Ini Dia Beragam Karya Inovasi Mahasiswa UMM Bidang Peternakan

Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kuliah pakar bertajuk “Inovasi Nutrisi dan Pakan Ternak untuk Peternakan Berkelanjutan”. Menariknya, acara yang dilaksanakan pada 26 Juli ini juga memamerkan berbagai produk inovasi, serta menjadi bagian dari mata kuliah praktikum Pakan dan Teknologi Pakan. Inovasi produk pakan itu diproduksi langsung oleh mahasiswa Peternakan UMM. Produk yang dipromosikan bervariatif seperti MBP (Milkbooster ProMix), sebuah pakan berkualitas yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi perah secara lengkap. Di dalamnya mengandung energi, protein, serat, vitamin, dan mineral yang cocok diberikan saat laktasi goalsnya meningkatkan volume dan susu dengan kualitas tinggi. Kemudian ada juga Mafeed (Maggot Feed Layer) pakan alternatif ternak untuk unggas fase layer, Havpaya Feed peningkat nafsu makan domba atau kabing dari tepung daun papaya dan biji haver, serta masih banyak lagi. Adapun agenda tahunan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dan menghadirkan dua narasumber ahli yang terjun langsung dalam industri pakan ternak. Mereka adalah Ir. Yahya M. Sofwan, S,Pt, MP, IPM selaku Feed and Nutrition Consultant dan Samsul Hadi Santoso yang merupakan General Manager Koperasi Agro Niaga (KAN). Dalam materinya, Yahya menyoroti pentingnya efisiensi dan inovasi dalam formulasi pakan ayam petelur. Ia menjelaskan berbagai jenis pakan seperti mash, crumble, dan kibble, serta pengaruh besar sumber cereal seperti sorgun, gandum, hingga jagung terhadap nilai nutrisi. Menurutnya, pendekatan phase feeding dapat mengoptimalkan performa ayam petelur dengan tetap memperhatikan efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan. “Industri pakan saat ini mengalami disrupsi. Untuk itu, teknologi evaluasi pakan yang cepat dan tepat menjadi kunci untuk menekan biaya dan tetap menjaga kualitas,” jelas Yahya melanjutkan. Sementara itu, Samsul Hadi membahas pentingnya formulasi pakan sapi perah secara presisi. Pemenuhan kebutuhan nutrisi harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti bobot bada, status reproduksi, performa tubuh, ladar lemak susu, dan tingkat produksi susu pada sapi perah. Karena menurutnya, efisiensi nutrisi dimuali dari perhitungan yang matang. Dengan begitu, biaya produksi bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas pakan dan produk yang dihasilkan. Di sisi lain, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU selaku dosen pengampu menyebut bahwa kuliah pakar ini tidak hanya memberikan wawasan teoritis saja. Akan tetapi juga menguatkan pemahaman praktis mahasiswa dalam menghadapi tantangan nyata di sektor peternakan yang kian berkembang. Ini merupakan output positif setelah tujuh tahun Prodi Peternakan UMM menerapkan pendekatan pembelajaran menjadi berbasis proyek. Momentum ini menjadi yang selalu ditunggu mahasiswa dan dosen. “Dari sini lah wawasan mereka terhadap sains dan teknologi, team work, serta skill entrepreneur dimainkan. Produk-produk yang dihasilkan lebih dari ekspektasi kami, sangat inovatif, ramah lingkungan, dan bahkan menjadi kontributor terbesar inovasi PKM yang beberapa diantaranya lolos ke tingkat nasional,” ujar Indah. (din/wil)
Mahasiswa PPG UMM Ajari Warga Sulap Sayur Jadi Makanan Siap Saji

