Viral Pernikahan Anak-Anak, Begini Kata Dosen UMM

Belakangan viral di jagat media sosial anak-anak yang sudah menikah. Padahal sudah ada penetapan batas usia minimal menikah menjadi 19 tahun bagi pria dan wanita melalui revisi Undang-Undang Perkawinan tahun 2019. Itu merupakan langkah signifikan pemerintah Indonesia dalam upaya menekan angka pernikahan dini. Namun, realita di lapangan menunjukkan tingginya permohonan dispensasi nikah, memunculkan diskursus kompleks mengenai kedewasaan, faktor pemicu, dan solusi yang lebih komprehensif. Idaul Hasanah, S.Ag., M.H.I., Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa perubahan regulasi tersebut didasari oleh pertimbangan matangnya usia individu. “Kalau di Indonesia, sejak adanya perubahan undang-undang perkawinan tahun 2019, usia penikahan, usia menikah, batasan usia menikah itu 19 tahun, baik laki-laki dan perempuan,” ujarnya. Sebelumnya, merujuk pada Undang-Undang tahun 1974, batas usia menikah bagi perempuan adalah 16 tahun dan laki-laki 19 tahun. Perubahan ini, menurutnya, adalah upaya untuk mencegah perceraian akibat pernikahan di usia yang belum matang. “Upaya untuk meningkatkan batas usia pernikahan itu untuk mencegah percerian karena banyak usia yang belum matang. Jadi usia 19 itu dianggap sudah matang,” tambahnya. Dari perspektif hukum Islam, Ia memaparkan bahwa kajian fikih tidak menetapkan batasan usia pernikahan secara spesifik, kecuali pandangan Imam Abu Hanifah dari madzhab Hanafi yang memberikan batasan 15 tahun. Umumnya, patokan dalam Islam adalah baligh (dewasa untuk ibadah) dan rusydah (kematangan untuk muamalah atau urusan sosial-ekonomi). “Dewasa dalam baligh itu ada dua yakni baligh dan rusydah. Baligh itu dewasa untuk masalah ibadah. Sedangkan kalau masalah muamalah ukurannya adalah rusydah, kematangan,” jelas Ida. Ia juga menggarisbawahi pergeseran standar kematangan seiring waktu. Menurutnya, semakin ke sini, kematangan itu semakin mundur. Misalnya saja Usamah bin Zaid yang berusia 15 tahun pada masa Rasulullah sudah dianggap matang dan menjadi panglima. Kondisi yang berbeda bisa dilihat pada remaja saat ini. Ida menambahkan, meski ada batasan usia 19 tahun, pasangan di bawah umur tetap dapat menikah melalui mekanisme dispensasi nikah yang diajukan ke Pengadilan Agama. “Jadi pasangan yang belum mencapai usia 19 tahun, harus mengajukan dispensasi nikah ke pengadilan agama. Fenomena ini nyatanya marak karena berbagai faktor dan alasan,” terangnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hakim akan meneliti kelayakan pasangan sebelum mengabulkan permohonan dispensasi. Namun, ia mengakui bahwa sebagian besar permohonan dikabulkan dengan salah-satu faktor sudah hamil duluan. Akibatnya, hakim seringkali tidak memiliki pilihan selain mengabulkan permohonan tersebut. Menyoroti solusi, Ia menekankan peran sentral keluarga dan pendidikan. Menurutnya, anak-anak yang memiliki prinsip, visi, dan cita-cita yang ditanamkan keluarga tidak akan mudah terjerumus dalam pernikahan dini atau pergaulan bebas yang berujung pada married by accident. Untuk ke depan, Ia sepakat dengan batasan usia 19 tahun namun dengan proses dispensasi kawin yang lebih diperketat. Ia kembali menegaskan pentingnya pendidikan, bukan hanya sebagai tugas pemerintah atau sekolah, tetapi juga masyarakat luas. “Pendidikan itu penting. Pendidikan itu tidak hanya tugas pemerintah, tapi juga masyarakat,” pungkasnya. (*)
Ajak Desa, Sosiologi UMM Diskusi Perencanaan Pembangunan Desa

