Vokasi UMM Berangkatkan Fresh Graduate Ke Jepang dan Kuwait

Dalam meningkatkan kualitas dan kapabilitas lulusan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya membuka kesempatan kepada mahasiswa dan alumninya untuk belajar serta bekerja di luar negeri. Kali ini, Vokasi UMM berangkatkan sepuluh lulusannya ke Jepang dan Kuwait melalui program training dan penempatan kerja bagi alumni. Adapun pemberangkatan ini dilaksanakan di Gedung Rektorat pada Sabtu (05/02) lalu. Lilis Setyowati, M.Sc. selaku dosen Keperawatan Kampus Putih menjelaskan bahwa salah satu tujuan program ini adalah untuk membangun image bagus bagi lulusan vokasi. Selain itu juga sebagai upaya mengembangkan skill dan menambah pengalaman bekerja di luar negeri. Menurutnya, pengalaman terkait dapat membuka pikiran dan wawasan baru terkait keperawatan. “Program training dan penempatan kerja di Jepang dan Kuwait ini juga mampu membuka pikiran lulusan vokasi bahwa lapangan kerja di luar Indonesia masih bejibun dan siap untuk ditaklukan,” ucap Lilis. Pada kesempatan yang sama, Dr. Tulus Winarsunu, M.Si selaku Direktur Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi mengungkapkan bahwa program ini berawal dari kerjasama antara Vokasi UMM dengan lembaga dan perusahaan luar negeri. Dua di antaranya yakni hubungan baik dengan Indomobil dari Jepang dan Royal Hayat dari Kuwait. Selain itu, pihaknya juga sudah menggaet perusahaan di bidang sending documentations. Hal ini diperlukan guna memperlancar dokumen persyaratan sampai ke negera yang dituju. Lebih lanjut Tulus menjelaskan bahwa bukan hanya mahasiswa dan lulusan UMM saja yang berkesempatan mengikuti program ini. Para pegawai yang ada di Rumah Sakit Umum (RSU) UMM juga diberi peluang untuk pergi ke luar negeri. Dengan begitu, ucap Tulus, mereka bisa belajar banyak skill dan pengetahuan yang belum pernah dimiliki. “Khusus untuk mereka yang berangkat ke Jepang, akan ada training bahasa Jepang selama enam bulan. Sedangkan untuk mereka yang ke Timur Tengah tidak harus melalui training bahasa. Kali ini, sepuluh orang lulusan Vokasi UMM yang berhasil lolos dan siap berangkat. Delapan orang akan pergi ke Jepang dan dua orang lainnya diberangkatkan ke Kuwait” jelasnya. Sementara itu, salah satu lulusan yang akan berangkat ke Jepang Ismail Mahasba A.Md. Kep. Merasa senang bisa sukses melewati dan mengikuti prpgram terkait. Ismail, panggilan akrabnya mengatakan bahwa ia harus meyakinkan diri serta orang tua bahwa dirinya sanggup dan bisa berangkat bekerja di Jepang. Apalagi ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke luar Indonesia. “Tentu saja saya berharap progam seperti ini bisa terus berlanjut sehingga adik-adik tingkat saya bisa merasakannya dan bekerja di luar negeri. Mungkin bisa dikembangkan lagi sehingga negara-negara tujuan bisa bertambah, kualitas dan kuantitas penerima juga dapat terus ditingkatkan lagi,” pungkasnya. (haq/wil)