Hal menarik kembali datang dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini mahasiswa rogram Profesi Guru (PPG), Program Studi Bahasa Indonesia UMM latih warga mengubah sayur menjadi makanan bergizi dan siap saji, serta pelatihan digital marketing untuk mendukung pemasaran produk lokal. Agenda yang dilaksanakan Mei di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini merupakan bagian dari implementasi proyek kepemimpinan. Turut hadir puluhan peserta yang terdiri dari pemuda karang taruna dan masyarakat petani sayur desa Giripurno. Mereka terlihat antusias dengan pelatihan yang dibalut dengan tema “Pelatihan Mengolah Sayur Menjadi Makanan Bergizi dan Siap Saji”. Pelatihan pertama difokuskan pada cara mengolah berbagai jenis sayur menjadi nugget dan sosis sehat tanpa menggunakan bahan pengawet. Salah satu pemateri, Karin, memaparkan bahwa teknik pengolahan makanan berbasis sayur sangat potensial untuk dikembangkan sebagai alternatif konsumsi harian yang sehat sekaligus produk bernilai jual tinggi. “Kami ingin warga tidak hanya bisa memanfaatkan hasil tani mereka, tapi juga mampu mengubahnya menjadi produk yang menarik dan sehat, terutama untuk anak-anak. Selain itu, juga sayur yang semula harganya murah dapat menjadi produk yang bernilai jual lebih tinggi,” ujarnya. Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan sesi digital marketing, yang memperkenalkan cara memasarkan produk secara efektif di era digital. Peserta diajarkan memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, WhatsApp Business serta diperkenalkan pada konsep branding, foto produk menarik, dan komunikasi dengan konsumen online. Dosen pendamping Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, pelatihan tersebut menjadi upaya atas pengolahan sayur yang kerap kali kurang maksimal pemanfaatannya. Padahal ada banyak daerah yang masih memiliki banyak sayur karena tidak semua laku di pasaran. Ini juga cara UMM untuk membantu warga meningkatkan nilai jual sayur yakni dengan mengolahnya menjadi produk yang menarik. “Jadi, kegiatan ini juga melatih mahasiswa PPG UMM melalui projek yang dijalankan untuk bisa memberikan dampak bagi masyarakat. Selain itu juga membantu meningkatkan perekonomian warga sekitar dan menambah nilai jual dari potensi hasil pertanian desa,” tegasnya menambahakan. Di sisi lain, peserta pelatihan, Fadil, menyampaikan bahwa dirinya senang sekali mengikuti pelatihan ini karena banyak insight baru yang ia dapatkan, baik dari sisi pengolahan produk maupun strategi pemasarannya. “Saya jadi tahu bagaimana cara membuat nugget dari sayur yang ternyata mudah dan sehat. Pelatihan ini benar-benar membuka wawasan saya,” ujarnya. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal secara kreatif dan berkelanjutan. Sebagai bentuk tindak lanjut, mahasiswa PPG UMM juga akan membentuk grup diskusi daring yang dapat digunakan oleh warga untuk berkonsultasi, berbagi ide usaha, serta mendapatkan pendampingan teknis lanjutan dari para mahasiswa. (*/wil)
Mahasiswa UMM Ajari Warga Ubah Limbah Maggot Jadi Produk Pakan

Hal unik dan bermanfaat kembali dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UMM langsungkan pendampingan pengolahan maggot basah dan mengubahnya menjadi produk yang lebih ekonomis, yakni pakan hewan seperi ikan maupun unggas. Adapun mereka mendampingi para warga di Kampung Semar, Arjosari, Kota Malang sejak pertengahan Juni lalu. Salah satu mahasiswa, Bhilqis Khumairoh menjelaskan, pelatihan ini diharapkan bisa membuat warga setempat lebih mandiri secara eknomi dan bisa menjadi contoh pengelolaan limbah organik berbasis komunitas yang produktif. Adapun proses pendampingan ini merupakan implementasi nyata dari mata kuliah politik lingkungan. Ini menjadi cara UMM untuk tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tapi juga memberikan pengalaman praktis menyelesaikan masalah masyarakat. Lebih lanjut, Bhilqis mengatakan bahwa maggot merupakan