Tim UMM Ajak Gen Z SMAGA NASA Bersiap Jadi Generasi Emas 2045

Lebih dari 750 siswa SMAN 3 Madiun (SMAGA NASA) Jawa Timur ikuti seminar yang digarap tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan pada 23 Januari ini bertujuan memberi inspirasi dan motivasi bagi mereka dalam mencapai kesuksesan. Apalagi mengingat para siswa akan meneruskan tonggak kepemimpinan dan tanggungjawab bangsa di masa depan. “Adanya seminar ini menjadi cara kami untuk membentuk generasi muda yang memiliki mentalitas pekerja keras, tidak hanya mengandalkan kenyamanan,” tegas Prof. Dr. Ir. Noor Harini, selaku ketua tim. Dia menegaskan, kesuksesan tidak datang dengan mudah, tetapi harus dicapai dengan kerja keras, optimisme, dan cita-cita yang tinggi serta mampu menunjukkan diri bahwa mereka bukan gen strawberry yang mudah jatuh. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi karakter siswa seperti faktor internal (instink, kebiasaan/adat, kemauan/kehendak, suara hati, keturunan) dan faktor eksternal (pendidikan dan lingkungan). Dengan memiliki faktor-faktor tersebut, siswa diharapkan dapat menjadi generasi penerus yang cerdas, inovatif, damai, sehat, dan berperadaban unggul. Prof. Noor juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan yang sehat. “Pola makan yang sehat tidak hanya penting untuk tubuh yang kuat, tetapi juga untuk otak yang cerdas dan siap bersaing di masa depan,” tambahnya. Ada lima hal yang menjadi faktor pembentukan karakter yang baik. Di antaranya, sikap, emosi, trust, kebiasaan, dan kemauan. Dengan memperhatikan kelima hal itu, generasi penerus dapat dengan mudah meraih kesuksesan di masa depan. Selanjutnya nilai kedisiplinan dan kejujuran juga menjadi poin penting yang tidak boleh disepelekan. “Disiplin adalah kunci utama untuk mencapai tujuan. Tanpa disiplin, impian juga akan sulit dicapai dan Kejujuran bukan hanya membangun kepercayaan, tetapi juga menjaga integritas pribadi dan sosial untuk masyarakat luas,” tegasnya. Sementara itu, pemateri lain Prof. Dr. Ir. Achmad Wahyudi berbagi pandangannya tentang tantangan yang dihadapi oleh generasi muda dalam menempuh pendidikan tinggi. Memilih jurusan harus bijak dan sesuai dengan minat serta potensi diri, sehingga dapat menentukan masa depan yang lebih cerah. Ia juga menekankan bahwa penting untuk mempertimbangkan kebutuhan dunia kerja di masa depan. Lalu sebagai generasi penerus, penting untuk memiliki sifat yang Inovatif dan kreatif, berpengetahuan luas dan terdidik dan memiliki keterampilan teknologi tinggi. “Pendidikan tinggi bukan hanya tentang teori, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam masyarakat,” tegasnya. Ada strategi yang dapat diterapkan agar dapat mencapai kesuksesan. Dimulai dari dipaksa, kemudian terpaksa, hingga terbiasa, dan akhirnya membentuk budaya. Dengan menerapkan hal ini, para siswa diharapkan dapat menjadi orang sukses dikemudian hari. Dengan semangat kerja keras, karakter yang kuat, dan cita-cita yang tinggi, mereka diharapkan dapat menjadi bagian dari Generasi Emas 2045 yang siap berkontribusi untuk memajukan Indonesia. (*/wil)

