UMM Buka Kelas Profesional Essential Oil

Pengembangan Centre of Excellence (CoE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berlanjut. Demi mengantarkan mahasiswa menjadi pribadi mandiri, Kampus Putih kini menggaet PT. Pemalang Agro Wangi untuk membuka kelas profesional essential oil. Tanda tangan kerja sama yang dilaksanakan pada Rabu (13/1) ini diharapkan mampu menciptakan peluang-peluang yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. ingin CoE yang ada di Fakultas Pertanian dan peternakan dan Fakultas Ilmu Kesehatan ini bisa benar-benar menjadi mercusuar bagi mahasiswa. Bukan hanya menjadi program gaya-gayaan dan gengsi semata. Apalagi terobosan ini sudah diapresiasi oleh banyak pihak, baik dari kalangan akademisi maupun dari Industri dan Dunia Kerja (Iduka). Menurut Fauzan, membangun CoE memang bukan perkara yang mudah. Perlu adanya upaya serius agar bisa menyiapkan pondasi yang kuat. Ia juga mendorong program ini bisa melahirkan produk-produk turunan. Membentuk ekosistem yang mendukung untuk mahasiswa, dosen bahkan juga industri. “Jangan hanya berhenti di proses tanda tangan kerja sama saja. Harus ada aktivitas yang implementatif sehingga kita mampu mengantarkan mahasiswa serta alumni yang mandiri. Kini, kalau hanya berpikir linier kita tentu akan ketinggalan. Harus segera berpikir maju dan zig-zag,” imbuhnya. Hal itu diamini oleh Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PT. Pemalang Agro Wangi Muhammad Aminudin. Harus ada pengembangan bisnis dengan cara baru yang mengikuti teknologi. Utamanya produk yang dihasilkan oleh perusahaannya. Menurutnya, tren essential oil kini sedang naik di kalangan masyarakat. Meski telah memiliki lebih dari 80 hektar lahan, namun pihaknya tetap kewalahan dalam memenuhi permintaan, khususnya untuk kebutuhan ekspor. Maka kerja sama ini diharapkan dapat memberikan inovasi serta masukan sehingga bisa menciptakan peluang. Tidak hanya bagi PT. Pemalang Agro Wangi saja tapi juga untuk Kampus Putih UMM. Lebih lanjut, dalam rangka mencapai tujuan masing-masing institusi, diperlukan langkah-langkah konkret dan action plan yang tertata. “Hal paling penting adalah bagaimana kita bisa bergerak dengan cepat. Action dulu, kalaupun modal belum mencukupi insyaAllah Allah akan memberi nanti. Selain itu saya rasa kalau untuk perut, kita semua juga merasa lebih dari cukup. Namun, upaya ini adalah bagian untuk memajukan pengusaha-pengusaha lokal lainnya,” tegas Amin. Sementara itu Koordinator Asisten Rektor UMM Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. menilai UMM dan perusahaan sama-sama membutuhkan satu sama lain. Apalagi didorong dengan adanya kebijakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Kemdikbudrisek. Kerja sama ini juga dirasa mampu memberikan jaminan keamanan produk dan juga keamanan pengguna. Dengan begitu, tingkat kepercayaan masyarakat akan meningkat karena produk yang digunakan sudah melalui proses ujicoba. Begitupun dengan Kampus yang bisa memberikan pengalaman kerja bagi para mahasiswa. “Sehingga tujuan untuk mengantarkan mereka menjadi lulusan mandiri bisa dicapai dengan langkah-langkah pasti dan terukur,” tambah Jono. (wil)