Peluang Bisnis Tinggi, UMM Selenggarakan Kelas Profesional Anggrek

Tanaman anggrek merupakan komoditas yang menjanjikan untuk dijadikan peluang bisnis. Harga yang lumayan tinggi dibanding tanaman hias lainnya membuat beberapa orang mulai membudidayakan anggrek untuk dijual kembali. Melihat peluang tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selenggarakan program Kelas Unggulan Center of Excellence (CoE) Tanaman Anggrek. Penanggung jawab program CoE Anggrek, Drs. H. Nurwidodo, M.Kes., mengatakan bahwa kelas ini dibuat untuk membekali mahasiswa dalam bidang budidaya dan pemasaran anggrek. Pihaknya telah menggaet beberapa mitra industri dan dunia kerja (Iduka) seperti Mitra Flora Nusantara (MFN), Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPP PAI), serta Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPD PAI). Kerja sama ini diharapakan dapat mendorong para peserta untuk menjadi wirausahawan dan angkatan kerja yang kompeten di bidang tanaman anggrek. “Awalnya, kelas unggulan ini berasal dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan magang kerja yang digagas oleh Program Studi (Prodi) pendidikan Biologi UMM pada agustus tahun lalu. Program tersebut sukses melahirkan lima wirausahawan muda di bidang budidaya anggrek. Karena kesuksesan tersebut, UMM akhirnya mengembangkan program ini menjadi kelas unggulan,” jelas dosen kelahiran Jogja tersebut. Lebih lanjut, Nurwidodo menjelaskan bahwa program ini tidak hanya terbatas untuk mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum yang tertarik di bidang budidaya anggrek. Adapun rentang waktu pelaksanaan CoE ini dilangsungkan dalamw aktu enam bulan. Tiga bulan awal akan diisi dengan teori di kelas. Setelah itu, tiga bulan selanjutnya para peserta akan diberi kesempatan magang di tempat para mitra. “Dengan adanya proses belajar langsung bersama para mitra yang kompeten, harapannya dapat membuat para peserta terpacu untuk berwirausaha. Kami juga berkomitmen jika dalam waktu enam bulan tersebut para peserta tidak dapat menjadi wirausahawan, kami akan memperpanjang masa pelatihan,” ungkap dosen Biologi itu. Di akhir wawancara, Nurwidodo mengatakan bahwa program ini akan terus dikembangkan. Tak hanya bekerja sama dengan petani nasional, pihaknya juga berencana agar nantinya hasil produksi anggrek dari kelas profesional ini dapat diekspor ke negara lain. “Namun, fokus utama kami untuk saat ini adalah mencetak para wirausahawan di bidang budidaya dan pemasaran anggrek,” pungkasnya. (syi/wil)

Komitmen UMM Jalankan MBKM, Digelontor 8 Miliar Dana PKKM

Demi memastikan kelulusan mahasiswa dan menyiapkan para lulusan yang mandiri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelontorkan lebih dari delapan miliar rupiah dana Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM). Dana tersebut digunakan untuk mengembangkan dan menjalankan beragam program di empat program studi (Prodi). Keempatnya telah menjadi wadah bermanfaat bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan talentanya, khususnya dalam menyiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. Ketua tim taskforce PKKM UMM Prof. Dr. Ir. Sujono, M. Kes. menjelaskan bahwa empat Prodi yang mendapatkan dana telah melangsungkan sederet aktivitas menarik. Bahkan masing-masing telah menggelar 21 hingga 23 program pada setahun belakangan. Ia juga bersyukur hampir semua dana terserap dan diimplementasikan melalui program-program yang terlaksana dengan baik. Ia menilai program yang sudah dilaksanakan memiliki manfaat yang besar dalam pengembangan delapan indikator kinerja utama (IKU). Begitupun dengan penguatan kemampuan mahasiswa yang berdampak luar biasa terhadap IKU satu dan dua. Yakni lulusan mendapatkan pekerjaan layak serta kesempatan mahasiswa mendapatkan pengalaman di luar kampus. “Misalnya saja yang dilangsungkan oleh Prodi Teknologi Pangan. Mereka telah melaksanakan magang industri bersertifikat, workshop persiapan kerja, sertifikasi kompetensi, pendampingan kewirausahaan dan belasan kegiatan lain,” imbuhnya. Adapun dana yang berjumlah lebih dari delapan miliar tersebut berhasil diperoleh UMM dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek RI) melalui PKKM. Kampus Putih juga menjadi sepuluh besar PTN-PTS penerima dana PKKM tersebut dan sudah menggunakan dana untuk meningkatkan kualitas dan relevansi program sarjana. Untuk ke depannya, Sujono juga mendorong semua prodi di UMM untuk terus menambah kemitraan dengan berbagai perusahaan. Selain itu juga mendorong lahirnya Centre of Excellence (CoE) baru serta membentuk program sertifikasi industri. Tidak hanya diperuntukkan untuk pihak internal saja, tapi juga eksternal. Kemudian, ia juga berharap seluruh prodi dapat senantiasa berusaha untuk menggapai akreditasi internasional di masa depan. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa Kampus Putih pada dasarnya sudah mendesain konsep kampus merdeka sejak lama, yakni pada tahun 2000an. Ia juga mendorong terbentuknya program-program terobosan yang bertujuan meningkatkan kompetensi dan keterserapan mahasiswa di industri dan dunia kerja (Iduka). Menurutnya, UMM secara substansial sudah siap menjalankan Kampus Merdeka dengan baik. “Dalam mengembangkan pendidikan, UMM menyasar pada dua hal yakni peningkatan kompetensi akademik mahasiswa dan kompetensi leadership. Kami juga senantiasa membekali skill bermanfaat bagi mahasiswa melalui CoE berbasis program studi yang kini sudah mencapai 23. Di antaranya yakni kelas profesional unggas, ruminansia, rumput laut, udang, essential oil, anggrek, welding inspector, dan lainnya. Semoga upaya kami ini dapat memberikan dampak signifikan bagi mahasiswa, lulusan, serta masyarakat secara umum,” pungkasnya. (wil)

