Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Peringkat Pertama Kinerja Publikasi SINTA

Kabar gembira dan membanggakan datang dari program studi (prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang. Mengawali bulan suci, prodi IP berhasil meraih peringkat pertama terkait kinerja publikasi untuk kategori strata satu bidang ilmu pemerintahan tahun 2022. Hasil itu didapat berdasarkan pemeirngkatan Science and Technology Index (SINTA) yang memberikan nilai tertinggi yakni Score Overall: 3.542 dan SINTA Score 3Yr: 2.441. Angka tersebut mengungguli semua prodi IP yang ada di Indonesia. Adapun SINTA merupakan laman atau portal ilmiah daring yang dikelola oleh Kemendikbud Ristek. Laman ini merekam jumlah publikasi masing-masing institusi. Sedangkan Score Sinta prodi merupakan hasil dari akumulasi publikasi dan sitasi dosen dan mahasiswa yg terdata pada Scopus, Garuda, Google Scholar, dan WoS. Ketua Prodi IP Muhammad Kamil S.IP., M.A. merasa bersyukur atas raihan tersebut. Ia mengapresiasi kerja keras, kerja ikhlas serta kolaboratif antara dosen dan mahasiswa. Ia juga menilai bahwa hasil ini merupakan buah dari dorongan dan motivasi prodi IP UMM agar para sivitas akademika memiliki artikel ilmiah yang terpublikasi dan dapat dibaca oleh publik. “Hal serupa juga ditularkan para dosen kepada para mahasiswa melalui artikel luaran mata kuliah yang diarahkan untuk publikasi ilmiah. Utamanya jurnal dan prosiding nasional maupun Internasional. Adanya kolaborasi dosen dan mahasiswa ini membuat karya artikel ilmiah menjadi lebih terarah dan memiliki kualitas yang baik karena ada pendampingan dari dosen yang disesuaikan dengan core Ilmu Pemerintahan,” tambah Kamil. Dalam meningkatkan minat dan motivasi menulis karya ilmiah, pihaknya juga memberikan reward berupa konversi ke mata kuliah serta skripsi. Terhitung, ada lebih dari 40 artikel jurnal mahasiswa yang sudah dikonversi menjadi skripsi. Jurnal-jurnal terkait tersebar di jurnal nasional terakreditasi SINTA 2 dan 3, prosiding terindeks scopus, jurnal internasional dan jurnal internasional bereputasi. Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si mengapresiasi prestasi yang telah dicapai. Ia mendorong prodi-prodi lain untuk mengikuti jejak baik Prodi IP UMM, utamanya dalam hal kinerja publikasi ilmiah. “Selamat atas raihan membanggakan yang sudah dicapai. Jangan mudah puas dan terus mengembangkan serta meningkatkan kualitas layanan pendidikan, publikasi ilmiah dan memberikan inovasi-inovasi bermanfaat lainnya,” tegas Muslimin. (Wil)
Baitul Arqam Teguhkan Nilai Dan Pedoman Hidup Sivitas Akademika UMM

Muhammadiyah bukan hanya sebagai organisasi masyarakat semata, melainkan sebagai nilai dan pandangan hidup. Hal tersebut disampaikan Drs. H. Wakidi, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada acara Baitul Arqam Karyawan dan Dosen. Adapun agenda tersebut dilaksanakan secara luring dengan protokol kesehatan ketat, bertempat di Theater Dome UMM, Selasa (12/3) lalu. Wakidi yang didapuk menjadi pemateri menjelaskan bahwa Muhammadiyah haruslah dianggap sebagai nilai dan pandangan hidup. Hal itu tertuang dalam dua pokok pikiran yang bersifat ideologis dan strategis. Adapun secara ideologis menegaskan dasar ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadist, juga dasar yang bersifat pemikiran. Sedangkan pola pikir yang bersifat strategis memiliki bentuk khittah perjuangan yang bergerak secara dinamis dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. “Kedua pola pikir itu harus menjadi salah satu dasar warga Muhammadiyah dalam memperluas dakwah dan menebar manfaatnya. Tidak hanya hubungannya dengan Allah SWT, tapi juga hubungannya dengan masyarakat. Mengajak pada kebaikan dan mencegah pada kemunkaran serta mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” imbuhnya. Wakidi menilai bahwa Muhammadiyah tidak boleh dipandangan