu dibutuhkan,” jelasnya. Idah, sapaan akrabnya kembali menjelaskan rantai pasok dinilai mampu mengendalikan arus barang, arus sumber daya dan informasi. Sehingga nantinya, hasil produk dari rantai pasok tersebut dapat membangun efisiensi ekonomi yang sangat kuat. Hal itu juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi serta pemerataan ekonomi masyarakat. “Prospek luar biasa dari UMKM harus dimaksimalkan. Saya yakin bisa berhasil asal UMKM ini siap dengan standar pelaporan yang sudah ada. Oleh karenanya, kita tidak hanya perlu bekerja sama dengan pihak pendidikan konvensional, tapi juga harus bekerja sama langsung dengan industri,” tanbahnya Idah. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Ia menilai bahwa perguruan tinggi harus adaptif terhadap perkembangan zaman. Tidak hanya berkutat dengan sistem pendidikan yang ada, tapi juga harus memunculkan inovasi-inovasi solutif yang baik. Adanya kelas CoE UMM menjadi upaya universitas dalam menyiapkan tenaga profesional yang ahli di bidang tertentu. Mahasiswa juga bebeas memilih pilihan sesuai dengan passion, minat dan bakatnya. Dengan begitu, mahasiswa bisa lulus dengan percaya diri, mandiri, dan memiliki dua kompetensi utama. Yaitu kompetensi akademik dan kompetensi leadership dari CoE yang sudah disiapkan. Adapun peluncuran kelas ini ditandai dengan penandatanganan MoU dan kerjasama dengan sederet industri terkait. Di antaranya Novotel Samator Surabaya, Rayz Hotel UMM, Grand Mercure Mirama Hotel Surabaya, PT. Berkat Ganda Sentosa, PT. Barata Indonesia dan PT. Aneka Jasa Grahadika. Sementara itu, Ketua PHRI Kota Malang,l Agoes Basuki, SH., SST. Par yang turut hadir menyampaikan bahwa asosiasi perhimpunan hotel dan restoran memiliki visi serta misi yakni membantu pembangunan ekonomi nasional. Salah satu caranya yakni dengan menggaet dunia akademik yang nantinya dapat melahirkan sumber daya manusia mumpuni. Selain itu juga menghasilkan produk usaha yang baik. Adalun prosuk usaha yang sedang dikembangkan saat ini adalah produk halal. Ia menilai, banyak hal yang bisa dieksplor dan didiskusikan untuk memajukan masing-masing pihak. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah Halal Center UMM yang bisa menjadi mediator dan pembimbing untuk usahawan mendapat sertifikat halal. “Saya juga yakin inovasi CoE bisa memberikan hasil yang baik. Tidak hanya untuk pihak-pihak terkait, tapi lebih juga untuk masyarakat,” tegas Agoes. (zak/wil)
BEM UMM Raih Pendanaan Program Ditjen Diktiristek

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM) berhasil mendapatkan pendanaan program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PKK Ormawa) 2022 pada pertengahan Juni lalu. Mereka sukses meraihnya melalui Program Kerja Bina Desa yang diusung oleh Kementerian Sosial BEM UMM. Adapun PKK Ormawa ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa peduli mahasiswa. Utamanya dalam berkontribusi bagi masyarakat desa. Harissudin selaku Presiden Mahasiswa BEM UMM menyampaikan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan beragam hal dari jauh jauh hari. Mereka bekerja keras dan menyusun proposal yang bertujuan untuk mengembangkan potensi desa berbasis potensi alam. Khususnya di Desa Girupurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. “Pada program bina desa ini, kami memiliki fokus di tiga sektor. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi kreatif serta bidang sosial lingkungan,” ungkapnya. Haris, sapapan akrabnya menerangkan bahwa ada salah satu program yang fokus pada mengedukasi para siswa terkait gerakan anti narkoba. Kemudian adapula pengembangan ekonomi kreatif yang bekerja sama dengan ibu-ibu PKK. Begitupun di sektor sosial dengan penanaman pohon, pembuatan kawasan rumah lestari dan rumah herbal. “Kami juga akan mengembangkan UMKM dengan menggunakan pendekatan digitalisasi dan modernisasi. Memberikan materi dan pembinaan serta evaluasi yang sudah dilaksanakan,” jelasnya. Terkait program unggulan, pihaknya ingin memaksimalkan alam lokal. Salah satunya yakni meningkatkan hasil pertanian di Desa Giripurno. Mereka ingin mengubah sayur-sayuran menjadi produk eco-enzyme yang bisa dijadikan sabun cuci piring. “Saat supply tinggi dan demamd rendah, tentu harga sayur akan anjlok. Maka untuk mengatainya, kami mengubah value sayur biasa menjadi produk eco-enzyme. Proses pemasaran juga senantiasa kami dampingi, utamanya terkait marketing dan branding,”ujarnya. Ia berharap dengan lolosnya pendanaan BEM UMM di PKK Ormawa, dapat menjadi pemantik mahasiswa ataupun organisasi lain untuk bergerak lebih maju. Selain itu juga bisa menjalankan tugas pokok utama sebagai mahasiswa yakni menjadi agent of change. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT sangat mengapresiasi raihan BEM UMM yang berhasil lolos pendanaan PKK Ormawa. Ia mengatakan jika UMM senantiasa mempersiapkan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam berkontribusi di masyarakat. “Harapan kami tentu ingin agar para aktivis mahasiswa dapat mengakar dan mau turun membantu sesama. Capaian ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa-mahasiswa kita selalu bersemangat dalam menebarkan manfaat. Saya ucapkan selamat dan sukses untuk menjalankan program yang dicanangkan,” pungkasnya. (ros/wil)