MoU FISIP UMM-Pemkab Magetan Kembangkan Potensi Masyarakat

Dalam rangka meluaskan wilayah untuk menebar manfaat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) teken Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Magetan. Hadir secara langsung Bupati Magetan Dr. Drs. Suprawoto, S.H.,M.Si. dan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. yang menandatangani kerja sama. Didampingi pula oleh Wakil Rektor IV bidang Kerja Sama Dr. Sidik Sunaryo, M.Si. M.Hum. serta Dekan FISIP UMM Prof. Dr. Muslim, M.Si. pada Sabtu (5/2) lalu. Usai menandatangai MoU, Rektor UMM Dr.Fauzan, M.Pd dalam sambutannya berharap kerjasama Kampus Putih melalui FISIP UMM dengan Kabupaten Magetan bisa memberikan sebaik-baik manfaat untuk kedua belah pihak. Menebarkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan, sekaligus membantu memajukan bangsa. Salah satu yang mungkin bisa dicoba adalah Pembangkil Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). “Kawan-kawan di Kampus Putih yang fokus di energi terbarukan juga telah memiliki database wilayah mana saja yang memungkinkan dibangun PLTMH. Dan mungkin, Magetan bisa menjadi salah satu lokasi untuk mengembangkan energi terbarukan ini. Begitupun juga dengan pengembangan biogas yang sudah kami lakukan dan turunannya yang dijadikan sebagai pupuk. Apalagi melihat potesi Magetan yang memiliki banyak peternak sapi,” tambahnya. Selain penandatanganan MoU, Suprawoto juga berkesempatan untuk memberikan motivasi dan materi mahasiswa baru dalam Student Day yang bertajuk bertajuk Pembentukan dan Penguatan Idealisme Mahasiswa Melalui Penulisan Karya Ilmiah. Kang Woto, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa mahasiswa sebagai iron stock dan agent of change harus mampu menjadi garda terdepan dalam agenda perubahan. Ada tiga hal yang menurut Suprawoto bisa menyebabkan perubahan tersebut. Di antaranya yakni ide, teknologi dan yang terakhir adalah interaksi. “Ide-ide yang kita tuangkan dalam tulisan akan membuat perubahan. Menulis bisa memonopoli kebenaran, bahkan mampu memonopoli sejarah. Coba bayangkan jika tidak ada yang menulis, maka sejarah tidak pernah ada. Betapa menderitanya sebuah bangsa jika tidak ada yang mau menulis,” ungkapnya menegaskan. Lebih lanjut, Suprawoto juga memaparkan ada sembilan cara yang bisa dilakukan untuk membentuk karakter diri yang kuat pada mahasiswa. Dimulai dengan menghargai diri sendiri, mampu mengenal dan mengendalikan diri sendiri, serta memiliki sikap mau terus belajar. Kemudian adapula kedisiplinan dan berkomitmen adalah beberapa hal yang bisa dilakukan. Adapun idealisme mahasiswa akan semakin kuat jika membiasakan diri untuk menulis. “Utamanya upaya untuk menulis karya ilmiah, ya.  Dengan membiasakan menulis, 85% dari sembilan cara membentuk karakter diri ini dapat terpenuhi sekaligus,” tutur bupati yang sudah merilis tujuh judul buku ini. Suprawoto juga menyampaikan sejumlah kiat bagaimana mengelola waktu sehingga bisa tetap produktif sekalipun sibuk. Dia mengimbau kepada mahasiswa agar tidak perlu menunggu mood untuk menulis. Menulis, menurutnya, harus dipaksa dan disempatkan di sela-sela aktivitas kita. Dia menceritakan, dalam perjalanan di kereta pun ia bisa menulis. Apalagi dengan dukungan teknologi yang kian canggih seperti sekarang ini. Lebih lanjut, untuk bisa mengumpulkan inspirasi untuk menulis, ada beberapa hal yang harus dipenuhi, satu yang paling utama adalah membaca buku. Suprawoto juga sempat mengisahkan kegilaannya pada buku-buku. “Jika petani menemukan kenikmatan ketika mencangkul di sawah, kalau saya, hidup terasa nikmat ketika dikelilingi oleh buku-buku. Membaca adalah healing terbaik yang mampu menenangkan saya,”tuturnya. Ia mengaku bahwa sejak tahun 80-an ia telah mengalokasikan budget khusus untuk membeli buku. Dulu sebelum bekerja, ia berkomitmen untuk membiasakan membeli buku ketika sudah mendapatkan gaji. Pernah, saking cintanya pada buku, dalam sebulan ia bisa membeli 300 judul buku sekaligus. “Berbagai kesalahan tidak perlu dilakukan ketika kita banyak membaca buku. Dari buku kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, belajar dari ilmu orang lain,”imbuhnya. (wil)