Wani Sabu Ajak Mahasiswa UMM Antisipasi Cyber Crime

Meningkatnya berbagai fitur digital di era pandemi memudahkan masyarakat dalam segala bentuk aktivitas. Namun selain kenyamanan, fitur digital juga membawa ancaman baru yaitu cyber crime. Hal tersebut disampaikan oleh Executive Vice President Sentra Layanan Digital BCA, Wani Sabu pada acara kuliah tamu Cyber Crime Awareness di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu (12/01) dan selenggarakan secara offline di Hall BCA GKB 4 UMM serta disiarkan secara online melalui kanal Youtube Ummtube. Wani mengatakan bahwa kasus cyber crime paling banyak berada di ranah perbankan. Hal ini terjadi karena di masa pandemi sebanyak 99.5% nasabah bank lebih menggunakan fitur layanan online dalam berbagai bertransaksi. Kasus yang sering terjadi adalah penipuan nasabah saat proses jual beli barang melalui platform digital. Salah satu model penipuannya adalah dengan membuat akun toko palsu. “Toko online ini menggunakan nama toko lain yang lebih kredibel, membeli followers di sosial media, dan juga memberikan diskon secara besar-besaran. Hal-hal tersebut akan memancing masyarakat untuk membeli dan mentranfer sejumlah uang. Kemudian sang penjual akan kabur tanpa mengirimkan barang kepada pembeli,” terang Wani. Jika nasabah telah mengalami penipuan seperti itu, Wani menyarankan agar segera melaporkan ke bank dan melakukan penundaan transaksi. Jika uang belum ditarik dari bank, kemungkinan besar bank masing bisa mengembalikan dana yang telah di transfer. “Dalam kasus seperti ini, semakin cepat nasabah sadar akan penipuan maka semakin besar kemungkinan uang yang telah ditransfer dapat ditarik kembali,” kata wanita asal Jambi tersebut. Kasus lain yang sering terjadi adalah pencurian data pribadi. Anak pertama dari empat bersaudara tersebut menyampaikan bahwa banyak penipu yang menggunakan data orang lain untuk membuat rekening bank. Hal tersebut menyulitkan pihak bank dan kepolisian untuk menangkap pelaku penipuan. “Masyarakat Indonesia masih belum mengerti tentang pentingnya perlindungan data pribadi. Oleh karenanya, saya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak memberikan data pribadi atau membuatkan akun bank untuk orang lain. Masyarakat juga diharapkan untuk tidak memberikan pin ATM maupun kode One Time-Password (OTP) pada sembarang orang,” jelas Wani. Di lain sisi, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., mengatakan bahwa pandemi telah mengubah kebiasaan kita dalam beraktivitas. Semua hal yang dahulu dilakukan secara offline harus berpindah menjadi online. Begitupun dengan pembayaran dan jasa keuangan. “Dengan adanya acara kuliah tamu ini, saya harapkan para mahasiswa dapat memahami ancaman-ancaman yang akan terjadi di balik transaksi online serta dapat menghadapi proses digitalisasi ini dengan dengan lebih baik,” tandasnya. (wil)

Fikes UMM Buka Peluang Beasiswa dan Kerjasama Internasional

Tak dapat dipungkiri, jalinan kerja sama memiliki peranan penting dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia. Meningkatkan kapasitas hingga mencapai global competitiveness bersama dengan universitas-universitas top dunia. Hal tersebut disampaikan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. pada seminar Internasional Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (12/1) lalu. Membahas tuntas peluang beasiswa dan kerjasama partnership di bidang kesehatan, seminar ini turut mengundang pihak kedutaan besar internasional di Eropa dan Asia. Ada dari Kedubes Polandia yang diwakili oleh Michal Weglarz, Kedubes Malaysia yang dihadiri oleh Farid Ma’ruf serta Kedubes Taiwan yang diwakili oleh Fajar Nuradi. Ketiganya memperkenalkan beragam kesempatan dan akses terkiat beasiswa bagi mahasiswa serta dosen. Begitupun dengan langkha-langkah yang bisa dilakukan untuk menggaet pihak-pihak internasional. Menurut Fauzan, ini adalah langkah penting untuk meningkatkan kualitas universitas, khususnya dalam bidang kesehatan baik di jurusan keperawatan, farmasi dan fisioterapi. “Kita harus terus melebarkan sayap berinisiatif mengenalkan UMM sekaligus membangun kerja sama dengan universitas-universitas di dunia. Bisa berupa pertukaran dosen, penelitian bersama bahkan dimungkinkan untuk pertukaran mahasiswa,” imbuhnya. Michal mengatakan bahwa ada sederet universitas yang menyediakan pendidikan kesehatan dengan menggunakan bahasa Inggris. Lublin, Gdanks, Krakow adalah beberapa kota yang memiliki univesitas dengan pendidikan bidang kesehatan. Ada berbagai keuntungan yang bisa didapatkan saat menimba ilmu di Polandia. Pertama, lulusan diploma dari program bisa diakui di beragam negara eropa serta dunia. Termasuk Australia dan Amerika. Adapula satu tahun program premedical course yang bisa diikuti serta pelatihan usai menyelesaikan studi. “Biaya studi dan hiduo di Polandia juga cukup kompetitif. Jadi saya rasa belajar di Polandia merupakan satu pengalaman yang menarik bagi teman-teman,” tambahnya. Sementara itu, Dekan Fikes UMM Yoyok Bekti Prasetyo menjelaskan bahwa Kedubes merupakan perwakilan dari negara masing-masing yang memiliki hubungan erat dengan Indonesia. Maka, situasi ini Yoyok rasa sangat strategis untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia, khususnya SDM yang ada di Fikes UMM. “Alhamdulillah sejauh ini para mahasiswa dan dosen FIKES UMM selama ini mampu memainkan peran penting ini dengan baik. Berkolaborasi dalam kegiatan, penelitian serta seminar yang sudah dilaksanakan beberapa kali. salah satunya dengan berkolaborasi dengan para atase dan kedutaan yang ada di Eropa dan Asia. Saat ini pihaknya juga tengah membangun komunikasi dengan universitas dan kedutaan yang ada di benua Amerika. Selanjutnya, Fikes UMM juga akan mengadakan acara-acara serupa guna mempercepat pengenalan fakultas tersebut di mata masyarakat global. Sehingga, eksposur yang didapat lebih besar. (*/wil)