sumber protein alternatif yang ramah lingkungan. Bahkan memiliki potensi ekonomi tinggi jika bisa diolah dengan baik dan benar. Sayangnya, tidak banyak masyarakat yang mengetahui proses tersebut, padahala ada banyak potensi. “Maka dari itu, saya dan tim ingin memberikan pelatihan teknis tentang proses pengeringan magot yang efektif, higienis, dan efisien. Bahkan memiliki nilai ekonomi jika dikomersilkan. Kami juga ingin menggabungkan teori yang kami pelajari di kampus dengan aksi nyata yang bermanfaat langsung bagi masyarakat,” katanya. Bhilqis tidak sendiri, ia ditemani Naia Sybilla Aura, Syella Vanessa Putri, Hana Indah Wahyuni, Devi Nazilatul Fitria, Nur Sakinah Salsabilah, Asfira Chisara Hasan, dan Ayu Carika Pangest. Mereka menargetkan program ini bisa dikembangkan ke daerah-daerah lain. Namun dengan menyesuaikan potensi yang dimiliki masing-masing desa. (*/wil)
Begini Cara Pendidikan Agama Islam UMM Ajarkan Hospitality

Layanan prima dan sikap hospitality menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. Hal itu ditegaskan Dosen Bahasa Inggris sekaligus General Manager Hotel Kapal dan My Dormy Hostel, Teguh Hadi Saputro, MA. dalam Pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) FAI Universitas Muhammadiyah Malang, akhir Juni lalu. Ini sekaligus memperkuat skill mengajar mahasiswa sebelum terjun untuk melakukan praktek mengajar. Adapun para mahasiswa akan melakukan praktek mulai Juli hingga akhir September di berbagai lokasi. Sebanyak 46 mahasiswa akan disebar ke lembaga pendidikan, baik di level SMP maupun SMA di berbagai kota dan kabupaten. Lebih lanjut, Teguh mengatakan bahwa skill tersebut bisa membentuk citra sekolah dan kepribadian tenaga kependidikan. Menurutnya, sekolah sejatinya juga merupakan lingkungan jasa. “Kita melayani siswa, guru, staf administrasi, hingga orang tua. Setiap tindakan kita berkontribusi terhadap citra pribadi dan reputasi institusi,” tegasnya Ia juga menggarisbawahi bahwa pelayanan yang baik berdampak langsung pada citra sekolah dan branding pribadi guru maupun mahasiswa praktek sebagai pendidik. Hospitality juga menjadi poin penting yang harus dibangun di sekolah yang tidak bisa dilepaskan dari sikap personal individu. Ketika seseorang memiliki attitude value yang positif, maka personal branding akan terbangun dengan sendirinya. Dalam konteks pendidikan, hospitality bisa diwujudkan melalui pelayanan ramah dan profesional dari pimpinan hingga tenaga kependidikan di sekolah,” katanya. Para mahasiswa juga diajak untuk memahami lima pilar utama layanan prima, Mulai dari Penampilan Profesional, Komunikasi Efektif, Sikap Positif, Konsistensi dan Keandalan, serta Antisipasi dan Empati. Menurut Teguh, pelayanan yang baik bukan hanya urusan teknis, tetapi mencerminkan hati dan sikap. Hospitality itu bukan sekadar tugas, tapi sikap. Tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga memberikan kepedulian. Ia juga sempat mengajak maahsiswa untuk melakukan simulasi agar lebih siap. Sementara itu, Dekan FAI UMM Prof. Khozin, M.Si. menegaskan pentingnya membangun karakter dan kompetensi mahasiswa PAI sebagai calon pendidik yang paripurna. Pendidikan bukan hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi mencakup ranah formal, nonformal, dan informal. “Mahasiswa PAI harus dipersiapkan sejak dini agar mampu berperan sebagai pendidik di berbagai lini kehidupan—di tengah keluarga, di sekolah atau madrasah, dan di masyarakat luas,” ujarnya. Seorang guru PAI juga harus memiliki penguasaan dasar yang kuat terhadap Bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebutkan bahwa setidaknya mahasiswa harus memahami kitab