Bagaimana cara menggerakkan kolaborasi antar RW dalam mengatasi masalah sampah di Desa Bulukerto? Bagaimana cara meyakinkan pemanfaatan pupuk organik di kalangan petani? Itu menjadi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Ketua KSM Desa Bulukerto Bukhori dan Petani Dusun Cangar Ari kepada 40 mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka tergabung dalam Presentasi Hasil Mata Kuliah Perencanaan Desa dan Kota dengan terjun langsung ke warga. Adapun agenda itu berlangsung di Pendopo Desa Bulukerto Kota Batu, 29 Mei 2025. Menurut Dosen Sosiologi UMM, Rachmad K Dwi Susilo, diskusi itu mencerdaskan bagi sivitas akademik UMM, mahasiswa, dan juga pemerintah desa. Sebagai ilmu yang berusia lama, sosiologi memiliki kompetensi pada perencanaan wilayah. Maka dari itu, mahasiswa harus kaya dengan data-data lapang. “Selain itu, kita bisa melihat bahwa selama ini perencanaan banyak abai kepada data-data sosiologis mutahir. Belum lagi impelementasi perencanaan tersebut yang tidak berbasis partisipasi warga,” tegasnya. Sebagai produk ilmiah, presentasi mahasiswa tidak hanya berbasis opini, tetapi lima kelompok melakukan riset selama satu semester. Setiap kelompok yang beranggotakan lima mahasiswa diwajibkan membuat desain perencanaan yang mengangkat isu strategis desa yaitu Pengembangan Pelayanan Sosial, Pengembangan Desa Wisata, Program Posyandu Disabilitas, Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas dan Pertanian Berkelanjutan. Sementara itu, bahan presentasi dikerjakan melalui riset lapang secara intensif selama satu semester. Dibentuk dalam lima kelompok, mahasiswa melakukan pengumpulan data bersama stakeholders di lapang. Mereka wawancara, observasi dan studi dokumen. Data-data itu diperkaya secara akademis melalui diskusi-diskusi di kampus. Di kampus inilah data lapang dipertajam dengan konsep, teori dan metode-metode perencanaan. Barulah setiap kelompok mempresentasikan hasil temuan dihadapan perangat pemerintah desa dan tiokoh-tokoh masyarakat. Di sisi lain, Suhermawan selaku Kepala Desa Bulukerto mengatakan kegiatan ini sangat bermanfaat karena ada dialog pengetahuan antara kampus dengan perangkat desa yang akhirnya sama-sama berkolaborasi demi kemajuan Desa Bulukerto. “Mental lapangan mahasiswa terbentuk dengan persoalan lapang riil dan perangkat pemerintahan desa juga memeroleh data-data lapangan yang banyak, sehingga memperkaya pelaksanaan RPJMDes,” katanya. (*/wil)
FLSP UMM, Program Wajib yang Bikin Mahasiswa UMM Jago Bahasa Inggris

Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipadati ratusan mahasiswa pada Selasa, 27 Mei 2025, dalam agenda Wisuda Foreign Language for Specific Purposes (FLSP). Berbeda dari wisuda akademik pada umumnya, agenda yang dibalut dengan ajang Festaphoria ini menjadi bentuk apresiasi atas keberhasilan mahasiswa dalam menempuh mata kuliah FLSP yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa UMM. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa angkatan 2023 dari semua fakultas yang telah menyelesaikan mata kuliah FLSP. Melalui program ini, mereka telah menjalani proses pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sebagai bekal menghadapi dunia internasional. Sebagai bentuk evaluasi akhir, mahasiswa juga diwajibkan mengikuti post test untuk mengukur capaian pembelajaran selama program berlangsung. Acara wisuda juga dihadiri oleh Wakil Rektor III, Dr. Nur Subeki, ST., MT., yang memberikan apresiasi atas kerja keras para mahasiswa. Ia menekankan bahwa penguasaan bahasa asing bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga merupakan kunci penting dalam membangun masa depan. “Komunikasi dan kepercayaan diri. Jadi masa depan sudah ada di depanmu. Dan hari ini saatnya kalian merayakan wisuda atas terselesaikannya kelas FLSP. Kami memberi apresiasi atas kerja keras yang telah kalian berikan kepada UMM. Bahasa Inggris akan membuat kalian bisa membanggakan negeri ini,” ujarnya dalam sambutan. Adapun Program FLSP memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, terutama dalam meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi menggunakan bahasa asing. Pengalaman ini memperkuat kesiapan mereka menghadapi dunia internasional, termasuk peluang beasiswa dan program pertukaran seperti Erasmus atau IISMA yang difasilitasi oleh UMM. Dengan demikian, FLSP menjadi langkah awal penting bagi mahasiswa untuk bersaing di ranah global. Sebagai bentuk