Komitmen CoE Welding Inspector UMM Cetak Lulusan Kompeten

Cetak mahasiswa menjadi seorang welding inspector, jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membentuk program kelas Center of Excellence (CoE) welding inspector. Program ini telah berkerja sama dengan sederet Industri dan Dunia Kerja (Iduka), beberapa di antaranya yaitu PT Spindo, PT Barata Indonesia, PT PAL, Lloyd’s Register Asia, dan PT Industri Kereta Api (INKA). Kepala Program Studi (Prodi) Teknik Mesin, Iis Siti Aisyah, ST., MT. P.hD. mengatakan bahwa program ini diadakan untuk memberikan keterampilan kerja secara nyata bagi mahasiswa langsung dari pihak Iduka. Dengan begitu, mereka tidak hanya berkutat dengan teori saja, tapi juga mengikuti prkatikum lapangan bersama perusahaan-perusahaan. “Pada semester mendatang, kami akan membentuk sistem teranyar dengan sistem blok selama tiga bulan. Jadi perusahaan dan dunia kerja masing-masing mendapatkan jatah untuk memberikan kuliah dan mengajar kepada mahasiswa. Adapun di setiap mata kuliah, akan kami sediakan tiga praktikum yang meliputi tiga hal. Yaitu praktikum pengelasan, inspeksi pengelasan Destructive Test (DT), dan inspeksi pengelasan Non Destructive Test (NDT). Kemudian di akhir program, kami juga akan melakukan uji kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sehingga kemampuan para peserta dapat diakui secara luas,” tambah Dosen Prodi Teknik Mesin tersebut. Lebih lanjut, Iis menjelaskan bahwa program ini merupakan satu-satunya pelatihan welding inspection yang ada di Kota Malang. Oleh karenanya, pihak Prodi Teknik Mesin tidak hanya membuka kelas bagi mahasiswa UMM saja, tapi juga untuk mahasiswa kampus lain bahkan juga menggaet berbagai kalangan yang ada di masyarakat. Utamanya mereka yang memiliki ketertarikan di bidang terkait. “Peluang kerja di bidang welding inspection sangat bagus karena banyak dunia industri yang membutuhkan tenaga ahli di bidang tersebut. Selain itu, dibanding pelatihan lain di Jawa Timur, program CoE welding inspection UMM ini memiliki banyak spesifikasi metode pengujian baja karena melibatkan banyak Iduka di dalamnya,” kata Dosen asal Solo tersebut. Di akhir wawancara, Iis berharap program ini kedepannya tidak hanya memberi keterampilan dan mendekatkan para mahasiswa dengan dunia kerja saja, tetapi juga mampu meningkatkan keterserapan tenaga kerja di bidang welding inspection. “Saya juga sangat ingin kelas ini bisa berkembang serta menjadi lembaga sertifikasi welding inspection sendiri. Melahirkan lulusan-lulusan berkompeten dan siap menjadi pribadi mandiri,” pungkasnya. (syi/wil)

