UMM Tanam Pohon dan Buka Jalan Warga di Pujon Hill

Mengirimkan Muhammadiyah University Rider (MuRid) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Adventure Club, Kampus Putih berupaya membuka jalan akses warga di Pujon Hill UMM, pada Kamis (3/3) lalu. Selain itu, mereka juga menanam bibit-bibit pohon untuk menghijaukan kawasan yang merupakan hibah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia untuk Kampus Putih tersebut. Pengelola Pujon Hill UMM Tatag Muttaqin, S.Hut. M.Sc. menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan kewajiban dan mengembangkan beberapa hal sejak dipercaya oleh KLHK. Mulai dari mengatur tata batas kawasan, membangun sarana prasarana hingga membuat dan membuka jalur pemeriksaan. Terbaru, pihaknya telah membangun beberapa pos fungsional yang bisa digunakan. Di samping itu juga melakukan rehabilitasi dalam rangka menjaga hutan sehingga dapat memberikan manfaat pada masyarakat sekitar. Tidak hanya efek positif langsung tapi juga tidak langsung seperti menghindari bencana longsor. “Jadi, hari ini memang menjadi salah satu rangkaian kegiatan rehabilitasi dan pembukaan jalan untuk masyarakat sehingga mereka bisa lebih muda mengakses dan mendapatkan manfaat lebih,” tambahnya. Tatag, panggilan akrabnya melanjutkan bahwa baru-baru ini mereka juga mendapatkan empat program dari pemerintah. Usaha pelestarian sumber daya alam salah satunya. Adapula bantuan dua unit dam penahan yang bisa dimanfaatkan. “Ke depan kami juga akan membangun pusat keunggulan minyak atsiri di kawasan ini. Pun dengan kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan oleh para mahasiswa serta dosen. Sejauh ini masyarakat juga merasa senang dengan kehadiran UMM dalam merawat dan mengelola kawasan ini,” imbuhnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengungkapkan bahwa Pujon Hill UMM ini memang didesain sebagai laboratorium terapan bagi Fakultas pertanian dan peternakan. Di kawasan tersebut nantinya juga akan dibangun sebuah agrokomplek yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai jurusan. Sementara untuk jangka panjang, Fauzan juga mengatakan bahwa rencananya UMM akan membangun agrotechopark sehingga makin memberikan manfaat bagi warga daerah Pujon Hill. “Tentu rencana ini selalu berorientasi kebaikan bagi sivitas akademika Kampus Putih maupun masyarakat sekitar. Dengan begitu, mahasiswa dan dosen dapat berinovasi mengembangkan kawasan yang cukup luas ini, sekaligus menggerakkan ekonomi warga. Tentu masih banyak hal yang perlu dipersiapkan dan butuh waktu panjang untuk membangun agrotechnopark ini,” tuturnya mengakhiri. (wil)
Lukman, Mahasiswa UMM yang Sukses Sabet Juara Badminton Jatim

Nama Universitas Muhammadiyah Malang kembali harum. Kali ini Lukman Inggrit Arinusa, mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menyabet juara 2 ganda putra dalam ajang lomba Badminton tingkat Jawa Timur. Adapun Kejuaraan Bulutangkis tersebut diadakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan dilaksanakan secara luring di GOR Badminton Sumekar Madura, Sumenep. Lukman, sapaan akrabnya menceritakan bahwa ia menjadi perwakilan daerah Kabupaten Sumenep pada perlombaan tersebut. Di lapangan, Ia ditemani dan dipasangkan dengan Krisna Yudhistira untuk berjuang memenangkan piala. Adapun kompetisi badminton itu dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun HUT Kabupaten Sumenep yang ke 752. Lebih lanjut Lukman bercerita bahwa ia telah menaruh minat pada badminton sejak Sekolah Dasar (SD). Ia tertarik semenjak sang ayah