Menghibur, Mahasiswa UMM Ajarkan Bahasa Inggris pada Siswa SD

MELALUI program English for Young Learners (EYL), program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) intens mengajarkan bahasa Inggris pada siswa-siswi sekolah dasar (SD) dengan cara-cara yang kreatif dan menghibur. Salah satunya, yang dilakukan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UMM pada SD Muhammadiyah 3 Assalaam, Selasa (8/11). Bertempat di area semi terbuka yaitu gazebo perpustakaan UMM, ada 13 siswa kelas 1 yang mengikuti pembelajaran bahasa Inggris bertema part of my body ini. Kepala sekolah SD Assalaam, Syai’in Kodir, mengungkapkan kegiatan ini sebagai salah satu program sekolah untuk membentuk siswaunggul berbahasa asing. Tak hanya itu, Syai’in ingin siswanya tak hanya menguasai bahasa asing secara teori seperti grammar, tapi juga mampu mengaplikasikan secara langsung. “Dalam seminggu, kami biasakan siswa-siswi untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Arab. Senin sampai Rabu untuk bahasa Inggris dan Kamis sampai Sabtu untuk bahasa Arab. Bekerja sama dengan prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini supaya siswa langsung aplikasi berbahasa Inggris, kebetulan temanya adalah anggota tubuh,” ujarnya. Pembelajaran bersama anak SD membutuhkan cara-cara kreatif untuk menarik perhatian siswa. Oleh karenanya, tim EYL mengemas pembelajaran ini melalui beberapa kegiatan yang menyenangkan. Siswa dibagi menjadi 3 kelompok, lalu secara bergiliran masing-masing kelompok akan belajar dengan 3 mentor yang merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris yang menempuh matakuliah EYL. Kegiatan pertama adalah Simon Says. Di sini, siswa diajak untuk menyanyi dan melakukan instruksi untuk memegang bagian tubuh yang diucapkan dalam bahasa Inggris. Selesai dari Simon Says, siswa diajak membaca buku cerita bergambar dengan mentor lain. Mentor meminta tiap siswa untuk mengulang tiap kosakata mengenai bagian tubuh yang ada dalam cerita tersebut. Selanjutnya, kegiatan yang menyedot antusias siswa adalah membuat roti karakter. Dibimbing mentor, siswa diajak untuk menggambar bentuk wajah dari roti tawar dengan susu kental manis dan permen. Sambil menghias roti tawar, siswa diminta menyebutkan bagian tubuh yang ada di wajah. Terakhir, ada 3 kertas manila yang digelar di lantai kayu gazebo. Tiap perwakilan dari masing-masing kelompok diminta merebahkan diri di atas kertas manila. Lalu, anggota kelompok yang lain menarik garis mengelilingi tubuh dengan pensil warna untuk membentuk gambar tubuh. Siswa lalu diminta menuliskan bagian tubuh apa saja yang telah tergambar tersebut. Salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Intan Dewi yang juga menjadi mentor cerita bergambar menuturkan, mata kuliah EYL telah banyak bekerja sama dengan berbagai SD di kota Malang. Setiap hari Minggu, puluhan siswa dari berbagai SD mulai kelas satu hingga kelas enam mengikuti pembelajaran EYL di UMM. “Ada berbagai program sesuai rancangan pembelajaran yang telah kami susun. Jadi bisa belajar Bahasa Inggris dalam bentuk indoor atau outdoor. Banyak wali murid yang antusias dengan kegiatan ini, karena anak-anak tak hanya menghabiskan waktu liburnya di depan gadget saja, tapi juga produktif dengan belajar Bahasa Inggris” urainya. (ich/han)

