Pasca Sarjana UMM Gelar Pelatihan Penulisan Jurnal Internasional

Rangkaian program visiting professor Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar. Kali ini UMM melaksanakan pelatihan penulisan artikel ilmiah jurnal internasional bereputasi. Acara ini berlangsung pada Sabtu (4/11) lalu dan diikuti dosen dari 100 perguruan swasta, 30 perguruan negeri serta dua peserta dari luar negeri. Mereka akan berada di Kampus Putih selama tiga hari untuk mengikutinya hingga tuntas. Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. selaku Direktur Pasca Sarjana UMM mengatakan bahwa agenda ini berusaha memberikan stimulan dan wawasan terkait penulisan jurnal internasional bereputasi (JIB). Menurutnya, pelatihan ini juga nantinya akan memberikan jalan baru bagi peserta untuk berkarya. Baik menulis karya sendiri ataupun bekerja sama dengan para peserta lain. “Akan ada tiga gelombang di batch ini. Saya rasa, agenda ini juga bisa menjadi ajang untuk saling bertukar pikiran dan akhirnya dapat saling bantu membantu agar kara yang ditulis dapat masuk di JIB,” tambahnya. In’am, sapaan akrabnya juga mengatakan para peserta akan didampingi saat penulisan. Mulai dari cara penulisan monograph, book chapter hingga referensi. Dengan begitu, para peserta bisa lancar dalma melakukan penelitian dan menuliskannya. Lebih lanjut, ia juga merasa bahwa problem dosen dalam pengurusan kenaikan jabatan adalah penulisan karya ilmiah. “Kalau pendidikan dan pengabdian biasanya relatif lebih mudah. Maka acara ini hadir untuk membantu mencapai tujuan dari para peserta. Di akhir nanti mereka juga diwajibkan untuk publikasi karyanya, baik di bookchapter maupun JIB,” tutur In’am. Pada kesempatan yang sama, Wakil Rekot IV UMM Dr. Sidik Sunaryo, M.Si. M.Hum. menuturkan bahwa menulis jurnal memang butuh perjuangan. Salah satunya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan semacam ini. Selain itu juga perlu adanya kesungguhan dan niat yang jelas. “Mudah-mudahan dengan beberapa hari mengikuti acara ini di UMM bisa memudahkan dan membuka jalan saudara-saudara. Selamat berdiskusi dan berlatih serta bertukar pikiran dan pengalaman,” imbuh Sidik. Sementara itu, salah satu peserta Desak Nyoman Sithi dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya mengaku baru pertama kali mengikuti program visiting professor. Menurutnya, agenda tersebut memberikan banyak hal dan manfaat baru. Tidak hanya memberikan teori, para pemateri juga turut mendampingi langsung. “Kami juga diberi kiat-kiat agar bisa menjadi guru besar nantinya. Saya tentu berharap agenda ini bisa meningkatkan kemampuan para peserta dalam menulis, publikasi dan kolaborasi antara sivitas akademika. Begitupun dengan hubungan baik antar dosen dari berbagai universitas,” ujarnya mengakhiri. (wil)

