Begini Tips Dosen UMM sebelum Mengambil Rumah KPR

Saat ini, memiliki rumah sendiri adalah impian banyak orang. Namun pilihan cara untuk mencapainya seringkali menjadi dilema. Yakni antara Ingin segera beli dengan cash atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal itu mendorong Kenny Roz, M.M. selaku Dosen Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memberikan pendapat dan analisis mendalam terkait plus-minus dari kedua pilihan ini. Dia mengatakan, bagi kebanyakan masyarakat, KPR kini menjadi jalan paling realistis untuk dapat memiliki properti dengan cara cepat. Selanjutnya, dengan menggunakan KPR, masyarakat tidak perlu lagi menunggu lama untuk mengumpulkan dana ratusan juta untuk membeli rumah. Selanjutnya, pemerintah saat ini juga memberikan insentif bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), seperti dengan skema Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). Hal ini memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. “Sebagai contoh bunga tetap 5% per tahun selama masa tenor hingga 20 tahun untuk fleksibilitas. Selain itu kini banyak bank menawarkan DP ringan bahkan 0%, serta tenor yang dapat disesuaikan dari 10 hingga 25 tahun. Hal ini membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda dan pekerja informal untuk mulai memiliki rumah,” katanya. Namun, perlu diingat jika KPR ibarat pisau bermata dua. Resiko terbesar adalah ketidakmampuan membayar akibat PHK atau sakit. Jika cicilan menunggak, bank berhak menyita rumah. Maka dari itu, ia menilai bahwa salah satu solusinya yakni memastikan diri memiliki asuransi jiwa dan proteksi penghasilan. Di samping itu juga cermat dalam menghitung total bunga untuk pinjaman Rp500 juta dengan bunga flat 10% selama 20 tahun. Total bunganya bisa mencapai Rp500 juta dengan total pembayaran menjadi Rp1M. Kemudian, menurutnya, membeli rumah secara cash lebih baik karena dapat menghindari bunga dan menjamin kepemilikan penuh. Namun, perlu ada pertimbangan lain terkait apakah dana tersebut bisa digunakan untuk investasi lain yang lebih produktif. Jadi, pembelian cash cocok bagi yang mengutamakan keamanan dan bebas dari utang, sedangkan KPR cocok untuk optimalisasi dana. Kenny juga membagika tips praktis untuk masyarakat yang baru pertama kali mengajukan KPR. Salah satunya seperti menghitung kemampuan finansial. Menurutnya, cicilan idealnya maksimal 30–35% dari penghasilan bulanan. Kemudian cermat dalam memilih bank dengan reputasi baik dan bunga kompetitif serta membandingkan tenor dan skema bunga (fixed vs floating). “Siapkan DP dan biaya tambahan lain seperti notaris, asuransi, dan pajak, gunakan simulasi KPR dari bank atau aplikasi fintech untuk melihat proyeksi cicilan dan baca dengan teliti dan hati-hati seluruh perjanjian kredit secara teliti,” katanya. Ke depannya, Kenny memprediksi KPR akan semakin terjangkau berkat digitalisasi. Proses pengajuan online, integrasi dengan program smart city, dan skema cicilan fleksibel akan mempermudah milenial dan pekerja informal. “Pemerintah dan perbankan juga perlu menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan keadilan sosial, agar rumah sebagai kebutuhan primer tetap terjangkau dan inklusif,” tutupnya. (nam/wil)
Belasan Mahasiswa Kehutanan UMM Siap Berkarir di Jepang

Aspek kehutanan menjadi bidang penting, termasuk pada kerjasama Indonesia dan Jepang. Terbaru, 15 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kesempatan turut pada program intensif di Jepang. Hal itu didorong oleh kerjasama dan penandatanganan MoU yang dilakukan oleh UMM, Kyushu Bark Transport Ltd, NOSUTA, dan Pemerintah Kota Soeda Jepang yang langsung diwakili walikotanya. Kerjasama itu diresimkan pada 10 Juni lalu di Jepang. Adapun para program ini, para mahasiswa akan menjalani pelatihan selama tiga bulan di fasilitas milik Kyushu Bark Transport di Kota Soeda. Ada berbagai pelatihan yang akan diberikan, termasuk mengenai