MBKM dan OBE Bawa Prodi Pendidikan Biologi UMM Raih Akreditasi Unggul

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali tingkatkan kualitas Pendidikan lewat raihan akreditasi unggul prodi. Kabar gembira tersebut datang dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi. Adapun penetapan akreditasi unggul itu berlaku hingga Agustus 2026 mendatang. Ketua Prodi Pendidikan Biologi, Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si, menjelaskan bahwa ada sederet aspek yang dinilai oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dalam menentukan akreditasi unggul. Penilaian tersebut meliputi jumlah dosen tetap, kurikulum, penjaminan mutu, dan pelacakan kelulusan. “Alhamdulillahnya, kami telah memenuhi semua kriteria penilaian yang ditentukan oleh BAN-PT dengan baik. Misalnya saja jumlah dosen tetap yang telah memenuhi syarat. Lalu kami juga telah menerapkan kurikulum Outcome-Based Education (OBE) serta Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM). Selain itu, dosen dan mahasiswa juga banyak melakukan publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi nasional maupun internasional. Terakhir, sitasi dosen Pendidikan Biologi juga telah masuk dalam peringkat sepuluh besar pada pemeringkatan Alper Doger (AD) Scientific Index,” jelas doses asal Samarinda tersebut. Lebih lanjut, Eko sapaan akrabnya, mengatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas skill mahasiswa, Prodi Pendidikan Biologi juga membuka kelas unggulan bernama Center Of Excellence (CoE) Anggrek. Kelas unggulan pengembangan anggrek ini telah bekerja sama dengan berbagai Industri dan Dunia Kerja (IDUKA). Sebut saja Perhimpunan anggrek Indonesia daerah Jawa Timur dan DD Orchid Nursery. “Kelas unggulan ini dilaksanakan selama enam bulan dan dapat dikikuti oleh mahasiswa UMM maupun luar kampus. Pada periode ini, kami juga membuka kelas unggulan anggrek untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. Harapannya, kami bisa mencetak generasi cakap yang memiliki skill menarik,” ungkap dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) itu. Terkait raihan akreditasi unggul, Eko mengaku sangat bangga. Menurutnya, raihan ini dapat diperoleh berkat kerja keras semua elemen, tak hanya kampus tetapi mahasiswa dan juga alumni. Ke depan Prodi Pendidikan Biologi juga tengah menyiapkan kelas bilingual untuk mahasiswa asing dan juga meningkatkan jumlah penelitian, pengabdian serta publikasi di tingkat internasional. “Selain itu, kami juga sedang mempersiapkan diri untuk akreditasi internasional Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik (ASIIN). Harapannya, tak hanya di akui secara nasional, Prodi Pendidikan Biologi juga dapat meraih pengakuan internasional,” tandasnya mengakhiri. (Syi/Wil)
Mahasiswa UMM Sabet Juara 2 Lomba Hafiz Nasional

Kabar menggembirakan kembali datang dari Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Keperawatan, Ahmad Muhyiddin Ramadhani, berhasil menyabet juara dua dalam lomba Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) kategori Juz 30. Adapun acara itu menjadi salah satu rangkaian Millenial Islamic Fair (MIF) 2022 yang diadakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya, Palembang awal Mei lalu. Jauh sebelum perlombaan, Ahmad, sapaan akrabnya sudah menyiapkan sederet dokumen yang diperlukan. Begitupun dengan peningkatan kualitas dan kuantitas hafalannya. Jam muraja’ah juga Ahmad tambah agar hafalannya bisa lebih baik dan tidak mudah lupa. “Tidak lupa, saya juga mita doa restu dari orang tua karena saya percaya hal itu akan memudahkan dan melancarkan perjalanan lomba kali ini. Pun dengan meminta saran serta motivasi dari teman dan para dosen,” ungkap mahasiswa kelahiran Tapak Tuan, Aceh tersebut. Ahmad mengaku kontribusi UMM dalam kemenangannya cukup besar. Pihak kampus memberikan kemudahan dalam pengurusan berkas, memberi uang saku serta reward atas capaian yang para mahasiswa raih, dalam hal ini Ahmad. Kampus Putih juga memberikan sumbangsih dengan mendampingi Ahmad dalam penyempurnaan hafalan yang