Mahasiswa UMM Sabet Juara Debat Akuntansi Nasional

Prestasi membanggakan kembali diberikan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satu tim UMM berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi debat nasional, tepatnya dalam perhelatan NASTEC (National Accounting Seminar and Debate Competition). Adapun lomba yang dilaksanakan secara daring ini dilaksanakan oleh Politeknik Negeri Malang (Polinema) pada 27-28 November lalu. Salah satu anggota tim, Iffany Amelia Widhi mengatakan bahwa timnya membutuhkan waktu hampir dua bulan untuk persiapan. Hal itu tidak lepas dari tema debat yang membahas terkait akuntansi, padahal tidak ada satupun anggotanya yang berkecimpung dan berasal dari jurusan ekonomi maupun akuntansi. “Saya sendiri dari fakultas hukum, sementara dua anggota lainnya berasal dari jurusan hubungan internasional dan psikologi. Jadi mau tidak mau kami harus banyak membaca dan menggali informasi tentang ekonomi,” imbuhnya. Iffany, panggilan akrabnya kembali menjelaskan bahwa sebelum terjun ke perlombaan debat tersebut, ia harus melewati seleski terlebih dahulu di internal Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) International language Forum (ILF) untuk bisa mewakili UMM. Akhirnya terpilihlah enam orang yang terbagi menjadi dua tim untuk bersaing dengan tim-tim lain se-Indonesia. Dituturkan Iffany, tantangan paling sulit yang timnya hadapi adalah pemantapan materi yang membahas mengenai ekonomi. Mereka diharuskan membaca banyak literatur, melihat berita dan memetakan materi-materi yang berbeda dengan latar belakang masing-masing. “Kami dua hari dalam satu minggu yakni pada hari Sabtu dan Minggu. Beruntung, banyak senior berpengalaman dan berperestasi yang membantu dan melatih kami. Tentu, hal ini memberikan semangat tersendiri bagi kami untuk berprestasi,” ungkap mahasiswa hukum tersebut. Iffany juga memberikan kiat-kiat agar lancar berbicara saat lomba debat. Pertama, yakni memahami topik dan materi yang dilombakan dengan mendalami berbagai platform terkait tema terkait. Kedua, belajar untuk berargumentasi dengan baik agar apa yang dibicarakan terstruktur dan sistematis. Kemudian yang terakhir yakni banyak berlatih, karena semakin banyak latihan yang dilakukan semakin terbiasa ia dalam berargumen. “Berbekal kemenangan ini, saya dan tim tentu ingin mengajak mahasiswa-mahasiswa lain untuk turut serta menorehkan prestasi. Hasl ini membuktikan bahwa semua bisa meraih juara meskipun dengan keterbatasan jarak. Ayo bersama-sama keluar dari zona nyaman dan mengukir kemenangan di kancah nasional maupun internasional,” ajaknya mengakhiri. (syi/wil)

UMM-FURB Brazil Teken Kerja Sama Percepat Akselerasi Pendidikan

Kerja sama demi kerja sama terus dibangun oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, Kampus Putih mulai menjalin Kerjasama dengan Universidade Regional de Blumenau (FURB) Brazil. Agenda yang dilangsungkan secara daring tersebut dihadiri oleh Duta besar Indonesia untuk Brazil H.E Edi Yusup. Adapun penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) ini dilaksanakan pada Kamis (3/12) lalu Edi mengungkapkan apresiasinya akan kerja sama yang dibangun oleh kedua universitas. Menurutnya, agenda ini adalah inisiatif yang strategis dalam sektor pendidikan. Salah satunya adalah untuk menjembatani hubungan baik antara Indonesia dan Brazil. Ia juga mendorong kedua institusi untuk terus mengeskplor dalam berbagai hal. Mulai dari pengadaan riset, joint research, kesehatan, agrikultur hingga ekonomi digital. Edi juga mendorong keduanya untuk mengembang penelitian dalam bidang renewable energy. “Ini adalah langkah pertama dari perjalanan panjang kolaborasi antara UMM dengan FURB. Semoga bisa memberikan kebaikna untuk keduanya,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mendorong semakin cepatnya akselerasi kemajuan perguruan tinggi masing-masing. Utamanya di level internasional. Apalagi melihat potensi kedua universitas yang sama-sama bisa berkembang dengan baik. “MoU dan MoA ini tidak hanya sebagai acara seremonial dan formalitas belaka. Namun esensi penting yang harus dipahami adalah implikasi dan aplikasi setelahnya. Bagaimana kedua belah pihak bisa saling membantu dalam rangka memajukan dan mencapai target masing-masing,” jelasnya. Fauzan juga menyampaikan bahwa UMM telah membangun kerja sama dengan berbagai institusi dari 24 negara. Adapun FURB ini merupakan extended program kerja sama Kampus Putih UMM di Kawasan amerika latin. “Semoga akan muncul banyak manfaat dari kerja sama antara UMM dan FURB ini,” tuturnya. Pada kesempatan yang sama, Rektor FURB Marcia Cristina Sarda Espindola senang dengan jalinan kerja sama yang sudah dirintis. Menurutnya, sudah ada banyak target yang menunggu untuk diselesaikan. Adapun UMM merupakan partnership pertama yang mereka bangun dengan Indonesia. Disampaikan Marcia, kolaborasi ini dirasa bisa memberikan beragam manfaat. Tidak hanya bagi kedua universitas, tapi juga bagi Indonesia dan Brazil.  Maka, perlu adanya komitmen yang kuar agar bisa memberikan kesempatan untuk saling bertukar pikiran dan wawasan agar bisa lebih saling memahami. “Kami juga ingin agar kerja sama dengan UMM ini bisa menjadi langkah awal untuk bisa menjalin kolaborasi dengan yang lainnya,” pungkasnya. (wil)