mengajarinya olahraga ini setiap minggu. Sejak saat itulah prestasi demi prestasi berhasil dimenangkan. Mulai tingkat daerah hingga level nasional. Salah satu prestasi bergengsi yang ia capai yakni perolehan juara 1 pada ajang Vios Open 2017. Saat itu ia masih menimba ilmu di SMA Ragunan Jakarta Selatan. “Saya tertarik badminton sejak SD dan sudah seringkali gonta ganti ikut klub. Bangku SMA adalah masa di mana saya mendapatkan banyak sekali piala. Apalagi SMA saya memang fokus pada olahraga. Yonex open juga menjadi kompetisi yang sempat saya taklukkan,” ucapnya. Menurut pengakuan Lukman, tidak ada waktu khusus untuk berlatih. Hal itu karenan memang ia berlatih setiap minggu, baik ada lomba maupun tidak. Ia juga selalu optimis dapat memenangkan kejuaraan tersebut, bahkan sebelum turun dan bertanding. Ia berpegang teguh dengan ucapan bahwa tak ada usaha yang mengkhianati hasil. Terakhir, mahasiswa asli Sumenep ini berharap raihannya ini bisa memacunya untuk segera menyelesaikan kuliah. Ia juga berharap kampus bisa terus meningkatkan fasilitas dan dukungan bagi mahasiswa yang memiliki potensi. “Semoga kemenangan ini dapat menular ke mahasiswa-mahasiswa UMM lain dan mampi membanggakan nama UMM,” pungkasnya. (haq/wil)
Ajak Berkarya, UMM Beri Kelas Influencer dan Menulis Siswa SMA

Berangkat dengan Mobil Kamis Membaca (KaCa), Tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dorong kreativitas siswa SMAN 1 Porong, Sidoarjo lewat kelas menulis dan kelas influencer. Ada sekitar 300 siswa dan siswi kelas 12 yang turut meramaikan dua kelas yang dilangsungkan pada Jumat (4/3) lalu ini secara luring. Influencer Tiktok yang menjadi salah satu pemateri, Nixon Farrel Mahatma mengatakan bahwa antusiasme peserta yang hadir cukup tinggi. Sebagian besar mengikuti dan memperhatikan seluruh materi terkait bagaimana menyusun dan membuat konten di media sosial, khususnya TikTok. “Teman-teman terlihat senang dan tertarik saat saya menyampaikan langkah-langkah membuat konten yang bagus. Selain itu juga bagaimana cara menyusun video yang dapat disukai oleh banyak penonton,” tambahnya. Dalam kesempatan itu pula, Nixon, panggilan akrabnya membocorkan kiat agar konten dapat masuk ke For Your Page (FYP) TikTok. Langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah memahami audience. Ketika sudah paham dan tahu apa yang penonton sukai, maka penyusunan konten juga akan lebih mudah. Pun dengan usaha untuk dapat mengikuti tren yang ada. Sehingga konten yang disiapkan tidak ketinggalan zaman. “Hal yang tak kalah penting yaitu memahami cara kerja algoritma masing-masing media sosial. Kapan harus upload, kapan harus membuat konten ini, kapan harus menyusun konten itu. Semua tergantung bagaimana algoritma berjalan,” imbuhnya. Di sisi lain, Hassanalwildan Ahmad Zain, pemateri di kelas menulis memaparkan bagaimana cara membuat tulisan yang menarik. Khususnya karya-karya kreatif seperti cerita pendek maupun novel. Menurutnya, dalam penyampaian cerita, penulis lebih baik tidak langsung memberi tahu. Namun penulis lebih baik dapat menggambarkan suasana, perasaan atau kondisi sekitar. “Dengan begitu, cerita yang ditulis juga dapat memengaruhi emosi pembaca dan terkesan lebih menarik. Cerita juga lebih bagus kalau dimulai dari tengah, memberi kesan penasaran sehingga para pembaca bisa lebih betah,” ungkapnya. Wildan, panggilan akrabnya juga mendorong siswa untuk berani dan segera mulai menulis. Sekalipun tulisan pertama yng dibuat masih jelek dan acak-acakan. Karena menurutnya, berawal dari tulisan