
Dalam rangka mendukung pemerintah dalam pelaksanaan Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan kelas khusus Profesional Udang. Dilaksanakan pada Senin (09/08) lalu, kelas ini mengundang dua pakar secara online untuk membahas tantangan dalam budidaya udang. Adapun kegiatan tersebut diikuti oleh para mahasiswa yang berminat di bidang budidaya udang. Head of TS dan Training Center dari PT. Suri Tani Pemuka, Sarwana, mengatakan bahwa overfeeding dan penyakit merupakan dua di antara masalah-masalah dalam budidaya udang. Pembicara yang berasal dari Aquafeed Division tersebut menyampaikan bahwa pemberian pakan umumnya menggunakan metode tradisional dengan cara ditebar. Hal ini berpotensi sebagian pakan tidak sampai dan tidak termakan oleh udang. “Hal tersebut akan memicu timbulnya penyakit akibat menumpuknya limbah sisa pakan di dasar kolam. Untuk itu, sudah saatnya petambak beralih ke sistem budidaya intensif untuk memaksimalkan keuntungan,” ujar Sarwana. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, para peternak udang bisa menggunakan alat bernama autofeeder machine. Mesin ini dilengkapi dengan komponen yang dapat diatur untuk memberikan pakan secara perlahan dengan interval waktu tertentu serta dalam durasi yang sudah ditentukan. Pengaturan otomatis tersebut mempermudah pekerjaan petambak dalam mengontrol jumlah pakan yang akan diberikan pada udang. Dengan pakan yang terkontrol, diharapkan akan mengurangi limbah sisa pakan di dasar kolam. Hingga nantinya bisa menjaga kualitas air di mana udang tersebut dibudidayakan. “Meski demikian, teknologi autofeeder masih memiliki beberapa kelemahan salah satunya adalah pakan yang keluar dari mesin bisa terlontar diluar area tambak. Apalagi jika kolam yang dimiliki terlalu kecil. Selain itu, ketika musim hujan, terkadang pellet pakan cenderung lengket akibat basah sehingga tidak bisa keluar dari mesin,” ungkap Sarwana. Sementara itu, Head Div. FM Technical Service & Lab dari CP. Prima, Dr.Ir.Heny Budi Utari, MSi, menjelaskan bahwa 90% kematian dalam budidaya akuatik disebabkan oleh penyakit. Untuk mengatasi masalah tersebut, penerapan biosecurity menjadi solusi yang patut dicoba. Bisa dimulai dengan memanajemen pakan dan limbah yang baik. Dengan meminimalisir limbah sisa pakan di dasar kolam, kesehatan udang juga akan lebih baik. “Sudah saatnya para petambak untuk menerapkan manajemen kesehatan dalam pembudidayaan aquatik ini. Bagi para petambak berskala rumah tangga, usahakan memiliki alat untuk mengontrol kualitas air untuk meminimalisir penyakit. Sebut saja alat cek transparansi air, pHmeter dan thermometer,” pungkas Heny. (syi/wil)
Gunakan Kurikulum OBE, Teknik Sipil UMM Raih Akreditasi Baik Sekali

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa meningkatkan kualitas pendidikannya. Kali ini kabar gembira datang dari Program Studi (Prodi) Teknik Sipil yang mendapatkan akreditasi Baik Sekali dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Peningkatan akreditasi ini diperoleh pada Rabu (04/08) lalu. Kepala Prodi Teknik Sipil, Ir. Rofikatul Karimah, M.T., mengatakan sebelum mendapat akreditasi Baik Sekali, Prodi Teknik Sipil berakreditasi B. Rofi bercerita bahwa akreditasi B ini sebenarnya masih berlaku sampai tanggal 13 Oktober mendatang. Namun Prodi Teknik Sipil memutuskan untuk mengajukan koversi lebih awal kepada BAN-PT. “Alhamdulillah pengajuan kita diterima dan berhasil mendapatkan akreditasi Baik Sekali,” ungkap dosen kelahiran Madura tersebut. Dalam proses peningkatan akreditasi, ada beberapa aspek yang dinilai oleh BAN-PT. Rofi mengatakan ada empat kriteria dalam penilaian. Pertama