hanya sebagai organisasi masyarakat semata. Namun harus dipahami sebagai nilai dan pandangan hidup bagi warganya. Dengan begitu, tujuan dan arah hidup masyarakat menjadi lebih terarah. Pada kesempatan yang sama, Pradana Boy ZTF, S.Ag., MA., Ph.D. menuturkan bahwa hakikat Muhammadiyah terbagi menjadi tiga. Pertama, yaitu Muhammadiyah sebagai gerakan yang berfokus pada gerakan Islam, tajdid (pembaharuan), dakwah, dan sosial. Kemudian yang kedua yakni Muhammadiyah sebagai pemikiran yakni bagaimana organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu mampu menjadu muara ilmu. Baik itu ilmu keagamaan, sosial budaya, ekonomi dan lainnya. “Kemudian yang ketiga yakni Muhammadiyah sebagai organisasi, yaitu bagaimana Muhammadiyah tesusun dan terstruktur dengan rapi. Berkomitmen untuk menggapai tujuan dan cita-cita bersama serta menebar manfaat dan kebaikan kepada umat,” tutur Boy. Menurut Boy, panggilan akrabnya, secara gerakan Islam Muhammadiyah harus terus bergerak maju. Menyediakan pengajian-pengajian bisa diterima oleh masyarakat umum. Begitupun dengan gerakan tajdid yang harus memperbaharui model dakwah yang selama ini masih terkesan formal dan cenderung kaku. (Haq/Wil)
Dosen Hukum UMM Jelaskan Vonis Mati Pelaku Pemerkosa Santriwati

Peristiwa pemerkosaan seorang ustaz sekaligus pemimpin pesantren kepada belasan santriwati pada tahun lalu menjadi sebuah kejadian kelam di dunia pendidikan. Setelah melalui panjangnya proses hukum yang awalnya pidana penjara seumur hidup, lalu yang terbaru berubah menjadi vonis hukuman mati. Melihat akan hal itu, Ratri Novita Erdianti, SH., M.H. selaku Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menanggapi kasus tersebut dari aspek hukum. Ratri, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa peraturan akan kasus tersebut sudah tertera di Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Di dalam UU terkait, telah diatur pemberian hukuman mati bagi pelaku kekerasan seksual. Menurutnya, apa yang dilakukan sang pelaku pemerkosaan adalah kejahatan serius yang melebihi batas manusia. Namun di sisi lain hukuman mati tentu bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Meski begitu, keputusannya masih tergantung pada aspek jumlah korban, dampak yang dirasakan hingga pelaku. Dari tiga aspek tersebut, akan muncul pertimbangan yang menentukan berat atau ringannya hukuman. “Kejahatan yang dilakukan pelaku menurut saya telah melewati batas kemanusiaan. Maka kejahatan yang serius harus diberi hukuman yang serius pula agar memberikan efek jera. Tidak hanya bagi pelaku tapi juga bagi masyarakat luas,” imbuhnya. Dosen asal Pasuruan itu mengungkapkan bahwa vonis hukuman mati untuk kasus terkait adalah yang pertama dalam sejarah Indonesia bagi pelaku kekerasan seksual. Menurutnya, ketika hakim memutuskan sebuah kasus pidana, ada banyak hal yang harus diperhatikan. Utamanya yang menyangkut aspek korban yang harus dilihat secara psikologis. Pun dengan masa depan yang akan dihadapi oleh belasan korban tersebut. Lebih lanjut. ketika nanti ada kasus yang serupa, disparitas bisa saja terjadi. Maksudnya adalah hukuman yang diputuskan nantinya tidak akan selalu sama dengan kasus pemerkosaan ustaz tersebut. Hal itu karena kondisi dan situasi kasus yang mungkin berbeda pula. Begitupun jika mengajukan upaya banding yang tidak selalu menghasilkan hukuman yang ringan, tapi bisa juga menjadi lebih berat. “Ketika mengajukan banding, bukan berarti hukuman pelaku pasti diringankan. Bahkan bisa jadi sebaliknya yakni diberikan hukuman yang lebih berat,” ucapnya. Ratri kembali menjelaskan bahwa peristiwa kelam dan hukuman mati kepada pelaku ini, menjadi pembelajaran dan edukasi bahwa kejahatan yang dilakukan merupakan kejahatan serius. Selain itu, peristiwa ini nyatanya juga berefek pada penurunan kepercayaan masyarakat kepada instansi pendidikan. Khususnya pendidikan yang berlangsung di pondok pesantren. “Tentu perlu adanya pencegahan agar hal yang sama tidak terjadi, baik di lingkungan Ponpes, sekolah, dan tempat umum. Negara juga harus mengambil peran signifikan untuk menjamin keamanan bagi seluruh masyarakatnya. Pun dengan upaya monitoring yang harus dilakukan oleh orang tua, guru, dinas pendidikan hingga kementerian agama,” ujarnya. (Haq/Wil)