Sekolah Unggas dan Udang UMM Kewalahan Layani Permintaan Iduka

Kelas profesional unggas dan udang sebagai bagian dari program Centre of Excellence (CoE) berbasis program studi di Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) kewalahan layani permintaan Industri dan Dunia Kerja (Iduka). Program yang sudah berjalan sejak 2018 ini sangat diminati oleh mahasiswa UMM dan mahasiswa kampus lain. Koordinator kelas profesional unggas UMM Dr. Ir. Abdul Malik, MP. mengatakan kelas unggas mendapat animo yang sangat baik. Ada lebih dari 2000 peserta yang sudah mengikuti kelas ini dan mendapatkan manfaat dari prosesnya melalui materi serta magang. Kelas profesional ini juga sudah menggaet berbagai stakeholder dari Iduka untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. PT. Jatinom Indah Farm,  PT. Charoen Pokphand, dan PT. Sanbe Farma adalah tiga di antaranya. Adapula PT. Mensana, dan PT. Sapta Karya Megah, dan sederet perusahaan lain. “Ini adalah sebuah program yang prospektif, khususnya bagi masa depan mahasiswa. Laporan magang yang dibuat bisa dikonversi menjadi tugas akhir sehingga ketika pulang magang, mereka bisa mengikuti yudisium dan wisuda. Sejauh ini, permintaan dari Iduka juga tinggi pada program CoE yang ada di UMM,” tambahnya. Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) PT Jatinom Indah Farm, Sigit Prastyo, SE. mengatakan bahwa ada sembilan lokasi dengan 20 kandang close house yang digunakan untuk program kelas unggas ini. Setengahnya akan dimanfaatkan untuk pembesaran ayam pullet, sementara yang lainnya untuk kandang layer. Menurut Sigit, kelas unggas ini tidak hanya memberikan materi secara teori saja, tapi juga langsung praktek di perusahaan. “Para mahasiswa juga bisa belajar bagaimana berinteraksi di lingkungan kerja dan masyarakat peternakan. Jadi tidak hanya berkutat dengan unggas saja,” ujar Sigit. Selain sekolah unggas, UMM juga menyediakan kelas profesional udang. Koordinator kelas udang UMM Ganjar Adhywirawan Sutarjo, M.P. menuturkan peminat program yang Kampus Putih garap ini cukup tinggi. Pihaknya sudah membuka dan menyeleksi dengan ketat puluhan peserta dari mahasiswa yang berminat. Tingginya antusiasme mahasiswa dan Iduka bukan tanpa alasan. Disampaikan Ganjar, kelas ini menyediakan pengalaman langsung bekerja di lingkungan industri. Apalagi ada lebih dari 17 perusahaan yang sudah bekerja sama dengan kelas udang, sehingga memudahkan dalam penempatan para peserta. Beberapa perusahaan yang sudah digaet di antaranya PT. Garin Agro Sejahtera (GAS), CP Prima, STP (Japfa Akuakultur), PT. Summa Benur, CV. Kawang Royal Vaname, PT. Tanjung Bumi Akuakultur (TBAI), dan perusahaan lainnya. “Terbaru, ada sejumlah peserta yang sudah direkrut padahal mereka belum lulus dari perkuliahan. Saya rasa Pihak Iduka juga diuntungkan karena tidak perlu repot-repot membuka lowongan pekerjaan berkat adanya CoE ini,” tegasnya. Sementara itu, CEO PT. Garin Agro Sejahtera Ir. Hery Sudarmono mengatakan pihaknya telah membuka sejumlah tambak udang yang berlokasi di luar jawa. Ia ingin agar mahasiswa-mahasiswa UMM bisa menjadi motor penggerak dalam menjalankan tambak-tambak itu dengan menciptakan inovasi dan input yang maksimal. Salah satu alumni kelas profesional udang, Achmad Fatchurrohim mengaku bahwa program ini memberikan dampak yang besar baginya. Setelah mendapatkan pengalaman dan teori langsung dari perusahaan, ia segera mempraktekkannya di kediamannya. Bahkan ia menggaet dinas perikanan Kabupaten Trenggalek untuk mensosialisasikan sistem kontrol air dan limbah kepada para peternak. “Kolam saya akhirnya jadi salah satu kolam percontohan yang ada di kecamatan. Saya mengajak para peternak udang lainnya untuk lebih memperhatikan pengaliran air dan limbah. Karena selama ini saya lihat hanya segelintir yang melakukannya,” kata Fatchurrohim. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa program-program CoE ini dihadirkan dalam rangka melahirkan generasi yang cakap dan mandiri. Tidak terbatas bagi mahasiswa, tapi bagi siapapun yang ingin meningkatkan kapasitas diri di masing-masing bidang. Sampai saat ini, Kampus Putih telah memiliki berbagai kelas profesional yang bisa diikuti. Kelas unggas, udang, kakao, anggrek, welding inspector adalah beberapa di antaranya. “Di samping sebagai komitmen melaksanakan MBKM, program kelas profesional berbasis prodi juga dilaksanakan sebagai langkah strategis bagi para mahasiswa untuk bisa lulus tepat waktu serta menjadi lulusan yang mandiri,” jelas Fauzan. (*wil)