Antisipasi Resiko Laka, Tim Mahasiswa UMM Ciptakan Rompi Pintar

Alat menarik kembali diciptakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini ada rompi pintar yang dilengkapi dengan fitur sensor heart rate sebagai alat pengukur irama detak jantung manusia secara real time. Vest Health, karya inovatif Tim Mahasiswa Teknik Industri ini mampu mendeteksi kelelahan dini hingga antisipasi resiko terjadinya laka lantas. Uniknya, fitur-fitur pada alat ini dapat diakses secara jarak jauh menggunakan jaringan wifi. Valdio Febrilian sebagai anggota tim menyebut alat bantu kesehatan yang sekaligus mencakup keselamatan ini sangat cocok digunakan oleh semua pengendara, terutama para sopir ekspedisi. “Tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas akibat sopir mengantuk atau kelelahan selama perjalanan di beberapa tahun belakangan menjadi salah satu alasan kami menciptakan Vest health. Umumnya, indikator kelelahan dini dapat dilihat, jika heart rate seseorang berada di angka 50-65 bpm. Sedangkan, fitur alarm peringatan pada rompi ini sengaja kami atur lebih awal di angka 70 bpm untuk mengantisipasi lebih awal gejala kelelahan dini,” jelasnya. Adapun alat ini juga disempurnakan dengan sebuah modul yang terdiri dari monitor mini untuk menampilkan angka heart rate pengguna.  Menariknya, sebuah website terhubung dengan modul pada Vest health yang dirancang untuk dapat diakses banyak orang. Dengan begitu, orang lain seperti pihak perusahaan juga dapat dengan mudah memantau kinerja irama detak jantung pegawai atau pekerja yang menggunakan rompi pintar ini. Valdio menjelaskan, sinyal peringatan ini akan dikirimkan kepada pengguna dan perangkat yang terhubung pada website tersebut. “Vest health dirancang untuk dapat digunakan secara real time (online) oleh siapapun dan kapanpun selama terhubung dengan jaringan. Nantinya, sensor pada rompi akan mengirimkan sinyal berupa notifikasi dan alarm peringatan berupa suara dan getaran pada saat pengguna terindikasi kelelahan dini,” sambungnya. Tak hanya menawarkan banyak fitur-fitur canggih, kenyamanan pengguna juga diperhatikan dalam pembuatannya. Ia mengungkapkan Vest health juga didesain body fit dengan bahan yang elastis dan flexible. Sehingga, nyaman digunakan oleh pengguna dari semua kalangan. Meski demikian, Valdio juga menceritakan kendala yang harus Ia dan timnya lewati sebelumnya. Salah satunya adalah kendala pada biaya dan ruang bengkel yang terbatas. “Kami harus melewati beberapa tantangan untuk merealisasikan projek ini. Diantaranya, biaya yang cukup tinggi untuk mendapatkan fitur-fitur yang baik, hingga ketersediaan ruang bengkel yang mengakibatkan keterlambatan waktu finalisasi alat. Beruntung, pihak UMM selalu mendukung inovasi kami, sehingga dapat dipamerkan dengan layak,” ungkapnya. Terakhir, Ia berharap Vest Health dapat dikembangkan ke versi yang lebih baik lagi kedepannya. Ia percaya, mahasiswa teknik industri UMM dapat memberikan inovasi luar biasa yang sesuai dengan kebutuhan industri dan masyarakat luas. Selai itu, Valdio juga berharap besar dan yakin dengan adanya inovasi ini di masyarakat, dapat mengurangi angka laka lantas di Indonesia. (din/wil)

