Halal Bihalal UMM Ingatkan Nilai-nilai Utama Bangun Pendidikan

Selepas berjuang sebulan berpuasa di bulan suci Ramadan, kini tiba saatnya untuk merayakan kemenangan bersama dalam meriah Idul Fitri. Idul fitri juga sangat erat dengan momentum introspeksi diri dan memperkuat silaturahmi antar sesama Muslim. Untuk itu, keluarga besar Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar giat tradisi Halal Bihalal dalam rangka menyambung silaturahmi, memperkokoh semangat perjuangan, serta mencairkan atmosfer kekeluargaan antar civitas akademika UMM, pada 09 April 2025 lalu Agenda semakin bermakna dengan pemaparan tausiyah yang dibawakan oleh Tokoh Senior UMM Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo. Ia mengawali tausiyahnya dengan menceritakan berbagai kisah serta sejarah perjuangan UMM menuju kampus unggul dan berkemajuan. Sebagai sosok yang telah mendampingi kampus putih selama hampir 50 tahun, Ia sangat bersyukur dengan pencapaian UMM saat ini yang telah melampaui cita-citanya dan para pendahulu. Menurutnya, kampus yang kini megah ini bukan hasil kerja sembarangan. Semangat juang dan kegigihan yang diiringi pengorbanan adalah kunci. Selain itu, memegang teguh nilai-nilai spiritual sebagaimana yang telah diwarisi oleh para tokoh senior (sesepuh) Muhammadiyah. “Di UMM itu ada semangat berjuang. Ini adalah kunci dari kesuskesan dan pencapaian UMM saat ini. Lalu, semangat juang itu diterjemahkan dan diimplementasikan. Selain itu, UMM juga selalu berpegang kepada Alquran dan Sunnah, serta kepada nilai-nilai yang dicontohkan oleh sesepuh Muhammadiyah,” sambungnya. Berpuluh tahun mendedikasikan dirinya mengembangkan UMM, Imam Suprayogo berhasil menyalurkan energi positif di lembaga pendidikan lainnya. Ia mengaku, kepemimpinannya and tranformasi yang dilakukannya untuk mengubah IAIN menjadi UIN Malang terinspirasi dari nilai-nilai dan etos kerja yang diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Oleh karena itu, Ia percaya bahwa jika sistem kerja UMM disusun secara ilmiah, akan lahir ilmu tentang pengembangan lembaga pendidikan tinggi yang benefitnya sangat luas untuk dunia pendidikan di Indonesia dan global. “Seyogyanya, kemajuan kampus ini modalnya adalah kerja keras, berpikir rasional, kesabaran, keikhlasan, dan perjuangan yang gigih. Untuk itu, di momentum yang fitrah ini, mari kita semua saling melengkapi kekurangan dan menyatukan kelebihan diantara kita untuk menjadi sebuah kekuatan dasar yang menjadikan UMM itu dasar,” pesannya. Sementara itu, tradisi Halal Bihalal yang sudah lama dibangun UMM ini merupakan bagian dari warisan budaya tak benda yang patut dilestarikan. Agenda ini juga sebagai wadah untuk mencairkan hubungan-hubungan yang beku melalui saling memaafkan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Lebih lanjut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si menegaskan pentingnya mecanangkan dan menegakkan niat untuk UMM berkemajuan melalui momentum Idul Fitri ini. Untuk itu, Nazar berpesan untuk dirinya dan seluruh warga UMM untuk terus mengasah dan meningkatkan ibadah. “Taqabbanallahu minna wa minkum, minal aidzin wal faidzin adalah bentuk menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Mari kita renungkan bersama momen ini, agar kita semakin termotivasi dan melakukan sesuatu di masa depan dengan lebih baik,” tuturnya. (din/wil)