adalah dari aspek tenaga pengajar yang dimiliki. Utamanya jumlah Dosen Tetap Program Studi (DTPS) yang ada di Teknik Sipil. Kemudian ada juga penilaian dari aspek kurikulum, Bagaimana Teknik Sipil UMM menyusun dan menjalankan kurikulumnya. Ketiga adalah capaian pembelajaran mahasiswa. Terakhir, adapula penilaian dari segi jaminan mutu yang dimiliki oleh Teknik Sipil UMM. Dijelaskan kembali oleh Rofi, kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran di Prodi Teknil Sipil adalah sistem Outcome Based Education (OBE). Sistem ini menekankan pada keberlanjutan proses pembelajaran secara inovatif, interaktif, dan efektif. Sehingga akan melahirkan mahasiswa dan lulusan yang bisa memberikan solusi di tengah permasalahan. “Kami juga telah mempersiapkan kelas unggulan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). Harapannya mereka bisa lebih memahami bagaimana penggunaan PLTMH untuk memberikan manfaat bagi warga sekitar,” ungkap sekretaris Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) tersebut. Terakhir, Rofi mengungkapkan rencan prodi Teknik Sipil UMM sleanjutnya yakni akan fokus pada kegiatan-kegiatan untuk menyiapkan program akreditasi internasional. Pun dengan akreditasi unggulan yang tersedia. Rofi juga mengatakan bahwa keberhasilan prodi Teknik Mesin meraih hasil akreditasi ini adalah berkat kerja keras semua dosen, karyawan, dan mahasiswa Teknik Sipil. Kolaborisi dan sinergitas semua pihak menjadi kunci keberhasilan tersebut. “Semoga Teknik Sipil UMM bisa terus berkembang dan senantiasa mengembangkan diri sehingga mampu menjadi Prodi yang lebih baik lagi,” pungkasnya. (syi/wil)
Jarvis, Aplikasi Pintar Pemutar Alquran Karya Mahasiswa UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong para mahasiswanya untuk mengembangkan skill, kemampuan serta mengaplikasikannya dalam rangka menebar manfaat. Melalui Program Kreatifitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC) dengan judul “Aplikasi Asisten Pintar Pemutar Alquran Beserta Arti dan Tafsir Dengan Perintah Voice Command”, Tim mahasiswa UMM ciptakan aplikasi asisten pemutar Alquran bernama Jarvis Qur’an. Adapun inovasi mereka telah lolos pendanaan Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dikti) pada bulan Mei lalu. Amarul Akbar, salah satu anggota tim mengatakan bahwa ide aplikasi Alquran ini berawal dari perkumpulan majelis ta’lim yang ada di kediamannya. Salah satu ustad yang mengisi ingin agar ada aplikasi yang berbeda, utamanya terkait asisten Alquran. “Kami melihat fitur dan kegunaan dari kebanyakan aplikasi Alquran memiliki banyak kesamaan. Maka dari itu, kami berinisiatif menciptakan inovasi terbaru yang berbeda,”ucapnya melanjutkan. Mahasiswa kelahiran Mataram ini melanjutkan bahwa Jarvis Alquran telah dilengkapi dengan fitur voice command. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memberikan perintah agar aplikasi langsung memutar salah satu surat. Hanya perlu mengucapkan bagian apa yang ingin diputar, Jarvis akan segera menyediakannya. Menurut Akbar, fungsi ini yang membedakannya dari aplikasi lain yang ditemui. “Di samping itu, tersedia pula fitur pada microphone yang mampu mendeteksi ayat dan surat di Alquran ketika ada yang membacakannya. Jadi bisa lebih mudah mencari dan menemukan ayat terkait,” imbuh Akbar. Ia mengungkapkan, sistem kerja Jarvis Quran ini mirip dengan sistem command “Oke Google” maupun “Hai Siri” yang ada di Google dan Apple. Hingga saat ini, Akbar dan tim sedang berada di tahap penyelesaian aplikasi. “Alhamdulillah, kami sudah merampungkan sekitar 70% dari proses pembuatan. Tinggal sedikit lagi hingga dapat diuji coba