dimilikinya. Ia menilai bahwa Kampus Putih UMM memang selalu mendukung berbagai prestasi mahasiswa. Tidak hanya yang bersifat akademik tapi juga non-akademik. Bahkan sebelumnya, Ahmad juga sudah memenangkan dua kejuaaran lain selama menjadi mahasiswa Kampus Putih. “Yang pertama itu saya pernah meraih juara 1 MHQ Juz 30 FORISMA Fikes UMM 2019. Kemudian yang kedua, saya juga pernah mendapat juara 3 Tahfidz Al Qur’an Juz 26-30 Tingkat Nasional Avicenna Medical Competition 2020,” sambung Ahmad. Meski sanggup mengharumkan nama kampus, ia mengaku sedikit grogi karena banyak peserta yang ikut dan menjadi saingannya. Apalagi yang ikut tidak hanya dari Malang atau Jawa Timur saja, tapi berasal dari berbagai universitas seluruh Indonesia. “Alhamdulillah saya mengingat dan memegang teguh motivasi terbesar saya, yakni untuk membanggakan kedua orang tua saya. Saya berharap upaya saya dalam memuliakaan Alquran ini kelak bisa memngantarkan keduanya ke Surganya Allah SWT,” ungkapnya. Tak lupa, ia juga berpesan agar para mahasiswa lain untuk tidak takut bersaing di berbagai perlombaan. Jika memiliki bakat, ada baiknya untuk terus mengembangkannya hinga mahir dan mampu turut serta di perlmbaan. “Jangan takut kalah, saya bahkan sering kalah ketimbang menangnya. Nanti, akan ada saatnya teman-teman emrasakan hasil atas usaha yang sudah dilakukan selama ini,” pungkas Ahmad. (wil)
Prodi Ilmu Komunikasi UMM Lahirkan Generasi Cakap Komunikasi Digital Kreatif

Lulusan Komunikasi tidak cukup berbekal pengetahuan dan kemampuan komunikasi konvensional saja, tapi juga harus membekali diri dengan creative digital communication. Demikian topik yang mengemuka dalam Workshop Penguatan Karir Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 24-27 Mei lalu. Kegiatan yang didukung PLN Peduli ini mengangkat tema “Creative Communication Works in Digital Wave”. Tiga kelas dibuka dalam workshop tersebut, yakni Social Media Optimization, Digital Journalism for Social Media dan Videography for Social Media. “Saya menyambut baik workshop ini karena dunia komunikasi sudah sedemikian majunya. Semua bidang pekerjaan memerlukan komunikasi yang baik. Apalagi kita tahu bahwa komunikasi memerlukan kreativitas, critical thinking dan collaboration,” kata Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., saat membuka acara. Adapun workshop diikuti 150 mahasiswa yang setiap kelasnya diisi oleh 50 mahasiswa yang telah lulus mata kuliah teori dan sedang atau sudah mengikuti kelas praktikum. Meski pendaftaran hanya dibuka selama dua hari, peminat yang mendaftar jauh melebihi kapasitas. Materi diawali oleh CEO PT Trinusa Sosialoka Indonesia Miftah Faridh Oktofani. Ia menyampaikan general lecturer kepada seluruh peserta terkait etika dasar dan aturan maun komunikasi digital kreatif. Kemudian setelah kuliah umum, mereka dibagi menjadi tiga kelas yang sudah disiapkan. Pada kelas Social Media Optimization tampil sebagai instruktur adalah Rizka Alya Putri dan Muhammad Bahrul Ulum. Keduanya merupakan bagian dari Sosialoka Indonesia. Dua alumni Komunikasi UMM ini, menurut Miftah, merupakan tim inti Sosialoka yang paling diandalkan selain dua alumni Kampus Putih lain yang ada di perusahaan di bidang konsultan spesialis digital ini. Sedangkan dua kelas lainnya diampu oleh dosen tetap dan dosen luar biasa UMM. Kelas Digital Journalism for Social Media diampu mantan ketua AJI Malang dan wartawan Tempo, Eko Widianto, dan dosen Komunikasi UMM, Nasrullah. Sementara instruktur kelas Videography for Social Media adalah Kepala Divisi Cipta Visual Biro Komunikasi dan Informasi UMM, Rino Anugrawan dan dosen Komunikasi UMM, Novin Farid Styo Wibowo. Tak hanya kelas teori, workshop juga dilanjutkan dengan simulasi dan praktek. Laboratorium Komunikasi UMM sebagai backbone workshop ini merancang skema praktikum dengan instruktur pendamping masing-masing kelompok. “Kami ingin workshop ini melahirkan outcome skill yang dibuktikan dengan karya yang riil,” kata Kepala Laboratorium Komunikasi UMM, Widiya Yutanti. Dijelaskannya, tiga kelas yang dibuka