Aspikom-UMM Bahas Proyeksi Kerjasama dan Pengembangan MBKM

Pengembangan pendidikan bukan hanya dilakukan dalam kelas saja, kurikulum dan dasar pembelajar juga memiliki peran penting. Melihat akan hal itu, Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) Indonesia melangsungkan Forum Group Discussion (FGD). Adapun kali ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk sebagai tuan rumah. FGD yang dilaksanakan pada 17-18 Maret tersebut mengkaji tema “Narasi MBKM dan Proyeksi Kerjasama: Berbagi Pengalaman dan Kemitraan”. Nasrullah, S.Sos, M.Si. selaku Kepala Prodi Ilmu Komunikasi UMM berterimakasih kepada Aspikom yang telah menunjuk UMM sebagai tuan rumah. Ia melaporkan bahwa ada 150 peserta dari prodi Ilmu Komunikasi seluruh Indonesia yang turut memeriahkan. Mulai dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Adapun daerah yang paling banyak datang ialah kampus dari Jawa Barat (Jabar). “Kalau saya perhatikan, ada banyak Kaprodi yang hadir ini merupakan alumni UMM, baik alumni sebagai mahasiswa maupun alumnni dosen,” ucap Nasrullah. Sementara itu, Ketua Aspikom Dr. Muhamad Sulhan bercerita bahwa dulunya ia tidak begitu tertarik bergabung dengan Aspikom. Namun ketika diajak oleh Prof. Setia Budi, ternyata pemikirannya jadis emakin terbuka. Hal-hal menarik dan baik yang ia dapat dari Aspikom ia bagikan banyak pihak. Ia juga menilai bahwa Ilmu Komunikasi di Indonesia akan terus berkembang seiring ebrkembangnya Aspikom ini. Selain itu kondisi, pandemi Covid-19 membawa nilai positif bagi asosiasi ini. Satu di antaranya yakni nama Aspikom yang meledak di dunia Metaverse.  Hal terjadi karena setiap bulannya kowil masing-masing wilayah melangsungkan agenda minimal dua kali. “Aspikom selalu siap dalam menghadapi perubahan zaman. Koordinasi rapi dan nilai inti juga terus dijalankan. Asosiasi ini merupakan keluarga besar dan saya ucapkan selamat datang di keluarga Aspikom bagi teman-teman yang baru,” sambutnya. Di sisi lain, Prof. Dr. Muslimin, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM menyampaikan bahwa pihaknya akan mengesahkan capaian pembelajaran lulusan (CPL) dan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM). Menurutnya,ada tiga aspek yang harus dipahami ketika menjadi seorang dosen atau pengajar. Ketiganya adalah visi dan misi prodi, CPL yang -ditetapkan prodi, serta memahami profil-profil lulusannya. Lebih lanjut, Muslimin menilai bahwa tema yang dikaji dalam agenda itu dapat menjadi titik penting dalam pengembangan Ilmu Komunikasi di masa depan. Begitupun dengan MBKM yang kini sudah menjadi standar nasional dalam pelaksanaan pendidikan tinggi. “Samuel Huntington berkata bahwa jika ingin menjadi profesional paling ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Keahlian unik, tangung jawab sosial tinggi serta kebersamaan dalam suatu wadah. Dan saya yakin ketiganya bisa didapatkan di Aspikom Indonesia ini sehingga mampu mempererat kekeluargaan kita semua,” pungkasnya. (haq/wil)

Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Buka CoE Analis Pemerintahan dan Politik

Kembangkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) buka program unggulan Center of Excellence (CoE) Analis pemerintahan dan politik di sektor publik serta swasta. Program rancangan jurusan Ilmu Pemerintahan ini memiliki tiga kelas unggulan dan dibuka secara bertahap. Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Pemerintahan, Muhammad Kamil, S.IP., MA., menjabarkan bahwa program ini akan mempelajari tentang tata kelola teknologi di bidang sistem informasi dan pengelolaan aset. Kelasnya sendiri akan dibagi menjadi tiga kelas yaitu kelas pengelolaan pemerintah desa, kelas pengelola pemerintahan daerah, dan kelas parlemen muda. “Kami melihat bahwa selama ini beberapa daerah tidak memiliki data aset yang tertata secara sistematis. Bahkan ada beberapa daerah yang masih menatanya secara manual. Oleh karena itu, kami membekali para mahasiswa dengan keterampilan pengolahan aset dan pengolahan informasi menggunakan teknologi. Dalam proses pengajarannya, kami juga akan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Desa (Sisterdes) dan juga Aplikasi Perancangan Elekronik Pembangunan Desa (Pernikdesa),” ungkap dosen asal Bondowoso itu. Terkait dengan mitra, Kamil sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Prodi Ilmu Pemerintahan telah bekerja sama dengan beberapa daerah seperti Kecamatan Donomulyo, Kecamatan Tlogomas, serta lima desa di Kabupaten Magetan. Prodi Ilmu Pemerintahan juga bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia serta Ditjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri. “Pembelajaran yang kami adakan ini selain diperuntukkan bagi mahasiswa UMM juga dapat diikuti oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang daerahnya telah bermitra bersama kami. Adapun program pusat unggulan ini kami laksanakan selama satu bulan setengah sampai dua bulan dengan total pertemuan sebanyak 16 kali pertemuan,” kata Kamil menambahkan. Dosen Ilmu Pemerintahan tersebut juga mengatakan bahwa selain mendapat sertifikat keahlian, untuk para mahasiswa juga dapat mengkonversikan program ini ke 20 Satuan Kredit Semester (SKS) yang telah disiapkan. Kegiatan program ini juga akan berpusat di laboratorium Ilmu Pemerintahan UMM yang memiliki beragam fasilitas. “Tujuan kami membuat program tentu untuk membangun sebuah dynamic governance. Oleh karenanya, kami harap dengan adanya CoE ini, mahasiswa akan semakin mudah beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi di suatu pemerintahan. Selain itu, kami dari prodi juga berharap mahasiswa tidak hanya paham akan teori semata, tetapi juga mampu mempraktekan secara langsung apa yang mereka dapat di perkuliahan untuk berkontribusi dalam pemerintahan,” tandasnya. (syi/wil)