serta bisa digunakan oleh masyarakat luas,” tambahnya melanjutkan. Dalam proses pembuatan Jarvis Quran ini, Akbar tidak sendiri. Ia ditemani oleh Shofiyah dari Prodi Informatika dan Syahara Biamalina dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Mahasiswa Informatika tersebut berharap aplikasi ini bisa membantu dalam pembelajaran di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan juga dalam kajian-kajian. Lebih luas juga bisa digunakan oleh masyarakat dalam memudahkan belajar dan memabca Alquran. Selain itu, ia berharap garapan PKM ini bisa lolos di Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) periode depan dan juga mampu meraih juara. “Tentu kami ingin mengembangkannya lebih lanjut agar bisa menebar kebaikan lebih luas pula,” tutupnya di akhir. (haq/wil)
UMMTalks Hadirkan Satpol PP, Kaji PPKM

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat lonjakan kasus Covid-19 di Jawa dan Bali menjadi sorotan masyarakat. Salah satu hal yang disorot media beberapa hari akhir adalah penertiban para pedang kaki lima oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Melihat isu tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berusaha mengambil sudut pandang lain dengan mengundang pakar manajemen organisasi pelayanan sosial UMM dan Satpol PP kota Malang melalui acara UMMTalks. Sekretaris Satpol PP Kota Malang Tri Oky Rudianto P.,S.E.,M.Si., mengatakan bahwa tugas dari Satpol PP adalah mengawal kebijakan pemerintah untuk menertibkan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Satpol PP kota Malang berusaha untuk tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat terkait. “Kami berkaca dari kejadian di daerah lain agar tidak berbuat semena-mena dan menyimpang dari aturan. Kami selalu menghimbau para anggota yang akan turun ke lapangan untuk tidak menggunakan kekuatan saat berkomunikasi dan tetap sopan. Namun juga harus tegas dalam menindak masyarakat yang melanggar aturan PPKM,” terang Oky. Oky menjelaskan bahwa ketika menertibkan masyarakat terutama para pedagang, tak jarang harus melakukan pengambilan kursi atau bangku dari pedagang kaki lima. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kerumunan. Namun bangku dan meja tersebut dapat diambil kembali dalam jangka waktu empat sampai tujuh hari setelahnya. “Jadi kami tidak menutup usahanya tetapi mengambil beberapa hal yang akan menimbulkan kerumunan. Pun barang-barang tersebut bisa diambil kembali oleh pedagang. Dengan begitu usaha dapat tetap berjalan dengan sistem take away atau dibawa pulang,” ungkap Oky. Dalam menindak para oknum nakal, lembaga ini telah memiliki pengawas internal bernama Petugas Tindak Internal (PTI). Oky mengatakan bahwa para Satpol PP yang kurang dalam hal etika juga akan diberi sanksi sesuai ketetuan-ketentuan yang berlaku oleh PTI. “Namun ketika tidak bisa ditangani oleh PTI, kasus tersebut akan dibawa ke biro kepegawaian,” kata Oky. Di sisi lain dalam menanggapi kasus tersebut, dosen UMM Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa konflik tidak selalu bersifat merusak. Konfik juga bisa menghasilkan suatu bentuk baru dan membangun yaitu ketertiban sosial. “Hal ini dapat berjalan ke arah baik jika ketika terjadi suatu konflik, masyarakat maupun Satpol PP melakukan penyesuaian-penyesuaian antara satu sama lain. Jika penyesuaian itu berjalan lancar, maka ketertiban sosial akan peraturan baru PPKM akan tercipta. Untuk kota Malang sendiri, Alhamdulillah tidak ada kasus kekerasan saat penertiban PPKM,” kata pakar manajemen organisasi pelayanan sosial UMM tersebut. (syi/wil)
PBSI UMM Prodi Pertama di antara PTM se-Indonesia yang Raih Akreditasi Unggul