Lesson Study Hadirkan Sekolah Berbasis Komunitas

KEGIATAN International Conference on Lesson Study (ICLS) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama tiga hari akhir pekan lalu (3-4/11) tak lepas dari peranan tiga dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM yang menjadi motor penggerak Lesson Study (LS) di Malang, yaitu Drs Nur Widodo MKes, Dr Roro Eko Susetya Rini MSi dan Dra Sri Wahyuni MKes. Roro Eko menyatakan, LS di UMM berawal dari program hibah Dikti tahun 2010. Di tahun kedua, LS UMM mulai mencari mitra sekolah yang mau bergabung dengan UMM. SMAN 2 Batu menjadi sekolah yang terpilih sebagai sekolah mitra UMM. Dalam hal ini, UMM sebagai Pembina. Ditanya mengenai sekolah berbasis komunitas, Eko menyatakan, saat ini LS UMM tengah menggandeng beberapa sekolah di wilayah Malang dan Batu sebagai sekolah  mitra. Secara kontinyu, dosen UMM bertindak sebagai pendamping dalam. Dosen FKIP yang juga tergabung dalam World Association of Lesson Study (WALS) ini memaparkan, sekolah berbasis komunitas ini dimaksudkan sebagai sekolah yang memiliki kesatuan visi antara komite, kepala sekolah, guru, wali murid, juga masyarakat. “Ada kesatuan visi yang diusung. Yakni salah satunya kolaboratif. Artinya, dalam sebuah kelas, bukan murid yang terbilang pandai saja yang akan menjadi titik perhatian guru dan makin dikembangkan, tetapi murid yang memiliki kepandaian lebih ini yang juga akan menggandeng dan mengajari teman di kelasnya. Prinsip ini sama dengan prinsip tutor sebaya,” jelasnya. Sehingga, lanjut Eko, tak hanya guru saja yang berperan dalam pengembangan murid, melainkan seluruh elemen yang terkait dengan kemajuan siswa. Semangat inilah yang kini tengah dibagikan sekolah berbasis komunitas pada sekolah yang belum bervisi sama. “UMM siap mendampingi dan membina sekolah untuk terwujudnya LS di sekkolah-sekolah,” tutur Eko. Sedikit mengungkap sejarah, Eko berkisah Prodi Pendidikan Biologi dan Pendidikan Matematika terpilih untuk melaksanakan LS di masa awal hibahnya. Tahun pertama hanya dipilih 1 mata kuliah. Proses dilanjutkan dengan sosialisasi terkait LS, workshop, lalu implementasi di mata kuliah di biologi dan matematika. Memasuki tahun ke-2, LS mulai melakukan diseminasi ke program studi lain di FKIP, yakni PGSD dan Bahasa Indonesia. Tahun inilah, Di tahun terakhir penyelenggaraan program, yakni tahun ke-3, diseminasi terus dilakukan ke prodi Bahasa Inggris dan PPKn. Sehingga, saat ini semua prodi di FKIP sudah pernah melaksanakan minimal sekali LS. Di jurusan biologi, meski proyek telah rampung digelar 3 tahun silam, tapi pelaksanaan LS masih berlangsung hingga saat ini. (ich/han)