merupakan trailer menjelang dibukanya kelas Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC) milik Komunikasi UMM. Dalam waktu dekat kelas-kelas sekolah CoE ini akan ditawarkan kepada mahasiswa dan publik luas. Saat ini mitra industri yang telah digandeng Komunikasi UMM adalah PT Trinusa Sosialoka Indonesia dan Asosiasi Pemerintah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo). Adapun Sosialoka Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang agensi digital specialist. Sedangkan Aspeksindo memiliki anggota lebih dari 150 kabupaten dan kota di Indonesia yang siap menjadi partner pengguna jasa dan lulusan CoE SCDC. “Dalam waktu dekat beberapa mitra strategis kami juga akan segera teken MoU. Antara lain yang bergerak di bidang digitalisasi pelayanan publik, production house, stasiun televisi dan pengembang super aplikasi,” tambah Nasrullah. Untuk merangsang kreativitas peserta, pihak prodi juga memberikan insentif bagi peserta dengan karya terbaik. “Memberikan apresiasi pada mahasiswa yang berkreasi telah menjadi tradisi di Komunikasi UMM. Untuk itu kepada karya terbaik pada masing-masing kelas akan diberikan voucher beasiswa yang dapat digunakan untuk melanjutkan ke kelas CoE SDCC nantinya,” pungkas Nasrullah. (Syi/Wil) Penulis:Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Legacy Rayz Hotel UMM Sajikan Menu Baru, Mi Kluntung hingga Nasi Ulam

Manjakan lidah pengunjung dengan makanan authentic Indonesian, Hotel Rayz Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadirkan menu-menu khas daerah. Menu baru ini dikenalkan oleh The Legacy Cafe saat acara pre-launching, Rabu (25/05) lalu. Hotel Manager Rayz UMM Hotel Malang Yanuar Arifin, menjelaskan bahwa penambahan menu baru ini bertujuan untuk rebranding The Legacy Café menjadi restoran authentic Indonesian. Rencananya makanan ini akan disajikan pada masyarakat saat pertengahan bulan Juni mendatang. “Dalam peluncuran menu baru ini, kami juga mengenalkan konsep ‘Dhahar’ yang dalam bahasa jawa berarti makan. Dalam implikasinya kami membagi makanan menjadi tiga waktu yaitu dahar enjing atau makan pagi, dahar saren atau makan siang, dan dahar dalu atau makan malam,” jelas Yanuar. Lebih lanjut, Yanuar menjelaskan bahwa makanan daerah yang disajikan berasal dari sembilan daerah yang ada di Indonesia. Pihak restoran mengambil satu menu khas pada tiap-tiap daerah yang dipilih. Pada launcing pertengahan bulan Juni, pihak restoran akan menyajikan makanan ini untuk pengunjung hotel setiap malam hari Jumat dan Minggu. Namun tak hanya terbatas untuk pengunjung hotel, makanan di The Legacy Café juga dapat dicoba oleh masyarakat umum. “The Legacy Café selain dapat digunakan oleh pengunjung hotel, restoran ini juga bisa di jadikan tempat meeting dan acara kumpul-kumpul bersama teman maupun keluarga. Untuk sekali makan di The Legacy Café kami membandrol dengan harga 100.000 per orangnya,” pungkas Yanuar mengakhiri. Senada dengan Yanuar, Head Chef Hotel Rayz UMM, Cucun Rusmana, menjelaskan bahwa pemilihan menu baru ini telah disesuaikan dengan lidah orang Malang. Beberapa menu baru yang dikenalkan yaitu mi kluntung dari Surabaya, nasi goreng gongso dari Semarang, nasi ulam dari Jawa Barat, roti jala dari Sumatera, tekwan dari Palembang, dan lainnya. “Pada saat santap makan, kami juga akan menyajikan live cooking untuk para pengunjung. Untuk menu, kami akan menyajikan secara bergantian setiap minggunya sambil melihat animo masyarakat. Adapun dalam pemilihan makanan, kami menyajikan makanan yang paling direkomendasikan pada tiap-tiap daerah yang terpilih,” ungkap Cucun. Selain makanan daerah, Cucun juga mengatakan bahwa The Legacy Café telah menyiapkan aneka olahan sambal untuk menemani santap makan para pengunjung. Ada satu sambal unik yang dikenalkan pada acara ini, yaitu sambal apel. Pengenalan sambal apel ini merupakan representasi dari ikon kota Malang. “Kami telah memiliki teh apel sebagai menu khas dari The Legacy Café. Namun kami juga ingin menambahkan menu khas lain yaitu sambal apel. Selain sambal apel kami juga menyiapkan sambal tempe, sambel pete, sambel hijau, sambel bajak, sambel kecap, sambel matah, sambel orek, sambel terasi, serta sambel tomat,” jelas cucun mengakhiri. (syi/wil) Penulis:Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