sertifikasi kompetensi kehutanan Jepang. Ini akan menjadi bekal penting sebelum mengikuti ujian keterampilan spesifik kehutanan yang mana merupakan syarat utama mendapatkan visa pekerja di Jepang. NOSUTA juga berperan penting dalam memfasilitasi mahasiswa serta pelatihan bahasa Jepang. Terkait hal ini, Presiden Direktur Kyushu Bark Transport, Hayashi Koichi, menekankan pentingnya kolaborasi ini demi keselamatan kerja dan keberlanjutan industri. Menurutnya, pekerjaan di bidang kehutanan memiliki resiko yang cukup tinggi. Maka, ia percaya bahwa SDM yang dihasilkan UMM akan mampu menghadapinya dengan berbagai persiapan. “Kita juga harus memastikan integrasi pekerja kehutanan Indonesia ke dalam komunitas lokal Jepang bisa berjalan lancar. Dengan begitu, pekerja dapat merasa nyaman berkarir dalam jangka panjang. Kerjasama ini tentu akan membuka pintu dan peluang SDM Indonesia berkarir di Jepang,” tegasnya. Di sisi lain, Kepala Program Studi Kehutanan UMM, Galit Prakosa, menjelaskan bahwa mahasiswa yang mengikuti program ini adalah mahasiswa program sarjana Kehutanan yang telah menempuh pendidikan selama 3,5 tahun. Mereka sudah memiliki keilmuan yang mencukupi sebagai bekal berkarir di Negara Sakura itu. “UMM memang selalu berkomitmen untuk mencetak SDM yang mumpuni. Apalagi dalam kerangka Center for Future Work UMM, kami berkomitmen menghadirkan program pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan industri,” jelasnya. Adapun inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap diterbitkannya kategori visa baru, yaitu visa Pekerja Berketerampilan Spesifik bidang Kehutanan (SSW Kehutanan). Visa ini dirancang untuk mengatasi masalah berkurangnya tenaga kerja di sektor kehutanan Jepang. Berdasarkan data terakhir tahun 2020, rata-rata usia pekerja kehutanan Jepang adalah 52 tahun. Sehingga ini adalah peluang besar bagi generasi muda Indonesia untuk berkontribusi secara global. (*/wil)
Muhadjir Effendy Beberkan Kondisi Kampung Haji Indonesia di Makkah

Pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah menjadi perbincangan yang hangat. Penjelasan menarik juga disampaikan oleh Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof. Muhadjir Effendy. Ia mengatakan, ada dua agenda strategis dalam diplomasi haji yang menjadi amanat Presiden RI. Yakni pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah dan penggunaan Bandara Taif sebagai entry point alternatif untuk jemaah haji Indonesia. Muhadjir yang juga merupakan Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, sudah berdiskusi dengan menteri perhubungan dan menteri agama serta mendampingi pihak investor yang berminat membangun Kampung Haji. Bahkan, ia juga langsung meninjau Bandara Taif. Menurutnya, Bandara Taif dinilai sangat potensial karena memiliki dua runaway yang dapat menampung pesawat berbadan besar. Selain itu jaraknya yang hanya sekitar 70 km dari Makkah juga bagus. Apalagi bandara ini beropreasi 24 jam penuh dengan dukungan 11 maskapai. “Jika bisa ditambah 10 slot penerbangan per hari, ini akan mempercepat proses pemulangan jemaah dan mengurangi masa tinggal yang selama ini membebani biaya haji,” tegas Muhadjir. Muhadjir juga menyampaikan visi Presiden Prabowo agar penyelenggaraan haji tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual, namun juga sebagai peluang membangun ekosistem ekonomi global umat Islam. “Di Alquran disebutkan bolehnya bertransaksi saat haji. Ini bisa jadi momentum membangun pusat transaksi tahunan antarnegara Islam. Kampung Haji dapat menjadi titik awalnya. Pemerintah juga berhati-hati dalam memilih investor dan kemungkinan Juli ini Presiden akan bertemu dengan Raja Salman,” tambahnya. Terkait pelaksanaan haji 2025, Muhadjir mengatakan bahwa secara umum semua berjalan baik. Tentu ada beberapa tantangan karena adanya beberapa perubahan kebijakan dari Arab Saudi. Namun ia menilai bahwa Indonesia sudah menyesuaikan diri dengan baik. Ini menjadi bukti bahwa kualitas pengelolaan haji Indonesia cukup mumpuni. Salah satu perubahan besar adalah sistem syarikah yang kini bertambah dari satu menjadi delapan, sementara sistem haji Indonesia masih berbasis kloter. Hal ini menuntut adaptasi cepat dari tim dan petugas haji Indonesia. Di sisi lain Muhadjir juga menyoroti distribusi makanan siap saji untuk jemaah. Ia memberikan ide agar distribusi makanan dilaksanakan bukan berbasis kelompok karena ditakutkan menimbulkan ketimpangan. Namun sebaiknya diberikan berdasarkan nama. (*/wil)