penghargaan lebih, UMM juga memberikan apresiasi khusus kepada mahasiswa yang meraih predikat terbaik dalam program ini. Momen mengharukan terjadi ketika diumumkan nama Kayla Chinta Bilbina, mahasiswa program studi Hubungan Internasional (HI) angkatan 2023, sebagai peraih predikat Best Graduate Universitas. Dalam pernyataannya, Kayla mengaku terkejut dengan pencapaian tersebut karena merasa tidak pernah menonjol secara akademik sebelumnya. “Saya tidak menyangka bisa jadi best graduate. Sejak sekolah dulu saya tidak pernah punya prestasi yang membanggakan. Bahkan sempat merasa minder. Tapi ternyata usaha yang konsisten tidak pernah sia-sia. Momen ini sangat berharga bagi saya,” kata Kayla. Wisuda FLSP 2025 menegaskan komitmen UMM dalam membekali mahasiswanya dengan kemampuan berbahasa asing sebagai bekal menghadapi era global. Tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, UMM juga menyiapkan generasi yang siap menembus batas dunia melalui kekuatan bahasa dan budaya. (vin/wil)
UMM Lepas Ratusan Kontingen Atlet Berlaga di Pompov dan Porprov Jatim

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan sebanyak 120 atlet unggulan yang akan bertanding di berbagai cabang olahraga pada Ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi Jawa Timur (POMPROV Jatim) III 2025. Mereka dilepas langsung oleh Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. pada 27 Mei. Ini menjadi bentuk nyata komitmen kampus dalam mendukung pengembangan bakat dan minat mahasiswa di luar ranah akademik. Nazar menekankan pentingnya olahraga dalam membentuk karakter mahasiswa unggul. Ia menyampaikan bahwa kegiatan olahraga, dalam bentuk dan cabang apapun, memiliki keterkaitan erat dengan keberhasilan akademik mahasiswa. “Secara statistik, sangat sedikit mahasiswa aktif di dunia olahraga yang gagal dalam studi. Mereka justru terbukti mampu menyeimbangkan antara akademik dan latihan fisik. Hal ini menjadi bukti bahwa atlet adalah pribadi-pribadi yang tangguh secara mental dan disiplin dalam mengelola waktu,” ujarnya. Tak hanya memberikan pesan kepada para atlet, Prof. Nazaruddin juga mengingatkan para pembina dan manajer tim untuk selalu memperhatikan kebutuhan dan kondisi para atlet selama kompetisi berlangsung. UMM selalu mendukung penuh berabagi aktivitas produktif yang mahasiswa miliki. “Jangan sampai ada kekurangan dalam aspek apapun. Pastikan semua kebutuhan anak-anak kita terpenuhi agar mereka dapat bertanding dengan fokus dan optimal. Keselamatan dan kesehatan mereka adalah yang utama,” tegasnya. Sementara itu, Kepala Bagian Minat dan Bakat UMM, Dr. Zainul Anwar, M.Psi., Psikolog, menyampaikan harapannya serta menggambarkan bagaimana proses pembinaan atlet dilakukan sejak mahasiswa pertama kali masuk kampus. Sejak awal masuk UMM, mahasiswa sudah melalui proses identifikasi minat dan potensi. Melalui kegiatan PESMABA, mereka diperkenalkan dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sesuai minatnya, dan dari sanalah proses pengembangan bakat berjalan secara berkelanjutan. Kontingen UMM tahun ini akan berlaga di berbagai cabang, antara lain futsal, voli pasir, voli indoor, atletik, e-sports, panjat tebing, basket, karate, taekwondo, tarung derajat, pencak silat, dan jiu-jitsu. Menurut Zainul, keikutsertaan mahasiswa ini bukanlah hal yang instan, melainkan hasil dari proses panjang sejak mereka aktif di UKM hingga menorehkan prestasi di berbagai kompetisi internal maupun eksternal. Ia juga percaya diri akan semua cabang olahraga yang diikuti memiliki berpotensi besar untuk berprestasi. “Mahasiswa yang kita kirim ini bukan hanya terpilih karena minatnya, tapi juga karena prestasinya yang telah teruji di berbagai kompetisi. Misalnya, atlet panjat tebing, tarung derajat, taekwondo, dan karate dari UMM sudah sering menjadi juara di berbagai level,” tambahnya. Sebagai penutup, Zainul mengingatkan bahwa UMM selalu memberi ruang bagi mahasiswa yang memiliki potensi non-akademik. Bagi mahasiswa yang mungkin tidak terlalu menonjol secara akademis, pengembangan bakat dan minat dapat menjadi jalur alternatif untuk berkontribusi dan berprestasi. “Antara akademik dan non-akademik tidak bisa dipisahkan. Justru keduanya harus saling mendukung agar mahasiswa tidak hanya jadi kupu-kupu – kuliah-pulang, kuliah-pulang – tetapi benar-benar berkembang sebagai pribadi yang utuh,” harapnya. (bil/wil)
Pertama di Indonesia, FH UMM Ciptakan Aplikasi Simulasi E-Court untuk Pembelajaran Persidangan

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) resmi meluncurkan aplikasi simulasi pembelajaran persidangan bernama e-Court (SIMU COURT) pada 28 Mei 2025. Platform ini menjadi bagian dari Digital Praktikum Hukum yang dikembangkan oleh Laboratorium Hukum FH UMM. Sistem ini semakin memperkuat FH UMM sebagai pelopor laboratorium digital pertama di Indonesia. Sistem inovatif ini diluncurkan dalam rangkaian kuliah praktisi bertajuk Digitalisasi Proses Peradilan: Inovasi Teknologi dalam Praktik dan Pendidikan Hukum. Adapun SIMU COURT merupakan media dan aplikasi simulasi persidangan berbasis sistem elektronik yang memungkinkan mahasiswa merasakan pengalaman praktik hukum secara realistis dan responsif . Utamanya terhadap perkembangan digitalisasi proses peradilan. Inovasi ini melengkapi platform sebelumnya seperti Metaverse Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi dan Pengadilan Negeri Virtual. Sebagai platform yang dikembangkan secara internal, SIMU COURT memperkuat posisi FH UMM sebagai pelopor laboratorium hukum digital pertama di Indonesia. Platform ini dapat diakses melalui perangkat gawai maupun laptop, memberi fleksibilitas tinggi bagi mahasiswa dalam berlatih hukum acara perdata secara profesional. Terkait sistem ini, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya mengapresiasi usaha FH UMM dalam memajukan pendidikan hukum. Ia menyebut sistem ini sebagai langkah strategis untuk menjadikan UMM sebagai bagian dari fakultas hukum terkemuka di tingkat global. “Saya sengaja hadir hari ini karena ingin belajar langsung mengenai SIMU COURT, sistem manajemen simulasi e-Court yang menurut saya adalah sebuah terobosan penting. Fakultas hukum, atau law school, idealnya tidak hanya menjadi yang terbaik di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global. UMM ingin menjadi bagian dari deretan fakultas hukum terkemuka dunia dan ini adalah awal yang baik,” ujarnya. Dalam kuliah praktisi itu, turut hadir tiga pemateri andal. Di antaranya Patanuddin, M.H. selaku Ketua Pengadilan Negeri Kota Malang Kelas 1A dan Leo Angga Permana, M.Hum. selaku Ketua Advokat Indonesia DPD Jawa Timur. Hadir juga Nur Putri Hidayah, S.H., M.H. selaku founder Legal Metaverse. Dalam paparannya, Putri menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi seperti VR dan metaverse dalam simulasi ruang sidang menjadi solusi atas keterbatasan sarana praktik di banyak fakultas hukum. “Mahasiswa hukum harus mampu lebih dari sekadar menghafal pasal. Mereka harus bisa memahami dan menyelesaikan sengketa hukum di ruang persidangan secara nyata dan tak gagap menghadapi teknologi,” ujarnya. Putri juga mengungkapkan, inovasi metaverse ruang sidang ini telah diakui secara nasional, bahkan telah dicoba langsung oleh Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Agung. Metaverse ini menghadirkan ruang sidang 3D imersif, mendekati realitas, dan bisa digunakan untuk praktik sidang Mahkamah Konstitusi maupun Pengadilan Negeri. Ia menegaskan ini bukan konsep masa depan—ini sudah nyata. “Platform ini juga mendukung praktik kolaboratif secara real-time, dilengkapi toga hakim, ruang belajar, hingga fitur penilaian langsung oleh dosen. Dengan ini, mahasiswa bisa belajar lebih fleksibel, termasuk saat mempersiapkan diri menghadapi kompetisi moot court. Metaverse menjembatani antara dunia pendidikan dan praktik hukum secara langsung dan imersif. Hukum tidak hanya perlu dipahami, tetapi juga perlu dialami,” kata Putri. (vin/wil)
Pelantikan Perhimpunan Indonesia Tionghoa Indonesia di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen kuat sebagai kampus inklusi yang berdampak besar bagi bangsa. Salah satunya dengan menjalin kerjasama dan sinergi dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Pada 27 Mei lalu, UMM menjadi tuan rumah pelantikan pengurus INTI PC Kota Malang. Adapun pemilihan UMM ini tak lepas dari kiprahnya yang berkontribusi sebagaimana semboyan ‘UMM dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Turut hadir Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.M. yang menyampaikan apresiasi atas kiprah Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kota Malang dalam bidang sosial, kesehatan, pendidikan dan pelatihan masyarakat. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan komunitas, termasuk UMM dan INTI dalam membangun bangsa. Wahyu berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus ditingkatkan. “Menjaga persatuan dalam keberagaman adalah upaya bersama dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Kolaborasi INTI, UMM, dan pemerintah diharapkan dapat menjadi mitra strategis dalam mendorong pembangunan Kota Malang yang inklusif dan beekelanjutan,” katanya. Adapun pada pelantikan itu, dosen UMM Prof. Wahyudi Winarjo M.Si. juga dilantik sebagai Ketua INTI PC Kota Malang. Ketua Umum INTI Pusat Teddy Sugianto menyampaikan apresiasi atas hubungan baik antara INTI dan UMM. Ia menegaskan pentingnya penandatanganan MoU kerja sama sebagai komitmen bersama. Teddy juga mengucapkan terimakasih kepada UMM yang telah memberi ruang bagi INTI mempererat persaudaraan lintas budaya. Ia juga mengajak semua pihak bersama-sama memberdayakan seni dan budaya lokal demi menciptakan Indonesia yang nyaman dan iklusif bagi semua. Ia menilai visi INTI sejalan dengan Muhammadiyah, yakni mendorong bangsa Indonesia yang modern dan moderat. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyambut hangat kunjungan dan kesempatan dari INTI, serta mengajak semua pihak merefleksikan semangat kebangkitan nasional dan pendidikan. Nazar menekankan bahwa UMM sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah menjunjung tinggi nilai ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Menurut Nazar, pendidikan adalah pusat peradaban, dan perguruan Tinggi harus menjadi ruang iklusif bagi semua latar belakang baik agama, sosial, bidaya, ras, suku, dan lainnya. Ia menyoroti fakta bahwa mahasiswa UMM berasal dari berbagai latar belakang agama dan suku, namun hidup dengan harmonis tanpa konflik. Melalui acara perhimpunan INTI ini, ia menyambut baik segala gerakan anak bangsa yang bertujuan menggugah kesadaran kolektif bersama. Utamanya bahwa kaum terdidik dari latar belakang aapaun harus lah dapat mengentaskan Indonesia menjadi negara yang saat ini dan masa depan. Maka dari itu, UMM juga tengah membuka Direktorat Saintek baru untuk memperkuat teknologi di bidang ketahanan pangan, energi terbarukan, dan kelestarian lingkungan. Ia berharap UMM menjadi pelopor lahirnya generasi unggul demi Indonesia yang kuat dan beradab. (din/wil)
Lagi, FKIP UMM Kirim Mahasiswa Praktik Pendidikan di Thailand

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengirimkan mahasiswanya untuk menjalankan misi pengabdian dan praktik pendidikan di kancah internasional. Sederet mahasiswa terpilih—Jesika, Camelia, Bianca, Ryan, dan Marsha—yang berasal dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini akan mengikuti program selama dua bulan, 22 Mei hingga 19 Juli 2025. Mereka ditempatkan di dua institusi mitra, yaitu Attarkia Islamic Institute di Narathiwat dan Lukmanul Hakim School di Yaha, Yala. Dekan FKIP UMM Prof. Trisakti menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap keterlibatan para mitra pendidikan di Thailand, serta dedikasi para mahasiswa yang bersedia mengemban amanah pendidikan lintas negara. “Kami memandang inisiatif kolaboratif ini sebagai bentuk nyata dari internasionalisasi pendidikan yang selaras dengan visi FKIP UMM untuk melahirkan pendidik unggul berwawasan global. Kesediaan lembaga mitra di Thailand dalam memfasilitasi program ini merupakan bentuk kepercayaan sekaligus kehormatan yang patut kami jaga dan lanjutkan secara berkelanjutan,” tuturnya. Program KKNDik Internasional ini merupakan hasil tindak lanjut dari kunjungan pihak Attarkia dan Lukmanul Hakim ke FKIP UMM pada awal tahun 2025. Dalam kunjungan tersebut, pihak mitra menyampaikan ketertarikan untuk menjalin kerja sama yang memungkinkan mahasiswa FKIP UMM berkontribusi dalam proses pendidikan di Thailand bagian selatan. Gen Phaisan Thoryib, pemilik Attarkia Islamic Institute, menegaskan bahwa pelaksanaan KKNDik ini menjadi bukti konkret dari implementasi nota kesepahaman yang telah ditandatangani kedua belah pihak. “Kami sangat terbuka dan senang menerima mahasiswa FKIP UMM. Program ini tidak hanya memperkuat hubungan antar lembaga, tetapi juga memberi warna baru bagi proses pembelajaran di sekolah kami melalui keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran kurikuler dan ekstrakurikuler,” ujarnya. Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa FKIP UMM dalam berbagai kegiatan sekolah, mulai dari pembelajaran di kelas hingga aktivitas ekstrakurikuler seperti pramuka, seni, dan kegiatan luar ruang, akan memperkaya interaksi budaya dan pendidikan antara Indonesia dan Thailand. Sementara itu, Dr. Abdul Hafiz, M.Pd, sebagai presiden MAT menyatakan bahwa mahasiswa yang ditempatkan di Lukmanul Hakim akan turut berkontribusi dalam program penguatan komunitas belajar a’la kampung Inggris di Braha Yaha. Sebagai pengelola program, Dr. Nurwidodo, M.Kes menyampaikan bahwa KKNDik Internasional Thailand memberikan manfaat yang bersifat ganda, baik akademik maupun non-akademik. Berbagai fasilitas dan manfaat akan diperoleh mahasiswa FKIP UMM dalam program ini. Fasilitas tersebut meliputi penginapan, makan dua kali sehari, dan uang saku. Mahasiswa juga akan memperoleh pengakuan akademik dalam bentuk konversi hingga 16 SKS, yang setara dengan lima mata kuliah, sesuai dengan semangat kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Sebagai bagian dari diplomasi budaya, para mahasiswa juga telah mempersiapkan sejumlah penampilan dan karya khas Indonesia yang akan diperkenalkan kepada siswa dan masyarakat Thailand. Di antaranya adalah pertunjukan wayang mini, puisi dan lagu daerah, serta batik lukis dan kain jumputan, yang akan melengkapi kegiatan utama mereka sebagai pengajar. Program KKNDik Internasional FKIP UMM di Thailand tahun ini melanjutkan kolaborasi yang telah terjalin sejak 2013, berawal dari kunjungan Ketua PP Muhammadiyah ke Raja Thailand. Selama lebih dari satu dekade, program ini berkembang melalui kemitraan dengan komunitas pendidikan Islam, termasuk MEDAT dan kini Muhammadiyah Association Thailand (MAT). Sejak 2015, ratusan mahasiswa telah terlibat dalam pengabdian lintas negara. (*/wil)
Begini Tips Bangun Rumah Murah ala Dosen Teknik Sipil UMM

Banyak pertimbangan yang harus dicek sebelum membangun rumah. Hal itu ditegaskan Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Riski Pradina Sulkan, M.T. Menurutnya, penggunaan atap esbes (asbes) untuk rumah ternyata menyimpan risiko serius bagi kesehatan pernapasan penghuninya. Pemerintah bahkan telah mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat menghindari material ini untuk atap rumah tinggal. Serat halus dari esbes yang terhirup dalam jangka panjang bisa membahayakan kesehatan. “Untuk atap rumah, sebaiknya beralih ke material yang lebih aman seperti tanah liat atau galvalum dengan lapisan peredam,” sarannya. Material atap tanah liat dinilai sebagai pilihan teraman meski membutuhkan waktu pemasangan yang lebih lama. Sementara itu, galvalum yang sedang populer belakangan ini memang menawarkan keunggulan seperti bobot ringan dan ketahanan terhadap karat, namun memiliki kelemahan berupa kebisingan saat hujan. Untuk yang menginginkan kekuatan ekstra, atap beton cor bisa menjadi alternatif meski memerlukan struktur bangunan yang lebih kokoh dan biaya yang tidak sedikit. Tak hanya soal atap, pemilihan material dinding juga perlu pertimbangan matang. Bata putih dengan volume lebih besar menawarkan kecepatan pemasangan yang lebih baik dibanding bata merah, meski harganya relatif sama. “Karena ukurannya lebih besar, total biaya bata putih mungkin lebih tinggi, tapi waktu pengerjaannya lebih singkat,” ujar Dina. Sementara itu, prikes atau plat precast menjadi pilihan modern yang mulai banyak digunakan sejak tahun 2000-an. Material ini populer untuk proyek-proyek besar seperti gedung perkantoran dan hotel karena kemudahan pemasangan dan presisinya, meski dengan harga yang lebih mahal. Kekuatan sebuah rumah tidak lepas dari pondasi yang kokoh. Dina menekankan pentingnya menyesuaikan pondasi dengan kondisi tanah dan jumlah lantai. Di daerah rawa seperti Kalimantan, kayu ulin atau bengkirai menjadi pilihan ideal karena ketahanannya terhadap air dan kelembapan tinggi. Sementara untuk rumah berlantai dua atau tiga, pondasi harus didesain lebih dalam dan besar untuk menopang beban struktur yang lebih berat. “Pastikan sloof, kolom, dan balok memenuhi standar SNI untuk keamanan bangunan,” pesannya. Membangun rumah bukan sekadar urusan material, tapi juga perencanaan yang matang. Dina menyarankan penggunaan material lokal untuk menghemat biaya tanpa mengorbankan kualitas. Selain itu, perhitungan budget yang cermat menjadi kunci utama. “Jangan memaksakan melebihi kemampuan finansial, karena ini sering menjadi penyebab proyek mangkrak di tengah jalan,” tegasnya. Ia juga mengingatkan untuk berhati-hati dalam memilih kontraktor atau tukang, memastikan adanya kesepakatan jelas sejak awal untuk menghindari praktik-praktik nakal. Dengan perencanaan matang dan pemilihan material yang tepat, membangun rumah idaman bisa terwujud tanpa harus berujung pada proyek yang terbengkalai atau membebani keuangan. Kunci utamanya adalah keseimbangan antara kualitas, biaya, dan perencanaan yang realistis. (nam/wil)
Psychoboost UMM, Ajang Meningkatkan Kesadaran Mental Health

Psychoboost Vol.3 sukses digelar BEM Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 24 Mei lalu. Psychoboost merupakan ajang kompetisi keilmuan psikologi yang mengangkat tema “Unlock Your Potential: Elevate Your Mindset, Boost Your Creativity, and Achieve the Extraordinary”. Shafiyah selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa peningkatan bahasan psikologi di media sosial menjadi pemicu utama diselenggarakannya kompetisi ini. Harapannya, Psychoboost dapat menjadi jembatan untuk mempromosikan psikologi secara lebih masif dan menjangkau khalayak yang lebih luas, sebuah langkah penting dalam meningkatkan literasi kesehatan mental di Indonesia. Mendukung adanya Psychoboost, Wakil Dekan Fapsi UMM Ari Firmanto, menegaskan bahwa olimpiade ini menjadi sarana efektif untuk menjalin silaturahmi dan aktualisasi diri. “Ada selembaran berwarna emas itu adalah golden ticket untuk masuk Psikologi UMM. Itu menjadi salah satu hadiah bagi mereka yang juara di ajang ini,” katanya. Psychoboost juga merupakan wahana yang tepat untuk menuju aktualisasi diri. Ada dua kategori utama di ajang ini, yaitu Olimpiade untuk siswa SMA yang diikuti oleh 23 tim dari berbagai penjuru Indonesia. Adapula lomba esai & poster online untuk mahasiswa yang berhasil mencuri perhatian puluhan peserta. Hasilnya pada olimpiade Tim Mentix dari Sekolah Thursina International Islamic Boarding School berhasil meraih Juara 1 Olimpiade Psychoboost Vol.3, disusul oleh Alka Smart sebagai Juara 2, dan Biskuat menempati posisi Juara 3. Para pendamping secara khusus menyoroti tingginya minat anak-anak untuk berpartisipasi, menegaskan pentingnya acara ini terus diadakan. Salah seorang peserta tim mengungkapkan alasan keikutsertaannya karena tertarik dengan topik yang diangkat, terlebih mereka sudah “melek” terhadap isu kesehatan mental. (bil/wil)
