Festival Budaya UMM Apresiasi Kekayaan Nusantara

KEKAYAAN khazanah budaya nusantara menjadi perhatian khusus bagi Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui Festival Seni Budaya Nusantara yang digelar dua hari (18-19/11) di UMM Dome, UMM hendak memberi penegasan, kekayaan seni dan budaya negeri ini semestinya bisa menjadi media memperkuat karakter kebangsaan. Beberapa kegiatan pada festival ini di antaranya apresiasi puisi warisan budaya, apresiasi naskah kuno (heritage), apresiasi wayang potehi, apresiasi fotografi warisan budaya dan apresiasi seni tari tradisional Indonesia. Beberapa lomba juga turut digelar di antaranya lomba fotografi budaya, serta lomba tari dan karawitan. Festival ini juga melibatkan mahasiswa untuk pendirian bazar kebudayaan, Direktorat Jendral (Dirjen) Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Hilmar Farid PhD yang turut hadir dalam festival ini mengatakan, kebudayaan tak hanya tentang menari dan menyanyi, namun bermakna luas sebagai warisan kultural yang harus dilestarikan. “Kebudayaan adalah salah satu wujud praktek pembangunan Indonesia. Bahkan, seharusnya kebudayaan menjadi hulu dari pembangunan negara ini,” jelas sejahrawan dan pengkaji kebudayaan tersebut. Sementara itu Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi mengatakan, festival ini diadakan sekaligus sebagai bentuk partisipasi UMM dalam rangka semarak Milad Muhammadiyah ke-104. Hal itu juga sejalan dengan semangat dakwah kultural Muhammadiyah yang pro-kebudayaan. “Kebudayaan dan seni adalah bagian dari bermuamalah. Itu juga tertera dalam putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah yang menjadikan budaya dan seni sebagai dakwah kultural Muhammadiyah,” jelas dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM ini. Syamsul menyebutkan, UMM sangat terbuka terhadap persoalan kebudayaan. “Kita harus melek budaya, tidak boleh menutup diri, karena Indonesia memiliki khazanah kebudayaan yang sangat luas,” jelas Syamsul. Hingga kini, UMM juga giat menyelenggarakan Malam Apresiasi Seni dan Budaya (Maksidaya) yang rutin diadakan tiga bulan sekali. Senada dengan itu, Kepala LK UMM Dr Tri Sulistyaningsih MSi lebih lanjut menjelaskan, budaya Indonesia saat ini tengah mencari jati dirinya. Karenanya, festival ini hadir untuk memperkuat karakter kebangsaan tersebut. “Dengan rentetan acara yang sudah dikonsep panitia, besar harapan kami LK UMM dapat memperteguh kepribadian budaya Indonesia, khususnya bagi mahasiswa UMM sendiri,” jelasnya. Saat ini, papar Tri, sudah banyak penggiat seni yang mulai bermunculan untuk meneguhkan budaya nusantara. “Kita sangat peduli untuk meningkatkan peradaban melalui kebudayaan. Kehadiran lembaga ini (Lembaga Kebudayaan/LK) merupakan salah satu bentuk kepedulian UMM pada budaya,” jelas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini. (Humas UMM)
UMM Tuan Rumah Olimpiade HI Regional Jawa-Bali-Mataram

PROGRAM Studi (Prodi) Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) kembali dipercaya menjadi tuan rumah olimpiade tahunan, Internasional Relations Olympic Sports (IROS), setelah sebelumnya juga menjadi tuan rumah pada 2009. IROS merupakan kompetisi milik regional VI Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia (FKMHII). Untuk tahun ini, kegiatan yang berlangsung pada 17-19 November ini diikuti 7 universitas se-Jawa, Bali dan Mataram, yaitu Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Udayana Bali, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya, Universitas Negeri Jember (UNJ), Universitas Mataram (Unram), dan tuan rumah UMM. Selepas dibukanya kegiatan ini di Auditorium UMM (17/11) oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Dr Asep Nurjaman MSi, selanjutnya sebanyak 268 peserta dari tujuh kampus tersebut akan melakukan pertandingan di Lapangan Badminton GOR Rajabasa Tidar Malang. Ada tiga cabang yang dilombakan, yaitu bola basket, futsal dan badminton. “Nanti di hari terakhir akan diadakan lomba dayung di danau UMM,” papar ketua pelaksana IROS 2016, Dhiyah Arimbi. Mengangkat tema Expressing Our Solidarity through Fairplay, diharapkan olimpiade ini akan diikuti secara sportif oleh seluruh peserta. Tujuan utamanya, lanjut Dhiyah, bukan mencari musuh tapi untuk mempererat persaudaraan antar mahasiswa HI se-Indonesia. “Ajang ini bukan untuk menentukan juaranya kampus mana, tapi untuk menjalin persahabatan dan membuktikan bahwa mahasiswa HI tidak hanya bisa bernegosiasi namun juga bisa berkompetisi,” ungkap mahasiswi HI UMM tersebut. Asep Nurjaman dalam sambutannya menjelaskan, olahraga merupakan salah satu instrumen paling baik dalam merekatkan perbedaan. “Dengan olahraga, kita melupakan etnis, suku dan agama. Apalagi di sini kan ada yang dari Bali, jadi olahraga bisa menjadi penyatu berbagai etnis ini,” jelas Asep. (jal/han)
UMM Siapkan Pekerja Sosial Atasi Masalah Sosial di Malang

MASALAH sosial di Kota Malang terbilang cukup pelik. Jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) meliputi gelandangan, pengemis, anak jalanan, kekerasan anak, kekerasan seksual, kemiskinan, pendidikan, dan ekonomi. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang Dr Sri Wahyuningtyas MSi mengatakan, anak jalanan di Malang meningkat jumlahnya dan berasal tak hanya dari Malang, melainkan dari berbagai daerah. Berdasarkan data Dinsos, jumlah fakir miskin di Kota Malang mencapai 36.000, juga terdapat 227 anak jalanan, 1800 gelandangan dan pengemis, dan 5 korban bencana alam. Hal ini disampaikan Sri Wahyuningtyas pada kuliah tamu program studi (Prodi) Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertema “Potret Masalah Sosial di Kota Malang” yang digelar di Theater UMM Dome, Kamis (17/11). Sayangnya, lanjut Sri, saat ini Dinsos hanya memiliki 5 pekerja sosial. Dibandingkan permasalahan yang ada, jumlah ini tak sebanding. Karenanya, Yuyun berharap Prodi IKS UMM bisa menjadi pendamping masyarakat dalam melaksanakan program yang telah dirancang oleh Dinsos maupun Kementerian Sosial. Program tersebut di antaranya perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Program Keluarga Harapan (PKH), Kelompok Usaha Bersama (Kube), demikian pula menambah sarana prasarana lingkungan. “Beberapa tugas pendamping misalnya sebagai pengontrol kesehatan ibu hamil untuk rutin memeriksakan kandungan ke puskesmas. Jika ada keluarga yang memiliki anak sekolah, apakah anak sudah sekolah aktif. Lalu untuk program Kube, juga pendampingan apakah dana yang diturunkan Kemensos terpakai dengan tepat. Sukses tidaknya program Dinsos dan Kemensos juga tergantung pada tingkat pendampingan yang dilakukan,” tukas Yuyun. Menanggap hal ini, ketua Prodi IKS UMM, Dr Oman Sukmana MSi menguraikan mahasiswa IKS akan difokuskan untuk terjun menangani permasalahan sosial di Malang Raya. Mahasiswa yang akan melakukan praktikum, penelitian, dan skripsi akan diarahkan di Malang Raya. Sampai saat ini, alumni Prodi IKS UMM sudah ada yang bekerja di Dinsos dan Kemensos. “Orientasinya pada 5 hal. Mahasiswa akan disiapkan menjadi analis kebijakan sosial, pekerja sosial masyarakat/ komunitas, manajer lembaga pelayanan sosial, konselor psikososial, dan peneliti sosial. Tak hanya menggarap lingkungan fisik, tapi lulusan IKS juga akan menggarap lingkungan non fisik, perilaku, kehidupan sosial, dan ekonomi masyarakat,” pungkas Oman. (ich/han)