yang berantakan itulah lahir sederet para penulis handal yang kini telah terkenal. Sementara itu, salah satu siswa Febrian Bagus menilai bahwa kegiatan kelas kreatif ini sungguh menarik. Banyak pengalaman baru yang bisa diperoleh. Terutama bagi teman-teman yang menyukai perkembangan media sosial dan menulis kreatif. “Di akhir agenda, kami juga mendapat kesempatan untuk mengenal diri kami masing-masing melalui tes minat bakat. Dari situ, kami dapat menemukan kelebihan dan potensi yang bisa dikembangkan di kemudian hari,” tuturnya mengakhiri. (wil)
Zain, Mahasiswa UMM Peraih Penghargaan Internasional IYS

Angkat isu ketimpangan sosial akibat kebijakan publik di wilayah Indonesia timur, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menjadi juara satu dalam konferensi internasional. Raihan juara satu kategori The Best Grup Project tersebut didapatkan oleh Muhammad Al Qadar Zain pada perlombaan Istanbul Youth Summit 2022. Konferensi yang diadakan oleh Youth Break Boundaries (YBB) tersebut diselenggarakan selama tiga hari bulan Februari lalu. Zain, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa projek yang ia bawa bersama tim berasal dari kejadian-kejadian nyata di wilayah Indonesia timur. Prasarana yang timpang serta kebijakan yang berbeda antara wilayah membuat daerah tertinggal kesusahan untuk mendapat akses pelayanan sosial dan kesehatan. “Salah satu kasus yang pernah terjadi di wilayah Bima adalah kasus melahirkan di kapal. Jarak rumah sakit yang jauh dan tidak adanya panggilan darurat seperti 911 membuat pasangan suami istri ini harus melahirkan di kapal kecil ketika perjalanan menyebrangi pulau menuju rumah sakit terdekat,” terang Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut. Oleh karenanya, Tim Zain mengadakan webinar dan pembuatan aplikasi 911 di wilayah Indonesia timur. Ada beberapa agenda webinar yang sudah dilaksanakan sebelum konferensi internasional di Turki berlangsung. Mulai dari webinar penanganan kasus kekerasan sosial, pengembangan kualitas pendidikan, inovasi pelayanan publik, dan pengembangan harga pangan. “Penyelenggaraan webinar ini mengambil tema-tema khusus yang masih menjadi permasalahan di wilayah Indonesia timur. Pembicaranya pun kami ambil dari orang-orang yang kredibel di bidangnya seperti Gresika Sylvana auditor kementrian keuangan RI, Andira Batara komite anti kekerasan seksual UNHAS, Gabriella Rosa Theofani penerima beasiswa dari universitas Jepang, dan Budimansyah Nasution aktivis teknologi pangan,” ungkap mahasiswa asal Bima tersebut. Terkait raihan juara satu yang ia dapatkan di Istanbul Youth summit 2022, Zain mengaku sangat bersyukur capaian tersebut. Perjalanannya untuk bisa sampai di konferensi internasional itu sangat berat. Hal ini terjadi karena ia harus membiayai kebutuhannya sendiri untuk pergi ke Turki. “Saya mengambil banyak jadwal mengajar pramuka di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Malang. Saya juga kerja part time di beberapa kafe untuk membiayai keberangkatan serta kehidupan saya selama berada di Turki,” kata Zain. Lebih lanjut Zain mengatakan bahwa raihan juara satu ini merupakan awal peningkatan kebijakan publik yang akan dialami oleh wilayah Indonesia timur. Ke depannya, ia berharap akan ada banyak perubahan positif bagi wilayah-wilayah yang tertinggal di Indonesia. “Program yang akan kami jalankan tidak berhenti sampai pagelaran Istanbul Youth summit 2022 saja, tetapi kami akan mengembangkan program lain seperti pembuatan aplikasi 911 di sana. Saya berharap agar ke depannya, pemerintah dan masyarakat juga turut membantu terlaksananya berbagai program positif ini,” pungkasnya. (syi/wil)
BEM UMM Serukan Kampanye Jaga Lingkungan di Pantai Teluk Asmara

Merayakan hari sampah yang jatuh pada bulan Februari lalu bisa diekspresikan dengan banyak hal. Salah satunya mengkampanyekan kebersihan dan pemungutan sampah. Hal serupa juga dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan memasang berbagai tanda serta memungut sampah di Pantai Teluk Asmara akhir Februari lalu. Dengan slogan “Peran Kolaborasi Masyarakat Dalam Menjaga Ekologi Demi Mewujudkan Indonesia Bebas Sampah” BEM UMM mengajak pengunjung untuk menjaga kebersihan dan juga memanfaatkan sampah menjadi hal yang berguna. Ketua pelaksana Faridatuz Zakiyah menuturkan sebelum turun melakukan agenda pungut sampah, BEM UMM telah menyelenggarakan livestreaming yang mengundang komunitas lingkungan Ekanto serta duta lingkungan Joko Roro Kabupaten Malang. “Jadi kami juga memberikan pemahaman dan pengertian pada anak muda pentingnya menjaga lingkungan dan memanfaatkan sampah,” tambahnya. Di pantai Teluk Asmara, pihaknya telah bekerja sama dengan pengelola dalam menyediakan tempat sampah baru yang memiliki beberapa ruang tipe sampah. Menariknya, para pengunjung yang melihat adanya agenda pungut sampah juga turut serta meramaikannya. Adapun tujuan agenda ini adalah untuk menyadarkan masyarakat Indonesia, khususnya anak muda agar memiliki kemauan untuk turut andil dalam menjaga lingkungan. Selain itu juga memberikan pemahaman bahwa sampah juga bisa diubah menjadi barang bernilai tinggi. “Sebagian sampah yang biasa kita buang pada dasarnya bisa kita manfaatkan kembali. Sampah organik bisa dijadikan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah dan membantu pertumbuhan tanaman. Sementara sampah-sampah anorganik seperti plastik juga bisa digunakan untuk bahan kerajinan sehingga bisa dijual ke masyarakat kembali,” tutur mahasiswa asli Ngajum, Malang tersebut. Ada lebih dari 20 tempat sampah dan belasan papan tulisan yang juga disediakan oleh BEM UMM di pantai Teluk Asmara. Farida, panggilan akrabnya berharap dengan adanya lebih banyak tempat sampah, para pengunjung tidak lagi kesusahan ketika ingin membuah sesuatu. Dengan begitu, sampah yang berserakan juga berkurang sehingga keindahan pantai bisa terlihat dengan lebih baik. “Alhamdulillah, pihak pengelola dan pengunjung sangat mengapresiasi kegiatan yang kami lakukan ini. Mereka juga terlihat tertarik untuk mengkampanyekan pentingnya menjaga lingkungan, terutama mereka yang masih muda. Kalau bukan generasi muda yang melakukan, siapa lagi? Nantinya kami juga akna meneruskan rangkaian ini dengan mengedukasi masyarakat terkait bagaimana memanfaatkan sampah mnejadi sebuah produk yang menarik,” imbuhnya mengakhiri. (*?wil)
Mahasiswa UMM Sabet Juara Nasional Berkat Ide Aplikasi Rehabilitasi Diabetes Militus

Dalam mengembangkan kapasistas, lingkungan yang kompetitif membentuk mental dan kelimuan yang baik bagi mahasiswa.Hingga akhrinya emncetuskan ide yang menarik untuk dipaahami. Salah satunya yakni gagasan yang dimiliki oleh Ragil Efendi dan Muhammad Nur Cahyo Efendi Firdaus, mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tergabung dalam satu tim, keduanya mampu meraih juara 3 lomba essay nasional. Adapun lomba ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKES Panrita Husada Bulukumba (PHB) pada akhir Februari lalu. Ragil Efendi selaku perwakilan kelompok menjelaskan bahwa gagasan mereka berawal dari semakin tingginya angka pasien diabetes militus. Apalagi melihat rentang waktu penyembuhan yang cukup panjang. Disampaikan Ragil, diabetes militus ini pada dasarnya disebabkan oleh pola hidup yang tidak teratur serta manajemen stres yang minim. Maka, ia dan rekannya akhirnya menuliskan gagasan untuk menciptakan aplikasi rehabilitas diabetes militus. “Selain untuk menekan angka penderita penyakit ini, aplikasi buatan kami juga berusaha untuk mencegah orang-orang terkena dan mengidap diabetes,” tambahnya menjelaskan. Ragil, sapaan akrabnya kembali menuturkan bahwa aplikasi gagasannya ini nantinya akan dilengkapi dengan beragam fitur bermanfaat. Misalnya saja fitur Edukasi yang akan memberikan pemahaman dan pengetahuan seperti gejala dan penanganannya. Adapula fitur Aktivitasku yang menyarankan aktivitas olahraga guna mengurangi kadar gula dalam rubuh. Kemudian ada juga fitur Minum Obatku yang mengingatkan pengguna kapan waktu untuk meminum obat. “Terakhir, yakni fitur Konsultasi yang memberikan pelayanan bagi pengguna jika ingin berkonsultasi dan mendapatk rekomendasi dari dokter atau ahli gizi terdekat,” tuturnya menjelaskan. Selama penyusunan, ia mengungkapkan bahwa kekompakan tim cukup sulit dipertahankan. Ia memiliki opini dan gagasan sendiri, sementara rekannya juga memiliki ide yang berbeda. Beruntung, keduanya mampu menahan ego masing-masing dan mampu menjadikannya sebuah gagasan menarik. Kurangnya referensi dan pemahaman pembuatan aplikasi juga emnjadi kendala tersendiri bagi keduanya. Mahasiswa asli Dampit, Kabupaten Malang ini berharap ia bisa menelurkan ide dan karya yang lain. Bukan hanya karya yang beranfaat bagi dirinya saja, tapi juga mampu menebarkan manfaat di tengah masyarakat. ia juga tidak menutup pintu untuk belajar dan mengembangkan potensi terbaiknya di masa depan. “Saya tentu ingin sekali merealisasikan aplikasi ini dengan belajar coding dan alat pembuat aplikasi lainnya. Semoga bisa menjadi titik terang bagi para penderita diabetes,” pungkasnya. (haq/wil)
FISIP UMM Soroti Perubahan Realita dalam Fenomena Media Sosial

Teknologi informasi kini tak lagi jadi sekedar alat, namun teknologi juga turut andil dalam pergeseran realitas sosial di masyarakat. Dalam mendiskusikan isu ini, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar webinar bertajuk Digital Literation Through Film and Social Media pada akhir Februari lalu. Agenda ini menghadirkan dua pemateri menarik yakni Novin Farid Setyo Wibowo, M.Si, pakar film UMM dan Moch Fuad Nasvian, S.I.Kom., M.I.Kom, seorang social media enthusiast. Film dan media sosial di era modern menjadi bahasan yang dikaji. Utamanya karena adanya transformasi keduanya. Novin sapaan akrabnya menyebutkan bahwa serial web series Layangan Putus berhasil merubah persepsi realita masyarakat. Aksi dramatisasi yang dikemas dalam tayangan audio visual berhasil mengonstruksi realita di masyarakat. “Ini menjadi sebuah bukti bahwa film atau tayangan audio visual dalam kapasitasnya tak hanya sekedar mampu mempengaruhi sikap tapi juga mengubah pola pikir masyarakat. Dimana-mana it’s my dream not hers menjadi booming. Sejatinya film salah satu media yang memiliki kuasa untuk mengubahi realita di masyarakat,” tutur Novin. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa film dapat merepresentasikan maupun merefleksikan kehidupan sosial. Di samping itu, pesan yang disampaikan dalam film mampu mempengaruhi perilaku seseorang yang pada akhirnya akan menciptakan realitas baru. Novin juga menyampaikan bahwa film juga dapat berfungsi sebagai media propaganda dan penyebaran ideologi. Dengan fungsinya yang semakin berkembang ini, selain memberikan dampak kognitif dan afektif, film juga berdampak secara konatif yang merujuk pada perilaku nyata atau memberikan perubahan sikap terhadap penontonnya. “Film merupakan realitas lain dari realitas yang sesungguhnya. Menariknya dalam teori kultivasi disebutkan bahwa manusia yang selalu menonton tayangan tertentu dengan waktu yang lama maka akan memiliki sebuah pemahaman bahwa dunia di sekelilingnya seperti yang ditayangkan di televisi atau tontonan yang dilihat tersebut ,” tutur Novin. Pada kesempatan yang sama Fuad Nasvian memaparkan terkait media sosial. Menurutnya, tranformasi digital yang semakin canggih memberikan pengaruh pada generasi saat ini yang menjadi penikmat. Khususnya bagi generasi Z atau zilenial yang terpapar dalam menghadapi era liberasi digital melalui media sosial. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kehadiran revolusi industri 4.0 dan perkembangan teknologi memiliki peran dalam mengubah kondisi saat ini. Generasi zaman sekarang punya akses untuk belajar apapun hanya melalui gawainya. Namun ia mengingatkan, kemajuan tersebut juga tidak selalu berarti baik bagi masyarakat. Terdapat banyak juga hal-hal negatif yang bisa diakses dengan mudah melalui gawai tersebut. “Pada akhirnya semua kembali ke sikap dan pilihan kita masing-masing. Kita bisa memanfaatkannya untuk berkarya dan menghasilkan karya yang besar. Atau malah kita yang akan dihancurkan oleh teknologi,” tegas Fuad. (haq/wil)
Mahasiswa UMM Ini Juara Essay Nasional berkat Ide Tabir Surya Herbal

Tidak banyak ide yang mampu direalisasikan dan berhasil diapresiasi sebagai juara. Salah satu ide yang sukses mendapatkan penghargaan ialah miliki ini Nia Yuniar Fitriana Putri, Mahasiswa Prodi Farmasi Fakultas Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berhasil meraih juara dua essay nasional dalam kategori herbal kosmetik. Adapun Nia mendapatkan kemenangan itu dalam ajang Festival Pharmacy yang diadakan oleh Universitas Setia Budi pada bulan Februari ini. Nia, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ia mengangkat judul “Kombinasi Ekstrak Daun Kemangi dan Buah Tomat sebagai Tabir Surya” berawal dari keinginannya mendalami lebih jauh terkait khasia dua bahan itu. Utamanya dalam melindungi kulit dari sinar UV. Selain itu, jumlah pengidap kanker kulit yang terus bertambah karena sering terkena sinar UV secara langsung juga menjadi bahan bakarnya untuk menyetuskan ide tersebut. Nia menuturkan bahwa dalam daun kemangi terdapat kandungan senyawa flavonoid yang memiliki zat antioksidan. Sementara tomat memiliki kandungan likopen, yang juga mengandung zat antioksidan. Zat ini terbukti dapat melindungi kulit dari sinar UV serta mampu membuat kulit menjadi lebih sehat. “Jika zat likopen dan flavonoid ini dikombinasikan, tentu akan menghasilkan zat antioksidan tinggi yang mampu melindungi kulit kita,”ungkapnya. Mahasiswa angkatan 2020 ini kembali mengatakan bahwa ada kendala yang ia rasakan selama penyusunan essay. Salah satunya, jarangnya jurnal yang membahas terkait pemanfaatan daun kemangi dan tomat. Tetapi untunganya, selama penulisan essay ia banyak dibantu oleh kakak tingkat yang tergabung dalam grup belajar Hipotalamus. “Grup belajar ini sungguh memberikan pengaruh banyak dan bantuan selama saya menysun essay ini. Beragam diskusi dan masukan diberikan sehingga saya bisa mendapat banyak perspektif. Mengambil hal-hal yang bisa digunakan dalam essay agar apa yang saya tulis menjadi lebih kaya. Sehingga dapat ebsaing memperebutkan juara di lomba,” ungkap perempuan asli Jombang tersebut. Terakhir, ia berharap kedepannya gagasan yang ia cetuskan ini bisa terealisasikan. Juga bisa dilanjutkan pada tahap penelitian lebih lanjut dengan penambahan-penambahan yang dibutuhkan. Selain itu, tabir surya ini bisa menjadi solusi produk kosmetik yang lebih sehat dengan bahan herbal dan bisa menggantikan kosmetik dari bahan sintetis. “Tentunya jika ini berhasil direalisasikan, semoga bisa bermanfaat bagi masyarakat dalam melindungi kulit, sehingga mengurangi pengidap kanker kulit,” ucapnya. (haq/wil)
Mahasiswa Ikom UMM Menangi Festival Film Dokumenter Nasional

Prestasi demi prestasi silih berganti diraih oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, tiga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam tim produksi film dokumenter meraih predikat juara dua. Capaian itu diraih di ajang Festival Dokumenter yang digelar Universitas Budi Luhur, Jakarta, Minggu (20/2) lalu. Muhammad Hudan Nur Ibad (sutradara), Farhan Rifqi Zain (Director of Photography) dan Ilham Aditiya (Editor) adalah tiga nama yang mencetak prestasi tersebut. Mereka membentuk kelompok yang diberi nama Alecta Pictures untuk menyelesaikan Tugas Akhir Karya sebagai syarat lulus Sarjana Komunikasi UMM. Di bawah bimbingan dosen Nasrullah, ketiga mahasiswa ini berhasil lulus setelah karyanya diuji bulan lalu. Uniknya, karya mahasiswa tersebut merupakan film dokumenter tentang perjalanan hidup dan idealisme seniman kota Malang, Kadir Sugiarto, yang juga alumni Komunikasi UMM. Kadir memiliki nama panggung sebagai Ugik Arbanat. Dengan judul “Gesekan Arbanat Ugik untuk Anak Indonesia”, film ini menceritakan bagaimana Ugik menjawab keresahan masyarakat yang mulai meninggalkan lagu anak-anak. Film itu mengisahkan bagaimana Ugik dengan idealismenya terus melatih anak-anak bermusik. Tanpa kenal Lelah, dia berkeliling dari sekolah ke sekolah, dari komunitas ke komunitas. Dia pun meciptakan lagu-lagu bernuansa kebangsaan yang sesuai dengan irama anak-anak. Lagu Indonesia, misalnya, menggambarkan bagaimana anak-anak Indonesia mencintai keindahan alam dan budaya Nusantara ini. Farhan mengaku senang filmnya masuk kategori terbaik. Sejak masuk sepuluh besar, dia dan teman-temannya selalu mengabarkan kepada pembimbing jika filmnya ikut festival dan masuk nominasi. “Sebenarnya kami tidak menargetkan juara. Yang penting film kami dapat menginspirasi dan lebih mengenalkan seniman besar seperti Cak Ugik ini ke kancah nasional,” kata Farhan. Proses produksi film dokumenter ini mengalami berbagai hambatan. Beberapa kali pengambilan gambar dan editing harus diulang karena pembimbing meminta menyesuaikan dengan story line yang telah dibuat. “Ruh film yang terletak pada idealisme Ugik harus ditonjolkan, itu yang membuat kami kesulitan menerjemahkan saran pembimbing kami,” aku Hudan. Sebagai pembimbing, Nasrullah juga mengaku terus memotivasi anak didiknya untuk segera menyelesaikan karya yang disusun. “Saya kenal Ugik karena dia teman kuliah seangkatan. Dia itu iconic, khas, dan sangat idealis. Sayang kalau difilmkan sembarangan,” ungkap kepala prodi Komunikasi UMM ini. Makanya, selain membimbing, Nasrullah juga merasa terlibat secara emosional untuk keberhasilan film ini. Berbagai upaya dilakukannya, termasuk melibatkan pembimbing dan penguji praktisi film Arfan Adhi Prasetyo. “Ini karya monumental, jadi harus bagus. Mahasiswa harus menghayati proses kreatifnya secara sungguh-sungguh agar kelak