Viral Grup Facebook Menyimpang, Begini Kata Dosen Psikologi UMM

Belakangan, viral isu penyimpangan konten seksualitas yang dibagikan oleh salah satu akun komunitas online di Facebook. Hal ini membuaat Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pandangannya dari kaca mata psikologis. Udi Rosida Hijrianti, M.Psi. Psikolog, mengungkapkan bahwa dalam kasus ini terdapat setidaknya dua fenomena kelainan seksual yang tergolong ke dalam gangguan psikologis, yaitu inses dan pedofilia. Pada dasarnya, wajar jika manusia memiliki hasrat seksualitas. Namun, menurutnya inses dan pedofilia ini adalah penyimpangan dan tidak dibenarkan secara budaya, moral, dan agama. Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Edisi kelima (DSM-5- TR), inses dan pedofilia termasuk dalam kategori parafilia atau penyimpangan seksual. Inses (Incest) merupakan ketertarikan hasrat sekssual terhadap anggota keluarga atau kerabat. Sedangkan, pedofilia adalah ketertarikan seksual kepada anak-anak. Udi menyebut bahwa kedua perilaku ini sangat beresiko dan dapat menyebabkan dampak psikologis serius pada korban. Seperti trauma, depresi, gangguan kecemasan, maupun gangguan perkembangan emosional dan sosial lainnya. “Sayangnya, dalam situasi ini korban menjadi orang yang paling dirugikan. Korban akan dihantui perasaan bersalah, merasa tidak berharga, dan menarik diri dari lingkungan sosial selama belum ada penerimaan dari dirinya sendiri,” kata Udi. Kedua kasus ini merupakan kondisi kelainan seksual seseorang yang disebabkan oleh banyak faktor. Diketahui, beberapa diantara para pelaku inses dan pedofilia pernah menjadi korban serupa di masa lalu. Ini memperkuat resiko terjadinya siklus kekerasan seksual lintas generasi. Faktor pemicunya kerap berasal dari lingkungan keluarga yang tidak sehat, seperti budaya patriarki ekstrim maupun riwayat mengalami kekerasan fisik dan seksual sebelumnya. Dan umumnya, hal ini terjadi secara terus menerus, sehingga membentuk karakter atau kepribadian korban untuk akhirnya menjadi pelaku. Lebih lanjut, Ia menyampaikan faktor eksternal lainnya juga dapat mempengaruhi. Seperti tontonan pornografi, gangguan kepribadian, serta lingkungan sosial seperti kemiskinan, dan pendidikan yang rendah. Meski demikian, faktor utama tetap berasal dari gangguan psikologis pelaku. Penyimpangan seksual tersebut bisa menimbulkan dampak serius, mulai dari gangguan psikologis pada korban hingga kecacatan pada anak hasil hubungan sedarah. Melihat kasus ini, penanganan yang tepat dan konsisten terhadap pelaku perlu dilakukan. Yakni, dengan intervensi secara psikologis melalui Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengubah distorsi kognitif dan keyakinan yang menyimpang. Untuk itu, penanganan medis dari psikiater juga diperlukan untuk mengontrol dorongan seksual pelaku. Disamping itu, bagi korban anak-anak, terapi bermain (play therapy) dan CBT dibutuhkan untuk mengatasi trauma dan mengembalikan rasa percaya diri anak. Selain itu, dukungan dari keluarga dan orang sekitar korban menjadi sangat penting dalam proses pemulihan. “Apalagi memang anak anak tidak bisa dengan mudah mengungkapkan dengan terus terang pengalamannya. Biasanya hal-hal tersebut akan mereka utarakan sembari mereka bermain,” Udi melanjutkan. Anak korban inses dan pedofilia membutuhkan dukungan penuh keluarga, dijauhkan dari stigma negatif, serta mendapatkan perlindungan hukum. Perlindungan dari KPAI, Dinas Sosial, dan Kepolisian sangat dibutuhkan. Pendidikan Seksual Sehat melalui seminar dan psikoedukasi penting untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa depan. Kemudian, masyarakat juga harus lebih aware dan bijak menyaring konsumsi konten digital. Tak hanya itu, dalam kasus ini keterlibatan hukum sangat penting guna memberikan efek jera kepada pelaku, serta menciptakan rasa aman bagi para korban. (din/wil)