UMM Latih SDM Pendamping Proses Produk Halal

Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan proses sertifikasi halal, Halal Centre Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan Pelatihan Pendamping Proses Produk Halal. Agenda yang terlaksana pada 23-25 Mei itu diisi oleh sederet pemateri yang berkompeten di bidangnya. Salah satunya Direktur Utama Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH-KHT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ir. M. Nadratuzzaman Hosen, M.S., M.Ec., Ph.D. Adapun agenda ini adalah hasil kerja sama Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag RI serta LPH-KHT PP Muhammadiyah. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan sinergisitas kegiatan bertema Halal Thoyib dan juga kompetensi stakeholder Muhammadiyah, utamanya di Malang dan Jawa Timur. Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. selaku Kepala Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM menjelaskan bahwa agenda ini juga memiliki target. Salah satunya yakni Halal Centre Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dapat bekerja sama dalam proses pendampingan sertifikasi halal UMKM. Apalagi mengingat jumlah UMKM yang mencapai 62,5 juta. Selain itu juga mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatihan serta menyumbangkan aktivitas solutif berupa pendampingan. Dalam paparannya, Elfi menegaskan bahwa pembuatan produk halal sangat baik untuk pasar Indonesia maupun global. Apalagi melihat bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, yakni sebanyak 240 juta. Bahkan mencapai 40% dari total penduduk Asean. Lebih lanjut, kini sertifikat halal sudah diakui oleh World Trade Organization (WTO). Selain itu halal juga sudha enjadi gaya hidup banyak orang dan mendorong tumbuhnya eknomi syariah. Produk halal juga berefek pada rasa aman yang dimiliki oleh apra konsumen muslim. Maka dari itu, pemerintan, pengusaha, perguruan tinggi, serta lembaga penelitian harus mengupayakan percepatan pengembangan produk halal. Dalam kesempatan itu pula Elfi menjelaskan bahwa sampai saat ini terdapat 25% UMKM yang memiliki sertifikat halal, 58% mempunyai P-IRT, 38,24% memiliki MD namun belum melengkapi CPPOB (Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik). Maka dari itu, Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM terus melakukan kegiatan penunjang sertifikasi halal. “Salah satunya dengan melaksanakan Lokakarya “Keamanan dan Kehalalan Pangan” dengan guru SMA Jawa Timur, UMKM Malang, Asosiasi Patpi dan Persagi, dan Mahasiswa. Ada juga Pelatihan uji deteksi cepat bahan makanan berbahaya, pengabdian ke SMA Kediri, Probolinggo, Pasuruan, termasuk pedagang martabak di Malang, serta membuat kantin sehat. Lebih dari itu kami juga selalu melakukan penelitian dengan luaran paten dan jurnal Nasional serta Internasional,” tambahnya. Di lain sisi, Hosen mengatakan bahwa proses sertifikasi halal saat ini masih melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI). Adapun penilaian produk didasarkan pada titik kritis yang ada. Dimulai dengan pemeriksaan bahan yang terbagi menjadi bahan baku dan bahan tambahan. Keduanya harus bebas dari hal yang haram. Adapula bahan penolong yang diharuskan tidak berasal dari babi, anjing dan tubuh manusia. Titik kritis selanjutnya yakni dari segi proses. Tempat dan proses produksi tidak boleh tercemar bahan najis. Kalaupun tercemar bahan najis selain mughalladhah, maka harus ada pencucian secara syari. Hal lain yang tidak kalah penting yakni kesucian alat serta bahan kemasan. “Yang perlu diperhatikan lagi sebelum proses pengajuan sertifikasi halal yakni jangan sampai ada bahan dari tubuh manusia. Kalau ada, tentu saja pasti ditolak. Yang mengandung babi itu juga akan ditolak. Adapun kalau cuma tercampur najis nutawassithah, itu bisa dipertimbangkan asal bisa dibersihkan lagi dengan baik,” pungkasnya. (Wil)
