Wakil Gubernur Jatim Dorong Mahasiwa UMM Jadi Wirausahwan Bertalenta

Potensi untuk merintis dan mengembangkan wirausaha di Jawa Timur (Jatim) sangatlah besar. Ada beragam keuntungan dan juga kelebihan tatkala membuka usaha di Jawa Timur. Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak di hadapan ratusan mahasiswa pada gelaran Talenta Wirausaha, Senin (14/2) lalu. Adapun agenda ini merupakan kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Emil, panggilan akrabnya melanjutkan, Jatim memiliki pertumbuhan ekonomi yang kompetitif di pulau Jawa dan dapat bersaing dengan provinsi lain. Ekonominya juga menjadi terbesar kedua di Indonesia dengan populasi yang cukup besar di angka 40 jutaan. Ia juga sempat membandingkan dengan Malaysia yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 30 juta dan dianggap sebagai salah satu islamic financial hub. “Tentu provinsi ini menjadi tempat yang tepat bagi saudara untuk memulai bisnis dan mengembangkannya menjadi lebih besar. Dan saya juga senang Jatim dipilih menjadi tempat pertama untuk memulai rangkaian acara Talenta Wirausaha ini,” imbuhnya. Wakil dari Khofifah itu juga menjelaskan bahwa Jatim memiliki lokasi yang strategis dan mitra dagang yang bagus dengan beragam provinsi. Bahkan provinsi paling timur pulau jawa ini juga menyumbang seperlima volume perdangan Indonesia dan seperempat di sektor industri manufaktur. Ia juga sempat menyinggung potensi perdagangan yang paling kentara, yakni banyaknya rute dagang tol laut. Setelah menerangkan potensi-potensi tersebut, Emil kemudian memotivasi para mahasiswa untuk siap menghadapi perubahan. Pada revolusi industri yang keempat ini, dunia dirasa terlalu sempit untuk manusia. Apalagi muncul berbagai inovasi dan mesin-mesin baru yang semakin mengikis kesempatan kerja bagi manusia. “Banyak yang bilang bahwa bonus demografi sangat menguntungkan Indonesia. Namun, jika tidak dipersiapkan dengan baik, keuntungan itu akan berubah menjadi malapetaka demografi. Dan kita tentu tidak ingin hal itu terjadi,” ungkapnya menegaskan. Maka, perubahan mindset harus segera dilakukan. Konsep kemapanan harus diubah dari yang dulunya bekerja di perusahan besar atau PNS menjadi wirausaha berbasis kompetensi. Ditambah dengan penerapan teknologi yang bisa dengan mudah kita terapkan ke seluruh elemen pekerjaan. “Salah satu sektor yang bisa teman-teman kembangkan yakni UMKM pertanian. Berdasarkan sensus ekonomi 2016 dan survei pertanian 2018, ada sekitar 9,78 juta unit usaha di Jawa Timur. Apalagi dibarengi dengan adanya BUMDes yang jumlahnya lebih dari 6118. Tentu, hal ini perlu dimaksimalkan untuk menciptakan Jawa Timur yang lebih baik dan Indonesia yang lebih maju,” tegas Emil. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai agenda ini adalah hal yang menarik karena mengundang mereka yang notabene generasi milenial. Apalagi yang dibahas adalah mengenai dunia usaha. Hadirnya tiga stake holder dari beragam pihak juga memberikan kesan tersendiri. Pertama yaitu wakil gubernur yang memiliki kekuasaan teritorial yang luas. Kemudian yang kedua adalah BSI yang mengajak untuk merajut masa depan yang lebih cerah. “Dan yang ketiga adalah kampus UMM yang merupakan sumber utama SDM. Dengan kerja sama yang baik di antara ketiganya, saya yakin kawan-kawan milenial kampus akan menjadi orang-orang yang kuat di masyarakat. tidak hanya untuk sekarang, tapi juga untuk kemajuan di masa depan,” pungkas Fauzan. (wil)

UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru FKIP

Dalam mengembangkan pendidikan, bukan hanya peserta didik saja yang perlu ditingkatkan, namun pendidik juga harus meningkatkan kapasitas keilmuannya. Hal tersebut juga dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pengukuhan Tiga Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Rabu (16/2) lalu. Adapun mereka yaitu Prof. Dr. Dwi Poedjiastutie, M.A., P.hD. (Bidang Pendidikan Bahasa Inggris), Prof. Dr. Baiduri, M.Si. (Bidang Pendidikan Matematika) dan Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti, M.Si., M.Pd. (Bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Sebelum dikukuhkan, ketiganya juga berkesempatan untuk menyampaikan orasi ilmiah berkaitan dengan bidang keilmuan yang dikuasai. Pada kesempatan itu, dilangsungkan juga launching Center of Excellence (CoE) terbaru Kelas Anggrek yang dikembangkan oleh Prodi Pendidikan Biologi. Dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kampus Putih UMM dengan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) sebagai komitmen menjalankan kelas profesional yang dibangun. Menariknya, usai penandatanganan, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga dihadiahi anggrek hybrid varian baru yakni Anggrek Dendrobium dengan nama Fauzan UMM Biom. Disampaikan Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, MM., kelas ini memang memiliki tujuan untuk mempercepat kelulusan mahasiswa. Begitupun dengan pengembangan kemampuan serta wirausaha sehingga para lulusan dapat mendapatkan pekerjaan yang layak. Salah satu upayanya yakni menggaet beragam industri dan dunia kerja (Iduka) sehingga ada banyak impelemntasi program yang bisa dilangsungkan. Terkait pengukuhan guru besar, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa hadirnya tiga guru besar ini semakin menguatkan tekad Kampus Putih untuk melakukan perubahan. Utamanya terkait orientasi pembelajaran yang futuristik dan peran UMM sebagai problem solver di tengah masyarakat. Menurutnya, orientasi pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik, baik siswa maupun mahasiswa harus berujung pada hal yang bermanfaat serta bisa diimplementasikan. Pembelajaran juga harus bertanggungjawab akan masalah-masalah yang dialami warga secara luas. Sehingga, bisa lebih peka dan dapat terus ditingkatkan serta disesuaikan dengan tuntutan kemajuan zaman. Sementara itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Bebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. menilai bahwa guru besar layaknya tentara yang meraih pangkat jenderal. Merangkak dan bersusah parah dari bawah untuk meraih cita-cita berada di puncak. Orasi-orasi yang disampaikan oleh ketiganya juga dirasa Muhadjir bisa memberikan suasana dan perspektif baru di bidangnya masing-masing. “Saya ingin berpesan kepada para guru besar, baik yang lama maupun yang baru dikukuhkan untuk bisa terus menanamkan hal-hal bermakna untuk kampus putih. Di samping itu juga terus berupaya menjadi teladan yang baik seperti yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu. Hingga namanya masih dikenal dan diingat oleh seluruh sivitas akademika UMM sampai sekarang,” imbuhnya. Hal tak jauh berbeda juga dituturkan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VII Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Menurutnya, capaian ketiganya merupakan karunia yang luar biasa dari Tuhan YME. Kini, mereka dituntut untuk bisa menyebarkan kepakarannya hingga bisa mengalirkan manfaat yang begitu deras. “Bapak dan ibu adalah manusia langka nan istimewa. Namun semua akan sia-sia jika bapak ibu tidak menebarkan kebaikan dan keilmuan yang dipunya untuk manusia-manusia lainnya,” tegas Soeprapto. Terakhir, Anggota PP Majelis Diktilitbang Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan berharap ketiganya bisa memberikan basis teori sebagai jangkar pendidikan Muhammadiyah. Perlu adanya elaborasi mumpuni sehingga dapat menciptakan filsafat pendidikan Muhammadiyah yang baik. Dengan jangkar yang sudah dibangun tersebut, kita tidak akan bisa dengan mudah diombang-ambingkan olrh dunia luar. “K.H. Ahmad Dahlan pernah berpesan bahwa manusia itu harus memiliki dua sifat yakni menjadi murid yang selalu belajar hal baru. Dan yang kedua yakni menjadi guru yang selalu membuka pikiran atas zaman yang baru sehingga tidak gampang terbawa arus zaman,” pungkasnya. (haq/wil)