CoE Kakao UMM Siap Kembangkan Kakao Lokal

Demi meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mahasiswa maupun dosen, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengembangkan inovasi dan terobosan pembelajaran. Salah satunya melalui Centre of Excellence (CoE) Kakao di Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan Kampus. Adapun kelas ini telah diresmikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. akhir tahun lalu. Vritta Amroini Wahyudi, S.Si, M.Si. selaku Sekretaris Prodi menjelaskan bahwa CoE kakao ini menjadi kelas unggulan pertama yang dimiliki oleh Teknologi Pangan. Pihaknya telah menggaet berbagai industri dan dunia kerja (Iduka) untuk memaksimalkan luaran dari kelas tersebut. Salah satu pihak yang sudah bekerjasama ialah PT. Moodco, perusahaan coklat yang berbasis di Kota Batu. Menariknya, kelas profesional ini juga menjadi bagian dari program pemerintah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Kelas kakao ini juga menjadi upaya kami untuk mendukung program MBKM yang diluncurkan oleh pemerintah beberapa tahun lalu,” tambahnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kakao Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yaitu single of origin. Ciri ini dipengaruhi oleh kondisi geografis dan suhu, sehingga Indonesia memiliki banyak macam kakao. Dari situlah kemudian kakao Indonesia dapat diolah menjadi pangan fungsional. Bukan hanya menjadi olahan coklat manis pada umumnya. Namun dapat diolah menjadi coklat antioksidan dan coklat rendah gula, sehingga zat Isoflaon dalam coklat lebih ditonjolkan dari gula. Vritta, sapaan akrabnya kembali menuturkan bahwa pihaknya dan PT Moodco bersama-sama saling membantu untuk mengembangkan olahan kakao lokal. Selain itu juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu terkait kakao berbasis pangan fungsional. Adapun CoE kelas profesional ini mengedepankan pengembangan riset, magang dan entrepreneur. Pengembangan coklat yang dilakukan di kelas ini tidak terbatas pada kakao lokal, tapi juga kakao internasional.  Hasil olahan kakao lokal akan dibandingkan dengan olahan dari luar negeri kemudian dianalisis. Adapun kelas ini terbuka untuk umum, sehingga mahasiswa di luar jurusan Teknologi Pangan dan UMM bisa bergabung dan turut serta dalam program CoE kakao. “Upaya untuk mengembangkan kakao ini juga salah satu bentuk usaha kami untuk memajukan hasil olahan kakao lokal sehingga bisa bersaing di pasar global,” ucapnya. Terakhir, dosen asal Landungsari, Kabupaten Malang ini berharap adanya CoE kakao ini bisa menjadi hulu dan hilir pengolahan kakao lokal yang fungsional dan halal. Merangkul para petani lokal agar sejahtera, memberikan bekal pengetahuan dan ilmu bagi mahasiswa, serta menjadikan mereka pribadi yang tangguh serta mandiri. “Tujuan ini selaras dengan program UMM Pasti yang sudah digaungkan oleh Kampus Putih sejak beberapa tahun yang lalu. Selain itu juga menjadi komitmen kami untuk melahirkan generasi masa depan yang mumpuni serta bermanfaat,” pungkasnya. (haq/wil)

