Mahasiswa UMM Raih Juara Nasional Lewat Teknologi AR dan VR untuk Pendidikan Inklusif
pwmu.co –Akses pendidikan inklusif yang merata di era digital masih menjadi tantangan di Indonesia, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus. Menjawab persoalan tersebut, dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan inovasi media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) untuk anak tunarungu.Inovasi bertajuk “Media Pembelajaran IPA Berbasis AR dan VR untuk Pengenalan Flora dan Fauna” tersebut sukses mengantarkan tim mahasiswa UMM meraih Gold Medal sekaligus Juara 3 Nasional Kategori Pendidikan dalam ajang Mandalika Essay Competition 2026 yang digelar di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tim tersebut terdiri atas Reynald Dimas Saputra dari Program Studi Hukum dan Devi Putri Susilo dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Dalam kompetisi yang diselenggarakan Universitas Mataram bersama Lembaga Nusantara Muda pada 16–18 Mei 2026 itu, karya mereka berhasil menembus 100 besar dari sekitar 400 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui serangkaian seleksi dan presentasi final, inovasi tersebut dinobatkan sebagai salah satu karya terbaik pada subtema pendidikan sekaligus meraih posisi ketiga tingkat nasional. Reynald menjelaskan bahwa ide tersebut lahir dari kepedulian terhadap masih terbatasnya media pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan anak tunarungu. Menurutnya, anak tunarungu memiliki kemampuan visual yang sangat baik sehingga pendekatan pembelajaran berbasis teknologi visual menjadi solusi yang relevan. “Kami melihat masih banyak media pembelajaran yang belum cukup mengakomodasi kebutuhan anak tunarungu. Padahal mereka memiliki kemampuan visual yang sangat baik. Dari situ, kami mencoba menghadirkan solusi dengan memanfaatkan teknologi AR dan VR sebagai media pembelajaran,” ungkap Reynald. Melalui teknologi tersebut, materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), khususnya pengenalan flora dan fauna, disajikan dalam bentuk visual tiga dimensi sehingga lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Agar gagasan tersebut tidak berhenti pada konsep semata, tim mahasiswa UMM juga menggandeng mahasiswa Teknik Informatika untuk mengembangkan prototipe awal aplikasi. Langkah ini dilakukan agar inovasi yang dirancang memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan secara nyata di dunia pendidikan. “Harapan kami tentu inovasi ini bisa diwujudkan menjadi aplikasi nyata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh anak-anak tunarungu di Indonesia,” ujarnya. Dengan pengembangan tersebut, media pembelajaran berbasis AR dan VR diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran yang lebih interaktif dan inklusif. Keberhasilan tim mahasiswa UMM ini mendapat apresiasi dari Kepala Bagian Penalaran Kemahasiswaan UMM, Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc. Ia menilai prestasi tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani mahasiswa, mulai dari riset, diskusi, penyusunan ide, hingga penyempurnaan gagasan sebelum kompetisi berlangsung. “Prestasi ini bukan sesuatu yang didapatkan secara instan. Mereka telah mempersiapkan semuanya sejak awal, mulai dari pengembangan ide, diskusi, hingga penyempurnaan gagasan. Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi yang telah mereka tunjukkan selama mengikuti kompetisi ini,” tegasnya. Prestasi yang diraih mahasiswa UMM menjadi bukti bahwa kepedulian sosial yang dipadukan dengan kemajuan teknologi mampu melahirkan solusi yang inovatif dan aplikatif. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah menuju terwujudnya ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan setara bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Selain itu, capaian tersebut juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus menghadirkan karya-karya yang mampu menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Dosen UMM Masuk Top 5 Persen Ilmuwan Berpengaruh, Sisihkan Jutaan Peneliti dari Seluruh Dunia