Dosen UMM: Prestasi Jeblok karena Sepak Bola Bukan Profesi Menjanjikan

Gelaran SEA games 2022 cabang sepak bola baru saja berakhir. Sayangnya, tim nasional (timnas) Indonesia hanya menempati peringkat ketiga usai mengalahkan Malaysia. Hal itu menarik perhatian Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Askot Malang sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Haris Thofly, SH. M.Hum. Menurutnya, raihan timnas di ajang tersebut belum maksimal. Maka perlu adanya evaluasi mendalam agar bisa mendapatkan prestasi yang lebih membanggakan. Apalagi Indonesia sudah lama tidak merasakan juara. Meski begitu, ia percaya bahwa Shin Tae Yong (STY) bisa membawa timnas ke jalur yang benar dan mampu berbicara banyak di kompetisi bergengsi. “Apalagi, STY kan sering memainkan pemain-pemain muda. Hal itu patut diapresiasi dalam rangka memunculkan bakat-bakat potensial yang bisa berkiprah di liga Eropa dan Asia,” tambahnya. Haris, sapaan akrabnya mengatakan bahwa pada dasarnya sepak bola usia dini Indonesia cukup membanggakan. Namun, masalahnya terletak pada proses junior ke senior. Banyak aspek yang melatarbelakangi fenomena layunya performa para pemain. Salah satunya yakni profesi sepak bola Indonesia yang belum menjanjikan untuk dijadikan mata pencaharian sehari-hari. “Sepak bola di Indonesia memang masih belum 100% menjadi profesi yang menjanjikan dalam menyambung kehidupan. Terlebih sepak bola di Indonesia masih dalam proses menjadi sebuah industri,” ujar Pembina UKM Sepak Bola UMM itu. Menurutnya, ada banyak tantangan yang harus dihadapi untuk membina sepak bola usia muda. Lebih lanjut, salah satu cara melatih anak -anak adalah dengan sering diajak mengikuti turnamen, terutama turnamen resmi, Karena hal itu mampu mengasah mentalitas dan teknik. “Bagi saya, yang terpenting anak usia muda minimal harus 25 kali bertanding dalam turnamen resmi” terang Dosen FH UMM itu. Lebih lanjut, ia menilai bahwa pembinaan usia muda cukup berat. Oleh sebab itu, untuk menanganinya diperlukan pelatih yang sudah memiliki lisensi tinggi, bukan yang berlisensi rendah. Bahkan hal itu sudah diterapkan sepak bola eropa sejak lama. Baginya, dasar-dasar sepak bola harus dilakukan dan diterapkan secara benar dengan pelatih yang sudah terbukti secara akademik. Utamanya sejak usia dini. Selain itu, juga bisa melakukan kolaborasi institusi pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Tujuannya adalah jika di tempat belajar mereka mendapatkan prasarana yang memadai, maka akan mudah untuk menemukai pemain andal. Di samping itu, Indonesia juga harus mampu membuat kompetisi profesional yang baik. Hal itu akan berefek pada bagusnya fisik, mental, teknik dan psikis pemain muda. Lebih lanjut, PSSI seharusnya melahirkan kompetisi dari seluruh kategori usia muda. “Tanpa adanya kompetisi bagus, tak akan ada pula pemain muda yang bagus. Salah satunya seeprti yang akan kita lakukan nanti di tanggal 17-19 Juni. Akan ada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Forum Sekolah Sepak Bola Indonesia (FOSSBI) U-12 di stadioun UMM,” tambahnya. Haris berpesan agar pemain muda terus menagsah diri dan mencari jalan menuju sepak bola profesional. Menurutnya, mnejadi pahlawan tidak hanya saat mengusir penjajah, tapi juga mengahrumkan nama bangsa di kancah internasional. “Saya menaruh harapan besar terhadap sepak bola Indonesia. Apalagi melihat anak-anak muda kita yang potensial dan melimpah,” pungkasnya. (Ros/Wil) Penulis: Rosihan Anwar Al Afghoni | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Pemprov Jatim dan Pemerintah Pusat Dukung Terobosan Center for Future of Work UMM di KEK Singhasari