Tafsir Jalalain untuk memperkuat kemampuan membaca dan memahami Alquran, serta kitab Bulughul Maram sebagai dasar ilmu fikih. Tiga profil utama yang harus dimiliki mahasiswa PAI adalah memahami ajaran Islam, mengajarkannya kepada orang lain, dan menyebarkannya melalui dakwah. “Mahasiswa PAI juga harus mampu meneladani dan mengkloning tokoh-tokoh pendakwah Islam yang mumpuni dan memberi manfaat nyata bagi umat. Guru agama masa kini tidak cukup hanya bisa mengajar. Mereka harus mampu menulis, berceramah, dan memiliki wawasan yang luas. Untuk itu, ia menggarisbawahi pentingnya menguasai Bahasa Arab, Bahasa Inggris, serta semangat dan karakter khas Hizbul Wathan (HW) sebagai nilai tambah yang harus dimiliki,” pungkasnya yang juga Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal PWM Jawa Timur. (*/wil)
Mahasiswa UMM Jadi Perwakilan Jatim Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen lahirkan generasi emas penerus bangsa. Termasuk sukses mencetak mahasiswa berprestasi hingga ke tingkat nasional. Adalah Abi Mufid Octavio, mahasiswa Teknik Mesin UMM yang berhasil meraih Juara 2 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Program Sarjana Tingkat Wilayah LLDIKTI 7 2025 di Surabaya, Juli ini. Berkat raihan juara tersebut, mengantarkan UMM maju ke Pilmapres Tingkat Nasional 2025. Mewakili UMM, Mufid ikut berpartisipasi bersama 61 perguruan tinggi negeri dan swasta Wilayah LLDIKTI 7 dan melalui seleksi yang ketat untuk bisa masuk final bersama sembilan kampus lainya. Antara lain bersama Univeristas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, dan lain-lain. Di babak final ini, terdapat tiga tahapan seleksi dengan indikator penilaian yaitu, kemampuan berbahasa asing (Inggris), berpikir kritis, capaian unggulan, hingga ide dan inovasi yang dihasilkan peserta. Mufid memang dikenal dengan mahasiswa yang penuh prestasi. Berbagai capaian menghiasi masa-masanya sebagai mahasiswa UMM. Diantaranya yaitu, Silver Medal AISEEF 2024, Silver Medal YNSF 2024, Pendanaan PKM-KC 2024, Juara 1 Program Kreativisa Mahasiswa Muhammadiyah 2024, Juara 2 PIMTANAS 2024, dan belasan lainnya. Tak hanya berprestasi di berbagai perlombaan dan kompetisi, di masa mudanya Mufid sudah menerbitkan dua Jurnal terindeks Scoups sebagai First Author. Tak hanya itu, di luar perkuliahan, Ia juga aktif sebagai Ketua LSO Engineering Design, Asisten Laboratorium Muhammadiyah Applied Technologi Center (MATC), serta sedang melaksanakan internship di PT Infimech Harmoni Teknologi. Mufid juga siap melaju ke tingkat nasional, Mufid dan tim internal kampus UMM sudah melakukan berbagai persiapan, seperti evaluasi, perbaikan, pembenahan, dan improvisasi. Tak hanya itu, tiga tahap seleksi nasional harus dilalui sebagai syarat yaitu memproduksi dan mengunggah video mengkritisi isu terkini seperti SDGs dengan full bahasa inggris. Kemudian juga melampirkan 10 capaian unggulan serta terakhir melampirkan proposal gagasan kreatif. Setiap capaian prestasi memiliki rintangan tersendiri. Bagi Mufid, perjalanan kompetisi adalah amanah sekaligus tanggung jawab besar dengan membawa nama UMM di punggungnya. Sekaligus juga menjadi tantangan untuk menjaga integritas, disiplin, dan menjaga etika akademik, sembari bersiap menghadapi perbedaan ketika seleksi. Pengalaman emas ini juga mengantarkannya berjumpa dan berinteraksi dengan mahasiswa hebat dari kampus yang berbeda lainnya. Ajang ini juga menjadi ruang untuk lebih menghormati waktu dan menghargai perbedaan. “Seorang ‘Leader’ sejatinya harus terbuka, tidak egois, dan mampu merangkul semua perbedaan,” ujar mahasiswa asal Malang tersebut. Lebih lanjut, Mufid merasa sangat senang dan bersyukur bisa mewakili Kampus Putih di ajang kompetisi bergengsi yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Menurutnya, pencapaian ini adalah milik bersama antara dirinya, kampus, dan seluruh mahasiswa UMM. Bukan miliknya seorang diri. Terakhir, Ia berharap teman-teman mahasiswa terus berani mencoba dan berbagi prestasi positif yang bermanfaat luas. (din/wil)