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dosen Program Studi Teknik Industri UMM, Prof Ir Ilyas Masudin MLogSCM PhD, berhasil menembus jajaran World Top 5% Scientist versi SciRank Global Registry 2025. Pemeringkatan bergengsi yang diumumkan pada awal tahun ini tersebut menyeleksi lebih dari 10 juta ilmuwan aktif di seluruh dunia menggunakan basis data OpenAlex tanpa membedakan bidang keilmuan. Penilaian dilakukan berdasarkan Normalized Composite Score yang mengukur keseimbangan antara produktivitas publikasi dan dampak sitasi. Berkat capaian tersebut, Prof Ilyas masuk dalam kelompok lima persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Mengetahui namanya masuk dalam daftar prestisius tersebut, Prof Ilyas mengaku terkejut sekaligus bangga. Menurutnya, penilaian dilakukan secara objektif terhadap jutaan peneliti dari berbagai negara dan disiplin ilmu. “Saya cukup kaget karena informasi ini justru saya ketahui dari kolega. Apalagi, lembaga tersebut melakukan penilaian terhadap lebih dari 10 juta peneliti di seluruh dunia secara objektif tanpa membedakan bidang keilmuan,” ungkapnya. Kepakaran Prof Ilyas berfokus pada bidang logistik, rantai pasok, dan optimisasi. Rekam jejak akademiknya juga sangat impresif dengan 126 dokumen terindeks Scopus, H-index 24, serta lebih dari 1.500 sitasi. Secara keseluruhan, ia telah menghasilkan 195 artikel ilmiah dengan total sitasi di Google Scholar mencapai 3.540 kali serta dua paten unggulan. Menurutnya, riset yang dilakukan selama ini selalu diarahkan pada isu-isu mutakhir, khususnya yang berkaitan dengan rantai pasok energi terbarukan agar dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. “Saya selalu mengedepankan riset yang mutakhir, yaitu memfokuskan diri pada rantai pasok energi terbarukan agar hasil penelitian kita punya dampak yang luas dan masif di tengah masyarakat,” jelasnya. Pencapaian tersebut juga didukung ekosistem keilmuan UMM melalui berbagai skema pendanaan riset berkelanjutan serta keberadaan Supply Chain Research and Innovation Center yang dikoordinasikannya. Terkait pengembangan riset, Prof Ilyas menekankan pentingnya kepekaan peneliti terhadap isu-isu terkini agar ide yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan zaman. “Kita harus bisa membaca tanda zaman dan isu terbaru, karena dari situlah sebenarnya peluang kita untuk memunculkan ide riset yang bisa berkontribusi langsung pada masyarakat,” pesannya. Keberhasilan menembus jajaran ilmuwan berpengaruh dunia ini diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga memacu semangat sivitas akademika UMM untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang berdampak. Dedikasi tersebut menjadi bukti bahwa integritas riset yang dibarengi inovasi dan konsistensi akan memperoleh pengakuan global. Ke depan, kolaborasi riset internasional akan terus diperluas guna mengukuhkan posisi UMM sebagai perguruan tinggi unggul yang melahirkan riset berdampak bagi kemajuan peradaban. (Faqih/AS)
Berkat Reboisasi Pujon Hill, UMM Selamatkan Empat Dusun dari Krisis Air Bersih