Peserta Konferensi ICLS Kunjungi Sekolah Pantau Lesson Study

KEGIATAN International Conference on Lesson Study (ICLS) dan Education Colloquium (EC) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama tiga hari (3-5/11) tidak hanya berupa seminar dan dialog, namun juga diiringi kunjungan ke tiga sekolah di Malang (school visit) yaitu SD Anak Saleh, SD Negeri Kauman 1 dan MTs Muhammadiyah 1 Tlogomas yang berlangsung pada hari kedua, Jumat (4/11). Peserta kegiatan ini tidak hanya berasal dari Indonesia tapi juga dari Jepang, Singapura, Thailand, Rumania, Amerika, Malaysia, dan Filipina. Mereka pun turut terlibat dalam kunjungan ke tiga sekolah tersebut, agar dapat melihat best practice pelaksanaan lesson study, yaitu sejauh mana model pembelajaran ini berdampak bagi siswa. Penggagas ICLS dari Gakusyuin University Jepang Prof Manabu Sato yang turut serta dalam kunjungan sekolah ini menilai, ICLS akan membawa peningkatan kualitas pendidikan bagi UMM. ICLS berkomitmen pada UMM karena kampus ini dipandang mampu mendampingi sekolah-sekolah untuk pelaksanaan lesson study. Sementara itu, pengurus pusat Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI) Drs Nur Widodo MKes menyatakan, ketiga sekolah yang dipilih merupakan sekolah yang sudah terbiasa menggunakan sistem lesson study di setiap pembelajarannya. “Lesson study sendiri merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada murid, bukan guru,” ujar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM tersebut. Menurut Nur Widodo, murid lebih banyak aktif dalam model pembelajaran ini. Dengan pembelajaran yang terfokus pada murid, lanjutnya, maka murid akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dengan cara ini pula, maka apa yang didapatkan murid memiliki efek jangka panjang, tak sekadar pemenuhan untuk untuk mendapatkan nilai saja. “Dengan diterapkannya lesson study di sekolah, siswa tak hanya mendapat nilai yang bagus, tapi kualitas siswa tersebut juga akan jelas terlihat,” terang Nur Widodo. Kepala sekolah SD Anak Saleh, Nurdiah Rachmawati menjelaskan, adanya model pembelajaran lesson study di sekolah merupakan tindak lanjut dari pembelajaran berbasis komunitas yang sudah dijalankan oleh guru di SD tersebut. “Dengan adanya lesson study ini kami sangat terbantu karena siswa dapat dengan mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru,” jelas Nurdiah. Selain itu, lanjut Nurdiah, guru dipermudah dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Keunggulan darilesson study ini diantaranya langkah-langkah pembelajaran yang dikemas dalam bentuk mind-mapping. Tampilan dari rancangan pembelajaran sengaja dibuat sesuai dengan yang dipikirkan guru. “Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sangat mudah dicerna sehingga siswa pun mudah memahami dengan cepat.” Nurdiah mencontohkan pelajaran Matematika yang notabene sangat susah. “Dengan model pembelajaranlesson study, Matematika dapat dengan mudah dipahami karena murid diberikan banyak waktu untuk berdiskusi guna memecahkan hitung-hitungan matematika tersebut,” papar Nurdiah. Ke depan, pihak sekolah berharap ada tindak lanjut dari kunjungan sekolah tersebut. “Kerjasama antara sekolah dan UMM ini tentunya akan memperkuat model pembelajaran lesson study ini di setiap sekolah,” ujar Nurdiah. (jal/han)

Hadir di UMM, Para Pakar Internasional Kembangkan Lesson Study

INTERNATIONAL Conference on Lesson Study (ICLS) dan Education Colloquium (EC) resmi dibuka Kamis (3/11) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berbagai negara turut hadir dalam event prestisius ini, di antaranya Jepang, Singapura, Thailand, Rumania, Amerika, Malaysia, dan Filipina. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM Dr Poncojari Wahyono, dalam sambutannya menyatakan, ICLS adalah media bagi para peneliti, akademisi, dan pendidik profesional untuk saling bertukar ilmu mengenai lesson study (LS). Pendiri sekaligus presiden Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI), Sumar Hendayana PhD memaparkan bahwa LS adalah sarana untuk mempromosikan pembelajaran secara terus-menerus melalui perbaikan dan pemberdayaan komunitas sekolah. Menurutnya, dampak positif dari penyelenggaraan komunitas belajar ini adalah terjaringnya talenta-talenta. ICLS adalah konferensi internasional dengan ciri khas school visit ke sekolah yang sudah berhasil menjalankan LS. Dari sini, peserta school visit dapat melihat best practice pelaksanaan LS. Prof Manabu Sato yang merupakan ICLS Founder dari Gakusyuin University Jepang, dalam paparannya menyampaikan, karakteristik masa depan sekolah sebagai komunitas belajar atau School as Learning Community (SLC) bukanlah resep, teknik, atau formula, melainkan serangkaian visi, filosofi, dan aktivitas yang terangkum dalam sebuah sistem. SLC juga tidak terbentuk melalui pendekatan pribadi, melainkan praktek yang terintegrasi untuk aktif, kolaboratif, pembelajaran reflektif, pembelajaran yang berpusat pada LS, professional kolegial, otonomi sekolah, dan sekolah yang demokratis. Tak hanya itu, SLC juga bergantung pada ‘kemampuan mendengarkan’. Kemampuan mendengarkan dimaksudkan sebagai poin awal dalam pembelajaran karena akan menciptakan komunikasi dialogis, dimana dialog akan memunculkan kemungkinan untuk bergaul dengan rekan sejawat. Kini, semua anggota ALSI giat mengembangkan pembelajaran berbasis LS di sekolah mitra di daerah masing-masing. UMM, dengan menjadi tuan rumah penyelenggara ICLS ketujuh mulai bergerak membina sekolah di Batu dengan membentuk LS Community. “ICLS akan membawa peningkatan kualitas pendidikan bagi UMM. ICLS dan EC berkomitmen pada UMM sebagai institusi yang diyakini akan menjadi universitas kelas dunia,” kata Manabu Sato. (ich/han)

UMM Perluas Kerjasama dengan Dua Universitas Swedia

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) memperluas jejaring kemitraan internasionalnya dengan dua universitas ternama di Swedia, Stockholm University dan Uppsala University. Melalui kunjungan selama 7 hari, 10 Oktober-17 Oktober 2016, sebanyak 22 dosen dan pimpinan UMM mendatangi dua kampus tersebut untuk melakukan dialog akademik sekaligus merancang kerjasama. Sebelumnya UMM dan Uppsala University telah memiliki jalinan kerjasama melalui program Erasmus Mundus. Ke depan, menurut  Wakil Rektor II UMM Dr Nazaruddin Malik MSi, kerjasama akan diperluas melalui pertukaran mahasiswa dan dosen. Pada kunjungan yang diketuai oleh Wakil Rektor II dan diikuti seluruh Wakil Dekan II dari semua fakultas se-UMM ini, UMM bersama dua kampus Swedia tersebut melakukan diskusi tentang pengelolaan keuangan dan sumberdaya manusia. Untuk kerjasama, dilakukan kesepakatan tentang kelanjutan kerjasama terkait pertukaran mahasiswa dan dosen dalam lingkup Erasmus Mundus Plus. Ditambah kerjasama di bidang penelitian dan seminar internasional. “Seminar dan diskusi akan dibangun juga dalam tema Islamic studies. Pembahasan tentang Islam tersebut menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini,” jelas perwakilan International Relations UMM, Dr Rinjani Bonavidi MEd. “Kedua universitas tersebut sebenarnya memiliki kompetensi dalam pengelolaan keuangan dan sumber daya di internal universitas. Kedua universitas tersebut banyak memberikan kesejahteraan untuk staf maupun dosen, sehingga dosen dan staf betah terus untuk bekerja untuk universitasnya,” jelas Rinjani lebih lanjut. Sebagai tindak lanjut dari kunjungan tersebut, kata Rinjani, akan diadakan teacher training, staff exchange, dan juga magang dosen. “Dari kedua universitas tersebut akan ada dosen yang mengajar di UMM nanti,” pungkasnya. (jal/han)

Dosen Perancis Beberkan Pengaruh Internasional Bahasa Indonesia

MENGHADIRKAN dosen Institut Asia Pasific dari Universitas De La Rochelle Perancis, Philippe Grangé, Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kuliah tamu tentang perkembangan bahasa Indonesia di dunia internasional, Selasa (1/11). Menurut Philippe, Perancis menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang diajarkan di negara yang menjadi pusat mode dunia tersebut.  Semenjak 1844, bahasa Indonesia sudah diperkenalkan pertama kali di Institut National des Langues et Civilisations Orientales (INALCO) Perancis. Sementara itu, pengajaran bahasa Indonesia di Univertas De La Racholle telah dimulai sejak tahun 1996 dengan jumlah mahasiswa 80 orang. Hal tersebut menjadikan bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa yang dipelajari di beberapa universitas di Perancis. “Bahasa Indonesia adalah bahasa yang dinamis yang mudah untuk dipelajari. Jika sekali sudah belajar bahasa Indonesia maka akan cinta dengan bahasanya,” ujar Philippe. Pada kuliah tamu yang dihadiri oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMM semester 5 tersebut, Philippe menyampaikan bahasa Indonesia meminjam bahasa asing hanya 7636 kata sedangkan 3592 kata berasal dari bahasa daerah yang ada di Indonesia. “Tidak sampai 10 persen Indonesia menyerap bahasa asing,” ujarnya lebih lanjut. Menurut Philippe, bahasa Perancis banyak sekali diserap oleh Belanda yang kemudian digunakan oleh Indonesia. Philippe menjelaskan, hal itu dikarenakan Perancis pernah menjajah Belanda, maka bahasa Perancis banyak diserap oleh Belanda. Demikian pula dengan bahasa Belanda yang banyak digunakan dalam bahasa Indonesia. “Pada abad ke-12 Perancis memberikan banyak sumbangan bahasa ke Portugis dan pada abad ke-16 bahasa tersebut diserap dalam bahasa Indonesia,” ujar Philippe. Paling sedikit sekitar 400 kata bahasa Indonesia berasal dari bahasa Belanda yang diserap juga dari bahasa Perancis. “Bangkrut dalam bahasa Indonesia sama dengan banqueroute dalam bahasa Perancis dan bankroet dalam bahasa Belanda,” jelas Philippe dalam bahasa Indonesia yang fasih. Semua kosa kata yang ada di bahasa Indonesia memang diserap dari bahasa asing. Namun dalam bidang otomotif atau mekanik, bahasa Indonesia sama sekali tidak menyerap dari bahasa apapun. “Karena pada zaman dahulu belum ada kendaraan bermotor jadi belum ada istilah ataupun bahasa Belanda. Indonesia benar-benar mempunyai bahasanya sendiri,” jelas Philippe lebih lanjut. Hanya ada satu kata dalam bahasa Indonesia yang sama persis dengan bahasa Perancis, lanjut Philippe, yaitu kata ‘dong’. Hal tersebut dikarenakan pada abad ke 19 banyak warga Perancis yang berdiam diri di Jakarta sehingga kata ini populer di kalangan masyarakat Indonesia. “Kata ‘dong’ merupakan kata yang langsung diserap tanpa ada pemindahan makna ataupun pemindahan ejaan. Hanya saja penulisan dalam bahasa Perancis ‘donc’,” jelas Philippe. (jal/han)

Bahasa Inggris UMM dan Forum Guru Probolinggo Teken MoU Peningkatan Mutu Pembelajaran

DALAM rangka pengembangan pembelajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama (SMP) baik swasta maupun negeri, 44 orang rombongan guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMP Se-Kota Probolinggo, Senin (31/10), melawat ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kedatangan tersebut bermaksud menyaksikan penandatangan nota kesepemahaman antara Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM dan MGMP Bahasa Inggris Se-Kota Probolinggo. Acara diadakan di Aula Lantai 3 Perpustakaan Pusat UMM. Rombongan didampingi Ketua MGMP Bahasa Inggris Kota Probolinggo, dan perwakilan Kepala Sekolah SMP Se-Probolinggo. “Program studi (prodi) Bahasa Inggris yang notabene Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan berkewajiban menerima tawaran tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembejaran bahasa Inggris di MGMP,” ujar Ketua Prodi Bahasa Inggris UMM Dr. Sudiran, M. Hum. saat ditemui disela acara. Pasca ditandatanganinya nota kesepemahaman Sudiran berharap, kerjasama tersebut akan terus berkesinambungan dalam rangka meningkatakan kualitas guru-guru pelajaran Bahasa Inggris. Ke depan, pihaknya dan MGMP Bahasa Inggris Kota Probolinggo akan merumuskan sejumlah program yang menunjang kerjasama tersebut. “Dosen-dosen kita kan punya pengabdian yang terkait pembelajaran Bahasa Inggris, ini merupakan salah satu upaya kita untuk meningkatkan kualitas kita juga dalam men-training guru-guru Bahasa Inggris yang selama ini sudah kita lakukan melalui Program Pengabdian Masyarakat Internal (PPMI) yang dicangkan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UMM,” paparnya. Kepala Pengawas Pendidikan Nasional (Diknas) Kota Probolinggo, Fathur Rozi, S.S., M.Pd. menerangkan, sebagai seorang pengawas, dirinya berharap kualitas guru-guru dapat mengajar dengan baik pasca penandatanganan kerjasama ini. “Mudah-mudahan dengan adanya kerjasama ini para guru agar saat memberikan materi dapat dipahami oleh peserta ajarnya. Juga, materi yang disampaikan dapat memberikan rasa simpati dari para siswa. Diharapkan siswa-siswa SMP dapat merasa senang dengan pengajaran yang dilakukan oleh gurunya,” harapnya. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, lanjut Agus, jika siswa tidak senang dengan pelajarannya maka siswa akan sulit menyerap pelajaran yang diberikan gurunya. Acara dilanjutkan dengan seminar pembelajaran Bahasa Inggris bertajuk pemanfaatan internet dalam pembelajaran Bahasa Inggris.  Seminar singkat ini melibatkan pemateri dari luar negeri yang tengah internship program di UMM dan bekerja di Internasional Relations Office (IRO) UMM. Yakni Iwona Zaczek dari Silesian University of Technolgy Polandia juga Jose Santos dari Escuela Politecnica Superior Cordoba, Spanyol. (can/han)

Peluang Mahasiswa Akuntansi UMM Kerja di Pertambangan

PROFESI akuntan identik dengan pekerjaan di balik meja dan bergelut dengan pembukuan. Tapi, apa yang terjadi bila profesi akuntansi berkarir di bidang pertambangan? Itulah yang coba dipaparkan pada mahasiswa program studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin-Selasa (31/10-1/11) melalui Short Course Accounting for Specific Purpose. Kursus singkat ini adalah salah satu program dari Student Added Value Program (SADAP) Laboratorium Akuntansi UMM. Alumni Akuntansi UMM, Ilham Nugraha, yang juga corporate finance and controlling senior manager perusahaan tambang emas nasional PT Multi Harapan Utama Coal Mining Company, didapuk sebagai pemateri. Sebagai praktisi, Ilham memaparkan bagaimana seorang akuntans berkiprah di dunia pertambangan. Menurut Ilham, profesi akuntan di pertambangan memiliki beberapa karakter, salah satunya ketidakpastian yang tinggi. Hal ini karena  akuntan juga turut dalam proses penyelidikan sumber tambang. Bisa jadi, penyelidikan yang dilakukan dalam beberapa waktu tapi belum mendapatkan hasil. Selain itu, berbeda dengan perusahaan lainnya di mana semakin lama perusahaan berdiri, akan semakin meningkat produknya, perusahaan tambang sebaliknya. Semakin lama perusahaan berdiri, maka variasi produktivitas makin berkurang karena persediaan barang tambang yang menipis. Oleh karenanya, akuntan sebagai profesi yang akan menempati posisi sebagai finance and credit analystharus kreatif. Ilham juga menjelaskan, tantangan sebagai akuntan di pertambangan terbilang gampang-gampang susah. Profesi ini akan berubah seiring berubahnya akuntan operasional. Akuntan operasional yakni akuntan yang mengetahui seluk beluk operasional pertambangan. Dosen Akuntansi UMM, Lutfirrahman, yang menjadi penanggung jawab short course kali ini mengungkapkan, short course adalah program yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa. “Short course ini memiliki nilai plus bagi mahasiswa akuntansi karena memberikan materi yang tidak diberikan di perkuliahan. Selain ilmu, sertifikat dari perusahaan tambang emas nasional ini akan berguna bagi mahasiswa ketika akan memasuki dunia kerja nanti,” ungkap Lutfi. Melalui SADAP, laboratorium Akuntansi UMM memiliki berbagai program, salah satunya adalah short course. Short coursememiliki 3 tema, yakni kursus private perpajakan, akuntansi syariah, dan akuntansi pertambangan. Ketiga jenis kursus singkat ini dibimbing oleh praktisi di bidangnya. Akuntansi di bidang pertambangan sudah memasuki gelaran ke-6 pada 2016 ini. Di akhir tahun nanti, short course tentang ekspor dan impor akan digelar. (ich/han)

Angkat Isu Peran Publik Perempuan, LP3A Hadirkan Pakar Gender Portugal

PERAN perempuan di ruang publik menjadi isu menarik dewasa ini. Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) berupaya urun rembug dalam isu itu melalui kajian gender menghadirkan pakar gender dari University of Beira Interior, Covilhã, Portugal Prof Dr Maria Johanna Christina Schouten, di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (26/10). Pada kesempatan ini Maria menjelaskan beberapa indikator yang sangat penting untuk terwujudnya kesetaraan peran wanita. Di antaranya adalah terwujudnya pendidikan bagi semua kalangan, mendapatkan pengakuan di tataran politik dan juga tingkat kerja yang ada di setiap sektor kerja. “Jika indikator tersebut sudah terpenuhi, maka bisa dikatakan negara tersebut sudah ramah terhadap wanita,” jelas guru besar sosiologi Universitas Beira Interior tersebut. Maria mengakui, masalah gender belum menjadi fokus utama dalam urusan kenegaraan. Hal tersebut tertera jelas dalam sampul salah satu buku sekolah pada tahun 1958. Di sampul tersebut tergambarkan secara visual ada banyak lelaki dan hanya satu wanita yang berada di bawah para lelaki itu. “Budaya patriarki atau penonjolan peran pria dalam segala aspek kehidupan sangat jelas dulu,” jelas Maria lebih lanjut. Pada diskusi yang bertemakan Gender in Portugal: Gender Equality, the Changing of Womens Roles and Family Life tersebut dijelaskan masyarakat Portugal berpegang pada tiga aspek utama. Tiga aspek itu adalah agama, negara dan keluarga. Dengan adanya aspek keluarga, akhirnya ada sebuah aturan di Portugal yang mewajibkan wanita harus merawat anak paling tidak 6 minggu sedangkan pria wajib merawat anak selama 10 hari. Dalam aspek yang lain juga mengalami perubahan peraturan entah dalam politik ataupun profesi lainnya. “Sebanyak 65 persen dokter di Portugal adalah wanita dan sebanyak 35 persen kursi di perpolitikan juga telah diduduki oleh wanita. Aturan tersebut menjadi salah satu bukti Portugal mulai peduli pada kesetaraan peran wanita,” jelas wanita kelahiran Amsterdam, Belanda tersebut. Beberapa peraturan dan fasilitas yang ada juga sudah mulai menggambarkan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan pria. “Ibu hamil di Portugal diberi waktu selama 180 hari untuk mengambil cuti bahkan hingga usia anaknya satu tahun tidak masalah,” terang Maria. Wanita yang fasih berbahasa Indonesia tersebut juga mengakui Portugal dan Indonesia memiliki kesamaan dalam praktek gender . Maria menjelaskan Indonesia dahulu memiliki Kartini yang kemudian disebut sebagai pahlawan emansipasi wanita. Kartini juga mendobrak keyakinan bahwa seorang wanita harus hanya berdiam diri di dapur saja. “Saya banyak mengkaji tentang Kartini juga di Portugal, jadi konteksnya hampir sama dengan kondisi di Portugal dulu,” terang wanita yang pernah meneliti tentang antropologi dan sosial di Indonesia tersebut. (jal/han)

UMM Gazebo Forum: Lewat Puisi, Zawawi Imron Membaca Eropa

KAJIAN multidisipliner bulanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Gazebo Forum kembali diadakan, Rabu (26/10). Tak kalah menarik dengan gelaran sebelumnya, kali ini UMM Gazebo Forum menghadirkan penyair kenamaan Indonesia D. Zawawi Imron yang disandingkan dengan Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM, Pradana Boy ZTF, serta pakar antropologi budaya UMM Arif Budi Wurianto. Diskusi publik kali ini mengulas salah satu buah karya D. Zawawi Imron berjudul‘Refrein di Sudut Dam’ yang diterbitkan oleh UMM Press. Buku berisikan 99 sajak tersebut ditulisnya Zawawi saat ia diundang membaca puisi dalam festival Winternachtem, festival internasional sastra dan seni musim dingin yang bertempat di Den Haag, Belanda. Zawawi memulai diskusinya dengan membacakan sejumlah sajak terkenalnya. Salah satunya sajak ‘Ibu’. Meski tak lagi muda, pria kelahiran  Batang-Batang Laok, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur ini masih tegas dan bertenaga. Penampilannya tak pelak mengundang riuh tepuk tangan peserta yang terdiri dari sejumlah kalangan, antara lain mahasiswa, akademisi juga sastrawan lokal. Menurutnya, sebuah puisi akan indah jika berangkat dari hati yang murni. Hal tersebut yang kemudian Zawawi sebut sebagai ‘Rasa Sastra’. Layaknya sebuah senyuman, puisi harus juga berangkat dari kemurnian hati penulisnya. “Puisi yang berasal dari hati yang bersih, insya Allah tanpa direkayasa pun akan bisa dinikmati oleh orang lain. Berbeda dengan puisi yang sudah dimaksud untuk mendapat keuntungan material, atau mendukung salah satu kelompok, atau mencaci salah satu kelompok. Maka muatan-muatannya bisa mungkin akan mengotori nilai puisi itu sendiri,” tutur pria yang kerap menerima berbagai penghargaan dalam dan luar negeri. Seorang pujangga Pakistan yang hidup sezaman dengan KH. Agus Salim sekitar 1870an, sebut Zawawi, dalam puisinya yang berjudul ‘Apa Katanya’ pun pernah menulis, ‘Dari mana kemerduan seruling terdengar, dari getar hati sang peniup. Bukan dari potongan bambu’. Dengan mengutip salah satu sajak yang jadi bahan penelitiannya, Zawawi kembali bersyair, ‘Bertuturlah kamu dengan hati yang jernih, maka kebaikan akan menyelimuti hatimu’. Kepala PSIF Pradana Boy ZTF  yang diminta UMM Press membubuhkan kata pengantar di buku terbitan UMM Press ini. Kebetulan, pada akhir Mei 2016 Pradana berkesempatan berkunjung ke Amsterdam dan bertekad menyelesaikan permintaan tersebut di mana sajak-sajak tersebut ditulis. Pradana memiliki perspektif lain dalam membaca buku bersampul hitam ini.  Sebagai seorang pakar sosiologi agama, Pradana tidak memposisikan diri sebagai kritikus sastra. Baginya, pendekatan yang harus dilakukan untuk memahami buku ini yakni melalui pendekatan sosiologi pengetahuan. “Sosiologi pengetahuan berbicara tentang apa yang ada di sebalik tulisan, dan apa yang hendak disampaikan puisi-puisi ini kepada khalayak. Karena karya puisi bukan menggunakan bahasa yang lugas, sehingga perlu ditafsirkan,” paparnya. Sementara itu, Arif Budi Wurianto memberi judul puisi-puisi D. Zawawi Imron dengan judul ‘D. Zawawi Imron Melawat ke Barat’. “Ketika ia bercerita tentang Eropa, Pak Zawawi Imron tidak sekalipun tergugah akan keindahan dan kehebatan Belanda. Berarti pak Zawawi Imron itu seorang yang benar-benar post-kolonialis, seorang yang benar-benar anti orientalis. Hal ini bisa dilihat saat interaksinya dengan orang-orang barat yang ditulisnya dalam sejumlah puisi di buku ini,” ulas Arif. Dalam ulasan lanjutannya, menurut Arif, sebenarnya Zawawi ingin memberontak kepada negeri yang selama 350 tahun menjajah Indonesia. “Meski demikian, kemarahan-kemarahan Zawawi Imron dapat ditulisnya dengan sangat lembut dan indah dalam setiap laporan-laporannya (puisi-puisinya, red.) ke luar negeri,” paparnya.  (can/han)