Alumnus UMM Bagi Kiat Berkarya di Kuwait

Universitas Muhammadiyah Malang terus mendekatkan diri dengan dunia internasional. Tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa, dosen maupun karyawan saja. Para alumni Kampus Putih juga mampu bersaing secara global. Shanti Kuswandari, alumnus D3 Keperawatan adalah salah satunya. Ia sukses meniti karir di Kuwait sebagai staf kesehatan rumah sakit Mubarak Al kabeer sebagai intensive care unit (ICU). Shanti, sapaan akrabnya, mengaku bahwa Kampus Putih memiliki epran yang signifikan dalam perjalanan karirnya. Salah satunya yakni motivasi yang senantiasa disuntikkan kepada para mahasiswa. Ia ingat, saat itu ada seorang dosen yang sempat bekerja di luar negeri. Ia bercerita bahwa pendapatan yang diterima sangatlah besar jika mampu bekerja di negara-negara maju. “Hal itu membuka hati dan membuat saya memantapkan hati bahwa kelak saya harus bisa berkarir di dunia mancanagera. Saya harus mimpi besar,” tambahnya. . Dukungan dan bimbingan juga ia dapatkan dari pihak kampus. Begitupun dengan bekal ilmu agama yang mumpuni sehingga tidak hanya memiliki kemampuan preofesi saja, tapi juga kebaikan diri yang bagus. Adapun sebelum berkarya di Kuwait, Shanti sempat bekerja di RSI Aisyiyah Malang sembari mencari info kerja di luar negeri. Pada tahun 2001, wanita asli Malang ini mencoba ikut beberapa program untuk bisa berkarya di luar negeri. Ia harus turut mempelajari kemampuan bahasa Inggris serta skill keperawatan. Hingga akhirnya sukses berngkat ke Kuwait pada 2004. Kehidupan di Kuwait sedikit banyak mengubah hidup Shanti. Baik dari aspek finansial, pendidikan serta sisi religiusitasnya. Menurutnya, banyak pengalaman hidup baru yang belum pernah ia rasakan di Tanah Air. Meski begitu, ia juga harus menghadapi banyak tantangan. Mulai dari perbedaan budaya, makanan, adaptasi kultur bekerja dan lainnya. Beruntung, Shanti dikelilingi oleh teman dan staf rumah sakit yang mau membantu di kala ia kesusahan. Ia berpesan agar para mahasiswa dapat sedini mungkin mempersiapkan diri jika ingin berkarya di luar negeri. Pertama yakni mempelajari kemampuan bahasa Asing, utamanya bahasa Inggris. Kalaupun memilih Kuwait sebagai negara tujuan, bahasa Inggris masih menjadi pilihan pertama karena kebanyakan masyarakat dalam berkomunikasi tidak menggunakan bahasa Arab. “Terus belajar dan jangan cepat puas. Menurut saya teman-teman mahasiswa sekarang bisa lebih mudah dengan adanya training center milik UMM. Tidak hanya Kuwait saja, tapi juga ada pilihan negara lain yang bisa dicoba seperti Jepang. Memang butuh waktu untuk mengikuti pelatihan, tapi percayalah hal itu tidak akan sia-sia,” pungkasnya. (Zak/Wil) Penulis: Novia Zahrotun Zakiyatina| Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Fikes UMM Inisiasi Kolaborasi Internasional Bahas Kesehatan Neurologis

Upaya meningkatkan internasionalisasi terus dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terkini, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Kampus Putih melangsungkan international short course dengan tajuk Collaboration Therapy in Musculoskeletal Neurological Disorder. Adapun pelaksanannya dimulai sejak Rabu (18/5) hingga pertengahan Juni nanti. Menariknya, para peserta tidak hanya dari Kampus Putih saja. Namun ada puluhan mahasiswa dari luar UMM yang turut serta. Begitupun dengan mahasiswa dari mancanegara yang mencapai 70 orang yang berasal dari berbagai negara. Mulai dari Brazil, Vietnam, Mesir, Gambia, Yaman, Malaysia Filipina dan lainnya. Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Samsul Arifin, M.Si. mengatakan bahwa short course ini merupakan bentuk kolaborasi akademik antar universitas mancanegara. Utamanya kolaborasi dengan Kampus Putih. Walaupun terbentang oleh jarak dan waktu, nyatanya program ini bisa dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Selain itu, ia menilai bahwa agenda tersebut mampu meningkatkan atmosfer internasional di Fikes UMM. Harapannya, akan muncul kerjasama-kerjasama lain di bidang penelitian dan publikasi. Pun dengan pelaksanannya yang masih daring bisa diubah menjadi pertemuan langsung. Hal serupa juga disampaikan oleh Wakil Dekan III Fikes UMM Rakhmad Rosadi, SST, FT, MSc.PT. Ia menilai kegiatan tersebut merupakan inisiatif fakults untuk melebarkan sayap ke dunia internasional. Salah satunya melalui short course yang membahas terkait gangguan neurologis Muskuloskeletal. Ke depannya, akan ada program serupa dengan pertemuan langsung secara offline jika nanti pandemi sudah berakhir. “Jadi harapannya teman-teman dari luar negeri bisa berkunjung dan merasakan bagaimana studi di Indonesia. Begitupun dengan para mahasiswa UMM yang bisa mendapat kesempatan melihat da mengetahui atmosfer perkuliahan di berbagai negara,” tambahnya. Pada short course tersebut, Fikes Kampus Putih juga mengundang berbagai pakar dari beragam negara. Ada Dr. Ironse Oliveira Silva dari UniEVANGELICA Brazil, Assoc. Prof. Rumpa Boonsincukh dari Thailand, Owen Nkaka, P.hD. dari Inggris dan sederet pemateri lainnya. (wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Keseruan UKMFest UMM, dari Flying Fox hingga Perahu Karet

Ada hal menarik dan tak biasa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) belakangan ini. Beredar video permainan flying fox dan perahu karet di Kampus Putih. Rupanya, dua wahana tersebut adalah bagian dari UKMFest yang diselenggarakan sejak Selasa (17/5) lalu hingga akhir bulan Mei nanti. Kepala Bagian Minat dan Bakat Frendy Aru Fantiro, M.Pd. mengatakan bahwa ada beragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Semi Otonom (LSO) yang disiapkan di booth. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan kegiatan-kegiatan yang bisa diikuti mahasiswa selama kuliah. Mulai dari Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (DIMPA), UKM E-sport, Putra Putri Kampus, dan puluhan lainnya. “Agenda ini juga menjadi upaya kami untuk memeriahkan hadirnya kembali para mahasiswa di Kampus Putih. Sudah lebih dari dua tahun tidak ada kegiatan yang menarik karena sivitas akademika diharuskan untuk melaksanakan aktivitas belajar-mengajar sedara daring,” tambahnya. Frendi, begitu ia kerap disapa, menjelaskan bahwa ujian tengah semester (UTS) ini menjadi aktivitas luring pertama bagi para mahasiswa. Apalagi dibarengi dengan hadirnya para peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Maka, untuk menyambut kedatangan mahasiswa, pihaknya menyiapkan berbagai sajian unik dan menarik. Dua di antaranya wahana yang bisa dicoba seperti flying fox dan perahu karet. Terlihat animo para mahasiswa cukup tinggi. Banyak booth, hiburan dan wahana dipadati oleh anak-anak muda. Frendi mengatakan, kegiatan ini juga sempat trending di media sosial karena banyak orang tidak percaya ada flying fox di lingkungan kampus. “Saya ingin dengan adanya UKMFest ini mahasiswa bisa didorong untuk tidak hanya fokus belajar. Tetapi juga mengembangkan potensi dan hobinya di sederet UKM yang sudah disiapkan oleh UMM. Apalagi ada banyak UKM baru yang selalu dihadirkan seperti Biru Flying Club yang menjadi satu-satunya UKM di Indonesia yang fokus dalam dunia dirgantara,” harapnya. Terkait flying fox dan perahu karet, Ketua UKM DIMPA Ali Mansur mengatakan bahwa pihaknya sangat mengutamakan keselamatan. Pemilihan tempat dan peralatan sangat diperhatikan. Misalnya saja seling baja yang dinilai bisa menahan beban dengan baik secara terus menerus. “Kami membutuhkan waktu sekitar lima hari untuk