Berinovasi Sejak 21 Tahun Lalu, Dosen UMM ini Raih Penghargaan Dosen Bergengsi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya melahirkan mahasiswa-mahasiswa berperestasi saja. Namun juga para dosen yang kian hari mengharumkan nama Kampus Putih. Satu di antaranya adalah Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP. Melalui inovasi-inovasinya, ia berhasil mendapatkan berbagai prestasi bergengsi. Terbaru, Elfi sukses mendapatkan penghargaan sebagai Dosen Inovatif Terpuji yang diberikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII. Adapun pemberian ini dilangsungkan pada Rabu (18/8) lalu. Elfi, panggilan akrabnya memang dikenal sebagai dosen yang senantiasa berinovasi, utamanya dalam hal gizi dan teknologi pangan. Sebelumnya, ia seringkali dinobatkan sebagai penyaji terbaik, mendapat rentetan penghargaan seperti Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Award yang ia peroleh beberapa waktu lalu. Ditanya ihwal penghargaan ini, Elfi mengaku tidak tahu jika ada penilaian dan penghargaan seperti ini. Namun ia tahu betul bahwa ada pantauan dan penilaian yang mencakup berbagai aspek tiap enam bulan. Mulai dari bagaimana ia mengajar, penelitian, publikasi, paten serta pengabdian. “Mungkin dari situlah akhirnya saya bisa dinobatkan sebagi salah satu dosen tangguh, utamanya dalam aspek inovasi terbaru,” tuturnya. Hebatnya, perempuan yang menjadi koordinator Halal Centre UMM ini juga telah meneliti pigmen antosianin sejak 21 tahun yang lalu. Di samping itu, ia juga telah memiliki lebih dari 12 paten yang fokus pada pangan dan gizi. Beberapa di antaranya adalah pewarna alami dari bunga mawar, pewarna alami berbahan rumput laut, hingga sari minuman antioksidan dari bunga mawar. Khusus yang terakhir, Elfi juga telah nerhasil mendapatkan merk, izin Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT), serta sertifikasi halal. Ia bahkan sudah membangun rumah produksi dan memasarkannya ke berbagai daerah. “Tidak hanya berhenti pada penelitian, inovasi juga harus bisa memberikan manfaat ke berbagai pihak utamanya masyarakat,” tegasnya. Terbaru, Elfi dan beberapa rekannya tengah mengembangkan beras analog balita. Inovasi ini berangkat dari fenomena stunting balita yang belakangan terjadi. Menurutnya, hal itu dapat terjadi karena kurangnya gizi yang terkandung, khususnya protein dan mineral. Dosen yang juga menjadi tim ahli Lembaga Pemeriksa Halal Muhammadiyah ini juga sempat menyampaikan alasan kenapa ia terus berinovasi. Menurutnya, inovasi yang dibuat tidak lain untuk memberikan opsi solusi bagi permasalahan di tengah masyarakat. Di samping itu, berinovasi dan memanfaatkan alam dengan baik adalah tugas seorang khalifah. “Sebagai khalifah di Bumi, tentu kita harus berusaha menjadi manusia yang kreatif dan cerdas agar bisa menebar manfaat bagi sesama,” imbuh Elfi. Terakhir, ia berharap penghargaan ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi dirinya sendiri. Namun bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk semakin respek akan kekayaan alam dan teknologi yang dimiliki Indonesia. Sehingga masyarakat mampu mengoptimalkan potensi lokal dengan maksimal. “Mari bersama-sama membangkitkan masyarakat unggul. Tidak hanya dari pihak akademisi saja, tapi juga dari industri, pihak swastaswasta, serta pemerintah. Harapannya, Indonesia bisa semakin maju serta mampu menekan angka kemiskinan yang ada,” tutupnya. (wil)
UMM Kampus Swasta Satu-satunya Raih Lisensi TKBI

Berbagai peningkatan dan pengembangan senantiasa dilakukan oleh Kampus Putih. Salah satunya yakni mengembangkan Test of Academic English Proficiency (TAEP) sejak tahun 2014 lalu. Pengembangan inilah yang mengantarkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mendapatkan lisensi penyelenggaraan Tes Kemampuan Berbahasa Inggris (TKBI). Lisensi ini diberikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) pada Rabu (11/08) lalu. Dengan pemberian lisensi ini, UMM menjadi satu-satunya universitas swasta yang mendapatkan hak penyelenggaraan TKBI. Kepala bagian Language Center, Dr. Masduki, M.Pd., mengatakan bahwa penyelenggaraan tes di UMM dimaksudkan agar masyarakat tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk melakukan tes Bahasa Inggris. Apalagi jika melakukan tes di penyedia jasa tes luar negeri. “Selain menghemat biaya dengan menggunakan tes bahasa inggris di dalam negeri, masyarakat juga turut berpartisipasi dalam mengurangi pelarian modal atau capital flight ke luar negeri,” kata Masduki. Lebih lanjut, dosen Prodi Bahasa Inggris ini menjelaskan beberapa kriteria untuk mendapatkan lisensi dari Kemendikbud. Pertama adalah sistem skoring untuk menentukan hasil tes. Kedua ada pengembangan sistem yang dilakukan oleh UMM. Ketiga, sistem telah melewati fase uji coba. Keempat adalah adanya kerja sama dengan pihak ketiga dalam hal penggunaan sistem tes. Kemudian yang terakhir yakni adanya tim ahli di dalamnya. “Dalam hal kerja sama dengan pihak ketiga, selain digunakan oleh mahasiswa dan alumni, TAEP UMM ini juga telah digunakan oleh perusahaan negeri maupun swasta. Salah satunya dalam tes seleksi karyawan Bank Indonesia pada tahun 2018 dan 2019,” ungkap dosen kelahiran Tulungagung tersebut. Selain kriteria-kriteria tersebut, Masduki juga menjelaskan mengenai keunggulan tes TAEP UMM yaitu kekhasannya. Kekhasan ini tercipta dari pengisi suara yang tidak hanya diisi oleh para native speaker dari negara Amerika dan Inggris, tetapi juga non-native speaker dari negara-negara Asia. “Native Speaker biasanya banyak diisi oleh budaya negara Amerika dan Inggris. Namun, pada TAEP kami juga mengisi dengan kebudayaan-kebudayaan Asia, khususnya Indonesia,” ujar Masduki. Keunggulan tes ini juga ada pada aspek kecepatan analisis skor. Masduki berkata bahwa para peserta TAEP sudah bisa melihat skornya tujuh menit setelah proses pengerjaan tes selesai. Hal tersebut dapat terjadi karena TAEP menggunakan Rapid Reporting System. Selain cepat dalam hal mengetahui skor hasil ujian, tes jenis ini juga unggul dalam kecepatan pemberian sertifikat. Terhitung hanya butuh waktu satu jam bagi para peserta untuk memperoleh sertifikat digital. “Sertifikat digital ini juga dapat menghalau pemalsuan. Hal tersebut terjadi karena pihak ketiga dapat mengakses keaslian sertifikat dan perolehan skor di laman TAEP UMM,” jelas dosen yang juga mengajar di Pascasarjana UMM tersebut. Di akhir wawancara, Masduki merasa bangga atas capaian tes TAEP UMM tersebut. Ia juga berharap tes TAEP akan terus berkembang dan semakin baik kedepannya. “Saya juga ingin masyarakat tidak lagi menganggap sebelah mata penyelenggara TKBI lokal dan mulai menggunakannya,” pungkas Masduki. (syi/wil)
Upacara Kemerdekaan UMM Bangkitkan Semangat Perjuangan

Di tengah serangan pandemi yang belum membaik, Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa menjaga semangat kemerdekaan. Salah satunya melalui upacara kemerdekaan yang dilaksanakan pada Selasa (18/8) lalu. Berbeda dengan upacara kemerdekaan sebelum-sebelumnya, kini para peserta hadir secara daring melalui platform Zoom. Adapun rentetan acara tetap dilakukan secara luring di Heliped UMM. Didapuk sebagai inspektur upacara, Dr. Nur Subeki, ST. MT. selaku Wakil Rektor III UMM menyampaikan bahwa sudah 76 tahun masyakarat memeriahkan dan memperingati kemerdekaan. Perlu adanya upaya-upaya strategis untuk merawat serta menjaga kedaulatan. Utamanya kemerdakaan di tahun ini yang memiliki tema Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Eki, panggilan akrabnya kembali menegaskan bahwa ada beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh warga Indonesia. Hal pertama ialah menengok sejarah lahirnya kemerdekaan Indonesia. Dijelaskan olehnya, kemerdekaan tersebut tidak diberikan oleh penjajah dengan cuma-cuma. Namun hasil dari pengorbanan darah dan air mata para pejuang. “Seperti yang pernah dikatakan Soekarno bahwa perjuangannya lebih mudah karena hanya mengusir penjajah. Namun perjuangan generasi selanjutnya lebih sulit karena harus menghadapi saudaranya sendiri,” tegasnya. Selain itu adapula yang kedua yakni menjawab bagaimana Muhammadiyah mampu mengisi kemerdekaan Indonesia. Salah satu upayanya dengan mendirikan amal usaha Muhammadiyah, termasuk di sektor pendidikan yakni pendirian UMM. Menurutnya, kampus putih menjadi lembaga yang strategis untuk melahirkan pemuda-pemuda yang unggul. “Terbukti dengan raihan UMM yang diakui sebagai kampus Islam terbaik nomor satu dunia. Begitupun dengan para alumninya yang mampu menjadi para pemimpin seperti ketua KPU, Ketua DPRD, Wakil Bupati hingga Bupati,” tuturnya melanjutkan. Eki juga sempat menyinggung proses adaptasi yang harus segera dilakukan. Utamanya di era digital seperti saat ini. Menurutnya, sivitas akademika UMM harus segera tumbuh, mengikuti dan memanfaatkan keadaan yang ada agar bisa menebar manfaat ke masyarakat luas. Kemudian di situasi pandemi seperti ini, Eki mendorong para peserta upacara untuk mengikuti perjuangan para pejuang. Ia menuturkan bahwa yang kuat harus berusaha membantu, yang mampu harus terus bertahan dan yang lemah harus tetap berusaha. Terakhir, Wakil Rektor III ini juga mengajak sivitas akademika untuk mengimplementasikan wejangan dan pesan dari founding fathers UMM, Prof. Malik fadjar. Di antara pesannya yakni senantiasa berpikir positif, optimis dan berlaku sederhana. Ada juga menghindari kesombongan serta siap sedia membantu sesama dan gotong royong. “Sekali lagi saya mengajak semua peserta untuk terus tumbuh untuk menjaga sekaligus merawat bangsa dan negera Indonesia ini,” tutupnya. Tidak hanya berhenti pada gelaran upacara, rentetan acara dilanjutkan dengan sepeda santai dan jalan mengitari kampus. Pelaksanannya juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat, mulai dari penggunaan masker, handsanitizer, serta menjaga jarak satu sama lain. Kemudian ditutup dengan pembagian hadiah bagi para peserta yang beruntung. (wil)
Konferensi Internasional FKIP UMM Kaji Profesionalisme Guru

Event-event internasional senantiasa diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Satu di antaranya adalah agenda dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yakni International Conference on Education, Teacher Training, and Professional Development (ICE-TPD) pada Rabu (18/8) lalu. Kali ini, tema yang diusung adalah Global Inspiration of Teacher Professional Development. Mendukung tema tersebut, ada empat pembicara andal yang dihadirkan. Mereka adalah Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd (UNESA), Assoc. Prof. Tony Loughland (University of New South Wales, Australia), Dr. Norhaida Aman (National Institute of Education, Singapore), serta Prof. Ana Mansilla Pérez (Universitas Murcia, Spanyol). ICE-TPD ini diikuti oleh 658 lebih peserta yang terdiri dari mahasiswa, guru, dosen dan praktisi pendidikan. Adapun antusiasme peserta menjadi capaian yang luar biasa mengingat ICE-TPD ini merupakan seminar internasional yang pertama diadakan oleh FKIP UMM. Mengawali konferensi, Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes., menyatakan bahwa tujuan agenda ini adalah untuk menjadi wahana diskusi dan kolaborasi dalam mengembangkan profesionalisme guru. Sehingga para peneliti dapat membagikan pengalaman serta keilmuan yang telah dimiliki. Selain itu juga bisa menjadi tempat dalam merumuskan kebijakan pendidikan. “Kami juga ingin agar konferensi ini dapat menyediakan diskusi-diskusi menarik yang membahas kerangka pengembangan pendidikan, isu-isu terbaru, tantangan, teori, serta praktik terbaik untuk meningkatkan kualitas guru. Saling bersinergi secara kolaboratif demi menyiapkan guru profesional,”tegasnya. Sementara itu, dalam konteks pendidikan global, Noraida Aman menggarisbawahi pentingnya pemahaman guru tentang pengetahuan pedagogis. Utamanya dalam menciptakan pembelajaran di abad 21. Menurutnya, menjadi guru tidak hanya harus memahami materi yang perlu dipahami siswa. Melainkan harus tahu bagaimana menyampaikan materi tersebut. “Sehingga dalam pengembangan profesionalisme guru, pedagogical content knowledge menjadi hal yang sangat penting dan utama,” ungkapnya. Menguatkan paparan Noraida, Muchlas Amani menjelaskan pentingnya teknologi dan kolaborasi dalam profesionalisme guru. Pendidikan harus memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan perkembangannya, karena saat ini keterampilan berbasis teknologi menjadi skill yang dibutuhkan. “Kolaborasi penelitian tindakan kelas secara berkelanjutan atau C-NAR (Collaboration Nested Action Research) dalam menyiapkan guru di era digital sangatlah diperlukan,” terang Muchlas melanjutkan. Lebih lanjut, secara khusus Ana Mansilla Perez mengkaji strategi-strategi pengembangan profesionalisme guru. Menurutnya, pengembangan aspek ini memiliki hubungan erat dengan praktik mengajar yang berbasis student-oriented. Dengan demikian, inovasi dan inspirasi adalah dua hal krusial untuk meningkatkan profesionalisme guru. Terakhir, Tony membahas lebih lanjut mengenai empat prinsip program pengembangan profesionalisme guru yang efektif. Mulai dari proses desain yang harus on site atau fokus pada masalah yang ada, kemudian juga fokus kepada siswa, serta usaha yang kolektif. “Di samping itu, perlu adanya koherensi tindakan berdasarkan teori yang dilaksanakan beserta implementasinya,” tegas ahli pembelajaran profesional guru tersebut. Tidak berhenti sampai di situ, gelaran konferensi ini dilanjutkan dengan tiga sesi pararel yang mewadahi sembilan doktor baru yang dimiliki FKIP UMM. Tema-tema yang dihadirkan juga cukup menarik. Mulai dari Enhancing Bahasa Indonesia Teacher Professionalism in Responding to Globalization, Fostering Social and Personality Competence of Teachers, hingga Reinforcing Teacher Pedagogic Skill in Answering Global Challenges. Adapun hasil penelitian yang diseminarkan pada ICE-TPD ini akan dimasukkan dalam prosiding ber-ISBN. Selanjuntnya naskah-naskah terpilih akan dipublikasi pada Jurnal Ilmiah Nasional yang terindeks SINTA. Menariknya lagi, naskah terbaik akan dipandu untuk submit di Jurnal Ilmiah yang terindeks Scopus. Hal ini menjadi motivasi bagi para peserta untuk memberikan sumbangsih terbaiknya di seminar internasional tersebut. (*/wil)
Kegiatan Internasional UMM Bawa Rezka Studi ke Kanada

Berdiri sejak 1964, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah memiliki ribuan alumni yang tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah Rezka Mardhiyana, alumni Psikologi UMM yang kini tengah menimba ilmu di University of Toronto, Kanada. Kali ini, ia berbagi cerita bagaimana perjuangannya hingga akhirnya mampu menjejakkan kaki di negara yang memiliki lambang daun maple tersebut. Rezka, panggilan akrabnya bercerita bahwa perjalanannya meraih beasiswa cukup mulus. Lulus pada bulan Februari 2019, ia mampu diterima menjadi awardee beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada September di tahun yang sama. Rezka mengaku bahwa sejauh yang diingat, ia hanya menerima satu penolakan kala itu yakni dari beasiswa Australia Award Scholarship. “Kebetulan jarak antara wisuda dan batas akhir AAS cukup pendek. Jadi saya kurang persiapan. Menurut saya, persiapan adalah kunci penting dalam menggapai beasiswa,” tegasnya. Perempuan asli Banjarmasin itu menuturkan bahwa kawasan Eropa menjadi target utamanya kala itu. Hal itu tidak lepas dari rasa sukanya akan Harry Potter. Namun ternyata takdir membawanya ke tempat lain. “Akhirnya saya mengubah arah layar tujuan dan ingin berlabuh di Australia, tepatnya di Melbourne University. Alasannya agar tidak terlalu jauh, sehingga jika terjadi apa-apa di tanah air bisa lebih cepat sampai,” ungkapnya. Sayangnya, salah satu persyaratan belum bisa ia penuhi yakni nilai IELTS. Beberapa kali ia mencoba mendapatkan nilai yang dibutuhkan, namun belum bisa mencapainya. Akhirnya, ia memutar otak dan menemukan jurusan yang ia tuju tersedia di University of Toronto. Uniknya, ia sama sekali tidak mengetahui di mana lokasi negara tersebut. Rezka hanya sekilas melihat bahwa Kanada berada di kawasan Amerika Utara. Rezka mengaku kegiatannya di UMM memiliki peran penting dalam perjalanannya mendapatkan beasiswa. Mulai dari aktivitas internasional yang tersedia hingga kegiatan-kegiatan lain yang mendorongnya untuk terus berprestasi. Di samping itu juga UMM juga memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan diri melalui lembaga-lembaga yang diperuntukkan untuk mahasiswa. Ia juga sempat membagikan tempat-tempat favoritnya di sana. Salah satunya Toronto Botanical Garden. Ia menilai taman tersebut membuatnya lebih nyaman. Pun mampu menyegarkan pikiran yang kadang penuh dengan deadline tugas perkuliahan. “Saya juga suka sekali mengunjungi perpustakaan di kampus. Lokasinya yang sunyi dan strategis membuat saya lebih semangat untuk belajar,” tutur anak bungsu dari dua bersaudara tersebut. Meski tidak diterima di Melbourne, Rezka merasa bersyukur karena bisa merasakan suasana studi di negara lain yakni Kanada. Jika saja diterima di Australia, mungkin ia tidak bisa berangkat ke negara terkait karena ada pembatasan bagi mereka yang akan masuk ke negara kangguru hingga 2022. Terakhir, ia kembali mengatakan bahwa restu dan doa orang tua adalah kunci terbesar mengapa perjalanan studinya cukup lancar. “Maka dari itu, selalu sertakan peran orang tua dalam setiap usaha yang kita lakukan agar jalan yang kita tempuh menjadi lebih mudah,” pesannya di akhir. (wil)
Prodi Kehutanan UMM Raih Akreditasi Baik Sekali

Usaha dan upaya maksimal serta jalinan kerja sama yang baik antarkan Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) raih akreditasi Baik Sekali dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Perubahan akreditasi ke Baik Sekali ini tercantum dalam sertifikat akreditasi yang dikeluarkan pada Selasa (03/08) lalu. Raihan ini menjadi bukti kerja keras yang dilakukan Prodi Kehutanan UMM selama ini. Kepala Prodi Kehutanan, Dr. Ir. Joko Triwanto, M.P., mengatakan bahwa Raihan tersebut dapat dicapai berkat kerjasama dari berbagai pihak. Tidak hanya dari prodi saja tetapi juga dari berbagai unit kampus dan tim pendamping. Prodi Kehutanan UMM berhasil meraih akreditasi Baik Sekali setelah memenuhi sembilan kriteria dari BAN-PT. “Penilaian ini dilihat dari progress tiga tahun sebelum pengajuan. Jadi capaian akreditasi tersebut merupakah hal yang patut disyukuri pada masa-masa sulit seperti ini,” kata Joko. Lebih lanjut Joko menjelaskan bahwa prodi kehutanan merupakan satu-satunya prodi di UMM yang mengajukan sembilan kriteria akreditasi kepada BAN-PT. Kesembilan kriteria tersebut meliputi pendidikan, pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, sarana dan prasarana. Kemudian adapula penggunaan biaya perkuliahan, jalinan kerjasama dengan pihak luar, bentuk kerjasama, dan bagaimana proses kerjasama berjalan. “Dalam penilaian kerja sama dengan pihak luar, proses menjadi bagian yang sangat penting. Tidak hanya terbatas pada Memorandum of Understanding (MoU) saja tetapi sudah harus sampai Memorandum of Agreement (MoA). Jadi action memiliki peran penting dalam penilaian ini,” ujar dosen FPP tersebut. Dalam hal kerja sama, Joko berkata bahwa prodi kehutanan telah bekerjasama dengan berbagai taman nasional di pulau Jawa maupun luar Jawa. Terhitung, prodi kehutanan telah bekerjasama dengan 15 taman nasional seperti Alas Purwo dan Taman Nasional Bromo. Begitupun dengan Gunung Merapi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhutani (Puslitbang) di Cepu, Taman Nasional Mangrove dan lain sebagainya. “Bentuk kerja sama dengan taman nasional ini akan membantu praktek dan penelitian yang nantinya mahasiswa lakukan. Cakupan wilayah pada masing-masing taman nasional juga terhitung luas dan memadai,” terang Joko. Diakhir wawancara Joko berharap bahwa kedepannya prodi kehutanan akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Hal itu tidak leaps dari cita-cita UMM yang memiliki tag line dari Muhammadiyah untuk Bangsa. “Kami juga berharap mahasiswa akan mendapatkan praktek kerja nyata yang bagus. Pun dengan para alumni yang sanggup terserap di berbagai lapangan pekerjaan,” pungkasnya. (syi/wil)
Aktivitas Internasional UMM Antar Bayu ke Negeri Paman Sam

Impikan ke luar negeri sejak Mahasiswa Baru (Maba), Bayu Dharmala raih beasiswa fulbright scholarship Strata Dua (S2) di The University of Arizona. Alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengaku telah mengasah bakatnya dalam berbahasa inggris sejak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Meskipun SMK-nya berfokus pada bidang bodi otomotif, Bayu sapaan akrabnya telah sering mewakili sekolah pada berbagai perlombaan debat bahasa Inggris. “Saya merasa lebih berbakat di bidang bahasa Inggris di bandingkan otomotif karena itu saya memilih jurusan pendidikan bahasa inggris untuk studi Strata Satu (S1),” ungkap anak tunggal tersebut. Melihat banyak peluang ke luar negeri yang disediakan oleh UMM, Bayu bertekad untuk memperdalam kemampuan berbahasa inggrisnya dengan pergi ke negara lain. Kunjungan pertamanya ke negara orang dimulai pada tahun kedua Bayu berkuliah. Setelah beberapa kali mencoba mendaftar program pertukaran pelajar ke luar negeri, ia akhirnya mendapat kesempatan untuk menjadi mahasiswa pertukaran pelajar di Singapura selama satu bulan. “Pada tahun 2017, dua tahun setelah saya pergi ke Singapura, Saya mendapat kesempatan lagi untuk pergi ke Spanyol dengan menggunakan beasiswa Erasmus+ selama enam bulan. Kesempatan-kesempatan pergi keluar negeri ini selain untuk mengasah keterampilan berbahasa inggris, juga menjadi kesempatan bagi saya untuk menjadi bagian dari global citizen,” ungkap alumni asal Pasuruan itu. Tak sampai disitu, Bayu mulai memikirkan untuk melanjutkan pendidikannya masternya di luar negeri. Perjalanannya mendapat beasiswa ke luar negeri tidak selalu mulus. Untuk mendapatkan beasiswa fulbright scholarship ke Amerika, banyak kendala dan penolakan yang dialaminya. Bayu mengaku ditolak sebanyak delapan kali selama empat tahun. “Benar-benar perjuangan sekali untuk mendapat beasiswa S2 ini. Selain harus pintar-pintar membagi waktu untuk belajar dan bekerja, saya juga harus bolak balik melakukan tes International English Language Testing System (IELTS) maupun Test Of English as a Foreign Language (TOEFL),” kata Bayu. Saat ini Bayu sedang bergelut dengan berbagai tugas serta cuaca musim panas di Amerika. Meskipun tuntutan perkuliahan sangat tinggi, Bayu mengatakan sangat senang dengan capaiannya sekarang. “Saya bersyukur memilih Kampus Putih UMM sebagai tempat berproses. Semangat dari Muhammadiyah untuk bangsa yang dikobarkan para dosen juga menjadi pemacu semangat saya,” jelasnya mengakhiri. (syi/wil)
UMM Gelar Silaturahmi Wali Mahasiswa Baru

Dalam rangka memperkuat hubungan baik antara kampus dan wali mahasiswa baru, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda silaturahmi. Dilaksanakan pada Sabtu (14/8) lalu, Silaturahmi tersebut turut mengundang Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) sekaligus Ketua BPH UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Adapun agenda ini digelar dengan format daring mengingat keadaan pandemi yang belum membaik. Dalam sambutannya, Muhadjir menjelaskan bahwa silaturahmi ini sudha menjadi tradisi yang UMM lakukan sejak lama. Tradisi ini penting sebagai usaha untuk saling mengenal lebih dekat baik, tidak hanya secara pribadi tapi juga kelembagaan. “Silaturahmi ini juga dapat menjadi tempat penyampaian masukan dan saran baik dari orang tua, mahasiswa maupun pihak pimpinan universitas,” imbuhnya. Ia berharap akan lahir komitmen bersama untuk mencapai satu tujuan baik yakni mengantarkan para mahasiswa ke tujuan yang dicita-citakan. Tidak hanya cita-cita mahasiswa saja, tapi juga harapan orang tua bahkan juga bangsa Indonesia. Di samping itu, UMM juga memiliki cita-cita besar yang selalu digaungkan uakni menjadi gerakan pendidikan akademik dan vokasi yang berbekal semangat dari Muhammadiyah untuk bangsa. “Maka semua elemn harus saling bahu membahu untuk bisa mewujudkannya agar mampu memberikan manfaat kepada masyarakat yang lebih luas,” tegasnya. Muhadjir sempat menyinggung akan perubahan keadaan yang disebabkan oleh pandemi. oleh karenanya, ia berpesan kepada UMM untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan yang dibutuhkan agar bisa menjawab tantangan, berdaptasi dan mengahadapi berbagai perubahan. Ia menekankan agar tidak menunda dalam pemberian wawasan dan pandangan bahwa pada akhirnya mahasiswa akan terjun di dunia kerja. Terakhir, ia berpesan akan pentingnya self-planning. Bagaimana mahasiswa diajarkan bagaimana menyusun perencanaan diri, membangun cita-cita dan juga cara merealisasikannya. Menurutnya, tanpa perencanaan yang jelas dan akurat, mereka akan bingung hal apa yang harus diperbuat. “Prestasi dan reputasi yang UMM miliki akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan kerja keras dan kesungguhan dari mahasiswanya,” tutupnya. Senada dengan Muhadjir, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor mengatakan bahwa silaturahmi ini dapat membangun persepsi yang sama di antara universitas dan wali mahasiswa. Selain itu juga bertujuan untuk meminimalisir kesalah pahaman antara keduanya. “Kami juga mengucapkan selamat karena putra-putri bapak telah diterima sebagai mahasiswa UMM. Tidak semua yang mendaftar di Kampus Putih mampu lolos seleksi dan berhasil hingga titik ini,” ucapnya. Fauzan juga mengungkapkan bahwa Kampus Putih juga menyediakan pembinaan, tidak hanya di dalam kampus tapi juga di luar kampus. Berbagai organisasi intra kampus telah disiapkan untuk diikuti sesai dengan minat dan bakatnya. “Semua ini bertujuan untuk melahirkan kader-kader dan pemimpin yang sesuai dengan bidangnya di masa depan,” tegasnya. Di samping itu, ia juga sempat menerangkan menyebutkan beberapa beasiswa yang bisa diperoleh. Mulai dari bidik misi, UKT, beasiswa kader Muhammadiyah, KNB, hingga beasiswa prestasi. Ia menambahkan bahwa beasiswa prestasi ini merupakan motivasi yang disediakan agar para mahasiswa bisa terus mencetak prestasi di semua level. “UMM memiliki tagline yakni tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi yang tidak dihargai,” tutur Fauzan. Pada gelaran tersebut, diadakan pula penandatangana surat pernyataan menjadi mahasiwa UMM yang dilaksanakan oleh perwakilan mahasiswa baru didampingi oleh rektor. Kemudian dilanjutkan dengan agenda pertemuan dengan jajaran dekanat di masing-masing fakultas. (wil)
UMM Langsungkan UTBK FK-Farmasi dengan Prokes dan Keamanan Ketat

Setelah diundur beberapa kali karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhirnya digelar. Ujian yang dilaksanakan untuk menyeleksi calon mahasiswa baru Fakultas Kedokteran dan Farmasi ini memiliki dua format yakni daring dan luring. Adapun gelaran yang dilangsungkan pada 10-15 Agustus ini diikuti oleh 997 peserta Kedokteran dan 220 untuk Farmasi. Dr. Ir. Suwarsono, MT. selaku ketua pelaksana UTBK mengatakan bahwa ujian gelombang dua ini dilakukan dengan protokol kesehatan yang lebih ketat dari sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari pelaksanaannya yang masih berada di dalam PPKM. “Seharusnya ujian ini dilangsungkan pada akhir Juli lalu namun diundur karena ada PPKM. Kemudian diundur kembali karena adanya perpanjangan pembatasan tersebut. Hingga akhirnya kami selenggarakan pada beberapa hari ini,” tegasnya. Dijelaskan Suwarsono, beberapa hal yang dilakukan yakni dengan menyediakan masker, pengecekan suhu, handsanitizer, sarung tangan medis dan lainnya. Jumlah peserta dalam satu ruangan juga dikurangi yakni tidak lebih dari sepuluh orang. “Kami juga menyiapkan metal detector untuk meminimalisir kecurangan. Pun bekerja sama dengan kepolisian untuk memeriksa ruangan maupun peserta,” tuturnya. Terkait format ujian yang disediakan, ia menjelaskan ada dua yakni luring dan daring. Adapun kebijakan ujian daring ini diambil dan diperuntukkan bagi mereka yang berada di rayon merah Covid-19. Mereka diwajibkan untuk menggunakan satu laptop atau komputer dan dua kamera. “Satu kamera untuk merekam gambar peserta dan satu lagi utuk merekam keadaan sekitar. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan adanya joki. Porsi peserta yang diterima dari kedua format ini juga dibedakan nantinya,” tambahnya. Terakhir, Suwarsono berharap ujian gelombang dua Fakultas Kedokteran dan Farmasi UMM ini bisa menyeleksi dan mendapatkan mahasiswa baru yang berkualitas. Hingga nantinya bisa melahirkan lulusan-lulusan yang menebar manfaat bagi masyarakat luas. Sementara itu, salah satu peserta UTBK Sintia Rahmawati mengatakan bahwa sebelum masuk ruangan, ia harus melewati deretan protokol kesehatan. Di samping itu juga harus melewati pengecekan keamanan dengan metal detector. “Protokol kesehatan dan keamanannya cukup ketat. Hanya ada segelintir peserta ujian saja di ruangan saya,” tuturnya. Calon mahasiswa asal Kabupaten Bintuni, Papua Barat ini mengaku bahwa perjuangannya untuk bisa mengikuti tes luring ini cukup panjang. Dari kediamannya, ia harus menempuh waktu selama tujuh jam. Kemudian terbang menuju pulau Jawa dan sampai di Malang. “Kebetulan saya ditemani oleh ayah saya. Semoga perjuangan saya berbuah manis dan diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UMM,” pungkasnya. (wil)
Sukses Jadi Youtuber, Dosen UMM Ini Ceritakan Keunikan India

Negara India memiliki beragam hal unik yang tersembunyi. Mulai dari film ikonik, rempah-rempah yang khas, hingga keunggulan di bidang teknologi dan transportasi. Menariknya, semua hal itu telah diulas dengan apik oleh salah satu dosen Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kanal Youtubenya yang memiliki lebih dari 499.000 subscriber. Ia adalah Mohammad Agoes Aufiya, S.Ip, M.A, M. Phil. yang kini tengah menempuh studi doktoralnya di India. Adapun UMMTalk berkesempatan mengundangnya dan menyibak rahasia sukses kanal Youtubenya pada Sabtu (7/8) lalu. Dosen Prodi Hubungan Internasional ini mengungkapkan bahwa ada berbagai alasan mengapa ia membuat konten tentang India. Terlepas karena dia memang studi di negara Bollywood itu, menurutnya India memiliki keunikan yang menarik. Ada banyak kontradiksi di negara tersebut. Misalnya saja masih ada yang menggunakan sapi sebagai penarik kendaraan padahal sudah ada kendaraan canggih MRT di ibukota New Delhi. “Ada beberapa orang yang dikenal sebagai orang terkaya di Asia, tapi juga ada banyak masyarakat yang hidupnya pas-pasan bahkan miskin. Keadaan yang bertolak belakang inilah yang menjadikan negara Bollywood ini menarik dan unik,” tambahnya. Agoes yang kini menempuh pendidikan di Jawaharlal Nerhu University mengatakan bahwa bahasa, budaya serta sistem pemerintah juga bisa menjadi bahan yang asyik untuk diceritakan. Ia memberi contoh beberapa kata yang tidak perlu diucapkan ketika berkomunikasi. Cukup hanya dengan gestur kepala khas India. Begitupun ucapan terima kasih yang seringkali disampaikan menggunakan gestur khas tersendiri. “Jadi awal-awal di India, saya sempat heran karena orang-orang tidak mengucapkan terimakasih. Malah memberikan gesture geleng-geleng kepala. Hingga beberapa minggu kemudian, saya paham gerakan-gerakan tersebut yang bermakna terima kasih,” ungkapnya. Selain bahasa, hal unik lain yang bsia ditemui adalah sistem kasta yang sudah ada sejak ratusan tahun lamanya. Deretan kasta yang ada terdiri dari Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan di luar kasta namanya Dalit. Menurutnya, sistem kasta ini susah dihilangkan dalam budaya India karena pernikahanan di negeri tersebut hampir 90% adalah dijodohkan. “Perjodohan ini dilakukan dan menjadi tradisi dalam rangka menjaga harkat dan martabat dari keluarga agar sesuai dengan kastanya. Jarang sekali kita menemui pernikahan beda kasta,” imbuhnya. Tidak dipungkiri Agoes bahwa diskriminasi masih tetap ada di India, tetapi diskriminasi kasta secara negatif sudah dilarang oleh pemerintah setempat. Sedangkan diskrimasi positif memberikan porsi kepada kasta rendah untuk tetap belajar di universitas. Bahkan juga diberi porsi untuk bekerja sebagai Pegawai Negeri meskipun kecil. Lebih lanjut, ia juga menerangkan situasi dan kondisi pandemi di India yang sempat mnejadi bahan perbincangan di dunia global. Dosen asal Kalimantan Selatan ini mengatakan bahwa penanggulangan Covid-19 sebenarnya cukup baik. Pun dengan angka kematian yang berangsur menurun. India juga berhasil memproduksi vaksin untuk menanggulangi pandemi. Bahkan menjadi salah satu produsen vaksin terbesar di Dunia. “Faktor inilah yang membuat angka positif virus Corona melandai akhir-akhir ini,” ungkapnya. Agoes kembali mengatakan bahwa penanganan cepat yang dilakukan pemerintah juga menjadi hal menarik. Kini, kesehatan yang menjadi proritas pertama, sementara ekonomi berada pada prioritas nomor dua. Masyakarat juga berhak mendapatkan bantuan, baik itu sandang dan pangan. “Usaha-usaha ini menjadi upaya pemerintah India untuk menekan angka Covid-19. Gerakan dan penanggulangan cepat ini juga bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menangani Covid-19 agar bisa lebih baik lagi,” tutupnya. (haq/wil)