Prodi Perikanan UMM Raih Akreditasi Internasional

Kini, rekognisi nasional harus diperkuat dengan internasional. Hal itu juga yang mendorong Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meriah akreditas internasional. Terbaru, mereka sukses menyandang akreditasi internasional dari ASIIN (The Accreditation Agency for Study Programmes in Engineering, Informatics, Natural Sciences and Mathematics). Akreditasi ini akan berlaku hingga 2029 mendatang. Terkiat raihan ini, Kaprodi Akuakultur-Perikanan UMM, Dr. Hany Handajani, S.Pi, M.Si, menjelaskan, ASIIN tersebut merupakan langkah sukses prodi Akuakultur yang sebelumnya hanya mendapatkan akreditasi ASIIN selama satu tahun. Akreditasi ini sebagai bukti atas kualitas pendidikan dan pengajaran yang dimiliki prodi ini. “Proses akreditasi ASIIN dilakukan melalui evaluasi ketat, mencakup berbagai aspek seperti kurikulum, fasilitas, kualitas dosen, serta keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan akademik dan non-akademik. Keputusan ini menunjukkan prodi Akuakultur UMM memenuhi standar internasional dalam memberikan pendidikan berkualitas dan relevan dengan perkembangan industri akuakultur global,” katanya. Hany menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian ini. Kepercayaan yang diberikan ASIIN adalah hasil kerja keras bersama antara dosen, mahasiswa, dan seluruh pihak yang terlibat di dalamnya. Harapannya akreditasi ini dapat semakin memperkuat posisi Program Studi Akuakultur di kancah pendidikan tinggi internasional khususnya bidang akuakultur yang terus berkembang pesat. Akreditasi ini juga menjadi komitmen Akuakultur UMM untuk semakin siap menghadapi tantangan global, serta mempersiapkan lulusan yang kompeten dan siap bekerja di industri akuakultur nasional maupun internasional. Menariknya, akreditasi ASIIN juga membuka peluang kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan industri akuakultur di luar negeri. Hany mengungkapkan sukses akreditasi ASIIN menjadi pencapaian membanggakan bagi UMM, mengingat perkembangan yang signifikan dalam dunia pendidikan tinggi yang semakin menuntut standar internasional. Prodi Akuakultur semakin dipercaya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, dengan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri akuakultur modern. “Apalagi dengan adanya kelas-kelas unggulan yang kita punya, termasuk kelas unggulan udang. Ini membuat mahasiswa dan alumni kami bisa segera bekerja, bahkan sebelum diwisuda,” katanya. (*/wil)
RBC UMM-Kalis Mardiasih Beri Cara Perempuan Jadi Penulis yang Produktif

RBC Institute Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama penulis dan kolumnis isu gender Kalis Mardiasih kembali menghadirkan ruang belajar yang hangat, reflektif, dan penuh makna melalui agenda bertajuk Kelas Menulis Perempuan, 29 Juli lalu. Diselenggarakan di kantor RBC Institute, Kota Malang, kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperluas akses literasi kritis, khususnya bagi perempuan. Kelas yang berlangsung pada Selasa sore ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang: karyawan, mahasiswa, peneliti, aktivis komunitas, hingga perempuan muda yang baru mulai menulis. Dengan pendekatan pengalaman langsung dan diskusi