Empat Buku Karya Dosen-Mahasiswa Ekos UMM Dibedah

Banyak pemikiran ekonomi Islam berkemajuan yang muncul dalam diskusi bidang ekonomi syariah yang dilaksanakan Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan pada 3 Juni lalu ini sekaligus menjadi wadah bedah buku hasil karya dosen dan mahasiswa Ekos UMM. Turut hadir Prof. Dr. Raditya Sukmana, MA, Ph.D. sebagai pakar ekonomi Islam di Indosia. Paling tidak ada empat buku yang dibahas dalam kesempatan itu. Buku pertama yang dibedah adalah ‘Strategi Peningkatan Ekspor Industri Manufaktur Indonesia: Tinjauan Analitis’ yang ditulis Dr. Muslikhati, SE, ME. Dalam ulasannya, disebutkan buku tersebut sangat menarik tidak hanya untuk meningkatkan ekspor sehingga menambah devisa tetapi juga menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran. Harapannya buku tersebut bisa menjadi referensi pengambil kebijakan. Menariknya, ada buku karya mahasiswa prodi Ekos UMM berjudul ‘Mudharabah 4 Madzhab’ karya Abiyyu Satrio Pranoto, Ari Andresta dan Andi Faizah. Ketiganya menulis dengan sangat komprehensif membahas mudharabah di mana pembahasan ini sangat penting untuk membedakan satu akad antara bank konvensional dengan bank syariah. Satu catatan dari Raditya terhadap buku ini adalah perlunya tambahan background pendidikan untuk menunjang kredibilitas. Berikutnya, Raditya membedah buku yang ditulis Dr. Rahmad Hakim, S.HI, M.MA, berjudul ‘Religiusitas, Ekonomi Syariah dan Kedermawanan’. Secara umum ia menjelaskan bahwa buku tersebut memberikan gambaran tentang judi online dan bagaimana menyikapinya. Selain itu juga bagaimana kemandirian ekonomi UMKM. Bahkan buku ini juga dilengkapi pembahasan terkait bagaimana pendidikan atau perkembangan kurikulum ekonomi syariah di insititusi pendidikan. Termasuk pembahasan bidang kesehatan, dimana ekonomi syariah tidak bisa dilepaskan dari hal ini. Terakhir, ia juga memberikan komentar umum tentang buku berjudul ‘Ekonomi Moneter: Teori Pengantar’ yang ditulis Fitrian Aprilianto, S.E., M.E. Buku buku tersebut membahas hal dasar penting-komprehensif bagi pelajar ekonomi syariah. Seperti pembahasan uang, inflasi, teori permintaan dan lain-lain. Pembahasan juga tentang ekonomi makro dan mikro. Menariknya semua isi buku ditulis dengan bahasa sederhana agar mudah dibaca dan dipahami. (*/wil)
Telurusi Media Sosial di Malaysia, UMM Hadirkan Tiga Pakar UiTM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan eksistensinya di kancah global melalui gelaran kuliah tamu internsional bertajuk “Media and Social Change in Malaysia”. Acara yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi UMM pada 4 Juni lalu ini menghadirkan tiga dosen senior dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Melaka sebagai pembicara dan diikuti antusias oleh ratusan mahasiswa. Dosen senior UiTM Melaka, Ilya Tasnorizar binti Ilyas memaparkan pentingnya memahami perbedaan komunikasi nonverbal di masing-masing negara. Ia menekankan bahwa, gestur, kontak mata, dan ruang personal memiliki makna berbeda di setiap budaya. Lebih lanjut, ia mecontohkan perbedaan budaya antara negara-negara Timur Tengah dan Barat, dimana cara tersenyum, menatap, bahkan menjaga jarak memiliki nilai sosial tersendiri. Menurutnya, kesadaran akan perbedaan tersebut dapat mencegah terjadinya keslahpahaman dan menciptakan komunikasi yang lebih sehat, efektif, dan positif dalam