Tidak hanya kuantitas, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga senantiasa meningkatkan kualitasnya. Hal serupa dilakukan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) yang berhasil meraih akreditasi unggul. Adapun akreditasi tersebut merupakan akreditasi format baru yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Berkat raihan tersebut, Prodi Bahasa Indonesia UMM menjadi prodi pertama di antara Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia yang mendapatkannya. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini telah lama siap menjalankan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Terlihat dari berbagai kegiatan akademis yang sudah dijalankan. Berbagai aspek yang dibutuhkan untuk mencapai akreditasi unggul juga berhasil dipenuhi dengan sangat baik. Sementara itu, Dr. Sugiarti, M.Si selaku Kepala Prodi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM, akreditasi tersebut dapat dicapai berkat kelengkapan komponen penilaian. Ada empat aspek kunci yang sukses dipenuhi yakni dosen tetap prodi, kurikulum, sistem penjaminan mutu internal serta tracer study. “Jumlah dosen yang kami miliki sudah memenuhi standar. Ditambah lagi dengan jumlah doktor dan kandidat doktor yang cukup banyak menjadi tenaga pengajar di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM,” tuturnya melanjutkan. Sugiarti kembali menjelaskan penerapan kurikulum yang menyesuaikan perkembangan zaman juga menjadi poin penting meraih akreditasi unggul. Termasuk bagaimana menjalankan pembelajaran di masa pandemi. Sedangkan dari aspek penjaminan mutu internal, ia mengaku bahwa Prodi sudah memiliki sinergitas dan kerjasama kolaboratif dengan lembaga strategis seperti Unit Pelaksanaan Teknik-Akreditasi dan Pemeringkatan (UPT – AP), Lembaga Informasi dan Publikasi (LIP) dan Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM. “Kami mendapatkan kemudahan dengan adanya BPMI yang menjadi penjamin mutu internal bagi program studi di UMM. Usaha ini juga menjadi bentuk kerja kolaboratif kami dalam meraih akreditasi Unggul,” jelasnya. Satu lagi komponen penting ialah tracer study, yaitu umpan balik alumni terkait kemampuan dan skill. Dari hasil pelacakan, masa tunggu kerja lulusan Prodi PBSI UMM rata-rata hanya tiga bulan, angka tersebut telah memenuhi ketentuan yakni maksimal enam bulan. Selain itu kesesuaian bidang kerja yang masih linier seperti guru dan editor juga berpengaruh dalam penilaian akreditasi. Meski sudah meraih akreditasi unggul, Sugiarti mengaku bahwa PBSI UMM akan terus memperbaiki diri dan berusaha mendapatkan akreditasi internasional. Selain itu juga berusaha menjadi program studi rujukan bagi banyak pihak, baik nasional maupun internasional. “Karena sudah mulai banyak jurusan Bahasa Indonesia di luar negeri atau Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), maka akreditasi internasional adalah hal yang penting agar kami mampu menjadi rujukan utama,” ungkapnya. Terakhir, Sugiarti berharap banyak hal-hal baik datang berkat adanya akreditasi unggul ini. Mulai dari proses pembelajaran yang bagus, hingga kuantitas dan kualitas mahasiswa serta alumni. “Kami selalu berupaya meningkatkan layanan dan pendidikan terbaik demi mencetak mahasiswa serta lulusan yang mumpuni di kemudian hari,” tutupnya menerangkan. (haq/wil)
Mahasiswa UMM Manfaatkan Limbah Mangga Jadi Masker Wajah

