Bedah Buku UMM-BPKH Kaji Investasi Dana Haji

Haji merupakan salah satu rukun Islam yang ke lima dan menjadi ibadah yang harus dilakukan jika mampu. Hal serupa juga dibahas dalam acara workshop bedah buku kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia (RI). Adapun acara ini dilaksanakan di Ruang Sidang Senat (RSS) serta bisa ditonton secara online melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube. Keynote speaker bedah buku Dr. Benny Witjaksono, S.P, M. memaparkan bahwa BPKH merupakan badan independen yang bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Agama. Adapun tugasnya ialah mengelola dana haji serta menjamin pelaksanaan umat beragama dalam menjalankan ibadahnya. Secara undang-undang BPKH ini berbentuk badan nirlaba dan koorporatif. Maka nirlana yakni tidak boleh mengambil dan menghasilkan keuntungan. “Sedangkan koorporatif maksudnya adalah bekerja secara efisien sehingga tata kelola dan tata administrasi bisa diatur dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya melanjutkan. Sesi bedah buku yang berjudul ‘Investasi Surat Berharga BPKH’ diawali paparan dari Deputi Bidang Investasi dan Emas BPKH Dr. Indra Gunawan. Menurut sejarah, pengelolaan dana haji dialihkan dari Kementerian Agama kepada BPKH pada tahun 2018. Pengalihan tersebut memunculkan tantangan-tantangan baru, utamanya dalam mengelola dana haji dengan optimal. Lebih lanjut, di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sistem haji di Indonesia adalah wakalah. Berbeda dengan Malaysia yang bersifat wadi’ah atau titipan. Adapun proses wakalah diawali dengan penyerahan setoran awal dari Badan Penyelenggara Ibadah Haji kepada BPKH. Kemudian diawasi oleh dewan pengawas serta melalui proses audit, setelah itu laporan akan disampaikan kepada masyarakat secara transparan dan accountable. “Prinsip syariah, kehati-hatian, optimal dan manfaat menjadi pedoman baku BPKH sebagai badan independen yang mengelola dan haji ini,” ucapnya menegaskan. Ada enam surat berharga yang digunakan oleh BPKH, mulai dari saham syariah, sukuk, reksa dana syariah, surat berharga syariah negara, MTN syariah hingga KIK EBA syariah. Keenam-enamnya memiliki mitigasi risiko yang minim dan sudah sangat diperhitungkan. Selain itu juga telah mengantongi izin serta tidak melanggar syariah sehingga masyarakat yang menyetor dana haji ke BPKH tidak perlu khawatir. Sementara itu, pemateri selanjutnya Hasyim Gautama memaparkan terkait hoaks dan informasi palsu tentang dana haji. Menurutnya, berbagai motif dan alasan dimiliki oleh para pelaku penyebar berita hoaks. Mulai dari motif bisnis maupun tujuan untuk mengambil data personal. Mereka juga melakukan beragam cara dalam upaya meyakinkan warganet Indonesia. “Adapun hoaks seperti ini biasanya memanfaatkan positioning. Seperti contoh hoaks terkait dana haji yang dihubungkan dengan pemerintah serta bertepatan pada musim haji. Tujuannya adalah tentu untuk memperbanyak klik dari netizen sehingga mereka mendapat keuntungan,” tambahnya. Pada akhir sesi bedah buku, Sri Cahyaning Umi Salama dan Eko Handayanto selaku dari sivitas UMM memberikan kritik serta saran terkait buku BPKH. Menurut mereka BPKH mungkin bisa membuat visualisasi terkait dana haji, mengingat animasi menjadi hal yang digandrungi oleh anak muda saat ini. Dengan adanya visual, para pembaca bisa lebih memahami dan menegrti apa yang ingin disampaikan lewat buku tersebut. Mereka juga berharap materi di buku BPKH bisa ditindaklanjuti hingga taraf global. Sehingga bukan hanya Indonesia yang dapat menggunakannya tapi juga negara lain. (haq/wil)
UMM Masuk 23 Universitas Terbaik Asia