Fakultas Teknik UMM Buka CoE Kelas Profesional PLTS

Ketidakpastian stok energi fosil serta mahalnya harga yang dipatok menjadi salah satu permasalahan belakangan ini. Begitupun dengan kondisi politik dunia yang semakin memperparahnya. Menyikapi hal tersebut, Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meluncurkan Centre of Excellence (CoE) Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada Selasa (12/3) lalu. Kelas ini juga telah menggaet sederet Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) untuk melancarkan pelaksanannya. Dekan FT UMM, Prof. Ir. Ilyas Masudin, MLogSCM., P.hD. menyebut bahwa menyebut bahwa lembaga pendidikan kini dituntut untuk mengantarkan mahasiswa menuju pintu kesuksesan. Selain itu juga bertugas melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berkualitas, mandiri serta profesional. Ditambah lagi dengan perkembangan dunia industri dan teknologi yang semakin maju. Ilyas, sapaan akrabnya juga menyatakan bahwa saat ini tidak ada pilihan lain kecuali menyiapkan sumber energi alternatif. Apalagi melihat ketersediaan energi fosil yang semakin menipis. Maka, perubahaan mindset energi ramah lingkungan perlu digalakkan. Pun dengan penyiapan SDM yang memahami tentang energi baru terbarukan (EBT). Dalam rangka menjawab permasalahan tersebut, FT Kampus Putih akhirnya memutuskan untuk menghadirkan pusat keunggulan PLTS. Menggaet beberapa perusahaan untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri dan melengkapi kemampuan para mahasiswa. PT Adidaya Abadi Sentosa dan PT Alfa Mekatronik adalah dua di antara banyak nama yang sudah berkomitmen. “Bahkan pada semester ini kami telah menjalankan kurikulum bersistem blok. Sistem ini memungkinkan hadirnya pengajar dari praktisi, jadi tidak melulu dari para akademisi. Para pesertanya juga tidak hanya dari kalangan mahasiswa, masyarakat umum boleh turut serta dan belajar tentang EBT Surya maupun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS),” tegasnya. Dalam kelas PLTS tersebut, para peserta akan mendapatkan materi-materi menarik seperti perencanaan pembangunan dan pembangunan pemasangan PLTS. Kemudian juga ada materi terkait pengoperasian dan pemeliharaannya secara berkelanjutan. Pada akhir proses CoE ini, para peserta juga akan mengikuti uji kompetensi PLTS yang diakui secara resmi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui skema terkait. “Para peserta nantinya akan diberi pengalaman langsung terjun ke DUDI selama enam bulan. Dengan begitu, mereka bisa merasakan dan memahami segala hal tentang PLTS dengan lebih baik,” tambahnya. Di sisi lain, Paulus selaku Direktur Utama PT Adidaya Abadi Sentosa juga sempat menjelaskan terkait tantangan PLTS, umumnya EBT yang harus dihadapi. Dimuali dengan investasinya yang tergolong cukup besar. Meski begitu, investasi besar di energi terbarukan ini nyatanya akan memberikan hasil yang kompetitif dalam jangka yang panjang. Kemudian, tantangan lainnya yakni masih banyaknya regulasi yang tidak sinkron dengan perkembangan EBT. “Kemampuan jasa industri juga dirasa masih kurang dan tidak memadai. Begitupun dengan subsidi serta ketersediaan energi fosil yang masih banyak membuat penentuan kebijakan berjalan lambat. Kesiapan dan kualitas sumber daya manusia juga harus segera ditingkatkan,” tambahnya. Maka menurutnya, ini adalah saat yang tepat bagi mahasiswa Kampus Putih untuk mengambil peran. Utamanya dalam mengimpelementasikan EBT menjadi energi yang lebih baik. Selain itu juga membekali diri dengan kemampuan engineering yang mumpuni, sehingga EBT dapat menjadi energi pengganti yang bagus serta dapat menjaga lingkungan sekitar. (Syi/Wil)
Imbangi Perkembangan Zaman, UMM Segarkan Gaya Kepemimpinan

Banyak aspek yang berubah seiring dengan perkembangan zaman. Begitupun dengan gaya kepemimpinan yang harus terus diperbaharui agar sesuai dengan generasi. Hal itu disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. pada gelaran Inspiring Leaders and Reimagined UMM bersama Firma Konsultansi Internasional Korn Ferry, akhir Maret lalu. Adapun acara ini diikuti oleh rektor, pimpinan dan jajaran wakil rektor di lingkungan Kampus Putih. Dalam sambutannya, Fauzan menilai bahwa agenda tersebut menjadi salah satu upaya bagi para pimpinan untuk memberikan kontribusi yang lebih besar pada UMM. Di samping itu juga untuk menyegarkan gaya kepemimpinan yang selama ini dilakukan. Ia juga ingin, usai menyelesaikan pelatihan ini para pimpinan dapat memberikan inovasi-inovasi akseleratif demi kemajuan bersama dalam dunia pendidikan. Fauzan juga mengungkapkan bahwa pelatihan ini sangat penting dalam proses perjalanan kepemimpinan. Menurutnya, Kampus Putih tidak ingin dikenal sebagai lembaga yang menggunakan gaya-gaya stagnan dan menetap di zona nyaman. Namun sebaliknya, UMM harus dikenal sebagai lembaga yang selalu diperhitungkan dan menjadi rujukan akan hal-hal baru. “Salah satu syarat yang harus dipenuhi yakni munculnya inovasi-inovasi baru yang dikenalkan pada dunia luas. Maka dimulai dari gaya kepemimpinan para pemimpinnya yang harus diupdate sehingga bisa membawa institusi ini ke arah yang lebih baru dan baik. Saya percaya kawan-kawan memiliki tipologi yang agresif dan selalu ingin kebaruan dalam proses kepemimpinannya,” tegasnya. Di sisi lain, salah satu facilitator Korn Ferry, Shahrizal Mohd Suffian menjelaskan bahwa strategi yang sukses berawal dari peran pemimpin yang baik. Adapun beberapa hal yang akan memengaruhi pencapaian visi sebuah organisasi atau kampus yakni proses, standar, sumber daya manusia hingga tujuan. Maka perlu adanya manajemen yang baik agar visi itu bisa dicapai dengan sukses. Lebih lanjut, Shahrizal juga menjelaskan bahwa ada empat pilar utama dari visi Indonesia. Diawali dengan pengembangan sumber daya manusia yang mampu menguasai pengetahuan dan teknologi. Begitupun dengan pengembangan ekonomi, ketahanan nasional dan pemerintah, serta equitable development. “Kebutuhan talenta digital Indonesia juga sedang meningkat, salah satunya dalam aspek pendidikan. Namun sayangnya, pemenuhan permintaan tersebut belum memenuhi dengan baik. Maka saya kira, penyiapan talenta dan generasi cakap digital diperlukan agar dapat melahirkan pemimpin masa depan yang mumpuni,” tuturnya. (/wil)
UMM Segera Luncurkan New Book Store

Terobosan baru dalam dunia pendidikan, khususnya peningkatan minat baca kembali dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini Kampus Putih segera membuka UMM New Book Store (NBS) yang terletak di Jalan Raya Sengkaling, tepat di sebelah Rayz Hotel UMM. NBS juga sempat mengundang sederet penerbit untuk berdiskusi pada Sabtu (9/3) lalu. Hadir pula Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Kampus Putih sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Muhadjir merasa senang karena ada upaya serius revitalisasi toko buku yang dilakukan oleh Kampus Putih. Buku-buku bacaan memang memiliki peran penting dalam pengembangan literasi generasi masa depan. Namun, kekhawatiran akan hilangnya generasi yang menyukai buku masih dirasakan oleh Muhadjir. “Saya pribadi memang berasa belum enak kalau tidak membaca buku atau media cetak, termasuk koran. Padahal sudah banyak media-media online yang menjamur,” tuturnya. Menurutnya, jika ingin mempertahankan buku menjadi bacaan utama, perlu adanya usaha-usaha konkret. Khususnya dalam meningkatkan kecintaan anak-anak muda akan buku. Dua di antaranya adalah menyusun konsep baru toko buku serta melaksanakan kegiatan menarik yang digandrungi anak-anak. Meski terkesan remeh, namun upaya itu dapat membangun tradisi-tradisi membaca buku yang kokoh. “Kalau kita gagal menyiapkan generasi yang mencintai buku, maka akan hilang pula peluang bapak ibu. Begitupun dengan generasi masa depan mumpuni yang meneruskan bangsa. Bahkan kalau kita lihat, ada sederet media besar yang gagal menyiapkan diri sehingga akhirnya hilang,” tambahnya. Terkait kerja sama, Kepala Biro Administrasi Umum Dr. Ahmad Juanda, Ak. M.M. C.A. berharap para penerbit bisa mensupport NBS dengan baik. Apalagi di tengah-tengah keadaan berbagai toko buku yang kini tidak banyak dikunjungi. Meski begitu, pimpinan Kampus Putih melihat adanya peluang dan memberanikan diri untuk membuka toko buku dengan konsep baru. Adapun dalam pelaksanaannya, sistem manajemen sudah disiapkan secara baik dan melibatkan para profesional di bawah payung PT. New Book Store UMM. Semua perizinan dan persyaratan juga sudah dirampungkan. Maka menurutnya, para penerbit tidak perlu ragu untuk menyuplai dan menyediakan buku di rak-rak yang ada. “Tentu kami berharap kerjasama ini bisa saling menguntungkan semua pihak. Selain itu juga memberikan dan menyediakan buku-buku berkualitas bagi para pembaca, tidak terbatas bagi kalangan UMM saja, tapi juga masyarakat secara luas,” tegasnya. Gathering dan kerja sama tersebut disambut baik oleh para penerbit yang hadir. Ulie, wakil dari penerbit Gramedia misalnya yang merasa bahwa konsep NBS cukup menarik. Apalagi dengan disiapkannya fasilitas-fasilitas lain seperti Kafe yang bisa menggaet minat masyarakat. Mereka juga siap bekerja sama demi membangun dan memajukan dunia perbukuan Indonesia. (Wil)
Menko PMK Dorong UMM Atasi Kemiskinan Spiritual dan Material Bangsa

Kemiskinan itu dapat dibedakan menjadi dua tipe yakni miskin material dan miskin spiritual. Keduanya juga memiliki perbedaan ciri yang bisa diketahui dan mudah dikenali. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. dalam Tadarus Ramadhan Kampus Putih, Sabtu (9/4) lalu. Menurut Muhadjir, sapaan akrabnya menilai bahwa di samping ada sebagian masyarakat yang bergelut dengan kemiskinan material, banyak juga orang kaya yang kini mengalami kemiskinan spiritual. Hal itu bisa dilihat dan berefek pada perilaku yang ditampakkan sehari-hari. Tidak hanya terlihat pada pribadi pejabat namun juga terjadi kepada masyarakat. Menurutnya, kemiskinan harta benda itu sulit diatasi. Namun, menanggulangi kemiskinan spiritual lebih rumit lagi. Banyak orang yang cepat sadar dan mengaku bahwa dirinya miskin material. Bahkan banyak yang mengaku miskin ketika bantuan sosial (bansos) dihadirkan. Berbeda dengan kesadaran kemiskinan spiritual yang sukar muncul di benak manusia. “Mereka merasa baik-baik saja, padahal orang lain melihat dirinya sudah melampaui batas dan tidak wajar. Perilaku sombong, kikir, serakah, maksiat kerap kali ditunjukkan. Bahkan mereka sebenarnya sudah sadar, namun malah berbangga diri dengan sikap buruk yang dilakukan,” tambahnya. Maka, Muhadjir mendorong Muhammadiyah khususnya UMM untuk bisa mengatasi dan menjangkau keduanya, baik kemiskinan spiritual maupun material. Misalnya saja teman-teman dari Fakultas Agama Islam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta lainnya bisa perlahan mengikis kemiskinan spiritual. Sementara Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial Politik dan pihak lainnya dapat memberi solusi akan masalah kemiskinan harta. Ia juga menilai bahwa Muhammadiyah telah lama berjuang mengentaskan kemiskinan. Baik melalui pemberdayaan maupun penyadaran spiritualitas. Keberpihakan terhadap orang miskin, anak yatim, dan kaum pinggiran juga dirasa sesuai dengan teologi Al-Maun Muhammadiyah. “Semoga di Ramadhan ini kita dapat dijauhkan dari sifat-sifat iri, dengki, culas dan perilaku buruk lainnya, Bulan suci ini juga dapat dijadikan sebagai momen koreksi untuk memperbaiki diri di kemudian hari,” pungkasnya. Sementara itu Sekretaris BPH Kampus Putih Drs. Wakidi menyebut bahwa rangkaian Syiar Ramadhan ini merupakan salah satu upaya bersama untuk mendekatkan diri pada sang Pencipta. Menjadi momen yang tepat untuk melembutkan hati dan menajamkan pikiran. Wakidi juga ingin Ramadhan tahun ini bisa meningkatkan etos kerja dan tugas para sivitas akademika UMM dalam melayani masyarakat dengan baik. Salah satunya melalui ceramah dan siramahan rohani yang disampaikan oleh Menko PMK RI. “Sekaligus sebagai jalan menambah wawasan akan isu-isu aktual yang sedang terjadi. Meningkatkan kesadaran dan kecintaan pada negara Indonesia,” tuturnya. Di lain sisi, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa rangkain agenda yang disiapkan ini semata-mata dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran. Khususnya kesadaran bahwa para sivitas akademika adalah makhluk Allah SWT. Pun dengan upaya-upaya konkret berjihad dalam aspek pendidikan melalui UMM. “Saya tentu yakin dosen dan karyawan Kampus Putih ini senantiasa memiliki niat untuk menjadi orang baik. Maka saya rasa Ramadhan adalah momen dan kesempatan yang tepat menambah kebaikan yang sudah dilakukan dan mengubah hal-hal yang kurang baik,” tegasnya mengakhiri. (wil)
Dua CoE Terbaru FEB UMM: Kelas Perbankan Syariah dan Kelas Akuntansi Desa

Bekali mahasiswa dengan keterampilan profesional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali luncurkan dua program Center of Excellence (CoE). Kedua program unggulan yang disediakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) tersebut meliputi kelas profesional perbankan syariah dan kelas akuntansi desa. Adapun keduanya diluncurkan pada Senin (11/04) lalu bertempat di Aula BAU UMM. Dalam pelaksanaannya, dua program CoE tersebut akan berkolaborasi dengan berbagai instansi pemerintahan dan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Salah satunya yakni pemerintah Kabupaten Malang yang nantinya akan bertambah seiring berjalannya program. Kemudian ada beberapa nama DUDI yang sudah digaet seperti Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Indonesia, PT Alami Fintek Sharia, dan Bank Pembiayaan Rakyat (BPR) Rinjani. Jumlah kerjasama yang telah dibangun akan senantiasa ditambah oleh FEB UMM sesuai dengan kebutuhan. Wakil Bupati Malang Drs. H. Didik Gatot Subroto, S.H., M.H. mengaku sangat mengapresiasi program yang digagas oleh Kampus Putih ini. Dengan kehadiran program tersebut, akan membantu para mahasiswa untuk menjawab tantangan-tantangan di masa depan. Selain itu, menurutnya implemntasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melalu CoE itu akan membuka peluang lebar bagi semua kalangan untuk belajar pengetahuan di luar bidangnya. “Pemerintah daerah Kabupaten Malang tentu menyambut baik kehadiran program ini. Besar harapan kami agar CoE UMM dapat berjalan dengan baik.Tentunya dalam proses pelaksanaan ke depan harus diikuti oleh keyakinan serta ketekunan para peserta,” ujar Didik. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa kehadiran program ini berguna untuk memberi kepastian kelulusan dan kepastian kemandirian para mahasiswa. Pihaknya telah merencanakan pembangunan program center of future world. Oleh karenanya, masing-masing jurusan yang didorong untuk membangun pusat keunggulan. “Pengembangan CoE di masing-masing fakultas ini juga berguna untuk mewadahi passion para mahasiswa yang beragam. Hal ini juga membuat lulusan Kampus Putih lebih siap bekerja di dunia profesional. Kami memasang target untuk lima tahun ke depan, akan ada 1.000 tenaga profesional yang diminta dari UMM. Kami juga berharap pusat keunggulan yang kami miliki akan memberi kepakaran yang jelas setelah mahasiswa lulus kuliah,” kata Fauzan. Senada dengan Fauzan, Dekan FEB Dr. Dra. Idah Zuhroh, MM., menjelaskan bahwa program ini diselenggarakan berdasar beberapa pertimbangan. Menurutnya, bidang perbankan syariah saat ini memiliki beberapa aspek yang strategis. Ke depannya bidang ini akan menemui berbagai tantangan dan peluang yang bagus di Indonesia. Melihat fenomena itu, Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan akhirnya memutuskan untuk menggelar kelas profesional perbankan syariah. “Untuk kelas akuntasi desa, Prodi Akuntasi UMM melihat bahwa 57% desa di Indonesia masih tergolong desa tertinggal. Untuk mencermati kekurangan yang ada di pembangunan desa, peningkatan kompetensi dari aparatur desa juga perlu dilakukan. Tidak hanya untuk aparatur saja, peningkatan kualitas ini juga diperlukan untuk calon aparatur desa,” ungkap dosen asal Pasuruan itu. Kerjasama yang ada dirasa mampu mendekatkan mahasiswa dengan dunia nyata yang akan dihadapi nanti. Terkait pendaftaran peserta, dua pusat keunggulan FEB tersebut tidak hanya terbatas bagi mahasiswa FEB UMM saja. “kami juga membuka pendaftaran untuk mahasiswa di luar FEB dan di luar UMM. Nantinya kami akan menyeleksi para pendaftar untuk akhirnya dipilih sebagai peserta program unggulan tersebut,” tandasnya mengakhiri. (syi/wil)
Safari Ramadan UMM Dorong Staf RS Teladani Kesalehan Sosial Ahmad Dahlan

Bulan ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk mengasah sifat-sifat baik, tak terkecuali untuk menumbuhkan jiwa kerelawanan dan kedermawanan sosial. Begitupun yang dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan dengan membangun rumah sakit dan berbagai sarana umum lainnya. Itulah ungkapan pembuka kajian yang disampaikan oleh Dr. Nurbani Yusuf, M.Si. selaku Ketua Majelas Ulama Indonesia (MUI) Batu pada acara Safari Ramadhan yang diselenggarakan di Hall Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (6/4) lalu. Lebih lanjut, Nurbani sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pembangunan Rumah Sakit (RS) di tahun 1920 merupakan hal yang banyak ditentang oleh kaum muslim saat itu. Semua RS di zaman itu adalah milik penjajah belanda. Oleh karenanya, masyarakat dahulu menganggap bahwa RS adalah kebudayaan eropa dan kristen. Hal itu membangun suatu persepsi di mana jika kaum muslim membangun RS maka sama dengan mengikuti ajaran agama lain. “Pemikiran tersebut berpacu pada HR. Abu Daud yang berbunyi barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya. Oleh karenanya banyak yang menentang usulan pembangunan RS yang dicanangkan oleh KH Hambali Abu Sujak Ar-Ruslani. Tidak hanya dari luar muhammadiyah tetapi dari dalam juga. Meski ditentang, Kiai Haji Ahmad Dahlan tetap teguh mendukung gagasan kiai Sujak untuk membangun RS,” jelas dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut. Keputusan itu tetap diambil bukan tanpa sebab, Nurbani mengatakan bahwa Kiai Dahlan menilai pembangunan RS adalah jalan untuk membantu umat dan jihad memerangi kemusyrikan. Gagasan tersebut juga selaras dengan pembangunan badan amal dan sekolah yang sudah Kiai Dahlan dirikan. “Dalam pembangunan badan amal dan sekolah, Kiai Dahlan ingin memberantas kemiskinan dan kebodohan. Melihat hal tersebut, muhammadiyah sejak awal selalu mementingkan kepentingan masyarakat. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam H.R. Bukhari, sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Dengan meneladani kisah di atas, menumbuhkan jiwa kerelawanan dan dermawan akan membentuk manusia menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar,” ungkap Staf Ahli Pusat Pendidikan Pelatihan dan Kepemimpinan UMM itu. Di sisi lain Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa bulan ramadhan adalah waktu yang tepat untuk introspeksi dan perbaikan diri. Hal ini diibaratkan seperti kereta yang berhenti di stasiun untuk memeriksa kekurangan-kekurangan yang ada, sebelum kembali melakukan perjalanan panjang. Harapannya, setelah bulan ramadhan sikap dan sifat baik tersebut akan terus terbawa di hari-hari dan bulan-bulan selanjutnya. “Ketika puasa, tentu banyak larangan yang harus kita patuhi, seperti menahan hawa nafsu, menggunjing dan lain sebagainya. Dengan kita taat pada aturan-aturan selama bulan puasa, hal itu akan membentuk diri kita menjadi pribadi yang disiplin dan membawa kebiasaan baru setelah bulan puasa berakhir,” pungkasya. (syi/wil) Penulis: Syifa Dzahabiyyah | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Dosen FK UMM Ulas Makanan Bernutrisi selama Puasa

Dalam beraktivitas, tubuh memerlukan energi yang diperoleh dari asupan makanan. Namun pada saat puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan selama kurang lebih 14 jam. Lalu dari manakah tubuh mendapat pasokan energi ketika puasa? Terkait hal tersebut, dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr. S. Khanza Zatalini menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan yang dilakukan tubuh untuk memperoleh energi. “Tubuh kita menggunakan gula sebagai sumber energi. Jadi zat pertama yang akan dipecah tubuh untuk memperoleh energi adalah gula darah atau yang biasa disebut glukosa. Setelah kadar glukosa habis maka tubuh akan memecah glikogen. Namun saat puasa, asupan makanan kita menjadi sedikit. Oleh karenanya, glukosa dan glikogen akan cepat dipecah oleh tubuh. Setelah glukosa dan glikogen habis, tubuh akan mulai memecah lemak sebagai sumber energi,” ungkap dosen muda tersebut. lebih lanjut, Acha sapaan akrabnya mengatakan bahwa kondisi puasa sebenarnya sangat menguntungkan. Hal tersebut dikarenakan tubuh dapat memecah lemak secara alami. Namun yang terjadi di beberapa orang adalah kenaikan berat badan setelah bulan ramadhan berakhir. Hal ini terjadi karena asupan makanan yang berlebih saat buka puasa dan di malam hari. “Ketika ngabuburit menunggu buka puasa, biasanya masyarakat Indonesia akan membeli gorengan maupun takjil yang manis-manis. Makanan dan minuman tersebut mengandung karbohidrat simpleks yang kurang baik untuk tubuh. Karbohidrat simpleks sangat mudah diserap oleh tubuh. Namun karena tidak ada aktivitas pengeluaran energi yang berat di malam hari, maka glukosa dalam makanan tidak diolah menjadi energi. Glukosa yang masuk ke dalam tubuh akan menumpuk di pembuluh darah dan meningkatkan kadar gula dalam darah. Jika asupan gula darah meningkat, maka akan menimbulkan penumpukan lemak,” lanjutnya. Agar nutrisi tetap seimbang di bulan ramadhan, Acha mengatakan bahwa masyarakat harus memperhatikan asupan nutrisi saat sahur maupun berbuka. Acha menjelaskan bahwa ketika sahur, tubuh memerlukan makanan yang lama dicerna oleh tubuh agar merasa kenyang lebih lama seperti karbohidrat kompleks. Beberapa makanan yang mengandung karbohidrat kompleks adalah kentang, pisang, beras merah, ubi-ubian serta sayur-sayuran. “Selain itu,tubuh juga membutuhkan asupan makanan tinggi protein yang juga membuat kita kenyang lebih lama seperti tempe, tahu, daging ayam maupun ikan. Jangan lupa juga untuk memenuhi kebutuhan air. Disarankan agar masyarakat menghindari konsumsi teh atau kopi saat sahur. Hal ini dikarenakan kedua minuman tersebut bersifat diuretik atau memicu keinginan untuk buang air secara terus menerus. Hal itu membuat tubuh rawan akan dehidrasi,” jelas Acha. Untuk berbuka puasa, Acha menyarankan agar masyarakat mendahulukan makan kurma dan minum air putih. Hal tersebut akan membantu tubuh dalam memenuhi kebutuhan glukosa dan air tanpa membuat tubuh terbebani. Setelah itu dilanjutkan dengan makan nasi dan sayuran sehabis menunaikan ibadah solat magrib. “Untuk menghindari peningkatan asam lambung saat berbuka, masyarakat juga disarankan untuk mengurangi asupan memakan makanan pedas, kopi, makanan tinggi garam seperti gorengan serta makanan bersantan,” pungkasnya. (syi/wil)