Seminar FH UMM: Pentingnya Sinkronisasi RUU Kejaksaan dan KUHAP

Seminar nasional menarik kembali terlaksana di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakan oleh Fakultas Hukum pada 30 Januari itu membahas terkait sinkronisasi dan harmonisasi materi RUU Kejaksaan dan RUU KUHAP. Turut hadir sederet pemateri andal dan pakar hukum dari akademisi dan juga praktisi. Mereka mengkaji tentang pentingnya penyesuaian dan keselarasan regulasi hukum kejaksaan dengan KUHP agar tercipta sistem peradilan yang lebih efektif dan berkeadilan. Seminar diawali Ketua Forum Dekan Fakultas Hukum PTM, Assoc. Prof. Dr. Faisal, S.H., M.Hum., yang menyoroti urgensi sinkronisasi antara RUU Kejaksaan dan KUHP guna memastikan efisiensi serta kejelasan dalam proses hukum di Indonesia. Ia menekankan bahwa perubahan regulasi harus memperhatikan prinsip-prinsip keadilan dan kepastian hukum. “Penyesuaian regulasi kejaksaan dan KUHP adalah suatu keharusan untuk memastikan bahwa sistem peradilan pidana kita berjalan dengan lebih efisien dan selaras dengan kebutuhan hukum yang berkembang,” ujarnya. Kemudian ada pemaparan dari Dekan FH UMM Prof. Dr. Tongat, S.H., M.Hum. tentang restorative justice dan urgensinya sebagai penyelesaian perkara pidana dalam perspektif RUU Kejaksaan dan RUU KUHAP. Ada sederet kritik yang ia sampaikan terhadap peradilan pidana yakni prisonisasi, stigmatisasi, dan dehumanisasi. Prisonisasi adalah proses interaksi tersangka, terdakwa, dan terpidana di dalam lembaga yang menghasilkan transfer of knowledge tentang kejahatan. “Sementara stigmatisasi merupakan pemberian stigma dan label cap jahat. Terakhir, dehumanisasi adalah proses pengasingan dan menjauhkan manusia daei komunitas sosialnya,” tambah Tongat. Sementara itu, Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Dr. Trisno Raharjo, S.H., M.H., menjelaskan mengenai kebijakan hukum pidana dalam pelaksanaan tugas kejaksaan Republik Indonesia. Menurutnya, dalam menjalankan tugasnya, aparat kejaksaan harus berpegang pada prinsip keadilan dan proporsionalitas agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang. “Tugas kejaksaan dalam penegakan hukum harus selalu didasarkan pada asas legalitas serta menjunjung tinggi hak asasi manusia,” tegasnya.  Trisno juga sempat menyoroti tantangan dalam praktik hukum kejaksaan, termasuk bagaimana menyeimbangkan aspek represif dan preventif dalam menegakkan hukum. Menurutnya, para pakar dan praktisi harus memastikan reformasi hukum pidana tidak hanya memperkuat kewenangan kejaksaan, tetapi juga menjamin hak-hak masyarakat dalam proses hukum. Pembahasan ini kemudian diperkuat oleh pemateri kedua, Dr. Sholehuddin, S.H., M.Hum., yang mengkaji sinkronisasi dan harmonisasi materi muatan RUU tentang kejaksaan terhadap KUHP. Menurutnya, ketidakharmonisan regulasi dapat berimplikasi pada tumpang tindih kewenangan dan ketidakpastian hukum dalam proses penegakan hukum di Indonesia. “RUU Kejaksaan harus disusun dengan mempertimbangkan keterkaitannya dengan KUHP agar tidak terjadi benturan norma yang dapat menghambat proses peradilan,” ungkapnya. Selain itu, penyelarasan antara peran kejaksaan dalam sistem peradilan dengan norma-norma hukum yang berlaku juga diperlukan. Tanpa adanya sinkronisasi yang baik, akan muncul perbedaan interpretasi hukum yang bisa berdampak pada ketidakpastian dalam penegakan hukum. Terakhir, koordinasi antar lembaga penegak hukum juga harus diperhatikan agar tidak terjadi konflik kepentingan. Acara kemudian diakhiri Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. yang menegaskan pentingnya peran akademisi dalam memberikan masukan konstruktif bagi kebijakan hukum nasional. Ia berharap seminar ini dapat menjadi wadah diskusi ilmiah yang berkontribusi pada penyusunan regulasi hukum yang lebih baik. (vin/wil)