Rekognisi demi rekognisi senantiasa diraih oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, Kampus Putih sukses menjadi salah satu dari 23 perguruan tinggi negeri dan swasta yang masuk di daftar Top 200’s University atau Universitas Terbaik Asia 2021. Adapun daftar universitas terbaik ini dikeluarkan oleh lembaga pemeringkatan international University Ranking (UniRank). Lima dari 23 perguruan tinggi tersebut merupakan universitas swasta yang satu di antaranya adalah Kampus Putih UMM. Menanggapi hal tersebut, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengungkapkan bahwa UMM tidak hanya memiliki reputasi bagus di tingkat regional dan nasional saja. Lebih dari itu, kampus yang terletak di Malang ini juga memiliki rekognisi internasional yang mentereng. Pihaknya juga bersyukur dapat menjadi salah satu jajaran perguruan tinggi terbaik di Asia. Menurutnya, raihan ini adalah modal yang tidak main-main dan sangat strategis. Utamanya bagi mahasiswa dan alumni untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri. Mampu menunjukkan sikap bertanggung jawab serta dewasa dalam menghadapi setiap tantangan zaman. “Tentu modal institusional ini tidak hanya bermanfaat bagi pihak universitas semata tapi juga bagi sivitas akademika serta alumni agar mampu bersaing dan berkompetisi di masa yang akan datang. Semoga sederet rekognisi dan prestasi ini bisa mengantarkan Kampus Putih UMM menjadi kampus yang lebih baik,” tegas Fauzan. Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. mengapresiasi raihan yang telah dicapai oleh UMM. Menurutnya, kampus yang telah terakredtasi Unggul ini memiliki reputasi yang tidak meragukan. Tidak terbatas di regional Jawa Timur dan Indonesia semata, tapi juga capaian di taraf internasional. “Saya mengucapkan selamat kepada UMM yang berhasil menjadi salah satu dari 23 perguruan tinggi di Indonesia dan masuk dalam daftar universitas terbaik Asia. Tentu hal ini adalah hasil dari usaha maksimal dari rektor beserta jajarannya yang mempertahankan reputasi dan aura internasional,” tambah Muhadjir. Hal itu dibuktikan dengan beragam kerja sama dan mitra yang sudah digaet. Begitupun dengan program-program internasional yang mengikutertakan sivitas akademika dalam pelaksanaannya. Menjajaki dan bermitra dengan perguruan tinggi serta institusi internasional yang berada di Polandia, Brazil, Kolombia, Cina, Singapura, Jepang, Amerika, India dan sederet negara lainnya. (wil)
Puluhan Mahasiswa UMM Ikuti Virtual Exchange Singapore

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong mahasiswanya untuk meningkatkan kapabilitas baik di level nasional maupun internasional. Kali ini International Relations Office UMM mengirimkan mahasiswa UMM untuk mengikuti Virtual Exchange Singapore: Understanding History and Heritage, bersama Singapore Polytechnic. Acara ini dilakukan pada bulan Januari-Februari 2022 dan dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting. Dimas Arif Prassetyo, S.Pd. selaku staf IRO menjelaskan bahwa program ini bertujuan agar mahasiswa Singapura dan Indonesia dapat saling bertukar budaya mengerti satu sama lain dan memahami perbedaan. Adapun event ini diikuti oleh 20 mahasiswa dari sepuluh jurusan di Kampus Putih. Sedangkan Singapore Polythecnic juga mengirimkan 20 mahasiswanya untuk turt aktif mengikuti agenda ini. “Aktivitas pertukaran budaya ini dilakukan langsung oleh mahasiswa. Melakukan diskusi, penampilan dan juga materi-materi,” tambahnya. Dimas, sapaan akrabnya kembali mengatakan bahwa selama kegiatan tersebut kedua mahasiswa masing-masing negara diberi waktu untuk berbincang bersama. Setelah itu, mereka juga dipersilahkan untuk memaparkan kultur dan budayanya. Mulai dari bahasa, makanan khas, tarian adat, rumah adat dan masih banyak lagi. Lebih lanjut, selama program exchange para mahasiwa UMM telah mendapatkan relasi baru dan ilmu baru terkait budaya Singapura. Di samping itu juga peningkatan kemampuan bahasa Inggris yang semakin meningkat karena program ini dilangsungkan full menggunakan bahasa Inggris. “Semua materi yang ada di exchange memang didesain menggunakan bahasa Inggris. Jadi, para peserta mau tidak mau harus meningkatkan kemampuan bahasanya agar tidak ketinggalan dan kesusahan dalam berkomunikasi. Alhamdulillah sejauh ini para epserta terlihat senang dan menikmati setiap prosesnya,” ungkapnya. Menurutnya, program ini juga bisa menjadi pintu gerbang international exposure bagi para mahasiswa yang mengikutinya. Hal tersebut dirasa bisa menjadi pengalaman dan bekal penting bagi mahasiswa di proses kehidupan selanjutnya. Apalagi jika mereka berencana melanjutkan studi di luar negeri, maka pengalaman internasional adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan. Selain virtual exchange, IRO UMM juga memiliki program-program internasional lainnya seperti IISMA, Erasmus, dan lain sebagainya. Terakhir, Pria asli Blitar ini berharap mahasiswa UMM bisa memperluas relasi, tidak terbatas hanya dengan teman satu negara saja tapi juga lintas negara bahkan benua. Dengan begitu, wawasan mahasiswa bisa lebih terbuka. “Saya juga ingin mahasiswa-mahasiswa UMM juga dapat lebih aktif mendaftar dan mengikuti program internasional yang sudah disediakan,” pungkasnya. (wil)
Rektor WSP Poznan Polandia Dorong Wisudawan UMM Belajar Sepanjang Hayat

Konsep empat tahap kompetensi yang ditelurkan oleh Martin Broadwell masih sangat relevan untuk diimplementasikan hingga saat ini. Konsep ini dianggap bisa membantu manusia untuk belajar dan menentukan keputusan belajar yang tepat. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Wysze Szkoly Bankowe (WSP) Poznan Polandia Prof. Dr. Ryszard Sowinski yang didapuk memberikan motivasi kepada wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun event wisuda tersebut dilaksanakan pada Kamis (27/1) lalu dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ryszard mengatakan bahwa wisuda bukanlah sebuah akhir bagi wisudawan, namun menjadi langkah awal untuk belajar kemampuan baru di dunia luar. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan karir dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Maka dalam kesempatan itu ia menyampaikan konsep empat tahap mempelajari keterampilan baru dengan lebih cepat. Lebih lanjut, konsep yang sudah dikemukakan oleh Martin Broadwell sejak 1969 ini masih digunakan oleh banyak pihak untuk lebih memahami proses dalam mempelajari keterampilan. Tahap pertama ialah tidak menyadari ketidak mampuan diri (unconscious incompetence). Ryszard menceritakan bagaimana awal ia mencoba mengendarai mobil. Saat itu ia mengira itu mudah, namun nyatanya ia menabrak sebuah tembok dan akhirnya bersembunyi di hutan selama 2-3 jam karena takut dimarahi orang tuanya. “Inilah tahap di mana kita tidak mengetahuan ketidak mampuan kita. Sayangnya, banyak orang yang harus menabrak tembok dulu, baru ia menyadari hal tersebut. Maka kita perlu memeriksa secara berkala kemampuan yang dimiliki dengan cara yang sudah teruji. Kita bisa menyewa pelatih, mentor, atau penasehat untuk memberikan feedback. Bisa juga dengan menggunakan berbagai aplikasi yang sudah tersedia,” ungkapnya. Kemudian ia bercerita bahwa sampai lulus kuliah ia hanya bisa naik skuter, sepeda, dan kereta. Ia masih belum bisa mengendarai mobil. Di tahap ini saya menyadari ketidakmampuan (conscious incompetence) saya dalam menyetir mobil. Pada tahap ini akan muncul beragam pertanyaan seperti metode apa yang cocok untuk belajar, apakah keterampilan ini bagus untuk kehidupan saya dan lain sebagainya. Hingga pada akhirnya Ryszard menyusul istrinya untuk mengikuti kursus mobil. Di situasi itulah ia mengalami ketakutan, ragu-ragu dan perasaan frustasi saat awal-awal belajar mengemudi. Inilah yang disebut dengan tahap conscious competence yakni menyadari akan kemampuan diri sendiri. Posisi di mana kita akan melakukan hal dengan tidak sempurna serta seringkali konyol. “Pada tahap ini, biarkan anda melakukan kesalahan. Dari kesalahan itulah kita akan belajar. Selain itu daripada membandingkan diri sendiri dengan orang lain, cobalah mengukur kemampuan dan melihat kemajuan yang sudah anda lakukan di setiap kesempatan,” ujarnya. Terakhir, Ryszard menyebutkan tahap yang keempat yakni kemampuan yang tidak disadari (unconscious competence). Tahap ini biasanya sudah dimiliki oleh mereka yang sudah mahir dan memiliki banyak pengalaman. Bahkan tanpa sadar mereka sudah melakukan hal-hal yang banyak orang mengira bahwa itu mustahil. Ryszard ingin agar para wisudawan bisa memahami empat tahap ini sehingga bisa menentukan metode apa yang tepat, keputusan yang baik serta keterampilan apa saja yang harus dipelajari. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa para wisudawan telah diberi bekal yang strategis. Mulai dari wawasan, ilmu, keterampilan dan juga reputasi yang dimiliki oleh UMM. terakhir, Kampus Putih berhasil menjadi salah satu dari 23 perguruan tinggi negeri dan swasta yang masuk di 200 kampus terbaik se-Asia dari lembaga pemeringkatan perguruan tinggi internasional, UniRank. “Ini menjadi modal yang strategis bagi para wisudawan untuk menjadi pribadi yang percaya diri. Mengambil tanggung jawab dan siap menghadapi tantangan zaman. Menjadi problem solver bagi masalah yang ada di tengah masyarakat,” pungkasnya. (wil)
Dosen Sosiologi UMM Bahas Dampak Film Layangan Putus

Layangan Putus merupakan salah satu web seri Indonesia yang sedang ramai diperbincangkan belakangan ini. Mengangkat kisah mengenai perselingkuhan, serial film ini sukses menjadi viral di berbagai media sosial. Dosen sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos, . M.Si, mengatakan bahwa viralnya series layangan putus ini membawa beberapa dampak dalam kehidupan masyarakat. Luluk, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa viralnya serial ini tak hanya mempengaruhi kalangan dewasa tetapi juga anak-anak. Terpaparnya anak-anak terhadap konten layangan putus ini dapat berdampak negatif bagi pola pikir mereka. Anak-anak jadi mengenal perselingkuhan, perceraian, dan ketidakharmonisan pada keluarga di usia yang masih sangat muda. “Sebenarnya series ini sudah dibatasi dari anak kecil melalui sarana konten berbayar dan himbauan tentang penonton berusia 17 tahun ke atas. Namun viralnya cuplikan film Layangan Putus di beberapa media sosial seperti Tiktok dan Instagram membuka akses bagi anak-anak untuk menonton. Melihat hal tersebut, kita sebagai orang tua harus memberikan pemahaman lebih kepada anak terkait perselingkuhan maupun perceraian. Selain itu, orang tua juga bisa turut melakukan pembatasan konten dengan menggunakan fitur Tiktok kids,” ungkap Kepala Program Studi (Prodi) Sosiologi tersebut. Dampak lain yang menerpa setelah viralnya layangan putus adalah kekhawatiran bahwa pasangan akan melakukan perselingkuhan seperti yang diceritakan dalam film. Luluk menambahkan bahwa realitas mengenai perselingkuhan dan perceraian adalah fenomena lama yang sudah sering terjadi. Hal ini juga berbanding lurus dengan budaya patriarki yang ada di Indonesia. Di mana ketika telah memiliki banyak uang dan kekuasaan, maka laki-laki cenderung lebih merasa berkuasa dan leluasa untuk mengelola, mengatur serta memainkan sistem. Hal tersebut juga termasuk sistem keluarga, sehingga salah satu hal yang mungkin dilakukan adalah dengan bermain wanita. “Untuk meredam kekhawatiran tersebut, masing-masing pasangan harus menyadari hak dan kewajiban di rumah tangga. Saya percaya jika masing-masing pasangan telah melakukan hak dan kewajibannya secara benar maka kekhawatiran dan potensi untuk berselingkuh akan menghilang. Selain itu menumbuhkan kepercayaan antar pasangan juga dapat melawan kekhawatiran,” kata dosen kelahiran Jombang itu. Namun selain dampak negatif yang datang, film ini juga memberikan pembelajaran yang bagus bagi pasangan suami istri. Salah satunya adalah mengenali tanda-tanda perselingkuhan dan cara menghadapinya. Selama ini, beberapa wanita tidak ingin melakukan perceraian ketika mengalami kasus perselingkuhan atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Hal itu tidak lepas akan penyematan status janda yang dianggap buruk oleh masyarakat sekitar. “Saya paham bahwa alasan bercerai atau tidak itu sangat personal, entah karena anak ataupun karena percaya bahwa pasangan akan berubah. Namun ketika alasannya adalah karena janda merupakan sesuatu buruk, film layangan putus telah mematahkan pendapat tersebut,” pungkasnya. (syi/wil)
Daffa, Wisudawan Terbaik UMM yang Kuasai Sepuluh Bahasa

Menjalani hal sesuai dengan passion selalu membuahkan hasil yang cemerlang. Itulah yang dialami Daffa Indra Arya Wardhana. Kecintaan terhadap bahasa asing menjadi semangat pantang menyerah dalam menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris hingga mengantarkannya meraih predikat lulusan terbaik pada wisuda (25/1) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menariknya, ia tak hanya menguasai bahasa Inggris, tetapi juga lima bahasa asing lainnya, yakni bahasa Jepang, Korea, Mandarin, Perancis, dan Jerman. Tak hanya bahasa asing, Daffa juga menguasai beberapa bahasa daerah. Ia fasih menggunakan bahasa Jawa, Banjar, serta Sunda. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Daffa memang sudah tertarik belajar bahasa. Pasalnya, ia sangat gemar mengobrol, khususnya mendengarkan cerita orang. “Saya memang senang mendengar orang bercerita. Terutama beragam aksen yang dimiliki oleh orang-orang. Dari cerita-cerita itu, saya bisa lebih memahami orang lain dan juga memaknai hidup,” ujar anak sulung tersebut. Uniknya, hobi yang ia senangi saat berkuliah dulu adalah naik transportasi umum. Lewat hobinya, Daffa bisa mengenal berbagai macam orang, mulai dari dosen, pegawai, hingga mereka yang memiliki bisnis besar. Hal itu dirasa menginspirasinya untuk terus berkarya. Tentang teknik menguasai bahasa, Daffa mengatakan kuncinya adalah membiasakan diri dengan bahasa sasaran. Dibantu dengan kegiatan menonton film, tv-series serta mengikuti perkembangan musik mancanegara. Tak ketinggalan membaca buku-buku yang menggunakan bahasa sasaran dan menggunakannya untuk berkomunikasi. Hal-hal itulah yang menjadi kunci Daffa menguasai sederet bahasa. Meski begitu, belajar bahasa asing bukan tanpa hambatan. Tantangan terbesarnya adalah penulisan bahasa yang tidak menggunakan sistem alphabet seperti bahasa Jepang, Korea, dan Mandarin. Namun, hal itu tak mematahkan semangat Daffa untuk berusaha memahami dan menguasai bahasa asing. Menurutnya, keahlian ini bisa menjadi batu loncatan untuk mewujudkan tekadnya untuk studi di luar negeri. “Penguasaan bahasa asing sebetulnya memberikan kita privilege untuk bisa mendapat beasiswa luar negeri. Itu juga yang memacu semangat saya untuk terus belajar,” tegasnya. Meski fokus pada bidang akademik, Daffa tidak menafikkan bahwa keikutsertaan dalam organisasi adalah hal yang sangat penting. Jadi, ia pun bergabung di Lembaga Semi Otonom (LSO) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas. Tahun 2020 silam, ia juga menjadi awardee Program Kampus Mengajar Perintis dan bertugas menjadi asisten pengajar di SDN Tegalgondo 02 Kabupaten Malang. Selain itu juga berkesempatan magang di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), Balai Kota Among Tani Batu. (wil)
Owner Geprek Group Beberkan Resep Sukses Dunia Akhirat di Wisuda UMM

Salah satu kunci sukses yang harus dimiliki manusia adalah tiga hamzah, yakni amanah, uswah hasanah, serta amal. Ketiganya menjadi modal untuk mengarungi kerasnya zaman dan mendapatkan kesempatan. Hal itu disampaikan owner Geprek Group sekaligus alumnus UMM yang didapuk memberikan motivasi Ir. Kusnadi Ikhwani, owner Geprek Group. Paparan tersebut diberikan pada gelaran wisuda ke-102 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (25/1). Adapun acara rutin tersebut dilaksanakan dalam beberapa gelombang dengan mematuhi protokol kesehatan ketat. Kusnadi, panggilan akrabnya mengawali motivasinya dengan cerita perjalanan usaha. Mengawali karir sebagai konsultan di berbagai perusahaan, ia akhirnya berhenti dan memulai usaha di awal tahun 2000an. Berjualan nasi goreng, mie ayam, bakso hingga es rumput ia lakoni. Berharap bisa menemukan peluang mendapatkan rezeki lebih. “Saya percaya bahwa di setiap kesulitas pasti ada kemudahan. Hingga pada akhirnya di tahun 2010 saya pulang dan memulai berjualan ayam geprek serta menjadi ayam geprek pertama di Indonesia. Alhamdulillah sampai saat ini Geprek Group telah memiliki 38 cabang di berbagai kota serta lebih dari 400 karyawan,” ungkapnya. Pria yang juga menjadi Dewan Pengawas Lazismu Sragen ini juga memberikan resep untuk menjadi pribadi yang sukses. Diawali dengan sikap visioner yang akan memberikan langkah inovasi bagi masyarakat. Misalnya menjadi pengurus masjid Al-Falah bersama rekan-rekannya. Masjid yang berada di Sragen tersebut bahkan telah menjadi masjid percontohan nasional dengan berbagai fasilitasnya. Kemudian adapula sikap birul walidain dan senantiasa membaca al-Quran. Menurutnya, semua hal yang dilakukan harus diawali komunikasi dengan Tuhan. Dengan begitu, segala urusan bisa dimudahkan dan dilancarkan. Adapula sikap STW, yakni salat tepat waktu diiringi dengan inspiring. “Inspiring adalah kepanjangan dari infak pagi dan sering-sering. Ketika berinfak, para malaikat di waktu pagi akan mendoakan kita agar dilimpahkan rezeki oleh Allah SWT. Terakhir yakni semua hal yang dikonsumsi harus halal. Karena dengan yang modal yang halal, jalan yang halal, dan konsumsi yang halal, akan memberikan hasil yang halal dan berkah pula,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengingatkan para wisudawan bahwa mereka bukan lagi seorang mahasiswa, namun sudah menjadi sarjana. Perubahan status ini sekaligus memberi wisudawan tanggung jawab sosial dan keagamaan. Menurutnya, tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali menunjukkan diri sebagai uswah khasanah di manapun dan kapanpun. Maka, rasa percaya diri, komitmen kuat dan bertanggung jawab adalah sikap yang harus senantiasa dipelihara. Fauzan mendorong para wisudawan untuk menyadari bahwa mereka adalahs arjana yang dilahirkan oleh universitas yang memiliki reputasi internasional. Tentu hal ini membuat mereka tidak hanya dilihat dari segi kompetensi tapi juga universitas yang telah meluluskannya. “Mulai saat ini saudara sudah tidak boleh lagi berpangku tangan dan menunggu. Namun harus menjadi inisiator untuk memulai dan mengeksekusi tindakan-tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tegasnya. Pada kesempatan tersebut pula, dilangsungkan penyerahan kepada salah satu wisudawan doktoral yang meninggal dan belum sempat mengikuti gelaran wisuda. Ia adalah Dr. Abdul Ghozin M.Pd.I, seorang pria kelahiran Mojokerto yang juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Hafidzin. Penyerahan ijazah diberikan langsung oleh rektor kepada perwakilan keluarga dari Abdul Ghozin. (wil)
Tiga Mahasiswa FEB UMM Lulus Tanpa Skripsi

Tugas Akhir atau Skripsi merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dengan dunia perkuliahan. Seringkali mahasiswa menganggap bahwa skripsi sebagai ketakutan untuk meraih gelar sarjana. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi tiga mahasiswa program studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sejak munculnya peraturan dekan FEB tahun 2018 yang memungkinkan mahasiswa untuk lulus dengan karya serta kontribusi membuat ketiganya bersemangat. Apalagi dengan adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang membuat Prodi merespon dan mengapresasi karya yang dihasilkan mahasiswa. Nata Wira Waskita, Dimas Febry Prasetyo, dan Nur Azizah adalah tiga mahasiswa FEB yang berhasil lulus tanpa skripsi. Dua nama pertama sukses menelurkan inovasi baru yang bersifat wirausaha. Dimas misalnya, yang berhasil mengubah barang rongsok dan limbah plastik menjadi perabotan rumah tangga yang bernilai. Ia yang sempat bekerja selama dua tahun sebelum berkuliah, mengatakan bahwa pengalaman saat bekerja membuatnya mendapatkan ide menarik ini. Memanfaatkan limbah plastik yang kemudian diubah menjadi biji plastik. Lalu diolah dan dijadikan perabot baru yang memiliki nilai lebih. “Ide ini terlintas ketika saya melihat banyaknya limbah plastik yang melimpah. Paling tidak ini bisa menjadi terobosan baru untuk berinovasi dan memberikan peluang tenaga kerja,” ungkapnya. Hal tak jauh berbeda juga dilakukan oleh Nata. Upayanya untuk mengurus usaha SPBUnya berbuah manis. Dibuka sejak 2011, ia mengembangkan SPBU sedikit demi sedikit. Mulai dari pengembangan, peluang kerja, kualitas pelayanan hingga program excellent. Melihat kesempatan equivalensi, ia akhirnya sukses mendapatkan gelar sarjana tanpa menulis skripsi. “Saya juga memuka café di dekat usaha saya sehingga bisa menjadi faktor kenaikan grade SPBU yang sekarang saya pegang,” tambahnya. Sementara itu, keberhasilan Nur Azizah mempublikasikan penelitiannya ke jurnal terakreditasi SINTA 2 berbuah manis. Ia sekarang bisa lulus kuliah tanpa bersusah payah menulis skripsi. Meski begitu, melakukan penelitian jurnal bukan perkara mudah dan membutuhkan waktu yang panjang. Setidaknya Nur Azizah harus menghabiskan enam bulan untuk menyelesaikannya. Terkait kelulusan tanpa skripsi tiga mahasiswa tersebut, Ketua Prodi Ekonomi Pembangunan UMM M. Sri Wahyudi, S.E., M.E. berharap makin banyak mahasiswa yang mampu mengikuti jejak mereka. Menciptakan inovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat luas. “Teruslah belajar dan berinovasi sebagai bentuk pengabdian untuk negeri,” tegasnya. (wil)
Mahasiswa UMM Menangi Kejuaraan Olahraga Baru Roundnet Nasional

Roundnet, olahraga baru yang mungkin masih terdengar asing di telinga. Namun, kini sudah ada sederet turnamen yang bisa diikuti, khususnya untuk bagi komunitas yang mulai berkembang. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Defrian Dekimugti dan Ahmad Anang Ma’ruf, dua mahasiwa Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka berhasil memenangkan juara dua dalam kejuaraan roundnet nasional dalam gelaran Piala Gubernur Jawa Barat pada Minggu (16/1) lalu di Sport Jabar Arcamanik, Bandung. Defrian, salah satu anggota tim menerangkan bahwa olahraga yang baru masuk di Indonesia ini cukup unik. Ada kemiripan dengan voli, badminton, basket, bahkan juga tenis meja. Ada gerakan smash seperti di voli, perhitungan poin juga mirip dengan badminton, pemantulan bola juga sama dengan basket serta tenis meja. Adapun dalam satu tim terdapat dua orang yang saling bekerja sama. “Meskipun saya baru mulai bermain September lalu, tapi saya sangat menikmati olahraga ini karena menyenangkan. Saya baru berlatih dengan serius sejak Desember tahun lalu bersama Anang dalam rangka mengikuti beragam turnamen,” ungkapnya. Mahasiswa asli Balikpapan ini mengatakan kompetisi tersebut diperuntukkan untuk umum, jadi tidak terbatas pada mahasiswa saja. Ada lebih dari 35 tim yang turut serta dan bersaing satu sama lain. Mulai peserta dari Sumatera, Jawa hingga Bali. Menurutnya, roundnet memang belum begitu populer. Namun seiring banyaknya kompetisi, ia percaya banyak orang yang penasaran dan ingin tahu lebih banyak. Apalagi semakin maraknya komunitas yang menjamur di berbagai kota seperti Bandung, Surabaya dan juga Malang. Meski sukses membawa pulang piala, namun ia dan Anag bukan tanpa kendala. Mereka kurang begitu tahu peraturan baku pertandingan roundnet sesungguhnya. Ditambah lagi, ini adalah kompetisi pertama mereka. Perasaan gugup tentu terus menghampiri meskipun sudah berlatih mati-matian. “Mental memang hal yang harus dipersiapkan dalam sebuah. Saya dan Anang seringkali deg-degan, terutama di babak final di mana kami harus menghadapi tuan rumah. Setiap mencetak angka sorai-sorai rama terus digaungkan para suporter,” terang Defrian. Terakhir, ia berharap roundnet bisa berkembang lebih baik lagi di Kampus Putih UMM dengan membangun Unit Kegiatan Mahasiswa. Dengan begitu, regenerasi bisa berjalan dengan baik dan menciptakan prestasi-prestasi baru. Begitupun dengan organisasi pusat roundnet yang diharapkan bisa memberikan lebih banyak sosialisasi agar olahraga ini bisa semakin terkenal di kalangan masyarakat. (wil)
Fitrah, Wisudawan Terbaik UMM yang Miliki Segudang Piala

Menyeimbangkan kehidupan akademis dan non-akademis merupakan hal yang cukup mustahil bagi sebagian mahasiswa. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Muhammad Fitrah Ashary Bangun. Mahasiswa yang meraih gelar wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah berhasil mencetak banyak prestasi. Mulai dari tingkat regional sampai level nasional. Fitrah, sapaan akrabnya mengaku ketika menjadi pelajar ia sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti perlombaan. Namun ketertarikannya berubah semenjak ia memenangkan lomba di acara Student Day UMM. Anak pertama tersebut mengatakan bahwa minatnya untuk mengikuti berbagai perlombaan meningkat dengan semakin banyak lomba yang ia ikuti. “Awalnya saya memfokuskan diri pada lomba essay, namun seiring berjalannya waktu saya mulai mencoba lomba-lomba yang lain seperti business plan dan lomba debat. Dari pihak dekanat UMM juga terus mendorong saya untuk mengikuti perlombaan di luar kampus. Total saya telah mengikuti kurang lebih 52 perlombaan dan memenangkan 33 kejuaraan mulai dari lomba tingkat kampus sampai tingkat nasional,” ungkap mahasiswa jurusan Manajemen itu. Fitrah mengaku cukup kesulitan dalam menyeimbangkan kegiatan akademis dan non-akademis. Pasalnya, beberapa kali ia meminta dispensasi untuk tidak mengikuti kegiatan pembelajaran di kampus demi mengikuti lomba. Kadang, ketika UTS maupun UAS, ia mengerjakannya di pesawat atau bahkan di hotel saat mengikuti perlombaan. “Beruntung, untuk masalah absensi pihak fakultas selalu mendukung saya dengan mengeluarkan surat dispensasi. Beberapa dosen juga memperbolehkan saya untuk menukarkan raihan juara lomba dengan nilai mata kuliah mereka. Hal yang lebih memacu semangat lagi adalah prestasi saya selalu dihargai oleh kampus dengan pemberian hadiah pasca kejuaraan,” ujar mahasiswa asal Medan tersebut. Raihan wisudawan terbaik Kampus Putih UMM ini merupakan hal yang tidak ia sangka-sangka. Pasalnya Fitrah tidak pernah memfokuskan diri secara menyeluruh di bidang akademik. “Dapat mewakili FEB sebagai wisudawan terbaik di wisuda kali ini merupakan momen yang tidak akan terlupakan. Saya berpesan bagi para mahasiswa yang masih berkuliah, jangan hanya mengejar sisi akademik saja tetapi juga manfaatkan momen perkuliahan untuk mengembangkan diri sesuai passion kalian masing-masing,” pungkasnya. (syi/wil)