terbuka, sesi ini menjadi wadah aman untuk membicarakan keresahan sehari-hari yang seringkali sulit terungkap di ruang publik. “Menjadi perempuan di hari ini tidak mudah. Kami percaya, menulis bisa menjadi cara menyelamatkan diri sekaligus menyuarakan yang tak terdengar,” ungkap Kalis Mardiasih dalam kelasnya. Peserta diajak mengeksplorasi cara menemukan ide dari keresahan personal, merangkai logika dan emosi dalam tulisan, serta memahami dasar-dasar personal branding secara tipis-tipis namun strategis. Kolaborasi ini disambut antusias oleh RBC Institute sebagai bagian dari gerakan cegah, lawan, rangkul. Direktur Eksekutif RBC Institute, Subhan Setowara, menyampaikan bahwa pihaknya percaya literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tapi juga tentang keberanian menyuarakan pengalaman. “Kolaborasi dengan Kalis adalah upaya bersama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan agar bisa menulis dan mencatat hidupnya dengan jujur dan berani,” katanya. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari program yang RBC Institute gagas untuk mempertemukan pemikiran progresif dengan komunitas akar rumput. RBC Institute yakin, tulisan yang lahir dari pengalaman perempuan mampu membongkar ketimpangan dan memperluas ruang dialog sosial. Peserta tidak hanya diajak berani menulis, tetapi juga diajak saling mendukung ekspresi melalui berbagai platform. Proses ini membuka ruang empati antarperempuan, di mana masing-masing bisa merasakan bahwa pengalaman personalnya ternyata tidak tunggal. Beberapa peserta mengaku baru pertama kali merasakan bahwa keresahan mereka penting dan layak dituliskan. Sesi diakhiri dengan tanya jawab dan berbagi pengalaman keperempuanan. Bagi banyak peserta, menulis di kelas ini bukan hanya tentang keterampilan teknis, tapi tentang memaknai ulang pengalaman hidup sehari-hari. Dengan kapasitas terbatas dan suasana intim, kelas ini bukan hanya ruang belajar, tetapi juga ruang penyembuhan, penguatan, dan keberanian. RBC Institute berharap, gerakan seperti ini bisa menjalar lebih luas ke kota-kota lain, membuka lebih banyak pintu bagi perempuan untuk mencatat, merekam, dan mengartikulasikan hidupnya. (*/wil)
Seru, Hari Pertama Sekolah bersama Mobil Terbang UMM

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen awal menuju hari-hari pendidikan di sekolah. Termasuk di SMA Muhammadiyah 3 Gresik pada 14-16 Juli ini. Bahkan MPLS tersebut dimeriahkan dengan adanya Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Terbang) yang berisi ratusan buku. Puluhan siswa bahkan bersemengat untuk turut serta dalam MPLS sekaligus Mobil terbang milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fajar Dalam rangka memberikan pemahaman etika dan budaya sekolah kepada siswa baru, SMA Muhammadiyah 3 Gresik membuat rangkaian acara yang diharapkan mampu menjadi bekal bagi siswanya mengarui pendidikan di sekolah muhamadiyah, khusunya pengenalan hal-hal mendasar tentang islam dan muhammadiyah. Adapun rangkaian acara dimulai dengan upacara pembukaan, materi, games, diskusi, demo ekstra kulikuler dan di tutup dengan outbound yang berkolaborasi dengan mobil terbang RBC Abdul Malik Fadjar. Di hari terakhir pelaksanaan MPLS, mobil terbang milik RBC abdul malik fadjar berhasil menarik banyak perhatian siswa baru. Mobil terbang di simpan di sudut lapangan yang teduh dan sejuk berisi berbagai macam buku bacaan. Bahkan ada sederet games yang didampingi mahasiswa UMM serta menjadi penutup MPLS yang menarik. Hadirnya Mobil Terbang UMM diapresiasi oleh Rika selaku kepala sekolah SMA Muhammdiyah 3 Gresik. Mobil ini sukses membuat siswa baru aktif mengikuti