Kerja sama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari kembali bergulir. Setelah tiga tahun penetapan kawasan ini ditandatangani oleh presiden Jokowi, KEK Singhasari akan segera beroperasi dan memberikan fasilitas serta pelayanan menarik. Salah satunya yang digagas oleh Kampus Putih, yakni Center for Future of Work. Adapun Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak juga turut melakukan monitoring, melihat bagaimana perkembangan yang sudah dilakukan pihak KEK Singhasari. “Iya, ini kita melihat kesiapan KEK Singhasari pasca ditetapkannya kawasan ini sebagai KEK. Ternyata sudah ada banyak proses pembangunan untuk ekspansi,” kata Emil. Menurutnya, ada sederet hal yang bisa mempercepat pembangunan KEK dan menggaet investor. Salah satunya adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada. Dalam hal ini, UMM menjadi pihak yang siap mengembangkan program menarik yang dinamakan Center for Future of Work. Program ini diharapkan bisa melahirkan talenta-talenta unggul di bidang digital dan profesi masa depan. Saat ini sudah ada lahan dua hektar yang akan dibangun sebagai fasilitas penunjangnya. Emil yakin bahwa KEK Singhasari ini bisa segera berjalan, apalagi dengan bantuan konsultan internasional yang sudah UMM gaet dalam rangka merancang dan membangun program profesi masa depan. Adapun Center for Future of Work ini merupakan terobosan anyar Kampus Putih dalam menyiapkan generasi masa depan. Mendorong mereka untuk menguasai skill dan kemampuan berdasarkan passion mereka masing-masing. Termasuk di dalamnya program pembekalan yang berorientasi pada pekerjaan-pekerjaan masa depan dan juga pengembangan digital. Disampaikan terpisah oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., bahwa pihaknya melihat KEK Singhasari memiliki frekuensi yang sama, utamanya dalam pengembangan SDM. Selain bekerjasama dengan KEK Singhasari, UMM juga menggaet kolaborator teknis operasional, finansial, pemerintahan dan juga user. Adapun program ini memang betujuan untuk melahirkan talenta-talenta digital yang unggul. Ini juga menjadi upaya Kampus Putih untuk berkontribusi meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki Indonesia. Dengan begitu, generasi muda bisa bersaing tidak hanya di tingkat lokal tapi juga internasional. Dalam Center for Future of Work, para peserta dapat menempuh pendidikan khusus yang memberikan kompetensi di bidang teknologi informasi digital. Menariknya, program ini juga melakukan riset berkala untuk menghasilkan SDM yang sesuai dengan kebutuhan kualifikasi Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Dengan begitu, SDM yang dihasilkan bisa langsung direkrut dan sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap perusahaan. Salah satu bagian dari Center for Future of Work adalah Center of Excellence (CoE). Dalam prosesnya para anak muda dan peserta akan mendapatkan kelas keahlian langsung dari para profesional. Di samping itu juga mendapat kesempatan untuk merasakan atmosfer kerja di beragam perusahaan bergengsi. Sebut saja Amazon Web Service, PT. Charoen Pokphand, PT. Sanbe Farma, dan perusahaan-perusahaan di bawah Kementerian BUMN hingga lembaga pemerintahan. “Oleh sebab itu, proses pengembangan SDM, dan Center for Future of Work harus memiliki daya ledak yang besar. Pembangunan fisiknya juga akan segera dilakukan. Kami juga akan menambah dan menggaet mitra serta stakeholder yang sudah memiliki reputasi internasional untuk mendukung program ini. Dalam waktu dekat, UMM akan segera melakukan ground breaking kampus Center for Future of Work yang berada di area KEK Singhasari,” kata Fauzan. (wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain| Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Laboratorium Sentral UMM Lakukan Standarisasi