UMM, Satu-satunya Kampus Indonesia yang Miliki UKM Dirgantara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa memberikan terobosan dan inovasi baru. Teranyar, Kampus Putih tengah membuka Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang kedirgantaraan dengan nama Biru Flying Club. Menariknya, UMM juga menjadi satu-satunya kampus yang memiliki program yang berkaitan dengan dirgantara. UMM Flying Club ini juga melengkapi lebih dari 60 UKM yang dimiliki oleh kampus putih. M. Isnaini, M.Pd. selaku pembina mengatakan bahwa saat ini anak-anak muda memiliki passion dan ketertarikan yang bermacam-macam. Salah satu yang menarik perhatian adalah passion di bidang dirgantara. “Club ini tentu akan kami buka seluas-luasnya bagi siapapun mahasiswa yang berminat. Apalagi dengan prinsip yang kami pegang teguh bahwa pemimpin dapat lahir dari pintu manapun. Salah satunya melalui pintu Biru Flying Club,” tuturnya. Krisna, panggilan akrabnya juga menegaskan bahwa UMM menjadi satu-satunya kampus yang memiliki wadah bagi passion dirgantara. Begitupun juga menjadi satu-satunya kampus yang menjadi bagian dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Menurutnya, ini adalah terobosan yang strategis untuk menemukan talenta-talenta mumpuni untuk masa depan. Nantinya Biru Flying Club akan menyediakan sederet kegiatan menarik. Aero sport flight training dan paralayang adalah dua di antaranya. Adapula paramotor dan juga bidang drone yang sudah disediakan. Adapun dalam pelaksanaannya, semua olahraga itu akan diawasi langsung oleh para profesional yang ahli di bidangnya masing-masing. Dosen asal Lombok tersebut mengatakan hingga saat ini ada lebih dari 50 anggota yang sudah tergabung. Mereka juga telah mengikuti rentetan perkenalan dan diklat. Pihak UKM terus menjalin komunikasi intens dan didukung penuh oleh Lanud Abd. Saleh serta FASI dalam persiapan hingga pelaksanaan kegiatan dirgantara. Dengan begitu, berbagai aktivitas bisa tersinergi dan berjalan dengan aman serta lancar. “Tiap kegiatan tentu memiliki tantangannya masing-masing. Begitupun dengan Biru Flying Club yang harus menemukan maahasiwa dengan talenta terbaik. Selain itu juga harus memiliki nyali yang kuat dan tangguh. Kampus Putih secara konsisten terus menghargai semua prestasi dan inovasi serta kreativitas dari sivitas akademika. Hal itu selaras dengan prinsip yang selalu kami gaungkan yakni tiada prestasi yang tidak dihargai,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua UKM Biru Flying Club Nixon Farrel Mahatma mengatakan bahwa ada beberapa kegiatan yang sudah digelar. Salah satunya adalah pembekalan dan latihan dasar sebelum melakukan kegiatan olahraga dirgantara nanti. Dengan begitu, mereka tidak asal beraktivitas dan bisa memberikan keamanan bagi masing-masing peserta. Nixon juga menyebutkan berbagai alasan para mahasiswa mengikuti UKM tersebut. Ada yang ingin mengetahui lebih jauh tentang pesawat, ada yang ingin mencoba olahraga dirgantara, adapula yang ingin merasakan sensasi kegiatan di UKM bersama kawan-kawan lain. “Kami memang memiliki berbagai alasan untuk bergabung di UKM ini, tapi satu yang pasti adalah kami ingin menemukan dan menjadi talenta-talenta masa depan yang mampu menyumbangkan prestasi bidang kedirgantaraan yang berasal dari mahasiswa UMM,” tambahnya. (wil)

UMMTalks Hadirkan Robert John Pope, Doktor Australia yang Belajar Islam

Mempelajari Islam dan masuk ke dalam komunitasnya adalah hal yang berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh media massa. Seringkali keduanya bertolak belakang dan menyebabkan persepsi yang keliru. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Robert John Pope, M.Pd.I. dalam acara UMMTalks yang disiarkan langsung melalui akun resmi Youtube Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhir Januari lalu. Adapun Robert adalah salah satu wisudawan Doktoral dari Australia di bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) yang lulus di awal tahun ini. Robert, sapaan akrabnya becerita bahwa ia sudah dari lama tertarik dengan sejarah Islam. Mulai dari kisah yang ada di Alquran, utamanya yang  berhubungan dengan kitab-kitab sebelumnya. Bahkan ia juga sempat mengambil beberapa pendidikan non-formal. Baik secara otodidak maupun yang diajarkan oleh orang lain. Hingga akhirnya Robert memutuskan untuk mendalami Islam di Kampus Putih UMM. “Islam memiliki interkoneksi hubungan dengan kitab-kitab sebelumnya. Hal ini membaut saya makin tertarik dan segera mengambil pendidikan formal untuk memahami bagaimana Islam itu,” tambahnya. Meski Islam muncul di timur tengah, tepatnya di Arab Saudi, namun Robert akhirnya menjatuhkan pilihan di Indonesia. Salah satu alasan yang ia kemukakan adalah jarak Australia dan Indonesia yang realtif dekat sehingga memudahkannya dalam melakukan penelitian. Selama belajar Islam, ia merasakan dan mendapatkan berbagai pespektif baru karena memang berada di tenagh-tengah komunitas muslim. Berbeda halnya jika belajar dan berada di luar komunitas, maka ia hanya akan mencapai pada tahap asumsi yang dibuat. Ia menyadari bahwa Islam pada kenyataannya sangatlah beragam. Hal inilah yang tidak disadari oleh dunia barat. “Sejauh yang saya pelajari Islam tidaklah monolitik (satu pandangan) melainkan memiliki beragam perspektif dan pandangan dalam beragama. Interaksi yang saya lakukan dengan komunitas muslim di sini membuat saya lupa akan perbedaan. Hingga akhirnya saya juga lupa dengan Islam yang biasanya diberitakan oleh media massa,” terang Robert. Pria asal Sydney, Australia ini kembali bercerita bahwa selama berkuliah di UMM ia sama sekali tidak emrasa dipaksa untuk menutupi pandangannya. Malah didorong untuk selalu kritis dan dinamis dalam berpikir. Sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang mnejadi sumber diskusi dengan teman-teman lainnya. “Saya tidak pernah sekalipun dibatasi untuk berpendapat. Malah didukung dan mendapatkan banyak perspektif baru selama berkuliah. UMM juga senantiasa mendukung dan memfasilitasi dengan baik selama saya belajar di sini,” pungkasnya. (haq/wil)

Tongat, Dekan UMM yang Jadi Ketua Forum Dekan FH PTM dan STIH Nasional

Terpilih selama dua periode berturut-turut, Dr. Tongat, SH., M.Hum. kembali menduduki jabatan ketua Forum Dekan Fakultas Hukum Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) periode 2022-2024. Pemilihan ini dilakukan dalam acara Musyawarah Naional (Munas) keempat yang dilangsungkan oleh Forum Dekan PTM dan STIH di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat pada pertengahan Januari lalu. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan perkumpulan seluruh dekan fakultas hukum universitas Muhammadiyah dan sekolah tinggi hukum se-Indonesia. Terdapat 43 fakultas hukun yang tergabung dalam forum tersebut. Secara resmi dibentuk pada tahun 2015, forum ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di masing-masing perguruan tinggi. “Forum ini ada sebagai wadah untuk saling berbagi ide dan gagasan terkait kurikulum dan proses pembelajaran. Kegiatan itu pula lah yang diharapkan dapat mendorong dan menyamakan akreditasi dan kualitas dari 43 fakultas di forum ini,” ungkap dosen kelahiran Banjarnegara tersebut. Selain berfokus pada peningkatan mutu pendidikan, Tongat mengatakan bahwa forum ini juga aktif merespon isu-isu terkini. Saran serta masukan terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) juga turut forum ini suarakan kepada pemerintah. “Beberapa isu terbaru yang sudah kami bahas adalah RUU Omnibuslaw, RUU PKS, dan beberapa RUU lainnya,” kata Tongat melanjutkan. Di periode keduanya ini, Tongat ingin merapatkan kesenjangan yang terjadi di fakultas hukum antar universitas anggota. Dengan begitu, semua yang turut serta dalam forum ini bisa berjalan bersama memperbaiki dan meningkatkan kualitas. Sehingga mampu melahirkan lulusan-lulusan mumpuni, cakap dan mandiri. Usaha menyamakan akreditasi juga dicanangkan olehnya di periode kedua tonggak kepemimpinan. Terakhir, ia juga menyinggung mengenai rekognisi internasional yang harus segera dicapai oleh fakultas hukum yang sudah landing mendapatkan akreditasi Unggul. Maka, pihaknya sudah menyiapkan workshop, pelatihan serta pendampingan mutu akreditasi internasional. “Dua hal itu adalah pekerjaan rumah dan amanah yang diamanatkan oleh teman-teman pada masa jabatan saya yang kedua ini. Semoga bisa terealisasi dan memberikan manfaat bagi semua anggota,” pungkasnya. (syi/wil)

LPT-KA UMM Himbau Red Flag Perkembangan Anak

Sinergisitas antara orang dan guru menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mendidik anak. Utamanya dalam mencapai tahap-tahap perkembangannya. Hal itu diungkapkan oleh Atika Permata Sari, M.Psi. yang menjadi pemateri dalam rangkaian agenda pembinaan tumbuh kembang anak pada Selasa (25/1) lalu. Adapun acara ini merupakan hasil kerja sama antara Laboratorium Psikologi Terapan Keluarga-Anak (LPT-KA) dan Pusat Kegiatan Gugus (PKG) Kecamatan Lowokwaru. Atika, panggilan akrabnya mengungkapkan bahwa kerja sama antara keluarga dan pihak sekolah sangat diperlukan. Begitupun dengan konsistensi yang kuat agar anak tidak mengalami perasaan kebingungan dalam bersikap dan berperilaku. Adapun anak-anak yang mengalami permasalahan di tahapan perkembangannya, bukan berarti ia tidak bisa menjadi orang yang sukses di kemudian hari. “Saat menemukan permasalahan tersebut, ada baiknya kita sebagai orang tua dan pendidik segera melakukan penanganan agar proses pemulihannya bisa berlangsung dengan cepat pula,” tambahnya. Dosen UMM ini juga menekankan pentingnya perhatian selama masa tumbuh kembang anak. Selain itu juga mengasah kemampuan utama dari anak sekaligus melatih apa-apa yang belum dikuasai oleh anak terkait. Dengan begitu, anak bisa mengejar ketertinggalan tahapan milestone yang dimiliki. Atika juga menjelaskan red fllag perkembangan anak sehingga bisa segera ditindaklanjuti oleh para orang tua. Aspek pertama ialah motorik yang berfokus pada pergerakan fisik anak. Tiap usia memiliki perbedaan dan ciri tumbuh kembangnya masing-masing. Kemudian adapula aspek bahasa dan sosioemosional. Keduanya juga sama-sama memiliki standar perlu tidaknya anak dibawa ke pihak yang lebih profesional untuk dibantu. Sementara itu, Ketua Pusat Kegiatan Gugus (PKG) Kecamatan Lowokwaru Sadia Mewar, M.Si. memaparkan bahwa semua anak seharusnya mendapatkan pembelajaran yang baik. Maka, pertemuan rutin dirasa menjadi salah satu upaya dalam mengevaluasi dan mencari solusi atas problematika yang sedang dialami. Menurutnya, kesuksesan mendidik anak juga tidak lepas dari pemahaman pendidik mengenai tonggak capaian perkembangan anak. Pemahaman ini akan berefek pada seberapa maksimal tumbuh kembang peserta didik yang bergantung pada stimulasi yang diberikan. Maka penyesuaian kurikulum, rancangan stimulasi, hingga dasar asesmen harus berdasarkan pada milestone yang sesuai dengan usia. Di sisi lain, salah satu peserta pembinaan dari Global Kids Ratih merasa senang dan menikmati serangkaian kegiatan tersebut. Materi-materi yang disampaikan dinilai bisa mengupgrade kualitas tenaga pendidik. “Sayangnya, menurut saya durasi yang diberikan kurang panjang. Kalau lebih lama, mungkin akan ada lebih banyak materi yang bisa diserap dan diimplementasikan dalam proses belajar mengajar di sekolah,” pungkas Ratih. (wil)