mempersiapkan semuanya. Adapun kami juga ingin memberikan pengalaman seru dan menarik kepada para mahasiswa UMM serta para peserta UTBK sekaligus mengenalkan UKM DIMPA pada khayalak luas,” tuturnya. Salah satu pengunjung, Andico mengaku sangat tertarik dengan UKMFest. Ia mengaku bahwa berbagai pertunjukan yang digelar pada saat UKMFest membantunya untuk rehat sejenak setelah UTS. “Ini pertama kalinya saya ke kampus untuk UTS setelah sebelumnya menjalani perkuliahan secara daring. Kegiatan ini sangat seru sekali. Kapan lagi bisa outbound gratis di kampus kan? Saya harap ke depan akan ada lebih banyak kegiatan seperti ini lagi,” pungkas mahasiswa fakultas hukum itu. (syi/wil) Penulis:Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Rektor UMM di Markplus: Perguruan Tinggi harus Adaptif dan Atraktif

Perguruan tinggi (PT) di Indonesia harus adaptif untuk menyongsong generasi emas tahun 2045 dan atraktif dalam proses pembelajaran. Harus memberikan jaminan kelulusan dan pekerjaan pada mahasiswanya. Hal itu disampaikan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. saat menjadi salah satu narasumber di talkshow Markplus Institute Goes to Campus. Adapun agenda itu dilangsungkan secara daring melalui Zoom dan Youtube pada Sabtu (14/5) lalu. Dalam menjawab tantangan tersebut, Fauzan menjelaskan bahwa UMM sudah membuat inovasi konkret yang disebut dengan Centre of Excellence (CoE) di setiap program studi (Prodi) milik Kampus Putih. Pihaknya juga telah membentuk kelas Unggulan yang memiliki potensi tinggi di berbagai pekerjaan. “Pada kelas tersebut pula, kami telah bekerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) agar mahasiswa lebih memahami cara kerja profesional. Kami membentuk dua kelas yaitu kelas kewirausahaan dan kelas profesional yang nantinya akan direkrut langsung oleh perusahaan,” jelas rektor asal Kediri tersebut. Lebih lanjut, selain memberikan jaminan pekerjaan pada mahasiswa, CoE juga berguna untuk menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang bisa langsung bekerja secara profesional di perusahaan. Menariknya, program Kampus Putih tersebut tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa satu prodi atau UMM saja, tapi juga untuk mahasiswa prodi lain bahkan kampus lain. “Kami menampung minat semua mahasiswa di bidang-bidang CoE yang telah kami kembangkan. Melalui CoE ini saya ingin memproyeksikan UMM tak hanya sebagai penggerak perubahan tetapi juga sebagai pemimpin suatu perubahan, utamanya dalam dunia pendidikan di Indonesia,” kata Fauzan. Ia mengungkapkan bahwa pengerjaan tugas akhir di UMM telah dibuat dalam berbagai skema. Dengan banyaknya pilihan  skema tersebut, mahasiswa dapat mengerjakan tugas akhir sesuai minat dan bakatnya masing-masing. “Selain itu kami juga memperbolehkan mahasiswa untuk mengerjakan tugas akhirnya sejak dini yaitu pada semester dua maupun empat,” pungkasnya mengakhiri. Selain Fauzan, rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Arif Satria dan juga Executive Director iTrain Asia Pte Ltd Dato’ Eric Ku juga turut mengemukakan gagasannya pada acara tersebut. Di sisi lain, Founder and Chairman MarkPlus.Ink, Hermawan Kartajaya, mengatakan bahwa perguruan tinggi di Indonesia harus melakukan inovasi terkini. Utamanya dalam rangka menyambut dan mengejar tahun 2030 sebagai jembatan untuk menuju tahun 2045. Menurutnya, jika Indonesia gagal di tahun 2030, maka akan sulit untuk membangun SDM unggul di 2045. “Pada masa pandemi seperti ini, jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik maka kita akan mati. Untuk menghadapinya, perguruan tinggi harus memiliki delapan elemen utama yaitu kreativitas, inovasi, kewirausahaan, kepemimpinan, produktifitas, profesionalisme, dan manajemen.  Hal yang terpenting adalah kita harus adaptif dan atraktif untuk dapat membentuk gen Z sebagai SDM yang unggul,” ucapnya mengakhiri. (syi/wil) Penulis: Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

