Bayu, Staf UMM Cerita Keunikan Puasa di Negeri Paman Sam

Menjalani bulan ramadan di negara orang merupakan suatu tantangan tersendiri. Terlebih jika negara yang sedang ditinggali memiliki penganut muslim yang minoritas. Hal itulah yang sedang dirasakan oleh Bayu Dharmala, salah satu staf Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menuntut pendidikan strata dua di The University of Arizona, Amerika Serikat. Bayu, sapan akrabnya menceritakan bahwa suasana ramadhan dan hari biasa di Amerika, khususnya Arizona terasa sama. Hal ini terjadi karena pemeluk muslim merupakan minoritas di daerah tersebut. Tidak terasanya suasana ramadhan di Amerika membuat anak tunggal tersebut harus mandiri dalam mempersiapkan sahur maupun berbuka puasa. Pelaksanaan bulan puasa yang bertepatan dengan musim panas di Amerika juga menjadi tantangan tersendiri. “Ramadhan di Indonesia identik dengan kajian ramadan, patroli untuk membangunkan sahur, takjil, dan lain sebagainya. Namun suasana tersebut tidak dapat saya rasakan di Arizona. Oleh karena itu saya tidak bisa mengandalkan suara azan maupun suara orang patroli untuk mengetahui waktu sahur dan berbuka puasa. Saya hanya mengandalkan alarm di smartphone sebagai penunjuk waktu,” ungkap alumni UMM asal Pasuruan itu. Lebih lanjut, Bayu mengatakan bahwa waktu untuk berpuasa di Amerika berlangsung lebih lama di lbanding jika berada di Indonesia. Total waktu puasa di Amerika adalah 14 jam 30 menit. Sahur dimulai pukul 04.30 sampai 04.45 lalu waktu berbuka puasa adalah pukul 19.00. Sementara itu untuk waktu solat tarawih dimulai pada pukul 20.00 malam. “Di Arizona, ada satu masjid yang dekat dengan tempat tinggal saya, bernama Susan Islamic Centre. Di masjid tersebut biasanya saya melaksanakan salat tarawih berjamaah bersama dengan masyarakat muslim lainnya di Arizona. Ada beberapa hal unik yang saya alami selama menjalani solat tarawih disini. Salah satunya adalah jumlah rakaat solat yang tidak biasa. Di sini, solat tarawih berjumlah 10 rakaat dan disusul solat witir berjumlah tiga rakaat. Jadi total solat tarawih di Arizona adalah 13 rakaat,” kata Bayu. Adapula hal unik lainnya juga dialami oleh Bayu. Banyak teman-teman kuliahnya yang belum mengerti akan puasa. Karena hal tersebut, pada waktu makan siang beberapa teman sering memberi Bayu makanan berupa roti maupun coklat. “Kadang saya bingung bagaimana menolak pemberian mereka tanpa menyakiti hati. Biasanya saya menerima makanan yang diberikan lalu saya simpan untuk berbuka puasa,” ujar Bayu. Meskipun tidak bisa merasakan ramadan seperti di Indonesia, Bayu mengatakan bahwa suasana ramadhan bisa ia dapatkan dari komunitas muslim yang ada di Arizona, yaitu Muslim Student Association (MSA). Komunitas ini sering mengadakan buka puasa bersama seminggu sekali. “Berkat berkumpul bersama saudara-saudara muslim lainnya di Arizona, saya jadi merasakan bagaimana suasana ramadan. Meskipun tidak bisa menjalani puasa seperti tahun-tahun sebelumnya, namun perbedaan yang ada membuat saya memaknai lebih dalam mengenai arti bulan ramadhan,” tandasnya. (Syi/Will) Penulis: Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Iktikaf UMM: FGD dan Penguatan Spiritual Sivitas Akademika

Sepuluh hari terakhir Ramadan, umat muslim dianjurkan memperbanyak ibadah dan kebaikan. Salah satunya melalui aktivitas iktikaf. Melihat akan hal itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan rangkaian agenda iktikaf yang dilaksanakan di Masjid AR Fachruddin UMM. Adapun acara yang dilaksanakan di sepuluh hari terakhir ini dibagi menjadi empat kelompok yakni, iktikaf dosen laki-laki, dosen perempuan, karyawan laki-laki, dan karyawan perempuan. Muhammad Edi Sucipto, S.Pd.I. selaku Ketua Panitia menjelaskan bahwa acara ini sudah menjadi tradisi UMM di bulan ramadhan