ketika mereka bekerja pengalaman ini akan terus melekat dan membanggakan,” tuturnya. Tugas Akhir Karya memang menjadi salah satu alternatif pilihan mahasiswa Komunikasi UMM selain Skripsi. Pembuatan Film Dokumenter menjadi pilihan bagi mahasiswa yang terutama memilih peminatan Komunikasi Audio Visual. Meski demikian, peminat Jurnalistik maupun Public Relations juga bisa mengambil Tugas Akhir Karya ini. Pada dasarnya mahasiswa bisa memilih cara lulus sesuai dengan passionnya. Selain Film Dokumenter, mahasiswa juga bisa membuat karya lain baik yang bersifat project kreatif maupun berbasis client. Seperti manajemen media online, special event, creative business plan, termasuk juga artikel ilmiah yang tembus jurnal terakreditasi. (*/wil)
Mahasiswa UMM Ini Menangi Penghargaan di Istanbul Youth Summit

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harumkan nama kampus di kancah internasional. Maftuh Ikhsan Nanda Kurniawan, Mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) tersebut berhasil meraih juara tiga The best project Grup Project setelah mempresentasikan projek perbaikan pendidikan melalui aplikasi pada Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit 2022. Konferensi yang diselenggarakan oleh Yayasan Youth Break the Boundaries (YBB) tersebut berlangsung selama tiga hari mulai dari tanggal 14 – 17 Februari lalu. Nanda, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa aplikasi pendidikan yang ia kembangkan bersama tim ini diberi nama eduteers.id. Tujuan utama dari aplikasi ini adalah untuk mengurangi ketimpangan pendidikan yang ada di Indonesia dengan tagline Connecting the Gap. Adapun aplikasi ini dikembangkan dengan model pembelajaran fun learning yang berisi kuis dan video animasi sehingga akan menarik minat para siswa untuk belajar. “Kami tidak hanya membuat versi aplikasi tetapi juga versi website juga. Selain berguna untuk proses belajar mengajar, aplikasi dan website dari eduteers.id ini akan difungsikan untuk mendistribusikan para volunteer pendidikan ke daerah terbelakang, terpencil, dan tertinggal yang ada di Indonesia,” ungkap mahasiswa asal Lamongan tersebut. Lebih lanjut, Nanda menjelaskan bahwa saat mempresentasikan projek ini di Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit 2022, ia bersama tim telah bekerja sama dengan Sekolah NKRI di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Medan untuk uji coba aplikasi. Pemilihan sekolah NKRI sebagai tempat uji coba dikarenakan Nanda dan tim ingin memberikan pendidikan formal yang setara kepada anak-anak di dalam penjara. “Akses pendidikan yang anak-anak tersebut peroleh setelah masuk penjara sangatlah kurang. Masuknya eduteers.id ke lingkungan mereka juga sebagai upaya memutus ketimpangan pendidikan di Indonesia. Sehingga semua anak dapat memiliki kesempatan belajar hal yang sama,” kata Nanda. Mengenai raihan prestasi yang ia dapatkan, Anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku sangat bersyukur dapat bersaing di kancah internasional dan mendapat penghargaan. Utamanya dalam rangka mengharumkan nama kampus serta membanggakan orang tua. Bantuan dan dukungan dari pihak kampus juga sangat membantunya selama di Turki. “Saat ini aplikasi maupun website eduteers.id masih dalam tahap pengembangan. Saya berharap ke depannya akan banyak pihak yang membantu kami dalam proses pengembangan eduteers.id tersebut. Untuk teman-teman lain, semoga dapat menjadi inspirasi untuk tetap produktif serta menebar manfaat kepada masyarakat di tengah pandemi,” pungkasnya. (syi/wil)