Banyak masyarakat yang menyukai buah mangga. Sayangnya, setelah habis, kulitnya langsung dibuang begitu saja. Padahal ada banyak manfaat dari limbah kulit mangga. Salah satunya yang ditemukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim mahasiswa UMM ini berhasil memanfaatkan limbah tersebut sebagai masker wajah. Dituangkan melalui Program Kreatifitas Mahasisiwa – Kewirausahaan (PKM-K), ide itu berhasil lolos tahap pendanaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Mei lalu. Elvira Putri selaku ketua tim menjelaskan ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk mengubah limbah kulit mangga menjadi produk masker wajah. Pertama yakni mengumpulkan limbah kulit mangga yang kemudian dicuci dan dikeringkan. Selanjutnya, harus melalui proses ekstraksi kulit. Tidak cukup sampai di situ, hasil dari ekstraksi lalu masuk pada proses produksi formula masker hingga berakhir pada uji pengukuran pH (power of hidrogen) agar sesuai dengan pH kulit wajah. “Tahap pengujian pH ini sangatlah penting agar tidak terjadi iritasi pada wajah saat menggunakannya. Pun agar konsumen merasa nyaman dengan masker tersebut,” tegas Elvira. Setelah berbagai tahapan usai dilakukan, Mango Mask Dream sudah siap untuk dikemas serta dipasarkan ke masyarakat luas. Mahasiswa kelahiran Lumajang ini kembali menambahkan kandungan dari kulit mangga sangat kaya akan antioksidan yang baik bagi kulit. “Kami menilai akan sayang jika limbah kulit mangga ini tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Terdapat berbagai kandungan yang mampu membersihkan dan merawat kulit agar lebih sehat. Di samping itu juga dapat mencegah noda yang akan merusak kulit,” lanjutnya menerangkan. Elvira mengaku, proses pemasaran produk ini dilakukan dengan memanfaatkan platform media sosial, baik itu Whatsapp maupun Instagram. Adapun harga masker wajah ini dipatok dengan harga sekitar Rp. 20.000 untuk satu produknya. Kedepannya, ia dan tim ingin agar ide PKM ini bisa terus berkembang dan menjadi usaha yang strategis. Ia mengatakan bahwa mereka berharap usaha ini mampu bersaing dengan produk lokal atau bahkan produk internasional lainnya. Apalagi mengingat produk ini adalah hasil olahan limbah yang tidak banyak orang mengetahui manfaatnya. Adapun Elvira tidak sendiri dalam menemukan ide serta mengembangkannya. Ia ditemani Nabilah Hanuun Haniiifah, Mega Amelia Tri Adinda, Novia Parameswari Putri, dan Dita Ayu Novitasari yang tergabung dalam satu tim. (haq/wil)
Student Day Rawat Tradisi Berprestasi UMM

Rangkaian panjang Student Day Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditutup pada Sabtu (7/8) lalu. Berbagai perlombaan telah dilakoni oleh para mahasiswa hingga akhirnya sampai pada event ini. Menariknya, ada berbagai penampilan serta penghargaan yang turut memeriahkan penutupan Student Day kali ini. Adapun penampilan dan para tamu hadir secara langsung di Hall Dome UMM dengan protokol kesehatan ketat, sementara mahasiswa mengikutinya melalui platform Zoom. Pada kesempatan itu, Dr. Fauzan, M.Pd selaku rektor mengatakan bahwa Student Day adalah tradisi yang sudah lama dilakukan oleh UMM selama bertahun-tahun. Tradisi inilah yang nantinya menumbuhkan dan mampu mengidentifikasi minat serta bakat dari para mahasiswa. Utamanya mereka yang masih baru di Kampus Putih. Selain itu juga memiliki fungsi untuk membentuk iklim prestasi dan kompetitif di kalangan sivitas akademika, khususnya para mahasiswa. “UMM menyadari bahwa masing-masing mahasiswa memiliki potensi sendiri baik dibidang minat, bakat, maupun akademik. Oleh karenanya itu Student Day menjadi agenda yang strategis untuk membangun kepercayaan diri agar mampu mengukir nama di berbagai kompetisi. Tidak hanya di tingkat kampus, tapi juga di tingkat regional, nasional hingga internasional,” tegas Fauzan menjelaskan. Meski dua tahun belakangan Student Day tidak bisa dilaksanakan dengan semestinya, Fauzan menilai keadaan inilah yang seharusnya menjadi tantangan tersendiri. Lebih lanjut, ia terus mendorong mahasiswa UMM agar dapat menjelajah ke bidang-bidang lain yang sebelumnya tidak pernah dikembangkan dengan optimal. “Kondisi pandemi seharusnya tidak mempengaruhi tingkat kreativitas dan inovasi. Malah sebaliknya, harus menjadi pelecut agar bisa menjadi mahasiswanya yang diperhitungkan dan diubah menjadi peluang berprestasi. Terhitung, setiap semester ada lebih dari 500 prestasi yang telah diukir para mahasiswa. Tidak hanya di level nasional saja tapi juga tingkat dunia,” tutur Fauzan. Ia juga menyinggung terkait jargon UMM yakni tiada hari tanpa prestasi serta tiada prestasi yang tak dihargai. Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi mahasiswa untuk berjuang sekuat tenaga mengembangkan diri dan berkontribusi bagi negeri. “Jangan jadi mahasiswa yang hanya kuliah pulang kuliah pulang saja. Manfaatkan waktu dan kesempatanmu untuk berkecimpung di dalam berbagai organisasi. Baik itu lembaga intra kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), atau juga Lembaga Semi Otonom (LSO) yang ada di tingkat fakultas,” pesannya. Terakhir, Fauzan menerangkan bahwa lahirnya pemimpin tidak hanya dari satu pintu saja. Namun berbagai pintu juga bisa membentuk pemimpin yang baik. Ia berharap para mahasiswa mampu mewujudkan jargon UMM yang diciptakan oleh Prof. Abdul Malik Fadjar yaitu Students Today Leaders Tomorrow. Sementara itu, berbagai penghargaan juga telah disiapkan bagi para mahasiswa berprestasi dan penuh kreatif. Mulai dari mereka yang berkecimpung di dunia kewirausahaan, konten kreator media sosial, reputasi, serta mereka yang berhasil meraih penghargaan regional dan nasional. Adapula penghargaan internasional, karir organisasi, karya ilmiah, inovasi, serta kategori mahasiswa mandiri. Adapula penampilan menarik dan apik dari band-band mahasiswa yang merupakan anggota UKM IKABAMA UMM. (wil)
FPP UMM Kaji Pengembangan Bioenergi untuk Keseimbangan Global

International Conference on Bioenergy and Environmentally Sustainable Agriculture Technology (IcoN-BEAT) kembali digelar untuk yang kedua kali oleh Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pemateri lintas negara juga dihadirkan untuk memberikan wawasan baru terkait topik ini. Ada Prof. Hiroyuki Sakakibara dari Jepang, Assoc. Prof Juris Burlakovs dari Estonia dan Assoc. Prof Zane Vincevica Gaile yang berasal dari Latvia. Hadir pula Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Prof. Didiek Hadjar Goenadi serta Henik Sukorini, Ph.D pada Rabu (28/7) lalu. Paparan pertama diawali oleh Dadan dengan memberikan penjelasan lebih lanjut tentang pentingnya peran bioenergi dalam mendukung transformasi energi. Ia memulai dengan menerangkan perkembangan bioenergi di Indonesia. Mulai dari pengembangan bioenergi berbasis power plant dan meningkatkan penggunaan biofuel pengganti bahan bakar fosil. Pun dengan biomass sebagai pengganti batu bara serta memanfaatkan municipal solid waste dan sampah organik. “Pengembangan dan pemanfaatan biogas untuk industri dan sektor transportasi juga menjadi penting untuk transformasi energi. Potensi pemanfaatan bioenergi untuk listrik juga sangat besar. Berdasarkan survey beberapa tahun lalu, potensi yang diberikan ekuivalen dengan tenaga listrik sebesar 32 gigawatt. Sementara sekarang, kita menggunakan daya sebesar 2 gigawatt,” tutur Direktur Energi Terbarukan dan Konservasi Energi tersebut. Hal tersebut diperkuat oleh Didiek yang terus mendorong masyarakat untuk berpikir lebih jauh terkait kelestarian alam. Peneliti Lembaga penelitian Bioteknologi dan Bioindsutri indonesia itu terus mengajak untuk memelihara stok karbon organik tanah yang ada. Kemudian Zane dari University of Latvia yang senantiasa mengingatkan bahaya dan dampak buruk penghancuran lahan gambut di masa depan. Salah satunya adalah menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan global. Hal serupa disampaikan oleh Juris Burlakov. Ia menilai perlu adanya peningkatan efisiensi sumber daya dan pendauran ulang. Keduanya menjadi upaya untuk mengurangi konsumsi bahan baku utama sekaligus sebagai usaha dalam melestarikan lingkungan. Sementara itu, paparan menarik diberikan oleh Hiroyuki Sakakibara. Menurutnya, lingkungan yang baik akan berdampak pada kualitas organisme, termasuk di dalamnya adalah tanaman. Tanah yang penuh dengan nutrisi akan mendukung tanaman agar mampu melakukan biosintesis senyawa bioaktif. Ia menyebut senyawa flavonoid adalah salah satu senyawa yang bermanfaat. Hal itu tidak lepas dari perannya dalam melindungi tanaman akan kerusakan akibat paparan sinar UV. “Sehingga besar harapannya, para petani dapat menghasilkan produksi tanaman apapun dengan kualitas yang maksimal,” tuturnya melanjutkan. Konferensi tersebut ditutup dengan penyampaian materi oleh Henik. Menurutnya, agrikutur merupakan sektor strategis yang memberikan sumbangan terbesar kepada Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karenanya, ia mengatakan bahwa pengembangan kelestarian lahan dan menjaganya dari kerusakan lingkungan adalah sebuah tantangan besar. Sementara itu, Dr. Ir. Damat, M.P. selaku ketua panitia mengatakan bahwa gelaran ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para peserta terkait pertanian dan kelestarian lingkungan. Di samping itu juga meningkatkan publikasi para dosen di jurnal yang terindeks Scopus. Menurut Damat, publikasi-publikasi ilmiah tentu diperlukan oleh dosen serta perguruan tinggi. “Gelaran IcoN-BEAT ini juga menjadi upaya kami dalam membangun kerja sama internasional. Kali ini kami bekerja sama dengan Jordan Journal dari Jordania dan Sarhad Journal dari pakistan untuk memberikan materi di workshop yang dilaksanakan pada hari kedua,” terangnya melanjutkan. (wil)
Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Mitigasi Bencana Tanah Longsor

Potensi bencana alam yang terjadi di Indonesia cukup besar. Salah satu bencana alam yang sering terjadi adalah tanah longsor. Tercatat, sepanjang tahun 2021 ada 218 kasus tanah longsor yang terjadi di Indonesia. Untuk mengurangi korban akibat bencana alat tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan sistem peringatan dini bencana tanah longsor berbasis Internet of Things melalui pesan Telegram. Salah satu anggota tim, Retno Diajeng Putri mengatakan bahwa sistem ini merupakan pengembangan dari sistem yang telah ada di Indonesia. Retno melanjutkan, meskipun tanah longsor sering terjadi Indonesia, sistem yang dikembangkan oleh pemerintah masih berbasis Short Message Service (SMS). Pengiriman peringatan ini terkendala karena masyarakat telah berpindah dari SMS ke aplikasi pesan berbasis internet. “Karena sudah tidak menggunakan SMS untuk berkirim pesan, kadang masyarakat tidak tahu jika ada pemberitahuan peringatan tanah longsor. Untuk itu kami menggunakan sistem Internet of Things (IoT) untuk mengirim peringatan bencana tanah longsor ke masyarakat melalui Bot Telegram,” ungkap mahasiswa Teknik Elektro tersebut. Retno menjelaskan, untuk mendeteksi bencana tanah longsor, mereka menyematkan dua sensor dalam alatnya yaitu sensor humidity dan ultrasonic. Kedua sensor tersebut dapat mendeteksi pergeseran tanah, kelembaban tanah, dan intensitas