setiap tahun. Namun pelaksanaannya sedikit berbeda dibandingkan dengan tahun lalu. Jika ramadan sebelumnya para peserta diharuskan menginap, kali ini mereka hanya mengikutinya sampai jam sebelas malam. Agenda yang disiapkan juga berfokus pada diskusi terpumpun serta penguatan spiritual. “Iktikaf yang menjadi bagian dari Syiar Ramadan UMM ini juga kami nilai sebagai bentuk follow akan materi-materi yang sudah disampaikan di Baitul Arqam,” tambahnya. Edi, sapaan akrabnya kembali menjelaskan bahwa FGD dalam Iktikaf ini membahas terkait masalah-masalah yang biasa warga muslim hadapi. Dimana, setiap kelasnya akan dibimbing dan didampingi oleh seorang instruktur. Setelah berdiskusi, Edi melihat akan banyak pertanyaan yang muncul terkait isu yang dibahas. Salah satu contohnya yakni kasus perbedaan tanggal awal Ramadan maupun idul fitri. Setelah sesi pleno dengan pemateri, acara ini ditutup dengan tadarus dan tadabur Alquran. Hal ini dilakukan sebagaimana pembelajaran pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan yang sering mengkaji dan mengamalkan Alquran. Pria asli Tuban ini berharap, agenda ini bisa terus dilanjutkan pada bulan Ramadan tahun-tahun berikutnya. Apalagi melihat antusiasme peserta juga tinggi. Bahkan beberapa juga menginginkan ada agenda serupa di luar Ramadan. Dengan begitu, mereka bisa dengan mudah mengisi ulang semangat untuk menjadi orang yang lebih baik. “Iktikaf Ramadan ini juga bisa digunakan sebagai salah satu forum silaturahmi antar karyawan dan dosen. Jadi bisa lebih saling mengenal sehingga lingkungan kerjanya juga ikut membaik dan mampu membangun layanan pendidikan yang baik pula,” pungkas Edi. (Syi/Wil)
RBC UMM Kaji Pemikiran dan Keteladanan Malik Fadjar

Ibarat bahan bakar dalam sebuah kendaraan, begitulah pentingnya literasi dalam membentuk paradigma humanis, damai, dan luwes. Inilah gagasan utama yang mencuat dalam Tadarus Pemikiran A. Malik Fadjar yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Cerdas (RBC) Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (20/4) lalu. Membuka jalannya diskusi, Dr. Nazaruddin Malik, M.Si selaku Wakil Rektor II UMM menjelaskan bahwa pemikiran Malik fadjar, Menteri Pendidikan RI periode 2001-2004 berangkat dari imajinasi yang kuat tentang buku dan perpustakaan. Kehidupan Malik selalu dekat dengan buku. Bahkan, dalam banyak kesempatan, kedekatan Malik dengan berbagai macam referensi, menjadikannya sebagai salah satu sosok pemikir unggul yang memiliki visi jauh melampaui zaman. Menurut Nazar, apa yang dilakukan Malik terkait perpustakaan semakin relevan untuk hari-hari ini. Sebut saja fenomena lunturnya ruh literasi masyarakat yang berakibat pada jebakan hoaks dan ekstrimisme. Tentu, perpustakaan sebagai wadah literasi adalah lokus alternatif untuk mewujudkan lahirnya pemikiran-pemikiran humanis yang luwes dan santun. Tidak pula gumunan dan ekstrem. Maka itu, Tadarus Pemikiran Islam A. Malik Fadjar yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur tersebut, dimaksudkan untuk menggali percikan-percikan pemikiran Pak Malik. Utamanya pemikiran yang selalu mengandung kesegaran dan keteladanan yang bersimpul pada satu kata kunci, yakni literasi. Sebagai tokoh pendidikan yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Malik Fadjar juga selalu melahirkan terobosan-terobosan yang tidak hanya segar, tetapi juga humanis. Hal itu disampaikan oleh Wakil Rektor I Kampus Putih Prof. Syamsul Arifin. Menurutnya, Malik senantiasa memaparkan gagasan-gagasan yang fokus pada masa depan. “Pak Malik adalah inspiring teacher dan living curriculum yang pemikirannya tidak hanya transformatif, tapi jauh cenderung futuristik, berorientasi masa depan.” ujarnya. Lebih lanjut, kekuatan gagasan Malik jauh terlihat unsur futuristiknya, meskipun sisi-sisi transformatifnya juga terlihat. Dalam hal ini, pergumulan kekuatan literasi dan aktivisme Pak Malik, mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran baru khususnya dalam dunia pendidikan. Hal ini terlihat dari bagaimana Pak Malik mampu mengembangkan UMM menjadi salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. Hal senada juga disampaikan oleh Pradana Boy ZTF, Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam UMM. Percikan pemikiran Islam Malik bisa dilihat melalui tiga sumbu utama, yakni Islam sebagai ilmu, pemahaman Islam yang terbuka dan proporsional, dan Islam yang melampaui formalisme. Pemikiran Islam sebagai ilmu yang terinspirasi oleh Kuntowijoyo itu tentu terdorong oleh kekuatan semangat membaca Malik yang kemudian ditelurkan ke dalam gagasan yang kontekstual. Wujud paling nyata dari semangat itu bisa dinilai dari upaya Malik memperkenalkan wacana membangun ‘keilmuan dan keislaman’ saat ia menjabat sebagai rektor Kampus Putih serta Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam pemikiran Malik, Islam tidak hanya bertumpu pada hal-hal yang berkutat pada ibadah semata, melainkan juga inspirasi pembangunan peradaban. Dalam hal ini, Malik Malik berusaha membawa Islam melampaui sekat-sekat formalisme. “Misalnya, ketika Pak Malik berbicara tentang arabisme, ada semacam bias antara keislaman dan kearaban,” terang Boy. (wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Kepedulian Bengkel Rinjani UMM lewat Bukber dan Sahur on The Road

Bulan Suci Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, baik untuk memperoleh pahala maupun untuk menyambung tali silaturahmi. Hal itu mendorong Bengkel Rinjani Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menggelar buka bersama (bukber), berbagi takjil, serta sahur on the road (SOTR) selama Ramadan. Ratusan takjil, makanan dan minuman dibagikan sebagai upaya memanfaatkan bulan Suci. Aktivitas ini turut diramaikan oleh lembaga kursus pelatihan RSDC, instruktur pelatihan mekanik, siswa RSDC, Komandan Dohar Alutista Arhanud, Muhammadiyah University Riders (MURid), UMM Adeventure (UMMad), UPT Pujon Hills dan beberapa kolega. Adapun agenda buka bersama dan bagi takjil berlangsung pada Kamis (21/4) lalu. Dimulai sejak sore hingga menjelang berbuka. Usai membagikan makanan, Bengkel Rinjani juga menyediakan tausiyah sebelum berbuka kemudian ditutup dengan ramah tamah. General Manager Bengkel Rinjani UMM, Eka Kadharpa Utama Dewayani, SE. MM. mengatakan bahwa pada dasarnya rangkaian agenda tersebut bertujuan untuk membagi rezeki ke sesama. Selain itu juga sebagai wadah silaturahmi dengan para stakeholder. Menurutnya, Ramadan menjadi awal yang baik untuk membangun kebiasaan yang mulia, salah satunya berbagi. “Acara ini juga bertujuan untuk membangun jejaring dengan kawan-kawan lain. Di samping itu juga sebagai tempat untuk saling bertukar pengalaman da inovasi. Kita kan hidup di lingkungan bisnis, maka sudah barang tentu memerlukan jaringan yang banyak untuk melancarkannya. Intinya ya silaturahmi,” ungkapnya. Tidak berhenti sampai di situ, tim Bengkel Rinjani juga melangsungkan SOTR dua hari kemudian. Berangkat sejak pukul dua belas dini hari, mereka membagikan ratusan paket makanan kepada para masyarakat yang membutuhkan. Tidak terbatas pada pemulung saja, tapi juga pekerja proyek, tukang becak, petugas pembersih sampah dan lainnya. “Saya rasa ini juga satu upaya kita membiasakan kawan-kawan untuk menebar kebaikan. Tidak hanya di bulan Ramadan saja, tapi juga di hari-hari lain,” tambah dosen asli Malang tersebut. Eka, sapaan akrabnya berharap kegiatan bagi-bagi ini bisa terus dilanjutkan dan dijadikan kegiatan rutin bulanan. Menurutnya, bulan suci hanyalah awal. Semua kebaikan harus terus dilanjutkan baik ibadah kepada Allah SWT maupun menebarkan kebaikan ke sesama. (Ros/Wil)
Baksos di Pujon dan Ngantang Akhiri Rangkaian Syiar Ramadan UMM

Kegiatan bakti sosial (Baksos) akhiri rangkaian panjang Syiar Ramadan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Membawa rombongan besar, tim Kampus Putih berangkat menuju lokasi, yakni Pujon dan Ngantang, Kabupaten Malang pada Rabu (27/4). Adapun baksos ini merupakan bagian dari program UMM Berbagi untuk Negeri yang sudah dilaksanakan Kampus Putih sejak lama. Sebelumnya, UMM berbagi untuk negeri telah melaksanakan beragam kegiatan. Mulai dari berbuka bersama Lapas Prempuan, berbagi hewan kurban, menyambangi korban bencana gempa, dan lain sebagainya. Pada kesempatan kali ini, tim UMM tidak hanya memberikan bantuan berupa sembako, tapi juga menyediakan pemeriksaan kesehatan untuk masyarakat dan konsultasi parenting. Selain itu juga mengajak bermain anak-anak, mendongeng hingga menyuguhkan bacaan menarik melalui mobil Kamis Membaca (KaCa) dan Bakti terhadap Negeri (Terbang). Rombongan Muhammadiyah University Riders (MURid) juga menyertai baksos kali ini. Melepas keberangkatan rombongan baksos, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menilai bahwa aktivitas ini menjadi upaya Kampus Putih untuk turut serta membagi berkah. Utamanya di bulan suci Ramadan yang sebentar lagi berakhir. Ia juga menyampaikan bahwa UMM siap memberikan kontribusi untuk negeri dengan berbagai kegiatan. Utamanya yang mampu memberikan senyuman. Nazar, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa alokasi dana yang digunakan bersumber dari infaq para karyawan dan dosen serta masyarakat luar yang juga ingin berkontribusi. Para donatur juga turut memberikna sumbangsih sehingga dana yang terkumpul bisa disalurkan dengan baik kepada mereka yang membutuhkan. “Semoga apa yang kita upayakan ini mendapatkan rida dari Allah SWT. Saya juga berharap model baksos yang dilakukan ke depannya bisa dikembangkan dan disleenggarakan dengan bentuk yang lain,” tambahnya. Sementara itu, Koordinator Baksos dr. Sri Adila Nurainiwati, Sp.KK. mengatakan bahwa pihaknya membawa banyak rombongan yang memiliki perannya masing-masing. Sebut saja mobil pick up yang membawa paket sembako, Mobil KaCa yang menyediakan permainan dan bacaan, Mobil terbang yang juga menyediakan bingkisan bagi anak-anak yang hadir, dan sederet rombongan lain. “Tidak lupa, kami juga membawa mobil ambulance dengan beberapa dokter untuk menyediakan pemeriksaan kesehatan serta konsultasi parenting gratis kepada masyarakat. Dengan begitu, mereka bisa mengetahui kondisi kesehatan sehingga dapat segera diatasi jika ternyata menderita penyakit,” tuturnya. Ninin, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pihaknya akan menyasar dua lokasi, yakni Pujon dan Ngantang. Adapun penyerahan bantuan telah diberikan di SDN Bendosari 1 Pujon yang langsung diterima oleh Kepala Desa. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan dan pelaksanaan program di Ngantang. “Kami juga melangsungkan berbuka bersama para warga untuk memperkuat persaudaraan. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa menginspirasi teman-teman lain untuk turut serta membagi dan mengadakan agenda yang sama demi menyunggingkan senyum ke sesama,” tambahnya. Kunjungan UMM disambut baik oleh masyarakat, salah satunya Vanessa Aulia Triananta yang ikut bermain bersama tim Mobil KaCa. Ia merasa senang bisa ikut bersenang-senang bernyanyi bersama, serta mendapatkan hadiah dari kakak-kakak Mobil KaCa Kampus Putih. “Menyenangkan sekali bisa bermain beragam permainan bersama teman-teman. Apalagi ada buku-buku menarik dengan gambar-gambar bagus yang bisa kami baca. Terimakasih kakak-kakak,” tutur Vanessa. (*wil)
Pengalaman Mahasiswa UMM Berpuasa di Uni Emirat Arab

Dapat menjalani puasa ramadhan di negara dengan kebudayaan Islam yang kental seperti Uni Emirat Arab merupakan impian bagi sebagaian masyarakat muslim. Keberuntungan tersebut datang kepada Lutfiana Sausan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menjalani program pertukaran pelajar Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2022 di Abu Dhabi. Pertama kali menjalani bulan ramadhan di negara orang membuat Lutfi memiliki segudang pengalaman baru. Lutfi menjelaskan kalau waktu sahur dan berbuka selalu berbeda di tiap harinya. Dari hari kehari waktu salat subuh terus maju, sementara waktu untuk salat magrib terus mundur. Hal ini membuat waktu puasa semakin panjang tiap harinya. Selain itu Iklim di Abu Dhabi sangat panas. Pada siang hari suhu bisa mencapai 42 derajat celsius. Dengan iklim yang sepanas itu, anak terakhir dari tiga bersaudara ini mengaku bahwa ia sangat menghindari kegiatan di luar ruangan selama siang hari. “Awal puasa saya sahur pukul 04.30 dan berbuka pukul 18.48. Namun sekarang saya sahur pukul 04.26 dan berbuka pada pukul 18.55. Karena perbedaan waktu yang sering terjadi, saya dan teman-teman harus memperhatikan waktu dengan lebih baik,” ujar mahasiswa teknik industri tersebut. Sementara itu, untuk menunaikan ibadah salat tarawih Lutfi memilih masjid terbesar ketiga di dunia yaitu Masjid Agung Sheikh Zayed. Lutfi bercerita, untuk menuju ke Masjid Agung Sheikh Zayed, ia dan teman-teman harus menempuh jarak sejauh 14 kilometer tiap harinya. Dengan jarak tersebut Lutfi memerlukan waktu satu jam menggunakan bus dan 14 menit menggunakan taksi. “Secara umum, pelaksanaan salat tarawih di sini sama seperti di Indonesia. Cuma, untuk sepuluh hari terakhir solat tarawih dan witir dipisah. Pelaksanaan salat witir akan dilangsungkan tengah malam bersamaan dengan salat tahajud. Hal yang membuat saya takjub adalah dengan luas masjid yang sebesar itu, tiap hari selalu penuh dengan orang. Protokol covid juga diterapkan dengan ketat, salah satu contohnya adalah pembagian disposable prayer mat sekali pakai kepada para jamaah,” ungkap Lutfi. Pengalaman unik lain yang ia alami adalah bisa merasakan makanan dari seluruh dunia. Di awal bulan ramadhan, Lutfi dan mahasiswa internasional lainnya melakukan buka puasa bersama di asrama. Masing-masing mahasiswa membawa makanan khas dari negaranya. “Biasanya untuk berbuka puasa, saya membeli roti khas mesir bernama Umm Ali. Roti tersebut sekaligus menjadi makanan favorit saya selama di sini. Namun pada saat berbuka bersama dengan mahasiswa internasional lain, saya merasa sangat terpukau karena meja makan kami dipenuhi dengan makanan-makanan internasional yang baru pertama kali saya lihat. Ada satu makanan yang menjadi favorit saya saat itu yaitu olahan daging dengan yoghurt serta terdapat taco diatasnya,” jelas mahasiswa asal Malang itu. (*/wil)
KBB UMM Berbagi Kasih lewat Makanan Berbuka

Berbagi dan menebar kebaikan menjadi salah satu komitmen yang tidak hanya dipegang teguh oleh Universitas Muhammadiyah malang (UMM) sebagai instansi. Para sivitas akademika Kampus Putih juga melakukannya dengan konsisten. Salah satunya pembagian menu buka oleh Kelompok Berbuat Baik (KBB) UMM. Setiap harinya, mereka membagikan lebih dari 230 nasi kotak bagi para jamaah dan masyarakat selama bulan Ramadan. Thathit Manon Andini, M.Hum. selaku bendahara menjelaskan bahwa aktivitas ini sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu. Berawal dari program Jumat berbagi, kemudian berlanjut dan dikembangkan pada bulan suci Ramadan. Menariknya, banyak dosen dan karyawan yang turut memberikan sumbangan sehingga jumlah nasi yang diberikan selalu bertambah. “Bukan hanya yang masih aktif, namun banyak pula dosen dan karyawan pensiun yang turut serta dalam kegiatan berbagi ini. Kami juga membuka kesempatan bagi pihak luar untuk ikut serta berdonasi dalam setiap kegiatan yang kami lakukan,” tambahnya. Thatit, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa pembagian makanan tersebut dilakukan setiap hari di Masjid AR. Fachruddin UMM dan Masjid KH Bedjo Dermo Leksono RS UMM. Sebagian juga dibagikan kepada masyarakat untuk menu berbuka. Bahkan dulu sebelum pandemi, tidak hanya dua masjid saja tapi KBB juga menyediakannya di seluruh masjid UMM. Menariknya, KBB tidak hanya melakukan kegiatan rutin semacam ini. Ada program insidental yang sering dilangsungkan, seperti pemberian stroller bagi mereka yang membutuhkan. Begitupun dengan penyaluran donasi ke para korban bencana yang beberapa waktu lalu terjadi. “Alhamdulillah, sampai saat ini ada lebih dari 50 trolly yang kami bagikan kepada masyarakat yang membutuhkan seperti para penjual jamu. Saat membuka donasi, para warga juga sangat antusias dengan memberikan hal-hal terbaiknya,” ungkap dosen asal Kediri tersebut. Thatit juga ingin agar KBB bisa menjadi salah satu wadah untuk berbagi dan membantu sesama. Di samping itu, KBB juga ingin bisa terus memfasilitasi para dosen dan karyawan untuk aktif berbagi serta menyisihkan sebagian hartanya. “Kalau membaginya secara individu sendiri-sendiri, saya rasa akan sulit dan kurang efektif. Berbeda kalau pembagiannya dilakukan secara kolektif dan bersama. Insyaallah lebih mudah dan efisien serta lebih cepat sampai kepada mereka yang membutuhkan,” pungkas dosen prodi Bahasa Inggris tersebut. (*wil)
Ahda, Mahasiswa UMM Habiskan Ramadan di Negeri Gajah Putih

Menghabiskan bulan ramadhan di negara minoritas muslim merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hal itu pula yang dialami oleh Ahda Mutiari Hifdhi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menjalani program pertukaran pelajar Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA) 2022 di Thailand. Selama hampir sebulan menjalani puasa di negeri orang, Ahda, sapaan akrabnya menceritakan berbagai pengalaman menarik yang ia alami di bulan Ramadan tahun ini. Mayoritas masyarakat Thailand adalah penganut Budha. Ahda mengatakan hanya minoritas kecil masyarakat yang menganut agama selain Budha, termasuk agama Islam. Oleh karena itu, suasana Ramadan di negara gajah putih tersebut terasa seperti hari-hari biasa. “Saya berada di daerah Hat Yai yang memiliki populasi pemeluk Islam lumayan banyak, namun bulan Ramadan tetap tidak terasa seperti di Indonesia. Menemukan masjid juga sangat susah di daerah ini. Oleh karenanya, untuk salat tarawih biasanya saya dan teman muslim saya lakukan di kamar masing-masing. Kadang kami juga melakukan salat berjamaah. Untuk waktu azan dan imsak, kami mengandalkan pemberitahuan dari smartphone,” ujar mahasiswa program pertukaran pelajar di Prince of Songkla University Hat Yai Campus tersebut. Meski tidak bisa melaksanakan ibadah Ramadan seperti di Indonesia, anak pertama dari dua bersaudara itu mengatakan bahwa toleransi antar agama di Thailand sangat baik. Di sekitar tempat tinggalnya, ia bisa menemukan banyak makanan halal. Ada satu momen unik yang Ahda alami ketika akan membeli makanan, yaitu penjual yang dengan jujur mengatakan bahwa makanannya haram dikonsumsi oleh muslim. “Waktu itu, saya dan teman sedang memesan makanan di salah satu rumah makan. Namun sang pemilik dengan baik hati mengingatkan kami bahwa makanan yang ia jual mengandung bahan yang haram bagi muslim. Di situ saya sangat merasa berterimakasih dan takjub karena sang penjual rela kehilangan pembeli demi mengingatkan kami,” kenang Ahda. Menariknya lagi, beberapa hari sebelumnya, Ahda mendatangi salah satu festival yang bertepatan bulan puasa, yakni Festival Songkran. Meski bukan festival Ramadan, namun ia dan kawan-kawannya merasa senang karena banyak makanan yang bisa dicoba serta suasana yang ramai. “Jadi festival itu sebenarnya untuk memperingati tahun baru Thailand. Saya dan teman-teman juga menyempatkan berbuka puasa di agenda tersebut,” tambahnya. Lebih lanjut, Adha mengaku kalau ia merindukan makanan-makanan Indonesia, terutama menu takjil yang gampang ditemui di jalan-jalan Indonesia. Untuk mengobati rasa rindunya, ia sering pergi ke pasar untuk mencari jajanan khas Thailand yang mirip dengan takjil Indonesia. “Untuk berbuka puasa, saya suka beli Thai tea atau mango sticky rice karena rasanya manis. Lalu untuk makan beratnya, saya suka sup daging kuah tom yum bening pakai nasi atau kalau lagi bosan saya beli pad thai atau clear noodle soup. Meskipun begitu, saya sangat rindu makanan Indonesia. Saya sampai membuat list makanan dan minuman yang akan saya makan ketika pulang, seperti kolak, nasi padang, dan bakso,” ujar mahasiswa asal Purwokerto ini. Selain rindu makanan Indonesia, mahasiswa teknik industri UMM ini juga mengaku sangat merindukan keluarganya di Indonesia. oleh karenanya ia sering berbagi foto makanan dan minuman apa yang ia konsumsi kepada keluarga. “Saya sering video call ketika ada waktu senggang. Keluarga juga sering menanyakan menu berbuka maupun sahur saya. Itu cukup mengobati rasa rindu yang saya rasakan selama di Thailand,” ucapnya mengakhiri. (Syi)
Bareng Mahasiswa Asing, UMM Wujudkan Mimpi Anak-anak YPAC Naik Bis Keliling Kota

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu berkomitmen untuk menebar manfaat dan membantu sesama. Terbaru, tim Kampus Putih mengajak anak-anak Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang untuk jalan-jalan berkeliling kota. Dilanjutkan dengan sederet hiburan, menonton film bareng, penyerahan donasi dan mainan anak-anak, cerita dongeng, bermain permainan asyik hingga berbuka bersama pada Sabtu (23/4) lalu. Anak-anak YPAC juga diajak naik bis melewati alun-alun, balai kota, velodrome hingga lapangan rampal. Mereka terlihat antusias dan sering bertanya kepada para mahasiswa yang menjadi pemandu. Menariknya, ada beberapa mahasiswa asing Kampus Putih yang turut serta dan terjun menghibur. Dalam agenda itu pula, Kampus Putih memberikan donasi dan sekardus mainan. Kemudian menutup hari dengan berbuka puasa bersama para penghuni YPAC Malang. Koordinator acara, M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa acara ini merupakan “hutang” yang belum terlaksana pada 2018 lalu. Saat itu tim UMM berkunjung dan menanyakan kepada anak-anak YPAC, cita-cita apa yang ingin dilakukan. “Kemudian banyak dari mereka yang ingin berkeliling kota dengan mengendarai bis, melihat hal-hal menarik yang jarang mereka jumpai di luar. Sempat terkendala karena pandemi, Alhamdulillah mimpi sederhana mereka dapat Kampus Putih kabulkan di tahun 2022 ini,” ungkapnya. Krisna, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa tim Kampus Putih sengaja mengajak mahasiswa asing untuk turut serta. Hal itu dirasa bisa meningkatkan rasa kepedulian serta kemanusiaan. Sekalipun masih dibatasi oleh sekat bahasa yang ada. “Ini ada beberapa teman teman asing yang memang baru datang dan belajar Bahasa Indonesia. Kosa katanya masih terbatas namun sama sekali tidak membatasi untuk menebar kebahagiaan dan senyum bersama teman-teman YPAC,” tambah Dosen Bahasa Indonesia UMM itu. Adapun kerja sama dan agenda ini akan selalu dilakukan Kampus Putih di masa yang akan datang. Tidak hanya di YPAC saja, tapi juga di sederet instansi lain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang diupayakan oleh UMM. Sementara itu, Ketua Yayasan YPAC Malang Iswahyudi Budi Susetya mengtakan bahwa pihaknya baru saja membuka kunjungan. Sebelumnya, YPAC tidak menerima kunjungan karena masih berada di situasi pandemi dan angka penularan yang tinggi. Yudi, sapaan