Tim FDI UMM Raih Medali Emas Internasional AISEEF

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengharumkan nama Kampus Putih di kancah Internasional. Kali ini tim dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Diskusi Ilmiah (FDI) berhasil meraih medali emas pada kategori Social Science di ajang Asean Innovative Science Enviromental and Entrepreneur Fair (AISEEF). Adapun event ini diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Assosiaation (IYSA) dan Universitas Diponegoro (Undip) pada awal Februari lalu secara luring. Siti Mariyatul Qibliyah, salah satu anggota kelompok menjelaskan bahwa judul yang diangkat adalah ‘The Assistance of The PKK Group At Tanjungtani Village Through Utilizing Soybean Husk Waste Into Products’. Adapun inovasi ini adalah pemanfaatan limbah kulit ari kedelai menjadi abon siap dikonsumsi. Tidak hanya itu, mereka juga memberdayakan ibu-ibu PKK dalam mengembangkan dan meningkatkan ekonomi Desa Tanjungtani. Hal itu menjadi bagian dari upaya membentuk wirausaha baru dan menciptakan masyarakat mandiri. “Kami tidak hanya memasarkannya secara luring, tapi juga daring melalui marketplace dan beragam media sosial,” tegasnya. Menariknya, kompetisi tersebut memiliki konsep yang mirip dengan pameran. Para peserta diminta mendirikan stand dan menampilkan hasil produknya. Kemudian para juri dan pengunjung bisa bertanya dan melihat-lihat. Terkait penilaian, ada beberapa poin yang harus dipenuhi yakni kreatifitas stand, judul yang menarik hingga sebarapa bagus produk yang dijual. Menurut Riya, panggilan akrabnya, cerita dan pengalaman lomba dari kakak tingkat sangat membantu mereka dalam mengumpulkan nilai melalui produk dan presentasi. Kekuatan mental juga dirasa menjadi kunci penting dalam memenangkan medali tersebut. “Kami sempat kesusahan membawa produk dan perlengkapan. Apalagi ketika di Semarang, kami sangat kesulitan untuk mendapatkan toko yang menjual alat-alat untuk properti. Meski begitu, Alhamdulillah kami tidak putus asa dan menyelesaikan stand dengan sangat baik,” ucap Riya. Terakhir, mahasiswa Pendidikan Biologi tersebut ingin produk ciptaan mereka ini bisa dikembangkan lebih lanjut. Baik itu dari segi variasi rasa, kemasan yang lebih menarik dan juga strategi pemasarannya. “Saat ini kami juga sedang mengembangkan produk serupa tapi bisa dikonsumsi oleh mereka yang alergi daging dan vegan. Kami juga selalu bertekad untuk bisa kembali berprestasi di event-event lain,” ujarnya. Riya tidak sendiri dalam meraih medali tersebut. Ia ditemani oleh rekan-rekannya yakni Eginuari Ilhani (Hukum), Olivia Margareta (Pendidikan Bahasa Inggris), Aggy Pramesti Wary (Pendidikan Biologi) dan Siti Rofiatul Sazjiyah (Sosiologi). (haq/wil)

Menko PMK Dorong RS UMM Antisipasi Covid-19

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. mengunjungi Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (14/2) lalu. Ia melihat dan mengimbau para tenaga kesehatan RS UMM untuk bersiap menghadapi gelombang pandemi selanjutnya. Apalagi melihat angka penderita yang kembali meningkat. Muhadjir, panggilan akrabnya mengatakan bahwa RS UMM bisa belajar banyak kepada rumah sakit khusus infeksi yakni RS Sulianti Saroso, Jakarta. Menurutnya, rumah sakit tersebut memiliki tenaga medis dan alat-alat yang mumpuni dan advance. Harapannya, RS UMM bisa terus mengembangkan diri dan bisa menyamai atau bahkan melebihi RS Sulianti Saroso. Selain itu, Muhadjir juga mendorong RS UMM untuk melebarkan sayap melakukan vaksinasi kepada masyarakat, khususnya warga Malang. Apalagi melihat persentase vaksinasi warga lanjut usia (lansia) yang belum maksimal. Dengan meningkatkan persentase tersebut, Muhadjir yakin angka penularan Covid-19 bisa ditekan dan melandai kembali. Menteri yang juga menjadi Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM itu juga terus mendorong tenaga medis untuk senantiasa mengupgrade diri. Baik melalui kunjungan ke RS yang lebih maju di luar negeri atau juga pelatihan-pelatihan yang melengkapi skill dan kemampuan para dokter, perawat serta tenaga medis lainnya. “Saudara-saudara harus memiliki integritas yang tinggi serta selalu bersikap jujur. Senantiasa ikhlas melayani pasien sehingga apa yang dilakukan dan diterima mednapat berkah luar baisa dari yang maha kuasa,” imbuhnya. Sementara itu dr. Dedy Irawan, Sp.JP,FIHA menjelaskan jumlah pasien Covid-19 di gedung instalasi infeksi yang hanya memiliki satu pada bulan November lalu. Bahkan sempat kosong di bulan Desember. Namun angka itu kembali naik, khususnya penderita varian Omicron. Kemudian meningkat 16 pasien di bulan Februari. Angka tersebut masih di luar 30 pasien lain yang masih suspect dan beberapa dinyatakan positif. “Trennya memang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kami juga memberikan perhatian khusus bagi ibu hamil yang menderita Covid-19. Terhitung, kita sudah melakukan lima operasi ibu hamil dan satu operasi pasien patah tulang,” tuturnya. Dedy melanjutkan bahwa RS UMM kini menjadi rumah sakit rujukan, utamanya di wilayah Kabupaten Malang. Para pasien yang dirawat nyatanya juga tidak hanya dari Malang saja tapi juga dari beberapa daerah lain, salah satunya Pasuruan. Menurutnya, ada beberapa rumah sakit yang menutup ruangan perawatan pasien Covid-19 karena melihat angka penderita yang melandai. Namun mereka akhirnya kurang siap tatkala angka tersebut kembali naik seperti saat ini. “Alhamdulillah, karena kami memiliki gedung khusus penyakit infeksi dan Covid-19, jadi bisa bergerak lebih cepat dalam menangani lonjakan angka Covid beberapa hari ini,” imbuhnya. Di lain sisi, Direktur RS UMM Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp. PD-KPTI turut mengapresiasi kinerja para tenaga medis dalam menghadapi pandemi. RS UMM bahkan sudah dipercaya oleh RSUD Saiful Anwar untuk merawat beberapa pasien Covid-19 yang tadinya dirawat di sana. “Kami juga memiliki tim untuk melacak pasien hingga ke rumah-rumah. Memberikan pelayanan bagi masyrakat, mulai dari resep hingga kepatuhan akan jadwal minum obat,” tegas Djoni. Lebih lanjut, ia juga bersyukur kerja keras pihaknya selama ini mendapat apresiasi baik dari pemerintah. RS UMM berhasil mendapatkan penghargaan dari bupati Kabupaten Malang serta wali kota Batu berkat upayanya menekan angka penyebaran virus Covid-19. Kemudian juga sukses memperoleh penghargaan dari gubernur Jawa Timur sebagai rumah sakit swasta terbaik yang menangani pandemi. (wil)

Mengunjungi Rooftop Rayz Hotel UMM, Tempat Nongkrong Nyaman di Malang

Rayz Hotel menjadi salah satu unit bisnis terbaik yang dimiliki oleh Universiats Muhammadiyah Malang (UMM). Dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memanjakan, hotel bintang empat ini terus berbenah dan memberikan pelayanan terbaik. Satu spot menarik yang dimiliki adalah Sky Rooftop yang ada di lantai paling atas hotel satu ini. Keluar dari lift, kita akan disambut apik dan diarahkan menuju meja dan dijamu dengan baik. Sky Rooftop ini diklaim bisa menampung sekitar 80 orang. Maka tidak jarang acara serta meeting sering dilaksanakan di lokasi tersebut. “Sky Rooftop ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh mengunjungi dan menikmati hidangan serta pemandangan yang kami suguhkan. Begitupun dengan para tamu yang memang stay di hotel. Kami selalu buka setiap hari pada pukul sebelas siang hingga jam sepuluh malam,” jelas Manajer Hotel Rayz Yanuar Arifien. Selain hidangan lezat dan pemandangan lanskap Malang, para tamu juga bisa bermain permainan seru yang sudah disediakan. Membaca beragam majalah dan buku yang sudah disiapkan dengan iringan live music. Yan, panggilan akrabnya mengatakan bahwa para foodvlogger juga bisa datang dan mengeskplor beragam masakan terbaik yang disajikan dengan harga yang cukup terjangkau. “Ada dua makanan favorit yang mungkin bisa jadi pilihan yakni nasi bakar kemangi dan barbeque platter. Utamanya hidangan kedua yang banyak pengunjung menyukainya. Ada juga macam-macam kopi yang bisa dicoba, mulai dari jenis kopi kintamani hingga semeru. Harga makanan yang disediakan juga cukup terjangkau, mulai dari 30 ribu rupiah hingga 120 ribuan dengan rata-rata 50an ribu,” tambahnya. Adapun Rayz Hotel UMM baru saja merekrut chef baru dengan pengalaman yang mumpuni. Dijelaskan Yan, chef baru tersebut memiliki kemampuan memasak yang baik di berbagai menu masakan. Utamanya menu-menu chinese food dan masakan lokal. “Kami tiap dua bulan sekali selalu memperbarui tema yang ad di Sky Rooftop. Untuk Januari dan Februari ini kami mengambil konsep asian week. Kemudian nanti di dua bulan ke depan kami akan menyiapkan konsep ramadan dengan masakan-masakan lokal yang enak,” imbuh pria asli Malang tersebut. Yan berharap, Sky Rooftop ini dapat memotivasi kawan-kawan untuk lebih meningkatkan kualitas produk dan layanan. Jika sudah memiliki pelayanan yang bagus, maka otomatis juga mendapatkan imrpesi yang baugus. “Adapun makanan yang enak dan lezat tentu akan mendorong tamu untuk datang kembali,” pungkas Yan. (wil)