Mahasiswa UMM rancang AJARI, Aplikasi Pembelajaran Alquran

Kabar membanggakan kembali datang dari mahasiswa Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, tim mahasiswa Program Studi (Prodi) Informatika UMM berhasil menorehkan prestasi dengan menyabet juara dua nasional lomba aplikasi web dan mobile. Juara itu diraih dalam event Lomba Nasional Kreatifitas Mahasiswa (LO Kreatif) 2021 yang diadakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) dan Lembaga Layanan Pendidikan Pendidikan Tinggi Wilayah VII Jawa Timur. Diselenggarakan sejak September, pengumuman pemenang diumumkan pada Selasa (30/11) lalu. Mochamad Alghifary selaku ketua tim menjelaskan bahwa ide ini bermula dari kegundahannya akan pendidikan belakangan ini. Pandemi Covid-19 yang belum mereda dan pendidikan yang masih dibatasi, menghambat pembelajaran Taman Pendidikan Quran (TPQ). Bahkan menurutnya, proses pembeljaran secara daring tidak memberikan efek masif layaknya pembelajaran luring. “Melihat hal itu, saya dan tim akhirnya memutuskan untuk merancang aplikasi yang kami sebut AJARI: Belajar Iqro. Aplikasi ini diharapkan bisa membantu proses pembelajaran TPQ dan mengaji,” ungkapnya. Ghifary, sapaan akrabnya memaparkan bahwa aplikasi ini memiliki konsep e-learning dan multimodal earning. Adapun multimodal learning adalah suatu konsep pembelajaran yang memiliki acuan pada  empat aspek utama. Keempat aspek tersebut ialah visual, audio, reading dan wiriting, serta kinesthetic. “Adapun kinesthetic adalah sistem yang memungkinkan aplikasi untuk memiliki kemampuan memproses informasi melalui gerakan,” jelasnya. Secara teknis, penggunaan aplikasi ini akan digunakan oleh dua pengguna. Pertama, yakni peserta didik atau santri. Kemudian adapula pihak kedua yakni guru atau ustad. Para santri nantinya akan mendapatkan pembelajaran iqro’, baik secara video call maupun materi yang disediakan. Sementara pihak pendidik bisa langsung memonitor progressnya melalui aplikasi dan fitur yang disediakan. Ghifary tidak sendiri. Pada perlombaan tersebut ia ditemani tiga temannya yaitu Nur Syahfei, Hananda Gagas, dan Iskandar Sholeh. Keempatnya merupakan mahasiswa informatika yang tergabung dalam satu tim. Mereka ingin agar aplikasi yang sudahd irancang bisa berlanjut ke tahap pengembangan sleanjutnya. Mampu memberikan sistem dan fitur-fitur baru dalam rangka membantu pembelajran TPQ berbasis aplikasi. Kemungkinan aplikasi ini akan kami launching di Playstore pada pekan depan. Semoga bisa segera digunakan dan mendapatkan respon yang baik nantinya,” ujarnya mengakhiri. (haq/wil)