Begini Cerita Dosen UMM tentang Sisa Idul Fitri di Hungaria

Hari Raya Idulfitri tidak hanya soal kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga tentang upaya mempertahankan identitas, terutama bagi umat Islam yang hidup di tengah masyarakat non-Muslim. Inilah yang dirasakan oleh komunitas Muslim di Budapest, Hungaria — sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik dan sedikit pemahaman terhadap Islam. Nafik Muthohirin, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini sedang menjalani studi doktoral di Eötvös Loránd University (ELTE), Budapest, menggambarkan pengalaman berlebaran di Hungaria sebagai sesuatu yang emosional sekaligus reflektif. “Ramadan dan Idulfitri di Budapest bukan sekadar soal ibadah, ini adalah upaya konsisten mempertahankan iman dan kebersamaan dalam kondisi yang tidak ideal. Tantangan pertama yang paling terasa adalah waktu puasa yang panjang. Kami berpuasa sekitar 16 jam setiap hari. Matahari terbenam bisa sekitar pukul 8 malam, dan itu menguras energi, terutama bagi mahasiswa dan pekerja migran yang memiliki aktivitas padat,” jelasnya. Meski tantangan sebagai Muslim minoritas cukup berat, Nafik menyampaikan bahwa hal itu terbayar oleh kuatnya solidaritas antar sesama Muslim di Budapest. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan masjid-masjid komunitas memiliki peran krusial dalam menjaga spiritualitas umat Islam di tengah lingkungan yang berbeda keyakinan. Menurutnya, Masjid Darussalam menjadi tempat yang paling sering didatanginya karena lokasinya yang berdekatan dengan kampus. Ia menggambarkan bahwa suasana Ramadan di masjid tersebut terasa sangat hidup, dengan berbagai kegiatan seperti buka puasa bersama, tarawih berjamaah, ceramah agama, hingga i’tikaf yang berlangsung setiap malam. “Kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya bersifat ritual, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi para perantau. Kami bertemu, berbagi makanan, cerita riset, bahkan informasi akademik seperti konferensi internasional dan publikasi jurnal. Ada perasaan bahwa kami sedang membangun peradaban kecil dari komunitas yang sangat beragam,” ungkapnya. Dalam menjalankan ibadah Ramadan di negeri minoritas, komunitas Muslim di Budapest mengandalkan keberadaan masjid-masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan dan kebudayaan. Nafik menjelaskan bahwa masjid-masjid di Budapest umumnya bercorak komunitas, seperti Masjid Turki, Masjid At-Taqwa, dan Masjid Pascal yang mencerminkan latar belakang asal para jamaahnya, lengkap dengan tradisi dan hidangan khas masing-masing. Meski berbasis etnis, ia menekankan bahwa masjid-masjid tersebut tetap terbuka untuk umum, hanya saja setiap orang yang ingin ikut serta dalam kegiatan, seperti buka puasa bersama, diwajibkan mendaftar terlebih dahulu secara daring karena keterbatasan tempat dan jumlah makanan yang tersedia. “Pada saat hari raya Idulfitri, kebersamaan itu pun semakin terasa. Shalat Idulfitri kami lakukan di halaman KBRI. Ada lebih dari 700 WNI berkumpul, dari mahasiswa, pekerja, sampai warga lokal yang menikah dengan orang Indonesia. Momen itu sangat emosional, karena kami merasa seperti menemukan kembali rumah yang hilang, mengingat mahasiswa Indonesia di Budapest cenderung jarang bertemu karena kesibukan masing-masing,” ujarnya. Nafik menilai bahwa di tengah masyarakat Hungaria yang cenderung individualistik, momen-momen kebersamaan dalam komunitas Muslim memiliki peran penting dalam menjaga nilai kolektif dan solidaritas. Ia menggambarkan kehidupan di Eropa sebagai sangat privat, bahkan antar tetangga pun belum tentu saling mengenal, sehingga keberadaan komunitas Muslim menjadi ruang pertemuan yang sangat berharga. “Saya tentu saja rindu suasana lebaran di Indonesia, tapi justru di perantauan ini saya belajar lebih dalam tentang makna ukhuwah. Kebersamaan yang tumbuh dari keterbatasan, dari perjumpaan dengan sesama Muslim lintas bangsa, terasa sangat kuat di sini. Di tengah masyarakat yang individualistik, komunitas Muslim menjadi ruang pertemuan yang sangat berharga,” jelasnya. Baginya, lebaran di Budapest bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal menyadari bahwa iman itu bukan tentang tempat, tapi tentang komitmen dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri. Ia berharap komunitas Muslim di perantauan, terutama para mahasiswa, bisa terus merawat solidaritas lintas budaya dan menunjukkan wajah Islam yang damai dan inklusif di mata dunia. (vin/wil)

Sampah Pasca Idul Fitri Menumpuk, Begini Kata Dosen UMM

Pasca perayaan Idul fitri, volume sampah di berbagai daerah meningkat signifikan. Sampah rumah tangga yang didominasi oleh sisa makanan dan plastik kemasan menjadi perhatian utama dalam pengelolaan limbah. Menanggapi kondisi ini, Kepala Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Sukarsono, M.Si., menyarankan agar moment perayaan Iedul Fitri bisa menjadi sarana kembali suci dari perilaku mengotori lingkungan dengan sampah dan limbah.  Sebisa mungkin setiap individu dan kelompok masyarakat berupaya dengan kesadaran diri dan kesadaran kelompok melakukan pengurangan limbah, melakukan praktek-praktek pengolahan sampah yang dikuasai dengan Teknik sesederhana apapun, karena pasti akan sangat bermanfaat bagi lingkungan dan keberlanjutan. “Jenis sampah yang paling banyak dihasilkan setelah lebaran adalah sampah organic dan sampah plastic kantong dan pembungkus kemasan. Volume sampah organic mengalami peningkatan 20% lebih dari volume biasanya yang mencapai sekitar 60% dari total sampah keseluruhan. Sampah ini terdiri dari sisa makanan, sayuran, dan bahan makanan yang tidak dikonsumsi,” tambahnya. Selain itu, sampah anorganik, terutama plastik dari kemasan makanan dan minuman, juga mengalami peningkatan signifikan. Tidak ketinggalan, minyak goreng bekas atau jelantah turut menjadi salah satu sumber pencemaran lingkungan yang jumlahnya mengalami peningkatan signifikan setelah lebaran.  Kondisi ini tentu akan sangat mengganggu dan merusak lingkungan tanah dan perairan. Selain mengotori, limbah jelantah akan menyebabkan air sungai kekurangan oksigen terlarut sehingga dapat menyebabkan kematian ikan dan mikroba. “Mendaur-ulang minyak goreng bekas itu kan mudah. Kalo dibuat lilin, tinggal saring minyak bekas tersebut, siapkan paraffin ato lilin bekas kemudian panaskan.  Masukkan minyak bekas, beri pewarna dan pewangi sesuai selera, kemudian tuangkan kedalam cetakan gelas atau paralon yang sudah diberi sumbu dari benang kasur. Diamkan semalam. Besoknya sudah bisa dikemas. Lilin yang dinyalakan akan menerangi dan mengharumkan ruangan,” jelasnya. Sukarsono menjelaskan, membuat Bahan Bakar Solar dari minyak goreng bekas atau disebut Bio-Solar juga mudah. “Saring minyak goreng bekas, larutkan kedalam alkohol (metanol) beri KOH atau NaOH. Diamkan selama 2 jam, minyak  akan terpisah menjadi Bio-Solar dan Gliserol. Gliserol dipisahkan untuk bahan dasar kosmetik atau farmasi. Sementara Bio-Solarnya didiamkan lagi supaya terpisah antara air dan bio-solar. Pisahkan bio-solar untuk dijual atau untuk BBM kendaraan sendiri,” katanya. Selain meningkatnya volume sampah, menurutnya permasalahan lain yang muncul adalah kurangnya fasilitas pengolahan sampah yang memadai. Banyak daerah yang masih mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa adanya pemilahan sampah sejak awal. Hal ini menyebabkan tumpukan sampah semakin besar dan berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran tanah dan air. Untuk mengatasi permasalahan ini, ia menekankan pentingnya pengelolaan sampah berbasis komunitas dan individu. “Sampah organik dari dapur dapat diolah menjadi kompos atau diberikan kepada peternak sebagai pakan ternak. Nasi dan makanan lain yang tidak habis dimakan sebaiknya dikumpulkan di kantong khusus, jika sudah cukup banyak diberikan kepada peternak ayam atau bebek.  Sementara itu, sampah plastik sebaiknya dikumpulkan dan dijual ke pemulung atau bank sampah untuk didaur ulang. Adapun minyak jelantah, selain dapat diolah menjadi lilin atau biodiesel, juga bisa dikumpulkan secara kolektif untuk dijual ke banyak perusahaan pengumpul minyak goreng bekas untuk bahan biodiesel,” katanya. Sukarsono juga menekankan urgensi penanganan sampah ini menjadi tanggungjawab individu dan kelompok masyarakat. Sementara pemerintah juga harus lebih aktif melakukan penyadaran dan menyediakan fasilitas pengolahan sampah, seperti tempat pengolahan sampah terpadu dan insinerator yang ramah lingkungan. Selain itu, kebijakan tentang pengurangan penggunaan plastik sekali pakai juga perlu diperketat agar masyarakat lebih terbiasa menggunakan produk yang lebih ramah lingkungan. Lebih lanjut, ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah. “Jika semua orang mulai memilah dan mengolah sampah dari rumah tangga masing-masing, beban tempat pembuangan akhir (TPA) akan berkurang, dan dampak lingkungan bisa ditekan. Sebagai solusinya dapat membuat lubang kecil di tanah untuk mempercepat proses dekomposisi dan mengahasilkan pupuk alami,” ujarnya. Konsep ini diharapkan mampu mengurangi limbah yang berakhir di TPA sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu, edukasi mengenai pengelolaan sampah juga harus lebih digencarkan, baik melalui sekolah maupun media sosial, agar masyarakat semakin memahami pentingnya pengelolaan limbah yang baik. “Dengan meningkatnya kesadaran dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah, diharapkan pasca-lebaran tidak lagi identik dengan lonjakan sampah yang mencemari lingkungan. Langkah kecil dari setiap individu akan berdampak besar bagi keberlanjutan lingkungan yang lebih baik,” pungkasnya. (vin/wil)

Terapkan Prinsip 50-30-20, Cara Efektif Kelola Uang saat Lebaran

Setiap lebaran, ada satu momen yang selalu ditunggu-tunggu yaitu Tunjangan Hari Raya (THR). Lebaran identik dengan bagi-bagi THR, hal ini sudah menjadi hal yang lumrah. Terlebih lagi, di Indonesia THR juga sudah menjadi tradisi sejak tahun 1950-an. Pemberian THR bagi pekerja Muslim bukan hanya soal mendapatkan “uang tambahan” menjelang Idul Fitri, justru THR juga memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. THR mendorong daya beli yang signifikan, mempercepat perputaran uang, dan tentunya meningkatkan omset UMKM, terutama di sektor ritel, makanan, dan jasa. Pemberian THR memicu lonjakan transaksi perbankan dan konsumsi, terutama pada sektor informal. Di sisi lain, peningkatan permintaan barang dan jasa di pasar berisiko menyebabkan inflasi musiman. Momen ini bisa menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi tantangan bagi pengelolaan keuangan individu dan perusahaan. Selaras dengan hal itu,  Muhammad Sri Wahyudi, SE, ME., Dosen dan Kepala Program Studi  Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan, meski THR bisa jadi angin segar, dalam pengelolaannya harus cerdas agar tidak menguras kantong pasca-Lebaran. Salah satu cara yang efektif adalah dengan merencanakan anggaran secara bijak. Dapat dengan menerapkan prinsip 50-30-20: 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi. Dengan cara ini, kita dapat menikmati Lebaran tanpa khawatir kehabisan uang. Selanjutnya, hindari belanja impulsif. Dengan memanfaatkan diskon yang ada, masyarakat bisa sedikit menghemat pengeluaran selama Lebaran dan sebisa mungkin hindari penggunaan kartu kredit secara berlebihan. “Untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan THR, diperlukan pendekatan yang melibatkan literasi keuangan, seperti kampanye edukasi tentang alokasi anggaran dengan prinsip 50-30-20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan/investasi), dan promosi kebiasaan menabung sejak dini,” tegasnya. Lebih lanjut, selama Lebaran  pengeluaran masyarakat mengalami lonjakan luar biasa. Mulai dari transportasi, akomodasi, hingga transaksi digital, semuanya mengalami peningkatan pesat. Ini merupakan bukti bahwa THR memang menjadi pemicu perputaran uang yang besar. Selain itu, ada fenomena inflasi musiman yang harus diwaspadai. Masyarakat seringkali tergoda untuk membeli lebih banyak barang dan jasa dengan uang THR, sehingga harga-harga melonjak dan mempengaruhi daya beli. Peningkatan konsumsi ini memberi dampak positif pada sektor UMKM dan transaksi lokal, tetapi perlu juga diingat bahwa inflasi musiman dapat menggerus nilai uang yang diterima dalam bentuk THR. Meskipun demikian, efek positifnya lebih dominan karena mendorong pertumbuhan ekonomi sementara, menciptakan lapangan kerja tambahan, serta memperkuat daya beli masyarakat dalam jangka pendek. Menurut Yudi, melihat dari perspektif ekonomi, THR jelas menjadi stimulus yang mempercepat perputaran uang dan mendorong konsumsi, terutama pada sektor UMKM. Sayangnya, tidak semua perusahaan bisa dengan mudah membayar THR, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih fluktuatif. Oleh karena itu, penting untuk memahami pentingnya literasi keuangan agar THR bisa dimanfaatkan dengan bijak. Tidak hanya untuk konsumsi sesaat, tetapi juga untuk kesejahteraan jangka panjang. Dengan strategi pengelolaan yang tepat, THR bisa jadi kunci untuk meraih kebahagiaan finansial selama Lebaran, tanpa harus menyesal di kemudian hari. “Hal yang tak kalah penting yaitu, untuk tidak abai menyisihkan dana darurat untuk pasca-Lebaran. Sebab, setelah euforia berbelanja, kebutuhan untuk stabilitas keuangan juga tak kalah penting,” tutupnya. (nam/wil)

Cerita Asyik Dosen UMM Berlebaran di Eropa

Adalah Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc., dosen program studi pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang menempuh program doktoralnya di Austria. Selain aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik di Institute of Parasitology, Veterinary Medicine University, Vienna, ia juga menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Austria. Mirza juga membagikan vlog perjalanan dan tantangan yang ia hadapi selama menjalani Ramadan hingga merayakan Lebaran di Benua Biru. Menjadi salah satu bagian dari komunitas minor (minoritas) dalam suatu wilayah adalah suatu tantangan yang signifikan, terutama dalam hal ibadah. Namun, Ia mengaku sangat bersyukur bertemu dengan komunitas muslim Indonesia. Komunitas Muslim Indonesia di Austria merayakan Ramadan dengan berbagai kegiatan kegamaan di Masjid As-Salam, Vienna. Masjid ini didirikan oleh diaspora Indonesia yang sudah tinggal selama 30-40 tahun di Austria. Menariknya, setiap Selasa dan Jum’at, mereka mengadakan buka puasa bersama dengan menyajikan hidangan Iftar khas Indonesia seperti opor dan semur ayam. “Alhamdulillah, saya berkesempatan menghabiskan waktu berpuasa Ramadan selama sekitar 14 jam setiap harinya. Angka durasi ini tergolong lebih cepat, jika dibandingkan dengan lama berpuasa tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai 18-20 jam yang pada musim panas. Ini dikarenakan Ramadan kali ini bertepatan dengan musim dingin (winter),” sambungnya. Sementara itu, hasil ijtihad Komunitas Muslim Austria menetapkan Idul Fitri (1 Syawal 1446 H) jatuh pada hari minggu, 30 Maret 2025. Ia dan teman-teman memeriahkan lebaran serentak bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Vienna yang menyediakan tempat untuk menunaikan salat Ied. Setiap tahun, diaspora Indonesia dari berbagai kota berkumpul di KBRI untuk merayakan momen kemenangan ini. Uniknya, Idul Fitri kali ini bertepatan dengan hari Minggu yang juga merupakan hari libur nasional disana. Hari tersebut akrab juga dikenal sebagai hari tenang, dimana ada himbauan bagi para warga untuk mengurangi aktivitas di luar dan tidak membuat kebisingan. Sedangkan, di Austria dan negara Eropa lainnya, baik mengumandangkan azan ataupun takbiran dilarang menggunakan pengeras suara ke luar masjid. Hal ini ditetapkan untuk menghormati norma lokal yang berlaku. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari toleransi dan penghormatan terhadap aturan setempat agar tidak timbul kericuhan serta hal yang tidak dinginkan lainnya. Sebagaimana pepatah “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Lebih daripada itu, Ia sangat bersyukur memiliki kesempatan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dalam perjalanan akademiknya sebagai seorang dosen UMM sekaligus mahasiswa S3 di Austria. “Saya rasa, indah sekali hidup dalam toleransi dan saling menghargai. Senang sekali rasanya, di kali pertama saya merayakan lebaran bersama berkumpul merayakan hari kemenangan. Selebihnya saya ucapkan, Taqabballahu minna wa minkum semoga Allah SWT mempertemukan kita kembali dengan Ramadan di tahun berikutnya, Aamiin,” ungkapnya. Lebih lanjut, Mirza menyebut Lebaran dan Ramadan di Austria menghadirkan nuansa yang berbeda. Meski demikian, Mirza mengaku banyak Ramadan Things yang menjadi ciri khas di Indonesia seperti lantunan azan dan tadarus dari surau, serta kehangatan kebersamaan bersama keluarga menjadi hal yang paling dirindukan. Selain itu, kuliner khas Indonesia seperti sate Madura, tahu telur, dan gado-gado sulit untuk Ia dapatkan. Meskipun ada restoran Asia, namun cita rasanya tak bisa menggantikan kelezatan kuliner khas tanah air. (din/wil)

Dosen UMM Bagikan Cara Hadapi Pertanyaan Kapan saat Lebaran

Budaya interaksi masyarakat Indonesia menjelang lebaran identik dengan berbagai pertanyaan yang dianggap sensitif oleh banyak orang. Seperti kapan lulus, kapan nikah, kerja dimana, dan sebagainya. Maka respon yang tepat saat menghadapi situasi tersebut adalah dengan mencoba melakukan komunikasi asertif, yang memungkinkan seseorang untuk dapat mengekspresikan pikiran serta perasaannya secara jujur tanpa melukai orang lain. Hal itu disampaikan oleh Dr. Winda Hardyanti, S.Sos, M.Si, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen yang menekuni bidang komunikasi interpersonal ini berbagi tips tentang bagaimana menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang beraneka ragam saat lebaran. Misal pertanyaan kapan nikah, kapan kerja, dan kapan-kapan yang lain. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sensitif, Winda menyarankan menggunakan teknik komunikasi asertif. Secara teori komunikasi asertif dapat dilakukan melalui dua cara, yakni asertif langsung dan tak langsung. Asertif langsung adalah berkomunikasi tegas tetapi tetap sopan misalnya, ‘saya lebih nyaman berbicara mengenai topik lain, tapi makasih ya sudah tanya’. Menurutnya, bisa juga dengan strategi asertif tidak langsung yakni dengan cara mengalihkan pembicaraan. Cara lain juga bisa juga memberi respon candaan terutama jika memiliki kedekatan dengan pihak yang diajak bicara. Kemudian ia menyampaikan, terkadang orang-orang menanyakan pertanyaan sensitif tersebut tidak membutuhkan jawaban, melainkan sekedar basa-basi semata untuk membangun hubungan sosial. “Ada teori yang dinamakan sebagai Politeness Theory.  Dalam teori ini ada istilah face-saving yakni, menjaga kesopanan wajah sosial agar tetap menjalin hubungan dengan baik. Jadi ketika ada yang bertanya terkait hal sensitif kita bisa menghadapinya dengan strategi face-saving ini demi melindungi diri sendiri dalam menghindari jawaban yang terbuka. Dengan mencoba mengalihkan pertanyaan lain ke orang yang bertanya tersebut, bisa juga opsi terakhir dengan meminta doa. Kalo dalam teori politeness diartikan sebagai strategi mitigasi, sehingga bisa meredam amarah dengan jawaban yang netral seperti, ‘masih proses, masih mencari, dan doakan saja ya’,”ujarnya. Di sisi lain, pertanyaan umum yang paling banyak ditanyakan kepada generasi Z sekarang adalah pertanyaan kapan nikah. Pertanyaan itu dalam kajian komunikasi bisa dibahas menggunakan teori pengurangan ketidakpastian. Menurut Winda, berdasarkan teori pengurangan ketidakpastian, seseorang yang bertanya mengenai pernikahan sebenarnya hanya ingin mengurangi ketidakpastian yang dirasakannya. Orang tersebut merasa ingin memastikan bahwa kehidupan dari orang tersebut sesuai dengan harapannya. Maka untuk mengatasi pertanyaan tersebut kita bisa menggunakan strategi pasif atau menjawab dengan singkat tanpa membuka diskusi lebih lanjut. Tidak hanya itu ia juga memberikan tips agar tidak merasa terbebani atau tersinggung dengan pertanyaan yang dianggap sensitif tersebut. Pertama meningkatkan kesadaran diri dengan mengingat bahwa tidak semua hal harus diceritakan kepada orang lain, karena setiap kita memiliki batasannya masing-masing. Kemudian menjaga batasan diri dalam menentukan tingkat keterbukaan, dan yang terakhir memahami bahwa setiap individu memiliki kuasa serta kemampuan dalam mengelola diri sendiri. “Jangan sampai hanya karena kita takut ditanyai pertanyaan-pertanyaan sensitif lalu hal itu menghalangi diri kita untuk bersilaturahmi ataupun berinteraksi dengan orang lain. Nah yang harus dilakukan adalah dengan membangun mental framing positif, karena apabila mental framing kita negatif dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka akan membuat diri kita malas untuk berinteraksi. Padahal sebenarnya mereka bertanya untuk interaksi sosial saja atau membangun kedekatan, tapi karena mental kita negatif jadinya diri kita merasa tersinggung,” tambahnya menutup wawancara. (zaf/wil)

RBC UMM Resmikan Malik Fadjar Corner, Sediakan Ratusan Buku Bacaan

Sebuah langkah baru dalam dunia literasi resmi dimulai dengan peresmian Malik Fadjar Corner di Café Belong, Poncokusumo, Kabupaten Malang. Pojok baca ini diinisiasi oleh Rumah Baca Cerdas (RBC) Malik fadjar UMM berkolaborasi dengan Republik Gubuk sebagai upaya memperluas persebaran visi dan nilai yang diwariskan oleh Abdul Malik Fadjar. Sekaligus menjadi motor penggerak literasi di berbagai daerah. Peresmian ini dilakukan langsung oleh Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, Subhan Setowara, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa Malik Fadjar Corner bukan sekadar tempat membaca, tetapi iktikad baik dalam inspirasi bagi masyarakat. “Kami ingin menjadikan pojok baca ini sebagai titik temu gagasan, tempat bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dalam pemikiran Abdul Malik Fadjar serta memperkaya wawasan dengan berbagai bacaan lain yang tersedia,” ujarnya. Malik Fadjar Corner menyediakan koleksi buku yang tidak hanya berisi pemikiran Abdul Malik Fadjar, tetapi juga berbagai bacaan inspiratif lainnya. Menariknya, pojok baca ini juga terbuka bagi siapa saja yang ingin menyumbangkan buku, menciptakan ekosistem literasi yang lebih inklusif dan dinamis. Dengan konsep yang santai dan akrab, Café Belong menjadi tempat ideal bagi pengunjung yang ingin menikmati secangkir kopi sembari memperkaya wawasan. “Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengembangkan ruang baca yang mudah diakses oleh masyarakat. Lebih dari sekadar koleksi buku, keberadaan Malik Fadjar Corner diharapkan mampu menumbuhkan semangat literasi yang lebih luas, khususnya di kalangan generasi muda.” ungkap Irul, Presiden Republik Gubuk. Dengan semangat ini, Republik Gubuk optimistis bahwa Malik Fadjar Corner akan menjadi lebih dari sekadar pojok baca—tetapi juga ruang perjumpaan ide dan pergerakan literasi yang berkelanjutan. (wil)

Ribuan Dosen dan Pegawai UMM Diajak Iktikaf Berjamaah UMM

Dalam rangka meningkatkan religiusitas sekaligus kualitas sumber daya manusia (SDM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan iktikaf akbar pada 22-23 Maret 2025 lalu. terhitung, ribuan pegawai dan dosen turut meramaikan dan mengikuti rangkaian acara. Mulai dari kajian, buka bersama, iktikaf di Masjid AR Fachruddin, sahur, dan lainnya. Pemateri yang dihadirkan juga beragam dan ahli di bidangnya. Membuka iktikaf tersebut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa ada banyak aktivitas yang harus dilakukan di akhir Ramadan. Termasuk di dalamnya upaya untuk eksplorasi untuk menautkan diri kepada Allah SWT, baik secara ritual maupun sosial. Ini pada akhirnya juga memberikan dampak pada munculnya keunggulan-keunggulan yang sulit ditiru oleh institusi pendidikan yang setara dengan UMM. “Maka, pada forum ini mari melakukan ceklis Islam berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah. Sehingga ini bisa menjadi energi yang tampak maupun tidak tampak. Mulai dari gedung-gedung hingga kualitas lulusan usai wisuda,” katanya menambahkan. Pada kesempatan itu, ia juga pentingnya upaya untuk lepas dari middle income trap. Apalagi melihat bahwa Muhammadiyah memiliki potensi besar menajdi social enterprise. Menurutnya, jika orang-orang didalamnya iklhas berkhidmat dan menyebarkan kebaikan yang banyak, maka ini bisa membantu Indonesia untuk naik level ke high income country. “2025-2030 menjadi momen penting bagi Indonesia. Pendidikan haus diperkokoh sehingga pada 2045 kita memiliki manusia baru yang memiliki nilai Islam berkemajuan. Iman yang meningkat dan keinginan untuk terus belajar. Dengan begitu, ketika dihadapkan masalah, masyarakat tidak hanya cuap-cuap tanap solusi, tapi benar-benar terjun untuk menciptakan solusi,” tegas Nazar. Iktikaf tersebut menghadirkan sederet pemateri menarik. Mulai dari Ketua PWM Jatim Dr Tafsir, Ketua STIQSI Lamongan Dr Piet Hizbullah, Sekretaris PWA Ajtim Dr Nur Mukarromah, Dr Achmad Zuhdi hingga Dr Mursyidah. Semuanya memberikan pandangan baru dan wawasan menarik, utamanya terkait risalah Islam berkemajuan. Salah satunya disampaikan oleh Piet yang menerangkan bahwa fondasi nilai utama bergeraknya Muhammadiyah mengacu beberapa hal. Paling tidak ada tiga nilai yang harus dipegang teguh, yakni keikhlasan, kesadaran bahwa Muhammadiyah adalah tempat berkhirdmat, dan mampu mencurahakan pemikiran dan tenaga untuk Muhammadiyah. “Dalam menjalakan risalah Islam berkemajuan, kita juga harus tahu lima nilai utamanya. Mulai dari bertauhid yang murni, memahami Alquran dan sunnah secara mendalam, serta menghidupkan ijtihad dan tajdid dalam semua dimensi kehidupan. Dua terakhir yakni, wasatiyah dalam pemikiran dan perbuatan serta membawa rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya mengakhiri. (wil)

Silaturahmi Aisyiyah di UMM, Mencetak Perempuan Berkemajuan

Kader Aisyiyah se-Jawa timur serta ratusan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ramaikan acara silaturahmi dan pengajian yang berlangsung di Basement Dome UMM, 18 Maret lalu. Acara ini mengusung tema ‘Perempuan Berkemajuan Menuju Indonesia Emas’ dan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dra. Latifah Iskandar selaku Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah bidang Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) dan Ekonomi, serta Joane Hendrawati seorang CEO & Owner PT Kernel Indonesia Potential. Joane Hendrawati membahas strategi dalam mengelola usaha dan memanfaatkan potensi ekonomi. Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam dunia wirausaha adalah permodalan, yang tidak hanya berupa materi tetapi juga pengalaman. Selain itu, ia menyoroti aspek digitalisasi, inovasi, persaingan, tren pasar, serta pemasaran sebagai faktor penting dalam keberhasilan usaha. “Bagi saya, legalitas usaha juga merupakan hal yang sangat penting, terutama dalam ekspor. Untuk menjadi eksportir, seorang pengusaha harus memiliki akta pendirian, Nomor Induk Berusaha (NIB), serta sertifikat kelayakan fungsi (compliance). Indonesia memiliki contoh beberapa potensi ekonomi tinggi seperti gedebok pisang. Jika kita mampu mengolahnya dengan sangat baik, maka akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Begitu juga rotan, rotan adalah berlian hijau Indonesia karena hanya Indonesia yang memiliki kualitas terbaik di dunia,” katanya. Dalam hal itu, ia menegaskan bahwa orang Indonesia harus bangga menjadi orang Indonesia. Karena segala sesuatu yang ada di negeri ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Melalui acara ini, ia berharap dapat menjadi momentum penting bagi perempuan untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam membangun kesejahteraan sosial. Di sisi lain, Dra. Latifah Iskandar membahas implementasi Risalah Islam Berkemajuan (RIB) di bidang kesejahteraan sosial. Ia menyampaikan bahwa RIB merupakan landasan bagi pemikiran, organisasi, gerakan, serta kehidupan global. Islam Berkemajuan, menurutnya, memiliki lima karakter utama, yaitu berlandaskan tauhid, bersumber pada Alquran dan As-Sunnah, menghidupkan ijtihad dan tajdid, mengembangkan wasathiyah (moderasi), serta mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Ia menegaskan bahwa semua poin tersebut merupakan satu kesatuan yang harus diterapkan secara utuh dalam kehidupan sosial. “Aisyiyah adalah organisasi yang inklusif dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Aisyiyah tidak menutup diri terhadap perubahan, tetapi tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa, bukan menjadikan uang sebagai tujuan utama sebagaimana yang banyak terjadi saat ini,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan memiliki empat gerakan utama, yakni Gerakan Dakwah, Gerakan Tajdid, Gerakan Ilmu, dan Gerakan Amal. Ia menekankan pentingnya Gerakan Amal yang telah dilakukan oleh Aisyiyah, terutama dalam menangani kesejahteraan sosial. Menurutnya, pemerintah bahkan telah mengadopsi konsep yang dikembangkan Aisyiyah dalam membangun kesejahteraan sosial. “Aisyiyah memiliki kelompok sasaran yang jelas, yaitu anak dhuafa, perempuan korban kekerasan, penyandang disabilitas, serta lansia. Untuk menjadi perempuan berkemajuan, kita harus lincah dalam merespons perubahan zaman dan tidak menutup diri terhadap ide-ide baru,” ujarnya. (vin/wil)

Safari Ramadan UMM: Alquran Pedoman Jadi Profesional Muslim yang Unggul

Alquran merupakan firman Allah SWT yang mengandung segala petunjuk, pembimbing, dan arahan bagi umat manusia. Untuk itu, bulan suci Ramadan harus dipenuhi dengan berlomba-lomba membaca Alquran, mentadaburi setiap ayatnya, serta mengamalkannya dalam berkehidupan. Ini disampaikan oleh Dr. Muhammad Sulthon Amien, M.M. dalam Safari Ramadan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara yang diselenggarakan dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) itu dihadiri oleh seluruh pimpinan serta karyawan unit bisnis dan usaha UMM pada 18 Maret 2025 lalu. “Sebagaimana diturunkannya Alquran tepat di bulan Ramadan, berlomba-lomba membaca dan mengkhatamkan 30 juz Alquran adalah hal yang baik dan sangat dianjurkan. Terlebih lagi ketika Ramadan yang setiap kebaikan akan dilipatgandakan derajat pahalanya. Di samping itu, memahami serta mengamalkan satu ayatnya saja adalah hal yang lebih penting dan lebih dianjurkan untuk diterapkan,” ungkapnya. Pria yang akrab disapa Kiai Sulthon tersebut menegaskan peran penting Alquran untuk menjadikan manusia sebagai seorang profesional dan memiliki perangai positif. Menurutnya, seorang muslim yang menjalankan amanah dengan ikhlas adalah upaya untuk menggapai ridho Allah SWT. Disamping itu, kesabaran dalam menghadapi segala bentuk ujian yang datang, menjadikan pekerjaan sebagai sebuah ladang pahala. Keduanya adalah ciri khas yang terpancar dari dalam diri seorang pekerja muslim dan muslimah. “Islam telah mengajarkan kita menjadi muslim yang baik, bahkan menjadi yang terbaik dimanapun kita berada dan apapun jenis pekerjaan kita. Untuk itu, sebagai seseorang yang bekerja, mengabdi, dan mengemban amanah di bawah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kita harus menanamkan dan meningkatkan etos kerja kita di bulan yang penuh keberkahan ini,” sambungnya. Lebih lanjut, ia juga menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW ketika didatangi oleh seseorang lelaki fakir miskin yang mengerjakan larangan selama bulan Ramadan. Kemudian, Nabi dengan penuh kesabaran menjelaskan kafarat (denda) yang harus dibayarkan akibat pelanggaran tersebut. Kafarat yang disebutkan berjenjang dan bervariasi sesuai kemampuan dan keadaan seorang hamba, mulai dari memerdekakan budak, berpuasa dua bulan berturut-turut, hingga memberi makan sebanyak 70 fakir miskin. Namun, lelaki tersebut enggan memilih diantara ketiganya karena keadaan diri dan keluarganya sendiri tidak mampu untuk menunaikan salah satunya. Mendengar hal itu, Nabi hanya tertawa (tidak bersuara dan menutup dengan kedua tangannya) kemudian memberikan dua kantong besar kurma untuk kemudian dibagikan kepada tetangganya. Namun, lelaki tersebut masih enggan mengamalkannya. “Hikmah dari kilas kisah tersebut, kita banyak belajar bahwa Islam itu memudahkan, tidak membebani yang tidak kuat melaksanakan atau golongan yang mendapatkan rukhsah. Namun, di sisi lain kita sebagai seorang hamba juga harus senantiasa berikhtiar dan berprasangka baik kepada Allah SWT,” jelasnya. Terakhir, Ia menceritakan kehebatan dibalik sejarah bulan Ramadan bagi kaum muslimin dan juga bagi bangsa Indeonesia. Pada zaman kenabian dan kebangkitan Islam, banyak peristiwa penting yang dilaksanakan ketika berpuasa Ramadan yaitu, Perang Badar, Fathul Makkah, serta Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Untuk itu, Ia berharap supaya bangsa ini bisa perlahan bangkit dan menjadi bangsa yang berdaya dan bermanfaat. (din/wil)