Mahasiswa PBSI UMM Menangi Lomba Cerpen Nasional

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harum di kancah nasional. Kali ini Nirwana Chendra Kasih, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UMM yang berhasil meraih medali emas lomba cerpen nasional. Adapun perlombaan tersebut masuk dalam event Pekan Seni Mahasiswa-Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PSM – PTMA) ke V. Perhelatan ini diadakan secara daring pada akhir Desember lalu oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Universitias Muhammadiyah Magelang (UNIMMA). Chendra, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ia sangat antusias akan kepenulisan dan sastra. Ketertarikannya terus tumbuh dan mengantarkannya pada sederet prestasi yang membanggakan di bidang kepenulisan. “Alhamdulillah hingga saat ini saya masih antusias terhadap penulisan sastra. Bukan agar menang lomba, tapi memang saya cinta sekali dengan bidang sastra,” ujarnya. Dalam perlombaan kali ini, ia menyusun karya cerpen dengan judul ‘Tanaq Colong’. Ia mencoba menceritakan konflik sosial di masyarakat, yakni perebutan tanah antara tuan tanah dengan investor yang ingin mengubah desa menjadi wisata. Seluruh warga setuju dengan gagasan desa wisata, namun tidak dengan Amaq Pi’il, sang tuan tanah. Ia beralasan bahwa desa wisata akan merusak keasrian alam yang dimiliki desa. Ia bersyukur dapat dipercaya untuk mewakili UMM dalam event bergengsi PSM-PTMA se-Indonesia ini. Menurutnya, ini adalah bekal yang bagus untuk menapaki kompetisi-kompetisi lain yang harus ditaklukkan. “Alhamdulillah, target untuk memenangkan lomba ini bisa tercapai dengan sukses. “Para dosen, teman dan keluarga terus mendorong saya untuk melakukan yang terbaik. Merekalah yang menjadi bahan bakar saya untuk menggali ide dan menuliskannya dalam bentuk sebuah cerpen,” ucapnya. Mahasiswi asli Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berharap ia bisa menemukan wadah yang bisa membuatnya fokus mengembangkan skill kepenulisan dan sastra. “Saya juga berencana membangun wadah itu sehingga teman-teman yang tertarik dengan sastra bisa bergabung dan saling mendukung untuk meningkatkan kapasitas diri,” jelasnya. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Raih Medali Lomba Cipta Puisi Nasional

