Kemenlu RI dan UMM Bentuk Pusat Studi ASEAN

BEKERJA sama dengan Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN (KSA) Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia (RI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan segera mendirikan Pusat Studi ASEAN (PSA) di UMM. Memorandum of Understading (MoU) kedua pihak telah ditandatangani Kamis (1/12) di Gedung Kementrian Luar Negeri, Jakarta, oleh Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin M Si dan Dirjen KSA ASEAN Kemenlu RI, I Gusti Agung Wesaka Puja. “Selepas pembentukan pusat studi, beberapa kerjasama di bidang pendidikan, penelitian, pengkajian ilmiah, dan pengabdian masyarakat juga akan dikembangkan,” terang Syamsul. Ruang lingkup kerjasama di antaranya publikasi dan penerbitan karya akademik, seperti jurnal, majalah, dan buku mengenai hubungan dan kerja sama regional ASEAN. Penandatanganan MoU dilakukan dengan 11 universitas lainnya. Saat ini, telah terbentuk 22 PSA yang tersebar di berbagai daerah di tanah air. Sesuai kesepakatan, lanjut Syamsul, langkah awal dari MoU ini yaitu kuliah umum masyarakat ASEAN di UMM pada 14 Desember 2016 mendatang. Menurut Syamsul, pendirian PSA di UMM merupakan salah satu usaha kampus ini untuk menyebarluaskan pemahaman tentang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang telah dimulai akhir tahun lalu. PSA UMM juga diharapkan menjadi wadah edukasi, sosialisasi, dan advokasi publik, khususnya terkait MEA. Untuk pengelola, PSA akan dijalankan di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. “Pada level teknis, FISIP utamanya prodi Hubungan Internasional (HI) yang akan menindaklanjuti program-program berikutnya,” jelas Syamsul. (jal/han)
Ini Tanggapan Rektor UMM Terkait Aksi 212

RENCANA aksi 2 Desember (212) mendapat respon dariRektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan. Saat ditemui di kantornya, Rabu (30/11), Fauzan meminta masyarakat berpikir jernih agar tak menilai berlebihan aksi 212 itu. “Ada yang bilang 212 itu politik makar untuk menjatuhkan pemerintah. Sebaliknya, ada juga yang menyepelekannya, 212 dianggap demonstrasi biasa yang sama sekali tak ada pengaruhnya bagi stabilitas bangsa. Saya berharap kita tidak berada di dua titik ekstrem ini,” kata Rektor. Fauzan tak heran jika aksi 212 melahirkan tanda tanya, yaitu soal apakah aksi ini memiliki muatan lain yang sengaja disembunyikan. “Terlebih, aksi 212 terjadi setelah pihak kepolisian bergerak cepat menggelar kasus Ahok. Logikanya, jika tuntutan utama aksi 411 agar Ahok dipidanakan sudah terpenuhi, tak heran jika aksi lanjutan membuat orang menafsirkan macam-macam,” jelas Fauzan. Karenanya, Fauzan mengapresiasi langkah Presiden Jokowiyang bersilaturahim dengan tokoh-tokoh organisasi Islam,terutama Muhammadiyah dan NU pasca-411. “Apalagi, sebelumnya terjadi ketegangan akibat pernyataan Jokowi soal adanya aktor politik di balik aksi 411,” papar Rektor Fauzan juga mengapresiasi mediasi Polda Metro Jaya dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI terkait aksi 212. “Ini bagus untuk mencairkan ketegangan akibat pernyataan Kapolri Tito Karnavian soal kemungkinan terjadinya makar pada aksi 212.” Bagi Fauzan, silaturrahim dan mediasi menunjukkan bahwa soal menjaga perdamaian, pemerintah dan massa aksi memiliki visi yang sama. “Namun, itu tak berarti bahwa secara politik, mereka berada di haluan yang sama. Mediasi yangdilakukan hanya bisa mengurangi ketegangan, tapi tak bisamenyamakan kepentingan politik,” terang Fauzan. Lebih lanjut, Fauzan menilai, aksi 