curah hujan di suatu daerah. Data dari kedua sensor itu akan diolah di raspberry pi model B+ dan akan menghasilkan empat peringatan yaitu aman, waspada, siaga, dan awas. “Telegram dipilih sebagai aplikasi pengirim peringatan bencana karena lebih cepat dalam hal pengiriman data dibanding aplikasi yang lain. Untuk sistem penyampaian informasi alat ini ke masyarakat akan melalui undangan di aplikasi Telegram. Jadi penggunaan alat ini memang hanya terbatas pada daerah-daerah rawan longsor,” terang Retno. Saat ini, Retno dan tim telah menyelesaikan pembuatan alat pendeteksi bencana tanah longsor tersebut. Namun ke depannya akan ada beberapa penyesuaian dan evaluasi setelah diuji coba. Selain Retno, tim ini terdiri dari Ade Musthafa Alwi dan Devi Krista Ferani. Adapun alat ini telah diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan lolos pada tahap pendanaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Saya tentu berharap alat ini dapat dapat membantu mitigasi bencana tanah longsor di Indonesia lebih baik lagi. di samping itu juga mampu mengurangi jumlah korban,” pungkasnya. (haq/wil)
Tingkatkan Ekonomi, Tim FEB UMM Dorong Warga Manfaatkan Potensi Singkong

Singkong menjadi salah satu bahan makanan penghasil karbohidrat terbesar ketiga setelah padi dan jagung. Bahan baku ini juga memiliki potensi untuk dikelola menjadi beragam jenis makanan. Namun, Desa Wonokerto, Trenggalek sebagai salah satu desa penghasil singkong kurang memanfaatkan potensi tersebut. Melihat hal itu, tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan pelatihan pembuatan keripik dari singkong. Adapun program pengabdian masyarakat ini berlangsung selama dua bulan dari tanggal 1 Juni – 30 Juli 2021. Saat ditemui, ketua tim pengabdian dosen Novi Puji Lestari.,SE.,M.M., mengatakan bahwa sebagian masyarakat Desa Wonokerto bermata pencaharian sebagai petani singkong. Sayangnya, mereka hanya menjual hasil panen mentah kepada tengkulak. Hal itu membuat harga jualnya juga lebih rendah. Padahal menurutnya, jika diolah produk dari singkong bsia memberikan keuntungan yang lebih banyak. “Masyarakat tidak memanfaatkan potensi bahan makanan ini dengan baik. Padahal produk olahan singkong seperti makanan ringan sangat menjamur di perkotaan. Karena itu, kami mengadakan pelatihan pembuatan keripik singkong bagi warga desa,” ungkap dosen Prodi Manajemen tersebut. Dalam rangkaian kegiatannya, Novi mengatakan selain mengajari masyarakat tentang pengolahan singkong menjadi produk layak jual, tim ini juga memberikan pemahaman mengenai merek dagang. Pemberian materi mengenai merek dagang ini bertujuan agar masyarakat mampu membangun brand keripik singkong sendiri di pasaran. “Kami juga memberikan beberapa alat yang bisa mendukung produksi keripik kentang di desa Wonokerto. Mulai dari sealer, spinner, alat pengiris singkong, plastik untuk kemasan, bumbu dengan berbagai rasa-rasa, hingga stiker untuk label di kemasan produk,” ujar Novi lebih lanjut. Novi tidak sendiri dalam melaksanakan program pengabdian masyarakat ini. Pada kesempatan itu ia dibantu oleh Widhiyo Sudiyono.,ST.,M.BA. Selain itu ada lima orang mahasiswa lain yang turut serta terjun langsung memberi pelatihan yaitu, Abidin Muchlis El Ab’ror, Omita Arindya, Adinda Rizky Yuanitasari, Evrila Restu Goetama Saputri dan Tassya Marchella Adelina Wahyudi. Terakhir, Novi berharap kegiatan pengabdian ini dapat memberikan manfaat bagi warga desa Wonokerto. “Di samping itu saya juga berharap agenda ini dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar. Begitu pula untuk memberikan keterampilan baru bagi masyarakat,” tandasnya. (syi/wil)