Mahasiswa UMM Juara Nasional Essay Penanganan Limbah Medis

Penggunaan masker di masa pandemi menyebabkan naiknya angka limbah B3. Melihat hal itu, Dinda Putri Savira, mahasiswa ilmu keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan terbosan melalui tulisan essay. Ia menuliskan rancangan aplikasi dengan sistem informasi manajemen pengelolaan sampah medis dan rumah tangga. Essay tersebut berhasil menjadi juara pertama dalam kompetisi nasional Public Health Student Affair 2021 yang dilaksanakan Universitas Sriwijawa Akhir Oktober lalu (30/10) Dinda, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa menurut data laporan dari Dinas Kesehatan dan Lingkungan, limbah medis telah mengalami peningkatan sebesar 30-50 persen. Menurutnya, hal itu menjadi masalah yang harus diselesaikan. Melalui aplikasi rancangannya, ada lima fitur pengelolaan limbah medis dan rumah tangga yang disediakan. Pertama, fitur pengenalan sampah yang bisa membedakan sampah. Kedua, yakni fitur disinfeksi yang memberikan informasi agar sampah disinfeksikan selama lima menit dan dilengkapi dengan timer. “Yang ketiga dan keempat adalah penanganan limbah infeksiusn serta fitur pewadahan dan pelabelan. Kemudian yang terakhir adalah fitur penanganan lanjutan yang memiliki dua opsi. Yaitu sarana penjemputan limbah infeksius dan penyimpanan sampah selama 48 jam untuk mereduksi infkesi dari sampah,” imbuhnya. Mahasiswi berasal dari Banyuwangi ini kembali menuturkan bahwa aplikasi ini memanfaatkan sistem location base service. Dengan begitu, aplikasi rancangannya ini akan menampilkan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Sistem ini juga memungkinkan aplikasi untuk mengirim sinyal Ketika sampah yang sudah ada bisa diambil oleh tim sampah yang bertugas. “Dengan begitu, petugas kebersihan bisa tahu kapan sampah belum bisa diambil maupun sudah bisa diambil,” ujarnya. Selain itu, mahasiswa kelahiran Malang ini mengaku bahwa ini pertama kalinya ia Menyusun essay sendirian. Melihat hasil yang memuaskan, ia meyakini bahwa kemampuan yang dimilikinya bisa memberikan perstasi-prestasi lainnya. Ia berharap agar raihannya ini bisa menjadi pemacu bagu mahasiswa lain untuk berusaha meraih prestasi. Tidak puas dengan pengetahuan dan raihan yang sudah dicapai. “Saya juga sangat ingin agar aplikasi rancangan saya ini bisa direalisasikan. Mungkin nati bisa menggaet kerja sama dengan lain pihak, sehingga bisa terwujud dan mampu memebrikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Khususnya terkait penanganan limbah medis yang kini sedang naik,” ujarnya mengakhiri. (syi/will)
UMM Bantu Korban Banjir Jodipan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berkontribusi untuk meringankan beban masyarakat. Melalui program UMM Berbagi untuk Negeri, Kampus Putih memberikan bantuan berupa material dan puluhan kursi pada warga pada Sabtu (13/11) lalu. Utamanya mereka yang berada di wilayah terdampak banjir yakni RW VI, Kelurahan Jodipan, Blimbing, Malang. Zakarija Achmat, S.Psi. M.Si. selaku koordinator dari UMM mengatakan bahwa donasi yang dikumpulkan ini memang ditujukan kepada para warga yang mengalami kesulitan. Tidak hanya bagi korban bencana, UMM Berbagi untuk Negeri juga sempat memberikan bantuan kepada penyintas Covid-19 yang sedang isolasi mandiri. “Selain didistribusikan ke Jodipan, barang bantuan banjir ini juga kami salurkan ke wilayah Kota Batu. Begitupun dengan para relawan yang kami kirim untuk membantu warga sekitar. Saat ini, mereka tengah bergabung dalam tim yang membersihkan aliran sungai,” imbuhnya. Adapun bantuan yang diberikan ke wilayah Jodipan adalah material seperti pasir cor, galvalum, koral, spandek dan lainnya. Selain itu, Kampus Putih juga memberikan puluhan kursi yang akan ditempatkan di balai RW. “Memang tujuan awal kami membuka rekening donasi adalah untuk memeberikannya kepada mereka yang membutuhkan. Jadi siapa saja bisa mengirimkan donasinya, tidak terbatas pada sivitas akademika UMM saja,” tutur Zakarija. Sementara itu, Mohammad Luthfi selaku Ketua RW 6 menjelaskan bahwa ada 31 rumah yang terdampak. 