Viral Video Tes Kehamilan untuk Siswi, Begini Kata Dosen UMM

Beberapa waktu lalu, viral video tes kehamilan untuk siswi di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Hal itu memantik berbagai opini dan pandangan. Termasuk dari kacamata sosiologi yang disampaikan dosen sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Luluk Dwi Kumalasari, M.Si. Menurutnya, meski pihak sekolah memiliki otoritas dalam kebijakan atas lingkungan sekolah yang dikelolanya, namun tidak menutup kemungkinan kebijakan yang dijalankan salah karena tidak mengacu pada aturan yang ada. Apalagi jika tanpa koordinasi yang jelas dengan pihak terkait. “Maka perlu untuk menggandeng berbagai instansi agar proses penerapan kebijakan pada lingkungan sekolah tetap berada dalam koridor edukasi dan sosiolasi terkait,” kata Luluk mengenai isu sekolah yang mengadakan tes kehamilan pada siswinya. Ia juga menyayangkan adanya berbagai foto dan video yang telah tersebar dan viral di media sosial saat para siswinya sedang melakukan tes urine dengan headline tes kehamilan. Menurutnya, hal tersebut merugikan terutama bagi siswa perempuan dan memberi dampak psikologis yang panjang. Terutama jika tidak ada pernyataan sikap yang jelas dari pihak sekolah. Melihat pada berbagai kasus yang ada termasuk pelecehan seksual, pihak perempuan banyak menjadi korban diskriminasi dan disalahkan dalam hal ini. Maka dari itu Luluk berharap pihak sekolah bisa lebih berhati-hati dalam melihat, membaca, serta memahami kebijakan apa saja yang akan diterapkannya. “Jika memang pihak sekolah berdalih bahwasannya tes urine tersebut dilakukan dengan urgensi untuk pencegahan narkoba, maka sekolah tetap harus menggandeng dinas dan lembaga terkait yang berwenang. Sehingga proses penerapan kebijakan tersebut akan berjalan dengan baik dan tidak salah kaprah,” Tambahnya. Dalam hal ini Luluk mengatakan, perlunya edukasi serta sosialisasi terkait persoalan reproduksi dan seksualitas dalam setiap jenjang sekolah. Ini menjadi upaya agar kasus penyimpangan bisa dikurangi dan tidak terjadi lagi di lingkungan sekolah. Meski begitu Luluk menyadari, pengawasan pada anak dibawah umur tetap menjadi tanggung jawab utama pihak keluarga. Namun tidak menutup kemungkinan, sekolah dan juga masyarakat ikut terlibat menjadi pihak penting dalam pengawasannya. “Memang sulit untuk selalu mengawasi anak setiap harinya, mengingat sekarang zaman sudah semakin maju dan orang tua tetap akan mudah kecolongan dalam pengawasannya. Maka dari itu, anak tetap selalu butuh pendampingan dan dipahamkan dengan baik terkait dampak dari perilaku menyimpang tersebut,” ujar Luluk memberi arahan. Terakhir, Luluk juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan berbagai berita viral yang bersifat simpang siur. Karena dengan menggali fakta yang ada di lapangan, masyarakat dapat lebih bijak dalam bersikap mengenai suatu isu yang beredar. (zaf/wil)