Sederet langkah konkret dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk meningkatkan kualitas. Salah satunya terkait pengelolaan laboratorium yang dimiliki. Hal itu tertuang dalam diskusi terpumpun yang dilaksanakan pada Kamis (20/5) lalu di Rayz Hotel UMM. Adapun diskusi ini dilaksanakan untuk melaksanakan standarisasi laboratorium yang ada di Kampus Putih. dengan begitu, laboratorium bisa menjalankan fungsinya dengan kebijakan yang ada. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa laboratorium tidak hanya berkaitan dengan kegiatan praktikum semata. Bisa juga dengan mengembangkan upaya branding dan marketing. Dengan begitu, ada juga upaya untuk mengeksplor kepentingan eksternal. Tidak jauh berbeda, Wakil Rektor I Kampus Putih, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. juga mengatakan bahwa laboratorium harus menajdi bagiand ari Center of Excellence. Mengambil peran sebagai sumber kegiatan penelitian yang bisa menunjang dunia pendidikan. Di samping itu juga harus memperkuat dan meningkatkan kelembagaan mutu. “Para kepala laboratorium harus mengetahui dan memahami kebijakan yang ada dari universitas. Dengan begitu bisa melaksanakan program di laboratoriumnya masing-masing berdasarkan kebijakan,” tambah Syamsul. Sementara itu, Kepala Laboratorium Sentral Prof. Dr. Ir. Wahyu Widodo mengatakan fungsi umum laboratorium. Dua di antaranya aktivitas praktikum dan non-praktikum. Menurutnya, sejauh ini kegiatan praktikum sudah berjalan dengan baik. Maka hal yang perlu ditingkatkan adalah hal-hal yang bersifat di luar praktikum. Hal lain yang tidak kalah penting adalah koordinasi yang baik. Hal itu diperlukan agar tiap laboratorium dapat memahami visi dan misi, tujuan serta sasaran yang seharusnya dicapai. “Dengan begitu, tidak ada lagi kesalahpahaman dan ketidaktahuan akan kebijakan yang universitas lakukan,’ ungkapnya. Di sisi lain, Manajer Mutu Laboratorium Sentral Dr. Ir. Endang Sri Hartati, MP. berharap semua kegiatan yang dilakukan di laboratorium UMM bisa terstandarisasi. Dengan begitu, masing-masing bisa dengan baik memenuhi standar yang ada.”Proses evaluasi dan audit internal dari masing-masing lab juga harus dilakukan. Sehingga akan ada perbaikan yang siginifikan ke depannya,” tambahnya. (Zak/Wil) Penulis: Novia Zahrotun Zakiyatina| Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Cara Atasi PMK Ala Dosen UMM

Baru-baru ini Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi kembali menyebar di Indonesia. Fenomena itu membuat Prof. Dr.drh. Lili Zalizar, M.S., untuk menjelaskan lebih lanjut. Menurutnya, PMK merupakan penyakit akut dan sangat menular pada sapi, kerbau, babi, kambing, domba dan hewan berkuku genap lainnya. Penyakit ini menyebabkan lepuh dan erosi pada selaput lendir mulut sehingga sapi tidak mau makan, akibatnya sapi kekurangan gizi dan terjadi penurunan bobot badan dan produksi susu. Selain itu PMK bisa menyebabkan terjadinya lepuh dan erosi pada jaringan diantara kuku sehingga ternak malas berdiri.Selain itu PMK bisa juga menyerang kelenjar susu. Lily, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ada beberapa faktor PMK ini muncul dan menyebar kembali di Indonesia. Pertama, kurangnya pengawasan dalam impor hewan ternak dari negara yang belum bebas PMK. Selain itu, kondisi kandang yang kurang bersih dan terawat serta kurangnya pengawasan transportasi ternak sapi antar wilayah juga menyebabkan percepatan menyebarnya penyakit ini. Adapun sejak tahun 1990, Indonesia sudah bebas PMK. Penyakit ini kembali muncul pada tahun ini 2022. Adapun PMK ini bisa menular kepada sesama hewan ternak melalui kontak langsung antar hewan melalui droplet, leleran air liur, sisa pakan dari ternak sakit dan bahkan lewat udara. Sementara itu, penularan tidak langsung bisa melalui pakaian dan kendaraan pegawai peternakan serta peralatan kandang. “Hewan-hewan sakit merupakan sumber penularan.Tetapi sisi positifnya, virus ini tidak dapat menular pada manusia,” tambahnya. Ia kembali menjelaskan bahwa ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menyembuhkan PMK. Diawali dengan pemberian vitamin untuk menjaga kekebalan tubuh sapi. Juga menjaga sanitasi di peternakan. Selain itu perlu adanya penyemprotan desinfektan di kandang dan isolasi sapi yang sakit. Begitupun dengan vaksinasi, mengingat PMK ini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Upaya vaksinasi menyeluruh dan merata menjadi salah satu solusi yang bisa dilakukan di seluruh Indonesia. “Sapi yang terinfeksi PMK akan merasa kesakitan ketika makan, oleh karenanya pemberian anti radang dan penghilang rasa sakit bisa diberikan agar sapi dapat makan. Selain itu