konteks global. “Pemahaman ini penting agar kita tidak salah menafsirkan maksud seseorang dan tetap saling respect antara satu dengan yang lain,” ujar Ilya. Sedangkan pembicara kedua, Rosilawati binti Sultan Mohideen memaparkan dampak media sosial terhadap sikap politik masyarakat Malaysia. Menurutnya, media sosial memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan kesadaran politik, keterlibatan publik, dan mendorong pemerintah untuk bertindak cepat dalam situasi krisis. Namun, Ia juga menyoroti sisi negatif seperti penyebaran hoaks, polarisasi, serta pemahaman dangkal terhadap isu penting. Di sisi lain, Ts Hj. Mohd. Hilmi bin Bakar mengangkat isu menarik bertajuk ‘Echo Chamber and Society: Free to Speak or Trapped in a Bubble’. Ia menjelaskan bahwa echo chamber adalah ruang digital yang hanya berisi orang-orang sepemikiran. Sedangkan, filter bubble dibentuk oleh algoritma media sosial seperti TikTok yang menyajikan konten sesuai preferensi pengguna. Keduanya, membuat seseorang semakin terisolasi dari sudut pandang yang berbeda. Hilmi juga menyoroti perubahan ekosistem media dari peran jurnalis sebagai kontrol publik menjadi dominasi konten viral dan emosional. Terakhir, dengan upaya evaluasi sumber dan memverifikasi fakta, mendorong perspektif yang beragam, politik digital yang sehat, diskusi, kolaborasi lintas disiplin ilmu akan membantu menjadi masyarakat yang bijak. “Terkadang, kita sering berpikir bahwa kita bebas berbicara. Namun kebebasan yang sesungguhnya berarti kebebasan untuk mendengarkan, memahami, dan mengubah pikiran kita,” katanya mengakhiri materi. Sementara itu, Wakil Dekan I FISIP UMM, Najamuddin Khairur Rijal, M. Hub. Int., menyampaikan apresIasi atas kunjungan dan kontribusi para dosen UiTM Melaka. Dalam sambutannya, Ia berharap kerja sama antara kedua institusi dapat terus berlanjut melalui berbagai program akademik, seperti mobilitas dosen dan mahasiswa, riset kolaboratif, hingga publikasi bersama. Ia juga memberi penghargaan tinggi kepada Kampus Putih yang konsisten membangun atmossfer akademik global, sejalan dengan visi dan misi UMM menuju kampus internasional 2026. (din/wil)
Dosen UMM Soroti Minimnya Aktivitas Fisik Anak Zaman Sekarang

Minimnya aktivitas fisik pada anak-anak sekolah dasar (SD) kini menjadi sorotan serius. Frendy Aru Fantiro, M.Pd. dosen pendidikan jasmani Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai bahwa kemajuan teknologi dan pola asuh yang tidak tepat telah mendorong anak-anak ke arah gaya hidup pasif yang membahayakan fisik maupun mental. Frendy mengatakan bahwa anak-anak kini cenderung malas bergerak dan lebih suka duduk dengan gawai daripada bermain di luar. Selain itu, generasi alpha menghadapi tantangan besar karena lingkungan yang tidak mendukung pembiasaan aktivitas fisik sejak dini. “Kurangnya aktivitas fisik berpotensi menimbulkan efek jangka panjang yang serius, mulai dari obesitas, gangguan postur, mudah sakit, hingga rentan stres dan kecemasan. Dibandingkan generasi sebelumnya, anak SD sekarang lebih banyak yang obesitas, berkacamata, dan cepat lelah. Ini bukan sekadar keluhan, tapi gejala yang nyata dari krisis kebugaran anak,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa pendidikan jasmani di sekolah tidak cukup jika tidak didukung dengan kebiasaan harian yang aktif. Ia menyarankan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari untuk anak-anak usia prasekolah, dan 60 menit untuk anak usia sekolah dasar. Aktivitas tersebut bisa berupa berjalan kaki, bermain, hingga membantu pekerjaan rumah tangga. Sayangnya, kebanyakan orang tua tidak memberikan keteladanan yang cukup. “Anak tidak akan bergerak kalau orang tuanya sendiri pasif. Orang tua harus memberi contoh, bukan hanya menyuruh. Tetapi beraktivitas bersama anak, seperti bersepeda atau berjalan ke taman di akhir pekan, bisa jadi awal dari perubahan gaya hidup keluarga,” ujarnya. Ia juga mengkritisi