Kolaborasi Lima PTM, Dosen UMM Ini Teliti Bahan Baku Obat Alternatif

Kolaborasi yang bagus dilakukan oleh lima Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Mereka kini berupaya melaksanakan penelitian ekstraksi eceng gondok dan kulit jeruk untuk bahan baku obat. Salah satu penggasnya yakni Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) apt. Dra. Uswatun Chasanah, M.Kes. Proposal penelitian yang ia gagas bersama rekan-rekannya berhasil lolos tahap pendanaan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Muhammadiyah Aisyiyah (APTFMA). Adapun seleksi pemberian hibah tersebut melibatkan seluruh Universitas Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia. Ina, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Industri farmasi Indonesia sampai saat ini masih bergantung pada impor pasokan bahan baku obat dari luar negeri. Kurang lebih ada sekitar 90% bahan baku pembuatan obat tablet bukan berasal dari dalam negeri. Maka menurutnya, Indonesia perlu segera mengembangkan bahan-bahan yang berpotensi menjadi bahan baku pembuatan obat. “Jika penelitian eceng gondok dan kulit jeruk ini mendapat hasil yang bagus, kedua bahan tersebut tentu dapat membuat harga-harga obat menjadi lebih murah. Hal ini dikarenakan harga kedua bahan baku obat tersebut relatif tidak mahal ketimbang bahan impor dari luar  negeri,” kata dosen kelahiran Batu tersebut. Lebih lanjut, Ina juga menuturkan eceng gondok dan kulit jeruk dipilih karena mengandung serat selulosa dan tinggi akan kandungan antioksidan. Keduanya juga dapat memiliki pertumbuhan yang cepat dan cukup mudah didapatkan. Kelebihan ini dinilai dapat mempermudah proses pembuatan obat baik dalam skala laboratorium maupun skala industri. “Eceng gondok diketahui memiliki kandungan selulosa yang tinggi yaitu 60% selulosa, 8% hemiselulosa, dan 17% lignin. Sedangkan kulit jeruk mengandung selulosa  sebesar 5,36%. Dengan adanya persentase selulosa yang cukup besar, menjadikan kedua bahan alam ini dapat digunakan untuk bahan baku sediaan farmasi,” katanya. Selain UMM, penelitian ini juga diinisiasi oleh empat dosen dari universitas yang berbeda yaitu Universitas Muhammadiyah Lamongan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Universitas Muhammadiyah Bandung, dan Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon. Dijelaskan oleh Ina, sampai saat ini penelitian yang dilakukan telah mencapai tahap ekstraksi kulit jeruk dan eceng gondok. “Saya tentu berharap penelitian yang kami upayakan ini mampu menghasilkan hasil posotif. Sehingga industri farmasi Indonesia dapat memiliki alternatif lain dalam bahan baku obat. Pun membuat masyarakat bisa mendapatkan obat dengan harga yang relatif lebih terjangkau,” tandasnya. (syi/wil)

RBC UMM Kenalkan Olahan Kopi dan Eksperimen Pasta Gigi Gajah

Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar kembali turun memberikan wawasan baru bagi masyarakat. Terbaru, mereka melakukan kunjungan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah 06 DAU (SMPM 06 DAU) dengan membawa mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada awal Februari lalu itu menyasar para siswa. Selain menyuguhkan buku lewat perpustakaan keliling yang ada di mobil KaCa, tim RBC juga mengenalkan macam-macam jenis olahan kopi. Selain itu juga melakukan eksperimen pasta gigi gajah. Tiga suguhan tersebut nyatanya dapat menaikkan antusiasme dan keingintahuan para siswa yang mengikutinya. Menurut tim RBC Muhammad Farros Imaroh, Indonesia memang memiliki beragam jenis kopi. Hal itu dirasa sangat menarik, apalagi dengan banyaknya coffe shop yang menjamur di Malang Raya. Para siswa juga diajak untuk membuat kopi secara langsung dengan teknik-teknik tertentu. Kemudian mencicipi kopi hasil buatannya bersama-sama. “Dengan memahami jenis-jenis kopi, para siswa nantinya bisa melakukan kegiatan lanjutan seperti kewirausahaan atau juga penelitian terkait kopi itu sendiri. Siapa tahu nanti ada bibit-bibit pebisnis kopi yang berhasil,” tambahnya. Berbeda dengan Faros, Dwi Putri Ayu Wardani mengenalkan eksperimen pasta gigi gajah kepada para siswa. Adapun nama pasta gigi gajah diambil dari hasil reaksi yang menyerupai pasta gigi. Begitupun dengan kemasannya yang berukuran jumbo. “Busa yang dihasilkan cukup unik karena gelembung busa kecil memiliki kandungan oksigen. Adapun bahan ragi kering berperan sebagai katalis sebagai pemecah rantai oksigen dari hidrogen peroksida. Reaksi cepat yang terjadi mengakibatkan adanya banyak gelembung,” imbuh Ayu menjelaskan. Ayu, panggilan akrabnya mengatakan bahwa para pelajar terlihat antusias menyambut kedatangan mobil KaCa UMM. Mereka mengikuti rangkaian agenda dengan menerapkan protokol kesehatan ketat demi menekan angka penularan Covid-19. Adapun kegiatan tersebut dilaksanakan dua kali dalam sebulan dengan mengunjungi berbagai sekolah yang ada di Malang maupun luar daerah. Tidak hanya menyuguhkan layanan perpustakaan keliling, tim RBC juga mengadakan aktivitas menarik untuk meningkatkan keingintahuan dan minat baca masyarakat. Sementara itu, Ketua Tim RBC Maharina Novia Zahro mengatakan bahwa kegiatan ini juga diharapkan mampu mengenalkan RBC yang berlokasi di perumahan Permata Jingga. Menurutnya, rumah baca yang disediakan tidak eksklusif hanya disuguhkan bagi kawasan elit semata. Namun seluruh lapisan masyarakat dapat mengunjungi dan membaca beragam buku yang ada di dalamnya. “Semoga upaya-upaya kami ini bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Paling tidak bisa meningkatkan minat baca yang nantinya juga berakibat pada naiknya literasi mereka. Tentu kami juga akan terus menyediakan buku-buku berkualitas yang menambah ilmu dan wawasan,” pungkasnya. (*/wil)

Peluang Usaha Baru, Prodi Kehutanan UMM Buka CoE Essential Oil

Essential oil merupakan produk hasil hutan yang mempunyai nilai jual tinggi. Namun di Indonesia, penggunaannya masih banyak mengandalkan hasil impor dari negara lain. Melihat peluang tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyediakan program kelas Center of Excellence (CoE) Essential Oil. Adapun program ini dibuka untuk mahasiswa UMM dan nantinya juga untuk masyarakat yang ingin mendalami aspek terkait. Ketua Program Studi (Prodi) Kehutanan, Galit Prakosa, S.Hut., M.Sc. mengatakan bahwa program ini digagas agar mahasiswa memiliki keterampilan kerja lapangan secara langsung. Utamanya bersama beberapa industri dan dunia kerja (Iduka) yang sudah digaet. Pemilihan essential oil sendiri juga bertujuan agat dapat membuka peluang wirausaha bagi para peserta. Apalagi hanya ada segelintir pihak saja yang menggelutinya. “Sampai saat ini, prodi kehutanan sudah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama sederet perusahaan. Salah satunya yakni PT. Pemalang Agro Wangi (PAW). Dalam waktu dekat, kami juga akan mengajak perusahaan-perusahaan lain untuk mengembangkannya. Saat ini pun kami sudah menjajaki kerja sama bersama PT. Lantai Hutan dan  Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro),” ungkap Galit. Lebih lanjut, dosen kelahiran Madiun tersebut mengatakan para peserta nanti akan diajari proses penanaman biji atsiri sampai pemasaran produk essential oil ke masyarakat. Pengajaran dari hulu ke hilir ini dilakukan agar mereka lebih paham masing-masing tahapan produksi. Adapun untuk tahun-tahun awal, peserta hanya akan diambil dari mahasiswa UMM. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dibuka untuk masyarakat umum. “Selain UMM, sebenarnya ada beberapa lembaga pembelajaran lain yang berfokus pada produksi essential oil. Namun proses pembelajarannya hanya terbatas pada sampel-sampel di beberapa tahapan produksi. Berbeda dengan kelas CoE UMM yang mana akan memberikan paparan pada masing-masing tahapan,” kata Galit. Adalun lama pelaksanaan program ini sekitar dua semester. Semester pertama para peserta akan dikirim ke beberapa industri untuk melakukan magang. Selain itu juga mendapat materi langsung dari pihak industri. Kemudian pada semester kedua, mereka diminta untuk menerapkan langsung ilmu yang didapat di daerah Pujon Hill. “Tak hanya mendapat keterampilan pengolahan essential oil, mahasiswa yang dirasa memiliki kemampuan unggul kemungkinan besar akan direkrut oleh dunia industri. Saya tentu berharap, program ini dapat membantu keterserapan lulusan Kampus Putih menjadi tenaga kerja di bidang essential oil. Disamping itu juga dapat memberikan gambaran pada mahasiswa mengenai prospek kerja bagi jurusuan kehutanan di masa depan,” ujarnya mengakhiri. (syi/wil)

Nisrina, Mahasiswa UMM Peraih Beasiswa ke Turki

Dalam mengembangkan skill dan ilmu pengetahuan perlu adanya pengalaman langsung, baik itu dalam skala nasional maupun internasional. Hal serupa juga dirasakan oleh Nisrina Nur Husna, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berkesempatan merasakan belajar di Luar Negeri melalui beasiswa Hüdayi Vakfı Eğitim ve Kültür Projesike untuk berkuliah di Aziz Mahmut Hüdayi, Kota Istanbul, Turki. Selama delapan bulan, ia menimba ilmu, tepatnya sejak bulan April hingga awal tahun ini. Nisrina, panggilan akrabnya tidak menyangkan bisa lolos program beasiswa tersebut dan terbang ke Turki. Saat awal kedatanga, ia harus melewati masa karantina selama sepuluh hari sebelum bisa masuk di kelas untuk mendalami ilmu di Program Studi (Prodi) Islamic Science. Salah satu kendala utama yang ia rasakan tidak lain adalah adaptasi bahasa. Mengingat mayoritas orang Turki tidak bisa menggunakan bahasa Inggris. Pembelajaran yang ia ikuti juga menggunakan bahasa Turki, jadi may tidak mau ia harus mempelajarinya sehingga dapat memahami dengan baik. “Beruntung, saya dan kawan-kawan lainnya dibantu belajar bahasa Turki oleh masyarakat setempat. Mereka juga ramah dan suka bertukar senyum. Oh iya, ada juga mahasiswa-mahasiswa Indoensia yang turut mengajari bahasa Turki,” ujarnya. Selain bahasa, menurutnya adaptasi cuaca dan makanan menjadi kendala tersendiri. Kondisi iklim sub-tropis dengam lima cuaca sempat mempengaruhi kesehatan tubuhnya, terutama ketika musim gugur dan musim dingin yang tidak pernah ia rasakan di Indonesia. Sedangkan makanan, sampai sekarang ia masih belum terbiasa dengan selera masakah khas Turki. Mahasiswa asli Depok ini mengungkapkan bahwa selama menjalankan program beasiswa di Turki, UMM dinilai banyak membantu terutama dalam aspek bidang akademik. Bahkan Prodi IKS memberikan kemudahan perkuliahan secara online dengan penyesuaian tugas dan waktu Turki. Sederet dosen juga senantiasa mendukung penuh para mahasiswa yang menerima mahasiswa. “Alhamdulillah, Prodi IKS Kampus Putih memberikan kemudahan perkuliahan sehingga saya tidak kesulitan melanjutkan kuliah di UMM tanpa harus memikirkan cuti,” ucapnya. Anak keempat dari empat bersaudara ini kembali megungkapkan bahwa Masjid Hagia Sophia menjadi tempat favoritnya selama di Turki. Menurutnya, masjid Hagia Sophia memancarkan suasana historis yang kuat dan hal tersebut yang menurutnya istimewa. Ia juga sesekali mengunjungi taman kota untuk sekadar bersantai atau membaca buku.ditemani dengan gemericik air dan burung-burung yang tak jarang menghampiri Nisrina. Nisrina berharap ilmu yang ia dapatkan selama di Turki bisa menjadi berkah untuk diri sendiri maupun orang lain. Membuka pintu yang dulunya tidak bisa ia gapai serta mendapatkan peluang untuk bsia mengajar di salah satu instansi pendidikan sehingga ilmu yang ia dapatkan bisa bermanfaat. “Saya ingin sekali mengajarkan ilmu dan pengalaman yang saya dapat di Turki kemarin. Memberikan pemahaman bahwa tak ada mimpi yang terlalu besar jika kita senantiasa berusaha,” ungkapnya. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Menangi Medali Internasional berkat Aplikasi CardioFriends

Gagas aplikasi rehabilitasi untuk pasien penyakit jantung, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bawa pulang medali internasional. Raihan medali perunggu tersebut diperoleh pada ajang Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Internasional yang bertemakan Asean Innovative Science Environmental and Enterpreneur Fair (AISEEF) 2022, pada Selasa (05/02) lalu. Ajang ini diinisiasi oleh Indonesia Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dan dilaksanakan secara hybrid. Pada lomba tersebut, aplikasi rancangan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) ini harus bersaing bersama 447 tim dari 20 negara di ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Turkey, Mesir, Singapura, USA, Philipina, Palestina, Thailand, Lebanon, Macau, Vietnam, Uni Emirate Arab, Iran, Tunisia, Macedonia, Korea, Taiwan dan Republik Serbia. Salah satu anggota tim, Khoiroh Yeroh menjelaskan bahwa gagasan pembuatan aplikasi CardioFriends ini berawal dari kekhawatiran anggota tim mengenai penanganan rehabilitasi para pasien penyakit jantung. Utamanya di masa-masa pandemi. Padahal, rehabilitasi jantung merupakan salah satu intervensi pengobatan yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup pasien jantung koroner. “Menurut data dari World Health Organization (WHO), ada 13.000 lebih penderita penyakit jantung di seluruh dunia. Sementara itu, penyediaan layanan kesehatan menjadi terganggung karena penanganan pandemi Covid-19. Oleh karenanya, kami memberikan solusi penanganan pasien jantung koroner di masa pandemi dengan menggunakan sistem berbasis mobile health bernama CardioFriends,” ungkap mahasiswa asal Malang tersebut. Lebih lanjut, Khoir sapaan akrabnya menjelaskan bahwa aplikasi ini dirancang untuk memudahkan perawatan pasien penyakit jantung di rumah. Sampai saat ini, pembuatan aplikasi tersebut telah sampai pada tahap prototipe. “Namun untuk ke depan, perlu adanya penelitian dan uji coba lebih lanjut terkait efektivitas penggunaan aplikasi dalam mengatasi tantangan penyelesaian kasus penyakit tidak menular di era Covid-19,” ujar anak pertama dari dua bersaudara itu. Selain Khoir, tim ini juga dianggotai oleh Muhammad Dodik Prastiyo, Dinda  Putri S, Fino Ardiansyah, dan Risa  Aprillia. Pada kesempatan yang berbeda, Dodik menambahkan bahwa aplikasi ini tidak hanya terbatas pada smartphone tetapi juga terintegrasi pada smartwatch dan website. Selain itu, Aplikasi ini juga memiliki delapan fitur utama yaitu, pendidikan, kepatuhan pengobatan, manajemen stress, kesehatan tubuh, aktivitas fisik, konseling kesehatan, dukungan komunitas penyakit jantung, dan pengukur kesejahteraan. “Integrasi smartphone dan smartwatch ini akan memudahkan kontrol harian pada aktivitas para pasien. Sementara itu, website digunakan untuk akses pada data-data yang besar.  Aplikasi ini juga dilengkapi dengan dukungan menyelesaikan tantangan, notifikasi harian, mengukur pengetahuan, tingkat obesitas, dan juga tingkat stres,” kata mahasiswa FIKES itu. Dodik mengatakan bahwa dengan adanya berbagai fitur dan layanan di dalam aplikasi ini, diharapkan pasien mendapatkan fasilitas rehabilitasi yang maksimal. “Saya ingin nantinya aplikasi ini benar-benar bisa memberikan bantuan secara nyata serta adanya pengembangan inovasi terkait fitur-fitur yang ada,” ujarnya mengakhiri. (syi/wil)