Hampir 9 ribu Lulusan Profesi Guru UMM Lulus Berjamaah

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mengukuhkan 8.089 lulusan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada awal tahun 2025 ini, tepatnya 25 Januari. Dari jumlah tersebut, 816 merupakan calon guru baru, sementara 7.273 adalah guru dalam jabatan. Para lulusan ini tersebar di 219 kota/kabupaten dari 27 provinsi, termasuk Papua, Papua Barat, Sulawesi, Riau, Sumatera, dan lainnya. Mereka juga mencerminkan keberagaman agama, seperti Islam, Katolik, Kristen, dan Hindu. Acara pengukuhan yang berlangsung di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM ini diwarnai dengan orasi ilmiah bertema “Peran Guru Baru Indonesia dalam Mewujudkan Pendidikan Maju dan Bermutu untuk Semua”. Tema ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Dalam orasinya, Prof. Nunuk menekankan bahwa guru memegang peranan penting dalam menciptakan generasi unggul menuju Indonesia emas 2045. Ia menyoroti pentingnya guru memiliki kompetensi sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mengharuskan setiap guru memiliki kualifikasi minimal S1 atau D4, serta sertifikasi pendidik. Prof. Nunuk juga menggarisbawahi bahwa peran guru tidak hanya terbatas pada mengajar, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang inovatif dan menyenangkan. “Guru harus menjadi agen perubahan yang mampu membawa kemajuan di tengah perkembangan zaman. Dengan teknologi dan pendekatan kreatif, pendidikan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya. Ia menjelaskan lebih lanjut tentang tantangan pendidikan di era globalisasi. Di antaranya melibatkan penguasaan teknologi, pendidikan karakter, kemampuan berkolaborasi, serta kesiapan menghadapi tantangan global. “Selain menguasai materi ajar, guru juga harus menanamkan nilai-nilai moral, membangun karakter siswa, dan mempersiapkan mereka menjadi generasi yang mandiri dan berdaya saing tinggi,” tambahnya. Ia juga mengapresiasi peran UMM sebagai salah satu perguruan tinggi yang konsisten menyelenggarakan program PPG dengan hasil yang melampaui target. Ia menyebutkan bahwa lulusan PPG UMM merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan guru berkualitas di Indonesia. Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si., memberikan arahan kepada para lulusan untuk terus meningkatkan kapasitas diri dalam menghadapi tantangan pendidikan. “Jadilah pendidik yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter siswa. Masa depan bangsa berada di tangan kalian,” pesannya. Hal serupa disampaikan Wakil Dekan I FKIP, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si. Menurutnya,  penguasaan teknologi dan pendekatan pembelajaran yang kreatif merupakan skill yang sangatl krusial. “Sebagai lulusan PPG, Anda diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus inspirasi bagi siswa. Teruslah belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman,” ujarnya. Pengukuhan ini menjadi simbol tanggung jawab besar bagi para lulusan untuk terus mengabdi demi kemajuan pendidikan. Dengan semangat dan kompetensi yang telah diperoleh, mereka diharapkan dapat mewujudkan pendidikan bermutu yang merata di seluruh Indonesia. (Wil/Vin)

Begini Cara Mahasiswa IP UMM Menangi Ajang Pencak Silat Nasional

Prestasi demi prestasi terus diraih sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya dimenangkan oleh mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Irvan Indra Bagansa. Ia sukses membawa pulang piala peringkat ketiga dalam ajang kejuaraan SH Cup, 17-18 Januari di Surabaya. Ia mengalahkan ratusan atlet pencak silat yang berasal dari berbagai daerah. Irvan, sapaannya, menjelaskan bahwa ia berada di kategori tanding kelas E putra dewasa. Kemenangannya bukan hasil dari leha-hela, namun ia harus berlatih keras jauh sebelum kompetisi. Ia mengatakan bahwa selama seminggu, ia harus berlatih 4-5 kali agar bisa menjaga kondisinya tetap baik dan maksimal. “Mau tidak mau saya harus memikirkan jadwal harian saya. Mencoba untuk terus berlatih dengan keras sembari berkuliah agar tidak bolos. Saya berlatih sendiri dan juga tanding pada hari Senin, Rabu, Kamis, dan Jumat. Ini jadi tantangan tersendiri karena latihan membuat saya lelah kemudian cukup mengantuk untuk ikut belajar di kelas. Tapi alhamdulillah bisa berjalan lancar,” tegasnya. Beruntung, Kampus Putih UMM memiliki puluhan Unit Kegiatan Mahasiswa (UMM) yang mendukung semua potensi mahasiswanya. Termasuk Irvan yang tergabung dalam UKM PSHT dan bisa berlatih bersama anggota-anggota lain. “Alhamdulillah UMM slelau memberikan wadah dan dukungan penuh bagi saya dan mahasiswa lain agar bsia berprestasi,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Prodi IP Muhammad Kamil, S.IP.,MA menyampaikan bahwa prestasi ini tidak hanya membanggakan nama Irvan tapu juga membawa nama baik Prodi Ilmu Pemerintahan UMM di tingkat nasional. “Dengan bertambahnya prestasi yang diraih oleh mahasiswa ini, membuktikan bahwa Prodi Ilmu Pemerintahan terus melahirkan generasi muda yang berkompeten, berprestasi, dan mampu bersaing baik dalam bidang akademik maupun non akademik,” katanya. Kamil berharap, prestasi ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk pantang menyerah dan terus berusaha. Dengan begitu, mereka pada akhirnya bisa memberikan kontribusi yang positif bagi diri sendiri, program studi, maupun universitas. Kamil mengatakan, mahasiswa UMM tak perlu takut dan ragu untuk mencoba banyak hal mengingat pihak kampus selalu mewadahi bakat dan minat mereka. (*/wil)

Keren, Mahasiswa UMM Kembangkan Alat Pembuat briket Berbahan Limbah Kayu

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menciptakan inovasi baru demi menyukseskan Indonesia Emas 2045. Salah satunya datang dari mahasiswa Teknik Industri di Industrial Engineering Expo yang sukses merancang alat pembuat briket otomatis bernama “Automatic Briket Maker”. Menariknya, alat ini dapat mengolah limbah kayu menjadi sumber energi alternatif. Adapun industrial Engineering Expo, de brilian ini bermula dari pengalaman mereka saat melakukan praktikum terintegrasi di sebuah pabrik mebel yang ternyata menghasilkan banyak limbah kayu yang tidak terpakai. Salah satu tim Lucky Argo Bramantyas mengatakan, pada awalnya mereka kebingungan ingin merancang alat apa. Hingga akhirnya mereka menemukan masalah banuyaknya limbah kayu di pabrik mebel. Dari situ, tim ini akhirnya mencoba menciptakan alat pembuat briket. Ia menjelaskan, fungsi utama alat ini adalah untuk mencetak dan menekan adonan briket dari bahan baku limbah kayu. Menariknya, mereka melakukan pengembangan prototipe lebih lanjut dengan menambahkan fitur pemotong otomatis yang bekerja sesuai gerakan dinamo serta pengendalian mesin melalui software Blynk berbasis IoT. Hal ini tentu saja, memberikan kelebihan pada produk mereka dibandingkan dengan yang ada di pasaran. Selain itu, tingkat efisiensi penggunaan dayanya juga cukup baik, yakni hanya memerlukan daya 110V-220V. Dengan tambahan pemotong otomatis, setiap briket yang dihasilkan memiliki ukuran yang konsisten, yaitu 5 cm. Namun, seperti halnya proses inovasi lainnya, tantangan juga hadir dalam pengembangan alat ini. “Tantangan terbesar adalah memastikan codingan kami dapat terhubung dan terbaca oleh kode mikrokontroler ESP 32 yang juga terhubung dengan software Blynk. Selain itu, ada juga uji coba yang sering gagal, namun berkat kerja sama tim kami dapat mengatasinya,” ungkapnya. Terakhir, Lucky dan tim berharap, alat Automatic Briket Maker bisa dikembangkan lebih lanjut. Misalnya dnegan menambahkan pembuat adonan otomatis, pemotong horizontal, dan sensor berat yang akan menghentikan mesin jika bahan baku habis. “Kami ingin briket yang kami buat bisa menjadi alternatif sumber energi yang ramah lingkungan dan membantu mengurangi ketergantungan pada energi berbasis batubara di Indonesia,” tutupnya. (vin/wil)

Gandeng PCIM Thailand, Dosen FH UMM Berikan Pelatihan Mediator

Ada berbagai hal yang dibutuhkan untuk menjadi mediator andal, terutama dalam beberapa kasus. Hal itu mendorong dosen hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tinuk Dwi Cahyani, SH., M.Hum., Ph.D. dan sederet mahasiswa Fakultas Hukum untuk melakukan penyuluhan hukum mediator. Menariknya, agenda yang dilaksanakan sejak Desember hingga pertengahan Januari itu dilaksanakan di negara Gajah Thailand. Adapun agenda yang menggandeng Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Thailand itu dilaksanakan secara liuring dan daring melalui zoom. Tinuk menjelaskan bahwa penyuluhan tersebut berupaya untuk memfasilitasi penyelesaian permasalahan hukum yang dihadapi oleh Warga Negara Indonesia dan kader yang berada di Thailand.  Apalagi melihat bahwa PCIM Thailand belum memiliki keahlian khusus dalam penyelesaian atau mediasi di luar pengadilan. “Dalam konteks ini, mediasi digunakan untuk mendamaikan kesenjangan daya tawar antara pihak-pihak yang berkonflik untuk mencapai kesepakatan. Dengan begitu, permasalahan hukum yang dialami dapat berakhir dengan baik untuk semua pihak,” ungkap Tinuk. Lebih lanjut, Tinuk menambahkan bahwa peran mediator adalah untuk menemukan solusi dan penyelesaian atas permasalahan yang diutarakan oleh pihak-pihak yang berkonflik. Maka, dalam penyuluhan itu, ia dan tim memberikan materi pendekatan konseling yang meliputi persiapan, penjelasan peran dan fungsi mediator, pembagian tugas, dan sesi tanya jawab. Seluruh peserta program ini mengamati simulasi mediasi yang dilakukan masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok berperan sebagai mediator dan memfasilitasi komunikasi antara kedua belah pihak untuk menyelesaikan perselisihan. “Konsep ‘berada di tengah’ mengharuskan mediator menjaga netralitas dan imparsialitas, tidak memihak salah satu pihak yang berkonflik. Melalui layanan hukum ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang konsep-konsep yang dibahas dalam mediasi, termasuk peran mediator, strategi negosiasi, dan teknik manajemen konflik yang konstruktif,” tegasnya menambahkan. Terakhir, ia berharap pengabdian ini bisa memberikan wawasan baru dan keahlian baru untuk masyarakat. Khususnya WNI yang tengah berada di Thailand dan menghadapi masalah hukum. Mediasi bisa menjadi salah satu cara baik yang bisa dilakukan dalam mencapai kesepakatan dan perdamaian. (*/wil)

Dosen UMM tentang Pemagaran 30,16 Km di Laut Tangerang: Ancaman Ekosistem dan Digaan Reklamasi

Pemagaran sepanjang 30,16 kilometer di kawasan laut Tangerang menjadi sorotan publik. Klaim bahwa pagar bambu tersebut berfungsi untuk mencegah abrasi dan tsunami memicu berbagai pertanyaan, terutama mengenai motivasi sebenarnya di balik proyek tersebut. Ahli Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Lautan, Dr. David Hermawan, M.P., IPM., memaparkan analisis kritis yang mengungkap fakta-fakta mengkhawatirkan terkait kasus ini. “Pagar sepanjang 30,16 kilometer ini menelan biaya hingga Rp4-5 miliar. Angka sebesar itu jelas tidak berasal dari gotong royong masyarakat biasa. Ada pihak besar yang membiayai proyek ini. Alasan pencegahan abrasi menggunakan pagar bambu tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Metode yang lazim digunakan adalah breakwater atau bronjong batu, bukan pagar bambu,” ungkap David yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Temuan di lapangan mengungkap indikasi yang lebih besar. Berdasarkan data, terdapat 263 bidang tanah yang telah bersertifikat di kawasan tersebut. Mayoritas dimiliki oleh perusahaan-perusahan besar menguasai 20 bidang, bahkan hingga 234 bidang. Sisanya dimiliki oleh perseorangan. Fakta ini menunjukkan bahwa proyek pemagaran ini bukan sekadar untuk konservasi lingkungan, melainkan bagian dari rencana reklamasi besar untuk pembangunan kota baru seluas 30.000 hektar. “Nilai ekonominya untuk penguasaan lahan bisa mencapai Rp30 triliun. Namun, kalau nantinya setelah reklamasi, nilai proyek ini diperkirakan mencapai Rp300 kuadriliun. Dengan asumsi luas reklamasi 30.000 hektar atau 30 juta meter persegi, dan nilai tanah minimal Rp10 juta per meter persegi, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp300 triliun,” ungkapnya. Dampaknya terhadap lingkungan laut dinilai sangat besar. Pola arus laut akan berubah, ekosistem terumbu karang dan padang lamun yang menjadi habitat ikan juga akan rusak. Ini bukan hanya persoalan ekonomi, tapi juga keberlanjutan ekologi yang harus dipikirkan. Lebih dalam, ia mengungkap sejumlah potensi pelanggaran prosedur. Reklamasi laut seharusnya memiliki izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang jelas, serta penyesuaian tata ruang dan zonasi. Sayangnya, proyek ini disinyalir berjalan tanpa izin resmi. “Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil jelas mengatur bahwa pengelolaan wilayah pesisir harus berlandaskan prinsip keberlanjutan, melindungi ekosistem, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan. Proyek ini melanggar prinsip-prinsip tersebut. Kawasan ruang laut tidak boleh disertifikatkan, baik berupa SHGU maupun SHM,” tegasnya. Ia juga menyoroti keterlibatan sejumlah pengembang besar seperti Pantai Indah Kapuk (PIK 2), yang diduga memonopoli lahan laut. Hal ini tidak hanya menimbulkan persoalan hukum, tetapi juga mengancam keadilan akses sumber daya bagi masyarakat kecil yang bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan. “Proyek ini sebaiknya dipertimbangkan ulang atau bahkan dihentikan karena dampaknya akan merusak ekosistem dan tatanan sosial masyarakat pesisir. Pemerintah harus bergerak cepat menegakkan aturan dan memastikan semua prosedur dijalankan dengan benar. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, saya berharap pemerintah dapat mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan kasus ini. Peraturan ada untuk ditegakkan. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?” pungkasnya. (vin/wil)

Dela, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UMM yang Jadi Duta Literasi Jatim

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengukir prestasi. Salah satunya L. Dela Fimeta mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang berhasil meraih gelar Putri Literasi Jawa Timur 2024 dalam ajang bergengsi ‘Pemilihan Duta Baca Jawa Timur 2024’. Ia sukses mengharumkam nama kampus pada ajang yang dilaksanakan pada akhir Desember lalu. Dela, sapaannya, menjelaskan bahwa ajang inj bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan menumbuhkan budaya literasi di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Timur. Ada puluhan peserta yang bersaing untuk bisa meraih predikat itu. “Saya dan peserta lain bersaing kemampuan  dalam aspek literasi, public speaking, dan inovasi program literasi untuk masyarakat,” tegasnya. Adapum Dela berhasil memukau para juri dengan gagasan-gagasan kritisnya terkait strategi meningkatkan minat baca di era digital, serta kemampuannya yang luar biasa dalam menyampaikan pesan-pesan inspiratif. Ia turut serta dalam ajang ini agar bisa melatih keterampilan public speaking, memperluas wawasan literasi melalui berbagai sumber bacaan, serta menginspirasi masyarakat luas untuk semangat membaca. “Membaca adalah jendela dunia. Saya ingin menginspirasi lebih banyak orang untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan harian, khususnya di kalangan generasi muda,” ujar Dela penuh semangat. Sebagai pemenang, Dela akan menjalankan peran penting sebagai Putri Literasi Jawa Timur 2024. Tugas utamanya adalah mengampanyekan budaya literasi di seluruh penjuru Jawa Timur melalui berbagai program edukasi. Di antaranya workshop literasi, kampanye membaca, dan kegiatan sosial lainnya. Dengan latar belakangnya sebagai mahasiswa PBI FKIP UMM, Dela optimis dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan di bangku kuliah untuk memajukan literasi masyarakat. Ajang ‘Pemilihan Duta Baca Jawa Timur 2024’ tidak hanya menjadi platform kompetisi, tetapi juga wadah untuk berdiskusi dan berbagi ide mengenai pentingnya literasi. Kegiatan literasi merupakan salah satu bentuk untuk memajukan bangsa dan menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada tingkat literasi masyarakatnya. Prestasi L. Dela Fimeta ini tidak hanya membanggakan dirinya secara pribadi, tetapi juga UMM yang selalu mendukung mahasiswa dalam meraih prestasi di berbagai bidang. Keberhasilan Dela diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat. (*/wil)