rangkaian acara sampai akhir. “Terimakasih kepada UMM yang selalu memberikan perhatian kepada kami lewat kegiatan positif untuk anak-anak. Termasuk mobil terbang yang menyediakan berbagai buku, sehingga anak-anak bisa bermain sambil belajar,” katanya. Kehadiran UMM dan RBC dalam rangkaian acara ini juga membawa harapan besar pada pendidikan indonesia, khususnya di berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah. UMM terus berkomitmen dalam memperjuangan pendidikan lewat membaca dan berkreasi melalui games interaktif yang membangun kerjasama antar siswa. (rin/wil)
Meski Sering Terjatuh saat Berlatih, Mahasiswa UMM Menangi Cabor Arung Jeram Porprov

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025. Ajang bergengsi ini diselenggarakan pada awal Juli lalu di Kasembon Rafting, Kabupaten Malang. Zahra Rizki Faradiba (Faradiba) mahasiswa Program Studi Informatika UMM berhasil memperoleh medali emas dalam kategori R6 Down River Race Putri dan medali perak dalam kategori R4 Head to Head. Faradiba, sapaan akrabnya, tergabung dalam Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kota Batu dan berhasil menjadi juara pada ajang Porprov IX Jatim 2025 mengalahkan 14 peserta lain dari berbagai kota diantaranya FAJI Kab. Probolinggo, FAJI Kab. Sidoarjo, FAJI Kab. Surabaya dan FAJI Kota Malang. Ia mengungkapkan kota-kota tersebut menjadi pesaing terkuat dalam ajang kali ini karena memiliki tim yang solid, pengalaman yang matang dan jam terbang yang tinggi dalam olahraga Arung Jeram. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar karena adanya persiapan yang matang. Faradiba dan tim mampu mengalahkan peserta lain dalam ajang tersebut. “Ada beberapa lawan yang memang cukup sulit untuk dikalahkan. di antaranya dari FAJI Kabupaten Probolinggo, Faji Kota Surabaya, FAJI Kabupaten Sidoarjo, dan FAJI Kota Malang. merekapunya teknik yang solid, kekompakan tim yang kuat, dan pengalaman yang cukup matang di arung jeram. jadi setiap kali bertemu mereka di lintasan, itu selalu jadi tantangan tersendiri buat kami,” ujarnya dengan semangat. Ia mulai untuk menggeluti dunia Arung Jeram sejak 2023 yang diawali oleh kecintaanya dengan alam dan menyukai sebuah tantangan. Berdasarkan motivasi tersebutlah ia mulai menggeluti karena disamping dirinya yang menyukai tantangan, ia juga belajar tentang kerja sama tim, kepercayaan dan cara tetap tenang dalam situasi ekstrem sekalipun. “Saya menggeluti bidang ini sejak 2023. Awalnya tertarik karena tantangannya dan suka alam. Selain itu saya juga belajar tentang kerja sama, kepercayaan dan tenang dalam segala situasi bahkan dalam situasi yang ekstrem,” ujar Faradiba. Sebelum berhasil menjuarai ajang tersebut, perjalanan menuju Porprov tidaklah mudah. Faradiba mulai menjalani persiapan intensif sejak juli 2024 dan seringkali mengalami insiden saat latihan seperti jatuh dari atas perahu, perahu terbalik dan terjepit di beberapa jeram. Namun, dari hal itu dapat membangun kekompakan dan menjadi pelajaran untuk menguasai teknik-teknik tertentu sebagai persiapan dalam mengikuti perlombaan. Tidak hanya itu, dukungan penuh UMM menjadi salah satu pengaruh bagi dirinya dapat memenangkan perlombaan tersebut. Tak hanya mengandalkan kemampuan pribadi dan tim, dukungan dari pihak kampus Universitas Muhammadiyah Malang juga menjadi faktor penting di balik keberhasilan Faradiba. Menurutnya, UMM selalu memberikan ruang dan fasilitas bagi mahasiswa untuk berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam bidang minat dan bakat, termasuk olahraga. “Dukungan dari UMM sangat berpengaruh. Kampus tidak hanya memberi izin dan fleksibilitas dalam jadwal kuliah, tetapi juga memberi motivasi serta apresiasi atas prestasi yang kami capai. Ini membuktikan bahwa UMM memang peduli dan mendorong mahasiswanya untuk berprestasi di luar kelas. Ini sesuai dengan slogan UMM tidak ada prestasi yang tidak dihargai,” tambahnya. (bil/wil)
Baru Sebulan, Nola Alumnus UMM Ceritakan Pengalaman Berkarya di Jepang

Baru sebulan menetap di Jepang, Nolarita Bastian Kusmawati, alumni Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sudah merasakan langsung kerasnya budaya kerja di negeri matahari terbit. Lulusan Fakultas Pertanian UMM ini kini bekerja di perusahaan pengolahan makanan Jepang yang memproduksi berbagai jenis makanan khas seperti onigiri, soba, dan makanan fusion lainnya yang didistribusikan ke berbagai konbini (convenience store) lokal. Yang menarik, motivasi awal Nola, sapaan akrabnya, bukan semata karena cita-cita lama, melainkan dari ‘masa tunggu’ yang ia alami setelah beberapa wawancara kerja tak membuahkan hasil di Indonesia. Hal itu mendorongnya untuk mencoba pengalaman baru dan mendaftar di Jepang. Informasi mengenai lowongan kerja di Jepang ia peroleh dari seorang teman sesama alumni UMM yang mengirimkan informasi job fair. Di situlah ia mengenal salah satu lembaga penyalur tenaga kerja yang kini menaunginya di Jepang. Perusahaan tempat Nola bekerja saat ini bergerak di bidang pengolahan makanan, dan ia bertugas dalam proses produksi harian seperti setting mesin, pengecekan label, pengisian topping, hingga quality control kemasan makanan. Meski belum memiliki tanggung jawab besar, ia mengaku telah belajar banyak, terutama karena ritme kerja di Jepang jauh berbeda dengan di Indonesia. “Orang Jepang itu cepat banget kerjanya, dan semuanya terstruktur. Habis ini, lanjut ini, terus begitu. Minim banget percakapan juga, semuanya fokus kerja,” terangnya. Menurutnya, budaya not wasting time sangat terasa. Bahkan, keterlambatan semenit pun bisa membuat seseorang dipertanyakan keberadaannya. Namun, adaptasi bukan hal mudah. Perbedaan bahasa, budaya, hingga karakter orang membuatnya merasa cukup struggle, terutama karena bahasa Jepang yang digunakan sehari-hari sangat berbeda dengan yang diajarkan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Untuk mengatasi itu, ia rajin melakukan latihan listening mandiri dan menjadikan teman-teman dari negara lain sebagai support system di tengah keterasingan. Selain bekerja, Nola juga mencoba menikmati hidup di Jepang dengan berjalan-jalan ke tempat baru. Salah satu tempat favoritnya sejauh ini adalah AER Building di kota Sendai, sebuah gedung tinggi yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian. Yang tak kalah berkesan bagi Nola adalah ketika persepsinya terhadap karakter orang Jepang berubah. “Saya kira orang Jepang itu individualis dan cuek. Tapi waktu saya nggak sengaja menjatuhkan beberapa wadah, beberapa dari mereka justru datang dan bilang, ‘Tidak apa-apa, lain kali hati-hati ya’,” kisahnya. Selama bekerja, pelajaran terbesar baginya adalah tentang konsistensi dan kedisiplinan. Ia menyadari bahwa hasil tak datang dari bakat semata, tetapi dari upaya yang dilakukan terus-menerus. “Saya bersyukur bisa menjadi alumni UMM. Banyak sekali pelajaran, pengalaman, dan ilmu ayng bisa saya gunakan. Bahkan karir saya di sinipun juga karena UMM, tepatnya akrena alumni UMM yang memberikan informasi,” katanya. Ia menitipkan pesan inspiratif bagi juniornya di UMM yang memiliki mimpi serupa. Salah satunya adalah mencoba hal baru yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. “Karena kalau belum dicoba, kita tidak akan tahu hasilnya seperti apa,” katanya. (bil/wil)