UMM Latih SDM Siap Kerja ke Jepang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berkomitmen untuk melahirkan generasi unggul dan mandiri. Salah satu bentuk konkretnya yakni dengan pendirian program training dan penempatan kerja di Jepang oleh Vokasi Kampus Putih. Adapun program ini merupakan hasil kerja sama dengan OS Selnajaya yang memungkinkan para anak muda Indonesia untuk meniti karir di negeri Sakura. Pada pembukaan pelatihan, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memberikan motivasi kepada para peserta yang hadir. Menurutnya, program ini menjadi langkah UMM untuk memberikan fasilitas bagi mereka yang ingin bekerja di luar negeri, khususnya Jepang. Ke depannya, akan ada banyak negara-negara tujuan lain yang bisa dipilih. “Sampai saat ini, sudah ada dua gelombang yang sudah mengikuti rentetan pelatihan ini. Adapun materi yang diberikan yakni pelatihan bahasa hingga training kecakapan skill pada masing-masing bidang,” tuturnya. Fauzan juga menegaskan bahwa program ini bukan program inovasi terakhir dari Kampus Putih. Saat ini, UMM sudah mulai membangun fasilitas beragam kegiatan training yang berlokasi di Karang Ploso. Berbagai pihak juga sudah digandeng untuk merealisasikan program-program menarik lainnya. “Mudah-mudahan inovasi-inovasi seperti ini bisa terus berkembang dan mampu menjadi model untuk yang lain. Saya juga berpesan agar teman-teman peserta bisa memberi kesan baik ketika nanti bekerja di Jepang. Karena orang baik itu akan selalu dicintai dan dirindukan,” pesan Fauzan. Sementara itu, Direktur Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. menerangkan bahwa program ini berupaya untuk memberikan informasi terkait skema-skema pekerjaan yang dibutuhkan di Jepang. Selain itu juga memfasilitasi lulusan SMK, SMA, dan perguruan tinggi untuk mendapatkan akses pelatihan yang nantinya berujung pada penempatan kerja. Lebih lanjut, ada dua skill utama yang diberikan kepada para peserta selama 6-12 bulan proses pelatihan. Pertama, yakni kemampuan bahasa Jepang yang akan mendukung proses penerimaan kerja. Kemudian yang kedua yakni skill pekerjaan di masing-masing bidang. Setelah itu mereka diharuskan untuk mengikuti ujian sebagai persyaratan bekerja di Jepang. “Program training hasil kerja sama dengan OS Selnajaya ini juga membantu mengatur jadwal wawancara antara peserta dan user untuk memastikan penempatan kerja. Begitupun dengan penyiapan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk bisa berkarya dan bekerja di luar negeri. Jadi setiap orang bisa mendaftar menjadi salah satu peserta agar bisa diberangkatkan ke Jepang,” tambahnya usai pembukaan training gelombang dua, Rabu (18/5). Sampai saat ini, ada lima skema pekerjaan yang sudah disusun. Di antaranya kaigo atau caregiver, produksi makanan dan minuman, building cleaning, perikanan dan budidaya serta pertanian. Para peserta training bisa memilih salah satunya selama persyaratan yang diberikan bisa terpenuhi dengan baik. Sementara itu, Reza Ramadhan selaku Global Strategy OS Selnajaya menuturkan bahwa di gelombang pertama pada Januari lalu ada 17 orang yang sudah bergabung. Adapun angkatan tersebut dikhususkan untuk mereka yang ingin berkarir di bidang caregiver. Sementara di gelombang dua, ada 25 peserta yang terbagi menjadi lima bidang pekerjaan. Sehingga total ada sekitar 42 orang. Fasilitas yang disediakan oleh Training Center UMM-OS Selnajaya juga mumpuni. Mulai dari penginapan asrama selama pelatihan, air dan  listrik, buku-buku, dan juga materi dari para guru