Tak larut dalam perasaan galaunya, Zulfa Setyoko Pamungkas ubah emosi negatif menjadi karya sastra. Puisi ciptaan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut meraih medali perak dan mengalahkan puluhan peserta lainnya. Medali perak tersebut diraihnya pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang diadakan oleh Lembaga Seni, Budaya, dan Olahraga (LSBO) Muhammadiyah, Desember lalu. Menurut, Zulfa sapaan akrabnya, karya sastra dalam bentuk apa pun merupakan media untuk melampiaskan segala keluh kesah akan masalah-masalah yang dihadapi. Dibanding melampiaskan amarah dan masalah ke hal-hal negatif, ia mengatakan bahwa menciptakan sebuah karya sastra menjadi pilihan yang lebih baik baginya. “Hal itu juga berlaku pada puisi ciptaan saya di Pekan Seni Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah tersebut. Di situ saya berimajinasi dan meluapkan pertanyaan-pertanyaan mengenai kondisi keluarga yang carut marut. Padahal seharusnya keluarga dapat menjadi tempat penenang dan bernaung,” ungkap mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia tersebut. Lebih lanjut, Zulfa mengaku bahwa pembuatan puisi ini tergolong cepat. Setelah mendapat inspirasi di tengah malam, sekitar jam dua pagi ia mulai menuliskan puisinya selama satu jam lamanya. Memoles beberapa bagian dan akhirnya menemukan susunan puisi yang pas. Setelah semalaman menulis, mahasiswa kelahiran Bojonegoro ini segera mengirimkan karyanya pada panitia tepat jam tujuh pagi di hari terakhir penutupan pengumpulan karya. “Penulisan puisi ini bisa cepat karena saya sudah terbiasa menulis. Saya sering menulis puisi dan menampilkan musikalisasi puisi bersama komunitas Sanggar Aksara Malang. Namun, jujur ini pertama kalinya saya mengikuti dan memenangkan sebuah perlombaan,” ungkap Zulfa. Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengungkapkan bahwa ia awalnya tidak terlalu yakin akan mendapat medali perak. Namun ia sangat bersyukur atas raihan prestasi yang sudah diusahakan. Menurutnya medali ini adalah bentuk apresiasi yang sangat bernilai terhadap puisi buatannya. “Puisi membuat hidup saya menjadi lebih tenang dan berwarna. Saya berharap bisa konsisten untuk terus berkarya, menciptakan puisi yang menggugah hati. Semoga saya juga tetap diberikan keceriaan hidup untuk tetap berkarya dan berinovasi,” tandasnya. (syi/wil)