19 di antaranya hancur bahkan hanyut. Beruntung, semua bangunan itu sudah dibangun kembali berkat kerja sama para warga dan para relawan. “Alhamdulillah para warga sudah kembali ke rumah masing-masing setelah sebelumnya mengungsi ke mushola,” tuturnya. Selama tinggal di lokasi tersebut, Luthfi mengaku bahwa sudah dua kali banjir terjadi. Kali pertama menimpa pada 2004 lalu dan yang kedua di tahun 2021. Beruntung, tidak ada korban yang hanyut di dua bencana tersebut. “Sempat ada tawaran pada warga untuk relokasi di tempat lain maupun rusun, tapi kebanyakan warga menolak,” tuturnya. Lebih lanjut, ia mengaku bahwa pihaknya memang sudah menutup donasi berupa air mineral, sembako, dan pakaian karena telah mencukupi. Kini, mereka fokus membenahi fasilitas umum (fasum) untuk masyarakat. Mulai dari kamar mandi umum hingga sumber air yang sempat tersumbat dan hancur. Terakhir, ia mengucapkan terimakasih kepada UMM yang sudah memberikan bantuan ebrupa material. Ia berharap bangunan yang menaungi kamar mandi umum dan sumber air bisa segera dibangun. Begitupun dengan puluhan kursi pengganti 90 kursi yang hanyut saat banjir. “Terima kasih kepada para donator dari UMM. semoga apa yang diberikan bisa memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat,” pungkasnya. (/wil)
Bela Negara FPP UMM Bangun Pribadi Tangguh Mahasiswa

Dalam rangka membentuk pribadi yang tangguh nan mandiri, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan bela negara. Gelaran yang ditujukan bagi mahasiswa baru (maba) tersebut dilaksanakan dalam dua gelombang, yakni pada 8-13 dan 15-20 November 2021. Adapun para maba yang berjumlah lebih dari 600 itu dilatih dan dibina di Pusat Pendidikan Artleri Pertahanan Udara (Pusdik Arhanud). Ditanya ihwal agenda bela negara tersebut, Dekan FPP Dr. Ir. Aris Winaya, M.M. M.Si. mengatakan bahwa tahun ini mereka mengusung semangat UMM Pasti. Para mahasiswa didorong untuk pasti mampu lulus tepat waktu serta pasti menjadi mahasiswa yang mandiri. Maka menurutnya, bela negara ini menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Aris, panggilan akrabnya juga menjelaskan mutu pendidikan yang FPP sediakan untuk mewujudkan program UMM pasti. Ada tiga prodi yang sudah terakreditasi Unggul, yakni Agroteknologi, Agribisnis, dan Peternakan. Kemudian adapula dua prodi terakreditasi A yaitu Teknologi Pangan dan Akuakultur. Sedangkan prodi kehutanan mendapatkan predikat Sangat Baik. “Kualitas yang kami sandang ini menunjukkan bahwa kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik untuk bidang akademik maupun non akademik. Sehingga mampu menunjang mahasiswa untuk lulus tepat empat tahun,” imbuhnya Sementara itu, Wakil Dekan I FPP Ir. Henik Sukorini, MP. Ph.D. menjelaskan bahwa saat ini kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memberikan banyak peluang. Utamanya bagi mahasiswa dalam rangka mencapai tujuan lulus tepat waktu. Mereka dapat mengambil kegiatan di luar kampus sejak semester enam untuk akselerasi kelulusan. “Minimal durasi program MBKM ini adalah satu semester. Kegiatan di luar kampus yang sudah dilaksanakan oleh mahasiswa juga bisa dikonversi menjadi 20 SKS,” tutur Henik. Sementara itu, Dr. Ir. Mochammad Chanan, M.P., selaku wakil dekan II FPP mengutarakan bahwa berbagai fasilitas sudah disiapkan. Mulai dari laboratorium yang terintrigasi hingga Edupark yang menurutnya bisa menjadi katalisator mahasiswa untuk segera menyelesaikan studinya. “Saudara-saudara mahasiswa juga harus mengikuti berbagai aktivitas ekstrakuliler agar bsia mempelajari cara berkomunikasi, bersosialisasi dan berdialog,” ungkapnya. Chanan juga sempat menerangkan terkait survey yang dilakukan oleh National Association of College and Employers (NACE). Survey tersebut menyatakan bahwa kesuksesan tidak hanya ditunjukkan oleh indeks prestasi kumulatif (IPK) yang tinggi saja. Namun dipengaruhi juga oleh komunikasi yang baik dan kerja sama. (/wil)
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UMM Juara Komedi Tunggal Kemdikbudristek

Mohammed Ali Fouly, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM berhasil meraih penghargaan dalam lomba komedi tunggal di Festival Handai Indonesia tahun 2021. Kompetisi ini diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) dalam rangkaian perayaan Bulan Bahasa pada September-Oktober. Adapun pengumuman juara dilaksanakan pada Kamis (28/10) lalu. Disampaikan Fouly, lomba ini ditujukan bagi warga negara asing yang mampu berbahasa Indonesia serta memahami kebudayaan Indonesia. Ada berbagai jenis kompetisi yang dilombakan di Festival Handai Indonesia. Mahasiswa UMM yang berasal dari Mesir tersebut awalnya tertarik mengikuti lomba pidato. Namun, karena hanya ada beberapa hari saja untuk persiapan, akhirnya ia lebih memilih ikut dalam lomba komedi tunggal. “Awalnya saya ingin ikut dalam lomba pidato, tapi karena waktunya mepet, akhirnya saya ikut lomba komedi tunggal karena lebih mudah dan persiapannya lebih gampang. Selain itu, saya juga pernah membahas hal-hal berbau komedi di kanal Youtube saya, sehingga sudah terbiasa,” ujar Fouly. Lomba tersebut mengharuskan Fouly untuk membuat video dan mengirimkannya ke pihak penyelenggara. Pengalamannya sebagai youtuber membantunya dalam pengambilan dan editing video. Menurutnya, ia tidak mengalami kendala yang berarti dalam penyusunan materi dan video yang dibuat. “Awalnya, saya menonton ulang konten Youtube saya, setelah itu mengumpulkan bagian-bagian yang bisa dijadikan bahan untuk lomba komedi tunggal. Utamanya bagian-bagaian tentang perpindahan budaya dan culture shock. Saya juga menambahkan beberapa bagian dari pengalaman sendiri lalu saya jadikan script, merekam video, mengedit dan submit videonya ke pihak Festival Handai Indonesia,” jelas Fouly. Ketertarikannya terhadap lomba berkomedi tunggal juga mendapatkan pengaruh dari konten Youtube yang ia buat. Fouly melihat bahwa penonton lebih banyak menikmati kontennya yang berbau komedi. Dari situ, ia merasa bahwa ide dan pikirannya lebih mudah diterima oleh penonton jika ia mengemasnya dengan unsur komedi. Mahasiswa yang sudah memiliki 310 ribu subscriber Youtube tersebut bertekad untuk terus mengasah Bahasa Indonesia dan kemampuan berkomedinya. Utamanya melalui konten-konten perbedaan budaya Indonesia-Mesir yang ia buat di Youtube. Ia menambahkan bahwa sama halnya dengan berceramah, jika penceramah menyampaikan pesan dengan komedi maka jamaah akan lebih suka mendengarkannya. Terakhir, Fouly juga menyampaikan pesan kepada teman-teman BIPA agar bisa meraih prestasi sebanyak mungkin. Apalagi dengan banyaknya perlombaan yang diadakan berbagai pihak. “Beberapa caranya yakni dengan bersungguh-sungguh belajar bahasa Indonesia, sering mengobrol dengan menggunakan Bahasa Indonesia, dan tidak takut untuk ikut dalam berbagai lomba semacam ini. Tidak perlu takut salah, karena dengan kesalahan kita bisa belajar,” ungkap Fouly mengakhiri. (wil)