serta tutor yang ada. Adapun penghasilan yang nanti bisa diterima mencapai 13-15 juta tiap bulannya dengan kontrak selama lima tahun. “Kalau kaigo atau caregiver memang pelatihannya cukup lama ya karena kan hubungannya lebih banyak dengan manusia, khususnya terkait bahasa. Apalagi yang dirawat adalah para lansia. Sementara kalau bidang lain relatif tidak perlu berinteraksi dengan orang banyak. Untuk biaya, ada dana talang yang bisa dimanfaatkan oleh para calon peserta. Nantinya, mereka bisa menyicil biaya pelatihan saat sudah bekerja. Jadi saya kira bantuan ini cukup memudahkan,” ungkapnya. Pada dasarnya, para peserta akan melalui beberapa tahapan hingga nanti bisa berkarya di Jepang. Diawali dengan pelatihan, kemudian ujian bahasa serta skill, proses wawancara hingga keberangkatan menuju lokasi. Adapun UMM dan OS Selanajaya akan mengarahkan dan memfasilitasi di setiap proses tersebut. Reza menilai tidak ada kendala yang berarti selama proses pelatihan. Hanya saja pihaknya perlu menjaga motivasi para peserta. Apalagi materi yang diberikan sangat padat, model belajar tiap orang yang berbeda, serta waktu untuk beradapatasi. Menurutnya, peluang yang tersedia cukup besar. Apalagi melihat kebutuhan sumber daya manusia (SDM) lima bidang pekerjaan di Jepang yang cukup banyak. “Tentu kami berharap program UMM-Selnajaya ini bisa turut membantu lulusan SMA, SMK, dan perguruan tinggi dalam membangun karir yang bagus di luar negeri,” pungkasnya. (wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Sukses Raih Unggul, Prodi Akuakultur UMM Targetkan Pengakuan Internasional

Salah satu Program Studi (Prodi) di Universitas Muhammadiyah Malag (UMM) kembali mendapatkan akreditasi Unggul. Kabar gembira ini datang dari Prodi Akuakultur atau yang biasa di sebut dengan Prodi Perikanan. Adapun peningkatan akreditasi tersebut mulai berlaku sejak Selasa (19/5) lalu hingga tahun 2025 mendatang. Ketua Prodi Akuakultur, Dr. Hany Handajani, S.Pi, M.Si., menjelaskan bahwa akreditasi tersebut berhasil dicapai oleh prodi setelah melewati standar penilaian yang ketat dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Ada beberapa penilaian akreditasi yang perlu dipenuhi, salah satunya adalah jaminan mutu prodi yang telah sesuai dengan standar Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI) UMM dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). “Selain jaminan mutu, kami juga telah menerapkan kurikulum Outcome-Based Education (OBE). Sumber Daya Manusia (SDM) yang kami miliki juga mumpuni seperti para dosen yang setengahnya telah meraih strata tiga (S3) dan juga alumni-alumni yang telah mapan bekerja,” ungkap dosen asal Jakarta tersebut. Lebih lanjut, Hany, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa selain telah memenuhi kriteria BAN-PT, Prodi Perikanan juga memiliki program unggulan  bernama Center Of Excellence (CoE) Udang. Program yang telah berjalan selama dua tahun ini, selain mendekatkan mahasiswa dengan dunia industri juga menambah keterampilan para mahasiswa. Dengan begitu, ketika lulus mahasiswa tidak hanya mengantongi ijazah tapi juga skill-skill yang memang dibutuhkan oleh industri. “Pada kelas keahlian CoE ini kami bekerja sama dengan beberapa Industri dan Dunia Kerja (Iduka) seperti PT Garin Agro Sejahtera (GAS), CP Prima dan STP (Japfa Akuakultur). Kemudian PT Summa Benur, CV Kawang Royal Vaname, PT Tanjung Bumi Akuakultur (TBAI), dan sederet lainnya. Alhamdulillah, program ini berhasil menelurkan hasil yang baik yaitu dengan direkrutnya para mahasiswa kami oleh industri profesional udang,” kata Hany. Terkait raihan akreditasi unggul yang didapat, Hany mengatakan bahwa capaian tersebut dapat dimiliki Prodi Akuakultur berkat kerja keras semua elemen