212 merupakan sebuah anomali. Bukan karena aksi itu sendiri, melainkan rentetan fenomena yang mengiringinya, yaitu aksi 14 Oktober dan 4 November. Jika diperhatikan, kata Fauzan, rentang masing-masing demonstrasi berjarak tak sampai satu bulan, dengan jumlah massa yang demikian besar. “Terlebih, jika membandingkan rentetan aksi ini dengan berbagai demonstrasi berskala besar yang pernah terjadi di Indonesia, di antaranya Reformasi 1998, Malari 1974 dan Tritura 1966. Ketiga demonstrasi bersejarah tersebut turut dipicu faktor ekonomi, sesuatu yang tidak terjadi pada aksi 411 dan 212,” paparnya. Anomali lainnya, lanjut Fauzan, adalah aktor gerakan yang saat ini tidak melibatkan mahasiswa. “Sekalipun sejumlah eksponen gerakan mahasiswa mengikuti aksi 411 dan 212, mereka bukanlah aktor melainkan hanya menjadi partisipan dan simpatisan saja,” seru Fauzan. Tuntutan aksi 411 dan 212 juga dinilai Fauzan sangat khas. Tak ada tendensi politik yang terbuka, karena demostrasi itudicitrakan sebagai aksi bela Islam melawan penista agama.Berbeda dengan Reformasi 1998, Malari 1974 dan Tritura 1966, yang secara terbuka menyerukan perlawanan politik. Sekalipun begitu, Fauzan tetap menilai, rangkaian aksi massaberskala besar dua bulan terakhir ini merupakan bukti bahwa telah terjadi krisis kepemimpinan bangsa. Menurutnya, rakyat lebih mudah diarahkan oleh para pemimpin opini (opinion leaders) ketimbang pemimpin formal, yaitu penguasa. “Aksi bela Islam perlu menjadi refleksi bagi pemerintah, bukan saja soal isi tuntutan yang disampaikan, tapi lebih-lebih soal sejauh mana kepercayaan rakyat pada pemimpinnya. Bagi umat Islam, pemimpin itu tak hanya dilihat dari sisi kemampuan manajerial dan pengambilan kebijakannya saja, tapi juga perilaku dan tutur katanya sebagai teladan masyarakat,” ungkap Fauzan. Ketiadaan pemimpin idaman membuat masyarakat mudah kecewa. “Tugas pemerintah adalah mengelola kekecewaan itu, dan merubahnya menjadi harapan. Kekecewaan itu tak boleh diabaikan, jika tak ingin menjadi amunisi yang akan melahirkan kekecewaan lebih besar,” pungkasnya. (can/han)
UMM Langganan Beasiswa Eropa Erasmus+

SEJAK 2010, UMM bermitra dengan organisasi supra-nasional Uni Eropa (UE) memberi kesempatan bagi mahasiswa, staf dan dosen UMM untuk mendapatkan beasiswa pertukaran Erasmus+ dengan sejumlah kampus di Eropa. Selama enam tahun, lebih dari 100 mahasiswa UMM telah merasakan beasiswa ini. Padahal, menurut Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM Drs Soeparto MPd, untuk bisa lolos beasiswa tersebut, civitas akademika UMM harus bersaing dengan 27 negara anggota konsorsium Erasmus+ lainnya, dari belahan Asia maupun Eropa. Terbaru, UMM baru saja membuka pendaftaran untuk pertukaran mahasiswa ke Lublin University of Technology di Polandia dan Latvia University di Latvia. Mahasiswa yang lolos akan berangkat ke Eropa pada musim semi bulan Februari atau musim gugur September 2017, sesuai kalender akademik di sana. Salah satu mahasiswa UMM peraih beasiswa Erasmus+ yang saat ini tengah berada di PortugalSyol Indra Syafril mengakui, ia merasa diuntungkan dengan banyaknya kesempatan beasiswa luar negeri bagi mahasiswa UMM. Sebelumnya, Oktober lalu, Syol juga berkesempatan ke Singapura melalui program Learning Express (LEx) kerjasama UMM dengan Singapore Polytechnic. (jal/han)
UKM Kerohanian JF Serukan Gerakan Shalat Berjamaah di Masjid

DILATARBELAKANGI keprihatinan atas ulah sejumlah mahasiswa dan dosen yang kerap tidak mengindahkan panggilan adzan, Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian (UKM-K) Jamaah AR. Fachruddin (JF) bersama Badan Pemakmuran Masjid AR. Fachruddin menggagas Gerakan Shalat Berjamaah (GSB) di Masjid. Acara di-launching usai melaksanakan shalat Dzuhur, Selasa (28/11), yang disaksikan sejumlah pejabat kampus. “Terutama mereka yang melakukan kegiatan di lantai 1. Terkadang, saat adzan sudah berkumandang, masih saja ada yang berkegiatan. Gerakan ini juga sekaligus mendukung himbauan kampus yang mewajibkan seluruh warganya untuk mendirikan shalat lima waktu,” ungkap Ketua Umum UKM JF Udin Nurwahid yang merupakan mahasiswa program studi Peternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) angkatan 2014 ini. Upaya yang dilakukan antara lain dengan membentuk tim khusus bernama Tim Hisbah atau kelompok ‘mengingatkan dalam kebaikan’. Tim yang terdiri dari 10 anggota UKM-K JF ini, menjelang waktu shalat, bertugas menyisir tiap sudut dan ruangan Masjid mengingatkan jamaah yang berada di sekitaran Masjid untuk bergegas menunaikan shalat berjamaah. Selain itu, UKM-K JF juga menyebar sejumlah poster kreatif bertemakan shalat berjamaah, juga di setiap sudut Masjid akan ditaruh stand banner yang bertema serupa. Senada dengan Udin, Sekretaris BPM Choirul Amin Setiadi menyatakan bahwa gerakan tersebut juga sekaligus mendukung Kajian Pejabat Struktural yang diadakan rutin setiap Senin dan Kamis di Masjid AR Fachruddin yang telah ada sebelumnya. Diakui Choirul, sejumlah upaya yang sudah dilakukan BPM untuk memunculkan kesadaran shalat berjamaah belum begitu efektif. “Shalat itu sudah ditentukan waktunya. Bagi yang belum tahu, mohon yang sudah tahu beritahu kepada yang belum. Juga informasikan bahwa Masjid AR Fachruddin mempunyai program untuk melakukan shalat berjamaah di Masjid,” pesan Choirul. Sementara itu, Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menanggapi positif kegiatan tersebut. Ia menyampaikan gerakan semisal GSB ini merupakan salah satu upaya membentuk kultur masyarakat Madani di lingkungan kampus.(can/han)
Tiga Tokoh Bangsa Hadiri Wisuda, Nasehati Lulusan UMM Agar Majukan Bangsa

GELARAN wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-82 yang berlangsung Sabtu (26/11) di UMM Dome diwarnai hadirnya tiga tokoh bangsa, yaitu Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prof Dr Pratikno MSocSc, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Prof HA Malik Fadjar MSc. Di hadapan 1.111 wisudawan yang hadir, Rektor UMM Fauzan menyematkan jas almamater pada Mensesneg Pratikno sebagai simbol warga kehormatan UMM, didampingi Malik Fadjar dan Muhadjir Effendy yang masing-masing hadir sebagai ketua dan wakil Badan Pembina UMM. Dalam orasi ilmiahnya Pratikno mengucapkan selamat pada UMM yang telah melahirkan banyak sarjana, sekaligus berpesan agar para wisudawan nantinya mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa. “Saya merasa terhormat dikukuhkan sebagai warga kehormatan UMM,” kata mantan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini. Pratikno berharap, kultur UMM sebagai kampus yang mandiri dapat memotivasi para wisudawan untuk berperan penting di kancah global, salah satunya dengan menjadi entrepreneur. “Saya prihatin dengan peringkat kewirausahaan kita yang rendah. Berdasarkan Global Entrepreneurship and Development Index (GEDI) 2016, kita berada di peringkat 90 dunia, bahkan lebih rendah dari enam negara ASEAN,” paparnya. Sekalipun prihatin dengan peringkat kewirausahaan Indonesia, Praktikno tak lupa mengingatkan pentingnya rasa bangsa pada Indonesia, karena dalam konteks kemajemukan, bangsa ini telah sangat siap menghadapi dunia yang kian mengglobal. “Dalam ranah global, kita melihat dunia yang tengah dilanda krisis politik dan kemanusiaan,” ujar peraih gelar doktor dari Flinders University Australia ini. Praktikno mencontohkan konflik di Timur Tengah, sekalipun mereka satu agama, satu etnis, satu bahasa, tapi tetap tak mudah membangun kebersatuan dan perdamaian. Akibatnya, lanjut Pratikno, terjadi eksodus pengungsi yang luar biasa ke daratan Eropa. “Eropa yang semula merasa tenang dan damai, segala kebutuhan hidupnya telah tercukupi, ternyata mulai gelisah dengan efek terorisme yang ditandai serangan bom di Paris dan Brussels,” kata Pratikno yang pernah mengeyam studi master di Birmingham University Inggris ini. Apa yang terjadi di Eropa, menurut Pratikno, menunjukkan kegagapan mereka terhadap kemajemukan suku, agama, ras, dan bahasa. “Di saat Eropa masih gagap dengan kemajemukan, Indonesia telah lama menampilkan ciri kebinekaan yang tenteram dan damai. Ketika nanti dunia kian mengglobal, Indonesia akan menjadi rujukan dunia dalam membangun masyarakat penuh harmoni. Termasuk, Islam Indonesia akan menjadi contoh dunia, sebagai Islam yang menghadirkan kedamaian,” papar menteri kelahiran Bojonegoro Jawa Timur ini. Sementara itu, Mendikbud Muhadjir yang berpidato mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, kelebihan UMM adalah kultur kemandirian yang dimilikinya. “Sejak kelahirannya, UMM selalu bisa menentukan masa depannya tanpa ketergantungan pada negara. Kultur inilah yang perlu dimiliki lulusan UMM,” kata Rektor UMM pada 2000-2015 ini. Sembari berpesan pada wisudawan-wisudawati, Muhadjir mengutip pepatah Arab yang bermakna, apa yang terjadi hari ini adalah mimpi hari kemarin. “Untuk itu, tugas saudara adalah membangun impian untuk masa depan. Persembahkanlah impian Anda untuk kepentingan bangsa yang kita cintai ini.” Tak lupa, Malik Fadjar turut memberi nasehat agar lulusan UMM mengingat petuah pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, yaitu pertama, jadilah ulama atau orang-orang berilmu yang bermanfaat bagi masyarakat. Kedua, jangan berhenti mengikuti kemajuan dan perkembangan zaman. “Dan yang terpenting, jangan merasa lelah mengabdi pada bangsamu,” pesan Malik. Pada gelaran wisuda ini, wisudawan terbaik S1 diraih Rohil Salsabiila dari Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan dengan IPK 3,97 dan terbaik jenjang D3 diraih Elailatul Fitria dari Prodi Keuangan dan Perbankan dengan IPK 3,84. Sementara terbaik S2 adalah A Yusuf Kholil dengan IPK 3,98 dan terbaik S3 diraih lulusan asal Singapura, Mohd Amin bin Kadir dengan nilai disertasi 85,3. (acs/han)
Wisudawan Terbaik Rohil Salsabiila Siap Patenkan Tugas Akhirnya, Selai Lembaran

ROHIL Salsabiila tampaknya benar-benar menikmati masa kuliahnya di program studi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. Lulusan terbaik wisuda UMM ke-82 dengan nilai IPK 3,97 ini terlihat memiliki passion yang kuat di bidang yang ia geluti, yaitu teknologi pangan. Selain tampak pada berbagai riset yang dilakukannya, ia juga sangat aktif di organisasi bidang pangan, di antaranya sebagai sekretaris pengurus pusat Ikatan Mahasiswa Peduli Halal (Imapela) sejak tiga tahun lalu. Karenanya, Salsabiila kerap diundang sebagai trainer terkait pangan halal ke berbagai daerah di Indonesia. Ia juga berkesempatan mengikuti simposium internasional Global Halal Forum 2014 di Jakarta bersama pegiat produk halal dari berbagai negara di dunia. Untuk tugas akhir, Salsabiila berinovasi menulis skripsi tentang pembuatan selai berbentuk lembaran, dengan judul “Studi Pembuatan Selai Lembaran Stroberi (Fragaria Sp) dengan Variasi Jenis Gelling Agent dan Konsentrasi Gula”. Riset ini lantas dibuat menjadi produk jadi dan dikomersilkan. Saat ini, kata Salsabiila, produk buatannya sudah ludes terjual. “Kalau keju lembaran kan sudah banyak. Tapi, kalau selai lembaran sejauh ini hanya berbentuk riset saja, belum ada yang dikomersilkan,” jelasnya. Produknya ini kemudian mendapat perhatian dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika (LPPOM). Salsabiila diminta mematenkan karyanya melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). “Iya, direkomendasikan untuk dipatenkan di HAKI, lalu dikembangkan jadi wirausaha,” lanjut mahasiswi asal Kediri yang hari ini (26/11) diwisuda di UMM Dome. Proses pembuatan selai lembaran ini menurutnya tak rumit. Hanya saja diperlukan analisis mendalam karena untuk membuat satu produk harus diteliti, apakah layak diproduksi dan aman dikonsumsi. “Makanya, lebih lama analisisnya ketimbang proses produksinya,” kata gadis yang berencana menjadi peneliti LPPOM ini. (ich/han)
Hobi Nur Latifa Koleksi Anggrek Hasilkan Bisnis Berbasis Riset

SUNGGUH menyenangkan, jika sesuatu yang kita sukai, yang kita koleksi, menjadi bahan riset yang berguna bagi karir akademik kita. Itulah yang dirasakan oleh Nur Latifa, lulusan terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,91. Kecintaannya pada anggrek membuat Latifa menjadikan bunga yang indah itu sebagai bahan riset hingga tugas akhir. Putri dari pasangan Bapak Husaini dan Ibu Siti Kholifa ini menulis skripsi berjudul “Pengaruh Penambahan Konsentrasi Jus Tomat pada Media Vacin dan Went (VW) terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Dendrobium conanthum secara In Vitro sebagai Sumber Belajar Biologi”. Sewaktu mengerjakan tugas akhir, Ifa menyambi berbisnis anggrek. “Awalnya, saya beli anggrek dewasa yang sudah berbunga. Setelah itu saya selfing (membuatnya kawin dengan dirinya sendiri), sehingga jadi buah. Karena saya belum punya green house , jadi bijinya saya setorkan ke tempat pembudidayaan anggrek, untuk dikultur,” paparnya. Sebelum berbisnis, Latifa memang telah lama menggeluti tanaman Anggrek. Hal ini dibuktikan banyaknya koleksi ragam jenis anggrek di rumahnya di Probolinggo. Diantara jenis yang ia koleksi yaitu phalaenopsis anabilis, dendrobium capra dan dendrium strepsiceros. Dendrobium disebut Latifa sebagai salah satu genus anggrek yang paling disukai konsumen. Seiring berjalannya waktu, tingkat permintaan anggrek kian meningkat. Untuk memenuhi permintaan tersebut, menurut Latifa, diperlukan tanaman anggrek dalam jumlah besar. Diakuinya, kendala budidaya anggrek adalah pertumbuhan planlet yang cukup lama. “Keberhasilan kultur secara in vitro sangat ditentukan media yang digunakan. Penambahan bahan organik ke dalam media banyak dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman yang dikultur,” terangnya. Diakuinya, penelitiannya tentang anggrek sangat menunjang bisnis yang ia jalani. Itu juga didukung kecakapannya di bidang riset dan sains. Bahkan, bibit itu sudah muncul saat SMP dulu, saat ia masuk lima besar se-Kota Probolinggo pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Itu pula yang pada akhirnya membuat Latifa memilih kuliah di jurusan Biologi UMM. Selain sukses di bidang akademik dan bisnis, Latifa juga ternyata cukup jago dalam hal menulis. Ia beberapa kali mengikuti kompetisi kepenulisan. Bahkan, tahun lalu, tulisannya berjudul “Hijrah di Jalan Cinta-Nya” terbit dalam buku antologi cerita mini Matahari. Ia juga banyak membuat prosa yang diunggahnya ke blog pribadinya. (can/han)
Peringati Hari Guru, Ratusan Mahasiswa UMM Nyanyikan Hymne Guru

ATMOSFER keharuan menyeruak di seantero Gedung Kuliah Bersama (GKB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (25/11) pagi. Pasalnya ratusan dosen dan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) secara bersamaan melantunkan hymne guru memperingati Hari Guru Nasional. Ratusan mahasiswa itu memadatiseluruh beranda gedung berlantai 6 tersebut. “Kita memberikan sentuhan kepada seluruh aspek masyarakat bahwa begitu pentingnya peranan guru untuk meningkatkan kualitas bangsa ini. Tanpa ada guru saya yakin tidak ada orang yang pintar. Tidak ada yang bisa menjadi pimpinan yang hebat kalau tidak ada guru yang hebat. Makanya kita harus mencetak guru-guru yang hebat,” terang Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr Poncojari Wahyono MKes saat ditemui usai acara. Disamping mencetak sarjana pendidikan, dijelaskan Poncojari, FKIP UMM juga diberi kesempatan untuk mencetak guru profesional. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang diadakan oleh Program Sertifikasi Guru (PSG) di UMM sebagai Rayon 144. “Selain itu, kita juga membangun komunikasi dengan berbagai sekolah untuk melakukan pembinaan terhadap peningkatan kualitasnya, tidak hanya lewat pendidikan profesi,” terangnya. Di Indonesia, terdapat hanya 15 perguruan tinggi yang memiliki kewenangan menyelenggarakan program sertifikasi tersebut. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr Poncojari Wahyono M.Kes menjelaskan, UMM merupakan satu-satunya perguruan tinggi swasta (PTS) yang dipercaya Kemendikbud mengadakan PLPG. Selain UMM, 14 perguruan tinggi yang dimaksud yaitu Universitas Syah Kuala, Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Sebelas Maret, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Jember, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Cendrawasih, dan Universitas Negeri Makasar. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi juga turut memberikan sambutan. “Saya bisa melihat cakrawala dunia, karena saya bisa berdiri di para pundak-pundak raksasa. Dan para pundak raksasa itu adalah guru-guru kita. Kita yang hadir di sini, di masa yang akan datang, anda akan menjadi guru. Menjadi seorang guru adalah sebagai suatu panggilan, sebagai nurani, tidak ada paksaan. Di atas pundak-pundak kita akan berdiri murid-murid kita untuk melihat dunia,” pungkas Syamsul. (can/han)
Kunjungi UMM, Dubes Tertarik Dirikan Australian Corner

BANYAKNYA kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan kampus-kampus di Australia membuat Duta Besar (Dubes) Australia untuk IndonesiaPaul Grigsontertarik untuk datang mengunjungi UMM, Selasa (22/11). Kegiatan Grigson di UMM meliputi kuliah tamu dengan mahasiswa, dialog dengan jajaran rektorat untuk pengembangan kerjasama, serta mengunjungi perpustakaan UMM. Saat berkunjung ke perpustakaan, khususnya ketika melihat-lihat American Corner, China Corner, Thailand Corner dan Saudi Arabian Corner, Grigsonlantas tertarik untuk mendirikan Australian Corner di UMM. Terlebih, sejak 2007 UMM telah menjalin kemitraan strategis dengan Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies (ACICIS), lembaga konsorsium internasionalberanggotakan 24 universitasternama di Australia. UMM juga saat ini telah memiliki 32 orang dosenlulusan Australia, dan tengah berupaya membentuk forum alumni Australia. Rencana tersebut, menurutAsisten Rektor Bidang Kerjasama Soeparto,dimaksudkan untuk pengembangan dan pemberdayaan alumni Australia. “Sebab, selama ini belum ada organisasi alumni Australia di Indonesia. Kalau alumni Amerika itu sudah ada organisasinya. Dari kedutaannya juga ada supporting untuk kegiatan berupa penelitian, pengabdian masyarakat, pemberdayaan organisasi sertanetworking,” terang Soeparto. Sementara itu pada sesi kuliah tamu, Paul Grigsonbanyak memberikan informasi seputar hubungan Indonesia dan Australia, juga peluang-peluang yang dapat diperoleh mahasiswa Indonesia di Australia. “Penting sekali untuk meningkatkan hubungan antara Australia dan Indonesia, khususnya dibidang pendidikan. Saya ingin mengajak warga Indonesia belajar ke Australia. Kami juga sangat mendukung alumni Australia yang saat ini mengajar di sini,” paparGrigsonyang juga mantan Wakil Sekretaris Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australiaini. Pada Maret 2017 mendatang, UMM akan kembali menjalin kerjasama dengan salah satu universitas ternama di Australia, University of South Australia (UniSA) berupa program internship bagi mahasiswa. (acs/han)
Utamakan Pelayanan, BPSDM Latih Mahasiswa Pekerja Paruh Waktu

PELAYANAN merupakan salah satu dedikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai lembaga pendidikan. Perlu adanya pelayanan yang baik dan disiplin dilakukan oleh setiap karyawan UMM, termasuk mahasiswa pekerja paruh waktu (part time). Untuk itu, melalui pelatihan yang berlangsung di Auditorium UMM (20/11) Badan Pengendali Sumber Daya Manusia (BPSDM) UMM membekali mahasiwa part time tentang pelayanan prima. Wakil Rektor III Dr Sidik Sunaryo MHum menjelaskan, pelatihan pelayanan prima ini merupakan salah satu wujud konkrit tanggung jawab UMM di luar kewajiban memberikan upah. Selain itu, kegiatan ini juga bentuk peduli UMM kepada mahasiswa yang mau bekerja sambil kuliah. “UMM peduli dalam artian UMM membuka ruang untuk memberi pengalaman kerja pada mahasiswanya,” jelas Sidik lebih lanjut. Menurut Sidik, orang bekerja itu memiliki spirit tertentu. Pertama, lanjut Sidik, spirit teologis atau ketuhanan. Semua orang bekerja hakikatnya bukan hanya untuk mencari upah namun bekerja itu adalah bentuk pengabdian manusia terhadap tuhannya. Menurut dosen Fakultas Hukum (FH) UMM tersebut, orang bekerja mempunyai beberapa unsur ketuhanan. “Setiap instansi yang mempekerjakan harus memberikan waktu khusus untuk beribadah seperti sholat dan ibadah lainnya tergantung kepercayaannya,” jelasnya. Selanjutnya, spirit kedua adalah nilai kemanusiaan, karena bekerja hakikatnya adalah memanusiakan manusia dan hakikat dari layanan prima adalah memanusiakan manusia juga. Spirit ketiga yaitu unity, karena satu tempat kerja pasti memiliki satu tujuan yang sama. “Layanan prima ini harus diwujudkan secara bersama-sama. Karyawan part time dan full time harus mendukung dengan mendisiplinkan diri masing-masing,” papar Sidik. Kepala BPSDM UMM Prof Dr Ir Jabal Tarik MSi menyatakan, pelatihan pelayanan prima diadakan untuk mengedukasi karyawan part time. Menurut dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM tersebut, setiap karyawan harus memiliki kemampuan untuk melayani ekternal dan internal instansinya. “Dalam kegiatan ini tenaga part time yang statusnya masih mahasiswa kita bekali dengan berbagai kemampupan soft skill. Selain memang untuk memperbaiki pelayanan di setiap instansi, tenaga part time ini juga bisa menggunakan bekal ini untuk terjun ke dunia kerja nantinya,” jelasnya. (jal/han)