Student Day UMM Ajak Mahasiswa Tingkatkan High Skill

Kecerdasan bukanlah satu-satunya faktor kesuksesan bagi seseorang. Ada hal-hal lain yang perlu dipahami dan ditingkatkan, dua di antaranya adalah high skill dan branding awareness. Dengan dua bekal itu, mahasiswa diharapkan bisa menghadapi tantangan perubahan zaman yang semakin bervariasi. Hal tersebut disampaikan oleh motivator Adri Suyanto kepada mahasiswa baru dalam event Student Day Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/1) lalu. Disampaikan Adri, mungkin universitas yang sedang dijalani bukanlah universitas terbaik pilihan kita. namun kadang, apa yang diinginkan belum tentu sesuai dengan kebutuhan. Maka dari itu, Tuhan mengabulkan dan memilihkan sesuatu yang memang dibutuhkan oleh setiap manusia. Karena tak jarang, banyak alumni kampus terbaik kesulitan mendapatkan kerja serta menuju tangga kesuksesan. Ia juga menegaskan pentingnya high skill, yakni kecerdasan dan keahlian. Maka, kegiatan-kegiatan yang disediakan kampus seyogyanya bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa dengan sebaik mungkin. Membaca, memahami dan berdiskusi sebagai sarana mencapai knowledge. Mempraktekkan apa yang dipelajari untuk mendapatkan comptetency serta meningkatkan capacity melalui deliberate practice beserta feedback dan masukan. “Jika kita bisa melalui tiga tahap ini, maka menurut saya anda-anda ini sudah bisa dikatakan sebagai seorang ahli dalam bidang tertentu. Jadi jangan kuliah pulang kuliah pulang saja (kupu-kupu) saat kuliah. Jadilah mahasiswa yang kuliah rapat kuliah rapat (kura-kura). Syukur-syukur bisa kuliah  dakwah kuliah dakwah (kuda-kuda),” ungkap pria asal Kediri itu. Meski begitu, memiliki high skill tidaklah cukup. Ada hal lain yang perlu dilakukan mahasiswa yakni upaya untuk branding awareness. Bagaimana usaha mereka untuk memamerkan keahlian dan kecerdasan mereka di masyarakat. Sehingga orang lain bisa tahu apa keahlian dan kelebihan yang dimiliki. Menurut Adri, tidak jarang mereka yang pintar kurang bisa diserap karena tidak bisa menunjukkan kemampuan apa yang dimiliki. Maka, branding awareness jadi salah satu kunci melangkah menuju tangga keberhasilan. “Lebih baik kelihatan pintar ketimbang pintarnya tidak kelihatan bukan? Begitupun dengan networking dan teman. Selalu bangun hubungan baik dengan teman-teman di manapun karena saat lulus nanti, anda akan membutuhkan hal itu,” tambahnya, Tidak hanya Adri, Student Day juga turut mengundang tiga mahasiswa yang memenangkan penghargaan UMM Award. Ada Venska Natasha yang sukses dinobatkan sebagai mahasiswa bertalenta berkat kiprahnya dalam dunia seni tari dan duta di berbagai level. Begitupun dengan Fadillah Ahmad Nur yang sukses mengharumkan nama UMM di kancah internasional saat Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit. Sleain itu juga sukses meraih penghargaan pemuda pelopor nasional dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Berkat prestasinya itu, Fadillah diganjar dengan penghargaan UMM Award kategori prestasi internasional. Adapula Zidni Ilman Nafian yang mendapatkan piala UMM Award sebagai mahasiswa terbaik kategori teknologi dan digitalisasi. Beragam penemuan dan invensi ia cetuskan hingga mendapatkan apresasi dari banyak pihak. Salah satunya oleh pemerintah dengan meloloskannya dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). (wil)

Workshop Drafting Paten UMM Lindungi Produk Penemuan Akademisi

Dalam beberapa tahun terakhir, para dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) aktif menciptakan berbagai produk penelitian. Namun pemahaman mengenai perlindungan sistem Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dirasa belum merata di kalangan para peneliti. Oleh karena itu, UMM memberikan solusi melalui Workshop Drafting Paten bersama Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual (DJKI) pada Kamis (06/12). Salah satu pemateri, Dra. Dede Mia Yusanti, M.L.S.. mengatakan bahwa penelitian dari perguruan tinggi yang dipatenkan meningkat dari tahun ke tahun. Sayangnya, di lapangan ada beberapa tantangan yang harus di hadapi para peneliti. Utamanya terkait pendaftaran hak paten produk ciptaannya. Selain itu kurangnya pemahaman terhadap perlindungan paten serta banyaknya peneliti yang hanya mengejar publikasi ilmiah dibandingkan pendaftaran paten. “Peneliti di perguruan tinggi lebih banyak melakukan penelitian dasar daripada penelitian  terapan. Kemampuan mereka untuk membuat drafting efektif juga masih kurang. Kemudian tantangan terakhir adalah mereka belum terbiasa melakukan penelitian yang berorientasi pada komersil,” ungkap Direktur Paten DTLST dan Rahasia Dagang DJKI itu. Dalam rangka pembuatan drafting paten yang efektif, Aziz Saefulloh, S.T. menjelaskan bahwa ada tujuh tahap pembuatan drafting. Tahap-tahap tersebut meliputi penelusuran, pembuatan gambar teknik, penyusunan klaim, dan penyusunan uraian lengkap mengenai invensi. Sleain itu juga penyusunan latar belakang invensi, penyusunan uraian lengkap gambar, lalu penyusunan abstrak.“Teori pembuatan spesifikasi paten ini berlaku untuk semua bidang. Pembeda antara bidang satu dengan bidang yang lain hanyalah di bagian kepenulisan saja,” ujar Pemeriksa Paten Bidang Teknik DJKI tersebut. Di lain sisi, Wakil Rektor satu UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, mengatakan bahwa para peneliti UMM dinilai telah melahirkan banyak karya akademik. Namun yang menjadi masalah adalah kurangnya komersialisasi dan perlindungan terhadap karya-karya tersebut. oleh karenanya, workshop tentang paten ini menjadi salah satu momen yang sangat strategis. “Dalam islam sendiri, kita di diperintahkan untuk melindungi harta benda pribadi. Hal ini juga termasuk karya-karya yang kita kembangkan. Caranya untuk melindungi karya kita adalah melalui hak paten. Semoga dengan adanya workshop ini dapat meningkatkan jumlah karya akademisi UMM yang dipatenkan,” pungkasnya. (syi/wil)

Dosen UMM Kaji Fenomena Spirit Doll Sederet Artis Tanah Air

Trend adopsi spirit doll atau boneka arwah di kalangan artis tanah air menjadi perbincangan hangat beberapa hari terakhir. Boneka arwah tersebut diperlakukan layaknya anak sungguhan dengan diberi pakaian bagus serta aksesoris. Bahkan salah seorang selebritis memiliki jadwal rutin untuk memandikan dan menjemur dua spirit doll yang diadopsinya. Melihat dari perspektif psikologi, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., mengatakan bahwa setiap manusia, sebagai makhluk sosial, memiliki kebutuhan psikologis tertentu yang berkaitan dengan relasinya dengan orang lain. Ia melihat bahwa orang-orang yang mengadopsi boneka arwah tersebut kemungkinan karena merasa kesepian, tidak memiliki teman untuk bercerita, atau memiliki kebutuhan untuk menyalurkan kasih sayang. Namun tidak bisa terpenuhi karena ada hambatan-hambatan tertentu. Misalnya saja tidak memiliki anak padahal sangat menginginkannya atau kesulitan dalam menjalin kedekatan dengan orang lain. Jika semua kebutuhan psikologis ini  terpenuhi, maka seseorang biasanya tidak akan mencari benda mati sebagai pengganti. “Kemungkinan, mereka tidak dapat menjalin kedekatan yang memuaskan dengan orang lain, keterampilan sosial rendah, ataupun tidak memiliki rasa percaya pada orang untuk menceritakan isi hatinya. Bisa juga karena adanya keinginan untuk menyalurkan rasa kasih sayang dan merawat orang lain namun tidak terpenuhi. Hal-hal itulah yang mendorong beberapa orang mencari alternatif lain sebagai pengganti teman yaitu spirit doll,” ungkap dosen kelahiran Jakarta tersebut. Naning  melihat bahwa fenomena adopsi boneka arwah ini mirip dengan orang yang memilih memelihara dan menjalin kelekatan dengan hewan peliharaan. Hanya saja objek yang dipilih berbeda. Ia juga melihat bahwa pengadopsi boneka arwah tidak bisa dikatakan mengalami kelainan mental sepanjang fungsi-fungsi psikologisnya masih berjalan normal. Begitupun denganproses pikir yang masih koheren dan tidak mengganggu perannya dalam menjalani kehidupan. Disampaikan Kepala Prodi Magister Psikologi Profesi UMM itu bahwa dalam mendiagnosis apakah seseorang memiliki masalah mental perlu melihat banyak faktor. Salah satunya melalui gejala-gejala yang tidak normal. Tidak hanya seberapa banyak jumlah gejala, namun juga melihat intensitas dari gejala-gejala tersebut. “Mungkin ada yang sekadat ikut-ikutan. Trend spirit doll juga bisa menjadi pemenuhan kebutuhan psikologis yang tidak dapat dipenuhi karena adanya hambatan tertentu. Sesekali bercerita pada boneka arwah mengenai beban hidup boleh-boleh saja. Namun yang terpenting adalah bagaimana mengatasi hambatan-hambatan psikologis itu. Sehingga dapat menyalurkan kebutuhan psikologis dengan cara yang lazim,” tuturnya. Lebih lanjut, Naning mengungkapkan bahwa labeling negatif yang diberikan masyarakat dapat juga menyebabkan para pengadopsi boneka arwah menjadi tertekan. Alih-alih memberi label tidak waras, akan lebih bijak kalau lingkungan sekitar mencoba memahami alasan atau penyebab mengapa orang tersebut memilih untuk mengadopsi spirit doll. “Jika kita tahu akar penyebab seseorang memilih boneka arwah, kita jadi tahu cara untuk membantu mengatasinya. Misalnya, jika seseorang tersebut memilih boneka arwah karena merasa kesepian dan kehilangan rasa percaya pada orang lain, maka kita bisa membantu untuk meningkatkan keterampilan sosialnya agar bisa menjalin pertemanan dan kedekatan dengan orang lain. Jadi, mencari tahu  dan memahami penyebab utama adalah hal yang terpenting,” tandasnya. (syi/wil)

Mahasiswa FK UMM Ini Juara Podcast Nasional

Di era disrupsi saat ini, podcast sudah menjadi salah media audio yang diminati masyarakat luas. Bukan hanya sebagai produk yang didengar, saat ini sudah banyak lomba podcast yang menghasilkan podcaster handal. Kali ini Jesica Lucky Mar’atus Sholiha, mahasiwa Fakultas Kedokteran (FK) sukses mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Meski masih mahasiswa baru, ia sanggup meraih juara 1 podcast tingkat nasional di sebuah event Psycompetition 2021. Adapun ajang ini diadakan oleh Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) Wilayah III Jawa Tengah, yang dilaksanakan secara virtual pada tanggal akhir Desember lalu. Jesica, sapaan akrabnya menceritakan bahwa ia memiliki minat kepada podcast sejak tahun 2019. Ia senantiasa mendengarkan procast-pordcast menarik. Sebut saja Podcast Awal Minggu yang dibawakan oleh Adriano Qalbi, salah satu komika nasional. Mendengar adanya kompetisi podcast, Jesica bergegas mendaftarkan diri. Apalagi mengetahui ptensi bakat podcast yang dimilikinya. Lebih lanjut, dua minggu sebelum lomba ia telah melakukan persiapan untuk menyusun materi podcast. Ia memilih podcast monolog dalam perlombaan kali ini. Adapun tema yang ia angkat adalah kesehatan mental dengan judul “Menjaga Kesehatan di Masa Pandemi”. Selama persiapan, ia harus menyusun naskah, mencari fenomena, fakta dan juga tips menjaga kesehatan mental. “Selama persiapan, saya tentu membutuhkan beragam fenomena dan fakta yang benar. Kemudian memecahkan masalah dan memebrikan solusi dengan riset kecil-kecilan. Hingga akrhinya bisa dijadikan bahan podcast berbagi ilmu,” ujarnya. Mahasiswi baru FK UMM ini kembali menuturkan bahwa dalam podcastnya ia memaparkan bagaimana menjaga kesehatan di tengah pandemi. Begitupun dengan sederet tips-tipsnya. Selain itu ia juga membahas tentang konsep healing dengan macam-macamnya. “Saya tentu tidak asal comot materi. Harus melihat fenomena yang memberikan efek stress bagi banyak orang,” ucapnya menjelaskan. Selama perlombaan ia merasa kurang bisa membagi waktu kuliah dan mempersiapkan lomba. Apalagi saat itu berbarengan dengan jadwal ujian yang tidak ringan. Kebingungan membagi waktu membuatnya merelakan waktu tidur. Beruntung, pengorbanannya memberikan hasil maksimal melalui karya procast. Mahasiswi asli Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang ini berharap dapat mengikuti lomba-lomba sejenis. Ia merasa senang karena hal yang ia sukai ternyata bisa membawa harum namanya dan Kampus UMM tercinta.Podcast juga dirasa bsia melatih konsep berpikir, kreativitas dan kepercayaan dirinya.  “Semoga saya bisa membuat podcast saya sendiri secara reguler. Dengan begitu, banyak manfaat yang bisa disebar melalui karya digital,” pungkasnya. (haq/wil)