LPT Psikososial UMM Adakan Pelatihan Dasar Relawan Bencana

Tingkat potensi bencana yang dimiliki Indonesia cukup tinggi. Melihat hal itu, Laboratorium Psikologi Terapan (LPT) Psikososial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan pelatihan dasar psikososial untuk mahasiswa. Agenda tersebut dilaksanakan pada Sabtu (27/11) lalu, bertempat di Aula BAU UMM dengan format bauran daring dan luring. Dalam keterangannya, perwakilan LPT Psikososial UMM Alifah Nabilah Masturah, M.A., menyampaikan tujuan dari pelatihan ini. Di antaranya untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas mahasiswa Fakultas Psikologi mengenai kesiapsiagaan bencana dan layanan dukungan psikososial unutk penyintas. Hal itu tidak lepas dari potensi bencana Indonesia yang cukup tinggi. “Kami ingin agar para peserta bisa menyerap banyak wawasan dan pengetahuan baru. Sehingga sudah siap ketika diminta menjadi bagian dari dukungan psikososial. Kami juga berharap agar pelatihan ini bisa menumbuhkan semangat siap, tanggap, dan tangguh bencana,” jelas Alifah. Pada agenda tersebut, ada enam materi yang disampaikan kepada para peserta. Mereka dibekali materi terkait self-care dan kode etik relawan serta kesehatan mental dan layanan dukungan psikososial. Selain itu adapula dasar-dasar asesmen, teori dan praktek dukungan psikologis awal serta teknik pelaporan. Terakhir, para peserta juga dibekali dengan pemahaman mengenai teknik fasilitasi. Adib Asrori, M.Psi selaku pemateri berpesan bahwa sebelum membantu orang lain, hal pertama yang perlu disadari adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis diri sendiri. Maka, menurutnya para peserta harus sudah menyiapkan diri fisik dan mental, sehingga bsia memberikan manfaat maksimal kepada orang lain. “Be mindfull and take care of yourself first. Setelah itu baru teman-teman bisa memberikan bantuan ke sesama,” tuturnya menjelaskan. Sementara itu, pemateri lain Muhammad Fath Mashuri, M.A menjelaskan mengenai dasar-dasar asesmen. Tahap ini akan menjadi dasar untuk pendampingan psikologis penyintas lebih lanjut. Fath, panggilan akrabnya juga menuturkan ada beragam metode dan instrumen dalam melakukan asesmen dalam situasi bencana. Salah satu instrumen yang bisa digunakan adalah orientasi komunal masyarakat setempat. Jenis ini mengungkap kapasitas masyarakat setempat untuk saling membantu dan menjaga di masa krisis pasca bencana. Sementara itu, salah satu peserta, Baiq Santi Ayu Safitri merasa senang bisa mengikuti pelatihan dasar psikososial ini hingga akhir. Banyak manfaat yang bisa ia serap, mulai dari menjadi relawan yang baik hingga teknik-teknik psychological first aid. “Apalagi para pemateri yang dihadirkan adalah mereka yang sudah berpengelaman terjun langsung dalam situasi bencana serta komunikatif sehingga membuat kami nyaman dalam mengikuti pelatihan,” ungkapnya menjelaskan. (wil)

UMM Selenggarakan Kompetisi Pencak Silat Nasional

Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses selenggarakan lomba pencak silat tingkat nasional secara virtual. Perlombaan yang diadakan pada Minggu (18/11) lalu ini disiarkan secara live streaming melalui kanal Youtube UMM Championship 2021. Adapun kejuaraan ini diikuti oleh puluhan atlet dari berbagai universitas yang ada di Indonesia. Ketua penyelenggara lomba, Rafif Naufal Sembiring mengatakan bahwa persiapan perlombaan ini berlangsung cukup singkat. Mereka hanya membutuhkan waktu persiapan kurang dari satu bulan. Dalam rentang waktu tersebut, tim panitia berhasil mempersiapkan lomba untuk dua kategori, yaitu kategori tunggal putra dan putri serta kategori beregu. “Awalnya kami sempat pesimis bahwa lomba ini akan diikuti oleh banyak tim. Pasalnya lomba ini dipersiapakan hanya dalam waktu 28 hari. Meski begitu, kami bersyukur dalam waktu yang relatif singkat ada 20 universitas yang mendaftarkan diri baik di kategori tunggal maupun beregu,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum tersebut. Lebih lanjut, Rafif panggilan akrabnya menceritakan bahwa panitia sempat mengalami kendala pada pemilihan juri. Awalnya tim panitia ingin meminta juri dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pusat. Namun karena agenda yang berdekatan dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) akhirnya tim juri di ganti dengan IPSI Kota Malang. “Kami sempat terkendala ketika mengajukan juri ke IPSI Jawa Timur. Hal ini terjadi karena para juri di IPSI pusat baru saja merampungkan penjurian di PON. Akhirnya, karena waktu semakin menipis, kami akhirnya meminta juri dari IPSI Kota Malang,” ungkap mahasiswa asal Medan itu. Di akhir wawancara, Rafif mengaku bersyukur bahwa kompetisi ini di sambut baik oleh berbagai kalangan. Meski proses persiapannya yang singkat, kompetisi pencak silat ini dapat berjalan dengan lancer dan tanpa kendala berarti. Pada kejuaraan tersebut, prestasi membanggakan ditorehkan oleh perwakilan Kampus Putih UMM. Mereka mampu menjadi juara umum pertama dengan perolehan medali yang dicapai. Di antaranya empat medali emas, dua medali perak, serta dua buah medali perunggu. “Saya mengucapkan terima kasih pada para panitia yang sudah bertugas dengan sangat baik. Tentu, masih banyak aspek yang harus diperbaiki. Dengan begitu, kejuaraan selanjutnya bisa memberikan hasil yang lebih positif. Kami juga berharap gelaran UMM Championship utamanya pencak silat bisa menjadi kegiatan tahunan. Semoga dari persaingan di kompetisi ini, muncul atlet-atlet yang bagus dan profesional,” tandasnya mengakhiri. (syi/wil)

Dosen-Mahasiswa UMM Tulis Buku Kaji Pembelajaran Alternatif

Universitas Muhammdiyah Malang (UMM) terus mendorong dosen dan mahasiswanya untuk mengembangkan literasi. Kali ini, beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi UMM bersama-sama menyusun buku dengan judul “Mencari Pedagogi Kritis”. Buku ini telah dirilis pada Senin (15/11) lalu. Ahmad Sulaiman, S.Psi., M.Ed. sebagai inisiator  menceritakan bahwa buku ini bermula dari acara bedah buku di Forum Baca Kritis, komunitas yang ia rintis. Adapun buku yang dibedah pada saat itu adalah buku berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paul Freire. Hasil dari rentetan diskusi-diskusi tersebut, munculah ide unutk menuliskan refleksi pedagogi kritis. Kemudian kumpulan tulisna tersebut dijadikan satu menjadi buku. “Tulisan-tulisan yang terkumpul tidak terbatas dari kalangan dosen saja. Adapula beberapa mahasiswa yang memberikan kontribusi tulisan,” tambahnya. Humada, pangilan akarabnya kembali menjelaskan bahwa buku ini bertujuan untuk mempopulerkan model pembelajaran pedagogi kritis. Model ini adalah alternatif pembelajaran yang memanusiakan para peserta didik. Juga mendorong mereka untuk aktif dalam pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Hal lain yang ada dalam buku ini adalah bagaimana menentukanan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sekitar. “Pedagogi kritis adalah model pembelajaran alternatif yang memanusiakan peserta didik dan mendorong untuk aktif pada kehidupan sekitar, sehingga mampu menciptakan solusi dan menumbuhkan rasa empati,” pungkasnya. Di samping itu, tujuan lain buku ini adalah meluruskan makna dan pengertian dari pedagogi kritis. Mengingat makna yang selama ini tersebar di dunia maya berbeda dengan pengertian pedagogi kritis secara autentik. Dalam dunia maya, pedagogi kritis dipahami sebagai model pendidikan kritis terhadap kekuasaan. Menurut Humada perlu adanya pelurusan makna terkait pedagogi kritis ini. Dosen kelahiran Surabaya ini kembali menjelaskan bahwa kendala utama adalah  memastikan tulisan tetap pada jalur yang mengkaji pedagogi kritis. Menurutnya, ada beberapa tulisan yang sedikit melenceng dari bahasan dan topik utama. Sehingga perlu adanya proses penyuntingan maksimal sembari memberi kritik dan saran pada penulis. Lebih lanjut, Humada mengungkapkan bahwa buku ini adalah karya pertama dari proyek pedagogi kritis, yang rencananya akan dialnjutkan perilisan buku kedua buldan depan. Ia berharap karya ini bisa menginspirasi dosen, mahasiswa, serta masyarakat luas untuk bisa menulis buku sendiri. “Tentu dengan adanya buku ini, saya berharap semakin meningkatnya minat mahasiswa dan dosen untuk menulis,” jelas Humada mengakhiri. (haq/wil)

FPP UMM-Moodco Kerjasama Buka Kelas Profesional Kakao

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meresmikan Centre of Excellence (CoE) baru. Kali ini, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) menggaet PT. Kakao Bhineka Sejahtera (Moodco) untuk membuka kelas profesional kakao di prodi Ilmu Teknologi Pangan. Kerjasama tersebut tertuang dalam agenda memorandum of agreement (MoA) antara kedua belah pihak pada Rabu (1/12) lalu. Kemudian, adapula kuliah tamu terkait kakao yang diperuntukkan untuk para mahasiswa baru teknologi pangan. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengungkapkan bahwa masing-masing prodi di UMM memang diharuskan membuka kelas profesional dengan berkolaborasi bersama dunia industri. Pemilihan sebutan ‘sekolah’ dibandingkan ‘konsentrasi’ juga memiliki alasaan khusus. “Jika menggunakan sebutan konsentrasi, hanya aka nada mahasiswa ITP UMM saja di dalamnya. Berbeda jika kita menggunakan sebutan sekolah. Mahasiswa selain dari prodi ITP bisa turut serta. Begitupun dengan mahasiswa di luar Kampus Putih UMM,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi FPP yang telah membangun ekosistem yang berorientasi pada entrepreneurship. Sebelumnya, FPP UMM sudah mendirikan beberapa CoE, mulai dari sekolah unggas, ruminansia, hingga sekolah udang. Kelas-kelas ini adalah fasilitas pendidikan yang juga sarana untuk menanamkan kompetensi kewirausahaan yang akan dimiliki para mahasiswa. “Kami ingin agar nanti pada tahun 2022, setiap prodi sudah memiliki CoE di berbagai bidang. Tidak hanya satu tiap prodi, tapi bisa lebih dari itu sehingga akan banyak opsi kelas profesional yang bisa diikuti. Baik oleh teman-teman mahasiswa UMM maupun mahasiswa lain,” imbuh Fauzan. Sementara itu, Dosen Teknologi Pangan Hanif Alamudin, S.Gz. M.Sc. menjelaskan bahwa akan ada beberapa kegiatan besar yang akan dilangsungkan. Pertama, yakni kelas profesional kakao yang bisa diikuti oleh para mahasiswa. Kedua, mahasiswa juga bisa melakukan riset bersama dosen, khususnya dalam pengembangan kakau dan produl turunannya. “Diharapkan riset ini bisa memberikan manfaat dengan menciptakan inovasi produk. Kemudian juga hilirisasi penelitian terkait kakao serta rencana untuk membentuk sentra kakao di masa depan,” ungkap Hanif. Pemilihan CoE kakao juga bukan tanpa alasan. Menurut Hanif, Indonesia adalah penghasil coklat biji kakao nomor enam se-dunia. Sementara untuk produk kakao dan turunannya, Indonesia menempati posisi ketiga. Maka pengembangan kakao memiliki potensi yang sangat bagus. Sayangnya, saat ini kakao produksi nusantara tidak bisa bersaing dengan kakao-kakao lain di level internasional. “Maka prodi membaca adanya peluang bagi saudara-saudara mahasiswa untuk berpartisipasi memajukan industry kakao. Salah satu caranya dengan menyelenggarakan keals profesional yang dimulai sejak hari ini,” tuturnya. Pada kesempatan itu, adapula kuliah tamu yang diisi oleh dua pemateri dari masing-masing pihak. Satu di antaranya disampaikan oleh Lois Merry Sujiati Wijianto, S.T., owner dari Moodco. Ia menjelaskan mengenai wawasan dan pengetahuan kakao serta prospek pengembangannya di Idndonesia. Sementara Dr. Ir. Damat, M.P. IPM dan Prof. Dr. Ir. Noor Harini, M.S. memberikan materi mengenai gambaran umum prospek prodi teknologi pangan untuk mahasiswa baru. (wil)