yang ada di Kampus Putih. Tidak terbatas hanya dari pihak kampus saja, melainkan juga upaya dari para mahasiswa serta alumni. “Meski begitu, saya terus mendorong teman-teman untuk tidak cepat berpuas diri. Selain ingin mendapat pengakuan nasional, kami juga berusaha mendapat pengakuan di tingkat dunia melalui predikat akreditasi internasional. Saat ini kami sedang mempersiapkan berkas-berkasnya dan rencananya akan kami kirim pada akhir Juli atau awal Agustus mendatang,” ungkapnya mengakhiri. (syi/wil) Penulis: Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

FKIP UMM Bahas Solusi Pendidikan Era Society 5.0

Mendidik anak haruslah sesuai dengan zaman, karena seorang anak tidak hidup di zaman saat orang tuanya masih belia. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Yus M. Cholily, M.Si. dalam Seminar Nasional Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang. Adapun seminar yang dilangsungkan pada Sabtu (14/5) lalu tersebut menjadi salah satu cara memperingati hari Pendidikan Nasional. Yus, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa dalam menjalankan profesi sebagai pendidik, pemahaman akan cara mendidik sesuai dengan zaman amatlah diperlukan. Ia mengutip pendapat Alvin Toffler yang mengatakan bahwa buta huruf di abad 21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan mneulis. Melainkan mereka yang tidak mampu melakukan learn, unlearn, dan relearn. “Jika kita tak boleh merasa bahwa ilmu yang kita pelajari di sini itu seolah olah ilmu yang paten. Jika kita tidak mau meninggalkan pengetahuan itu dan tidak bisa mempelajari pengetahuan baru, maka tentu kita adalah bagian dari orang-orang yang buta huruf abad 21. Karena pada dasarnya, ilmu pengetahuan itu terus berkembang dan proses belajar itu haruslah dilakukan sepanjang hayat,” tambahnya. Guru besar ilmu pendidikan matematika itu juga menekankan agar pendidik harus membekali diri dengan banyak hal. Salah satunya yakni keterampilan mengajar berbasis problem based learning atau project based learning. Apalagi melihat semakin kompleksnya tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan di abad ini. Pada kesempatan yang sama, Dr. Endang Poerwanti, M.Pd. menyampaikan topik terkait “Inovasi Pembelajaran di Era Merdeka Belajar Era Society 5.0”. Ia memaparkan lebih dalam bahwa teknologi akan mendatangkan beribu kemudahan, namun tanpa disadari manusia akan kehilangan kemampuan dan harkat kemanusiaannya. Dalam dunia Pendidikan, teknologi memiliki peranan yang sangat signifikan, bahkan dikhawatirkan mampu menggantikan profesi guru. Namun menurutnya, hal tersebut tidak akan terjadi. “Mungkin teaching dan coaching bisa saja digantikan oleh teknologi. Namun ketika sudah masuk dalam aspek touching, sentuhan-sentuhan emosional, menumbuhkan sifat-sifat humanistik, itu yang menjadi tantangan dan tanggung jawab kita bersama sebagai guru. Jadi sebenarnya peran guru selamanya tidak akan tergantikan. Jangan khawatir,” tegas dosen Prodi PGSD UMM itu. Selain itu, Endang juga menjelaskan bahwa tantangan pada era  pendidikan saat ini semakin berat. Kualitas dan kuantitas permasalahan juga semakin meningkat. “Kemudian juga tentang kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan kemampuan tentang humanity. Menurut hemat saya, orang-orang yang humanis itu di manapun akan bisa mengalahkan teknologi,” terangnya mengakhiri. (wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Akuntansi UMM Berhasil Sandang Akreditasi Unggul