pola pendidikan saat ini yang menuntut anak-anak untuk terus belajar hingga sore hari, ditambah les dan PR yang menumpuk. Beban tersebut, jika tidak diimbangi aktivitas fisik, justru akan berdampak pada kesehatan mental anak. Karena ketika tubuh bugar, anak lebih fokus, lebih bahagia, dan daya ingat meningkat. Itu sebabnya olahraga harus jadi kebutuhan, bukan sekadar ekstrakurikuler. Frendy menekankan bahwa aktivitas fisik tidak hanya berdampak pada kebugaran, tetapi juga berkontribusi besar terhadap pencapaian akademik anak. Penelitian menunjukkan anak yang rutin bergerak memiliki nilai akademik lebih baik, terutama dalam mata pelajaran yang menuntut konsentrasi tinggi seperti matematika dan membaca. “Jangan jadikan olahraga sebagai hukuman atau kewajiban berat. Ajak anak bermain, bergerak sambil mendengarkan musik, atau buat jadwal fisik yang ringan tapi konsisten,” ujarnya. Ia berharap orang tua dan sekolah bisa bekerja sama menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk aktif bergerak, demi masa depan yang lebih sehat, bahagia, dan produktif. Perlu diingat, orang sehat belum tentu bugar. Tapi orang bugar pasti sehat. (vin/wil)
Dalam 5 Tahun, UMM Konsisten Laksanakan Green and Halal Kurban

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus konsisten menjalankan green and halal kurban dalam lima tahun ke belakang. Termasuk pada pelaksanaan kurban di tahun 2025 ini. Adapun ini menjadi upaya Kampus Putih untuk tetap berbagi daging tanpa mengorbankan aspek kebersihan dan lingkungan. Misalnya dengan tidak menggunakan kresek untuk mengemas daging, tapi memanfaatkan dedaunan seperti daun jati, daun pisang, dan besek. Salah satu koordinator kurban di UMM, Ali Mahmud, M.Pt. menjelaskan bahwa green dan halal masuk di dalam setiap proses kurban, mulai dari penyembelihan hingga pendistribusian kepada masyarakat. Ada beberapa aspek yang harus dipastikan dan dijaga. Pertama, yakni pembelian hewan ternak yang harus memenuhi standar kesejahteraan hewan atau biasa disebut animal welfare. Dengan begitu, tim bisa mendapatkan hewan yang tidak stres dan tidak mudah berontak saat ingin disembelih. “Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan hewan ternak yang sudah divaksin, baik LSD maupun penyakit mulut dan kaki. Selain itu harus mengecek secara fisiologis di antaranya memilih hewan yang berdaging, gemuk, dan cukup umur. Pemilihan ini dilakukan langsung oleh sederet dokter hewan yang UMM miliki,” tambahnya. Ali juga mengatakan, daging yang ada dikemas dengan bungkus ramah lingkungan. UMM memanfaatkan besek, daun jati, dan bahan alami lainnya. Bahkan UMM secara konsisten sudah tidak menggunakan plastik sejak 5-6 tahun yang lalu. Ini menjadi bukti komitmen UMM menjaga lingkungan sekaligus membuktikan diri sebagai kampus berkelanjutan. “Berbeda dengan bungkus bahan organik, jika plastik dibuang di tempat sampah, plastik cenderung mengeluarkan bau yang tidak sedap dan dikerubungi oleh lalat. Hingga pada akhirnya muncul belatung yang mengganggu lingkungan,” katanya. Di UMM, ada beberapa pisau yang digunakan untuk kebutuhan yang berbeda-beda. Ada pisau khusus untuk menyembelih hingga pisau untuk boning. Para penyembelih juga sudah dilatih terlebih dahulu melalui pelatihan juru sembelih halal (Juleha) dari Halal Center UMM beberapa hari lalu. Ia berharap, proses green kurban ini bisa menjadi contoh yang bisa ditiru oleh masyarakat dan warga dalam menyelenggarakan kurban. Dengan begitu, perayaan idul adha tetap menyenangkan sekaligus lingkungan tetap aman dan nyaman. (wil)
UMM Salurkan Kurban ke Puluhan Sekolah di Jatim

Tak hanya ke luar negeri, distribusi hewan kurban Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun ini juga menjangkau berbagai wilayah terpencil di Indonesia, khususnya di Malang Raya serta beberapa daerah luar Jawa. Bahkan juga menyasar sekolah-sekolah yang jarang mendapat distribusi hewan kurban. Adapun penyerahan hewan sapi dan kambing tersebut dilaksanakan pada 5 Juni 2025 ini. Ada puluhan sekolah yang mendapat distribusi hewan kurban dari UMM. Di antaranya SMK dan SMA yang berlokasi di Batu, Jember, Jombang, Malang, dan puluhan kota lainnya. Sekolah yang mendapat kurban ini tidak terbatas pada Muhammadiyah saja, tapi juga untuk sekolah sekolah yang memang membutuhkan. “Kita tidak hanya fokus pada Malang Kota, tetapi juga ke Malang Selatan, serta daerah yang jumlah kurbannya sangat minim, seperti Sampang dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” imbuhnya. UMM membagi sasaran distribusi ke dalam tiga kategori utama yakni sekolah menengah atas (SMA/SMK), pondok pesantren binaan Muhammadiyah, dan masyarakat umum yang dinilai minim kurban. Untuk kategori sekolah, prioritas diberikan kepada lembaga pendidikan yang aktif berkontribusi terhadap UMM melalui alumninya. Distribusi ini juga terbuka bagi sekolah non-Muhammadiyah. Untuk efisiensi, UMM menerapkan sistem pembelian hewan secara lokal di daerah tujuan distribusi. Selain memangkas biaya logistik, strategi ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. “Kami membeli hewan kurban langsung dari peternak setempat di daerah tujuan distribusi. Dengan cara ini, selain memangkas biaya transportasi, kami juga membantu menggerakkan ekonomi lokal dan memberdayakan masyarakat di sekitar,” jelas Wahyudi. Hingga saat ini, jumlah hewan kurban yang terkumpul melalui UMM mencapai lebih dari 100 ekor, terdiri dari sapi, kambing dan domba. Wahyudi menegaskan bahwa proses distribusi telah dirancang secara matang agar tidak tumpang tindih dan disesuaikan dengan skala prioritas kebutuhan di lapangan. Ia pun mengajak masyarakat untuk melihat kurban sebagai bentuk kepedulian sosial yang melampaui simbol penyembelihan semata. “Makna kurban adalah tentang keikhlasan, keadilan sosial, serta penyebaran rahmat. Harapannya, distribusi tahun depan bisa menjangkau lebih banyak daerah yang benar-benar membutuhkan, terutama yang jauh dari pusat-pusat perkotaan,” pungkasnya. Di sisi lain, salah satu staf SMA Muhammadiyah 3 Jember, Agung Sedayu mengapresaisi dan berterimkasih kepada Kampus Putih UMM. Menurutnya, ini menjadi hadiah kurban yang juga mendorong siswa untuk turut serta dalam proses kurban. Sehingga muncul rasa kebersamaan dan keikhlasan dalam membagikan dagingnya. “Terimakasih UMM, semoga hewan kurban ini bermanfaat bagi kita semua. Apalagi ada puluhan sekolah yang menerima hewan kurban ini di berbagai wilayah,” katanya. (vin/wil)
UMM Salurkan Kurban hingga Filipina

Lebih dari 100 hewan kurban siap disalurkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahwan UMM terus meneguhkan komitmennya dalam menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan dan dakwah melalui aksi distribusi hewan kurban. Menariknya, tahun ini UMM tidak hanya menyasar wilayah lokal dan nasional, tetapi juga menyalurkan hewan kurban ke luar negeri, tepatnya ke Filipina—negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Distribusi ke luar negeri ini merupakan bentuk dukungan kepada komunitas Muslim minoritas di Filipina. Hal tersebut dijelaskan oleh M.S. Wahyudi, M.E., Ph.D., yang menjadi ketua pelaksana di hari raya Idul Adha kali ini. Ia menyebut, distribusi dilakukan melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di Filipina, yang salah satu pengurusnya merupakan alumni UMM. Ia menambahkan, budaya makan bersama saat kurban menjadi momen penting bagi masyarakat lokal di sana untuk mempererat hubungan antarwarga. Menurutnya, pemilihan wilayah minoritas seperti Filipina adalah langkah strategis dalam menyebarkan rahmat ke daerah-daerah yang jarang tersentuh bantuan. “Negara mayoritas muslim seperti Malaysia dan Singapura umumnya sudah tercukupi secara kurban. Justru tantangannya adalah menjangkau wilayah yang kurang mendapat perhatian,” ujarnya. Wahyudi juga berharap, distribusi ke luar negeri seperti ke Filipina dapat terus diperluas di masa mendatang, khususnya ke negara-negara dengan komunitas Muslim minoritas yang masih membutuhkan dukungan. Harapannya, distribusi ke luar negeri ini bisa menjadi agenda tahunan yang menjangkau lebih banyak komunitas muslim di negara-negara yang mengalami keterbatasan akses terhadap ibadah kurban. “Ini adalah bagian dari misi kemanusiaan dan dakwah lintas batas yang perlu terus dikembangkan. Ke depan, kami ingin memperluas jangkauan ke lebih banyak negara dengan komunitas Muslim minoritas,” tutupnya. (wil)
Lebih dari 2 Ribu Calon Mahasiswa Asing Serbu UMM

Terus berkomitmen bergerak maju di kancah internsional, Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) diserbu ribuan pendaftar asing dari 62 negara di dunia, diantaranya Saudi Arabia, pakistan, Afganistan, Turkey, Cyprus, dan terbanyak dari Nigeria. Lebih dari 2.000 calon mahasiswa ini bersaing untuk mengisi bangku pendidikan Program Sarjana, Magister, hingga Doktoral di Kampus Putih. Jumlah ini bahkan bisa terus melonjak mengingat pendaftaran masih akan dibuka beberapa bulan ke depan. Kepala Unit Perekrutan Mahasiswa Baru (PMB) UMM, Wahyu Kurniawan, M.Pd. menyebut jumlah ini merupakan hasil dari prestasi dan eksistensi UMM sebagai kampus inklusi berbasis global. Ini dikuatkan UMM dengan masuk dalam barisan kampus terbaik berdasarkan sistem perangkingan Asia dan dunia, seperti QS Top Universities Asian University Rangking (701), AppliedHe Asean Rangking (73), Times Higher Education (1501+), dan lainnya. Tak hanya itu, UMM juga menyediakan berbagai fasilitas akademik dan nonakademik demi menunjang pengembangan mahasiswa asing. Bahkan juga adanya Direktorat Saintek yang fokus menghasilkan produk berbasis riset. “Program ini ditujukan untuk mengasah hard skill dan soft skills mahasiswa, serta memperkokoh kompetensi alumni di era modern berdasarkan fokus keilmuan masing-masing,” katanya. Lebih lanjut, Wahyu menyampaikan bahwa salah satu langkah utama adalah memperluas jejaring internasional melalui kerjasama dan kemitraan dengan universitas luar negeri. Kerjasama ini memberikan manfaat ganda, yaitu mahasiswa asing dapat menempuh studi di UMM, dan juga sebaliknya melalui program pertukaran pelajar. Tak hanya itu, UMM juga menawarkan program berbasis kearifan lokal yang menarik perhatian mahasiswa asing untuk mendalami kebudayaan Indonesia. Yakni melalui berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berbasus seni dan budaya menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, UMM juga menyediakan berbagai beasiswa baik dari pemerintah, negara asal mahasiwa, dan beasiswa ungguan seperti sUMMit Scolarship yang memberi kesempatan mahasiswa asing untuk belajar di lingkungan akademik UMM yang dinamis dan asri. Di samping itu, publikasi jurnal dari program riset dan pengabdian yang dilakukan dosen maupun mahasiswa menjadi indikator minat bagi calon mahasiswa mancanegara. “Empat srategi ini menjadi bukti nyata upaya UMM dalam menjadikan kampus sebagai tujuan studi global yang nyaman dan terjamin,” ujarnya. Wahyu juga berharap para mahasiswa asing untuk tidak hanya mengembangkan kompetensi akademiknya, tetapi juga berkontribusi nyata melalui karya-karya yang berdampak bagi masyarakat. Dengan demikian, kolaborasi ide dan gagasan dengan mahasiswa UMM menjadi ruang strategis untuk melahirkan inovasi lintas keilmuan. “Melalui riset, pengabdian, dan jejaring global, mahasiswa asing menjadi bagian penting dari visi UMM sebagai kampus berkelas dunia yang humanis dan inklusif,” katanya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa Kampus Putih UMM senantiasa meningkatkan kualitas pendidikannya. Termasuk meraih berbagai prestasi dan rekognisi agar semakin memberikan manfaat bagi masyarakat.“Hal-hal inilah yang membuat UMM banyak peminat, termasuk mereka para pendaftar dari berbagai negara Asia, Eropa, Amerika, Afrika dan lainnya,” tuturnya. (wil)