akrabnya mengaku bahwa biasanya banyak mahasiswa yang menyempatkan datang. Bermain bersama adik-adik YPAC dan bernyanyi bersama. Ia juga bersyukur masih banyak masyarakat yang memperhatikan yayasan ini, salah satunya UMM. “Kampus Putih memang sudah dari lama ingin mampir dan mengajak adik-adik berkeliling kota. Alhamdulillah bisa terlaksana pada sore hari ini,” kata pria asli Malang tersebut. Yudi juga menekankan bahwa YPAC yang berdiri sejak 1955 ini adalah milik masyarakat. Ia sangat berterimakasih kepada para donatur yang memberikan banyak hal bagi para penghuni. Ditambah lagi dengan banyaknya social worker yang membantu melaksanakan kegiatan sehari hari. “Kami tentu menerima segala bantuan selama itu berguna bagi adik-adik di sini. Kami juga berharap YPAC Malang mampu berjalan dengan mandiri,” pungkas Yudi. (Wil)
Dua Mahasiswa Fisioterapi UMM Raih Penghargaan di PIMAF

Rentetan Prestasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berlanjut di bidang akademik. Kali ini Syi’ar Aprillia Tanazza dan Lina Mitsalina Erawati, dua mahasiswa Fisioterapi UMM berhasil meraih Best Speaker dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Fisioterapi (PIMAF). Adapun event tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia (IMFI), pada Rabu (20/4) lalu. Syi’ar Aprillia selaku perwakilan tim meyebutkan bahwa paper penelitian yang diikutsertakan pada perlombaan ini berjudul “Analisis FIntervensi Fisioterapi Pada Penyekit Parkinson Menggunakan Vosviewer”. Paper itu menjelaskan terkait penyakit parkinson disease serta cara pencegahan dan penyembuhannya. Adapun parkinson desease adalah penyakit yang menyerang sistem syaraf. Mengganggu kemampuan tubuh dalam mengendalikan dan mengontrol gerakan. “Selain itu, parkinson ini memiliki efek nyeri otot dan tremor pada tubuh. Biasanya parkinson menyerang dan diderita mereka yang berumur 50 tahun keatas,” jelasnya. Ada tiga terapi untuk parkinson, baik itu untuk mencegah ataupun menyembuhkan. Pertama yakni intervensi konvesional yang lebih memaksimalkan kemampuan fisioterapis dan latihan penguatan. Selanjutnya intervensi modern yang mengedepankan teknologi yang dapat memulihkan syaraf, salah satunya infra merah. Terakhir yakni intervesi music and dance yang menjadi inovasi pengobatan parkinson di Indonesia. Para pasien diajak menari dengan mengikuti irama musik yang mana memberikan efek rileks untuk syaraf. “Intervesi musik dan tari ini bisa diaplikasikan di sini dengan menggunakan tari lokal Indonesia, mengingat intervensi ini baru dilakukan di Argentina dengan tari Tango,” ucapnya. Mahasiswa asli Sumbawa ini menceritakan bahwa selama presentasi, ia dan tim tidak mengalami kegugupan dan sudah menyiapkan persiapan matang. Mulai dari pendalaman materi, penguasaan panggung hingga dan yang paling penting adalah upaya untuk memberikan pemahaman bagi audiens. Persipan tersebut pun tidak sia-sia, bahkan membuahkan hasil dengan predikat best speaker pada ajang PIMAF ini. Namun, bukan berarti keberhasilan tersebut tanpa diiringi dengan halangan. Salah satu yang ditemui adalah kurangnya penelitian terbaru yang mengkaji materi terkait. Di akhir wawancara, ia berharap intervensi musik dan tari ini bisa dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia. Apalagi mengingat Indonesia memiliki budaya tari yang bermacam-macam. Sehingga dapat meningkatkan kesembuhan penderita parkinson. Ia juga berharap semangat penelitian dan belajar tetap membara dalam diri semua mahasiswa. “Jangan pernah takut berkompetisi karena dengan ajang itulah kita bisa mengukur kemampuan diri serta mengetahui luasnya dunia. Kemudian kita bisa meningkatkan dan memperbaiki diri sehingga mampu berprestasi,” ujarnya. (haq/wil) Penulis : Syarifuddin Raisul Haq K. I Editor : Hassanalwildan Ahmad Zain