Permudah Mobilitas, UMM Sediakan Mobil Golf di Area Kampus

Dalam rangka memudahkan mobilitas para sivitas akademika, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyediakan fasilitas mobil golf bertenaga listrik sebagai sarana transportasi umum. Fasilitas ini sudah bisa dinikmati oleh mahasiswa, pegawai, dosen bahkan juga tamu sejak Selasa (16/11) lalu. Pengadaan ini tidak lepas dari adanya berbagai fakultas dan laboratorium yang dimiliki oleh UMM. Meski demikian, transportasi ini baru bisa dinikmati di kampus tiga UMM yang berlokasi di Jalan Raya Tlogomas No.246 Malang. Kepala Urusan Transportasi dan Kendaraan UMM Karianto mengatakan bahwa mobil golf ini berusaha memudahkan para sivitas akademika untuk sampai di tujuan dengan lebih cepat dan efisien. “UMM memiliki lima unit mobil golf yang siap sedia beropreasi. Tiga unit dapat menampung empat penumpang sementara dua unit lainnya mampu menampung enam penumpang. Jika digunakan semua sekaigus, akan mampu menampung 24 penumpang sekali jalan. Kami beroperasi setiap hari senin sampai jumat selama dua sesi yaitu, jam 09.00 -11.00 dan jam 13.00-15.00,” jelas Karianto. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa untuk saat ini ia membatasi jumlah penggunaan mobil golf tiap sesi. Timnya hanya meluncurkan tiga unit tiap sesi agar mobil-mobil itu dapat digunakan secara bergantian. Di samping itu juga berjaga-jaga jika ada kendala atau kehabisan baterai. Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Keuangan, Kepegawaian, dan Umum (BKKU) Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menuturkan bahwa pada awalnya pembelian mobil ini ditujukan untuk kendaraan tamu VIP maupun rombongan dosen saat wisuda. Namun sekarang fungsinya ditambah sebagai transportasi umum yang menghubungkan titik satu dengan titik lain yang ada di Kampus Putih UMM. “Penggunaan mobil golf sebagai transportasi umum ini diharapkan dapat membantu aktivitas para sivitas akademika saat cuaca tak mendukung seperti sekarang. Selain dapat menjaga dari sinar matahari, transportasi ini juga dilengkapi dengan enclosure yang dapat melindungi penumpang dari hujan,” ungkap dosen Program Studi Akuntansi tersebut. Selain itu, Juanda sapaan akrabnya, mengatakan bahwa penggunaan mobil golf sebagai transportasi umum ini berguna untuk menyongsong era Energy Baru dan Terbarukan (EBT). Ia berharap area kampus akan semakin ramah lingkungan dengan berkurangnya polusi di dalam kampus. Hal ini selaras dengan visi misi kampus UMM yaitu green and clean kampus. “Kami berharap masyarakat, terutama civitas UMM semakin akrab dengan transportasi listrik. Selain itu, besar harapan kami bahwa kedepannya mahasiswa UMM mampu merancang serta menciptakan mobil-mobil dengan menggunakan EBT seperti mobil golf ini,” pungkasnya di akhir wawancara. (syi/wil)

Bela Negara FPP UMM Dorong Maba Pahami Kebhinnekaan dan Pola Digital

Rangkaian panjang Diklat Bela Negara Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhirnya berakhir pada Sabtu (20/11). Ratusan mahasiswa baru dilatih untuk menguatkan fisik dan mental agar dapat melewati perkuliahan dengan maksimal. Selama enam hari, para mahasiswa baru diharuskan menginap di Pusat Pendidikan Arteri Pertahanan Udara (Pusdik Arhanud). Rangkaian acara resmi diakhiri dengan upacara penutupan yang khidmat. Adapun Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, ST. MT. didapuk menjadi inspektur upacara. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) dan Diklat Bela Negara memiliki makna yang luar biasa. Salah satunya agar mahasiswa dapat mengetahui, memahami serta menumbuhkan kesadaran akan kebhinekaan. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan sudah mengenal dan menerapkan nilai nilai dari empat pilar Indonesia. Di antaranya Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. “Pada agenda bela negara ini, saudara-saudara juga sudah diberikan materi tentang nusantara serta bagaimana pemuda menghadapi tantangan zaman. Semua itu disiapkan agar saudara-saudara bisa menyongsong masa depan dengan baik,” tuturnya. Nur Subeki, panggilan akarabnya, juga menyampaikan bahwa adanya Covid-19 telah mengubah pola kehidupan. Hal serupa juga mengakibatkan cepatnya impelemntasi revolusi industri 4.0 dengan pola-pola digitalnya. Beberapa pola yang Nur Subeki sampaikan antara lain internet of thing dan remote controlling technology. Di samping itu, belakangan juga muncul pola-pola digital farming serta artificial intelligent (AI).  “Mahasiswa baru harus segera berbenah dan menyiapkan diri. Memahami berbagai pola digital yang semakin ke sini semakin banyak. Setlah itu, memanfaatkannya untuk menciptakan inovasi-inovasi solutif di tengah masyarakat nanti,” tambahnya. Selain memahami pola digital, Nur Subeki juga menuturkan bahwa menjadi seorang pemimpin juga harus menguasai 5C. Pertama, communication yakni kemampuan untuk bisa berinteraksi dengan baik sehingga mampu memunculkan kesempatan-kesempatan. Kemudian kemampuan critical thinking dan creative and innovative. Ia mengatakan bahwa berpikir kritis akan memberikan jalan keluar dari sbeuah masalah, sementara kreativitas akan memberikan hal-hal baru yang bisa membantu masalah terkait. “Dua yang terakhir yakni collaboration dan confindence. Maka, gantungkan cita-cita saudara setinggi langit dan bangunlah tangga untuk menggapainya. Ingatlah semboyan Kampus Putih ‘Student Today, Leader Tomorrow’,” jelasnya mengakhiri. (wil)