KLIKMU.CO – Di tengah ancaman krisis air bersih dan pemanasan global yang memicu kekeringan ekstrem di berbagai wilayah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi ekologis yang nyata. Melalui program rehabilitasi dan reboisasi berkelanjutan di kawasan Pujon Hill yang dimulai sejak 2019, Kampus Putih berhasil mengembalikan fungsi resapan hutan dan meningkatkan debit air secara signifikan. Langkah pelestarian tersebut bahkan mampu menghidupkan kembali sejumlah mata air yang sebelumnya sempat mengering. Keberhasilan ini tidak lepas dari proses inventarisasi sumber daya alam yang dilakukan secara serius oleh UMM. Staf Ahli Pujon Hill Dr Tatag Muttaqin SHut MSc menjelaskan, setelah dilakukan pemetaan potensi alam dan perbaikan ekosistem hutan secara bertahap, volume air mengalami peningkatan yang ditandai dengan munculnya sejumlah sumber mata air baru. “Kita rehab, kita perbaiki hutannya, akhirnya debitnya bertambah besar dan muncul beberapa mata air baru. Mata air-mata air yang dulu mati sekarang sudah mulai hidup lagi,” ujarnya. Salah satu strategi utama yang dilakukan UMM adalah pemanfaatan bambu dan tanaman keras di area buffer zone atau zona penyangga. Program ini dilaksanakan secara kolaboratif bersama berbagai pihak eksternal. Penanaman difokuskan pada lahan seluas 15 hektare dari total 80 hektare kawasan hutan, terutama di wilayah lereng dan sempadan sungai yang menjadi area prioritas konservasi. Menurut Tatag, pemilihan bambu didasarkan pada kemampuannya dalam menyimpan dan menjaga cadangan air tanah. “Kalau dengan bambu itu insyaallah potensial menghadirkan air karena bambu memiliki kemampuan menyimpan air,” jelasnya. Kini, aliran air bersih dari kawasan Pujon Hill telah menjadi penopang kebutuhan masyarakat yang selama ini rentan mengalami krisis air. Air tersebut dimanfaatkan oleh warga di empat dusun yang tersebar di dua desa. Keempat wilayah penerima manfaat tersebut meliputi Dusun Ngepreh dan Dusun Tretes di Desa Bendosari, serta Dusun Talesan dan Dusun Kedungrejo di Desa Sukomulyo. “Kalau mereka tidak mendapatkan air dari sini, tentu akan kesulitan mencari sumber air bersih,” tambahnya. Ke depan, tim UMM akan melakukan perhitungan teknis untuk mengukur secara pasti volume debit air yang berhasil diselamatkan dan dihasilkan melalui program konservasi tersebut. Kisah sukses reboisasi di Pujon Hill menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. UMM berharap upaya ini dapat menjadi inspirasi dan model pelestarian lingkungan bagi berbagai institusi lain, sekaligus memperkuat kesadaran bersama untuk menjaga ekosistem dan kedaulatan air bersih bagi generasi mendatang. (Faqih/AS)
Dari Kine Club UMM Menuju Negeri Ginseng: Kisah Distya Taklukkan Kerasnya Industri Hiburan Korea

pwmu.co –Demam Hallyu atau ekspansi budaya pop Korea Selatan terus menggurita dan digandrungi oleh anak muda Indonesia.Menariknya, Distya Putri Handayani memilih jalan yang jauh lebih menantang. Alih-alih sekadar menjadi penggemar penikmat karya, alumnus Program Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sukses menembus ketatnya persaingan dan berkarier langsung di industri kreatif Korea Selatan. Kini, ia tidak hanya bekerja di perusahaan hiburan di sana, tetapi juga terlibat penuh dalam memproduksi berbagai program televisi yang menggandeng jajaran idol K-Pop ternama. Dalami Bahasa di Yonsei University Distya, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa peluang emas tersebut bermula ketika ia memutuskan terbang ke Korea Selatan untuk mendalami bahasa di Yonsei University pasca lulus dari UMM. Di tengah kesibukannya sebagai pelajar, ia menerima tawaran kerja paruh waktu di sebuah perusahaan kreatif. Berkat dedikasi dan kinerjanya, ia diberi kepercayaan untuk menginisiasi dan mengeksekusi program memasak hidangan khas Nusantara bersama para bintang K-Pop, yang sukses tayang hingga dua musim berturut-turut. Kini, ia menempati posisi strategis di divisi pemasaran perusahaan tersebut. “Karena bosku suka dengan kinerjaku, akhirnya dibuatlah satu program dari ideku, yaitu masak-masak masakan Indonesia bersama idol-idol Korea” jelas perempuan asal Jakarta tersebut. Keberhasilannya menembus industri hiburan internasional tentu tidak diraih secara instan. Distya menceritakan bahwa minat dan fondasi kompetensinya di dunia kreatif murni dipupuk semenjak ia menjadi mahasiswa baru di Kampus Putih. Kala itu, ia memutuskan bergabung dengan Kine Club UMM. Di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) inilah ia ditempa memegang peran vital, mulai dari asisten manajer yang mengurus manajerial jadwal hingga menjadi produser untuk berbagai produksi karya audiovisual. Selain itu ia juga aktif menjadi partimer di Humas UMM yang bertanggung jawab dalam bagian fotografi dan videografi. “Aku ikut UKM Kine Club sejak jadi mahasiswa baru. Di sana awal mula aku belajar tentang dunia kreatif. Selain itu aku juga menjadi salah satu bagian tim ciptavisual di humas UMM. Ilmu yang aku dapat salam di UKM Kine dan partimer humas UMM juga terpakai banget” ujarnya. Krisis FinansiaL Sebelum menjejakkan kaki di Negeri Ginseng, Distya telah mematangkan pengalamannya di industri hiburan Tanah Air. Ia sempat bekerja di agensi artis di Jakarta dengan menangani hingga 16 selebritas, menjadi personal assistant manager figur publik, hingga bergabung memproduksi film pendek bersama rumah produksi Frame Ritz pada 2020. Meski memiliki portofolio mentereng, langkah awalnya di Korea sempat dihantam krisis finansial yang memaksanya membuka bisnis jasa titip (jastip) lintas negara demi menyambung hidup. “Waktu awal di Korea aku sempat bingung karena habis tertimpa musibah dan rugi besar secara finansial. Sempat mau nyerah karena biaya hidup di sana mahal” ungkapnya. Bertahan dan bekerja di episentrum industri K-Pop pada akhirnya memberikan wawasan baru bagi Distya, terutama terkait dinamika komunikasi profesional di lapangan. Ia menyoroti tingginya standar kerja serta ketatnya batasan privasi bagi para idol Korea yang harus dihormati oleh seluruh kru produksi. “Kita nggak bisa sembarangan berinteraksi walaupun sebagai kru. Jadi harus benar-benar menjaga sopan santun dan attitude” katanya menekankan pentingnya etika kerja. Merangkum perjalanan panjangnya yang sarat akan dinamika, Distya menitipkan pesan inspiratif kepada seluruh mahasiswa UMM agar tidak takut menggantungkan cita-cita di panggung global. Baginya, konsistensi dan keberanian untuk terus berproses adalah kunci utama mendobrak segala keterbatasan. “Tidak ada yang nggak mungkin selama kita tekuni apa yang kita mau. Capek boleh, tapi nyerah jangan” pungkasnya. Penulis : Humas UMM | Editor : Danar Trivasya Fikri
Sempat Awali Pekerjaan sebagai Petugas Kebersihan Gudang

KOTA MALANG, RADAR MALANG – JARUM jam menunjukkan pukul 18.00 di Kota Gdynia, Polandia. Sore itu, satu per satu pelanggan mulai berdatangan ke Tera Thai Salon Day Spa. Sebagian besar sudah melakukan reservasi sejak beberapa hari sebelumnya. Di tengah ramainya aktivitas, Galang tak hanya memantau operasional usaha yang dirintisnya. Sesekali dia turut membantu resepsionis melayani pelanggan yang datang. Pemandangan itu jauh berbeda dibanding lima tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di Polandia. Kala itu, pria alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut datang sebagai perantau yang belum memiliki pekerjaan tetap. Kini, dia justru menjadi pemilik usaha spa dengan omzet mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan. Perjalanan itu dimulai pada Mei 2021, ketika pandemi Covid-19 masih membatasi mobilitas masyarakat di berbagai negara. Saat banyak orang memilih bertahan di rumah, Galang justru nekat merantau ke Eropa. ”Keinginan ke luar negeri sebenarnya sejak 2020. Karena pembatasan di Indonesia lebih ketat, sehingga 2021 saya paksa pergi,” ujarnya. Polandia bukanlah tujuan utama. Impian awalnya adalah Australia. Namun, empat kali pengajuan visa negara tersebut selalu berujung penolakan. Kesempatan juga belum berpihak ketika mencoba jalur ke Selandia Baru dan Kanada. Hingga akhirnya seorang teman memberinya informasi bahwa Polandia membuka peluang bagi pekerja asing. Kesempatan itu langsung dicoba. Dalam pengajuan pertama, visanya disetujui. Setelah menjalani tes Covid-19 dan karantina setibanya di Polandia, Galang mulai mencari pekerjaan. Lulusan prodi Agribisnis itu sebenarnya berharap bekerja sesuai latar belakang pendidikannya di bidang peternakan. Namun kenyataan berkata lain. Agensi yang menyalurkannya justru menempatkan dia sebagai petugas kebersihan gudang. Setiap hari, pekerjaannya membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membereskan limbah sisa kegiatan industri. Pekerjaan fisik itu menjadi pintu masuk yang umum bagi pekerja migran karena tidak membutuhkan kemampuan bahasa Polandia yang tinggi. Namun, pekerjaan tersebut hanya bertahan dua bulan akibat kecelakaan kerja yang di alaminya. Setelah itu, Galang beralih menjadi penjual kebab.
Mahasiswa UMM Juara Nasional Berkat Inovasi Visual Flora Fauna bagi Tunarungu

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjawab tantangan terhadap akses pendidikan inklusif yang merata di era digitalisasi. Kampus Putih menyadari bahwa akses pendidikan inklusif yang merata pada era digitalisasi masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus. Maka, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan inovasi media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) khusus anak tunarungu. Gagasan bertajuk ‘Inovasi Media Pembelajaran IPA Berbasis AR dan VR untuk Pengenalan Flora dan Fauna’ ini sukses mengantarkan mereka meraih Gold Medal sekaligus Juara 3 Nasional kategori Pendidikan dalam ajang Mandalika Essay Competition 2026 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tim yang terdiri dari Reynald Dimas Saputra (Prodi Hukum) dan Devi Putri Susilo (Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia) ini sukses menyingkirkan ratusan pesaingnya. Pada kompetisi yang diselenggarakan Universitas Mataram bersama Lembaga Nusantara Muda pada 16–18 Mei 2026 lalu, inovasi mereka masuk 100 besar dari 400 peserta se-Indonesia, hingga akhirnya menyabet gelar karya terbaik di subtema pendidikan dan menjuarai babak final. Inovasi ini lahir dari kepedulian mereka terhadap kesenjangan fasilitas belajar bagi anak berkebutuhan khusus yang dinilai masih minim mengakomodasi potensi visual. Reynald menjelaskan bahwa anak tunarungu memiliki ketajaman visual yang sangat baik, sehingga teknologi AR dan VR adalah jawaban yang tepat untuk menggantikan metode konvensional. “Kami melihat masih banyak media pembelajaran yang belum cukup mengakomodasi kebutuhan anak tunarungu. Padahal mereka memiliki kemampuan visual yang sangat baik. Dari situ, kami mencoba menghadirkan solusi dengan memanfaatkan teknologi AR dan VR sebagai media pembelajaran,” ungkap Reynald pada rilis UMM Jumat (5/6). Gagasan tersebut dirancang secara spesifik untuk membedah mata pelajaran IPA dalam wujud tiga dimensi agar mudah dipahami. Guna memastikan ide ini tidak berhenti di atas kertas, ia menjelaskan bahwa timnya telah menggandeng mahasiswa Teknik Informatika UMM guna merancang prototipe awal aplikasi agar siap diimplementasikan. “Harapan kami tentu inovasi ini bisa diwujudkan menjadi aplikasi nyata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh anak-anak tunarungu di Indonesia,” ujarnya lagi. Keberhasilan ini tak lepas dari peran Kepala Bagian Penalaran Kemahasiswaan UMM, Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc. Ia menilai capaian gemilang anak didiknya adalah buah dari proses riset, diskusi panjang, serta konsistensi mereka sejak awal penyusunan esai hingga tahap final. “Prestasi ini bukan sesuatu yang didapatkan secara instan. Mereka telah mempersiapkan semuanya sejak awal, mulai dari pengembangan ide, diskusi, hingga penyempurnaan gagasan. Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi yang telah mereka tunjukkan selama mengikuti kompetisi ini,” tegasnya. Raihan prestasi di tingkat nasional ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian sosial yang dipadukan dengan kemajuan teknologi mampu melahirkan solusi aplikatif. Pihak kampus berharap inovasi dari mahasiswa UMM ini dapat menjadi pionir dalam mewujudkan ekosistem pendidikan inklusif yang lebih setara, serta memacu mahasiswa lain untuk terus berkarya meretas batas-batas keterbatasan. Editor: YAN
Menyoroti Kondisi Hutan Papua di Hari Lingkungan Hidup Dunia

timesindonesia.co.idMALANG – Kondisi hutan di Inaadonesia, khususnya yang berada di Papua mendapat sorotan di Hari Lingkungan Hidup Dunia. Pakar kehutanan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tatag Muttaqin menjelaskan bahwa hutan Papua sebagai salah satu paru-paru global telah menyumbangkan lebih dari dua juta hektare lahan (deforestasi) dengan alasan ketahanan pangan. Menurut Tatag, hutan Papua merupakan pertahanan terakhir hutan Indonesia. Akan tetapi, fakta yang terjadi ternyata Papua tidak dapat menghadapi tekanan politik terkait “ketahanan pangan” tersebut. “2-3 tahun lalu saya masih berani bicara bahwa hutan Papua kita the last frontier, tapi mendengar informasi dari teman-teman pemerhati lingkungan, ternyata Papua tidak bisa menghadapi tekanan politik itu,” ujarnya pada TIMES Indonesia, Jumat (5/6/2026). Lebih lanjut, Tatag menambahkan bahwa sebenarnya masih banyak lahan yang lebih luas dan ideal untuk dimanfaatkan guna mendukung program ketahanan pangan tersebut tanpa harus membabat hutan Papua. Contohnya seperti hutan bekas HPH atau HTI yang berada di Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lainnya. “Saya kira hutan bekas HPH atau yang lahan yang sudah terbuka lainnya dapat dimanfaatkan untuk proyek ketahanan pangan, bukan malah membuka lahan baru,” ujarnya. Pakar Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., (FOTO: Tatag for TIMES Indonesia) Ia juga menyinggung gelar Indonesia sebagai “paru-paru dunia”, menurutnya, apabila melihat kondisi saat ini, prestasi tersebut memiliki banyak tantangan untuk dipertahankan. Apalagi saat ini, lanjutnya, intervensi terkait hutan cukup masif untuk membuka open lock area. Apabila kondisi ini terus berlanjut dan tidak ada alternatif atau solusi lainnya, maka julukan “paru-paru dunia” menurut Tatag sudah tidak pantas lagi. “Kalau dalam waktu dekat masih seperti ini, saya kira kita sudah bukan paru-paru dunia,” tuturnya. Tatag menilai persoalan utama kehutanan di Indonesia terletak pada aspek tata kelola hutan yang masih lemah. Menurutnya, berbagai permasalahan telah muncul sejak tahap perencanaan, termasuk dalam pengelolaan dan pengambilan kebijakan oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap kawasan hutan. Ia pun menyarankan kepada para pengelola kawasan hutan untuk dapat mengelola dengan baik. Terkadang, lanjutnya, orientasi saat ini adalah tertuju pada sektor ekonomi hingga kepentingan politik. “Pengelola kawasan hutan kita masih lemah, terkadang orientasi sekarang lebih ke arah ekonomi atau kepentingan politik, wah ya sudah selesai,” kata dia. Tatag menambahkan, dengan perencanaan yang matang, transparansi kepada masyarakat, konsultasi publik, maka faktor-faktor yang dinilai dapat merusak kawasan hutan dapat diminimalisasi.
Bahaya Pembangunan di Lereng Gunung Tanpa Kaidah Konservasi

timesindonesia.co.id MALANG – Maraknya pembangunan yang terjadi di kawasan lereng gunung dinilai berpotensi mengancam fungsi ekologis hutan sebagai daerah resapan air dan penyangga kehidupan masyarakat di wilayah hilir. Hal tersebut disampaikan oleh pakar kehutanan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tatag Muttaqin, buntut penolakan masyarakat terkait alih fungsi lahan di kawasan lereng Gunung Arjuno-Welirang beberapa waktu lalu. Tatag mengingatkan agar setiap rencana pembangunan di wilayah pegunungan memperhatikan prinsip konservasi dan daya dukung lingkungan. Menurutnya, kawasan dengan kemiringan lebih dari 45 persen umumnya berfungsi sebagai daerah tangkapan dan resapan air yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem. “Saya sebagai akademisi sangat prihatin apabila terjadi hal-hal seperti itu, karena secara teori, kawasan dengan kemiringan 45 persen adalah wilayah resapan air dan berfungsi sebagai perlindungan,” jelasnya kepada TIMES Indonesia, Jumat (5/6/2026). Ia juga menjelaskan bahwa kawasan lereng gunung adalah tempat flora dan fauna hidup. Lanjutnya, hilangnya vegetasi di kawasan lereng dapat meningkatkan risiko erosi dan degradasi lingkungan. Selain itu, tanah kehilangan lapisan atas atau topsoil yang selama ini menjadi sumber utama kesuburan lahan. Menurut Tatag, dampak kerusakan tersebut tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam di kawasan hulu. Penurunan kualitas tanah berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan mendorong penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. “Kesuburan tanah akan menurun, kemudian masyarakat akan menggunakan bahan kimia untuk pertaniannya, dan itu akan berdampak pada manusia apabila berkepanjangan,” imbuhnya. Selain itu, pembukaan lahan di lereng gunung juga berpotensi mengurangi debit mata air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan masyarakat. Pohon dan vegetasi yang hilang membuat air hujan tidak terserap optimal ke dalam tanah sehingga cadangan air tanah terus berkurang. “Apalagi kalau di kawasan lereng gunung dibangun hotel atau tempat wisata, saya yakin airnya ambil di arteri mata air, dan masyarakat bawah juga akan terkena imbasnya,” tambahnya. Sebagai akademisi kehutanan, Tatag menegaskan bahwa pembangunan di kawasan lereng gunung harus mengedepankan aturan konservasi. Ia mengingatkan bahwa orientasi ekonomi tidak boleh mengabaikan fungsi perlindungan lingkungan yang selama ini menopang kehidupan masyarakat. Selain menyoroti ancaman alih fungsi lahan di kawasan lereng gunung, ia juga mengajak generasi muda untuk lebih aktif dalam isu-isu lingkungan. Menurutnya, peran generasi muda tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan penanaman pohon, tetapi juga dapat dilakukan dengan menyebarluaskan informasi mengenai kondisi lingkungan melalui media sosial. Ia menilai generasi muda memiliki kekuatan besar dalam membangun kesadaran publik karena dekat dengan teknologi digital dan platform media sosial. Ia juga menekankan bahwa edukasi lingkungan harus diikuti dengan aksi nyata. “Apabila hal ini terus terjadi, masyarakat terutama generasi muda saat ini harus berisik di media sosial atau platform pemberitaan lainnya,” pungkasnya.
Bahaya Pembangunan di Lereng Gunung Tanpa Kaidah Konservasi

jatim.times MALANG – Maraknya pembangunan yang terjadi di kawasan lereng gunung dinilai berpotensi mengancam fungsi ekologis hutan sebagai daerah resapan air dan penyangga kehidupan masyarakat di wilayah hilir. Hal tersebut disampaikan oleh pakar kehutanan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tatag Muttaqin, buntut penolakan masyarakat terkait alih fungsi lahan di kawasan lereng Gunung Arjuno-Welirang beberapa waktu lalu. Tatag mengingatkan agar setiap rencana pembangunan di wilayah pegunungan memperhatikan prinsip konservasi dan daya dukung lingkungan. Menurutnya, kawasan dengan kemiringan lebih dari 45 persen umumnya berfungsi sebagai daerah tangkapan dan resapan air yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem. “Saya sebagai akademisi sangat prihatin apabila terjadi hal-hal seperti itu, karena secara teori, kawasan dengan kemiringan 45 persen adalah wilayah resapan air dan berfungsi sebagai perlindungan,” jelasnya kepada TIMES Indonesia, Jumat (5/6/2026). Ia juga menjelaskan bahwa kawasan lereng gunung adalah tempat flora dan fauna hidup. Lanjutnya, hilangnya vegetasi di kawasan lereng dapat meningkatkan risiko erosi dan degradasi lingkungan. Selain itu, tanah kehilangan lapisan atas atau topsoil yang selama ini menjadi sumber utama kesuburan lahan. Menurut Tatag, dampak kerusakan tersebut tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam di kawasan hulu. Penurunan kualitas tanah berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan mendorong penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
Mahasiswa Negeri Gajah Putih Belajar di Kampus Putih UMM

MALANG POST – Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat jejaring internasionalnya dengan menerima kedatangan dua mahasiswa student exchange dari Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand. Pertukaran mahasiswa ini berlangsung selama tiga pekan, mulai 16 Mei hingga 7 Juni mendatang. Kedatangan mahasiswa asal Negeri Gajah Putih tersebut disambut langsung oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS. Ia menjelaskan bahwa program pertukaran ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa asing untuk melakukan studi komparatif terkait sistem pendidikan maupun tata laksana pelayanan kesehatan antarnegara. Panduan & Petunjuk Perjalanan “Silakan ambil banyak pelajaran selama berada di Indonesia, khususnya di UMM. Thailand dan Indonesia tentu memiliki sistem pelayanan kesehatan yang berbeda.” “Sehingga pengalaman ini dapat menjadi ruang belajar yang sangat baik untuk memahami berbagai pendekatan dalam dunia kesehatan dan fisioterapi,” urainya. Sebagai catatan, kemitraan strategis antara Prodi Fisioterapi UMM dan Mahidol University telah terjalin kuat selama tiga tahun terakhir. Kedatangan mahasiswa pada pertengahan tahun 2026 ini menandai batch kelima dari keberlanjutan kerja sama antarkedua institusi pendidikan tersebut. Pada kesempatan yang sama, Siwat Matro mahasiswa asal Mahidol University, Thailand mengungkapkan bahwa belajar di kampus putih telah memberikannya perspektif baru, khususnya terkait pendekatan keilmuan fisioterapi dan pelayanan kesehatan masyarakat. Ia menambahkan, kesempatan berpraktik langsung di Puskesmas membuatnya lebih memahami sistem penanganan kesehatan tingkat dasar dan pendekatan preventif di Indonesia. Menurutnya, hal ini menjadi pengalaman komparatif yang sangat berharga untuk dibawa kembali ke Mahidol University. Selain berfokus pada esensi keilmuan, program mobilitas ini juga dirancang sebagai medium akulturasi dan pemahaman budaya. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan. Bahwa penguatan relasi internasional dan pemahaman kultural memiliki urgensi yang sama pentingnya dengan pencapaian target akademik di dalam kelas. Ia juga berharap eskalasi program internasionalisasi semacam ini dapat terus ditingkatkan. Melalui sinergi lintas negara, diharapkan lahir tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya mahir secara klinis saja. Tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kecakapan komunikasi lintas budaya, serta mampu beradaptasi dengan berbagai dinamika kesehatan di tingkat global.