Menko PMK Pacu Wisudawan UMM Siap Taklukkan Era Software 2.0

Berbeda dengan zaman saat ini, era software 2.0 nantinya akan dikuasai oleh mesin cerdas. Maka perlu adanya semangat belajar sepanjang hayat untuk belajar hal baru agar tidak ditakulkkan zaman. Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. pada wisuda 103 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kamis (17/3) lalu. Adapun gelaran dengan protokol kesehatan ketat tersebut dihadiri oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva. Lebih lanjut, Muhadjir mengatakan bahwa akan ada banyak sektor penting yang akan digabungkan untuk meningkatkan efisiensi operasional produksi. Utamanya dalam hal teknologi. Saat ini, pengembangan teknologi juga terus dilakukan oleh Indonesia, mulai dari penggunaan jaringan 5G hingga penggunaan Internet of Things (IoT) dalam aspek bisnis, dan sederet lainnya. Menurutnya, wawasan-wawasan semacam ini diperlukan agar para wisudawan dapat menyiapkan diri dalam menyongsong era baru. Menurutnya, zaman yang akan dirasakan oleh lulusan akan sangat berbeda dengan saat mereka berkuliah. Maka tidak ada pilihan lain bagi penerus masa depan selain mengucapkan selamat tinggal pada banyak materi yang dipelajari saat menimba ilmu. “Para Dosen hanya mengantarkan saudara ke gerbang keberhasilan. Selanjutnya, semua akan bergantung pada usaha dan komitmen saudara. Ijazah bukan akhir segalanya, namun justru menjadi awal untuk belajar hal baru agar mampu mengarungi tantangan zaman yang rumit. Saya ingin anda-anda menjadi generasi pemenang, bukan menjadi generasi yang ditakulkkand an dikalahkan oleh zaman,” tegasnya. Pada kesempatan itu pula, Lyudmila Georgievna Vorobieva menjelaskan bagaimana hubungan baik antara Rusia dan Indonesia berlangsung. terhitung pada 2020 lalu, hubungan bilateral keduanya sudah mencapai usia 70 tahun. Indonesia juga dinggap sebagai partner penting yang ada di ASEAN serta dapat berinterkasi dengan dinamis. Lyudmila juga mengajak wisudawan untuk menyelami sejarah baik antar kedua negara. Soekarno yang menjadi presiden pertama Indonesia merupakan tokoh yang baik di mata rakyat Rusia. Total, Bung Karno emapt kali mengunjungi Rusia. Ia juga smepat menampaikan pidato di depan lebih dari 10.000 masyarakat Rusia serta memeri ide untuk membangun salah satu masjid paling etrkenal yakni Blue Mosque di St. Petersburg. “Satu lagi hal menarik yang perlu kita ketahui adalah betapa terkenalnya lagu Rayun Pulau Kelapa saat itu. Bahkan sempat diartikan ke Bahasa Rusia. Beragam simbol kerja sama kedua negara ini bisa ditemui di Indonesia seperti Gelora Bung karno, RS Bersama, dan beberapa monumen. Smeoga hubungan baik ini bisa berlanjut,” ungkapnya. Hal menarik juga disampaikan oleh Alhajie Musa Kamara, wisudawan terbaik jenjang magister Kampus Putih. Pria asal Afrika Barat ini bercerita bahwa dirinya merupakan orang pertama yang meraih gelar sarjana di desanya. Sekarang, ia juga menjadi orang pertama yang sukses mendapatkan gelar magister di desa kelahirannya. “Apalagi gelar magister yang saya dapat merupakan gelar internasional dari UMM. Saya ingat pepatah Africa yang mengatakan bahwa  dibutuhkan seluruh desa untuk membesarkan seorang anak. Dan saat ini, saya adalah anak yang dibesarkan dnegan baik oleh desa saya,” tandasnya. Musa juga merasa beruntung berada di kampus yang menjunjung tinggi perbedaan. Menurutnya, perbedaan mengajarkan mahasiswa untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Selain itu juga dapat memacu mahasiswa untuk menjadi problem solver yang baik pula. Terakhir, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengingatkan bahwa para wisudawan memiliki tanggung jawab sosial daripada saat menjadi mahasiswa. Menjadi contoh di masyarakat, penggerak menuju kebaikan serta problem solver yang mumpuni atas pelbagai masalah. Kepercayaan diri juga harus dimiliki oleh para wisudawan sehingga berani melakukan terobosan. “Saudara dilahirkan dari kampus bereputasi nasional dan internasional. Bahkan minggu lalau UMM juga ditetapka menjadi ranking enam kampus swasta terbaik se-ASEAN. Maka ini adalah modal yang strategis bagi saudara untuk berkarya di masyarakat,” pungkasnya. (wil)

PPG UMM Sumpah Ribuan Guru, Komitmen Memajukan Pendidikan

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) mengukuhkan 2.143 peserta pendidikan profesi guru pada Minggu (13/3) lalu. Adapun 184 diantaranya disumpah secara luring. Seperti tahun sebelumnya, Prodi PPG FKIP UMM mampu mendulang prestasi masuk ke dalam sepuluh besar LPTK dengan jumlah mahasiswa terbanyak. Usai diwisuda dan diambil sumpahnya, guru-guru profesional tersebut dinilai siap mengabdikan diri dalam mengantarkan generasi bangsa menjadi generasi unggul 2045. Sebelum melangsungkan prosesi sumpah profesi, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengucapkan selamat atas keberhasilan para mahasiswa PPG dalam menempuh pendidikan profesi guru. Ia berharap, bekal yang telah diperoleh di Kampus Putih bisa digunakan untuk melakukan perubahan baik dalam dunia pendidikan. Fauzan menambahkan, saat ini Indonesia memasuki era bonus demografi karena anak-anak usia produktif jumlahnya jauh lebih besar ketimbang yang tidak produktif. Dunia Pendidikan harus menangkap ini sebagai sebuah peluang dalam menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Tentu ini hanya bisa terwujud melalui pembelajaran bermakna yang berasal dari guru-guru profesional yang kreatif, inovatif, dan visioner. “Keberadaan guru profesional memiliki posisi urgen dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Oleh karenanya, pemerintah memiliki kebijakan Pendidikan Profesi Guru ini untuk melahirkan guru profesional yang memiliki tanggung jawab agar anak-anak bisa hidup di masanya,” tandas Fauzan. Di lain sisi, Dirjen GTK Kemendikbud Ristek Dr. Iwan Syahril, Ph.D. mengapresiasi upaya-upaya konkret Kampus Putih. Utamanya dalam telah memfasilitasi dan memastikan calon pendidik Indonesia mendapatkan input keilmuan yang baik. “Semoga UMM dapat senantiasa menghadirkan pendidik masa depan dengan semangat dan daya juang dalam mejalani profesi mereka. Mari bersama-sama saling bahu membahu untuk memajukan pendidikan Indonesia,” ungkapnya. Untuk bisa dinyatakan sebagai pendidik professional, mahasiswa PPG harus melalui perjuangan panjang. Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M mengatakan sebelum dinyatakan lulus, peserta PPG daljab dan prajab telah menempuh pendidikan terlebih dahulu. Mulai dari rentang waktu tiga bulan hingga satu tahun. “Di sini, mahasiswa mengikuti lima tahapan pembelajaran, yakni pendalaman materi profesional dan pedagogik, analisis materi ajar, penyusunan perangkat pembelajaran, dan praktik pengalaman lapang di sekolah asal masing-masing. Kemudian baru bisa mengikuti beragam ujian,” ungkap Trisakti. Pada akhirnya, Trisakti berharap para lulusan dapat mengimplementasikan ilmu yang telah diperolehnya dengan melaksanakan pembelajaran abad 21. Dapat menggunakanpembelajaran HOTs Higher Order Thinking Skills, Technological Pedagogical Content Knowledge dan Inquiry Based Activities. Dengan begitu, guru bisa mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan teknologi. (*/wil)

Vokasi UMM Kaji Keamanan dan Forensik Digital Media Sosial

Kasus peretasan akun media sosial masih menjadi salah satu masalah yang dialami oleh masyarakat. Melihat fenomena itu, Direktorat Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengkaji tema “Security and Digital Forensik for Social Media”dalam agenda Student Day pada aaal Maret lalu. Syaifuddin, S.Kom. M.Kom. yang didapuk menjadi pemateri menuturkan bahwa apa yang ia sampaikan memiliki tujuan untuk menambah wawasan. Bukan malah menyduutkan atau merugikan orang lain. Hingga saat ini, ada  lebih dari 197 juta pengguna media sosial yang aktif di Indonesia.  Penggun mobile phone bahkan lebih tinggi yakni 307 juta. “Angka ini bisa didapat karena memang satu orang biasanya memiliki lebih dari satu gawai. Kemudian aplikasi terbanyak yang digunakan adalah Whatsapp, diikuti oleh YouTube, Instagram, Tik Tok dan Twitter. Jumlah besar ini tentu menjadi peluang bagi oknum untuk menjebol akun yang ada,” tambahnya. Beragam cara dilakukan oleh para oknum jahat dalam upaya pelemahan akun media sosial. Salah satunya melalui phising dengan terus memancing pengguna melalui pesan atau tawaran menggiurkan. Padahal itu adalah cara hacker untuk mengambil alih akun. Selain itu password yang mudah ditebak juga menjadi alasan mudahnya akun dibobol. Di antaranya tanggal lahir, nama ibu, nama sendiri dan hal lainnya. Melihat itu, Syaifuddin memberikn sederet solusi yang bisa dicoba. Mulai dari meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati dengan pesan yang masuk. Di samping itu harus senantiasa memperkuat keamanaan dari segi password yang rumit, pemindaian sidik jari, hingga dua kali verifikasi. “Memperkuat keamanan akun menjadi langkah penting dalam melindungi data pribadi. Begitupun juga sebagai upaya menekan jumlah penyalahgunaan akun untuk penipuan,” imbuhnya. Pada kesepatam yang sama, Dr. Tulus Winarsunu, M.Si selaku Direktur Vokasi UMM mengatakan bahwa para mahasiswa harus yakin dan berani untuk mengawali sesuatu. Dibarengi dengan skill mumpuni serta semangat belajar akan passion yang diminati. Sehingga nanti mampu berkontrivusi bagi masyarakat. “Student Day ini memang bertujuan untuk membentuk mahasiswa vokasi agar percaya diri dan berani mengambil keputusan tepat. Tidak boleh merasa ciut dan kalah sebelum bertanding,” pungkas Tulus. (haq/wil)

Musa, Mahasiswa Afrika Barat Jadi Lulusan Terbaik UMM

Stress terhadap budaya baru tak membuat Alhajie Musa Kamara, mahasiswa Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyerah akan pendidikannya. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Magister Manajemen ini berhasil dikukuhkan menjadi wisudawan terbaik dengan prestasi terbaik pada gelaran wisuda periode pertama, Kamis (17/3) Mus, sapaan akrabnya menceritakan bahwa menempuh Pendidikan di Indonesia tidaklah mudah. Budaya serta bahasa yang berbeda membuatnya sulit memahami materi serta bersosialisasi dengan orang lain. Apalagi kepergiannya ke Indonesia ini merupakan kesempatan pertamanya untuk ke luar negeri. “Beruntung, sebelum masa perkuliahan dimulai, kami diajari bahasa dan budaya Indonesia di lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang ada di Kampus Putih. Pembelajaran tersebut berlangsung selama satu tahun. Hal unik yang saya temukan di BIPA adalah cara pembelajarannya yang sangat lucu. Kami diajari seperti anak kecil yang baru belajar berbicara. Meskipun lucu, cara pengajaran seperti itu yang membuat kami lancar berbahasa Indonesia,” ungkap mahasiswa asal Sierra Leone, Afrika Barat tersebut. Tak hanya terkendala di bahasa, pandemi Covid-19 yang menerpa dunia termasuk Indonesia juga membuat masyarakat harus cepat beradaptasi dengan teknologi di segala bidang. Begitupun juga yang dialami oleh Musa. Ia mengaku tidak terlalu paham dengan penggunaan-penggunaan aplikasi untuk pembelajaran yang diterapkan oleh kampus. Namun berkat bantuan teman-teman dan dosen, ia dapat melakukannya dengan baik. “Meskipun berat, para dosen di selalu sigap memberi kami dorongan untuk belajar. Hal itulah yang memotivasi saya untuk belajar dengan giat. Selain itu teman-teman jurusan juga dengan senang hati membantu saya ketika kesulitan memahami sebuah materi,” kata Musa. Ada beberapa kebijakan yang membuat Musa takjub selama menjalani perkuliahan di UMM. Akses terhadap jurnal dan buku sangat gampang. Bahkan perpustakaan kampus tetap menerima mahasiswa di masa pandemi, meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat. Akses terhadap informasi juga sangat mudah didapatkan melalui website maupun dengan menghubungi dosen secara langsung.  “Sangat berbeda sekali dengan ketika saya menempuh kuliah strata satu di Afrika. Di sana akses internet sangat minim bahkan terbatas hanya dari jam 10 pagi sampai 3 sore. Tempat untuk mendapat internet gratis juga hanya di perpustakan. Di luar perpustakaan kami harus mengeluarkan biaya lebih untuk dapat mengakses internet. Namun semangat saya dan teman-teman saat kuliah S1 dulu di negara kami masih sangat membara. Hal itu yang akhirnya membawa saya ke Indonesia, tepatnya UMM. Kampus ini sungguh memberikan banyak kemudahan dan fasilitas yang mumpuni,” jelas Musa. Musa mengatakan bahwa UMM telah memberinya banyak pengalaman dan pengetahuan baru selama masa perkuliahannya. “Saya adalah orang yang beruntung karena memiliki teman-teman yang baik serta dosen yang selalu membimbing saya. Hal itu pula lah yang akhirnya membuat saya bisa mendapatkan nilai tertinggi untuk studi S2 ini,” tandasnya. (syi/wil)

Prodi Sosiologi UMM Garap CoE Kelas Profesional Manajer

Hasil dari survey tracer study yang dilakukan Prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan bahwa 80 persen lulusan bergelut di dunia Industri. Demi meningkatkan kapasitas lulusan, Prodi Sosiologi UMM kini telah mendirikan Center of Excellence (CoE) Profesional Manajer. Adapun program ini terbuka untuk mahasiswa prodi Sosiologi dan masyarakat yang tertarik untuk mengikuti kelas ini. Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos, M.Si selaku kepala Prodi Sosiologi UMM menjelaskan bahwa Kelas Profesional Manajer ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan pasar. Saat ini, pasar membutuhkan banyak lulusan dengan skill kepemimpinan manajer yang andal dengan analisa serta kebutuhan sosial yang mumpuni. Maka, lahirlah pusat unggulan tersebut. “Peruntukannya tidak hanya terbatas bagi mahasiswa Sosiologi Kampus Putih saja, tapi juga bagi mahasiswa jurusan lain bahkan kami membuka kesempatan bagi masyarakat luas,” tambahnya. Luluk, sapaan akrabnya kembali menjelaskan bahwa pada dasarnya kelas ini akan memberikan pembelajaran secara teori dan praktek selama satu semester. Akan ada banyak stakeholder bergabung dan turut serta menyiapkan generasi muda. Pun dengan usaha sinergisitas bersama Industri dan Dunia Kerja (Iduka) sehingga lulusan bisa langsung mendapatkan kesempatan bekerja usai menyelesaikan program maupun perkuliahan. Dalam pelaksanaannya, Luluk melanjutkan bahwa pihaknya ingin para peserta bisa mendampingi masyarakat dalam berbagai kegiatan. Dengan begitu, skill kepemimpinan akan tumbuh dna menjadi dasar menjadi seorang manajer. Selain itu juga memberikan kesempatan bagi para peserta untuk melakukan praktek atau magang langsung di industri bersama stakeholder dan Iduka. Namun sebelumnya, mereka akan dibekali pengantar berupa materi kelas turun lapang dan kunjungan. “Sinergisitas dengan Iduka bukan hanya memberikan materi langsung di kelas semata , tetapi juga menjadi mitra untuk praktek kerja dan magang bagi peserta CoE Profesional Manajer,” ujarnya. Dosen asli Jombang ini berharap pusat unggulan baru garapan prodi Sosiologi ini bisa diikuti oleh banyak mahasiswa di luar sosiologi dan masyarakat umum. Dengan begitu, akna muncul generasi penerus masa depan yang memiliki jiwa kepemimpinan dan mampu memenangkan persaingan di dunia kerja. “Tentu, kami ingin program ini mampu melahirkan lulusan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan industri,” ucapnya mengakhiri. (haq/wil)

Prodi Ilmu Komunikasi UMM Buka CoE Creative Digital Communication

Kemajuan teknologi di bidang digital mendorong terciptanya berbagai lapangan pekerjaan baru. Melihat peluang tersebut, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dirikan program unggulan Center Of Excellence (CoE) Creative Digital Communications. Program ini diharapkan dapat berguna untuk mendekatkan mahasiswa dengan dunia industri. Kepala Prodi Ikom, Nasrullah, S.Sos, M.Si., mengatakan bahwa program ini memang didirkan berdasarkan arah perkembangan dunia komunikasi di masa depan. Menurutnya komunikasi akan berkembang pada bidang komunikasi digital dan industri kreatif. Oleh karenanya, pada program CoE ini diselenggarakan empat kelas unggulan yang berfokus pada dua bidang tersebut. “Kelas pertama yang akan kita buka pada program ini adalah digital branding, public relations (PR), dan marketing. Di kelas kedua ada konten development dan digital videografi. Pada kelas ketiga kami membuka Digital jurnalis. Kemudian yang terakhir ada kelas copywriting dan media analis. Masing-masing kelas akan memiliki rentang waktu yang berbeda tergantung kurikulum yang diambil mulai dari dua minggu, satu bulan, hingga satu semester,” jelas Nasrullah. Lebih lanjut, Nasrullah, menjelaskan bahwa nantinya dalam program CoE ini, Ikom UMM akan bekerja sama dengan beberapa lembaga seperti asosiasi pemerintah kabupaten seluruh Indonesia (APKASI) dan asosiasi pemerintahan kepulauan dan pesisir Indonesia (Aspeksindo). Ikom UMM juga telah memulai penjajakan mitra ke beberapa perusahan seperti NET dan Aplikasi Kawan Sehat Indonesia. “Alhamdulillah banyak perusahaan yang tertarik pada program kelas unggulan yang kami kembangkan ini. Beberapa perusahaan juga telah meminta dibuatkan kelas tersendiri untuk rekrutmen tenaga profesional di perusahaan mereka,” ujar dosen Ikom UMM tersebut. Terkait peserta, Nasrullah menuturkan bahwa program ini menerima semua orang yang yang memiliki minat di empat kelas yang telah disediakan. Namun empat kelas tersebut akan dibagi kembali sesuai tingkat pendidikan para peserta. Tingkatan tersebut terdiri dari lulusan SMA atau SMK sederajat, mahasiswa UMM maupun luar UMM, dan juga tingkat pekerja. “Semua kegiatan akan kami pusatkan di Labolatorium Ikom UMM, namun tidak menutup kemungkinan kami bisa mengirimkan instruktur ke beberapa daerah. Para peserta juga bisa mendapatkan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) ataupun perusahaan yang telah bekerja sama dengan kami. Khusus untuk mahasiswa UMM, selain mendapat sertifikat, nilai yang diperoleh lewat program CoE ini juga bisa di konversikan ke beberapa mata kuliah ataupun Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI),” terang Nasrullah. Selain mengenalkan mahasiswa pada dunia industri, program ini merupakan cara yang bagus bagi mahasiswa untuk melakukan praktek langsung bersama mitra yang telah terpercaya. Begitupun dengan memberikan kepastian kepada publik terkait jenjang karir setelah lulus dari Ikom UMM. “Kedepannya, saya yakin ilmu Komunikasi akan memiliki masa dengan yang cerah. Oleh karenanya, kami sebagai institusi pendidikan harus memberikan jalan yang terbaik bagi mahasiswa untuk dapat belajar, salah satunya melalui program CoE ini,” tandasnya. (syi/wil)

Alafest UMM Dorong Generasi Muda Cintai Bahasa Arab

Bahasa Arab adalah salah satu bahasa internasional dan menjadi ibu dari bahasa lainnya. Apalagi bahasa ini merupakan bahasa yang digunakan dalam Alquran. Hal tersebut melatarbelakangi Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menggelar Arabic Language Festival (Alafest). Adapun Alafest 2022 yang mengangkat tema “Dengan Bahasa Arab Kita Warnai Peradaban Digital” ini dilangsungkan secara daring pada awal Maret lalu. Muhan Fatih Al-Hikmi selaku ketua pelaksana Alafest ke-lima ini mejelaskan bahwa festival ini memiliki tujuan untuk mempersiapkan generasi muda dalam menyongsong pendidikan bahasa Arab kedepannya. Begitupun dengan upaya menggali potensi dan mengasah keterampilan bahasa Arab di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sekaligus memberikan sarana pembelajaran bahasa Arab. “Alafest ini saya rasa dapat menjadi wadah menambah wawasan keilmuan bagi pelajar, khususnya terkait bahasa Arab sekaligus memperkenalkan Prodi PBA kepada masyarakat,” ucapnya. Muhan sapaan akrabnya menuturkan bahwa Alafest ini telah ada sejak tahun 2016 dan gelaran kali ini merupakan agenda ke-lima. Menurutnya, selain bahasa Inggris, bahasa Arab juga sepatutnya dapat dikuasai oleh anak muda, terutama pemuda Indonesia. Hal inilah yang menjadi pelecut kawan-kawan HMPS PBA UMM dalam penggalian potensi pelajar dalam bahasa Arab. Kemudian diharapkan mereka menyiarkan bahasa Arab di seluruh penjuru peradaban. Adapun dalam kompetisi Alafest nasional tahun ini ada beberapa cabang yang dilombakan. Mulai dari olimpiade bahasa Arab, qiroatul Kutub, pidato bahasa Arab, puisi bahasa Arab dan membaca berita dalam Bahasa Arab. Ada lebih dari 200 peserta dari penjuru Indonesia yang ikut memeriahkan dan bersaing memenangkan lomba. “Meski tergolong lancar, namun kami juga menghadapi beberapa kendala saat pelaksanaan event. Mulai dari kurangnya komunikasi antar panitia hingga kurangnya pemahaman official peserta mengenai jadwal lomba,” tegasnya. Mahasiswa asli Merjosari, Kota Malang ini berharap Alafest dapat terus ebrlangsung tiap tahun dengan memberikan inovasi-inovasi baru. Selain itu juga dapat memperbaiki kesalahan yang dilakukan di gelaran tahun sebelumnya. “Kami tentu ingin ada tanggapan positif yang muncul dari masyarakat. semakin banyak anak muda yang mencintai bahasa Arab dan terus mempelajarinya lebih dalamm,” pungkasnya. (haq/wil)