pemberian antibakteri seperti sulfadimidine juga bisa menjadi pilihan. Nah, hal yang tidak kalah penting adalah sapi yang sakit harus diisolasi agar tidak menular ke ternak lainnya. Kemudian harus ekstra diperhatikan agar cepat sembuh dari PMK,” ujarnya. Dosen asli Subang, Jawa Barat ini berharap pemerintah Indonesia bisa segera melakukan vaksinasi kepada hewan ternak sehat sebelum Idul Adha. Begitupun dengan upaya pelarangan pemindahan hewan terdak agar penyebaran virus bisa ditekan dan dikendalikan. Ia juga mengimbau agar tempat penjualan ternak kurban bisa lebih dirapikan. Jarak antar ternak bsia lebih dijauhkan untuk menekan angka penularan. Selain itu juga pengawasan hewan ternak di aspek kesehatan. “Usaha-usaha ini seyogyanya memang harus diawasi oleh Dinas peternakan setempat. Tidak hanya dilakukan seadanya, tapi harus dilaksanakan secara serius agar penyakit ini bisa kembali pergi dari Indonesia. Semoga vaksinasi dapat diselesaikan idul adha sehingga hewan kurban benar-benar sehat sebelum idul adha tiba,” pungkasnya. (haq/wil) Penulis: Syarifudin Raisul Haq | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Raih Akreditasi Unggul, Prodi Matematika UMM Gencarkan Lulus 7 Semester

Mahasiswi Prodi Pendidikan Matematika UMM sedang berdiskusi. (Foto: Zaki Humas) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kualitasnya. Setelah sebelumnya sederet prodi telah mendapatkan akreditasi unggul, kali ini giliran Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika yang meraihnya. Adapun predikat yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) itu berlaku sejak akhir bulan April lalu. Ketua Prodi Pendidikan Matematika UMM, Adi Slamet Kusumawardana, S.Si., M.Si mengatakan bahwa proses mencapai akreditasi Unggul sudah dipersiapkan sejak tahun 2018 lalu. Saat itu pihaknya berhasil mendapatkan akreditasi A. Kemudian mempertahankan dan mempersiapkan proses akreditasi selanjutnya melalui revitalisasi kurikulum bagi mahasiswa. Dengan begitu, Prodi Matematika UMM mampu melahirkan para pendidik yang preofesional serta dapat menyelesaikan studi tepat waktu. “Kurikulum prodi kami ini dirancang untuk mendorong mahasiswa bisa selesai dalam 7 semester. Kemudian juga ditunjang dengan program-program prodi yang mempercepatnya. Baik dalam akademik dan non akademik, seperti program Karya Ilmiah Setara Skripsi (KISS),” Jelas Adi. Dijelaskan Adi, program KISS ini memberi kesempatan mahasiswa untuk mulai mengerjakan karya ilmiah sejak semester 3. Harapannya, pada semester 7 mereka sudah bisa melakukan publikasi artikel yang kemudian dikonversi menjadi nilai skripsi. “Program ini sudah diberlakukan sejak 2018 lalu hingga hari ini. Alhamdulillah sudah ada lebih dari 50 mahasiswa lulus lewat jalur ini dan hanya dalam waktu tujuh semester,” ungkap Adi. Adi menyampaikan, pada proses pengusulan akreditasi ada beberapa problem yang dihadapi. Salh satunya yakni adanya beberapa dosen yang masih menunggu SK jabatan fungsional. Padahal sumber daya manusia menjadi salah satu penilaian penting dalam akreditasi. Hal itu juga berakibat pada diundurnya pengajuan akreditasi. Sejalan dengn capaian Akreditasi Unggul yang diraih Prodi Pendidikan Matematika, Adi berharap sivitas akademika semakin bersemangat untuk memberikan layanan dan berkarya dengan lebih baik. Ia juga terus memberikan dorongan agar prodi Matematika bisa lebih percaya diri serta termotivasi unutk mencapai akreditasi internasional. Begitupun dengan mahasiswa dan para alumni yang didorong untuk berkiprah di tingkat yang lebih tinggi. Apalagi dengan bekal-bekal yang sudah pihaknya berikan. “Tentu kami ingin agar para lulusan prodi Matematika Kampus Putih dapat menjadi SDM yang berkompeten. Saya juga ingin agar prodi kami ini semakin dikenal sebagai prodi unggul, berkualitas dan menjadi tujuan para calon mahasiswa untuk melanjutkan studi. Apalagi dengan rencana besar akreditasi internasional yang sudah dicanangkan,” pungkas Adi. (Zak/Wil) Penulis: Novia Zahrotun Zakiyatina| Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain