Robert John Pope, Wisudawan Asal Australia yang Belajar Islam di UMM

Ada wajah warga asing yang menghiasi wisuda ke-102 Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia adalah Dr. Robert John Pope, M.Pd.I. yang berhasil menyelesaikan studi doktoral di bidang Pendidikan Agama Islam. Sebelumnya, Robert juga telah menyelesaikan pendidikan magister agama Islam-nya di kampus yang sama, yakni Kampus Putih. Robert yang merupakan warga Renmark, Australia juga berkesempatan memberikan sambutan mewakili para wisudawan yang hadir. Ia menjelaskan berbagai hal yang didapat semenjak ia berkuliah di Kampus Putih. Tidak sekadar ilmu saja, tapi juga perspektif dan pengalaman unik selama menimba ilmu di Malang. Dalam kesempatan wisuda Kamis (20/1) tersebut, Robert menyampaikan bahwa Kampus Putih telah memberikannya perspektif baru lewat program pendidikan agama Islam yang telah ia selesaikan. Adalah sebuah hal unik ketika seorang bule boleh dan bisa belajar Islam di universitas Islam. Menurutnya, ada dua hal yang ia pelajari dari UMM. Pertama, yakni mengenai perbedaan yang dianggap sebagai sesuatu yang positif. Setiap orang seyogyanya bisa memahami dan mengerti perbedaan dengan baik, bukan malah saling menyalahkan. Ia bahkan menyebutkan salah satu ayat dalam surat al-Hujurat yang menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia itu dengan banyak suku dan bangsa. Tidak lain tidak bukan untuk saling mengenal dan memahami. “Bukan saling menuduh apalagi mencurigai. Perbedaan menurut saya adalah sebuah keniscayaan yang harus dimengerti bersama. Saling bahu membahu dalam kebaikan sehingga mampu menjadi manusia seutuhnya,” tegas Robert. Kedua, ia menyebut bahwa Kampus Putih telah mengajarkan untuk tidak takut berpikir kritis. Tidak boleh berhenti pada pemikiran yang stagnan tapi harus bergerak ke pemikiran yang dinamis. Dengan begitu, manusia dapat menghasilkan banyak inovasi dan manfaat bagi sesama. Ia juga mengajak para wisudawan yang hadir untuk menjadi seorang global citizen. Yakni pribadi yang berani untuk ebrinteraksi dengan orang-orang berbeda. Tidak terbatas hanya dengan mereka yang memiliki kultur, agama dan bangsa yang sama. “Sekali lagi, selamat telah menyelesaikan salah satu bagian perjalanan akademis kita. Ini adalah satu dari beragam perjalanan akademis yang akan kita tempuh. Semoga sukses dan menjadi orang yang bermanfaat bagi semua,” ungkapnya mengakhiri. (wil)
ADAPT, Kunci Wisudawan UMM Jadi Future-Fit Leader

Menurut studi, supply future-fit leader yang dimiliki Indonesia hanya mencapai 15% saja. Sementara sisanya adalah future leader yang tidak fit dengan keadaan masa depan. Paparan itu disampaikan oleh Managing Director Consulting and Senior Client Partner Korn Ferry Indonesia Satya Radjasa dalam wisuda ke-102 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kamis (20/1). Dihadiri pula oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., wisuda ini dilangsungkan dalam beberapa gelombang dengan protokol kesehatan yang ketat. Lebih lanjut, Satya mengatakan bahwa kecepatan teknologi akan sangat berpengaruh pada muncul dan hilangnya sebuah posisi jabatan. Hal itu bisa dilihat dari berbagai perubahan yang terjadi banyak aspek, salah satunya dalam aspek perbankan. Jika dulu kompetitornya adalah sesama perbankan, kini mereka juga harus menghadapi persaingan dengan financial technology companies seperti OVO, Gopay, LinkAja, hingga Dana. Apalagi setelah datang pandemi Covid-19. Diungkapkan Satya, fenomena ini membuat semua hal harus bermindset teknologi serta adanya perubahan yang cepat. Begitupun yang terjadi dengan aktivitas perusahaan yang kini lebih menginvestasikan pada IoT, Artificial Intelegent, Blockchain dan lainnya. Hal ini memunculkan skill-skill dan jabatan baru. “Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan kualitas manusia sehingga ada beberapa perusahaan yang menilai bahwa investasi di bidang digital transformation hanya buang-buang waktu dan biaya. Maka sudah sepatutnya kita memiliki skill-skill masa depan. Mulai dari kreativitas yang tinggi, complex problem solving, leraning agility, emotional intelegence dan berbagai skill lain yang menarik,” tegasnya. Menurut Satya, kini para investor tidak hanya fokus pada raihan masa lalu dari para leader. Tapi juga melihat seberapa visioner mereka sehingga bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan yang mungkin terjadi. Maka, wisudawan Kampus Putih UMM harus menjadi pemimpin yang fit dengan perubahan. Salah satu caranya adalah dengan memiliki dan melakukan ADAPT yakni anticipate, drive, accelerate, partnership dan trust. Kelima hal ini menjadi poin penting dalam menghadapi tantangan zaman. Dalam kesempatan wisuda tersebut, salah satu wisudawan doktoral internasional UMM Dr. Robert John Pope, M.Pd.I. menyampaikan bahwa Kampus Putih telah memberikannya perspektif baru lewat program pendidikan agama Islam yang telah ia selesaikan. Menurutnya, ada dua hal yang ia pelajari dari UMM. Pertama, yakni mengenai perbedaan yang dianggap sebagai sesuatu yang positif. Setiap orang seyogyanya bisa memahami dan mengerti perbedaan dengan baik, bukan malah saling menyalahkan. Kedua, Robert menyebut Kampus Putih telah mengajarkan untuk tidak takut berpikir kritis. Tidak boleh berhenti pada pemikiran yang stagnan tapi harus bergerak ke pemikiran yang dinamis. Dengan begitu, kita akan menghasilkan banyak inovasi dan manfaat. “Satu pesan saya untuk para wisudawan adalah jadilah seorang global ciitizen. Yakni bisa menjadi pribadi berani untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda, tidak hanya pada mereka yang sama. Sekali lagi, selamat telah menyelesaikan salah satu bagian perjalanan akademi kita,” ungkapnya. Di lain sisi, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. berharap segala pengalaman dan ilmu yang didapat oleh wisudawan bisa diimplementasikan di masyarakat. Menjadi seorang problem solver atas pelbagai permasalahan. Tentu dengan bekal restu dan doa dari kedua orang tua para wisudawan. “Ini adalah salah satu bagian dari perjalanan hidup anda. Langkah-langkah terbaik bisa dipilih, begitupun sebaliknya. Semua kembali pada pilihan saudara-saudara. Kami tentu selalu mendoakan yang terbaik agar kelak saudara bisa menjadi manusia yang sukses dan bermanfaat bagi sesama,” tegas Fauzan. Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Mengapresiasi beragam prestasi yang sudah diraih oleh Kampus Putih UMM. Mulai dari level regional, di mana UMM mampu membukukan diri sebagai kampus terbaik di Jawa Timur selama 14 tahun berturut-turut. Begitupun dengan level nasional hingga internasional yang mana UMM bisa masuk di sepuluh besar kampus Islam terbaik dunia. Raihan-raihan tersebut dirasa bisa menjadi bekal awal yang bagus bagi para wisudawan untuk menghadapi dunia nyata usai menyelesaikan studi. Menjadi salah satu alumni dari universitas top di Jawa Timur, memberikan manfaat tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi masyarakat luas, agama, nusa dan bangsa. (wil)
Ahda, Mahasiswa UMM yang Raih Beasiswa IISMA ke Negeri Gajah Putih

Siapa yang tak ingin merasakan studi di luar negeri? Hal serupa juga menjadi mimpi Ahda Mutiari Hifdhi, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Beruntung, berkat kerja keras dan dukungan kampus, ia berhasil menggapai menimba ilmu di negara orang, yakni Thailand. Kini, ia tengah menjalani perkuliahan selama satu semester di Prince of Songkla University, Kota Hat Yai, Provinsi Songkla berkat program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Meski sama-sama berada di wilayah ASEAN, Indonesia dan Thailand ternyata juga memiliki beberapa perbedaan. Beruntung, Ahda memiliki buddy, yakni teman yang membantu mengenalkan beragam budaya dan kultur di universitas, utamanya di mengambil Faculty of Management Science, Prodi Bachelor Business Administration (BBA). Berbekal pengalaman di Kampus Putih UMM, ia bisa dengan cepat beradaptasi di lingkungan Negeri Gajah Putih tersebut. Memiliki teman, bermain dan belajar bersama, bahkan juga berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik. Hal itu tentu menambah networking yang Ahda miliki. Satu dari sederet kendala yang ia hadapi adalah sukarnya memahami bahasa inggris yang diucapkan oleh orang-orang Thailand. Apalagi jika logat yang dimiliki cukup kental. Alhasil ia harus berkali-kali meminta lawan bicaranya untuk mengulangi. “Alhamdulillah, setelah beberapa hari saya sudah mulai terbiasa mendengarkan bahasa Inggris yang kental dengan logat Thailand. Apalagi ternyata banyak yang bisa berbahasa melayu sehingga mempermudah komunikasi,” tuturnya. Perihal makanan, Ahda menilai bahwa mencari makanan halal tidak begitu sulit. Ia dapat mendapatkannya dengan mudah di toko-toko sekitar tempat tinggalnya. Namun ia sedikit kesulitan untuk menemukan masjid dan mushola. Ia biasanya beribadah di kediaman atau juga di ruangan-ruangan kosong. Namun, untuk mendapatkan beasiswa dan fasilitas yang dinikmati, Ahda harus bersusah payah untuk mempersiapkannya. Satu di antaranya adalah persiapan berkas administrasi yang bejibun. Ditambah lagi dengan proses wawancara yang bikin jantungnya deg-degan. “Beruntung, International Relation Office (IRO) UMM sangat membantu saya untuk mempersiapkannya. Beberapa kali memberikan masukan dan tips agar memperbesar kemungkinan saya diterima di IISMA ini,” jelas Ahda. Mahasiswa asal Purwokerto, Jawa Tengah ini berharap kedepannya pembelajaran di Thailand bisa berjalan luring karena sampai saat ini masih sangat dibatasi. Kebanyakan berjalan secara daring sehingga pengalaman interaksi secara langsung kurang dirasakan. “Karena kuliah masih online, jadi saya belum berinteraksi langsung dengan mahasiswa lainnya. Semoga bisa segera luring, jadinya saya bisa merasakan sensasi kuliah di luar negeri sebenarnya,” jelasnya. (haq/wil)
Kelas Unggas UMM Ajarkan Manajemen Krisis Bisnis Ayam Petelur

Dalam rangka menjawab permintaan dunia industri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siapkan berbagai skema pelatihan bersama dunia usaha. Salah satunya adalah Kelas Professional Unggas (KPU) yang mengadakan pelatihan manajemen krisis bisnis ayam ras petelur bersama Perseroan Terbatas (PT) Jatinom Indah Farm (JIF). Acara ini dilakukan di Rumah Makan Joglo Jatinom, Blitar, pada awal Januari ini. Salah satu perwakilan dari PT JIF, Sigit Prasetyo, SE., mengatakan bahwa pelatihan ini berupaya mendorong para lulusan sarjana peternakan agar semakin siap bekerja di dunia Industri. Sebanyak 20 peserta kelas unggas yang sebelumnya mendapatkan pelatihan, kini kembali diikutsertakan dalam program manajemen krisis ini. “Para peserta akan dididik langsung oleh pihak industri sehingga bisa membangun mental yang tangguh. Selain itu juga bisa terbiasa dengan ritme kerja yang ada di lapangan nantinya,” ungkap Instruktur pelatihan manajemen krisis tersebut. Sigit, sapaan akrabnya mengatakan bahwa program tersebut dilakukan dengan sistem student center learning. Peserta diberikan beberapa contoh kasus krisis yang pernah terjadi di Indonesia mulai tahun 1960-an hingga kasus yang terjadi pada tahun 2021. Hal itu akan membantu para peserta untuk memahami apa yang sedang terjadi pada saat krisis tersebut dan bagaimana cara untuk mengatasinya. “Dalam berbisnis, kita harus mampu mengukur nafas sendiri-sendiri. Jangan pernah gengsi dalam berbisnis. Untuk mendorong bisnis selalu berkembang, saya berharap para peserta dapat mengupayakan hal-hal baru dari waktu ke waktu,” ungkapnya di akhir pelatihan. Salah satu peserta pelatihan, Rizqi Baldan Thoyiban, mengatakan bahwa selama menjalani program magang di PT. JIF ia mendapat banyak pengalaman lapangan yang tidak akan ia dapatkan di kelas biasa. Magang ini turut serta memberinya berbagai ilmu baru mengenai manajemen krisis bisnis ayam seperti pengelolaan uang, waktu, dan pakan. Ketiganya harus disesuaikan agar bisnis yang berjalan bisa terus konsisten. “Meskipun tergolong singkat yakni hanya beberapa jam saja, namun pelatihan ini membuka mata saya mengenai berbagai kendala di bisnis ayam ras petelur dari tahun 60an. Semoga dalam membuka bisnis, kami mampu menerapkan ilmu-ilmu yang diterima dalam proses magang enam bulan ini,” kata mahasiswa jurusan Peternakan tersebut. (syi/wil)
Webinar Civic Hukum UMM Kaji Digital Citizenship dan Pancasila

Perkembangan dunia digital yang sangat pesat membuat masyarakat harus bisa beradaptasi dengan cepat pula. Maka sangat penting untuk memahami aspek digital citizenship. Hal itu disampaikan Drs. Moh. Mansur Ibrahim, M.H. dalam webinar bertema Pancasila di Era Digital Citizenship: Tantangan, Peluang, dan Prospeknya demi Indonesia Tangguh dan Tumbuh. Event yang dilaksanakan pada Sabtu (15/1) ini merupakan hasil kerja sama Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI). Menurut Mansur, dunia digital berkembang begitu cepat dan merambah ke berbagai sektor kehidupan manusia. Salah satunya dalam aspek ekonomi yang semakin ke sini semakin sedikit jumlah transaksi yang fisik. Semua bergeser ke uang digital. “Selain itu, penggunaaan sosial media menuntut kita untuk terlibat dan berhubungan dengan dunia digital,” ungkap Ketua Prodi PPKn UMM itu. Sementara itu, Prof. Dr. Kokom Kumalasari, M.Pd., menuturkan konsep kewarganegaraan digital merujuk pada kualitas perilaku individu dalam berinteraksi di dunia maya. Khususnya dalam jejaring sosial dengan menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. Dalam kewarganegaraan digital, ada prinsip yang harus dibangun yakni menghormati diri dan menghormati orang lain, mendidik diri dan mendidik orang lain, serta melindungi diri dan melindungi orang lain. “Jadi, di sini ada saling hubungan antara kita dengan orang lain. Untuk mencapai prinsip tersebut, ada sembilan elemen kewarganegaraan digital yang perlu dimiliki. Di antaranya digital access, digital commerce, digital communication, digital literacy, digital law, digital right & responsibilities, digital health & wellness, digital securiy, dan digital etiquette,” ungkap dosen PPKn Universitas Pendidikan Indonesia. Kokom, panggilan akrabnya kembali menjelaskan bahwa membangun warga negara digital yang baik harus dimulai dari budaya sekolah. Hal ini juga bisa diintegrasikan dalam pembelajaran PPKn. “Guru harus menerapkan kerangka Technological Pedagogical Kontent Knowledge (TPACK) dalam pembelajaran PPKn dengan strategi pembelajaran yang berfokus pada Contextual Teaching and Learning & Scientific Learning, Self Regulated Learning, value-based education, dan blended learning,” kata Kokom. Di sisi lain, Sugeng Winarno, M.A. menjabarkan bahwa dalam data digital civility index yang dirilis Microsoft Februari tahun lalu, menyatakan bahwa netizen Indonesia paling tidak punya adab di internet. Oleh sebab itu, hal paling krusial adalah etika masyarakat dalam bermedia sosial. “Urgensi dari etika bermedia sosial bahkan mendorong Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan panduan bagaimana warga Muhammadiyah menggunakan media sosial. Prinsipnya, warganet Muhammadiyah diharapkan menjadikan media sosial sebagai wahana silaturahmi, bermuamalah tukar informasi,dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar,” terang kepala Humas UMM itu. Lebih lanjut, Sugeng juga membagikan tips bermedsos yang beradab, yaitu menggunakan nama asli, batasi informasi pribadi yang ada dan tidak sembarangan menerima undangan pertemanan. Selain itu juga tidak mudah percaya dengan teman, cek kebenaran informasi pemilik akun, tidak berkata kasar, tidak memposting foto pribadi, hingga menghindari ‘nyampah’ di timeline. Ia juga menilai bahwa pemahaman akan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tak kalah krusial dalam menciptakan warga digital yang beradab. “Interaksi di media sosial tidak lepas dari Undang-undang ITE. Orang Indonesia banyak yang belum memahami hal itu sehingga mudah terjerat hukum. Jadi, melek hukum digital juga sangat penting,” kata dosen Ilmu Komunikasi tersebut. Sementara itu, Dr. Nurul Zuriah, M.Si., memaparkan bahwa konsep kewarganegaraan digital tidak bisa dipisahkan dari konsep pelajar Pancasila. “Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Ketika profil pelajar pancasila ini sudah tertanam, maka secara otomatis mereka akan menjadi a good digital citizenship,” terangnya. Pada prakteknya, pengguna media sosial diharapkan selalu memegang etika bermedia sosial yang baik dan benar dengan selalu memperhatikan konsep THINK. Artinya, sebelum berkomunikasi di dunia digital, pengguna harus mempertanyakan tentang True, Hurtful, Illegal, Necessary, dan Kind. Ada berbagai tantangan dalam penguatan profil pelajar Pancasila di era digital citizenship yang harus dicermati. “Belum lagi permasalahan keamanan data, etika berkomunikasi, kenyamanan, ancaman atau bulliying, hoax-hate speech, serta jaminan dan kepastian hukum. Itu adalah hal-hal yang harus kita pecahkan bersama,” tandasnya. (*/wil)
Lincoln Arsyad Dorong Lulusan UMM jadi Problem Solver di Tengah Masyarakat

Lulusan baru sepatutnya juga menjadi harapan baru bagi masyarakat, keluarga dan diri sendiri. Mengawali langkah untuk berkiprah di masyarakat, memberikan solusi atas pelbagai permasalahan yang ada. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. H. Lincoln Arsyad, M.Sc., P.Hd. selaku Ketua Majelis Perguruan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Wisuda ke 102 periode IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Turut hadir sebagai undangan Prof. He Zubin selaku Presiden Guanxi Normal University (GXNU), Cina. Adapun wisuda ini dilangsungkan secara luring dengan beberapa gelombang pada bulan Januari. Agenda tersebut juga dilaksanakan dengan menerapkan berbagai protokol kesehatan yang ketat. Lincoln, sapaan akrabnya berpesan bahwa manfaat ilmu yang dipelajari tidak hanya digunakan untuk diri sendiri. Melainkan harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat serta menjadi oase di tengah gurun permasalahan yang ada. Ia juga berharap para wisudawan tetap rendah hati ketika terjun ke dunia nyata karena pasti masih ada orang yang lebih berilmu. Lebih lanjut, menurutnya Covid-19 melahirkan beragam bidang dan jurusan baru. Maka perlu adanya peningkatan dan pemahaman digital yang mumpuni dalam rangka menghadapi zaman. Kampus Putih UMM sebagai salah satu universitas terbaik diharapkan bisa mengembangkan sistem informasi dan SDM. Kedua aspek ini dinilai dapat menjadi pondasi untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang maju. “Pengembangan sistem informasi sudah dan akan sangat dibutuhkan. Maka saya berharap UMM bisa mengembangkannya demi mengambil peran untuk menunjang kehidupan yang akan datang,” jelasnya. Dalam kesempatan yang sama, He Zubin menjelaskan bagaimana cara Cina meningkatkan mutu perguruan tinggi. Semua diawali dengan penerimaaan mahasiswa baru jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang meningkat hingga 54% di tahun 2020. Berbeda pada tahun 1948 yang pendaftarannya masih berada di rasio 0,26 %. Saat ini, tercatat ada 48 juta mahasiswa di Cina yang berkuliah melalui jalur SNMPTN sekaligus membuatnya menjadi negara dengan penerimaan mahasiswa terbanyak di dunia. He Zubin juga memaparkan langkah-langkah Cina untuk membangun pendidikan yang baik. Pertama, membangun sistem pendidikan yang terencana berdasarkan skala. Selanjutnya, pengadaan konferensi tenaga ahli untuk memperkuat negara dengan talenta. Selain itu juga mengandalkan teknologi informasi untuk mempercepat infrastruktur baru pada perguruan tinggi dan melakukan evaluasi efektif universitas dan jurusan unggulan dunia. Semua itu Selain itu, He Zubin menegaskan bahwa perlu adanya penguatan integrasi indisipliner dan pengembangan bakat serta evaluasi untuk meninjau pendidikan dan pengajaran. Perguruan tinggi juga didorong untuk menebarkan manfaatnya dalam usaha membantu revitalisasi pedesaan. Begitupun dengan memperkuat reformasi gelar profesor serta tenaga pelajar di universitas-universitas. “Terakhir yakni mengontrol universitas secara rutin untuk menyetarakan pendidikan. Hal-hal itulah yang menjadi penunjang dalam mengembangkan pendidikan di Cina. Tidak hanya untuk sekarang, tapi juga bagi masa depan,” ucapnya. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. membahas tentang Center of Excellence, yaitu pembinaan dan pengembangan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Kampus Putih. Dari program tersebut, pihaknya telah melahirkan program turunan, di antaranya Sekolah Unggas, Rumansia, Rumput Laut, Udang, Anggrek, Welding Inspector, dan Essential Oil. Menariknya, UMM juga tengah mengembangkan kelas teknologi digital bersama dengan pihak-pihak lain. “Ini langkah konkret kami untuk mengembangkan SDM berbasis digital, sehingga ekonomi dan aspek-aspek lainnya bisa berjalan secara baik mengikuti zaman,” ujar Fauzan mengakhiri. (haq/wil)
Wisudawan Terbaik UMM Pelopori Penggunaaan Produk Ramah Lingkungan

Tumbuh di keluarga petani membuat Wahid Muhammad Shodiq terbiasa dengan berbagai sistem pertanian sejak dini. Wisudawan terbaik program Strata Dua (S2) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, mulai memantapkan karir di bidang pertanian sejak mengetahui tentang perbedaan harga yang cukup tinggi antara harga panen dan harga di pasaran. Meski keluarganya bermata pencaharian sebagai petani, namun mereka tidak bisa melakukan manajemen pasca panen dengan baik. Hal ini berpengaruh pada hasil jual produk pertanian yang sudah ditanam. Oleh karenanya, selepas Sekolah Menengah Atas (SMA) ia bertekad untuk mendalami bidang Agribisnis. “Di lapangan, penjualan produk pertanian harus melalui beberapa tangan sehingga harga melambung tinggi. Sebab itu, edukasi mengenai manajemen pasca panen sangat penting. Dalam lingkup kecil mungkin saya bisa mengedukasi keluarga saya dulu, lalu pelan-pelan mulai beralih ke lingkup yang lebih besar,” jelas alumnus kelahiran Bojonegoro itu. Dengan ilmu yang didapatkannya, Wahid semakin terpacu untuk mempelajari Agribisnis. Anak tunggal ini bercerita bahwa perolehan wisudawan terbaik tersebut bukan yang pertama kali diraihnya. Sebelumnya, saat menempuh pendidikan strata satu (S1) di UMM, ia juga menjadi wisudawan terbaik di Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Wahid mengatakan bahwa tesisnya di S2 ini melanjutkan penelitian saat S1 dahulu. “Kalau di tingkat sarjana, saya membahas tentang perilaku ramah lingkungan secara umum. Namun di S2 ini saya membahas tentang perilaku ramah lingkungan berfokus pada restoran fast food. Seperti yang kita ketahui, penggunaan produk yang tidak ramah lingkungan pada akhirnya akan menyebabkan pencemaran pada tanah subur. Namun sampai sekarang tidak ada standar pasti dari pemerintah mengenai kemasan ramah lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya regulasi agar para brand fast food tidak asal klaim,” ungkap Wahid. Menurutnya, pemerintah perlu memmbuat ukuran baku terkait produk ramah lingkungan. Begitupun dengan brand yang tidak sepatutnya asal klaim, namun benar-benar membuat produk yang pro akan kebaikan lingkungan. Ia juga mengimbau agar masyarakat turut mengambil peran dalam upaya menciptakan lingkungan yang baik. “Perilaku-perilaku seperti buang sampah sembarangan nyatanya bisa memengaruhi kesuburan tanah di sekitarnya. Maka perlu adanya edukasi luas mengenai ini,” tegasnya. Raihan wisudawan terbaik ini merupakan hadiah untuk orang tuanya yang telah bersusah payah menyekolahkan sampai S2. Raihan ini juga menjadi apresiasi terbaik dari beragam usaha yang telah diperjuangkannya hingga saat ini. “Semoga bisa belajar lebih banyak hal lagi dan membagikan ilmu yang saya peroleh ke masyarakat luas. Saya juga akan terus mengupayakan mimpi saya, yakni membuka toko pertanian yang pro petani di daerah asal,” pungkasnya. (syi/wil)
Menteri BUMN Erick Thohir Resmikan Rayz Hotel UMM

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, B.A., M.B.A. meresmikan Rayz Hotel Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (16/1) lalu. Sebelumnya, Erick juga sempat memberi materi kepada para mahasiswa baru di Hall Dome UMM terkait terkait transformasi digital. Turut hadir Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto, S.H., M.H. didampingi Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd beserta jajaran wakil rektor dan Badan Pembina Harian (BPH) UMM. Erick menilai Rayz Hotel yang menjadi salah satu unit bisnis dan laboratorium terapan Kampus Putih UMM ini merupakan contoh luar bisa, bagaimana upaya sebuah universitas untuk menjadi mandiri. Tidak terbatas pada sektor pendidikan saja namun juga di sektor lainnya. Sehingga, pengembangan universitas tidak hanya bergantung pada dana pemerintah. “Jadi, UMM ini tidak hanya memberikan pelayanan pada mahasiswa dan keluarganya saja, tapi sekaligus kepada masyarakat luas. Hal-hal seperti ini sudah sepatutnya universitas lakukan,” tutur Erick. Lebih lanjut, Ia juga mendorong Kampus Putih untuk lebih meningkatkan peran para alumni. Salah satunya melalui pembentukan lembaga funding. Para alumi didorong untuk iktu aktif dalam aktivitas funding yang sudah dibangun. Kemudian, dana yang diperoleh diharapkan bisa menjadi jenis perputaran usaha baru untuk ke depannya. Erick menambahkan bahwa pihaknya sangat terbuka dalam membangun kerja sama. Ia berharap hubungan baik dengan UMM dapat terus diintregasikan. Utamanya dalam hal research and development (R&D). “Sekarang kita tidak begitu fokus dengan R&D karena akan aspek ini dapat melalui kerja sama. Apalagi sudah ada berbagai kerja sama yang dijalin dengan universitas untuk komersialisasi,” tegas Erick. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa Rayz Hotel ini merupakan salah satu unit bisnis yang memberikan hasil positif. Bahkan menjadi salah satu destinasi hotel bintang empat terbaik yang ada di Malang. “Tentu kami berharap dengan diresmikannya Rayz Hotel UMM oleh menteri BUMN ini bisa meningkatkan kinerja serta kualitas pelayanan yang diberikan kepada para pengunjung. Begitupun dengan pengembangan bisnis-bisnis lain yang segera dibuka,” harap Fauzan mengakhiri. Erick, Fauzan dan Didik juga sempat mengunjungi beberapa titik di Rayz Hotel. Melihat kolam renang yang tersedia hingga beberapa villa yang yang berada di hotel tersebut. Selain menyediakan kamar yang mewah, Rayz yang merupakan laboratorium terapan UMM juga memberikan pelayanan villa menarik bagi mereka yang menginginkan. Adapula roof top, kids corner, meeting room dan lain sebagainya. (wil)
Menteri BUMN Erick Thohir Ajak Mahasiswa UMM Jadi Pioner Transformasi Digital

Transformasi digital dan ekosistem ekonomi memiliki peran vital dalam membangun negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI H. Erick Thohir, BA., M.B.A. kepada para mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia berkesempatan mengisi agenda Student Day Talkshow yang membahas Tranformasi Digital pada Sabtu (15/1) lalu di Dome UMM. Hadir pula secara langsung Wakil Bupati Malang Didik Gatoto Subroto, S.H., M.H., dan Direktur Lippo Plaza Batu Suwanto. Adapula Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, S.H., M.IP yang turut serta mengisi agenda secara daring. Erick melanjutkan bahwa target Indonesia di 2025 adalah menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor empat di dunia. Tapi, mimpi itu hanya akan menjadi mimpi jika kita tidak mengusahakannya dengan baik, terutama dalam aspek ekonomi. Tentu akan banyak tantangan yang harus dimenangkan agar bisa mencapai mimpi itu. Ia mengatakan dalam beberapa tahun kedepan, ekonomi tidak hanya berfokus pada Sumber Daya Alam (SDA) lagi. Namun akan fokus pada kemampuan manusia dalam mengelola ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Sehingga mampu mendorong ekonomi negara menjadi lebih maju. Oleh karenanya, di era digital seperti sekarang, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kapabilitas di bidang digital. “Kita harus menyiapkan 17,5 juta tenaga kerja yang mempunyai kemampuan di bidang digital agar bisa memenangkan persaingan dengan negara lain. Maka, pembangunan infrastruktur digital serta pembentukan ekosistem yang baik dalam pengelolahan SDA menjadi poin utama. Dengan begitu, pembangunan ekonomi nasional bisa berjalan dengan lancar,” ungkapnya. Menurut Erick, saat ini banyak sumber daya alam yang dikirim ke luar negeri dengan harga yang murah. Kemudian pengelolaannya juga dilakukan oleh negara luar. Tentu, hal ini merugikan Indonesia. “Jangan jadi generasi rebahan dan konsumtif. Jadilah generasi produktif agar bisa bersaing dengan bangsa lain,” tegasnya. Sementara itu, Ganjar menilai pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi hal yang penting. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari mereka yang menggunakan fasilitas digital. Maka, ia mendorong mahasiswa untukt erjun langsung ke masyarakat dalam rangka mengupayakan peralihan bisnis menuju digitalisasi. “Saya rasa, digitalisasi harus bisa masuk ke desa-desa sehingga UMKM mampu bertahan di arus digital yang semakin besar ini. Ada banyak manfaat proses digitalisasi yang bisa dirasakan, khususnya pembayaran online yang dirasa mampu menurunkan angka korupsi,” tuturnya menjelaskan. Ia juga ingin agar mahasiswa turun menjawab permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Begitupun dengan menginsiasi aktivitas kolaborasi sehingga kendala pemasaran, permodalan, izin usaha serta hal lainnya dapat menemukan jalan terang. Pengembangan jejaring juga perlu ditingkatkan untuk mendorong penggunaan sistem dan pembayaran digital. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menerangkan bahwa slogan Student Today Leader Tomorrow membuat Kampus Putih memfokuskan proses pendidikan dalam dua hal, kompetensi akademis dan leadership. “Dan agenda Student Day ini menjadi salah satu upaya untuk membangun leadership yang kuat. Khususnya melalui berbagai kegiatan mahasiswa, organisasi serta agenda-agenda yang menarik,” jelasnya. Fauzan juga menjelaskan terkait terobosan baru UMM untuk menyiapkan lulusan yang mandiri yakni dengan Centre of Excellence (CoE). Beberapa di antaranya adalah sekolah udang, unggas, anggrek, rumput laut, welding inspector dan lainnya. Kampus Putih juga terus mengidentifikasi pengembangan aspek digital sehingga para mahasiswa UMM tidak tertinggal dengan keterampilan digital yang kini dibutuhkan. (wil)
Bawakan Karya Usmar Ismail, Mahasiswa UMM Menangi Ajang Dramatical Reading

Seakan tak pernah berhenti, prestasi demi prestasi senantiasa dicetak oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) meraih juara satu nasional lomba dramatical reading. Ajang tersebut dilangsungkan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PBSI Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada akhir Desember lalu. Afif Yudi Kurniawan selaku koordinator kelompok menjelaskan bahwa dramatical reading adalah sebuah penampilan membaca naskah. Tidak sekadar membaca, tapi mereka harus memperagakan dan mendaramakannya. Pada ajang tersebut, ia dan tim membawakan naskah karya Usmar Ismail berdujul ‘Ayahku Pulang’. “Sebenarnya naskah ini pernah kami bawakan di sebuah mata kuliah yang berkaitan dengan drama. Kemudian kami kembangkan dan lengkapi untuk bisa memberikan hasil maksimal dalam ajang kali ini,” tambahnya. Secara garis besar, naskah ini menceritakan seorang ayah yang meninggalkan keluarganya ketika menghadapi masalah. Namun, saat ia pulang, keluarga tidak menerimanya dengan baik. Pengambilan latar dan suasana dirasa Afifi cukup menarik, yakni pada bulan Ramadan. Dituturkan Afif, selama perlombaan mereka merasa apa yang dipelajari dalam mata kuliah gerak dan oratori sangatlah membantu. Pada mata kuliah tersebut, mereka diajarkan bagaimana mengolah nafas, gerak dan ekspresi. Ketiga aspek yang dipelajari dinilai memiliki peranan penting dalam kemenangan yang diraih. Mahasiswa asli Lumajang ini kembali menambahkan bahwa salah satu motivasi terbesarnya adalah ingin mengimplementasikan apa yang sudah dipelajari selama kuliah. Jadi tidak sebatas materi saja, tapi bisa langsung mempraktekkannya dalam berbagai kegiatan. Dengan begitu, ia dan teman-teman bisa semakin mengingat seluruh hal yang sudah diajarkan. Afif tidak sendirian terjun dalam persaingan lomba tersebut. ia ditemani lima kawannya yang berperan sebagai aktor antara lain Septi Karina, Novita Eka Miranda, Aryandi Bimbi Arifatur, M. Khikam Zahidi dan M. Azrul Nizam. Sempat terkendala penataan waktu dan pengambilan video, namun mereka berhasil menanggulanginya dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak. Apalagi ini adalah lomba virtual pertama yang diikuti. “Sebenarnya kami ingin bisa tampil secara luring di hadapan para penonton yang riuh. Ingin merasakan bagaiman atsmosfer panggung yang dilihat langsung oleh para peserta dan pencinta sastra. Semoga apa yang kami raih bisa mendorong mahasiswa lain untuk iut berprestasi,” tegasnya. (haq/wil)