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan kualitasnya. Kali ini, Program Studi (Prodi) Akuntansi baru saja meraih akreditasi Unggul pada akhir bulan lalu. Adapun akreditasi yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) itu berlaku hingga 2024 mendatang. Ketua prodi Akuntansi UMM Dr. Driana Leniwati, SE., MSA., AK mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari. Salah satunya dengan mengoptimalkan semua poin yang ditetapkan untuk mendapatkan akreditas tersebut. Mulai dari kurikulum, sistem pengendalian mutu internal, tracer study, dan beberapa lainnya. “Tentu ini bukan sebuah hasil dari pekerjaan satu orang saja, namun banyak pihak yang terlibat. Akreditasi ini dapat dicapai berkat kesolidan tim task force, badan pengendali mutu internal, unit akreditasi perguruan dan pihak lain,” ungkap perempuan kelahiran Bogor itu. Meski prodi akuntansi Kampus Putih sukses menyandang Unggul, namun ada beberapa kendala yang sempat dihadapi. Leni, sapaan akrabnya mengaku bahwa pihaknya kesulitan di aspek tracer study. Beruntung, sistem dan data alumni dari UMM cukup memadai. Apalagi para alumnus juga masih terikat dalam Ikatan Alumni UMM sehingga mempermudah proses pelacakan. Leni juga menilai bahwa salah satu aspek penting suksesnya mereaih Unggul adalah nilai kelulusan tepat waktu dari para mahasiswa. Ditambah lagi dengan adanya program percepatan skripsi seperti workshop skripsi yang outputnya adalah proposal. Bahkan sekarang, prodi akuntansi juga menerima percepatan program tugas akhir berupa ekuivalensi artikel ilmiah hingga Center Of Excellence (Sustainbility Accounting dan Akuntansi Desa). “CoE yang kami miliki ini tidak hanya membantu mempercepat studi, tapi juga membantu mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman bidang profesi akuntansi tertentu sehingga fit and proper untuk bekerja. Ini tentu mendukung poin kesesuaian bidang pekerjaan dalam akreditasi,” jelas Leni. Terakhir, ia menegaskan prodi Akuntansi UMM akan selalu berproses dan berprogres. Tentu langkah untuk mengajukan akreditasi internasional akan segera dilakukan. Diawali dengan pengakuan di tingkat ASEAN dalam bidang akuntansi yang berdasarkan nilai-nilai Islam. “Untuk mewujudkan harapan tersebut, kami sudah merintis kelas internasional mulai tahun 2020. Kami juga sudah melakukan kerjasama dengan Universiti Teknologi Mara (UITM) Malaysia, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) Malaysia dan Asia University (AU) Taiwan. Sedangkan untuk memperkuat hubungan kerjasama perguruan tinggi dalam Negeri kami sudah melaksanakan berbagai kerjasama yang mana tergabung dalam Nationwide University Network in Indonesia (NUNI),” pungkasnya. (ros/wil) Penulis: Rosihan Anwar | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Amcor UMM Sediakan Fasilitas Kenali Amerika Serikat

American Corner (Amcor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu tempat menarik untuk mengembangkan wawasan internasional. Utamanta dalam mempelajari beragam hal terkait Amerika Serikat, mulai dari studi, riset hingga budaya. Adapun Amcor UMM ini merupakan fasilitator kerjasama resmi dengan pihak berwenang Amerika di Indonesia. Ria Arista Asih, Ph.D. selaku Direktur Amcor Kampus Putih mengatakan bahwa corner tersebut memang berada di bawah naungan US Embassy. Di samping itu juga telah bermitra dengan My America Jakarta dan Surabaya. Maka, ada banyak fasilitas dan kegiatan menarik yang selalu dihadirkan oleh Amcor UMM. Lebih lanjut, UMM menjadi satu-satunya kampus yang memiliki Amcor di Kota Malang sekaligus yang kedua di Jawa Timur. Total, ada sepuluh Amcor yang tersebar di seluruh Indonesia. “Jadi, para mahasiswa bisa berkunjung di jam-jam operasional. Bisa datang ketika ada agenda maupun hanya sekadar bermain untuk menambah wawasan dan melatih bahasa Inggris,” tambahnya. Adapun Amcor Kampus Putih memiliki sederet fasilitas yang patut dicoba. Tidak hanya terbatas bagi mahasiswa UMM, tapi juga bagi masyarakat lain. Ada ratusan koleksi buku berbahasa Inggris, majalah internasional, akses jurnal internasional, hingga sederet komputer. Bahkan ada pula beragam board games, akses internet yang cukup cepat, DVD dan dilengkapi dengan ruangan yang nyaman. “Amcor UMM ini saya rasa bias menjadi rujukan tempat untuk berdiskusi, belajar bahkan juga bermain bagi para mahasiswa. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang menarik pula,” ungkap Ria. Selain fasilitas, Ria mengatakan bahwa pihaknya juga menyediakan program rutin tiap minggunya. Salah satunya adalah English Speaking Buddy yang memungkinkan pengunjung untuk meningkatkan skill bahasa Inggris. Adapula yaitu Students Takeover, di mana para mahasiswa yang berkuliah di luar negeri bisa menunjukkan bagaimana kondisi dan situasi belajar di tempat studinya. Kemudian ada juga Miscellaneous atau program live discussion yang membahas lebih dalam mengenai isu-isu yang sedang hangat. “Kami juga memberikan banyak info menarik serta idiom-idiom yang bisa digunakan untuk memperbagus bahasa Inggris melalui akun Instagram kami di @amcorumm,” pungkas Ria. (zak/wil) Penulis: Novia Zahrotun Zakiyatina | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Mahasiswa UMM Sukses Raih Beasiswa IISMA 2022

Kabar gembira kembali datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, enam mahasiswa Kampus Putih sukses meraih beasiswa Indonesian International Student Mobility Award (IISMA) 2022 dari Kemendikbud-Ristek Republik Indonesia. Adapun mereka akan berangkat ke kampus dan negara tujuan masing-masing pada semester depan. Koordinator program mobilitas internasional mahasiswa International Relation Office (IRO) UMM, Very Kurnia Aditama, M.Pd. menjelaskan bahwa beasiswa ini memungkinkan mahasiswa untuk merasakan studi di luar negeri. Mereka juga akan dibiayai oleh pemerintah tanpa harus melakukan cuti. Hal tersebut dikarenakan agenda tersebut menjadi bagian dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Very, sapaan akrabnya menilai bahwa IISMA 2022 lebih kompetitif ketimbang tahun lalu. Terlihat dari perbedaan jumlah pendaftar yang awalnya 2000 mahasiswa pada 2021 menjadi 7000 mahasiswa pada tahun ini. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi juga lebih detail dan rigid. Adapun pada tahun ini, ada 43 mahasiswa UMM yang mendaftar dan enam di antaranya diterima di universitas tujuan. “Ada mahasiswa yang diterima di Hanyang University Korea Selatan, di University of Liverpool dan juga di University if Szeged Hungaria. Adapula yang akan berangkat ke Universiti Teknologi Malaysia dan tentu saja University of Sussex, Inggris,” tambah pria kelahiran Bojonegoro tersebut. Terkait persiapan, ia dan tim sudah memberikan pelatihan bahasa selama dua bulan sebelum para mahasiswa mendaftar. Tidak hanya pelatihan IELTS, tapi juga TOEFL bahkan duolingo. Harapannya, ada banyak yang terjaring ke tahap wawancara dan akhirnya diterima di salah satu tujuan universtas masing-masing mahasiswa. Satu kendala yang Very dan tim temui adalah persiapan berkas. Selain banyak yang harus disiapkan, prosesnya juga panjang dan butuh ketelitian. Apalagi banyak dari mahasiswa yang berada di luar kota Malang, sehingga prosesnya cukup memakan waktu. Meski begitu, semua bisa diatasi dan selesai tepat waktu. “Kami tentu berharap antusiasme mahasiswa bisa meningkat pada pendaftaran tahun depan sehingga smeakin banyak yang turut serta dan memperbesar kemungkinan untuk diterima. Selain itu, peran kampus menjadi salah satu hal penting agar potensi dan kesempatan mahasiswa untuk merasaka  studi di luar negeri semakin besar. Semoga di IISMA selanjutnya, UMM bisa mengirimkan lebih banyak mahasiswa untuk belajar,” pungkasnya. (wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain