Pembangunan SDM Rendah, Ferri Jubair: Jadilah Pengusaha untuk Bangun Indonesia!

FERRI Jubair, Founder dan CEO Click Indonesia mengisi kuliah tamu Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM), Rabu (05/12). Kuliah tamu ini diadakan untuk menginspirasi Mahasiswa UMM menjadi pengusaha yang matang di era 4.0. Acara di Hall Dome UMM ini penuh oleh mahasiswa yang haus inspirasi untuk menjadi pengusaha. Ferri Jubair yang merupakan alumni Pogram Studi Ilmu Hubungan Internasional UMM ini mengatakan, untuk memulai usaha bisa dilakukan sekarang juga. “Kita tidak perlu memikirkan modal atau kesiapan mental kita. Jika kita memikirkan itu, kita akan selalu menunda,” jelasnya. Ia mengatakan bahwa banyak usaha besar di dunia yang hanya berbekal ide, seperti Facebook, Uber, Netflix, dan lainnya. “Selain memiliki ide, kita harus memiliki keinginan yang kuat. Keinginan kita harus lebih kuat daripada skill kita,” sambung pria berumur 28 tahun itu. Ferri mengatakan bahwa ide sebagus apapun jika keinginannya lemah, ide itu tidak akan menjadi kenyataan. Maka memiliki keinginan yang kuat menjadi penting untuk merealisasikan ide yang sudah terpikirkan. Menurutnya, indeks Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia cukup rendah. Ia merujuk data yang diriset oleh Insight, perusahaan riset dunia dalam dunia bisnis. Data itu menyebut bahwa Indonesia berada di peringkat 85 dari 125 negara dalam pembangunan SDM. “Kita bangun Indonesia dengan menjadi pengusaha yang membangun masyarakat. Karena masa depan ada di tangan kalian,” tandasnya. Di kesempatan lain, Wakil Rektor I yang membidangi akademik, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyampaikan, UMM saat ini berada di posisi yang ideal untuk mengembangkan model pembelajaran yang futuristik. Hal itu dilakukan sebagai upaya pembentukan profil lulusan yang berkualitas. Salah satunya dapat dilakukan dengan pembentukan jiwa kewirausahaan. (usa/can)

Tampil Maksimal, Dua Tim Jembatan UMM Sabet 4 Gelar Juara di KJI XIV Makassar

Nama Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggaung di penutupan Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XIV dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) X di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PUNP), Ahad (2/12) lalu. Mengirim dua timnya untuk KJI, UMM berhasil menyabet Juara 1 kategori Jembatan Canai Dingin dan Juara 3 kategori Jembatan Busur. Jembatan Canai Dingin yang diberi nama Tudang Sipulang ini memiliki keunikan berupa lendutan, atau perubahan rangka jembatan setelah diberikan beban, yang nilainya sangat kecil. Menurut Andre Oktavian Wijaya, salah satu anggota tim Red Jaeger, Tudang Sipulang hanya menghasilkan lendutan sebesar 2.175 mm dari angka maksimal untuk lendutan 15 mm. Hasil itu sekaligus menjadikan Tudang Sipulang sebagai juara Jembatan Terkokoh. “Karena setelah pengujian beban hidup di tengah bentang jembatan sebesar 400 kg, lendutan yang dihasilkan Jembatan Tudang Sipulung sangat jauh dari angka maksimal ledutan,” papar Andre. Tak berhenti di situ, tim Red Jaeger juga meraih juara pada kategori K3 Terbaik. Hal tersebut, diakui Andre, karena kelengkapan papan-papan peringatan konstruksi beserta pakaian keamanan yang dikenakan oleh seluruh anggota. Sementara itu, jembatan kedua dari Tim Naraya memiliki keunggulan sebagai jembatan ramah lingkungan. Diakui Harrys Purnama, jembatan yang ia rancang bersama dua anggota timnnya ini memasang panel surya pada ujung-ujung jembatan. Panel surya ini dapat menjadi energi listrik penerangan jalan pada jembatan saat malam hari. “Keunikan yang dimiliki oleh jembatan ini adanya panel surya yang digunakan untuk mengaliri listrik untuk penerangan jalan di jembatan,” jelas Harrys. Baru-baru ini juga, Fakultas Teknik UMM memenangi Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 di Universitas Negeri Padang. Mekatronic Team UMM menyabet Juara 1 dalam Kategori Urban Listrik. Sementara tim puteri, Srikandi Team, memenangi gelar Juara pada kategori Desain Estetika Terbaik. Atas hasil tersebut, Rektor UMM Fauzan sangat mengapreasiasi capaian tersebut. “Saya sangat mengapreasiasi atas prestasi ini, semoga mereka semakin semangat untuk berkompetisi,” terang Fauzan. “Raihan ini tentu tidak membuat kami puas. Kami akan terus mempersiapkan mahasiswa kami untuk terus bisa berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. Diungkapkannya, UMM punya cara sendiri untuk mengapresiasi tiap raihan prestasi yang didapat mahasiswanya. Hal itu, sambung Fauzan, sesuai dengan moto prestasi UMM, “Tiada prestasi yang tak dihargai”. (nis/can)

Kolaborasi UMM-Kemlu RI, Helat Konsultasi Publik Terkait Isu Pekerja Migran

MALANG sebagai salah satu wilayah di Jawa Timur menjadi penyumbang tenaga kerja migran tertinggi di Indonesia. Menurut data BNP2TKI, selama periode Januari-Oktober 2018, sebanyak 53.525 Pekerja Migran Indonesia (PMI) berasal dari Jawa Timur. Malang, termasuk dalam 20 besar kabupaten dan kota asal PMI. Data itu disampaikan Riaz Januar Putra Saehu, Direktur Kerjasama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) pada acara Konsultasi Publik Perlindungan dan Promosi Hak-Hak Pekerja di ASEAN di Auditorium BAU, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (3/12). Berangkat dari tingginya minat masyarakat Indonesia bekerja di luar negeri, Riaz menyampaikan, terkait pemberian pelayanan kepada PMI Pemerintah akan meluncurkan kampanye masyarakat mengenai migrasi yang aman. “Pemerintah juga telah merencanakan kegiatan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran dan orientasi pra-keberangkatan sebagai bagian dari pelayanan kepada PMI,” tuturnya. Sebab, ketika PMI bekerja di luar negeri, bagi yang sudah berkeluarga, pasti akan meninggalkan anak-anaknya di rumah. Maka, kata Riza, perlu ada pendampingan dari Pemerintah untuk menangani kondisi ini. Tentu, agar penjaminan hak-hak anak terkait pendidikan dan aspek lainnya dapat tetap berjalan dengan baik. Acara dihadiri ratusan mahasiswa Prodi HI UMM. Rektor UMM, Dr. H. Fauzan, M.Pd juga hadir dalam agenda. Ia mengapresiasi langkah Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN dalam pendampingan terhadap PMI. “Upaya perlindungan pada PMI bukan hanya perlu dipahami oleh keluarga pekerja. Namun juga mahasiswa dan masyarakat luas,” tutur Fauzan. Bagi Fauzan, hak-hak anak juga perlu dijamin selama orang tuanya bekerja di luar negeri seperti usaha yang tengah dicanangkan oleh Kementerian Luar Negeri. Perhelatan Konsultasi Publik ini merupakan kolaborasi Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN dengan Pusat Studi ASEAN Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (Prodi HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. Hadir pembicara lainnya,  Rendra Setiawan, Kasubdit Tenaga Kerja Luar Negeri Kemnaker RI; Yumar, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia (PPMI); Muhammad Hafiz Human Rights Working Group (HRWG) Executive Directior; dan Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si, Prodi HI UMM. (mir/can)

Bikin Bangga! Mobil Urban Listrik UMM Pecahkan Rekor Asia dan Dunia

TARGET Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memperoleh juara dalam ajang bergengsi Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018, terjawab. Mekatronic Team UMM menyabet Juara 1 dalam Kategori Urban Listrik. Mekatronic Team yang mengandalkan kendaraan Genetro Suryo U.E.V 06, unggul dengan hasil terbaik, 335,09 KM/KWH, menyisihkan tim dari perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya. “Mobil Listrik UMM kemarin berhasil menjadi yang terjauh dengan efisiensi terbaik,” jelas Afrianto, selaku Drive train di Mekatronic Team saat dihubungi via WhatsApp, Ahad (2/12). Sementara itu, Mohammad Jufri selaku pembina Tim Mekatronik mengaku perolehan nilai 335,09 KM/KWH memecahkan rekor Asia dan dunia. “Informasi dari panitia, angka yang diraih oleh tim UMM ini memecahkan rekor Asia dan Dunia,” jelasnya. Capaian ini diakui oleh Jufri atas kerja keras seluruh anggota tim. Beberapa hal dilakukan untuk merancang mobil seefisien  mungkin. Di antaranya dengan meminimalisir berat kendaraan agar lebih ringan. “Angka tersebut diperoleh atas kerja keras tim dengan melakukan beberapa modifikasi pada mobil itu sendiri,” papar dosen Program Studi Teknik Mesin ini. Selanjutnya, mobil listrik andalan UMM ini tengah dipersiapkan untuk berlaga pada Shell Eco Marathon Asia (SEMA) 2019 mendatang. Sementara Tim Srikandi dengan kendaraan Hrusangkali Evo 01 di kelas Motor Pembakaran Dalam (MPD) Gasoline, mengaku cukup puas dengan perolehan sebagai Juara pada kategori Desain Estetika Terbaik. KMHE adalah event yang diselenggarakan oleh DIKTI dalam skala nasional, tiap tahunnya memperlombakan mobil kreasi mahasiswa dari berbagai lembaga pendidikan tinggi. (nis/can)

142 BUMN Siap Serap Mahasiswa Magang UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus berupaya memperbanyak mitra industri  sebagai wadah pengayaan wawasan dan keterampilan dalam mempersiapkan mahasiswa masuk ke dunia kerja. Salah satunya melalui kerjasama UMM dengan 142 perusahaan di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Yakni melalui program magang bersertifikat atau Certified Internship Program. Program ini sejalan dengan apa yang disampaikan Menteri BUMN Rini M. Soemarno bahwa BUMN punya andil besar dalam pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. “Salah satu cara yang ditempuh adalah mendekatkan dunia pendidikan, sekolah dan perguruan tinggi dengan industri,” terang Drs. Soeparto, M.Pd, Asisten Khusus Rektor Bidang Kerjasama di kantornya, Rabu (8/11) Di lanjutkan Soeparto, kerjasama yang dijalin mencakup studi kerja bagi mahasiswa semester 7. “Mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat, akan tetapi akan mendapatkan orientasi dari perusahaan dan langsung bekerja sesuai dengan bidangnya. Sehingga dapat meningkatkan kualitas human capital pada mahasiswa,” kata Soeparto. Soeparto mengatakan bahwa program ini tidak akan mengganggu perkuliahan peserta. Kedepannya akan diterapkan sistem pembelajaran jarak jauh dengan metode blended learning atau program pendidikan berbasis daring. Sehingga peserta tetap dapat melanjutkan perkuliahan pada mata kuliah yang sedang ditempuh. Lebih jauh, Soeparto menjelaskan, Certified Internship Program sendiri merupakan program di bawah Forum Human Capital Indonesia (FHCI). Yakni forum sinergi bagi praktisi human capital management (menejemen modal manusia) di lingkungan BUMN. Forum ini memiliki komitmen meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Di tempat berbeda, Wakil Rektor I UMM yang membidangi akademik, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si  baru-baru ini meneken kerjasama melalui skema piagam kerjasama dengan PT. Barata Indonesia di Gresik. UMM mengirimkan 9 mahasiswanya dari Program Studi (Prodi) Psikologi, Prodi Ilmu Komunikasi, Prodi Akuntasi, dan Fakultas Teknik untuk magang di sana. (bel/can)

BKMA Bekali Dosen Muda Paradigma Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0

SEBANYAK 51 dosen muda Universitas Muhammadiyah Malang mengikuti pelatihan Peningkatan Keterampilan Teknik Instruksional (PEKERTI). Pelatihan ini diadakan di ruang rapat senat dan berlangsung 6 -7 November 2018. Pelatihan ini sejalan dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi utamanya Pasal 4 bahwa Pendidikan Tinggi memiliki beberapa fungsi. Salah satunya yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat untuk mencerdaskan bangsa. Untuk mewujudkannya, Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) menyelenggarakan pelatihan bagi dosen muda. Peserta pada pelatihan ini diharapkan dapat menyampaikan pembelajaran masa kini yang mengarah kepada Era Revolusi Industri 4.0. “Dosen memiliki porsi yang sangat strategis untuk melakukan standarisasi proses pembelajaran. Dengan pelatihan ini, diharapkan dosen dapat mentranformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmunya. Sehingga mahasiswa dapat lulus tepat waktu dengan kualitas yang bagus,” terang Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutan pembukaannya. Ada 9 materi pokok yang disampaikan dalam pelatihan ini, yaitu penguatan kompetisi kinerja dosen, kebijakan pengembangan sumber daya manusia, kebijakan mutu akademik, grand theory pembelajaran, pengembangan bahan ajar, sumber belajar dan media, strategi dan metode pembelajaran, perencanaan pembelajaran dan KPT, rancangan pembelajaran berbasis IT serta evaluasi pembelajaran. Materi ini juga disampaikan oleh fasilitator-fasilitator yang berkompeten dan tidak hanya pada tingkat nasional saja. Di antaranya Prof. Dr. Ir. Noor Harini, M.S., Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., Dr. Iin Hindun, M.Kes., Dr. Siti Fatimah Sunaryo, M.Pd., Galih Wasis Wicaksana, S.Kom., M.Cs, dan Dr. Endang Poerwati, M.Pd. “Pembelajaran yang diharapkan setelah ini adalah pembelajaran yang sesuai dengan paradigma perguruan tinggi masa kini, yang tidak lagi hanya berfokus kepada dosen. Di era revolusi industry 4.0 ini, mahasiswa menjadi sentral dalam pembelajaran,” ujar Kepala BKMA UMM, Dr. Muslimin, M.Si. dalam kesempatan yang sama. Peserta tidak hanya dibekali dengan penguatan materi dalam dua hari saja, akan tetapi juga melakukan praktik aktivitas pengajaran di kelas. Praktik ini akan dilaksanakan dalam satu bulan ke depan dengan pengarahan, pengawalan dan pengawasan dari fasilitator BKMA UMM. (bel/can)

Kenalkan Terapi Gen Bagi Penderita Kanker, Mahasiswa FK UMM Ini Menangi Kompetisi Penulisan Artikel Nasional

PRIHATIN dengan mahalnya biaya kemoterapi bagi penderita kanker, Radya Kusuma Ardianto dan Muhammad Mufti Al Anshori, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) berhasil memenangkan kompetisi penulisan artikel ilmiah tingkat nasional. Kolaborasi mahasiswa semester 3 dan 7 ini mampu menarik perhatian juri atas artikelnya mengenai terapi gen untuk efektifitas penyembuhan penderita kanker. Artikel yang ditulis Radya dan Mufti memenangi ajang Biology Open House For Environmental Recognition (BIOSFER) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu. Dijelaskan Radya saat diwawancarai Selasa (6/11), di Indonesia sendiri penanganan terhadap pasien kanker hanya kemoterapi saja. Sementara, metode ini memakan biaya yang teramat mahal, karena tidak bisa sekali pengobatan. Dalam artikelnya itu, Radya dan Mufti memperkenalkan pengobatan dengan Terapi Gen, yaitu menyuntikan gen P53 yang merupakan ‘malaikat penjaga’ gen kepada pasien untuk menggantikan gen P53 yang tidak berfungisi secara normal. Sehingga tidak bisa memperbaiki sel-sel yang rusak,” papar Radya. Dengan begitu, sambung Radya, gen P53 pengganti tersebut bisa bekerja untuk memperbaiki sel-sel yang rusak. “Nah, untuk mengganti gen P53 ini perlu ‘kendaraan’. Kendaraan yang saya kemukakan di artikel saya itu menggunakan virus, namanya Adenovierus. Virus itu tepat sasaran karena langsung menginfeksi sel. Namun yang kita pakai hanya bungkusnya saja, penyakit berbahayanya sudah dihilangkan terlebih dahulu,” jelas Radya. Medis di Indonesia dinilai Radya sudah cukup tertinggal. Di Indonesia pengobatan semacam ini belum diterapkan, atau bisa jadi, masih dalam tahap penelitian. Ketika di Indonesia masih Symtomatik (bergantung kepada obat), di luar negeri sudah mendalam hingga tahap molekuler atau langsung menyasar kepada akar permasalahannya. “Ada atau tidaknya pengobatan seperti ini itu berawal dari kita siap atau tidak. Awalnya kita mengajukan ide-ide seperti ini untuk menyiapkan. Ketika Indonesia sudah siap secara mental, mungkin bisa diimplementasikan meskipun ini harus menempuh waktu yang lama dan biaya yang mahal,” kata Radya. Radya menambahkan, ketika seseorang terkena kanker, maka daya produktifitasnya menurun sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana manusia normal lainnya. Ketika tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, maka keluarganya lah yang akan menanggung pengobatannya. Hal ini membuat pasien ketergantungan kepada keluarga dan obat dengan waktu yang cukup lama. “Kita harus mulai mengobati pasien dengan sistem holistic-komprehensif, yaitu pengobatan secara menyeluruh hingga sampai kepada kondisi ekonomi, produktifitas, dan kesehatan pasien. Bukan begitu sembuh langsung beres. Tapi aspek-aspek lain juga harus dipikirkan,” pungkas Radya. (usa/can)

Peringati Milad ke-2, Klinik Surya Medika Sumbawa Buka Layanan Skin Care dan Bistro

DI USIANYA yang baru menginjak 2 tahun, Klinik Surya Medika PKU Muhammadiyah Sumbawa terus melakukan terobosan dalam memberikan pelayanan ke masyarakat. Yang terbaru yakni membuka layanan kecantikan Skin Care juga Bistro. Soft opening Surya Medika Skin Care dan Surya Medika Bistro ini dilakukan pada Sabtu (3/11), yang merupakan Milad Klinik Surya Medika ke-2, sekaligus peringatan Milad Muhammadiyah ke-109 yang jatuh 18 November 2018. Selain memperluas layanannya dengan menambah satu unit baru di bidang kulit dan kecantikan, Klinik Surya Medika juga akan menambah satu ruangan operasi yang memungkinkan memberikan layanan operasi ringan pada masyarakat. Ditargetkan pembangunannya rampung Desember 2018 mendatang. Klinik yang pengelolaannya ada di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berharap terus bisa berpartisipasi memberikan yang terbaik bagi Kabupaten Sumbawa. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd menyatakan, Klinik Surya Medika Sumbawa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang merupakan organisasi sosial keagamaan yang menjalankan dakwahnya melalui kegiatan–kegiatan sosial keagamaan, di antaranya layanan kesehatan bagi masyarakat. “Klinik Surya Medika sudah menjadi klinik berlantai tiga dan itu sebagai dasar untuk menjadi sebuah rumah sakit berkelas D,” paparnya. Selain itu, klinik yang merupakan bagian dari unit usaha UMM ini telah bekerjasama dengan BNN, yang fokus kerjasamanya menyusun rancangan kegiatan rehabilitasi. Keunggulan Klinik Surya Medika lainnya yakni dimilikinya alat tattoo removal atau alat penghapus tato. Fauzan mengklaim alat ini belum dipunyai klinik lain. “Dioperasikannya klinik kecantikan ini, pengelolaannya akan dibarengi dengan dokter yang sudah berpengalaman dari Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang,’’ terang Fauzan. Dilanjutkan Fauzan, bagian penting dari upaya memberi pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Sumbawa. Seraya berharap bagi keluarga besar Klinik Surya Medika, agar lebih meningkatkan pelayanan. Hal itu penting, lanjut Fauzan, karena bagian dari bentuk ibadah. “Berikan pelayanan yang terbaik. Kesembuhan belum tentu hanya karena obat, tapi ada faktor yang penting juga yaitu pelayanan yang terbaik. Salah satunya dengan memberikan pelayanan yang ramah ke tiap pasien,” ungkapnya. Plt Kepala Dinas Kesehatan Sumbawa, Drs H Didi Darsani Apt mengapresiasi Klinik Surya Medika Sumbawa yang membuka layanan skin care dan bistro. Apalagi ada rencana meningkatkan kualitas pelayanan menjadi Rumah Sakit. “Bistro di klinik ini suatu hal yang unik. Biasanya bistro itu tidak ditempatkan di lokasi klinik. Tapi barangkali ini nanti ada nilai jualnya, bahwa bistro yang ada di klinik ataupun di rumah sakit bisa dijamin masalah izin sanitasi dan keamanan makanannya,” pungkasnya. (*/can)

Psikologi UMM Gelar Pendampingan Minat Bakat Siswa Papua dan Papua Barat

DIREKTORAT Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) kembali mempercayakan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan lanjutan program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) pelajar Papua dan Papua Barat. Fakultas Psikologi sebagai panjang tangan Pemerintah, mengadakan pendampingan dan tes minat bakat bagi peserta ADEM di Gedung Kuliah Bersama 4 UMM, Sabtu (3/11). Pendampingan dilakukan melalui Forum Group Discussion Siswa, di mana Fakultas Psikologi memberikan pengarahan minat bakat serta motivasi kepada siswa. Pada kegiatan ini diikuti oleh siswa Papua dan Papua Barat Sekolah Menengah Atas di wilayah Jawa Timur yang berada pada tingkat 10 dan 12. Dalam pemetaan pendampingan minat bakat, siswa kelas 12 lebih difokuskan pada pendampigan menghadapi peminatan studi lanjutan. “Kita memetakan dan mengindentifikasi potensi siswa, agar guru pendamping dapat mengarahkan kelanjutan studi anak-anak dampingannya dari Papua. Kita juga mengarahkan siswa agar termotivasi untuk melanjutkan studi sesuai minat bakat, bukan hanya ikut-ikutan,” terang Zainul Anwar, M.Psi selaku Ketua Pelaksana. Di lain tempat, para guru pendamping juga mengikuti Forum Group Discussion yang dipimpin oleh Dosen Psikologi, Muhammad Shohib, S.Psi, M.Si. Forum diskusi ini dihadiri oleh 32 Sekolah Menengah Atas di wiliyah Jawa Timur yang bekerjasama dengan program ADEM ini. Sebagai wujud pendampingan, Fakultas Psikologi memberikan wadah kepada guru pendamping untuk berdiskusi dan sama-sama memecahkan masalah yang dihadapi tiap sekolah. Forum diskusi ini juga sebagai bahan acuan dan evaluasi Pemerintah untuk melanjutkan program ADEM selanjutnya. Salah satu tantangan yang dihadapi para guru yang terlibat dalam kegiatan ini, merasa tidak mudah dalam membina anak didiknya. Hal ini dikarenakan perbedaan budaya yang dimiliki siswa program ADEM dengan budaya yang ada di masyarakat sekitar khusunya wilayah Jawa Timur sendiri. “Perbedaan budaya menjadi tantangan dari setiap sekolah. Alangkah lebih baik untuk kedepannya, siswa diberi orientasi mengenai budaya dan kebiasaan yang akan mereka tempati sebelum pemberangkatan,” usul Titik, salah satu Guru Pendamping asal Batu, Jawa Timur. (bel/can)

Okky Madasari Serukan Muatan Narasi Wacana Kritis di Tiap Karya Sastra untuk Perangi Ekstrimisme

PENULIS kenamaan Indonesia, Okky Madasari, mengisi kajian pekanan Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (PSIF UMM), Jumat (02/18). Melalui tema “Sastra, Agama & Perdamaian”, Okky memaparkan pergerakan zaman di era milenial ini yang dikendalikan oleh narasi. “Apalagi di era setelah ’98 (reformasi, red.), kebebasan berpendapat sudah dijamin Negara. Secara hukum, masyarakat sudah tidak lagi dibayang-bayang ancaman sensor dan pemberedelan,” jelas penulis novel best seller “Maryam” itu. Momentum ini juga ditandai dengan mudahnya tiap orang mengakses informasi. Namun begitu, Okky meresahkan dengan atmosfer kebebasan ini, justru banyak buku-buku yang digandrungi adalah buku dengan genre bermuatan narasi wacana simbolik. Ia mengambil contoh buku Ayat-Ayat Cinta. Novel ini sangat digandrungi hingga naik cetak 160 ribu eksemplar dalam kurun tiga tahun. “Novel yang dilabeli sastra Islami seperti itu membentuk standar bagaimana novel islami itu. Akhirnya banyak yang meniru,” papar Okky. Novel-novel seperti itu, sambung Okky, hanya mengulik nilai-nilai ke-Islaman di permukaan saja. Karena kerap kali yang ditunjukan terkait ke-Islamannya hanyalah sebatas simbol, seperti salam, sholat, dan ritus ibadah rutinan lainnya. Demikian, dinilai Okky, novel-novel seperti itu kehilangan roh keIslamannya dan tidak memberikan wacana kritis. “Saya akhirnya menggali akar budaya seperti itu darimana datangnya. Akhirnya saya mendapatkan jawaban, yaitu berawal dari novel-novel Buya Hamka,” papar okky. Buya Hamka tidak diragukan lagi keulamaannya, namun ia memilih model novel-novel demikian karena berada di bawah tekanan kolonialisme yang menekan narasi-narasi tentang semangat perjuangan. “Ya, wajar kalau Buya Hamka memilih gaya seperti itu agar masih bisa bersuara tanpa harus ditekan. Kan Buya Hamka punya alasan, kalau penulis jaman sekarang apa alasannya?” lanjut Okky. Di jalur kepenulisan yang dipilihnya, Okky memilih untuk tetap memberi sajian narasi dengan sentuhan wacana kritis untuk mengkritisi label Islam simbolik. Menurutnya, dengan memberi sajian narasi wacana kritis, seorang penulis dapat melawan hegemoni narasi wacana Islam simbolik. “Wacana kritis seperti ini harus dibawa ke ranah yang lebih luas ke dalam masyarakat,” tegas Okky. “Sastra dan narasi yang membentuk perdamaian itu adalah narasi yang memberi wacana kritis dan tidak dogmatis yang hanya membuat orang setuju, tapi tidak tahu apa yang disetujui,” jelas Okky. Menurutnya mulai sekarang, para penulis harus berpacu dan berani memberi sentuhan wacana kritis di tiap karya yang ditelurkannya. “Kita harus merebut ruang pembaca dan merubah pola pikir mereka untuk berani mengkritisi dan menghindari gagasan dogmatis agar, tidak mudah terjebak radikalisme yang berujung ekstremisme,” pungkasnya. (usa/can)