Kesos UMM Luncurkan CoE Kelas Pemberdayaan Masyarakat

Melahirkan generasi yang mampu memberdayakan masyarakat dengan baik bukanlah perkara mudah. Namun hal itu tidak menghentikan  Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyelenggarakan program kelas pemberdayaan masyarakat. Program Center of Excellence (CoE) ini sekaligus berfungsi untuk meningkatkan kompetensi hard skill dan soft skill para mahasiswa UMM. Ketua Program Studi (Kaprodi) Kesos Dr. Oman Sukmana, M.Si. menjelaskan bahwa dalam pengembangannya, pusat unggulan ini memang diadakan untuk membantu masyarakat. Selain itu juga berfungsi untuk mencetak lulusan Prodi Kesos sebagai pekerja sosial komunitas yang mumpuni. Program ini juga sudah terintegrasi dengan beberapa program lainnya yang ada di UMM seperti program pembangunan desa. “Nantinya, kelas ini bekerja sama dengan Kementerian Sosial, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR RI), Persyarikatan Muhammadiyah, dan sederet lembaga lainnya. Dengan adanya kerja sama ini, mahasiswa diharapkan mampu melakukan program magang bersertifikat, proyek kemanusiaan, dan juga dapat membantu keterserapan tenaga kerja dari lulusan Kesos,” jelasnya. Lebih lanjut, Oman sapaan akrabnya, mengatakan bahwa kelas pemberdayaan masyarakat ini akan dilaksanakan di berbagai daerah secara berbeda. Sebelum diterjunkan, terlebih dahulu akan dilakukan analisis mengenai kebutuhan dan potensi yang ada di masyarakat. Salah satunya yakni model pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan desa wisata. Setelah melakukan analisis, mahasiswa akan merancang program sampai ke publikasi dan evaluasinya. “Proses analisis ini dilakukan agar apa yang kami rencanakan di wilayah tersebut dapat berdampak secara maksimal. Ada beberapa target yang pasti ingin kamu capai. Di antaranya pengembangkan kemandirian masyarakat, perbaikan sistem kontrol sosial, pengelolaan konflik di dalam masyarakat, membangun jejaring serta kemitraan antara masyarakat dan lembaga pemberdayaan masyarakat,” kata Oman. Terkait jangka waktu pelaksanaan pusat unggulan, Oman mengatakan bahwa mahasiswa dapat mengkonversikan kegiatannya ke dalam 20 Satuan Kredit Semester (SKS) terkait. Program CoE ini nantinya juga akan digunakan untuk memperkuat program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) serta menjalankan visi misi universitas yaitu UMM-PASTI meliputi pasti lulus, pasti kerja, dan pasti mandiri. “Saya harap dengan di bentuknya program CoE ini dapat membantu masalah-masalah yang ada di masyarakat. Program ini juga diharapkan mampu memberi keterampilan baru pada warga dan juga memberi pengalaman terjun langsung ke masyarakat bagi para mahasiswa,” pungkasnya. (wil)