Jodipan Kian Menginspirasi, Guys Pro UMM Tampil di Kick Andy
KESUKSESAN delapan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) mendapatkan apresasi dari banyak pihak. Selain meraih sejumlah penghargaan, KWJ juga mendapat perhatian khusus dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi ketika mengunjungi kota Malang. Tak heran, kesuksesan itu lantas menarik minat stasiun televisi swasta Metro TV mengundang tim Guys Pro UMM untuk tampil berbagi inspirasi di acara talkshow “Kick Andy”. Talkshow tersebut akan ditayangkan pada Jumat, 18 November 2016 pukul 20.00 dan disiarkan ulang esoknya pukul 13.05. Koordinator tim Guys Pro UMM Nabila Firdausiyah menceritakan, ketika pertama kali dihubungi pihak Metro TV ia mengaku sempat tidak percaya. “Tanggal 24 Oktober 2016 pagi saya dihubungi pihak Metro TV untuk dijadikan opsi narasumber di acara Kick Andy, kemudian sore harinya langsung dikabari kalau akan diundang ke Jakarta untuk berbagi inspirasi pada talkshow tersebut,” tutur mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM ini. Di acara tersebut, Nabila banyak bercerita pada host Kick Andy, Andy Flores Noya, tentang asal-muasal KWJ, mulai dari kampung kumuh hingga menjadi destinasi wisata yang ikonik di kota Malang. KWJ inilah yang lantas menginspirasi pemerintah kota Malang untuk membangun 76 kampung tematik agar pengembangan kota lebih terarah. Terkait kesuksesan tersebut, dosen pembimbing Tim Guys Pro UMM Jamroji mengatakan, hal itu sepenuhnya didukung oleh pihak kampus. “Kita sangat bersyukur. UMM mendukung penuh, terlebih ini merupakan hasil praktikum Public Relation yang memang menjadi bagian dari tugas kuliah,” ujar dosen Ilmu Komunikasi UMM ini. Adapun beberapa penghargaan yang sebelumnya telah diterima tim Guys Pro UMM di antaranya penghargaan dari Walikota Malang sebagai penggagas KWJ, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Malang sebagai pemuda peduli lingkungan, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Malang dalam awarding Bhumi Arema sebagai penggagas KWJ dan juga dari Hasta Komunika dalam acara Hasta Komunika Award sebagai tokoh muda bidang peduli lingkungan dan sejumlah penghargaan lainnya. (jal/han)
Karakter Kebangsaan Bisa Dibangun Melalui Sastra

SELAIN mengungkap pentingnya bahasa Indonesia sebagai penjaga integritas bangsa, Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia yang digelar oleh Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa-Rabu (15-16/11) di Auditorium UMM juga mengangkat pentingnya sastra untuk membangun karakter kebangsaan. Menurut guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Djoko Saryono MPd, cipta sastra cukup fungsional sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter. Sastra juga dinilainya dapat menjadi pintu masuk dalam memberikan pengalaman etis dan moral bagi para pelajar. Sayangnya, menurut Djoko, mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 telah melupakan sastra, setidak-tidaknya meminggirkan sastra. “Sebaliknya, kurikulum itu terlampau memuja-muja teks-teksnon-sastrayang tak mudah dipahami dan tak jelas arahnya,” papar Djoko yang juga pendiri Cafe Pustaka UM ini. Mengamini hal itu, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr Hari Sunaryo MSi mengatakan, dengan mengadaptasi kearifan lokal, pembelajaran sastra dapat mengokohkan jati diri bangsa yang berakar dari nilai-nilai keindonesiaan. Sebagai entitas budaya, menurut Hari, kearifan lokal telah teruji memiliki daya yang bermakna strategis dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan. “Dengan mengadaptasi secara kreatif kearifan lokal ke dalam sistem pembelajaran, hal itu tentunya akan berimbas pada kokohnya nilai-nilai kebangsaan,” jelas Wakil Dekan III FKIP UMM ini. Sementara itu dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Budinuryanta Yohanes menegaskan, pembelajaran bahasa Indonesia tidaklah cukup terpumpun pada pembelajaran kaidah dan kefasihan berbahasa, tetapi harus berorientasi pada pembentukan kepribadian keindonesiaan. Untuk mendukung hal itu, kata Budinuryanta, perlu dikembangkan pembelajaran bahasa interkultural agar siswa memiliki kepekaan dan kesadaran budaya akan kebinekaan Indonesia. “Sekalipun siswa terlahir dan terukir dalam budaya dan masyarakat tertentu, namun ketika belajar bahasa sasaran ia terbuka terhadap keragaman budaya, tanpa meninggalkan budaya asalnya.” Selain seminar yang berbentuk pleno, kegiatan ini juga memuat sesi paralel yang menghadirkan 35 pemakalah dan 150 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Rektor UMM Fauzan berharap, seminar ini mampu menggali pikiran akademisi dalam memanfaatkan bahasa dan sastra Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang lebih beradab. (han)
Bahasa Indonesia Penjaga Integrasi Bangsa

PEMBELAJARAN bahasa Indonesia di sekolah tak bisa hanya bertujuan agar siswa menguasai struktur bahasa. Lebih dari itu, pembelajaran bahasa harus menjadi strategi budaya agar lebih mencintai bangsa ini. Demikian disampaikan guru besar Universitas Negeri Surabaya Prof Dr Setya Yuwana MA pada Seminar Nasional Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan yang digelar selama dua hari (15-16/11) oleh Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM ini berupaya lebih menghidupkan bahasa Indonesia sebagai kekuatan integrasi bagi bangsa ini. Bagi Setya Yuwana, hal ini tak bisa diremehkan, lantaran jika bahasa Indonesia punah, maka negara ini juga bisa ikut punah. Untuk itu, Setya menekankan perlunya mengintegrasikan budaya Indonesia yang multikultural sebagai bagian dari proses pembelajaran. Setya menilai, pembelajaran bahasa harus bisa memanfaatkan keragaman kultural dan kearifan lokal masyarakat agar siswa mampu menciptakan makna berdasarkan apa yang dialaminya sehari-hari. Di sini, bahasa selanjutnya menjadi kekuatan untuk membangun perilaku yang humanis, pluralis, dan demokratis. Sementara itu pakar bahasa Indonesia dari UMM Dr Ekarini Saraswati MPd mengaku prihatin dengan penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari oleh anak muda, terutama kalangan metropolis. “Mereka sering mencampur aduk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan asal-asalan, terutama di media sosial,” kata Ekarini. Rektor UMM Fauzan berharap, seminar ini mampu menggali pikiran akademisi dalam memanfaatkan bahasa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang lebih beradab. “Masyarakat harus bangga dengan bahasa Indonesia. Jangan sampai hilang bahasanya dan tersisa penggunanya saja, lalu jadi kajian situs arkeologis,” kata Fauzan. Selanjutnya, rekomendasi dan paparan para pemakalah dalam seminar ini nantinya akan dibukukan dalam prosiding, untuk kemudian diserahkan ke Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbud sebagai bahan untuk pengambilan kebijakan. Sejumlah pembicara yang juga turut memaparkan gagasannya pada kegiatan ini yaitu kepala Badan Bahasa Kemendikbud Prof Dr Dadang Sunendar MHum, guru besar Universitas Negeri Malang Prof Dr Djoko Saryono MPd dan Prof A Effendi Kadarisman MA PhD, dosen Unesa Dr Budinuryanta Yohanes MPd, serta beberapa dosen UMM yaitu Dr Ribut Wahyu Eriyanti MSi MPd, Dr Hari Sunaryo MSi, dan Dr Arif Budi Wurianto MSi, juga 35 pemakalah dan 150 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. (ich/han)
Bela Hak Perempuan, PP Aisyiyah Didik Warganya Jadi Paralegal

PERHATIAN Aisyiyah terhadap isu perempuan dan anak mendorong Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia(HAM) Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah mengadakan pelatihan paralegal bagi yang diikuti 25 Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) dari 34 provinsi di Indonesia, Jumat-Ahad (11-13/11)di Auditorium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).Kegiatan ini mengambil tema “Penguatan Peran Aisyiyah dalam Pendampingan dan Penyelesaian Persoalan Hukum pada Perempuan dan Anak”. Perwakilan dari tiap-tiap provinsiitu akan dicetak menjadi paralegal, sehingga dapat melakukan pendampingan hukumjika terdapat persoalan terkait pelanggaran hak terhadap perempuan dan anak.Ketua Majelis Hukum dan HAM (MHH) PP AisyiyahDr Atiyatul Ulya MAg mengungkapkan, dalam perjalanan satuabad Aisyiyah, masyarakat sudah banyak mengenal kiprah Aisyiyah, mulai bidang pendidikan, kesehatan, panti asuhan dan bidang-bidang yang lain. Adapun dalam ranah hukum, ibu-ibu Aisyiyah sudah melakukan advokasi berupa pendampingan dalam menyelesaikan berbagai persolan keperempuanan yang terjadi di masyarakat.Inilah yang menurut Atiyatul Ulyaperlu diperkuat. Saat ini Aisyiyah telah memiliki 10 Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang tersebar di seluruh Indonesia. Tiga dari sepuluh LBH ini telah mengantongi akreditasi, yakni LBH Kota Malang, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Inilah yang menjadi alasan mengapa kegiatan ini dipusatkan di Malang. “Memasuki abad kedua, kami mendorong agar Aisyiyah lebih banyak berjibaku dalam persoalan hukum yang akhir-akhir ini dialami kaum perempuan. Salah satu upaya kami yaitu melalui pelatihan paralegal ini,” urainya. Sejumlah pakar hukum hadir menjadi pemateri, di antaranya kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM Prof Dr Enny Nurbaningsih SH MHum,Ketua Subkomisi Pengembangan Sistem Pemulihan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Indri Suparno. KetuaUmumPPAisyiyah Dra Hj Siti Noordjannah Djohantini MM MSi mengatakan, pelatihan yang diadakan di UMM ini adalah bentuk sinergi antarpersyarikatan. UMM punya tagline Dari Muhammadiyah untuk Bangsa, sehingga bagus ketika UMM berjejaring dengan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, yaitu Aisyiyah,” tukasnya. Di mata Noordjannah, dengan manusia memiliki rasa kurang, berarti ada tanda-tanda kemajuan dalam dirinya. Sama halnya dengan Aisyiyah, menyikapi kasus-kasus perempuan dan anak yang kerap diberitakan di media saat ini, Noordjannah mengaku Aisyiyah harus bersikap responsif. Aisyiyah, menurutnyamesti menjadi pemecah masalah dan pencipta solusi. Semangat ini sudah ditanamkan dalam Mars Aisyiyah yang selalu dikumandangkan dalam tiap kegiatan, yakni semangat perempuan berkemajuan. Rektor UMM Fauzan tak lupa mengungkapkan terima kasihnya atas kesediaan PPA memercayai UMM sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan. Ia berharap, pelatihan ini hadir untuk mengemban amanah serta melayani masyarakat.(ich/han)
Tahun ke-10 Darmasiswa UMM, BPKLN Kemendikbud Tinjau Aktivitas Mahasiswa Asing

BIRO Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud), Selasa (9/11), mengadakan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program beasiswa Darmasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebanyak 17 mahasiswa asing peserta Darmasiswa diminta mengisi angket yang berisikan sejumlah pertanyaan terkait pelaksanaan Darmasiswa di UMM. Darmasiswa merupakan program beasiswa pemerintah Indonesia bagi mahasiswa asing untuk belajar dan mendalami Budaya dan Bahasa Indonesia. Program tersebut dikelola empat kementerian, yakni Kemendikbud, Kementerian Sekretariat Negara, Kementrian Luar Negeri, serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pemantauan dilakukan pada bulan ketiga pelaksanaan Darmasiswa. Tiap tahunnya, program Darmasiswa ini diikuti kurang lebih 600-an mahasiswa dari seluruh dunia dan ditempatkan di 54 universitas di Indonesia. Di UMM sendiri, program Darmasiswa sudah memasuki tahun ke-10 sejak pertama kali diadakan pada 2006. Tahun ini, peserta berasal dari sejumlah negara di antaranya Jerman, Chile, Sudan, Korea Selatan, Jepang dan Thailand. Setiap tahunnya, masing-masing peserta Darmasiswa mendapat tunjangan pendidikan 2.5 juta perbulan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai lembaga pelaksana program, UMM juga mendapat saluran dana. “Berarti pelaksanaannya harus sesuai ketentuan atau undang-undang,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM Dr Arif Budi Wurianto MSi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/11). Monitoring juga untuk memastikan tidak ada masalah selama mahasiswa itu berada di naungan universitas. “Masalah itu mungkin bisa saja terjadi. Apakah masalah pribadi, tidak kerasan lantas pulang, masalah imigrasi, atau bahkan kasus-kasus yang mengharuskan mahasiswa dipulangkan atau dideportasi. Alhamdulillah, selama pelaksanaan Darmasiswa di UMM tidak pernah kejadian permasalahan-permasalahan tersebut,” jelasnya. “Karena melibatkan empat kementerian, berjalan atau tidaknya suatu program itu harus dipantau atau dimonitoring. Kemarin, pemonitornya hanya mengambil beberapa data terkait administrasi pelaksanaan,” terangnya. “Monitoring ini secara menyeluruh bakal menentukan apakah kita bisa lanjut sebagai provider atau tidak. Maka dari itu, UMM harus memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Saya pribadi yakin kami memiliki pelayanan dan program-program yang baik. Maka, ini juga menjadi pertimbangan UMM bakal tetap menjadi provider,” tukasnya. (can/han)
Konferensi Internasional FEB UMM: Siapkan Inovasi Bisnis di Era Global

UNTUK kedua kalinya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan International Conference on Future Business Environment and Innovation (ICOFBEI). Kegiatan yang berlangsung di UMM Dome, Rabu (9/11) ini diikuti mahasiswa FEB UMM dan sejumlah peserta tamu dari Ukraina, Malaysia, Amerika Serikat, dan China. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menyatakan, mahasiswa harus memanfaatkan konferensi ini untuk menilai, kekuatan apa yang mesti dikembangkan untuk bisa berkiprah di dunia bisnis internasional nantinya. “Perkembangan bisnis saat ini harus menjadi ‘bacaan’ mahasiswa,” tuturnya. Ada tiga pakar yang menjadi pembicara dalam forum ini yakni Prof Terrill L Frantz dari Peking University China, Prof Mudrajad dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dr Suhal dari Universitas Malaysia Terengganu, dan Dr DJoko Sigit Sayogyo dari UMM. Dekan FEB UMM Dr Idah Zuhroh MM menjelaskan, pertemuan ilmiah ini diharapkan mampu menjadi salah satu ikhtiar menuju internasionalisasi UMM. Selain konferensi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan presentasi paper dosen dan peneliti yang sebelumnya telah terseleksi melalui Call for Paper. “Tujuannya untuk mendapatkan review dari penelitian lain, sehingga mampu memperbaiki hasil penelitian sebelumnya. Lalu, bisa dilanjutkan dengan publikasi internsional dan didiseminasikan menjadi sumber pembelajaran,” jelas Idah Zuhroh. Terkait perkembangan ekonomi dan bisnis di Indonesia, Idah menilai pelaku ekonomi mempunyai daya saing yang setara. Di negara berkembang, SDM rendah berdampak pada kurangnya kesejahteraan perekonomian. Globalisasi adalah hal yang tidak bisa dihindari, oleh karenanya inovasi dalam berbagai bidang harus terus dikembangkan. Peran FEB UMM, lanjut Idah, yakni menghasilkan sumberdaya manusia yang berjiwa entrepreneur, sehingga ketika bekerja di mana-mana akan menggunaan prinsip manajemen agar mampu mengakselerasi tujuan pembangunan, baik di bidang pemerintahan maupun bisnis. Sementara itu menurut Prof Terrill, untuk menjadi pelaku bisnis internasional, yang terpenting selain konsep adalah eksekusi atau pelaksanaan. Eksekusi yang sukses ditandai oleh beberapa perilaku, yakni visi, keuletan, ketabahan, tekad yang kuat, banyak akal, dan siap jelimet. Menurutnya, jika ingin mengembangkan skill, maka lihatlah situasi di sekitar. Dunia bisnis selalu bertransformasi. Transformasi memang hal yang sangat sulit dilakukan, tapi ia memberikan pengaruh sangat besar untuk dunia. Dalam kacamata Terrill, hal yang harus dilakukan Indonesia saat ini adalah mempersiapkan generasi global yang siap melakukan eksekusi dan transformasi. (ich/han)
FKIP Dorong 23 Doktor Baru Perkuat Kepakaran Berbasis Riset

SEBANYAK 23 doktor baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapatkan kesempatan mempresetasikan disertasinya di hadapan peserta International Conference on Lesson Study (ICLS), pekan lalu (5/11) di UMM Dome. Disertasi-disertasi tersebut selanjutnya menjadi hasil riset yang akan dihilirisasi agar bermanfaat bagi dunia pendidikan. Wakil Dekan I FKIP UMM Dr Trisakti Handayani MM menjelaskan, melalui presentasi disertasi yang dikemas dalam acara Education Colloquium (EC) itu diharapkan gagasan dan penelitian para doktor tersebut bisa dipakai oleh pihak-pihak yang memerlukan. Hasil riset tersebut juga digunakan UMM untuk memetakan kepakaran para doktor tersebut. “Publikasi dan hilirisasi hasil disertasi tersebut sekaligus promosi ke masyarakat internasional bahwa UMM memiliki hasil penelitian dan dosen yang memiliki kepakaran di bidang tersebut. Contohnya, ada salah satu doktor dengan disiplin ilmu pendidikan biologi, namun spesifikasinya pada lingkungan. Spesifikasi inilah yang dimanfaatkan untuk masyarakat luas nantinya,” jelas Trisakti. Trisakti menilai, selama ini hasil penelitian tidak selalu bisa dinikmati masyarakat luas karena kurangnya publikasi. Melalui presentasi pada forum ICLS yang dihadiri ratusan peserta dari dalam dan luar negeri, gaung pengetahuan yang dimiliki UMM diharapkan semakin terdengar. Selain mempresentasikan disertasi, 23 doktor baru tersebut juga mendapatkan penghargaan dari UMM karena telah memiliki karya yang menjadi bukti kepakaran mereka. Penyerahan penghargaan dilakukan oleh presiden Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI) Sumar Hendayana PhD pada penutupan ICLS (5/11). Dekan FKIP UMM Dr Poncojari Wahono menyatakan, penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap pencapaian dosen. Poncojari berharap, para doktor baru ini mampu mempercepat visi UMM menjadi kampus berekognisi internasional. “Tentunya kami berharap dosen itu banyak berkarya, bisa melalui penelitian, penulisan jurnal maupun pengabdian masyarakat, sehingga bisa mendukung UMM menjadi kampus internasional berbasis riset,” ungkapnya. Tindak lanjut dari penghargaan ini, kata Trisakti, para doktor tersebut didorong untuk segera meraih gelar guru besar. “Tidak hanya pihak fakultas saja yang mendorong percepatan guru besar, namun universitas juga terus mendorong fakultas agar para doktor terus produktif. Saat ini, sudah ada 12 jurnal milik dosen FKIP yang tembus publikasi internasional dan akan terus digalangkan agar bertambah banyak,” pungkasnya. (ich/han)