Fenomena Popping Sendi Menurut Pakar Fisioterapi UMM

Ketika mengalami kelelahan, beberapa orang melakukan perenggangan dengan membunyikan sendi-sendi di jari tangan ataupun leher. Dalam istilah medis proses peregangan yang menghasilkan bunyi itu disebut dengan istilah kavitasi. Sementara bunyi ‘krek’ yang dihasilkan saat perenggangan biasa disebut dengan popping. Dosen Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Zidni Imanurrohmah Lubis, S.Ft., M.Biomed., menjelaskan bahwa bunyi yang dihasilkan saat proses peregangan merupakan hasil dari kompresi di dalam sendi. Kompresi tersebut menyebabkan pelepasan atau letupan gelembung nitrogen di cairan antar sendi, di mana cairan antar sendi berfungsi sebagai pelumas. “Namun antar sendi biasanya memiliki kadar nitrogen yang berbeda. Jadi ada saatnya proses kavitasi tidak menghasilkan bunyi popping. Sebagian orang biasanya melakukan kavitasi karena merasa senang atau lega dengan bunyi popping yang dihasilkan. Apalagi saat berada di posisi yang sama dalam waktu yang lama. Kavitasi seringkali jadi pilihan masyarakat,” ujar dosen asal Malang tersebut. Zidni, sapaan akrabnya, kembali menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa proses kavitasi ini berkorelasi negatif maupun positif terhadap tubuh. Asal tidak melakukan peregangan secara berlebihan, kavitasi ini tergolong aman untuk dilakukan. “Umumnya proses kavitasi tidak menimbulkan rasa sakit atau nyeri. Apabila pada proses tersebut diikuti dengan rasa nyeri ataupun sakit di persendian, saya sarankan untuk segera periksa ke Rumah Sakit (RS) maupun Fisioterapis,” kata Zidni melanjutkan. Zidni mengatakan bahwa meskipun cukup aman dilakukan, ada beberapa kasus di mana kavitasi bukan menjadi solusi utama. Kasus-kasus tersebut yaitu saat berada dalam kondisi kelelahan dimana otot terasa kaku maupun gerak sendi yang terbatas. Adapula kondisi ketika otot-otot masih terasa nyeri. “Dibanding melakukan kavitasi, lebih baik kita melakukan stretching. Penguluran otot tersebut dapat dilakukan dengan menahan posisi stretching selama 20-30 detik agar pengulurannya optimal. Sehingga memberikan rasa lega seperti yang dirasakan saat melakukan kavitasi,” kata dosen yang hobi menonton film tersebut. Zidni menambahkan, masyarakat bisa pergi ke Fisioterapi ketika ingin melakukan kavitasi secara profesional. “Meskipun proses kavitasi dan suara ‘popping’ bukan tujuan utama penanganan, namun fisioterapis memiliki kompetensi dalam joint manual mobilization atau mobilisasi sendi manual. Sehingga akan lebih aman karena dilakukan bersama orang yang tahu dan paham terkait hal itu,” pungkasnya. (syi/wil)
Tim Pengabdian UMM Ajari Peternak Ikan Gunakan Teknologi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memberikan kontribusi nyata pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) melangsungkan Sosialisasi Pengolahan Pakan Ikan dan Penyerahan Mesin Pelet Pakan Ikan. Adapun PPDM ini digarap oleh Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc. (Akuakultur), Machmud Effendy, ST, M.Eng (Teknik Elektro) dan Beti Istanti Suwandayani, S.Pd., M.Pd (PGSD). Bertempat di Rumah Lurah Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, pada Kamis (4/11) lalu. Prawoto S.Sos selaku Lurah Desa Purwoargo mengatakan bahwa sosialisasi pengolahan pakan dan penyerahan mesin pencetak pelet ikan ini dirasa bisa membantu budidaya ikan di tempatnya. Menurutnya, pengeluaran terbesar dari budidaya ikan air tawar adalah dari aspek pakan. Maka hadirnya hibah alat ini tentu dinilai bisa menghemat biaya tersebut. “Saya selaku lurah sekaligus mewakili masyarkat Desa Purwoargo berterimakasih atas hibah mesin pencetak pelet ikan yang nantinya akan membantu proses budidaya ikan air tawar,” ucapnya. Turut hadir pula Ir. Rini Pandan Arum selaku Kepala Bidang Pengelolaan Pembudidayaan Ikan, Dinas Perikanan Kabupaten Malang. Ia memaparkan bahwa Dinas Perikanan berupaya mengembangkan jenis budidya ikan di kolam air deras. Sampai saat ini, pengembangan ini masih berada pada tahap uji coba di Desa Sanankerto, Turen. Rencananya, pihak Dinas Perikanan akan melakukan ujicoba pula di Desa Parangargo. Rini berharap, sinergisitas antara UMM, pemerintah dan masyarakat bisa terus dijalin. “Saya kira mesin ini bisa menekan pengeluaran warga pembudidaya ikan yang biasanya hamper mencapai 60 persen dari total pengeluaran,”tegasnya melanjutkan. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si selaku Direktur DPPM UMM mengatakan bahwa program ini menggaet beberapa pihak seperti Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud – Ristek). Ia juga mengatakan bahwa kelangsungan program ini didukung oleh pemerintah selama tiga tahun ke depan. “Daripada disimpan di kampus saja, alangkah baiknya ilmu ini bisa dituangkan dan diimplementasikan di masyarakat. Harapannya, warga bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” ujarnya. Yus sapaan akrabnya kembali menceritakan bahwa sebelumnya, pihaknya juga telah menyelenggarakan program pengembangan budidaya lele dengan sistem biona. Dari situ, mereka dapat melihat bahwa ada banyak aspek yang harus dipenuhi agar budidaya itu berhasil. Mulai dari bibit, pakan ikan dan airasi. Budidaya ini juga membutuhkan listrik yang kuat, maka mereka memasang solar cell sebagai penunjang listrik. “Saya rasa pakan menjadi salah satu pengeluaran yang paling banyak menghabiskan. Maka dengan adanya mesin pelet ikan ini bisa menekan pengeluaran proses budidaya. Pun juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan melalui suplai pakan ikan,” jelasnya. (/will)
Dosen-Mahasiswa UMM Manfaatkan Limbah Anggrek Jadi Suvenir

Kembangkan potensi Desa Wisata Anggrek, tim dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beri pelatihan pembuatan suvenir. Program yang tergabung dalam Pengabdian kepada Masyarakat tersebut berlangsung selama lima bulan yakni Juli-November 2021 di Desa Dadaprejo, Kec. Junrejo, Kota Batu. Salah satu anggota tim, Moh. Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc, mengatakan bahwa suvenir buatan timya berasal dari bunga anggrek yang dikeringkan. Pemilihan bunga anggrek sebagai cinderamata ini dilakukan untuk memanfaatkan sumber daya yang Sebagian besar terbuang. Ia bercerita bahwa bunga anggrek yang telah mekar hanya bertahan selama dua minggu sampai satu bulan saja. Sementara itu penjualan tanaman anggrek cukup sulit karena harganya yang tergolong mahal. “Sayang sekali melihat bunga-bunga tersebut layu begitu saja. Karena hal itu, tim kami mengawetkan bunga anggrek yang sudah tua menggunakan resin dan menjadikannya sebagai buah tangan bagi pengunjung maupun orang-orang di media sosial,” ujar Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi itu. Bersama Diani Fatmawati, S.Pd., M.Pd, Tutut Indria Permana, M.Pd, dan dua mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi, Mirza tidak hanya mengajarkan pembuatan souvenir saja. Mereka juga memberikan berbagai pembinaan dan materi terkait bagaiamana memasarkan produk tersebut. Mulai dari pemsaran secara konvensional maupun dengan menggunakan teknologi digital melalui media sosial atau market place. Adapun saat pelatihan, tim ini berfokus untuk mengajari dan mendampingi Karang Taruna dan Asosiasi Petani Anggrek. “Pelatihan ini mencakup lima tahapan yaitu, pemilihan anggrek, pengeringan, pemberian resin, pencetakan, dan yang terakhir pemasaran. Sampai saat ini, kami menggunakan pemasaran online menggunakan Instagram dan Tiktok dengan metode pre-order (PO),” kata Mirza. Mirza juga menuturkan bahwa pihaknya juga sudah mengikuti berbagai kegiatan dari Asosiasi Pecinta Anggrek. Utamanya dalam aspek pemasaran produk. Terbaru, mereka telah memasang tenant selama seminggu mulai dari tanggal 7-14 November di salah satu acara Asosiasi Pecinta Aggrek. Di akhir wawancara Mirza menyampaikan bahwa tujuan program ini adalah untuk meningkatkan potensi-potensi desa wisata anggrek yang belum dikembangkan oleh masyarakat. Selain itu juga berupaya memanfaatkan bunga anggrek layu yang biasanya dibuang menjadi satu produk ekonomis yang bsisa dijual. “Kami tentu berharap dengan adanya kegiatan pelatihan ini, akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Dadaprejo sehingga menjadi warga yang mandiri dan mampu memanfaatkan peluang serta potensi,” pungkasnya. (syi/wil)
Pendidikan Biologi UMM Bahas Solusi Pembelajaran Pasca Pandemi

Berbagai tantangan pembelajaran muncul pasca pandemi Covid-19. Untuk menjawab permasalahan tersebut, Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selenggarakan Seminar Nasional Pendidikan Biologi “SEMBIO VI”. Gelaran tersebut disiarkan pada Sabtu (06/11) melalui kanal Zoom dan Youtube Pendidikan Biologi FKIP UMM. Dr. Moch. Agus Krisno Budiyanto, M.Kes. selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa permasalahan utama pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah learning lost. Hal ini tidak hanya mengakibatkan kemunduran hasil belajar, namun para pengajar juga mengalami kesulitan belajar. “Untuk mengatasi masalah tersebut, kami mencoba untuk memasukan pandangan-pandangan ilmiah. Kami juga ingin memberikan kesempatan kepada seluruh praktisi bidang pendidikan dan biologi untuk berperan dalam mengembangkan karya-karya inovatif. Utamanya pada masa pasca pandemi Covid-19 ini,” tuturnya. Agus berharap kegiatan yang diikuti oleh hampir 700 peneliti, praktisi pendidikan, dosen, mahasiswa, dan guru dari seluruh wilayah Indonesia ini, akan menjadi poros penting dalam memberikan gambaran peningkatan kualitas pendidikan di pasca Pandemi covid-19. Sementara Itu, Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM Dr. Iin Hindun, M.Kes menjelaskan bahwa kegiatan forum Ilmiah Ini diharapkan tidak hanya sebagai gelaran semata. Namun juga dapat memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi. “Sudah saatnya berbagai luaran kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi bisa didesiminasikan. Saya rasa luaran kegiatan dosen memiliki nilai-nilai potensi hasil penelitian yang sudah teruji dan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan. Khususnya untuk menyongsong aktifitas pasca pandemi Covid-19,” tutur dosen bidang pendidikan dan genetika ini. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin, M.Si menyatakan bahwa Seminar Nasional ke VI kali ini terasa lebih spesial. Pasalnya, banyak sivitas akademika yang menyambut baik gelaran forum ilmiah tersebut. Turut hadirnya dua pemateri internasional juga menjadikan agenda ini seminar nasional bernuansa internasional. “Seminar ini lebih terasa seperti seminar Internasional dengan hadirnya Prof. Siti Nur Hidayati, Ph.D. dari Department Biology Middle Tennessee State Univerity-USA, Jendral Phaisan Toryib dari Attarkiah Islamiyah Institute of Narathiwat-Thailand, serta satu pemateri dari UMM yaitu Assoc. Prof. Dr. Eko Susetyarini, M.Si,” pungkasnya. (syi/wil)
UMM Peduli Pensiunan Dosen dan Karyawan

Perhatian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya kepada sivitas akademika yang aktif saja, tapi juga kepada para pensiunan. Salah satu bentuk perhatian tersebut terlihat saat Kampus Putih melangsungkan pertemuan keluarga pensiunan dengan pihak UMM pada Sabtu (6/11) lalu. Tidak hanya para keluarga, agenda yang dilaksanakan di Ruang Sidang Senat itu juga dihadiri para pejabat, termasuk Badan Pembina Harian (BPH) UMM. Wakil Direktur Bidang Umum dan Kepesertaan Pengurus Dana Pensiun UMM Dr. Wahyudi, M.Si. mengatakan Kampus Putih selalu mengadakan pertemuan keluarga pensiunan untuk menjaga ikatan yang sudah dibangun. “Kami berusaha sebaik mungkin untuk memperhatikan dosen dan karyawan. Tidak hanya mereka yang masih aktif, tapi juga para pensiunan yang sudah mengabdi dengan luar bisa,” tuturnya. Wahyudi, sapaan akrabnya menyampaikan bahwa unit dana pensiun ini didirikan UMM pada 2006 lalu. Adapun unit ini bertujuan untuk membantu para pegawai dan dosen yang sudah purna agar tetap bisa menikmati kesejahteraan. “Sebagai unit yang didirikan secara mandiri, unit ini tunduk dan patuh pada dua peraturan. Yaitu peraturan dana pensiun UMM serta peraturan OJK terkait manfaat pensiun,” imbuhnya. Dalam pertemuan tersebut, Wahyudi juga sempat menerangkan beberapa hal teknis mengenai manfaat pensiun yang diberikan. Mulai dari jenis-jenis hingga jumlah porsi yang diterima oleh keluarga. Ia juga berharap manfaat ini dapat digunakan sebaik mungkin oleh para penerimanya. Sementara itu, BPH UMM Dr. Joko Widodo, M.Si. menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pegawai yang purna. Tidak hanya mereka yang masih hidup tetapi juga kepada mereka yang sudah meninggal. Ia juga ingin agar manfaat pensiun ini bisa membantu para keluarga yang ditinggal untuk hidup dengan baik. Menurut Joko, mereka yang purna telah melakukan tugas dan pengabdian dengan baik. Berjuang keras dengan tujuan untuk memajukan Kampus Putih. Maka manfaat pensiun ini adalah penghargaan yang bisa diberikan oleh UMM. “Meski swasta, tapi alhamdulillah UMM mendapatkan rezeki dan selalu bisa memberikan dana pensiun,” ungkap Joko. Pada kesempatan itu, adapula penyampaian kesan oleh beberapa kerabat dan rekan para pensiunan yang telah meninggal. Salah satunya yang diungkapkan oleh Dekan Fakultas Teknik Prof. Ilyas Masudin, Ph.D. mengenai keseharian Nur Hadi. Menurutnya, Nur Hadi merupakan salah satu pendiri jruusan Teknik elektro di UMM. ia menilai sosok Nur hadi juga sudah berusaha sebaik mungkin dalam memajukan Kampus Putih. “Semoga segala kebaikan para almarhum diterima dan dibalas dengan hal yang setimpal serta ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya,” pungkasnya. (wil)
Tapak Suci Jatim-UMM Kaji Pancasila dan Seni Bela Diri

Bersama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pimpinan Wilayah (Pimwil) II Tapak Suci Jawa Timur langsungkan sarasehan pada Minggu (8/11) lalu. Berlokasi di ball room Rayz Hotel UMM, agenda tersebut dilaksanakan dengan protokol kesehatan dengan ketat. Adapun para pembicara yang dihadirkan membahas mengenai pembinaan ideologi Pancasila untuk melestarikan pencak silat, khususnya Tapak Suci. Prof. Dr.Ir. Sasmito Djati, MS, IPU, P.Ua selaku ketua umum Tapak Suci Jatim menerangkan bahwa acara ini merupakan usaha reaktualisasi ideologi Tapak Suci. Menurutnya, kini dunia sedang mengalami masa disrupsi, ditambah lagi dengan adanya pandemi Covid-19. “Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk mengingatkan kembali nilai-nilai dan ideologi tapak suci bagi para pendekar. Sehingga tujuan dari Tapak Suci (TS) tidak melenceng,” tegasnya. Ditambahkan Sasmito, Tapak Suci merupakan organisasi otonom (ortom) yang inklusif. Semua orang bisa turut serta, tidak memandang latar belakang maupun tempat. Ia menyebutkan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman yang sanggup menyelenggarakan TS dengan baik. Banyak warga yang tertarik dan mengikutinya untuk memahami seni bela diri. Lebih lanjut, Sasmito kembali mengingatkan bahwa para pendekar dan kader memiliki tugas suci sebagai putra Muhammadiyah. Salah satunya yaitu membawa pencerahan di manapun berada. “Di era disrupsi global ini, kita tidak boleh melupakan misi yang selalu kita emban. Semoga kita bisa konsisten dan mengingat serta berpegang teguh pada nilai-nilai ideologi Pancasila,” tegasnya. Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim Ir. Tamhid Masyhudi berkesempatan untuk membuka acara. Ia mengatakan bahwa para pendekar TS harus berbangga karena banyak kadernya yang mampu memenangi kejuaran, baik di PON maupun SEA Games. Hal ini menandakan bahwa TS memiliki hal yang luar biasa. Senada dengan Sasmito, ia juga mengapresiasi TS yang hadir di berbagai penjuru dunia. Mulai dari Inggris, Mesir, Jerman, Aljazair dan negara lainnya. Ia menggarisbawahi TS Taiwan yang berhasil mengadakan kejuaraan. Apalagi dengan adanya legalisasi pemerintah Taiwan yang mengiringi. “Saya sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan TS Taiwan. Mereka mampu memanfaatka berbagai kesempatan dan membangun kerja sama yang bagus. Kini, TS juga menjadi bagian untuk membantu pemerintah Taiwan dalam kerja sama budaya,” tuturnya. Tamhid juga menerangkan bahwa Muhammadiyah memang ingin mengembangkan dakwah di era digital seperti sekarang. Menurutnya, Langkah ini sangat strategis karena bisa menentukan masa depan Muhammadiyah. Begitupun dengan TS yang juga nantinya akan terjun dalam dakwah digital. “Saya kira nanti TS ini bisa lebih ekspresif dan dinamis. Membuat video dengan gerakan-gerakan menarik. Ada seninya, speednya dan kekuatan yang bisa ditampilkan dan diwujudkan sebagai bentuk dakwah,” tegas Tamhid. Ia juga menilai bahwa Tapak Suci dapat dibingkai menjadi sela bela diri yang tampil sebagai pemersatu dan menjaga keutuhan NKRI. Tidak hanya Tapak Suci saja, tapi juga ortom-ortom lain yang harus sigap membantu bangsa seperti yang dilaksanakan dalam evakuasi serta bantuan korban banjir Malang-Batu beberapa waktu lalu. “Saya ingat satu pesan dari Ketum PP Muhammadiyah Pak Haedar yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah harus hadir ketika bangsa Indonesia ini membutuhkan,” ujar Tamhid. Dalam gelaran itu, hadir pula para pemateri seperti Ketum Pusat Tapak Suci Dr. Ir. Chairul Muriman Setyabudi, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, S.SE. M.Si., dan segelintir pemateri lainnya. Mereka membahas mengenai grand desain pembinaan Tapak Suci nasional sebagai budaya bangsa, strategi gerakan dakwah Muhammadiyah melalu Tapak Suci hingga implementasi Tapak Suci di perguruan tinggi untuk penguatan budaya bangsa. (wil)